Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
Gastroenteritis akut merupakan peradangan pada lambung dan usus yang ditandai
dengan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah, dan sering kali disertai peningkatan
suhu tubuh. Diare yang dimaksudkan adalah buang air besar berkali-kali (dengan jumlah
yang melebihi 4 kali, dan bentuk feses yang cair, dapat disertai dengan darah atau lendir1
Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama yang
menjadi masalah kesehatan masyasakat di Indonesia karena memiliki insidensi dan mortalitas
yang tinggi. Diperkirakan terdapat antara 20-50 kejadian diare per 100 penduduk setahunnya.
Kematian terutama disebabkan karena penderita mengalami dehidrasi berat. Antara 70-80%
penderita terdapat pada mereka dibawah 5 tahun. Data Departemen Kesehatan menunjukan,
diare menjadi penyakit pembunuh kedua bayi dibawah 5 tahun atau balita di Indonesia,
setelah radang paru ata pneumonia2
Biasanya gastroenteritis dapat pulih sendiri tanpa terapi. Penatalaksanaan kasus
gastroenteritis mempunyai tujuan mengembalikan cairan yang hilang akibat diare. Kegagalan
dalam pengobatan gastroenteritis dapat menyebabkan infeksi berulang atau gejala berulang
dan bahkan timbulnya resistensi. Untuk menanggulangi masalah resistensi tersebut, WHO
telah merekomendasikan pengobatan gastroenteritis berdasarkan penyebabnya. Terapi
antibiotik diindikasikan untuk gastroenteritis yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Hal ini
karena antibiotik merupakan obat andalan untuk terapi infeksi bakteri. Namun, ketepatan
dosis dan lama pemberian antibiotik adalah sangat penting agar tidak terjadi resistensi bakteri
dan infeksi berulang3. Resistensi antibiotik di kalangan bakteri enterik dapat menimbulkan
implikasi buruk karena dapat mengancam nyawa dan menyebabkan penyakit yang lebih
serius4
Kontrol penyakit diare sendiri telah lama diupayakan oleh pemerintah Indonesia
untuk penekanan angka kejadian diare. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah seperti
adanya

program-program

penyediaan

air

bersih

dan

sanitasi

total

berbasis

masyarakat.Adanya promosi pemberian ASI ekslusif sampai enam bulan, termasuk


pendidikan kesehatan spesifik dengan tujuan bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat
dan menurunkan kematian yang disebabkan oleh penyakit diare5.

BAB II
LAPORAN KASUS
A. Identitas pasien
Nama
: Tn. W
Umur
: 34 tahun
Jenis kelamin
: Laki-laki
Alamat
: Badan , 4/2 Combongan Sukoharjo
Pekerjaan : Kuli bangunan
Pendidikan : SD
Status
: Kawin
Agama
: Islam
Suku
: Jawa
Masuk RS : 3 November 2016
No. CM
: 258***
B. Anamnesis
HMRS (Hari Masuk Rumah Sakit )
1. Keluhan utama : lemas
2. Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang ke IGD RSUD
Sukoharjo dengan keluhan lemas, sejak tanggal 2 November
pasien mengeluh berkali-kali buang air besar.
3. Riwayat penyakit dahulu :
a.
Riwayat penyakit sama
: di akui
b.
Riwayat penyakit jantung : disangkal
c.
Riwayat penyakit asma
: disangkal
d.
Riwayat penyakit paru
: disangkal
e.
Riwayat mondok di RS
: disangkal
f.
Riwayat alergi obat/makanan
: disangkal
g.
Riwayat hipertensi
: disangkal
h.
Riwayat DM
: disangkal
4. Riwayat penyakit keluarga :
a. Riwayat penyakit serupa
: diakui
b. Riwayat penyakit asma
: disangkal
c. Riwayat alergi obat/makanan
: disangkal
d. Riwayat hipertensi
: diakui (ayah pasien)
e. Riwayat DM
: disangkal
5. Riwayat Pribadi :
a. Riwayat Merokok
: di akui
b. Riwayat konsumsi alkohol
: disangkal
c. Riwayat konsumsi narkotik
: disangkal
6. Anamesis Sistem
a. Cerebro
: kejang (-), demam (-), pusing (-)

b. Cardio
c. Respirasi
d. Hepatobilier

: Chest pain (-)


: sesak (-), wheezing (-), ronkhi (-)
: sklera ikterik (-/-), kekuningan pada

kulit (-)
e. Digestiv

: mual (+), muntah (-), makan baik, BAB

sering
f. Urologi
g. Muskuloskeletal

: retensi urin (-), BAK baik


: sianosis (-), nyeri tulang (-).

C. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan dilakukan tanggal 3 November 2016
1. Status Generalisata
Keadaan umum
: Baik
Kesadaran
: Compos Mentis (E4V5M6)
Vital Sign:
a. Tekanan darah
: 100/70 mmHg
b. Nadi
: 84 x/menit
c. Pernafasan : 18 x/menit
d. Suhu
: 36 C
2. Status Lokalis
Kepala
: normocephal
Mata
: conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat
isokor, reflek cahaya (-/-)
Hidung : Tidak ada pernafasan cuping hidung, mukosa tidak
hiperemis, sekret tidak ada, tidak ada deviasiseptum
Telinga : Simetris, tidak ada kelainan, otore (-/-)
Mulut
: Bibir tidak sianosis, gusi tidak ada perdarahan,
lidah tidak kotor, faring tidak hiperemis
Leher
: Tidak ada deviasi trakhea, tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid dan getah bening, JVP tidak meningkat
Aksila : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
Kulit
: Tidak terdapat ruam kulit diseluruh badan (bercak
belang warna hitam putih), tidak keluar cairan, nyeri (-), perih (-),
panas (), gatal (-)
Thorax :
a. Paru-paru :
Inspeksi : Bentuk dan pergerakan pernafasan kanan-kiri
simetris
Palpasi : Fremitus taktil simetris kanan-kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi: Suara nafas vesikuler pada seluruh lapangan
paru, ronkhi (-/-) wheezing (-/-).
b. Jantung :

Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat


Palpasi : Ictus cordis tidak teraba.
Perkusi : Batas atas sela iga III garis mid klavikula kiri
Batas kanan sela iga V garis sternal kanan
Batas kiri sela iga V garis midklavikula kiri
c. Auskultasi : Bunyi jantung I II murni, murmur (-)
Abdomen :
a. Inspeksi
: Perut simetris.
b. Palpasi :Hepar dan Lien tidak membesar, nyeri tekan
suprapubik (-), nyeri Lepas (-), defansmuskuler (-)
c. Perkusi : Timpani
d. Auskultasi: Bising usus (+) hiperperistaltik
Ekstremitas
a. Superior
: Sianosis (-), oedem (-), ikterik (-)
b. Inferior : Sianosis (-), oedem (-), ikterik (-)

D. Pemeriksaan Penunjang
E. Hasil pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan

Nilai

Satuan

Nilai normal

10,9

103/uI

3.6 10.6

4,96
15,4
43,8

106/uL
g/dL
%

4.40 5.90
13.2 17.3
40 52

88,3
31,0
35.2
242
12,0
12,0
10,7
29.4
0,26

fL
pg
g/dL
103/uI
%
fL
%
%
%

80 100
26 34
32-37
150 450
11.5 14.5

0,00
84,3
8,0
6,70
0,40
0,20

%
%
%
%
%
%

01
53 75
25 40
28
2.00 4.00
01

HEMATOLOGI
Paket Darah
Lengkap
Lekosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
Index Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit
RDW-CV
PDW
MPV
P-LCR
PCT
DIFF COUNT
NRBC
Neutrofil
Limfosit
Monosit
Eosinofil
Basofil

