Anda di halaman 1dari 18

GAMBARAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING

MANTAN NARAPIDANA
Azani
Fakultas Psikologi, Universitas Ahmad Dahlan
Jalan Kapas 9, Semaki Yogyakarta 55166

Abstract
This study aims to describe the dimensions of psychological well-being of
former inmates. Study was conducted in one of the areas in Yogyakarta Special
Province, the City of Yogyakarta. The approach used in this study is a case
study. The method of data collection used interviews and observations. The
subjects of this study are 3 participants. The data analysis that used in this
study is content analysis. Based on the research, subject A has not shown self
acceptance dimension, but on the subject of B and C have shown the existence
of self-acceptance, when the subject was shown a positive relationships with
others, the dimensions of autonomy has not been demonstrated by the three
subjects, the subjects A and B has not shows the dimensions of environmental
mastery, but the subject of C have shown these dimensions, three subjects
have shown the dimension of interest, and three subjects has also shown the
dimension of personal growth.
Keywords : psychological well being, ex-convict

Abstrak
Penelitian ini bertujan untuk mengetahui gambaran dimensi-dimensi
psychological well-being mantan narapidana. Penelitian dilaksanakan di salah
satu wilayah di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Kota Yogyakarta.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Metode
pengambilan data dengan menggunakan wawancara dan observasi. Subjek
penelitian berjumlah 3 orang. Adapun analisis data yang digunakan adalah
analisis isi.
Berdasarkan hasil penelitian subyek A belum menunjukan adanya dimensi
penerimaan diri, namun pada subyek B dan C telah menunjukan adanya
penerimaan diri, ketika subyek sudah menunjukan adanya dimensi hubungan
positif dengan orang lain, dimensi otonomi belum ditunjukan oleh ketiga subyek,
pada subyek A dan B belum menunjukan adanya dimensi penguasaan
lingkungan, namun subyek C telah menunjukan dimensi tersebut, ketiga subyek
telah menunjukan adanya dimensi tujuan, serta ketiga subyek juga telah
menunjukan adanya dimensi pertumbuhan pribadi.
Kata kunci : psychological well being, mantan narapidana

EMPATHY Vol.I No.1 Desember 2012

PENDAHULUAN
Manusia selain makhluk sosial juga merupakan makhluk individual yang bebas terlepas
dari paksaan fisik, orang yang tidak dirampas hak-haknya, orang yang terlepas dari tekanan
batin atau psikis, dan orang yang terlepas dari paksaan moral. Kebebasan manusia bukanlah
kebebasan yang mutlak tetapi kebebasan yang bertanggungjawab (Bertens, 1993). Kebebasan
manusia memiliki batasan-batasan, seperti faktor dari luar dan faktor dari dalam. Faktor yang
membatasi kebebasan manusia dari luar adalah lingkungan dan pendidikan, sedangkan faktor
yang membatasi dari dalam adalah bakat serta kemampuan. Kebebasan manusia juga memiliki
aturan dalam berbagai norma,seperti norma kesopanan, norma etiket, norma sosial, norma moral,
norma agama, norma adat istiadat dan norma hukum.
Setiap manusia yang melanggar aturan dari norma sosial, akan mendapat sanksi sosial dari
masyarakat, misalnya diasingkan dalam pergaulan sosial. Sedangkan manusia atau dividu yang
melanggar segala peraturan yang terdapat di dalam norma hukum pidana atau norma hukum
yang melindungi kepentingan publik, maka akan diberi sanksi pidana(Bertens, 1993).
Sanksi pidana itu merupakan peraturan yang menentukan perbuatan-perbuatan yang dapat
dihukum dan bentuk hukuman yang dapat diberikan. Pemberian sanksi pidana ini antara lain
bertujuan untuk menyadarkan perilaku menyimpang dari diri pelanggar sehingga pelanggar
menyadari perbuatannya dan memperbaiki kesalahan/dirinya agar dapat lebih bermanfaat dan
dapat diterima kembali dalam masyarakat. Fungsi hukuman adalah diberikan agar individu
menyadari kekeliruannya, lalu ikut merasakan duka nestapa yang dirasakan sebagai akibat
dari perbuatannya. Jadi, dalampemberian hukuman itu tergantungdari tujuan etis (moril, susila,
baik, buruk) (Kartono, 1992). Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa hukuman sebagai
alat untuk mewujudkan keadilan sosial lahir batin sehingga hukuman dapat memaksa agar peraturan
ditaati dan siapa yang melanggar diberi sanksi hukuman.
Seorang pelanggar hukum setelah melewati prosedur pemeriksaan dan telah mendapat
kepastian hukum, maka akan resmi menyandang status sebagai narapidana (Panjaitan dan
Simorangkir, 1995). Menurut UU no. 12 tahun 1995, narapidana adalah terpidana yang menjalani
pidana hilang kebebasan di penjara, sedangkan Wilson (2005) menjelaskan bahwa narapidana
adalah manusia yang bermasalah yang harus dipisahkan dari masyarakat untuk belajar
bermasyarakat dengan baik, dan menurut Harsono (1995) narapidana adalah manusia yang
sedang berada di persimpangan jalan karena harus memilih akan meninggalkan atau tetap pada
perilakunya yang dahulu dan tengah mengalami krisis disosialisasi (merasa takut diasingkan di
dalam masyarakat dan keluarga, tidak mampu bersosialisasi dengan baik akibat rasa minder dan
putus harapan).
Di Indonesia hukuman penjara saat ini menganut falsafah pembinaan narapidana yang dikenal
dengan nama pemasyarakatan, dan istilah penjara telah diubah menjadi Lembaga Pemasyarakatan
(LP). Lembaga pemasyarakatan berfungsi sebagai wadah pembinaan untuk melenyapkan sifatsifat jahat melalui pendidikan pemasyarakatan.
ini berarti kebijaksanaan dalam perlakuan terhadap narapidana yang bersifat mengayomi
masyarakat dari gangguan kejahatan sekaligus mengayomi para narapidana dan memberi bekal
hidup narapidana setelah narapidana kembali ke masyarakat (Saheroji, 1980). Karena secara
tidak langsung kondisi disebuah Lembaga Pemasyarakatan sangatlah berbeda jauh dengan kondisi
yang ada di lingkungan masyarakat. Narapidana yang telah masuk menghuni Lembaga
Pemasyarakatan akan mendapatkan stereotip buruk dari masyarakat, selain itu kondisi yang
penuh tekanan juga dapat mempengaruhi kondisi mental narapidana.
Narapidana selama berada dalam penjara, mendapatkan pembinaan agar kelak dapat

