Anda di halaman 1dari 14

Tugas MG-684

Manajemen Pemasaran
22 Immutable Laws of Marketing

Disusun Oleh:
Evelin Merlians / 1514007
Anita Silvia Tanuwijaya / 1514021

INSTITUT TEKNOLOGI HARAPAN BANGSA


DEPARTEMEN TEKNIK INDUSTRI
BANDUNG
2017

22 IMMUTABLE LAWS OF MARKETING


1. The Law of Leadership (Hukum Kepemimpinan)
Banyak yang percaya bahwa dasar dari pemasaran adalah memiliki prospek
bahwa produk atau jasa yang kita miliki lebih unggul dari pada yang lain. Jika kita
punya saham yang kecil dan kita harus mempunyai saham yang lebih besar agar
finansial kita lebih baik dari pada kompetitor. Tetapi itu semua salah.
Hal mendasar di dalam pemasaran adalah membuat sesuatu dimana kita menjadi
yang pertama. Ini merupakan hukum kepemimpinan. Lebih baik menjadi yang
pertama dari pada menjadi yang lebih baik, lebih mudah untuk diingat jika menjadi
yang pertama dibandingan untuk meyakinkan seseorang bahwa produk yang kita miliki
adalah lebih baik dari pada produk yang pertama kali ada.
Orang lebih mengingat yang pertama, misalnya untuk alat cukur orang
mengingatnya dengan merk Gillette, untuk minuman bersoda berwarna hitam orang
mengenalnya dengan Coca Cola meskipun sebenarnya yg ada pada saat itu adalah
Pepsi-Cola. Hal ini terjadi karena orang mengingat merk yang pertama kali ada.

2. The Law of The Category (Hukum Kategori)


Dalam meluncurkan produk baru, hal yang utama adalah produk tersebut
pertama dalam hal apa, bukan produk tersebut lebih unggul dari pada siapa, seperti yang
telah dibahas pada hukum pemasaran yang pertama yakni hukum kepemimpinan. Jika
kita tidak dapat menjadi yang pertama dalam suatu kategori maka buatlah
kategori baru yang menjadikan kita yang pertama. Jika ditanya mengenai
penerbang solo pertama yang menyebrangi Atlantik, sebagian besar orang pasti ingat
dengan Lindenberg, sedangkan jika ditanya penerbang solo kedua yang menyebrangi
Atlantik belum tentu semua tahu, karena yang diingat adalah yang pertama. Sedangkan
kalau dilihat dari kategori jenis kelamin, ada penerbang wanita solo pertama yang
menyebrangi Atlantik tentu sebagian besar orang tahu yakni Amelia Earhart adalah
orangnya.

3. The Law of The Mind (Hukum Ingatan)


Menjadi yang pertama di ingatan konsumen adalah segalanya dalam pemasaran.
Pemasaran berbicara soal presepsi, bukan produk. Memiliki ide atau konsep adalah
solusinya, akan tetapi hal itu tidak mudah, hal yang menjadi penyebabnya adalah biaya.

Dalam hal ini dimaksudkan untuk sumber daya yang merancang produk atau jasa
ditambah menghadiri pameran, menjalani iklan, dan lain lain yang membutuhkan biaya
yang tidak sedikit. Akan tetapi jika sekalinya seseorang sudah mengingat sesuatu yang
telah dibangun dalam pikirannya, itu sangat sulit bahkan tidak bisa diubah. Artinya,
memikirkan cara untuk melekat pada ingatan konsumen merupakan jalan yang efisien
dan produktif untuk pemasaran. Lebih baik menjadi yang pertama dalam ingatan
daripada menjadi yang pertama di tempat penjualan. Sebagai contoh, upaya
komputer Apple masuk ke dalam ingatan calon pelanggan dibantu oleh namanya yang
sederhana dan mudah diingat.