IG
Golongan Darah
KIMIA KLINIK
GDS
Ureum
Creatinin
SGOT
SGPT
HBs Ag
F. Hasil EKG

0,50
B

83
17,7
0,89
22,45
18,2
Non reaktif

mg/gL
mg/gL
mg/gL
U/L
U/L

70 120
0 31
0.50 0.90
0 30
0 50
Non reaktif

Hasil EKG
- Normal sinus ritme
- Ventrikel Ekstra sistole
- Iskemik Inferior

G. Diagnosis
Gastroenteritis Akut
H. Terapi
Saat di IGD diberikan:
Inf RL 20tpm
Inj Ceftriakson 1A/12 jam
Inj Ondancetron 1A/8 jam
Inj Omeprazole 1mg/24 jam
Paracetamol tab 3x500mg
Diagit 3x2
I. Followup harian
1. 3 Desember 2016
Subject : Pasien datang ke IGD dengan keluhan terasa lemes (+) demam (+) mual
(+) muntah (+) pusing (-). Object: Vital sign TD 100/70 mmhg, S 38,8oC, HR 84
x/menit, keadaan umum : compos mentis, sklera ikterik (-/-) conjungtiva anemis
(-/-), thorax suara dasar vesikuler (SDV) +/+, bunyi jantung (BJ) I/II reguler,
abdomen supel dan nyeri tekan (-), ekstremitas akral hangat laboratorium :
erotrosit 10,9 ;neutrofil 84,7; limfosit 8,0 Assesment: gastroenteritis akut.
planning :RL,ceftriakson 1A/12 jam, omeprazole 1A/24, ondansetron 1gm/8,
parasetamol 3x500mg, diagit 3x2.
2. 4 Desember 2016
Subject : Keluhan terasa lemes (+) demam (-) mual (+) muntah (-) pusing (-)
BAB 4x. Object: Vital sign TD 100/70 mmhg, S 36,4oC, HR 80 x/menit, keadaan

umum : compos mentis, sklera ikterik (-/-) conjungtiva anemis (-/-), thorax suara
dasar vesikuler (SDV) +/+, bunyi jantung (BJ) I/II reguler, abdomen supel dan
nyeri tekan (-), ekstremitas akral hangat. Assesment: gastroenteritis akut. planning
:Ringer laktat 20tpm ,ceftriakson 1A/12jam, omeprazole 1A/24 jam , ondansetron
1mg/8, parasetamol 3x500mg, diagit.
3. 5 Desember 2016
Subject: Pasien dengan keluhan terasa lemes (+) demam (-) mual (-) muntah (-)
pusing (-), nyeri perut (+) BAB 2x . Object: Vital sign TD 100/60 mmhg, S
36,6oC, nadi 72, keadaan umum : compos mentis, sklera ikterik (-/-) conjungtiva
anemis (-/-), thorax suara dasar vesikuler (SDV) +/+, bunyi jantung (BJ) I/II
reguler, abdomen supel dan nyeri tekan. Assesment: GEA, HD
planninng:Ringer laktat,ceftriakson 1A/12 jam , omeprazole 1A/24jam,
ondansetron 1A/8jam , nitrokaf 3x2,5mg, Clopidogel 1x 75mg
4. 6 desember 2016
Subject: Pasien keluhan terasa lemes (-) demam (-) mual (-) muntah (-) pusing (-)
Object: Vital sign TD 100/70 mmhg, S 36,5oC, HR 80, keadaan umum : compos
mentis, sklera ikterik (-/-) conjungtiva anemis (-/-), thorax suara dasar vesikuler
(SDV) +/+, bunyi jantung (BJ) I/II reguler, abdomen supel dan nyeri tekan (-),
ekstremitas akral Assesment : Gastroenteritis akut, Ischemia heart disease,
planning:omeprazole, L-bio, nitrokaf, Clopidogel 1x75mg , rawat jalan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Gastroenteritis adalah adanya inflamasi pada membran mukosa saluran
pencernaan dan ditandai dengan diare dan muntah. Diare adalah buang air besar
(defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair(setengah padat),
kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24
jam6
B. ETIOLOGI
Gastroenteritis dapat disebabkan oleh banyak hal seperti virus, bakteri,
parasit, obat-obatan, alergi makanan dan bahan toksik. Namun, yang paling sering
menjadi penyebab adalah virus dan bakteri.:
1. Faktor infeksi
a. Beberapa virus yang sering menyebabkan gastroenteritis adalah :
1) Rotavirus Rotavirus Hampir semua anak pernah terinfeksi virus ini pada
usia 3-5 tahun. Virus ini tercatat menyebabkan sekitar 1/3 kasus diare
yang dirawat inap dan menyebabkan 500.000 kematian di dunia setiap
tahun. Infeksi pada orang dewasa biasanya bersifat subklinis7.
2) Enterik adenovirus Virus ini menyebabkan 2-12% episode diare pada
anak 7.
3) Astrovirus Virus ini menyebabkan 2-10 % kasus gastroenteritis ringan
sampai sedang pada anak anak. Astrovirus pada orang dewasa tidak
memberikan gambaran mekanisme yang jelas8.
4) Human calcivirus Infeksi human calcivirus sangat sering terjadi dan
kebanyakan orang dewasa sudah memiliki antibodi terhadap virus ini.
Virus ini merupakan penyebab tersering gastroenteritis pada orang
dewasa dan sering menimbulkan wabah8.
5) Virus lain Terdapat juga beberapa virus lain yang dapat menyebabkan
penyakit gastroenteritis seperti virus torovirus8.
b. Bakteri Infeksi bakteri menyebabkan 10%-20% kasus gastroenteritis.
Bakteri yang paling sering menjadi penyebab gastroenteritis adalah
Salmonella species,Campylobacter species, Shigella species and Yersina
species9.
c. Selain virus dan bakteri, parasit juga dapat menyebabkan gastroenteritis.
Antaranya ialah Giardia dan Cryptosporidium9
C. EPIDEMIOLOGI
Gastroenteritis akut merupakan salah satu penyakit yang sangat sering
ditemui. Penyakit ini lebih sering mengenai anak-anak. Anak-anak di negara
berkembang