Azani

berfungsi secara layak di tengah masyarakat. Sehingga narapidana dapat menerima kenyataan,
dan dapat mengembangkan kesadaran diri, berfikir positif, memiliki kemandirian dan mempunyai
kemampuan untuk memiliki serta mencapai segala sesuatu yang diinginkan (Anthony, 1991).
Dengan kata lain proses pembinaan pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan selain untuk
mendidik dan mengembangkan serta membekali keterampilan pada narapidana, juga dapat
berfungsi sebagai sarana untuk membentuk sikap dan mental yang positif pada narapidana.
Kebebasan merupakan proses yang paling ditunggu oleh narapidana yang sedang menjalani
masa hukuman. Narapidana akan dikembalikan ke lingkungan masyarakat dan kembali berkumpul
dengan sanak keluarga serta dapat kembali berinteraksi dengan masyarakat. Narapidana bisa
kembali menghirup udara segar diluar dinding penjara dan bisa kembali berekspresi serta hidup
bebas tanpa aturan yang mengikat seperti pada saat menjalani hukuman penjara.
Angan-angan indah dari setiap narapidana (napi) untuk dapat menghirup udara segar di
luar penjara, kembali dan hidup di tengah masyarakat bersama keluarga, sahabat, dan bergaul
dengan anggota masyarakat yang lain, terkadang tidak semulus seperti yang terlintas dalam benak
mereka, karena predikat bekas narapidana ibarat beban yang amat berat, penuh tantangan dan
pandangan penuh curiga dari masyarakat.
Hal ini senada dengan pendapat Kurniawan (2008) yang mengatakan bahwa mantan
narapidana sering kesulitan kembali ke tengah masyarakat karena predikat negatif narapidana.
Sikap penolakan sebagian masyarakat terhadap para mantan napi terkadang membuat mereka
merasa diperlakukan tidak manusiawi.
Yudobusono (1995) mengatakan adanya penilaian negatif tentang mantan narapidana
dikarenakan banyaknya narapidana yang mengulangi kesalahannya berulang kali, sehingga
membuat masyarakat memandang rendah dan negatif pada mereka, namun demikian di samping
adanya pandangan negatif dari masyarakat, dari mantan narapidana sendiri juga terjadi rasa
rendah diri dan juga adanya hambatan-hambatan psikologis untuk terjun di tengah masyarakat.
Hal itu kemudian juga memberi pengaruh tertentu pada kebahagiaan yang dimiliki.
Proses sosialisasi mantan narapidana dari lembaga pemasyarakatan menuju masyarakat
yang sesungguhnya sangat sulit dilakukan karena adanya stereotip tersebut. Padahal jelas,
masyarakat mempunyai peran yang sangat berarti dalam proses sosialisasi. Banyak narapidana
yang telah bebas kehilangan jati diri, hal ini ditandai dengan sikap tertutup, acuh tak acuh, sinis
dan antisosial (Susilo, 1985).
Pendapat ini didukung oleh Fattah (2008), yang mengatakan bahwa sebagian individu
seringkali dirundung rasa curiga dan rasa tidak percaya diri sehingga tidak berani menyampaikan
berbagai gejolak atau pun emosi yang ada di dalam dirinya kepada orang lain, apalagi jika
menyangkut hal-hal yang dianggapnya tidak baik untuk diketahui orang lain. Oleh karena itu
mantan narapidana sering kesulitan kembali ke tengah masyarakat. Sikap penolakan seperti
mengucilkan pada sebagian masyarakat terhadap para mantan napi sering membuat mereka
merasa diperlakukan tidak manusiawi. Demikian pula faktor internal dari dalam diri mantan napi,
seperti rasa tidak percaya diri dan rasa rendah diri.Haltersebut mempengaruhi psychological
well-being pada mantannarapidana.
Ryff (Palupi, 2008)menyatakan bahwa psychological well-being adalah suatu keadan
dimana individu dapat menerima kekuatan dan kelemahan diri sebagaimana adanya, memiliki
hubungan positif dengan orang lain, mampu mengarahkan perilakunya sendiri, mampu
mengembangkan potensi diri secara berkelanjutan, mampu menguasai lingkungan, serta memiliki
tujuan dalam hidupnya.
Dari uraian diatas peneliti tertarik untuk melihat gambaran psychological well-being mantan
narapidana yang ingin berinteraksi kembali kemasyarakat.Untuk mendapatkan gambaran

EMPATHY Vol.I No.1 Desember 2012

kesejahteraan psikologis mantan narapidana, dalam penelitian ini peneliti menggunakan konsep
psychological well-being yang dibuat oleh Ryff (1989), yang terbagi ke dalam enam dimensi,
yaitu: penerimaan diri, hubungan yang positif dengan orang lain, penguasaan lingkungan, otonomi,
tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Penelitian ini akan melihat bagaimana gambaran
psychological well-being mantan narapidana yang telah kembali ke lingkungan masyarakat.
Permasalahan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah: bagaimana gambaran enam dimensi
psychological well-being mantan narapidana yang telah kembali di tengah masyarakat? Tujuan
penelitian ini adalah: untuk mengetahui gambaran dimensi-dimensipsychological well-being mantan
narapidana yang telah kembali di tengah masyarakat.
1. Pengertian Psychological Well-Being
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kesejahteraan psikologi dari
Ryff (1989) yang menyebutkan enam dimensi psychological well-being manusia, yaitu 1)
dimensi penerimaan diri yang mengacu pada bagaimana individu menerima diri, 2) dimensi
hubungan positif dengan orang lain yang mengacu pada bagaimana individu membina hubungan
yang baik dan saling percaya dengan orang lain, 3) dimensi penguasan lingkungan yang
mengacu pada bagaimana kemampuan invididu yang menghadapai hal-hal dilingkungan, 4)
dimensi otonomi yang mengacu pada kemampuan individu untuk lepas dari pengaruh orang
lain dalam menilai dan memutuskan segala sesuatu, 5) tujuan hidup yang mengacu pada halhal yang dianggap penting dan ingin dicapai individu dalam kehidupan, 6) dimensi pertumbuhan
pribadi bagaimana individu memandang dirinya berkaitan dengan harkat manusia untuk selalu
tumbuh dan berkembang.
Konsep Ryff (1989) berawal dari adanya keyakinan bahwa kesehatan yang positif
tidak sekedar adanya penyakit fisik saja.Psychological well-being terdiri dari adanya
kebutuhan untuk merasa secara psikologi (psychologicalwell). Menurut Ryff (1989)
gambaran tentang karakteristik orang yang memiliki kesejahteran psikologi menunjuk pada
pandangan Rogerstentang orang yang berfungsi penuh (fully-functioning person). Pandangan
Maslow tentang aktualisasi diri (self-actualization), pandangan Jung tentang individuasi,
konsep Alport tentang kematangan. Juga sesuai dengan konsep Erikson dalam
menggambarkan invdividu yang mencapai integrasi dibanding putus asa. Konsep Neugarten
tentang kepuasan hidup, serta kriteria positif tentang orang yang bermental sehat yang
dikemukan Johada.
Dari beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa psychological wellbeing (kesejahteran psikologis) adalah kondisi individu yang ditandai dengan adanya perasaan
bahagia, mempunyai kepuasan hidup dan tidak ada gejala-gejala depresi. Kondisi tersebut
dipengaruhi adanya fungsi psikologis yang positif seperti peneriman diri, relasi sosial yang
positif, mempunyai tujuan hidup, perkembangan pribadi, penguasan lingkungan dan otonomi.
2. Dimensi-dimensi Psychological Well-Being
Ryff dan Singer (2006) mengemukakan enam dimensi dari psychological well-being
yaitu:
a) Penerimaan diri (self-acceptance)
Penerimaan diri merupakan salah satu karakter dari individu yang
mengaktualisasikan dirinya dimana mereka dapat menerima dirinya apa adanya,
memberikan penilaian yang tinggi pada individualitas dan keunikan diri sendiri.

