Anda di halaman 1dari 18

TELAAHAN KECAMATAN PURWAKARTA KOTA CILEGON

I. KEADAAN UMUM

Gambar 1. Peta Kecamatan Purwakarta

Kecamatan Purwakarta berada di bagian Timur Kota Cilegon, terletak pada garis 5 56 58.9
- 6 00 55.9LS (Lintang Selatan) dan 106 01 20.0 - 106 04 52.0BT (Bujur Timur). Sebelah
utara dan timur, berbatasan dengan Kabupaten Serang, Sebelah selatan berbatasan dengan
Kecamatan Citangkil dan Kecamatan Jombang dan sebelah timur berbatasan dengan
Kecamatan Grogol.
Luas daratan Kecamatan Purwakarta adalah 15,29 Km (1529 Ha) atau 8,71 % dari total
wilayah Kota Cilegon, Berdasarkan luas daerah menurut kelurahan di Kecamatan
Purwakarta, luas daerah terbesar adalah Kelurahan Pabean dengan luas 4,45 km (445 Ha)
atau 29,10% dan luas daerah terkecil adalah Kelurahan Ramanuju dengan luas 1,66 km
(166 Ha) atau 10,89% .
Kecamatan Purwakarta tergolong ke dalam daerah beriklim tropis. Ketinggian permukaan
daratan Kecamatan Purwakarta sangat bervariasi, sebagian daerahnya berupa dataran dan
sebagian lagi berupa perbukitan, beriklim cukup panas bisa mencapai 33,8 C dan suhu
minimalnya bisa mencapai 22,5 C. Sesuai dengan kondisi Kota Cilegon pada umumnya

IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 1

pada tahun 2015 rata-rata curah hujan yang terjadi di Kecamatan Purwakarta sebesar 109,2
mm.
Tabel 1. Statistik Geografi dan Iklim Kecamatan Purwakarta

Administrasi pemerintahan Kecamatan Purwakarta terdiri atas 6 Kelurahan. Keenam


kelurahan tersebut terbagi habis ke dalam 39 Rukun Warga dan 129 RT serta 48
lingkungan.Jumlah RT terbanyak berada di Kelurahan Kotabumi dan kebondalem, masingmasing sebanyak sebanyak 38 RT dan paling sedikit Kelurahan Ramanuju dengan jumlah 11
RT.

Gambar 2. Jumlah RT di Kecamatan Purwakarta menurut kelurahan Tahun 2015

IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 2

Menurut hasil proyeksi Penduduk 2015 jumlah penduduk di Kecamatan Purwakarta


berjumlah 39.869 jiwa dengan rincian lakilaki sebesar 20.600 jiwa dan perempuan sebesar
19.269 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 2014-2015 sebesar 0,47 % dengan
kepadatan penduduk per Km mencapai 2.614 jiwa/Km.
Sex Rasio Penduduk di Kecamatan Purwakarta terbesar se-Kota Cilegon dengan nilai sex
rasio 107 artinya dari setiap 107 laki-laki di Kecamatan Purwakarta terdapat 100
perempuan.
Tabel 2. Statistik Kependudukan Kec Purwakarta Hasil Proyeksi Penduduk 2015

Jumlah penduduk terbanyak berada di Kelurahan Kebondalem sebanyak 12.839 jiwa atau
sekitar 32,45 persen dan terendah di Kelurahan Ramanuju sebesar 2.947 jiwa atau sekitar
7,45 persen dari total penduduk di Kecamatan Purwakarta.
Tabel 3. Penduduk Menurut Kelurahan di Kec.Purwakarta 2015

IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 3

Tabel 4. Ratio Luas wilayah dan jumlah penduduk di Kec.Purwakarta 2015

No.

