Anda di halaman 1dari 34

CASE REPORT

ACUTE ABDOMEN
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan Dokter Umum
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pembimbing : dr. A. Sentot Suropati, Sp. PD

Oleh :
Erlieza Rosdania, S. Ked
J510165052

PROGRAM STUDI PROFESI KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016
CASE REPORT
ACUTE ABDOMEN
Disusun Oleh:
Erlieza Rosdania

J510165052

Telah disetujui dan disahkan oleh bagian Program Pendidikan Profesi Dokter Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Pembimbing
Nama

: dr. A. Sentot Suropati, Sp. PD

(___________________)

: dr. A. Sentot Suropati, Sp. PD

(___________________)

Penguji
Nama

Disahkan Sek. Program Pendidikan Profesi FK UMS


Nama

: dr. D. Dewi Nirlawati

(__________________)

BAB I
PENDAHULUAN
Akut abdomen adalah penyakit yang disebabkan oleh nyeri yang timbul akibat
masalah bedah dan non bedah serta terjadi secara tiba-tiba (Sudoyo dkk, 2006). Terminologi
akut abdomen mengacu pada gejala dan tanda dari adanya penyakit intra-abdominal yang
seringkali memerlukan diagnosis spesifik serta tindakan pembedahan sesegera mungkin.
Bahkan, pada kebanyakan situasi, kondisi ini dapat berakhir dengan kematian bila tidak
ditanggulangi dengan pembedahan (Graff, 2001).
Gawat abdomen merupakan sebuah terminologi yang menunjukkan adanya keadaan
darurat dalam abdomen yang dapat berakhir dengan kematian bila tidak ditanggulangi dengan
pembedahan. Keadaan darurat dalam abdomen dapat disebabkan karena perdarahan, perforasi
atau obstruksi pada alat pencernaan. Peradangan bisa primer karena peradangan alat
pencernaan seperti pada appendisitis atau sekunder melalui suatu pencemaran peritoneum
karena perforasi tukak lambung, perforasi dari Payer's patch pada typhus abdominalis atau
perforasi akibat trauma. (Graff, 2001)
Sindroma akut abdomen menghasilkan angka yang cukup tinggi di ruang unit gawat
darurat. Angka ini mencakup berbagai kalangan usia, jenis kelamin maupun kelompok sosioekonomi. Dari berbagai studi, tercatat bahwa di Amerika Serikat 5% hingga 10% (5 hingga
10 juta) pasien unit gawat darurat menunjukkan gejala dan tanda dari kondisi ini. Studi
lainnya mencatat presentasi pasien unit gawat darurat sebesar 25% yang mengeluhkan nyeri
abdomen. Poin terpenting dari data di atas, adalah bahwa semua pasien menunjukkan tandatanda yang hampir serupa, sehingga membuat baik diagnosis maupun penatalaksanaan
menjadi semakin sulit dilakukan (Graff, 2001).
Dengan alasan-alasan tertentu, nyeri yang berasal dari bermacam-macam visera sukar
dilokalisasikan (Guyton dan Hall, 2006) . Mengingat dalam kasus akut abdomen tanda yang
paling menonjol adalah nyeri, maka seorang klinisi harus memiliki pengetahuan yang
memadai tentang anatomi, persarafan dan juga fisiologi dari organ visera maupun rongga
abdomen. Ketiga faktor ini akan sangat membantu dalam menentukan sumber nyeri, sehingga
pada akhirnya, memudahkan pendekatan klinis terhadap penyakit itu sendiri (Sudoyo dkk,
2006).
Satu hal penting yang dibutuhkan dalam pengelolaan akut abdomen yang tepat adalah
pengambilan keputusan untuk tindakan bedah. Lebih jauh, keputusan tersebut memerlukan
informasi tentang riwayat penyakit pasien, pemeriksaan fisik, pengumpulan data
1

laboratorium serta foto abdomen. Setiap pasien yang menunjukkan sindroma akut abdomen
haruslah menjalani evaluasi untuk menetapkan diagnosis secepat mungkin, sehingga
pengobatan dapat diberikan tepat waktu dan morbiditas maupun mortalitas dapat
diminimalisir (Graff, 2001).

BAB II
ANALISIS KASUS
A.

Identitas Pasien
Nama

: Ny. S

Usia

: 45 tahun

Jenis Kelamin
Pekerjaan

: Perempuan

: Swasta/Buruh

Alamat

: Tengklik 4/5 Watubonang Tawangsari Sukoharjo

Agama

: Islam
2

Status

: Menikah

Tanggal Masuk: 30-8-2016


Tanggal Keluar: 6-9-2016
B.

Anamnesis
Keluhan Utama : nyeri perut

C.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RSUD Sukoharjo dengan keluhan nyeri pada
ulu hati, perut terasa panas (+), lemas (+), keluar keringat dingin
(+), pusing (+), mual (-), muntah (-) BAB (+), BAK (+). Pasien
mempunyai

riwayat

pengobatan

TB

selama

pengobatan sedang berjalan 7 bulan .


D.

E.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat penyakit sama : disangkal

Riwayat penyakit jantung

Riwayat penyakit asma : disangkal

Riwayat penyakit ginjal : disangkal

Riwayat konsumsi OAT : diakui

Riwayat operasi

Riwayat konstipasi/obstipasi : disangkal

Riwayat mondok di RS : diakui

Riwayat alergi obat/makanan : disangkal

Riwayat hipertensi

Riwayat DM

: disangkal

: disangkal

: diakui
: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat penyakit serupa

: disangkal

Riwayat penyakit asma

: disangkal

Riwayat alergi obat/makanan

Riwayat hipertensi

: disangkal

: ibu hipertensi

tahun

tetapi


F.

G.

H.

Riwayat TBC

: disangkal

Riwayat Pribadi

Riwayat Merokok
: disangkal
Riwayat konsumsi obat : pasien sudah & bulan mengkonsumsi

obat TB
Riwayat konsumsi alkohol
Riwayat konsumsi narkotik

: disangkal
: disangkal

Anamnesis Sistem

System cerebrospinal

kesadaran (-), pusing (+), kejang (-) nyeri kepala (-)


System cardiovascular
: anemis (-), palpitasi (-), nyeri dada

(-)
System respirasi

ronkhi (+)
System urinarius
System gastrointestinal

(+), perut sakit (+) BAB (+).


System musculoskeletal
: edema pedis (-/-),susah digerakan

(-), nyeri pada lengan kanan (-/-), nyeri tulang (-)


System integumentum
: tampak pucat (-), sering berkeringat.

: lemah (+), demam (-), penurunan

: sesak (-), batuk (+), whezing (-),


: BAK (+), nyeri saat BAK (-),
: mual (-), muntah (-), nyeri ulu hati

Pemeriksaan Fisik

Status generalis
Vital sign

78x/menit; S:36C.
Kepala
: Bentuk normocephal, rambut rontok (-)
Mata
: simetris, conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik

(-/-). Reflek cahaya (+/+)


Telinga
: ukuran normal, sekret (-), bau (-), perdarahan (-)
Hidung
: eritem (-), pernapasan cuping hidung (-), sekret

(-)
Ekstremitas
Leher

: cukup, kesadaran compos mentis


: TD 130/90 mmHg; RR 22x/menit; HR

: akral hangat (+), edema (-/-), nyeri lutut (-/-).


