Anda di halaman 1dari 32

PROSPEK PEREKONOMIAN INDONESIA 2017

Sri Mulyani Indrawa:

Menteri Keuangan Republik Indonesia

Sri Mulyani Indrawa: Menteri Keuangan Republik Indonesia Kuliah Umum Hari Ulang Tahun ke-47 Harian Media

Kuliah Umum Hari Ulang Tahun ke-47 Harian Media Indonesia Jakarta, 19 Januari 2017

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA cukup berdaya tahan di tengah berbagai gejolak 6.3 6.2 6.2 6.0 6.0

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA cukup berdaya tahan di tengah berbagai gejolak

INDONESIA cukup berdaya tahan di tengah berbagai gejolak 6.3 6.2 6.2 6.0 6.0 5.5 5.6 5.1
6.3 6.2 6.2 6.0 6.0 5.5 5.6 5.1 5.0 5.0 4.8 4.6 2006 2007 2008
6.3
6.2
6.2
6.0
6.0
5.5
5.6
5.1
5.0
5.0
4.8
4.6
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015 2016f 2017f
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016f 2017f Sumber : BPS & Kemenkeu Proyeksi

Sumber : BPS & Kemenkeu

Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2017 oleh berbagai lembaga:

Bank Indonesia 5,0% - 5,4%

IMF

5,1%

World Bank

5,3%

Consensus Forecast

5,2%

2 2

PERTUMBUHAN PDB BERDASARKAN SISI PENGELUARAN

Konsumsi RT dan Investasi sebagai engines of growth

Investasi (PMTB) •   Rata rata 2006-2015 : Net Ekspor Lainnya 1.7% 1.2% Ekspor •
Investasi (PMTB)
•   Rata rata
2006-2015 :
Net Ekspor
Lainnya
1.7%
1.2%
Ekspor
•   Rata rata
2006-2015 : 5,3%
•   Pertumbuhan Q3
6,8%
2016 -6,0%
•   Pertumbuhan
Q3 2016 4,1%
Investasi (PMTB)
29.7%
Impor
•   Rata rata
2006-2015 : 5,1%
•   Pertumbuhan Q3
Produk Domestik Bruto
2016 -3,9%
Konsumsi
Pemerintah
•   Rata rata
2006-2015 : 6,3%
•   Pertumbuhan Q3
Konsumsi
Pemerintah
Konsumsi
Rumah Tangga
9.1%
58.3%
Konsumsi Rumah
Tangga*
•   PeRata rata
2006-2015 :
4,9%
2016 -3,0%

* Termasuk LNPRT Sumber: BPS, Diolah

Pertumbuhan Q3 2016 5,0%

3 3

PRIMERSEKUNDERTERTIER

PRIMER SEKUNDER TERTIER PERTUMBUHAN PDB BERDASARKAN SISI PRODUKSI Didukung pertumbuhan sektor jasa yang terus tumbuh

PERTUMBUHAN PDB BERDASARKAN SISI PRODUKSI

Didukung pertumbuhan sektor jasa yang terus tumbuh tinggi

2.7% 2.9% 3.2% 4.1% 3.3% 4.1% 3.9% 3.5% 2.8% 0.3% 2006 2007 2008 2009 2010
2.7%
2.9%
3.2% 4.1%
3.3%
4.1%
3.9%
3.5%
2.8% 0.3%
2006 2007 2008
2009
2010 2011
2012
2013
2014 2015
0.3% 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Pertanian , Pertambangan , Perikanan

Pertanian, Pertambangan, Perikanan Distribusi terhadap PDB 2006 - 2015: 23,6%

Dipengaruhi oleh harga dan perdagangan komoditas dunia yang saat ini cenderung lemah Dominan di beberapa daerah (Kalimantan, Papua, Sumatera)

4.6% 4.7% 3.7% 2.2% 4.7% 6.3% 5.6% 4.4% 4.6% 4.2% 2006 2007 2008 2009 2010
4.6%
4.7%
3.7%
2.2% 4.7%
6.3%
5.6%
4.4% 4.6%
4.2%
2006 2007 2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014 2015
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Industri Pengolahan Distribusi terhadap PDB: 22,0%

Industri Pengolahan Distribusi terhadap PDB: 22,0%

Diharapkan terus membaik seiring dengan reformasi struktural Sektor unggulan padat karya yang memiliki nilai tambah yang tinggi Sektor yang memiliki porsi tertinggi dalam PDB

7.4% 9.0% 8.6% 6.1% 8.2% 8.5% 6.8% 6.3% 6.2% 5.7% 2006 2007 2008 2009 2010
7.4%
9.0%
8.6%
6.1% 8.2%
8.5%
6.8%
6.3%
6.2%
5.7%
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
5.7% 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Sektor Jasa (terbagi dalam 14
5.7% 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Sektor Jasa (terbagi dalam 14

Sektor Jasa (terbagi dalam 14 sektor) Distribusi terhadap PDB: 51,9%

Tumbuh relatif tinggi dan stabil dalam beberapa tahun terakhir Top pertumbuhan rata-rata sektor: Informasi & Komunikasi, Jasa Keuangan & Asuransi, Transportasi & Pergudangan,

4 4

Meski Ekonomi Tumbuh Tinggi DISPARITAS ANTAR DAERAH MASIH LEBAR KALIMANTAN: 5,7% thd PDB Pertambangan ,

Meski Ekonomi Tumbuh Tinggi DISPARITAS ANTAR DAERAH MASIH LEBAR

KALIMANTAN: 5,7% thd PDB Pertambangan , Industri , Pertanian 11,1% SULAWESI: 3,4% thd PDB Pertanian
KALIMANTAN: 5,7% thd PDB
Pertambangan , Industri , Pertanian
11,1%
SULAWESI: 3,4% thd PDB
Pertanian , konstruksi , perdagangan
6.5%
4,9%
4,1%
22,0%
7,5%
11,0%
4,0%
SUMATERA: 19,4% thd PDB
Pertanian , Industri pengolahan ,
pertambangan
14,7%
PAPUA: 1,5% thd PDB
6,0 %
5,8%
Pertambangan , pertanian , dan
administrasi pemerintahan
10,1%
BALI & NUSRA: 1,8% thd PDB
Pertanian , pariwisata , perdagangan

JAWA: 57,0% thd PDB

Industri pengolahan , perdagangan , konstruksi

thd PDB Industri pengolahan , perdagangan , konstruksi Pertumbuhan PDRB, rata-rata 2006-2015 , YoY Source: BPS

