Anda di halaman 1dari 39

BAB I

Tinjauan Pustaka
ORGAN GENITALIA FEMININA
Organ Genitalia Eksterna
1. Vulva
Meliputi seluruh struktur eksternal yang dapat dilihat mulai dari pubis sampai perineum,
yaitu mons pubis, labia mayora dan labia minora, klitoris, hymen, vestibulum, muara
uretra, berbagai kelenjar, dan struktur vaskular.

1.
2.
3.
4.
5.

Glans Klitoridis
9. Ostium Vaginae
Labia mayora
10. Mons Pubis
Vestibulum Vaginae
Hymen
12. Preputium Klitoridis
Comissura Laborum posterior

7.

Labia minora

Gambar 1.1. Vulva (Sumber : Atlas Anatomi8. Manusia,


Yokochi
2011)
Orifisium Urethrar
Eksternum
2. Mons Pubis
Adalah bagian yang menonjol di atas simfisis dan pada perempuan setelah pubertas
ditutup oleh rambut kemaluan. Pada perempuan umumnya batas atas rambut melintang
sampai pinggir atas simfisis, sedangkan sampai ke bawah sampai ke sekitar anus dan
paha.
3. Labia Mayora
Terdiri atas bagian kanan dan kiri, lonjong mengecil ke bawah, terisi oleh jaringan lemak
yang serupa dengan yang ada di mons pubis. Ke bawah dan ke belakang kedua labia
mayora bertemu dan membentuk komisura posterior. Labia mayora analog dengan
skrotum pada pria. Ligamentum rotundum berakhir di batas atas labia mayora. Setelah
perempuan melahirkan beberapa kali, labia mayora menjadi kurang menonjol dan pada
usia lanjut mulai mengeriput. Di bawah kulit terdapat massa lemak dan mendapat pasoka
pleksus vena yang pada cedera dapat pecah dan timbul hematoma.
4. Labia Minora
1

Suatu lipatan tipis dari kulit sebelah dalam labia mayora. Ke depan, labia minora bertemu
yang di atas klitoris membentuk preputium klitoridis dan di bawah klitoris membentuk
frenulum klitoridis. Ke belakang, preputium juga bertemu dan membentuk fossa
navikulare. Pada perempuan yang belum pernah bersalin, fossa navikulare tampak utuh,
cekung seperti perahu; pada perempuan yang sudah pernah bersalin nampak tebal dan
tidak rata. Kulit yang meliputi labia minora mengandung banyak glandula sebasea dan
juga ujung-ujung saraf yang menyebabkan struktur ini sangat sensitif. Jaringan ikatnya
mengandung banyak pembuluh darah dan beberapa otot polos yang menyebabkan labia
minora dapat mengembang.
5. Klitoris
Ukurannya kurang lebih sebesar kacang hijau, tertutup oleh preputium klitoridis dan
terdiri atas glans klitoridis, korpus klitoridis, dan dua krura yang menggantungkan klitoris
ke os pubis. Glans klitoridis terdiri atas jaringan yang dapat mengembang, penuh dengan
saraf sehingga sangat sensitif.
6. Vestibulum
Berbentuk lonjong dengan ukuran panjang dari depan ke belakang dan dibatasi di depan
oleh klitoris, kanan dan kiri oleh kedua labia minora dan di belakang oleh perineum.
Sekitar 1.5 cm di bawah klitoris ditemukan orifisium uretra eksternum berbentuk
membujur 45 mm dan tidak jarang sukar ditemukan oleh karena tertutup oleh lipatanlipatan selaput vagina. Tidak jauh dari lubang kemih, di kiri dan di kanan bawahnya dapat
terlihat dua ostia skene. Saluran skene analog dengan kelenjar prostat pada laki-laki. Di
kiri dan di kanan bawah di dekat fossa navikulare, terdapat kelenjar bartolin. Pada saat
coitus kelenjar bartolin mengeluarkan sekret.
7. Bulbus Vestibuli
Merupakan pengumpulan vena terletak di bawah mukosa vestibulum, di dekat ramus
ossis pubis. Panjangnya 34 cm, lebarnya 12 cm, dan tebalnya 0.51 cm. Bulbus
vestibuli mengandung banyak pembuluh darah, sebagian tertutup oleh muskulus ischiocavernosus vagina. Embriologik sesuai dengan korpus kavernosum pada penis. Pada
waktu persalinan biasanya kedua bulbus tertarik ke atas dan ke bawah arkus pubis, akan

tetapi bagian bawahnya yang melingkari vagina sering mengalami cedera dan sesekali
timbul hematoma vulva atau perdarahan.
8. Introitus Vagina
Ditutupi oleh hymen dan pada seorang perempuan yang virgin selalu ditutupi oleh labia
minora. Hymen memiliki bentuk yang bermacam-macam, dari yang semilunar sampai
yang berbentuk septum. Konsistensinya pun berbeda-beda, mulai dari yang kaku sampai
yang lunak sekali. Hiatus himenalis berukuran mulai dari seujung jari, hingga dapat
dimasuki oleh dua jari. Umumnya hymen robek pada coitus dan terjadi pada arah jam 5
atau jam 7 dan robekan sampai mencapai dasar hymen tersebut.
9. Perineum
Terletak di antara vulva dan anus, panjangnya rata-rata 4 cm. Jaringan yang mendukung
perineum terutama adalah diafragma pelvis dan diafragma urogenitalis. Diafragma pelvis
terdiri atas M. Levator Anii dan M. Coccygis Posterior serta fasia yang menutupi kedua
otot ini. Diafragma pelvis letaknya lebih eksternal disbanding diafragma urogenitalis
meliputi M. Transversus Perineii Profunda, M. Constrictor Uretra, dan fasia interna
maupun eksterna yang menutupinya. Perineum mendapat pasokan darah dari A. Pudenda
Interna dan cabang-cabangnya. Persarafan perineum terutama oleh N. Pudendus dan
cabang-cabangnya. Oleh sebab itu, dalam menjahit robekan perineum, dapat dilakukan
anestesi blokk pudendus. M. Levator anii kiri dan kanan bertemu di tengah-tengah di
antara anus dan vagina yang diperkuat oleh tendon sentral perineum. Di tempat ini
bertemu dengan otot-otot bulbo kavernosus, M. Transversus Perineii Superfisialis, dan m.
Sfingter Anii Eksternal. Struktur ini membentuk perineal body, yang memberi dukungan
pada perineum. Dalam persalinan sering mengalami laserasi, kecuali dilakukan
episiotomi yang adekuat.
2. Letak Simfisis Pubis
3. Klitoris
6. M. Ischiocavernosus
9. M. Levator Ani
11. M. Sphincter Ani Eksternus
12. M. Gluteus Maksimus
13. Os. Coccygis
15. Ostium Urethrae Eksternum
16. Diafragma perlvis et fascia musculi
transversi perinei profunda
17. Ostium vaginae
18. M. Transversus Perinei Superficialis
20. M. Bulbospongiosus
21. M. Obturator Internus

