Anda di halaman 1dari 17

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2016/2017

MODUL

: FILTRASI

PEMBIMBING : Anggi Regiana Agustin, SST, M.Sc


Tanggal Praktikum
: 15 Desember
2016
Tanggal Penyerahaan : 5 Januari 2017
(Revisi Laporan)

Oleh :
Kelompok : VIII (Delapan)
Nama

Kelas

: Eri Ismail

(141411038)

Ufia Farhah

(141411060)

Winardi Ginanjar

(141411061)

: 3B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2016

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan suatu senyawa yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Air ada yang
berasal dari permukaan dan air tanah. Salah satu air permukaan yang banyak digunakan oleh
manusia adalaha air sungai. Salah satu air sungai yang sering digunakan adalah air anak
sungai Cibeureum daerah Ciwaruga.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, air anak sungai Cibeureum daerah
Ciwaruga ini menjadi tercemar oleh limbah rumah tangga. Oleh sebab itu perlu dilakukan
pengolahan air sebelum menggunakan air sungai ini. Salah satu caranya yaitu proses filtrasi.
Proses filtrasi umumnya digunakan untuk mengurangi partikel yang tersuspensi
(suspended solid) yang dapat diendapkan (seatable). Kualitas hasil filtrasi umumnya
dinyatakan dalam satuan kekeruhan (turbidity). Semakin kecil nilai kekeruhan , maka air
tersebut semakin jernih atau sebaliknya, semakin besar nilai kekeruhan , maka air tersebut
semakin keruh. Hasil fitrasi akan membentuk filter-cake yang menempel dibagian atas media
filter.
Umumnya filtrasi digunakan pada pengolahan air (water treatment), pengolahan air
limbah (waste water treatment) dan pengolahan air langsung minum(dari proses reverse
osmoses)

1.2 Tujuan
1. Menentukan efisiensi penurunan konsentrasi
2. Menghitung kapasitas penurunan konsentrasi terhadap volume media filter

BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Air
Kualitas air merupakan karakteristik mutu yang dibutuhkan dalam pemanfaatan air
sesuai dengan yang diperuntukannya. Pengelompokan kualitas air dibagi menjadi empat
golongan menurut peruntukannya dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 20 Tahun 1990,
pembagian tersebut sebagai berikut :
a. Golongan A : air dapat digunakan sebagai air minum secara langsung, tanpa
pengolahan terlebih dahulu.
b. Golongan B : air dapat digunakan sebagai air baku air minum.
c. Golongan C : air dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan.
d. Golongan D : air dapat digunakan untuk keperluan pertanian, usaha di perkotaan,
industri, dan pembangkit listrik tenaga air.
Kualitas air dalam hal ini mencakup keadaan fisik dan kimia yang dapat mempengaruhi
ketersediaan air untuk kehidupan manusia pertanian, industri, rekreasi dan pemanfaatan air
lainnya, (Asdak :1995). Dalam Peraturan Pemerintah RI No 82 tahun 2001,kualitas air
ditetapkan melalui pengujian karakteristik fisika dan karakteristik kimia.
Berdasarkan Karakteristik Fisika
1. Total dissolved solid (TDS) Tubuh kita terdiri dari 80% air, maka air memiliki
peranan yang sangat penting untuk menjaga kesehatan. Banyak diantara kita hanya
mengetahui bahwa air yang layak konsumsi adalah air yang bebas bakteri dan virus,
pada hal kualitas air yang layak konsumsi adalah lebih dari itu. Salah satu factor yang
sangat penting dan menentukan bahwa air yang layak konsumsi adalah kandungan
Total Dissolved Solid (TDS) atau kandungan unsur mineral dalam air. Menurut
standart Organisasi Kesehatan Dunia Word Healt Organisatiton ( WHO ), air minum
yang layak dikonsumsi memiliki kadar TDS < 100 ppm (parts per million), sedangkan
menurut DEPKES RI melalui PERMENKES: 492/Menkes/Per/ IV/2010, standar
TDS maksimum yang diperbolehkan adalah 500 mg/liter.
2. Suhu
Secara umum, kenaikan suhu perairan akan mengakibatkan kenaikan aktifitas biologi
sehingga akan membentuk O2 lebih banyak lagi. Kenaikan suhu perairan secara
alamiah biasanya disebabkan oleh aktifitas penebangan vegetasi disekitar sumber air
tersebut, sehingga menyebabkan banyaknya cahaya matahari yang masuk tersebut
mempengaruhi akuifer yang ada secara langsung atau tidak langsung.
3. Daya Hantar Listrik (DHL)
Konduktivitas air bergantung pada jumlah ion-ion terlarut per volumenya dan
mobilitas ion-ion tersebut. Satuannya adalah (mho/cm, 250C). Konduktivitas
bertambah dengan jumlah yang sama dengan bertambahnya salinitas. Secara umum,
factor yang lebih dominan dalam perubahan konduktivitas air adalah temperatur.