4. The Law of Perception (Hukum Persepsi)


Banyak orang berpikir pemasaran adalah pertempuran produk, produk yang
terbaiklah yang akan menang. Tidak ada produk yang terbaik, yang ada dalam dunia
pemasaran hanyalah presepsi dalam ingatan pelanggan atau calon pelanggan. Produkproduk yang paling sukses adalah yang membuat presepsi yang benar dalam pikiran
calon pelanggan. Ingatan pelanggan atau calon pelanggan sangat sulit dirubah. Dengan
sedikit pengalaman dalam suatu kategori produk, seorang konsumen dapat menganggap
dirinya benar. Pemasaran bukan merupakan pertarungan produk, melainkan
pertarungan presepsi. Yang membuat pertarungan lebih sulit adalah para pelanggan
sering membuatt keputusan untuk membeli bedasarkan presepsi tangn kedua. Dari pada
menggunakan presepsi mereka sendiri, mereka mengambil keputusan membeli
bedasarkan presepsi realita milik orang lain.

5. The Law of Focus (Hukum Fokus)


Suatu perusahaan dapat dikatakan sukses jika berhasil mencari cara untuk
membuat kata yang teringat dalam ingatan calon konsumen. Bukan kata yang rumit.
Kata yang sederhana lebih baik. Ini adalah hukum fokus. Anda membakar pikiran
dengan berfokus kepada sepatah kata atau konsep. Konsep yang paling kuat dalam
pemasaran adalah memiliki sepatah kata dalam ingatan calon pelanggan. Sebagai
contoh, Kentucky Fried Chicken (KFC) dikenal dengan jagonya ayam, Toserba Yogya
dikenal dengan belanja hemat? Ya Yogya, dan lain lain.

6. The Law of Exclusivity (Hukum Ekslusif)


Ketidakberhasilan akan berhasil dalam pemasaran apabila kata yang dipilih itu
berasal dari kata yang dimiliki oleh produk lain yang sudah dikenal. Kita tidak dapat
mengubah pikiran orang jika pikiran tersebut telah terbentuk. Pada kenyataannya, jika
kita mencoba dan mencuri kata yang dimiliki oleh kompetitor, upaya pemasaran
tersebut akan berakhir pada memperkuat posisi kompetitor. Dua perusahaan tidak
dapat memiliki kata yang sama dalam pikiran calon pelanggan.

7. The Law of The Ladder (Hukum Tangga)


Setiap produk yang ada pasti berbeda-beda, ada pemikiran sendiri dalam
pikiran calon pelanggan. Strategi pemasaran kita bergantung seberapa cepat kita masuk
ke dalam pikiran calon pelanggan dan berada di posisi mana anak tangga yang ditempati
oleh produk atau jasa kita. Strategi yang digunakan bergantung pada anak tangga
yang kita tempati pada tangga. Pikiran sifatnya selektif, calon pelanggan
menggunakan tangga mereka dalam memutuskan informasi yang akan deterima
maupun ditolak. Sebelum memulai program pemasaran, perlu ada pengajuan
pertanyaan berada di posisi atau anak tangga manakah produk kita pada pikiran calon
pelanggan.

8. The Law of Duality (Hukum Dualitas)


Untuk kategori produk yang baru, akan ada beberapa anak tangga dari tangga
di pikiran konsumen. Seiring berjalannya waktu, biasanya akan ada perjuangan matimatian antar dua pemain yakni antara merek lama yang terpercaya dan merek baru yang
naik daun sehingga terdapat dua anak tangga dalam satu anak tangga. Untuk jangka
panjang, setiap pasar menjadi perlombaan antara dua kuda. Dengan pemikiran ini,
perusahaan yang tidak mendominasi dalam industri mereka harus bekerja keras agar
dapat menempati posisi kedua tersebut.