Pertumbuhan PDRB, rata-rata 2006-2015, YoY

Source: BPS

Pertumbuhan PDRB, rata-rata 2006-2015 , YoY Source: BPS Tingkat Kemiskinan Daerah, per September 2016 Source: BPS

Tingkat Kemiskinan Daerah, per September 2016

Source: BPS

5 5

2013
2014

2013
2014

2009
2010

2009
2010

2015
2016

2015
2016

2007
2008

2007
2008

2013
2014

2009
2010

2011

2011

2015
2016

2007
2008

2012

2012

2011

2012

PERTUMBUHAN EKONOMI TELAH MEMBANTU MENCIPTAKAN KESEMPATAN KERJA, TETAPI…

TELAH MEMBANTU MENCIPTAKAN KESEMPATAN KERJA, TETAPI… GINI Ratio Angka Kemiskinan T i n g k a

GINI Ratio

Angka Kemiskinan

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

0.42

0.41

0.40

0.39

0.38

0.37

0.36

0.35

0.34

0.33

0.32

0.31

0.41 0.41 0.41 0.41

0.41

0.38 0.37 0.35
0.38
0.37
0.35

0.36

0.40
0.40
0 . 4 1 0 . 4 1 0.38 0.37 0.35 0.36 0.40 BADAN KEBIJAKAN FISKAL

BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN RI

0.36 0.40 BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN RI 18.0 16.0 14.0 12.0 10.0 8.0 6.0
0.36 0.40 BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN RI 18.0 16.0 14.0 12.0 10.0 8.0 6.0

18.0

16.0

14.0

12.0

10.0

8.0

6.0

4.0

2.0

0.0

sumber : BPS

16.6

15.4 14.2 13.3 12.5 12.0 11.4 11.3 11.2 10.70
15.4
14.2 13.3 12.5 12.0 11.4 11.3 11.2
10.70

10.00

9.00

8.00

7.00

6.00

5.00

4.00

3.00

2.00

1.00

-

9.11

8.39 7.87 7.14 7.48 6.13 6.17 5.94 6.18
8.39 7.87 7.14 7.48
6.13 6.17 5.94 6.18
9.11 8.39 7.87 7.14 7.48 6.13 6.17 5.94 6.18
5.61
5.61

6

INFLASI SUDAH LEBIH TERKENDALI Sementara itu tekanan terhadap nilai tukar Rupiah sudah relatif mereda Inflasi

INFLASI SUDAH LEBIH TERKENDALI

Sementara itu tekanan terhadap nilai tukar Rupiah sudah relatif mereda

Inflasi (%)

yoy (%) 24.0 Inflasi - Harga Bergejolak 21.0 Inflasi - Harga diatur Pemerintah 18.0 15.0
yoy (%)
24.0
Inflasi - Harga
Bergejolak
21.0
Inflasi - Harga
diatur Pemerintah
18.0
15.0
12.0
9.0
Inflasi - In:
6.0
3.0
0.0
Inflasi - Umum
-3.0
-6.0

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Pergerakan nilai tukar Rupiah thd dolar AS 15000 14000 13000 12000 11000 10000 9000
Pergerakan nilai tukar Rupiah thd dolar AS
15000
14000
13000
12000
11000
10000
9000

8000

thd dolar AS 15000 14000 13000 12000 11000 10000 9000 8000 2007 2008 2009 2010 2011

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

77

Kinerja neraca eksternal Indonesia masih menghadapi tantangan baik dari perlambatan pemulihan ekonomi global maupun

Kinerja neraca eksternal Indonesia masih menghadapi tantangan baik dari perlambatan pemulihan ekonomi global maupun permintaan domestik

(USD miliar)

50

[SERIES NAME]

(USD miliar)

130

40

30

20

10

0

-10

-20

-30

[SERIES NAME] [SERIES NAME]
[SERIES NAME]
[SERIES NAME]

[SERIES NAME]

110

90

70

50

30

10

-10

-30

-40

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016 Q3

-50

USD miliar

250

200

150

100

50

0

-50

-100

-150

-200

-250

-50 USD miliar 250 200 150 100 50 0 -50 -100 -150 -200 -250 [SERIES NAME]

[SERIES NAME]

144.43 Neraca Perdagangan -135.65
144.43
Neraca
Perdagangan
-135.65

[SERIES NAME]

[VALUE]

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

8 8

TANTANGAN DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT ADIL & MAKMUR

Mengentaskan Kemiskinan

n g e n t a s k a n K e m i s k

Mengurangi Ketimpangan

a n K e m i s k i n a n Mengurangi Ketimpangan Pertumbuhan yang
a n K e m i s k i n a n Mengurangi Ketimpangan Pertumbuhan yang

Pertumbuhan yang Inklusif dan Berkualitas

Meningkatkan

Produktivitas

yang Inklusif dan Berkualitas Meningkatkan Produktivitas Meningkatkan Daya Saing T a t a k e l

Meningkatkan Daya Saing

Meningkatkan Produktivitas Meningkatkan Daya Saing T a t a k e l o l a y

Tata kelola yang baik

Daya Saing T a t a k e l o l a y a n g

Institusi yang bersih & efektif

Daya Saing T a t a k e l o l a y a n g

9 9

APBN MERUPAKAN INSTRUMEN PEMBANGUNAN Memiliki peran sentral dalam mendorong pertumbuhan Pendapatan Negara 2000 1800 1600

APBN MERUPAKAN INSTRUMEN PEMBANGUNAN

Memiliki peran sentral dalam mendorong pertumbuhan

Pendapatan Negara

2000

1800

1600

1400

1200

1000

800

600

400

200

0

Negara 2000 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 Nominal (Rp Tn) %

Nominal (Rp Tn)

1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 Nominal (Rp Tn) % thd PDB

% thd PDB (RHS)

19.8% 15.4% 16.3% 16.2% 15.8% 14.7% 15.1% 13.1% 12.4% 12.8% 981.6 848.8 995.3 1210.6 1338.1
19.8%
15.4% 16.3% 16.2% 15.8%
14.7%
15.1%
13.1% 12.4% 12.8%
981.6
848.8
995.3
1210.6
1338.1
1438.9
1550.5
1508
1551.8
1750.3

25%

20%

15%

10%

5%

0%

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

10% 5% 0% 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2500 2000 1500

2500

2000

1500

1000

500

0

Belanja Negara

2015 2016 2017 2500 2000 1500 1000 500 0 Belanja Negara Nominal (Rp Tn) % thd

Nominal (Rp Tn)