Untuk mengukur konduktivitas digunakan konduktivitimeter. Berdasarkan nilai DHL,


jenis air juga dapat dibedakan melalui nilai pengukuran daya hantar listrik dalam
mho/cm pada suhu 250C menunjukkan klasifikasi air sebagai berikut:
Tabel 2.1. Klasifikasi air berdasarkan Daya Hantar Listrik (DHL)

Berdasarkan batas konduktivitas listrik klasifikasi intrusi air laut dapat juga
dibedakan yaitu sebagai berikut:
Tabel 2.2. Klasifikasi intrusi air laut berdasarkan konduktivitas listrik

4. Bau dan rasa


Air yang baik idealnya tidak berbau dan tidak berasa. Bau air dapat ditimbulkan oleh
pembusukan zat organik seperti bakteri serta kemungkinan akibat tidak langsung
terutama sistim sanitasi, sedangkan rasa asin disebabkan adanya garam-garam tertentu
larut dalam air, dan rasa asam diakibatkan adanya asam organik maupun asam
anorganik.
5. Kekeruhaan
Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan organik dan anorganik,
kekeruhan juga dapat mewakili warna. Sedang dari segi estetika kekeruhan air
dihubungkan dengan kemungkinan hadirnya pencemaran melalui buangan dan warna
air tergantung pada warna air yang memasuki badan air.
Berdasarkan Karakteristik Kimia
1. Klorida (Cl)
Klorida adalah merupakan anion pembentuk Natrium Klorida yang menyebabkan
rasa asin dalam air bersih (air sumur). Kadar klorida pada sampel air dengan
menggunakan metode Argentometri di dapatkan nilai kadar klorida 9,10 mg/liter
dan telah memenuhi persyaratan kualitas air minum. Sesuai dengan
PERMENKES RI No. 492/Menkes/Per/ IV/2010, sebagaimana kadar maksimal
klorida yang diperbolehkan untuk air minum adalah 250 mg/liter.

2. Derajat Keasaman ( pH )
Penting dalam proses penjernihan air karena keasaman air pada umumnya
disebabkan gas oksida yang larut dalam air terutama karbondioksida. Pengaruh
yang menyangkut aspek kesehatan dari pada penyimpangan standar kualitas air
minum dalam hal pH yang lebih kecil 6,5 dan lebih besar dari 9,2 akan tetapi
dapat menyebabkan beberapa senyawa kimia berubah menjadi racun yang sangat
menggangu kesehatan.
3. Kesadahan
Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya
Ion Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah
juga merupakan air yang memiliki kadar mineral yang tinggi. Air dengan
kesadahan yang tinggi memerlukan sabun lebih banyak sebelum terbentuk busa
(Mestati, 2007).

2.2 Filtrasi
Filtrasi merupakan proses pemisahan padatan dan cairan dan suatu campuran padatan
cairan (slurry) dengan pemberian tahanan aliran (filter media) yang bisa dilewati cairan,
tetapi bisa menahan partikel. Untuk semua proses filtrasi, umpan mengalir disebabkan adanya
tenaga dorong berupa beda tekanan, sebagai contoh adalah akibat gravitasi atau tenaga putar.
Secara umum filtrasi dilakukan bila jumlah padatan dalam suspensi relatif lebih kecil
dibandingkan zat cairnya
Filtrasi adalah proses penyaringan air melalui media pasir atau bahan sejenis untuk
memisahkan partikel flok atau gumpalan yang tidak dapat mengendap, agar diperoleh air
yang jernih. Penyaringan adalah pengurangan lumpur tercampur dan partikel koloid dari air
limbah dengan melewatkan pada media yang porous. Kedalaman penyaringan menentukan
derajat kebersihan air yang disaringnya pada pengolahan air untuk minum. Mekanisme yang
dilalui pada filtrasi:
a. Air mengalir melalui penyaring glanular
b. Partikel-partikel tertahan di media penyaring
c. Terjadi reaksi-reaksi kimia dan biologis (Sutrisno, 2009).