9. The Law of The Opposite (Hukum Lawan)


Ketika melihat konsumen dalam mengkategorikan produk, ada 2 jenis orang.
Ada yang mau membeli melihat dari tangga dan ada juga yang tidak
mempermasalahkan tangga tersebut. Pilihan produk nomor 2 dalam suatu kategori
produk dapat diartikan dimana yang memimpin adalah yang terkuat. Sebuah
perusahaan seharusnya mengungkit kekuatan perusahaan yang terkemuka menjadi

suatu kelemahan, perlu dianalisa bagaiman mengubah kekuatan tersebut menjadi


kelemahan. Kita harus menemukan hal yang utama dari perusahaan yang unggul
tersebut dan kemudian menyuguhkan kepada calon pelanggan hal yang sebaliknya,
dengan kata lain mencoba untuk tampiil berbeda bukan mencoba lebih baik. Jika kita
ingin menduduki tempat kedua, strategi ditentukan oleh merek yang teratas.

10. The Law of Division (Hukum Pembagian)


Kategori asli dapat terbagi menjadi sekmen-sekmen, setiap sekmen adalah
terpisah, berbeda entitas. Dalam masing-masing sekmen ada yang lebih unggul, dimana
jarang sama seperti yang unggul dari kategori yang asli. Kesalahan yang bisa terjadi
adalah ketika perusahaan mencoba mengambil nama merek yang sama dalam kategori
lain. Seiring dengan waktu, suatu kategori akan terbagi dan menjadi dua kategori
atau lebih. Sebagai contoh, perusahaan Unilever dimana produknya terbagi menjadi
sekmen-sekmen, ada sekmen makanan, alat kebersihan, dan lain-lain. Setiap sekmen
memiliki produk unggulan masing-masing.

11. The Law of Perspective (Hukum Perspektif)


Dalam mengembangkan dan menerapkan program marketing yang efektif, hasil
jangka panjang perlu menjadi fokus utama, bahkan jika hasil jangka pendek dapat
melukiskan gambar palsu sementara. Sebagai contoh, memberikan program diskon
akan membuat penjualan jangka pendek. Dalam jangka panjang, akan membangun
pemikiran konsumen dan memberi pelajaran pada konsumen itu sendiri bahwa mereka
jangan membeli produk dengan harga normal, lebih baik menunggu diskon saja.
Dengan kata lain, harus mengatur sebaik mungkin agar diskon terus tersedia bukan
untuk meningkatkan penjualan, tetapi untuk menjaga agar penjualan tidak merosot.
Dampak pemasaran terjadi setelah melewati suatu periode waktu yang
diperpanjang.

12. The Law of Line Extension (Hukum Perluasan Lini)


Hukum perluasan lini ini adalah hukum yang paling banyak dilanggar. Contoh
nyatanya adalah perusahaan IBM, di mana bertahun-tahun lalu IBM hanya fokus pada
mainframe komputer dan mencapai kesuksesan besar. Namun sekarang IBM mencoba
menjual berbagai macam produk dan justru jarang mencapai titik impas pendapatan.

Ketika sebuah perusahaan menjadi sangat sukses, hal tersebut selalu


menanamkan bibit-bibit permasalahan di masa depan. Karena ketika kita mencoba
untuk menjadi segalanya bagi semua orang, maka kita akan berakhir dalam kesulitan.
Salah satu manager mengatakan saya lebih suka menjadi kuat di suatu tempat,
daripada lemah di mana-mana.
Dalam arti sempit, perluasan lini melibatkan pengambilan nama merek produk yang
sukses dan meletakkannya pada produk baru yang berencana kita kenalkan. Ada
tekanan yang tak tertahankan untuk memperluas ekuitas merek. Padahal
pemasaran adalah pertarungan mengenai persepsi, bukan produk.
Dalam jangka panjang dan dalam kompetisi serius, perluasan lini hampir tidak
pernah berhasil. Selalu, pemimpin dari setiap kategori adalah merek yang tidak
mengalami perluasan lini. Management tertinggi percaya bahwa perluasan lini akan
berhasil karena dibutakan oleh kesetiaan masyarakat kepada suatu merek, padahal
perluasan lini biasanya hanya berhasil dalam jangka waktu pendek. Semakin banyak
produk, semakin banyak pasar, semakin banyak kerja sama antar perusahaan, namun
semakin sedikit uang yang dihasilkan. Terlihat seperti melakukan kecepatan penuh
pada berbagai arah.
Jika kita ingin menjadi sukses, kita harus mempersempit fokus untuk
membangun posisi dalam pikiran calon pelanggan.