: pembesaran KGB (-), pembesaran tyroid (-), JVP

tidak meningkat.
Thorax:
o Cor:
- Inspeksi
: iktus cordis tampak
- Palpasi
: iktus cordis kuat angkat
4

Perkusi

batas

atas

jantung

SIC

III

linea

parasternalis sinistra, batas bawah jantung SIC V linea


-

midklavicularis sinistra.
Auskultasi : suara jantung S1-S2 reguler, cepat, suara

tambahan (-)
o Pulmo:
- Inspeksi
: simetris, tidak terdapat ketinggalan gerak (-/-)
- Palpasi
: tidak terdapat ketinggalan gerak, fremitus
normal.
- Perkusi
: sonor.
- Auskultasi : SDV (+), ronkhi (-/+), wheezing (-/-).
Abdomen:
- Inspeksi
: cekung, bekas luka (-) sikatrik (-)
- Auskultasi : hiperperistaltik (-), bising usus (+)
- Palpasi
: supel, nyeri tekan (+), nyeri lepas
I.

tekan (+) hepatomegali(-) splenomegali (-)


Perkusi
: tympani (+)

Pemeriksaan Penunjang
a. USG Abdomen
Tanggal 1 September 2016
Hasil :
Hepar

: Tidak membesar, permukaan rata, tepi


tajam
Struktur

echoparenkim

homogen,

tidak

tampak nodul. Tidak tampak pelebaran vena


vena dan duktus billiaris, tidak tampak
asites
Gall Blader

: Tidak membesar , dinding tidak menebal,


tidak tampak batu/SOL

Lien

: Tidak membesar, homogen, hillus renalis

tenang
Pancreas

Tidak

mrmbesar,homogen,

tak

tampak SOL
Ginjal Kanan : Besar, bentuk dan letak normal, capsul
intack, echoparencym homogen

PCS tidak melebar, Ratio Cortex _ medula


baik
Tidak tampak batu SOL
Ginjal Kiri

: Besar, bentuk dan letak normal, capsul


intack, echoparencym homogen
PCS tidak melebar, Ratio Cortex _ medula
baik
Tidak tampak batu SOL

Explorasi Cv Abd : Tidak tampak lesi hyper/ hypoechoik,


nyeri tekan (-)
Vesica Urinaria

: Dinding reguler, mukosa baik, tidak

tampak batu/SOL
Syst Genetalis

: Uterus dan Adnexa : dbn. Tampak

Fluid Coll pada regio Cv Douglast


Kesan

: Susp gambaran PID (Pelvic Infalamatory

Disease)
Tak tampak kelaiana struktural pada organ
organ intra abdomen.
b. Laboratorium
Tanggal 30 agustus 2016
Pemeriksaan
Limfosit
Eosinofil
MCHC
J.

Hasil
L 18,7
H 5,20
H 34,5

Satuan
%
%
g/dL

Diagnosis
Nyeri abdomen (Acute Abdomen) e/c susp. PID

Nilai Nornal
25-40
2,00 4.00
RNF

K.

Follow Up:

30/8/2016
S:

nyeri perut (+) berkurang , pasien mual (+),

muntah (-), pusing (+)


O:

TD: 200/160, T: 36,5 RR: 20x, HR : 80x


Pemeriksaan
Limfosit
Eosinofil
MCHC

A:
P:

Hasil
L 18,7
H 5,20
H 34,5

nyeri akut abdomen susp PID


RL 20 tpm, injeksi omz/ 12jam, inj ondancetron/12jam,
inj

antalgin/8

jam,

ulsafat

3x1,

amliodipin

1x1,

candesartan 8mg 1x1


31/8/2016
S:

nyeri perut (+) berkurang , pasien mual (-),pusing

(-)
O:

TD: 130/80, T: 36,4 RR: 18x, HR : 84

A:

nyeri akut abdomen susp PID

P:

RL 20 tpm, inj Ranitidin/12 jam, inj omz/12 jam, inj


antalgin/8 jam,
L-Bio 2x1, diazepam 2mg 3x1

1/9/2016
S:
O:
A:

nyeri perut (+) semalam badan panas.


TD: 110/70, T: 37,4 RR: 22, HR : 88
Nyeri akut abdomen susp PID

P:

RL 20 tpm, inj cefotaxim/8 jam, inj Ranitidin/12 jam, inj


omz/12 jam, inj antalgin/8 jam, L-Bio 2x1, diazepam 2mg
3x1, MP 62,5mg 3x1

02/9/2016
S:

nyeri perut (+), pasien mual (-), BAB (+), BAK (+)

O:

TD: 120/80, T: 36,1 RR: 20, HR : 80

A:

Nyeri akut abdomen susp PID

P:

RL 20 tpm, inj cefotaxim/8 jam, inj Ranitidin/12 jam, inj


omz/12 jam, inj antalgin/8 jam, L-Bio 2x1, diazepam
2mg 3x1, MP 62,5mg 3x1, cholramfenicol 500mg 3x1

03/9/2016
S:

nyeri perut (+), pasien mual (-), muntah (-) , nafsu


makan turun, susah tidur

O:

TD: 100/60, T: 36,3 RR: 20, HR : 78x

A:

Nyeri akut abdomen susp PID

P:

RL 20 tpm, inj cefotaxim/8 jam, inj Ranitidin/12 jam, inj


omz/12 jam, inj antalgin/8 jam, L-Bio 2x1, diazepam
2mg 3x1, MP 62,5mg 3x1, cholramfenicol 500mg 3x1

04/9/2016
S:

nyeri perut (+), pasien mual (-), muntah (-) , susah tidur

O:

TD: 130/80, T: 36,3 RR: 20, HR : 88x

A:

Nyeri akut abdomen susp PID

P:

RL 20 tpm, inj cefotaxim/8 jam, inj Ranitidin/12 jam, inj


omz/12 jam, inj antalgin/8 jam, L-Bio 2x1, diazepam
2mg 3x1, MP 62,5mg 3x1, cholramfenicol 500mg 3x1

05/9/2016
S:

nyeri perut (+), pasien mual (-), muntah (-), pusing (+)

O:

TD: 11/70, T: 36,3 RR: 20, HR : 82x

A:

Nyeri akut abdomen susp PID

P:

RL 20 tpm, inj cefotaxim/8 jam, inj Ranitidin/12 jam, inj


omz/12 jam, inj antalgin/8 jam, L-Bio 2x1, diazepam
2mg 3x1, MP 62,5mg 3x1, cholramfenicol 500mg 3x1,
antasid 3x1

06/9/2016
S:

nyeri perut (+), pasien mual (-), muntah (-)

O:

TD: 120/80, T: 36,3 RR: 20, HR : 80x

A:

Nyeri akut abdomen susp PID

P:

RL 20 tpm, inj cefotaxim/8 jam, inj Ranitidin/12 jam, inj


omz/12 jam, inj antalgin/8 jam, L-Bio 2x1, diazepam
2mg 3x1, MP 62,5 3x1, cholramfenicol 500mg 3x1,
antasid 3x1

07/9/2016
S:

tidak ada keluhan.