Azani

b) Hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others)


Dimensi penting lain dari psychological well-being adalah kemampuan individu
untuk membina hubungan yang hangat dengan orang lain.
c) Otonomi (autonomy)
Dimensi otonomi menyangkut kemampuan untuk menentukan nasib sendiri (selfdetermination), bebas dan memiliki kemampuan untuk mengatur perilaku sendiri.
d) Penguasaan lingkungan (enviromental mastery)
Kemampuan individu untuk memilih, menciptakan dan mengelola lingkungan agar
sesuai dengan kondisi psikologisnya dalam rangka mengembangkan diri.
e) Tujuan hidup (purpose in life)
Adanya tujuan hidup yang jelas merupakan bagian penting dari karakteristik individu
yang memiliki psychological well-being.
f) Pertumbuhan pribadi (personal growth)
Bagaimana individu memandang dirinya berkaitan dengan harkat manusia untuk
selalu tumbuh dan berkembang.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi psychological well-being
Melalui berbagai penelitian yang dilakukan Ryff & Singer (2006), menemukan bahwa
faktor-faktor demografis seperti usia, jenis kelamin,status sosial ekonomi dan budaya
mempengaruhi perkembangan psychological well-being seseorang.
4. Mantan Narapidana
Mantan narapidana adalah orang yang pernah berbuat melanggar norma-norma yang
berlaku di masyarakat dan telah selesai menjalani hukuman yang dijatuhkan
kepadanya(Yudobusono,1995).Menurut UUNo.8Tahun 1981 tentang Hukum Acara
Pidana(1982),terpidana adalah seseorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan
yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.Sedangkan narapidana adalah terpidana yang
menjadi pidana hilang kemerdekaan di lembaga pemasyarakatan.
Dalam penjelasan pasal2 RUU Tahun 1996 tentang ketentuan pokok pemasyarakatan
dijelaskan bahwa mantan narapidana adalah seseorang yang pernah merugikan pihak
lain,kurang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap Tuhan dan masyarakat serta tidak
menghormati hukum, namun telah mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada hokum
(Soedjono, 1972).
Admin(2007) mengatakan bahwa mantan narapidana adalah seseorang yang pernah
ditahan karena diduga keras melakukankejahatan,karenanya untuk sementara dia
dimasukkan ke dalam tahanan untuk kepentingan penyelidikan dan pemeriksaan dari perkara
yang disangkakan kepadanya.
Menurut KUHP pasal 10 (KUHAP dan KUHP, 2002) narapidana adalah predikat
lazim diberikan kepada orang yang terhadapnya dikenakan pidana hilang kemerdekaan,
yakni hukuman penjara (kurungan). Salim, dkk (1991) mengemukakan narapidana
didefinisikan sebagai orang yang dipenjara karena tindak pidana, sedangkan mantan
narapidana adalah orang yang pernah dipenjara karena tindak pidana namun masa tahanannya
telah berakhir.
Berdasarkan dari beberapa definisi yang telah disebutkan di atas maka dapat
disimpulkan bahwa mantan narapidana adalah seseorang yang pernah dihukum dan menjalani

EMPATHY Vol.I No.1 Desember 2012

hukuman di lembaga pemasyarakatan namun sekarang sudah selesai menjalani masa hukuman
di lembaga pemasyarakatan, berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif.Menurut Creswell
(2008),penelitian kualitatif adalah suatu penyelidikan untuk memahami sesuatu hal, menggunakan
tradisi metodologi penyelidikan yang mengeksplorasi problem manusia atau problem sosial. Peneliti
mengembangkan suatu gambaran keseluruhan yang kompleks, menganalisis kata-kata, melaporkan
pandangan informan secara detil,danmelakukan studi itu dalam seting yang natural.
Menurut Strauss (Yash, 2002), penelitian kualitatif juga dimaksudkan sebagai penelitian
apapun yang menghasilkan penemuan-penemuan bukan sebagai hasil dari prosedur-prosedur
statistik atau bentuk kuantifikasi yang lain.Beberapa data yang ada mungkin bernilai data
sensus,tetapi analisisnya itu sendiri merupakan analisis kualitatif.
Metode kualitatif mencantumkan beberapa pendekatan yang bisa digunakan dalam
penelitian. Pendekatan yang digunakan dalam penelitianini adalah studi kasus. Studi kasus
merupakan salah satu pendekatan penelitian yang menekankan penelitian akan kasus tertentu.
Menurut Salim (Muhadjir, 2002), studi kasus berarti metode atau strategi dalam penelitian sebuah
kasus tertentu. Studi kasus adalah suatu pendekatan untuk mempelajari, menerangkan, atau
menginterpretasikan suatu kasus dalam konteksnya secara natural tanpa ada intervensi pihak
luar. Peneliti dengan pendekatan studi kasus harus mampu untuk melihat secara mendalam dan
menyeluruh terhadap suatu kasus yang diteliti.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan analisis isi(content
analysis).Holsti (Moleong, 2007) menyatakan bahwa analisis isi adalah teknik apapun yang
digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik pesan, dan dilakukan
secara objektif dan sistematis. Jadi dalam hal ini analisis isi dilakukan guna menemukan makna
inti dari tiap uraian informasi yang didapat.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Snowball Sampling
dan sampling kriteria.Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula
jumlahnya kecil, kemudian sampel ini diminta memilih teman-temannya untuk dijadikan
sampel(Sugiyono, 2001).Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar.
Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi apabila dengan dua
orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain
yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang
sebelumnya.Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin bertambah sampai mengkristal
yang berarti sampel sudah cukup dan tidak bertambah lagi.
Adapun kriteria responden yang dijadikan subyek penelitian adalah:(a)Laki-Laki, (b) Berusia
diatas 20 tahun, (c)merupakan mantan narapidana.
Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam.Dalam penelitian ini,
digunakan wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur merupakan wawancara
yang sudah dipersiapkan, akan tetapi memberikan keleluasaan untuk menerangkan jawaban
dengan agak panjang(Sugiyono, 2001). Observasi dilakukan melalui pengamatan awal dan terjun
langsung bersama masyarakat lokal. Observasi partisipan memungkinkan menemukan sumber
utama dari aktifitas masyarakat yang valid terhadap situasi sosial(Sugiyono, 2001).
Dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi.Peneliti beralasan,penggunaan triangulasi
dapat mendorong peneliti untukmelihat dengan lebih tajam hubungan antara berbagai data untuk
mencegah kesalahan dalam analisis data. Menurut Nasution (Yash,2002)dengan triangulasi dapat

