Anda di halaman 1dari 36

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kuat Tekan dan Kuat Lentur Beton


Pada pengujian ini, desain kuat tekan rencana adalah sebesar 34 MPa.
Adapun komposisi material yang digunakan untuk 1 m3 sampel adalah :
Pasir (agregat halus)

: 630 kg/m3

Batu 1-2 (agregat kasar)

: 453 kg/m3

Batu 2-3 (agregat kasar)

: 571 kg/m3

Semen tonasa tipe 1

: 500 kg/m3

Air

: 200 l/m3

Retarder MBT Type B dan D : 1.75 l/m3


Slump

: 10 2 cm

Faktor air semen (FAS)

: 0.40

Untuk kontrol sampel (sample control) maka dibuat beberapa sampel


saat pengecoran benda uji. Sampel yang diuji berupa silinder 15 cm x 30 cm
dan balok berdimensi 10 cm x 10 cm x 40 cm. untuk pengujian sampel,
menggunakan mesin UTM kapasitas 2000 kN yang dilakukan pada saat umur
sampel berumur 3 hari, 7 hari dan 28 hari. Adapun hasil pengujian kuat tekan

72

silinder rata-rata untuk sampel berumur 28 hari adalah 36,66 MPa, dan hasil
kuat lentur yang diperoleh adalah 6,48 MPa.

Gambar 4.1 Uji Tekan Beton

Gambar 4.2 Uji Lentur Beton


4.2 Pengujian Tarik Baja Tulangan
Uji tarik baja tulangan dilakukan di laboratorium Teknik jurusan mesin
Politeknik Negeri Ujung Pandang. Dengan hasil uji tarik sebagai berikut:

Tabel 4.1 Hasil Uji Tarik Baja Tulangan


73

Diameter
sampel
D10
D22

fy
(MPa)
385.40
453.80

fymax
(MPa)
500.35
540.80

y
0.00193
0.00227

Es
(MPa)
200000
200000

Sumber : Hasil Pengujian-Laboratorium Mekanik Jurusan Mesin PNUP- 2013

Gambar 4.3 Uji Tarik Baja Tulangan

4.3 Hasil Penelitian dan Analisa Balok


4.3.1 Pengujian Balok B1
Balok B1 adalah balok kontrol untuk balok lain, karena memiliki
karakteristik yang sama. Dalam pengamatan visual, retak awal muncul
pada saat beban mencapai beban 50 kN. Pembacaan regangan beton saat
beban mencapai beban 50 kN adalah 276.328 seperti pada gambar 4.4.

74

HUBUNGAN BEBAN DAN REGANGAN BETON


500
400 beban dan Cu
Hubungan

Hubungan beban dan C1

300
beban(kN)

200

100 beban dan C2


Hubungan
0

500

1000

1500

2000

2500

3000

Regangan beton ()

C2 (450kN;
783.575)

C1 (450kN;
1857.97)

Cu (450kN;
2730.43 )

Cu (50kN; 276,328
)

Gambar 4.4 Grafik Hubungan Beban dan Regangan Beton Balok B1

Dari grafik dapat terlihat bahwa beban yang diterima oleh balok
sebelum mencapai pembebanan 50 kN, gaya tarik yang diterima balok
masih ditahan oleh beton. Setelah beton mencapai kemampuan

75

maksimalnya dalam menahan gaya tarik, maka nilai regangan beton


semakin besar.
Pada saat regangan beton menunjukkan nilai 276,328 yaitu pada
pemebanan 50 kN, maka muncul retak awal pada bagian lentur balok. Hal
ini membuktikan bahwa beton telah mencapai batasnya dalam menahan
gaya tarik.
Dari grafik, tampak bahwa tulangan tarik dapat menahan beban
hingga 450 kN, mencapai tahap plastisnya dan akhirnya putus. Regangan
beton pada beban maksimal sebesar 450 kN adalah Cu (2730.43 ), C1
(1857.97), C2 (783.575). Regangan terbesar nampak pada nilai Cu yaitu
pada strain gauge yang terpasang pada permukaan tekan beton.