2500 2000 1500 1000 500 0 Belanja Negara Nominal (Rp Tn) % thd PDB (RHS) 19.9%

% thd PDB (RHS)

19.9% 17.4% 18.1% 18.2% 16.9% 16.2% 15.2% 16.7% 15.7% 14.9% 985.7 937.4 1042.1 1295 1491.4
19.9%
17.4% 18.1% 18.2% 16.9%
16.2%
15.2%
16.7%
15.7% 14.9%
985.7
937.4
1042.1
1295
1491.4
1650.6
1777.2
1806.5
1859.5
2080.5

25%

20%

15%

10%

5%

0%

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

10 10

PAJAK ADALAH TULANG PUNGGUNG NEGARA Sumber penerimaan utama dalam APBN T a x R a

PAJAK ADALAH TULANG PUNGGUNG NEGARA

Sumber penerimaan utama dalam APBN

Tax Ratio Indonesia (%)

13.3 11.8 11.9 11.9 11.4 11.1 11.2 11.0 10.7 10.3
13.3
11.8
11.9 11.9
11.4
11.1
11.2
11.0
10.7
10.3

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

Sumber: Kemenkeu

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Sumber : Kemenkeu Penerimaan Perpajakan (Rp Tn) 1495.9

Penerimaan Perpajakan (Rp Tn)

1495.9

1283.6 1240.4 1146.9 1077.3 980.5 873.9 723.3 658.7 619.9
1283.6
1240.4
1146.9
1077.3
980.5
873.9
723.3
658.7 619.9

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

Sumber: Kemenkeu

11 11

KEPATUHAN PAJAK MASIH RENDAH Jumlah Pegawai Pajak Juga Masih Terbatas 35,000,000 63,16% 64.00% 30,000,000 60.42%

KEPATUHAN PAJAK MASIH RENDAH

Jumlah Pegawai Pajak Juga Masih Terbatas

35,000,000 63,16% 64.00% 30,000,000 60.42% 62.00% 25,000,000 59.12% 60.00% 20,000,000 58.00% 15,000,000 56.21%
35,000,000
63,16%
64.00%
30,000,000
60.42%
62.00%
25,000,000
59.12%
60.00%
20,000,000
58.00%
15,000,000
56.21%
56.00%
10,000,000
54.00%
5,000,000
0
52.00%
2013
2014
2015
2016
WP TERDAFTAR
WP TERDAFTAR WAJIB SPT
REALISASI SPT
RASIO
NO URAIAN/TAHUN 2013 2014 2015 2016 24.347.763 27.379.256 30.044.103 32.769.215 1 WP TERDAFTAR 2 WP
NO
URAIAN/TAHUN
2013
2014 2015
2016
24.347.763
27.379.256
30.044.103
32.769.215
1 WP TERDAFTAR
2 WP TERDAFTAR WAJIB SPT
17.731.736
18.159.840
20.165.718
18.357.833
3 TARGET RASIO KEPATUHAN (%)
65,00%
70,00%
70,00%
72,50%
TARGET RASIO KEPATUHAN - SPT ( 3 x
11.525.628
12.852.301
12.711.888
14.620.146
4 2)
9.966.833
10.852.301
10.972.336
12.737.541
5 REALISASI SPT
6 RASIO KEPATUHAN ( 5 : 2 )
56,21%
59,12%
60,42%
63,16%
7 CAPAIAN RASIO KEPATUHAN ( 5 : 4 )
86,48%
84,45%
86,32%
87,12%

Jumlah

Pegawai

pajak

39.980

orang

1212

PAJAK MEMILIKI FUNGSI REDISTRIBUSI

PAJAK MEMILIKI FUNGSI REDISTRIBUSI Namun pendapatan pajak masih terkonsentrasi di Jawa Distribusi per Pulau PULAU PPh

Namun pendapatan pajak masih terkonsentrasi di Jawa

Distribusi per Pulau PULAU PPh & PPN Dana Transfer Belanja APBD KALIMANTAN 11,08 T (3,8%)
Distribusi
per Pulau
PULAU
PPh & PPN
Dana Transfer
Belanja APBD
KALIMANTAN
11,08 T (3,8%)
70,9 T (9,7%)
108,99 T
SULAWESI
9,13 T (3,1%)
73,8 T 10,1%)
85,81 T

PULAU PPh & PPN Dana Transfer Belanja APBD

SUMATERA 25,75 T (8,8%) 207,3 T (28,3%) 322,51 T

JAWA 737,65 T (81,3%) 198,3 T (27,0%) 383,61 T

BALI & NUSA TENGGARA 3,96 T (1,4%) 38,8 T (5,3%) 53,74 T

PAPUA & MALUKU 4,77 T (1,6%) 144,7 T (19,7%) 64,86 T

1313

Diperkuat dengan REFORMASI PERPAJAKAN yang lebih komprehensif Reformasi Kebijakan Revisi peraturan perundang-undangan

Diperkuat dengan

REFORMASI PERPAJAKAN

yang lebih komprehensif

Reformasi Kebijakandengan REFORMASI PERPAJAKAN yang lebih komprehensif Revisi peraturan perundang-undangan pajak Reformasi

Revisi peraturan perundang-undangan pajak

Reformasi AdministrasiKebijakan Revisi peraturan perundang-undangan pajak IT, database, SDM, tata kelola AMNESTI PAJAK sebuah awal

IT, database, SDM, tata kelola

Reformasi Administrasi IT, database, SDM, tata kelola AMNESTI PAJAK sebuah awal reformasi perpajakan Uang

AMNESTI PAJAK sebuah

awal reformasi perpajakan

Uang Tebusan

Nilai aset

Rp 109,8 triliun Rp 4.314 triliun

Wajib Pajak

627.309 orang

Deklarasi DN Rp 3.160 T Repatriasi Rp 141 T Deklarasi LN Rp 1.013 T

Data hingga 17 Januari 2016

1414

PENGGUNAAN PENERIMAAN NEGARA PADA BELANJA K/L 3.541m 3.541 m jembatan jembatan 155 km jalan 52.631
PENGGUNAAN PENERIMAAN NEGARA PADA BELANJA K/L 3.541m 3.541 m jembatan jembatan 155 km jalan 52.631

PENGGUNAAN PENERIMAAN NEGARA PADA BELANJA K/L

PENGGUNAAN PENERIMAAN NEGARA PADA BELANJA K/L 3.541m 3.541 m jembatan jembatan 155 km jalan 52.631 ha