Azani

ditemukan perbedaan informasi yang justru dapat merangsang pemikiran yang lebih mendalam.
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan triangulasi dengan wawancara terhadap informan
pendukung yaitu orang-orang terdekat, yaitu ibu dan istri subjek.Untuk mendapatkan pemahaman
terhadap aspek-aspek yang diperoleh dari wawancara.
HASIL PENELITIAN
1. Subyek A (26 tahun, laki-laki)
a. Hasil Observasi
Selama pertemuan pertama tersebut, A terlihat sebagai individu yang pendiam,
tidak banyak kata-kata yang dilontarkannya. Jika A tidak diajak berbicara, matanya
sesekali menerawang. A sangat jarang sekali mengawali pembicaraan, namun ketika
ditanya tentang aktivitasnya sehari-hari, A langsung merespon dan menjawab setiap
pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
Selama berlangsungnya wawancara. A sangat antusias dalam menjawab pertanyaan
yang berhubungan dengan kehidupan pribadi terutama tentang keluarganya, A
menunjukkan sikap tegar dan terlihat ekspresi muka sedih. Wawancara berlangsung
secara lancar, tidak ada hambatan yang berarti ketika wawancara berlangsung.
b. Hasil Wawancara
1) Dimensi penerimaan diri
Pada Subyek A merasa dirinya hina dan telah bersalah mempermalukan nama
baik keluarga dimata masyarakat.Dengan demikian subyek A belum menunjukan
adanya dimensi penerimaan diri.
2) Dimensi hubungan positif dengan orang lain
Meskipun pada awalnya masih sulit untuk berintegrasi dengan masyarakat dan
lingkungan keluarga, namun pada akhirnya masyarakat dan lingkungan keluarga dapat
menerima mereka. Dengan demikian subyek A telah menunjukan adanya dimensi
hubungan positif dengan orang lain.
3) Dimensi otonomi
Dengan demikian subyek A belum menunjukan adanya dimensi otonomi karena
subyek A tidak mampu berperan aktif dalam setiap pengambilan keputusan baik di
lingkungan keluarga maupun masyarakat.
4) Dimensi penguasaan lingkungan
Subyek A belum menunjukan adanya dimensi penguasaan lingkungan terlihat
dari belumnya bekerja subyek sehingga belum merasakan perlakuan di tempat kerja.
Subyek A merasa belum mampu dalam penguasaan lingkungan, masih menutup diri
dan belum berani untuk terjun ke masyarakat.
5) Dimensi tujuan hidup
Subyek A telah menunjukan adanya dimensi tujuan hidup dalam dirinya dilhat
dari tujuan serta impian subyek yang ingin menjadi orang yang lebih baik serta ingin
membahagiakan keluarganya.
6) Dimensi pertumbuhan pribadi
Subyek merasakan potensi dirinya berkembang selama pembinaan di penjara,
sehingga potensi diri tersebut dapat dijadikan bekal mereka untuk menjalani
kehidupan di luar penjara, dengan demikian subyek A telah menunjukan adanya
dimensi pertumbuhan pribadi.

EMPATHY Vol.I No.1 Desember 2012

7) Wawancara dengan D (55 tahun, ibu kandung subyek A)


Pada awalnya sulit bagi orangtua subyek A untuk menerima kenyataan bahwa
anaknya adalah seorang mantan narapidana, namun seiring berjalannya waktu, dia
bisa menerima keberadaan anaknya tersebut.
2. Subyek B (32 tahun, laki-laki)
a. Hasil Observasi
Dari pertemuan pertama B memang sudah terlihat sebagai individu yang lebih
banyak bicara dibandingkan dengan informan 1 yaitu A yang pendiam, B juga terlihat
mudah dan cepat beradaptasi dengan orang yang baru dikenal.
b. Hasil Wawancara
1) Dimensi penerimaan diri
Pertama Subyek B belum menerima keadaan dirinya dipenjara, sehingga
timbulnya penyesalan dari subyek kemudian dengan berjalannya waktu subyek lebih
santai menghadapi kenyataan bahwa dirinya adalah mantan napi. Dengan demikian
subyek B telah menunjukan adanya dimensi penerimaan diri.
2) Dimensi hubungan positif dengan orang lain
Subyek B sudah menunjukan adanya hubungan positif dengan orang lain, pada
awalnya subyek masih sulit untuk berintegrasi dengan masyarakat dan lingkungan
keluarga,namun pada akhirnya masyarakat dan lingkungan keluarga dapat menerima
mereka.
3) Dimensi otonomi
Subyek B belum menunjukan adanya dimensi otonomi karena subyek tidak
mampu berperan aktif dalam setiap pengambilan keputusan baik di lingkungan
keluarga maupun masyarakat.
4) Dimensi penguasaan lingkungan
Subyek B tidak memiliki kepercayaan diri. Subyek merasa malu dan minder
terhadap masyarakat tempat tinggal subyek, sehingga subyek belum menunjukan
dimensi penguasaan lingkungan.
5) Dimensi tujuan hidup
Subyek B telah menunjukan adanya dimensi tujuan karena subyek memiliki
impian serta tujuan dalam hidup.
6) Dimensi pertumbuhan pribadi
Subyek merasakan potensi dirinya berkembang selama pembinaan di penjara
banyaknya bermacam-macam ketrampilan yang didapat, sehingga potensi diri
tersebut dapat dijadikan bekal mereka untuk menjalani kehidupan di luar penjara,
dengan demikian subyek B telah menunjukan adanya dimensi pertumbuhan pribadi.
7) Wawancara dengan E (30 tahun, isteri subyek B)
Meskipun ada perasaan malu memiliki suami mantan narapidana, isteri subyek
B tetap mendukung suaminya, sebagai seorang isteri yang baik.
3. Subyek C ( 36 tahun, laki-laki)
a. Hasil Observasi
Sesekali C menjawab pertanyaan dengan senyum dan sambil merokok. Ekspresi
C terlihat sedikit sedih dan gelisah. Wawancara berlangsung secara lancar, tidak ada
hambatan dari awal sampai selesai wawancara.

Azani

b. Hasil Wawancara
1) Dimensi penerimaan diri
Pertama kali subyek C sulit menerima kenyataan dipenjara kemudian timbul
rasa penyesalan dalam diri subyek sehingga subyek bisa menerima kenyataan bahwa
dirinya seorang mantan narapidana, namun hal tersebut tidak membuatnya menjadi
putus asa melainkan bertekad untuk menjadi lebih baik, dengan demikian subyek C
telah menunjukan adanya dimensi penerimaan diri.
2) Dimensi hubungan positif dengan orang lain
Pada awalnya subyek masih sulit untuk berintegrasi dengan masyarakat dan
lingkungan keluarga, namun pada akhirnya masyarakat dan lingkungan keluarga dapat
menerima mereka. Dengan demikian subyek C telah menunjukan adanya hubungan
possitif dengan orang lain.
3) Dimensi otonomi
Subyek c belum menunjukan dimensi otonomi karena subyek tidak mampu
berperan aktif dalam setiap pengambilan keputusan baik di lingkungan keluarga
maupun masyarakat.
4) Dimensi penguasaan lingkungan
Subyek C belum menunjukan adanya dimensi penguasan lingkungan, karena
subyek masih merasa malu dan minder terhadap tempat tingal sehingga subyek
kesulitan dalam penguasaan lingkungan.
5) Dimensi tujuan hidup
Subyek C telah menunjukan adanya dimensi tujuan hidup karena subyek
memiliki impian serta tujuan dalam hidup seperti menjadi orang yang lebih baik serta
melepaskan kenangan buruk sebagai mantan napi.
6) Dimensi pertumbuhan pribadi
Subyek merasakan potensi dirinya berkembang selama pembinaan di penjara,
sehingga potensi diri tersebut dapat dijadikan bekal mereka untuk menjalani
kehidupan di luar penjara, dengan demikian subyek C telah menunjukan adanya
dimensi pertumbuhan.
7) Wawancara dengan F (32 tahun, isteri Subyek C)
Motivasi yang diberikan oleh isteri subyek C begitu berarti bagi subyek C
untuk menghadapi kenyataan masyarakat yang mengucilkannya. Peran keluarga
cukup membantu mantan narapidana untuk tetap tegar dan berlapang dada
menghadapi masyarakat yang mengucilkannya.
PEMBAHASAN
1. Dimensi Penerimaan Diri
Dampak psikologis akibat dari pidana penjara jauh lebih berat dibandingkan dengan
pidana penjara itu sendiri, sehingga sebenarnya narapidana tidak hanya dipidana secara
fisik, tetapi juga secara psikologis (Harsono, 1995). Bartollas (Bartol, 1994) menyatakan
bahwa secara umum dampak kehidupan di penjara merusak kondisi psikologis seseorang.
Dampak psikologis hukuman penjara antara lain: lost of personality yaitu seorang
narapidana akan kehilangan kepribadian diri, identitas diri akibat peraturan dan tata cara
hidup di lembaga pemasyarakatan;lost of security yaitu hilangnya rasa aman karena
narapidana selalu dalam pengawasan petugas; lost of liberty yaitu kehilangan

