Anda di halaman 1dari 16

BAB III

TINJAUAN LAPANGAN MIGAS CEPU

3.1 GEOLOGI REGIONAL


3.1.1 Cekungan Jawa Timur Utara
Cekungan Jawa Timur Utara sebelah barat dibatasi oleh Busur Karimunjawa dimana
memisahkannya dengan Cekungan Jawa Barat Utara, di sebelah selatan dibatasi oleh busur
vulkanik, sebelah timur dibatasi oleh Cekungan Lombok dan sebelah utara dibatasi oleh
Tinggian Paternoster, dimana memisahkannya dengan selat Makasar. Berdasarkan posisinya,
Cekungan Jawa Timur Utara dapat dikelompokkan sebagai cekungan belakang busur dan
berada pada batas tenggara dari lempeng Eurasia (Mudjiono dan Pireno, 2002).
3.1.2 Kerangka Tektonik Cekungan Jawa Timur Utara
Graben, half-graben, dan sesar-sesar hasil dari proses rifting telah dihasilkan pada
periode ekstensional yaitu pada Paleogen. Selanjutnya periode kompresi dimulai pada
Miosen Awal yang mengakibatkan reaktivasi sesar-sesar yang telah terbentuk sebelumnya
pada periode ekstensional. Reaktivasi tersebut mengakibatkan pengangkatan dari grabengraben yang sebelumnya terbentuk menjadi tinggian yang sekarang disebut sebagai Central
High (Ponto, et al., 1995). Pada saat sekarang, Cekungan Jawa Timur Utara dikelompokkan
ke dalam tiga kelompok struktur utama dari arah utara ke selatan, yaitu North Platform,
Central High dan South Basin (Gambar 2. 1). Perubahan struktur juga terjadi pada
konfigurasi basement dari arah barat ke timur. Bagian barat pada Platform Utara dapat
dikelompokkan menjadi Muria Trough, Bawean Arc, JS-1 Ridge, Norhteast Java Platform,
Central-Masalembo Depression, North Madura Platform dan JS 19- 1Depression.
Sedangkan pada South Basin, dari barat ke timur dapat dikelompokkan menjadi North East
Java Madura Sub-Basin(Rembang-Madura Strait-Lombok Zone), South Madura Shelf
(kelanjutan dari Zona Kendeng) dan Solo Depression Zone. Pada Central High tidak ada
perubahan struktur yang berarti dari arah barat ke timur (Ponto, et al., 1995). Daerah Cepu
termasuk ke dalam South Basin sebelah barat, dimana termasuk ke dalam Zona Rembang

bagian selatan. Pada konfigurasi basement yang lebih detail, daerah Cepu termasuk ke dalam
Kening Trough, seperti terlihat pada Gambar 2. 2.

Gambar 3. 1 Fisiografi Cekungan Jawa Timur Utara, daerah penelitian masuk ke


dalam Zona Rembang (Ponto, et al., 1995)

Gambar 3. 2 Konfigurasi batuan dasar, daerah penelitian masuk ke dalam Kening


Trough (Ardhana, 1993)