Gambar 1.2. Otot-Otot Pelvis dan Diafragma Urogenital pada Perempuan


(Sumber : Atlas Anatomi Manusia, Yokochi 2011)
1. Corpus cavernosum klitoridis

25. A. Rectalis Inferior

2. Crus klitoridis

26. Corpus perineale

3. Bulbus vestibuli

27. M. Sphincter ani externus

5. Glans klitoridis

28. Anus

7. Labia minora
8. Ostium vaginae
9. Gld. Vestibularis mayor
17. M. Transversus perinei profundus et fascia
18. A. profunda klitoridis
19. M. Transversus perinei superficialis
20. M. levator Ani

Gambar 1.3. Diafragma Pelvis dan Diafragma Urogenital pada Perempuan


21. M. Gluteus Maximus
(Sumber : Atlas Anatomi Manusia, Yokochi 2011) 2. Labia minora

22. Lig. Suspensorium Klitoridis


M. Transversus
23. Ostium4.
Urethrae
externumperinei profundus
5. N.Interna
Dorsalis Klitoridis
24. A. Pudenda
6. N. Labiales Posteriores
8. Rami Perineales Nervi Pudendi
9. Anus
12. Crus klitoridis et M. Ischiocavernosus
13. Bulbus vestibuli
14. M. Transversus perinei superficiales
15. N. Pudendus dan A. Pudenda Interna
16. N. Rectales Inferiores
17. M. Levator Ani
19. Lig. Anococcygeum
20. Ostium urethrae externum
21. Glans clitoridis

Gambar 1.4. Posisi Arteri dan Nervus pada Genitalia Eksterna


(Sumber : Atlas Anatomi Manusia, Yokochi 2011)
Organ Genitalia Interna
1. Vagina
Vagina merupakan penghubung antara introitus vagina dengan uterus. Arahnya sejajar
dengan arah dari pinggir atas simfisis ke promontorium. Dinding depan dan belakang
vagina berdekatan satu dengan yang lain, masing-masing panjangnya 68 cm dan 710
cm. Bentuk vagina sebelah dalam yang berlipat-lipat disebut ruggae. Di tengah4

tengahnya ada bagian yang keras, disebut kolumna rugarum. Lipatan-lipatan ini
memungkinkan pelebaran vagina dalam proses persalinan sesuai dengan fungsinya
sebagai bagian lunak dari jalan lahir.
Di vagina tidak terdapat kelenjar bersekresi. Epitel vagina terdiri atas epitel gepeng tanpa
lapisan tanduk dan di bawahnya terdapat jaringan ikat yang banyak mengandung
pembuluh darah. Pada kehamilan terdapat hipervaskularisasi jaringan tersebut, sehingga
dinding vagina tampak kebiru-biruan (livide). Di bawah jaringan ikat terdapat otot-otot
yang susunannya sesuai dengan susunan otot usus. Bagian dalamnya terdiri atas M.
Sirkularis dan bagian luarnya M. Longitudinalis. Di sebelah luar otot-otot ini terdapat
fasia yang pada usia lanjut akan berkurang elastisitasnya. Bagian atas vagina berasal dari
duktus mulleri, sedangkan bagian bawahnya dibentuk oleh sinus urogenitalis.
Di sebelah depan, dinding vagina berhubungan dengan uretra dan vesika urinaria yang
dipisahkan oleh jaringan ikat yang biasa disebut septum vesikovaginalis. Di sebelah
belakang, di antara dinding vagina bagian bawah dan rektum terdapat jaringan ikat yang
disebut septum rektovaginalis. Seperempat bagian atas dinding vagina belakang terpisah
dari rektum oleh kantong rektouterina yang sering disebut sebagai cavum douglasi.
Dinding kanan dan kiri vagina berhubungan dengan M. Levator Anii. Puncak vagina
dipisahkan oleh serviks, terbentuk forniks anterior, posterior, dan lateralis kiri dan kanan.
Oleh karena puncak vagina belakang lebih tinggi daripada puncak vagina bagian depan.
Maka forniks posterior lebih dalam dari forniks anterior.
Forniks memiliki arti klinis karena organ internal pelvis dapat dipalpasi melalui dinding
forniks yang tipis. Selain itu, forniks posterior dapat digunakan sebagai akses bedah
untuk masuk ke dalam rongga peritoneum. Vagina mendapat perdarahan dari A. Uterina,
yang melalui cabangnya ke serviks dan vagina bagian 1/3 atas, A. Vesikalis Inferior, yang
melalui cabangnya memberikan darah ke vagina bagian 1/3 tengah. Dan A. Hemoroidalis
Mediana dan A. Pudendus Interna, yang memberikan darah ke vagina bagian 1/3 bawah.
Darah kembali melalui pleksus vena yang ada, antara lain pleksus pampiniformis ke V.
Hipogastrika dan V. Iliaka ke atas.

Getah bening yang berasal dari 2/3 bagian atas vagina akan melalui kelenjar getah bening
di daerah vasa iliaka, sedangkan yang berasal dari 1/3 bagian bawah akan melalui
kelenjar getah bening di regio inguinalis.

8. Uterus

23. Cavum Douglasi

9. Excavatio Vesikouterina

24.Ampula rekti

10. Vesika Urinaria

29. Vagina

11. Simfisis Pubis

33. Ureter

13. Urethra

34. Peritoneum

14. Klitoris

35. Ureter

15. Labia Minora

36. Plica Umbilicalis Mediana

19. Corpus Vertebra Lumbal 37. Infundibulum


20. Promontorium

38. Fimbriae

Gambar 2.1. Potongan Sagital Melalui Organ


Interna Perempuan
22.Genitalia
Kolon Sigmoideum
39. Ovarium
(Sumber : Atlas Anatomi Manusia, Yokochi 2011)
40. Ismus

2. Uterus
Bentuknya seperti buah avokad atau buah pir yang sedikit gebeng ke arah depan
belakang. Ukurannya sebesar telur ayam dan memiliki rongga. Dindingnya terdiri atas
otot-otot polos. Ukuran panjang uterus adalah 77.5 cm, lebar di atas 5.25 cm, tebal 2.5
cm, dan tebal dinding 1.25 cm. Letak uterus dalam keadaan fisiologis adalah
anteversiofleksio (serviks ke depan dan membentuk sudut dengan vagina, sedangkan
korpus uteri ke depan dan membentuk sudut dengan serviks uteri).
Uterus terdiri atas fundus, korpus, dan serviks. Fundus adalah bagian uterus proksimal, di
situ ketika kedua falloppii masuk ke uterus. Di dalam klinik penting untuk diketahui
sampai di mana fundus uteri berada, oleh karena tuanya kehamilan dapat diperkirakan
dengan perabaan pada fundus uteri. Korpus uteri adalah bagian uterus yang terbesar. Pada
kehamilan bagian ini memiliki fungsi utama sebagai tempat janin berkembang. Rongga
yang terdapat di korpus uteri disebut kavum uteri. Serviks uteri terdiri dari pars vaginalis
servisis uteri yang dinakan sebagai porsio dan pars supravaginalis servisis uteri yaitu
bagian serviks yang berada di atas vagina.

