Anda di halaman 1dari 19

SAYYED HOSSEIN NASR

Disusun untuk memenuhi tugas makalah pada Mata Kuliah


Filsafat Ilmu
Semester II

Pembimbing:
Dr. H. Ahmad Hasan Ridwan, M.Ag

Disusun oleh:
MILKI AAN
2. 209. 8. 0011

KONSENTRASI BAHASA ARAB


PROGRAM STUDI ILMU AGAMA ISLAM
PROGRAM PASCA SARJANA (S2)
UIN SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2009
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.......................................................................................................................ii

PENDAHULUAN ...............................................................................................................iii

BAB I. SAYYED HOSSEIN NASR

A. Biografi Sayyed Hossein Nasr ...................................................................................... 1

1. Latar Belakang dan Pendidikan Nasr........................................................................ 1

2. Pengaruh Pemikiran Yang Didapat........................................................................... 2

3. Kiprah Dalam Sosial dan Politik ................................................................................ 3

B. Peta Pemikiran ............................................................................................................ 4

1. Alur Pemikiran .......................................................................................................... 4

2. Posisi Pemikiran ....................................................................................................... 6

3. Agama ...................................................................................................................... 6

4. Eksoterik dan Esoterik .............................................................................................. 8

5. Orthodoksi................................................................................................................ 8

C. Kritik Nasr Terhadap Modernisme ............................................................................. 9

D. Gagasan Islam Tradisional (Tradisionalisme) ............................................................. 12

E. Gagasan Islamisasi Sayyed Hossein Nasr


(Pembaruan Kembali Ke Konsep Islam Tradisi)............................................................ 13

BAB III. PENUTUP...................................................................................................................... 15

A. Kesimpulan ..................................................................................................................... 16

B. Saran ............................................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

Hasrat akan keinginan akan kembali pada nilai eksistensi semakin mendesak bagi manusia
Barat. Hal ini dikarenakan, dunia ilusi yang mereka ciptakan disekelilingnya untuk melupakan
dimensi transenden kehidupan mereka yang hilang, mulai menunjukan watak yang sesungguhnya.
Sehingga segala respon yang terjadi harus bersumber dari tradisi-tradisi suci (agama) yang
otentik.1
Terbukti bahwa pada saat ini di Barat sebagaian besar perhatian tertuju kepada
metafisika dan spritualitas Timur, dan orang-orang Eropa maupun di Amerika rajin mencari buku-
buku petunjuk, syair-syair atau musik-musik yang berhubungan dengan sufisme. Dalam hal ini ada
sebuah pernyataan dari Barat yang menyebut Timur sebagai negeri pagi/negeri matahari terbit.
Karena itu para penulis Barat ketika menceritakan pertemuan mereka dengan Timur, menyebut
dunia Timur secara roamantis; Morgenlande.2
Seyyed Hossein Nasr memberikan pandangan bahwa, krisis-krisis eksistensial ataupun
spritual yang dialami oleh manusia adalah bermula dari pemberontakan manusia modern kepada
Tuhan. Yaitu ketika manusia meninggalkan Tuhan demi mengukuhkan eksistensi dirinya. Manusia
telah bergerak dari pusat eksistensinya sendiri menuju wilayah pinggiran eksistensi.3 Sehingga
menurut Nasr manusia modern semakin lama semakin menjauh dari pusat eksistensinya, yaitu
manusia sebagai "citra Tuhan" di pusat dunia.
Fenomena ini tidak saja dialami oleh dunia Barat tapi juga di dunia Timur secara umum
dan dunia Islam secara khususnya juga telah melakukan kesalahan-kesalahan dengan mengulangi
apa yang telah dilakukan Barat. Yaitu menciptakan masyarakat kota industri dan peradaban
modern yang lupa akan tradisi dan pesan-pesan suci dari Timur, mereka tenggelam dalam
masyarakat konsumtif.4
Dalam makalah ini penulis mencoba untuk menguraikan berbagai bentuk pemikiran
Seyyed Hossein Nasr yang berkaitan dengan permasalahan tersebut di atas agar kita bisa lebih
mendalami pemikirannya khususnya pada bidang Islamisasinya.

1
Seyyed Hossein Nasr, Islam and the Plight of Modern Man, (Chicago: Published by ABC
Internatioan Group, Inc. 1975, h. 71.
2
Negeri pagi yang sering kali dilukiskan sebagai negeri yang penuh pesona ruhani, untuk lebih
lengkapnya bisa dilihat, Murtada Muthahari, Manusia Sempurna, (Jakarta: Lentera, 2001), h. 9.
3
Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spritual Crisis of Modern Man, (Londong: Mandala
Books, 1976), h. 63.
4
Seyyed Hossein Nasr, Islam dan Nestapa Manusia Modern, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1983), h.
20.
BAB II
SEYYED HOSSEIN NASR

A. BIOGRAFI SEYYED HOSSEIN NASR


1. Latar Belakang dan Pendidikan Nasr
Seyyed Hossein Nasr lahir di kota Teheran, Iran, pada tanggal 7 April 1933.
Ayahnya seorang ulama terkenal di Iran dan juga seorang guru dan dokter pada masa
dinasti Qajar bernama Seyyed Valiullah Nasr.5 Sebutan dengan gelar Seyyed adalah
sebutan kebangsawanaan yang dianugerahkan oleh raja Syah Reza Pahlevi kepada
keduanya.
Latar belakang keagamaan keluarga Nasr adalah penganut aliran Syi‟ah tradisional6
yang memang menjadi aliran teologi Islam yang banyak dianut oleh penduduk Iran.
Dominasi paham Syi‟ah di Iran bertahan sampai sekarang, walaupun telah terjadi revolusi
di sana. Hal ini disebabkan karena paham Syi‟ah telah lama hidup di sana yang didukung
oleh banyak ulama terkenal dan berpengaruh.
Sebelum pindah ke Amerika untuk belajar formal ilmu modern pada umur 13
tahun, Nasr memperoleh pendidikan tradisional di Iran. Pendidikan tradisional ini
diperoleh secara informal dan formal. Pendidikan informalnya dia dapat dari keluarganya,
terutama dari ayahnya. Sedangkan pendidikan tradisional formalnya diperoleh di madrasah
Teheran. Selain itu oleh ayahnya dia juga dikirim untuk belajar di lembaga atau madrasah
pendidikan di Qum yang diasuh Allamah Thabathaba‟i untuk belajar filsafat, teologi dan
tasawuf. Ia juga diberi pelajaran tentang hafalan al-Quran dan pendidikan tentang seni
Persia klasik.7
Obsesi Valiullah Nasr agar Hossein Nasr menjadi orang yang memperjuangkan
kaum tradisional dan nilai-nilai ketimuran dimulai dengan memasukkkan Hossein Nasr ke
Peddie School di Hightstown, New Jersey lulus pada tahun 1950. Kemudian melanjutkan
ke Massacheusetts Institute of Technology (MIT). Di institusi pendidikan ini Nasr