lebih

beresiko

baik

dari

segi

morbiditas

maupun

mortalitasnya.Penyakit ini mengenai 3-5 miliar anak setiap tahun dan

menyebabkan sekitar 1,5-2,5 juta kematian per tahun atau merupakan 12 % dari
seluruh penyebab kematian pada anak-anak pada usia di bawah 5 tahun. Pada
orang dewasa, diperkirakan 179 juta kasus gastroenteritis akut terjadi setiap tahun,
dengan angka rawat inap 500.000 dan lebih dari 5000 mengalami kematian.
Secara umum , negara berkembang memiliki angka rawat inap yang lebih tinggi
dibandingkan dengan negara maju. Ini dimungkinkan berdasarkan fakta bahwa
anak-anak di negara maju memiliki status gizi dan layanan kesehatan primer yang
lebih baik. Di Indonesia pada tahun 2010 diare dan gastroenteritis oleh penyebab
infeksi tertentu masih menduduki peringkat pertama penyakit terbanyak pada
pasien rawat inap di Indonesia yaitu sebanyak 96.278 kasus dengan angka
kematian (Case Fatality Rate/CFR) sebesar 1,92% 10
D. PATOFISIOLOGI
Proses terjadinya diare dapat disebabkan

oleh

berbagai

kemungkinancfaktor di antaranya faktor infeksi, proses ini dapat diawali


adanyacmikroorganisme (kuman) yang masuk ke dalam saluran pencernaan
yangckemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat
menurunkan daerah permukaan usus. Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus
yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus menyebabkan sistem transpor
aktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang kemudian sekresi
cairan dan elektrolit akan meningkat kemudian menyebabkan diare. Iritasi mukosa
usus dapat menyebabkan peristaltik usus meningkat. Kerusakan pada mukosa usus
juga dapat menyebabkan malabsorbsi merupakan kegagalan dalam melakukan
absorbsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi
pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga
usus sehingga terjadilah diare6
E. PEMERIKSAN PENUNJANG
Pemeriksaan gastroenterititis yang dapat dilakukan yaitu:
1. Tes darah lengkap, anemia atau trombositosis mengarahkan dugaan adanya
penyakit kronis. Albumim yang rendah bisa menjadi patokan untuk tingkat
keparahan penyakit namun tidak spesifik.
2. Kultur tinja bisa mengidentifikasi organisme penyebab. Bakteri C.difficile
ditemukan pada 5% orang sehat. Oleh karenanya diagnosis di tegakan
berdasarkan adanya gejala disertai ditemukanya toksin, bukan berdasarkan
ditemukanya organisme saja.
3. Foto polos abdomen, pada foto polos abdomen bisa terlhat kalsifikasi
pankreas, walaupun diduga terjadi insufiensi pankreas, sebaiknya diperiksa