Saluran yang terdapat dalam serviks disebut kanalis servikalis, berbentuk seperti saluran
lonjong dengan panjang 2.5 cm. Saluran ini dilapisi oleh kelenjar-kelenjar serviks,
berbentuk sel-sel torak bersilia dan berfungsi sebagai reseptakulum seminis. Pintu ostium
uteri eksternum. Kedua pintu penting dalam klinik, misalnya penilaian terhadap jalannya
persalinan, dan abortus. Secara histologic dari dalam ke luar, uterus terdiri atas
endometrium di korpus uteri dan endoserviks di serviks uteri, otot-otot polos, dan lapisan
serosa, yakni peritoneum viserale. Endometrium terdiri dari sel epitel kubus, kelenjarkelenjar dan jaringan dengan banyak pembuluh darah yang berlekuk-lekuk. Endometrium
melapisi seluruh kavum uteri yang memiliki arti penting dalam siklus haid perempuan
dalam masa reproduksi. Dalam masa haid, endometrium sebagian besar dilepaskan, untuk
kemudian tumbuh lagi dalam masa proliferasi yang selanjutnya diikuti dengan masa
sekretori. Masa-masa ini dapat diperiksa dengan melakukan biopsi endometrium.
Lapisan otot polos uteri di sebelah dalam berbentuk sirkular dan sebelah luar berbentuk
longitudinal. Di antara kedua lapisan tersebut terdapat lapisan otot oblik, berbentuk
anyaman. Lapisan ini paling penting dalam persalinan oleh karena sesudah plasenta lahir,
otot lapisan ini berkontraksi kuat dan menjepit pembuluh-pembuluh darah yang terbuka
di tempat itu, sehingga perdarahan terhenti.
Uterus sebenarnya terapung-apung dalam rongga pelvis, terapi terfiksasi dengan baik
oleh jaringan ikat dan ligamenta yang menyokongnya. Ligamenta yang memfiksasi
uterus adalah sebagai berikut :
a. Ligamentum Kardinal (Mackenrodt) kiri dan kanan, yakni ligamentum yang
terpenting yang mencegah uterus tidak turun. Terdiri atas jaringan ikat tebal yang
berjalan dari serviks dan puncak vagina ke arah lateral dinding pelvis. Di
dalamnya ditemukan banyak pembuluh darah, antara lain vena dan arteri uterine.
b. Ligamentum Sakro-Uterina kiri dan kananm, yakni ligamentum yang menahan
uterus supaya tidak banyak bergerak. Berjalan dari serviks bagian belakang kiri
dan kanan, ke arah os sakrum kiri dan kanan.
c. Ligamentum rotundum kiri dan kanan, yakni ligamentum yang menahan uterus
dalam posisi antefleksi. Berjalan dari sudut fundus uteri kiri dan kanan, ke daerah
inguinal kiri dan kanan. Pada kehamilan kadang-kadang terasa sakit di daerah
inguinal waktu berdiri cepat, karena uterus berkontraksi kuat dengan ligamentum

rotundum menjadi kencang serta mengadakan tarikan di daerah inguinal. Pada


persalinan pun teraba kencang dan terasa sakit bila dipegang.
d. Ligamentum latum kiri dan kanan, yakni ligamentum yang meliputi tuba. Berjalan
dari uterus kea rah lateral. Tidak banyak mengandung jaringan ikat. Sebenarnya
ligamentum ini adalah bagian peritoneum viserale yang meliputi uterus dan kedua
tuba dan terbentuk sebagai lipatan. Di bagian dorsal ligamentum ini ditemukan
ovarium. Untuk memfiksasi uterus, ligamentum ini tidak banyak artinya.
e. Ligamentum infundibulo-pelvikum kiri dan kanan, yakni ligamentum yang
menahan tuba falloppii. Berjalan dari arah infundibulum ke dinding pelvis. Di
dalamnya terdapat saraf-saraf, saluran limfe, arteria, dan vena ovarika.

Gambar 2.2. Ligamenta yang Memfiksasi Uterus

Di samping ligamenta tersebut di atas ditemukan pada sudut kiri dan kanan belakang
fundus uteri ligamentum ovarii proprium kiri dan kanan yang menahan ovarium. Ismus
adalah bagian uterus antara serviks dan korpus uteri, diliputi oleh peritoneum viserale
yang mudah sekali digeser atau digerakkan di daerah plika vesikouterina. Di tempat yang
longgar inilah dinding uterus dibuka jika melakukan seksio saesaria trans peritoneal
profunda. Dinding belakang uterus seluruhnya diliputi oleh peritoneum vise3rale yang di
bagian bawah membentuk suatu kantong yang disebut kavum douglasi. Di dalam klinik
rongga ini memilik arti penting. Kavum Douglasi akan menonjol jika terdapat cairan atau
tumor di situ.
Uterus diperdarahi oleh arteria uterine kiri dan kanan yang terdiri atas ramus asendens
dan ramus desendens. Pembuluh darah ini berasal dari arteria iliaka interna (arteria
hipogastrika) yang melalui dasar ligamentum latum masuk ke dalam uterus di daerah
serviks kira-kira 1.5 cm di atas forniks lateralis vagina.
Kadang-kadang dalam persalinan terjadi perdarahan banyak oleh karena robekan serviks
ke lateral sampai mengenai cabang-cabang arteria uterine. Robekan ini antara lain
disebabkan oleh pimpinan persalinan yang salah, persalinan dengan alat misalnya
ekstraksi cunam yang dilakukan kurang cermat dan sebagainya. Dalam hal ini penjahitan
robekan serviks harusnya dilakukan dengan hati-hati. Kadang-kadang disangka bahwa
robekan tersebut sudah dijahit dengan baik oleh karena perdarahan tidak lagi tampak,
padahal perdarahan tetap berlangsung ke dalam parametrium. Timbullah hematoma di
dalam parametrium yang sulit didiagnosis dan dapat mengakibatkan ibu jatuh dalam
keadaan syok. Kita harus berhati-hati pula jangan sampai ureter yang dekat di daerah
tersebut ikut terjahit, sehingga terjadi anuria yang disusul dengan uremia dan berakhir
dengan kematian.
Pembuluh darah lain yang memperdarahi uterus adalah arteria ovarika kiri dan kanan.
Pembuluh darah ini berjalan dari lateral dinding pelvis, melalui ligamentum infundibulopelvikum mengikuti tuba falloppii, beranastomosis dengan ramus asendens arteria uterine

di sebelah lateral, kanan dan kiri uterus. Bersama-sama dengan arteri tersebut di atas
terdapat vena-vena yang kembali melalui pleksus vena ke vena hipogastrika.

