Anda di halaman 1dari 27

KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama
Umur
Pekerjaan
Tgl MRS
Alamat

: Ny. E P
: 31 tahun
: Ibu Rumah Tangga
: 30 Mei 2013
; cakung, jaktim

ANAMNESIS
Keluhan Utama:

Muntah-muntah sejak 3 hari SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang:

Ibu dengan kehamilan pertama mengatakan hamil 3 bulan. MRS dengan


keluhan muntah-muntah sejak 3 hari SMRS sebanyak > 5 kali/hari.
Pasien muntah setiap kali makan, muntah berisi makanan dan cairan.
Muntah disertai mual, nyeri ulu hati dan pusing. Pasien tidak demam
ataupun batuk, nafsu makan pasien menjadi menurun. Keluarnya lendir
ataupun darah dari jalan lahir disangkal pasien.

Riwayat Pemeriksaan Kehamilan:


ANC pertama di Bidan, tes kehamilan (+)
Riwayat Penyakit Dahulu:
Asma (-)
DM (-)
Hipertensi (-)
Gastritis (-)
Riwayat Penyakit Keluarga:
Asma (-)
DM (-)
Hipertensi (-)
Asma (-)
Riwayat Pengobatan:
Pasien belum berobat untuk keluhan saat ini
1

Riwayat Perkawinan:
Pernikahan pertama, masih menikah, lama pernikahan 4 bulan
Riwayat Haid:
Menarche
: 12 tahun
Haid
:
Lama : 7 hari
Siklus : 28 hari
Teratur, tidak sakit
HPTH
: 7 Februari 2013
TP
: 14 November 2013
Riwayat Persalinan:
Gravida (1), Aterm (-), Premature (-), Abortus (-), Anak Hidup (-), SC (-)
No

Tempat

bersalin
Hamil ini

Penolong

Thn

Aterm

Jenis
persalinan

Penyulit

JK

BB/

Keadaan

PB

Riwayat Alergi
Obat-obatan (-)
Makanan (-)
Debu (-)
Riwayat Operasi
Belum pernah operasi
Riwayat Kebiasaan
Merokok (-)
Konsumsi Alkohol (-)
Jamu-jamuan (-)

PEMERIKSAAN FISIK
KU
Kesadaran
TTV
TD
Nadi
Nafas
Suhu

: tampak sakit sedang


: CM
:
: 120/70 mmHg
: 88 x/menit
: 20 x/menit
: 36,8 C

Status generalis
Kepala
Mata
Hidung
Mulut

: Normocephal
: Cekung (-/-), conjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)
: Deviasi septum nasi (-/-), secret (-/-)
: Sianosis (-), mukosa bibir agak kering, faring hiperemis (-),

gigi geligi lengkap


Telinga: Serumen (-/-)
Leher
: Pembesaran KGB (-), Pembesaran kelenjar tiroid (-)
Thorax
Pulmo :
Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Auskultasi

vesicular +/+, wheezing-/- , ronki -/-

Cor

Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Auskultasi
Ekstremitas

bunyi jantung 1 dan 2 normal reguler, gallop (-), murmur (-)


:

Atas

Turgor kulit

Bawah
kembali cepat

Akral hangat

+/+

+/+

Sianosis

-/-

-/-

Udem

-/-

-/-

RCT < 2 detik

+/+

+/+

STATUS OBSTETRI
PEMERIKSAAN ABDOMEN
Inspeksi
: linea nigra (+)
Palpasi : nyeri tekan epigastrium (+)
3

Leopold I
Leopold 2
Leopold 3
Leopold 4

::::-

Denyut Jantung Janin


Taksiran Berat Janin
HIS
PD

PEMERIKSAAN PENUNJANG:
Darah rutin
Hb
: 13,6
Leukosit
: 9,3
Trombosit
: 290
Ht
: 36
Kimia klinik
GDS : 78
Elektrolit
Natrium: 135
Kalium
: 3,95
Clorid : 103
Urinalisa
Keton : 4+
Leukosit esterase: 2+
Nitrit : positive
Blood urin
: 1+
Leukosit
: 6-8
Eritrosit
: 3-5
Bacterial
: 2+

::: (-)
: tidak dilakukan

gr/dL
rb/L
rb/L
%

( 12,5-15,5)
(5,0-10,0)
(150-400)
(37-47)

mg/dL

(70-200)

mEq/L
mEq/L

(132-145)
(3,5-5,0)
(98-110)

/HPF
/HPF
/LPF

negative
negative
negative
negative
0-5
0-1
Negative

mEq/L

ASSESSMENT

Ibu:

G1P0A0, Usia 21 tahun hamil 12 minggu dengan hiperemesis gravidarum


derajat 1

Janin

Janin tunggal, hidup, intrauterin

PROGNOSIS:
Ibu

: Diharapakan baik
4

Janin : Diharapkan baik

RENCANA TINDAKAN
Observasi TTV
Terapi hiperemesis gravidarum
Lab darah rutin dan elektrolit

