Anda di halaman 1dari 2

Pemimpin Baru, Ganti rezim, Ganti Sistem!

Indonesia sebagai negara yang diberkahi kekayaan alam yang cukup melimpah menjadi sebuah negara ironi
akibat salah urus. Kemiskinan di Indonesia masih saja menjadi-jadi. Indonesia disebut negara gagal. Dalam
Index Negara Gagal (Failed State Index (FSI) 2012 yang dipublikasikan di Washington DC, Indonesia menduduki
peringkat ke-63 dari 178 negara. Dalam kategori tersebut, Indonesia masuk kategori negara-negara yang
dalam bahaya menuju negara gagal.
Pergantian pemimpin dan wakil rakyat juga tidak membawa perubahan. Berkali-kali pemilu dan pilkada
diadakan, tetap saja ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan masih tinggi. Hasil survei Lembaga
Riset Charta Politica mencatat 67,4 persen orang tidak puas dengan kinerja pemerintah di bidang ekonomi,
58,3 persen tidak puas dengan kinerja di bidang hukum, 48,1 persen tidak puas dengan kinerja bidang
kesehatan, 46,9 tidak puas dengan kinerja di bidang pendidikan, serta 43,5 persen masyarakat tidak puas
dengan kinerja pemerintah di bidang keamanan (okezone.com). Masyarakat berkali-kali menjadi korban.
Sehingga wajar bila angka golput semakin hari semakin tinggi.
Setiap Muslim Wajib Terikat Hukum Syara
Sebagian orang memiliki pemahaman bahwa hukum syara hanya memerintah manusia untuk melakukan
beberapa perbuatan tertentu dan melarang mereka untuk melakukan beberapa perbuatan yang lain. Lebih dari
itu, manusia dipersilahkan untuk melakukan atau meninggalkan segala macam perbuatan apapun di luar halhal yang diperintahkan dan dilarang tanpa perlu dipusingkan oleh status hukum syara atas perbuatan tersebut,
dengan asumsi bahwa tidak ada hukum syara yang melarang atau memerintahkannya.
Pemahaman yang benar adalah, bahwa peran hukum syara bagi kehidupan seorang muslim itu ibarat rel bagi
sebuah kereta api. Kemana pun kereta itu pergi, maka ia tidak boleh berjalan lepas tanpa relnya.
Syariah bukan sekedar perintah dan larangan yg muncul di beberapa tempat tertentu saja, sehingga manusia
tidak perlu memikirkannya ketika perintah dan larangan itu tidak muncul di tempat yang lain, tapi syariah
sebenarnya adalah seperti rel yang harus selalu diperhatikan, dititi, ditaati, dan digunakan sebagai tuntunan
untuk melaksanakan segala urusan. Inilah penggambaran sederhana dari apa yang dimaksud dengan kaidah
hukum asal dari perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum syara.
Dasar dari kaidah ini adalah sebagai berikut:
Pertama: bahwa seluruh amal perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban, dihitung dan dibalas
oleh Allah.Maka demi Tuhanmu, sungguh Kami akan menanyai mereka semua, tentang apa saja yang pernah
mereka lakukan. (Al-Hijr ayat 92 dan 93)
Dua: bahwa Allah-lah yang satu-satunya pihak yang berhak memberikan penilaian atas status perbuatan
manusia pada hari perhitungan, Dialah satu-satunya hakim yang menilai perbuatan manusia, apakah
perbuatan mereka itu tergolong terpuji atau tercela,mendapat pahala ataukah siksa.
Tiga: bahwa Allah telah menurunkan petunjukNya kepada manusia. Meski manusia memiliki akal, namun
manusia tidak mungkin mengetahui standard keputusan Allah, perbuatan mana yang Dia putuskan sebagai
kebajikan dan perbuatan mana pula yang Dia anggap sebagai ketercelaan. Oleh karena itu, penilaian hukum
atas perbuatan manusia, ditinjau dari segi apakah akan mendapat pahala atau justru siksa di akhirat, wajib
diserahkan kepada Allah saja.
Maka barang siapa mengikuti petunjukKu maka dia tidak sesat dan tidak pula celaka. Dan barangsiapa
berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan
menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS. Thaha: 123-124)
Empat: bahwa Allah mewajibkan manusia untuk mengetahui hukum atas segala macam perbuatan yang
mereka lakukan, agar mereka dapat mengatur perbuatan mereka dengan hukum tersebut dan agar mereka
dapat mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan mereka di hadapan Allah pada hari perhitungan.
"Janganlah kalian mengikuti apa-apa yang kalian tidak memiliki pengetahuan tentangnya, sesungguhnya
pendengaran, pengelihatan dan hati itu semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. (QS. Al Isra: 36)
Demikianlah, semua perbuatan manusia harus dijalankan atas dasar hukum Allah, tidak boleh ada yang
dilakukan lepas dari pengaturan hukum syara tersebut. Kerena itu, dapat kita simpulkan bahwa hukum asal
dari perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum syara, bukan mubah atau pun haram.
Kewajiban Pemimpin dalam Islam
Peran negara dalam Islam adalah mengayomi, melayani, dan menjaga kemaslahatan ummat. Diriwayatkan oleh
Imam Muslim dari Abi Hazim yang mengatakan, Aku telah mengikuti majelis Abu Hurairah selama 5 tahun,
pernah aku mendegarnya menyampaikan hadits dari Rasulullah Saw. Yang bersabda,Dahulu, Bani Israil selalu
dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para Nabi. Setiap kali seorang Nabi meninggal, digantikan oleh Nabi
yang lain. Sesungguhnya tidak akan ada nabi sesudahku. (Tetapi) nanti akan ada banyak Khalifah. Para
shahabat bertanya, Apakah yang engkau perintahkan kepada kami? Beliau menjawab, Penuhilah baiat yang
pertama, dan yang pertama itu saja. Berikanlah kepada mereka haknya karena Allah nanti akan menuntut
pertanggungjawaban mereka terhadap rakyat yang dibebankan urusannya kepada mereka. (HR. Muslim)