Kelurahan

Luas (Km2)
(Km)

(Ha)

Jumlah Penduduk
(Jiwa)

Kepadatan per
Km2

Ramanuju

1,66

166

2.952

1.778

Kebondalem

1,97

197

12.925

6.561

Purwakarta

1,89

189

5.359

2.835

Tegalbunder

2,19

219

4.497

2.053

Pabean

4,45

445

3.527

793

Kotabumi

3,13

313

10.609

3.389

15,29

1529

39.869

2.614

Jumlah

Luas panen pertanian terbesar di Kec. Purwakarta diantaranya luas panen padi sawah
sebesar 200 hektar dengan produksi sebesar 1.145 ton, kemudian ketela pohon sebesar 5
hektar dengan produksi 35 ton dan luas panen komoditi kacang tanah seluas 109 hektar
dengan produksi sebesar 2,5 ton. Sedangkan untuk luas panen dan produksi sayuran di
Kecamatan Purwakarta yang terbesar adalah produksi ketimun dengan luas panen 6 hektar
dan produksi setahun sebesar 58,2 ton. Sentra produksi Kacang Tanah di Kecamatan
Purwakarta berada di Kelurahan Pabean.
Tabel 5. Statistik Pertanian Kecamatan Purwakarta Tahun 2015

IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 4

II. ANALISIS POTENSI


A. Morfologi
Kota Cilegon berada pada ketinggian antara 0-553 meter di atas permukaan laut (dpl).
Wilayah tertinggi berada di bagian utara Kecamatan Pulomerak (Gunung Gede), sedangkan
terendah berada di bagian barat yang merupakan hamparan pantai. Berdasarkan
karakteristik morfologi daratan dan kemiringan lahan, secara garis besar karakteristik fisik
Kota Cilegon dapat dibedakan ke dalam tiga bagian, yaitu :
1) Bentuk dataran, mempunyai kemiringan lahan berkisar antara 0-2% hingga 27%,
tersebar di sepanjang pesisir pantai barat dan bagian tengah Kota Cilegon.
2) Bentuk perbukitan-sedang, mempunyai kemiringan lahan berkisar antara 7-15%,
terdapat di wilayah tengah kota, tersebar di bagian utara dan selatan Kecamatan
Cilegon dan Cibeber, serta bagian selatan Kecamatan Ciwandan dan Citangkil.
3) Bentuk perbukitan-terjal, mempunyai kemiringan lahan berkisar antara 1540%
hingga lebih dari 40%, tersebar di bagian utara Kota Cilegon (Kecamatan Pulomerak
dan Grogol) dan sebagian kecil wilayah barat Kecamatan Ciwandan.

B. Hidrogeologi
Keadaan hidrogeologi di Kota Cilegon memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut :
(1) Terdapatnya daerah aliran langka, potensi mata air langka dengan daerah
penyebaran di bagian utara dan tengah wilayah kota;
(2) Akuifer produktif rendah, air melalui celahan dan ruang antar butir, potensi mata
air sedang;
(3) Akuifer produktif dengan penyebaran luas, alirannya melalui ruang antar butir.
Pada akuifer ini tidak terdapat mata air; dan (4)
(4) Akuifer produktif sedang dengan penyebaran luas, alirannya melalui ruang antar
butir. Pada akuifer ini tidak ada mata air.
Untuk sebaran air di permukaan, terdapat beberapa sungai (kali) kecil. Di daerah Pulomerak
sungai kecil ini berawal dari kawasan puncak Gunung Gede, sedangkan untuk yang
melintasi daerah Kecamatan Cilegon, Ciwandan, dan Cibeber bersumber dari mata air yang
berada di luar wilayah Kota Cilegon. Pada umumnya kali tersebut hanya berfungsi sebagai

IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 5

saluran pembuangan air (drainase kota) yang bersifat alami dan belum dimanfaatkan
secara optimal untuk keperluan lain, semisal untuk irigasi pertanian dan lain lain.
Hal ini tidak terlepas dari kondisi permukaan air kali-kali tersebut yang pada umumnya
terletak jauh lebih rendah dari lahan di sekitarnya serta debit air rata-rata yang rendah.
Neraca air di Kota Cilegon dihitung dengan Metode F.J. Mock, dengan jumlah limpasan air
permukaan sebesar 614,79 mm dan volume simpanan air tanah (storage volume) sebesar
432 mm. Jika luas wilayah Kota Cilegon 175,5 km2, maka besarnya volume simpanan air
tanah adalah 75.816.000 m3/tahun.
Dengan memperhatikan faktor-faktor morfologi, litologi dan arah aliran air tanah, daerah
akifer dengan produktivitas tinggi (Qs = 1-19 lt/dtk/m) terdapat di sekitar daerah industri PT.
Krakatau Steel. Di dalam peta potensi air tanah, daerah tersebut dizonasikan sebagai
daerah yang mempunyai produktivitas sumur >5lt/dtk. Menurut hasil pengamatan lapangan
serta dengan memperhatikan tipikal konstruksi sumur bor yang ada, sebagian besar muka
air tanah sumur bor yang ada umumnya lebih rendah dari muka air sumur gali di
sekitarnya. Berdasarkan kondisi ini untuk tujuan konservasi (melindungi air sumur gali agar
tidak tersedot ke sumur bor) pengambilan air tanah untuk sumur bor harus mulai
dicermati.
Penambahan debit pengambilan untuk industri (usaha komersial) sebaiknya dilakukan
dengan penelitian hidrogeologi yang lebih teliti dan detail pada skala lokal. Kualitas air
tanah Kota Cilegon umumnya masih memenuhi syarat untuk air minum (TDS < 1.000 mg/l),
kecuali di sepanjang pantai Selat Sunda (nilai TDS 1.000-20.960 mg/l), dan sebagian lokasi di
Kelurahan

