Anda di halaman 1dari 4

Jurnal Nasional Ecopedon

JNEP Vol. 2 No. 2 (2015) 046-049

KESESUAIAN LAHAN

http://www.perpustakaan politanipyk.ac.id.

Taksiran Kerugian
Lingkungan Akibat Pencucian
Pupuk Anorganik dari
Tanaman Kelapa Sawit di
Provinsi Sumatera Barat
Desra Andriani*
Mahasiswi semester 6 Prodi. Manajemen Produksi Pertanian , Jurusan Budidaya Tanaman Pangan, Politeknik
Pertanian Negeri Payakumbuh. Jl. Raya Negara Km 7 TanjungPati 26271

Diterima : Juni
Oktober 2015

2015/ Diterbitkan: September

2015/online :

Abstrak
enelitian mengenai evaluasi kesesuaian lahan untuk
Provinsi Sumatera Barat merupakan provinsi yang memiliki
perkebunan kelapa sawit terbesar pada urutan kesepuluh di
Indonesia setelah Provinsi Kalimantan Selatan dan Aceh. Luas
areal perkebunan kelapa sawit di Provinsi Sumatera Barat pada
tahun 2014 mencapai angka 381.754 ha. Selain memiliki dampak
positif, perkembangan industri kelapa sawit ini juga
menimbulkan berbagai kerugian atau dampak negatif bagi
lingkungan. Salah satunya adalah kerugian lingkungan akibat
pencucian pupuk anorganik dari tanaman kelapa sawit.
Perhitungan taksiran kerugian lingkungan akibat pencucian
pupuk anorganik dari tanaman kelapa sawit di Provinsi
Sumatera Barat ini dilakukan secara sederhana dan tidak secara
detail. Data yang digunakan dalam perhitungan ini diperoleh
dari survey lapangan dan studi literatur. Penyebab tercucinya
pupuk anorganik adalah akibat dari kesalahan dalam penentuan
batas wilayah tanam yang boleh ditanami kelapa kelapa sawit,
sehingga pupuk anorganik yang tidak dapat terserap oleh
tanaman langsung tercuci dan terbawa oleh erosi dan run off ke
sungai bahkan sampai ke laut. Dalam jangka panjang hal ini
dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan seperti kematian
ikan dalam skala besar di sungai dan laut serta akan berdampak
buruk pada kesehatan manusia apabila mengkonsumsi ikan
yang berasal dari sungai maupun laut yang telah tercemar
akibat pencucian pupuk anorganik. Total pupuk anorganik N, P,
dan K yang terbuang akibat pencucian pada tanaman kelapa
sawit di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2014 mencapai
angka 180.149.712,60 kg. Sedangkan total kerugiannya sebanyak
Rp 706.446.179.796,50. Cara yang dapat dilakukan untuk
meminimalisir kerugian lingkungan tersebut adalah dengan
memperbaiki penentuan batas wilayah tanam yang boleh di
tanami kelapa kelapa sawit dan tidak menebang hutan lindung
agar pupuk anorganik yang tidak dapat terserap oleh tanaman
kelapa sawit dapat ditahan oleh hutan lindung sehingga tidak
langsung terbawa ke sungai dan laut yang ada di sekitar Provinsi
Sumatera Barat.
Kata kunci : Kerugian lingkungan, pencucian pupuk,
kelapa sawit.
N = Nitrogen, K = Kalium, P = Phosfor

Koresponden: chadunkhairy28@gmail.com : hp, 082387421331

1.