1. Uterus

11. Gld. Vestibularis Major

2. Ovarium

12. A. Ovarika

3. Tuba Uterina

13. Lig. Suspensorium ovarii

4. Ligamentum Teres Uteri

14. A. Iliaka Interna

5. Porsio

15. A. Ovarika ramus Tubarii

6. Vagina

16. A. Ovarika ramus Ovaricae

7. Klitoris

17. A. Uterina

8. Korpus Kavernosum Klitoridis

18. A. Uterina ramus ovarii

9. Ostium Vaginae

19. A. Lig. Teretis Uteri

10. Bulbus vestibuli

20. A. Pudenda Interna


21. A. Vaginalis

Gambar 2.3. Vaskularisasi Organ Genitalia Interna Perempuan


(Sumber : Atlas Anatomi Manusia, Yokochi 2011)
Getah bening yang berasal dari serviks akan mengalir ke daerah obturatorial dan inguinal,
selanjutnya ke daerah vasa iliaka. Dari korpus uteri saluran getah bening akan menuju ke
daerah paraaorta atau paravertebral dalam. Kelenjar-kelenjar getah bening penting artinya
dalam operasi karsinoma

10

2. Ovarium
3. Tuba Uterina
4. Ligamentum Round
13. Ligamentum Suspensorium
14. A. Iliaka Interna
22. Limfonodus Lumbal
23. Limfonodus Iliaka Eksternal
24. Limfonodus Inguinal
25. Aorta Abdominal
26. A. Iliaka Eksterna
27. Limfonodus Sakral
28. Limfonodus Iliaka Internal

Gambar 2.4. Kelenjar Getah Bening pada Organ Genitalia Interna


(Sumber : Atlas Anatomi Manusia, Yokochi 2011)
Inervasi uterus terutama terdiri atas sistem saraf simpatetik dan untuk sebagian terdiri
atas sistem parasimpatetik dan serebrospinal. Sistem para simpatetik berada di dalam
panggul di sebelah kiri dan kanan os sacrum, berasal dari saraf S2,S3, dan S4 yang
selanjutnya memasuki Pleksus Frankenhauser. Sistem simpatetik masuk ke rongga
panggul sebagai pleksus hipogastrikus melalui bifurkasio aorta dan promontorium terus
ke bawah menuju Pleksus Frankenhauser. Pleskus ini terdiri atas ganglion-ganglion
berukuran besar dan kecil yang terletak terutama pada dasar ligamentum sakrouterina.
Serabut-serabut saraf tersebut di atas memberi inervasi pada myometrium dan
endometrium. Kedua sistem simpatetik dan parasimpatetik ini mengandung unsur
motorik dan sensorik. Kedua sistem bekerja antagonistik. Sistem simpatetik
menimbulkan kontraksi dan vasokonstriksi, sedangkan yang parasimpatetik bekerja
sebaliknya.

11

Saraf yang berasal dari T11 dan T12 mengandung saraf sensorik dari uterus dan
meneruskan perasaan sakit dari uterus ke pusat saraf. Saraf sensorik daru serviks dan
bagian atas vagina melalui nervus pudendus dan nervus ileoinguinalis.
3. Tuba Falloppii
Tuba Falloppii terdiri atas :
a. Pars Interstisialis yang terdapat pada dinding uterus
b. Pars Ismika yang merupakan bagian medial tuba yang sempit seluruhnya
c. Pars Ampullaris yaitu bagian yang berbentuk sebagai saluran agak lebar, tempat
konsepsi terjadi
d. Infundibulum yaitu bagian ujung tuba yang terbuka ke arah abdomen dan
memiliki fimbria. Fimbria penting artinya bagi tuba untuk menangkap telur dan
selanjutnya menyalurkan telur ke dalam tuba.
Bagian luar tuba diliputi oleh peritoneum viserale yang merupakan bagian dari
ligamentum latum. Otot dinding tuba terdiri atas (dari luar ke dalam) otot longitudinal
dan otot sirkular. Lebih dalam lagi didapatkan selaput yang berlipat-lipat dengan sel-sel
yang bersekresi dan bersilia yang khas, berfungsi untuk menyalurkan telur atau hasil
konsepsi ke arah kavum uteri dengan arus yang ditimbulkan oleh getaran rambut getar
tersebut.

1. Ovarium

11. Infundibulum

2. Mesovarium

12. Lig. ovarii proprium

3. Fundus Uteri

13. Mesosalping

4. Excavatio Vesicouterina

14. Tuba Uterina

5. Serviks Uteri

15. Lig. Suspensorium

6. Porsio

16. Lig. Latum

7. Vagina

17. Lig. Teres Uteri12

8. Crus Klitoridis

18. Corpus Cavernosum klitoridis

9. Labia Minora

19.Glans Klitoridis

10. Fimbriae

20. Hymen

Gambar 2.5. Ovarium dan Uterus


(Sumber : Atlas Anatomi Manusia, Yokochi 2011)
4. Ovarium
Perempuan pada umumnya memiliki dua ovarium. Mesovarium menggantung ovarium
bagian belakang ligamentum latum kiri dan kanan. Ovarium berukuran kurang lebih
sebesar ibu jari tangan dengan ukuran panjang kira-kira 4 cm, lebar dan tebal kira-kira
1.5 cm. Pinggir atasnya atau hilusnya berhubungan dengan mesovarium tempat
ditemukannya pembuluh-pembuluh darah dan serabut-serabut saraf untuk ovarium.
Pinggir bawahnya bebas. Permukaan belakangnya menuju ke atas dan belakang,
sedangkan permukaan depannya ke bawah dan depan. Ujung yang dekat dengan tuba
terletak lebih tinggi daripada ujung yang dekat dengan uterus dan tidak jarang
diselubungi oleh beberapa fimbria dari infundibulum. Ujung ovarium yang lebih rendah
berhubungan dengan uterus melalui ligamentum ovarii proprium tempat ditemukannya
jaringan otot yang menjadi satu dengan jaringan otot di ligamentum rotundum.
Embriologik kedua ligamentum berasal dari gubernaculum.
Struktur ovarium terdiri atas :
a. Korteks yakni bagian luar yang diliputi oleh epitelium germinativum berbentuk
kubik dan di dalamnya terdiri atas stroma serta folikel-folikel primordial
b. Medulla yakni bagian di sebelah dalam korteks tempat terdapatnya stroma dengan
pembuluh darah, serabut saraf, dan sedikit otot polos.
Diperkirakan pada perempuan terdapat kira-kira 100.000 folikel primer. Tiap bulan satu
folikel akan keluar, kadang-kadang dua folikel, yang dalam perkembangannya akan
menjadi Folikel De Graaf. Folikel-folikel ini merupakan bagian terpenting dalam
ovarium yang dapat dilihat di korteks ovarii dakan letak yang beraneka ragam dan pula
13