13. The Law of Sacrifice (Hukum Pengorbanan)


Hukum pengorbanan merupakan lawan dari hukum perluasan lini. Jika kita
ingin sukses hari ini, maka kita harus mengorbankan sesuatu. Ada tiga hal yang
dikorbankan : lini produk, target pasar, dan perubahan konstan.
Pertama lini produk, jika kita ingin sukses, kita harus mengurangi lini produk
kita, bukan mengembangkannya. Contoh Emery Air Freight. Emery berada di bisnis
jasa angkutan udara. Apapun yang ingin kita kirim baik paket kecil atau paket besar,
dapat dikirimkan via Emery dengan layanan pengiriman satu malam atau pengiriman
beberapa hari. Namun Federal Express berkonsentrasi pada satu layanan saja, yaitu
pengiriman paket kecil dalam satu malam. Saat ini Federal Express adalah perusahaan
yang jauh lebih besar dari Emery.
Kekuatan dari pengorbanan yang dilakukan Federal Express adalah mampu
menanamkan gagasan semalam dalam benak pelanggan. Namun setelah hal tersebut
sukses, Federal Express mengikuti jejak Emery dengan meninggalkan posisi gagasan

semalam dan melakukan pengiriman internasional yang lebih dari satu malam. Hanya
dalam 21 bulan, Federal Express mengalami kerugian sebesar 1,1 juta dolar untuk
operasi pengiriman internasional. Pemasaran adalah permainan dari perang mental. Ini
adalah pertempuran persepsi, bukan produk atau jasa.
Pengorbanan kedua, target pasar. Pada 50 tahun terakhir Coca Cola memiliki
posisi yang kuat di pikiran pelanggan serta memiliki penjualan tertinggi. Lalu munculah
Pepsi yang menggunakan strategi mengorbankan segalanya kecuali pasar remaja untuk
bersaing. Kemudian strategi tersebut dieksploitasi secara brilian dengan menyewa
Michael Jackson, Lionel Richie, dan Don Johnson sebagai ikon mereka. Saat ini,
penjualan Pepsi hanya tertinggal 10% dari penjualan Coca Cola.
Pengorbanan ketiga, perubahan konstan. Jika kita mencoba untuk mengikuti
perubahan pasar dan melakukan perubahan strategi setiap tahun, pada akhirnya kita
akan keluar dari jalur. Cara terbaik untuk mempertahankan posisi yang konsisten adalah
jangan sekali-kali mengubahnya.
Kita harus memberikan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Hal baik
datang kepada mereka yang mau berkorban.

14. The Law of Attributes (Hukum Atribut)


Kita tidak dapat memiliki kata-kata atau posisi yang sama atau mirip seperti
yang dimiliki oleh kompetitor kita. Kita harus mencari dan menemukan atribut lain
untuk menjadi milik kita. Pemasaran adalah pertempuran antar gagasan. Jadi, jika kita
ingin berhasil, kita harus memiliki atribut kita sendiri dan ke arah itulah segala upaya
difokuskan.
Contohnya IBM terkenal dengan atributnya yaitu big and powerfull
sedangkan Boston memulai usahanya dengan atribut small dan membuat
minicomputer. Dan saat ini, small computer justru lebih dikenal di pasaran. Untuk
setiap atribut, ada atribut yang berlawanan dan efektif.
Tugas pemasaran adalah untuk menggunakan atribut yang berbeda dan
mendramatisir nilai atribut tersebut, dengan demikian kita dapat meningkatkan
pemasaran.

