Anda di halaman 1dari 9

AUDIT 2

PENGAUDITAN SIKLUS PERSONALIA

KELOMPOK 2 :
1. MADE ADI SETYA DHARMA
(1502622010588)
2. SANG AYU MADE WISKA
(1502622010593)
3. LUH PANDE YULYANTARI DEWIK (1502622010594)

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR
TAHUN 2016
PENGAUDITAN SIKLUS PERSONALIA

6.1 SIFAT SIKLUS PERSONALIA


Siklus jasa personalia sangat penting karena beberapa alasan yaitu:
1. Gaji, upah, pajak penghasilan karyawan, dan biaya ketenagakerjaan lainnya
merupakan komponen biaya utama hamper di semua perusahaan.
2. Biaya tenaga kerja langsung merupakan faktor yang mempengaruhi penilaian
persediaan barang dalam proses maupun persediaan produk jadi.
3. Gaji dan upah merupakan titik rawan terjadinya in-efisiensi dan pencurian serta
manipulasi kas melalui pembayaran gaji fiktif.
Siklus jasa personalia meliputi semua kejadian dan kegiatan yang berkaitan dengan
kompensasi eksekutif dan tenaga kerja. Kompensasi tersebut meiputi gaji, upah per jam
dan insentif lembur (upah lembur), komisi, bonus dan berbagai bentuk tunjangan
karyawan.
Siklus jasa personalia ini berkaitan dengan siklus pembelanjaan dan siklus produksi.
Kaitan siklus ini dengan siklus pengeluaran adalah adanya fakta bahwa pembayaran gaji
dan upah dilakukan dengan menggunakan uang tau kas perusahaan. Kaitan siklus ini
dengan siklus produksi adalah adanya kenyataan bahwa pembayaran gaji dan upah
dilakukan sebagai imbalan atau balas jasa atas tenaga karyawan yang diberikan dalam
proses produksi. Tenaga karyawan digunakan untuk menghasilkan produk.
6.2 TUJUAN AUDIT
Tujuan audit siklus jasa personalia dibedakan untuk setiap asersi laporan keuangan.
1. Asersi Keberadaan atau Keterjadian
Auditor menekankan pada apakah seluruh saldo biaya gaji dan upah, utang gaji dan
upah, bonus dan saldo rekening lain yang terkait, benar-benar eksis pada tanggal
neraca. Berikut rincian tujuan audit asersi keberadaaan atau keterjadian:
a. Transaksi biaya gaji dan upah tercatat, menggambarkan kompensasi atas jasa yang
dihasilkan karyawan dalam suatu periode, dan seperti tercantum dalam laporan
laba rugi.
b. Pajak penghasilan gaji dan upah tercatat menggambarkan pajak penghasilan yang
harus dipotong dan dibayarkan sesuai jumlah kompensasi yang diterima karyawan
dalam suatu periode.
c. Saldo utang gaji dan upah, dan utang pajak menggambarkan jumlah yang harus
dibayar perusahaan pada tanggal neraca.
2. Asersi Kelengkepan

