Anda di halaman 1dari 29

IMPAKSI

A.

Definisi Impaksi
Gigi impaksi adalah gigi yang sebagian atau seluruhnya tidak erupsi dan posisinya

berlawanan dengan gigi lainnya, jalan erupsi normalnya terhalang oleh tulang dan jaringan
lunak, terhalang oleh gigi tetangganya, atau dapat juga oleh karena adanya jaringan patologis.
Impaksi dapat diperkirakan secara klinis bila gigi antagonisnya sudah erupsi dan hampir
dapat dipastikan bila gigi yang terletak pada sisi yang lain sudah erupsi.1
Gigi Impaksi adalah gigi yang jalan erupsi normalnya terhalang atau terblokir dengan
gigi lain, tulang, atau jaringan lunak sehingga tidak memungkinkan untuk mencapai posisi
normal di dalam rongga mulut.2

B.

Etiologi Impaksi
Etiologi dari gigi impaksi bermacam-macam diantaranya kekurangan ruang, kista,

gigi supernumerery, retensi gigi sulung, infeksi, trauma, anomali dan kondisi sistemik. Faktor
yang paling berpengaruh terhadap terjadinya impaksi gigi adalah ukuran gigi. Sedangkan
faktor yang paling erat hubungannya dengan ukuran gigi adalah bentuk gigi.1
Pada umumnya gigi susu mempunyai besar dan bentuk yang sesuai serta letaknya
terletak pada maksila dan mandibula. Tetapi pada saat gigi susu tanggal tidak terjadi celah
antar gigi, maka diperkirakan akan tidak cukup ruang bagi gigi permanen penggantinya
sehingga bisa terjadi gigi berjejal dan hal ini merupakan salah satu penyebab terjadinya
impaksi.1
Penyebab meningkatnya impaksi gigi geraham rahang bawah disebabkan oleh karena
faktor kekurangan ruang untuk erupsi. Hal ini dapat dijelaskan melalui penelitian yang
dilakukan oleh Chanda dkk pada suku Bugis dan suku Toraja yang dikutip oleh Erlinda,
Cholil, dan Bayu, menyimpulkan bahwa impaksi yang terjadi disebabkan karena faktor
lingkungan dan genetik. Faktor lingkungan ialah faktor jenis makanan. Mengkonsumsi jenis
makanan yang bersifat lunak, menyebabkan lengkung rahang tidak berkembang secara
sempurna, hal tersebut menyebabkan molar ketiga kekurangan ruang untuk erupsi sehingga
terjadi impaksi.3

Selain itu salah satu penyebab gigi impaksi ialah adanya hambatan dari sekitar gigi
atau hambatan dari gigi itu sendiri. Hambatan-hambatan tersebut dapat berupa : 2
a. Hambatan dari sekitar gigi dapat terjadi karena :

Tulang yang tebal serta padat


Tempat untuk gigi tersebut kurang
Gigi tetangga menghalangi erupsi gigi tersebut
Adanya gigi desidui yang persistensi
Jaringan lunak yang menutupi gigi tersebut kenyal atau liat

b. Hambatan dari gigi itu sendiri dapat terjadi oleh karena :

Ukuran gigi dan bentuk gigi


Letak benih abnormal, horizontal, vertikal, distal dan lain-lain
Daya erupsi gigi tersebut kurang

Berdasarkan teori Mendel, ada beberapa faktor yang menyebabkan gigi mengalami
impaksi, antara lain jaringan sekitar gigi yang terlalu padat, persistensi gigi susu, tanggalnya
gigi susu yang terlalu dini, tidak adanya tempat bagi gigi untuk erupsi, rahang terlalu sempit
oleh karena pertumbuhan tulang rahang kurang sempurna. Teori Mendel, juga menyatakan
bahwa orang tua mempunyai rahang kecil dan salah satu orang tua lainnya bergigi besar,
maka kemungkinan salah satu anaknya berahang kecil dan bergigi besar. Kondisi tersebut
mengakibatkan terjadi kekurangan tempat erupsi gigi permanen sehingga terjadi impaksi.
Berdasarkan teori filogenik, gigi impaksi terjadi karena proses evolusi mengecilnya ukuran
rahang sebagai akibat dari perubahan perilaku dan pola makan pada manusia.2
Menurut Berger, gigi impaksi dapat disebabkan oleh banyak faktor, antara lain :4
a.

Lokal

Abnormalnya posisi gigi


Tekanan dari gigi tetangga pada gigi tersebut
Penebalan tulang yang mengelilingi gigi tersebut
Kekurangan tempat untuk gigi tersebut bererupsi
Gigi desidui persistensi(tidak mau tanggal)
Pencabutan prematur pada gigi
Inflamasi kronis penyebab penebalan mukosa disekitar gigi
Penyakit yang menimbulkan nekrosis tulang karena inflamasi atau abses
Perubahan-perubahan pada tulang karena penyakit eksantem pada anak-anak.

b. Umum
Faktor umur dapat menyebabkan terjadinya gigi impaksi walaupun tidak ada
penyebab lokal, antara lain :
2

Penyebab Prenatal
Keturunan
Miscegenation
Penyebab Postnatal
Ricketsia
Anemi
Syphilis congenital
TBC
Gangguan kelenjar endokrin
Malnutrisi
Kondisi Lainnya
Cleido cranial dysostosi
Oxycephali
Progeria
Achondroplasia
Celah langit-langit
C.