15. The Law of Candor (Hukum Keterusterangan)


Mengakui sebuah masalah bukanlah sifat alami manusia. Sehingga hal tersebut
bisa menjadi kejutan bahwa cara yang paling efektif untuk masuk dalam pikiran calon

pelanggan adalah mengakui hal yang negatif di awal lalu mengubahnya menjadi positif.
Setiap pernyataan negatif yang kita akui akan langsung diterima menjadi kebenaran,
sedangkan pernyataan positif sering kali dipandang meragukan, terutama dalam iklan.
Ketika

Listerine

memasarkan

produknya,

mereka

tidak

mencoba

menyembunyikan bahwa rasa Listerine sebenarnya tidak enak. Justru Listerine muncul
dengan hukum keterusterangan yang mengatakan The taste you hate twice a day. Hal
tersebut menimbulkan gagasan bahwa Listerine mampu membunuh banyak kuman
karena calon pelanggan membayangkan dan percaya bahwa segala sesuatu yang
rasanya seperti obat desinfektan pasti dapat membunuh kuman. Ketika kita mengakui
segi negatif, calon pelanggan akan memberikan segi positif.
Hukum keterusterangan harus digunakan dengan hati-hati dan dengan
kemampuan yang baik. Karena tujuan keterusterangan bukanlah meminta maaf, tetapi
menyatakan adanya suatu manfaat yang akan meyakinkan calon pelanggan. Segi
negatif harus disetujui oleh pikiran calon pelanggan dan bukannya membingungkan.
Setelah itu kita harus cepat beralih ke segi positif. Kejujuran adalah kebijakan terbaik.

16. The Law of Singularity (Hukum Ketunggalan)


Kesuksesan bukanlah jumlah total dari banyak upaya kecil yang terlaksana
dengan baik. Sejarah mengajarkan bahwa satu-satunya cara yang berhasil dalam
pemasaran adalah sebuah tembakan yang tegas. Dalam setiap situasi, hanya satu
tindakan yang akan membuahkan hasil-hasil yang substansial. Karena menemukan
satu saja sulit. Menemukan lebih dari satu tindakan yang tegas biasanya tidak mungkin.
Dalam pemasaran, sering kali pesaing hanya memiliki satu kelemahan. Dan
tempat tersebut yang harus menjadi fokus dari seluruh tindakan berani yang kita
lakukan. Sehingga menjadi jalan yang paling tidak terduga. Untuk menemukan ide
atau konsep tunggal, manajer pemasaran harus tahu apa yang sedang terjadi di pasar.
Mereka harus turun dan dilibatkan secara langsung dalam pertempuran. Mereka harus
tahu apa yang akan berhasil dan apa yang tidak.

17. The Law of Unpredictability (Hukum Ketidakpastian / Hukum Tidak Terduga)


Yang paling sering tersirat dari rencana pemasaran adalah asumsi tentang masa
depan. Namun rencana pemasaran berdasarkan apa yang akan terjadi di masa depan
biasanya salah. Kegagalan untuk meramal reaksi kompetitif merupakan alasan utama
bagi kegagalan pemasaran.

Ada perbedaan nyata di antara memprediksi masa depan dan mengambil


kesempatan di masa depan. Tidak ada satu pun orang yang mampu memprediksi masa
depan dengan berapa pun derajat kepastian. Karena akan selalu ada ketidakpastian.
Walaupun kita tidak dapat memprediksi masa depan, kita dapat mengendalikan tren
atau kecenderungan, dan ini merupakan cara untuk mengambil keuntungan dari adanya
perubahan.
Kecuali jika kita menulis rencana-rencana pesaing kita, kita tidak dapat
memprediksi masa depan.

