Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan,
kelahiran dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan
budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial
dari tiap anggota (Duval, 1972 dikutip dari Setiadi, 2008).
Keluarga adalah bagian dari masyarakat yang peranannya sangat
penting untuk membangun kebudayaan yang sehat. Sehingga keluarga
dijadikan sebagai unit pelayanan karena masalah kesehatan keluarga saling
berkaitan dan saling mempengaruhi antara sesama anggota keluarga dan akan
mempengaruhi pula keluarga-keluarga lain atau bahkan masyarakat yang ada
di sekitarnya (Setiadi, 2006).
Setiap anggota keluarga memiliki kebutuhan dasar fisik, pribadi, dan
sosial. Keluarga harus berfungsi menjadi perantara bagi tuntutan-tuntutan dan
harapanharapan semua individu yang ada dalam unit tersebut. Sebuah keluarga
diharapkan dapat bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan
dari orang tua dan anak-anaknya (Friedman, 1998). Menurut Bronfenbrenner
(1979) fungsi keluarga adalah memenuhi kebutuhan-kebutuhan setiap individu
yang ada dalam keluarga dan memenuhi kebutuhan masyarakat dimana
keluarga menjadi bagiannya. Hal ini menjadi satu tugas yang sulit karena
harus memprioritaskan kebutuhan individu yang beraneka ragam pada saat
tertentu (Friedman, 1998).
Masalah-masalah kesehatan di atas dapat diatasi jika keluarga dapat
menjalankan tugasnya dalam bidang kesehatan, seperti mengenal gangguan

perkembangan dan gangguan kesehatan setiap anggotanya. Mengambil


keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat, memberikan perawatan
kepada yang sakit, cacat atau usia yang terlalu muda. Mempertahankan
suasana rumah yang harmonis dan menguntungkan untuk perkembangan
kepribadian anggota keluarga, serta memanfaatkan dan mempertahankan
hubungan yang baik dengan unit pelayanan kesehatan yang ada (Suprajitno,
2004).
Untuk mencapai tujuan dalam usaha menciptakan masyarakat yang
sehat melalui kegiatan Daerah Binaan (Darbin) yang dilaksanakan oleh
mahasiswa Akademi Kebidanan Payung Negeri Pekanbaru. Maka dilakukan
kegiatan pembinaan keluarga yang gunanya untuk memecahkan masalahmasalah kesehatan yang dihadapi oleh keluarga.
Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan pada tanggal 14-16
Januari 2017 Jl. Darma RT.VI RW.V Kel. Labuh Baru Barat Kec. Payung
Sekaki Kota Pekanbaru Dari 5 kepala keluarga ada 1 kepala keluarga yang
mempunyai masalah yaitu keluarga yang tidak memakai KB.
Berdasarkan hasil Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) yang
dilakukan pada tanggal 06 Januari 2017 disepakati bahwa akan dilakukan
kerjasama antara Puskesmas Payung Sekaki dengan mahasiswa Program Studi
DIII Kebidanan Payung Negeri untuk mengadakan kegiatan pembinaan
keluarga.
B. Tujuan
Adapun tujuan yang dilakukan pembinaan terhadap keluarga Tn Y
ialah :
1. Tujuan Umum

Dengan dilakukan pembinaan terhadap keluarga TnY mengerti


tentang bahaya merokok bagi kesehatan dan memberikan penyuluhan
tentang bagaimana cara berhenti merokok.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu menyebutkan pengertian merokok
b. Mampu menyebutkankandungan asap rokok
c. Mampu menyebutkan bahaya merokok
d. Mampu menyebutkan cara meminimalisir dampak buruk asap rokok
terhadap kesehatan Bayi
A. Sasaran Kegiatan
Adapun sasaran dari kegiatan pembinaan ini adalah keluarga Tn.Y
agar mengerti tentang Bahaya (Dampak) asap rokok terhadap Bayi.

B. Langkah Kegiatan
Kegiatan pembinaan keluarga Tn Y yang dilakukan dari tanggal 14
16 Januari 2017 dengan jadwal sebagai berikut.
1. Tanggal 14 Januari 2017
a. Penapisan terhadap masalah kesehatan yang ada
b. Penyuluhan tentang merokok pada bapak yang memiliki Bayi
mencakup masalah cara mengurangi atau berhenti merokok
c. Tanya jawab
d. Membuat kontrak waktu untuk besok
2. Tanggal 15 Januari 2017
a. Melakukan pengkajian terhadap keluarga Tn Y
b. Merumuskan prioritas masalah Tn Y yang memerokok
c. Implementasi tentang mengurangi/ berhenti merokok secara perlahanlahan
3. Tanggal 16 Januari 2017
a. Melakukan evaluasi hasil kegiatan pembinaan keluarga Tn Y secara
keseluruhan.