3.1.3 Stratigrafi
Secara regional, stratigrafi pada daerah Cepu dan sekitarnya tersusun atas sepuluh
formasi (Pringgoprawiro, 1983), yaitu Formasi Kujung, Prupuh, Tuban, Tawun, Ngrayong,
Bulu, Wonocolo, Ledok, Mundu dan Lidah. Urutan stratigrafi daerah penelitian dapat dilihat
pada Gambar 2. 3. Deskripsi dari masing-masing formasi dari urutan tua ke muda adalah
sebagai berikut :
3.1.3.1 Formasi Kujung
Formasi Kujung mempunyai lokasi tipe di Kali Secang, Desa Kujung, Tuban, tersingkap
susunan napal abu-abu kehijauan dan lempung napalan kuning kecoklatan dengan sisipan
batugamping bioklastik (Pringgoprawiro, 1983). Umur Formasi Kujung adalah Oligosen
Atas atau Zonasi Blow P19 N1 (Pringgoprawiro, 1983). Formasi Kujung memiliki rasio
planktonik bentonik berkisar 60% - 70%, diendapkan pada lingkungan laut terbuka pada
kedalaman berkisar antara 200 500 meter atau bathyal atas, hal tersebut dikuatkan dengan
ditemukannya fosil-fosil Cibicides floridanus, Nonion pompilioides, Spirillina vivipora,
Robulus cf, Loculosis, Nodosaria sublineata, Uvigerina auberiana, Cyclammina cancellata
dan Pullenia quinqueloba (Pringgoprawiro, 1983). Formasi Kujung ditutupi oleh Formasi
Prupuh secara selaras.
3.1.3.2 Formasi Prupuh
Formasi Prupuh memiliki lokasi tipe di Desa Prupuh, Paceng, Paciran Gresik, dengan
panjang lintasan 300 m. Formasi Prupuh disusun oleh perselingan antara batugamping
berwarna putih kotor dengan batugamping bioklastik putih abu-abu muda (Pringgoprawiro,
1983). Pada bagian bawah formasi ini ditemukan Globigerina ciperoensis, Globigerina
tripartita, Globorotalia kugleri dan Globigerinita dissimilis, sedangkan pada bagian atas
muncul Globigerinoides immaturus. Pada batugamping bioklastik ditemukan Spiroclypeus
orbitoides, Lepidocyclina verucoca dan Lepidocyclina sumatrensis. Umur dari Formasi
Prupuh ini adalah Oligosen Atas Miosen Bawah atau Zonasi Blow N3 N5
(Pringgoprawiro, 1983). Formasi Prupuh memiliki rasio planktonik bentonik berkisar 50% 60%, diendapkan pada lingkungan neritik luar, hal tersebut dikuatkan dengan ditemukannya
fosil-fosil Uvigerina auberiana, Cibicides io, Eponides hannai, Nodosaria insecta dan

Lagena spiralis (Pringgoprawiro, 1983). Adanya fosil golongan orbitoid yang berasal dari
laut dangkal disimpulkan sebagai fosil-fosil ex-situ karena terjadi longsoran, terdapatnya
fosil-fosil golongan plankton dengan golongan ini menyokong pendapat ini.
3.1.3.3 Formasi Tuban
Formasi Tuban tersingkap di Desa Drajat, Paciran, Tuban. Formasi Tuban tersusun atas
napal pasiran berwarna putih abu-abu, semakin ke atas berubah menjadi endapan
batulempung biru kehijauan dengan sisipan batugamping berwarna abu-abu kecoklatan yang
kaya akan foraminifera orbitoid, koral dan algae. Semakin ke atas lagi berubah menjadi
batugamping

pasiran

(Pringgoprawiro,

1983).

berwarna
Pada

putih
formasi

kekuningan
ini

dijumpai

hingga

coklat

kekuningan

Clycloclypeus,

Myogypsina,

Lepidocyclina. Umur dari Formasi Tuban ini adalah Miosen Awal bagian tengah atau Zonasi
Blow N5 N6 (Pringgoprawiro, 1983). Pada formasi ini sering dijumpai fosil foraminifera
Globigerinoides primordius, Globorotalia opimanana, Globigerina tripartita dissimilis, dan
Globigerinoides alttiaperture. Formasi Tuban memiliki rasio planktonik bentonik berkisar
20% - 30%, diendapkan pada lingkungan sublitoral luar (50 150 meter), hal tersebut
dikuatkan dengan ditemukannya fosil-fosil Cibides concentricus, Eponoides antilarum,
Epinoides umbonatus dan Uvigerina cf auberiana pada bagian bawah dan Lagenodosaria
scalaris, Cassidulina sp., Cibicides sp., Uvigerina sp. dan Ammonia beccarii. Adanya
Ammonia becarii menunjukkan bahwa lingkungan tempat diendapkannya formasi ini tidak
jauh dari pantai (Pringgoprawiro, 1983).
3.1.3.4 Formasi Tawun
Formasi Tawun tersusun atas serpih pasiran berwarna abu-abu hingga coklat abu-abu,
kemudian disusul dengan perselingan antara batupasir coklat kemerahan, serpih pasiran dan
batugamping kekuningan hingga kecoklatan, dimana makin ke atas batugamping menjadi
lebih dominan dan mengandung fosil orbitoid yang besar-besar (Pringgoprawiro, 1983).
Umur dari Formasi Tawun adalah Miosen Awal bagian tengah Miosen Tengah atau Zonasi
Blow N8 N12. Pada formasi ini sering dijumpai fosil foraminifera planktonik seperti
Globorotalia praemenardii, Globorotalia siakensis, Globorotalia obesa, Globorotalia
subquadratus, Globigerinoides alttiapertu (Pringgoprawiro, 1983). Pada lempung

