Anda di halaman 1dari 64

PEMBUATAN TABLET ACIDUM ASCORBICUM (VITAMIN C)

DENGAN METODE KEMPA LANGSUNG

I.

II.

Tujuan
Mahasiswa mampu membuat sediaan Acidum Ascorbicum (Vitamin C) dalam
bentuk tablet secara kempa langsung.
Teori
1. Pengertian tablet
Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang
biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan farmasetika yang
sesuai. Tablet dapat berbeda dalam ukuran, bentuk, berat, kekerasan,
ketebalan, daya hancur, dan dalam aspek lainnya tergantung pada cara
pemakaian tablet dan metode pembuatannya. Kebanyakan tablet
digunakan pada pemberian obat secara oral atau melalui mulut (Ansel,
1989).
2. Jenis sediaan tablet
A. Berdasarkan prinsip pembuatan
1. Tablet Kempa atau Tablet Kempa Standar , dibuat dengan cara
pengemoaan dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk/granul
menggunakan pans/cetakan biasa.
2. Tablet Kempa Ganda
Tablet dalam kategori ini biasanya dibuat untuk salah satu dari
kedua alasan, yaitu untuk memisahkan secara fisika atau kimia
bahan-bahan yang tidak dapat bercampur, atau untuk menghasilkan
produk dengan kerja ulang atau produk dengan kerja yang
diperpanjang.
B. Berdasarkan tujuan penggunaan
1. Tablet Aksi Diperlama dan Tablet Salut Enterik
Bentuk sediaan tablet aksi diperlama dimaksudkan untuk melepas
obat sesudah penundaan beberapa lama, atau setelah tablet melalui
satu bagian saluran cerna ke bagian lainnya.
1

2. Tablet Salut Gula dan Tablet Salut Cokelat


Peranan utama kedua tablet salut ini untuk mendapatkan bentuk
obat yang menarik, mengkilap, serta mudah untuk menelannya,
memberi rasa atau untuk menghindarkan gangguan dalam
pemakaiannya akibat rasa atau bahan obat.
3. Tablet Kunyah
Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah di mulut sebelum
ditelan dan bukan untuk ditelan utuh. Tujuan dari tablet kunyah
adalah untuk memberikan suatu bentuk pengobatan yang dapat
diberikan dengan mudah kepada anak-anak atau orang tua, yang
mungkin sukar menelan obat utuh.
4. Tablet Buccal dan Sublingual
Kedua jenis tablet ini dimaksudkan untuk diletakkan di dalam
mulut, agar dapat melepaskan obatnya sehingga diserap langsung
oleh selaput lendir mulut. Kedua jenis tablet ini biasanya kecil dan
rata, diletakkan di antara pipi dalam dengan gigi (tablet buccal),
atau dibawah lidah (tablet sublingual). Obat-obat yang diberikan
dengan cara ini dimaksudkan agar memberikan efek sistemik
5. Troches dan Lozenges (Tablet Isap)
Penggunaan kedua jenis tablet ini dimaksudkan untuk memberi efek
lokal pada mulut atau kerongkongan. Bentuk tablet ini umumnya
digunakan untuk mengobati sakit tenggorokan atau untuk
mengurangi batuk pada influenza.
6. Dental Cones
Dental cones merupakan suatu bentuk tablet yang cukup kecil,
dirancang untuk ditempatkan di dalam akar gigi yang kosong
setelah pencabutan gigi.
C. Tablet yang Diberikan dengan Cara Lain
Tablet Implantasi (Tablet Depo)
Tablet ini dimaksudkan untuk ditanam di bawah kulit manusia atau
hewan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan efek obat dalam

jangka waktu yang lama, berkisar dari satu bulan sampai satu tahun.
Tablet Vaginal
2

Tablet ini dimaksudkan agar dapat larut secara perlahan-lahan, dan


melepaskan obat yang terkandung di dalamnya ke rongga vagina.
D. Tablet yang Digunakan untuk Membuat Larutan
Tablet Effervescent
Tablet effervescent dimaksudkan untuk menghasilkan larutan secara

cepat dengan menghasilkan CO2 secara serentak


Tablet Dispensing
Tablet ini dimaksudkan untuk ditambahkan ke dalam air dengan
volume tertentu, oleh ahli farmasi atau konsumen, untuk

mendapatkan suatu larutan obat dengan konsentrasi tertentu.


Tablet Hipodermik
Tablet hipodermik dilarutkan dalam air steril untuk injeksi untuk

disuntikkan di bawah kulit.


Tablet Triturasi
Tablet ini bentuknya kecil dan biasanya silinder, dibuat dengan
cetakan atau dibuat dengan kompresi, dan biasanya mengandung
sejumlah kecil obat keras. Tablet triturat ini digunakan untuk
memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat.

3. Kriteria tablet
Kriteria umum dalam sediaan tablet sebagai berikut : (Agoes, 2008)
a. Disolusi obat optimal sesuai dengan ketentuan spesifikasi / farmakope.
b. Ketersediaan hayati sesuai dengan tujuan penggunaan (pelepasan
segera atau modifikasi).
c. Ketelitian dan keseragaman kandungan obat dalam setiap takaran.
d. Stabilitas ; termasuk stabilitas bahan aktif ; formulasi tablet secara
menyeluruh,

waktu hancur, kecepatan dan jumlah bahan aktif

terdisolusi dari tablet untuk jangka tunda.


e. Penerimaan pasien, sedapat mungkin produk jadi harus berpenampilan
menarik, termasuk warna, ukuran, rasa, dan lain sebagainya sehingga
secara maksimal dapat diterima pasien dan mendorong pasien untuk
mengikuti ketentuan penggunaan obat.
f. Manufakrutabilitas
Rancangan formulasi memungkinkan untuk memproduksi bet obat
secara efisien, ekonomis, praktis selama produksi dan reproduksibel.
4. Keuntungan dan kerugian tablet
3

a. Keuntungan
Sediaan tablet

banyak

digunakan

karena

memiliki

beberapa

keuntungan, yaitu :
1. Volume sediaan cukup kecil dan wujudnya padat sehingga
memudahkan pengemasan, penyimpanan dan pengangkutan).
2. Mengandung zat aktif yang tepat.
3. Sediaan tablet adalah kering sehingga zat aktif lebih stabil.
4. Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah yang besar dengan
volume yang kecil.
5. Tablet sangat cocot untuk zat aktif yang sulit larut air.
6. Pelepasan zat aktif dapat diatur.
7. Tablet dapat disalut untuk melindungi zat aktif, menutup rasa dan
bau yang tidak enak.
8. Dapat diproduksi besar-besaran, sederhana dan cepat sehingga
biaya produksinya lebih rendah.
9. Pemakaian oleh penderita lebih mudah (Lachman et al, 1994).
b. Kerugian
Di samping keuntungan di atas, sediaan tablet juga mempunyai
beberapa kerugian, antara lain :
1. Ada orang tertentu yang tidak dapat menelan tablet (dalam
keadaan tidak sadar/pingsan).
2. Formulasi tablet cukup rumit, antara lain :
Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat, karena
sifat amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis.
Zat aktif yang sulit terbasahi (hidrofob), lambat melarut, dosisnya
cukup besar atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui
saluran cerna, atau kombinasi dari sifat tersebut, akan sulit untuk
diformulasi (harus diformulasi sedemikian rupa).
Zat aktif yang rasanya pahit, tidak enak, atau bau yang tidak
disenangi, atau zat aktif yang peka terhadap oksigen, atmosfer, dan
kelembaban udara, memerlukan enkapsulasi sebelum dikempa.
Dalam hal ini sediaan kapsul menjadi lebih baik daripada tablet.
Tetapi jika dibandingkan dengan keuntungannya, kerugian sediaan
tablet jauh lebih sedikit sehingga sediaan tablet merupakan sediaan
yang paling banyak dijumpai di perdagangan.
5. Metode pembuatan tablet
4

Sediaan tablet ini dapat dibuat melalui tiga macam metode, yaitu granulasi
basah, granulasi kering, dan kempa langsung. Pemilihan metode
pembuatan sediaan tablet ini biasanya disesuaikan dengan karakteristik zat
aktif yang akan dibuat tablet.
Berikut merupakan penjelasan singkat dari ketiga macam metode
tersebut :
A. Granulasi Basah
Yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi
partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam
jumlah yang tepat sehingga terjadi massa lembab yang dapat
digranulasi.Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan
terhadap lembab dan panas (Lachman et al, 1994).
Keuntungan metode granulasi basah :
1. Memperoleh aliran yang baik.
2. Meningkatkan kompresibilitas.
3. Untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai.
4. Mengontrol pelepasan.
5. Mencegah pemisahan komponen campuran selama proses.
6. Distribusi keseragaman kandungan.
7. Meningkatkan kecepatan disolusi.
Kekurangan metode granulasi basah :
1. Banyak tahap dalam proses produksi yang harus divalidasi.
2. Biaya cukup tinggi.
3. Zat aktif yang sensitif terhadap lembab dan panas tidak dapat
dikerjakan dengan cara ini. Untuk zat termolabil dilakukan dengan
pelarut non air.
Langkah-langkah dalam metode granulasi basah :
1. Menimbang dan mencampur bahan-bahan
Bahan aktif, pengisi, penghancur ditimbang sesuai yang
dibutuhkan, bahan pengisi biasanya laktosa, kaolin, manitol,
amylum, gula bubuk.
2. Pembuatan granulasi biasa
Agar campuran serbuk mengalir bebas dan merata dari hopper ke
dalam cetakan mengisinya dengan tepat dan merata, biasanya
perlu mengubah campuran serbuk menjadi granula yang bebas
mengalir ke dalam cetakan disebut granulasi.
5