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian
Keluarga berencana (KB) adalah gerakan untuk membentukkeluarga
yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Itu bermakna adalah
perencanaan jumlah keluarga dengan pembatasan yang bisa dilakukan dengan
penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran
seperti kondom, spiral, IUD, dan sebagainya (1).
2.2 Jenis Jenis Kontrasepsi
1. Metode Kontrasepsi Jangka Pendek
A. Metode Amenore Laktasi (MAL)
B. Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA)
C. Metode Barrier (Kondom, spermisida, diafragma)
D. Pil (Pil Kombinasi dan Progestin)
2. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
A. Suntik (Suntik Kombinasi dan Progestin)
B. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
C. Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (implan)
D. Kontrasepsi mantap (Tubektomi, Vasektomi) (5)

2.3 Metode Kontrasepsi Implant


1.

Profil

a.

Efektif 5 tahun untuk Norplant, 3 tahun untuk Jadena, Indoplant, atau

Implanon.
b.

Nyaman

c.

Dapat dipakai oleh semua ibu dalam usia reproduksi

d.

Pemasangan dan pencabutan perlu pelatihan

e.

Kesuburan segera kembali setelah implant dicabut

f.

Efek samping utama berupa perdarahan tidak teratur, perdarahan bercak dan

amenorea
g.

Aman dipakai pada masa laktasi

2.

Jenis

a.

Norplant, terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4

cm, dengan diameter 2,4 mm, yang diisi dengan 36 mg Levonorgestrel dan lama
kerjanya 5 tahun.
b.

Implanon, terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira kira 40

mm, dan diameter 2 mm, yang diisi dengan 68 mg 3-keto-desogestrel dan lama
kerjanya 3 tahun.
c.

Jadena dan indoplant, terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg

Levonorgestrel dengan lama kerja 3 tahun.

3.

Cara kerja

a.

Lendir serviks menjadi kental

b.

Menggangu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi

implantasi
c.

Mengurangi transportasi sperma

d.

Menekan ovulasi

4.

Efektivitas

Sangat efektif (kegagalan 0,2 1 kehamilan per 100 perempuan)


5.

Keuntungan kontrasepsi

a.

Daya guna tinggi

b.

Perlindungan jangka panjang (5 tahun)

c.

Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan

d.

Tidak memerlukan pemeriksaan dalam

e.

Bebas dari pengaruh estrogen

f.

Tidak menggangu kegiatan senggama

g.

Tidak menggangu ASI

h.

Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan

i.

Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan

6.

Keuntungan nonkontrasepsi

a.

Mengurangi nyeri haid

b.

Mengurangi jumlah darah haid

c.

Mengurangi/ memperbaiki anemia

d.

Melindungi terjadinya kanker endometrium

e.

Menurunkan angka kejadian kelainan jinak payudara

f.

Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang panggul

g.

Menurunkan angka kejadian endometriosis

7.

Keterbatasan

Pada kebanyakan klien dapat menyebabkan perubahan pola haid berupa


perdarahan bercak (spotting), hipermenorea, atau meningkatkan jumlah darah
haid, serta amenorea.
Timbulnya keluhan keluhan, seperti :
a.

Nyeri kepala

b.

Peningkatan/ penurunan berat badan

c.

Nyeri payudara

d.

Perasaan mual

e.

Pening/ pusing kepala

f.

Perubahan perasaan (mood) atau kegelisahan (nervousness)

g.

Membutuhkan tindak pembedahan minor untuk insersi menular seksual

termasuk AIDS
h.

Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi ini sesuai

dengan keinginan, akan tetapi harus pergi ke klinik untuk pencabutan.


i.

Efektivitasnya menurun bila menggunakan obat obatan tuberkulosis

(rifampisin) atau obat epilepsi (fenitoin dan barbiturat)


j.

Terjadi kehamilan ektopik sedikit lebih tinggi (1,3 per 100.000 perempuan)

8.

Yang boleh menggunakan implan

a.

Usia reproduksi

b.

Telah memiliki anak ataupun yang belum

c.

Menghendaki kontrasepsi yang memiliki efektivitas tinggi dan menghendaki

pencegahan kehamilan jangka panjang


d.

Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi

e.

Pascapersalinan dan tidak menyusui

f.

Pasca keguguran

g.

Tidak menginginkan anak lagi, tetapi menolak sterilisasi

h.

Riwayat kehamilan ektopik

i.

Tekanan darah < 180/110 mmHg, dengan masalah pembekuan darah, atau

anemia bulan sabit (sickle cell)


j.

Tidak boleh menggunakan kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen

k.

Sering lupa menggunakan pil

9.

Yang tidak boleh menggunakan implan

a.

Hamil atau diduga hamil

b.

Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya

c.

Benjolan/ kanker payudara atau riwayat kanker payudara

d.

Tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi

e.

Miom uterus dan kanker payudara

f.

Gangguan toleransi glukosa

10. Peringatan khusus bagi pengguna implan


a.

Terjadi keterlambatan haid yang sebelumnya teratur, kemungkinan terjadi

kehamilan.

b.

Nyeri perut bagian bawah yang hebat, kemungkinan terjadi kehamilan

ektopik.
c.

Terjadi perdarahan banyak dan lama.

d.

Adanya nanah atau perdarahan pada bekas insersi implan.

e.

Ekspulsi batang implan (Norplant).

f.

Sakit kepala migrain, sakit kepala berulang yang berat, atau penglihatan

menjadi kabur.
11. Efek samping
a.

Amenorea

b.

Perdarahan bercak (spotting) ringan

c.

Ekspulsi

d.

Infeksi pada daerah insersi

e.

Berat badan naik/ turun (5)

2.4 Pemasangan dan pencabutan implan


1.

Prosedur pemasangan

Persiapan :
a.

Sapa Klien dengan ramah dan hangat

b.

Periksa kembali rekam medik dan lakukan penilian lanjutan bila ada indikasi

c.

Jelaskan apa yang akan dilakukan dan beri kesempatan kepada klien untuk

mengajukan pertanyaan
d.

Tanyakan apakah klien alergi terhadap cairan antiseptik dan obat anestesi

lokal
e.

Periksa kembali untuk menyakinkan bahwa klien telah mencuci dengan

sabun dan membilas lengannya


f.

Bantu klien naik kemeja periksa

g.

Letakkan kain yang bersih dan kering dibawah lengan klien dan atur posisi

lengan klien dengan benar


h.

Tentukkan tempat pemasangan setinggi 8 cm diatas lipatan sikut pada lengan

atas bagin dalam


i.

Gunakan kartu pola (template) untuk membuat tanda pada tempat

pemasangan kedua batang implant (harus membentuk sudut 150)


j.

Pastikan bahwa peralatan yang steril atau telah didesinfeksi tingkat tinggi

(DTT) sudah tersedia.


k.

Buka peralatan steril dari kemasannya

l.

Buka kemasan implan dan jatuhkan kedalam mangkok kecil yang steril atau

telah didesinfeksi tingkat tinggi (DTT)


Pemasangan :
a.

Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun,keringkan dengan kain bersih

b.

Pakai sarung tangan steril atau DTT (bila sarung tangan dibedak,hapus

bedak dengan menggunakan kasa yang telah dicelupkan kedalam air steril atau
DTT)
c.

Siapkan peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan

d.

Usap tempat pemasangan dengan larutan anti septik, gerakan kearah luar

secara melingkar seluas 8-13 cm


e.

Pasang kain penutup (doek) steril atau DTT di sekeliling lengan klien

f.

Jelaskan pada klien bahwa akan disuntik obat anestesi lokal yang akan terasa

sedikit sakit
g.

Gunakan alat suntik steril dan suntikkan sedikit (0,3-0,5 cc) anestesi lokal

(1% tanpa epinephrin) tepat dibawah kulit pada tempat insisi yang telah
ditentukkan, sampai kulit sedikit menggelembung.
h.

Teruskan penusukan jarum kelapisan dibawah kulit kurang lebih 5 cm, dan

suntikan 1 cc sambil menarik jarum pelan-pelan diantara kedua batang implan


jadenaTM yang akan dipasang
i.

Cabut jarum suntik dan taruh ditempat yang aman untuk menghindari

kecelakaan tertusuk jarum


j.

Tekan tempat suntikan agar obat anestesi tersebar dalam jaringan

k.

Jepit kulit dengan pinset ditempat yangakan dilakukkan insisi untuk

mengetahui apakah obat anestesinnnya telah bekerja (bila klien merasa


sakit,tunggu 2 menit dan uji kembali efek anestesinya)
l.