Dan untuk memastikan pemerintahan negara berjalan dengan baik diperlukan sosok pemimpin. Menurut Ibn
Taimiyyah (661/1262-728/1328), mengangkat seorang pemimpin komunitas (imam) adalah kewajiban mutlak
dengan berdasar pada hadits Jika ada tiga orang berangkat bepergian, hendaklah satu dari mereka menjadi
pemimpin (HR. Abu Daud). Pentingnya peran negara ini membuat para ulama tidak memperbolehkan keadaan
tanpa pemimpin (vacuum of power) yang berlarut-larut. Bahkan dalam suatu riwayat disebutkan bahwa
jenazah Rasulullah baru dimakamkan setelah 2 hari 3 malam karena kaum Anshar dan Muhajirin sibuk
berdiskusi menentukan pemimpin ummat Islam yang selanjutnya. Hal ini semakin menegaskan betapa
pentingnya keberadaan pemimpin ummat.
Islam juga mewajibkan penguasa untuk menjalankan roda pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah
Rasulullah. Sebab, kekuasaan itu disyariatkan untuk menegakkan dan menerapkan hukum-hukum Allah.
Kekuasaan dan pemerintahan tidak disyariatkan semata-mata untuk menciptakan kemashlahatan di tengahtengah masyarakat, akan tetapi, ditujukan untuk melaksanakan hukum-hukum Allah. Untuk itu, setiap
persoalan harus dipecahkan berlandasarkan hukum Allah.
Islam juga memberi hak kepada penguasa untuk melakukan ijtihad, menggali hukum-hukum dari dua sumber
hukum tersebut. Islam melarang penguasa mempelajari (untuk diterapkan) aturan-aturan selain Islam, atau
mengambil sesuatu selain dari Islam. Hukum yang diberlakukan untuk mengatur urusan kenegaraan dan
rakyat, hanyalah hukum yang bersumber dari Al-Kitab dan Al-Sunnah. Bukti yang menunjukkan hal ini
sangatlah banyak, diantaranya adalah firman Allah berikut:
Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka
mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al Maidah : 44-45)
Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orangorang yang fasik. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Dan hendaklah
kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati- hatilah kamu kepada mereka supaya mereka tidak memalingkan
kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. (QS. Al Maidah : 47-49)
Ganti Demokrasi Dengan Islam
Demokrasi meletakkan kedaulatan hukum di tangan manusia. Sistem ini sejatinya sebuah bentuk diktatorisme
gaya baru yang berbalut kedaulatan rakyat. Demokrasi selalu mengatasnamakan rakyat demi memeras
rakyat. Dalam demokrasi, wakil rakyat dan penguasa terpilih selalu terikat transaksi antara mereka dengan
para pemilik modal yang nantinya akan bekerja sama untuk mengeruk kekayaan Indonesia dan menggerogoti
uang rakyat.
Sistem ini menjadikan standar untung-rugi sebagai asas dalam menetapkan setiap kebijakan di negeri ini.
Betapa tidak, banyak kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan DPR yang sejatinya memuluskan langkah kapitalis
untuk menguasai kekayaan negeri, diantaranya UU Minerba, UU Migas, UU Sumber Daya Air, UU Penanaman
Modal, dan sebagainya. Sebelas tahun setelah Presiden AS, Abraham Lincoln meninggal dunia, 1976, Presiden
AS Rutherford B. Hayes mengatakan bahwa kondisi di Amerika Serikat pada waktu itu adalah from company,
by company, and for company. Demokrasi telah menjadi alat para pemilik modal untuk tetap melanggengkan
kekuasaannya.
Demokrasi juga menjadi sistem yang mahal. Miliaran rupiah selalu digelontorkan demi sebuah kursi di
parlemen dan kepemimpinan. Mendagri Gamawan Fauzi mengutarakan bahwa minimal biaya calon Bupati
adalah Rp 20 M, bahkan hingga 100 sampai 150 M. Untuk mencalonkan sebagai anggota DPR bisa sampai Rp 6
M. Alhasil DPR pun disematkan predikat lembaga terkorup. Berdasarkan survei, lembaga legislatif mendapat
prosentase 78%, sedangkan yudikatif 70%, dan eksekutif 32% (mediaindonesia, 21/4).
Segala bentuk keterpurukan yang dialami oleh Indonesia memang karena menerapkan sistem jahiliah buatan
manusia. Manusia sebagai makhluk yang lemah tidak bisa dibandingkan dengan Tuhan sebagai pembuat
hukum. Alhasil, hanyalah kerusakan yang nampak ketika demokrasi diterapkan.
(QS Ar Rum 41)
Islam telah memberi solusi untuk segala permasalahan manusia. Dalam Islam, kedaulatan hukum hanya ada di
tangan Allah SWT. Islam memberi solusi bagi sistem politik, ekonomi, pendidikan, industri, persanksian, hukum,
dan lain sebagainya. Penerapan syariat Islam telah memberi bukti nyata ketika dulu berdiri Daulah Islam dari
zaman Nabi Muhammad SAW yang dilanjutkan khalifah-khalifah setelahnya selama 13 abad.
(QS Al Maidah 50)
Wallahualam bish shawwab []