3. Pengayakan adonan lembab menjadi pellet atau granul


Umumnya granulasi basah ditekan melalui ayakan no 6 atau 8,
lalu disalurkan kedalam fludbeddriers dibuat granul dengan
menekankan pada alat yang dibuat berlubang-lubang.
4. Pengeringan
Kebanyakan granul dikeringkan dalam area pengering dengan
system sirkulasi udara dan pengendalian temperatur, pada metode
ini granul dikeringkan pada keadaan tertutup dan diputar-putar
sambil dialirkan udara yang hangat, pada proses ini campuran
serbuk yang akan dibuat granul diubah menjadi larutan atau
suspensis dan disemprotkan, dikeringkan dalam fluidizedbed
untuk menghasilkan granul yang seragam dan mudah mengalir.
5. Pengayakan kering
Setelah dikeringkan granul dilewatkan melalui ayakan dengan
lubang lebih kecil dari yang biasa dipakai untuk pengayakan
granulasi asli.
6. Pencampuran bahan pelicin
Setelah pengayakan kering, biasanya bahan pelicir kering
ditambahkan ke dalam granul.
7. Pembuatan tablet dengan kompresi
Cara kerjanya memasukkan granul ke dalam ruang cetakan dan
dikempa oleh kedua gerakan punch atas dan die bawah (Ansel,
1989).
B. Granulasi Kering
Disebut juga slugging, yaitu memproses partikel zat aktif dan eksipien
dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat yang
selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran
lebih besar dari serbuk semula (granul). Prinsip dari metode ini adalah
membuat granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan pengikat dan
pelarut, ikatannya didapat melalui gaya. Teknik ini yang cukup baik,
digunakan untuk zat aktif yang memiliki dosis efektif yang terlalu tinggi
untuk dikempa langsung atau zat aktif yang sensitif terhadap pemanasan
dan kelembaban (Lachman et al, 1994).
Metode ini digunakan dalam kondisi-kondisi sebagai berikut :
6

1. Kandungan zat aktif dalam tablet tinggi.


2. Zat aktif susah mengalir.
3. Zat aktif sensitif terhadap panas dan lembab.
Keuntungan cara granulasi kering adalah:
1. Peralatan lebih sedikit karena tidak menggunakan larutan pengikat,
mesin pengaduk berat dan pengeringan yang memakan waktu.
2. Baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap panas dan lembab.
3. Mempercepat waktu hancur karena tidak terikat oleh pengikat.
Kekurangan cara granulasi kering adalah:
1. Memerlukan mesin tablet khusus untuk membuat slug.
2. Tidak dapat mendistribusikan zat warna seragam.
3. Proses banyak menghasilkan debu sehingga memungkinkan

terjadinya kontaminasi silang.


C. Metode Kempa Langsung
Yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung campuran zat aktif
dan eksipien kering.tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu. Metode
ini merupakan metode yang paling mudah, praktis, dan cepat
pengerjaannya, namun hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif yang
kecil dosisnya, serta zat aktif tersebut tidak tahan terhadap panas dan
lembab.
Keuntungan metode kempa langsung yaitu :
1. Lebih ekonomis karena validasi proses lebih sedikit.
2. Lebih singkat prosesnya, karena proses yang dilakukan lebih
sedikit maka waktu yang diperlukan untuk menggunakan metode
ini lebih singkat, tenaga dan mesin yang dipergunakan juga lebih
3.

sedikit.
Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak

4.

tahan lembab
Waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak melewati
proses granul, tetapi langsung menjadi partikel. tablet kempa
langsung berisi partikel halus, sehingga tidak melalui proses dari

granul ke partikel halus terlebih dahulu.


Kerugian metode kempa langsung :
1. Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara zat aktif
dengan pengisi dapat menimbulkan stratifikasi di antara granul

yang selanjutnya dapat menyebabkan kurang seragamnya


2.

kandungan zat aktif di dalam tablet.


Zat aktif dengan dosis yang besar tidak mudah untuk dikempa
langsung karena itu biasanya digunakan 30% dari formula agar
memudahkan

proses

pengempaan

sehingga

pengisi

yang

dibutuhkanpun makin banyak dan mahal. Dalam beberapa kondisi


pengisi dapat berinteraksi dengan obat seperti senyawa amin dan
laktosa spray dried dan menghasilkan warna kuning. Pada kempa
langsung mungkin terjadi aliran statik yang terjadi selama
pencampuran dan pemeriksaan rutin sehingga keseragaman zat
3.

aktif dalam granul terganggu.


Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang digunakan
harus bersifat; mudah mengalir; kompresibilitas yang baik;
kohesifitas dan adhesifitas yang baik.

6. Masalah dalam Pembuatan Tablet


Beberapa permasalahan dalam pembuatan tablet adalah sebagai berikut
(Lachman 1994 : 673-680) :
a. Capping
Adalah pemisahan sebagian atau keseluruhan bagian atas atau bagian
bawah tablet dari badan tablet. Umumnya disebabkan oleh adanya udara
yang terjadi dalam ruang die dan penyebab lain yaitu kelebihan granul,
over lubrikasi atau kurang rubrikan.
b. Laminasi
Adalah pemisahan tablet menjadi 2 bagian atau lebih. Umumnya
keretakan atau pecahnya tablet terjadi segera setelah kompresi atau
beberapa jam atau hari kemudian.
c. Chipping
Adalah keadaan pada bagian bawah tablet terpotong yang disebabkan
oleh ujung punch bawah tidak rata dengan permukaan atas die.
d. Cracking
Adalah keadaan tablet pecah, lebih sering di bagian atas tengah. Cracking
merupakan akibat lanjut dari permukaan atas die.
e. Picking

Adalah perpindahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada


permukaan punch yang disebabkan pengeringan granul belum cukup,
jumlah

glidan

kurang

atau

yang

dikompresi

adalah

bahan

berminyak/lengket.
f. Sticking
Adalah keadaan granul menempel pada dinding die. Penyebabanya yaitu
punch kurang bersih, tablet dikompresi pada kelembapan tinggi.
g. Mottling
Adalah keadaan distribusi zat warna pada permukaan tablet tidak merata.
h. Binding
Adalah lubrikasi yang tidak memadai.
7. Formula Tablet
R/ Zat berkhasiat
Pengisi
Pengikat
Penghancur
Pelincir
Zat tambahan
Pewarna
Penambah rasa
Penyalut
Pembasah
8. Bahan Tambahan Tablet
a. Bahan Pengisi
Adalah zat inert yang ditambahkan dalam formula tablet yang ditujukan
untuk membuat bobot tablet sesuai dengan yang diharapkan. Biasanya
tablet yang mengandung zat aktif dengan dosis kecil memerlukan zat
pengisi yang banyak. Jika dosis besar maka pengisi sedikit atau tidak
sama sekali.
Contoh zat pengisi :
1. Avicel (mikrokristalin selulosa)
Bentuk 103 memiliki keunggulan dibandingkan dengan 101, 102
karena volume spesifiknya kecil, aliran lebih baik dan waktu

hancur lebih singkat.


Insoluble, non-reaktif, aliran kurang baik, kapasitas pegang 50%.
Menghasilkan tablet yang keras dengan tekanan kecil
(kompresibilitas baik) dan friabilitas tablet rendah, waktu
stabilitas panjang.
9

Menghasilkan pembasahan yang cepat dan rata sehingga


mendistribusikan cairan penggranul ke seluruh massa serbuk;

menghasilkan distribusi warna dan obat yang merata.


Bertindak sebagai pembantu mengikat, menghasilkan granul yang

keras dengan sedikit fines.


Bisa bersifat pengikat kering, disintegran, lubrikan dan glidan.
Penggunaannya membutuhkan lubrikan; penggunaannya dapat

dikombinasi dengan laktosa, manitol, starch, kalsium sulfat.


Membantu mengatasi zat-zat yang jika overwetting (terlalu basah)
menjadi seperti clay yang sukar digranulasi dan ketika kering
granulnya menjadi keras dan resisten terhadap disintegrasi.

Contoh: kaolin, kalsium karbonat.


Avicel dalam GB memperbaiki ikatan pada pengempaan,

mengurangi capping dan friabilitas tablet.


Avicel membantu obat larut dengan air agar homogen, mencegah
migrasi pewarna larut air dan membantu agar evaporasi cepat dan

seragam.
Untuk obat dengan dosis kecil, Avicel digunakan sebagai pengisi

dan pengikat tambahan.


60% avicel PH 101 dan 40% amilum sebagai pasta 10% membuat
massa lembab mudah digranulasi, membentuk granul yang kuat
pada pengeringan dengan sedikit fine daripada pasta yang hanya

terbuat dari amilum.


Bentuk PH 101: serbuk, PH 102: granul, PH 103: serbuk.
2. Kalsium sulfat trihidrat
Digunakan sebagai pengisi untuk granulasi dengan jumlah zat

aktif 20-30%.
Sinonim: terra alba, snow white filler.
Insoluble, non-higroskopis.
Semakin tinggi grade-nya semakin putih, pengisi paling murah,
bisa dipakai untuk zat aktif asam, netral, basa; punya kapasitas

abisaorbisai yang tinggi untuk minyak.


Pengikat yang disarankan: PVP, MC, starch paste.
3. Kalsium fosfat dibasic
10

Digunakan sebagai pengisi dan pengikat untuk kempa langsung


dengan memiliki ukuran paling kecil, tidak mahal, tidak dapat

digunakan bersama senyawa asam atau garam asam.


Jika digunakan cairan pengikat yang terlalu banyak maka jadi
lengket dan keras, tidak dapat digranul sehingga solusinya

dikombinasi dengan starch/Avicel.


4. Laktosa
Inkompatibel dengan: senyawa yang sangat basa, asam askorbat,

salisilamid, pyrilamine maleat, phenilephrine HCl.


Granul laktosa hidrat mengandung kadar lembab 4-5%.
Laktosa adalah gula peredukasi bereaksi dengan

menghasilkan reaksi Maillard.


Isomer: dan (dalam campuran berada dalam kesetimbangan

kedua bentuk) (Lachman Industri).


Pengisi yang paling umum, ada 2 bentuk: hidrat dan anhidrat.
Jarang bereaksi dengan obat (hidrat dan anhidrat).
Untuk GB pakai laktosa hidrat; laktosa anhidrat tidak mengalami

amin

reaksi Maillard (dengan zat aktif mengandung amina dengan

adanya logam stearat), tetapi menyerap lembab.


Secara umum tablet menunjukkan release rate yang baik,
granulnya

cepat kering, disintegrasi tablet tidak banyak

dipengaruhi oleh kekerasan (Handbook of Pharm Excipient).


Keburukan: laktosa dapat berubah warna dengan adanya basa

amin dan Mg-stearat.


Dikenal 4 macam bentuk: granul kasar (60-80 mesh), granul halus
(80-100 mesh), granul spray dried (100-200 mesh), dan laktosa

anhidrat.
Dikenal sebagai gula susu. Spray-dried Lactose (Lachman

Industri).
Untuk pengisi kempa langsung, umumnya digabung dengan
Avicel. Jika tunggal digunakan dalam konsentrasi 40-50% sebagai
pembawa.