PENATALAKSANAAN

Tirah baring

Asering + vomceran 4mg +neurobion 5000/v infus 20tpm

Rantin 2x1 IV

Polysilane syr 3x1

Mediamer

Vomceran tab 1x1

2x1

FOLLOW UP

31 mei 2013
S : mual (+) muntah (-)
O : TD : 120/70 mmHg, N : 100x/menit, RR : 16x/menit, S : 36,8 0C, BB
: 44 Kg
usg : uk =12-13 mg
djj (+), gerakan janin (+)
lab : keton +1
A : G1P0A0, Usia 31 tahun hamil 13 minggu dengan hiperemesis

gravidarum derajat 1.
P:
Polysilane syr 3x1
Mediamer 2x1
Vomceran tab 1x1
Vitazym 2x1 tab
Asering + 8 mg cendantron infus
5

1 juni 2013
S : mual berkurang muntah (-)
O : TD : 120/70 mmHg, N : 88x/menit, RR : 16x/menit, S : 36,8 0C, BB : 44 Kg
A : G1P0A0, Usia 31 tahun hamil 13 minggu dengan hiperemesis gravidarum
derajat 1
P:.
Polysilane syr 3x1
Mediamer 2x1
Vomceran tab 1x1
Vitazym 2x1 tab
Asering infus
Pasien sudah boleh pulang

BAB I
PENDAHULUAN
6

Mual dan muntah pada kehamilan merupakan gejala yang wajar dan sering
terjadi dimana berdasarkan penelitian gejala ini timbul pada 50-90 % wanita hamil.
Gejala ini sering timbul pada kehamilan trimester I, biasanya mulai pada usia
kehamilan 4 minggu dan berakhir sekitar usia kehamilan 12 minggu. Pada beberapa
kasus gejala ini dapat menetap hingga 20-22 minggu usia kehamilan. Mual biasanya
terjadi pada pagi hari, tapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Mual dan
muntah ini terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida.
(Pada kasus pasien ini, usia kehamilan pasien 13 minggu)
Muntah dalam masa kehamilan memiliki beberapa penyebab, yang terlihat
sama dengan keadaan non-kehamilan (seperti virus, diet, reaksi obat), perubahan
hormon selama kehamilan pada trimester pertama (yang mempengaruhi kira-kira 80%
wanita hamil), preeklampsia, penyakit liver, komplikasi penyakit obstetrik lainnya, atau
hiperemesis gravidarum (muntah-muntah pada kehamilan).
Penyebab hiperemesis gravidarum yang paling dipercaya saat ini ialah
kenaikan kadar hormon, namun penyebab pasti masih belum diketahui. Perasaan mual
disebabkan oleh meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG dalam serum.
Pada umumnya wanita hamil dapat menyesuaikan dengan keadaan ini. Tetapi
jika sampai mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari serta memperburuk
keadaan umum maka disebut sebagai hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan
perubahan fisologis menentukan berat ringannya penyakit. Hiperemesis gravidarum
terjadi pada 3,5 dari 1000 kehamilan. Keluhan ini lebih sering terjadi pada wanita yang
tinggal di perkotaan daripada pedesaan.
Di Amerika, lebih dari 50.000 wanita dengan hiperemesis gravidarum
memerlukan perawatan di rumah sakit, dengan lama perawatan rata-rata empat hari.
Sistem kesehatan di Amerika telah menghabiskan biaya sekitar $130 juta per tahun,
belum termasuk biaya fisioterapi dan kehilangan produktivitas kerja di rumah dan di
tempat kerja. Hiperemesis gravidarum ditemukan lebih sering pada populasi Indian dan
Eskimo, jarang pada populasi Afrika dan Asia.
Keadaan hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan turunnya berat badan,
defisiensi nutrisi, abnormalitas dalam darah, kadar elektrolit serta keseimbangan asambasa dalam tubuh, bahkan sampai kematian. Prematuritas, berat badan lahir rendah dan
perubahan persarafan serta perubahan kulit dapat terjadi pada janin yang ibunya
mengalami hiperemesis gravidarum yang persisten.
7

Diagnosis hiperemesis gravidarum merupakan diagnosis eksklusi, maksudnya


kita baru dapat mendiagnosis seorang wanita hamil dengan hiperemesis gravidarum
apabila semua penyakit yang memiliki gejala yang sama sudah disingkirkan seperti
adanya pankreatitis, cholesistitis, hepatitis, appendisitis, gastroenteritis, ulkus peptikum,
tirotoksikosis dan hipertiroid yang semuanya itu memberikan gejala yang sama.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
8

II.

1. DEFINISI
Hiperemesis gravidarum berasal dari bahasa asing: Hyper (Yunani) dan

emesis serta gravida (Latin) yang berarti muntah yang berlebih pada wanita hamil.
Merupakan bentuk yang lebih berat dari morning sickness. ataupun segala bentuk
mual dan muntah yang terjadi pada kehamilan.
Hiperemesis gravidarum adalah keadaan mual dan muntah yang terjadi pada
wanita hamil, dimana gejala tersebut terjadi sangat berat sehingga mengganggu
aktivitas pekerjaan sehari-hari sehingga dapat memperburuk keadaan umum.
(sesuai dengan definisi dari hiperemesis gravidarum, pada kasus ini wanita 31
tahun dengan usia kehamilan 13 minggu mengeluhkan adanya mual-muntah
yang sudah dirasakannya beberapa hari ini, dan mengganggu aktifitasnya).
II.

