Anda di halaman 1dari 20

978-979-540-074-5

Pengomposan
JERAMI

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian


Kementerian Pertanian
2013

Tim Penyusun:
Dr. Sarlan Abdulrachman
Dr. Made Jana Mejaya
Dr. Priatna Sasmita
Ir. Agus Guswara
Editor Pelaksana:
Suharna, Amd

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

KATA PENGANTAR
Salah satu limbah pertanian dari tanaman padi adalah
jerami. Masyarakat maupun petani sudah lama mengenal
limbah padi ini, namun kegunaan dan manfaat maupun cara
pengelolaannya belum banyak diketahui dan diterapkan di
lapangan. Indonesia sebagai negara penghasil beras, keberadaan
jerami sesuai dengan luas lahan yang dipanen, baik di lahan
sawah maupun lahan kering sangat melimpah dan diperkirakan
lebih dari 80 juta ton per tahun.
Pengomposan merupakan proses yang diperlukan untuk
mempercepat terjadinya dekomposisi dan pelepasan hara dari
bahan organik sehingga tersedia bagi tanaman. Pemanfaatan
kompos untuk pertanian tidak saja untuk memperbaiki sifat
kimia tetapi juga dapat bermanfaat bagi perbaikan sifat fisik
dan biologi tanah, yang akhir-akhir ini dirasa sangat diperlukan.
Buku tentang pengomposan jerami padi masih sangat
langka. Pada kesempatan ini Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
telah berusaha menerbitkan buku tentang pengomposan jerami
padi, dengan harapan masyarakat (petani) dapat mengambil
hikmahnya, dimana manfaat jerami cukup besar.
Sukamandi, Mei 2013
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
Kepala,

Dr. Ir. I. Made Jana Mejaya, M.Si

Pengomposan Jerami

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

ii

Pengomposan Jerami

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

DAFTAR ISI

Halaman

PENGANTAR

......................................................................................

DAFTAR ISI

........................................................................................

iii

I. RINGKASAN

..

II. PENDAHULUAN

..........................................................................

III. PROSES PENGOMPOSAN

........................................................

IV. CARA PEMBUATAN KOMPOS

.................................................

4.1. Pengomposan jerami dengan metode tumpukan


dan pembalikan..................................................
4.2. Pengomposan jerami dengan metode ventilasi
tanpa pembalikan ............................................
V. HASIL-HASIL PENELITIAN
5.1. Suhu kompos jerami

.....................................................

.......................................................

5.2. Kondisi fisik kompos jerami

..........................................

..............................................

10

..................................................................

13

5.3. C/N Rasio kompos jerami


VI. DAFTAR PUSTAKA

Pengomposan Jerami

iii

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

iv

Pengomposan Jerami

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

I. RINGKASAN
Peluang penggunaan bahan organik (kompos) untuk
perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah cukup prospektif,
terutama pada daerah-daerah dimana bahan organik cukup
banyak tersedia. Hal ini terkait dengan semakin mahalnya
harga pupuk buatan disamping karena kerusakan tanah
akibat diolah dan diusahakan secara terus menerus. Dalam
proses pengomposan jerami peranan mikroba selulolitik dan
lignolitik sangat penting, karena kedua mikroba tersebut
memperoleh energi dan karbon dari proses perombakan bahan
yang mengandung karbon. Pembuatan kompos jerami dapat
dilakukan dengan dua cara: (1) ditumpuk dan dibalik dan (2)
ditumpuk dengan ventilasi tanpa dibalik. Untuk mempercepat
proses dekomposisinya dapat digunakan dekomposer. Dari hasil
penelitian diperoleh bahwa untuk mendapatkan kompos matang
diperlukan waktu 19 hari, yaitu pada jerami yang dicacah dan
diberikan dekomposer serta dibuat ventilasi ketika proses
pengomposan.

II. PENDAHULUAN
Dahulu, pada waktu panen padi menggunakan ani-ani,
maka yang dimaksud dengan jerami adalah limbah pertanian
mulai dari bagian bawah tanaman padi sampai dengan
tangkai malai. Namun saat ini setelah panen dengan digebot
menggunakan arit bergerigi, maka yang dimaksud dengan
jerami adalah bagian tanaman padi setelah dibabat dengan arit
bergerigi setinggi 15-30 cm dari tanah sampai tangkai malai
setelah gabahnya dirontok. Namun demikian, di negara-negara
maju yang menggunakan mesin pemanen (harvester) jerami
padi dibabat di atas tanah.