11

Sifat direct compression-nya berkurang jika kadar air < 3%; dapat
dicampur dengan 20-25% zat aktif tanpa kehilangan sifat direct

compression-nya.
Kapasitas pegang 20-25% terhadap zat aktif; punya aliran baik
dan karakteristik pengikatan yang lebih baik dibandingkan laktosa

biasa.
Kelemahan: dapat menghitam dengan adanya lembab, amin, atau

senyawa lain yang mengandung furaldehid.


Gunakan lubrikan netral atau asam
5. Sukrosa
Bisa berfungsi sebagai pengisi/pengikat.
Jika digunakan sebagai pengikat tunggal, sukrosa membentuk
granul yang keras dan tablet lebih cenderung terdisolusi daripada
terdisintegrasi. Oleh karena itu banyak dikombinasi dengan

pengisi insoluble lain.


Jika digunakan sebagai pengisi kering, biasanya digranulasi
dengan pengikat larut air atau hidroalkohol. Kekerasan granul
tergantung jumlah pengikat yang digunakan. Campuran air dan

alkohol akan menghasilkan granul yang lebih lunak..


Memiliki banyak bentuk, paling sering digunakan bentuk
confectioner untuk GB yang mengandung 3% pati jagung untuk

mencegah caking.
Sukrosa digunakan sebagai pemanis dalam tablet kunyah dan

digunakan sebagai pengikat untuk memperbaiki kekerasan tablet.


Kelemahan: tablet yang dibuat dengan komposisi sebagian besar
sukrosa akan mengeras pada penyimpanan. Sukrosa bukan gula
pereduksi

tetapi

menjadi

coklat

pada

penyimpanan

dan

higroskopis.
Turunan sukrosa yang dapat digunakan untuk kempa langsung:
a. Sugartab : 90-93% sukrosa, 7-10% invert sugar.
b. Di Pac : 97% sukrosa, 3% modified dekstrin.
c. Nu Tab : 95% sukrosa, 4% gula invert, 1% corn starch, Mg

stearat.
6. Dekstrosa
12

Penggunannya terbatas pada GB sebagai pengisi dan pengikat.


Digunakan mirip dengan sukrosa, cenderung menghasilkan tablet
yang keras terutama jika menggunakan dekstrosa anhidrat.
Menjadi coklat pada penyimpanan.
7. Manitol
Pengisi yang baik untuk tablet kunyah karena rasanya enak,
sedikit manis, halus, dingin (negatif heat solution).
Non-higroskopis, aliran jelek, membutuhkan lebih banyak cairan
pengikat.
Dapat digunakan untuk formulasi vitamin, menghasilkan granul
yang lebih halus dari sukrosa atau dekstrosa.
Kadar lembab granul yang dibuat dari sukrosa, dekstrosa, dan
manitol setelah pengeringan semalam pada 140-150 F adalah
0,2%.
Hanya sedikit yang terabisaorbisai di saluran cerna, jika
digunakan banyak dapat bersifat laksatif.
8. Emdex dan Celutab (Lachman Industri)
Dapat bereaksi dengan amin pada suhu dan kelembaban tinggi.
Bebas mengalir dan dapat dikempa langsung, mengandung 8-10%
lembab, kekerasan tablet dapat meningkat setelah pengempaan.
Starch terhidrolisa mengandung 90-92% dekstrosa dan 3-5%
maltosa.
Dapat digunakan sebagai pengganti manitol pada talbet kunyah
karena manis dan berasa halus.
A. Adsorben
Manfaat adsorben: mencegah tablet basah oleh lelehan zat aktif, jika tablet
basah maka tablet akan lengket dalam cetakan. Bekerja menyerap lelehan
zat aktif.
Adsorben harus memiliki titik leleh yang tinggi. Dengan titik leleh tinggi
setelah terjadi lelehan pertama akan terbentuk massa yang bertitik leleh
lebih tinggi.
Contoh: Avicel, Bolus alba, Kaolin, bentonit, Mg silikat, MgO, trikalsium
fosfat, Aerosil.
B. Pengikat
Pengikat bisa berupa gula dan polimer.
13

Pengikat yang berupa polimer alam: starch, gum (acacia, tragacanth,


gelatin).
Pengikat yang berupa polimer sintetik: PVP, metilselulosa, etilselulosa,
hidroksipropilselulosa.
Bisa dengan cara kering/basah. Cara basah lebih sedikit membutuhkan
bahan.
1. Amilum pragelatinasi
Merupakan pati yang sudah dimasak dan dikeringkan lagi. Dapat
digunakan sebagai pengganti starch paste karena lebih mudah
larut dalam air hangat tanpa pemanasan.
Dapat ditambahkan kering ke dalam

serbuk

kemudian

dibasahkan dengan air membentuk massa lembab.


2. Gelatin
Digunakan pada konsentrasi 5-10% sebanyak 1-5% dari formula.
Sudah jarang digunakan, digantikan PVP, MC. Cenderung
menghasilkan tablet yang keras dan memerlukan disintegran
yang aktif.
Dapat digunakan untuk senyawa yang sulit diikat.
Kelemahan: rentan bakteri dan jamur.
Jika masih diperlukan pengikat yang lebih kuat, dapat digunakan
larutan gelatin dalam air 2-10%, yang dibuat dengan menghidrasi
gelatin dalam air dingin selama beberapa jam/semalam kemudian
dipanaskan sampai mendidih, larutan gelatin harus dipertahankan
hangat sampai digunakan karena akan menjadi gel pada
pendinginan.
3. Larutan akasia
Digunakan pada konsentrasi 10-25%; untuk mengurangi
mephenesin (dosis besar dan sukar digranulasi).
Menghasilkan granul yang keras tetapi tidak mengeras pada
penyimpanan.
Kelemahan: dapat terkontaminasi mikroba.
Kadang ditambah lubrikan cair PEG 6000 untuk membantu
pencetakan tablet dan disintegrasi tablet.
4. PVP
Nama dagang: Kollidon atau Plasdon.
14

Inert, larut air dan alkohol, digunakan dalam konsentrasi 3-15%,


sedikit higroskopis, tidak mengeras selama penyimpanan (baik
untuk tablet kunyah).
Tablet efervesen bisa dibuat menggunakan PVP dalam etanol
anhidrat. Jangan menggunakan isopropanol anhidrat karena
meninggalkan bau pada granul.
Konsentrasi 5% menghasilkan kompresibilitas yang baik dari
serbuk Natrium bikarbonat dan asam sitrat sehingga tablet
bereaksi cepat dan disolusi cepat.
PVP baik untuk tablet kunyah terutama untuk alumunium
hidroksida, Mg(OH)2.
5. Selulosa
a. Metil selulosa
1-5% larutan air; larutan 5% menghasilkan kekerasan yang sama
dengan musilago amilum.
Dapat digunakan untuk menggranulasi soluble/insoluble powder;
pengikat yang baik untuk eksipien laktosa, manitol, dan gula.
Keuntungan: dapat dikompres cepat, tidak mengeras pada
b.

penyimpanan.
CMC Na
5-15%.
Inkompatibel dengan Mg, Ca, Al, dan garamnya.
Menghasilkan granul yang lebih rapuh dari PVP kecenderungan
untuk mengeras, umumnya tablet mempunyai waktu disintegrasi

yang lebih lama.


c. Etil selulosa
Larutan dalam alkohol. Low grades digunakan sebagai pengikat
2-10% dalam etanol.
Dapat digunakan untuk menggranulasi serbuk yang sukar
digranulasi: asetaminofen, kafein, meprobamat, ferofu, arat, dan
dapat digunakan sebagai pengikat non air untuk serbuk yang
tidak tahan air seperti asam askorbat.
Dapat memperlambat disintegrasi.
d. Polivinil alkohol
15

Larut air, mirip akasia tapi tidak terlalu rentan dengan bakteri.
Membentuk granul yang lebih lunak dari acacia, menghasilkan
tablet yang disintegrasi lebih cepat dan tidak mengeras pada
penyimpanan.
C. Flavour (Lachman Industri)
Digunakan untuk tablet kunyah.
Penambahan pewangi dapat dilakukan dalam keadaan kering,
biasanya sebagai fasa luar, sedangkan yang cair ditambahkan

dengan menyemprotkan ke dalam massa cetak.


Flavour yang digunakan adalah bentuk flavour oil yang

diabsorbsikan ke adsorben.
Jumlah yang digunakan maksimal 0,5-0,75%.
D. Disintegran (Penghancur)
Fungsi : untuk memecah tablet
Cara pakai : saat granulasi dan sebelum dicetak (paling baik).
1. Starch (amylum)
Dapat digunakan sebagai pengisi, pengikat, dan penghancur.
Dalam bentuk musilago amili 5-10%. Pemakaian terbaik maksimal
30%. Jika dosis zat aktif besar, starch diganti dengan penghacur yang
lebih baik, yaitu avicel.
Merupakan disintegran yang paling umum digunakan,Mekanisme
kerja dengan membentuk ikatan hydrogen saat pengempaan dan
pecah atau mengembang saat air masuk melalui pori (kapiler)
2. Starch 1500
Sebagai disintegran:
Merupakan disintegran yang baik dan ditambahkan dalam campuran
kering (dalam fasa dalam dan atau fasa luar pada metoda granulasi
kering atau kempa langsung, atau dalam fasa luar pada metoda
granulasi basah).
Perhatian: tidak boleh diberikan pada massa basah.
3. Sodium starch glycolate (primogel, explotab)
Pemakaian: 1-20% dengan konsentrasi optimum 4%.. Explotab tidak
dapat sebagai penghancur dalam.
Mekanisme sama dengan starch secara umum, merupakan starch
termodifikasi sehingga mampu menyerap air 200-300%.
16

Waktu

disintegrasi

ditentukan

pula

oleh

besarnya

tekanan

pengempaan.
Perhatian: pada suhu dan kelembaban yang tinggi dapat
memperlama waktu disintegrasi sehingga memperlambat waktu
disolusi.
4. Selulosa (selulosa, metilselulosa, CMC, CMC-Na, Avicel, Acdisol)
Acdisol merupakan ikatan silang dari CMC-Na dan sangat baik
untuk digunakan sebagai disintegran karena larut air dan memiliki
afinitas yang besar pada air..
Acdisol ini digolongkan pada super disintegran. Penggunaan 25%.
5. Gums (agar, pectin, tragacant, guar gum)
Pemakaian: 1-10%.
Bukan merupakan disintegran yang baik, karena kapasitas
pengembangannya yang relatif rendah
6. Clays
Pemakaian: 2-10%, sifat hilang jika digranulasi.
Bukan merupakan disintegran yang baik,

karena

dapat

menyebabkan perubahan warna secara keseluruhan.


