Anda di halaman 1dari 11

FITOGEOGRAFI

Oleh:
Fitra Akbar Nugraha
061114041

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR

FITOGEOGRAFI

Fitogeografi adalah suatu kajian yang mempelajari tentang


persebaran flora di bumi pada saat ini maupun pada saat yang lampau.
Fitogeografi merupakan pengetahuan sintesis yang sebagian besar
ditunjang oleh ilmu pengetahuan lain, seperti ekologi, biologi populasi,
sistematik, evolusi, geologi dan sejarah alam.

Shukla dan Chandel (1996) mendefinisikan "fitogeografi sebagai


suatu kajian tentang migrasi dan penyebaran tumbuh- tumbuhan di
daratan atau perairan. Penelaahan dalam fitogeografi pada umumnya
dititikberatkan pada kelompok organisme sebagai "unit kehidupan"
dalam kelompok taksa tertentu seperti kelompok tumbuhan dalam suku
atau famili.
Secara deskriptif, fitogeografi adalah studi dan deskripsi tentang
perbedaan fenomena distribusi tumbuhan di bumi, mencakup semua
hal yang mengubah atau mempengaruhi permukaan bumi, baik oleh
pengaruh

fisik,

iklim

atau

interaksi

dari

makhluk

hidup

ke

lingkungannya" (Potunin, 1994).


A. Distribusi Vegetasi
Dalam konsep dinamika fitogeografi, terdapat pola dasar
distribusi vegetasi diwilayah. Menurut Weis, (1963) dan Misra,
(1980) pola dasar distribusi vegetasi dipengaruhi oleh:
a.

"habitat",

sebagai

tempat

tumbuh

tumbuhan

yang

mempunyai hubungan sangat erat dengan iklim. Dalam proses


evolusi perubahan iklim dapat menyebabkan wilayah yang
menjadi habitat dan lingkungannya yang tempat tumbuh
berbagai jenis tumbuhan akan dapat berubah dan dapat
mempengaruhi distribusi vegetasinya.
b. "respon" vegetasi dan sifat adaptasi tumbuhan terhadap
lingkungannya bersifat khas dan sering menjadi karakteristik
suatu jenis tumbuhan. Penyebaran tumbuhan pada umumnya
dibatasi oleh sifat toleransi dan adaptasi terhadap kondisi
lingkungannya.
c.

"migrasi"

sepanjang

berbagai
sejarah

pengangkutan

dan

flora
geologi,

setempat
selama

penguasaan

menentukan pola distribusi vegetasi.

telah

berlangsung

itu

persebaran,

wilayah

akan

turut

d. "kelanjutan hidup" jenis vegetasi tertentu tergantung oleh


proses migrasi dan evolusi. Dalam proses evolusi dan proses
suksesi, berbagai perubahan kondisi lingkungan turut dalam
perubahan komunitas vegetasi. Di mana dalam proses evolusi
struktur komunitas distribusi vegetasi sangat dipengaruhi oleh
kondisi lingkungan, proses mutasi dan seleksi alam.
Menurut Weis (1963), dalam konsep dinarnika fitogeografi pola
distribusi vegetasi kelompok suku, diberi nama dan dikelompokkan
sesuai dengan sifat toleransi dan adaptasi terhadap habitat dan iklim.
Kelompok tersebut adalah:

"Suku
contohnya

tumbuhan
adalah

sub-kosmopolit

tumbuhan

dari

suku

dan

sub-kosmopolit",

Compositae,

Graminae,

Ericaceae, Malvaceae alau Umbillifereae

"Suku tumbuhan wilayah tropis", contohnya adalah tumbuhan


dari suku Araceae, Cucurbitaceae atau Melastomataceae

"Suku tumbuhan wilayah sub-tropis, (beriklim sedang)",


contohnya adalah tumbuhan dari suku Aceraceae, Salicaceae atau
Vacciniaceae.

"Suku tumbuhan "discontinue", contohnya adalah tumbuhan


dari suku Bromeliace, Fagaceae, Magnoliaceae, atau Papaveraceae

"Suku tumbuhan "endemik" contohnya adalah tumbuhan dari


suku Bixaceae, Cactaceae, atau Casuarinaceae.

"Suku

tumbuhan

"wilayah

ekstrim"

(misalnya

habitat

gurun), contohnya adalah tumbuhan dari suku Pedaliaceae.


Pola distribusi vegetasi seperti di atas, disebabkan oleh faktor-faktor
yang bersifat alami dari kondisi lingkungan biotik dan abiotiknya yang
saling

berinteraksi,

mengatur

pola

distribusi

dan

mempengaruhi

komunitas vegetasinya dalam proses penyebaran vegetasi di bumi.