Pengomposan Jerami

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Di Indonesia sebagai negara penghasil beras di Asia, sudah


barang tentu jerami sebagai limbah pertanian keberadaannya
sangat melimpah. Seperti kita ketahui padi dapat ditanam
di lahan sawah dan lahan kering. Luas panen padi sawah di
Indonesia adalah 10,79 juta ha, dengan rata-rata hasil 4,74 /ha
dan luas panen padi gogo 1,12 juta ha dengan hasil rata-rata
2,58 t/ha (BPS, 2005). Dengan rasio berat gabah jerami 2/3
(Cosico, 1985), maka jerami yang diperoleh dari kedua lahan
tersebut berjumlah 80 juta ton, suatu sumber bahan organik
yang tidak sedikit jumlahnya.
Jerami padi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan
limbah yang lain, misalnya ketebon jagung, daun ubi jalar, daun
tebu, rending kacang-tanah, dan biomas kedelai (Raharjo et al.,
1981). Dengan demikian jerami sangat baik digunakan sebagai
sumber hara atau pupuk organik. Bahan organik ini merupakan
penyangga dan berfungsi untuk memperbaiki sifat-sifat fisika,
kimia dan biologi tanah. Tanah yang miskin bahan organik juga
akan berkurang kemampuan daya menyangga pupuk anorganik
sehingga efisiensi pemupukan menurun karena sebagian besar
pupuk akan hilang melalui pencucian, fiksasi atau penguapan
dan sebagai akibatnya produktivitas menurun.
Mengingat harga pupuk buatan yang semakin mahal
dan kerusakan tanah akibat diolah dan diusahakan secara
terus menerus, maka peluang penggunaan bahan organik
sangat besar, apalagi pada daerah-daerah tertentu bahan
organik banyak tersedia. Manfaat penggunaan bahan organik
untuk tanaman padi sawah telah banyak diteliti. Pemberian
bahan organik pada lahan sawah dapat memperbaiki sifat fisik
tanah seperti pembentukan agregat atau granulasi tanah serta
meningkatkan permiabilitas dan porositas tanah. Karena itu,
peningkatan produktivitas padi perlu dipacu dengan penambahan
bahan organik seperti kompos jerami maupun pupuk kandang,
dan sisa panen lainnya; dengan maksud mempertahankan/
meningkatkan kesuburan tanah.
2

Pengomposan Jerami

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Dalam suatu evaluasi litkaji Pengelolaan Tanaman Terpadu


(PTT), pemberian kompos jerami mempunyai pengaruh positif
terhadap hasil, diperkirakan peningkatan hasil gabah sebesar
300 kg per ton kompos yang diberikan pada padi sawah irigasi.
Disamping itu, petani-petani PTT yang memberikan bahan
organik tanah dalam jumlah yang relatif tinggi dapat mengurangi
pemakaian urea dan KCl dalam pemupukan (Makarim, 2005).

III. PROSES PENGOMPOSAN


Secara umum kandungan nutrisi hara dalam pupuk
organik tergolong rendah dan agak lambat tersedia, sehingga
diperlukan dalam jumlah cukup banyak. Namun, pupuk organik
yang telah dikomposkan dapat menyediakan hara dalam waktu
yang lebih cepat dibandingkan dalam bentuk segar, karena
selama proses pengomposan telah terjadi proses dekomposisi
yang dilakukan oleh beberapa macam mikroba, baik dalam
kondisi aerob maupun anaerob.
Pengomposan merupakan proses biologis yang kecepatan
prosesnya berbanding lurus dengan kecepatan aktivitas mikroba
dalam mendekomposisi limbah organik. Sedangkan kecepatan
aktivitas mikroba sangat tergantung pada faktor lingkungan
yang mendukung kehidupannya. Jika kondisi lingkungan
semakin mendekati kondisi optimum yang dibutuhkan oleh
mikroba maka aktivitas mikroba semakin tinggi sehingga proses
pengomposan semakin cepat. Begitu pula sebaliknya apabila
kondisi lingkungan semain jauh dari kondisi optimumnya
maka kecepatan proses dekomposisi semakin lambat atau
bahkan berhenti sama sekali. Oleh karena itu faktor lingkungan
pendukung kehidupan mikroba merupakan kunci keberhasilan
proses pengomposan. Faktor-faktor lingkungan yang dimasud
antara lain: kadar air, aerasi, pH dan rasio C/N.