HUBUNGAN BEBAN DAN REGANGAN BAJA


500
450
400
350
300
Beban Hubungan
(kN) 250beban dan Su
200

Hubungan beban dan Sb

150
100
50
0
0

500

1000

1500

2000

Regangan Baja ()

Su (450kN;
1794,34)
Su (390kN;
1690.57)

Su (450kN;
2333.96)

76

2500

Sb (390kN;
2341.51)

Gambar 4.5 Grafik Hubungan Beban dan Regangan Baja Balok B1

Dari gambar 4.5 terlihat nilai regangan tulangan baja akibat


pembebanan. Dari grafik, nampak bahwa perubahan regangan masih
sangat kecil sampai pada beban 50 kN, yaitu nilai Sb 255.66 dan nilai Su
189.623. Hal ini menunjukkan bahwa regangan yang diterima oleh baja
akibat beban masih sangat kecil karena gaya tarik masih ditahan oleh
beton. Pada gambar nampak pula bahwa adanya hubungan antara beban
dan regangan masih linier, hingga sampai pada beban 390 kN dengan nilai
Sb 2341.51) dan Su 1690,57 . Pada saat beban mencapai 390 kN, baja
sudah berada pada keadaan plastis yang ditandai dengan perubahan
regangan yang sangat kecil meskipun adanya penambahan beban.

77

HUBUNGAN BEBAN DAN LENDUTAN


500
450
400
350
300
Beban (kN) 250
200
150
100
50
0
0

Hubungan beban dan Lendutan

10

15

20

25

30

35

40

lendutan (mm)

lendutan max 450 kN,;


40,51 mm

Gambar 4.6 Grafik Hubungan Beban dan Lendutan Balok B1

Dari gambar 4.6 nampak perilaku lendutan beton akibat


peningkatan beban yang diberikan. Dengan mengingat bahwa hingga
pembebanan 50 kN, adalah awal retakan yang ditunjukkan oleh nilai
LVDT sebesar 2,67 mm. Garis ini cenderung membentuk garis linear,
78

45

50

karena tulangan masih berada dalam kondisi elastis, dan regangan tarik
masih ditahan ditahan oleh beton. Lendutan terbesar adalah sebesar 40,51
mm pada pembebanan maksimal yaitu 450 kN.
Dengan menggunakan modulus elastisitas beton sebesar 4700fc
dan nilai modulus elastisitas baja sebesar 200000 Mpa, maka grafik
tegangan regangan balok B1 dapat terlihat pada gambar 4.7.

Cu
C1

258.36

2730.43

C2

1857.97
783.575

Cu

76.99 N/mm

C1

52.39 N/mm

C2 22.09 N/mm

500
1794.34
2433.96

Su
Sb

358.8 N/mm
466.8 N/mm

Su
Sb

300
Regangan

Tegangan

Gambar 4.7 Hubungan Tegangan-Regangan Balok B1

4.3.2 Pengujian Balok A1


Balok ini akan diuji dengan perkuatan GFRP. Awalnya, balok akan
ditekan hingga tulangan mencapai kondisi leleh seperti yang direncanakan,
lalu akan diberikan perkuatan GFRP. Dari hasil ini, akan terlihat apakah
ada penambahan kapasitas dari beton dengan perkuatan GFRP.

79

HUBUNGAN BEBAN DAN REGANGAN BETON


500
Hubungan beban 400
dan Cu

Hubungan beban dan C1

300
Beban(kN)

200
100

Hubungan beban dan


0 C2
(250)
250
(500)
0

750
500

1,250
1,000

1,500

Regangan beton (-) ()

Hubungan antara beban dan regangan beton dapat terlihat pada gambar
4.8 berikut.
C2 (415 kN;
207,7 )

C1 (415 kN; 676,3 Cu (415 kN;


)
1321,7)

Gambar 4.8 Grafik Hubungan Beban dan Regangan Beton Balok A1


Retak awal terjadi pada beban 50 kN dengan regangan 179,71
pada Cu. Hal ini berarti beton telah mencapai batas maksimumnya dalam
menahan gaya tarik. Sehingga, pada penambahan beban selanjutnya, gaya
tarik akan sepenuhnya ditahan oleh tulangan tarik.