Media filter pada umumnya berupa pasir silika, zeolit, dan karbon aktif yang dalam
penggunaannya dapat ditempatkan secara terpisah atau digabung. Ukuran media filter
sangatlah berpengaruh, semakin kecil ukuran partikel proses filtrasi semakin baik (air yang
dihasilkan semakin jernih).
Pada saat pengoperasian, fluida dialirkan dari atas tangki kebawah mellui kolom
berisi media filter sehingga fluida yang keluar dari filter mempunyai kualitas relatif lebih
jernih dibandngkan dengan sebelum melewati media filter. Pada suatu saat, media filter akan
mengalami kejenuhn sehingga diperlukan adanya regenerasi berupa backwash.
2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi proses filtrasi
Dalam proses filtrasi, terjadi proses kimia dan fisika sehingga banyak faktor yang
saling berkaitan yang akan mempengaruhi kualitas air hasil filtrasi, efisiensi, dan sebagainya.
Faktorfaktor tersebut adalah:
a) Debit Filtrasi
Debit yang terlalu besar ketika melewati rongga diantara butiran media pasir
akan menyebabkan fungsi filter tidak efisien sehingga proses filtrasi tidak terjadi
dengan sempurna. Hal ini menyebabkan berkurangnya waktu kontak antara permukaan
butiran media penyaring dengan air yang akan disaring sehingga partikelpartikel yang
terlalu halus tidak dapat tersaring.
b) Konsentrasi Kekeruhan
Konsentrasi kekeruhan

sangat

mempengaruhi

efisiensi.

Konsentrasi

kekeruhan air baku yang sangat tinggi akan menyebabkan tersumbatnya lubang pori
dari media penyaring sehingga dalam melakukan filtrasi harus ditetapkan batas
konsentrasi kekeruhan dari air baku (konsentrasi air influen) yang akan diproses. Jika
konsentrasi kekeruhan terlalu tinggi, maka harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu
seperti proses koagulasi flokulasi dan sedimentasi.
c) Temperatur
Adanya perubahan temperatur dari air yang akan difiltrasi menyebabkan
massa jenis, viskositas absolut dan viskositas kinematis dari air akan mengalami
perubahan. Selain itu akan mempengaruhi daya tarik menarik antara partikel halus
penyebab kekeruhan sehingga terjadi perbedaan ukuran partikel yang akan disaring.
Hal ini akan mempengaruhi daya adsorpsi dan efisiensi daya saring filter.
d) Kedalaman Media, Ukuran, dan Jenis Material
Pemilihan media dan ukuran material filter merupakan hal yang sangat
penting. Tebal media akan menentukan lamanya pengaliran dan daya saring. Media
yang terlalu tebal mempunyai daya saring yang sangat tinggi, tetapi membutuhkan

waktu pengaliran yang lama. Media yang terlalu tebal tidak menguntungkan dari segi
ekonomis.
Media yang terlalu tipis memiliki waktu pengaliran yang pendek, tetapi
sebagian besar memiliki daya saring yang rendah.
Ukuran diameter butiran media filtrasi akan mempengaruhi porositas, laju
filtrasi dan kemampuan daya saring. Media yang terlalu kasar atau terlalu halus akan
menimbulkan variasi dalam ukuran rongga antar butir.
Ukuran pori menentukan tingkat porositas dan kemampuan menyaring
partikel halus yang terdapat dalam air baku. Lubang pori yang terlalu besar akan
meningkatkan rate dari filtrasi serta menyebabkan lolosnya partikelpartikel halus yang
akan disaring. Sebaliknya, lubang pori yang terlalu halus akan meningkatkan
kemampuan menyaring partikel dan juga dapat menyebabkan clogging (penyumbatan
lubang pori oleh partikelpartikel halus yang tertahan) yang terlalu cepat.
e) Tinggi Muka Air Di Atas Media dan Kehilangan Tekanan
Keadaan tinggi muka air di atas media berpengaruh terhadap besarnya debit
atau laju filtrasi dalam media. Tersedianya muka air yang cukup tinggi diatas media
akan meningkatkan daya tekan air untuk masuk kedalam pori. Dengan muka air yang
tinggi akan meningkatkan laju filtrasi (bila filter dalam keadaan bersih). Muka air diatas
media akan naik bila lubang pori tersumbat (terjadi clogging) terjadi pada saat filter
dalam keadaan kotor.
Untuk melewati lubang pori, dibutuhkan aliran yang memiliki tekanan yang
cukup. Besarnya tekanan air yang ada diatas media dengan yang ada didasar media
akan berbeda di saat proses filtrasi berlangsung. Perbedaan ini disebut dengan
kehilangan tekanan (headloss). Kehilangan tekanan akan meningkat atau bertambah
besar pada saat filter semakin kotor atau telah dioperasikan selama beberapa waktu.
Friksi akan semakin besar bila kehilangan tekanan bertambah besar yang diakibatkan
semakin kecilnya lubang pori (tersumbat) sehingga terjadi clogging.