10

EMPATHY Vol.I No.1 Desember 2012

berbagaikemerdekaan individual;lost of personal communication yaitu kehilangan


kebebasan untukberkomunikasi karena komunikasi terhadap siapapun dibatasi; lost of good
and service yaitu kehilangan akan pelayanan karena narapidana harus mampu mengurus
dirinya sendiri; lost of heterosexual yaitu kehilangan naluri seks, kasih sayang dan rasa
aman bersama keluarga; lost of prestige yaitu kehilangan harga diri akibat perlakuan dan
peraturan dari petugas; lost of belief yaitu kehilangan rasa percaya diri akibat tidak adanya
rasa aman, dan yang terakhir lost of creativity yaitu hilangnya kreativitas bahkan impian
dan cita-cita narapidana. Kehilangan hak-hak tersebut menyebabkan terjadinya perubahan
dalam kehidupan para narapidana. Mereka sulit menerima dirinya sendiri(Bartol, 1994).
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awalnya ketiga subyek sulit
untuk menerima dirinya berada dalam penjara, namun kenyataan tersebut akhirnya dapat
mereka terima. Dalam memandang dirinya, Subyek A merasa dirinya hina sehingga
menimbulkan perasaan rendah diri dan minder, sedangkan subyek B dan subyek C lebih
santai dan legowo dalam memandang dirinya sendiri.
Hanya dengan kemauan dan hasrat yang besar seseorang dapat berhasil dan sukses
dalam kehidupannya, dan saat yang menentukan bagi seseorang untuk sukses dan berhasil
adalah pada saat seseorang mengalami krisis. Ketika seorang individu merasa dirinya sebagai
individu yang mampu, penting, sukses dan berharga, maka individu tersebut dapat dikatakan
telah memiliki penghayatan hidup yang bermakna, yang dicapai individu setelah ia memiliki
tingkat harga diri tertentu.
SubyekA merasa malu dan hina atas dirinya, sehingga sulit baginya untuk memperoleh
kenyamanan psikologis, perasaan rendah diri dan mindermempersempit langkahnya untuk
maju dan menggapai masa depan yang cerah. Maka dari itu pada subyek A belum menunjukan
adanya dimensi peneriman diri, sedangkan subyek B dan subyek C sudah menunjukan adanya
dimensi penerimaan diri, karena kedua subyek dapat menerima dirinya dengan lapang dada
.
2. Dimensi Hubungan Positif dengan Orang Lain
Hubungan positif yang dimaksud adalah kemampuan individu menjalin hubungan yang
baik dengan orang lain di sekitarnya. Individu yang tinggi dalam dimensi ini ditandai dengan
mampu membina hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan dari orang lain. Selain itu,
individu tersebut juga memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain, dapat
menunjukan empati, afeksi, serta memahami prinsip, memberi dan menerima dalam hubungan
antarpribadi. Sebaliknya, individu yang rendah dalam dimensi hubungan positif dengan orang
lain, terisolasi dan merasa frustasi dalam membina hubungan interpersonal, tidak berkeinginan
untuk berkompromi dalam mempertahankan hubungan dengan orang lain (Ryff, 1995).
Memang sulit bagi individu yang menyandang status sebagai mantan narapidana untuk
kembali berbaur dengan masyarakat. Untuk dapat mengubah pandangan masyarakat terhadap
diri mereka, mantan narapidana harus menunjukkan perubahan yang positif kepada masyarakat
dengan bersikap lebih baik, sopan, rajin dalam beribadah dan tidak enggan-enggan membantu
masyarakat lain. Pada acara-acara yang diadakan oleh masyarakat mantan narapidana
seharusnya lebih aktif dari pada warga lain seperti: gotong royong, ronda malam, ikut pada
acara pengajian yang diadakan warga setempat dan acara lainnya. Berdasarkan hasil penelitian,
ketiga subyek dalam penelitian ini merasakan kesulitan untuk bersosialisasi dengan lingkungan
masyarakat.
Penolakan juga datang dari pihak keluarga narapidana sendiri, yang ditandai dengan
kurangnya saling ketergantungan emosional dan kesatuan yang erat akan memandang

Azani

11

kejahatan sebagai salah satu masalah yang mendatangkan aib pada seseorang maupun
keluarganya. Para keluarga mencoba untuk menyembunyikan tingkah laku tercela dari anggota
keluarganya agar dapat menghindari getah pada seluruh anggota keluarga lainnya.
Sedangkan keluarga yang memiliki tingkat kesatuan yang tinggi dan kasih sayang yang kuat
dalam keluarga, aib lebih sering dilihat sebagai masalah keluarga daripada masalah pribadi
(Khairuddin, 1997).
Meskipun pada ketiga subyek awalnya masih sulit untuk berintegrasi dengan
masyarakat dan lingkungan keluarga, namun pada akhirnya masyarakat dan lingkungan
keluarga dapat menerima mereka.Sehingga ketiga subyek menunjukan adanya hubungan
positif dengan orang lain.
3. Dimensi Otonomi
Psychological well-being (kesejahteraan psikologis) ditandaidengan kemampuan
individu untuk menentukan nasib sendiri(self-determination)dan memiliki kemampuan untuk
mengatur perilaku sendiri, dengan kata lain individu tersebut dapat mempertahankan
pendapatnya,tegas mengambil keputusan dan mandiri. Namun hal dimensi otonomi ini jarang
didapati pada mantan napi.Hal tersebut karena adanya tekanan maupun penolakan dari
keluarga maupun masyarakat.
Seseorang yang pernah terjerat dengan kasus kriminalitas dan mendekam di dalam
jeruji besi bukan perkara mudah untuk memulihkan nama baik orang tersebut di dalam
kehidupan masyarakat.Seseorang dengan status mantan narapidana pastinya sedikit banyak
akan mempengaruhi kehidupan sosial orang tersebut. Bukan hal yang gampang meyakinkan
masyarakat serta mengembalikan nama baik seperti sedia kala,untuk itu seorang mantan
narapidana harus memiliki ketahanan mental dan rasa percaya diri untuk mengatasi masalah
dalam melakukan penyesuaian sosial setelah kembali di tengah-tengah kehidupanmasyarakat
nantinya.
Proses sosialisasi mantan narapidana dari lembaga pemasyarakatan menuju masyarakat
yang sesungguhnya sangat sulit dilakukan karena adanya stereotype tersebut. Padahal jelas,
masyarakat mempunyai peran yang sangat berarti dalam proses sosialisasi. Banyak narapidana
yang telah bebas kehilangan jati diri, hal ini ditandai dengan sikap tertutup, acuh tak acuh,
sinis dan anti sosial (Susilo, 1971).
Mantan narapidana sering kesulitan kembali ke tengah masyarakat. Sikap penolakan
seperti mengucilkan pada sebagian masyarakat terhadap para mantan napi sering membuat
mereka merasa diperlakukan tidak manusiawi. Secara garis besar hal ini disebabkan karena
masyarakat cenderung menolak kehadiran mereka dalam kehidupan yang normal.Penolakan
masyarakat terhadap narapidana karena dianggap sebagai trouble makeratau pembuat
kerusuhan yang harus diwaspadai.
Padahal narapidana memiliki harapan untuk dapat kembali kedalam masyarakat dan
menjalani kehidupan yang lebih baik. Stigma negatif masyarakat terhadap narapidana
mengakibatkan munculnya sikap pesimis bagi narapidana. Sikap pesimis akan memunculkan
keputusasaan narapidana untuk menjalani kehidupan di masyarakat.
Ketiga subyek dalam penelitian ini belum menunjukan adanya otonomi dimasyarakat.
Ketiganya jarang aktif dalam kegiatan-kegiatan seperti rapat kampung. Dari pengakuan
ketiganya, mereka tidak memiliki kepercayaan diri dalam mengutarakan pendapat apalagi
mempertahankan pendapatnya.