Kotabumi

(Kecamatan

Purwakarta),

Mekarsari

(Kecamatan

Pulomerak),

Sukmajaya (Kecamatan Jombang), Cibeber (Kecamatan Cibeber), kualitas air tanahnya tidak
memenuhi syarat sebagai air minum (nilai TDS 1.000-8.000 mg/l).
Berdasarkan pada analisis dengan Diagram Wilcox, daerah kajian pada umumnya
mempunyai resiko kegaraman (salinity hazard) sedang dan sodium (sodium/alkali hazard)
rendah. Resiko kegaraman tinggi-sangat tinggi dan resiko sodium rendah (C4-S1) akan
cenderung dijumpai di sekitar daerah pantai setempat, dijumpai di sekitar Kelurahan
Kotabumi (Kecamatan Purwakarta) dan Mekarsari (Kecamatan Pulomerak).

IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 6

C. Geologi
Menurut E. Rusmana, dkk (1991) batuan di daerah kajian tersusun oleh batuan yang
berumur Kuarter, batuan yang relatif muda umurnya dalam skala waktu geologi.
Dikelompokkan menjadi 3 (tiga) satuan, yakni :
1) Batuan Volkanik Kuarter Tua: Satuan batuan ini terdapat di daerah utara wilayah
kajian (G. Gede), terdiri atas lahar, lava dan breksi termampatkan, berkomposisi
andesit sampai basal dan berumur Plistosen Bawah;
2) Tufa Banten : Satuan batuan ini terdapat sebagian besar di selatan wilayah kajian,
meliputi morfologi dataran dan perbukitan, di bagian bawah terdiri atas tufa breksi,
aglomerat, tufa batu apung dan tufa lapili, sedangkan di bagian atas tersusun atas
tufa pasiran. Satuan ini berumur Plistosen Tengah; dan
3) Endapan Aluvium Pantai : Satuan ini sebagian besar terdapat di daerah pantai Kota
Cilegon, tersusun oleh perselingan antar lempung dan pasir, bersifat lepas, dan
berumur Holosen.
Rangkuman urutan perlapisan batuan/stratigrafi regional yang terdapat di daerah Cilegon
dan sekitarnya adalah sebagai berikut:

Tabel 6. Kolom Stratigrafi Kota Cilegon dan Sekitarnya.

Berdasarkan pada evaluasi peta geologi yang ada (E. Rusmana,dkk,1991), struktur geologi
yang terdapat di daerah kajian berupa kelurusan-kelurusan topografi yang diidentifikasi
melalui foto udara. Kelurusan-kelurusan tersebut mengindikasikan kemungkinan adanya
jalur struktur rekahan atau sesar (patahan), yang umumnya berarah barat laut-tenggara
IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 7

Gambar 3. Peta Geologi Lembar Serang

IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 8

dan sebagian barat daya-timur laut. Struktur rekahan atau sesar yang berarah barat laut
tenggara terdapat di kompleks G.Gede memotong batuan volkanik Kuarter Tua, dan
struktur yang berarah barat daya-timur laut terdapat di bagian timur Kota Cilegon yang
memotong batuan Tufa Banten.