Buat insisi dangkal selebar dua 2 mm dengan pisau operasi nomer 11

(sebagai alternatif lain dapat dengan menusukkan trokar langsung kelapisan


dibawah kulit/sub dermal,tanpa membuat insisi)
m. Masukkan trokar dan pendorongnya melalui tempat insisi dengan sudut yang
tidak terlalu dalam. ( 150)
n.

Sambil mengungkit kulit masukkan terus trokar dan pendorongnnya sampai

batas tanda I (pada pangkal trokar) tepat pada luka insisi


o.

Keluarkan pendorong

p.

Masukkan batang implan yang pertama kedalam trokar dengan tangan

(batang implan dipengang dengan ibu jari dan jari telunjuk) atau dengan

pinset,tadahkan tangan yang lain dibawah trokar untuk menangkap batang implan
bila trjatuh
q.

Masukkan kemabli pendorong dan tekan batang implan kerah ujung dari

trokar sampai terasa adanya tahanan


r.

Tahan pendorong ditempatnya dengan satu tangan, dan tarik trokar keluar

samapi mencapai pegangan pendorong


s.

Tarik trokar dan pendorongnya secara bersama-sama sampai batas tanda 2

(pada ujung trokar) terlihat pada luka insisi. jangan mengeluarkan trokar dari
tempat insisi
t.

Gunakan ujung trokar dari ujung batang implan kerah samping untuk

memastikkan batang implan telah keluar seluruhnya dari trokar


u.

Pegang batang implan pertama yang sudah terpasang dengan jari telunjuk

dan jari tengah yang bebas untuk menghindari terjadinya kerusakan karena
terkena trokar yang akan dimasukkan kembali untuk memasang batang implan
yang kedua
v.

Arahkan kembali trokar 15 derajat mengikuti tanda yang telah digambar

pada kulit kemudian masukkan trokar dan pendorongnya sampai batas tanda 1
(pada pangkal trokar) tepat berada pada luka insisi
w. Masukkan batang implan yang kedua dengan teknik yang sama (4-8)
x.

Raba ujung batang implan didaerah dekat bahu untuk memastikkan bahwwa

batang implan telah terpasang dengan benar


y.

Raba daerah insisi dengan memastikkan kedua ujung batang implan berada 5

mmdari luka insisi

z.

Keluarkan trokar dari tempat insisi

2.

Pencabutan Implan

Persiapan :
a.

Jelaskan apa yang akan dilakukan dan beri kesempatan kepada klien untuk

mengajukan pertanyaan
b.

Tanyakan apakah klien alergi terhadap cairan antiseptik atau obat anestesi

lokal
c.

Periksa kembali untuk memastikan bahwa klien telah mencuci dan membilas

lengannya.
d.

Atur posisi lengan klien dengan benar dan raba batang implan untuk

menentukan lokasi insisi


e.

Pastikan bahwa peralatan yang steril atau DTT sudah tersedia

Pencabutan :
a.

Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, keringkan dengan kain

bersih.
b.

Pakai sarung tangan steril atau DTT

c.

Usap tempat pencabutan dengan larutan antiseptik

d.

Pasang kain penutup (doek) steril atau DTT disekeliling lengan klien

e.

Suntikkan sedikit obat anastesi lokal (1 ml) pada tempat insisi di bawah

setiap ujung batang implan dekat siku


f.

Periksa efek obat anastesinya sebelum melakukan insisi

g.

Buat insisi kecil (4 mm) dengan arah memanjang diantara kedua batang

implan sekitar 5 mm di atas ujung batang implan yang dekat dengan

siku.
Sampai saat ini dikenal 4cara pelepasan implan, yaitu sebagai berikut:
1.

Cara POP-OUT

Merupakan teknis pilihan bila memungkinkan karena tidak traumatis, sekalipun


tidak selalu mudah untuk mengerjakanya. Dorong ujung proksimal kapsul(arah
bahu) kearah distal dengan ibu jari sehingga mendekati lubang insisi, sementara
jari telunjuk menahan bagian tengah kapsul, sehingga ujung distal kapsul
menekan kulit. Bila perlu, bebaskan jaringan yang menyelubungi ujung kapsul
dengan scalpel/bisturi. Tekan dengan lembut ujunng kapsul melalui lubang insisi
sehingga ujung tesebut akan menyembul/pop-out melalui lubang insisi.
2.