7. Alginat (asam alginat dan Na-alginat)
Pemakaian: 1-5% (asam alginat) atau 2,5-10% (Na-alginat).
Memiliki afinitas yang besar terhadap air.
E. Lubrikan
Konsentrasi optimum : 1%
Fungsi : sebagai eksipien untuk menghilangkan gesekan/friksi saat

pengempaan dan penarikan tablet ke luar cetakan.


Jenis:
Water soluble: banyak digunakan untuk tablet larut air seperti

tablet/serbukeffervescent.
Water insoluble: paling banyak dan digunakan konsentrasi rendah.
Mekanisme:
Fluid type lubricant
Membentuk lapisan cair antara massa cetak dengan logam cetakan.
Dapat meninggalkan noda pada tablet.

17

Dengan berinteraksi antara gugus polar lubrikan dengan molekul


pada permukaan logam. Tipe ini memiliki adheren terhadap

cetakan lebih baik.


Lubrikan dapat menyebarkan tekanan saat pengempaan dan

meningkatkan bobot jenis partikel secara keseluruhan.


Semakin kecil ukuran granul, dibutuhkan lubrikan yang semakin

banyak.
Secara umum lubrikan dapat memperlama waktu hancur tablet dan

menurunkan kecepatan disolusi karena sifatnya yang hidrofob.


Perhatian: aspirin tidak stabil dengan adanya senyawa alkaline,
misalnya lubrikan alkalin stearat. Penggantinya dapat digunakan

talk..
Lubrikan carbowax seringkali diberikan dalam bentuk larutan

alkohol.
Ketika lubrikan ditambahkan saat granulasi, mereka akan
membentuk lapisan di sekitar granul sehingga dapat mengurangi
kerusakan tablet setelah dikempa. Pembentukan lapisan ini juga
akan menyebabkan tablet menjadi labih berpori, elastik, mudah
melar, dan memberikan hasil tablet yang lebih besar sehingga

tablet mudah pecah.


Lubrikan seringkali ditambahkan secara kering ketika semuanya
telah homogen, dan dicampur pada 2-5 menit akhir dari total

waktu pencampuran 10-30 menit.


Metode penambahan lubrikan di akhir (sebagai fasa luar-setelah
granul dibentuk) memberikan hasil yang lebih baik terhadap
kekerasan

tablet

dan

kemudahannya

untuk

dikeluarkan

dibandingkan dengan metode penambahan lubrikan saat dilakukan

granulasi.
Sebagai lubrikan tunggal, Mg-lauril sulfiat pada konsentrasi yang
lebih rendah dapat dikombinasi dengan Mg-stearat.
Water soluble lubricant Water insoluble lubricant
Asam borat
: 1%
Logam (Mg, Ca, Na) stearat
: -2%
18

Sodium chlorid
DL-Leusine
Carbowax 4000/6000
Sodium oleat
Sodium benzoat
Stearowet

: 5% Asam stearat : -2%


:1-5% Sterofex : -2%
: 1-5% Talk : 1-5%
: 5% Waxes: 1-5%
: 5%
:1-5%

Sodium asetat
: 5%
Sodium lauril sulfat
: 1-5% dapat pula sebagai pengikat,
Mg-lauril sulfat
: 1-2% dikombinasi dengan Mg-stearat
Sodium benzoat + sodium asetat: 1-5%
F. Glidan
Secara umum, fine silica > Mg stearat > talk murni.
Talk mengandung sejumlah kecil Al silikat dan Fe. Harus hati-hati
untuk zat aktif yang penguraiannya dikatalisis oleh Fe.
1. Cab-O-Sil
: 5-10%
2. Corn starch
: 5-10%
3. Aerosil
: 1-3%
4. Talk
: 1-5%
5. Syloid
: 0,1-0,5%
G. Anti Adheren
Yang paling baik adalah yang larut air, dan yang paling efisien

adalah DL-Leusine.
Biasa digunakan pada produk yang mengandung vitamin E dosis

tinggi karena cenderung terjadi picking.


1. Talk
: 1-5%
2. Logam stearat : <1%
3. Cab-O-Sil
: 0,1-0,5%
4. Syloid : 0,1-0,5%
5. Corn starch : 3-10%
6. DL-Leusine : 3-10%
7. Na-lauril sulfat: <1%
8. Kontrol Kualitas
a. Pemeriksaan Sebelum tabletting
Merupakan pemeriksaan pada masa granul basah dan kering.
b. Pemeriksaan Selama dan setelah Tabletting
1. Penampilan Umum (organoleptis)
2. Keseragaman kadar zat aktif
3. Keragaman Bobot
4. Kekerasan tablet (Hardness)
19

5. Kerapuhan Tablet (friability)


6. Waktu Hancur (disintegration time)
7. Kecepatan Kelarutan (dissolution)

PREFORMULASI
ACIDUM ASCORBICUM
Asam askorbat adalah salah satu senyawa kimia yang disebut vitamin C,
selain asam dehidroaskorbat. Ia berbentuk bubuk kristal kuning keputihan yang larut
dalam air dan memiliki sifat-sifat antioksidan. Nama askorbat berasal dari akar kata
a- (tanpa) dan scorbutus (skurvi), penyakit yang disebabkan oleh defisiensi vitamin
C. Pada tahun 1937, hadiah Nobel dalam bidang kimia diberikan kepada Walter
Haworth atas hasil kerjanya dalam menentukan struktur kimia asam askorbat. Pada
saat penemuannya pada tahun 1920-an, ia disebut sebagai asam heksuronat oleh
beberapa peneliti.
Rumus Molekul Asam Askorbat

Asam askorbat merupakan antioksidan menakjubkan yang melindungi sel dari


stres ekstraselular, dengan peningkatan proliferasi sel endotelial, stimulasi sintesis
kolagen tipe IV, degradasi oksidasi LDL, menghambat aterosklerosis dan stres
intraselular dengan memelihara kadar -tocopherol pada eritrosit dan neuron dan
melindungi hepatosit dari stress oksidatif akibat paparan alkohol alil. Sifat
20

antioksidan tersebut berasal dari gugus hidroksil dari nomor C 2 dan 3 yang
mendonorkan ion H+ bersama-sama dengan elektronnya menuju ke berbagai
senyawa oksidan seperti radikal bebas dengan gugus oksigen atau nitrogen, peroksida
dan superoksida. Meskipun demikian, di dalam sitoplasma dengan konsentrasi
senyawa Fe yang tinggi, asam askorbat dapat bersifat pro-oksidan oleh karena reaksi
redoks Fe3+ menjadi Fe2+ yang mencetuskan senyawa superoksida dan pada
akhirnya menjadi radikal bebas dengan gugus hidroksil yang sangat reaktif.
Vasodilasi/penyempitan pembuluh darah yang umumnya disebabkan oleh turunnya
sekresi NO oleh sel endotelial juga dapat diredam asam askorbat dengan
meningkatkan sekresi NO oleh sel endotelial melalui lintasan NO sintase atau siklase
guanilat, mengreduksi nitrita menjadi NO, dan menghambat oksidasi LDL.
Asam askorbat juga memainkan peran yang sangat penting sebagai koenzim
dan pendonor elektron di dalam reaksi organik enzimatik dioksigenase seperti
hidroksilasi pada karnitina, EGF; atau mono- dan di-oksigenasi pada berbagai
neurotransmiter dan sintesis hormon peptida, noradrenalin, kolesterol dan asam
amino;[5] demetilasi histon dan asam nukleat; dealkilasi oksidatif DNA;
meningkatkan kualitas asam suksinat, asam malat dan gliserol 3-fosfat di dalam
mitokondria; homeostasis gaya gerak proton; deglikanasi senyawa proteoglikan;
menangkap ROS berlebih hingga menurunkan stres oksidatif.[7] Salah satu fungsi
kofaktor yang sangat dikenal adalah dengan hidroksilase prolil dan lisil yang
mengkopling hidroksilasi pada hypoxia-inducible factor-1 dan prokolagen.
Oleh karena kapasitasnya sebagai antioksidan yang meredam spesi oksigen
reaktif yang dapat menyebabkan hipertensi, asam askorbat sering dianggap dapat
menurunkan tekanan darah tinggi. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa asam
askorbat dapat menurunkan rasio plasma C-reactive protein, 8-isoprostane, dan
malondialdehyde-modified LDL, meskipun tidak selalu diiringi oleh penurunan
tekanan darah.[8]

21

Asam askorbat juga digunakan sebagai terapi anti kanker pada jenis-jenis tertentu
oleh karena sifatnya yang menekan sitokina IL-18 dan enzim hialuronidase pada
degradasi asam hialuronat[9] guna mencegah metastasis,[10] stimulasi kolagen untuk
mengisolasi sel tumor in vivo, mencegah efek onkogenik virus dan karsinogen. Asam
askorbat diketahui bersifat toksik terhadap beberapa jenis sel kanker, namun tidak
bersifat demikian terhadap sel normal tubuh. Studi klinis menunjukkan bahwa
pemberian vitamin C dosis tinggi, baik melalui injeksi maupun asupan, dapat
meredakan simtoma patogen dan memperpanjang harapan hidup penderita kanker
stadium lanjut, seperti RCC, tumor kandung kemih, limfoma sel B.
FARMAKOKINETIK
1.
Absorpsi
Asam askorbat diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian per oral.
Dengan asupan Vitamin C yang normal (30-180 mg perhari), 70-90%
vitamin diabsorpsi. Pada dosis > 1g perhari, absorbsi menurun menjadi
50% atau kurang.
2. Distribusi
Asam askorbat terdistribusi luas dalam jaringan tubuh. Sejumlah besar
vitamin ditemukan dalam hepar, leukosit. Platelet, jaringan glandular dan
lensamata. 25% terikat dengan protein.
3. Metabolisme
Di hepar melalui oksidasi dan sulfation
4. Eliminasi
Melalui urin
FARMAKODINAMIK
Vitamin C diperlukan untuk metabolism karbohidrat dan protein dan sintesis
lemak. Sintesis kolagen juga membutuhkan vitamin C untuk endotel kapiler, jaringan
iket, dan perbaikan jaringan, serta jaringan osteid dari tulang. Vitamin C dalam dosis
besar dapat menurunkan efek antikoagulan oral. Kontrasepsi oral dapat menurunkan
konsentrasi vitamin C dalam tubuh. Merokok menurunkan kadar vitamin C serum.
Pemakaian terapi megavitamin, yaitu vitamin dalam dosis yang sangat besar, masih
dipertanyakan. Vitamin megadosis dapat menimbulkan toksisitas dan mungkin
22

menimbulkan efek yang diinginkan yang minimal. Kebanyakan pihak percaya bahwa
vitamin C tidak menyembuhkan atau mencegah flu biasa, tetapi mereka percaya
bahwa vitamin C mempunyai efek placebo.