5
William C. Chittick, Preface” dalam The Complete Bibliografi Seyyed Hossein Nasr from 1958
through April 1993, ed. Aminrazavi and Moris (Kuala Lumpur: tp, 1994), h. xiii.
6
Kata tradisional dan tradisi disini yang dimaksudkan bukanlah kebiasaan, adat istiadat atau
penyampaian ide-ide atau motif secara otomatis dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Tradisi yang
dimaksud disini yaitu serangkaian prinsip yang diturunkan dari langit dengan disertai sebuah manifestasi
Ilahiah, dengan disesuaikan pada konteks kemasyarakatan yang berbeda-beda. Lihat Seyyed Hossein Nasr,
Islam and the Plight Modern Man, (London: Longmans, 1976) Atau dalam edisi terjemahannya, Islam dan
Nestapa Manusia Modern, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1983), hal. 79.
7
William C. Chittick, Preface…, h. xiii.
memperoleh pendidikan tentang ilmu-ilmu fisika dan matematika teoritis di bawah
bimbingan Bertrand Russel yang dikenal sebagai seorang filosof modern. Nasr banyak
memperoleh pengetahuan tentang filsafat modern.
Selain bertemu dengan Bertrand Russel, Nasr juga bertemu dengan seorang ahli
metafisika bernama Geogio De Santillana. Dari kedua ini Nasr banyak mendapat informasi
dan pengetahuan tentang filsafat Timur, Khususnya yang berhubungan dengan metafisika.8
Dia diperkenalkan dengan tradisi keberagamaan di Timur, misalnya tentang Hinduisme.
Selain itu Nasr juga diperkenalkan dengan pemikiran-pemikiran para peneliti Timur,
diantaranya yang sangat berpengaruh adalah pemikiran Frithjof Schuon tentang
perenialisme. Selain itu juga berkenalan dengan pemikiran Rene Guenon, A. K.
Coomaraswamy, Titus Burchardt, Luis Massignon dan Martin Lings.
Pada tahun 1956 Nasr berhasil meraih gelar Master di MIT dalam bidang geologi
yang fokus pada geofisika.9 Belum puas dengan hasil karyanya, beliau merencanakan
untuk menulis desertasi tentang sejarah ilmu pengetahuan dengan melanjutkan studinya di
Harvard University.
Dalam menyusun disertasinya Nasr dibimbing oleh George Sarton. Akan tetapi
sebelum disertasi ini selesai ditulisnya, George Sarton meninggal dunia, sehingga Nasr
mendapatkan bimbingan berikutnya oleh tiga orang professor, yaitu Bernard Cohen,
Hammilton Gibb dan Harry Wolfson. Disertasi ini selesai dengan judul “Conceptions of
Nature in Islamic Thought” yang kemudian dipublikasikan oleh Harvard University Press
pada tahun 1964 dengan judul “An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines”.
Dengan selesainya disertasi ini Nasr mendapat gelar Philosophy of Doctor (Ph.D) dalam
usia yang cukup muda yaitu 25 tahun tepatnya pada tahun 1958.

2. Pengaruh Pemikiran Yang Didapat


Semasa belajar di Barat Seyyed Hossein Nasr bertemu dengan banyak pemikir
Barat yang mengkaji Islam dari berbagai macam perspektif. Selain ia belajar tentang ilmu
sain di Barat, Nasr juga kemudian tertarik kembali mempelajari ilmu-ilmu metafisika,
khususnya metafisika Timur yang banyak ia dapatkan di perpustakaan-perpustakaan
Barat. Ketertarikannya terhadap disiplin keilmuan ini tidak lepas dari latar belakang

8
http://wikipedia.com/
9
http://wikipedia.com/
kehidupannya sebagai seorang Iran yang kental dengan budaya mistik kesufian dan
didukung oleh pengetahuan mistis dari ajaran Syi‟ah.
Pemikiran yang sangat mempengaruhi Nasr adalah pandangan filsafat perennial.10
Diantara para tokohnya yang paling berpengaruh atasnya adalah Frithjof Schuon seorang
perenialis sebagai peletak dasar pemahaman eksoterik dan esoterik Islam.11 Nasr sangat
memuji karya Schuon yang berjudul Islam and Perennial Philoshopy. Sehingga Nasr
memberikan gelar padanya sebagai My Master.
Salah satu tokoh yang juga banyak mempengaruhi Nasr adalah Rene Guenon.12
Rene Guenon merupakan salah satu tokoh yang banyak mempengaruhi orientasi
tradisionalisme Nasr, khususnya peletak pandangan metafisis hermetisme, sebagai bagian
yang penting dalam kerangka besar pemikiran perennial.

3. Kiprah Dalam Sosial dan Politik


Seyyed Hossein Nasr kembali ke Iran tahun 1958 setelah menyelesaikan program
doktornya di Harvard University. Sekembalinya ke Iran ia segera bergabung dengan
kegiatan-kegiatan akademis di sana. Kedalaman ilmunya memberikan satu tempat khusus
baginya sebagai seorang tokoh baru di Iran. Nasr aktif dalam kegiatan akademis dan
keagamaan, seperti keterlibatannya dalam diskusi-diskusi dengan para tokoh Syi‟ah di sana
semisal Allamah Thabathaba‟i, Muhammad Kazim „Assar dan Abu Hasana Rafi‟i
Wazwini.13
Nasr lebih berkiprah di dunia akademis diawal-awalnya. Ia banyak mempengaruhi
filsafat Islam modern di Iran melalui karya-karyanya, dengan mensponsori berbagai