Cara STANDART

Bila cara POP-OUT tidak berhasil atau tidak mungkin dikerjakan, maka dipakai
cara standart.Jepit ujung distal kapsul dengan klem Mosquito, sampai kira-kira
0,5-1cm dari ujung klemnya masuk dibawah kulit melalui lubang insisi. Putar
pegangan klem pada posisi 180 disekitar sumbu utamanya mengarah ke bahu
akseptor. Bersihkan jaringan-jaringan yang menempel di sekeliling klem dan
kapsul dengan skalpet atau kasa steril sampai kapsul terlihat dengan jelas.
Tangkap ujung kapsul yang sudah terlihat dengan klem Crile, lepaskan klem
Mosquito, dan keluarkan kapsul dengan klem Crile. Cabut/keluarkan kapsulkapsul lainnya dengan cara yang sama.
3.

Cara U

Teknik ini dikembangkan oleh Dr. Untung Prawirohardjo dari Semarang. Dibuat
insisi memanjang selebar 4mm, kira-kira 5mm proksimal dari ujung distal

kapsul, diantara kapsul ke-3 dan ke-4.


kapsul yang akan dicabut difiksasi dengan meletakkan jari telunjuk tangan kiri
sejajar di sampingkapsul. Kapsul di pegang dengan klem atau forcep kurang
lebih 5 menit dari ujung distalnya. Kemudian klem di putar ke arah pangkal
lengan atas/bahu akseptor sehingga kapsul terlihat dibawah lubang insisi dan
dapat di bersihkan dari jaringan-jaringan yang menyelubunginya dengan memakai
scalpel. Untuk seterusnya dicabut keluar.
4.

Cara tusuk Ma

Dikembangkan oleh Dr. IBG Manuaba dari Denpasar memakai alat bantu kawat
atau jari roda sepeda. Satu ujung dilengkungkan sepanjang 0,5-0,75cm dengan
sudut 90 dan diperkecil serta di runcingkan. Sedangkan ujung yang lain
dilengkungkan dalam satu bidang dengan lengkungan runcing tadi dan dipakai
untuk pegangan operator. Setelah kapsul dijepit dengan klem arteri, jaringan ikat
dibersikan dengn pisau sampai kapsul tampak putih. Kemudian alat tusuk Ma
ditusukkan pada kapsul serta terus dikait keluar. Atau setelah kapsul di jepit
dengan pinset klem arteri alat tusuk Ma ditusukkan kedalam kapsul sambil
diungkit kea rah luka insisi. Lalu pinset atau klem arteri dilepaskan dan dengan
pisau kapsul dibebaskan dari jaringan lain lalu di ungkit keluar dari luka insisi (6).

2.5 Profil KK Binaan


1. Identitas/Biodata
Nama Istri

: Ny. C

Nama Suami

: Tn. R

Umur

: 42 Tahun

Umur

: 54 Tahun

Suku /Kebangsaan

: Sunda/Indonesia

Suku/Kebangsaan

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMP

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

Alamat Rumah

: RT 01/RW 01Kampung Cibitung Desa Cibitung

Telpon

Sunda/Indonesia

Telpon

: Petani

Keluarga Ny. C adalah penduduk tetap di RT 01/RW 01Kampung Cibitung Desa


Cibitung,memiliki rumah sendiri yang bersifat permanen. Penghasilan KK
perbulan tidak tetap, namun rata-rata penghasilannya perbulan >Rp. 600.000,00.
Pendidikan terakhir Ny. C adalah SMP sementara pendidikan Tn. K adalah SD,
serta memiliki 3 anak.
Ny. C sudah memiliki jamban pribadi dengan pembuangan air limbah ke selokan
sedangkan tempat pembuangan air besar ke WC (septictank) dimana lokasinya >
10 meter.
Sedangkan untuk pembuangan sampah, pengolahan sampah organik dengan cara
di tanam, sedangkan untuk sampah non organik dibakar.
Adapun sumber air yang digunakan diperoleh dari ledeng dengan keadaan bersih,
tidak berwarna, tidak berbau dantidak berasa, selain itu pengolahan air minum pun
dengan cara dimasak. Kondisi rumah dengan ventilasi yang cukup dan tidak
terdapat kandang ternak di samping rumah. Sementara itu, pengetahuan KK

mengenai Desa Siaga mengetahui.