18. The Law of Success (Hukum Kesuksesan)


Ego adalah musuh dari pemasaran yang sukses karena yang dibutuhkan adalah
keobyektifan. Ketika orang-orang menjadi sukses, mereka cenderung menjadi kurang
obyektif. Mereka sering memasukkan penilaian mereka sendiri untuk apa yang
diinginkan pasar.
Kesuksesan sering kali menjadi unsur yang fatal dibalik perluasan lini. Ketika
sebuah merek berhasil, perusahaan berasumsi bahwa nama adalah alasan utama untuk
keberhasilan merek. Padahal, nama saja tidak membuat merek terkenal, merek menjadi
terkenal karena kita membuat gerakan pemasaran yang tepat. Dengan kata lain,
langkah-langkah yang kita ambil selaras dengan hukum-hukum dasar pemasaran. Di
mana kita berhasil menguatkan posisi kita di pikiran calon pelanggan, lalu
mempersempit fokus dan memiliki atribut yang kuat.
Seorang marketer yang brilian memiliki kemampuan untuk berpikir seperti
calon pelanggan berpikir. Mereka tidak bersikap dengan cara pandang mereka sendiri
karena yang paling penting dalam pemasaran adalah persepsi pelanggan.
Perusahaan-perusahaan seperti General Motors, Sears, dan IBM menjadi arogan
ketika mencapai kesuksesan. Mereka merasa bahwa mereka dapat melakukan apapun
yang mereka inginkan di dalam pasar. Dan hal tersebut membawa mereka dalam
kegagalan. Kesuksesan sering kali membawa keangkuhan, dan keangkuhan
membawa kegagalan.

19. The Law of Failure (Hukum Kegagalan)


Ketika terjadi suatu kesalahan, strategi yang baik adalah dengan mengakuinya
lalu membuat perubahan yang diperlukan untuk memperbaikinya. Pendekatan tanpa
ego merupakan faktor utama yang membuat orang Jepang menjadi pemasar-pemasar

yang pantang menyerah. Bukan berarti mereka tidak berbuat salah, namun ketika
mereka berbuat demikian, mereka mengakuinya, memperbaikinya dan tetap tampil.
Kegagalan harus diharapkan dan diterima.
Wal-Mart memiliki pendekatan lain untuk menerima kegagalan di mana orangorang yang bekerja di Wal-Mart tidak dihukum jika eksperimen mereka gagal namun
justru diberikan penghargaan untuk mereka yang telah mencoba melakukan sesuatu.
Kini Wal-Mart menjadi perusahaan besar yang sukses.

20. The Law of Hype (Hukum Promosi Berlebihan)


Ketika segalanya berjalan dengan baik, suatu perusahaan tidak membutuhkan
promosi berlebihan. Bila kita membutuhkan promosi berlebihan, biasanya itu berarti
kita sedang dalam kesulitan. Situasi yang terjadi sering kali berlawanan dengan apa
yang ditampilkan dalam pers.
Karena kita tidak dapat memprediksi masa depan, maka sekalipun kita
melakukan pemasaran berlebihan, belum tentu produk tersebut akan mengalami
penjualan yang fantastis. Satu-satunya revolusi yang dapat diprediksi adalah hasil dari
sesuatu yang sudah kita mulai. Selama bertahun-tahun sensasi yang besar sering kali
terjadi pada mereka yang berhasil mengubah industri dan mengembangkannya menjadi
sebuah revolusi yang menarik. Dan revolusi yang sebenarnya tidak datang dengan
promosi yang berlebihan, namun datang dengan diam-diam namun bernilai.