Indikasi dan Kontraindikasi Pencabutan Gigi Impaksi

Indikasi
Adapun indikasi pengangkatan gigi impaksi, adalah :5
1.

2.

Pencegahan dari terjadinya :


Infeksi karena erupsi yang terlambat dan abnormal (perikoronitis)
Berkembangnya folikel menjadi keadaan patologis (kista odontogenik dan neoplasma)
Usia muda, sesudah akar gigi terbentuk sepertiga sampai dua pertiga bagian dan sebelum

3.
4.
5.

pasien mencapai usia 18 tahun (periode emas)


Adanya infeksi (focus selulitis)
Adanya keadaan patologi (odontogenik)
Penyimpangan panjang lengkung rahang dan untuk membantu mempertahankan

6.

stabilitas hasil perawatan ortodonsi


Prostetik atau restoratif (diperlukan untuk mencapai jalan masuk ke tepi gingiva distal

7.

dari molar kedua di dekatnya)


Apabila molar kedua di dekatnya dicabut dan kemungkinan erupsi normal atau

8.

berfungsinya molar ketiga impaksi sangat kecil


Secara umum, sebelum tulang sangat termineralisasi dan padat yaitu sebelum usia 26
tahun.

Kontraindikasi
Adapun kontraindikasi pengangkatan gigi impaksi, adalah :5
1. Sebelum panjang akar mencapai sepertiga atau dua pertiga dan apabila tulang yang
menutupinya terlalu banyak (pencabutan prematur)
3

2.

Jika kemungkinan besar akan terjadi kerusakan pada struktur penting di sekitarnya atau
kerusakan tulang pendukung yang

luas misalnya

rasio risiko/manfaat

tidak

3.

menguntungkan
Apabila kemampuan pasien untuk menghadapi tindakan pembedahan terganggu oleh

4.

kondisi fisik atau mental tertentu.


Jika diperkirakan erupsi gigi molar tiga normal

D.

Klasifikasi Gigi Molar Impaksi

1.

Hubungan radiografis terhadap molar kedua


Hubungan radiografis terhadap molar kedua. Gigi molar 3 rahang atas dan bawah
yang impaksi dikelompokan berdasarkan hubungan dengan molar kedua. Klasifikasi
yang di dasarkan sinar-X ini dilakukan dengan melihat inklinasi gigi yang mengalami
impaksi yaitu: 6

Mesioangular
Distoangular
Vertikal
Horizontal
Melintang

Gambar 1.
Impaksi molar tiga bawah diklasifikasikan berdasarkan hubungan
4

ruang dengan gigi molar dua di sebelahnya. 6

2. Kedalaman
Baik gigi impaksi atas maupun bawah bisa dikelompokkan berdasarkan
kedalamannya, dalam hubungannya terhadap garis servikal molar dua di sebelahnya.
Pada level A, mahkota molar tiga yang impaksi berada pada atau di atas garis oklusal,
Pada level B mahkota molar tiga dibawah garis oklusal tetapi di atas garis servikal molar

dua. Sedangkan pada level C, mahkota gigi yang impaksi terletak di bawah garis
servikal.6

Gambar 2.
Klasifikasi impaksi berdasarkan kedalamannya.
A. Level A, B. Level B, C. Level C. 6

3.

Panjang lengkung/atau kedekatannya dengan ramus ascendens


Impaksi molar tiga bawah juga diklasifikasikan berdasarkan hubungannya
5

terhadap

linea

obliqua

eksterna

atau

tepi

anterior

ramus
ascendens.

Pada klas

I ada celah

di

sebalah

distal

molar

dua

yang

potensial

untuk

tempat

erupsi

molar

tiga.

Pada klas

II, celah di

sebelah

distal molar

dua lebih

sempit dari

lebar

mesio-distal mahkota molar tiga, sedangkan pada klas III mahkota gigi impaksi
seluruhnya terletak di dalam ramus.6
Gambar 3.
Gigi molar tiga bawah impaksi diklasifikasikan berdasarkan
hubungannya dengan ramus mandibula. 6

Kategori-kategori di atas, lalu dilakukan analisa kesulitan. Ini merupakan titik awal
untuk suatu analisa atau memperkirakan tingkat kesulitan pencabutan gigi impaksi. Secara
umum, semakin dalam letak gigi impaksi dan semakin banyak tulang yang menutupinya serta
makin besar penyimpangan angulasi gigi impaksi dari kesejajaran terhadap sumbu panjang
molar dua, makin sulit pencabutannya. Pilihan yang diperoleh dari analisa ini adalah : 7
1. Tidak dilakukan tindakan
2. Pencabutan gigi yang impaksi
3. Rujukan

Gambar 4.
Indeks kesulitan dari pembedahan molar tiga bawah impaksi.

