Anda di halaman 1dari 3

Interview

Seorang mahasiswa Fisika di interview untuk bekerja disuatu perusahaan


Bagaimana cara mengukur tinggi suatu bangunan dengan barometer?
akh mudah saja. Naik ke bagian bangunan yang paling tinggi, ikat barometer dengan tali, ulur tali ke bawah.
Panjang tali sama dengan tinggi bangunan.
Cara lain?
Ikat barometer dengan tali sepanjang 1 meter. Ayun didua tempat: didasar bangunan dan dipuncak bangunan. Ukur
periode ayunan. Gunakan rumus ayunan, bandingkan gravitasi dikedua tempat. Hitung tinggi bangunan.
Terlalu sulit. Cara lain?
Letakkan barometer dekat dengan bangunan. Bandingkan ukuran bayangan barometer dan bayangan bangunan.
Dari perbandingkan ini hitung tinggi bangunan.
Terlalu sederhana. Cara lain?
Jatuhkan barometer dari puncak gedung, catat waktunya. Dengan rumus gerak, kita bisa menghitung tinggi
gedung.
Cara lain?
(Mulai kesal) Panggil penjaga gedung, katakan padanya bahwa barometer yang mahal itu akan kita berikan
padanya jika penjaga itu mau memberitahu tinggi gedung.
Jangan ngaco ah.. cara lain?
(Kesal) ada satu cara lain, tapi butuh bantuan bapak
Baik saya bantu..
Bapak harus berdiri dibawah gedung. Saya akan menjatuhkan barometer yang berat ini dari puncak gedung. Minta
istri Bapak untuk membaca koran besok. Dalam koran itu akan tertulis: telah meninggal dunia akibat tertimpa
barometer yang dijatuhkan dari ketinggian 418 meter.
wah kurang ajar kamu yah Kamu tidak lulus! (Hahahaaaaaaa)

Cintaku Padamu, oh Fisika


Archimedes dan Newton takkan mengerti
Medan magnet yang berinduksi di antara kita
Einstein dan Edison tak sanggup merumuskan E = mc2
Pertama kali bayanganmu jatuh tepat di fokus hatiku
Nyata,tegak,dan diperbesar dengan dioptri lensa maksimum
Bagai tetes minyak Millikan jatuh di ruang hampa
Cintaku lebih besar dari bilangan avogadro
Walau jarak kita bagai matahari dan Pluto saat aphelium
Amplitudo gelombang hatimu berinterferensi dengan hatiku
Seindah gerak harmonik sempurna tanpa gaya pemulih
Atau kopel gaya dengan kecepatan angular yang tak terbatas
Energi mekanik cintaku tak terbendung oleh friksi
Energi potensial cintaku tak terpengaruh oleh tetapan gaya
Energi kinetik cintaku = 1/2 mv2

Hukum kekekalan energi tak dapat menandingi kekekalan di antara kita


Lihat hukum cinta kita: Momen cintaku tegak lurus dengan momen cintamu
Menjadikan cinta kita sebagai titik equilibrium yang sempurna
Dengan inersia tak terhingga
Takkan tergoyahkan impuls atau momentum gaya
Inilah resultan momentum cinta kita

Menghancurkan Bangunan Tua di Kampus


Bangunan berusia 100 tahun yang telah berfungsi sebagai asrama
mahasiswa dan ruang belajar dari sebuah universitas kecil akan
segera dibongkar. Ketika bangunan mulai diledakkan, orang-orang
merasakan kecemasan dan kesedihan yang dialami salah satu
profesor tua yang berdiri di dekat bangunan itu.
"Ini pasti sulit untuk dilihat," kata dosen muda, "Tradisi terkait
dengan gedung itu, kenangan semua mahasiswa dan dosen yang
tinggal dan belajar di sana. Saya tidak bisa membayangkan betapa
sulitnya hal ini bagi Anda."
"Ini lebih buruk dari itu," jawab si Profesor. "Saya pikir saya
meninggalkan handphone di sana."

Berbagi Kamar Kontrakan


Ada 4 orang mahasiswa pindah kontrakan dengan 2 kamar tidur.
Nama mereka adalah Kevin, Paul, Budi, dan Jono. Tiga dari 4
mahasiswa itu dengan cepat menemukan bahwa Jono punya
masalah mendengkur yang mengerikan. Tak seorang pun ingin
sekamar dengan dia. Mereka sepakat untuk bergiliran.
Malam pertama giliran Kevin. Keesokan paginya, Kevin berjalan
keluar ke ruang tamu, dengan mata berkaca-kaca dan merah. Paul
dan Budi bertanya, "Apa yang terjadi?".
Kevin mengatakan, "Yah dia mendengkur begitu keras dan saya
tidak bisa tidur sama sekali, jadi aku hanya duduk dan
mengawasinya sepanjang malam."

Malam berikutnya, Paul sekamar dengan Jono. Keesokan paginya,


matanya merah dan rambutnya berantakan. Dia mengatakan, "Jono
mendengkur begitu keras tadi malam, alih-alih tidur aku duduk dan
menatapnya sepanjang malam."
Malam 3 giliran Budi. Budi adalah mantan pemain sepak bola
dengan berat sekitar 100 kilogram. Keesokan paginya, ia berjalan
ke ruang tamu dengan mata segar dan muka cerah. Paul dan Kevin
jelas terkejut, bertanya bagaimana Budi melewatkan malam.
Budi mengatakan, "Nah sebelum saya pergi tidur aku ke tempat
tidur Jono dan memberinya ciuman selamat malam, dan bukannya
tidur dia duduk dan mengawasi saya sepanjang malam."