2. INSIDENS
Dalam 30 tahun terakhir ini telah menurun kira-kira 1 di antara 1000

kehamilan. Hal ini disebabkan oleh karena pelaksanaan KB yang berjalan baik yang
menyebabkan penurunan angka kehamilan yang tidak diinginkan, antenatal care
yang baik, dan obat-obatan antiemetik yang kuat.
II.

3. ETIOLOGI
Terdapat banyak teori yang berhubungan dengan etiologi dari hiperemesis

gravidarum. Namun, hiperemesis gravidarum masih belum dimengerti dan


penelitian dari penyebab yang potensial terhadap kasus ini masih jarang yang
menghasilkan suatu kesimpulan pasti. Teori-teori baru bermunculan setiap tahun
dan menunjukkan bahwa keadaan ini merupakan suatu penyakit dengan
patofisiologis kompleks yang disebabkan oleh banyak faktor.
1. Hormonal
a. Kadar Human Chorionic Gonadotropin (hCG) yang meningkat dipercaya
sebagai penyebab utama dari hiperemesis, hal ini dibuktikan dengan
muncul hiperemesis pada kadar puncak hCG wanita hamil (trimester I)
dan muncul juga pada kasus mola hidatidosa serta kehamilan multipel di
mana kadar hCG juga jauh meningkat. Diduga kadar hCG yang tinggi
akan merangsang pusat muntah di medulla oblongata.
b. Kadar estrogen yang meningkat.
9

c. Kadar progesteron yang meningkat yang mengakibatkan terganggunya


motilitas gaster.
2. Psikologis
Ketidakmatangan psikoseksual, pertentangan di keluarga, kesulitan sosioekonomi, konflik rumah tangga, ketakutan akan persalinan ataupun kehamilan
yang tidak diinginkan dapat menyebabkan konflik mental terhadap keengganan
menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup. Namun menurut penelitian,
faktor neurogenik juga berperan, terbukti dengan membaiknya klinis pasien bila
jauh dengan rumah (di rumah sakit).
Ada juga yang menyatakan bahwa efek psikologis (frustrasi, depresi,
terisolasi, dll) adalah akibat dari hiperemesis gravidarum dan bukan penyebabnya.
3. Kadar tiroksin
Peningkatan kadar serum tiroksin terjadi pada 70% kehamilan dengan
hiperemesis gravidarum. Wanita dengan hiperemesis gravidarum cenderung
mempunyai kadar hCG yang tinggi yang menyebabkan hipertiroidisme transien.
Secara fisiologis, hCG dapat menstimulasi kelenjar tiroid yang merupakan reseptor
TSH. Kadar hCG mencapai puncak saat trimester pertama. Beberapa wanita
dengan hiperemesis gravidarum mempunyai gejala klinis hipertiroid. Namun, pada
50-70% penderita, TSH tersupresi secara transien dan tirosin bebas (T4) meningkat
(40-73%) tanpa gejala klinis dari hipertiroid, circulating thyroid, circulating
thyroid antibodies, atau pembesaran dari kelenjar tiroid. Pada hiperemesis
gravidarum dengan hipertiroid transien, fungsi tiroid akan kembali normal pada
pertengahan trimester kedua tanpa pengobatan anti tiroid.
4. Disfungsi neuromuskular gaster
Teori terbaru mengatakan bahwa pada hiperemesis gravidarum terjadi
disfungsi yang mengakibatkan regurgitasi isi duodenal ke lambung yang
menimbulkan rasa mual dan muntah.

10

5. Defisiensi nutrisi
Kemungkinan disebabkan berkurangnya cadangan karbohidrat. Sedangkan
defisiensi vitamin B6 dan B1 lebih merupakan akibat bukan sebagai penyebab.
6. Alergi
Sebagai salah satu respon jaringan ibu terhadap anak juga disebut sebagai
faktor organik. Mungkin berkaitan dengan produksi yang disekresi oleh ovum.
7. Helicobacter pylori
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa H.pylori berperan dalam terjadi
hiperemesis gravidarum, walaupun pada penelitian yang lain tidak dapat
dibuktikan.
8. Faktor organik
Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik
akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini.
II.

4. PATOFISIOLOGI
Pada hiperemesis gravidarum terjadi muntah-muntah berlebihan. Stimulus

terkuat dari muntah adalah iritasi dan distensi dari gaster. Stimuli lainnya berupa
cahaya yang menyilaukan, anestesia umum, pusing berputar dan obat-obat tertentu
(morfin, derivat digitalis). Impuls dari stimuli tersebut ditransmisi oleh saraf menuju
pusat muntah di medula oblongata dan impuls dikembalikan merangsang organ
traktus digestivus bagian atas.
Ada pernyataan, perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar
estrogen, sebab keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh fisiologik
hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat
berkurangnya pengosongan lambung. Biasanya ibu hamil dapat menyesuaikan diri
dengan keadaan ini. Melalui tes yang sensitif, hCG dalam urin atau plasma mulai
dapat terdeteksi 8 sampai 9 hari setelah ovoluasi. Konsentrasi hCG akan naik dua
kali lipat dalam 14-20 hari. Pada hari ke 60-70 usia kehamilan (hamil 9-10 minggu)
kadar hCG akan mencapai puncaknya, setelah itu konsentrasi akan menurun sampai
stabil mulai hari ke 100-130 usia kehamilan.