Yang menjadi latar belakang pola-pola distribusi vegetasi di bumi, pada
dasarnya ditentukan oleh karakteristik sebaran vegetasi, kemampuan
bertoleransi dan beradaptasi vegetasi dalam proses evolusi.

B. Pola Distribusi
Pola distribusi geografis tumbuhan dapat mempunyai
sebaran yang luas atau hanya pada wilayah tertentu. Sifat
distribusinya

dapat

berhubungan

atau

sambung-

menyambung dengan wilayah lainnya ("continue"), atau


dapat pula terpisah dengan wilayah lain yang berjauhan
("discontinue" atau "disjunct"). Berdasarkan pada ada
tidaknya tumbuh-tumbuhan di berbagai wilayah bumi maka
terdapat pola distribusi dapat dibagi menjadi 3 kelompok
taksa tumbuhan, yaitu:
-

Kosmopolit/Tersebar Luas
Tumbuhan yang tersebar luas ("wides") adalah kelompok
taksa tumbuhan yang penyebarannya hampir terdapat di
seluruh dunia di wilayah yang memiliki bermacam-macam
zona

iklim.

Tumbuhan

demikian

yang

sebarannya

luas

dinamakan "tumbuhan kosmopolit". Conloh adalah Taraxacum


officinale, Chenopodium album atau Plantago mayor dan jenis
tumbuhan dari suku Gramineae (Cox dan Moore, 1993; Shukla
dan Chandel, 1996).
Tumbuhan kosmopolit yang tersebar luas di daerah tropis
dinamakan tumbuhan "pantropis" contohnya adalah kelompok
tumbuhan yang termasuk suku Zingiberaceae yang terdapat di
beberapa kepulauan dan daratan Asia.
Sedangkan tumbuhan yang tersebar secara luas di daerah
beriklim dingin di wilayah zona artik dan zona alpin, dikenal
sebagai tumbuhan "artik-alpin", contohnya adalah tumbuhan
lumut atau rerumputan seperti Carex sp, dan Eriophomm spp
atau pepohonan berlumut yang dinamakan "elfin wood" dan
"krummholz" (Polunin, 1994).

Endemik

Tumbuhan endemik adalah tumbuhan yang jenis-jenisnya


tumbuh di wilayah terbatas dan terdapat pada daerah yang
tidak terlalu luas. Daerah sebarannya pada umumnya dibatasi
oleh adanya penghalang ("barrier"), seperti lembah, bukit atau
pulau.

Dikenal

tumbuhan

beberapa

"endemik

tipe

benua",

tumbuhan

endemik

yaitu

"endemik

regional"

atau

"endemik setempat/ lokal".


Tumbuhan endemik dapat berasal dari jenis tumbuhan
purba yang tersebar luas yang sampai saat ini mampu
bertahan

dan

beradaptasi

pada

wilayah

yang

terbatas.

Tumbuhan jenis ini kemudian menjadi tumbuhan endemik


karena sebarannya yang sempit. Contohnya adalah Ginko
biloba (di Jepang dan China), Sequioa sempervirens (di suatu
lembah

di

pantai

Califonia)

atau

Agathis

australis

dan

Metasequioa sp, yang diperkirakan merupakan spesies tunggal


yang tumbuh di suatu lembah di China. Tumbuhan endemik
purba tersebut dinamakan tumbuhan "paleoendemik" atau
"epibion".
Jenis tumbuhan endemik lainnya adalah tumbuhan masa
kini (modern) yang dalam proses evolusinya tidak mempunyai
kesempatan dan waktu yang cukup untuk tersebar secara luas
melalui migrasi (Shukla dan Chandel, 1996). Contohnya antara
lain atau Eleusine coracana (Gramineae), Mecanopsis sp.
(Papaveraceae), Piper longum (Piperaceae) atau Rafflesia
arnoldii,

Tumbuhan

demikian

dinamakan

tumbuhan

"neoendemik".

