Anda di halaman 1dari 4

BAB V

MANAJEMEN TERPADU PENGENDALIAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT (MTPTRO)

53

D. Diagnosis TB Resistan Obat a.

b. Alur Diagnosis TB Resistan Obat


Keterangan dan Tindak lanjut setelah penegakan diagnosis:
a. Pasien terduga TB resistan obat akan mengumpulkan 3 spesimen dahak,
1 (satu)
spesimen dahak untuk pemeriksaan GeneXpert (sewaktu pertama atau pagi) dan 2 spe
simen dahak (sewaktu-pagi/pagi-sewaktu) untuk pemeriksaan sediaan apus sputum BT
A, pemeriksaan biakan dan uji kepekaan.
b. Pasien dengan hasil GeneXpert Mtb negatif, lakukan investigasi terhadap kemu
ngkinan lain. Bila pasien sedang dalam pengobatan TB, lanjutkan pengobatan TB sa
mpai selesai. Pada pasien dengan hasil Mtb negatif, tetapi secara klinis terdapa
t kecurigaan kuat terhadap TB MDR (misalnya pasien gagal pengobatan kategori-2),
ulangi pemeriksaan GeneXpert 1 (satu) kali dengan menggunakan spesi mendahak ya
ng memenuhi kualitas pemeriksaan. Jika terdapat perbedaan hasil, maka hasil pem
eriksaan yang terakhir yang menjadi acuan tindakan selanjutnya.
c. Pasien dengan hasil GeneXpert Mtb Sensitif Rifampisin, mulai atau lanjutkan
tatalaksana pengobatan TB kategori-1 atau kategori-2, sesuai dengan riwayat pen
gobatan sebelumnya.
d. Pasien dengan hasil GeneXpert Mtb Resistan Rifampisin, mulai pengobatan stan
dar TB MDR. Pasien akan dicatat sebagai pasien TB RR. Lanjutkan dengan pemeriksa
an biakan dan identifikasi kuman Mtb.
e. Jika hasil pemeriksaan biakan teridentifikasi kuman positif Mycobacterium tu
berculosis (Mtb tumbuh), lanjutkan dengan pemeriksaan uji kepekaan lini pertama
dan lini kedua sekaligus. Jika laboratorium rujukan mempunyai fasilitas pemeriks
aan uji kepekaan lini-1 dan lini-2, maka lakukan uji kepekaan lini-1 dan li
ni-2 sekaligus (bersamaan). Jika laboratorium rujukan hanya mempunyai kemampua
n untuk melakukan uji kepekaan lini-1 saja, maka uji kepekaan dilakukan secara b
ertahap. Uji kepekaan tidak bertujuan untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan Ge
neXpert, tetapi untuk mengetahui pola resistensi kuman TB lainnya.
f. Jika terdapat perbedaan hasil antara pemeriksaan GeneXpert dengan hasil pem
eriksaan uji kepekaan, maka hasil pemeriksaan dengan GeneXpert menjadi dasar pen
egakan diagnosis.
g. Pasien dengan hasil uji kepekaan menunjukkan TB MDR (hasil uji kepekaan menu
njukkan adanya tambahan resistan terhadap INH), catat sebagai pasien TB MDR, dan
lanjutkan pengobatan TB MDR-nya.
h. Pasien dengan hasil uji kepekaan menunjukkan hasil XDR (hasil
uji kepekaan menunjukkan adanya resistan terhadap ofloksasin dan Kanamisin/
Amikasin), sesuaikan paduan pengobatan pasien (ganti paduan pengobatan TB MDR st
andar menjadi paduan pengobatan TB XDR), dan catat sebagai pasien TB XDR.

Catatan:
Untuk pasien yang mempunyai risiko TB MDR rendah (diluar 9 kriteria terduga TB R
esistanobat), jika pemeriksaan GeneXpert memberikan hasil Rifampisin Resistan,
ulangi pemeriksaan GeneXpert 1 (satu) kali lagi dengan spesi mendahak yang baru
. Jika terdapat perbedaan hasil pemeriksaan, maka hasil pemeriksaan yang terakhi
r yang dijadikan acuan untuk tindak lanjut berikutnya.

BAB V
56
MANAJEMEN TERPADU PENGENDALIAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT (MTPTRO)
f. Tes pendengaran (pemeriksanaan audiometri)
g. Pemeriksaan EKG
h. Tes HIV (bila status HIV belum diketahui)
2. Paduan OAT MDR di Indonesia
Pilihan paduan OAT MDR saat ini adalah paduan standar (standardized treatment),
yang pada permulaan pengobatan akan diberikan kepada semua pasien TB RR/TB MDR.
a. Paduan standar OAT MDR yang diberikan adalah:
Km Lfx Eto Cs Z (E) / Lfx Eto Cs Z (E)
Alternatif pengobatan standar pada kondisi khusus adalah sebagai berikut:
1) Jika sejak awal terbukti resistan terhadap kanamisin, maka paduan standar ada
lah sebagai berikut:
Cm Lfx Eto Cs Z - (E) / Lfx Eto Cs Z (E)
2) Jika sejak awal terbukti resistan terhadap fluorokuinolon maka paduan standar
adalah sebagai berikut:
Km-Mfx-Eto-Cs-PAS-Z-(E) / Mfx-Eto-Cs-PAS-Z-(E)
3) Jika sejak awal terbukti resistan terhadap kanamisin dan fluorokuinolon (TB X
DR)
maka paduan standar adalah sebagai berikut:
Cm-Mfx-Eto-Cs-PAS-Z-(E) / Mfx-Eto-Cs-PAS-Z-(E)
b. Paduan standar ini diberikan pada pasien yang sudah terkonfirmasi TB RR/MDR
secara laboratoris.
c. Paduan pengobatan ini diberikan dalam dua tahap yaitu tahap awal da
n tahap lanjutan. Tahap awal adalah tahap pemberian obat oral dan suntikan deng
an lama
paling sedikit 6 bulan atau 4 bulan setelah terjadi konversi biakan. Tahap lanju
tan
adalah pemberian paduan OAT oral tanpa suntikan.
d. Lama pengobatan seluruhnya paling sedikit 18 bulan setelah terjadi konversi b
iakan.
Lama pengobatan berkisar 19-24 bulan.
Informasi lengkap mengenai pengobatan pasien TB MDR dibahas pada di Ju
knis
MTPTRO (Permenkes 13/2013).

3. Pemantauan Kemajuan Pengobatan TB MDR


Selama menjalani pengobatan, pasien harus dipantau secara ketat untuk menilai re
spons pengobatan dan mengidentifikasi efek samping sejak dini. Gejala TB (batuk,
berdahak, demam dan BB menurun) pada umumnya membaik dalam beberapa bulan perta
ma pengobatan. Konversi dahak dan biakan merupakan indikator respons pengobatan.
Definisi konversi biakan adalah pemeriksaan biakan 2 kali berurutan den
gan jarak pemeriksaan 30 hari menunjukkan hasil negatif.
Pemantauan yang dilakukan selama pengobatan meliputi pemantauan secara klinis da
n pemantauan laboratorium seperti pada tabel berikut.
BAB V
58
MANAJEMEN TERPADU PENGENDALIAN TUBERKULOSIS RESISTAN
OBAT (MTPTRO)