11

Hiperemesis gravidarum merupakan komplikasi mual dan muntah pada


hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak
imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa gejalagejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tetapi faktor psikologik
merupakan faktor utama, di samping pengaruh hormonal. Yang jelas, wanita yang
sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik dengan gejala tidak suka
makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat.
Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat
dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak
sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton asetik, asam hidroksi
butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan
cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan
plasma berkurang. Natrium dan khlorida darah turun, demikian pula khlorida air
kemih. Selain itu dapat menyebabkan gangguan keseimbangan asam basa, berupa
alkalosis metabolik akibat hilangnya asam karena muntah-muntah berlebihan
ataupun asidosis metabolik akibat peningkatan asam (ketosis). Selain itu juga terjadi
dehidrasi yang menyebabkan:
1. Penurunan saliva, yang berakibat mulut dan faring kering.
2. Peningkatan osmolaritas darah, yang akan merangsang osmoreseptor di
hipothalamus

12

3. Penurunan volume darah yang berakibat penurunan tekanan darah, sehingga


renin akan meningkat, begitu juga angiotensin II.
Ketiga hal tersebut akan merangsang pusat rasa haus di hipothalamus, yang
seharusnya akan meningkatkan intake cairan, namun karena terdapat mual dan
muntah yang tidak bisa ditoleransi akibatnya cairan juga tidak dapat masuk per
oral, sehingga cairan tubuh tidak mencapai kadar normal dan dehidrasi tetap
terjadi.
Karena muntah terus terjadi dan tidak ada makanan yang dapat masuk,
cadangan karbohidrat pun sangat bekurang, sehingga untuk memenuhi kebutuhan
respirasi sel dan menghasilkan ATP dipakai jalur pemecahan lemak (katabolisme
lipid/lipolisis) secara berlebihan, bukan memakai jalur glikolisis. Asam lemak
dikatabolisis. Asam lemak dikatabolisme di mitokondria melalui proses yang
dinamakan beta oxidation, yang akhirnya membentuk acetyl coA. Acetyl coA akan
masuk ke dalam siklus krebs. Hepatosit akan mengambil dua molekul acetyl coA
dan terkondensasi, dan aseton (keton bodies). Proses tersebut dinamakan
ketogenesis. Keton-keton tersebut akan mudah berdifusi ke membran plasma,
meninggalkan hepatosit untuk kemudian masuk ke dalam aliran darah. Akibatnya
terjadi ketosis dalam darah, yang kemudian dikeluarkan melalui urine, sehingga
pada hiperemesis gravidarum lanjut didapatkan keton pada urine.
Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke
jaringan berkurang. Sehingga jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan
berkurang dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik. Kekurangan kalium sebagai
akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, menambah frekuensi
muntah-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati, dan terjadilah lingkaran
setan yang sulit dipatahkan.
Di samping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit, dapat terjadi
robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (Sindroma Mallory Weiss)
dengan akibat perdarahan gastro intestinal. Pada umumnya robekan ini ringan dan
perdarahan dapat berhenti sendiri. Jarang sampai diperlukan transfusi atau tindakan
operatif.

13

II. 5. PATOLOGI
Bedah mayat pada wanita yang meninggal akibat hiperemesis gravidarum
menunjukkan kelainan-kelainan pada berbagai alat dalam tubuh, yang juga dapat
ditemukan pada malnutrisi oleh bermacam sebab.
1. Hati
Pada hiperemesis gravidarum tanpa komplikasi ditemukan degenerasi lemak
tanpa nekrosis; yang terletak sentralobuler. Kelainan lemak ini nampaknya tidak
menyebabkan kematian dan dianggap sebagai akibat muntah yang terus menerus.
sebagian penderita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum menunjukkan
gambaran mikroskopik hati yang normal.
2. Jantung
Ukuran Jantung menjadi lebih kecil dan atrofi. Hal ini sejalan dengan
lamanya penyakit, kadang-kadang ditemukan perdarahan sub-endokardial.
3. Otak
Kadang terdapat bercak perdarahan pada otak dan dijumpai kelainan
seperti pada ensefalopati Wernicke (dilatasi kapiler dan perdarahan kecil-kecil di
daerah korpora mamilaria ventrikel ke-3 dan ke-4).
4. Ginjal
Pucat dan pada tubuli kontorti ditemukan degenerasi lemak.
II. 6. GEJALA KLINIS
a) Gejala awal:
1.

Memuntahkan segala yang dimakan, muntah mengandung cairan empedu


atau hanya makanan. (+)

2.