dalam tjngkat perkembangan yang berbeda, yaitu dari satu sel telur yang dikelilingi oleh
satu lapisan sel-sel saja sampai menjadi Folikel De Graaf yang matang terisi dengan
liquor folikuli, mengandung estrogen dan siap untuk berovulasi.
Folikel De Graaf yang matang terdiri atas :
a. Ovum yakni suatu sel besar dengan diameter 0.1 mm yang mempunyai nukleus
dengan anyaman kromatin yang jelas sekali dan satu nucleolus pula
b. Stratum Granulosum yang terdiri atas sel-sel granulosa
c. Teka Interna suatu lapisan yang melingkari stratum granulosum dengan sel-sel
lebih kecil daripada sel granulosa
d. Teka Eksterna di luar teka interna yang terbentuk oleh stroma ovarium yang
terdesak
Setelah ovulasi, sel-sel stratum granulosum di ovarium mulai berproliferasi dan masuk ke
ruangan bekas tempat ovum dan liquor folikuli. Demikian pula jaringan ikat dan
pembuluh-pembuluh darah kecil yang ada di situ. Biasanya timbul perdarahan sedikit,
yang menyebabkan bekas folikel berwarna merah dan disebut sebagai korpus rubrum.
Umur korpus rubrum ini hanya sebentar. Di dalam sel-selnya timbul pigmen kuning dan
korpus rubrum menjadi korpus luteum. Sel-selnya membesar dan mengandung lutein
dengan banyak kapilar dan jaringan ikat di antaranya. Di tengah-tengah masih terdapat
bekas perdarahan. Jika tidak ada pembuahan ovum, sel-sel yang besar serta mengandung
lutein mengecil dan menjadi atrofik, sedangkan jaringan ikatnya bertambah. Korpus
luteum lambat laun menjadi korpus albikans. Jika pembuahan terjadi, korpus luteum tetap
ada, malahan menjadi lebih besar, sehingga memiliki diameter 2.5 cm pada kehamilan 4
bulan.

1. Fundus Uteri
2. Tuba Uterina
4. Ovary
5. Infundibulum
10. Vesika Urinaria
19. Kanalis servikalis
20. Porsio
21. Vagina
22. Membran mukosa uterus
23. Forniks Anterior

14

Gambar 2.6. Potongan Koronal Organ Genitalia Perempuan


(Sumber : Atlas Anatomi Manusia, Yokochi)
ANATOMI PANGGUL
Tulang Panggul
Pelvis (panggul) tersusun atas empat tulang: sakrum, koksigis, dan dua tulang inominata yang
terbentuk oleh fusi ilium, iskium, dan pubis. Tulang-tulang inominata bersendi dengan sakrum
pada sinkondrosis sakroiliaka dan bersendi dengan tulang inominata sebelahnya di simfisis pubis
(Cunningham, et al, 2010).
Panggul dibagi menjadi dua regio oleh bidang imajiner yang ditarik dari promontorium sakrum
ke pinggir atas simfisis pubis, yaitu:
a. Panggul palsu
Terletak di atas bidang, berfungsi untuk menyokong intestinum.
b. Panggul sejati
Terletak di bawah bidang, memiliki dua bukaan yaitu: arpertura pelvis superior (pintu atas
panggul) dan arpetura pelvis inferior (pintu bawah panggul) (Baun, 2005).
Selama proses kelahiran pervaginam, bayi harus dapat melewati kedua pembukaan panggul sejati
ini (Amatsu Therapy Association and Amatsu Association of Ireland, 2006).

15

Gambar 2.1. Gambaran anteroposterior panggul normal wanita dewasa. Digambarkan


diameter anteroposterior (AP) dan Transversal (T) pintu atas panggul. Sumber:
Cunningham, et al. Williams Obstetrics, 23rd ed.
Bidang Diameter Panggul
Panggul memiliki empat bidang imajiner:
a. Bidang pintu atas panggul (apertura pelvis superior).
Bentuk pintu atas panggul wanita, dibandingkan dengan pria, cenderung lebih bulat daripada
lonjong. Terdapat empat diameter pintu atas panggul yang biasa digunakan: diameter
anteroposterior, diameter transversal, dan diameter oblik. Diameter anteroposterior yang penting
dalam obstetrik adalah jarak terpendek antara promontorium sakrum dan simfisis pubis, disebut
sebagai konjugata obtetris. Normalnya, konjugata obstertis berukuran 10 cm atau lebih, tetapi
diameter ini dapat sangat pendek pada panggul abnormal. Konjugata obsteris dibedakan dengan
diameter anteroposterior lain yang dikenal sebagai konjugata vera. Konjugata vera tidak
menggambarkan jarak terpendek antara promontorium sakrum dan simfisis pubis. Konjugata
obstetris tidak dapat diukur secara langsung dengan pemeriksaan jari. Untuk tujuan klinis,
konjugata obstetris diperkirakan secara tidak langsung dengan mengukur jarak tepi bawah
simfisis ke promontorium sakrum, yaitu konjugata diagonalis, dan hasilnya dikurangi 1,5-2 cm.

16

Gambar 2.2. Gambaran tiga diameter anteroposterior pintu atas panggul: konjugata vera,
konjugata obstetris dan konjugata diagonalis yang dapat diukur secara klinis. Diameter
anteroposterior panggul tengah juga diperlihatkan. (P = promontorium sakrum; Sim =
simfisis pubis). Sumber: Cunningham, et al. Williams Obstetrics, 23rd ed.
b. Bidang panggul tengah (dimensi panggul terkecil).
Panggul tengah diukur setinggi spina iskiadika, atau bidang dimensi panggul terkecil. Memiliki
makna khusus setelah engagement kepala janin pada partus macet. Diameter interspinosus,
berukuran 10 cm atau sedikit lebih besar, biasanya merupakan diameter pelvis terkecil. Diameter
anteroposterior setinggi spina iskiadika normal berukuran paling kecil 11, 5cm.

17

Gambar 2.3. Panggul wanita dewasa yang memperlihatkan diameter anteroposterior dan
transversal pintu atas panggul serta diameter transversal (interspinosus) panggul tengah.
Konjugata obstetris normalnya lebih dari 10 cm. Sumber: Cunningham, et al. Williams
Obstetrics, 23rd ed.
c. Bidang pintu bawah panggul (apertura pelvis inferior).
Pintu bawah panggul terdiri dari dua daerah yang menyerupai segitiga. Area-area ini memiliki
dasar yang sama yaitu garis yang ditarik antara dua tuberositas iskium. Apeks dari segitiga
posteriornya berada di ujung sakrum dan batas lateralnya adalah ligamentum sakroiskiadika dan
tuberositas iskium. Segitiga anterior dibentuk oleh area di bawah arkus pubis. Tiga diameter
pintu bawah panggul yang biasa digunakan yaitu: anteroposterior, transversal, dan sagital
posterior.