pasirannya mengandung gastropoda, semakin ke atas, yaitu pada batugamping bioklastik,


kaya akan fosil orbitoid seperti Lepidocyclina atuberculata, Lepidocyclina ephippioides,
Lepidocyclina sumatrensis, Lepidocyclina nipponica, Myogypsina bantamensis dan
Clyclocypeus spp. yang mengindikasi umur Miosen Tengah, (Pringgoprawiro, 1983).
Berdasarkan fosil-fosil foraminifera bentonik yang ditemukan yaitu Elphidium sp., Pyrgo
bradyi, Triloculina sp., Proteonina sp. dan Nonionella sp., Formasi Tawun diendapkan pada
lingkungan paparan dangkal antara kedalaman 0 50 meter. Terdapatnya kelimpahan dari
foram besar menunjukkan adanya kondisis terumbu, dengan lautan yang dangkal, air hangat
dan jernih (Pringgoprawiro, 1983).
3.1.3.4 Formasi Ngrayong
Pada umur Miosen Tengah, juga dijumpai adanya batupasir kuarsa yang berukuran
halus pada bagian bawah dan cenderung mengkasar pada bagian atas dan terkadang
gampingan (Pringgoprawiro, 1983). Batupasir ini sebelumnya disebut sebagai Anggota
Ngrayong dari Formasi Tawun, namun kemudian disebut sebagai Formasi Ngrayong. Lokasi
tipe Formasi Ngrayong adalah desa Ngrayong yang terletak kurang lebih 30 km di sebelah
utara kota Cepu. Pada umumnya, satuan batuan ini dicirikan oleh pasir kuarsa lepas-lepas,
disuatu tempat berselingan dengan serpih karbonan, serpih dan batulempung. Ke arah atas
dijumpai sisipan batugamping bioklastik yang mengandung fosil Orbitoid (Poedjoprajitno
dan Djuhaeni, 2006). Pasir Ngrayong diendapkan dalam fase regresif dari lingkungan laut
dangkal zona neritik pinggir hingga rawa-rawa pada waktu Miosen Tengah (Poedjoprajitno
dan Djuhaeni, 2006). Ketebalan keseluruhan Pasir Ngrayong adalah sangat beragam, di
sebelah utara mencapai 800 1000 meter, sedangkan di sebelah selatan mencapai 400 meter
(Poedjoprajitno dan Djuhaeni, 2006). Formasi Ngrayong kontak dengan batugamping
Formasi Tawun pada bagian bawah dan dibagian atas ditutupi oleh batugamping Formasi
Bulu (Poedjoprajitno dan Djuhaeni, 2006).
3.1.3.6 Formasi Bulu
Formasi Bulu mempunyai lokasi tipe di Desa Bulu, Rembang, terdiri dari batugamping
putih kekuningan dan batugamping pasiran berwarna putih kelabu hingga kuning keabuan,
terdapat sisipan napal berwarna abu-abu, kaya akan foram besar dan kecil, koral, ganggang