Discontinue
Tumbuhan discontinue adalah tumbuhan yang terpisah pada
dua atau lebih wilayah yang berjarak puluhan, ratusan atau
ribuan kilometer oleh adanya penghalang yang terdiri dari

pegunungan atau gunung yang tinggi di daratan atau pulaupulau di laut. Contoh tumbuhan discontinue, antara lain
Empetrum nigrum, Larrea tridentata, Phacelia magellanica
atau Sanigula cranicaulis
Tumbuhan discontinue terdapat, antara lain karena:
a. tumbuhannya berevolusi di beberapa wilayah yang sesuai
dengan amplitude ekologinya, tetapi gagal bermigrasi dari
habitat aslinya oleh adanya penghalang tertentu;
b. tumbuhan yang jenis-jenisnya pada suatu saat pada masa
lalu

yang

tersebar

luas,

kemudian

oleh

karena

kondisi

lingkungannya berubah akan lenyap atau rnusnah. Tetapi di


antara jenis tumbuhan tersebut terdaptl jenis yang dapat
beradaptasi dan mampu bertahan; sehingga akhirnya pada
wilayah atau habitat tertentu akan terbentuk kantung-kantung
discontinue;
c. iklim yang berubah dalam skala evolusi juga dapat
menyebabkan adanya discontinue karena pada umumnya
tumbuhan
menemukan

mempunyai

kebutuhan

kehidupannya.

iklim

Misalnya

tertentu

walaupun

akan
secara

terpisah, tumbuhan yang terdapat di wilayah artik mempunyai


kesamaan jenis dan bentuk hidup dengan tumbuhan wilayah
alpin dengan kondisi iklim yang serupa. Contohnya, Salix spp.
dan Silen spp. adalah tumbuhan discontinue yang tumbuh di
wilayah artik, wilayah alpin atau wilayah artik alpin
d. secara geologis daratan di masa lampau sekarang sangat
berbeda dengan daratan masa kini. Menurut teori "paparan
benua" ("continental drifts") wilayah yang terdapat sekarang
seperti di Amerika Selatan, Afrika, India, Polinesia, Australia
dan Antartika, pada "era meozoicum menjadi satu benua yang
luas yang dinamakan Gondwana dan memiliki karakteristik
flora dan fauna yang spesifik dengan flora dan faunanya yang

discontinue. Oleh adanya gerakan lempengan bumi maka


daratan Gondwana kemudian pecah dan terpisah menjadi
wilayah tersebut (Brown dan Gibson, 1983).
Secara

fitogeografis,

Shukla

dan

Chandel

(19%)

rnenyatakan bahwa terdapat beberapa faktor ekologi yang


berpengaruh terhadap distribusi tumbuhan. Faktor ekologi
tersebut adalah:

a. Faktor Sejarah Geografi dan Sebarannya


Suatu wilayah di bumi yang menjadi tempat asal tumbuhan
pertama kali ada dinamakan pusat asal tumbuhan ("centre of
origin"). Dalam skala evolusi dan geologi proses terbentuknya
spesies biota cenderung berlangsung lama dan kontinyu.
Dalam proses evolusi tersebut beberapa jenis tumbuhan lelah
berdiferensiasi membentuk spesies baru dan dapat menjadi
flora sekarang.
Dalam proses diferensiasi tersebul jenis tumbuhan purba
biasanya berasal dari pusat "tumbuhan awal" di wilayah yang
dinamakan pusat anal jenis masa lalu atau "centre of origin",
yang kemudian akan berevolusi rnenjadi jenis tumbuhan masa
kini.

Sementara

itu

tumbuhan

spesies

baru

mengalami

perubahan selama evolusi, kemudian menjadi flora biasa kini


yang berkembang dari flora purba yang berasal dari spesies
yang berasal dari proses evolusi dari pusat tumbuhan baru
("recent of'origin"). Dalam proses evolusi beberapa spesies
purba akan punah dan dapat ditemukan sekarang sebagai
"tumbuhan fosil", sedangkan tumbuhan jenis lain yang lampu
beradaptasi dan bertahan hidup cenderung akan menjadi
tumbuhan palcoendemik atau mungkin menjadi tumbuhan
kosmopolit.

Dalam evolusi proses deferensiasi terbentuknya jenis-jenis


spesies

baru

pada

umurnnya

berkaitan

dengan

proses

hibridisasi dan proses mutasi antara jenis-jenis tumbuhan yang


mempunyai kekerabatan yang dekat, serta proses seleksi alam
dari populasi hibrid dan mutan.
Proses diferensiasi yaug berlangsung secara alamiah akan
menghasilkan hibrid dan mutan dengan habitat dan amplitudo
ekologi ("ecological amplitude") tertentu. Selain itu iklim juga
memegang peranan penting dalam membentuk asal spesies
baru ("origin of new species").

b. Faktor Migrasi
Jenis tumbuhan baru yang berhasiil dalam proses evolusi,
kemudian mungkin akan bermigrasi pada habitat baru. Di
habitatnya spesies baru tersebut akan tumbuh, berkembang
dan beradaptasi pada kondisi lingkungan setempat tanpa
mengalami

perubahan

karakteristik

jenis

mengalami

perubahan sebagai jenis baru dan melangsungkan persebaran


dan pemencaran nya, yang berlangsung bersamaan dengan
proses evolusmya sendiri.