D. Jenis dan Tekstur Tanah


Keadaan tanah di Kota Cilegon merupakan hasil pelapukan batuan vulkanik yang berasal
dari Gunung Gede. Jenis tanah ini dijumpai di dataran dan lereng pegunungan, berwarna
cokelat muda, cokelat tua dengan tekstur halus-kasar, termasuk jenis tanah ini adalah
lempung, lempung pasiran dan pasir. Jenis tanah pasir atau yang bersifat pasiran
mempunyai sifat meresapkan air cukup baik. Tanah yang berasal dari aluvium (endapan
sungai, pantai, dan rawa) dijumpai di wilayah utara Kota Cilegon. Jenis tanah ini dicirikan
dengan warna abu-abu muda kecokelatan, bersifat agak lepas, ukuran butir dari lempung
hingga pasir, tekstur halus-kasar. Sesuai dengan tekstur tanah dan sebarannya, dengan
kedalaman efektif masing-masing tanah yang bervariasi.
Tekstur tanah merupakan keadaan kasar halusnya tanah (bahan padat anorganik) yang
ditentukan berdasarkan perbandingan fraksi-fraksi pasir, debu, dan liat. Tekstur tanah di
Kota Cilegon diklasifikasikan dalam tiga kelas, yaitu tekstur tanah kasar, sedang, dan halus.
Dilihat dari sebarannya, tekstur tanah di Kota Cilegon sebagian besar merupakan tanah
dengan tekstur halus (liat) yang tersebar dari barat, tengah, timur kota, dan sebagian di
wilayah selatan. Untuk wilayah utara sebagian besar bertekstur tanah sedang (lempung)
dan di bagian barat daya bertekstur kasar (pasir). Berdasarkan luasnya, luas wilayah dengan
tekstur tanah sedang (lempung) merupakan wilayah terbesar di Kota Cilegon yaitu dengan
luas 10.528 Ha atau sebesar 59,99% dari luas wilayah keseluruhan. Kemudian disusul
wilayah dengan tekstur halus seluas 5.847 Ha atau sebesar 33,31% serta yang terkecil
adalah luas wilayah dengan tekstur kasar seluas 1.175 Ha atau sebesar 6,70%.

E. Geomorfologi
Berdasarkan kenampakan pada peta topografi dan citra satelit SPOT, sebaran bentang alam
di wilayah Kota Cilegon teratur. Kondisi bentang alam (morfologi) wilayah ini dicirikan oleh
adanya beberapa satuan bentang alam, yaitu: satuan perbukitan bergelombang rendah dan
satuan dataran rendah.

IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 9

Satuan bentang alam perbukitan rendah bergelombang menempati wilayah di bagian utara,
dicirikan oleh perbukitan bergelombang rendah dengan ketinggian maksimum sekitar 1000
meter. Secara umum permukaan dataran dari satuan ini adalah rata sampai miring landai,
torehan sungai dangkal dan lebar. Satuan ini disusun oleh produk erupsi dan hasil
rombakan dari gunung api-gunung api pada satuan pegunungan. Dari kenampakan
bentang alamnya, batuan yang menyusunnya relatif lebih lunak atau bersifat lepas yang
terdiri dari tufa dan breksi berbutir halus.
Satuan bentang alam dataran rendah menyebar hampir di seluruh wilayah, sebagian besar
di dataran pantai barat. Bentuk satuan ini berbeda dalam kenampakan yang sifatnya sesuai
dengan cara pembentukan dataran tersebut. Dataran aluvial sungai dan pantai merupakan
bentuk yang sangat umum terdapat di wilayah ini.

F. Potensi Pertambangan Galian C


Kegiatan pertambangan/galian C di wilayah Kota Cilegon pada umumnya berada di kawasan
perbukitan yang memiliki tingkat kemiringan lereng yang tinggi. Untuk itu pengelolaan
kawasan ini meliputi:
Kegiatan pertambangan/galian yang dilakukan harus tetap memperhatikan prinsipprinsip teknik penambangan, kapasitas yang diperkenankan, aspek kelestarian
lingkungan,

keselamatan

dan

keamanan

kawasan

di

sekitarnya.