21. The Law of Acceleration (Hukum Akselerasi)


Program yang sukses tidak dibangun pada kegemaran, mereka dibangun
di atas kecenderungan. Sebuah kegemaran adalah fenomena jangka pendek yang
mungkin menguntungkan, namun kegemaran tidak bertahan cukup lama untuk
kebaikan perusahaan. Karena ketika kegemaran ditinggalkan masyarakat, maka sulit
bagi perusahaan untuk bertahan.
Lupakan kegemaran, dan ketika kegemaran tersebut muncul, cobalah untuk
memperkecilnya. Satu cara untuk mengatur sebuah permintaan jangka panjang untuk
produk kita adalah dengan tidak pernah sepenuhnya memuaskan permintaan. Seperti
pihak produsen boneka Barbie yang tidak pernah diperdagangkan secara besar-besaran.
Hasilnya, boneka Barbie menjadi kecenderungan jangka panjang dalam bisnis mainan.
Dan kecenderungan jangka panjang adalah hal terbaik dalam pemasaran.

22. The Law of Resources (Hukum Sumber Daya)


Meskipun kita memiliki ide yang terbaik, kita tidak akan dapat mewujudkannya tanpa
uang. Pemasaran adalah sebuah permainan yang diperjuangkan di dalam pikiran calon
pelanggan. Kita membutuhkan uang untuk bisa masuk ke dalam pemikiran itu dan kita
juga memerlukan uang untuk bisa bertahan dalam pikiran sekali kita masuk ke sana.
Sering kali kita berpikir bahwa iklan adalah jalan termudah untuk masuk dalam pikiran
calon pelanggan, namun faktanya iklan sangat mahal. Jadi, jika kita ingin sukses maka
kita perlu menggunakan ide kita untuk mencari uang agar kita dapat melakukan
pemasaran. Tanpa pendanaan yang memadai, suatu gagasan tidak akan dimulai.

Tiga dari dua puluh dua hukum pemasaran yang menjadi favorit Evelin Merlians (1514007)
diurutkan dari yang paling favorit adalah:
1. The Law of Perspective (Hukum Perspektif) Hukum ke-11
Hukum perspektif menjadi favorit saya karena setelah membaca dan memahami
mengenai hukum perspektif ini saya seakan disadarkan, bahkan bisa dikatakan saya
menjadi konsumen yang tersangkut hukum perspektif ini khususnya ketika ingin
berbelanja produk kecantikan milik salah satu merek yang sering memberikan diskon.
Saya tidak akan membelinya jika tidak ada diskon, karena sebagai konsumen yang
sering membeli produk ini saya telah mengetahui bahwa produk tersebut pasti akan
diskon di periode tertentu. Hukum perspektif ini mengajarkan saya ke depannya apabila
ingin membangun bisnis, jangan sampai bisnis ini membuahkan konsumen dengan
pola pikir terhadap produk yang saya pasarkan seperti layaknya pola pikir saya kepada
produk kecantikan milik salah satu merek tersebut. Diskon adalah untuk menjaga
penjualan tidak merosot bukan untuk meningkatkan penjualan.

Karena dampak

pemasaran terjadi setelah melewati suatu periode waktu yang diperpanjang.


2. The Law of Leadership (Hukum Kepemimpinan) Hukum ke-1
Hukum kepemimpinan ini menjadi favorit saya. Karena sebagai orang yang
tidak mengetahui secara mendalam

mengenai ilmu pemasaran, pemikiran saya

sebelum membaca hukum yang pertama ini tepat sama dengan pemikiran yang salah.
Selama ini ketika saya berpikir dan berangan-angan mengenai bisnis yang ingin saya
bangun, dan pemikiran berfokus kepada bagaimana caranya agar bisa menyisihkan
saingan yang tentu kelasnya bisa dibilang sangat tinggi lebih unggul karena sudah ada
lebih dahulu dan ketika saya masih di tahap berpikir. Tidak pernah saya berfokus pada
pemikiran produk baru yang belum ada, karena memang hal itu lebih sulit untuk
dipikirkan mengingat membutuhkan ide dan kreativitas yang tinggi. Apalagi untuk
jaman sekarang ini, hampir semua produk telah ada, akan tetapi saya yakin masih ada
peluang. Akan tetapi setelah mengetahui mengenai hukum yang pertama ini dalam
pemasaran, saya akan belajar mengubah pola pikir saya untuk menjadi yang pertama
dari pada menjadi yang lebih baik.

3. The Law of Hype (Hukum Promosi Berlebihan) Hukum ke-20


Hukum promosi berlebihan ini juga menjadi salah satu favorit saya dari 22
hukum yang ada. Karena meski pemasaran itu mempengaruhi penjualan nantinya, tidak
ada gunanya jika kita melakukan promosi yang berlebihan yang membutuhkan biaya
yang sangat besar apabila produk atau jasa yang kita tawarkan kurang bermutu.
Konsumen mungkin akan datang ketika sedang dalam program promosi berlebihan
tersebut, akan tetapi ketika periode tersebut berakhir, jika produk atau jasa yang
dipasarkan tersebut tidak memenuhi kriteria konsumen maka konsumen akan lari
dengan sendirinya. Jika produk atau jasa yang kita tawarkan bermutu konsumen pasti
akan beralih kepada produk kita meski tidak dengan mengadakan promosi berlebihan.

Tiga dari dua puluh dua hukum pemasaran yang menjadi favorit Anita Silvia Tanuwijaya
(1514021) diurutkan dari yang paling favorit adalah :
1. The Law of Sacrifice (Hukum Pengorbanan) Hukum ke-13
Saya selalu percaya bahwa kesuksesan tidak akan didapatkan secara cumacuma. Maka dari itu hukum pengorbanan ini menjadi favorit saya. Saya sangat setuju
bahwa untuk mendapatkan sesuatu maka kita perlu melakukan dan mengorbankan
sesuatu juga. Melalui hukum ini juga saya belajar untuk tidak menjadi tamak atau
menginginkan segala hal dalam waktu bersamaan. Bahkan jika saya mampu
memperkuat posisi saya di pikiran pelanggan dan fokus dengan hal tersebut,
pengorbanan yang saya lakukan akan memperoleh hasil yang sepadan atau lebih.
2. The Law of Candor (Hukum Keterusterangan) Hukum ke-15
Jika saya menempatkan posisi saya sebagai pelanggan, saya akan lebih mudah
percaya pada hal negatif yang disampaikan secara terus-terang dalam iklan-iklan
daripada hal-hal positif yang belum tentu terbukti. Hal tersebut yang membuat hukum
keterusterangan pemasaran ini menjadi pilihan saya. Setelah saya memahami hukum
ini, saya mengerti bahwa pihak yang memasarkan hanya akan menyampaikan hal
negatif bila mereka sudah memiliki cara untuk mengubahnya ke arah yang positif. Oleh
karena itu, saya pikir calon pelanggan akan lebih bersimpati jika mereka sudah percaya
di awal. Dan bila memang benar produk tersebut memiliki nilai positif dan dapat
memenuhi kebutuhan calon pelanggan, hal negatif di awal tidak akan menggoyahkan
pikiran calon pelanggan yang sudah yakin pada hal positifnya.
3. The Law of Perception (Hukum Presepsi) Hukum ke-4
Hukum persepsi ini menjadi hukum favorit saya yang ketiga karena setelah saya
membaca semua hukum, saya mengerti bahwa pemasaran adalah pertarungan mengenai
persepsi dalam ingatan pelanggan, jadi hukum ini adalah hukum

yang

pengaplikasiannya sangat nyata menurut saya. Jika saya menjadi pihak yang
memasarkan, maka saya akan berusaha untuk menanamkan persepsi yang kuat dengan
atribut-atribut yang ada. Karena sejatinya setiap produk memiliki kelemahan dan
kekuatannya masing-masing. Tetapi dari sudut pandang pelanggan, produk yang saya
percaya mampu memenuhi kebutuhan saya adalah produk yang akan saya beli.