O:
A:

TD: 130/80, T: 36,3 RR: 20, HR : 80x


Nyeri akut abdomen susp PID

P:

L-Bio

2x1,

diazepam

2mg

3x1,

cholramfenicol 500mg 3x1, antasid 3x1


BLPL

MP

62,5

3x1,

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Nyeri akut abdomen atau akut abdomen adalah suatu kegawatan abdomen
dapat terjadi karena masalah bedah dan non bedah. Secara definisi pasien dengan
akut abdomen datang dengan keluhan nyeri abdomen yang terjadi tiba-tiba dan
berlangsung kurang dari 24 jam. Pada beberapa pasien dengan akut abdomen perlu
dilakukan resusitasi dan tindakan segera maka pasien dengan nyeri abdomen yang
berlangsung akut harus ditengani segera. Identifikasi awal yang penting adalah apakah
kasus yang dihadapi ini suatu kasus bedah atau non bedah, jika kasus bedah maka
tindakan operasi harus segera dilakukan. (Sudoyo, 2009)
Akut abdomen merupakan sebuah terminologi yang menunjukkan adanya
keadaan darurat dalam abdomen yang dapat berakhir dengan kematian bila tidak
ditanggulangi dengan baik dan benar. Keadaan darurat dalam abdomen dapat
disebabkan karena perdarahan, peradangan, perforasi atau obstruksi pada alat
pencemaan. Peradangan bisa primer karena peradangan alat pencernaan seperti pada
apendisitis atau sekunder melalui suatu peritonitis karena perforasi tukak lambung,
perforasi dari Payers patch,pada typhus abdominalis atau perforasi akibat trauma
(Sjamsuhidayat dan De Jong, 2005).
B. Etiologi
Kegawatan abdomen yang datang ke rumah sakit bisa berupa kegawatan
bedah atau kegawatan non bedah. Kegawatan non bedah antara lain pankreatitis akut,
ileus paralitik, kolik abdomen. Kegawatan yang disebabkan oleh bedah antara lain
peritonitis umum akibat suatu proses dari luar maupun dalam abdomen. Proses dari luar
misalnya karena suatu trauma, sedang proses dari dalam misal karena apendisitis
perforasi. (Sudoyo, 2009)
Penyebab tersering dari akut abdomen antara lain appendisitis, kolik bilier,
kolisistitis, divertikulitis. obstruksi usus, perforasi viskus, pankreatitis, peritonitis,
salpingitis, adenitis mesenterika dan kolik renal. Sedangkan yang jarang menyebabkan
akut abdomen antara lain: nekrosis hepatoma, infark lien, pneumonia, infark miokard,
ketoasidosis diabetikum, inflamasi enurisma, volvulus sigmoid, caecum atau
lambung dan Herpes zoster.
Dilihat dari sudut nyeri abdomen, nyeri abdomen dapat terjadi karena
rangsangan viseral, rangsangan somatik dan akibat peristaltik. Pada anamnesis perlu
dievaluasi mengenai nyeri yang disampaikan pasien tersebut apakah nyeri yang
disampaikan terlokalisir, atau sukar ditentukan lokasinya. Kemudian adanya referred
11

pain juga membantu untuk mengetahui asal nyeri tersebut. Adanya nyeri tekan pada
pemeriksaan fisik seseorang juga menunjukkan bentuk nyeri tersebut. Nyeri tekan
biasanya berasal dari nyeri yang melibatkan serosa. Nyeri ini dapat terjadi akibat infeksi
yang kontinyu (terus menerus) serta ulkus lanjut. Nyeri somatik biasanya nyerinya
terlokalisasi. (Sudoyo, 2009).
Penyebab Utama
Berikut adalah daftar beberapa kondisi yang mendasari akut abdomen yang
sering terlihat dalam komunitas (White, 2016) :
-

Acute cholecystitis.

Acute appendicitis atau Meckels diverticulitis.

Acute pancreatitis.

Ectopic pregnancy.

Diverticulitis.

Peptic ulcer disease.

Pelvic inflammatory disease.

Intestinal obstruction, including paralytic ileus (adynamic obstruction).

Gastroenteritis.

Acute intestinal ischaemia/infarction or vasculitis.

Gastrointestinal (GI) haemorrhage.

Renal colic or renal tract pain.

Acute urinary retention.

Abdominal aortic aneurysm (AAA).

Testicular torsion.

Nonsurgical disease, e.g. myocardial infarction, pericarditis, pneumonia, sickle


cell crisis, hepatitis, inflammatory bowel disease, opiate withdrawal, typhoid,
acute intermittent porphyria, HIV-associated lymphadenopathy or enteritis.

C. Epidemiologi
Pasien dengan nyeri abdomen harus menjalani evaluasi untuk menegakkan
diagnosis sehingga pengobatan tepat waktu dan dapat mengurangi morbiditas dan
mortalitas. Kasus abdominal pain tercatat 5% sampai 10% dari semua kunjungan
gawat darurat atau 5 sampai 10 juta pasien di Amerika Serikat (Graff LG, 2001). Studi
lain menunjukkan bahwa 25% dari pasien yang datang ke gawat darurat mengeluh
12

nyeri perut. Diagnosis bervariasi sesuai untuk kelompok usia, yaitu anak dan geriatri.
Sebagai contoh nyeri perut pada anak-anak lebih sering disebabkan oleh apendisitis,
sedangkan penyakit empedu, usus diverticulitis, dan infark usus lebih umum terjadi
pada bayi (Graff LG, 2001).
D. Anatomi
Bagian abdomen sering dibagi menjadi 9 regio maupun 4 kuadran.

Pembagian berdasarkan 9 regio:


a. Regio hipokondriak kanan
b. Regio epigastrika
c. Regio hipokondriak kiri
d. Regio lumbal kanan
e. Regio umbilicus
f. Regio lumbal kiri
g. Regio iliaka kanan
h. Regio hipogastrika
i. Regio iliaka kiri
Pembagian berdasarkan 4 kuadran:
a. Kuadran kanan atas
b. Kuadran kiri atas
c. Kuadran kanan bawah
d. Kuadran kiri bawah
Perkembangan

dari

anatomi

rongga

perut

dan

organ-organ

visera

mempengaruhi manifestasi, patogenesis dan klinis dari penyakit abdominal


peritoneum, dan persarafan sensoris viseral sangat penting untuk evaluasi acute
abdominal disease (Snell, 2006).
13

Setelah 3 minggu perkembangan janin, usus primitif terbagi menjadi foregut,


midgut, dan hindgut.