10
Filsafat perennial adalah nama lain dari metafisika Islam sebagaimana dipahami Nasr. Ia juga
menyebutnya sebagai ilmu tentang Kenyataan Ultim, yang ada dalam semua agama atau tradisi spiritual
sejak awal sejarah intelektual manusia hingga kini. Meskipun disebut “filsafat”, warna mistikalnya amat
kental. Tulisan Zainal Abidin Bagir dalam koran Tempo dalam kolom Suplemen Ruang Baca, tanggal 11
Februari 2003. http://www.crcs.ugm.ac.id/staffile/zab/filsafat_perennial_kembali_ke_masa_depan.htm
11
Nasr banyak merujuk pemahaman tentang esoteris dan eksoteris Islam dari buku Frithjof Schuon
berjudul Understanding Islam yang diterjemahkan dari bahasa aslinya berbahasa Perancis berjudul
Comprendre I’Islam oleh D.M. Matheson. Pertama kali diterbitkan oleh Gallimard tahun 1961. Diterbitkan
dalama bahasa Inggris pertama kali tahun 1963 di London oleh George Allen and Unwin. Buku ini
menjelaskan bagaimana metode filsafat perenial diterapkan dalam mendekati ajaran Islam. Memberikan
makna Islam secara lahir dan batin yang sejalan dengan pandangan kesufian Nasr. Dan diperjelas lagi dengan
karya Schuon berikutnya berjudul Islam and the Pernnial Philosophy yang diterbitkan oleh World of Islam
Festival Publising tahun 1976. Dapat dilihat dalam terjemahan bahasa Indonesianya dalam Frithjof Schuon,
Islam dan Filsafat Perenial, ter. Rahmani Astuti (Bandung: Mizan, 1995)
12
Pemikir ini banyak memberikan kontribusi mengenai pandangan-pandangan metafisis dalam
filsafat perenial, yang berisi kritik atas filsafat Barat modern. Dan yang paling urgen adalah dia juga seorang
tokoh utama dalam perspektif tradisional di dunia modern yang banyak berbicara tentang makna tradisi.
13
Ali Maksum, Tasawuf Sebagai Pembebasan Manusia Modern: Telaah Signifikansi Konsep
“Tradisionalisme Islam” Saiyyed Hossein Nasr, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 50
konferensi dan mendirikan pusat kajian filsafat Islam pada tahun 1960-an sampai 1970-an.
Dalam catatan Aminrazavi Nasr telah mempelopori berdirinya Imperial Iranian Academy
of Philosophy, dengan kontribusinya telah menerbitkan jurnal ilmiah yang bertajuk
Javidan Khirad (Sophia Perennis) dan juga telah banyak mempublikasikan teks-teks
tradisional dengan jumlah besar.

B. PETA PEMIKIRAN
1. Alur Pemikiran
Untuk memudahkan pembahasan maka perlu dibagi periodesasi dari pemikiran
Nasr. Setidaknya dapat kita bagi menjadi empat periode, yaitu periode 1960-an, 1970-an,
1980-an, 1990-an.14
Pada periode pertama pemikiran Nasr dapat dilihat pada karyanya yang pertama
yaitu An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines (1964). Buku ini mengkaji
tentang konsep kosmologi15 tradisionalis yang memaparkan tentang pandangan metafisis
dari pemikir klasik seperti Ikhwan al-Shafa‟, Ibn Sina dan al-Biruni. Three Muslim Sages
(1964) yang memaparkan pemikiran tiga tokoh muslim klasik, yaitu Ibnu Sina dengan
filsafat Paripatetiknya (masysyaiyyah), Suhrawardi dengan filsafat Illuminasionisme
(isyraqiyyah), dan Ibn „Arabi dengan pemikiran „Irfaniyahnya (ma’rifah).16 Ideals and
Realities of Islam (1966), yang memaparkan tentang urgensi Al-Qur‟an sebagai wahyu
sekaligus sumber pengetahuan, juga mengenai Hadits sebagai sumber ajaran kedua setelah
Al-Qur‟an. Buku ini sebenarnya adalah seri ceramah Nasr yang disajikan di American
University of Beirut selama tahun akademik 1964-1965.17
Dan di akhir 1960-an Nasr melontarkan kritiknya terhadap Barat. Ia mengkritik
atas realitas kemanusiaan modern dalam karyanya Man and Nature: the Spiritual Crisis of
Modern Man (1968) yang berbicara tentang krisis spritual manusia modern dengan salah
satu buktinya yaitu manusia modern telah memperlakukan alam sekitarnya dengan
semena-mena. Hal ini sekaligus peringatan kepada negara berkembang yang telah

