Anda di halaman 1dari 11

Strategi Dasar Pencahayaan Alami

Cahaya alami yang akan diperoleh tidak ditentukan dari kedalaman atau kelebaran
akan tetapi rasio. Semakin jauh rasio gelap dan terang maka semakin menyebabkan
ketidaknyamanan pada mata karena menyebabkan silau, oleh karena itu dibutuhkan strategi
dasar dalam mengusahakan pencahayaan alami yang optimal.
Beberapa strategi untuk pencahayaan alami diantaranya disediakan bukaan
horizontal maupun bukaan vertikal. Bukaan horizotal yang dimaksud adalah dinding pada
umumnya, sedangkan bukaan vertikal adalah bukaan pada atap dalam bentuk jendela
clerestory monitor, sawtooth, dan lain-lain.

Gambar 41. Bukaan vertikal pada atap; (atas: clerestory, monitor, sawtooth, skylight)
dan (bawah:skylight, clerestory, dan window wall)
Sumber: Lechner, 1991 dan analisis penulis

Beberapa denah lantai bangunan tinggi menggambarkan efek kepadatan cahaya


alami yang dapat diperoleh. Semakin jauh jarak dari bukaan dinding, maka semakin kecil
cahaya yang mungkin bisa menjangkau pada area tersebut. Sehingga terkadang terdapat
perbedaan gelap dan terang pada bangunan yang menggunakan pencahayaan alami.
Namun hal tersebut dapat diatasi dengan berbagai strategi diantaranya adalah membuat
denah yang memanjang, sehingga tingkat terang dari rasio cahaya sampai ke seluruh
bagian ruangan dan tidak ada ruangan yang tidak mendapatkan cahaya alami. Adapun
pada bangunan yang memang sudah terpaksa dengan denah yang masiv dan memiliki
beberapa persen ruangan yang sama sekali tidak dijangkau cahaya dari jendela di dinding
karena jauhnya jarak ruang tersebut dari dinding, maka dapat diatasi dengan pembuatan
atrium pada bagian atap bangunan, sehingga cahaya yang masuk tersebar secara maksimal
hingga ke seluruh bagian ruang dalam bangunan.

Gambar 42. Efek kepadatan cahaya pada lantai di bangunan bertingkat


Sumber: Lechner, 1991 dan analisis penulis

a.

Strategi dasar jendela


Untuk distribusi dan penetrasi cahaya yang baik, ditunjukkan dari urutan faktor

pemantulan tertinggi. Misalnya no.1 seharusnya memiliki faktor pemantulan tertinggi,


kemudian disusul no. 2, pada dinding depan, dinding samping yaitu no.3, kemudian bidang
lantai no.4, lalu bidang pada perabot no.5.

Gambar 43. Permukaan dengan urutan pemantulan cahaya tertinggi


Sumber: Lechner, 1991

Aplikasi untuk urutan pemantulan cahaya di atas dicontohkan pada wujud jendela
yang berjejer horizontal pada Gedung Maische La Roche oleh Le Cobusier, mengakibatkan
pencahayaan masuk dengan rata dengan memposisikan jendela tersebut di tempat yang
tinggi di atas dinding.

Gambar 44. Gedung Maische La Roche rancangan Le Cobusier


Sumber: Lechner, 1991

Penetrasi pencahayaan alami meningkat sesuai dengan ketinggian jendela.


Pencahayaan alami pada bangunan di atas, lebih dapat dijelaskan pada dua gambar
perbandingan di bawah ini, dimana gambar yang satu memiliki jendela dengan ketinggian
rata-rata, dan gambar yang satu lagi merupakan contoh ruang yang memiliki jendela dengan
ketinggian yang lebih, sehingga sahaya bisa menjangkau lebih maksimal dan rata
terdistribusi ke seluruh bagian ruang.

Gambar 45. Perbedaan kualitas cahaya dari perbedaan ketingggian jendela


Sumber: Lechner, 1991

Strategi yang lainnya yang bisa diusahakan adalah menggunakan pencahayaan


bilateral, agar penyebaran cahaya lebih baik dan mengurangi silau, mengurangi kontras
antara setiap jendela dan dinding yang mengelilinginya.

Gambar 46. Perbedaan kualitas cahaya dari perbedaan jumlah jendela


Sumber: Lechner, 1991

Distribusi dan kualitas cahaya dapat ditingkatkan oleh pemantulan dinding samping.
Selain dapat menghindarkan ruangan dari silau cahaya matari, juga mengurangi rasio gelapterang sehingga cahaya yang diterima mata menjadi lembut dan lebih rata penyebarannya.
Dapat dilihat pada contoh gambar di bawah.

Gambar 47. Perbedaan kualitas cahaya dari peletakan jendela


Sumber: Lechner, 1991

Silau yang dihasilkan dari jendela yang posisinya berdekatan dengan dinding
samping, lebih sedikit dibanding jendela di tengah dinding. Hal tersebut disebabkan karena
cahaya matahari yang masuk melalui jendela tidak langsung masuk ke dalam ruangan,
namun memantul pada dinding terlebih dahulu. Dinding yang diletakkan di tengah akan
menyebabkan kontras yang sangat jauh antara bagian gelap (disekitar jendela) dan terang
(di jendela).

Gambar 48. Perbedaan kontras cahaya pada perbedaan peletakan jendela


Sumber: Lechner, 1991

Kontras yang berlebihan tersebut juga dapat dikurangi dengan beberapa solusi
seperti menonjolkan atau memberi bentuk lengkung pada ujung dalam.
Gambar 49. Tiga
solusi bentukan
pada jendela untuk
memperbaiki kontras
cahaya
yang masuk ke
dalam bangunan
Sumber: Lechner,
1991

Selain menata bentukan jendela, solusi lain lagi ynag dapat dilakukan untuk
melembutkan cahaya yang masuk ke dalam bangunan, dapat digunakan penyaring/
pelembut cahaya matahari yang dapat diwujudkan dengan menggunakan pohon, teralis
atau permukaan tembus pandang.

Gambar 50. Aplikasi


penyaring/ pelembut
cahaya matahari
Sumber: Lechner,
1991

Glazing yang tembus cahaya bisa jadi sumber silau utama, karena sebagian sinar
matahari diarahkan langsung ke mata yang sedang melihat

Gambar 51. Arah sebaran cahaya dari; difused glazing (kiri) dan clear glazing (kanan)
Sumber: Lechner, 1991

Kisi-kisi horizontal berwarna cerah akan menghalangi sinar matahari langsung,


namun tetap membiarkan pancaran sinar matahari memasuki jendela. Sehingga sinar yang
masuk tidak menyilaukan mata dan memiliki pancaran yang rata.

Gambar 52. Arah sebaran cahaya dari kisi-kisi horizontal (kiri) dan vertikal (kanan)
Sumber: Lechner, 1991

Sebuah bidang vertikal dapat menghalangi sinar matahari langsung sambil


memantulkan pancaran cahaya langit. Selain itu, overhang horizontal yang besar dapat
menghalangi terlalu banyak cahaya, kecuali jika lantai dan bagian bawah overhang memiliki
nilai pantul yang tinggi.

Gambar 53. Bidang vertikal sebagai penghalang cahaya langsung dan pemantul cahaya langit (kiri)
dan overhang horizontal yang memasukkan cahaya pantul (kanan)
Sumber: Lechner, 1991

Lantai beton dan batu-batuan yang berwarna terang juga dapat memantulkan
cahaya jauh ke ruang dalam bangunan. Bibr jendela yang lebar dapat digunakan sebagai
pemantul cahaya

tersebut jauh ke dalam ruangan. Posisi Light shelves seringkali

ditempatkan di atas pandangan mata manusia untuk mencegah efek silau. Juga berlaku
sebagai overhang untuk jendela yang berada dibawahnya. Kisi-kisi dapat digunakan untuk
menghindari silau kaca yang tembus pandang di atas light selves tersebut.

Gambar 54. Pemantulan cahaya dari lantai luar bangunan (kiri),


pemantulan bibir jendela (tengah) dan pemantulan dari Light shelves (kanan)
Sumber: Lechner, 1991

Sebuah cara praktis untuk penetrasi pencahayaan alami adalah kali tinggi jendela
biasa, dan 2 kali tinggi jendela dengan light shelves uuntuk jendela bagian selatan di bawah
sinar matahari langsung.

Gambar 55. Strategi mengoptimalkan penetrasi cahaya alami


Sumber: Lechner, 1991

Salah satu contoh bangunan yang berhasil memaksimalkan cahaya alami pada
siang hari adalah gedung Ventura Coastal Corp. Administration dimana menggabungkan
beberapa strategi peletakan jendela, maupun shading dan light shelves maupun bentuk dan
variasi jendela itu sendiri, diantaranya seperti jendela kisi-kisi yang dapat memaksimalkan
cahaya pantulan yang masuk ke dalam ruangan hingga terpantul ke langit-langit ruang dan

tersebar secara merata. Sehingga cahaya alami pada bangunan ini selain dimanfaatkan
secara maksimal, juga dipikirkan kualitas cahayanya.

Gambar 56. Gedung Administrasi Ventura Coastal corp. beserta strategi pencahyaan alamimya
Sumber: Lechner, 1991

b.

Strategi skylight
Beberapa penempatan dan jumlah skylight pada ruangan dipengaruhi oleh beberapa

aspek diantaranya adalah ada atau tidak adanya jendela pada ruangan tersebut.

Gambar 57. Perbedaan strategi peletakan skylight dari perimeter


bergantung dari ada atau tidak adanya jendela. Tanpa jendela (atas), dan dengan jendela (bawah)
Sumber: Lechner, 1991

Strategi skylight pada ruang tinggi dan sempit, silau hanya sedikit karena sumber
cahaya yang jauh di atas pandangan pengamat. Selain itu strategi yang lain adalah
menggunakan pemantul interior untuk mendapatkan cahaya merata sampai plafon dan silau
yang lebih sedikit.

Gambar 58. Strategi skylight pada ruang tinggi dan sempit


Sumber: Lechner, 1991

Distribusi cahaya lebih baik dan sedikit silau dihasilkan ketika dinding tempat light
well miring atau bisa juga dengan upaya menghadirkan pemantul interior (fixture cahaya
alami) untuk memancarkan sinar matahari dan mengurangi silau

Gambar 59. Strategi pengoptimalan distribusi cahaya dengan cara:


merancang Light well miring (kiri)dan memasang pemantul (interior) cahaya (kanan)
Sumber: Lechner, 1991

Salah satu bangunan yang menggunakan pemantul interior seperti yang dijelaskan di
atas adalah gedung Kimbell, art Museum di Texas yang merupakan rancangan dari arsitek
Louis Kahn.

Gambar 60. Aplikasi


penerapan pemantul
(interior) cahaya
pada Gedung
Kimbell,
Museum seni di
Texas
Sumber: Lechner,
1991

Beberapa aplikasi skylight lain, terutama yang digunakan untuk menanggapi musim
yang ada ditunjukkan pada gambar di bawah, dimana pada musim dingin membutuhkan
pemantul (sebagai pengarah cahaya, masuk kedalam bangunan), sedangkan pada musim
panas tidak dibutuhkan karena cahayanya langsung masuk ke dalam bangunan tanpa
membutuhkan pemantul.

c.

Strategi pencahayaan vertikal


Beberapa jenis pencahayaan vertikal yaitu clerestory, monitor, dan serokan cahaya.

Perbedaannya adalah clerestory dapat mengambil cahaya dari beberapa sisi.

Gambar 61.
Clerestory (kiri) dan
monitor (kanan)
Sumber: Lechner,
1991

Gambar 62. Aplikasi


clerestory di dalam
kantor yang variatif
untuk menanggapi 2
musim
Sumber: Lechner,
1991

Selain clerestory dan monitor, juga ada bukaan vertikal yaitu light scoops. Serokan
cahaya (light scoops) pada bangunan sekolah Parochial di Riola, Italy mengumpulkan
cahaya yang konstan dan dingin dari utara. Selain karena cahaya yang berasal dari utara
juga hampir sama konstannya dengan cahaya matahari dari selatan, cahaya tersebut juga
memberikan kestabilan suhu yang dimana pada musim dingin, cahaya yang dihasilkan lebih
hangat.

Gambar 63. Aplikasi light scoops pada bangunan sekolah Parochial di Riola, Italy
Sumber: Lechner, 1991

Selain penggunaan bukaan horizontal dan vertikal yang telah dijelaskan diatas,
terdapat penggunaan beberapa material yang dapat memaksimalkan cahaya matahari
masuk ke dalam ruang yang merupakan variasi dari bukaan vertikal dasar yaitu light shaft
dan tubular light shaft. Light shaft disini memanfaatkan cahaya pantulan hingga masuk ke
dalam ruang dalam pada lantai yang jauh dari atap. Sedangkan tubular light shaft lebih mirip
fungsi operasionalnya seperti light pipes, namun pada tubular light shafts ini berbentuk lurus.

Gambar 64. Ilustrasi cahaya yang masuk ke dalam bangunan melalui light shaft (kiri) dan
tubular light shaft (kanan)
Sumber: Lechner, 1991

Bangunan teknik sipil/ mineral di Universitas Minnesota menggunakan balok/tiang


pencahayaan siang hari untuk menerangi area bawah tanah bangunan. Bangunan ini
menggunakan heliostat pada bagian atasnya yang untuk mengumpulkan cahaya matahari
ke dalam fibre-optic utnuk menerangi display yang ada di ruang dalam. Prisma pada dinding
memantulkan cahaya jauh masuk ke dalam bangunan. Kemudian glass block tidak hanya
digunakan untuk menerangi kolam yang berada di bawah tanah, namun juga digunakan
sebagai lantai untuk teras di atasnya.

Gambar 65. Aplikasi berbagai sistem pencahayaan alami ke dalam bangunan, yaitu pengumpulan
cahaya di heliostat (kiri atas) lalu dipantulkan melalui prisma pada dinding (kanan atas) dan
Cahaya dapat masuk ke dalam kolam bawah tanah yang ditutupi glassblock (kanan bawah)
Sumber: Lechner, 1991

REFERENCES
Lechner, Norbert. 1991. Heating, Cooling, Lighting, Design Methods For Architect. Wiley
Interscience publication