Arteri mesenterika superior menyuplai dari ke midgut

(bagian keempat duodenum sampai midtransversal kolon). Foregut meliputi


faring, esofagus, lambung, dan proksimal duodenum, sedangkan hindgut terdiri
dari kolon distal dan rektum. Serabut aferen yang menyertai suplai vaskuler
memberikan persarafan sensoris pada usus dan terkait peritoneum viseral.
Sehingga, penyakit pada proksimal duodenum (foregut) merangsang serabut
aferen celiac axis menghasilkan nyeri epigastrium. Rangsangan di sekum atau
apendiks (midgut) mengaktifkan saraf aferen yang menyertai arteri mesenterika
superior menyebabkan rasa nyeri di periumbilikalis, dan penyakit kolon distal
menginduksi serabut saraf aferen sekitar arteri mesenterika inferior menyebabkan
nyeri suprapubik. Saraf prenikus dan serabut saraf aferen setinggi C3, C4, dan C5
sesuai dermatom bersama-sama dengan arteri prenikus mempersarafi otot-otot
diafragma dan peritoneum sekitar diafragma. Rangsangan pada diafragma
menyebabkan nyeri yang menjalar ke bahu. Peritoneum parietalis, dinding
abdomen, dan jaringan lunak retroperitoneal menerima persarafan somatik sesuai
dengan segmen nerve roots (Snell, 2006).
Peritoneum parietalis kaya akan inervasi saraf sehingga sensitif terhadap
rangsangan. Rangsangan pada permukaan peritoneum parietal akan menghasilkan
sensasi yang tajam dan terlokalisir di area stimulus. Ketika peradangan pada
viseral mengiritasi pada peritoneum parietal maka akan timbul nyeri yang
terlokalisir. Banyak "peritoneal signs" yang berguna dalam diagnosis klinis dari
acute abdominal pain. Inervasi dual-sensorik dari kavum abdomen yaitu serabut
aferen viseral dan saraf somatik menghasilkan pola nyeri yang khas yang
membantu dalam diagnosis. Misalnya, nyeri pada apendisitis akut nyeri akan
muncul pada area periumbilikalis dan nyeri akan semakin jelas terlokalisir ke
kuadran kanan bawah saat peradangan melibatkan peritoneum parietal. Stimulasi
pada saraf perifer akan menghasilkan sensasi yang tajam, tiba-tiba, dan terlokalisir
dengan baik. (Snell, 2006).
Rangsangan pada saraf sensorik aferen intraperitoneal pada acute abdominal
pain menimbulkan nyeri yang tumpul (tidak jelas pusat nyerinya), nyeri tidak
terlokalisasi dengan baik, dengan onset gradual/ bertahap dan durasi yang lebih
lama. Nervus vagus tidak mengirimkan impuls nyeri dari usus. Sistem saraf
aferen simpatik mengirimkan nyeri dari esofagus ke spinal cord. Saraf aferen dari
14

kapsul hepar, ligamen hepar, bagian central dari diafragma, kapsul lien, dan
perikardium memasuki sistem saraf pusat dari C3 sampai C5. Spinal cord dari T6
sampai T9 menerima serabut nyeri dari bagian diafragma perifer, kantong
empedu, pankreas, dan usus halus. Serabut nyeri dari colon, appendik, dan visera
dari pelvis memasuki sistem saraf pusat pada segmen T10 sampai L11. Kolon
sigmoid, rektum, pelvic renalis beserta kapsulnya, ureter dan testis memasuki
sistem saraf pusat pada T11 dan L1. (Snell, 2006).
Kandung kemih dan kolon rektosigmoid dipersarafi saraf aferen dari S2
sampai S4. Pemotongan, robek, hancur, atau terbakar biasanya tidak menghasilkan
nyeri di visera pada abdomen. Namun, peregangan atau distensi dari peritoneum
akan menghasilkan sensasi nyeri. Peradangan peritoneum akan menghasilkan
nyeri viseral, seperti halnya iskemia. Kanker dapat menyebabkan intraabdominal
pain jika mengenai saraf sensorik. (Snell, 2006).
Abdominal pain dapat berupa viseral pain, parietal pain, atau reffered pain.
Visceral pain bersifat tumpul dan kurang terlokalisir dengan baik, biasanya di
epigastrium, regio periumbilikalis atau regio suprapubik. Pasien dengan nyeri
viseral mungkin juga mengalami gejala berkeringat, gelisah, dan mual. Nyeri
parietal atau nyeri somatik yang terkait dengan gangguan intraabdominal akan
menyebabkan nyeri yang lebih inten dan terlokalisir dengan baik. Referred pain
merupakan sensasi nyeri dirasakan jauh dari lokasi sumber stimulus yang
sebenarnya. Misalnya, iritasi pada diafragma dapat menghasilkan rasa sakit di
bahu. Penyakit saluran empedu atau kantong empedu dapat menghasilkan nyeri
bahu. (Snell, 2006).
Distensi dari small bowel dapat menghasilkan rasa sakit ke bagian punggung
bawah. Selama minggu ke-5 perkembangan janin, usus berkembang diluar rongga
peritoneal, menonjol melalui dasar umbilical cord, dan mengalami rotasi 180
berlawanan dengan arah jarum jam. Selama proses ini, usus tetap berada di luar
rongga peritoneal sampai kira-kira minggu 10, rotasi embryologik menempatkan
organ-oragan visera pada posisi anatomis dewasa, dan pengetahuan tentang proses
rotasi semasa embriologis penting secara klinis untuk evaluasi pasien dengan
acute abdominal pain karena variasi dalam posisi (misalnya, pelvic atau
retrocecal appendix) (Snell, 2006).
E. Patofisiologi
15

Nyeri visceral
Nyeri viseral terjadi bila terdapat rangsangan pada organ atau struktur dalam
rongga perut, misalnya cedera atau radang. Peritoneum viserale yang menyelimuti
organ perut dipersarafi oleh sistem saraf otonom dan tidak peka terhadap perabaan,
atau pemotongan. Dengan demikian sayatan atau penjahitan pada usus dapat
dilakukan tanpa rasa nyeri pada pasien. Akan tetapi bila dilakukan penarikan atau
peregangan organ atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot sehingga
menimbulkan iskemik, misalnya pada kolik atau radang pada appendisitis maka akan
timbul nyeri. Pasien yang mengalami nyeri viseral biasanya tidak dapat menunjukkan
secara tepat letak nyeri sehingga biasanya ia menggunakan seluruh telapak tangannya
untuk menunjuk daerah yang nyeri. Nyeri viseral kadang disebut juga nyeri sentral
(Sjamsuhidajat et all,2004).
Penderita memperlihatkan pola yang khas sesuai dengan persarafan embrional
organ yang terlibat. Saluran cerna berasal dari foregut yaitu lambung, duodenum,
sistem hepatobilier dan pankreas yang menyebabkan nyeri di ulu hati atau
epigastrium. Bagian saluran cerna yang berasal dari midgut yaitu usus halus usus
besar sampai pertengahan kolon transversum yang menyebabkan nyeri di sekitar
umbilikus. Bagian saluran cerna yang lainnya adalah hindgut yaitu pertengahan kolon
transversum sampai dengan kolon sigmoid yang menimbulkan nyeri pada bagian
perut bawah. Jika tidak disertai dengan rangsangan peritoneum nyeri tidak
dipengaruhi

oleh

gerakan

sehingga

penderita

biasanya

dapat

aktif

bergerak(Sjamsuhidajat , dkk., 2004).


Nyeri somatic
Nyeri somatik terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi saraf
tepi, misalnya regangan pada peritoneum parietalis, dan luka pada dinding perut.
Nyeri dirasakan seperti disayat atau ditusuk, dan pasien dapat menunjuk dengan tepat
dengan jari lokasi nyeri. Rangsang yang menimbulkan nyeri dapat berupa tekanan,
rangsang kimiawi atau proses radang (Sjamsuhidajat dkk., 2004).
Gesekan antara visera yang meradang akan menimbulkan rangsang
peritoneum dan dapat menimbulkan nyeri. Perdangannya sendiri maupun gesekan
antara kedua peritoneum dapat menyebabkan perubahan intensitas nyeri. Gesekan
inilah yang menjelaskan nyeri kontralateral pada appendisitis akut. Setiap gerakan
penderita, baik gerakan tubuh maupun gerakan nafas yang dalam atau batuk, juga
akan menambah intensitas nyeri sehingga penderita pada akut abdomen berusaha