Pendahuluan

Tanaman kelapa sawit merupakan komoditi yang memiliki peran


paling penting pada sektor perkebunan. Pengembangan
perkebunan kelapa sawit telah banyak memberikan perubahan
ekonomi yang berarti bagi petani dan masyarakat karena mampu
meningkatkan pendapatan petani dan menyediakan lapangan
pekerjaan bagi masyarakat. Industri kelapa sawit ini semakin
diistimewakan oleh Negara karena merupakan salah satu industri
penyumbang devisa terbesar untuk Negara. Berkembangnya usaha
perkebunan kelapa sawit menjadikan Indonesia sebagai Negara
produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Luas areal perkebunan
kelapa sawit yang tersebar di seluruh Indonesia semakin
meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Ditjen perkebunan
(2015), pada tahun 2014 luas areal perkebunan kelapa sawit
mengalami laju pertumbuhan sebesar 4,69% dari tahun
sebelumnya yaitu tahun 2013 yang hanya mencapai luas 10.465.020
ha menjadi 10.956.231 ha di tahun 2014. Perkebunan kelapa sawit
terluas di Indonesia berada di Provinsi Riau dengan luas areal
sebesar 2,30 juta ha. Sedangkan Provinsi Sumatera Barat berada di
urutan kesepuluh dengan luas areal 382 ribu ha (Ditjen
Perkebunan, 2015). Semakin berkembangnya perkebunan kelapa
sawit ini tidak hanya memberikan dampak positif tetapi juga
menimbulkan berbagai dampak negatif dan kerugian bagi
lingkungan. Dampak negatif dan kerugian ini timbul akibat
adanya kesalahan dalam penentuan batas wilayah tanam yang
boleh di tanami kelapa kelapa sawit jika ditinjau dari segi aspek
kesesuain lahan. Salah satu kerugian yang ditimbulkan akibat
kesalahan penentuan batas wilayah tanam tersebut adalah
pencemaran lingkungan seperti kerusakan tanah, pencemaran
sungai, dan pencemaran laut akibat pencucian pupuk anorganik
pada tanaman kelapa sawit (Aflizar, 2015). Pupuk anorganik adalah
suatu bahan yang bersifat sintetis dan sengaja dibuat oleh
manusia, bila ditambahkan ke dalam tanah ataupun tanaman
dapat menambah unsur hara (Arianto, 2009). Dampak dari
pencucian pupuk anorganik ini dalam jangka panjang akan
menimbulkan efek berantai bagi lingkungan, masyarakat, dan
Negara. Mulai dari berkurangnya populasi ikan di sungai dan laut,
berkurangnya pendapatan nelayan sehingga perekonomian
keluarganya berada dibawah garis kemiskinan. Apabila nelayan
berada dibawah garis kemiskinan maka anak-anak nelayan
tersebut tidak bisa sekolah dan menjadi bodoh, kesehatanya juga
terganggu akibat mengkonsumsi ikan yang berasal dari sungai dan
laut yang telah tercemar akbat pencucian pupuk anorganik,
sehingga Indonesia akan menjadi bangsa yang terbelakang dan
lemah (Aflizar, 2015). Selain menyebabkan kerugian lingkungan,
pencucian pupuk anorganik juga menimbulkan kerugian materi
karena pupuk yang diberikan pada tanaman tidak bisa diserap
100% oleh tanaman. Efisiensi penyerapan pupuk anorganik oleh
tanaman kelapa sawit hanya 45% untuk pupuk N seperti urea dan
ZA, 35% untuk pupuk P seperti sp-36 dan TSP, serta 50% untuk
pupuk K seperti KCl dan MOP (Octavitani, 2009). Berdasarkan
efisiensi penyerapan pupuk anorganik oleh tanaman kelapa sawit
tersebut dapat diketahui bahwa total pupuk anorganik yang
terbuang akibat pencucian lebih banyak dari pada total pupuk
anorganik yang dapat diserap oleh tanaman. Rendahnya
kemampuan tanaman dalam menyerap pupuk anorganik
menyebabkan banyaknya pupuk anorganik yang terbuang sia-sia
dan terbawa oleh erosi dan run off ke sungai bahkan sampai ke
laut. Kerugian materi akibat pencucian pupuk anorganik ini dapat
dihitung berdasarkan berapa total pupuk anorganik yang terbuang
dan harga jual dari pupuk anorganik tersebut. Perhitungan
kerugian akibat pencucian pupuk anorganik pada tanaman kelapa

Desra A. / Jurnal nasional Ecopedon Vol. 2 No. 2 (2015) 46-49

sawit di Provinsi Sumatera Barat ini dilakukan dengan sangat


sederhana dan tidak secara detail.
Tujuan menghitung taksiran kerugian lingkungan akibat
pencucian pupuk anorganik dari tanaman kelapa sawit di Provinsi
Sumatera Barat ini adalah untuk mengetahui sebab dan akibat dari
pencucian pupuk anorganik pada tanaman kelapa sawit di Provinsi
Sumatera Barat, serta untuk mengetahui seberapa besar perkiraan
kerugian materi (Rp) yang ditimbulkan akibat pencucian pupuk
anorganik dari tanaman kelapa sawit di Provinsi Sumatera Barat.