INDIKASI dan KONTRA INDIKASI


Vitamin C di indikasikan untuk pencegahan dan pengobatan scurvy. Vitamin C

digunakan untuk berbagai penyakit yang tidak ada hubungannya dengan defisiensi
vitamin C. Karena

sifat reduktornya vit.C digunakan untuk mengatasi

methemoglobinemia idiopatik, meskipun kurang efektif dibandingkan biru metilen.


Dosis yang dianjurkan minimal 150 mg.
vitamin C megadosis yang dipakai bersama-sama aspirin atau sulfonamide dapat
mengakibatkan pembentukan kristal dalam urin (kristaluria). Vitamin C dalam dosis
berlebihan dapat menimbulkan hasil yang negatif palsu dari pemeriksaan occult blood
dalam feses dan positif palsu dari pemeriksaan gula dalam urin jika memakai metode
Clinitest. Jika dosis besar dari megativamin dihentikan, penurunan dosis yang
bertahap perlu dilakukan untuk mencegah defisiensi vitamin.

EFEK SAMPING
Vitamin C dengan dosis lebih dari 1g/hari dapat menyebabkan diare,

meningkatkan bahaya terbantuknya batu ginjal. Penggunaan kronik dosis besar


menyebabkan ketergantungan, dimana penurunan mendadak kadar vitamin C dapat
menimbulkan rebound scurvy. Vitamin C mega dosis parenteral dapat menyebabkan
oksalosis yang meluas, aritmia jantung dan kerusakan ginjal berat

DOSIS
Untuk pencegahan terhadap kekurangan Vitamin C : 1 kali sehaari = 1 Tablet
Untuk pengobatan terhadap kekurangan Vitami C : 1 Kali sehari = 2 Tablet
(Sumber : ISO Volume 49 dengan nama dagang Vitamin C IPI yang
mengandung Vitamin C 50 mg Halaman 529)

23

MONOGRAFI BAHAN
A. Zat Aktif
1.Vitamin C / Acidum Ascorbicum (Handbook of pharmaceutical excipients 6th
edition hal 43-45)

Struktur Kimia

Rumus Molekul

C6H8O6

Berat Molekul

176.13

Pemerian

Asam Askorbat berwarna putih sampai kuning


cahaya, tidak higroskopik, tidak berwarna,
serbuk hablur atau hablur tidak berwarna, rasa
asam. Lama-kelamaan berwarna gelap bila
terkena paparan sinar matahari,

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam kloroform, larut dalam


50 bagian Etanol, larut dalam 25 bagian Etanol
(95%), praktis tidak larut dalam Eter, praktis
tidak larut dalam minyak, larut dalam 1000
bagian Gliserin, larut dalam 20 bagian Propilen
glikol, larut dalam 3,5 bagian air.

Suhu lebur

1900C

Berat Jenis

1.0-1.2g/cm3 (bentuk hablur)

24

0.9-1.1g/cm3 (bentuk serbuk).


OTT

OTT dengan basa, ion logam berat, terutama


dengan tembaga dan besi, bahan mengoksidasi,
metenamin, fenilefrine HCl, pyrilamin maleat,
salisilamid, natrium nitrit, natrium salisilat,
theobromin salisilat, dan pikotamid.

Stabilitas dan Kondisi

Pada bentuk serbuk, asam askorbat relatif stabil

Penyimpanan

dalam udara. Ini juga stabil dalam panas dalam


ketiadaan oksigen dan oksidasi lain. Asam
askorbat tidak stabil dalam larutan, khususnya
larutan basa. Larutan asam askorbat stabil pada
pH 5,4. Larutan bisa disterilisasi dengan filtrasi.
Bahan terbesar harus disimpan dalam wadah
tertutup baik nonlogam, terlindung dari cahay,
tempat sejuk dan kering.

Kegunaan

Zat aktif

Zat Tambahan
1. Avicel (Handbook of pharmaceutical excipients 6th edition hal 129-131)
Sinonim

Mikrokristalin sellulosa

Struktur Kimia

25

Rumus Molekul

C 6H10O5

Pemerian

Berupa

serbuk

kristal

poros,

putih,

tidak

berbau,tidak
Kelarutan

berasa dan memiliki aliran yang baik.


Praktis tidak larut dalam air, cairan asam dan
kebanyakan pelarut organik, sedikit larut dalam

pH

larutan NaOH 5% b/v.


pH = 5,0-7,5

OTT

Tidak tercampurkan dengan bahan pengoksidasi

Kegunaan

kuat.
Adsorbent 2090%, Antiadherent 520%, Capsule
binder/diluent 2090%, Tablet disintegrant 515%,
Tablet binder/diluent 2090

2. PVP (Handbook of pharmaceutical excipients 6th edition hal 196-198)

Sinonim

Povidon

Pemerian

Putih sampai krem; Pahit; tidak berbau; Higroskopi


26

(serbuk).
Kelarutan

Praktis larut dalam asam, kloroform, etanol, metanol,


keton, dan air. Praktis tidak larut dalam eter
hidrokarbon dan minyak mineral.

Stabilitas

Stabil pada suhu 110 130 0C ; Mudah terurai


dengan adanya udara dari luar ; Dapat bercampur
dengan air ; Stabil bila disimpan ditempat kering.

Konsentrasi

0,5 5%

OTT

Jika ditambahkan thimerosol akan membentuk


senyawa kompleks. Kompatibel terhadap gerak
organik alami, resin sintetik dan senyawa lainnya.
Akan terbentuk senyawa sulfathiazole, sodium
salisilat, asam salisilat, fenol barbital dan komponen
lainnya.

Kegunaan

Pengikat

3. Magnesium Stearat (Handbook of pharmaceutical excipients 6th edition hal


404-407)
Struktur Kimia
Rumus Molekul

C36H70MgO4

Berat Molekul

591.24

Pemerian

Magnesium stearate sangat baik, putih bercahaya,


endapan atau gilingan, serbuk ringan dari bobot
jenis besar yang rendah, dan rasa yang ciri khas.

27

Serbuk berminyak untuk disentuh dan mudah


menempel pada kulit.
Kelarutan

Praktis tidak larut dalam etanol, etanol (95%), eter


dan air; sedikit larut dalam benzene panas dan
etanol panas (95%).

Suhu lebur

1171500C

Berat Jenis

0.159g/cm3

OTT

OTT dengan asam kuat, basa, dan garam iron.


Hindari campuran dengan bahan oksidator kuat.
Magnesium stearate tidak bisa digunkan pada
produk

yang

mengandung

aspirin,

beberapa

vitamin, dan kebanyakan garam alkaloidal


Stabilitas dan Kondisi

Magnesium stearate stabil dan harus disimpan

Penyimpanan

dalam wadah tertutup baik pada tempat yang sejuk,


tempat kering.

Kegunaan

Lubrikan -2%

FORMULASI
A. Formulasi Acuan

28

Sumber : Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulations Compressed


Solid Products Halaman 546.
B. Usulan Formula

No

Nama Bahan

Jumlah/ tablet

Fungsi

Acidum Ascorbicum

50 mg

Zat aktif

Avicel PH 101

69,9%

Pengisi dan Penghancur

PVP

5%

Pengikat

Mg Stearat

0,1%

Lubrikan

Alasan pemilihan zat tambahan :


1. Avicel PH 101
Pada sediaan ini Avicel PH 101 berfungsi sebagai pengisi dan penghancur,
Sebagai pengisi, digunakan Avicel PH 101 karena Avicel PH 101 menghasilkan
tablet yang keras dengan tekanan kecil (kompresibiitas baik) dan friabilitas
tablet rendah, serta waktu stabilitas tabletnya panjang.
Sebagai penghancur Avicel PH 101 dipilih karena merupakan penghancur
yang sangat baik terutama pada konsentrasi 10% atau lebih tinggi dan pada
formulasi ini digunakan Avicel PH 101 dengan kadar 15% diharapkan
pemilihan kadar yang lebih dari 10% ini menghasilkan tablet yang baik.
2. PVP
Pada sediaan ini PVP berfungsi sebagai pengikat, PVP dipilih dalam formulasi
ini dikarenkan PVP sedikit higroskopis dan tidak mengeras selama
penyimpanan. Range kadar PVP sebagai pengikat 0,5-5%. Kadar PVP yang

29

dipilih sebesar 5% diharapkan pemilihan kadar maksimal dari range ini


menghasilkan tablet yang baik .
3. Mg stearate
Pada formula ini digunakan sebagai lubrikan . Mg stearate dipilih karena
merupakan lubrikan yang paling efektif dan digunakan secara luas dan
memiliki daya lubrikan yang baik, telebih jika dikombinasikan dengan talk
(Agoes, 2008).
a. Perhitungan Bahan
Direncanakan Bobot 1 tablet = 200 mg
Dibuat sebanyak

= 100 tablet + 20 tab


= 120 tablet

1. Acidum Ascorbicum = 50 mg x 120 = 6000 mg


2. Avicel PH 101

= 69,9/100 x 200 x 120 = 16776 mg

3. PVP

= 5/100 x 200 x 120 = 1200 mg

4. Magnesium Stearat

= 0,1/100 x 200 x 120 = 24 mg

4. Penimbangan Bahan
Acidum Ascorbicum
Avicel PH 101
PVP
Magnesium Stearat
5. Alat dan Bahan
A. Alat
Stamper
Mortir
Beker glass
Batang Sudip
Gelas ukur
Erlenmeyer

= 6000 mg
= 16776 mg -> 16800 mg
= 1200 mg
= 24 mg

botol tablet
Anak timbangan
Sendok plastik
Kertas Perkamen
Penutup botol
Kotak Kemasan

6. Pembuatan

30

B.