(Pringgoprawiro, 1983). Ketebalan satuan ini 54 m 248 m. Umur Formasi Bulu adalah
Miosen Akhir bagian bawah atau Zonasi Blow N14 N15 (Pringgoprawiro, 1983). Formasi
Bulu diendapkan pada lingkungan neritik luar batial atas (Pringgoprawiro, 1983).
Berdasarkan fosil foraminifera besar yang ditemukan, yaitu Lepidocyclina angulosa,
Lepidocyclina sumatrensis, Cycloclypeus annulatus, Cycloclypeus indofasificus dan
Lepidocycclina sp., Formasi Bulu dikelompokkan ke dalam zona Tf bawah Tf atas.
Formasi Bulu memiliki rasio planktonik bentonik 30 - 40 %, diendapkan pada lingkungan
batimetri Neritik Tengah dengan kedalaman 50 100 meter, didasarkan pada fosil
foraminifera bentonik yang ditemukan, yaitu Amphistegina lesonii, Cibicides io, Eponides
antillarium dan Nonionela atlantica (Pringgoprawiro, 1983). Formasi Bulu ditutupi oleh
Formasi Wonocolo secara selaras.
3.1.3.7 Formasi Wonocolo
Formasi Wonocolo memiliki lokasi tipe di sekitar Wonocolo, Cepu. Satuan ini tersusun
oleh napal, napal lempungan, hingga napal pasiran, yang kaya akan foram plankton, terdapat
sisipan kalkarenit dengan tebal lapisan 5 20 cm (Pringgoprawiro, 1983). Formasi
Wonocolo memiliki tebal 89 600 meter, diendapkan pada Miosen Akhir bagian bawah Miosen Akhir bagian tengah atau pada Zonasi Blow N15 N16 (Pringgoprawiro, 1983).
Formasi Wonocolo memiliki rasio planktonik bentonik 60 80%, diendapkan pada
lingkungan laut terbuka dengan kedalaman 100 500 meter atau pada zona batimetri neritik
luar batial atas. Formasi Wonocolo ditutupi oleh Formasi Ledok di atasnya secara selaras
(Pringgoprawiro, 1983).
3.1.3.8 Formasi Ledok
Formasi Ledok memiliki lokasi tipenya di Desa Ledok, Cepu. Formasi Ledok tersusun
atas perulangan napal pasiran dan kalkarenit, dengan napal dan batupasir. Bagian atas dari
satuan ini dicirikan batupasir dengan konsentrasi glaukonit. Kalakarenitnya sering
memperlihatkan perlapisan silang-siur (Pringgoprawiro, 1983). Berdasarkan fosil foram
planktonik Globorotalia pleistumida yang ditemukan, umur Formasi Ledok adalah Miosen
Akhir bagian atas atau pada Zonasi Blow N17 N18 (Pringgoprawiro, 1983). Formasi

Ledok memiliki rasio planktonik bentonik 30 47%, diendapkan pada lingkungan neritik
luar dengan kedalaman 100 - 200 meter (Pringgoprawiro, 1983).
3.1.3.9 Formasi Mundu
Formasi Mundu memiliki lokasi tipe di Kali Kalen, Desa Mundu, Cepu. Formasi
Mundu terdiri dari napal yang kaya foraminifera planktonik, tidak berlapis. Bagian paling
atas dari satuan ini ditempati oleh batugamping pasiran yang kaya foraminifera planktonik.
Bagian atas dari Formasi Mundu ini disebut Anggota Selorejo, terdiri dari perselingan
batugamping pasiran dan napal pasiran (Pringgoprawiro, 1983). Penyebarannya cukup luas,
dengan ketebalan 75m 342m. Berdasarkan fosil foraminifera planktonik yang ditemukan,
umur Anggota Selorejo adalah Pliosen atau pada Zonasi Blow N18 N20 (Pringgoprawiro,
1983). Bagian bawah Formasi Mundu memiliki rasio planktonik bentonik 75 80 %,
diendapkan pada lingkungan batimetri bathyal tengah dengan kedalaman 700 1100 meter,
sedangkan bagian atas Formasi Mundu memiliki rasio planktonik bentonik 30 47 %,
diendapkan pada lingkungan batimetri neritik luar dengan kedalaman100 600 meter
(Pringgoprawiro, 1983).
3.1.3.10 Formasi Lidah
Formasi Lidah terdiri atas satuan batulempung biru tua, masiv, tidak berlapis. Satuan ini
dapat dipisahkan menjadi bagian atas, tengah, bawah. Pada bagian bawah Formasi Lidah
merupakan satuan batulempung berwarna biru (Anggota Tambakromo). Bagian atasnya
terdiri batulempung dengan sisipan napal dan batupasir kuarsa mengandung glaukonit
(Anggota Turi). Di daerah Antiklin Kawengan kehadiran dua satuan ini dipisahkan dengan
suatu satuan batugamping cocquina terdapat cangkangcangkan moluska (Anggota Malo).
Umur formasi ini Pliosen Atas Pleistosin Bawah, diendapkan di lingkungan laut tertutup,
dan berangsur-angsur menjadi semakin dangkal (Pringgoprawiro, 1983). Hubungan dengan
Formasi Mundu adalah selaras, dan di atas Formasi Lidah ditutup secara tidak selaras oleh
endapan alluvial dan endapan teras sungai (Pringgoprawiro, 1983).