12

EMPATHY Vol.I No.1 Desember 2012

4. Dimensi Penguasaan Lingkungan


Manusia merupakan mahluk tiga dimensi, ia merupakan mahluk individual, spiritual,
dan sekaligus sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk individu dan mahluk sosial, manusia
dituntut untuk selalu dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Penyesuaian diri
dengan lingkungan tersebut meliputi lingkungan fisik dan lingkungan psikis, dimana lingkungan
fisik tersebut meliputi alam benda-benda yang konkret, sedangkan lingkungan psikis yaitu
jiwa raga orang-orang dalam lingkungan ataupun lingkungan rohaniah.
Berdasarkan hasil penelitian, subyek A danB merasa belum mampu dalam penguasaan
lingkungan.Mereka masih menutup diri dan belum berani untuk terjun ke masyarakat. Adapun
subyek C, pada awalnya merasa minder namun lama kelamaan bisa beradaptasi dengan
lingkungannya.
Kesiapan dalam melakukan penyesuaian sosial sangat penting bagi seorang mantan
narapidana di lingkungan tempat tinggal mereka. Karena setiap individu dalam kehidupannya
selalu memiliki dorongan untuk mengabdi kepada kepentingan masyarakat, yang selalu
membutuhkan interaksi ataupun penyesuaian dengan yang lainnya. Hal tersebut perlu
mendapatkan perhatian agar mereka mampu melakukan adaptasi dengan baik sehingga bisa
diterima oleh masyarakat. Hal tersebut juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana usaha individu
tersebut menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Usaha penyesuaian diri itu dapat dicapai
dengan cara; pertamaaoutoplastis yaitu individu harus menyesuaikan diri dengan
lingkungannya (adaptasi), dan yang keduaalloplastis yaitu individu dapat pula merubah
lingkungannya agar sesuai dengan keinginannya(akomodasi).
Penyesuaian sosial dapat berupa adanya interaksi sosial antara orang perorangan
maupun dengan kelompok. Interaksi sosial tersebut dikatakan sebagai hubungan-hubungan
sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara individu dengan individu, antara
kelompok-kelompok manusia, maupun antara individu dengan kelompok
manusia.Chaplinmenambahkan bahwasanya interaksi sosial adalah proses interpersonal yang
terus berlangsung antara dua individu atau lebih.
Sesuatu yang wajar manakala berbagai macam kompleksitas konflik dan
permasalahan yang mereka alami menjadi hal terberat dalam melakukan interaksi sosial
dengan anggota masyarakat lainnya, karena sejak lahir manusia telah memiliki dua hasrat
atau keinginan pokok, yaitu pertama keinginan menjadi manusia yag merubah serta menjadi
lebih baik dan kedua keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di lingkungan sekitarnya
(masyarakat). Kesiapan untuk melakukanpenyesuaian sosial merupakan hal yang sangat berat
karena mereka selalu merasa dikucilkan oleh masyarakat atau bahkan mereka menjadi inferior
dalam melakukan interaksi sosial dengan masyarakat tempat mereka tinggal.
Masuknya narapidana ke dalam sel penjara menjadi suatu perubahan hidup yang
akan berdampak pada kondisi psikologisnya. Perubahan hidup menjadi sumber stres bila
perubahan hidup tersebut menuntut individu untuk menyesuaikan diri (Nevid,2005). Perubahan
hidup yang paling jelas terlihat adalah hilangnya kebebasan.
Adaptasi merupakan proses penyesuaian diri dengan alam sekitarnya (Soekanto,
1986). Adaptasi adalah suatu proses yang dialami oleh setiap individu dalam menghadapi
dan menyesuaikan diri pada suatu lingkungan sehingga menghasilkan keserasian diri antara
individu dengan lingkungan tersebut .
Lingkungan sosial merupakan perangkat aturan yang digunakan untuk mengatur
kehidupan bermasyarakat bagaimana manusia sebagai mahluk sosial dan anggota masyarakat
dapat berinteraksi. Konsep adaptasi yang pertama yaitu: kebutuhan individu, kebutuhan

Azani

13

individu berupa kebutuhan badaniah dan kebutuhan psikologis. Kedua yaitu: dorongan agar
manusia di luar dinding penjara dan bisa kembali berekspresi serta hidup bebas tanpa aturan
yang mengikat seperti pada saat menjalani hukuman penjara. Namun hari kebebasan yang
semakin dekat bisa memunculkan masalah tersendiri bagi narapidana, sebab narapidana
yang berada di lembaga pemasyarakatan mempunyai kondisi yang sangat berbeda dengan
manusia pada umumnya.
Subyek A dan B merasa belum mampu dalam penguasaan lingkungan. Mereka masih
menutup diri dan belum berani untuk terjun ke masyarakat.Adapun subyek C, pada awalnya
merasa minder namun lama kelamaan bisa beradaptasi dengan lingkungannya.Dengan demikian
pada subyek A dan B belum menunjukan adanya dimensi penguasaan lingkungan, namun
subyek C telah menunjukan ada dimensi penguasaan lingkungan.
5. Dimensi Tujuan Hidup
Pada dasarnya setiap manusia mempunyai harapan-harapan tentang perkembangan
atas dirinya di masa yang akan datang, begitu juga dengannarapidana. Masa laluyang kelam
telah menjadi sejarah. Ia memberi banyak pelajaran tentang suatu hal, sementara masa depan
masih belum bisa dipastikan. Masa lalu adalah peta tentang dari mana individu tersebut dan
masa depan merupakan wilayah tentang akan kemana individu tersebut. Sehubungan dengan
hal tersebut biasanya timbul suatu pertanyaan pada diri seseorang bagaimana dengan masa
depannya.
Pengetahuan seseorang tentang masa depan tidak dapat diuji atau dibenarkan dengan
cara yang sama sebagaimana pengetahuan tentang masa lampau. Kemampuan untuk
membentuk masa depan dimiliki oleh semua individu. Setiap orang pasti menginginkan suatu
perubahan di masa depannya. Untuk itu setiap orang perlu merasa optimis dan memiliki
semangat yang tinggi serta berusaha mengupayakan agar memiliki masa depan, oleh karenanya
seseorang akan berusaha secara nyata untuk meraih masa depan yang diinginkan.
Tujuan hidup membuat seseorang bersemangat untuk menjalani kehidupannya.Mantan
napi yang mempunyai tujuan hidup akanmemperoleh ketentraman dan kenyamanan dalam
hidup, dengan kata lain berada dalam suasana sejahtera secara psikologis atau psichological
well-being. Ketiga subyek memiliki tujuan hidup setelah keluar dari penjara. Mereka memiliki
harapan-harapan yang ingin diwujudkan.
Mantan narapidana memiliki harapan untuk dapat kembali ke dalam masyarakat dan
menjalani kehidupan yang lebih baik. Stigma dari masyarakat terhadap mantan narapidana
mengakibatkan munculnya sikap pesimis bagi mantan narapidana. Sikap pesimis akan
memunculkan kecanggungan bagi mantan narapidana untuk menjalani kehidupan
dimasyarakat. Kondisi ini mengakibatkan ketidaknyamanan psikologis,mantan napi akan
selalu merasa tertekan dan tak bergairah menghadapi masa depan.
Ketiga subyek sudah menunjukan adanya tujuan hidup serta impian tentang masa
depannya. Subyek Aberharap bisa mendapatkan perkerjaan yang layak tanpa dipersulit
dengan status mantan napi. Subyek B berharap bisa menyekolahkan anak serta menjadi
ayah dan suami yang baik. Sedangkan subyek C berharap masa depannya dan keluarga
bisa lebih baik dan bisa segera melepaskan kenangan buruk di masa lalu sebagai mantan
napi.

