Anda di halaman 1dari 6

METODE PENGUKURAN BIDANG LEMAH

Pengukuran orientasi bidang lemah dilakukan dengan sistematik dan


diusahakan dapat mewakili penyebaran bidang lemah yang ada di seluruh
daerah penyelidikan, agar hasil analisis yang dilakukan dapat mendekati
keadaan sebenarnya.
Hal penting yang harus diperhatikan adalah jangan sampai terjadi
pengukuran ulang atau terlewat, meskipun di lapangan hal ini mungkin sulit
dilakukan
1. Peralatan pengukuran
Dalam melakukan pengukuran orientasi bidang lemah di lapangan, peralatan
yang dipergunakan adalah kompas geologi, meteran pita, dan alat bantu
lainnya (clipboard, palu geologi, dll.)
2. Metode Pengukuran
Dalam melakukan pengukuran kedudukan bidang lemah atau struktur ada 2
cara yang sering dipergunakan, yaitu metoda fotogrametri dan metoda
pengukuran dengan kompas geologi langsung di lapangan pada garis
pengukuran (metoda scan line). Salah satu metoda pengukuran orientasi
bidang lemah yang sering dilakukan yaitu pengukuran dengan kompas pada
garis pengukuran (Gambar 6).
Untuk dapat melakukan pengukuran secara sistematik dan mengurangi
terjadinya pengukuran ulang adalah dengan menerapkan metoda garis
pengukuran (scan line). Dalam hal ini yang penting adalah bahwa jarak
antara garis pengukuran diusahakan sama dengan persistensi bidang lemah
(panjang garis perpotongan permukaan dengan bidang lemah). Tinggi garis
pengukuran dari lantai pengukuran paling tidak sama dengan ketinggian
mata pengamat, panjang bentangan garis pengukuran tidak kurang dari 10 X
jarak kekar rata-rata di daerah tersebut dan diusahakan tidak kurang dari 30
meter. Pengukuran strike/ dip dilakukan sepanjang garis pengukuran yang
bersangkutan dan sebaiknya dilakukan 2 X (maju dan mundur). Hasil
pengukuran dan pengamatan bidang lemah dicatat pada formulir
pengamatan sepertui pada Gambar 7.
3. Pembagian Blok Pengukuran
Untuk suatu bukaan tambang (dimana dinding lereng akan membentuk suatu pola tertutup) atau jalan raya yang berbelok-belok, maka perlu dilaku-kan
pembagian blok sesuai dengan orientasi lereng yang akan dibuat atau sesuai
dengan pola orientasi bidang lemah yang ada. Hal ini akan mempermudah
pengukuran di lapangan maupun dalam melakukan analisis kestabilannya.
4. Pengecekan Hasil Pengukuran
Dalam suatu daerah/ blok/ permukaan tertentu, jumlah bidang lemah yang
diukur orientasinya bervariasi, tergantung pada kondisi dan sifat penyebarannya. Setelah pengukuran dilakukan pada beberapa scan line pada suatu
blok tertentu ( 100 hasil pengukuran), maka perlu dilakukan plotting +
pembuatan kontur kutub (pole) bidang lemah tersebut pada stereo net
(Schmidt net/ equal area net)
di lapangan. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui apakah hasil pengukuran yang telah dilakukan sudah mencukupi
atau belum.

Jika hasil plotting belum menunjukkan suatu pola tertentu ( 20 %) maka


ditambah dengan 300 pengukuran berikutnya dan 400 hasil pengu-kuran
tersebut diplot/ kontur lagi sampai didapatkan pola orientasi yang jelas.
Tetapi, kalau sampai dengan 600 pengukuran atau lebih hasilnya tetap tidak
menunjukkan pola tertentu (tersebar merata pada stereo net), maka
pengukuran untuk blok tersebut dapat dianggap cukup. (Cara pengecekan
yang lebih detil diberikan oleh Staufer (1966) dalam Hoek dan Bray, 1981).

Gambar Garis Pengukuran (scan line)

5. Cara Pengukuran Metode Scanline


Pengukuran jarak antar kekar diawali dengan membentangkan seutas tali
sebagai garis pengukuran di muka jenjang sepanjang kurang lebih 30 m atau
sekitar

10

kali

jarak

rata-rata

antar

kekarnya.

Tali

ini

diukur

arah

kemiringannya (dip direction = strike+90 0) dan kemiringannya (dip) dengan


menggunakan kompas. Arah kemiringan serta kemiringan muka jenjang juga
diukur.
f

kekar

Muka jenjang
f

s
s

Garis pengukuran kekar

Garis horisontal

Keterangan :
f = arah kemiringan muka jenjang

s = arah kemiringan garis

pengukuran kekar
f = kemiringan muka jenjang

s = kemiringan garis pengukuran kekar

Contoh hasil pengukuran kekar untuk daerah penelitian di suatu lokasi X


adalah sebagai berikut :
Di daerah ini mempunyai kemiringan dan arah kemiringan muka jenjang yaitu
600/N1600 E dan kemiringan dan arah kemiringan garis pengukuran yaitu
60/N510 E hasil pengukuran kekar-kekar yang ada sebagai berikut :
Joint
no

Jarak
(m)

d (dip
dir)
(N.E)

d
(dip)
(deg)