Menekankan apakah seluruh transaksi dan saldo yang semestinya tercantm dalam
laporan keuangan, sudah benar-benar dicatat dan disajikan. Auditor akan mencoba
medeteksi apakah ada transaksi pembayaran gaji dan upah yang belum tercatat.
Berikut rincian dan tujuan audit asersi kelengkapan:
a. Biaya gaji dan upah, dan pajak penghasila karyawan, yang tercatat, meliputi
seluruh biaya yang dikeluarkan sebagai imbalan atau jasa karyawa selama satu
periode.
b. Pajak penghasilan gaji dan upah tercatat meliputi seluruh pajak penghasilan
karyawan yang harus diotong dan dibayarkan atas seluruh kompensasi yang
diterima karyawan dalam satu periode.
c. Saldo utang gaji dna upah, dan pajak penghasilan, yang tercatat, meliputi semua
jumlah yang menjadi kewajiban perusahaan pada tanggal neraca.
3. Asersi Hak dan Kewajiban
Auditor, berkaitan dengan asersi ini, berusaha mamastikan apakah perusahaan
mempunyai kewajiban legal atas biaya dan utang gaji dan upah, dan pajak
penghasilan karyawan. Tujuan dari audit in adalah sebagai berikut: utang gaji dan
upah, dan pajak penghasilan, yang dibebankan merupakan kewajiban legal
perusahaan pada tanggal neraca.
4. Asersi Penilaian dan Pengalokasian
Berkaitan dengan asersi penilaian, auditor akan berusaha memperoleh bukti mengenai
apakah saldo biaya gaji dan upah, bonus karyawan, tunjangan, utang gaji dan upah,
dan pajak penghasilan karyawan telah disajikan dalam laporan keuangan pada jumlah
yang tepat.
Berikut rincian tujuan audit asersi penilaian atau pengalokasian:
a. Biaya gaji dan upah merupakan ringkasan jumlah yang akurat dari penerimaan.
b. Biaya (pemotongan) pajak penghasilan karyawan telah dihitung secara tepat
dengan menggunakan tarif pajak penghasilan yang tepat.
c. Utang biaya gaji dan upah, dan biaya pajak penghasilan pada tanggal neraca telah
ditentukan (dihitung) secara tepat.
d. Upah tenaga kerja telah dikelompokkan secara tepat sebagai upah tenaga kerja
langsung dan menjadi komponen penambahan harga pokok produksi, dan upah
tenaga kerja tidak langsung seperti biaya administrasi.
5. Asersi Pelaporan dan Pengungkapan
Selain memperoleh bukti mengenai keempat asersi tersebut diatas, auditor perlu
menghimpun bukti mengenai apakah transaksi dan saldo yang tercatat telah tepat
diklasifikasikan, dijelaskan dan diungkapkan dalam neraca.
Berikut rincian tujuan audit asersi pelapran dan pengungkapan
a. Biaya gaji dan upah, dan pajak pengahasilan karyawan, telah diidentifikasi dan
dikelompokkan secara tepat dalam laporan laba rugi.

b. Rekening utang biaya gaji dan upah, dan utang pajak pengahasilan karyawan,
telah diidentifikasi dan dikelompokkan secara tepat dalam neraca sebagai utang
lancar.
Auditor menggunakan tiga tipe prosedur audit untuk menemukan bukti yang diperlukan
untuk mencapai tujuan spesifik audit tersebut yaitu:
a. Prosedur untuk memperoleh pemahaman struktur pengendalian intern.
b. Pengujian pengendalian
c. Pengujian subsantantif.
6.3 MATREALITAS, RESIKO, DAN STRATEGI AUDIT
Biaya gaji dan upah umumnya merupakan biaya operasi terbesar bagi perusahaan
dagang dan jasa atau profesi. Bagi perusahaan dagang adandua komponen biaya yang
besar yaitu harga pokok penjualan dan biaya gaji dan upah. Bagi perusahaan jasa,
misalnya perusahaan pemotongan rambut (salon), biaya tenaga kerja relative sangat besar
proporsinya dari total biaya. Hal ini disebabkan karena karyawan merupakan sumber daya
utama perusahaan jasa. Bagi perusahaan profesi, misal kantor akuntan publik, biaya gaji
dan upah mendonimasi total biaya. Hal ini disebabkan karena karyawan merupakan
sumber daya utama kantor akuntan publik. Bagi perusahaan manufaktur, khususnya
industry padat karya , biaya gaji dn upah meupakan biaya yang sangat besar proporsinya
dari total biaya.
Oleh karena biaya gaji dan upah umumnya merupakan biaya operasi terbesar, maka
rekening biaya gaji dan upah sangat material bagi laporan laba rugi. Saldo utang gaji
akhir tahun sering tidak material. Kebanyakan perusahaan memperluas struktur
pengendalian intern atas transaksi gaji dan upah. Oleh karena itu, auditor menerapkan
pendekatan tingkat risiko kontrol yang ditetapkan lebih rendah untuk sebagianbesar
asersi.
6.4 PERTIMBANGAN STRUKTUR PENGENDALIAN
Auditor harus memperoleh pemahaman struktur pengendalian intern transaksi gaji dan
upah. Pemahaman tersebut meliputi pemahaman atas:
1. Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian intern meliputi beberapa faktor lingkungan pengedalian,
yaitu:

Pertanggungjawaban urusan karyawan ada pada direktur hubungan industrial


atau personalia,
Metode pengendalian manajemen termasuk penggunaan biaya standard dan
anggaran serta perhitungan varians,
Adanya internal auditor,
Praktik dan kabijakan ketenagakerjaan.
2. Penaksiran Resiko
Resiko yang dapat timbul atau berubah karena keadaan yang terkait dengan siklus
personalia adalah:
Perubahan dalam lingkungan peraturan dan personalia dapat mengakibatkan
perubaha dalam tekanan persaingan dan resiko yang berbeda secara signifikan.
Personel baru mungkin memilki focus berbeda atas pemahaman terhadap
pengendalian intern.
3. Informasi dan Komunikasi (Sistem Informasi)
Dalam pemahaman system akuntansi, akuntan harus kompeten dalam menggunakan
computer karena transaksi gaji dan upahlah yang pertama biasanya pertama kali
diterapkan dalam komputerisasi. System informasi akuntansi untuk masalah
personalia mencakup penggunaan rekening control di buku besar serta rekeningrekening atau catatan pemabntu misalnya berupa file data karyawan.
Semua kewajiban terhadap karyawan harus dicatat dalam jurnal yang tepat, pada
periode yang tepat dan diklasifikasikan sesuai denga golongannya. Jika tidak,
pembayaran gai dan upah serta semua biaya yang berkaitan dengan karyawan akan
mengakibatkan biaya yang tidak seharusnya.
System informasi mencakup metode dan catatan yang digunakan untuk system
personalia:
Mengindentifikasi dan mencatat semua transaksi yang terkait dengan siklus
jasa personalia dengan sah.
Menjelaskan pada saat yang tepat transaksi secara cukup rinci untuk
memungkinkan
keuangan.
Menentukan

penggolongan

periode

memungkinkan

waktu

pencatatan

semestinya
terjadinya

transaksi

transaksi
transaksi

dalam

untuk

pelaporan

(penggajian)

periode

akuntansi

untuk
yang

semestinya.
Menyajikan transaksi semestinya dan mengungkapkannya.
4. Pemantauan
Pemantauan adalah proses penetapan kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang
waktu. Pemantauan mencakup penentuan desain dan operasional pengendalian tepat
waktu tindakan perbaikan yang dilakukan. Proses ini dilaksanakan melalui aktivitas

pematauan terhadap siklus jasa personalia secara terus menerus, evaluas secara
terpisah atau kombinasi keduanya.
5. Aktivitas Pengendalian
Aktivitas pengendalian yang relevan dengan audit atas transaksi penggajian dan
pengupahan dapat digolongkan menjadi beberapa kebijakan dan prosedur yang
berkaitan dengan:
a. Review kinerja
Aktivitas pengendalian ini mencakup review atas kinerja sesungguhnya dari
transaksi yang berkaitan dengan penggajian dan pengupahan dibandingkan
dengan anggaran atau prakiraan penggajian dan pengupahan periode
seblumnya.
b. Pengolahan informasi
Pengendalian aplikasi berlaku untuk pengolahan aplikasi secara individual
untuk masing-masing transaksi tersebut. Pengendalian ini membantu
menetapkan bahwa transaksi pwnggajian dan pengupahan adalah sah,
diotorisasi dengan semestinya dan diolah dengan lengkap dan akurat.
c. Pengendalian fisik
Aktivitas ini mencakup kemampuan fisik aktiva yang dikeluarkan, termasuk
penjagaan memadai seperti fasilitas yang terlindungi dari akses yang tidak
dikehendaki.
d. Pemisahan tugas
Pembebanan tanggung jawab ke orang yang berbeda untuk memberikan
otorisasi transaksi penggajian dan pengupahan, pencatatan transaksi
penggajian dan pengupahan, menyelenggarakan penyimpanan aktiva yang
dikelola yang dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan atau kesempatan
orang untuk berbuat curang.
6.5 PENGHIMPUNAN DAN PENDOKUMENTASIAN PEMAHAMAN
Pemahaman SPI ini dapat diperoleh melalui:
a. Review pendahuluan
Auditor mengembangkan pemahaman umum mengenai lingkungan pengendalian
perusahaan, alur personel dan transaksi gaji serta pencatatan semua system
akuntansinya. Selain itu auditor perlu memahami prosedur untuk mengatasi kesalahan
yang mungkin terjadi.
b. Dokumentasi system