Bahan
Acidum Askorbikum
Avicel PH 101
PVP
Mg. Stearat

a. Timbang semua bahan yang diperlukan


b. Acidum Ascorbicum dan Avicel PH 101 masukan ke dalam mortir gerus
c.
d.
e.
f.
g.

homogeny
Tambahkan PVP gerus homogen
Tambahkan mg stearate gerus homogen
Lakukan evaluasi campuran serbuk yang dihasilkan
Cetak tablet dengan masa 200 mg
Lakukan evaluasi tablet yang dihasilkan

H. Evaluasi
I. Evaluasi Serbuk
a. Kecepatan Alir
Waktu alir adalah waktu yang diperlukan untuk mengalirkan sejumlah
serbuk melalui lubang corong yang diukur dalam sejumlah zat yang
mengalir dalam sewaktu-waktu tertentu. Untuk 10 gram serbuk waktu
alirnya tidak boleh lebih dari 1 detik.
Waktu alir berpengaruh terhadap keseragaman bobot tablet. Parameter
yang digunakan untuk mengevaluasi massa tablet adalah pemeriksaan
laju alirnya.
Rumus
Kecepatan alir = w/t
Dimana w
t

= massa serbuk (g)


= waktu (detik)

untuk mengukur laju alir adalah dengan menghitung waktu yang


dibutuhkan sejumlah serbuk untuk dapat bebas melewati corong
(Voight, 1994)
Table . Laju Alir Terhadap Sifat Alir
Laju Alir (gr/detik)
Sifat Aliran
>10
4-10
1,6-4

Bebas mengalir
Mudah mengalir
Kohesif
31

<1,6

Sangat kohesif
(Aulton, 2001)

Cara pengukuran
Alat yang digunakan : Stopwatch,corong
Syarat

: tidak boleh >10 detik untuk serbulk sejumlah 10


gram

Prosedur :
1. Serbuk ditimbang 10 gram
2. Serbuk dimasukkan kedalam corong yang bagian bawahnya ditutup lebih
dahulu
3. Setelah seluruh serbuk masuk,siapkan stopwatch lalu buka tutup bagian
bawah corong lalu biarkan serbuk mengalir. Hitung kecepatan alir
menggunkan stopwatch . Waktu alir tidak boleh lebih dari 1 detik.
b.

Sudut Diam
Sudut diam adalah sudut tepat yang terjadi antara timbunan partikel
berbentuk kerucut dengan bidang horizontal. Jika sejumlah serbuk
dituang kedalam alat pengukur, besar kecilnya sudut diam dipengaruhi
oleh bentuk ukuran dan kelembaban serbuk. Bila sudut diam lebih kecil
atau sama dengan 300 menunjukkan bahwa serbuk dapat mengalir
dengan bebas, bila sudut lebih besar dari 400 biasanya daya mengalirnya
kurang baik.
Tabel . Hubungan antara Nilai Sudut Henti Terhadap Sifat Alir
Sudut Henti

Sifat Aliran

<25
25-30
30-40
>40

Sangat baik
Baik
Cukup
Buruk

32

Sumber : United State Pharmacopoeial 32th,2009


Rumus
Tan = h/r
Dimana h : tinggi kerucut
r : jari-jari bidang dasar kerucut
Cara pengukuran
Alat
: Kertas millimeter,penggaris
Syarat
: sesuai dengan table
Prosedur :
1. Sesaat setelah serbuk di alirkan dari corong, serbuk akan membentuk
gundukan berbentuk kerucut pada kertas milimeter
2. Ukur diameter dan tinggi kerucut tersebut dan masukkan kedalam
rumus
c.

Kompresibilitas (Voight 1994)


Kompresibilitas adalah kemampuan serbuk untuk tetap kompak dengan
adanya tekanan. Uji kompresibility dilakukan dengan alat yang disebut
bulk density
Rumus :
Persen kompresibility dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
%kompresibilitas = (BJ Mampat BJ Bulk) x 100 %
BJ Mampat
Syarat % kompresibilitas yang baik adalah 5-15% menurut table berikut :
Tabel . Presentase Komprebilitas Terhadap Sifat Alir Serbuk
% kompresibilitas

Sifat Alir

5-15
12-16
18-21
23-35
35-38
>40

Sangat baik
Baik
Cukup baik
Buuruk
Sangat buruk
Sangat buruk sekali

II. Evaluasi tablet


a. Pemeriksaan Organoleptik (Ansel, 1989)
Pemeriksaan organeleptik meliputi warna, rasa, bau, penampilan
(mengkilap atau kusam), tekstur permukaan (halus atau kasar), derajat
kecacatan seperti serpihan, dan kontaminasi benda asing (rambut, tetesan
33

minyak, kotoran). Warna yang tidak seragam dan adanya kecacatan pada
tablet selain dapat menurunkan nilai estetikanya juga dapat menimbulkan
persepsi adanya ketidak seragaman kandungan dan kualitas produk yang
buruk.
b. Keseragaman ukuran (Ansel, 1989)

Ukuran tablet meliputi diameter dan ketebalan. Ketebalan inilah yang


berhubungan dengan proses pembuatan tablet, karena harus terkontrol sampai
perbedaan 5 % dari nilai rata-rata. Pengontrolan ketebalan tablet diperlukan
agar dapat diterima oleh konsumen dan dapat mempermudah pengemasan.
c. Keseragaman kesediaan
1. Keseragaman bobot (Depkes RI, 1979)
Bobot tablet yang dibuat harus diperiksa secara acak untuk memastikan
bahwa setiap tablet mengandung obat dengan jumlah yang tepat. Syarat
keseragam bobot menurut Farmakope Indonesia Edisi III adalah bila
bobot rata-rata lebih kurang 300 mg, jika ditimbang satu persatu tidak
lebih dari 2 buah tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang 5%
dari bobot rata-ratanya, dan tidak ada satupun tablet yang bobotnya
menyimpang lebih dari 10% dari bobot rata-ratanya.
Alat yang digunakan : Timbangan

Cara pengukuran : Timbang 20 tablet, hitung bobot rata-rata tiap tablet .


Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing34

masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari


harga yang ditetapkan kolom A, dan

tidak satupun yang bobotnya

menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari yang ditetapkan kolom B.


BOBOT RATA-

PENYIMPANGAN BOBOT RATA-RATA

RATA

DALAM %
A

15 %

30 %

26 mg - 150 mg

10 %

20 %

151 mg - 300 mg

7,5 %

15 %

Lebih dari 300 mg

5%

10%

25 mg atau
kurang

Rumus :
Bobot rata-rata =

bobot
Jumlah tablet
Penyimpangan = bobot rata-rata-bobot satu tablet
Bobot rata-rata

X 100%

d. Kekerasan
Tablet harus mempunyai kekuatan dan kekerasan tertentu serta dapat
bertahan dari berbagai goncangan mekanik pada saat pembuatan,
pengepakan dan transportasi. Alat yang biasa digunakan adalah hardness
tester (Banker and Anderson, 1984).

35

Kekerasan adalah parameter yang menggambarkan ketahanan tablet dalam


melawan tekanan mekanik seperti goncangan, kikisan dan terjadi
keretakan talet selama pembungkusan, pengangkutan dan pemakaian.
Kekerasan ini dipakai sebagai ukuran dari tekanan pengempaan (Parrott,
1971).Keseragaman minimum 4 kg diukur dengan alat Hardness tester.

Caranya :
Ambil masing-masing 6 tablet dari tiap batch , yang kemudian diukur
kekerasanya dengan alat pengukur kekerasan tablet. Letakkan sebuah
tablet dengan posisi tegak diantara anvit dan punch, lalu tablet dijepit
dengan cara memutar sampai tablet pecah dan retak. Pada saat tersebut
angka yang ditunjukkan oleh jarum adalah kekerasan tablet tersebut.
e. Friabilitas atau kerapuhan tablet (Lachman,1994)

Friabilitas dinyatakan dengan presentase selisih bobot sebelum dan sesudah


pengujian dibagi dengan bobot mula-mula .
Alat yang digunakan : Friabilator

Cara pengukuran :
Tablet yang akan diuji sebanyak 20 tablet, terlebih dahulu dibersihkan dari
sebunya dan ditimbang dengan seksama. Tablet tersebut selanjutnya
36

dimasukkan ke dalam friabilator

dan diputar sebnayak 100 kali putaran

selama 4 menit , jadi kecepatan putaranya 25 putaran per menit. Setelah


selesai, keluarkan tablet dari alat, bersihkan dari debu dan timbang kembali
seluruh tablet dengan seksama. Kemudian hitung persentase kehilangan bobot
sebelum dan sesudah perlakuan.
Tablet yang baik memiliki keregasan kurang dari 1 %
f. Waktu Hancur
Tidak lebih dari 15 menit untuk tablet biasa dan 60 menit untuk

tablet

bersalut gula dan selaput.

Nama alat Disintegration Tester tipe ZT 2-Erweka


1.
2.
3.
4.

Cara kerja :
Pengujian waktu menggunakan 6 buah tablet
Masukkan tablet pada masing-masing tabung kecil dari keranjang.
Masukkan 1 cakram pada tiap-tiap tabung.
Gunakan air bersuhu 37 +/_ 2 c sebagai media yang ada di penangas air yang

ditermostatisasi.
5. Setelah alat dioperasikan ,keranjang akan bergerak keatas dan kebawah
sebanyak 30 kali dalam semenit.
6. Tablet hancur sempurna bila sisa sediaan yang tertinggal pada kasa alat uji
merupakan masa lunak yang tidak mempunyai inti yang jelas. Bila 1 tablet
atau 2 tablet tidak hancur sempurna, ulangi pengujian dengan waktu yang
ditambah sebanyak 15 menit. Semua tablet harus hancur tidak lebih dari 15
menit untuk tablet tidak bersalut dan untuk tablet bersalut waktunya 60 menit.

37

Lampiran

Design Kotak

38

Etiket

39

Brosur

DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Goeswin. 2008. Pengembangan Sediaan Farmasi; Edisi Revisi dan
Perluasan.Bandung: Penerbit Institut Teknologi Bandung.

40

Andayana, N. 2009. Pembuatan Tablet. http://andayana.wordpress.com/bisnis/


Pembuatan-tablet/. [Diakses tanggal 16 April 2014]
Anief, M. 1987. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi IV. Farida Ibrahim,
penerjemah. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Terjemahan dari Introduction
to Pharmaceutical Dosage Forms.
Banne, Yos., Selfie, P.J.U., Lombeng, F. Uji Kekerasan, Keregasan, dan Waktu
Hancur Beberapa Tablet Ranitidin. Jurnal. Manado: Jurusan Farmasi Politeknik
Kesehatan Kemenkes Manado.
Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Gunawan, S.G. 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Departemen
Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
K Niazi, Safaraz. 2009. Handbook of Pharamceutical Manufacturing, Sixth Edition.
London: Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association.
Lachman, L,. Liberman, H.A., Kanig, J.L. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri.
Siti Suyatmi, penerjemah. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Terjemahan
dari: The Teoru and Practise of Industrial Pharmacy.
Rowe, R.C., Sheckey, P.J., and Quinn, M.E. 2009. Handbook of Pharmaceutical
Excipients, Sixth Edition. London: Pharmaceutical Press and American
Pharmacists Association.