Joint
no

Jarak
(m)

d (dip
dir)
(N.E)

d
(dip)
(deg)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

0.21
1.26
1.93
2.34
2.72
2.85
3.38
3.45
3.80
3.96
4.00
4.20
4.27
4.50
5.15
5.40
5.50
5.45
5.55
6.13
6.30
6.56
6.75
7.10
7.22
7.50
7.70
7.90
8.00
8.10
8.44
8.50
8.75
8.90
9.12
9.25
9.50
9.79
10.28
10.30

2
336
345
342
352
188
61
194
192
28
162
201
38
144
44
179
39
176
334
344
213
335
338
258
332
214
288
308
8
249
32
160
21
158
2
123
169
13
14
194

78
77
66
64
81
86
86
64
46
77
81
83
61
69
80
48
79
53
53
88
70
69
45
86
54
74
80
68
79
76
59
65
71
80
56
65
89
89
85
39

41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74

10.50
10.60
10.80
10.90
11.27
11.30
11.60
11.90
12.10
12.27
12.30
12.34
12.60
12.80
13.20
13.40
13.70
13.77
14.00
14.30
14.60
14.90
15.10
15.60
15.80
16.20
16.70
17.10
17.60
18.05
18.70
18.90
19.10
19.40

303
217
307
182
308
206
237
14
12
331
105
3
182
68
182
36
174
15
194
31
189
332
167
54
183
195
52
191
129
114
117
126
181
159

Hasil dari pengukuran diatas kemudian dimasukkan kedalam program DIPS


untuk mengetahui penggolongan famili kekarnya. Dari pengolahan data DIPS
diketahui bahwa terdapat 2 famili kekar dimana mempunyai kemiringan dan
arah kemiringan 830/N 1870 E dan 870/N 90 E.

84
85
87
86
86
85
64
80
69
76
82
74
81
76
76
86
88
78
85
84
86
71
45
81
87
80
79
48
79
70
69
84
85
84

Contoh perhitungan kekar adalah sebagai berikut,


Langkah perhitungan :
a)

Menentukan nilai n dan n.


Untuk d < 1800 maka n = d + 1800; d > 1800 maka n =

d - 1800
Sedangkan n = 900- d
Sehingga
- pada kekar A-1

n = 20 + 1800 = 1820 (N1820E)


n = 900 - 780 = 120

- pada kekar A-2

n = 3360 - 1800 = 1560 (N1560E)


n = 900 - 770 = 130

b)

Menentukan sudut tajam .


Nilai = arc cos ,
sedangkan cos = | cos (n - s) cos n cos s + sin n sin s) |
sehingga
- pada kekar A-1 cos 1 = | cos (1820-510) cos (130) cos (60) + sin (13)
sin (60)|
cos 1 = 0,62
1 = 51,940
- pada kekar A-2

cos 2 = | cos (1560-510) cos (130) cos (60) + sin

(130)sin (60)|
cos 2 = 0,23
2 = 76,860
c)

Menentukan jarak semu antar kekar (Ji-m).


Ji-m = jarak kekar m - jarak kekar i
i = kekar nomor ke
m = kekar nomor ke i + 1
sehingga pada famili kekar A di atas,

J 1-2 = 1,26 m 0,21 m = 1,1

m.
d) Menentukan jarak sebenarnya antar kekar (Di-m).

Jarak yang diperoleh dari butir c di atas masih merupakan suatu jarak
semu antar kekar karena belum tentu kedua kekar benar-benar sejajar.
Jarak sebenarnya adalah jarak yang menghubungkan antara dua
bidang atau garis secara tegak lurus. Sehingga untuk memperoleh
jarak sebenarnya antar kekar perlu mengkoreksi jarak semu antar
kekar dengan cara mengalikannya dengan cosinus dari nilai rata-rata
sudut tajam dua kekar yang diukur seperti berikut.
Di-m = Ji-m cos ((m + i)/2)
Sehingga pada famili kekar A di atas, D 1-2 = J1- 2 cos ((2 + 1)/2)
D1-2 = 1,1 cos (64,400) D1-2 = 0,45 m
e) Menentukan jarak sebenarnya rata-rata dari satu keluarga kekar (Dx).
Karena dalam satu keluarga kekar terdapat banyak kekar maka untuk
meningkatkan obyektivitas pengukuran perlu dihitung jarak antar
kekar secara rata-rata dalam satu keluarga seperti berikut.
Dx = (D1-2 + D2-3 + + Di-m (ke-n) )/n
n = banyaknya kekar dalam suatu famili - 1
pada famili kekar B terdapat 37 kekar,
sehingga DxA = (0,45 + + 1,06)/37 = 0,29 m.
e) Menentukan jarak sebenarnya rata-rata dari beberapa keluarga kekar
dalam garis bentangan X-Y (Dsw).
Dalam massa batuan yang kita ukur terdapat beberapa keluarga kekar.
Dengan demikian perlu kita hitung jarak sebenarnya rata-rata dari
beberapa keluarga kekar yang ada dalam satu garis bentangan
sebagai berikut.
Dsw = (DxA + DxB + DxC + )/jumlah famili
Sehingga dalam bentangan scanline X-Y di daerah X jarak kekar
sebenarnya rata-rata adalah :
Dsw North = (DxA + DxB)/2 = (0,29 + 0,28)/2 = 0,28 m.