Auditor dapat menggunakan flowchart dan questioner untuk mendokumentasikan


pemahamnnya dan menyiapkan narasi deskriptif pelaksanaan pembayaran gaji dan
upah bagi karyawan perusahaan.
c. Menganalisa alur transaksi
Untuk mnguatkan pemahamannya akan pengendalian intern perushaan klien, auditor
dapat memilih salah satu lini pemrosesan transaksi gaji dan upah dan melakukan
tracing terhadapnya.
d. Identifikasi pengendalian untuk memperoleh keyakinan
6.6 PENENTUAN RESIKO PENGENDALIAN
Proses penentuan resiko pengendalian meliputi identifikasi salah saji potensial,
pengendalian yang perlu, dan tes pengendalian. Dalam menentukan resiko pengendalian,
auditor perlu menyadari bahwa salah saji gaji dan upah dapat disebabkan karena
kesalahan yang tidak disengaja maupun manipulasi. Auditor perlu memperhatikan adanya
resiko overstatement gaji dan upah resiko understatement (asersi kelengkapan) dapat
dikatakan sangat kecil karena tenaga kerja akan mengklaim apabila gajinya dibayar dalam
jumlah lebih kecil dari semestinya.
Resiko overstatement meliputi pembayaran tenaga kerja fiktif; pembayaran tidak
fiktif tapi karyawan yang bersangkutan tidak bekerja; pembayaran melebihi tariff.
Prosedur pengujian yang sangat berguna adalah vouching. Auditor pertama kali melihat
catatan gaji dan upah, kemudian dilanjutkan dengan memeriksa keberadaan dokumen
pendukungnya. Disamping itu, auditor dapat mengaati distribusi gaji dan upah. Dalam hal
ini, auditor dapat mengamati pelaksanaan pemisahan tugas, dan pembayaran gaji dan
upah.
6.7 PENGUJUAN PENGENDALIAN
Prosedur pengujian pengendalian yang dapat diterapkan untuk siklus gaji dan upah
dibedakan atas prosedur:
a. Pengujian pengendalian biaya gaji dan upah, langkah-langkahnya sebagai berikut:
Himpun register gaji dan upah dari bagian gaji dan upah dan memeriksa
ketepatan penghitungan matematis.
Himpun ringkasan gaji dan upah, dan ringkas distribusi tenaga kerja.
Pilih sampel karyawan secara random dari register gaji
Himpun arsip personalia