Kegiatan

penambangan yang dilakukan tidak diperkenankan untuk menggali dasar tanah,


maksimal sampai rata dengan permukaan tanah disekitarnya sehingga kawasan
pertambangan yang sudah habis dapat dimanfaatkan untuk perluasan kawasan
kegiatan perkotaan.
Pengawasan secara intensif oleh aparat instansi yang berwenang terhadap kegiatan
penambangan galian batu. Diperlukan kajian dan rencana yang lebih mendalam
seksama dalam hal pemanfaatan lahan bekas pertambangan/galian batu untuk
kegiatan perkotaan.
Analisis zonasi telah dilakukan untuk mengetahui jenis dan penyebaran bahan galian,
mengetahui potensi bahan galian, mengetahui kualitas bahan galian dan menetapkan
zonasi bahan galian yang layak tambang. Berdasarkan kondisi geologi potensi galian

IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 10

golongan C di Kota Cilegon terdiri atas batu andesit, tanah urug, dan pasir. Potensi dijumpai
di hampir seluruh kecamatan dengan potensi bervariasi.
Tabel 7. Potensi Bahan Galian C Kota Cilegon

IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 11

III. ANALISIS MENGACU KE RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW)


Aturan mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Cilegon telah ditetapkan melalui
PERDA Nomor 3 Tahun 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA
CILEGON TAHUN 2010-2030.
Hal yang menjadi perhatian:

Bagian Kedua Pembagian Wilayah Kota


Pasal 9
(1) Pembagian wilayah kota menjadi 5 (lima) BWK sebagaimana dimaksud dalam Pasal
7 ayat (4) huruf a terdiri dari:
a. BWK I, mencakup kelurahan-kelurahan di Kecamatan Citangkil, Kelurahan
Kotasari (Kecamatan Grogol), Kelurahan Ciwaduk (Kecamatan Cilegon),
Kelurahan Kotabumi, Kebondalem, Ramanuju (Kecamatan Purwakarta),
Kelurahan Masigit dan Jombang Wetan (Kecamatan Jombang);
b. BWK II, mencakup Kelurahan Gerem, Rawa Arum, dan Grogol (Kecamatan
Grogol), serta Kelurahan Pabean, Tegal Bunder, dan Purwakarta (Kecamatan
Purwakarta);
c. BWK III, mencakup semua kelurahan di Kecamatan Pulomerak (Kelurahan
Suralaya, Lebakgede, Tamansari, dan Mekarsari);
d. BWK IV, mencakup semua kelurahan di Kecamatan Ciwandan (Kelurahan
Tegalratu, Banjarnegara, Kubangsari, Kepuh, Gunungsugih, dan Randakari); dan
e. BWK V, mencakup kelurahan-kelurahan di Kecamatan Cilegon (Kelurahan
Bagendung, Ciwedus, Bendungan, dan Ketileng), Kecamatan Cibeber (Kelurahan
Cikerai, Bulakan, Kalitimbang, Karangasem, Cibeber, dan Kedaleman), dan
Kecamatan Jombang (Kelurahan Sukmajaya, Panggung Rawi, dan Gedong
Dalem).
(2) Tata ruang setiap BWK diatur lebih lanjut dalam Rencana Rinci selambat-lambatnya
3 (tiga) tahun setelah perda ini ditetapkan;
(3) Peta rencana pembagian BWK dan Fungsi pengembangan tiap BWK sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), tercantum dalam Lampiran II dan Lampiran III Peraturan
Daerah ini.

IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 12

BAB IV
RENCANA POLA RUANG WILAYAH KOTA
Bagian Kesatu Umum
Pasal 23
(1) Rencana pola ruang wilayah kota terdiri atas:
a. kawasan lindung; dan
b. kawasan budidaya.
(2) Rencana pola ruang wilayah kota digambarkan dalam peta sebagaimana tercantum
dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah
ini.
Bagian Kedua Rencana Pola Ruang Kawasan Lindung
Pasal 24
(1) Kawasan lindung di Kota Cilegon meliputi:
a. kawasan hutan;
b. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya;
c. kawasan perlindungan setempat;
d. RTH;
e. kawasan pelestarian alam;
f. kawasan cagar budaya; dan
g. kawasan rawan bencana alam.
(2) Kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi hutan lindung
yang berada di Kecamatan Pulomerak dan hutan produksi yang berada di Kecamatan
Pulomerak dan Purwakarta.
(3) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi Gunung Gede pada bagian
Utara Kota Cilegon dan Perbukitan di Kelurahan Gunung Sugih dan Kepuh dengan
rencana pengelolaan:
a. melaksanakan rehabilitasi hutan dan lahan;
b. memperbanyak keragaman tanaman pohon; dan
c. melaksanakan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang.
(4) Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c,
meliputi jalur sempadan pantai; jalur sempadan sungai; kawasan sekitar Waduk
Krenceng dan Situ Rawa Arum; kawasan sekitar mata air Ciputri di Kelurahan Cikerai
Kecamatan Cibeber; kawasan di bawah Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan
Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET); dengan rencana pengelolaan
sebagai berikut:
a. penanaman vegetasi jenis tanaman keras;
b. memperbanyak keragaman tanaman pohon; dan
c. menata dan mengamankan kawasan perlindungan setempat tetap sesuai dengan
fungsinya.
IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 13