Pengomposan Jerami

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Menurut Wahyono, Firman dan Frank (2003), kadar air


yang ideal pada limbah padat yang dikomposkan adalah antara
50-60% dengan nilai optimum 55%. Pada proses pengomosan,
rasio C/N yang ideal antara 20-40 dengan kondisi terbaik 30.
Setelah proses pengomposan selesai, rasio C/N antara 10-20.
Derajat keasaman (pH) sebaiknya dipertahankan untuk tidak
melewati 8,5. Namun demikian selama proses pengomposan
akan menyebabkan tingkat kemasaman mendekati netral, yaitu
antara pH 6-8,5.
Dalam proses pengomposan jerami peranan mikroba
selulolitik dan lignolitik sangat penting, karena kedua mikroba
tersebut memperoleh energi dan karbon dari proses perombakan
bahan yang mengandung karbon. Proses pengomposan
secara aerob, lebih cepat dibanding anaerob dan waktu yang
diperlukan tergantung beberapa faktor, antara lain: ukuran
partikel bahan kompos, C/N rasio bahan kompos, keberadaan
udara (keadaan aerobik), dan kelembaban. Kompos yang sudah
matang diindikasikan oleh suhu yang konstan, pH alkalis, C/N
rasio <20, Kapasitas Tukar Kation > 60 me/100 g abu, dan laju
respirasi <10 mg/g kompos. Sedangkan indikator yang dapat
diamati secara langsung adalah jika berwarna coklat tua (gelap)
dan tidak berbau busuk (berbau tanah).

Pengomposan Jerami

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

IV. CARA PEMBUATAN KOMPOS


Pembuatan kompos jerami dapat dilakukan dengan dua
cara: (1) ditumpuk dan dibalikkan dan (2) ditumpuk dengan
ventilasi tanpa dibalikkan Kemudian untuk mempercepat proses
dekomposisinya dapat digunakan dekomposer.

4.1. Pengomposan jerami dengan metode tumpukan


dan pembalikan.
Bahan yang berupa jerami (lebih yang
masih segar atau jika sudah kering
dilembabkan sampai k.a 60%)
ditaruh dalam bedengan secara
berlapis, tiap lapis dengan ketinggian
30 cm, kemudian ditaburi dengan
atau disiram larutan dekomposer.
Tumpukan jerami dibuat berlapislapis hingga ketinggian 1-1,5 m.
Jerami dalam bedengan ditutup
rapat dengan terpal dan setiap minggu dilakukan pembalikan.
Apabila terlalu kering tumpukan jerami dibasahi dengan air.
Jika memungkinkan lebih baik pembuatan kompos dilakukan
ditempat yang teduh. Setelah 3 minggu, kompos biasanya
sudah matang yang ditandai dengan temperatur sudah konstan
40-50oC, remah, warna coklat kehitaman
Pengomposan Jerami

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Dari satu ton jerami diperoleh kompos jerami sejumlah


300 kg dengan kualitas sebagai berikut: C-organik >12 %,
C/N ratio 15-25%, kadar air 40-50 %, dan warna coklat muda
kehitaman.
4.2. Pengomposan jerami dengan metode ventilasi
tanpa pembalikan.
Jerami segar digiling hingga berukuran
1-3 cm. Hasil gilingan jerami
ditumpuk dalam lapisan setinggi 20
cm, lebar 1 m dan panjang 1 m untuk
membentuk tumpukan kompos 1 x
1 x 1 m3 (panjang x lebar x tinggi)
dengan volume bahan kompos sekitar
1 m3 (~500 kg). Untuk menghindari
jatuhnya tumpukan maka dibuatkan
pagar bambu berukuran 1 x 1 x 1 m.

Teknik aerasi pengomposan
dengan cara ventilasi dibuat dengan
cara menempatkan sarang bambu di
dasar tumpukan jerami (kurang lebih
30 cm di atas permukaan tanah) agar
aerasi bisa terjadi dari bawah menuju
ke atas tumpukan. Teknik aerasi
yang lain dapat dilakukan dengan
cara membuat lubang-lubang pada
tumpukan jerami secara horinzontal menggunakan bambu atau
paralon yang diberi lubang-lubang keberbagai arah tumpukan
jerami.