80

HUBUNGAN BEBAN DAN REGANGAN BAJA


450
400
350
300
250
beban
BebanHubungan
(kN)
200 dan Sg

Hubungan beban dan Sb

150
100
50
-500

500

1000

1500

2000

Regangan Baja ()

Dari grafik nampak bahwa pengujian dihentikan pada saat balok telah
mencapai keadaan lelehnya pada beban 415 kN dengan nilai Cu 1321.74
, C1 676.328 , C2 207.729 . Pengujian akan dilanjutkan setelah
perkuatan balok dengan GFRP.

Sg (415 kN;
221.698 )

Sb (415 kN; 2131


)

Gambar 4.9 Grafik Hubungan Beban dan Regangan Baja Balok A1

81

2500

Dari gambar 4.9, nampak bahwa setelah beton telah melampui batas
kemampuannya dalam menahan gaya tarik, distribusi regangan disalurkan
ke baja tulangan, sehingga pada grafik, nilai regangan baja tidak terlalu
mengalami perubahan sampai pada pembebanan 50 kN nilai Sb 175.472 .
Regangan baja mulai meningkat setelah pemberian beban tambahan. Dari
gambar nampak juga bahwa pembebanan dihentikan pada saat regangan
tulangan tarik mencapai 2131 , dan regangan tulangan geser sebesar
221,698 .

HUBUNGAN BEBAN DAN LENDUTAN


Dm max 415 kN;
450
33,08 mm
400
350
300
250
Beban (kN) 200

hubungan beban dan lendutan

150
100
50
0

10

15

20

25

30

Lendutan (mm)

82

35

Gambar 4.10 Grafik Hubungan Beban dan Lendutan Balok A1


Dari gambar 4.10, terlihat bahwa hubungan beban dan lendutan
cenderung linear pada beban-beban tertentu. Pada saat balok mengalami
retak awal pada beban 50 kN, besar lendutan adalah sebesar 3.035 mm
yang berarti lendutan pada balok masih sangat kecil dengan adanya
peranan beton menahan lendutan akibat beban. Akibat penambahan beban,
lendutan akhir pada saat beban mencapai 415 kN sebesar 33,08 mm.

83

HUBUNGAN BEBAN DAN LEBAR RETAK


P3 max 0.607
450.0000
mm

400.0000
350.0000
hubungan
beban dan P1

P2 max 0.704
mm
hubungan beban dan P2

300.0000
250.0000
Beban (kN) 200.0000
150.0000
100.0000
hubungan
beban dan P3
50.0000
0.0000
0.0000

0.2000

0.4000

0.6000

0.8000

Lebar Retak (mm)

P1 max 0.691
mm

Gambar 4.11 Grafik Hubungan Beban dan Lebar Retakan Balok A1


Apabila kita menarik garis lurus pada beban 50 kN, maka lebar
retak awal adalah P1 0,097 mm, P2 0,275 mm dan P3 0,1633 mm. dan

84

lebar reak maksimal sesuai grafik yang ada, terjadi pada pembebanan 415
kN masing masing P1 0,691 mm, P2 0,704 mm, dan P3 0,607 mm.
Dengan data-data diatas, maka pada gambar 4.12 kita dapat
menggambar kondisi tegangan-regangan saat beton dalam keadaan leleh
sebelum perkuatan GFRP.

Cu
176.5

C1

1321.7

676.3

207.7 C2

Cu

37.27 N/mm

C1 19.07 N/mm
5.86 N/mm C2

500
+
2131

Sb

426.2 N/mm

Su
Sb

300
Regangan

Tegangan

Gambar 4.12 Hubungan Tegangan-Regangan Balok A1 Pada Kondisi


Leleh

Setelah beban mencapai 415 kN, pembebanan dihentikan dan akan


dilanjutkan dengan perkuatan GFRP. Pengujian balok dilakukan setelah 5

85

hari pemasangan GFRP dengan tujuan menunggu perekat epoxy benarbenar telah kering. Analisis luasan GFRP secara teroitis sebesar 300000
mm2. Adapun hasil pengujian balok pasca perkuatan GFRP sebagai
berikut:

86

C2 (459.99 kN;
309,179 )

C1 (459.99 kN;
786.473 )

Cu (459.99 kN;
1481.16 )

HUBUNGAN BEBAN DAN REGANGAN BETON


500
450
hubungan beban400
dan Cu
hubungan beban dan C1
350
300
250
bEBAN (kN)
200
150
hubungan beban100
dan C2
50
0
-400 -200 0 200 400 600 800 1000120014001600
Regangan beton (-) ()