16

untuk tidak bergerak, bernafas dangkal dan menahan batuk (Sjamsuhidajat, dkk.,
2004).
Nyeri alih
Nyeri alih terjadi jika suatu segmen persarafan melayani lebih dari satu daerah.
Misalnya diafragma yang berasal dari regio leher C3-C5 pindah ke bawah pada masa
embrional sehingga rangsangan pada diafragma oleh perdarahan atau peradangan
akan dirasakan di bahu. Demikian juga pada kolestitis akut, nyeri dirasakan pada
daerah ujung belikat. Abses dibawah diafragma atau rangsangan karena radang atau
trauma pada permukaan limpa atau hati juga dapat menyebabkan nyeri di bahu. Kolik
ureter atau kolik pielum ginjal, biasanya dirasakan sampai ke alat kelamin luar seperti
labia mayora pada wanita atau testis pada pria (Sjamsuhidajat, dkk., 2004).
Nyeri proyeksi
Nyeri proyeksi adalah nyeri yang disebabkan oleh rangsangan saraf sensoris
akibat cedera atau peradangan saraf. Contoh yang terkenal adalah nyeri phantom
setelah amputasi, atau nyeri perifer setempat akibat herpes zooster. Radang saraf pada
herpes zooster dapat menyebabkan nyeri yang hebat di dinding perut sebelum gejala
tau tanda herpes menjadi jelas (Sjamsuhidajat, dkk., 2004).
Hiperestesia
Hiperestesia atau hiperalgesia sering ditemukan di kulit jika ada peradangan
pada rongga di bawahnya. Pada akut abdomen, tanda ini sering ditemukan pada
peritonitis setempat maupun peritonitis umum. Nyeri peritoneum parietalis dirasakan
tepat pada tempat terangsangnya peritoneum sehingga penderita dapat menunjuk
dengan tepat lokasi nyerinya, dan pada tempat itu terdapat nyeri tekan, nyeri gerak,
nyeri batuk serta tanpa rangsangan peritoneum lain dan defans muskuler yang sering
disertai hipersetesi kulit setempat. Nyeri yang timbul pada pasien akut abdomen dapat
berupa nyeri kontinyu atau nyeri kolik (Sjamsuhidajat, dkk., 2004).
Nyeri kontinyu
Nyeri akibat rangsangan pada peritoneum parietal akan dirasakan terus
menerus karena berlangsung terus menerus, misalnya pada reaksi radang. Pada saat
pemeriksaan penderita peritonitis, ditemukan nyeri tekan setempat. Otot dinding perut
menunjukkan defans muskuler secara refleks untuk melindungi bagian yang
meraadang dan menghindari gerakan atau tekanan setempat (Sjamsuhidaja, dkk.,
2004).
Nyeri kolik
Kolik merupakan nyeri viseral akibat spasme otot polos organ berongga dan
biasanya diakibatkan oleh hambatan pasase dalam organ tersebut (obstruksi usus, batu
ureter, batu empedu, peningkatan tekanan intraluminer). Nyeri ini timbul karena
17

hipoksia yang dialami oleh jaringan dinding saluran. Karena kontraksi berbeda maka
kolik dirasakan hilang timbul (Sjamsuhidajat, dkk., 2004).
Kolik biasanya disertai dengan gejala mual sampai muntah. Dalam serangan,
penderita sangat gelisah. Yang khas ialah trias kolik yang terdiri dari serangan nyeri
perut yang hilang timbul mual atau muntah dan gerak paksa.
Nyeri iskemik
Nyeri perut juga dapat berupa nyeri iskemik yang sangat hebat, menetap, dan
tidak mereda. Nyeri merupakan tanda adanya jaringan yang terancam nekrosis. Lebih
lanjut akan tampak tanda intoksikasi umum seperti takikardia, keadaan umum yang
jelek dan syok karena resorbsi toksin dari jaringan nekrosis.
F. Diagnosis
1. Anamnesis
Dalam anamnesis penderita akut abdomen, perlu ditanyakan dahulu
permulaan nyerinya, letaknya, keparahannya dan, perubahannya, lamanya dan
faktor yang mempengaruhinya. Adakah riwayat keluhan serupa.
Muntah sering didapatkan pada pasien akut abdomen. Pada obstruksi usus
tinggi, muntah tidak akan berhenti dan bertambah berat. Konstipasi didapatkan
pada obstruksi usus besar dan pada peritonitis umum. Nyeri tekan didapatkan
pada iritasi peritoneum. Jika ada radang peritoneum setempat ditemukan tanda
rangsang peritoneum yang sering disertai defans muskuler. Pertanyaan
mengenai defekasi, miksi daur haid, dan gejala lain seperti keadaan sebelum
serangan akut abdomen harus dimasukkan dalam anamnesis (Sjamsuhidajat,
dkk., 2004).
Letak nyeri perut
Nyeri viseral dari suatu organ biasanya sesuai letaknya sama dengan asal
organ tersebut pada masa embrional, sedangkan letak nyeri somatik biasanya
dekat dengan organ sumber nyeri sehingga relatif mudah menentukan
penyebabnya. Nyeri pada anak presekolah sulit ditentukan letaknya karena
mereka selalu menunjuk daerah sekitar pusat bila ditanya tentang nyerinya.
Anak yang lebih besar baru dapat menentukan letak nyeri (Sjamsuhidajat,
dkk., 2004).
Sifat nyeri
Berdasarkan letak atau penyebarannya nyeri dapat bersifat nyeri alih, dan
nyeri yang diproyeksikan. Untuk penyakit tertentu, meluasnya rasa nyeri dapat
membantu menegakkan diagnosis. Nyeri bilier khas menjalar ke pinggang dan
ke arah belikat, nyeri pankreatitis dirasakan menembus ke bagian pinggang.
18

Nyeri pada bahu kemungkinan terdapat rangsangan pada diafragma


(Sjamsuhidajat, dkk., 2004).
Permulaan nyeri dan intensitas nyeri
Bagaimana bermulanya nyeri pada akut abdomen dapat menggambarkan
sumber nyeri. Nyeri dapat tiba-tiba hebat atau secara cepat berubah menjadi
hebat, tetapi dapat pula bertahap menjadi semakin nyeri. Misalnya pada
perforasi organ berongga, rangsangan peritoneum akibat zat kimia akan
dirasakan lebih cepat dibandingkan proses inflamasi. Demikian juga intensitas
nyerinya. Sesorang yang sehat dapat pula tiba-tiba langsung merasakan nyeri
perut hebat yang disebabkan oleh adanya sumbatan, perforasi atau pluntiran.
Nyeri yang bertahap biasanya disebabkan oleh proses radang, misalnya pada
kolesistitis atau pankreatitis(Sjamsuhidajat, dkk., 2004).
Posisi pasien
Posisi pasien dalam mengurangi nyeri dapat menjadi petunjuk. Pada
pankreatitis akut pasien akan berbaring ke sebelah kiri dengan fleksi pada
tulang belakang, panggul dan lutut. Kadang penderita akan duduk bungkuk
dengan fleksi sendi panggul dan lutut. Pasien dengan abses hati biasanya
berjalan sedikit membungkuk dengan menekan daerah perut bagian atas
seakan-akan menggendong absesnya. Appendisitis akut yang letaknya
retrosaekum mendorong penderitanya untuk berbaring dengan fleksi pada
sendi panggul sehingga melemaskan otot psoas yang teriritasi. Akut abdomen
yang menyebabkan diafragma teritasi akan menyebabkan pasien lebih nyaman
pada posisi setengah duduk yang memudahkan bernafas. Penderita pada
peritonitis lokal maupun umum tidak dapat bergerak karena nyeri, sedangkan
pasien dengan kolik terpaksa bergerak karena nyerinya (Sjamsuhidajat, dkk.,
2004).
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperhatikan keadaan umum, wajah, denyut nadi,
pernafasan, suhu badan dan sikap berbaring. Gejala dan tanda dehidrasi,
perdarahan, syok dan infeksi atau sepsis juga perlu diperhatikan.
Inspeksi
Pada ileus obstruksi terlihat distensi abdomen bila obstruksinya letak rendah,
dan bila orangnya kurus kadang-kadang terlihat peristalik usus (Darmsteifung). Tanda-tanda khusus pada trauma daerah abdomen. Keadaan nutrisi