Jerami ditumpuk secara longgar (jangan dipadatkan)
untuk memperoleh aerasi yang baik. Kemudian tambahkan
dekomposer secara merata di atas tumpukan tersebut. Setelah
itu tumpukkan lagi jerami yang telah digiling di atas tumpukan
tersebut setinggi 20 cm, dan basahi dengan air secara merata serta
diinokulasi dengan mikroba yang berasal dari dekomposer. Demikian
seterusnya sampai hingga ketinggian tumpukan sekitar 1 m.
6

Pengomposan Jerami

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Kompos ditutup dengan lembaran terpal/plastik untuk


mempertahankan kelembaban dan meminimalkan evaporasi
maupun kehilangan amonia. Kompos akan meningkat panasnya
dalam waktu 24-48 jam dan panas ini perlu dipertahankan pada
suhu sekitar 50oC atau lebih, dan tidak dilakukan pembalikan.
Kompos yang sudah matang ditandai dengan temperatur
yang sudah konstan 40-50oC, remah dan berwarna coklat
kehitaman. Kompos yang didapat sejumlah 500 kg, dengan
kualitas sebagai berikut: C-organik >12%, C/N ratio 15-25 %,
kadar air 40-50%, warna coklat muda kehitaman.

V. HASIL-HASIL PENELITIAN
Berdasarkan uji laboratorium, macam-macam mikroba
seperti Lactobaccilus sp dan Sacharomices sp. ditemukan
pada dekomposer M-Bio; Rhizobium sp., Streptomycetes
sp., Lactobacillus sp., dan Actinomycetes sp. ditemukan
pada dekomposer M-Dec; Lactobacillus sp., Actinomycetes
sp., Streptomycetes sp., Rhizobium sp., Acetobacter sp.,
dan Ectomycoriza, ditemukan pada dekomposer Superfarm;
sedangkan Lactobacilles sp., Actinomycetes sp., Rhizobium sp.,
dan Streptomycetes sp. ditemukan pada dekomposer Super-Dec.
Efektivitas mikroba-mikroba tersebut di atas dalam merombak
jerami dinilai melalui pengamatan perubahan suhu, kondisi fisik,
dan C/N rasio yang dihasilkan.
5.1. Suhu kompos jerami.
Pengukuran suhu di dalam tumpukan jerami yang
dilakukan secara berkala mulai dari 1 hingga 4 minggu setelah
pengomposan hasilnya disajikan pada Tabel 1.

Pengomposan Jerami

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Tabel 1. Hasil pengamatan suhu kompos jerami pada berbagai


dekomposer, Sukamandi 2009

perlakuan jenis

Pengamatan Suhu (oC)


No
1
2
3
4
5

Macam
Dekomposer

Minggu I
Dicacah

TP
Dicacah

M- Bio

56,7 a

M- Dec

57,3 a

Superfarm.
Super- Dec

Minggu II
Dicacah

TP
Dicacah

51,7 ab

50,3 a

54,3 a

49,0 a

57,0 a

53,7 a

57,4 a

52,0 ab

Kontrol

57,7a

Rata-rata

57,2 A

Minggu III

Minggu IV

Dicacah

TP
Dicacah

Dicacah

TP
Dicacah

47,3 a

41,0 a

40,4 a

38,4 ab

38,1 a

47,0 a

41,3 a

39,7 a

37,7 b

38,4 a

49,0 a

47,0 a

41,3 a

40,2 a

39,0 a

38,5 a

50,7 a

48,0 a

40,7 a

39,5 a

39,4 a

40,1 a

50,7 b

49,7 a

46,3 a

40,0 a

40,2 a

40,1 a

40,2 a

52,5 B

49,7 A

47,1 B

40,9 A

40,0 A

38,9 A

39,1 A

Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% DMRT.

Suhu semakin menurun mengikuti lamanya waktu


pengomposan, dari sekitar 57,2oC pada minggu pertama menjadi
sekitar 39,1oC setelah minggu keempat. Suhu yang dicapai
selama proses pengomposan dipengaruhi oleh penyiapan bahan
dan macam dekomposer yang digunakan. Sampai minggu kedua, jerami yang dicacah ternyata menghasilkan suhu kompos
lebih tinggi. Sementara pemberian M-Bio, M-Dec, dan Superfarm
dekomposer yang pada minggu pertama mampu menghasilkan
suhu kompos lebih tinggi dibanding kontrol, ternyata pada
minggu keempat suhu yang terendah hanya pada perlakuan
M-Dec dekomposer. Rendahnya suhu kompos dengan bahan
dasar jerami yang dicacah ini mengindikasikan kematangan
kompos yang dihasilkan. Di pihak lain, tingginya suhu pada
awal pengomposan merupakan kondisi yang diharapkan untuk
memacu segera berlangsungnya proses pengomposan.
Cara pengomposan nyata mempengaruhi suhu jerami
pada minggu ketiga, dimana dengan metode penumpukan dan
pembalikan suhu masih lebih tinggi dibanding metode ventilasi
tanpa pembalikan. Hal ini megindikasikan bahwa proses
pengomposan dapat dipercepat dengan memberikan cukup
udara ke dalam tumpukan kompos jerami melalui ventilasi
(Tabel 2).
8