Terhambatnya aktivitas sehari-hari. (+)

3.

Gangguan gizi

4.

Keadaan umum baik (+)

5.

Pemeriksaan darah dan urin dalam batas normal (+)

Gejala-gejala yang lanjut:


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Jumlah dan frekuensi muntah bertambah


Jumlah urin berkurang.
Konstipasi, terkadang diare
Nyeri ulu hati. (+)
Pasien berbaring terus. (+)
Terdapat tanda-tanda dari komplikasi, yaitu
14

a. Wernickes encephalopathy: apatis, gelisah, tidak bisa tidur, kejang bahkan


koma.
b. Korsakotts psychosis: bingung dan kehilangan ingatan saat ini
c. Nefritis perifer
d. Gangguan pada mata: diplopia, gangguan penglihatan bahkan kebutaan.
Tanda-Tanda Lanjut dari Hiperemesis Gravidarum:
1.

Badan menjadi kurus karena berat badan turun secara progresif.

2.

Lemas

3.

Apatis

4.

Turgor kulit menurun

5.

Lidah kering, coklat, kotor

6.

Napas bau aseton

7.

Nadi 100-120 atau lebih per menit.

8.

Tekanan darah rendah sistolik < 100 110 mmHg.

9.

Suhu meningkat > 1000F

10. Gejala neurologis seperti nistagmus, strabismus, dan lumpuh


11. Ikterik
12. Konfirmasi kehamilan.

Pada pemeriksaan penunjang :


1. Urinalisis : jumlah sedikit pekat, berat jenis yang meningkat, terdapat
keton, terkadang protein, kadar klorida yang menurun bahkan sampai tidak
ada.
2. Darah : kadar elektrolit (natrium, kalium dan klorida) yang menurun, kadar
enzim hati yang dapat meningkat, kadar hemoglobin yang menurun, kadar
hematokrit yang meningkat.
3. Pemeriksaan oftalmoskop. Diperlukan pada keadaan yang sangat serius
karena dapat ditemukan komplikasi berupa perdarahan dan lepasnya retina.
Pada beberapa pasien, kadar elektrolit dapat tampak normal karena
dehidrasi dapat merubah konsentrasinya. Oleh sebab itu, bila cairan intra vena
diberikan rehidrasi maka vitamin dan elektrolit parenteral juga harus diberikan.

15

Bila pasien tidak dapat makan cukup selama beberapa minggu dan juga
terus-menerus muntah, maka pasien ini memiliki risiko tinggi untuk terjadi
defisiensi nutrisi. Kondisi kehamilan juga membuat rasa lapar terjadi lebih
cepat. Malnutrisi yang signifikan dapat terjadi pada pasien ini. Banyak nutrisi
yang akan menurun dalam waktu singkat, terutama vitamin yang larut dalam air,
seperti thiamine (B1). Defisiensi dari thiamine banyak terjadi pada hiperemesis
gravidarum dan bila lanjut akan menyebabkan Wernickes ensefalopati (suatu
bentuk inflamasi, perdarahan dari ensefalopati). Prognosis dari keadaan ini
sangat jelek karena akan terjadi kerusakan neurologis yang ireversibel, bahkan
dapat terjadi kematian.
Bila hiperemesis gravidarum ditangani secara agresif dari awal
kehamilan, maka tidak akan terjadi komplikasi yang mengancam kehidupan atau
kesembuhan yang lama. Jadi mengidentifikasi wanita yang memiliki risiko
untuk mengalami hiperemesis gravidarum sangat menolong, dan pemeriksaan
laboratorium dasar dapat langsung dilakukan untuk mencegah gejala lanjut.
Alat yang dipakai untuk mengukur derajat keparahan dari mual dan
muntah memang belum ada yang standar, namun tampaknya rhodes index dapat
dipertimbangkan untuk digunakan dalam memonitor kemajuan keadaam pasien.
Alat ini dapat dipakai satu atau dua kali sehari dan dapat di evaluasi baik secara
terpisah per kategori ataupun secara keseluruhan.

Hiperemesis Gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi


ke dalam 3 tingkatan:
Tingkatan I
Muntah terus menerus dan mempengaruhi keadaan umum penderita,
lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri pada
16

epigastrium. Nadi meningkat kira-kira 100 kali per menit, tekanan darah sistolik
menurun, turgor kulit kurang, lidah kering dan mata cekung.
Tingkatan II
Terlihat lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih berkurang, lidah
mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik
dan mata sedikit ikterik. Berat badan turun dan mata menjadi cekung, tensi
turun, hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi. Aseton dapat tercium dalam
hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula
ditemukan dalam urin.
Tingkatan III
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dari
somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tensi
menurun. Komplikasi fatal terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai
ensefalopati Wernicke, dengan gejala: nistagmus, diplopia dan perubahan
mental. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk
vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati.
(Pasien pada kasus ini termasuk kedalam hiperemesis gravidarum derajat
1 sesuai dengan hasil pemeriksaan yang didapatkan)

II.

7. DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis hiperemesis gravidarum umumnya tidak

sulit, pertama harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang terus
menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umumnya. Namun demikian harus
dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit penyerta seperti pyelonefritis, ulkus
ventrikuli, hepatitis dan tumor serebri yang dapat juga memberikan gejala muntah.
Hiperemesis yang terus menerus dapat menyebabkan kekurangan makanan yang
dapat mempengaruhi perkembangan janin, sehingga pengobatan perlu segera
diberikan.
Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan sebagai berikut:

Urinalisis untuk keton dan diagnosis kehamilan.


Elektrolit serum: mengevaluasi adanya hiponatremia atau hipokalemia,
hipokloremia, alkalosis atau asidosis metabolik, dan fungsi ginjal.

17

Enzim hati dan bilirubin: meningkatnya kadar transaminase dapat terjadi

pada 50% kasus


Amilase: meningkat pada 10% kasus.
TSH, FT4: hipertiroidisme pada 50-60% kasus.
Kultur urin: infeksi saluran kemih sering terjadi pada kehamilan,

berhubungan dengan mual dan muntah.


Kadar kalsium: pada beberapa kasus hiperemesis gravidarum berhubungan

dengan hiperkalsemia akibat hiperparatiroid.


Hematokrit: mungkin meningkat akibat dehidrasi.
Hepatitis panel: hepatitis A, B, atau C dapat menyerupai gejala hiperemesis
gravidarum.

Pemeriksaan Radiologi:

USG fetomaternal diperlukan untuk penderita hiperemesis gravidarum untuk

melihat adanya kehamilan multipel atau penyakit trofoblas.


Jika terdapat indikasi, USG abdomen untuk melihat adanya kelainan
pancreas dan/atau traktus bilier.
Pada kasus yang jarang, mungkin CT scan abdomen diindikasikan untuk

appendicitis.
Pada pasien dengan nyeri abdomen atau perdarahan saluran cerna bagian

atas, dapat dilakukan endoskopi.

II.8. DIAGNOSIS BANDING

Penyakit-penyakit yang memiliki gejala muntah berkepanjangan harus


disingkirkan
gastroenteritis,

terlebih

dahulu.

kolesistitis,

Penyakit-penyakit

pankreatitis,

hepatitis,

tersebut
ulkus

seperti

peptikum,

pyelonefritis, dan fatty liver pada kehamilan. Apendisitis akut, bowel

sindrom, hipertiroid, pyelonefitis, kolik renal.


Dapat juga muntah tersebut akibat konsumsi obat-obatan seperti antibiotik
sulfasalazin atau digoksin. Untuk menyingkirkannya tentu diperlukan
anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang teliti.

II.9. PENATALAKSANAAN
18

Prinsip penatalaksanaanya adalah untuk:


1.

Memperbaiki keadaan umum

2.

Koreksi cairan, elektrolit dan zat-zat metabolik

3.

Mencegah atau mendeteksi lebih awal adanya komplikasi yang timbul

Keadaan yang mengharuskan pasien dirawat:


1.

Apa yg dimakan dan diminum, dimuntahkan lagi, apalagi kalau berlangsung


lama.

2.

Berat badan turun lebih dari 1/10 dari berat badan normal

3.

Turgor kurang, lidah kering

4.

Terdapat aseton dalam urin

A. Perubahan Diet dan Gaya Hidup


Pencegahan perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan penerapan
tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik,
memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan
gejala fisiologik pada kehamilan muda dan hilang setelah kehamilan 4 bulan,
menganjurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah
kecil, tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat
tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat.
Makanan yang berminyak dan berbau lemak harus dihindarkan. Makanan dan
minuman disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. Defekasi yang
teratur hendaknya dapat dijamin, menghindarkan kekurangan karbohidrat
merupakan faktor yang penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang
banyak mengandung gula. Bila terjadi muntah yang berkepanjangan, harus
dipertimbangkan untuk diberikan tambahan gizi, sebaiknya diberikan secara
enteral bila memungkinkan.
B. Terapi obat
Jika perubahan diit dan gaya hidup belum dapat memecahkan masalah
mual dan muntah, terapi obat dapat diberikan dengan memperhatikan keamanan
untuk janin, sebab kebanyakan antiemetik kontraindikasi untuk ibu hamil.
Dilema dalam mengobati hiperemesis gravidarum secara farmakologis karena
kemungkinan terdapatnya efek teratogenik, khususnya pada trimester pertama.
Umumnya, tidak ada obat yang diproduksi untuk mengobati morning sickness.
19

Obat antiemetik untuk mual dan muntah pada ibu hamil dapat berupa:
Antihistamin
Antihistamin memblok efek histamin pada reseptor H 1 dan tidak
menghambat pelepasan histamin. Mempunyai efek antikolinergik, seperti
konstipasi, mata kering, mulut kering, pandangan kabur, dan sedasi. Digunakan
untuk terapi motion sickness dan insomnia sebagai keadaan alergi. Antihistamin
membuat kering membran mukosa sehingga mengurangi salivasi pada
hiperemesis gravidarum.
Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan sekitar 30 tahun yang lalu
menunjukkan bahwa antihistamin tidak menimbulkan efek teratogenik pada
trimester pertama kehamilan dan efektif untuk mengurangi muntah.
Antihistamin
(Dramamine),

yang

Meclizine

biasa

digunakan

(Antivert),

adalah

Dimenhydrinate

Promethazine

(Phenergan),

Diphenhydramine (Benadryl).
Phenothiazin
Phenothiazin adalah dopamin antagonis yang bekerja pada trigger zone
kemoreseptor untuk mencegah mual dan muntah. Umumnya golongan
phenothiazin yang dipakai adalah