2.

Gambar 3. Pupuk SP-36

Bahan dan Metode

2.1. Lokasi penelitian


Tempat pelaksanaan pratikum ini yaitu di Kampus Politeknik
Pertanian Negeri Payakumbuh selama perkuliahan Kesesuaian
Lahan pada tanggal 06 Juni 2015 sampai 17 Juni 2015.

2.2. Alat dan Bahan

Sumber: Pupukkaltim.com

Alat dan bahan yang digunakan adalah


sebagai berikut:
laptop/komputer, kertas, pena, data data yang didapatkan dari
survey pasar, studi literatur dan internet.

Dosis pemupukan untuk pupuk anorganik yang diberikan pada


tanaman kelapa sawit tersaji pada tabel 1.

3.

Tabel 1. Dosis Pemberian Pupuk Anorganik pada Tanaman Kelapa


Sawit di Provinsi Sumatera Barat.

Hasil dan Pembahasan

Pupuk anorganik adalah suatu bahan yang bersifat sintetis dan


sengaja dibuat oleh manusia, bila ditambahkan ke dalam tanah
ataupun tanaman dapat menambah unsur hara bagi tanaman
(Arianto, 2009). Berikut merupakan beberapa gambar pupuk
anorganik seperti pupuk urea, KCl, dan sp-36 yang sering
diberikan pada tanaman kelapa sawit.
Gambar 1. Pupuk Urea

Jenis pupuk

Dosis
pemupukan

Jumlah
populasi
tanaman

Jumlah pupuk
yang diberikan

Pupuk N
3 kg/batang/th
163.772.466 kg
(Urea, ZA)
Pupuk P (SP- 1 kg/batang/th
54.590.822
54.590.822 kg
36, TSP)
batang
Pupuk K
2 kg/batang/th
109.181.644 kg
(KCl, MOP)
Keterangan :
Luas perkebunan kelapa sawit di Provinsi Sumatera Barat pada
tahun 2014 adalah 381.754 ha (Ditjen Perkebunan, 2014).
Jumlah populasi tanaman kelapa sawit/ha adalah 143 batang.
(Irawan, 2014).
Tabel 2. Jumlah Pupuk Anorganik yang Terbuang dari Tanaman
Kelapa Sawit di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2014.
Jenis
pupuk

Efisiensi
Penyera
pan
Pupuk

Sumber: Pupukkaltim.com

Pupuk N

Gambar 2. Pupuk KCl

Jumlah
pupuk yang
diberikan
(kg)

Jumlah
pupuk yang
terserap (kg)

Jumlah
pupuk yang
terbuang (kg)

45%

163.772.466

73.697.609,70

90.074.856,30

Pupuk P

35%

54.590.822

19.106.787,70

35.484.034,30

Pupuk K

50%

109.181.644

54.590.822,00

54.590.822,00

337.544.932

147.395.219,40

180.149.712,60

Total

Pada Tabel 2 dapat terlihat bahwa jumlah pupuk yang terbuang


lebih banyak dari pada jumlah pupuk yang terserap oleh tanaman
kelapa sawit. Di tahun 2014 jumlah pupuk N yang diberikan pada
tanaman kelapa sawit pada luas areal 381.754 ha mencapai
163.772.466 kg, tetapi jumlah pupuk N yang terserap oleh tanaman hanya
73.697.609,70 kg, dengan demikian ada sebanyak 90.074.856,30 kg pupuk
N yang terbuang percuma. Sedangkan jumlah pupuk P dan K yang
diberikan mencapai 54.590.822 kg dan 109.181.644 kg, akan tetapi jumlah
pupuk P dan K yang terserap oleh tanaman hanya 19.106.787,70 kg dan
54.590.822 kg, dengan demikian ada sebanyak 35.484.034,30 kg pupuk P
dan 54.590.822 kg pupuk K yang terbuang percuma. Total pupuk
47
49

Desra A. / Jurnal nasional Ecopedon Vol. 2 No. 2 (2015) 46-49


anorganik (N, P, dan K) yang diberikan pada tanaman sawit di Provinsi
Sumatera Barat selama tahun 2014 adalah 337.544.932 kg dan total