Persebaran ("dispersal") atau pemencaran bibit dan biji


dilakukan oleh berbagai agen , seperti angin, air, serangga,
burung atau hewan lainnya termasuk manusia. Dalam migrasi,
proses dispersal akan dilanjutkan dengan proses "ekesis", yaitu
proses berkecambah, tumbuh dan beradaptasi, berkembang
biak dan menetap di habitatnya yang baru. Proses migrasi
dapat terhalang bahkan berhenti oleh sebab tcrtentu karena
terdapatnya barier. Baricr dapat terdiri dari barier ekologi,
barier lingkungan dan barier geografi. Misalnya iklim adalah
ekologi

yang

berperan

penting

dalam

proses

sebaran

tumbuhan dan pembentukan spesies baru.. .barier lingkungan


dapat tcrdiri dari faklor biotik (misalnya burung) yang dapat
berperan sebagai agen pemencaran, sedangkan barier gcografi
biasanya terdiri dari topografi dan fisiografi habitai seperti
gurun, atau laut yang dapat menjadi penghalang tumbuhan
untuk berpencar.

c. Amplitudo Ekologi
Kondisi

lingkungan

tdak

saja

mempengaruhi

kehidupan,pertumbuhan dan perkembangan vegetasi di suatu


wilayah, tetapi kehidupan, migrasi dan sebaran vegetasi
tersebut juga ditentukan oleh "amplitudo ekologi" wilayah
tcrsebut berupa:
1. ada atau tidaknya kehadiran jenis tumbuhan
2. kekuatan dan kelemahan jenis tumbuhan untuk tumbuh dan
berkembang
3. keberhasilan dan kcgagalan dari vegetasi dalam bermigrasi
Setiap jenis tumbuhan dalam suatu komunitas biotik pada
dasarnya mempunyai rentang toleransi terhadap amplitude
ekologi berupa kondisi faktor lingkungan fisik dan biotik
tertentu. Sehingga adanya atau terdapatnya satu spesies di
suatu habitat akan menunjukkan bahwa kondisi lingkugannya
sesuai dengan amplitude ekologj spesies tersebut.
Secara spasial amplitude ekologi suatu spesies tumbuhan
akan ditentukan dan dipengaruhi oleh perangkat genetik
("genetic set up'"} dari jenis tersebut. Perangkat genetik adlah
suatu

perangkat

sifat-sifat

menurun

yang

tcrsusun

dari

rangkaian DNA yang mempunyai karakteristik dan respon yang


spesifik terhadap kondisi lingkungan ( amplitude ekologi
tertentu).

spesies tumbuhan yang berbeda-beda akan mempunyai


amplitude ekologi yang berbeda pula.. Tctapi satu jenis atau
satu marga tumbuhan yang mempunyai sebaran ekologi yang
sama atau serupa, mungkin terdapat pada wilayah geografi
yang berbeda. Contohnya tumbuhan conifer yang terdapat di
wilayah beriklim sejuk di sekitar lingkaran kutub, dapat pula
tumbuh di wilayah "zona-alpin" di daerah pegunungan wilayah
tropis dan sub-tropis.
Faktor amplitudo ekologi suatu jenis tumbuhan sering
dipengaruhi

perubahan

menentukan

dan

waktu(temporal),

mempengaruhi

distribusi

yang

dapat

vegetasiya

contohnya adalah tumbuhan yang reproduksinya berlangsung


secara generatif (seksual), proses hibridisasi antara jenis
tumbuhan yang sejenis akan menghasilkan keturunan yang
secara genetik sama.tetapi karena terjadi pcrubahan kondisi
lingkungannya, tumbuhan tersebut harus beradaptasi sesuai
dcngan lingkungannya dan amplitude ekologinya yang baru
dengan perangkat genetik baru pula sebagai hasil seleksi alam
atau mutasi.
Perangkat genetik sebagai hasil adaptasi pada kondisi
lingkungan yang baru akan menyertai perubahan gcnotip atau
proses mutasi dari jenis tersebut. Jenis-jems atau populasi
tumbuhan terscbut dinamakan ''tumbuhan ekotip". Contohnya
adalah tumbuhan Euphorbia thymifolia ,yang tumbuh pada
bermacam-macan habibat. Terdapat hasil mutasi atau variasi
jenis tumbuhan tersebut yang mempunyai 2 ekotip, yaitu
ekotip

yang

menyukai

habitat

berkapur,

thymifolia

var.

calcicola dan ekotip yang tidak menyukai habitat tanah


berkapur adalah E. thymifolia var. calcifuga (Vickery, 1984;
Shukla dan Chandel, 1996).