Gambar 3. 3 Kolom Stratigrafi Cekungan Jawa Timur Utara (Pringgoprawiro, 1983)

3.2 ASPEK RESERVOIR


Pada dasarnya semua batuan bisa menjadi batuan reservoir, asalkan batuan tersebut
memenuhi persyaratan petroleum system antara lain:
Cap rock
Source rock
Reservoir rock
Trap
Porous dan permeable
Yang membedakan antara reservoir pabum dengan migas adalah:
Untuk reservoir migas tekanan lebih mendominasi sedangkan reservoir pabum
temperatur lebih dominan
Untuk reservoir migas, fluida terakumulasi pada batuan sedimen (batu pasir dan batu
gamping). Sedangkan reservoir pabum, fluida terakumulasi pada batuan beku.
Untuk reservoir migas, cap rock berupa batuan lempung (clay) yang bersifat
impermeable. Sedangkan reservoir pabum, cap rock berupa batuan argillic

Gambar 3.4 Peta WKP Pertamina Block Jawa JBB & JBT
Hasil analisa logging dari 135 sumur ini serta study dari penampang geologi dan
kelakuan produksi sumur, telah dilakukan pemetaan dari lapisan reservoir per blok. 48

reservoir telah dipetakan, yang meliputi 6 lapisan (L1 sampai L6) pada 8 blok (I, II, IIIA,
IIIB, IIIC, IV,VA dan VB).
Data yang dihasilkan meliputi peta struktur, peta isopach dan peta net minyak. Sebagai
dasar untuk menentukan sifat batuan reservoir dari anggota Ngrayong adalah hasil analisa
inti batuan yang diambil dari 22 sumur, meliputi 7 blok pada struktur kawengan (blok I
sampai blok VA) dan 6 lapisan (L1 sampai dengan L6) hasil analisa tersebut menunjukkan
besaran-besaran porositas, permeabilitas, faktor formasi dan saturasi minyak. Harga faktor
sementasi rata-rata berkisar antara 1,2 sampai dengan 1,8. Porositas batuan bervariasi
antara 12% sampai dengan 29,7 %. Saturasi air mula-mula bervariasi antara 13% sampai
dengan 29,5 %. Permeabilitas batuan bervariasi antara 6 mD hingga 1656 mD.
3.3 ASPEK PEMBORAN
Dilihat dari tujuan dan peralatan yang digunakan dalam operasi pemboran antara
lapangan migas dan pabum sebenarnya tidak jauh beda. Aspek pemboran meliputi operasi
pemboran yang dapat dibagi atas dua tahap, yaitu:

Tahap persiapan
Pada tahap persiapan ini kita harus mempersiapkan drilling program (rencana kerja
pemboran), pemilihan rig dan pegawai pemboran, lokasi/ tempat dimana akan
dibor, perpindahan alat-alat pemboran, mendirikan menara, pemasangan alat-alat
penunjang, pemeriksaan keselamatan kerja, membor rat hole dan mouse hole,
data-data sumur yang berdekatan/ terdekat dan material-material yang harus ada
di lokasi sebelum spud in/ pemboran pertama.

Tahap operasi
Tahap operasi dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:
a. Tahap operasi rutin yaitu melakukan pekerjaan yang sudah direncanakan, misalnya
membor, memasukkan casing dan lain-lain.
b. Tahap operasi khusus yaitu pekerjaan yang dilakukan oleh karena suatu sebab,
misalnya pemancingan atau untuk tujuan tertentu seperti coring