dengan endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP) atau CT


pancreas11.
F. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis penyakit gastroenteritis bervariasi. Berdasarkan salah
satu hasil penelitian yang dilakukan pada orang dewasa, mual(93%),
muntah(81%) atau diare(89%), dan nyeri abdomen(76%) adalah gejala yang
paling sering dilaporkan oleh kebanyakan pasien. Tanda-tanda dehidrasi sedang
sampai berat, seperti membran mukosa yang kering, penurunan turgor kulit, atau
perubahanstatus mental, terdapat pada <10 % pada hasil pemeriksaan. Gejala
pernafasan, yang mencakup radang tenggorokan, batuk, dan rinorea, dilaporkan
sekitar 10%. Beberapa gejala klinis yang sering ditemui
1. Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair(setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya
lebih dari 200 gram atau 200 ml dalam 24 jam. Pada kasus gastroenteritis diare
secara umum terjadi karena adanya peningkatan sekresi air dan elektrolit.
2. Mual dan Muntah Muntah diartikan sebagai adanya pengeluaran paksa dari isi
lambung melalui mulut9
3. Nyeri perut
Banyak penderita yang mengeluhkan sakit perut. Rasa sakit perut banyak
jenisnya. Hal yang perlu ditanyakan adalah apakah nyeri perut yang timbul
ada hubungannnya dengan makanan, apakah timbulnya terus menerus, adakah
penjalaran ke tempat lain, bagaimana sifat nyerinya dan lain-lain. Lokasi dan
kualitas nyeri perut dari berbagai organ akan berbeda, misalnya pada lambung
dan duodenum akan timbul nyeri yang berhubungan dengan makanan dan
berpusat pada garis tengah epigastrium atau pada usus halus akan timbul nyeri
di sekitar umbilikus yang mungkin sapat menjalar ke punggung bagian tengah
bila rangsangannya sampai berat. Bila pada usus besar maka nyeri yang timbul
disebabkan kelainan pada kolon jarang bertempat di perut bawah. Kelainan
pada rektum biasanya akan terasa nyeri sampai daerah sakral12
G. TATALAKSANA
1. Penggantian cairan dan elektrolit
Aspek paling penting adalah menjaga hidrasi yang adekuat dan keseimbangan
elektrolit selama episode akut. Ini dilakukan dengan rehidrasi oral, yang harus
dilakukan pada semua pasien, kecuali jika tidak dapat minum atau diare hebat
membahayakan jiwa yang memerlukan hidrasi intavena. Idealnya, cairan
rehidrasi oral harus terdiri dari 3,5 gram natrium klorida, 2,5 gram natrium
bikarbonat, 1,5 gram kalium klorida, dan 20 gram glukosa per liter air. cairan

rehidrasi oral pengganti dapat dibuat dengan menambahkan sendok teh


garam, sendok teh baking soda, dan 2-4 sendok makan gula per liter air.
Dua pisang atau 1 cangkir jus jeruk diberikan untuk mengganti kalium. Pasien
harus minum cairan tersebut sebanyak mungkin sejak merasa haus pertama
kalinya. Jika terapi intravena diperlukan, dapat diberikan cairan normotonik,
seperti cairan salin normal atau ringer laktat, suplemen kalium diberikan
sesuai panduan kimia darah. Status hidrasi harus dipantau dengan baik dengan
memperhatikan tanda-tanda vital, pernapasan, dan urin, serta penyesuaian
infus jika diperlukan. Pemberian harus diubah ke cairan rehidrasi oral sesegera
mungkin.13
Jumlah cairan yang hendak diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang
keluar. Kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan memakai rumus:
Kebutuhan cairan = BD plasma 1,025 x Berat badan (kg) x 4 ml 0,001
Metode Pierce berdasarkan keadaan klinis:
- Dehidrasi ringan: kebutuhan cairan 5% x kgBB.
- Dehidrasi sedang: kebutuhan cairan 8% x kgBB.
- Dehidrasi berat: kebutuhan cairan 10% x kgBB13
2. Antibiotik
Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut
infeksi, karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa
pemberian antibiotik. Antibiotik diindikasikan pada pasien dengan gejala dan
tanda diare infeksi, seperti demam, feses berdarah, leukosit pada feses,
mengurangi