1. Genogram
Klien
42 Th
Suami
54 Th
Anak 3
9 Th

Keterangan :

: Klien
: Suami Klien

: Anak ke 3 klien

Catatan :
Anak ke 1 dan 2 sudah berumah tangga
1. Denah Rumah

WC

Dapur

Ruang Tidur

Ruang Keluarga

Ruang Tidur

Ruang Tamu

Ruang Tidur

BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 Asuhan Kebidanan Pada Ibu Dengan KB Implan


1. DATA SUBYEKTIF
2. Identitas / Biodata
Nama Istri

: Ny. C

Nama Suami

: Tn. R

Umur

: 42 Th

Umur

: 54 Th

Suku /Kebangsaan : Sunda/Indonesia

Suku/Kebangsaan : Sunda/Indonesia

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMP

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: Petani

Alamat Rumah

: RT 01/RW 01 Desa Cibitung

Telpon

Telpon

1. Status Kesehatan
2. Datang pada tanggal : 13 02 2013

Pukul: 18.00 WIB

3. Alasan kunjungan ini :


4. Keluhan keluhan

: Ibu mengatakan tidak ada keluhan

5. Riwayat Obstetri yang Lalu

6. Riwayat haid/menstruasi

Usia menarche

: 10 Tahun

Siklus menstruasi : 28 hari

Lamanya

: 5 hari

Banyaknya

: 2x ganti pembalut/hari

Dismenorrhoe

: Ada menjelang haid

Teratur/tidak

: Teratur

Keputihan

: Tidak ada

Haid terakhir

: 7 Februari 2013

1. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu


2.
Tgl. Tahun

Tempat

Usia

Jenis

Penyulit
Penolong

JK

BB

27

28

26

persalinan
27-03-1992

pertolongan
Rumah

kehamilan
Aterm

persalinan
Spontan

Paraji

persalinan

15-9-1995

BPS

Aterm

Spontan

Bidan

15-01-2005

BPS

Aterm

Spontan

Bidan

5. Riwayat Kontrasepsi yang Lalu


6. Jenis kontrasepsi

: Suntik

7. Jangka waktu/lama

: 3tahun

8. Efek samping/keluhan

: Tidak ada

9. Mulai KB

: Setelah lahir anak ke- 3

10. Kapan berhenti

11. Alasan berhenti

Anak

12. Riwayat Kesehatan Dahulu dan Sekarang


13. Penyakit yang pernah dialami

: Tidak ada

14. Lamanya pengobatan

: Tidak ada

15. Alergi (obat/makanan)

: Tidak ada

16. Pola Aktivitas Sehari hari


17. Nutrisi

Pola makan

frekuensi

: 2x/hari

jenis makanan

: Nasi, sayur, lauk-pauk, tempe, tahu

makanan pantangan : Tidak ada

Pola minum

frekuensi

: 8 gelas/hari

jenis minuman

: Air putih, teh

1. Gaya hidup

Aktivitas sehari hari

: Ibu Rumah Tangga

Istirahat/Tidur

: Siang 1 jam, malam 7 jam

Eliminasi

BAK

: 4x/hari, kuning jernih

BAB

: 1x/hari, kuning kecoklatan, lembek

8. Riwayat Sosial dan Psikologis


9. Status perkawinan

Usia saat menikah : 21 Tahun

Lama perkawinan

: 21 Tahun

Berapa kali

: 1x

1. Psikologi

Respon ibu terhadap kontrasepsi

: Baik

Rencana penggunaan kontrasepsi

: Baik

Dukungan suami

: Baik

Dukungan keluarga

: Baik

Pengambilan keputusan dalam keluarga : Suami

Kekhawatiran ibu terhadap kontrasepsi : Tidak ada


1. Sosial budaya

Hubungan dengan suami

: Baik

Hubungan dengan keluarga

Pantangan pantangan

: Baik

1. DATA OBYEKTIF
2. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Composmentis

TTV

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Respirasi

: 20x/menit

Nadi

: 72x/menit

Suhu

: 36,5C

Berat Badan

: 53

kg

Tinggi Badan

: 155

cm

Baik

Kepala
1. Rambut

: Bersih, hitam, tidak rontok, distribusi


merata, tekstur lurus

1. Muka

: Tidak ada oedema, tidak ada cloasma


Gravidarum

1. Mata
1)

Konjungtiva

: Merah muda

2)

Sclera

: Putih

1. Telinga
1)

Simetris

: Ya

2)

Pengeluaran

: Tidak ada

3)