E.

Gigi Kaninus (C) Rahang atas dan bawah


Merupakan anomali dari gigi kaninus yang sebagian besar berhubungan dengan
perawatan endodontik pada gigi kaninus sulung, anomali dari gigi insisor, atau
kekurangan ruang bagi gigi kaninus tersebut.7

Klasifikasi Gigi Kaninus Rahang Atas Menurut Acher 7

Klas I : Gigi berada di palatum dengan posisi horizontal, vertikal atau


semi vertical.

Klas II : Gigi berada dibukal, dengan posisi horizontal, vertikal atau semi
vertical.

Klas III : Gigi dengan posisi melintang, korona dipalatinal, akarnya


melalui atau berada diantara akar-akar gigi tetangga da apeks berada
disebelah labial atau bukal dirahang atas atau sebaliknya.

Klas IV : Gigi berada vertikal di prosessus alveolaris diantara gigi


insisivus dan premolar.

Klas V : Impaksi kaninus berada pada edentolous (rahang yang ompong).


7

Gambar 5
Klasifikasi Impaksi Kaninus Rahang Atas. 7

Gigi Kaninus (C) Rahang Bawah 7

Level A: Mahkota gigi kaninus terpendam berada di servikal line gigi

sebelahnya.
Level B: Mahkota gigi kaninus terpendam berada di antara garis servikal

dan apikal akar gigi disebelahnya


Level C: Mahkota gigi kaninus terpendam berada dibawah apikal akar gigi
sebelahnya.

Gambar 6
Klasifikasi Impaksi Kaninus Rahang Bawah Berdasarkan Kedalaman.
8

Jika gigi kaninus yang impaksi tidak bisa dikembalikan lagi ke posisi normal, maka
harus dilakukan pembuangan secara bedah dan ditinjau secara berkala. 7
Mandibula premolar kedua peringkat ketiga setelah geraham permanen 3 dan gigi
taring rahang atas, frekuensi gigi terkena dampak. Secara keseluruhan prevalensi premolar
dampak adalah 0,5% dan bahwa dari mandibula premolar adalah 0,2 hingga 0,3%. Mandibula
premolar kedua sendiri akun untuk 24% dari semua impaksi gigi molar tidak termasuk.
Impaksi premolar mungkin karena lokal faktor misalnya pergeseran mesial gigi oleh
hilangnya dini geraham primer, posisi ektopik tunas premolar; atau patologi misalnya kista
dentigerous. Berbagai macam memperlakukan metode telah diusulkan termasuk observasi
tion, orthodonsi interceptive, paparan bedah dengan intervensi ortodontik, auto-transplantasi
dan mantan traksi tergantung pada posisi gigi yang terkena dampak, relativitas dengan gigi
yang berdekatan dan perlu untuk ortodontik pengobatan. 7
F.

Supernumerary Teeth
Supernumerary teeth adalah gigi yang berkembang melebihi jumlah normal, dan gigi

yang berkembang tersebut dapat normal secara morfologis, atau abnormal. Supernumerary
teeth yang terletak diantara insisivus sentral maksila disebut mesiodens. Supernumerary teeth
yang terletak pada area premolar disebut peridens, dan yang terletak pada area molar disebut
distodens. Supernumerary teeth merupakan keabnormalan yang terjadi pada tahap inisiasi,
dan faktor etiloginya adalah herediter.

G.

Anatomi Mandibula
Mandibula tersusun atas dua tulang yang bersatu pada garis tengah dagu yang terdiri

dari corpus dan ramus. 8

Gambar 7.
Mandibula Tampak Depan. 8

Gambar 8.
Tampak Lateral Mandibula

10

Gambar 9.
Mandibula Tampak Bawah. 8

1.

Corpus Mandibula
Corpus mandibula merupakan bagian dari tulang mandibula yang bentuknya melengkung

seperti sepatu kuda dan memiliki dua permukaan serta dua tepi. Permukaan yang terdapat
pada corpus mandibula yaitu permukaan internal dan permukaan eksternal. Permukaan
eksternal merupakan permukaan yang kasar dan cembung dan terdapat suatu linea oblikum
yang meluas dari ujung bawah pinggir anterior ramus menuju ke bawah dan ke muka serta
berakhir pada tuberkulum mentale di dekat garis tengah. Garis tengah atau garis median yang
merupakan garis pertemuan dua tulang disebut simpisis mandibula. Di sisi lain dari corpus
mandibula terdapat foramen mentale yang terletak di bawah gigi premolar sebagai tempat
masuknya pembuluh darah dan pembuluh saraf yang disebut dengan nervus mentalis.
Permukaan internal berbentuk concave di setiap sisinya. Pada permukaan ini terletak sebuah
linea mylohyoidea, yang meluas dari bagian bawah gigi molar ke tiga menuju ke bawah dan
ke muka garis tengah, dimana terdapat garis mylohyoid sebagai tempat perlekatan Musculus
Mylohyoideus. Tepi corpus mandibula adalah bagian superior yang merupakan tepi dari
11

tulang alveolaris. Pada bagian ini melekat Musculus Buccinator yang menebal dari depan ke
belakang dimana terdapat Arteri Maxillaris Externus. 8