ekskresi

dan

kontaminasi

lingkungan,

persisten

atau

penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare pada pelancong, dan pasien
immunocompromised), tetapi terapi antibiotik spesifik diberikan berdasarkan
kultur dan resistensi kuman.13
3. Obat anti-diare
Kelompok Selektif Terobosan terbaru adalah mulai tersedianya secara luas
racecadotril yang bermanfaat sebagai penghambat enzim enkephalinase,
sehingga enkephalin dapat bekerja normal kembali. Perbaikan fungsi akan
menormalkan sekresi elektrolit, sehingga keseimbangan cairan dapat
dikembalikan. Hidrasec sebagai generasi pertama jenis obat baru anti-diare
dapat pula digunakan dan lebih aman pada anak.2,3 Kelompok Opiat Dalam
kelompok ini tergolong kodein fosfat, loperamid HCl, serta kombinasi
difenoksilat dan atropin sulfat. Penggunaan kodein adalah 15-60 mg 3x sehari,
loperamid 2-4 mg/3-4 kali sehari. Efek kelompok obat tersebut meliputi

penghambatan propulsi, peningkatan absorbsi cairan, sehingga dapat


memperbaiki konsistensi feses dan mengurangi frekuensi diare. Bila diberikan
dengan benar cukup aman dan dapat mengurangi frekuensi defekasi sampai
80%. Obat ini tidak dianjurkan pada diare akut dengan gejala demam dan
sindrom disentri13-14
4. Kelompok Absorbent
Arang aktif, attapulgit aktif, bismut subsalisilat, pektin, kaolin, atau smektit
diberikan atas dasar argumentasi bahwa zat ini dapat menyerap bahan
infeksius atau toksin. Melalui efek tersebut, sel mukosa usus terhindar kontak
langsung dengan zat-zat yang dapat merangsang sekresi elektrolit.2,3Zat
Hidrofi lik Ekstrak tumbuh-tumbuhan yang berasal dari Plantago oveta,
Psyllium, Karaya (Strerculia), Ispraghulla, Coptidis, dan Catechu dapat
membentuk koloid dengan cairan dalam lumen usus dan akan mengurangi
frekuensi dan konsistensi feses, tetapi tidak dapat mengurangi kehilangan
cairan dan elektrolit Pemakaiannya adalah 5-10 mL/2 kali sehari dilarutkan
dalam air atau diberikan dalam bentuk kapsul atau tablet13-14
5. Probiotik
Kelompok probiotik terdiri dari Lactobacillus dan Bifi dobacteria atau
Saccharomyces boulardii, bila meningkat jumlahnya di saluran cerna akan
memiliki efek positif karena berkompetisi untuk nutrisi dan reseptor saluran
cerna. Untuk mengurangi/ menghilangkan diare harus diberikan dalam jumlah
adekuat13-14
H. KOMPLIKASI
Kehilangan cairan dan kelainan elektrolit merupakan komplikasi utama,
terutama pada usia lanjut dan anak-anak. Pada diare akut karena kolera kehilangan
cairan secara mendadak sehingga terjadi shock hipovolemik yang cepat.
Kehilangan elektrolit melalui feses potensial mengarah ke hipokalemia dan
asidosis metabolik12
Pada kasus-kasus yang terlambat meminta pertolongan medis, sehingga
syok hipovolemik yang terjadi sudah tidak dapat diatasi lagi maka dapat timbul
Tubula Nekrosis Akut pada ginjal yang selanjutnya terjadi gagal multi organ.
Komplikasi ini dapat juga terjadi bila penanganan pemberian cairan tidak adekuat
sehingga tidak tecapai rehidrasi yang optimal13
Haemolityc uremic Syndrome (HUS) adalah komplikasi yang disebabkan
terbanyak oleh EHEC. Pasien dengan HUS menderita gagal ginjal, anemia
hemolisis, dan trombositopeni 12-14 hari setelah diare. Risiko HUS akan