Mendokumentasikan setiap temuan penyimpangan yang diperoleh melalui


keempat langkah diatas.
b. Pengujian pengendalian pendistribusian cek gaji, langkah-langkahnya sebagai berikut:
Pilih dan minta sampel cek gaji yang sudah di-cancelled
Mengusut rincian dalam cek dengan penjurnalan dalam register gaji dan upah.
Membandingkan tanda tangan penerima cek dengan tanda tangan dalam
catatan personalia.
Mengamati pendistribusian cek secara langsung.
Mendokumentasikan setiap temuan penyimpangan yang diperoleh melalui
keempat langkah diatas.
6.8 PENGUJIAN SUBSTANTIF SALDO UTANG GAJI DAN UPAH
Pengujian substantif normalnya dilakukan pada saat atau sekitar tanggal neraca.
Resiko bawaan saldo ini tinggi untuk asersi keberadaan atau keterjadian, dan penilaian
atau alokasi. Apabila setelah dilakukan pengujian pengendalian ditemukan bukti bahwa
pengendalian tersebut sangat efektif, maka resiko deteksi yang tinggi dapat diterima. Hal
ini mengakibatkan pengujian substantif cukup dilakukan dengan beberapa prosedur
penguian tertentu. Apabila ternyata resiko deteksi rendah, maka auditor perlu juga
melaksanakan beberpa prosedur pengujian berikut:
Rekonsiliasi total jam yang dibayar sesuai dengan catatan gaji dan upah dengan
catatan independen jam kerja dalam departemen produksi.
Mengusut transaksi yang tercatat dalam jurnal gaji dan upah ke dalam dokumen
pendukungnya.
Memeriksa catatan gaji dan upah periode selanjutnya setelah karyawan berhenti.
Rekonsiliasi informasi dalm formulir pajak (PPh karyawan dengan catatan gaji
dan upah).
Prosedur Analitis
Dalam menaksir kelayakan biaya gaji dan distribusinya, auditor dapat menyusun dan
menganalisa keterkaitan antar data. Item yang telah diseleksi dibandingkan dengan tahuntahun sebelumnya. Rasio selalu berguna dalam membuat perbandingan. Rasio dapat
dihitung oleh auditor untuk menentukan apakah akun terkait dengan yang lainnya sesuai
dengan yang diharapkan. Penerapan prosedur analitis saldo gaji dan upah meliputi:

Perbandingan antara saldo biaya gaji dan upah tahun ini dengan saldo tahun
sebelumnya.

Perbandingan antara saldo biaya gaji dan upah tahun ini dengan jumlah yang

dianggarkan dalam anggaran pembelanjaan perusahaan.


Perbandingan antara saldo utang gaji dan upah yang dibebankan degan tahun

sebelumnya.
Menghitung rasio total biaya gaji dan upah di bagi dengan penjualan bersih. Rasio
ini kemudian dibandingkan dengan rasio tahun seblumnya.

Apabila ditemukan bukti adanya fluktuasiatau penyimpangan saldo dan rasio yang cukup
besar, auditor perlu mengekstensikan pengujian substantif yang lebih rinci.
Penghitungan Kembali Utang Gaji dan Upah yang Dibebankan
Auditor selain memperhatikan potensi overstated rekening biaya gaji dan upah, juga
perlu memperhatikan potensi understated rekening utang gaji dan upah dibebankan.
Perusahaan dapat melaporkan utang gaji dan upah dibebankan pada jumlah yang lebih
kecil dari pada semestinya. Hal tersebut dilakukan perusahaan untuk membuat laba
perusahaan tampak lebih besar dari pada semestinya. Potensi understatement ini berkaitan
dengan asersi kelengkapan. Perhitungan utang gaji dan upah dibebankan sendiri,
berkaitan dengan asersi pengalokasian.
Verifikasi Kompensasi Eksekutif
Banyak perusahaan yang memberikan kompensasi khusus kepada manajer atau
eksekutif perusahaan. Kompensasi tersebut dapat berupa pemberian gaji yang tinggi,
fasilitas rumah, kendaraan dan kepemilikan kartu kredit, pemberian komisi, bonus, hak
membeli saham perusahaan atau hak opsi dan sebagainya.
Menganalisis Penyajian dan Pengungkapa Laporan Keuangan
Auditor harus memahami persyaratan penyajian dan pengungkapan utag gaji dan upah
dan biaya gaji dan upah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. Utang
gaji dan upah diklasifikasikan sebagai kewajiban lancer dalam neraca.