41

Siregar, Charles J.P. 2010. Teknologi Farmasi Sediaan Tablet: Dasar-Dasar Praktis.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Swabrick,

J.

2007.

Encyclopedia

of

Pharmaceutical

Technology,

third

edition,Informa Healthcare. USA, Inc..


Tan, H.T. dan Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum.
Voight, Rudolf. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Edisi V. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.

42

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, Tablet Acidum Ascorbicum
(Vitamin C) dengan menggunakan metode kempa langsung telah dicetak sebanyak
120 Tablet, yang sebelumnya telah dilakukan evaluasi terhadap serbuk dari tablet
acidum ascorbicum tersebut meliputi kecepatan alir dengan menggunakan metode
corong dan sudut istirahat atau sudut diam, dan kompresibilitas. Setelah itu
dilanjutkan dengan evaluasi tablet acidum ascorbicum meliputi pemeriksaan
organoleptik, keseragaman ukuran, keseragaman bobot, kekerasan, friabilitas atau
kerenyahan serta waktu hancur tablet. Adapun hasil pengamatan dapat dilihat di
bawah ini :

UJI FISIK TABLET ACIDUM ASCORBICUM (VITAMIN C) DENGAN


MENGGUNAKAN METODE KEMPA LANGSUNG

Praktikum

: Senin, 2 Mei 2016

Evaluasi Serbuk & Pencetakan Tablet

: Senin, 2 Mei 2016

Evaluasi Tablet

: Kamis, 5 Mei 2016

Dibawah ini adalah laporan evaluasi pembuatan Tablet Acidum Ascorbicum


(Vitamin C) dengan menggunakan metode kempa langsung dan beberapa hasil
gambar yang telah didokumentasikan oleh kelompok kami pada saat praktikum
dan evaluasi Teknologi Sediaan Solid Pembuatan Tablet Acidum Ascorbicum
(Vitamin C) dengan menggunakan metode kempa langsung.

43

UJI FISIK TABLET ACIDUM ASCORBICUM (VITAMIN C) DENGAN


MENGGUNAKAN METODE KEMPA LANGSUNG

Praktikum

: Senin, 2 Mei 2016

Evaluasi Serbuk & Pencetakan Tablet

: Senin, 2 Mei 2016

Evaluasi Tablet

: Kamis, 5 Mei 2016

Dibawah ini adalah laporan evaluasi pembuatan Tablet Acidum Ascorbicum


(Vitamin C) dengan menggunakan metode kempa langsung dan beberapa hasil
gambar yang telah didokumentasikan oleh kelompok kami pada saat praktikum
dan evaluasi Teknologi Sediaan Solid Pembuatan Tablet Acidum Ascorbicum
(Vitamin C) dengan menggunakan metode kempa langsung.
A. Evaluasi Sediaan Tablet Acidum Ascorbicum (Vitamin C)
1. Hasil Jumlah Tablet
a.

Berat Tablet Total Teoritis

= 24024 mg

b.

Berat Tablet Total Praktis

= 23040 mg

c.

Jumlah Tablet Teoritis

d.

Jumlah Tablet Praktis

= 120 Tablet

e.

Berat Tablet Teoritis

= 200 mg

f.

Berat Tablet Praktis

= 192 mg

= 120 Tablet

44

2. Evaluasi Serbuk
Adapun evaluasi serbuk yang telah dilakukan adalah :
a.

Kecepatan Alir
1.

Metode corong
Maukkan 10 gram serbukkedalam corong kaca. Setelah dihitung waktu
alirnya adalah 4,73 sehingga dapat disimpulkan bahwa serbuk tersebut
mudah mengalir.

Table . Laju Alir Terhadap Sifat Alir


Laju Alir (gr/detik)
Sifat Aliran
>10
4-10
1,6-4
<1,6

Bebas mengalir
Mudah mengalir
Kohesif
Sangat kohesif

(Aulton, 2001)
Alat yang digunakan : Stopwatch,corong
Syarat

: tidak boleh >10 detik untuk serbulk sejumlah


10 gram

Adapun cara penghitungannya yaitu :


Kecepatan alir = w/t
Dimana w
t

= massa serbuk (g)


= waktu (detik)

45

2.

Metode sudut istirahat atau sudut diam


Masukkan 10 gram serbuk kedalam corong kaca, kemudian alirkan
serbuk diatas kertas grafik. Setelah dihitung tinggi serbuk adalah 1,6
cm dan jari-jari serbuk adalah 3,7 cm.
Adapun cara menghitung kecepatan alir dengan metode sudut diam
yaitu :
Tan = h/r
Dimana

h : tinggi kerucut
r : jari-jari bidang dasar kerucut

Tabel . Hubungan antara Nilai Sudut Henti Terhadap Sifat Alir


Sudut Henti

Sifat Aliran

<25
25-30
30-40
>40

Sangat baik
Baik
Cukup
Buruk

Sumber : United State Pharmacopoeial 32th,2009


Alat
: Kertas millimeter,penggaris
Syarat
: sesuai dengan table
Dari angka tersebut dapat dilihat pada table bahwa kecepatan alir dari
serbuk ini sangat baik.
Selain itu juga dapat dihitung kecepan alir serbuk, yaitu :

b.

Maka didapatkan kecepatan alir granul yaitu 4,73 gr / det.


Kompresibilitas dan Kadar Pemampatan
a.
Kompresibilitas
Persen kompresibility dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
%kompresibilitas = (BJ Mampat BJ Bulk) x 100 %
46

BJ Mampat
Syarat % kompresibilitas yang baik adalah 5-15% menurut table berikut :
Tabel . Presentase Komprebilitas Terhadap Sifat Alir Serbuk
% kompresibilitas

Sifat Alir

5-15
12-16
18-21
23-35
35-38
>40

Sangat baik
Baik
Cukup baik
Buruk
Sangat buruk
Sangat buruk sekali

- Berat Jenis Nyata Sebelum Pemampatan :

- Berat Jenis Nyata Setelah Pemampatan :

Maka, dengan data tersebut % kompresibilitas dapat dihitung dengan cara :

47

Berdasarkan table diatas dapat disimpulkan bahwa serbuk tersebut memiliki


kompresibilitas yang cukup baik.
b.

Kadar Pemampatan

Adapun cara menghitung % kadar pemampatan yaitu dengan cara :

3.
a.

Evaluasi Tablet Jadi


Pemeriksaan Organoleptik
No

Pemeriksaan Organoleptik
48

Hasil

Warna

Putih Bersih

Rasa

Sedikit asam

Bau

Sedikit berbau asam

Penampilan

Mengkilap

Tekstur Permukaan

Halus

Derajat Kecacatan

Tidak Ada

Kontaminasi Benda Asing

Tidak Ada

Dari hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa tablet yang dihasilkan
sudah baik karena sudah memnuhi kriteria atau standar pemeriksaan
organoleptik tablet yang sesungguhnya.
b.

Keseragaman Ukuran

Dari evaluasi tablet yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut :
Tablet Ke-

Diameter

Ketebalan

0,77 cm

0,67 cm

0,76 cm

0,54 cm

0,77 cm

0,67 cm

0,76 cm

0,63 cm

0,77 cm

0,52 cm

0,77 cm

0,54 cm

0,77 cm

0,58 cm

0,77 cm

0,66 cm

0,76 cm

0,53 cm

10

0,77 cm

0,51 cm

11

0,76 cm

0,51 cm

12

0,77 cm

0,66 cm
49

13

0,76 cm

0,66 cm

14

0,77 cm

0,53 cm

15

0,76 cm

0,53 cm

16

0,77 cm

0,51 cm

17

0,76 cm

0,65 cm

18

0,76 cm

0,51 cm

19

0,77 cm

0,52 cm

20

0,77 cm

0,52 cm

Jumlah ( )

15,32

11,45

Rata-rata (

0,7660

0,5725

0,05

0,06

)
Standar
Deviasi
(SD)
Alat yang digunakan

: Jangka Sorong

Keseragaman ukuran kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari tiga
kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tebal tablet (Depkes, RI 1979).
Tebal tablet (h)

= 0,5725

Diameter yang disyaratkan

= ( 1 1/3 3 ) x h
= ( 1 1/3 sampai 3 ) x h
= 4/3 x h sampai 3 x h
= 4/3 x 0,5725 sampai 3 x 0,5725
= 0,7633 sampai 1,7175

Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan tablet tersebut telah memiliki diameter
yang sesuai standar yaitu berada diantara 0,7633 cm sampai 1,7175 cm dan dapat
50

disimpulkan bahwa diameter semua tablet tidak lebih dari tiga kali dan tidak kurang
dari 1 1/3 tebal tablet.
c. Keseragaman Bobot
Syarat keseragam bobot menurut Farmakope Indonesia Edisi III adalah bila
bobot rata-rata lebih kurang 300 mg, jika ditimbang satu persatu tidak lebih dari 2
buah tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang 5% dari bobot rata-ratanya,
dan tidak ada satupun tablet yang bobotnya menyimpang lebih dari 10% dari bobot
rata-ratanya.
Alat yang digunakan : Timbangan Analitik
Cara pengukuran : Timbang 20 tablet, hitung bobot rata-rata tiap tablet . Jika
ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang
masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rataratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A,
dan tidak satupun yang bobotnya menyimpang dari bobot
rata-rata lebih dari yang ditetapkan kolom B.