meningkat setelah infeksi EHEC dengan penggunaan obat anti diare, tetapi
penggunaan antibiotik untuk terjadinya HUS masih kontroversi13.
Sindrom Guillain Barre, suatu demielinasi polineuropati akut, adalah
merupakanvkomplikasi potensial lainnya dari infeksi enterik, khususnya setelah
infeksi C. jejuni. Dari pasien dengan Guillain Barre, 20 40 % nya menderita
infeksi C. jejuni beberapa minggu sebelumnya. Biasanya pasien menderita
kelemahan motorik dan memerlukan ventilasi mekanis untuk mengaktifkan otot
pernafasan. Mekanisme dimana infeksi menyebabkan Sindrom Guillain Barre
tetap belum diketahui. Artritis pasca infeksi dapat terjadi beberapa minggu setelah
penyakit diare karena Campylobakter, Shigella, Salmonella, atau Yersinia spp13
I. PROGNOSIS
Dengan penggantian Cairan yang adekuat, perawatan yang mendukung,
dan terapi antimikrobial jika diindikasikan, prognosis diare infeksius hasilnya
sangat baik dengan morbiditas dan mortalitas yang minimal. Seperti kebanyakan
penyakit, morbiditas dan mortalitas ditujukan pada anak-anak dan pada lanjut
usia. Di Amerika Serikat, mortalits berhubungan dengan diare infeksius < 1,0 %.
Pengecualiannya pada infeksi EHEC dengan mortalitas 1,2 % yang berhubungan
dengan sindrom uremik hemolitik13.

BAB IV
PEMBAHASAN
Pasien 34 tahun datang ke IGD RSUD Sukoharjo dengan keluhan
lemas, sejak tanggal 2 Desember pasien mengeluh berkali-kali buang air
besar. Sehari sebelumnya pasien telah mencoba minum obat diare dari
warung, namun keluhan tidak membaik, pasin semakin lemas karena
tidak bisa makan mual dan muntah. Pasien juga merasakan pusing.
sehingga pasien di antar ke RSUD Sukoharjo. Dari anamnesis pasien
buang air besar lebih dari 10x dirumah, BAB cair tanpa ampas, berwarna
kuning. Sebelumnya pasien mengaku tidak makan di luar rumah. Di
lingkungan pasien juga terdapat orang yang juga merasakan hal yang
sama.
Gastroenteritis adalah adanya inflamasi pada membran mukosa saluran pencernaan
dan ditandai dengan diare dan muntah. Manifestasi klinis penyakit gastroenteritis bervariasi.
Berdasarkan salah satu hasil penelitian yang dilakukan pada orang dewasa, mual(93%),
muntah(81%) atau diare(89%), dan nyeri abdomen(76%) adalah gejala yang paling sering
dilaporkan oleh kebanyakan pasien.
Aspek paling penting adalah menjaga hidrasi yang adekuat dan keseimbangan
elektrolit selama episode akut. Ini dilakukan dengan rehidrasi oral, yang harus dilakukan pada
semua pasien, kecuali jika tidak dapat minum atau diare hebat membahayakan jiwa yang
memerlukan hidrasi intavena. Idealnya, cairan rehidrasi oral harus terdiri dari 3,5 gram
natrium klorida, 2,5 gram natrium bikarbonat, 1,5 gram kalium klorida, dan 20 gram glukosa
per liter air. cairan rehidrasi oral pengganti dapat dibuat dengan menambahkan sendok teh
garam, sendok teh baking soda, dan 2-4 sendok makan gula per liter air. Dua pisang atau 1
cangkir jus jeruk diberikan untuk mengganti kalium. Pasien harus minum cairan tersebut
sebanyak mungkin sejak merasa haus pertama kalinya. Jika terapi intravena diperlukan, dapat

diberikan cairan normotonik, seperti cairan salin normal atau ringer laktat, suplemen kalium
diberikan sesuai panduan kimia darah.
Kelompok probiotik terdiri dari Lactobacillus

dan Bifi dobacteria atau

Saccharomyces boulardii, bila meningkat jumlahnya di saluran cerna akan memiliki efek
positif karena berkompetisi untuk nutrisi dan reseptor saluran cerna. Untuk mengurangi/
menghilangkan diare harus diberikan dalam jumlah adekuat