Pengembangan industri kelapa sawit telah banyak memberikan


perubahan ekonomi yang berarti bagi petani, masyarakat, dan
Negara. Selain memberikan dampak yang positf, industri kelapa
sawit ini juga menimbuolkan berbagai dampak negatif bagi
lingkungan. Akan tetapi media massa lebih banyak mengangkat
dampak positif atau kebaikan industri kelapa sawit dibandingkan
dengan dampak negatif atau keburukannya. Alamat web yang
menampilkan kebaikan dan keburukan dari industri kelapa sawit
dapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5 berikut ini.

pupuk anorganik yang terserap oleh tanaman hanya 147.395.219,40


kg sehingga total pupuk anorganik yang terbuang dari tanaman
kelapa sawit di Provinsi Sumatera Barat selama tahun 2014 adalah
sebanyak 180.149.712,60 kg. Khusus untuk pupuk N, bahwa sisa
pupuk N yang tidak terserap oleh tanaman tersebut tidak
seluruhnya terbuang ke sungai dan laut karena sebagian pupuk N
tersebut menguap bebas ke udara.
Banyaknya pupuk anorganik yang terbuang tersebut disebabkan
karena efisiensi penyerapan pupuk yang rendah.
Efisiensi
penyerapan pupuk N oleh tanaman kelapa sawit hanya 45% dari
jumlah pupuk yang diberikan, begitu juga dengan efisiensi
penyerapan pupuk P dan pupuk K hanya mencapai 35% dan 50%
dari jumlah pupuk yang diberikan (Octavitani, 2009).
Kerugian lingkungan yang ditimbulkan akibat pupuk yang
terbuang ini adalah pupuk tersebut tercuci dan terbawa oleh erosi
dan run off ke sungai bahkan sampai ke laut sehingga berakibat
pada kerusakan lingkungan sepeti matinya biota yang ada di
sungai dan laut. Pencucian pupuk ke sungai dan laut ini
disebabkan karena adanya kesalahan dalam penentuan batas
wilayah tanam yang boleh di tanami kelapa kelapa sawit jika
ditinjau dari segi aspek kesesuain lahannnya. Apabila hal ini terus
dibiarkan dalam jangka panjang maka akan menimbulkan efek
berantai bagi lingkungan, masyarakat, dan Negara. Mulai dari
berkurangnya populasi ikan di sungai dan laut, berkurangnya
pendapatan nelayan sehingga perekonomian keluarganya berada
dibawah garis kemiskinan. Apabila nelayan berada dibawah garis
kemiskinan maka anak-anak nelayan tersebut tidak bisa sekolah
dan menjadi bodoh, kesehatanya juga terganggu akibat
mengkonsumsi ikan yang berasal dari sungai dan laut yang telah
tercemar akbat pencucian pupuk anorganik, sehingga Indonesia
akan menjadi bangsa yang terbelakang dan lemah (Aflizar, 2015).
Tidak hanya kerugian lingkungan, pencucian pupuk ini juga dapat
menimbulkan kerugian materi yang cukup besar. Kerugian akibat
pencucian pupuk anorganik dari tanaman kelapa sawit di Provinsi
Sumatera Barat untuk tahun 2014 dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 4. Alamat Website Di Internet yang Menyajikan Kebaikan


Industri Kelapa Sawit
No.
1

Harga/kg
(Rp)

Jumlah pupuk
yang terbuang
(kg)
90.074.856,30
35.484.034,30
54.590.822,00
180.149.712,60

Keuntungan berkebun kelapa


sawit

Manfaat kelapa sawit dalam


dunia industri

Manfaat minyak sawit bagi


perekonomian Indonesia
3

5
6

Tabel 3. Kerugian Akibat Pencucian Pupuk Anorganik dari


Tanaman Kelapa Sawit di Provinsi Sumatera Barat
Tahun 2014.
Jenis
Pupuk

Judul Tulisan

Jumlah kerugian
(Rp)

Pupuk N
4.366
393.266.822.605,80
Pupuk P
1.889
67.029.340.792,70
Pupuk K
4.509
246.150.016.398,00
706.446.179.796,50
Total
Keterangan:
Jumlah kerugian = Jumlah pupuk yang terbuang x harga pupuk/kg.