18

Gambar 2.4. Pintu bawah panggul dengan diameter-diameter yang penting. Perhatikan
bahwa diameter anteroposterior dapat dibagi menjadi diameter sagital anterior dan
posterior. Sumber: Cunningham, et al. Williams Obstetrics, 23rd ed.
d. Bidang dengan dimensi panggul terbesar (tidak memiliki arti klinis).
(Cunningham, et al., 2010)
Bentuk-bentuk Panggul
Caldwell dan Moloy mengembangkan suatu klasifikasi panggul yang masih digunakan hingga
saat ini. Klasifikasi Caldwell-Molloy didasarkan pada pengukuran diameter transversal terbesar
di pintu atas panggul dan pembagiannya menjadi segmen anterior dan posterior. Bentuk segmensegmen ini menentukan klasifikasi panggul menjadi: panggul ginekoid, anthropoid, android,
ataupun platipeloid. Karakter segmen posterior menentukan tipe panggulnya, dan karakter
segmen anterior menetukan kecenderungannya. Kedua hal ini ditentukan karena kebanyakan
panggul bukan merupakan tipe murni, melainkan campuran, misalnya, panggul ginekoid dengan
kecenderungan android berarti panggul posteriornya berbentuk ginekoid dan panggul anteriornya
berbentuk android. (Cunningham, et al., 2010)
Panggul ginekoid dianggap sebagai panggul normal wanita, sementara panggul android
merupakan varian dari panggul pria. Panggul android lebih sering ditemukan pada wanita dengan
akitvitas fisik yang berat selama masa remaja. Panggul android juga ditemukan pada wanita yang
mengalami keterlambatan dalam posisi tegak, yaitu setelah usia 14 bulan, sementara panggul
platipeloid lebih sering ditemukan pada wanita yang memiliki kemampuan posisi tegak sebelum
umur 14 bulan (Leong, 2006).

19

PERSALINAN NORMAL
Partus adalah suatu proses pengeluaran konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus
melalui vagina ke dunia luar. Kelahiran adalah proses di mana janin dan ketuban keluar melalui
jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang
berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. Persalinan
normal adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala yang dapat hidup dengan tenaga
ibu sendiri dan uri, tanpa alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang pada umumnya berlangsung
kurang dari 24 jam melalui jalan lahir.

Pembagian Partus Berdasarkan Cara Persalinan :

Partus biasa (Normal) disebut juga partus spontan, adalah proses lahirnya bayi pada LBK
dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang
umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.

Partus Luar Biasa (Abnormal) adalah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat atau
melalui dinding perut dengan operasi caesarea.

Persalinan dibagi menjadi 4 kala, yaitu :


Kala I : dimulai sejak saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10 cm). proses ini
terbagi dalam 2 fase, yaitu fase laten (8 jam) serviks membuka sampai 3 cm dan fase aktif (7
jam) serviks membuka dari 3 cm sampai 10 cm. kontraksi lebih kuat dan sering selama fase aktif.
Kala II : dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses ini biasanya
berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi.
Kala III : dimulai segera setelah lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih
dari 30 menit.
Kala IV : dimulai saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum.

20

Kala I Persalinan
Tanda dan gejala inpartu

Penipisan dan pembukaan serviks


Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10

menit)
Cairan lendir bercampur darah (show) melalui vagina

Fase-Fase pada Kala I Persalinan

Fase Laten pada Kala Satu Persalinan


Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan

serviks

secara bertahap

Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm

Pada umumnya, fase laten berlangsung hampir atau hingga 8 jam.

Fase Aktif pada Kala Satu Persalinan

Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap (kontraksi dianggap
adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung
selama 40 detik atau lebih)

Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm, akan terjadi
dengan kecepatan rata-rata 1 cm perjam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1cm
hingga 2 cm (multipara)

Terjadi penurunan bagian terbawah janin

Pada fase ini berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 subfase, yaitu :
o Periode akselerasi, berlangsung 2 jam pembukaan menjadi 4 cm

21

o Periode dilatasi maksimal (steady) : selama 2 jam pembukaan berlangsung cepat menjadi
9 cm
o Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam pembukaan jadi 10 cm atau
lengkap
Manajemen Aktif kala I

Memantau Kontraksi Uterus


Untuk memantau kontraksi uterus dengan cara letakan tangan penolong diatas uterus dan
palpasi jumlah kontraksi yang terjadi dalam kurun waktu 10 menit, gunakan jarum detik pada
jam. Memantau tiap jam sekali pada fase aktif.

Menentukan Tinggi fundus Uteri


Lakukan pengukuran pada saat uterus tidak berkontraksi menggunkan pita pengukur atau
meteran pengukur. Ibu dengan posisi setengah duduk dan tempelkan ujung pita (posisi
melebar) mulai dari tepi atas simpisis pubis, kemudian rentangkan pita mengikuti aksis/linea
mediana dinding depan abdomen hingga ke puncak fundus. Jarak tepi atas simfisis pubis dan
puncak fundus uteri adalah tinggi fundus.

Memantau Denyut Jantung Janin

Menentukan Presentasi

3
Menentukan Penurunan Bagian Terbawah Janin

Periksa Dalam

Partograf pada kala 1 fase aktif (untuk menilai kemajuan persalinan)

Kontrol tanda-tanda vital ibu tiap 4 jam

Pemberian obat bila ada indikasi dan bila diperlukan

22

Kala II Persalinan

Gejala dan tanda pada kala II persalinan adalah :


1.
2.
3.
4.
5.

Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi


Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rectum dan/atau vagina
Perineum menonjol
Vulva vagina dan sfingter ani membuka
Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah

Tanda pasti kala dua ditentukan melalui periksa dalam yang hasilnya :

Pembukaan serviks telah lengkap, atau


Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina.

Pemantauan Selama Kala II

Nadi Ibu setiap 30 menit

Frek dan lama kontraksi setiap 30 menit

DJJ setiap selesai meneran atau setiap 5-10 menit sekali

Penurunan Kepala Bayi setiap 30 menit melalui pemeriksaan (pemeriksaan luar) dan
pemeriksaan dalam setiap 60 menit atau jika ada indikasi, hal ini dilakukan lebih cepat

Warna cairan ketuban jika selaputnya sudah pecah (jernih atau bercampur mekonium atau
darah)
4

Apakah ada presentasi majemuk atau tali pusat di samping atau terkemuka

Putaran paksi luar segera setelah kepala bayi lahir

Kala III Persalinan


Kala III merupakan waktu untuk pelepasan dan pengeluaran uri, dimulai setelah lahirnya
bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban.
23

Tanda-tanda terlepasnya plasenta

Perubahan bentuk dan tinggi fundus

Semburan darah yang mendadak dan singkat

Tali pusat memanjang

Manajemen aktif kala III

Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir

Melakukan penegangan tali pusat terkendali

Massase fundus

Kala IV Persalinan
Pemantauan Pada Kala IV

Massase uterus

Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan anda secara melintang dengan
pusat sebagai patokan.

Memperkirakan kehilangan darah secara keseluruhan

Dengan cara melihat volume darah yang terkumpul dan memperkirakan berapa banyak
botol 500ml dapat menampung semua darah itu. Bisa juga dengan cara tidak langsung
dengan cara melalui penampakan gejala dan tekanan darah

Periksa kemungkinan perdarahan dari robekan (laserasi atau episiotomi).

24

Terdapat lima aspek dasar yang penting dan saling terkait dalam asuhan persalinan yang
bersih dan aman. Aspek-aspek tersebut melekat pada setiap persalinan, baik normal maupun
patologis. Aspek tersebut adalah sebagai berikut :3

Membuat Keputusan Klinik


Membuat keputusan klinik adalah proses pemecahan masalah yang akan digunakan untuk
merencanakan asuhan bagi ibu dan bayi baru lahir. Hal ini merupakan suatu proses sistematik
dalam mengumpulkan dan menganalisis informasi, membuat diagnosis kerja, membuat
rencana tindakan yang sesuai dengan diagnosis, melaksanakan rencana tindakan dan
akhirnya mengevaluasi hasil asuhan atau tindakan yang telah diberikan kepada ibu dan/atau

bayi baru lahir.