Pengomposan Jerami

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Tabel 2. Hasil pengamatan suhu kompos jerami dengan perlakuan cara pengomposan,

Sukamandi 2010
Suhu kompos pada hari setelah pengomposan ke
Cara pengomposan

10

13

16

19

22

Penumpukan dan
pembalikan

46.8 a

55.0 a

55.0 a

48.3 a

44.8 a

42.5 a

38.3 a

37.3 a

Ventilasi tanpa
pembalikan

45.0 a

49.5 a

52.3 a

46.3 a

44.0 a

39.3 a

32.5 a

34.3 b

Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf sama tidak berbeda nyata pada taraf
5% DMRT.

5.2. Kondisi fisik kompos jerami.


Hasil pengamatan perubahan fisik jerami setelah
pengomposan dipengaruhi oleh kondisi bahan kompos dan
penggunaan bahan pelapuk (dekomposer) yang digunakan.
Perubahan fisik jerami meskipun sudah mulai tampak sejak 1
minggu pengomposan, tetapi baru pada 2 minggu berikutnya
perubahan fisik tersebut terjadi pada semua perlakuan. Tingkat
perubahan fisik jerami akibat dari penggunaan dekomposer
secara fisual disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Kondisi fisik jerami setelah diberi berbagai perlakuan dekomposer selama
proses pengomposan, Sukamandi 2009

Perlakuan

Nilai skoring (minggu ke)


1

Jerami tanpa dicacah

Jerami dicacah
Perlakuan Dekomposer
M-Bio
M-Dec
Superfarm

0
0
0

0
0
1

1
1
1

2
2
2

Super-Dec

Kontrol

Kondisi bahan

Skor 0 = belum terjadi perubahan fisik, 1= fisik agak lapuk, 2= fisik lapuk, dan 3= fisik sangat lapuk.

Pengomposan Jerami

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Selain karena penggunaan dekomposer, perubahan


fisik jerami secara fisual selama proses pengomposan juga
dipengaruhi oleh cara pengomposan. Pemberian aerasi selama
proses pengomposan diikuti oleh percepatan perubahan fisik
menjadi lebih cepat melapuk (Tabel 4).
Tabel 4. Kondisi fisik jerami dengan perlakuan cara pengomposan, Sukamandi 2010
Nilai skoring pada hari setelah pengomposan ke
Cara pengomposan

10

13

16

19

22

Penumpukan dan
pembalikan *)

Ventilasi tanpa
pembalikan **)

*) jerami utuh dan **) jerami dicacah.

5.3. C/N Rasio kompos jerami.


Jerami segar pada umumnya mempunyai nilai C/N
rasio yang cukup tinggi, kemudian menurun seiring dengan
tingkat pelapukannya. Oleh sebab itu tingkat C/N rasio sering
dipergunakan untuk penilaian kematangan kompos yang
dihasilkan selama proses pelapukan. Hasil pengomposan jerami
menunjukkan bahwa semakin lama waktu pengomposan C/N
rasio semakin rendah. Jerami segar yang mula-mula mempunyai
C/N rasio sekitar 51 setelah seminggu dikomposkan C/N rasio
turun, dengan penurunan tingkat C/N rasio terendah sekitar
30. Namun demikian, pada kondisi ini kompos belum dapat
dikatakan matang, sebab C/N rasionya belum mencapai 25
(Permentan No 02/2006). Kematangan kompos baru dicapai
pada minggu ke-3, yaitu pada kompos jerami yang dicacah dan
dalam proses pengomposannya diberikan dekomposer M-Bio,
M-Dec atau Super-Dec. Tetapi untuk jerami yang utuh tanpa
dicacah kematangan kompos baru dicapai setelah 4 minggu
diperam, walaupun dalam pengomposannya diberi dekomposer.
Sementara pada kompos jerami yang tidak dicacah dan tidak diberi
dekomposer pada minggu ke-4 belum juga matang (Tabel 5).
10