BOBOT RATA-

PENYIMPANGAN BOBOT RATA-RATA DALAM %

RATA
A

25 mg atau kurang

15 %

30 %

26 mg - 150 mg

10 %

20 %

151 mg - 300 mg

7,5 %

15 %

Lebih dari 300 mg

5%

10%

Dari evaluasi tablet yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut :
Tablet Ke-

Bobot (gr)

% Penyimpangan

0,1958

2,1 %

0,1940

3,0 %

0,1942

2,9 %
51

0,1914

4,3 %

0,1934

3,3 %

0,1875

6,2 %

0,1911

4,4 %

0,1905

4,7 %

0,1887

5,6 %

10

0,1900

5,0 %

11

0,2003

0,1 %

12

0,1935

3,2 %

13

0,1993

0,3 %

14

0,1927

3,6 %

15

0,1907

4,6 %

16

0,1907

4,6 %

17

0,1937

3,1 %

18

0,1931

3,4 %

19

0,1914

4,3 %

20

0,1920

4,0 %

Jumlah ( )

3,854

72,7

Rata-rata (

0,1927

3,635

0,0313

)
Standar
Deviasi
(SD)
Berat 20 tablet

= 3,9041 gram

Rumus :
Bobot rata-rata =

bobot
52

Jumlah tablet
Penyimpangan = bobot rata-rata-bobot satu tablet X 100%
Bobot rata-rata
Bobot rata-rata per tablet =
3,9041
= 0,1952 gr/ tab
20
Penyimpangan = 0,1952 gr X 100% = 4,9 %
3,9041 gr
Dari hasil perhitungan diatas, dapat disimpulkan bahwa hanya ada satu tablet
yang memiliki penyimpangan lebih dari 5% dari bobot rata-ratanya, dan tidak
ada satupun tablet yang bobotnya menyimpang lebih dari 10% bobot rataratanya, sehingga dapat dikatakan bahwa tablet yang dihasilkan sudah memiliki
bobot tablet yang baik.
d. Kekerasan
Uji kekerasan tablet dilakukan dengan cara ambil masing-masing 10 tablet
secara acak, yang kemudian diukur kekerasanya dengan alat pengukur
kekerasan tablet ( Hardness Tester ). Letakkan sebuah tablet dengan posisi
tegak diantara anvit dan punch, lalu tablet dijepit dengan cara memutar
sampai tablet pecah dan retak. Pada saat tersebut angka yang ditunjukkan oleh
jarum adalah kekerasan tablet tersebut.
Alat yang digunakan
: Hardness Tester
Dari evaluasi tablet yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut :
Tablet Ke-

Uji Kekerasan Tablet Menggunakan Hardness Tester

8 kg

5 kg

7 kg

7 kg

4 kg

4 kg

4 kg

53

6 kg

6 kg

10

8 kg

Jumlah ( )

53

Rata-rata ( )

5,9

Standar Deviasi

1,59

(SD)
Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa tablet yang dihasilkan telah
memenuhi standar karena evaluasi kekerasan tablet yang dihasilkan berkisar
antara 4-8 kg, yang mana merupakan standar dari kekerasan tablet pada
umumnya.
e. Friabilitas atau Kerenyahan Tablet
Uji kerenyahan tablet dilakukan dengan cara tablet yang akan diuji sebanyak
20 tablet, terlebih dahulu dibersihkan dari sebunya dan ditimbang dengan
seksama. Tablet tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam friabilator dan
diputar sebnayak 100 kali putaran selama 4 menit , jadi kecepatan putaranya
25 putaran per menit. Setelah selesai, keluarkan tablet dari alat, bersihkan
dari debu dan timbang kembali seluruh tablet dengan seksama. Kemudian
hitung persentase kehilangan bobot sebelum dan sesudah perlakuan.
Tablet yang baik memiliki keregasan kurang dari 1 %
Alat yang digunakan
: Friabilator
Dari evaluasi tablet yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut :
Berat 20 tablet sebelum diuji (W1) = 3,8941 gram
Berat 20 tablet setelah diuji (W2) = 3,8629 gram
Kerenyahan
= W1 W2 x 100%
W1
3,8941
gram - 3,8629 gram x 100%
=
3,8941 gram
= 0,8%
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa tablet yang dihasilkan telah baik,
karena memiliki keregasan atau kerenyahan tablet kurang dari 1%.

54

f. Waktu Hancur
Adapun Uji Waktu Hancur dilakukan dengan cara :
1.
Pengujian waktu hancur menggunakan 6 buah tablet
2.
Masukkan tablet pada masing-masing tabung kecil dari keranjang.
3.
Masukkan 1 cakram pada tiap-tiap tabung.
4.
Gunakan air bersuhu 37 +/_ 2 c sebagai media yang ada di penangas air
5.

yang ditermostatisasi.
Setelah alat dioperasikan ,keranjang akan bergerak keatas dan kebawah

6.

sebanyak 30 kali dalam semenit.


Tablet hancur sempurna bila sisa sediaan yang tertinggal pada kasa alat
uji merupakan masa lunak yang tidak mempunyai inti yang jelas. Bila 1
tablet atau 2 tablet tidak hancur sempurna, ulangi pengujian dengan
waktu yang ditambah sebanyak 15 menit. Semua tablet harus hancur
tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak bersalut dan untuk tablet
bersalut waktunya 60 menit.

Dari evaluasi tablet yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut :
Tablet Ke-

Waktu Hancur ( detik )

56,71 detik

57,21 detik

56,71 detik

57,10 detik

58.97 detik

58.97 detik

Jumlah ( )

347,67

Rata-rata ( )

57,61

Standar Deviasi

1,0713

(SD)
Alat yang digunakan

: Disintegration Tester tipe ZT 2-Erweka

55

Dari hasil evaluasi waktu hancur tablet yang telah dilakukan dapat
disimpulkan
bahwa tablet tersebut memiliki waktu hancur yang baik dan
telah memenuhi persyaratan untuk waktu hancur tablet biasa karena waktu
hancur tablet yang dihasilkan kurang dari 15 menit yaitu hanya 57,61 detik.
4.

Pembahasan
Pada praktikum kali ini dibuat tablet dengan menggunakan zat aktif Acidum
Ascorbicum (Vitamin C) dengan menggunakan metoda kempa langsung
dengan perhitungan 100 tablet dan dilebihkan 20% sehingga totalnya menjadi
120 tablet. Namun sebelum dilakukan pencetakan tablet tersebut dilakukan
evaluasi terhadap serbuk yaitu kecepatan alir dengan menggunakan metode
corong dan sudut istirahat atau sudut diam, dan kompresibilitas.
Evaluasi serbuk yang pertama dilakukan adalah kecepatan alir dengan
menggunakan metode corong, setelah dihitung waktu alirnya adalah 4,73
gr/det sehingga berdasarkan tabel laju alir terhadap sifat alir dapat
disimpulkan bahwa serbuk tersebut mudah mengalir. Kemudian dilanjutkan
dengan evaluasi kecepatan alir dengan menggunakan metode sudut istirahat
atau sudut diam dan setelah dihitung waktu alirnya adalah 23,26 gr/det dari
angka tersebut dapat dilihat pada table hubungan antara nilai sudut henti atau
sudut diam terhadap sifat alir bahwa kecepatan alir dari serbuk ini sangat baik.
Evaluasi serbuk berikutnya adalah kompresibilitas setelah dihitung
%Kompresibilitasnya adalah 20,16% berdasarkan nilai tersebut dapat dilihat
pada tabel %Kompresibilitas terhadap sifat alir serbuk dapat disimpulkan
bahwa serbuk tersebut memiliki kompresibilitas yang cukup baik. Selain itu
juga %Kadar pemampatan yang diperoleh adalah 20% yang artinya serbuk
tersebut memiliki kadar pemampatan yang sudah cukup baik. Setelah
dilakukan evaluasi serbuk barulah tablet dicetak dan dievaluasi kembali.
Dari hasil evaluasi tablet didapatkan keseragaman ukuran yang memenuhi
persyaratan Farmakope Indonesia Edisi III yaitu tidak ada tablet yang
memiliki diameter tablet lebih dari 3 kali tebal tablet dan kurang dari 1 1/3
tebal tablet. Hasil evaluasi keseragaman bobot pada saat tablet ditimbang satu
persatu, tidak ada lebih dari dua tablet yang masing masing bobotnya
menyimpang dari bobot rata ratanya lebih besar dari 5% dan tidak ada satu
tabletpun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata rataya lebih dari 10%
(Depkes RI , 1979).

56

Hasil evaluasi rata rata kekerasan tablet yaitu 5,9 kg. Kekerasan tablet
tersebut telah memenuhi persyaratan karena masih berada pada range standar
kekerasan tablet yaitu 4 8 kg (Parrot, 1970). Tablet harus mempunyai
kekuatan dan kekerasan yang memenuhi standar agar tablet tersebut dapat
bertahan dalam berbagai guncangan mekanik pada saat pembuatan,
pengepakan, dan pengapalan atau pendistribusian. Kekerasan yang cukup dari
suatu tablet merupakan salah satu persyaratan penting dari suatu tablet. Faktor
faktor yang mempengaruhi kekerasan tablet adalah tekanan kompresi dan
sifat bahan yang dikempa. Kekerasan ini yang dipakai sebagai ukuran dari
tekanan pengempaan. Semakin besar tekanan yang diberikan saat pengempaan
akan meningkatkan kekerasan tablet. Pada evaluasi friability atau kerenyahan
tablet, tablet yang dihasilkan telah baik karena memiliki keregasan atau
kerenyahan tablet sebesar 0,8% yang artinya kurang dari 1% yang merupakan
standar dari friability atau kerenyahan tablet pada umumnya.
Dari hasil evaluasi waktu hancur tablet yang telah dilakukan dapat
disimpulkan
bahwa tablet tersebut memiliki waktu hancur yang baik dan
telah memenuhi persyaratan untuk waktu hancur tablet biasa karena waktu
hancur tablet yang dihasilkan kurang dari 15 menit yaitu hanya 57,61 detik.
Dari semua evaluasi tablet yang telah dilakukan mulai dari evaluasi serbuk
hingga evaluasi tablet jadi, dapat disimpulkan bahwa tablet Acidum
Ascorbicum (Vitamin C) yang dibuat oleh kelompok III telah memenuhi
standar dan kriteria pembuatan tablet pada umumnya, sehingga tablet Acidum
Ascorbicum (Vitamin C) sudah layak untuk diperjualbelikan kepada
masyarakat.

57

Lampiran

Proses Pembuatan
Penimbangan Bahaan

58

Pencampuran bahan pada saat proses pembuatan

59

Evaluasi Serbuk

Evaluasi Kecepatan Alir dengan Metode Corong Kaca

Evaluasi Kecepatan Alir dengan Metode Sudut Istirahat atau Sudut Diam

Evaluasi Kompresibilitas dan Kadar Pemampatan

60

Pencetakan Tablet
Serbuk tablet 200 mg sebelum dicetak

Tablet setelah dicetak


61

Tablet dicetak dengan menggunakan alat pencetak tablet Single Punch dengan bobot
tablet 200 mg

Evaluasi Tablet

62

Evaluasi Keseragaman Ukuran

Evaluasi Keseragaman Bobot

Evaluasi Friability atau Kerenyahan tablet

Evaluasi Kekerasan Tablet

63

Evaluasi Waktu Hancur Tablet

64