14
Pembagian periode ini sebagaimana merujuk periodesasi yang dibuat oleh Ali Maksum, Liihat Ali
Maksum, Tasawuf..., h. 56
15
Secara tradisional kosmologi dianggap sebagai cabang metafisika yang bergumul dengan
pertanyaan-pertanyaan mengenai asal dan susunan alam raya, penciptaan dan kekekalannya, vitalisme atau
mekanisme, kodrat hukum, waktu, ruang dan kausalitas. Lihat Loren Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta:
Gramedia, 2000), h. 499.
16
Maksum, Tasawuf..., h. 57
17
Buku ini telah diterjemahkan juga dalam bahasa Indonesia oleh Abdrurrahman Wahid dan
Hasyim Wahid. Lihat Seyyed Hossein Nasr, Islam antara Cita dan Fakta, terj. Abdurrahaman Wahid dan
Hasyim Wahid (Yogyakarta: Pusaka, 2001), h. 152.
terancam modernisasi dan globalisasi. Nasr menawarkan konsep Islam tentang Fitrah
manusia sebagai makhluk yang berketuhanan dan manusia harus menghormati alam
semesta sebagai sesama makhluk Tuhan sekaligus tajalli dari-Nya. Dan ia juga
memperkenalkan spirit sejarah sain tradisional kepada Barat yang meliputi konsep
metafisika, filsafat dan agama dalam Islam dalam karyanya Science and Civilization in
Islam (1968), buku ini juga mengetengahkan prinsip-prinsip Islam dan berbagai perspektif
dalam peradaban Islam hingga tradisi ma’rifah.
Pada periode kedua (1970-an), kritik Nasr terhadap dunia modern semakin
dipertajam dengan menawarkan alternatif keluar dari krisis modernitas dengan
memperkenalkan tasawuf yang merupakan bentuk kongkrit dari pemikirannya mengenai
gnosisme, „irfan dan filsafat yang ia pelajari sejak awal. Hal ini dipaparkannya dalam
bukunya Sufi Essay (1972). Islam and the Plight Modern Man (1976) juga tulisan Nasr
merupakan buku yang propokatif dan penuh keprihatinan yang membicarakan masalah
yang dihadapi oleh para muslim modern.
Memasuki periode ketiga (1980-an) ia banyak menuangkan gagasannya secara
kongkrit sebagai alternatif hidup di dunia modern. Ia banyak mengkritik para Muslim
modernis yang dinilai sebagai pengemban pemikiran modern Barat yang sekular. Seperti
contoh Muhammad Abduh, Al-Afghani, Amir Ali dan Ahmad Khan. Dan menurut Nasr,
selain mereka itu ada gerakan-gerakan puritanis rasionalistik yang membunuh tasawuf
seperti halnya gerakan Wahabiyah yang dituduh sebagai biang kemunduran umat Islam.
Hal ini dijelaskan dalam bukunya Islamic Life and Thought (1981). Knowladge and Sacred
(1981) merupakan karya Nasr yang banyak membicarakan epistemologi berpikir
Tradisional dalam Islam. Islamic Art and Sprituality (1987) mengulas keindahan dan
kebesaran seni budaya Persia sebagai seni suci dan seni tradisional.
Periode terakhir (1990-an) Nasr menggagas tindakan nyata tentang teori-teori dan
pendapatnya dengan lebih fokus mengarahkan pandangan sufistiknya menjadi praktis
dalam kehidupan modern seperti dalam karyanya Religion and Religion: The Chlallenge of
Living in a Multireligious World (1991) yang juga mengutarakan gagasannya tentang
peremuan dan kerukunan antar agama yang didasarkan pada filsafat perennial dan
pandangan Ibn „Arabi. Young Muslim’s Guide to the Modern World (1994) tentang
pengetahuan kesufian khusus untuk kaum muda, History of Islamic Philosophy (1994)
yang banyak membicarakan perkembangan filsafat Islam mulai dari jaman klasik hingga
jaman kontemporer sekarang ini, merupakan dua karya yang ditulis di akhir periode ini.
2. Posisi Pemikiran
Menurut Azra, pemikiran Nasr bisa dimasukan ke dalam beberapa model berfikir
yaitu posmodernis, neo-modernis, atau neo-sufisme. Dikatakan posmodernis karena ia
banyak mengkritik pemikir-pemikir modernis Islam seperti Abduh, Al-Afgani, Amir Ali
dan Ahmad Khan sebagai pengemban budaya Barat dan sekulerismenya. Neo-modernis
karena ia adalah pengkritik Barat dengan segala aspeknya, dan menampilkan kembali
warisan pemikiran Islam sebagai solusi atas modernitas yang dimotori Barat tersebut. Juga
sebagai neo-sufisme dengan bukti sebagai seorang pemikir sufi yang menerima pluralisme
dan perenialisme sebagai wujud nyata pemikiran sufinya, disamping sebagai sufi yang
sebenarnya yang selalu menginginkan penggalian yang sedalam-dalamnya atas spiritualitas
dan makan batin Islam.18
Nasr salah satu penyuara anti modernisme Islam yang ada di Barat yang juga
seorang ahli sain modern yang berpendidikan Barat. Dari Timur ia mewarisi akar tradisi
mistis dari Persia sebagai salah satu pusat tradisonalitas Islam, diajari bagaimana
memaknai Islam dari lahir hingga batin berdasarkan akar pemikiran Syi‟ah, disisi lain ia
juga sorang ahli ilmu terapan yang dipelajarinya dari Barat modern. Seorang ahli fisika
yang kemudian melintasi sektornya hingga metafisika. Dia termasuk orang yang kecewa
dengan ilmu sain modern yang tidak mampu memberikan jawaban atas pertanyaan yang
radikal tentang Wujud Abadi atau Realitas Universal.
Hal itu yang membuat ia menjadi seorang yang anti modernis dengan segala hal
yang ada di dalamnya. Sehingga juga tepat jika ia sebenarnya adalah seorang neo-
tradisionalis19 yang mencoba mengetengahkan rekonstruksi pemikiran Islam tradisional di
tengah dunia modern ini. Tentunya dengan sufisme sebagai solusi yang ia berikan sebgaia
sebuah keilmuan yang harus dipahami dan menjadi ruh dari keilmuan modern yang lain,
agar manusia modern kembali kepada khittahnya sebagai makhluk Tuhan.

3. Agama
Untuk memahami tradisi secara lebih baik, maka perlu adanya pembahasan tentang
hubungan tradisi dengan agama. agama (religion), juga memiliki akar yang hampir sama,

18
Azumardi Azra, “Memperkenalkan Pemikiran Hossein Nasr”, dalam Seminar Sehari:
Spiritualitas, Krisis Dunia Modern dan Agama Masa Depan (Jakarta: Paramadina, 1993), h. 35.
19
Kata neo berarti baru dan tradisionalis berarti penyokong aliran tradisionalisme. Jadi dapat
dikatakan bahwa neo-tradisionalis adalah seorang yang menganut tradisinalisme berpikir model baru; atau
pembaharu tradisionalisme Islam. Lihat Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Populer,
(Surabaya: Penerbit Arkola, tt), h. 517, 756.
yaitu "mengikat" (dari bahasa Latin religere). "Religio" adalah pengikat (Religat) antara
manusia dan langit dengan melibatkan keseluruhan wujudnya; sementara "traditio”
berkaitan dengan realitas.20 Jadi agama merupakan pengikat antara manusia dengan Tuhan
sekaligus juga antara manusia dengan manusia dalam sebuah komunitas sakral, yang oleh
muslim disebut ummah. Dalam arti itulah dapat dipahami bahwa agama dapat dikatakan
sebagai asal usul tradisi. Sebagai suatu yang berasal dari langit melalui wahyu,
memunculkan prinsip-prinsip tertentu, yang aplikasinya dapat dianggap sebagai atau
berupa tradisi. Sehingga agama cakupannya lebih luas dari pada tradisi karena agama
merupakan asal dari tradisi.
Adapun agama secara objektif mengandalkan adanya realitas suprim yang bersifat
personal, yaitu yang memiliki kehendak dan kemampuan mewahyukan keberadaan kepada
manusia, serta memiliki wewenang dan kebebasan. Sedang secara subjek, agama
mengandalkan adanya kemampuan manusia untuk menerima kebenaran yang diwahyukan,
yaitu adanya iman. Kemampuan ini merupakan salah satu keistimewaan manusia
dibandingkan makhluk-makhluk lain. Seperti kata Hossein Nasr:

"Setiap makhluk di dunia tetap menjadi dirinya sendiri, sebab ia telah


ditetapkan pada tingkat eksistensi tertentu. Hanya manusia yang dapat berhenti
menjadi manusia. Ia dapat naik ke tingkat eksistensi dunia tertinggi atau pada saat
yang sama jatuh di bawah tingkat makhluk yang paling rendah. Alternatif surga dan
neraka yang diberikan kepadanya menunjukkan kondisi manusia yang unik.
Dilahirkan sebagai manusia. Ia memiliki keuntungan yang tidak dimiliki makhluk-
makhluk lain, dan sangat tragis apabila ia menyia-nyiakan hidupnya untuk
mengejar hal-hal yang menjatuhkannya dari tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu
penyelamatan jiwanya".21