Aspek pemboran meliputi operasi pemboran dengan tujuan utama mengebor suatu
lubang secara aman dilapisan permukaan bumi sampai menembus formasi yang kaya akan
minyak dan gas bumi (lapisan produktif). Lubang hasil pengeboran, bagian dalamnya
dilapisi dengan casing dan disebut lubang sumur. Operasi-operasi pengeboran ini
dimungkinkan dengan menggunakan kompleks pengeboran (drilling complex) yang
bermutu tinggi yaitu rotary drilling rig yang terdiri dari 5 sistem-sistem bagian utama,
antara lain:
1. Sistem Pengangkatan
Berfungsi sebagai penunjang sistem berikutnya dalam mengebor sumur, dengan
jalan menyediakan peralatan yang sesuai dan tempat kerja yang dibutuhkan ,untuk
menaikan dan menurunkan serta menggantung system putar yang sangat berat.
Komponen pokok yang dibutuhkan adalah menara pemboran dan system putar.
a. Struktur Penunjang
Suatu konstruksi baja yang dirakit di lapangan minyak, dimana struktur ini terdiri
dari
1. Truck
Truck yang digunakan jenis Taylor-2000, merupakan produk dari Taylor,
Diproduksi pada tahun 2001, digunakan sejak April 2002 menggunakan
Enggine Caterpilar D3306 dengan kapasitas 250 Hp.
2. Menara/ Mast.
Menara yang digunakan diri atas dua tipe terdiri dari tipe standart dan portabel
buatan Taylor/Femco, maximum angkatan 80000 lbs atau 40 ton, dan tinggi 60
ft.
3. Struktur Bawah (Substructure)
Konstruksi baja yang besar yang digunakan untuk menjadi dasar dan
menunjang mast yang tingginya ditentukan oleh kebutuhan pencegahan
semburan liar (BOP System), struktur bawah ini menjadi tempat kerja untuk
kegiatan-kegiatan di atas dan di bawah lantai rig.
4. Lantai Rig (Rig Floor)

Tempat kerja untuk hampir semua operasi-operasi pemboran.


b. Alat Pengangkat
Alat khusus yang mengangkat, menurunkan dan menggantungkan batang bor di
dalam lubang sumur. Alat ini terdiri dari :
1. Drawork
Merupakan otak dari suatu unit pemboran, karena melalui drawwork ini driller
dapat melakukan dan mengatur operasi pemboran.yang digunakan merupakan
rangkaian dari truck. jenis taylor
2. Tali pemboran. Kawat baja kelas berat yang menjadi penghubung dari seluruh
bagian-bagian sistem pengangkat.
2. Sistem Putar (Rotary System)
Fungsi utama sistem putar adalah memutar batang bor sehingga mata bor (bit)
dapat menembus lapisan batuan sampai dengan lapisan yang dianggap terdapat
hidrokarbon atau lapisan prospek.
Sistem putar mempunyai 3 komponan utama yaitu :
a. Pemutar
Kebanyakan system putar di lapangan Cepu menggunakan rotary table, bantalan
utama kemudian dengan bantalan kelly dan peralatan pendukung lainnya seperti
slip-slip pemutar, tang-tang penyambung dan pelepas sambungan.
b. Batang Bor (Drill String)
Batang Bor digantung dibawah kait dan balok jalan, memanjang melalui pemutar
dimana digantung didalam lubang sumur bor. Batang bor digantung dibawah kait
dan balok jalan oleh:
Gantungan swivel dan swivel
Swivel adalah ujung teratas rangkaian pipa bor, yang berfungsi untuk:

a. Memberikan kebebasan kepada rangkaian pipa bor untuk berputar dimana


swivelnya sendiri tidak ikut berputar
b. Memberikan perpaduan gerak vertical dengan gerak berputar dapat bekerja
bersama-sama
c. Sebagai penghubung antara rotary hose (pipa karet) dengan kelly sehingga
memungkinkan lumpur bor untuk sirkulasi tanpa mengalami kebocoran
Kelly dan Drill Collar, Peralatan-peralatan khusus.
Kelly merupakan rangkaian pipa bor yang paling atas dimana bentuk irisan
luarnya dapat bebentuk segi empat, segitiga, segi enam. Kelly dimasukkan ke
dalam kelly bushing. Sedangkan DC berbentuk seperti DP, tetapi diameter
dalamnya lebih kecil dan diameter luarnya sama dengan diameter luar tool
joint DP. Jadi dindingnya lebih tebal dari pada DP. Drill Collar ditempatkan
pada rangkaian pipa bor bagian bawah diatas mata bor. Fungsi utama dari Drill
Collar :
o Sebagai pemberat (Weight On Bit = WOB), sehingga rangkaian pipa bor
dalam keadaan tetap tegang pada saat pengeboran berlangsung, hingga tidak
terjadi pembelokan lubang.
o Membuat agar putaran rangkaian pipa bor stabil.
o Memperkuat bagian bawah dari rangkaian pipa bor agar mampu menahan
puntiran.
c. Mata bor
Mata bor merupakan ujung dari rangkaian pipa bor yang langsung menyentuh
formasi, berfungsi untuk menghancurkan dan menembus formasi, dengan cara
memberikan beban pada mata bor.
Bagian-bagian penting dari mata bor :