Asuhan Sayang Ibu dan Sayang Bayi
Asuhan saying ibu adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan
keinginan sang ibu. Salah satu prinsip dasar asuhan saying ibu adalah dengan
mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Banyak
hasil penelitian menunjukkan bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama
persalinan dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan
asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman dan keluaran lebih
baik. Antara lain, juga disebutkan bahwa asuhan tersebut dapat mengurangi jumlah

persalinan dengan tindakan, seperti ekstravasasi vakum, forceps, dan seksio sesarea.
Pencegahan Infeksi
Pencegahan infeksi adalah bagian esensial dari asuhan lengkap yang diberikan pada ibu dan
bayi baru lahir dan harus dilaksanakan secara rutin pada saat menolong persalinan dan
kelahiran, saat memberikan asuhan dasar selama kunjungan antenatal atau pasca

persalinan/bayi baru lahir atau saat menatalaksana penyulit.


Pencatatan (Dokumentasi)
Catat semua asuhan yang telah diberikan kepada ibu dan/atau bayinya. Jika asuhan tidak
dicatat dapat dianggap bahwa tidak pernah dilakukan asuhan yang dimaksud. Pencatatan
adalah bagian penting dari proses membuat keputusan klinik karena memungkinkan
penolong persalinan untuk terus menerus6memperhatikan asuhan yang diberikan selama
proses persalinan dan kelahiran bayi. Mengkaji ulang catatan memungkinkan untuk
menganalisis data yang telah dikumpulkan dan dapat lebih efektif dalam merumuskan suatu

diagnosis serta membuat rencana asuhan atau perawatan bagi ibu atu bayinya.
Rujukan
25

Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas kesehatan rujukan atau yang
memiliki sarana lebih lengkap diharapkan mempu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi
baru lahir. Meskipun sebagian besar ibu menjalani persalinan normal, sekitar 10-15% di
antaranya akan mengalami masalah selama proses persalinan dan kelahiran sehingga perlu
dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan. Setiap tenaga penolong harus mengetahui lokasi
fasilitas rujukan terdekat yang mampu untuk melayani kegawatdaruratan obstetric dan bayi
baru lahir, seperti :
- Pembedahan
- Transfusi darah
- Persalinan menggunakan ekstraksi vakum atau forceps
- Antibiotik
- Resusitasi bayi baru lahir dan asuhan lanjutan bagi baru lahir.

60 Langkah Asuhan Persalinan Normal


I.

Melihat Tanda dan Gejala Kala Dua


1. Mengamati tanda dan gejala persalinan kala dua.
Ibu mempunyai keinginan untuk meneran.
Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan/atau vaginanya
Perineum menonjol
Vulva-vagina dan sfingter anal membuka

Gambar 1. Tanda dan Gejala Kala II

26

II.

Menyiapkan Pertolongan Persalinan


2. Memastikan perlengkapan, bahan, dan obat-obatan esensial siap digunakan. Mematahkan
ampul oksitosin 10 unit dan menempatkan tabung suntik steril sekali pakai di dalam partus
set.
3. Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih
4. Melepaskan semua perhiasan yang dipakai di bawah siku, mencuci kedua tangan dengan
sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk satu kali
pakai/pribadi yang bersih.
5. Memakai sarung dengan DTT atau steril untuk semua pemeriksaan dalam.
6. Mengisap oksitosin 10 unit kedalam tabung suntuk (dengan memakai sarung tangan
disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkan kembali di partus set/wadah disinfeksi
tingkat tinggi atau steril tanpa mengkontaminasi tabung suntik.

III.

Memastikan Pembukaan Lengkap dengan Janin Baik


7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari belakang dengan
menggunakan kapas atau kasa yang sudah dibasahi air disinfeksi tingkat tinggi.
Jika mulut vagina, perineum atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu, membersihkannya
dengan seksama dengan cara menyeka dari depan ke belakang. Membuang kapas atau kasa
yang terkontaminasi dalam wadah yang benar. Mengganti sarung tangan jika
terkontaminasi (meletakkan kedua sarung tangan tersebut dengan benar di dalam larutan
dekontaminasi, #langkah 9)
8. Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan
bahwa pembukaan serviks sudah lengkap.
Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan sudah lengkap, lakukan
amniotomi.
9. Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai
sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Mencuci kedua tangan
(seperti di atas).
10. Memeriksa Denyut Jantung Janin (DJJ) setelah kontraksi berakhir untuk memastikan
bahwa DJJ dalam batas normal (100 180 kali/menit)
Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal
Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan semua hasil-hasil penilaian
serta asuhan lainnya pada partograf.

IV. Menyiapkan Ibu dan Keluarga untuk Membantu Proses Pimpinan Meneran
11. Memberitahu Ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik. Membantu Ibu berada
dalam posisi yang nyaman sesuai keinginannya.
27

Menunggu hingga Ibu mempunyai keinginan untuk meneran. Melanjutkan pemantauan


kesehatan dan kenyamanan ibu serta janin sesuai dengan pedoman persalinan aktif dan
mendokumentasikan temuan-temuan.
Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka dapat mendukung dan memberi
semangat kepada ibu saat ibu mulai meneran.
12. Meminta bantuan kepada keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (Pada saat
ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman).
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran:
Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinginan untuk meneran.
Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran.
Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya (tidak meminta ibu

berbaring terlentang).
Menganjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi.
Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu.
Menganjurkan asupan cairan per oral.
Menilai DJJ setiap lima menit.
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera dalam waktu 120
menit (2 jam) meneran untuk ibu primipara atau 60/menit (1 jam) untuk ibu multipara,

merujuk segera jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk meneran.


Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang aman. Jika
Ibu belum ingin meneran dalam 60 menit, menganjurkan ibu untuk mulai menera pada

puncak kontraksi-kontraksi tersebut dan beristirahat di antara kontraksi.


Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi setelah 60 menit meneran,
merujuk ibu dengan segera.

V. Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi


14. Jika bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, meletakkan handuk bersih di atas
perut ibu untuk mengeringkan bayi.
15. Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di bawah bokong ibu.
16. Membuka partus set.
17. Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
VI.