Nasr menjelaskan bahwa dalam semua agama terdapat dua hal esensial yang
merupakan dasar agama; pertama, doktrin yang membedakan antara yang mutlak dan yang
nisbi, kedua, metode untuk mendekatkan diri kepada yang nyata dan mutlak serta hidup
sesuai dengan kehendak-Nya, yang menjadi tujuan dari arti bagi eksistensi manusia. Tidak
sebuah agama-pun baik Hindu, Islam, Kristen atau Budha, dapat berdiri tanpa doktrin yang
membedakan antara yang mutlak dan yang nisbi. Hanya bahasa doktriner yang dari setiap

20
Sayyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred, (Pakistan: Suhail Academy, Lahore, 1988), h.
73.
21
Seyyed Hossein Nasr, Islam Dalam..., h. 10
agama saja yang dapat berdiri dengan baik tidak memiliki cara mendekatkan diri kepada
yang nyata serta hidup sesuai dengan kehendak-Nya.22

4. Eksoterik dan Esoterik


Hakikat tradisi yang melingkupi segala sesuatu dimungkinkan oleh adanya sifat
kehadiran dimana-mana yang menjadi karakter setiap tradisi yang integral. Ia menjadikan
agama sebagai pangkal segala level dan dimensi berbagai ajaran yang perujuk pada
tingkatan spritual dan intelektual. Secara garis besar tingkatan ini dikelompokan menjadi
dua yaitu eksoterik dan dimensi esoterik. Eksoterik mengatur keseluruhan hidup manusia
secara tradisional, dalam arti realitas yang mencakup setap denyut kehidupan dalam
masyarakat, dimana seluruh aktivitas berkaitan dengan norma-norma transenden,
sedangkan yang kedua esoterik berkaitan dengan kebutuhan spritual dan intelektual mereka
yang ingin mencari Tuhan.
Nasr menjelaskan bahwa tradisi Yahudi memiliki dua hal tersebut, eksoterik
terwadahi dalam talmudik sedangkan esoterik dalam kabalistik. Dalam Islam ada syari'ah
sebagai perwujudan eksoterik dan thariqah perwujudan esoterik. Sedangkan dalam Kristen
sebenarnya juga merupakan agama yang eso-eksoterik, meski kurang tegas dibandingkan
dua tradisi di atas yang semenjak awal sudah memiliki aspek esoterik.23

5. Orthodoksi
Tradisi akan selalu mengimplikasikan adanya ortodoksi, bahkan lebih dari itu,
ortodoksi tidak dapat dipisahkan dari keduanya. Jika ada sesuatu yang dinamakan
kebenaran, maka harus ada yang namanya kesalahan-kesalahan serta norma-norma yang
dapat digunakan oleh manusia untuk membedakan keduanya. Ortodoksi sendiri
mempunyai pengertian sebagai hakikat kebenaran dan kaitannya dengan homogenitas
formal dunia tradisional. Artinya ortodoksi merupakan doktrin yang terkandung dalam
ajaran-ajaran suci, karenanya ia mempunyai nilai kebenaran dan bersesuaian dengan dunia
tradisional yang merupakan manifestasi keberan itu sendiri.24
Nasr menyatakan bahwa ortodoksi merupakan kriteria utama penilaian tradisional
atau tidak suatu ajaran didasarkan atas pandangannya bahwa tidak ada tradisi tanpa
ortodoksi serta tidak ada kemungkinan ortodoksi di luar tradisi. Ajaran dapat dikatakan

22
Seyyed Hossein Nasr, Islam Dalam..., h. 1
23
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge..., h. 78.
24
Seyyed Hossein Nasr, Knowledge..., h. 88.
tradisional apabila menyiratkan kebenaran yang kudus, yang langgeng, serta penerapan
bersinambungan (prinsip-prinsipnya) yang langgeng terhadap berbagai situasi ruang dan
waktu. Atas dasar ini para tradisionalis menerima wahyu (kalam Tuhan) baik kandungan
maupun bentuknya sebagai permulaan duniawi kalam abadi Tuhan yang tercipta tanpa
asal-usul temporal. Disamping itu, mereka mempertahankan, meminjam istilah Islam-
Syari'ah sebagai hukum Tuhan. Namun mereka menerima kemungkinan meberikan
pandangan-pandangan berdasarkan prinsip-prinsip legal (Ijtihad).25

C. KRITIK NASR TERHADAP MODERNISME


Seyyed Hossein Nasr adalah salah seorang di antara sekian pemikir muslim
kontermporer yang paling terkemuka pada tingkat internasional yang banyak memberikan
perhatian dan memberikan kritik yang tajam pada masalah-masalah yang dihadapi manusia
modern. Bagi Nasr yang dimaksud istilah modern bukan berarti kontemporer atau
mengikuti zaman, bukan pula suatu yang berhasil menaklukkan atau mendominasi alam
semesta. Sebaliknya, bagi dia modern berarti sesuatu yang terpisah dari yang Transenden,
dari prinsip-prinsip langgeng yang dalam realitas mengatur materi dan diberitakan kepada
manusia melalui wahyu dalam pengertian yang paling universal. Modernisme dengan
demikian, oleh Nasr, dipertentangkan dengan tradisi (al-din); modernisme
mengimplikasikan semua yang semata-mata manusiawi dan kini jauh semakin
submanusiawi, dan semua yang tercerai dan terpisah dari sumber yang Ilahi. Kalu selama
ini tradisi menyertai dan dalam kenyataanya menjadi ciri eksistensi manusia, sementara
modernisme adalah sebuah fonomena yang sangat baru.26
Hampir tidak ada lagi pokok perdebatan yang memancing gejolak rasa dan
perdebatan dikalangan umat Islam dewasa ini selain relasi antara pemikiran Islam dengan
dunia barat. Disadari atau tidak peradaban barat telah menggerogoti konstruk pemikiran
Islam sehingga barangkali sudah lebih dari dua abad umat Islam hidup dalam bayang-
bayang peradaban barat, banyak pihak yang merasa khawatir akan tercerabutnya nilai-nilai
Islam itu sendiri dari pemeluknya.
Peradaban barat telah menimbulkan multi krisis, baik krisis moral, spiritual, dan
krisis kebudayaan yang dimungkinkan lebih disebabkan corak peradaban modern industrial
yang dipercepat oleh globalisasi yang merupakan rangkaian dari kemajuan barat pasca