(5) RTH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi RTH hutan kota; RTH
taman kota; RTH taman lingkungan; RTH Tempat Pemakaman Umum; RTH
lapangan olah raga; RTH kawasan pertanian; RTH benteng alam/mitigasi bencana;
RTH jalur hijau jalan, jalan bebas hambatan, dan jalur kereta api; serta green belt
kawasan industri; dengan rencana penyediaan dan pemanfaatan meliputi:
a. pengembangan RTH sebagai bagian dari pengembangan fasilitas umum dan
taman kota/lingkungan;
b. pengembangan RTH sebagai pembatas antara kawasan industri dengan kawasan
fungsional lain di sekitarnya, terutama kawasan permukiman;
c. membangun benteng alam dalam kawasan perindustrian yang berada di pesisir
pantai sebagai antisipisasi terhadap gelombang, angin dan tsunami ;
d. melaksanakan penanaman jenis tanaman yang dapat menahan gelombang dan
angin pada kawasan benteng alam;
e. intensifikasi dan ekstensifikasi RTH di sepanjang sempadan jalan, jalan bebas
hambatan, dan jalur kereta api, green belt kawasan industri, dan benteng alam;
f. intensifikasi dan ekstensifikasi RTH di kawasan hutan kota, taman kota, taman
lingkungan, taman pemakaman umum, serta di dalam kawasan perindustrian;
g. penyediaan taman-taman lingkungan yang berada di pusat-pusat Lingkungan
perumahan;
h. penyediaan dan pengembangan RTH sebagai bagian dari pembangunan suatu
kawasan fungsional; dan
i. pembatasan pendirian bangunan-bangunan, kecuali yang memiliki fungsi sangat
vital atau bangunan-bangunan yang merupakan penunjang dan menjadi bagian
dari RTH.
(6) Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi
Pulau Ular, Pulau Merak Besar, dan taman wisata alam yang dikembangkan di
Gunung Gede, dengan rencana pengelolaan menjaga dan melestarikan
keberlangsungan keanekaragaman hayati.
(7) Kawasan cagar budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f mencakup
obyek cagar budaya dan kawasan sekitarnya, yaitu Kampung Pakuncen di Kelurahan
Ciwedus Kecamatan Cilegon; Stasiun Kereta Api Cilegon di Kelurahan Jombang
Wetan Kecamatan Jombang; Stasiun Kereta Api Krenceng di Kelurahan Kebonsari
Kecamatan Citangkil; Rumah kuno Temu Putih di Kelurahan Ciwaduk Kecamatan
Cilegon; Kampung Ciwedus di Kelurahan Ciwedus Kecamatan Cilegon; Kampung
Temu Putih di Kelurahan Ciwaduk Kecamatan Cilegon; Eks kantor dan rumah Asisten
Residen Gubbels di Kelurahan Jombang Wetan Kecamatan Jombang; dan Makam
Kyai Haji Wasid di Kelurahan Jombang Wetan Kecamatan Jombang, dengan rencana
pengelolaan sebagai berikut:
a. mempertahankan karakteristik bangunan dan lingkungan sekitarnya; dan
b. merevitalisasi kawasan cagar budaya.
(8) Kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g terdiri
atas kawasan rawan tsunami dan kawasan rawan bahaya industri kimia di sekitar
Kecamatan Pulomerak, Kecamatan Grogol, Kecamatan Citangkil, dan Kecamatan
Ciwandan dengan rencana pengelolaan sebagai berikut:
a. melaksanakan penanaman di sekitar pesisir pantai dengan tanaman yang
berfungsi sebagai penahan gelombang.
IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 14