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
No

Alat

Bahan

Turbidi-meter

Air Sungai Cibeureum, Ciwaruga

TDS-meter

Media Filter : Pasir Kwarsa

pH-meter

Gelas Ukur 100 mL

Gelas Kimia 250 mL

Wadah Penampung (Ember)

3.2 Skema Peralatan Filtrasi

Gambar 3.1. Skema bak umpan dalam peralatan filtasi

Gambar 3.2. Skema media filter dalam peralatan filtasi

Gambar 3.3 Skema peralatan filtasi

3.3 Cara Kerja


Tangki umpan diisi dengan air baku (air sungai) sebanyak 16 Liter

Katup untuk proses sirkulasi dan keluaran (efluen) diposisikan


dalam keadaan terbuka

Katup pada bagian bawah dibuka (kalibrasi laju alir)

Semua katup dipastikan dalam keadaan terbuka (kecuali katup untuk kalibrasi
laju alir), kemudian RUN

Volume filtrat (efluen) dukur dan dilakukan pengecekan TDS dan Kekeruhan tiap
5 menit

Pengambilan data (sampling) dihentikan saat konsentrasi efluien


mulai meningkat

Bukaan katup diatur kembali (variasi laju alir)

Dilakukan pengambilan data TDS dan Kekeruhan pada efluen

Dibuat kurva hubungan antara volum efluen terhadap konsentrasi efluen

Dari data yang diperoleh, ditentukan laju alir optimum dan dihitung efisiensi
penurunan konsentrasi serta kapasitas penurunan konsentrasi terhadap
volume media filter

3.4 Data Pengamatan


Panjang bak filtrasi : 0,655 m
Lebar bak filtrasi

: 0,25m

Tinggi bak filtrasi

: 0,28 m

Tinggi media filter : 0,135 m


Debit air
: 423 ml/menit
TDS awal
: 278 mg/L
Kekeruhan awal
: 22.31 NTU
pH awal
: 7.64
volume air umpan : 20 Liter
Tabel 3.1 data pengamatan kekeruhan,TDS, dan volume filtrate terhadap waktu
No Waktu
Kekeruhan
Konsentrasi, TDS Volume filtrat
(menit)
(NTU)
(mg/L)
(ml)
1
0
22.31
278
0
2
5
16.98
203
160
3
10
15.74
202
145
4
15
15.5
201
138
5
20
15.44
199
156
6
25
15.36
199
164
7
35
12.16
202
260
8
40
5.78
183
150
9
45
5.38
198
156
10
50
5.67
203
160
11
55
4.66
206
225
12
60
4.18
209
215
13
65
5.17
212
190
14
70
3.81
214
195
Rata rata
10.58143
22.31
165.2857

BAB 4
PENGOLAHAN DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengolahan Data
Tabel 4.1 Persen penurunan konsentrasi TDS dan kekeruhan

No

Waktu (menit)

% Penurunan
kekeruhan

% Penurunan TDS

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

0
5
10
15
20
25
35
40
45
50
55
60
65
70

0
23.89063
29.44868
30.52443
30.79337
31.15195
45.49529
74.09234
75.88525
74.58539
79.11251
81.26401
76.82654
82.92246

0
26.97842
27.33813
27.69784
28.41727
28.41727
27.33813
34.17266
28.77698
26.97842
25.89928
24.82014
23.74101
23.02158

TDS

Grafik hubungan TDS terhadap waktu


300
250
200
TDS ( mg/L )

150
100
50
0
0

10

20

30

40

50

60

70

waktu ( menit )

Grafik 4.1 grafik hubungan nilai TDS terhadap waktu

80

Grafik hubungan effisiensi penurunan TDS terhadap waktu


40
30
effisiensi ( % )