Gambar 4.13 Grafik Hubungan Beban dan Regangan Beton Balok


A1 dengan perkuatan GFRP
Dari gambar, terlihat bahwa regangan maksimal pada beban 459,99
kN adalah Cu -1481,16 , C1-786,473 , C2 309,179 . Adapun regangan
87

yang diterima beton pasca leleh dengan perkuatan GFRP pada beban 415
kN yaitu Cu -1244,04 , C1 -747,27 , C2 73,244 ,lebih rendah apabila
dibandingkan pada saat pembebanan balok sebelumnya pada beban 415
kN. Hal ini berarti penambahan GFRP mampu mengurangi regangan tekan
permukaan beton.

HUBUNGAN BEBAN DAN REGANGAN BAJA


Sg (459.99 kN; 502.83Sb (459.99 kN;
500
)
2267,92 )
450
400
350
300
250dan Sg
beban
Bebanhubungan
(kN)
200

hubungan beban dan Sb

150
100
50
-500

0
0

500

1000

1500

2000

2500

regangan baja ()

Gambar 4.14 Grafik Hubungan Beban dan Regangan Baja Balok A1


dengan perkuatan GFRP
Dari gambar 4.14, nampak bahwa regangan baja pada beban
maksimal sebesar 459,99 kN adalah Sg 502,83 , Sb 2267,92 . Pada saat
beban 415 kN, nilai Sg 398,19 dan Sb 2132,65. Nilai regangan baja ini
lebih besar daripada saat pembebanan 415 kN pada percobaan
sebelumnya, ini berarti dengan lelehnya tulangan baja, tulangan tidak
mampu lagi menahan gaya tarik akibat beban, sehingga regangannya
88

menjadi lebih besar. Regangan ini disalurkan pada GFRP dan mencapai
regangan maksimalnya pada beban 459,99 kN. Dengan perkuatan GFRP,
seharusnya balok ini mampu menahan beban hingga 502.58 kN, namun
adanya kegagalan pada sisi tekan beton.

DM (459.99
37,89
BEBAN
DAN kN;
LENDUTAN
DLHUBUNGAN
(459.99 kN; 29,71
mm)
mm)
500
450
400
hubungan beban dan DL
350

hubungan beban dan DM

300
Beban (kN) 250
200
150
hubungan
100 beban dan DR
50
0
0

10

15

20

25

30

35

40

45

Lendutan (mm)

DR (459.99 kN; 28,26


mm)

89

50

Gambar 4.15 Grafik Hubungan Beban dan Lendutan Balok A1


dengan perkuatan GFRP
Dari gambar 4.15, nampak bahwa lendutan maksimal yaitu pada
saat 419,88 kN adalah DL 23,295 mm, DM 29.145 mm, dan DR 22.665
mm. Lendutan pada pembebanan 415 pasca perkuatan GFRP adalah DL
23,133 mm, DM 28,97 mm, DR 22,506 mm. Hal ini menunjukkan
perbedaan dengan nilai DM sebelum perkuatan balok, dengan beban 415
kN lendutannya sebesar 33,08 mm. Nilai lendutan DM pasca perkuatan
GFRP lebih kecil, hal ini berarti GFRP berfungsi sebagai tulangan dalam
menahan lendutan balok yang terjadi akibat beban.

90

HUBUNGAN BEBAN DAN LEBAR RETAK


500
450

P2 (459.99 kN; 0.461


mm)

400
350
300
Beban (kN) 250 hubungan beban dan lebar retak
200
150
100
50
0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45 0.5
Lebar retak (mm)

Gambar 4.16 Grafik hubungan Beban dan Retakan Balok A1 dengan


perkuatan GFRP
Dari gambar 4.16 nampak bahwa retak maksimal adalah 0,461 mm
pada beban 459,99 kN. Pada beban maksimal 415 kN, lebar retakannya
adalah 0,429 mm. Pada pembebanan tanpa perkuatan GFRP, retakan P2
adalah 0,704 mm pada beban maksimal 415 kN. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa, GFRP berperan penting untuk menahan gaya tarik
akibat beban sehingga lebar retak yang terjadi lebih kecil.
Pada perkuatan balok dengan GFRP, strain gauge juga dipasang
pada lapisan GFRP untuk mengetahui regangan yang dialami GFRP
selama pembebanan. Adapun grafik regangan GFRP dapat kita lihat pada
gambar 4.17 berikut.