19

penderita. Cullens sign (daerah kebiruan pada periumbilical) dan grey turners
sign (daerah kebiruan pada bagian flank) merupakan tanda pancreatitis

Bekas-bekas trauma pada dinding abdomen, memar, luka, prolaps omentum


atau usus. Kadang-kadang pada trauma tumpul abdomen sukar ditemukan
tanda-tanda khusus, maka harus dilakukan pemeriksaan berulang oleh dokter
yang sama untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya perubahan pada
pemeriksaan fisik. Pada ileus obstruksi terlihat distensi abdomen bila
obstruksinya letak rendah, dan bila orangnya kurus kadang-kadang terlihat
peristalsis usus (Darm-steifung).
Palpasi
Palpasi akan menunjukkan 2 gejala yaitu nyeri dan muscular rigidity/ defense
musculaire. Nyeri yang memang sudah dan akan bertambah saat palpasi
sehingga dikenal gejala nyeri tekan dan nyeri lepas. Pada peitonitis lokal akan
timbul rasa nyeri di daerah peradangan dan daerah penekanan dinding
abdomen. defense musculaire/ muscular rigidity ditimbulkan karena rasa nyeri
peritonitis diffusa dan rangsangan palpasi bertambah sehingga terjadi defense
musculaire.
Kebanyakan kasus nyeri epigastrik atau nyeri perut atas akan didapatkan nyeri
tekan. Ada beberapa teknik palpasi khusus murphy sign (palpasi dalam di
perut bagian kanan atas menyebabkan nyeri hebat dan berhentinya nafas
sesaat) untuk cholecystitis, rovsing sign (nyeri di perut kanan bawah saat
palpasi di daerah kiri bawah/samping kiri) pada appendicitis. Nyeri lepas di
20

perut kanan bawah pada appendicitis dan nyeri lepas di hampir seluruh bagian
perut pada kasus peritonitis. Palpasi pada kasus akut abdomen memberikan
rangsangan peritoneum melalui peradangan atau iritasi peritoneum secara
lokal atau umum tergantung dari luasnya daerah yang terkena iritasi.
Hepatomegali menandakan hepatitis dan abses hepar jika hebar teraba lunak,
atau ca liver jika teraba keras dan berbenjol-benjol. Benjolan di daerah
epigastrik dapat berupa kanker lambung atau pancreas.
Perkusi
Perkusi pada akut abdomen dapat menunjukkan 2 hal yaitu perasaan nyeri
oleh ketokan jari yang disebut sebagai nyeri ketok dan bunyi timpani karena
meteorismus disebabkan distensi usus yang berisikan gas karena ileus
obstruksi letak rendah. Pekak hati yang menghilang merupakan tanda khas
terjadinya perforasi (tanda pneumoperitoneum, udara menutupi pekak hati).
Auskultasi
Auskultasi dapat memberikan informasi yang berguna tentang saluran
pencernaan dan sistem vaskular. Suara usus biasanya dievaluasi kuantitas dan
kualitasnya.
Data ini kemudian dapat dibandingkan dengan temuan selama palpasi dan
dievaluasi untuk konsistensi. Meskipun beberapa pasien sengaja mencoba
untuk menipu dokter mereka, beberapa mungkin melebih-lebihkan keluhan
rasa sakit mereka sehingga tidak dapat diabaikan atau dianggap enteng.
Cruveilhier-Baumgarten sign, adanya murmur pada auskultasi caput medusa
pasien dengan hipertensi portal, akibat rekanalisasi dari vena umbilical dengan
aliran balik dari vena porta.
Rectal Toucher
Pemeriksaan rectal toucher atau perabaan rektum dengan jari telunjuk juga
merupakan pemeriksaan rutin untuk mendeteksi adanya trauma rektum atau
keadaan ampulla recti apakah berisi faeces atau teraba tumor.
Colok dubur dapat membedakan antara obstruksi usus dengan paralisis usus
karena pada paralisis dijumpai ampula rekti yang melebar, sedangkan pada
obstruksi usus ampulanya kolaps. Pemeriksaan vagina menambah informasi
kemungkinan kelainan di organ ginekologis (Sjamsuhidajat, dkk., 2004).
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
21

a) Pemeriksaan darah rutin


Pemeriksaan Hb diperlukan

untuk

memantau

kemungkinan

terjadinya perdarahan terus menerus. Demikian pula dengan


pemeriksaan hematokrit.
20.000/mm

tanpa

Pemeriksaan leukosit yang melebihi

terdapatnya

infeksi

menunjukkan

adanya

perdarahan cukup banyak terutama pada kemungkinan ruptura


lienalis.
Serum amilase yang meninggi menunjukkan kemungkinan adanya
trauma pankreas atau perforasi usus halus. Kenaikan transaminase
menunjukkan kemungkinan trauma pada hepar.

b) Pemeriksaan urine rutin


Menunjukkan adanya trauma pada saluran kemih bila dijumpai
hematuri. Urine yang jernih belum dapat menyingkirkan adanya
trauma pada saluran urogenital.
b. Pemeriksaan Radiologi
1) Foto thoraks
Selalu harus diusahakan pembuatan foto thoraks dalam posisi tegak
untuk menyingkirkan adanya kelainan pada thoraks atau trauma
pada thoraks.
Harus juga diperhatikan adanya udara bebas di bawah diafragma
atau adanya gambaran usus dalam rongga thoraks pada hernia
diafragmatika.
2) Plain abdomen foto tegak
Akan memperlihatkan udara bebas dalam rongga peritoneum, udara
bebas retroperitoneal dekat duodenum, corpus alienum, perubahan
gambaran usus.
3) IVP (Intravenous Pyelogram)
Karena alasan biaya biasanya hanya dimintakan bila ada
persangkaan trauma pada ginjal.
4) Pemeriksaan Ultrasonografi dan CT-scan

22

Berguna sebagai pemeriksaan tambahan pada penderita yang belum


dioperasi dan disangsikan adanya trauma pada hepar dan
retroperitoneum.
Pencitraan yang di rekomendasi menurut lokasi nyeri akut abdomen
(Cartwright, 2008).
Lokasi nyeri
Kuadran kanan atas
Kuadran kiri atas
Kuadran kanan bawah
Kuadran kiri bawah
Suprapubis

Pencitraan
Ultrasonografi
CT
CT dengan media kontras IV
CT dengan media kontras IV dan oral
Ultrasonografi

c. Pemeriksaan Khusus
1) Abdominal paracentesis
Merupakan pemeriksaan tambahan yang sangat berguna untuk
menentukan adanya perdarahan dalam rongga peritoneum. Lebih
dari 100.000 eritrosit/mm dalam larutan NaCl yang keluar dari
rongga peritoneum setelah dimasukkan 100--200 ml larutan NaCl
0.9% selama 5 menit, merupakan indikasi untuk laparotomi.
2) Pemeriksaan laparoskopi
Dilaksanakan bila ada akut abdomen untuk mengetahui langsung
sumber penyebabnya.
3) Rektosigmoidoskopi
Bila dijumpai perdarahan

dan

anus

perlu

dilakukan

rektosigmoidoskopi.
4) NGT
Pemasangan nasogastric tube (NGT) untuk memeriksa cairan yang
keluar dari lambung pada trauma abdomen
Dari data yang diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan tambahan dan pemeriksaan khusus dapat diadakan analisis data
untuk memperoleh diagnosis kerja dan masalah-masalah sampingan yang
perlu diperhatikan. Dengan demikian dapat ditentukan tujuan pengobatan bagi
penderita dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan
pengobatan.
4.