20
10
0
0

10 20 30 40 50 60 70 80
waktu(menit)

Grafik 4.2 grafik hubungan effisiensi penurunan TDS terhadap waktu


Kapasitas penurunan konsentrasi nilai TDS terhadap volume media filter
sebesar 0.010053 kg padatan/m3 media filter

Kekeruhan

Grafik hubungan kekeruhan terhadap waktu


25
20
15
Kekeruhan ( NTU) 10
5
0
0

10

20

30

40

50

60

70

80

waktu (menit)

Grafik 4.3 grafik hubungan nilai kekeruhan terhadap waktu

Grafik hubungan effisiensi penurunan kekeruhan terhadap waktu


100
80
60
effisiensi (%) 40
20
0
0

10 20 30 40 50 60 70 80
waktu(menit)

Grafik 4.4 grafik hubungan antara effisiensi penurunan kekeruhan terhadap waktu
4.2 Pembahasan
Berdasarkan grafik hubungan TDS terhadap waktu (grafik 4.1) terjadi penurunan nilai
TDS seiring berjalannya waktu filtrasi, hal ini dikarenakan adanya partikel atau padatan
tersuspensi dalam air yang tertahan oleh media filter. Proses penurunan nilai TDS terjadi
sampai menit ke-40 dan terjadi kenaikan pada menit ke-45. Hal ini bisa dikarenakan media
filter sudah banyak terlapisi oleh padatan yang tertahan yang membuat media filter menjadi
jenuh yang menyebabkan proses filtasi pada menit 45 sampai 60 tidak berjalan baik. Waktu
optimum penurunan nilai TDS pada proses filtasi terjadi pada menit ke-40 dengan effisiensi
penurunan TDS terbesar yaitu 34,317 %.
Berdasarkan grafik hubungan nilai kekeruhan terhadap waktu (grafik 4.3) terjadi
penurunan nilai kekeruhan seiring berjalannya waktu filtrasi, hal ini dikarenakan adanya
partikel padatan yang tertahan oleh media filter yang menyebabkan warna air menjadi bening
sehingga nilai kekeruhan menjadi kecil. Waktu optimum penurunan nilai kekeruhan terjadi
pada menit ke 70 yaitu sebesar 82.922 %.
Nilai kapasitas penurunan TDS terhadap media filter sebesar 0.010053 kg padatan/m3
volume media filter.

BAB 5
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan data pengamatan dan perhitungan yang diperoleh dari air baku berupa air
sungai Cibeureum, Ciwaruga, pada kondisi operasi :
Temperatur

: 25C

Tekanan

: 1 atm

pH air

: 7.64

Laju alir

: 423 mL/menit

maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:


-

Efisiensi penurunan TDS proses filtrasi sebesar 34,317 % pada menit ke 40


Efisiensi penurunan kekeruhan proses filtrasi sebesar 82,922 % pada menit ke 70
- Kapasitas penurunan konsentrasi TDS terhadap volume media filter sebesar 0.010053
kg padatan/m3 media filter.

DAFTAR PUSTAKA
Asdak, C .1995, Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Gadjah Mada
University Press : Yogyakarta.
Davis, S.N. dan Wiest, R.J.M.1996. Hydrogeology. New York: Jhon Willey & Sons, Inc.
Mestati. 2007. Telaah Kualitas Air, Cetakan ke-5. Jakarta: Penerbit Kanisius.
Suripin, M.Eng. 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air.Yogyakarta: Penerbit Andi
Sutrisno, Totok, dkk. 1987. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta
Karakteristik Air. Universitas Sumatra Utara. Diakses pada 11 September 2016
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28755/4/Chapter%20II.pdf
Elisa. Filtrasi dan Perancangan Filter. Universitas Gadjah Mada Diakses pada 11
September 2016 http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download

LAMPIRAN
Perhitungan

Penurunan optimumkekeruhan
Penurunan kekruhan=

kekeruhan awalkekeruhan akhir


100
kekeruhan awal

22.313,81
100
22,31

82.92

Penurunan optimumTDS

Penurunan TDS=

TDS awalTDS akhir


100
TDS awal

278183
100
278

34.17

Kapasitas penurunan konsentrasi TDS terhadap volume media filter

TDS awalTDS akhir


volume filtrat
Volume media filter

278183
1.173 L
9,45

0.010053 kg/m3