9
10

Kelapa
sawit
bagi
pertumbuhan perekonomian
Indonesia
Prospek industri kelapa sawit
2014 makin cerah

Investasi masa depan kebun


kelapa sawit
Prospek hilirisasi industri
minyak sawit nasional dengan
dukungan penelitian dan
pengembangan
Peluang
pasar
industri
pengolahan kelapa sawit
Berbagai Manfaat
Kelapa Sawit

Minyak

Industri pengolahan kelapa


sawit kunci kemandirian
bangsa

Alamat Website
http://konsultasisawit.blogspot.
com/2012/02/keuntunganberkebun-kelapa-sawit.html
http://danyhrm23015.blogspot.c
om/2013/10/manfaat-kelapasawit-dalam-dunia.html
http://worldgrowth.org/site/wpcontent/uploads/2012/06/WG_I
ndonesian_Palm_Oil_Benefits_B
ahasa_Report-2_11.pdf
http://www.academia.edu/95732
26/_Essay_Kelapa_Sawit_bagi_P
ertumbuhan_Perekonomian_Ind
onesia
http://www.beritasatu.com/eko
nomi/168340-prospek-industrikelapa-sawit-2014-makincerah.html
http://investasisawit.blogspot.co
m/
http://www.gin.web.id/index.ph
p/terminologi/206-prospekhilirisasi-industri-minyak-sawitnasional-dengan-dukunganpenelitian-dan-pengembangan
http://www.kuansing.go.id/inve
stasi/sektorargoindustri/industripengolahan-kelapa-sawit/
http://www.agricoputra.com/201
5/04/berbagai-manfaat-kelapasawit.html
http://www.gapki.or.id/Page/Pr
essRelease#

Tabel 5. Alamat Website Di Internet yang Menyajikan Keburukan


Industri Kelapa Sawit
No.
Judul Tulisan
Alamat Website

Pada Tabel 3 dapat membuktikan bahwa kerugian yang


ditimbulkan akibat pencucian pupuk anorganik tidak hanya dari
aspek lingkungan tetapi juga dari aspek materi (Rp). Jumlah
kerugian akibat pencucian pupuk anorganik N, P, dan K masingmasingnya adalah Rp 393.266.822.605,80, Rp 67.029.340.792,70,
dan
Rp 246.150.016.398,00. Sehingga total kerugian yang
ditimbulkan akibat pencucian pupuk anorganik dari tanaman
sawit di Provinsi Sumatera Barat selama tahun 2014 mencapai Rp
706.446.179.796,50. Sayangnya total kerugian akibat pencucian pupuk

anorganik ini tidak berupa uang tunai melainkan dalam bentuk pupuk
anorganik yang terbuang dan terbawa oleh erosi dan run off. Kerugian

materi akibat pencucian pupuk anorganik ini dapat dihitung


berdasarkan berapa jumlah pupuk anorganik yang terbuang dan
berapa harga jual dari pupuk anorganik tersebut. Perhitungan
kerugian akibat pencucian pupuk anorganik pada tanaman kelapa
sawit di Provinsi Sumatera Barat ini dilakukan dengan sangat
sederhana dan tidak secara detail.

4
5
48

Karena kelapa sawit, hutanku


makin sakit

Dampak pembangunan
pabrik kelapa sawit
Dampak ekologi dan
lingkungan akibat
perkebunan sawit skala besar
Dampak sosial dari kelapa
sawit di Borneo
Kontroversi industri kelapa
sawit dan berbagai

http://www.kompasiana.com/w
ardhanahendra/karena-kelapasawit-hutanku-makinsakit_54f84017a33311cf5d8b4a25
http://asyerex.blogspot.com/201
3/01/dampak-pembangunanpabrik-kelapa-sawit.html
https://adekrawie.wordpress.co
m/2007/07/27/dampak-ekologidan-lingkungan-akibatperkebunan-sawit-skala-besar/
http://world.mongabay.com/ind
onesian/borneo-sawit.html
http://yatnodoank.blogspot.com
/2011/01/kontroversi-industri-

Desra A. / Jurnal nasional Ecopedon Vol. 2 No. 2 (2015) 46-49


permasalahannya

dan K yang terbuang akibat pencucian pada tanaman kelapa sawit


di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2014 mencapai angka
180.149.712,60 kg. Sedangkan total kerugiannya sebanyak Rp

kelapa-sawit-dan.html

Dampak negatif dari pencucian pupuk anorganik dari tanaman


kelapa sawit ini dalam jangka panjang akan menimbulkan efek
berantai bagi lingkungan dan masyarakat. Mulai dari kematian
ikan di sungai dan laut sampai adanya generasi muda yang
terancam kebodohan karena kemiskinan akibat sungai dan laut
mereka tercemar seperti pada gambar di bawah ini.