Fungsi pendengaran

: Baik, ditandai dengan ibu dapat

menjawab pertanyaan yang


diajukan dengan baik
1. Hidung
1)

Simetris

: Ya

2)

Fungsi penciuman

: Baik

3)

Polip

: Tidak ada

1. Mulut dan gigi

: Bersih, tidak ada caries,

tidak ada stomatitis, gusi


tidak berdarah

Leher
1. Kelenjar tyroid
2. Kelenjar getah bening

: Tidak ada Pembengkakan


: Tidak ada pembesaran

Dada dan Payudara


1. Dada
1)

Bentuk

: Simetris

2)

Bunyi jantung

: Normal, tidak ada bunyi murmur

3)

Bunyi paru paru

: Normal, tidak ada bunyi wheezing

dan stridor
1. Payudara
2. Bentuk

: Simetris

3. Keadaan

: Bersih

4. Putting susu

: Menonjol kiri dan kanan

5. Benjolan

: Tidak ada

6. Pengeluaran

: Tidak ada

7. Rasa nyeri

: Tidak ada

8. Lain lain

: Tidak ada

Abdomen
1. Pembesaran

: Simetris

2. Striae

: Ada

3. Jaringan parut

: Tidak ada

4. Luka operasi

: Tidak ada

5. Adanya nyeri tekan

: Tidak ada

Ekstremitas
1. Atas
1)

Kebersihan

: Bersih

2)

Warna kuku

: Merah muda

3)

Oedema

: Tidak ada

4)

Pergerakan

: Aktif dan normal

1. Bawah
1)

Warna kuku

: Merah muda

2)

Kebersihan

: Bersih

3)

Oedema

: Tidak ada

4)

Pergerakan

: Aktif dan normal

5)

Varices

: Tidak ada

6)

Refleks patella

: +/+

1. Data Penunjang
Laboratorium : Tidak dilakukan

1.

INTERPRETASI DATA DASAR

Diagnosa

: Akseptor KB Implan

Dasar

: Ibu mengatakan menggunakan KB Implan


Ibu mengatakan tidak ada keluhan dalam penggunaan
KB Implan

Masalah

: Tidak ada

Kebutuhan

: Tidak ada

1. DIAGNOSA POTENSIAL
Tidak ada

1. TINDAKAN SEGERA
Tidak ada

1. PERENCANAAN
2. Jelaskan hasil pemeriksaan
3. Penyuluhan tentang keuntungan, kerugian dan efek samping
kontrasepsi Implan
4. Berikan informasi tentang kunjungan ulang apabila ada keluhan

1. PELAKSANAAN
2. Memberitahukan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa sejauh
ini ibu dalam keadaan baik.
3. Penyuluhan kepadaibu tentang keuntungan, kerugian dan efek samping
kontrasepsi Implan, seperti :
4. Keuntungan
5. Efek samping
6. memberitahu tentang kunjungan ulang apabila ada keluhan
1)

Daya guna tinggi

2)

Perlindungan jangka panjang (5 tahun)

3)

Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan

4)

Tidak memerlukan pemeriksaan dalam

5)

Bebas dari pengaruh estrogen

6)

Tidak menggangu kegiatan senggama

7)

Tidak menggangu ASI

8)

Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan

9)

Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan

b. Kerugiaan
1)

Nyeri kepala

2)

Peningkatan/ penurunan berat badan

3)

Nyeri payudara

4)

Perasaan mual

5)

Pening/ pusing kepala

6)

Perubahan perasaan (mood) atau kegelisahan (nervousness)

7)

Membutuhkan tindak pembedahan minor untuk insersi menular seksual

termasuk AIDS
8)

Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi ini sesuai

dengan keinginan, akan tetapi harus pergi ke klinik untuk pencabutan.


9)

Efektivitasnya menurun bila menggunakan obat obatan tuberkulosis

(rifampisin) atau obat epilepsi (fenitoin dan barbiturat)


10)Terjadi kehamilan ektopik sedikit lebih tinggi (1,3 per 100.000 perempuan)
1)

Amenorea

2)

Perdarahan bercak (spotting) ringan

3)

Ekspulsi

4)

Infeksi pada daerah insersi

5)