2. Ramus Mandibula
Ramus mandibula merupakan bagian dari tulang mandibula yang bersudut dari angulus
mandibula sampai ke puncak condylus. Ramus mandibula memiliki tiga permukaan dan dua
processus, yaitu : 8

Permukaan externa
Pada permukaan ini terdapat Musculus Masseter yang berinsersio di sepanjang tepi
inferior. Bagian posterior atas licin yang berhubungan dengan glandula parotis.

Permukaan medial
Pada permukaan medial terdapat pusat dari foramen mandibula sebagai tempat
masuknya Arteri Alveolaris inferior dan Nervus Alveolaris Inferior

Permukaan interna
Facies interna merupakan suatu cekungan dengan permukaan kasar yang merupakan
tempat perlekatan Musculus Pterygoideus internus. Pada bagian ini terdapat canalis
mandibularis yang menuju ke bagian anterior dan berakhir sebagai foramen mentale
di regio gigi premolar sebagai tempat keluarnya nervus mentale. 8

H.

Persyarafan Mandibula
Persarafan mandibula dikenal dengan nervus mandibularis (N. V3), yang merupakan

nervus terbesar dari tiga cabang nervus trigeminus. Nervus mandibularis masuk ke fossa
infratemporal melalui foramen ovale dan keluar menjadi tiga percabangan, yaitu N.
Aurikulotemporalis, N. Lingualis, N. Alveolaris inferior. 7

12

Gambar 10
Persarafan Mandibula. 7

Nervus mandibularis mempersarafi; gigi dan gingiva pada rahang bawah, kulit dari
regio temporal, regio auricularis, bibir bawah, sepertiga wajah bagian bawah, otot-otot
mastikasi, dan juga mempersarafi membran mukosa dari dua pertiga anterior lidah. 7

Nervus Buccalis
Merupakan nervus yang berjalan di antara kedua caput musculus pterygoideus

externus, yang menyilang ramus mandibula dan masuk ke pipi melalui musculus buccinator
sebelah buccal gigi molar tiga atas.Nervus bucalis mempersarafi mukosa bagian buccal dan
mukoperiosteum di sebelah lateral gigi-gigi molar atas dan bawah. 7

Nervus Lingualis
Merupakan nervus yang berjalan ke bagian anterior mandibula menuju garis median.
Nervus ini berjalan ke bawah yang melalui musculus pterygoideus internus dan ramus
mandibula ke bagian lingual apeks gigi molar tiga rahang bawah.Nervus lingualis
mempersarafi mukosa bagian lingual, dua pertiga anterior lidah, dan mukoperiosteum. 7

Nervus Alveolaris Inferior


Nervus alveolaris inferior merupakan cabang terbesar dari nervus mandibula,

yang berjalan menurun bersama arteri alveolaris inferior di bawah musculus pterygoideus
externus. Nervus alveolaris inferior ini kemudian berjalan diantara ramus mandibula dan
ligamen sphenomandibula menuju foramen mandibularis. Dari foramen mandibularis, nervus
13

alveolaris inferior berjalan di sepanjang canalis mandibularis sampai ke foramen mentale dan
kemudian mengeluarkan beberapa cabang, yaitu; nervus mentalis dan nervus incisivus yang
terus berjalan ke bagian anterior dari mandibula. 7

Gambar 11
Persarafan Mandibula. 7

Gambar 12
Persarafan Mandibula. 7

Cabang-cabang nervus alveolaris inferior :7


14

1.

Nervus mylohyoideus
Nervus mylohyoideus berasal dari nervus alveolaris inferior yang tidak masuk ke
foramen mandibularis. Nervus mylohyoideus berjalan menuju cekungan dari permukaan
ramus mandibula dan mempersarafi musculus mylohyoideus serta bagian anterior
musculus digastricus.

2.

Nervus mentalis
Nervus mentalis adalah cabang yang terbesar meninggalkan kanalis mandibula keluar
melalui foramen mentale, membagi otot di bawah musculus triangularis menjadi rami
mentalis dan mempersarafi tiga cabang, yaitu; satu cabang mempersarafi kulit dagu, dan
dua cabang lainnya mempersarafi kulit dan mukosa bibir bawah.

3.

Rami dentalis dan Rami Gingivalis Inferior


Rami dentalis dan Rami Gingivalis Inferior berjalan di dalam kanalis mandibula dan
masuk ke tiap-tiap akar gigi yang akhirnya ke alveolus dan masuk ke gingiva, mereka
membentuk pleksus di atas N. Mandibularis .9 Rami dentalis merupakan cabang dari
nervus alveolaris inferior yang masuk ke dalam foramen mandibularis dan berjalan di
dalam canalis mandibularis dan mempersarafi gigi premolar dan molar rahang bawah.

4.

Nervus incisivus
Nervus incisivus berjalan ke bagian anterior dari mandibula dan mempersarafi gigi
incisivus dan caninus rahang bawah. 7

15

ODONTEKTOMI

Menurut Archer odontektomi adalah pengambilan gigi dengan prosedur bedah dengan
pengangkatan mukoperiosteal flap dan membuang tulang yang ada diatas gigi dan juga tulang
disekitar akar bukal dengan chisel, bur, atau rongeurs. Ada 2 metode / teknik :

Odontomi : Pencabutan gigi secara utuh. Teknik ini juga dipakai untuk gigi

dengan akar hiper sementosis


Odontektomi disertai odontomi : Pencabutan gigi disertai dengan pemotongan
gigi {gigi dipotong menjadi beberapa bagian in separate}

A. Pemilihan Anestesi
1. Anestesi Lokal
Dilakukan untuk pengangkatan 1 gigi impaksi
Pasien kooperatif
2. Anestesi Umum

Apabila kita hendak melakukan pengangkatan seluruh gigi impaksi secara bersamaan.
16

Untuk pengangkatan gigi impaksi dengan derajat kesukaran yang tinggi.


Penderita yang gelisah / tidak kooperatif.

B. Anamnesa
Suatu kegiatan wawancara antara pasien/keluarga pasien dan dokter atau tenaga kesehatan
lainnya yang berwenang untuk memperoleh keterangan-keterangan tentang keluhan dan
penyakit yang diderita pasien. Biasanya menggunakan atutan 5W 1 H. Dari anamnesa kita
dapat mengetahui keluhan utama pasien serta riwayat penyakit yang dapat digunakan untuk
memperkirakan diagnosa dan pemberian obat.
C. Pemeriksaan Penunjang
1. Radiologi
Rujukan pemeriksaan radiologi dilakukan bila dokter gigi ingin melihat gambaran
radiologis suatu penyakit atau kelainan dengan bantuan foto rontgen. Beberapa tipe foto
rontgen yang umum digunakan dokter gigi ialah Cephalometric, Panoramic, Lateral,
Periapical, Occlusal dan CBCT.
Cone beam computed tomography (CBCT) merupakan sistem foto radiografi berkualitas
tinggi yang digunakan untuk diagnosa, berupa gambaran 3 dimensi yang akurat, dan dapat
memberikan gambaran mengenai elemen-elemen tulang yang ada pada kerangka
maksilofasial. Sistem CBCT dapat memberikan gambaran sampai dengan ukuran yang
kecil dan dengan dosis radiasi yang rendah tetapi dengan hasil resolusi yang memadai juga
dapat digunakan untuk melakukan diagnose, sebagai panduan perawatan serta untuk
evaluasi paska perawatan. ada bidang kedokteran gigi gambaran 3 dimensi merupakan hal
yang penting, CBCT telah dipertimbangkan untuk menjadi salah satu prosedur
standard perawatan . Selain itu juga CBCT scan dapat memeberikan akurasi lebih baik dari
penilaian 3-dimensi utnuk memberikan prediksi hasil perawatan yang lebih baik dan
mengurangi resiko yang terkait dengan gigi impaksi. Hal ini dapat dikaitkan dengan gigi
supernumerary yang sering ditemukan dalam keadaan impaksi. CBCT dapat
memvisualisasikan posisi gigi yang mengalami impaksi dan memberikan gambaran
dengan struktur sekitarnya dan gigi yang terletak didekatnya. Selain itu CBCT dapat
digunakan dalam mempertimbangkan prognosis dari suatu perawatan karena memiliki
akurasi yang lebih tinggi.

17

Gambar 13
Foto CBCT.

Gambar 14.
Foto Panoramik.

2. Laboratorium
Periksa darah

memang

diwajibkan untuk

pasien

operasi.

mengetahui

Dengan

kondisi darah dari

pasien,

dokter

akan

otomatis

mempelajari
penyakit
Termasuk

riwayat
pasien

tersebut.

juga

untuk

menyiapkan

antisipasi

jika ternyata dalam pemeriksaan darah itu ditemukan sesuatu yang tidak normal sehingga
mempengaruhi keadaan pasien saat dan setelah dilakukan operasi. Pemeriksaan
hematologi lengkap meliputi pemeriksaan hemoglobin darah (Hb), pemeriksaan sel darah
putih atau leukosit, pemeriksaan trombosit atau faktor pembeku darah, pemeriksaan
18

cloying time (CT)

bleeding

(BT),

fungsi

pemeriksaan

pemeriksaan kadar gula

time
ginjal,

darah, dsb.

D. Alat dan bahan


1. Alat standart
: kaca mulut, sonde,

eskavator,

pinset anatomis.
2. Alat anestesi
: disposable syring 2,5

ml

3. Alat pembuatan flap


:
4.

handle

scalpel,

rasparatorium.

Alat

untuk

tulang

: contra high speed, diamond bur gigi bentuk

menghilangkan
long shank bur, diamond bur bentuk ulir

5. Alat pengungkit

: bein lurus, bein bengkok, cryer.

6. Alat pencabutan

: tang mahkota dan tang sisa akar rahang atas


dan bawah, serta tang trismus

7. Alat penjahitan

: needle holder, needle cutting, gunting, dan


pinset chirrugis.

8. Benang jahit

: benang jahit dibagi menjadi yang bisa


diabsorbsi dan tidak diabsorbsi.

Gambar 15.
Alat Alat yang digunakan saat operasi

E. Pembuatan Flap
Flap merupakan suatu bagian mukosa yang secara bedah dipisahkan dari jaringan
di bawahnya. Tindakan ini dilakukan untuk mendapatkan jalan masuk ke struktur di
bawahnya (biasanya pada tulang atau gigi) atau untuk prosedur koreksi, untuk mencapai
daerah patologis, merawat luka, atau untuk memperbaiki kerusakan jaringan. Klasifikasi
flap ada tiga parameter penting untuk mempermudah aplikasi klinisnya yaitu lokasinya,
komposisi jaringannya, dan desain/bentuknya.
19

Berdasarkan komponen jaringan yang membentuknya atau ketebalannya, flap


dibagi menjadi 2 (dua) yaitu full thickness flap (berketebalan penuh) atau flap
mukoperiosteal yang mengikut sertakan mukosa dan periosteum dan partial thickness
flap (berketebalan sebagian) atau flap mukosa yang hanya menyertakan mukosa saja
sedangkan periosteum tetap ditempatnya.
Ada beberapa prinsip yang mendasari desain flap mukoperiostal, yaitu: 6
1. Menyediakan ruang yang cukup bagi daerah yang akan di operasi
2. Dasar flap harus lebar sehingga jaringan lunak mendapatkan suplai darah yang
3.

cukup setelah penutupan luka


Untuk menghindari pendarahan, full thickness mukoperiosteal flap harus

4.

ditinggikan
Insisi harus didesain sedemikian rupa sehingga flap dapat menutupi tulang

5.
6.

padat
Dapat memperbaiki margin pada tulang yang sehat.
Insisi seharusnya tidak merusak struktur anatomi yang penting

Pada dasarnya desain flap untuk operasi gigi molar tiga dibagi menjadi dua
kategori:
1. Flap envelope 1,8,9,10
Insisi yang bisa diandalkan untuk pembedahan impaksi molar tiga bawah
adalah flap envelope. Teknik ini biasanya dilakukan dengan membuat insisi
horizontal pada tepi gingiva. Flap dibuat memanjang dari papilla mesial molar
pertama rahang bawah dan mengelilingi sekitar leher gigi ke sudut garis distobukal
dari molar kedua. Kemudian garis insisi memanjang ke posterior dan lateral sampai
ke perbatasan anterior ramus mandibular. Flap envelope seringkali digunakan untuk
membuka jaringan lunak mandibular dalam pencabutan gigi impaksi molar tiga,
perluasan insisi posterior harus divergen kearah lateral untuk menghindari cedera
pada saraf lingual. Insisi envelope dibuka kearah lateral sehingga tulang yg
menutupi gigi impaksi terbuka. Keuntungan flap ini adalah kerusakan minimal dari
suplai vaskular pada jaringan flap, penutupan dan proses penyembuhan luka lebih
cepat dan baik. Akses bedah yang terbatas merupakan kelemahan utama desain flap
ini.

20

Gambar 16.
Desain flap envelope 8

Gambar 17.
Desain flap envelope
2.

Flap Triangular 6,8


Flap triangular merupakan bagian dari desain envelope dengan membebaskan
insisi vertikal. Teknik ini biasanya dilakukan dengan membuat insisi horizontal pada
tepi gingiva, kemudian dimodifikasi seperlunya dengan melakukan insisi serong
kearah anterior. Saat flap jaringan dibuka pada insisi pembebas, akan diperoleh
lapang pandang yang lebih luas, terutama pada aspek apikal daerah pembedahan
dapat dilihat pada gambar 12.
Flap triangular modern terdiri dari satu insisi intra sulkular horizontal dan satu
insisi bebas (vertical releasing incision). Flap triangular menunjukkan kasus di mana
gigi yang terkena dampak tertanam dalam tulang dan membutuhkan pengangkatan
tulang yang luas.
Flap ini memiliki dua keuntungan utama. Membuat insisi yang longgar yaitu
berupa suatu insisi pendek pada gingiva cekat dan margin yang akan mempermudah
operator untuk melebarkan flap dan untuk mendapatkan akses yang diperlukan. Flap
triangular juga memacu penyembuhan luka yang sangat cepat. Flap ini terutama
diindikasikan untuk gigi-gigi posterior mandibular dan anterior maksila.

21

Gambar 18.
Desain flap triangular.

Gambar 19..
Desain flap triangular. 8

dibawah kulit menggunakan bahan absorbsi. Pada odontektomi digunakan


benang non absorbsi.
F. Tahapan Odontektomi
Prinsip dan langkah-langkah untuk menghilangkan gigi impaksi sama dengan
surgical extraction lain. Ada lima teknik pembedahan odontektomi yaitu:
1.

Asepsis
Mensterilkan daerah kerja menggunakan betadine

22

Gambar 20
Asepsis pada daerah kerja

2.

Umumnya operasi molar tiga mandibular dilakukan dengan anestesi lokal dengan
bahan anestesi yang bersifat vasokonstriktor untuk mendapatkan efek anestesi yang
cukup lama dan memberikan daerah operasi yang relatif bebas darah, sehingga tidak
menghalangi pandangan saat pembedahan dilakukan. Untuk molar tiga madibula
dilakukan injeksi blok pada nevus alveolaris inferior dan nevus bukalis atau anestesi
umum jika jumlah gigi impaksi yang dilakukan odontektomi lebih dari satu gigi dan
berbeda regio.

Gambar 21
Anestesi Blok di area gigi yang akan dilakukan odontektomi

3. Pembuatan flap yang biasa di lakukan dalam odontektomi adalah flap triangular yaitu
dengan melakukan insisi. Tujuannya agar mendapatkan lapang pandang yang baik,
jalan masuk alat yang cukup, dan trauma secukup mungkin.

Gambar 22
Insisi untuk membuat flap

23

4. Mendapatkan akses yang diperlukan untuk penyingkiran tulang mandibula dengan


alat bur dan dibantu dengan irigasi larutan saline agar gigi terlihat untuk dilakukan
pemotongan atau pengangkatan.

Gambar 23
Pengeburan tulang disertai irigasi larutan saline

5. Melakukan tehnik odontektomi yaitu membelah / membagi gigi dengan bur agar
ekstraksi gigi dapat dilakukan tanpa pembuangan tulang yang berlebihan.
6. Penjahitan pada daerah yang telah dilakukan odontektomi.

Gambar 24
Penjaitan atau hecting pada area yang telah dilakukan odontektomi

7. Pembersihan daerah kerja dengan menggunakan larutan NaCl dan betadine, socket di
spooling dengan penggunaan dua macam campuran ini, kemudian lakukan
penghalusan tulang dengan bone file supaya tidak ada tulang yang tajam, sesudah itu
lakukan spooling kembali untuk memastikan socket telah bersih secara sempurna,
berikan medikasi berupa spongostan pada lubang socketnya dengan tujuan
menghentikan perdarahan.

24

8. Kemudian evaluasi minggu depannya. Pasien diberi obat Cefixim, As. Mefenamat,
Dexametason dan semuanya harus diminum 3 kali sehari.

G. Penjahitan
Simple interrupted suture

Gambar 25
Tehnik Penjahitan

Simple interrupted suture merupakan teknik penjahitan yang paling sering


dipakai. Jahitan dilakukan satu persatu. Jarak dari setiap jahitan dengan garis insisi
dapat bervariasi berdasarkan kebutuhan. Jahitan ini memiliki kekuatan yang baik.
Keuntungan:

Pemilihan ujung penjahitan dapat dilakukan.


Kegagalan satu jahitan tidak mempengaruhi jahitan lainnya.

Kerugian:

Dapat menghasilkan bekas jahitan setelah edema pasca pembedahan.


Karena jumlah simpul bertambah, kekuatan benang jahit dapat berkurang
sebanyak 50%

H. Komplikasi Bedah Gigi Impaksi serta Penanganannya

25

1.

Komplikasi intra operatif


a. Perdarahan
Perdarahan merupakan komplikasi selama pembedahan yang umumnya
terjadi hal ini di karenakan pemutusan jaringan yang di ikuti oleh putusnya
pembuluh darah.
b. Fraktur
Fraktur bisa mengenai akar gigi, gigi tetangga atau gigi antagonis,
restorasi, prosesus alveolaris dan kadang-kadang mandibula. Etiologi fraktur
adalah adanya tekanan yang berlebih atau tidak terkontrol atau keduanya.
Fraktur pada gigi antagonis dapat disebabkan karena pada waktu mencabut
gigi tang berkontak gigi antagonis atau tetangganya.
c. Menelan atau aspirasi gigi, fragmen gigi, restorasi, dan mahkota
Disebabkan karena kecerobohan operator dalam memegang instrument
dan aplikasi teknik yang kurang tepat.
d. Dislokasi kondilus
Penyebab terjadinya dislokasi kondilus adalah tekanan kebawah yang
berlebih dan kurangnya fiksasi rahang.
e. Cedera saraf
Saraf yang memungkinkan terjadinya cedera selama pencabutan dan
pembedahan gigi molar ketiga rahang bawah adalah divisi ketiga nervus
trigeminus yaitu, alveolaris inferior, nervus lingualis, nervus bukalis. Cedera
saraf akan menyebabkan beberapa risiko antara lain:
- Anestesi atau hipestesi: sensasi yang menurun atau hilang secara perlahan
- Distesi: sensasi abnormal yang tidak nyaman terhadap stimulus normal.
Misalnya sensasi terbakar pada rangsangan sederhana
-Parastesi: sensasi subjektif seperti kebakar, kesemutan, tertusuk, mati rasa
parsial

2. Komplikasi pasca operatif 6


a. Odema
Tidak dipakai makan dulu, diet lunak
b. Parastesi
c. Trismus
d. Pendarahan
e. Oeteitis alveolar (dry socket)
Oeteitis alveolar atau dry socket adalah salah satu komplikasi bedah
yang sering terjadi. Hal ini disebabkan karena tidak terbentuknya bekuan
darah atau terlepasnya bekuan darah pada soket sehingga terjadi infeksi.
26

Aplikasi chlorexidine gel setelah dilakukannya pencabutan atau pembedahan


gigi molar ketiga mengurangi terjadinya dry socket.
Penanganannya : buat perdarahan baru, lakukan kuretase, spooling, lalu beri
alvogyl
d. Infeksi
Infeksi setelah pencabutan gigi biasanya disebabkan karena jarum dan
larutan anestesi yang terkontaminasi, dan asespsis yang tidak memadai.
Penanganan : pemeberian antibiotik dan NSAID. Jika ada abses maka
lakukan insisi dan drainase.

KESIMPULAN

Gigi impaksi adalah gigi yang tidak erupsi atau erupsi hanya sebagian oleh karena
proses erupsi normalnya terhalang, biasanya oleh gigi di dekatnya, tulang atau jaringan
sekitar yang patologis. Etiologi Gigi Impaksi disebabkan oleh karena faktor lokal dan
sistemik. Molar 3 rahang bawah yang impaksi di klasifikasikan berdasarkan: Hubungan
radiografis terhadap molar kedua, kedalamannya dalam rahang, panjang lengkung/atau
kedekatannya dengan ramus ascendens.
Klasifikasi Impaksi molar tiga rahang atas, dikelompokkan berdasarkan: Kedalaman
relatif M3 atas impaksi di dalam tulang. Klasifikasi yang didasarkan pada perbandingan
sumbu aksis M3 atas dengan sumbu aksis M2 atas yang mengalami impaksi, dan Klasifikasi
didasarkan pada rongten gigi yang dilakukan dengan melihat hubungan impaksi M3 atas
dengan sinus maksilaris. Gigi Kaninus (C) Rahang atas, diklasifikasikan menurut: Acher, dan
gigi kaninus (C) rahang bawah diklasifikasikan berdasarkan gigi yang ada di sebelahnya.
27

Odontektomi adalah pengambilan gigi dengan prosedur bedah dengan pengangkatan


mukoperiosteal flap dan membuang tulang yang ada diatas gigi dan juga tulang disekitar akar
bukal dengan bur, atau rongeurs. Tindakan odontektomi ini dapat menimbulkan komplikasi
baik pra bedah dan pasca bedah. Maka perlu dilakukan tindakan odontektomi dengan hatihati.

DAFTAR PUSTAKA
1. Nasir M, Mawardi. Perawatan impaksi gigi insisivus sentralis maksila dengan
kombinasi teknik flep tertutup dan tarikan ortodontik (laporan kasus).Dentika Dental
Jurnal 2003;8(2):95.
2. http://id.scribd.com/doc/223201773/Impaksi-Mandible (Diakses 19 Januari 2016)
3. Amaliyana Erlinda, Cholil, Sukama IB. Deskripsi gigi impaksi molar ketiga rahang
bawah di rsud ulin banjarmasin. Dentino Jurnal kedokteran Gigi. 2014; 2: 134-37.
4. Balaji SM. Oral and maxillofacial surgery. Delhi: Elsevier; 2009,p.233-5.
5. Pederson, Gordon W. Buku ajar bedah mulut. Terjemahan: Lilian Yuwono, editor.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1996.
6. Dym, Harry. 2001. Atlas of Minor Oral surgery. Philadelphia : W.B. Saunders
Company, 80-83.

28

7. Purnamasari A Isna. Mengetahui dan menganalisis impaksi molar ketiga rahang bawah
yang banyak terjadi di rsgmp kandea berdasarkan klasifikasinya.

8. Adam K, 2000. Odontektomi Pada Penderita Dengan Trombositopenia. PABMI, ISSN:


1410-0746
9. The american association of
2008.Wisdomteeth.(Diakses

oral and maxillofacial surgeons (AAOMS).


19

Januari

2016).

Tersedia

di:

http://www.aaoms.org/docs/media/third_molars/wisdomteeth.pdf

10. Klasifikasinya. Fakulats Kedokteran Gigi, [Skripsi]. Makassar : Universitas


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/42263/4/Chapter
%20II.pdf.Hassanudin;2011.

29