706.446.179.796,50.

Diharapkan pemerintah dan perusahaan menjalankan kerjasama


untuk menaggulangi kerusakan lingkungan, tdak hanya
memikirkan keuntunga semata tetapi juga harus memikirkan
dampak lingkungan dimasa yang akan datang. Cara yang dapat
dilakukan untuk meminimalisir kerugian lingkungan tersebut
adalah dengan memperbaiki penentuan batas wilayah tanam yang
boleh di tanami kelapa kelapa sawit dan tidak menebang hutan
lindung agar pupuk anorganik yang tidak dapat terserap oleh
tanaman kelapa sawit dapat ditahan oleh hutan lindung sehingga
tidak langsung terbawa ke sungai dan laut yang ada di sekitar
Provinsi Sumatera Barat.

Gambar 4. Kematian Ikan Akibat Pencemaran Sungai dan Laut.

5. Ucapan Terimakasih
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT. sehingga penulis
dapat menyelesaikan jurnal ini dengan judul Taksiran Kerugian
Lingkungan Akibat Pencucian Pupuk Anorganik dari Tanaman
Kelapa Sawit di Provinsi Sumatera Barat. Penulis juga
mengucapkan Terimakasih kepada Bapak Aflizar Ph.D yang telah
membagi ilmu tentang kesesuaian lahan dan membimbing penulis
sehingga dapat menyelesaikan jurnal ini. Selain itu, penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dari Program
Studi Manajemen Produksi Pertanian semester 6 angkatan 2012
yang telah membantu penulis dalam mengumpulkan data
sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan jurnal ini
dengan baik. Tidak lupa juga penulis ucapkan terimakasih kepada
Mela Febrianti, Fitri Hidayani dan Lusi Erika Cintya selaku teman
dekat penulis yang telah memberi semangat dan motivasi kepada
penulis selama pembuatan jurnal ini.

Sumber: Aflizar, 2015


Gambar 5. Generasi Muda yang Terancam Kebodohan karena
Kemiskinan Akibat Sungai dan Laut Tercemar.

Daftar Pustaka
[1] Aflizar. 2015. Bahan Kuliah Kesesuain Lahan. Politeknik
Pertanian Negeri Payakumbuh.
[2] http://www.pertanian.go.id/Indikator/tabel-3-prod-lsarealprodvitas-bun.pdf (6 Juni 2015)
[3] http://regionalinvestment.bkpm.go.id/newsipid/commodity.p
hp?ic=2 (6 Juni 2015)
[4] http://ditjenbun.pertanian.go.id/setditjenbun/berita-238pertumbuhan-areal-kelapa-sawit-meningkat.html(6 Juni 2015)
[5] http://kalteng.litbang.pertanian.go.id/ind/images/data/rekom
endasi.pdf (6 Juni 2015)
[6] http://ariyanto.staff.uns.ac.id/files/2009/06/16-Pupuk-danPemupukan.pdf (13 Juni 2015)
[7] http://digilib.unila.ac.id/4777/14/BAB%20I.pdf (13 Juni 2015)
[8] http://www.pupukkaltim.com (13 Juni 2015)

Sumber: Aflizar, 2015

4. Kesimpulan dan Saran


Penyebab tercucinya pupuk anorganik adalah akibat dari
kesalahan dalam penentuan batas wilayah tanam yang boleh
ditanami kelapa kelapa sawit, sehingga pupuk anorganik yang
tidak dapat terserap oleh tanaman langsung tercuci dan terbawa
oleh erosi dan run off ke sungai bahkan sampai ke laut. Dalam
jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan efek berantai bagi
lingkungan, masyarakat, dan Negara. Mulai dari berkurangnya
populasi ikan di sungai dan laut, berkurangnya pendapatan
nelayan sehingga perekonomian keluarganya berada dibawah garis
kemiskinan. Apabila nelayan berada dibawah garis kemiskinan
maka anak-anak nelayan tersebut tidak bisa sekolah dan menjadi
bodoh, kesehatanya juga terganggu akibat mengkonsumsi ikan
yang berasal dari sungai dan laut yang telah tercemar akbat
pencucian pupuk anorganik, sehingga Indonesia akan menjadi
bangsa yang terbelakang dan lemah. Total pupuk anorganik N, P,
49