Chlorpromazine,

Prochlorperazine

promethazine (Phenergan), dan Trifluoperazine (Stelazine). Phenothiazin


ditemukan tidak teratogenik meskipun terdapat kasus menunjukkan beberapa
malformasi mayor berhubungan dengan penggunaan pada trimester pertama.
Selama penggunaan phenothiazin perlu dipantau adanya gejala
neuroleptic malignant syndrome. Berupa demam, gagal pernapasan, takikardi,
kejang, diaphoresis, lemah, pucat, dan inkontinensia urin.
Obat-obatan lain
Metoclopramid adalah dopamine reseptor bloker pada trigger zone
kemoreseptor di sistem saraf pusat. Mempunyai efek antikolinergik dan
merangsang mobilitas saluran pencernaan bagian atas dan mempercepat
pengosongan lambung. Ini juga digunakan sebagai first-line pharmacologic
treatment untuk hiperemesis gravidarum dan telah terbukti efektif. Terdapat
dalam bentuk injeksi, oral, dan suppositoria. Efek sampingnya berupa sindrom
ekstrapiramidal dan tardive dyskinesia.

20

Hydroxyzine adalah obat antianxietas yang bekerja mendepresi sistem


saraf pusat dan mempunyai efek antikolinergik, antihistamin, dan antiemetik.
Efek sampingnya adalah mengantuk, pusing, dan mulut kering.
Trimethobenzamide (Tigan) juga merupakan antikolinergik.
Droperidol (Inapsine) sering digunakan sebagai tranquilizer untuk
anestesi, tapi ini juga digunakan untuk menekan mual dan muntah. Droperidol
dapat menyebabkan aritmia jantung dan interval QT memanjang.
Ondansetron adalah reseptor antagonis selektif 5-HT3 yang paling
banyak digunakan untuk mengobati mual dan muntah akibat kemoterapi.
Bekerja memblok efek serotonin pada reseptornya pada nervus vagus terminal
dan chemoreceptor trigger zone pada sistem saraf pusat.
Pyridoxin atau vitamin B6 (komponen dari Bendectin) direkomendasikan
untuk pasien hiperemesis gravidarum, karena defisiensi vitamin dapat
menyebabkan terjadinya mual dan muntah. 10 mg vitamin B 6 tiga kali sehari
secara nyata dapat mengurangi mual dan muntah pada ibu hamil. Pyridoxine
(vitamin B6) 10-25 mg per oral merupakan terapi lini pertama dalam manajemen
hiperemesis gravidarum. Ini telah terbukti keamanan dan kefektifannya dalam
mengurangi gejala mual dan muntah.
C. Isolasi
Pasien disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan
peredaran udara yang baik. Hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke
dalam kamar penderita, sampai muntah berhenti dan penderita mau makan.
Kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang
tanpa pengobatan.
D. Terapi psikologik
Perlunya

meyakinkan

pada

pasien

bahwa

kelainannya

dapat

disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaaan


serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar
belakang penyakit ini.
E. Cairan parenteral
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein
21

dengan glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter sehari. Bila
perlu ditambah kalium, dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan
vitamin C dan bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino
secara intravena. Dibuat kontrol cairan yang masuk dengan yang keluar, air
kencing perlu diperiksa sehari-hari terhadap protein, aseton, khlorida dan
bilirubin. Suhu dan nadi diperiksa setiap 4 jam dan tekanan darah 3 kali sehari.
Dilakukan pemeriksaan hematokrit pada permulaan dan seterusnya menurut
kebutuhan. Bila selama 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum
bertambah baik dapat dicoba untuk memberikan minuman, dan lambat laun
minuman dapat ditambah dengan makanan yang tidak cair.
F. Penghentian kehamilan
Pada sebagian kecil kasus, dimana keadaan tidak menjadi baik, bahkan
mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik bila keadaan
memburuk. Delirium, kebutaan, takikardi, ikterus, anuria, dan perdarahan
merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan demikian perlu
dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan.
II.10. KOMPLIKASI
Karena sudah majunya penatalaksanaan di rumah sakit, komplikasi
komplikasi berat sudah jarang terjadi sekarang. Komplikasi yang dapat terjadi
pada hiperemesis gravidarum yang berkepanjangan ialah:

1. Komplikasi neurologis
(a) Wernickes ensefalopati. Trias dari kelainan ini ialah gangguan
penglihatan berupa diplopia dan nistagmus, tidak dapat berpikir jernih
(kebingungan), serta kelemahan otot. Terkadang bisa sampai koma dan dapat
terjadi abortus spontan. Kelainan ini akibat dari defisiensi thiamine (B1) dan
dicetuskan oleh pemberian cairan mengandung glukosa sebelum defisiensi
thiamine dikoreksi.