Pengomposan Jerami

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Ternyata kematangan kompos juga dapat dipercepat


dengan membuat ventilasi tempat pengomposan (Tabel 6).
Udara bagian dalam dan di luar tumpukan kompos dihubungan
dengan paralon atau dibuat panggung. Melalui cara ini pada hari
ke 19 kompos jerami sudah matang, terutama yang jeraminya
dicacah dan diberikan dekomposer. Pengaruh kedua metode ini
nyata terlihat dengan nilai C/N ratio yang lebih rendah dibanding
metode konvensional.
Tabel 5.Hasil pengamatan C/N rasio kompos jerami pada berbagai perlakuan
dekomposer, Sukamandi 2009

Pengamatan C/N Rasio


No.

Macam
Dekomposer

Minggu I

Minggu II

Dicacah

TP
Dicacah

Minggu III

Dicacah

TP
Dicacah

Minggu IV

Dicacah

TP
Dicacah

Dicacah

TP
Dicacah

M-Bio

32,27

45,45

26,66

37,82

23,14

30,43

18,76

22,62

M-Dec

32,48

45,55

27,31

35,74

21,70

28,69

18,54

23,51

Superfarm

29,49

33,39

26,11

30,41

25,79

29,69

19,70

24,49

Super-Dec

31,01

33,79

29,19

30,28

22,99

30,33

19,42

23,91

Kontrol

36,23

49,25

32,49

45,75

26,93

36,42

24,78

26,24

Jerami segar : 50,93.

Tabel 6. Hasil pengamatan C/N rasio kompos jerami dengan perlakuan cara

pengomposan, Sukamandi 2010
Cara pengomposan
Kondisi bahan

Hari pengomposan ke
1

10

13

16

19

22

Penumpukan dan
pembalikan

45.01 a

43.74 a

42.35 a

39.94 a

36.75 a

29.69 a

27.84 a

23.31 a

Ventilasi tanpa
pembalikan

42.14 a

41.46 a

41.15 a

39.15 a

34.88 a

27.22 b

25.40 b

21.04 a

Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% DMRT.


Menurut banyak pihak, pengembalian jerami dalam
bentuk kompos kelahan pertanian perlu mendapat perhatian.
Hal ini terkait dengan kandungan hara yang relatif tinggi dalam
jerami. Menurut Dobermann dan Fairhurst (2000) jerami kering
mengandung sekitar 0,5-0,8% N; 0,007-0,12% P; 1,2-1,7%
K; 0,05-0,10% S dan 4-7% Si. Oleh karena itu apabila jerami
Pengomposan Jerami

11

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

tidak dikembalikan, maka berdasarkan perhitungan akan terjadi


pengurangan hara sebesar 5-8 kg N/ha; 0,7-1,2 kg P/ha; 1217 kg K/ha; 0,5-1,0 kg S/ha dan 40-70 kg Si/ha untuk setiap
pengambilan 1 ton jerami dari lahan.

12

Pengomposan Jerami

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

VI. DAFTAR PUSTAKA


BPS. 2005. Statistik Indonesia 2004. Badan Pusat Statistik,
Jakarta-Indoneia. P : 168-177
Cosico, W. C., 1985. Organic fertilizer. Their Natur, Persepective
and Used. Farming System and Soil Resource Institu. UPLB
Laguna. Philippines. 136 p.
Dobermann A, T Fairhurst. 2000. Rice: Nutrient Disorders
& Nutrient Management. International Rice Research
Institute, MCPO Box 3127, Makati, Philippines.191p.
Makarim, A. K, D. Pasaribu, Z. Zaini dan I. Las. 2005. Analisis
dan Sintesis Pengem-bangan Model Pengelolaan Tanaman
Terpadu Padi Sawah. Balai Penelitian Tanaman Padi, 18 p.
Rahardjo, A., L.P.S. Patuan., Sulistioningsih, Heru Prijanto,
Cecilia Gunawan and Ig. Suharto, 1981. Preliminary study
of potency of agricultural waste and agro indutrial waste as
animal feedstuf. Proc. Ist ASEAN Workshop on Technology
of Animal Feed Production Utilising Food Waste Material.
Bandung. Agust 24-29. 1980
Wahyono, S., L.S. Firman dan S. Framk. 2003. Pembuatan
kompos dari limbah rumah pemotongan hewan. Pusat
Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan. BPPT.
Jakarta. 38p.

Pengomposan Jerami

13

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

14

Pengomposan Jerami