3.541m

3.541 m jembatan

jembatan

155 km

jalan

52.631 ha

sawah

11.900

rumah prajurit

9,4 ribu

gaji guru senior

ha sawah 11.900 rumah prajurit 9,4 ribu gaji guru senior 10 ribu Gaji Polri setahun BADAN
ha sawah 11.900 rumah prajurit 9,4 ribu gaji guru senior 10 ribu Gaji Polri setahun BADAN
ha sawah 11.900 rumah prajurit 9,4 ribu gaji guru senior 10 ribu Gaji Polri setahun BADAN
ha sawah 11.900 rumah prajurit 9,4 ribu gaji guru senior 10 ribu Gaji Polri setahun BADAN
ha sawah 11.900 rumah prajurit 9,4 ribu gaji guru senior 10 ribu Gaji Polri setahun BADAN

10 ribu

Gaji Polri setahun

9,4 ribu gaji guru senior 10 ribu Gaji Polri setahun BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN
9,4 ribu gaji guru senior 10 ribu Gaji Polri setahun BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN

BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN RI

setahun BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN RI infrastruktur subsidi Rp 1 triliun b elanja pegawai
setahun BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN RI infrastruktur subsidi Rp 1 triliun b elanja pegawai

infrastruktur

subsidi Rp 1 triliun
subsidi
Rp
1
triliun

belanja pegawai bantuan sosial

subsidi Rp 1 triliun b elanja pegawai b antuan sosial beras 729 ribu RTS 93 ribu
subsidi Rp 1 triliun b elanja pegawai b antuan sosial beras 729 ribu RTS 93 ribu
subsidi Rp 1 triliun b elanja pegawai b antuan sosial beras 729 ribu RTS 93 ribu
subsidi Rp 1 triliun b elanja pegawai b antuan sosial beras 729 ribu RTS 93 ribu
subsidi Rp 1 triliun b elanja pegawai b antuan sosial beras 729 ribu RTS 93 ribu
subsidi Rp 1 triliun b elanja pegawai b antuan sosial beras 729 ribu RTS 93 ribu

beras

729 ribuRTS 93 ribu ton

3.541 m jembatan

benih

306 ribu ton

pupuk

2,2 juta / 1,3 juta /1 juta

siswa SD/SMP/SMA

355 ribu

keluarga miskin

3,6 juta PBI

orang miskin

15

PENGGUNAAN PENERIMAAN NEGARA PADA TRANSFER KE DAERAH & DANA DESA

PENERIMAAN NEGARA PADA TRANSFER KE DAERAH & DANA DESA + 6.765 3.541 m jembatan ruang kelas
PENERIMAAN NEGARA PADA TRANSFER KE DAERAH & DANA DESA + 6.765 3.541 m jembatan ruang kelas
PENERIMAAN NEGARA PADA TRANSFER KE DAERAH & DANA DESA + 6.765 3.541 m jembatan ruang kelas
PENERIMAAN NEGARA PADA TRANSFER KE DAERAH & DANA DESA + 6.765 3.541 m jembatan ruang kelas
+
+

6.765 3.541 m jembatan

ruang kelas SD

5.511

ruang kelas SMP

4.182

ruang kelas SMA

50

rumah sakit

23.585 org

Tunj.prof guru setahun

SMA 50 rumah sakit 23.585 org Tunj.prof guru setahun 24.911 org Tunj.khss guru setahun BADAN KEBIJAKAN
SMA 50 rumah sakit 23.585 org Tunj.prof guru setahun 24.911 org Tunj.khss guru setahun BADAN KEBIJAKAN
SMA 50 rumah sakit 23.585 org Tunj.prof guru setahun 24.911 org Tunj.khss guru setahun BADAN KEBIJAKAN

24.911 org

Tunj.khss guru setahun

guru setahun 24.911 org Tunj.khss guru setahun BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN RI DAK Fisik
guru setahun 24.911 org Tunj.khss guru setahun BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN RI DAK Fisik

BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN RI

DAK Fisik BOS Rp 1 triliun
DAK Fisik
BOS
Rp
1
triliun

tunj.profesi guru BOK

RI DAK Fisik BOS Rp 1 triliun tunj.profesi guru BOK + 1,25 juta BOS siswa SD/
RI DAK Fisik BOS Rp 1 triliun tunj.profesi guru BOK + 1,25 juta BOS siswa SD/
RI DAK Fisik BOS Rp 1 triliun tunj.profesi guru BOK + 1,25 juta BOS siswa SD/
+
+
RI DAK Fisik BOS Rp 1 triliun tunj.profesi guru BOK + 1,25 juta BOS siswa SD/
RI DAK Fisik BOS Rp 1 triliun tunj.profesi guru BOK + 1,25 juta BOS siswa SD/

1,25 juta

BOS siswa SD/ Ibddaiyah setahun

1 juta

BOS siswa SMP/ Tsanawiyah setahun

714.286

BOS siswa SMA/ Aliyah setahun

2.018

BOK Puskesmas

4,2 juta

Jampersal ibu hamil

2.144

Akreditasi RS

16

KUALITAS ALOKASI BELANJA MEMBAIK SEIRING PENINGKATAN BELANJA

PRODUKTIF… namun efektivitas dan efisiensi belanja perlu terus diperbaiki

dan efisiensi belanja perlu terus diperbaiki Awal Komitmen Reformasi Reformasi 450.0 416.1

Awal

Komitmen

Reformasi

Reformasi

450.0 416.1 400.0 375.5 387.3 350.3 350.0 300.0 250.0 200.0 177.9 150.0 104.0 100.0 67.5
450.0
416.1
400.0
375.5
387.3
350.3
350.0
300.0
250.0
200.0
177.9
150.0
104.0
100.0
67.5
77.3
50.0
0.0
Alokasi Anggaran ( trillion rupiah)

2017 : 2014

Pendidikan

Infrastruktur

10,8% 117,7%
10,8%
117,7%

Kesehatan

Subsidi Energi

54,1% 77,9%
54,1%
77,9%
2011 Sumber: MoF
2011
Sumber: MoF

2012

Kesehatan Subsidi Energi 54,1% 77,9% 2011 Sumber: MoF 2012 BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN RI
Kesehatan Subsidi Energi 54,1% 77,9% 2011 Sumber: MoF 2012 BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN RI
Kesehatan Subsidi Energi 54,1% 77,9% 2011 Sumber: MoF 2012 BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN RI

BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN RI

2013

2014

2015

2016

2017

17

PERTUMBUHAN ALOKASI BELANJA K/L DALAM APBN 2017 LEBIH REALISTIS, NAMUN ALOKASI BELANJA BARANG MASIH DOMINAN DAN BELANJA MODAL MASIH KECIL

BELANJA BARANG MASIH DOMINAN DAN BELANJA MODAL MASIH KECIL % dari Belanja Pemerintah Pusat 2017 (

% dari Belanja Pemerintah Pusat 2017

(non transfer ke daerah dan dana desa)

800

700

600

500

400

300

200

100

0

55.7 97.2 49.6 200.7 92.1 165.0 97.9 215.4 180.9 147.3 285 257.7 233.1 176.6 169.7
55.7
97.2
49.6
200.7
92.1
165.0
97.9
215.4
180.9
147.3
285
257.7
233.1
176.6
169.7
186.5
205.4
222.2
140.2
155.4
2013
2014
2015
2016
2017
LKPP
LKPP
LKPP
Realisasi
APBN
Pegawai
Barang
Modal
Bansos

4,23%

15,25%

21,66%

16,89%

1818

PENGUATAN DESENTRALISASI FISKAL

Perimbangan keuangan Pusat dan daerah semakin baik, namun tetap perlu perbaikan kualitas belanja di daerah

namun tetap perlu perbaikan kualitas belanja di daerah Total TKDD 513,3 573,7 623,1 710,9 764,9

Total TKDD

513,3

573,7

623,1

710,9

764,9

Belanja K/L

582.9

577.2

732.1

677.6

763.6

900

800

700

600

500

400

300

200

100

0

60 46.7 20.8 0 0 664.2 704.9 573.7 602.3 513.3
60
46.7
20.8
0
0
664.2 704.9
573.7 602.3
513.3

2013

2014

2015

2016

2017

LKPP

LKPP

LKPP

Realisasi

APBN

Rp20,3 Rp60,0 T T (Otsus & (Dana DIY) Desa) Rp7,5 T (DID) Rp173, Rp503, 4
Rp20,3
Rp60,0
T
T
(Otsus &
(Dana
DIY)
Desa)
Rp7,5 T
(DID)
Rp173,
Rp503,
4 T
6 T
(DTK)
(DTU)

UU APBN TA 2017 minimal 25% DTU untuk belanja infrastruktur

APBN TA 2017 minimal 25% DTU untuk belanja infrastruktur Transfer ke Daerah Dana Desa Belanja Kementerian/Lembaga

Transfer ke Daerah

APBN TA 2017 minimal 25% DTU untuk belanja infrastruktur Transfer ke Daerah Dana Desa Belanja Kementerian/Lembaga

Dana Desa

APBN TA 2017 minimal 25% DTU untuk belanja infrastruktur Transfer ke Daerah Dana Desa Belanja Kementerian/Lembaga

Belanja Kementerian/Lembaga

1919

MENJAGA DEFISIT PADA TINGKAT YANG AMAN dengan defisit dan utang yang rendah, pertumbuhan ekonomi Indonesia

MENJAGA DEFISIT PADA TINGKAT YANG AMAN

dengan defisit dan utang yang rendah, pertumbuhan ekonomi Indonesia salah satu paling tinggi

pertumbuhan ekonomi Indonesia salah satu paling tinggi Rata-rata defisit & pertumbuhan satu dekade terakhir 9.6

Rata-rata defisit & pertumbuhan satu dekade terakhir

9.6

surplus/defisit fiskal (%) 7.5 5.7 pertumbuhan PDB (%) 3.9 3.6 3.5 3.9 2.7 3.3 2.8
surplus/defisit fiskal (%)
7.5
5.7
pertumbuhan PDB (%)
3.9
3.6
3.5
3.9 2.7 3.3
2.8
2.6 2.4
2.4 1.5
1.6
1.1
0.9
1.2 1.4 0.5
-0.5
-0.7 -0.8 -0.9
-1.6 -1.9 -2.2 -2.9 -3.0 -3.1 -3.2 -3.3
-4.4 -4.5
-6.2 -6.7 -7.0 -7.7
Saudi Arabia
Korea
Russia
Germany
China
Indonesia
Canada
Turkey
Australia
Argendna
Italy
South Africa
Mexico
France
Brazil
United Kingdom
United States
Japan
India

Defisit APBN (Rp Tn)

-4.1 -46.8 -84.4 -88.6 -153.3 -211.7 -226.7 -298.5 -307.7
-4.1
-46.8
-84.4
-88.6
-153.3
-211.7
-226.7
-298.5 -307.7

-330.2

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

-330.2 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Sumber : World Economic Outlook

Sumber: World Economic Outlook – IMF, Oktober 2016 & CEIC, diolah

20 20

32,224

7,200

6,017

4,945

4,266

2,917

2,468

2,501

1,665

1,339

1,157

934

997

UK

US

Turkey

Mexico

Philippines

Vietnam

Japan

India

Argendna

Thailand

Brazil

South Africa

Indonesia

Malaysia

Russia

Mexico

France

United States

Turkey

Italy

United Kingdom

Japan

Russia

Canada

Korea

Brazil

Germany

India

Argendna

South Africa

China

Indonesia

Australia

Saudi Arabia

Argendna South Africa China Indonesia Australia Saudi Arabia MEMPERKUAT PENGELOLAAN PEMBIAYAAN YANG PRUDEN Tingkat utang

MEMPERKUAT PENGELOLAAN PEMBIAYAAN YANG PRUDEN

Tingkat utang publik Indonesia salah satu paling rendah

Tingkat utang publik Indonesia salah satu paling rendah Rasio Utang terhadap PDB (%) 300 250 250
Rasio Utang terhadap PDB (%) 300 250 250 2006 200 2016 150 133 108 97
Rasio Utang terhadap PDB (%)
300
250
250
2006
200
2016
150
133
108 97 92 89 78 68 68
100
32
27
50
56 52 52 46 41 39 32
17 14
0

Utang Per Kapita (US$)

85,635

62,020

46 41 39 32 17 14 0 Utang Per Kapita (US$) 85,635 62,020 Sumber : World
46 41 39 32 17 14 0 Utang Per Kapita (US$) 85,635 62,020 Sumber : World
46 41 39 32 17 14 0 Utang Per Kapita (US$) 85,635 62,020 Sumber : World
46 41 39 32 17 14 0 Utang Per Kapita (US$) 85,635 62,020 Sumber : World
46 41 39 32 17 14 0 Utang Per Kapita (US$) 85,635 62,020 Sumber : World
46 41 39 32 17 14 0 Utang Per Kapita (US$) 85,635 62,020 Sumber : World
46 41 39 32 17 14 0 Utang Per Kapita (US$) 85,635 62,020 Sumber : World
46 41 39 32 17 14 0 Utang Per Kapita (US$) 85,635 62,020 Sumber : World
46 41 39 32 17 14 0 Utang Per Kapita (US$) 85,635 62,020 Sumber : World
46 41 39 32 17 14 0 Utang Per Kapita (US$) 85,635 62,020 Sumber : World

Sumber: World Economic Outlook – IMF, Oktober 2016, diolah

21 21

TANTANGAN PENGELOLAAN APBN

TANTANGAN PENGELOLAAN APBN Penerimaan Proyeksi & Estimasi Belanja Komitmen Pembiayaan Terus diperbaiki Membuat
TANTANGAN PENGELOLAAN APBN Penerimaan Proyeksi & Estimasi Belanja Komitmen Pembiayaan Terus diperbaiki Membuat

Penerimaan

Proyeksi & Estimasi

PENGELOLAAN APBN Penerimaan Proyeksi & Estimasi Belanja Komitmen Pembiayaan Terus diperbaiki Membuat

Belanja

Komitmen

APBN Penerimaan Proyeksi & Estimasi Belanja Komitmen Pembiayaan Terus diperbaiki Membuat estimasi penerimaan

Pembiayaan

Terus

diperbaiki

Membuat estimasi penerimaan yang akurat dan kredibel Peningkatan kapasitas mengumpulkan penerimaan negara Rasio
Membuat estimasi
penerimaan yang
akurat dan kredibel
Peningkatan kapasitas
mengumpulkan
penerimaan negara
Rasio penerimaan
perpajakan masih
rendah
negara Rasio penerimaan perpajakan masih rendah Membuat keputusan belanja yang strategis Efektif dan
negara Rasio penerimaan perpajakan masih rendah Membuat keputusan belanja yang strategis Efektif dan
Membuat keputusan belanja yang strategis Efektif dan memperbaiki fondasi Indonesia Mengurangi kemiskinan,
Membuat keputusan
belanja yang strategis
Efektif dan
memperbaiki fondasi
Indonesia
Mengurangi
kemiskinan,
kesenjangan, dan
pemerataan
kesejahteraan
Memerangi inefisensi
dan korupsi
pemerataan kesejahteraan Memerangi inefisensi dan korupsi Reformasi di Sektor Keuangan, antara lain melalui

Reformasi di Sektor Keuangan, antara lain melalui pendalaman pasar keuangan

Reformasi belanja menuju efisiensi dan efektifitas

Reformasi perpajakan Sangat dibutuhkan

22 22

Memperkuat Reformasi Struktural untuk mendorong daya beli dan meningkatkan iklim investasi

mendorong daya beli dan meningkatkan iklim investasi 9 Sept 15 •   Deregulasi •   Akselerasi

9 Sept 15mendorong daya beli dan meningkatkan iklim investasi •   Deregulasi •   Akselerasi proyek strategis

Deregulasi Akselerasi proyek strategis Mendorong pembangunan rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)

29 Sept 15rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) •   Peluncuran program perizinan 3 jam •  

Peluncuran program perizinan 3 jam Pembebasan PPN untuk industri transportasi Fasilitas logisdk terintegrasi

7 Oct 15transportasi •   Fasilitas logisdk terintegrasi •   Penurunan harga BBM dan TDL •  

Penurunan harga BBM dan TDL Penyederhanaan izin investasi Perluasan basis penerima kredit UMKM

5 N o v 1 5 5 Nov 15

Pembangunan KEK Perbaikan suplai air bersih Penyederhanaan izin impor untuk farmasi

4 D e c 1 5 4 Dec 15

Percepatan proses serdfikasi tanah Insendf pajak untuk industri padat karya

21 Dec 15tanah •   Insendf pajak untuk industri padat karya •   One Map Policy •  

One Map Policy Pembangunan pengolahan sumber daya alam (refinery) Insendf untuk industri penerbangan

11
11

29 Mar 16

Insendf kredit usaha REIT berbasis ekspor Indonesia Single Risk Mgmt (ISRM) Pembangunan industri farmasi

Risk Mgmt (ISRM) •   Pembangunan industri farmasi 12 28 Apr 16 •   Penyederhanaan izin,
12
12

28 Apr 16

Penyederhanaan izin, prosedur, durasi dan biaya memulai bisnis

15 Oct 15izin, prosedur, durasi dan biaya memulai bisnis •   Sistem upah yang simpel dan adil •

Sistem upah yang simpel dan adil Kredit UMKM yang mudah dan terjangkau

27 Jan 16dan adil •   Kredit UMKM yang mudah dan terjangkau •   Percepatan konstruksi infrastruktur

Percepatan konstruksi infrastruktur ketenagalistrikan Stabilisasi harga daging Deregulasi sektor logisdk

harga daging •   Deregulasi sektor logisdk 13 24 Aug 16 •   Percepatan pembangunan rumah

13 24 Aug 16

Percepatan pembangunan rumah murah bagi MBR melalui kemudahan dan penyederhanaan proses perizinan

5
5

23 Oct 15

Penurunan pajak revaluasi aset Penghapusan pajak berganda REITs

1 0 1 1 F e b 1 6 10 11 Feb 16

Perbaikan kemudahan berinvestasi (ease of doing business)

10 Nov 16Perbaikan kemudahan berinvestasi (ease of doing business) •   Pembiayaan E-commerce •   Insendf pajak

Pembiayaan E-commerce Insendf pajak bagi pelaku usaha digital Perlindungan konsumen Perbaikan logisdk

23 23

Pengakuan atas upaya reformasi Indonesia – Perbaikan signifikan posisi Ease of Doing Business

– Perbaikan signifikan posisi E ase of Doing Business 70 78 - 82 - 91 99

70

78 - 82 - 91 99 123 - - 130
78
-
82
-
91
99
123
-
-
130

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

China

Vietnam

#91

Dari 190 negara

Skor : 61,5 (↑3,4)

Melonjak 15 peringkat
Melonjak
15 peringkat

2016: #106 2015: #120

80

90

- INDONESIA

- Philippines

100

110

120

Brazil

India

130

“Indonesia is amongst the top 10 improvers in Doing Business 2017:

Equal Opportunity for All”

- World Bank Group, Press Release EODB 2017

Source: World Bank Ease of Doing Business Report 2017

24 24

140

150

2009
2009

TANTANGAN 2017

TANTANGAN 2017 Ketidakpastian global Tingkat permintaan yang lemah Harga komoditas yang rendah Economic rebalancing

Ketidakpastian

global

Tingkat permintaan yang lemah
Tingkat permintaan yang lemah

Tingkat permintaan yang lemah

Harga komoditas yang rendah
Harga komoditas yang rendah

Harga komoditas yang rendah

Economic rebalancing Tiongkok
Economic rebalancing Tiongkok

Economic rebalancing Tiongkok

Isu Geopolitik, e.g. Brexit
Isu Geopolitik, e.g. Brexit

Isu Geopolitik, e.g. Brexit

Kebijakan ekonomi AS di bawah pemerintahan baru
Kebijakan ekonomi AS di bawah pemerintahan baru

Kebijakan ekonomi AS di bawah pemerintahan baru

Kenaikan suku bunga The FED
Kenaikan suku bunga The FED

Kenaikan suku bunga The FED

Pembalikan arus modal dari EMEs
Pembalikan arus modal dari EMEs

Pembalikan arus modal dari EMEs

Brexit Kebijakan ekonomi AS di bawah pemerintahan baru Kenaikan suku bunga The FED Pembalikan arus modal

25 25

ASUMSI EKONOMI MAKRO

2016

Realisasi * 5,0
Realisasi
*
5,0

2017 INDIKATOR

2016

Realisasi

2017

Target

APBN 5,1
APBN
5,1

KESEJAHTERAAN

Tingkat Pengangguran (%)

5,61

Angka Kemiskinan (%)

10, 70

Gini ratio (indeks)

0,397

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

70,1

Pertumbuhan Ekonomi (%, yoy)

5,3 5,6

IMF 5.1%, World Bank 5.3%, ADB 5.1%, Bloomberg Consensus 5.3%, Bank Indonesia 5,0 – 5,4%

Inflasi

(%, yoy)

SPN 3 Bulan

(rata-rata %)

Nilai Tukar Rupiah

(Rp/US$)

ICP

(US$/barrel)

Lifting Minyak

(ribuan barrel/hari)

Lifting Gas

Lifting Minyak ( ribuan barrel / hari ) Lifting Gas ( setara dengan ribuan barrel minyak/
Lifting Minyak ( ribuan barrel / hari ) Lifting Gas ( setara dengan ribuan barrel minyak/

(setara dengan ribuan barrel minyak/hari)

BADAN KEBIJAKAN FISKAL - KEMENTERIAN KEUANGAN RI

3,02 5,7
3,02
5,7
13.307 40
13.307
40
829 1.184
829
1.184

9,5 10,5

0,38

70,11

Kunci utama pertumbuhan:

Memperkuat ekonomi domestik melalui stabilitas konsumsi, peningkatan investasi, dan ekspansi belanja pemerintah yang efektif

Meningkatan daya saing produk dalam negeri untuk mendukung perbaikan ekspor

Postur realisasi APBN-P 2016 & APBN 2017

Postur realisasi APBN-P 2016 & APBN 2017     2016   2017   Deksripsi (Triliun Rupiah)
   

2016

 

2017

 

Deksripsi (Triliun Rupiah)

         

Pertumbuhan

 

APBN-P

Outlook

Realisasi

Sementara

Realisasi thd

Outlook

APBN

thd realisasi

2016

A.

Pendapatan Negara

1.786,2

1.582,9

1.551,8

98,0%

1.750,3

12,8%

 

I. Penerimaan Dalam Negeri

1.784,2

1.580,9

1.546,0

97,8%

1.748,9

13,1%

   

1. Penerimaan Pajak

1.539,2

1.320,2

1.

283,6

97,2%

1.498,9

16,8%

   

2. PNBP

245,1

260,7

 

262,4

100,7%

250,0

-4,7%

 

II. Hibah

2,0

2,0

 

5,8

290,0%

1,4

-75,9%

B.

Belanja Negara

2.082,9

1.898,6

1.859,5

97,9%

2.080,5

11,9%

 

I. Pemerintah Pusat

1.306,7

1.195,3

1.148,6

96,1%

1.315,5

14,5%

   

1. Belanja Kementerian / Lembaga (K/L)

767,8

672,0

 

677,6

100,8%

763,6

12,7%

   

2. Belanja Non K/L

538,9

523,3

 

471,0

90,0%

552,0

17,2%

 

II. Transfer Ke Daerah dan Dana Desa

776,3

703,3

 

710,9

101,1%

764,9

7,6%

   

1. Transfer Ke Daerah

729,3

659,1

 

664,2

100,8%

704,9

6,1%

   

2. Dana Desa

47,0

44,2

 

46,7

105,7%

60,0

28,5%

C.

Keseimbangan Primer

(105,5)

(126,4)

(1 24,9)

98,8%

(109,0)

-12,7%

D.

Surplus/Defisit

(296,7)

(315,7)

(3 07,7)

97,5%

(330,2)

7,3%

 

% terhadap PDB

(2,35)

(2,50)

 

(2,46)

98,4%

(2,41)

-2,0%

E.

Pembiayaan

296,7

315,7

 

330,3

104,6%

330,2

0,0%

 

I. Pembiayaan Utang

371,6

387,8

 

n/a

n/a

384,7

n/a

 

II. Pembiayaan Investasi

(94,0)

(91,5)

 

n/a

n/a

(47,5)

n/a

 

III. Pembiayaan Lainnya

19,1

19,4

 

n/a

n/a

(7,0)

n/a

2727

1
1
1 PRIORITAS STRATEGIS 2017 Akselerasi pembangunan infrastruktur, baik dari APBN, BUMN dan Swasta 2 Efektivitas Belanja

PRIORITAS STRATEGIS 2017

Akselerasi pembangunan infrastruktur, baik dari APBN, BUMN dan Swasta

2
2

Efektivitas Belanja daerah dan Dana Desa.

Untuk mengurangi kemiskinan Menciptakan kesempatan kerja Mengurangi kesempatan

3
3

Meningkatkan efektivitas dan efisiensi APBN guna mendukung ekonomi dan pembangunan inklusif

Mendukung Daya Beli

ekonomi dan pembangunan inklusif Mendukung Daya Beli Investasi membangun produktivitas dan daya saing

Investasi membangun produktivitas dan daya saing

Beli Investasi membangun produktivitas dan daya saing Membangun institusi Menjaga stabilitas dan keamanan §

Membangun

institusi

membangun produktivitas dan daya saing Membangun institusi Menjaga stabilitas dan keamanan §   Gaji / Pensiun

Menjaga stabilitas dan keamanan

saing Membangun institusi Menjaga stabilitas dan keamanan §   Gaji / Pensiun (2017: Rp343,4 T) §

§Gaji/Pensiun (2017: Rp343,4 T) §Subsidi Masyarakat / transfer keluarga miskin (2017: Rp204,6 T)

Masyarakat / transfer keluarga miskin (2017: Rp204,6 T) §   belanja infrastruktur (2017: Rp387,7 T) §

§belanja infrastruktur (2017: Rp387,7 T) §belanja pendidikan (20% APBN) §belanja kesehatan (5% APBN) §belanja riset/litbang (2017: Rp12,8 T)

§belanja legislatif (DPR, DPD, MPR) (2017: Rp6,1 T) §Yudikatif (MA, MK, Pengadilan seluruh Indonesia) (2017: Rp8,4 T) §Eksekutif (Pusat, Pemda)

§Belanja Kemhan/TNI (2017: Rp108 T) §Belanja POLRI (2017: Rp84 T)

28 28

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia MASIH LEBIH BAIK Dibandingkan Dengan Negara Lainnya di Dunia Rata-rata pertumbuhan PDB

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia MASIH LEBIH BAIK Dibandingkan Dengan Negara Lainnya di Dunia

LEBIH BAIK Dibandingkan Dengan Negara Lainnya di Dunia Rata-rata pertumbuhan PDB satu dekade terakhir (%,yoy)

Rata-rata pertumbuhan PDB satu dekade terakhir (%,yoy)

Negara – Negara G20 & BRICS

Negara – Negara ASEAN

12.0 12.0 9.6 10.0 10.0 7.9 7.6 7.5 8.0 8.0 7.0 5.7 6.0 6.0 6.1
12.0
12.0
9.6
10.0
10.0
7.9 7.6
7.5
8.0
8.0
7.0
5.7
6.0
6.0
6.1 5.7 5.4 5.4 4.9
4.0
3.3
4.0
3.9 3.9 3.5 3.3
2.8 2.7 2.6 2.4 2.4
2.0
2.0
1.6 1.5 1.4 1.2 0.9 0.5
0.3
-0.5
0.0
0.0
-2.0
Sumber: IMF & BPS
China
India
Indonesia
Saudi Arabia
Turkey
Korea
Argendna
Brazil
Australia
South Africa
Russia
Mexico
Canada
Germany
United States
United Kingdom
France
Japan
Italy
Lao P.D.R.
Myanmar
Cambodia
Vietnam
Indonesia
Philippines
Singapore
Malaysia
Thailand
Brunei Darussalam

29 29

Namun beberapa hal masih perlu untuk diperbaiki a.l. DAYA SAING INDONESIA

masih perlu untuk diperbaiki a .l. DAYA SAING INDONESIA Peringkat Global Competitiveness Index      

Peringkat Global Competitiveness Index

     
81
81
2
2
2

20072016 Ket: Semakin kecil peringkat, semakin baik 3 5 7 8 15 21 22 25

20162007 Ket: Semakin kecil peringkat, semakin baik 3 5 7 8 15 21 22 25

Ket: Semakin kecil peringkat, semakin baik

3
3
2007 2016 Ket: Semakin kecil peringkat, semakin baik 3 5 7 8 15 21 22 25
5
5
7
7
2007 2016 Ket: Semakin kecil peringkat, semakin baik 3 5 7 8 15 21 22 25
8
8
15
15
2007 2016 Ket: Semakin kecil peringkat, semakin baik 3 5 7 8 15 21 22 25
21
21
2007 2016 Ket: Semakin kecil peringkat, semakin baik 3 5 7 8 15 21 22 25
2007 2016 Ket: Semakin kecil peringkat, semakin baik 3 5 7 8 15 21 22 25
22
22
2007 2016 Ket: Semakin kecil peringkat, semakin baik 3 5 7 8 15 21 22 25
25
25
26
26
26
28
28
28
29
29
29
34
34
34
39
39
39
54
54
41
41
43
43
43
44
44
44
47
47
47
57
57
57
58
58
58
60
60
60
kecil peringkat, semakin baik 3 5 7 8 15 21 22 25 26 28 29 34

Singapore

United States

Germany

Kingdom

United

Japan

Canada

France

Australia

Malaysia

Korea

China

Saudi Arabia

Thailand

India

Indonesia

Russia

Italy

South Africa

Philippines

Brunei

Vietnam

Brazil

100

80

60

40

20

0

Indonesia Russia Italy South Africa Philippines Brunei Vietnam Brazil 100 80 60 40 20 0 30

30 30

Kebijakan Ekonomi yang Tepat Sasaran, Efektif, dan Berefek

ganda

Berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi

yang inklusif dan berkelanjutan

pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan #1 Lembaga Pemerintahan yang Bersih , Transparan , dan

#1

Lembaga Pemerintahan yang Bersih, Transparan, dan Efektif

Mencakup lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif, baik di pusat maupun di daerah

, dan yudikatif , baik di pusat maupun di daerah #2 INDONESIA YANG ADIL DAN MAKMUR

#2

INDONESIA YANG ADIL DAN MAKMUR

pusat maupun di daerah #2 INDONESIA YANG ADIL DAN MAKMUR #3 Keterbukaan Pikiran dalam Menerima Keragaman

#3

Keterbukaan Pikiran dalam Menerima Keragaman

Mencakup lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif, baik di pusat maupun di daerah

, dan yudikatif , baik di pusat maupun di daerah #4 Investasi Sumber Daya Manusia yang

#4

Investasi Sumber Daya Manusia yang Berkualitas

Investasi Sumber Daya Manusia yang Berkualitas

Meningkatkan produktivitas dan daya saing SDM yang mampu berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi

TERIMA KASIH

Sri Mulyani Indrawa:

Menteri Keuangan Republik Indonesia

Sri Mulyani Indrawa: Menteri Keuangan Republik Indonesia Kuliah Umum Hari Ulang Tahun ke-47 Harian Media Indonesia

Kuliah Umum Hari Ulang Tahun ke-47 Harian Media Indonesia Jakarta, 19 Januari 2017

32