Shank : merupakan suatu alur (threaded pin), dimasukkan ke dalam box


connection pada bottom collar atau bit sub dibawah collar.
Bit Lugs : merupakan peralatan yang berfungsi untuk dudukan poros dan cones
Cones : merupakan roda-roda bergigi (gerinda) yang berputar pada mata bor.
Fluid Passage away (jets): merupakan nozzle yang terdapat pada bottom bit
berfungsi untuk menyemprotkan lumpur bor langsung ke formasi.
Didaerah Cepu menggunakan berbagai macam mata bor, salah satunya jenis PDC
dengan diameter 12 1/4 Type II
3. Sistem Sirkulasi
Sistem sirkulasi terdiri dari empat sub-komponen, yaitu :
1. Fluida pemboran (drilling fluid)
Ada tiga jenis lumpur pemboran :
Water base mud
Oil base mud
Air or gas base mud
Fungsi utama lumpur pemboran :
a. Memberikan hydraulic horse power pada bit untuk membersihkan serbuk bor/
cutting dari dasar lubang bor
b. Mengangkat serbuk bor ke permukaan
c. Membuat kerak bor (mud cake)
d. Mendinginkan dan melumasi bit dan rangkaian pipa bor
2. Tempat persiapan (preparation area)
Ditempatkan pada sistem sirkulasi dimulai yaitu dekat pompa lumpur. Tempat
persiapan meliputi :
Mud house
Steel mud pits atau tanks
Mixing Hopper
Chemical mixing barrel

Bulk mud storage bins


Water tank
Reserve pit
3. Peralatan sirkulasi (circulation equipment)
Ditempatkan pada tempat yang strategis disekitar rig. Peralatan sirkulasi ini
meliputi :
Discharge and return lines
Stand pipe
Mud pumps
Special pumps and agitators
Stell mud pits/ tanks
Reserve pit
4. Conditioning area
Didapatkan dekat rig, meliputi :
Settlink tank
Mud gas separator
Shale shaker
Degasser
Desander
Desilter
4. Sistem Tenaga
Memiliki dua bagian yaitu system power supplay dan distribution (transmission)
equipment. Power supply berfungsi memberikan tenaga untuk proses pemboran yang
dihasilkan oleh mesin-mesin besar yang dikenal sebagai prime mover (penggerak
utama) sedangkan distribution equipment berfungsi untuk meneruskan tenaga yang
diperlukan operasi pemboran
5. Sistem Pencegahan Semburan Liar/ BOP

BOP system merupakan susunan peralatan Pencegah Semburan Liar (PSL) yang
dipasang diatas kepala sumur (well head). Kegunaan dari susunan PSL adalah untuk
menutup sumur dengan cepat, baik ketika terdapat pipa didalam lubang ataupun tidak,
sehingga aliran fluida atau gas dari dalam sumur bisa segera dihentikan dan
dikendalikan. Alat ini harus mempunyai tekanan kerja sama atau lebih besar dari
tekanan kerja wellhead dan casing. Penutupan dan pembukaan BOP harus dapat
dilaksanakan dengan cepat karena semburan liar bisa berlaku dalam waktu yang
sangat singkat.
Terdiri dari 2 Komponen Utama yaitu susunan BOP dan accumulator. Susunan
BOP meliputi Annular Preventer, Ram Type Preventer, Drilling Spool dan Bell Nipple.
Blow Out Preventer yang digunakan adalah Cameron Type U, dengan size 10
Model 3M, Tekanan kerja 3000 psi.
Blind Ram dan Pipe Ram dengan Type U yang memiliki saluran sendiri pada tiap
bagian, sehingg atidak perlu drilling spool.