91

HUBUNGAN BEBAN DAN REGANGAN GFRP


GFRP2 (459.99 kN;
5750,71 )

500
450

400
hubungan beban dan GFRP1
350

hubungan beban dan GFRP2

300
Beban (kN) 250
200
150
100
hubungan
beban dan GFRP3
50
0
0

1000

2000

3000

4000

5000

6000

Regangan GFRP ()

Gambar 4.17 Grafik Hubungan Beban dan Regangan GFRP Balok A1


Regangan awal yang diterima GFRP besarnya sangat signifikan, hal
ini membuktikan bahwa peranan tulangan untuk menahan gaya tarik pada
beton sudah sangat kecil. Meskipun ada regangan yang bersifat linear,
namun hal ini tidak terlalu berpengaruh mengenai peranan baja menahan
gaya tarik. Dari gambar nampak bahwa regangan GFRP maksimum adalah
5750,71. Namun pada pengujian ini, kegagalan bukan terjadi dari
putusnya GFRP melainkan akibat rusaknya sisi tekan balok sehingga
GFRP belum rusak.

92

7000

Dengan demikian dapat terlihat peranan GFRP dalam menahan gaya


tarik dengan menggantikan peranan baja tulangan. Sehingga lendutan
berkurang, lebar retakan berkurang.

Cu
C1

1481.16
786.47

309.18 C2

500
+
2267.92

Sb
GFRP 2

5750.71

300
Regangan

Gambar 4.18 Regangan Balok A1 Dengan Perkuatan GFRP


Dari gambar 4.18 terlihat regangan maksimum yang diterima sisi
tekan beton, tulangan lentur dan regangan GFRP. Regangan maksimum
GFRP berbeda jauh dengan regangan akhir tulangan baja, namun regangan
GFRP ini tidak menunjukkan bahwa GFRP telah putus akibat beban,
namun kerusakan terjadi akibat tidak sempurnanya proses pembuatan
benda uji sehingga serat tekan beton mengalami kehancuran lebih dahulu.

4.3.3 Pengujian balok A2

93

Balok A2 sebagai variasi luas lekatan GFRP pada permukaan tarik


balok yaitu seluas 1800000 mm2 atau dengan kata lain menutupi seluruh
permukaan bawah balok. Sebagai catatan, karakteristik balok A1 dan A2
adalah sama, sehingga perilakunya saat menerima beban statik untuk
mencapai tulangan leleh relatif tidak jauh berbeda. Pada gambar 4.19 akan
diambil salah satu perilaku balok akibat beban yang diberikan.

HUBUNGAN BEBAN DAN LENDUTAN


450
400
350
300
250
Beban (kN) 200

hubungan beban dan lendutan

150
100
50
0
0

10

15

20

25

30

35

lendutan (mm)

Ga
mbar 4.19 Grafik Hubungan Beban dan Lendutan Balok A2
Dari gambar 4.19, terlihat nilai maksimum dari lendutan pada saat
tulangan telah leleh adalah 30.5 mm pada pembebanan 399,84 kN. Pada
balok A1, nilai lendutan pada beban 400 kN tidak berbeda jauh dengan
nilai lendutan balok A2.

94

Selanjutnya setelah tulangan leleh, dilanjutkan dengan perkuatan


GFRP pada serat tarik balok A2. Pada gambar 4.20 adalah salah satu
perilaku beton setelah perkuatan GFRP akibat pembebanan yang
diberikan.

HUBUNGAN BEBAN DAN REGANGAN BAJA


500
450
400
350
300
bebanhubungan
(kN) 250beban dan Sg

hubungan beban dan Sb

200
150
100
50
0
0

500

1000

1500

2000

2500

regangan baja ()

Gambar 4.20 Grafik Hubungan Beban dan Regangan Baja Balok A2


dengan perkuatan GFRP
Pada gambar terlihat bahwa regangan maksimal tulangan pada
beban 459,98 kN adalah Sg 593,396, Sb 2109,43 . Nilai regangan ini

95

tidak jauh berbeda dengan regangan balok A1 setelah perkuatan GFRP.