14

EMPATHY Vol.I No.1 Desember 2012

6. Dimensi Pertumbuhan Pribadi


Adanya model pembinaan bagi narapidana di dalam lembaga pemasyarakatan tidak
terlepas dari sebuah dinamika, yang bertujuan untuk lebih banyak memberikan bekal bagi
narapidana dalam menyongsong kehidupan setelah selesai menjalani masa hukuman (bebas).
Pemasyarakatan dinyatakan sebagai suatu sistem pembinaan terhadap para pelanggar
hukum dan sebagai suatu pengejawantahan keadilan yang bertujuan untuk mencapai reintegrasi
sosial atau pulihnya kesatuan hubungan antara warga binaan pemasyarakatan dengan
masyarakat.
Selanjutnya dengan diadakannya pembinaan diharapkan agar mereka mampu
memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana yang pernah dilakukannya. Kegiatan
di dalam LP bukan sekedar untuk menghukum atau menjaga narapidana tetapi mencakup
proses pembinaan agar warga binaan menyadari kesalahan dan memperbaiki diri serta tidak
mengulangi tindak pidana yang pernah dilakukan. Dengan demikian jika warga binaan di LP
kelak bebas dari hukuman, mereka dapat diterima kembali oleh masyarakat dan lingkungannya
dan dapat hidup secara wajar seperti sediakala.
Selain faktor dari kepedulian masyarakat untuk memulihkan kepercayaan kepada
mantan napi, faktor dari peranan mantan napi itu sendiri juga sangat penting untuk menjadikan
dirinya dapat diterima lagi dalam kehidupan masyarakat. Yaitu sikap optimisme masa depan
yang lebih cerah untuk menjalani kehidupannya dengan masyarakat. Sikap optimisme masa
depan adalah harapan kuat terhadap segala sesuatu yang terdapat dalam kehidupan akan
mampu teratasi dengan baik, walaupun narapidana berada dalam masalah. Cara berfikir
narapidana dalam mensikapi permasalahan dapat menunjukan bagaimana narapidana tersebut
bersikap optimis atau pesimis terhadap masa depan.Bersikap optimis dan pesimis disini
dalam arti: narapidana bersifat optimis dalam mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi
keluarga dan narapidana optimis dapat diterima kembali oleh masyarakat setelah selesai
menjalani hukuman.Sedangkan sikap pesimis juga diperlukan terhadap respon masyarakat
yang akan melakukan penolakan kehadirannya dalam kehidupan masyarakat.
Kepribadian sehat yang dimiliki individu dapat terlihat dari aktualisasi diri yang
dilakukannya. Kepribadian yang sehat itu bukan merupakan suatu keadaan dari ada,
melainkan suatu proses atau suatu arah, bukan suatu tujuan. Aktualisasi diri berlangsung
terus, tidak pernah merupakan kondisi yang selesai atau statis. Tujuannya yakni orientasi ke
masa depan, atau menarik individu ke depan yang selanjutnya mendiferensiasikan dan
mengembangkan segala segi dari diri(Papalia, 2008).
Kondisi dan perubahan hidup yang dialami oleh para narapidana dapat membawa
mereka ke dalam suatu perasaan ketidaknyamanan fisik dan psikis. Ketidaknyamanan secara
fisik
maupun
psikis
selama
menjalani
hukumandi
lembaga
pemasyarakatanakanberdampakpadapsychologicalwell-being narapidana. Ryff dan Singer
(Papalia, 2008)menjelaskan mengenai kesehatan mental bahwa orang yang sehat secara
mental bukan hanya berarti ketiadaan sakit secara mental. Kesehatan mental yang positif
mencakup psychological well-being, yang bisa didapat dengan perasaan sehat dari diri
sendiri. Individu yang mencapai psychological well-being dapat meningkatkan kebahagiaan,
kesehatan mental yang positif, dan pertumbuhan diri.
Psychological well-being dapat menjadikan gambaran mengenai level tertinggi dari
fungsi individu sebagai manusia dan apa yang diidam-idamkannya sebagai makhluk yang
memiliki tujuan dan akan berjuang untuk tujuan hidupnya (Snyder dan Lopez, 2002). Ryff
dan Keyes (Hoyer, Rybash, dan Roodin, 1995)menyatakan bahwa individu yang memiliki

Azani

15

psychological well-being yang positif adalah individu yang memiliki responpositif terhadap
dimensi-dimensi kesejahteraan psikologis yang berkesinambungan. Pada intinya,
psychological well-being merujuk pada perasaan seseorang mengenai aktivitas hidup seharihari. Perasaan ini dapat berkisar dari kondisi mental negatif (misalnya ketidakpuasan
hidup,kecemasan, dan sebagainya) sampai ke kondisi mental positif, misalnya realisasi potensi
atau aktualisasi diri (Bradburn, 1995).
Ketiga subyek mengembangkan diri mereka dengan mempraktekkan keterampilan
yang telah di peroleh dipenjara. Dengan demikian ketiga subyek telah menunjukan adanya
dimensi pertumbuhan pribadi dalam diri meraka.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian dalam bab-bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa:
Gambaran enam dimensi psychological well-being mantan narapidana yang telah kembali di
tengah masyarakat yakni:
1. Dimensi Penerimaan Diri
Subyek A merasa dirinya hina dan telah bersalah mempermalukan nama baik keluarga
di mata masyarakat, sedangkan subyek B dan C lebih santai menghadapi kenyataan bahwa
dirinya adalah mantan napi. Dengan demikian subyek A belum menunjukan adanya dimensi
penerimaan diri,namun subyek B dan C telah menunjukan adanya dimensi penerimaan diri
pada mereka.
2. Dimensi Hubungan Positif dengan Orang Lain
Pada ketiga subyek meskipun awalnya masih sulit untuk berintegrasi dengan
masyarakat dan lingkungan keluarga, namun pada akhirnya masyarakat dan lingkungan
keluarga dapat menerima mereka.Sehingga ketiga subyek menunjukan adanya hubungan
positif dengan orang lain.
3. Dimensi otonomi
Ketiga subyek dalam penelitian ini merasa tidak memiliki otonomi di masyarakat.
Meskipun subyek A dan C sering hadir dalam rapat kampung, dan subyek B kadangkadang.Dari pengakuan ketiganya,mereka tidak memiliki kepercayaan diri dalam
mengutarakan pendapat apalagi mempertahankan pendapatnya. Dengan demikian ketiga
subyek belum menunjukan adanya dimensi otonomi pada mereka.
4. Dimensi Penguasaan Lingkungan
Subyek A dan B merasa belum mampu dalam penguasaan lingkungan. Mereka masih
menutup diri dan belum berani untuk terjun ke masyarakat. Adapun subyek C, pada awalnya
merasa minder namun lama kelamaan bisa beradaptasi dengan lingkungannya.Dengan demikian
pada subyek A dan B belum menunjukan adanya dimensi penguasaan lingkungan, namun
pada subyek C telah menunjukan adanya dimensi penguasaan lingkungan.