22

(b).Neuritis perifer
(c). Korsakoffs psikosis. Merupakan kelainan pada otak yang melibatkan
hilangnya fungsi spesifik tertentu dari otak, akibat defisiensi thiamine.
Merupakan bentuk lanjut dari wernickes ensefalopati, dengan gejala berupa
hilangnya ingatan, tidak mampu untuk membuat ingatan baru, konfabulasi
(cerita yang dibuat-buat) dan halusinasi.

(d).Central pontine myelinolysis, terjadi akibat deplesi natrium yang


dikoreksi terlalu cepat. Gejala cepat berupa kebingungan ketidakmampuan
untuk melihat ke satu titik untuk waktu yang lama, kuadriplegia spastik.

23

2. Stress related mucosal injury, stres ulcer pada gaster.


3. Jaundice. Terjadi akibat gangguan hati yang berkepanjangan sehingga
menyebabkan kadar bilirubin meningkat. Terjadi bila hiperemesis gravidarum
tidak ditangani.
4. Koagulopati, terjadi akibat defisiensi vitamin K sehingga mengganggu
pembekuan darah.
5. Disfungsi pencernaan.
6. Hipoglikemia
7. Malnutrisi dan kelaparan
8. Komplikasi potensial dari janin.
9. Kerusakan ginjal yang menyebabkan hipovolemia.
10.Intrauterine growth restriction (IUGR) dan kematian janin memiliki
hubungan dengan penyakit ini.
11. Sindrom Mallory-Weiss penurunan dari esofagus.
Belum ada penelitian jangka panjang yang dilakukan pada bayi dengan ibu
hiperernesis gravidarum. Kebanyakan komplikasi tampaknya berkaitan dengan
malnutrisi maternal yang berat. Seorang wanita yang kehilangan berat badan
lebih dari 10% dan gagal untuk mencapai berat badan adekuat sebelum
persalinan akan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi pada
janinnya. Selain risiko penyakit kronis, komplikasi potensial dari janin lainnya
adalah sebagai berikut :
Persalinan preterm
Penyakit jantung bawaan
Abnormalitas pada kulit
Berat bayi lahir rendah
Panjang badan yang lebih pendek
Undescended testicles
Displasia panggul
Sekuele pada perkembangan neurologis
Defek pada neural tube
Malformasi susunan saraf pusat
24

Kematian perinatal
Keganasan testis
Gangguan emosi/perilaku
II.11. PENCEGAHAN
Prinsip pencegahan adalah mengubah emesis agar tidak terjadi Hiperemesis:
1. Penerangan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses fisiologis.
2. Makan sedikit-sedikit tetapi sering, berikan makanan selingan super biskuit,
roti kering dengan teh hangat saat bangun pagi dan sebelum tidur. Hindari
makanan berminyak dan berbau, makanan sebaik disajikan dalam keadaan
hangat.
3. Jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi, akan terasa oyong, mual dan
muntah, defekasi hendaknya diusahakan terakhir.

II.12. PROGNOSIS
Dengan penanganan yang baik, prognosis hiperemesis gravidarum
sangat memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat diatasi dengan baik, namun
demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan
janin.
Kriteria pulang

Mual dan mutah tidak ada lagi

Keluhan subyektif tidak ada

Tanda-tanda vital baik


BAB V
KESIMPULAN

Mual dan muntah adalah gejala normal pada awal kehamilan. Jika keadaan ini
berlanjut maka dapat menyebabkan keadaan yang serius yang dikenal sebagai
hiperemesis gravidarum. Muntah-muntah yang sering mengakibatkan keadaan umum
ibu terganggu, dehidrasi, gangguan elektrolit, gangguan gizi yang akhirnya dapat
mengganggu ibu dan pertumbuhan janin.
25

Faktor psikologis sangat memegang peranan penting dalam menyebabkan


hiperemesis gravidarum. Terapi ditujukan untuk memperbaiki keadaan umum, rehidrasi
dan dietnya.
Pada ibu disarankan untuk senantiasa tenang dan cukup istirahat selama masa
kehamilan. Diet diberikan secara bertahap agar muntah- muntah dapat berkurang.
Antenatal care yang teratur sangat membantu dalam mengawasi ibu dan janin sehingga
apabila ada kelainan yang terjadi dapat ditangani lebih dini.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Mochtar R. Hiperemesis Gravidarum. Sinopsis Obstetri. Edisi 2. EGC. Jakarta:


1998. Hal 195-198.

2.

Wiknjosastro H. Hiperemesis Gravidarum, dalam Ilmu Kebidanan. Balai Penerbit


FKUI, Jakarta: 2005. Hal 275-280.

3.

Cunningham, F.G. Hyperemesis Gravidarum, in Williams Obstetrics. 22 th Edition.


Prentice Hall International, USA: 2007.
26

4.

Ronardy, Devi H. (editor). Obstetri Williams. Edisi 18. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2006: 9, 996.

27

Anda mungkin juga menyukai