Sisi tekan balok telah hancur sebelum GFRP mencapai batas maksimalnya.
Selanjutnya akan ditinjau perilaku regangan GFRP akibat
pembebanan. Pada gambar 4.21 merupakan perilaku regangan GFRP
akibat beban statik yang diberikan.

HUBUNGAN BEBAN DAN REGANGAN GFRP


500
450
400
350
300
beban (kN) 250 hubungan beban dan regangan GFRP
200
150
100
50
0
0
500 1000 1500 2000 2500 3000 3500
regangan GFRP ()

Gambar 4.21 Grafik Hubungan Beban dan Regangan GFRP Balok A2


Dari gambar 4.21 terlihat bahwa regangan maksimum GFRP pada
beban 459,98 kN adalah 2859.72. Regangan ini jauh berbeda dengan
regangan maksimum yang ditunjukkan oleh balok A1 pada beban 459,94
kN. Sisi tekan balok telah hancur sebelum GFRP mencapai regangan

96

maksimumnya.

Hal ini

diakibatkan ketidaksempurnaannya

proses

pengecoran sehingga kapasitas balok rencana tidak terpenuhi.

HUBUNGAN BEBAN DAN LENDUTAN


500
450
400
350
300
250 B1
Defleksi balok
Beban(kN)
200

defleksi balok A1

defleksi balok A2

150
100
50
0
0

10

15

20

25

30

35

40

lendutan(mm)

97

45

50

Gambar 4.22 Grafik Hubungan Beban dan lendutan balok B1, balok A1
dan A2 dengan perkuatan GFRP
Dari gambar 4.22, terlihat nilai lendutan terbesar balok B1 adalah
sebesar 40,51 mm pada pembebanan maksimal yaitu 450 kN. Pada gambar
4.22 juga terlihat bahwa nilai lendutan terbesar balok A1 dengan perkuatan
GFRP pada beban 459.99 kN adalah sebesar 37,89 mm. Dan untuk balok
A2 dengan perkuatan GFRP, nilai lendutan terbesar pada beban 459,99 kN
adalah sebesar 36,25 mm. Dari gambar 4.22 nampak bahwa dengan
pekuatan GFRP, nilai lendutan yang terjadi pada balok lebih kecil jika
dibandingkan dengan nilai lendutan pada balok tanpa perkuatan GFRP
pada beban yang sama.

4.4 Pola Retak Balok


4.4.1 Pola retak balok B1

98

Pengamatan retak dilakukan terhadap benda uji balok beton


normal dan balok pasca pembebanan dengan perkuatan GFRP pada
saat pembebanan maksimum.Hal yang diamati adalah jenis pola
retakan pada saat pembebanan. Pola retak yang terjadi pada balok
secara keseluruhan dapat dilihat pada lampiran foto.

Gambar 4.23 Pola Retak Balok B1

Gambar 4.24 Pola Retak Balok B1


Gambar 4.23 merupakan retak balok pada 1/3 bentang tengah.
Retak awalnya pada beban 50 kN. Pola retak ini merambat dari sisi

99

tarik beton ke sisi tekan beton sehingga pola retak ini menunjukkan
pola retak lentur(flexural crack).
Pada gambar 4.24 merupakan retak balok pada 1/3 bentang kiri.
Pada gambar nampak beban maksimalnya adalah 450 kN. Retak yang
terjadi merambat dari sisi tarik ke sisi tekan beton, lalu terjadi retak
geser. Sehingga pola retak ini digolongkan dalam pola retak lentur
geser(flexural shear crack).
4.4.2 Pola retak balok A1
Balok A1 akan diperkuat dengan GFRP setelah tulangan bajanya
leleh, berikut akan ditampilkan foto polak retak balok sebelum
perkuatan GFRP dan pasca perkuatan GFRP.

Gambar 4.25 Pola Retak Balok A1

100

Gambar 4.26 Pola Retak Balok A1

Pada gambar 4.25 terlihat pola retakan pada bentang tengah


balok sebelum perkuatan dengan GFRP. Awal retak terjadi pada beban
50 kN. Retak yang terjadi bergerak dari sisi tarik beton ke sisi tekan
beton, pola retak ini adalah pola retak lentur (flexural crack).
Pada gambar 4.26 terlihat pola retakan pada bentang kiri benda
uji sebelum perkuatan dengan GFRP. Beban maksimalnya adalah 415.
Retak yang terjadi bergerak dari sisi tarik ke sisi tekan beton. Pola
retak ini adalah pola retak lentur geser, karena mengalami retak lentur
dan retak geser (flexural shear crack).