25
Seyyed Hossein Nasr, Traditional Islam..., h. 4-5.
26
Seyyed Hossein Nasr, Traditional Islam..., h. 98.
renaisans. Paham yang serba mendewakan manusia dan kehidupan dunia yang sifatnya
temporal. Hal ini secara faktual telah melahirkan tercerabutnya kebermaknaan dalam hidup
manusia, akibat hilangnya nilai-nilai transendental agama dari kehidupan manusia.
Satu hal yang dianggap sebagai kegagalan peradaban modern yang paling fatal
ialah percobaan manusia untuk hidup dan menapikan keberadaan Tuhan dan agama. Suatu
hal yang tentu sangat bertentangan dengan fitrah manusia yang dalam hatinya memiliki
potensi ilahiyah, dan pasti akan selalu membutuhkan sesuatu yang bersifat transenden yaitu
Tuhan.
Proses sekularisasi melangkah lebih jauh pada abad ke-19 bahkan memasuki
wilayah Teologi, yang sampai saat itu masih secara alamiah bersatu dengan kerangka
agama, dan kemudian jatuh dibawah kekuasaan sekularisme. Pada waktu itu ideologi
ateistik mulai mengancam teologi itu sendiri sementara persfektif teologi tradisional mulai
mundur dari satu wilayah yang seharusnya didudukinya. Yakni wilayah pemikiran agama
yang murni. Disini penting disebutkan bahwa teologi yang dipahami dalam konteks barat
adalah hal yang utama bagi Kristen, berbeda dengan Islam yang menempatkan teologi
tidak sepenting hukum Islam. Dalam Kristen, semua pemikiran yang serius berkaitan
dengan teologi dan karenanya kemunduran teologi Kristen pada tingkat yang belum pernah
terjadi sebelumnya dari berbagai wilayah pemikiran juga berarti kemunduran agama di
barat dari kehidupan sehari-hari dan pemikiran manusia barat. Kecenderungan ini
mencapai tingkat seperti itu pada abad ke-20 ketika sebagian besar teologi itu, secara
berangsur-angsur mengalami proses sekularisasi.27
Manusia memerlukan petunjuk Tuhan dan harus mengikuti petunjuk itu, agar dia
dapat menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya dan agar ia mampu mengatasi
rintangan dalam menggunakan akalnya. Nasr berkeyakinan bahwa akal dapat mendekatkan
manusia kepada Tuhan apabila akal itu sehat dan utuh (salim), dan hanya petunjuk Tuhan
yang menjadi bukti yang paling meyakinkan dari pengetahuan-Nya yang dapat menjamin
keutuhan dan kesehatan akal, sehingga akal dapat berfungsi dengan baik dan tidak
terbutakan oleh nafsu keduniawian.28
Sebagai manusia yang telah dibimbing oleh agama, kita tidak seharusnya
mencontoh apa yang menjadi sisi negatif dari modernisasi di dunia barat, meskipun
peranan modern itu lahir dari sebuah keunggulan metodologi sains. Yang harus kita

27
Sayyed Hossein Nasr, Menjelajahi Dunia Modern, (Bandung: Mizan, 1995), h. 149.
28
Sayyed Hossein Nasr, Islam Dalam..., h. 7-8.
lakukan sekarang adalah mengusahakan agar bagaimana iman, ilmu, dan teknologi
senantiasa selalu berjalan beriringan. Yang menjadi tugas kita sekarang adalah bagaimana
agar kita dapat mengangkat kembali dan mengembalikan posisi kemanusiaan dalam tempat
semula yang lebih baik. Seperti yang telah dikatakan Yusuf Qardhawi,
"manusia barat telah membuka tabir pengetahuan yang cukup banyak. Tetapi
mereka tidak mampu menguak misteri dibalik wujudnya. Mereka telah mengetahui
pengetahuan fisik, tetapi tidak dapat menundukan nafsunya. Mereka telah
mendapatkan nuklir, tetapi gagal mendapatkan ideologi dan spiritnya. Sangat indah
apa yang telah dikatakan filosof India ditunjukan kepada salah seorang pemikir
Barat, “Sudah cukup baik, kalian terbang tinggi di udara bagai burug. Kalian telah
menyelam ke dasar laut seperti ikan. Namun kalian sama sekali tidak berjalan baik
di muka bumi ini seperti layaknya manusia.29
Mungkin inilah yang bisa kita sebut sebagai krisis identitas. Peradaban barat yang
maju dari segi materi, ternyata telah gagal memahami manusia sebagai makhluk yang
multi dimensia. Manusia bukan hanya sebatas makhluk yang mengandalkan kemampuan
indera dan akal, tetapi lebih dari itu ia adalah makhluk Tuhan yang mengemban amanat
dari Tuhannya untuk menjadi pemimpin dan pengelola segala potensi yang ada di dunia
ini, untuk kemudian dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan.
Manusia modern harus kembali diingatkan dan diarahkan kepada kesucian, Tuhan
yang merupakan asal dan sekaligus pusat dari segala sesuatu dan kepadanyalah manusia
kembali. Pemisahan manusia dari kesempurnaan aslinya hanya akan menggiring manusia
pada apa yang dikatakan Kristen “kejatuhan”. Manusia berada dalam belenggu kebebasan
yang semu, sifat ketuhanan (theomorfis) yang seharusnya ada pada peradaban modern
maupun renaisans. Kepada manusia-manusia yang seperti inilah tradisi agama seharusnya
disampaikan dan manusia-manusia batiniah inilah yang hendak dibebaskan tradisi dari
belenggu ego dan keadaan yang mencekam karena sebuah aspeknya dilupakan dan
dianggap sama sekali eksternal. Hanya tradisi yang dapat membebaskan mereka, bukan
agama-agama palsu yang pada saat ini sedang bermunculan.30
Ini merupakan penyakit yang obatnya ada pada peradaban kita yang Illahiyah,
Insaniyah, dan Universal. Suatu peradaban haq, bajik, seimbang serta adil. Peradaban yang
mendudukan segalanya pada porsi yang sebenarnya. Tidak menyimpang dari posisinya.
Suatu tata peradaban yang memadukan mesjid dan pabrik, memadukan agama dan ilmu,
akal dan hati, materi dan ruh, serta menyelaraskan hubungan waktu kemarin hari ini dan
esok, idealisme dan realisme.

29
Yusuf Qardhawi, Epistemologi AL-Quran, (Surabaya: 1996), h. 113.
30
Sayyed Hossein Nassr, Islam dan Nestapa..., h. 83.
D. GAGASAN ISLAM TRADISIONAL (TRADISIONALISME)
Sebelum kita membahas lebih mendalam bahasan ini, alangkah baiknya apabila
kita terlebih dahulu mengetahui apa arti dari tradisi. Tradisi bisa berarti ad-din dalam
pengertian yang seluas-luasnya, yang mencakup semua aspek agama dan percabangannya;
bisa pula disebut as-sunnah, yaitu apa yang sudah menjadi tradisi sebagaimana kata ini
umumnya dipahami; bisa juga diartikan al-silsilah, yaitu rantai yang mengkaitkan setiap
periode, episode atau tahap kehidupan dan pemikiran di dunia tradisional kepada sumber,
seperti tampak gamblang dalam sufisme. Karenanya tradisi mirip sebuah pohon, akar-
akarnya tertanam melalui wahyu di dalam sifat illahi dan darinya tumbuh batang dan
cabang-cabang sepanjang zaman. Dijantung pohon tradisi itu berdiam agama, dan
saripatinya terdiri dari barakah yang karena bersumber dari wahyu, memungkinkan pohon
tersebut terus hidup. Tradisi menyiratkan kebenaran yang kudus, yang langgeng, yang
tetap, kebijaksanaan yang abadi, serta penerapan bersinambung prinsip-prinsip yang
langgeng terhadap berbagai situasi ruang dan waktu.31
Islam tradisional memandang manusia bukan sebagai makhluk yang terpenjara oleh
akal dalam arti rasio semata sebagaimana yang dipahami pada zaman renaisans, tetapi
sebagai makhluk yang suci, yang tak lain adalah manusia tradisional. Manusia suci,
menurut nasr, hidup di dunia yang mempunyai asal maupun pusat. Dia hidup dalam
kesadaran penuh sejak asal yang mengandung kesempurnaannya sendiri dan berusaha
untuk menyamai, memiliki kembali, dan mentransmisikan kesucian awal dan
keutuhannya.32
Sejauh doktrin tradisional tentang manusia diperhatikan, hal itu didasarkan pada
konsep manusia primordial sebagai sumber kemanusiaan, refleksi total dan lengkap
mengenai Illahi dan realitas pola dasar yang mengandung posibilitas-posibilitas eksistensi
kosmik itu sendiri. Signifikasi Islam tradisional dapat pula dipahami dalam sinaran
sikapnya terhadap fase Islam. Islam Tradisional menerima Qur‟an sebagai kalam Tuhan
baik kandungan maupun bentuknya: sebagai persoalan duniawi abadi kalam Tuhan, yang
tak-tercipta dan tanpa asal-usul temporal. Islam tradisional juga menerima komentar-
komentar tradisional atas Qur‟an yang berkisar dari komentar-komentar yang linguistik
dan historikal hingga yang sapiental dan metafisikal.33

31
Sayyed Hossein Nasr, Islam Tradisi..., h.3
32
Sayyed Hossein Nasr, Intelektual Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), h. 185.
33
Sayyed Hossein Nasr, Islam Tradisi..., h. 4
Sifat primordial dan paripurna tentang manusia yang Islam menyebutnya “Manusia
sempurna”(insan kamil), dan doktrin-doktrin sapiensial kuno Gracco-Aleksandrian juga
menyinggung dalam istilah yang hampir sama, kecuali aspek-aspek Abrahamik dan
Islamik yang secara khusus tidak muncul dalam sumber-sumber Neo-platonik dan
hermetik, yang menyatakan bahwa realitas manusiawi mempunyai tiga aspek fundamental.
Pertama adalah dari realitas pola dasar alam semesta, kedua instrumen atas makna dimana
wahyu turun ke dunia, dan ketiga, model sempurna untuk kehidupan spiritual dan
pemancar pengetahuan esoterik mutakhir. Dengan kebajikan realitas manusia universal,
manusia terestrial dapat memperoleh akses pewahyuan dan tradisi, sehingga tersucikan.
Akhirnya, melalui realitas yang tak lain daripada aktualisasi realitas manusia itu sendiri,
manusia mampu mengikuti jalan sempurna yang akhirnya memungkinkan memperoleh
pengetahuan suci, dan akhirnya menjadi dirinya sendiri secara sempurna.34
Mengenai metafisika, Nasr berpendapat bahwa metafisika merupakan pengetahuan
yang real. Ia menjelaskan asal-usul dan tujuan semua realitas, tentang yang absolut dan
relatif . oleh karena itu, Nasr mengusulkan jika manusia ingin tinggal di dunia lebih lama,
prisip-prinsip metafisika harus dihidupkan kembali.35

E. GAGASAN ISLAMISASI SAYYED HOSSEIN NASR (Pembaruan Kembali ke


Konsep Islam Tradisi)
Keyakinan atau aqidah adalah unsur yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan
manusia, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Ia merupakan referensi bagi
suatu tindakan, dalam arti bahwa sebelum seseorang melakukan suatu perbuatan, dia selalu
menimbangnya dengan keyakinan yang dimilikinya. Sebelum bertindak, seseorang yang
memiliki keyakinan agama, misalnya, pasti terlebih dahulu menilai apakah perbuatan yang
akan dilakukannya sesuai dengan keyakinan agamanya ataukah tidak. Jika sesuai, ia akan
melakukannya dengan sebaik-baiknya, sebab dia yakin bahwa perbuatannya tidak hanya
memiliki dampak bagi kehidupan masa kininya, tetapi juga pada kehidupan akhiratnya
kelak. Akan tetapi, jika perbuatan itu bertentangan dengan keyakinannya, maka
kemungkinan besar dia tidak akan melakukannya. Kalau pun karena satu dan lain alasan
kemudian dia melakukannya juga, dia pasti akan merasa bersalah dan berdosa.36

34
Sayyed Hossein Nasr, Islam Tradisi..., h. 192
35
Chatib Saefullah, Pemikiran Sayyed Hossein Nassr Tentang Epistemologi, (Tesis Oleh Dawam
Raharjo, 1995), hal 75.
36
Afif Muhammad, Dari Teologi ke Ideologi, (Bandung: Pena Merah, 2004), h. 1.
Barangkali semua dorongan itulah yang menyebabkan timbulnya dorongan yang kuat bagi
Nasr untuk tetap menggelorakan pembaharuan (tajdid) kearah bangkitnya kembali Islam
Tradisional yang diyakininya merupakan solusi terbaik bagi umat Islam untuk mengangkat
kembali Islam yang telah “terinjak” dibawah peradaban modern barat.
Semangat pembaharuan (tajdid) ini merupakan cita-cita Nasr untuk mengembalikan
Islam pada kedudukannya semula yang sekarang ini sudah banyak terkontaminasi
modernisasi barat yang sekuler, dan meninggalkan nilai-nilai Illahiah dan insaniah. Nasr
kemudian mengindentikan tajdid dengan renaisans yang menurut pengertian yang
sebenarnya. Suatu renaisanas dalam Islam berkaitan dengan tajdid, atau pembaruan, yang
dalam konteks tradisional diidentikan dengan fungsi dari tokoh pembaruan (mujaddid)
tersebut. Namun seorang mujaddid berbeda dengan seorang “tokoh reformasi” menurut
pengertian modernnya yang disebut muslih.37
Pembaruan yang dilakukan Nasr adalah mengembalikan manusia pada asalnya
sebagaimana telah dilakukan manusia dalam perjanjian suci dengan Tuhannya, dari
kealpaan tentang dirinya, sehingga membuat dirinya jatuh kedalam belenggu karya
rasionalitasnya yang meniadakan Tuhan. Manusia menurut Nasr, pada awalnya adalah
makhluk suci, namun karena penolakannya kepada Tuhan melalui tradisi Ilmiah telah
membuat dirinya tak mengenal siapakah realitas sesungguhnya dia dihadapan Tuhannya.
Nasr berpendapat bahwa pembaruan tidak bisa hanya dilakukan dari sisi materi
saja, tetapi juga yang paling dasar adalah melakukan perubahan dari dalam dirinya sendiri,
untuk kemudian ia melakuan pembaruan terhadap realitas yang ada disekitarnya.
Nasr merupakan figur yang sangat relevan kita ia menggembor-gemborkan tentang
tajdidd. Nasr merupakan tokoh yang memiliki wawasan yang sangat luas tentang seluk-
beluk peradaban modern dengan segala implikasi-implikasi yang bisa ditimbulkannya.
Namun demikian, keakraban Nasr dengan alam modern tidak lantas menyebabkan ia
tercerabut dari akar peradaban Islam, malah ia lebih menancapkan lagi dimana posisi Islam
seharusnya ditempatkan. Nasr telah berhasil menciptakan batasan-batasan antara Islam dan
barat, tradisi dan modernisasi, dan dengan itu semua orang bisa memilih posisi dimana ia
akan mengambil tempat.

37
Sayyed Hossein Nasr, Islam dan Nestapa..., h. 206.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sayyed Hossein Nasr, adalah orang yang telah sekian lama hidup dan akrab dengan
dunia modern yang tetap istiqamah dalam pendiriannya, dan tidak tertipu oleh kemajuan
semu peradaban modern. Ia menggelorakan semangat pembaharuan (tajdidd), yaitu seruan
agar umat Islam tidak tertipu oleh peradaban barat, dan kembali pada nilai-nilai tradisi
Islam, yang dilandasi oleh Al-Qur‟an dan al-Hadits. Semangat pembaruan atau tajdidd ini
kemudian kita yang kenal dalam bahasa Nasr sebagai Islam tradisi.
Islam tradisi tidak berarti menutup diri terhadap kemajuan, malahan Islam
merupakan agama yang menyuruh umatnya untuk maju dan mengelola segala potensi yang
telah diberikan Tuhan untuk manusia dan menyadari hakekat keberadaan dirinya di muka
bumi ini yaitu untuk beribadah dan menghambakan dirinya pada Tuhan.
Kita patut mengacungkan jempol untuk Nasr atas gagasannya ini. karena umat
Islam tidak akan menjadi umat yang beruntung ketika ia meninggalkan atau tercerabut dari
tradisinya. Ketika orang-orang barat meninggalkan tradisinya, maka mereka berhasil
mencapai kemajuan. Namun ketika umat Ilam meninggalkan tradisinya, maka yang akan
didapatkan hanyalah kenistaan.

B. Saran
Kajian tentang tokoh Sayyen Hossein Nasar ini sebenarnya tidaklah cukup kita
bahas dalam satu makalah singkat ini saja. Namun akan lebih sempurna lagi bila kita bisa
membaca berbagai karya yang telah ditulih oleh Nasr sendiri yang merupakan hasil
pemikiran-pemikiran beliau yang banyak memberikan kontribusi bagi khazanah keislaman
di dunia modern sekarang. Untuk itu penulis berharap agar tulisan ini bermamfaat dan
tentunya tidak hanya sampai di sini saja, melainkan hendaknya para pembaca bisa
menela'ah lebih lanjut buah pemikiran Nasr sebagai tambahan pengetahuan bagi kita
semua.
DAFTAR PUSTAKA

Afif, Muhammad. Dari Teologi ke Ideologi. Bandung: Pena Merah. 2004.


Bagus, Loren. Kamus Filsafat. (Jakarta: Gramedia. 2000.
Maksum, Ali. Tasawuf Sebagai Pembebasan Manusia Modern: Telaah Signifikansi
Konsep “Tradisionalisme Islam” Saiyyed Hossein Nasr. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar. 2003.
Nasr, Seyyed Hossein. Intelektual Islam.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1997.
Nasr, Seyyed Hossein. Islam and The Plight of Modern Man, London: Longman Group,
1975
Nasr, Seyyed Hossein. Islam dalam Cita dan Fakta. (terj. Abdurrahman Wahid dan
Hashim Wahid). Jakarta: LEPPENAS, PT. Panca Gemilang Indah. 1983.
Nasr, Seyyed Hossein. Islam dan Nestapa Manusia Modern. Bandung: Penerbit Pustaka,
1983.
Nasr, Seyyed Hossein. Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern. Bandung: Penerbit
Pustaka, 1994.
Nasr, Seyyed Hossein. Knowledge and the Sacred. Pakistan: Suhail Academy, Lahore.
1988.
Nasr, Seyyed Hossein. Menjelajahi Dunia Modern. Bandung: Mizan. 1995.
Nasr, Seyyed Hossein. Science and Civilization in Islam. London: New American Library.
1970.
Nasr, Seyyed Hossein. Sufi Essays. London: George Allen & Unwin. 1972.
Nasr, Seyyed Hossein. Traditional Islam in the Modern Word. London: Worts-Power
Associates. 1987.
Partanto, Pius A. dan M. Dahlan al-Barry. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Penerbit Arkola. Tt.
Qardhawi, Yusuf. Epistemologi AL-Quran. Surabaya: tt. 1996.
Saefullah, Chatib. Pemikiran Sayyed Hossein Nassr Tentang Epistemologi, (Tesis Oleh
Dawam Raharjo), 1995.

http://www.crcs.ugm.ac.id/staffile/zab/filsafat_perennial_kembali_ke_masa_depan.htm
http://wikipedia.com/