Tanda-tanda Penting
- Rovsings sign
23

Continuous deep palpation dimulai dari atas left iliac fossa


(berlawanan arah jarum jam sepanjang colon) menyebabkan nyeri di
right iliac fossa, dengan mendorong isi usus terhadap ileocaecal valve
-

dan dengan demikian meningkatkan tekanan di sekitar appendix


Psoas sign
Psoas sign atau Obraztsovas sign adalah nyeri right lower
quadrant yang dihasilkan dengan passive extension dari right hip
pasien (pasien berbaring pada sisi kiri dengan lutut fleksi) atau dengan
active flexion dari right hip saat berbaring terlentang. Nyeri didapat
karena terjadi inflamasi peritoneum yang melapisi iliopsoas muscles
dan inflamasi pada psoas muscles. Meluruskan kaki menyebabkan
nyeri karena meregangkan otot-otot ini, sementara memfleksikan hip

meregangkan iliopsoas dan menyebabkan nyeri.


Obturator sign
Jika appendix yang meradang berada dalam kontak dengan
obturatorius internus, spasme otot dapat ditunjukkan oleh rotasi
meregangkan dan internal pinggul. Manuver ini akan menyebabkan

nyeri di hypogastrium vagina.


Dunphys sign
Nyeri bertambah saat batuk di right lower testicle quadrant
Kocher (Kosher)s sign
Nyeri pada epigastric region atau sekitar gaster dengan pergeseran
nyeri di right iliac region.

Sitkovskiy (Rosenstein)s sign


Nyeri bertambah di right iliac region saat pasien berbaring
pada salah satu sisi tubuhnya.
Bartomier-Michelsons sign
Nyeri bertambah saat palpasi di right iliac region ketika pasien
berbaring pada salah satu sisi tubuhnya dibandingkan saat pasien
berada pada posisi terlentang.

Aure-Rozanovas sign
Nyeri bertambah pada palpasi dengan jari di right Petit triangle
(bisa menjadi tanda positif Shchetkin-Bloombergs sign). Khas untuk

posisi appendix retrocecal.


Blumberg sign
Juga disebut sebagai nyeri rebound. Palpasi mendalam visera
atas appendix meradang diduga diikuti dengan pelepasan tiba-tiba
24

tekanan menyebabkan nyeri menunjukkan tanda Blumberg positif dan


peritonitis.
-

McBurney sign
Tenderness pada 2/3 jarak antara umbilikus dan spina iliaka
anterior superior.

Murphy sign
Selama inspirasi, isi perut didorong ke bawah karena diafragma
bergerak turun (dan paru-paru membesar). Jika pasien berhenti
bernapas (kantong empedu empuk dan bergerak ke bawah, ada kontak
dengan jari-jari pemeriksa) dan mengernyit dengan menangkap
napas, tes ini dianggap positif. Sebuah tes positif juga tidak
memerlukan rasa sakit pada melakukan manuver di sisi kiri pasien.

Cullen sign
Perubahan warna kebiruan periumbilikalis.
Grey-Turner sign
Perubahan warna pada area flank.

Kehr sign
Nyeri berat pada bahu kiri.
Chandelier sign
Manipulasi cervix menyebabkan pasien mengangkat panggulnya.
Tanda-tanda pada pasien nyeri akut abdomen (White MJ, 2016) :
Tanda-tanda pada pasien nyeri akut abdomen

Sign

Gambaran

Asosiasi

Cullen's sign

Warna kebiruan di periumbilikus

Perdarahan
retroperitoneum
(hemorrhagic
pancreatitis,
abdominal aortic
aneurysm rupture)

Kehr's sign

Nyeri bahu kiri yang sangat parah

Ruptur limpa
Ruptur kehamilan
ektopik

McBurney's
sign

Nyeri tekan pada 1/3 distal jarak dari


umbilikus ke anterior iliac spine kanan

Apendisitis

Murphy's
sign

Interupsi inspirasi seketika pada palpasi


kuadran kanan atas abdomen

Akut kolesistitis

Iliopsoas

Nyeri perut pada hiperekstensi pinggul kanan

Apendisitis

25

sign
Obturator's
sign

Nyeri perut saat dilakukan rotasi internal pada


pinggul kanan yang terfleksi

Apendisitis

GreyTurner's
sign

Diskolorasi pada flank

Perdarahan
retroperitoneum
(hemorrhagic
pancreatitis,
abdominal aortic
aneurysm rupture)

Chandelier
sign

Manipulasi pada servix uterus menyebabkan


pasien yang sedang berbaring mengangkat
bokongnya

Pelvic inflammatory
disease

Rovsing's
sign

Nyeri pada kuadran kanan bawah saat


dilakukan palpasi pada kuadran kiri bawah
abdomen

Apendisitis

G. Diagnosis Banding
Kadang sukar membedakan kelainan akut di perut yang disertai nyeri perut
dengan kelainan akut di toraks yang menyebabkan nyeri perut. Umumnya pada
anamnesis nyata bahwa penyakit organ toraks tidak didahului atau disertai dengan
mual atau muntah. Kelainan perut umumnya tidak mulai dengan panas tinggi atau
menggigil (kecuali pada apendisitis dan tifus abdominalis), sedangkan panas tinggi
yang disertai menggigil lazim ditemukan sebagai tanda awal kelainan akut toraks
seperti pleuritis. Pada pemeriksaan perut pun tidak ditemukan tanda rangsangan
peritoneum. (Sudoyo, 2009)
Nyeri perut juga dapat disebabkan oleh kelainan organ kelamin dan saluran
kemih. Radang akut (pielitis) atau pionefros serta kolik ureter (batu atau gumpalan
darah) mungkin menyebabkan tanda yang mirip akut abdomen. (Sudoyo, 2009)

Kwandran
Kw kanan bawah:
1. Appendicitis
1. Ileus obstruksi
2. Appendicitis
2. Salpingitis
acute
3. Pancreatitis acute
3. Graviditas axtra uterine yang
4. Trombosis A/V mesentrial
pecah
5. Hernia Inguinalis
4. Torsi ovarium tumor
strangulata
5. Hernia
6. Inguinalis
Aneurisma aorta yang
26
incarcerata,strangulata
pecah
6. Diverticulitis
Meckel
7. Diverculitis
(ileum/colon)
7. Ileus regionalis
8. Psoas abses

Kwandran kiri atas:


1. Ruptur lienalis
Kwandran
Kwandran
bawah:
kiri
bawah:
2. kiri
Perforasi
tukak
lambung
1. Sigmoid
1. 3.
Sigmoid
diverculitis
diverculitis
Pancreatitis
acute
2. 4.
Salpingitis
acute
2. Salpingitis
acute aneurisma
Ruptur
aorta
3. 5.
Graviditas
axtra
uterine
Perforasi
colon
3. Graviditas axtra uterine yang
pecah
(tumor/corpus
alineum)
pecah yang
4. 6.
Torsi
ovarium tumor
Pneumonia
+
pleuritis
4. Torsi ovarium tumor
5. 7.
Hernia
Inguinalis
Pyelonefritis
acute
5. Hernia
Inguinalis
incarcerata,strangulata
8. Infark miokard akut
incarcerata,strangulata
6. Perforasi colon
6. Perforasi
colon descenden
descenden
(tumor, corpus
(tumor, corpus alineum)
al
7. Psoas
1.abses
Ruptur lienalis

27

Perkiraan penyebab berdasarkan fakta bahwa patologi struktur yang mendasari


di setiap regio cenderung memberikan nyeri perut maksimal di regio tersebut.
Right hypocondriac
Right lower lobe
pneumonia/embolism

Epigastric
Pancreatitis

Cholecystitis

Gastritis

Biliary colic

Pepti colic

Left hypochondriac
Left lower lobe
pneumonia/embolism
Large bowel obstruction

Myocardial

Hepatitis

infarction

Right lumbar

Umbilical
Small bowel

Renal colic

obstruction

Appendicitis

Intestinal ischaemia

Left lumbar
Renal colic
Large bowel obstruction

Aortic aneurysm
Gastroenteritis
Crohns disease

Right iliac

Hypogastric

Left Iliac

Appendicitis

Cystitis

Sigmoid diverticulitis

Crohns disease

Urinary Retention

Left tubo-ovarian pathology

Right tubo-ovarian pathology

Dysmenorrhea
Endometriosis

H. Penatalaksanaan
Tujuan dari penatalaksanaan Akut abdomen antara lain, adalah :
1. Penyelamatan jiwa penderita
2. Meminimalisasi kemungkinan terjadinya cacat dalam fungsi fisiologis alat
pencemaan penderita.
Biasanya langkah-langkah itu terdiri dari :
1. Tindakan penanggulangan darurat
a. Berupa tindakan resusitasi untuk memperbaiki sistim pernafasan dan
kardiovaskuler yang merupakan tindakan penyelamatan jiwa penderita.
Bila sistim vital penderita sudah stabil dilakukan tindakan lanjutan.
b. Restorasi keseimbangan cairan dan elektrolit.
28

c. Pencegahan infeksi dengan pemberian antibiotika.


2. Tindakan penanggulangan definitif tujuan pengobatan di sini adalah :
a. Penyelamatan jiwa penderita dengan menghentikan sumber perdarahan.
b. Meminimalisasi cacad yang mungkin terjadi dengan cara :
1) Menghilangkan sumber kontaminasi.
2) Meminimalisasi kontaminasi yang telah terjadi dengan
membersihkan rongga peritoneum.
3) Mengembalikan kontinuitaspassage

usus

dan

menyelamatkan

sebanyak mungkin usus yang sehat untuk meminimalisasi cacat


fisiologis.
Tindakan untuk mencapai tujuan ini berupa operasi dengan membuka rongga
abdomen yang dinamakan laparotomi.
Laparotomi eksplorasi darurat
1. Tindakan sebelum operasi
a. Keadaan umum sebelum operasi setelah resusitasi sedapat mungkin harus
stabil. Bila ini tidak mungkin tercapai karena perdarahan yang sangat besar,
dilaksanakan operasi langsung untuk menghentikan sumber perdarahan.
b. Pemasangan NGT (nasogastric tube)
c. Pemasangan dauer-katheter
d. Pemberian antibiotika secara parenteral pads penderita dengan persangkaan
perforasi usus, shock berat atau trauma multipel.
e. Pemasangan thorax-drain pads penderita dengan fraktur iga, haemothoraks
atau pneumothoraks.
2. Insisi laparotomi untuk eksplorasi sebaiknya insisi median atau para median
panjang.
3. Langkah-langkah pada laparotomi darurat adalah :
a. Segera mengadakan eksplorasi untuk menemukan sumber perdarahan.
b. Usaha menghentikan perdarahan secepat mungkin. Bila perdarahan berasal
dari organ padat penghentian perdarahan dicapai dengan tampon abdomen
untuk sementara. Perdarahan dari arteri besar hams dihentikan dengan
penggunaan klem vaskuler. Perdarahan dari vena besar dihentikan dengan
penekanan langsung.
c. Setelah perdarahan berhenti dengan tindakan darurat diberikan kesempatan
pads anestesi untuk memperbaiki volume darah.
d. Bila terdapat perforasi atau laserasi usus diadakan penutupan lubang perforasi
atau reseksi usus dengan anastomosis.
e. Diadakan pembersihan rongga peritoneum dengan irigasi larutan NaCl
fisiologik.
29

f. Sebelum rongga peritoneum ditutup harus diadakan eksplorasi sistematis dari


seluruh organ dalam abdomen mulai dari kanan atas sampai kiri bawah
dengan memperhatikan daerah retroperitoneal duodenum dan bursa omentalis.
g. Bila sudah ada kontaminasi rongga peritoneum digunakan drain dan subkutis
serta kutis dibiarkan terbuka.

30

BAB III
KESIMPULAN
Nyeri akut abdomen atau akut abdomen adalah suatu kegawatan abdomen dapat
terjadi karena masalah bedah dan non bedah. Secara definisi pasien dengan akut abdomen
datang dengan keluhan nyeri abdomen yang terjadi tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 24
jam. Pada beberapa pasien dengan akut abdomen perlu dilakukan resusitasi dan tindakan
segera maka pasien dengan nyeri abdomen yang berlangsung akut harus ditengani segera.
Identifikasi awal yang penting adalah apakah kasus yang dihadapi ini suatu kasus bedah atau
non bedah, jika kasus bedah maka tindakan operasi harus segera dilakukan.
Penyebab tersering dari akut abdomen antara lain appendisitis, kolik bilier,
kolisistitis, divertikulitis. obstruksi usus, perforasi viskus, pankreatitis, peritonitis, salpingitis,
adenitis mesenterika dan kolik renal. Sedangkan yang jarang menyebabkan akut abdomen antara
lain: nekrosis hepatoma, infark lien, pneumonia, infark miokard, ketoasidosis diabetikum,
inflamasi enurisma, volvulus sigmoid, caecum atau lambung dan Herpes zoster. Pasien
akut abdomen dapat jatuh pada kondisi yang mengancam nyawa. Oleh karena itu, dalam
penanganannya diperlukan diagnosis awal, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan
yang tepat.

31

DAFTAR PUSTAKA
Burrows CF: The acute abdomen. Available from:URL:
http://www.vin.com/proceedings/Proceedings.plx?CID=WSAVA2002&PID=2582
Graff IV, L. G., & Robinson, D. (2001). Abdominal pain and emergency department
evaluation. Emergency Medicine Clinics of North America
Sjamsuhidayat dan De Jong, 2005.Buku Ajar Bedah. EGC. Jakarta.
Snell, Richard S. Anatomi Klinik ed. 6. EGC : Jakarta. 2006.
Sudoyo, Aru W. 2009. Ilmu Penyakit Dalam. Interna Publishing. Jakarta.
White MJ, Counselman FL: Acute abdominal pain. Available from:
URL:http://www.emedmag.com/html/pre/cov/covers/011502.asp

32