101

Gambar 4.27 Pola Retak Balok A1 Dengan Perkuatan GFRP

Gambar 4.28 Pola Retak Balok A1 Dengan Perkuatan GFRP

Gambar 4.27 adalah pola retak balok pada bentang tengah balok
setelah perkuatan GFRP. Retak yang terjadi merambat dari sisi tarik
beton ke sisi tekan. Retak terjadi akibat bertambahnya beban yang
diberikan. Pola retak yang terjadi adalah pola retak lentur(flexural
crack).

102

Gambar 4.28 adalah pola retak balok pada bentang kanan


setelah perkuatan GFRP. Retak yang terjadi merambat dari sisi tarik
beton ke sisi tekan beton, lalu terjadi retak geser. Sehingga pola retak
ini adalah pola retak lentur geser(flexural shear crack).

4.4.3 Pola Retak Balok A2


Balok A2 adalah variasi perkuatan GFRP dari sisi luas rekatan
GFRP. Berikut adalah foto dari pola retak balok sebelum dan setelah
perkuatan GFRP.

Gambar 4.29 Pola Retak Balok A2

103

Gambar 4.30 Pola Retak Balok A2

Gambar 4.29 adalah pola retak balok untuk mencapai tegangan


leleh tulangan pada bentang tengah balok. Retak yang terjadi
merambat dari sisi tarik beton ke sisi tekan beton, Retak ini termasuk
pola retak lentur (flexural crack).
Gambar 4.30 adalah pola retak balok pada bentang kiri balok.
Retak yang terjadi merambat dari sisi tarik beton ke sisi tekan beton,
lalu terjadi retak geser. Sehingga pola retak ini adalah pola retak lentur
geser(flexural shear crack).

104

Gambar 4.31 Pola Retak Balok A2 Dengan Perkuatan GFRP

4.32 Pola Retak Balok A2 Dengan Perkuatan GFRP

Gambar 4.31 adalah pola retak balok A2 pasca perkuatan GFRP


pada bentang tengah. Retak yang terjadi merambat dari sisi tarik beton
ke sisi tekan beton, Retak ini termasuk pola retak lentur (flexural
crack).

105

Gambar 4.32 adalah pola retak balok A2 pasca perkuatan GFRP


pada bentang kanan balok. Retak yang terjadi merambat dari sisi tarik
beton ke sisi tekan beton, lalu terjadi retak geser. Sehingga pola retak
ini adalah pola retak lentur geser(flexural shear crack).
4.5 Mode Kegagalan Balok
Beberapa mode kegagalan yang sering terjadi pada balok yang
diperkuat dengan FRP yaitu :
a. Rusaknya FRP setelah tulangan tarik meleleh
b. Hancurnya beton sekunder setelah tulangan tarik meleleh
c. Inti beton rusak karena tekanan sebelum tulangan tarik meleleh
d. Lepasnya ikatan antara FRP dan beton (debonding)
e. FRP putus (FRP failure)
Mode keruntuhan yang terjadi pada balok secara keseluruhan dapat
dilihat pada lampiran foto.
4.5.1 Mode Kegagalan Balok A1

Gambar 4.33 Mode Kegagalan Balok A1

106

Dari Gambar 4.33 nampak bahwa mode kegagalan balok A1


adalah akibat hancurnya sisi tekan beton terlebih dahulu sebelum GFRP
mencapai

regangan

maksimal.

Hal

ini

diakibatkan

ketidaksempurnaannya proses pembuatan balok A1.

4.5.2 Mode Kegagalan Balok A2

Gambar 4.34 Mode Kegagalan Balok A2

Dari Gambar 4.34 nampak bahwa kegagaln perkuatan balok A2


dengan GFRP adalah rusaknya sisi tekan beton sebelum GFRP
mencapai

regangan

maksimalnya.

Keruntuhan

ini

disebabkan

ketidaksempurnaannya proses pembuatan benda uji. Selain itu mode


kegagalan yang terjadi adalah putusnya GFRP pada bentang tengah
balok.

107