b. membangun benteng alam sebagai penyangga antara kawasan industri dan


kawasan permukiman.
(9) Sebaran Kawasan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), ayat (4),
dan ayat (6) dengan luas kurang lebih 3.352 hektar tercantum dalam Lampiran VI
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
(10) Sebaran RTH sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dengan luas kurang lebih
2.376 hektar tercantum dalam Lampiran VII yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Ketiga Rencana Pola Ruang Kawasan Budi Daya
Pasal 25
(1) Rencana pola ruang kawasan budi daya diarahkan kepada upaya untuk
mengendalikan alih fungsi bangunan dan guna lahan yang tidak sesuai dengan
peruntukannya serta mendorong perkembangan kawasan budi daya yang sesuai
dengan rencana tata ruang.
(2) Rencana pola ruang kawasan budi daya di Kota Cilegon terdiri atas:
a. rencana kawasan perumahan;
b. rencana kawasan perdagangan dan jasa;
c. rencana kawasan perindustrian;
d. rencana kawasan pelabuhan dan pergudangan;
e. rencana kawasan pemerintahan dan bangunan umum;
f. rencana kawasan pariwisata;
g. rencana kawasan peruntukan lainnya (Pusat Sekunder Cilegon Timur);
h. rencana kawasan terminal terpadu;
i. rencana kawasan pertambangan batuan;
j. rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka non-hijau;
k. rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang evakuasi bencana;
l. rencana penyediaan dan pemanfaatan sektor informal; dan
m. rencana peruntukan pelayanan umum.

Paragraf 2 Ketentuan Umum Peraturan Zonasi untuk Kawasan Lindung


Pasal 46
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung meliputi:
a. pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam;
b. pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi mengurangi luas kawasan lindung;
c. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk bangunan penunjang rekreasi dan
fasilitas umum lainnya serta perkerasan permukaan menggunakan bahan yang
memiliki daya serap air yang tinggi;
d. pelarangan pendirian bangunan permanen selain yang dimaksud pada huruf c;
e. kegiatan pertambangan batuan diperkenankan sepanjang memenuhi prinsipprinsip teknik penambangan, kapasitas yang diperkenankan, kelestarian
lingkungan, keselamatan dan berkelanjutan;

IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 15

f. pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi pada
kawasan sempadan pantai;
g. pada lahan pengembangan danau, diperbolehkan diselenggarakan fasilitas
penunjang dengan koefisien wilayah terbangun (KWT) maksimal 30%,
direkomendasikan bahan bangunan menggunakan bahan alami seperti kayu
serta fasilitas penunjang ini dapat difungsikan sebagai bangunan untuk
pengamanan lingkungan danau dan bagian dari fasilitas wisata;
h. penetapan lebar sempadan di sekitar kawasan danau/waduk/situ sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
i. pemanfaatan ruang kawasan lindung untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan
bagi penduduk asli dengan luasan tetap, tidak mengganggu fungsi lindung
kawasan, dan dibawah pengawasan ketat.
Bagian Ketiga Ketentuan Perizinan
Pasal 48
(1) Ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 huruf b merupakan
ketentuan yang diberikan untuk kegiatan pemanfaatan ruang yang ditetapkan dalam
Peraturan Daerah ini.
(2) Ketentuan perizinan berfungsi sebagai:
a. alat pengendali dalam penggunaan lahan untuk mencapai kesesuaian
pemanfaatan ruang; dan
b. rujukan dalam membangun.
(3) Ketentuan perizinan disusun berdasarkan:
a. ketentuan umum peraturan zonasi yang sudah ditetapkan; dan
b. peraturan perundang-undangan sektor terkait lainnya.
(4) Jenis-jenis perizinan yang terkait dengan pemanfaatan ruang antara lain meliputi izin
prinsip, izin lokasi, izin AMDAL atau UKL-UPL, Site Plan, Izin Mendirikan Bangunan
(IMB), dan perizinan lain yang disyaratkan berdasarkan peraturan perundangundangan.
(5) Mekanisme perizinan terkait pemanfaatan ruang yang menjadi wewenang
pemerintah kota, termasuk pengaturan keterlibatan masing-masing instansi
perangkat daerah dalam setiap perizinan yang diterbitkan, ketentuan teknis
prosedural pengajuan izin pemanfaatan ruang, forum pengambilan keputusan atas
izin yang akan dikeluarkan, dan waktu penyelesaian perizinan akan menjadi dasar
pengembangan Standar Operasional Prosedur (SOP) perizinan yang akan diatur lebih
lanjut dalam peraturan walikota.
(6) Ketentuan pengambilan keputusan apabila dalam dokumen RTRW kota belum
memberikan ketentuan yang cukup tentang perizinan yang dimohonkan oleh
masyarakat, individual, organisasi maupun badan usaha harus melalui prosedur
khusus.
Pasal 49
(1) Permohonan perizinan pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48
ayat (4) yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang harus melalui prosedur
khusus.
IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 16