Berat badan naik/ turun

1. EVALUASI
2. Ibu terlihat tenang setelah mengetahui hasil pemeriksaan bahwa
keadaannya sehat.
3. Ibu mengatakan telah mengetahuidan memahami dengan penyuluhan
yang telah diberikan mengenai kerugian, keuntungan dan efek samping
dari KB Implan.
4. Ibu mengatakan akan kunjungan ulang ke bidan terdekat apabila ada
keluhan.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pembahasan
Dalam melakukan asuhan kebidanan komunitas pada Ny. A P3A0 sebagai
akseptor KB Implan dengan menggunakan 7 langkah varney. Adapun dari hasil
pengkajian yang telah dilakukan pada Ny. C, usia 42 tahun dengan KB Implant,
apabila dikaitkan dengan teori maka penulis membuat suatu pembahasan yang
ditekankan pada Asuhan Kebidanan komunitas dimana asuhan yang diberikan
pada Ny. C tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan praktek
dilapangan.
Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik tidak di ditemukan adanya kelainan
yang berhubungan dengan penggunaan KB Implan, ibu mengatakan tidak ada

keluhan selama menggunakan KB Implan dan tidak ada efek samping yang
dirasakan. Hal ini telah sesuai dengan teori yakni Sangat efektif , Pencegahan
kehamilan jangka panjang, Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri, Tidak
mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung,
dan gangguan pembekuan darah, Sedikit efek samping(5).
Dalam memberikan pelayanan kontrasepsi bidan memberikan informasi mengenai
kontrasepsi meliputi keuntungan dan kerugian kontrasepsi, efek samping dan cara
kerja kontrasepsi, ini sesuai dengan teori bahwa sebelum memberikan pelayanan,
bidan harus memberikan informasi yang lengkap mengenai kontrasepsi yang akan
digunakan klien.
Pendokumentasian yang dilakukan telah sesuai dengan menggunakan 7 langkah
varney. Tidak ditemukan kesenjangan dengan teori dengan praktik.
BAB V
PENUTUP

5.1

Kesimpulan

Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan komunitas pada Ny. C dengan KB


implandi RT 01/RW 01 Kampung Cibitung Desa Cibitung Kecamatan Ciater
Kabupaten Subang, maka dapat diambil kesimpulan yaitu:
1. Pada pengkajian terhadap Ny. C dengan penggunaan KB implantidak
ditemukan adanya masalah yang mengarah pada satu hal yang
patologis dan dalam melakukan pengkajian menggunakan metode 7
langkah varney.

2. Setelah pengkajian, penulis menentukan diagnosa, masalah dan


kebutuhan Ny. C sebagai akseptor KB implan dengan diagnosa yang
didapat dalam keadaan normal, tidak ada masalah dan tidak ada
kebutuhan segera.
3. Penggunaan KB implan pada Ny. C ini, penulis tidak menemukan
masalah potensial.
4. Penggunaan KB implan ini tidak diperlukan adanya kebutuhan segera.
5. Penulis telah merencanakan asuhan sesuai dengan kebutuhan Ny. C
sebagai akseptor KB implan.
6. Penulis telah melaksanakan apa yang menjadi perencanaan.
7. Penulis dapat mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan.
8. Penulis telah mendokumentasikan semua asuhan yang telah diberikan
kepada Ny. C.

5.2

Saran

5.2.1 Bagi Penulis


Dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan asuhan kebidanan komunitas,
serta dapat melakukan praktek kebidanan sesuai dengan ilmu yang diperoleh
dalam proses pembelajaran.
5.2.2 Bagi Institusi Pendidikan
Dapat lebih meningkatkan kualitas mahasiswa dalam berbagai aspek yang di
perlukan baik dalam segi teori maupun keterampilan praktek, guna meningkatkan
kualitas peserta didik yang mampu memberikan pelayanan kebidanan sesuai

dengan standar kebidanan yang telah di tetapkan.


5.2.3 Bagi KK Binaan
Dapat lebih meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai Program
Keluarga Berencana beserta Alat kontraepsi dengan cara mengikuti penyuluhan
dan konseling dari Bidan Desa di Posyandu.
DAFTAR PUSTAKA

1. http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga_Berencana
Diperoleh pada tanggal 24-02-2013, Pukul 0.24 WIB
2. Manuaba, Ida Ayu Chandranita. 2009. Memahami Kesehatan
Reproduksi Wanita. Jakarta: EGC
3. http://repository.maranatha.edu/1699/3/0310186_Chapter1.pdf
Diperoleh pada tanggal 24-02-2013, Pukul 0.33 WIB
4. Dinas kesehatan kabupaten subang tahun 2010
5. BKKBN Edisi 2, 2010. Jakarta. PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
6. Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana Dan Kontrasepsi. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan