Anda di halaman 1dari 4

JAWA POS NASIONAL

Dana Pensiun Hanya Wajib untuk Perusahaan Menengah


ke Atas
6/07/15, 07:00 WIB

JAKARTA
Permasalahan
dalam
regulasi baru Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan
terus berlanjut. Terutama aturan dana
pensiun dan jaminan hari tua (JHT)
yang terus memancing pro-kontra.
Salah satunya ketentuan yang hanya
mewajibkan perusahaan menengah ke
atas untuk membayar iuran dana
pensiun.
Hal itu disampaikan Kepala Divisi
Komunikasi
BPJS
Ketenagakerjaan
Abdul Kholik. Menurut dia, ketentuan
tersebut tercantum dalam peraturan
pemerintah (PP) terkait dana pensiun
yang berlaku sejak 1 Juli. Dalam
aturan itu, iuran dana pensiun

diwajibkan
untuk
perusahaan
menengah ke atas. Sementara itu,
perusahaan kategori mikro dan kecil
bebas dari obligasi tersebut.
Kalau perusahaan mikro dan kecil,
iuran secara sukarela saja. Kategori ini
dibagi berdasar aset perusahaan dan
omzet. Kalau ternyata perusahaan
kecil bertumbuh jadi menengah, tetap
wajib, ujarnya di Jakarta kemarin
(5/7).
Sayang, Abdul mengaku tidak hafal
betul kriteria golongan perusahaan
mikro sampai yang besar. Yang jelas,
dia mengungkapkan bahwa iuran saat
ini ditetapkan 3 persen dari gaji
pekerja. Tanggungan itu dibagi kepada

perusahaan 2 persen dan pekerja 1


persen.
Dalam simulasi pemerintah, lanjut dia,
besaran iuran tersebut cukup untuk
menjamin manfaat pensiun sebesar 40
persen dari rata-rata gaji terakhir.
Dalam hal ini, BPJS Ketenagakerjaan
menggunakan sistem manfaat pasti.
Sistem tersebut mirip dengan iuran
BPJS Kesehatan yang dikumpulkan dan
disalurkan kepada orang yang sudah
pensiun.
Manfaat itu sudah pasti dipenuhi
BPJS. Karena dana yang bakal
digunakan
bukan
hanya
dari
pembayar
iuran
sekarang.
Tapi,
pembayar iuran lain di masa depan,
terangnya.
Ketentuan tersebut ditolak keras oleh
pihak buruh. Ketua Serikat Pekerja
Nasional
(SPN)
Iwan
Kusmawan
mengatakan, hal itu menunjukkan
adanya
diskriminasi
antarkelas
pekerja. Dia mengatakan, semua
pekerja
seharusnya
mendapatkan
fasilitas secara merata. Apalagi,
fasilitas itu diatur oleh pemerintah
Indonesia.
Saya jujur baru tahu kalau ternyata
perusahaan
kecil
tak
wajib
mendaftarkan pekerjanya ke dana
pensiun. Kalau benar seperti itu,
berarti peraturan pemerintah ini cacat.
Karena
ini
merupakan
bentuk
diskriminasi
terhadap
pekerja,
terangnya.
Dengan perkembangan tersebut, Iwan
menyatakan
terus
kukuh
untuk
mengajukan judicial review terhadap
peraturan pemerintah baru itu. Hal

tersebut bakal dilakukan beberapa


serikat pekerja yang tergabung dalam
Aliansi Gerakan Buruh Indonesia (GBI).
JHT Juga Jadi Sasaran
Langkah hukum para buruh tersebut
diambil karena banyaknya cacat
dalam ketentuan terkait fasilitas BPJS
Ketenagakerjaan. Salah satunya syarat
pencarian jaminan hari tua. Meski
pemerintah bakal merevisi aturan
tersebut, Iwan mengaku tidak puas.
Sebab, revisi tersebut, kata dia, hanya
setengah hati.
Bayangkan, hanya yang terkena PHK
yang boleh. Lalu, bagaimana yang
memutuskan untuk mengundurkan
diri? Apalagi, yang diambil hanya 10
persen, jelasnya.
Dia
pun
menyoroti
aturan
pengambilan 30 persen JHT untuk
pengajuan
KPR
rumah
pertama.
Menurut perhitungannya, ketentuan
tersebut berarti hanya pencairan dana
senilai Rp 3 juta. Hal itu didapat dari
rata-rata hasil JHT dengan upah ratarata saat ini. Mau dibuat apa uang
itu? buat DP pasti tidak cukup,
terangnya.
Karena itu, dia tetap menuntut tiga
poin terkait JHT. Pertama, perubahan
syarat masa kepesertaan kembali
menjadi
lima
tahun.
Kedua,
membebaskan pekerja mencairkan
dana tersebut meski masih aktif
bekerja. Ketiga, manfaat bisa langsung
diambil 100 persen.
Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan
Hanif Dhakiri mengatakan, pihaknya
siap merevisi PP terkait JHT. Dalam
perubahan itu, pekerja yang ter-PHK

dan berhenti bekerja bisa mengambil


dengan masa kepesertaan lima tahun
dan waktu tunggu satu bulan. Dia pun

mengungkapkan, pekerja yang bekerja


sebelum 1 Juli masih mengacu pada
peraturan lama. (bil/c6/end)