(2) Permohonan pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud ayat (1) yang disetujui
harus dikenakan disinsentif.
(3) Prosedur perubahan pemanfaatan ruang, ketentuan perhitungan dampak
pembangunan, pengenaan disinsentif, perhitungan denda dan biaya dampak
pembangunan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

IV. KESIMPULAN
1. Secara geologi, Kecamatan Purwakarta secara potensi sumber daya alam
khususnya bahan galian industri (batu andesit) bisa dikatakan prospektif
dikarenakan ada sekitar 44 Ha (perlu kajian eksplorasi lanjutan)
merupakan hamparan andesit dengan cadangan tereka sebesar 15,8 juta
m batuan. Dengan asumsi bahwa hanya 15% saja yang dapat dieksploitasi maka akan didapat sekitar 2 jutaan m batuan. (Harga andesit
ukuran 1-2 cm in-situ loco crushing plant per m adalah Rp 80.000,-/m
maka akan diperoleh prospeksi angka di kisaran Rp 160 milyar, belum
termasuk abu batu dan screening yang juga punya nilai jual ).
2. Pasar komoditas yakni kota Cilegon sendiri yang sedang menjalankan
pembangunan. Saat ini pasokan batu diperoleh dari kecamatan Ciwandan
dan Bojonegara (Kabupaten Serang).
3. Patut dicatat adalah bahwa dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Cilegon, walaupun eksploitasi memungkinkan namun harus memenuhi
ketentuan-ketentuan yang tidak ringan. Ingat, ini adalah kawasan
pertambangan di wilayah perkotaan tentunya masalah yang bakal
timbul cukup komplek, disamping masalah akses jalan, juga masalah
sosial dengan penduduk sekitar. Sebagai catatan:
a. Wilayah potensi batuan andesit ada dalam kawasan lindung yang
merupakan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
b. Di dekat outcrop (singkapan) batuan di Desa Pabean, terdapat situs
pemakaman

(Tumenggung) yang secara aturan tidak bisa

dipindahkan (dilindungi).
IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 17

c. Akses jalan hanya satu dan kecil (terbatas), sehingga perlu dibuat
jalan alternative sebagai akses jalan keluar masuk alat angkut dan
komoditas.
d. Penggarap lahan di wilayah tersebut yang berjumlah cukup
signifikan

adalah

menggantungkan

hidupnya sebagai petani

palawija, kacang dan padi. Tentunya harus difikirkan apabila terjadi


perubahan bentuk lahan akibat aktifitas pertambangan yang tidak
memungkinkan mereka untuk menggarap lahan.
e. Perlu perhatian besar terkait Cadangan Air Tanah, jangan sampai
akibat aktifitas pertambangan sumber air buat masyarakat
setempat jadi surut atau hilang.

Jakarta, 16 Januari 2016


Iwan Makhwan Hambali

Referensi:
1. Badan Pusat Statistik Kota Cilegon, Kota Cilegon Dalam Angka Tahun 2016,
BPS Kota Cilegon, Tahun 2016.
2. Badan Pusat Statistik Kota Cilegon, Statistik Kota Cilegon Tahun 2016, BPS
Kota Cilegon, Tahun 2016.
3. Badan Pusat Statistik Provinsi Banten, Banten Dalam Angka Tahun 2016, BPS
Provinsi Banten, Tahun 2016.
4. BAPEDA Kota Cilegon, Materi Teknis RTRW Kota Cilegon, Tahun 2010.
5. Peraturan Daerah No. 3 tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Cilegon, Tahun 2011.

IMH-Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon| 18

Anda mungkin juga menyukai