16

EMPATHY Vol.I No.1 Desember 2012

5. Dimensi Tujuan Hidup


Ketiga subyek telah menunjukan adanya dimensi tujuan hidup serta impian tentang masa
depannya. subyek Aberharap bisa mendapatkan perkerjaan yang layak tanpa dipersulit dengan
status mantan napi. subyek B berharap bisa menyekolahkan anak serta menjadi ayah dan suami
yang baik. Sedangkan subyek C berharap masa depannya dan keluarga bisa lebih baik dan bisa
segera melepaskan kenangan buruk di masa lalu sebagai mantan napi.
6. Dimensi Pertumbuhan Pribadi
Ketiga subyek mengembangkan dirimereka dengan mempraktekkanketrampilan yang
telah diperoleh dipenjara. Dengan demikian ketiga subyek telah menunjukan adanya dimensi
pertumbuhan pribadi dalam diri meraka.
SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas disarankan agar:
1. Mantan narapidana yang hendak kembali ke masyarakat hendak tidak cepat berputus asa
dalam membuktikan pada masyarakat bahwa dia telah berubah menjadi baik.
2. Anggota keluarga mantan narapidana hendaknya selalu memberikan dukungan dan membantu
mantan narapidana tersebut mengembalikan kepercayaan dirinya agar dapat kembali diterima
oleh masyarakat.
3. Masyarakat menghilangkan stigma negatif pada mantan narapidana serta menerima kembali
mantan narapidana untuk hidup ditengah masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Anthony, G. (1991). Modernity and selfidentify. Stanford University: Standford University
Press.
Augoutinos, Martha,&Walker I. (2005). Social cognition: an integrated introduction. London:
Sage Publications Ltd.
Bartol, C. L.(1994). Psychology and law. California: Wadsworth Inc.
Bell, P. A., Greene, T.C., Fisher, J.D.& Baum, A. (2006). Environmentalpsychology. Florida:
Harcourt Brace & Company.
Bertens. (1993). Etika.Jakarta: Gramedia.
Bonger, A. W. (1997).Pengantar tentang kriminologi cetakan ke-4. Jakarta: Pustaka Sarjan.
Bradburn, N. F. (1995).The structure of psychological well-being. Chicago: Aldine PubCo.
Bungin, B. (2007). Penelitian kualitatif. Jakarta: Prenada Media Group.
Campton,C. W. (2005). An introduction to positive psychology. New York: Thomson
Wadsworth.

Azani

17

Carrol, J. L. (2005). Sexuality. Wadsworth: Thomson Learning, Inc.


Creswell, J. W. (2008). Qualitative inquiry &research design.
Dahlan, Wilman, Winarini &Anindita. (2006).Pengalaman dan penghayatan seorang mantan
narapidana terhadap kehidupan di penjara. Jurnal Psikologi Universitas Indonesia.
Halim & Atmoko. (2005). Hubungan antara kecemasan akan HIV/AIDS dan psychologicalwellbeing pada waria yang menjadi pekerja seks komersial.Jurnal Psikologi.
Harsono. (1995).Sistem baru pembinaan narapidana. Jakarta: Djambatan.
Kartono, K. (1992). Pengantar ilmu mendidik teoritis. Bandung: Remaja.
. (2009). Psikologi umum. Bandung: Mandar Maju.
Kelly, M. S. (2006). Communication @work. Boston: McLennan Community College.
Khairuddin. (1992).Pembangunan masyarakat. Yogyakarta: Liberty.
Koeswara. (2001). Teori-teori kepribadian. Bandung: Eresco.
Korewa. Homoseksualtinjauan dan perspektif ilmiah. diambil dari http//www.olimpiade.org.
Moleong, L.J. (2006). Metode penelitian kualitatif edisi revisi. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Moleong,L.J.(2007). Metode penelitian kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Musnamar, T.,dkk. (1992). Dasar-dasar konseptual bimbingan dan konseling islam.
Yogyakarta: UII Press.
Nasution. (2006).Metode research. Jakarta: Bumi Aksara.
Ndoen, F. L. (2007).Pengungkapan diri pada mantan narapidana. Jurnal Fakultas Psikologi
Universitas Gunadarma.
Nevid, J. F., dkk. (2005). Psikologi abnormal. Jakarta: Erlangga.
Noesjirwan, J. (2000). Konsep manusia menurut psikologi transpersonal (dalam metodologi
psikologi islami). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Norman, K. D. &Yvonna S.L. (2000).Handbook of qualitative researchditerjemahkan oleh
Dariyantno, dkk.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Panjaitan, P.I. &Simorangkir, P. (1995).Lembaga pemasyarakatan dalam perspektif sistem
peradilan pidana. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Papalia, O. (2001). Perkembangan pada remaja. Jakarta: Rineka Cipta.
Patton,Q.M. (2007). Metode evaluasi kualitatif.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

18

EMPATHY Vol.I No.1 Desember 2012

Price, S. A. &Wilson, L. (2005). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta:


EG.
Ryan, R.M. & Deci, E.L. (2001). On happiness and human potentials: A review of research on
hedonic and eudaimonic wellbeing. Annual Reviews Psychology,52.
Ryff, C. D. (1989). Happines is everything or is it? exploration on the meang of psychological
wellbeing. Journal of Personalityand Social Psyhology, 57(6), 1069-081.
Ryff, C. D., Keyes, C.L.M., & Shmothkin, D. (2002). Optimizing well being: the empirical
encounter of two tradition. Journal of Personality and Psychology, 12.
Ryff, C. D. & Singer, K. (2006). Know thyself and become what you are: a eudaimonic approach
to psychological well-being. Journal of Happiness Studies.
Ryff & Keyes, C. L. M. (1995). The structure of psychological well-being revisited. Journal of
Personality and Social Psychology, 69(4), 719727.
Saheroji, H. (1980). Pokok-pokok hukum perdata. Jakarta: Aksara Baru.
Salim, P. & Salim, Y.(2008). Kamus bahasa indonesia kontemporer. Jakarta: Modern English
Press.
Sarwono, S. (2002). Psikologi remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Snyders, C.R.&Lopez, S. J.(2002). Handbook of possitive psychology. New York: Oxford
University Press.
Soekanto, S. (1986).Sosiologi suatu pengantar. Jakarta: CV Rajawali.
Soesilo, R. (1985). Kriminologi; pengetahuan tentang sebab-sebab kejahatan. Bandung:
PT. Karya Nusantara.
Sugiyono. (2001).Statistik nonparametris untuk penelitian. Bandung: CV Alfabeta.
Sutherland, E. H. (1993). On analyzing crime; the heritage of sociologi. Chicago: The
University of Chicago Press.
Yash. (2002). Transeksualisme: sebuah studi kasus perkembangan transeksual perempuan
ke laki-laki. Semarang: CV Aini.
Yudobusono, S. & Aminatun, S. (1995). Penelitian diagnostik tentang persepsi bekas
narapidana. Yogyakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial.
Widyastuti. (2008). diambil dari http://www.jawapos.com.
http://www.seputar-indonesia.com, diakses tanggal 3 Juli 2012.
htttp://www.jurnas.com, diakses tanggal 3 Juli 2012.