Menolong Kelahiran Bayi


Lahirnya Kepala
18. Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu
tangan yang dilapisi kain tadi, letakkan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan
tekanan yang lembut dan tidak menghambat pad akepala bayi, membiarkan kepala keluar

28

perlahan-lahan. Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan-lahan atau bernapas cepat saat
kepala lahir.
Jika ada mekonium dalam cairan ketuban, segera hisap mulut dan hidung setelah kepala
lahir menggunakan penghisap lendir DeLee disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau bola
karet penghisap yang baru dan bersih.
19. Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau kasa yang bersih.
20. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi, dan
kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi :
Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala

bayi.
Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat , mengklemnya di dua

tempat dan

memotongnya.
21. Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan.
Lahir Bahu
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkna kedua tangan di masing-masing
sisi muka bayi. Menganjurkan ibu memeran saat kontraksi berikutnya. Dengan lembut
menariknya ke arah bawah dan kearah keluar hingga bahu arterior muncul di bawha arkus
pubis dan kemudian dengan lembut menarik ke arah atas dan kearah luar untuk melahirkan
bahu posterior.
23. Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada di
bagian bawah ke arah perineum tangan, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke
tangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati perineum,
gunakan lengan bagian bawah untuk menyangga tubuh bayi saat dilahirkan. Menggunakan
tangan anterior (bagian atas) untuk mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat
keduanya lahir.
24. Setelah tubuh dari lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas (anterior) dari
punggung ke arah kaki bayi untuk menyangganya saat punggung dari kaki lahir.
Memegang kedua mata kaki bayi dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.
VII.

Penanganan Bayi Baru Lahir


25. Menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakkan bayi di atas perut ibu dengan posisi
kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakkan
bayi di tempat yang memungkinkan).
26. Segera mengeringkan bayil, membungkus kepala dan badan bayi kecuali bagian pusat.

29

27. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Melakukan urutan
oada tali pusat mulai dari klem ke arah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem
pertama (ke arah ibu).
28. Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari gunting dan memotong tali
pusat di antara dua klem tersebut.
29. Mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih
dan kering, menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat terbuka. Jika bayi mengalami
kesulitan bernapas, mengambil tindakan yang sesuai.
30. Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan
memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya.
Oksitosin
31. Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi abdomen untuk
menghilangkan kemungkinan adanya bayi kedua.
32. Memberi tahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik.
33. Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, memberikan suntikan oksitosin 10 unit IM di
1/3 paha kanan atas ibu bagian luar, setelah mengasparasinya terlebih dahulu.
Penegangan Tali Pusat Terkendali
34. Memindahkan klem pada tali pusat.
35. Meletakkan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat di atas tulang pubis dan
menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus.
Memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.
36. Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan penegangan ke arah bawah pada
tali pusat dengan lembut. Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah
uterus dengan cara menekan uterus ke arah atas dan belakang (dorso kranial) dengan hatihati untuk membantu mencegah terjadinya inversio uteri, jika plasenta tidak lahir setelah
30-40 detik, menghentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga kontraksi berikut
mulai.
Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seorang anggota keluarga untuk
melakukan rangsangan puting susu.
Mengeluarkan Plasenta
37. Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali pusat ke arah
bawah dan kemudian ke arah atas, mengikuti kurve jalan lahir sambil meneruskan tekanan
berlawanan arah pada uterus.
30

Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak 5-10 cm dari vulva.
Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan penegangan tali pusat selama 15 menit:
Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit IM.
Menilai kandung kemih dan mengkataterisasi kandung kemih dengan menggunakan
teknik aseptik jika perlu.
Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan.
Mengulangi penegangan tali pusat selama 15 menit berikutnya.
Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam 39 menit sejak kelahiran bayi.

38. Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta dengan
menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta dengan dua tangan dan dengan hati-hati
memutar plasenta hingga selaput ketuban terpilin. Dengan lembut perlahan melahirkan
selaput ketuban tersebut.
Jika selaput ketuban tidak robek, memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau
steril dan memeriksa vagina dan serviks ibu dengan seksama. Menggunakan jari-jari
tangan atau klem atau forspes disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk melepaskan
bagian selaput yang tertinggal.

Pemijatan Uterus
39. Segera setelah kedua plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan masase uterus,
meletakkan telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar
dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus menjadi keras).
VIII.

Menilai Pendarahan
40. Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin dan selaput
ketuban untuk memastikan bahwa selaput ketuban lengkap dan utuh. Meletakkan plasenta
di dalam kantung plastik atau tempat khusus.
Jika uterus tidak berkontraksi setelah melakukan masase selama 15 detik mengambil
tindakan yang sesuai.
41. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera menjahit laserasi yang
mengalami pendarahan aktif.

31

IX.

Melakukan Prosedur Pasca Persalinan


42. Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan baik. Mengevaluasi
pendarahan persalinan vagina.
43. Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%,
membilas kedua tangan yang masih bersarung tangan tersebut dengan air disinfeksi tingkat
tinggi dan mengeringkannya dengan kain yang bersih dan kering.
44. Menempatkan klem tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau mengikatkan tali
disinfeksi tingkat tinggi dengan simpul mati sekeliling tali pusat sekitar 1 cm dari pusat.
45. Mengikat satu lagi simpul mati dibagian pusat yang berseberangan dengan simpul mati
yang pertama.
46. Melepaskan klem bedah dan meletakkannya kedalam larutan klorin 0,5%.
47. Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya. Memastikan handuk atau
kainnya bersih atau kering.
48. Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI.
49. Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam:
2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan
Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan
Setiap 20-30 menit pada jam kedua pasca persalinan
Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melaksanakan perawatan yang sesuai untuk
menatalaksana atonia uteri. Jika ditemukan laserasi yang memerlukan penjahitan,
lakukan penjahitan dengan anestesia lokal dan menggunakan teknik yang sesuai.
50. Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaiama melakukan masase uterus dan memeriksa
kontraksi uterus.
51. Mengevaluasi kehilangan darah
52. Memeriksa tekanan darah, nadi dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama satu
jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.
Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama 2 jam pertama pasca

persalinan.
Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.

Kebersihan dan Keamanan


53. Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10
menit). Mencuci dan membilas peralatan setelah dekontamniasi.
54. Membuang bahan-bahan yang terkontamniasi ke dalam tempat sampah yang sesuai.
55. Membersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat tinggi. Membersihkan
cairan ketuban, lendir dan darah. Membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.

32

56. Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI. Menganjurkan keluarga
untuk memberikan ibu minuman dan makanan yang diinginkan.
57. Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan larutan klorin 0,5%
dan membilas dengan air bersih.
58. Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, membalikkan bagian
dalam ke luar dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
59. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.

Dokumentasi
60. Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang)

Gambar.2 Presentasi kepala ketika masuk pintu atas panggul

33

Gambar.3 Fleksi ketika masuk rongga panggul

34

Gambar 4. Engagement, putar paksi dalam dan ekstensi

35

36

37

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Fokus utama dari persalinan normal adalah mencegah terjadinya komplikasi.
Pencegahan komplikasi selama persalinan dan setelah bayi lahir akan mengurangi kesakitan
dan kematian ibu serta bayi baru lahir. Hal ini dikarenakan sebagian besar persalinan di
Indonesia masih terjadi di tingkat pelayanan kesehatan primer dengan penguasaan
keterampilan dan pengetahuan petugas kesehatan di fasilitas pelayanan tersebut masih belum
memadai.
3.2 Saran
Penyusun menyadari bahwa refreshing ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu,
saran kritik yang membangun sangat dibutuhkan untuk membuat refreshing yang lebih baik
di masa yang akan datang.

38

DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo, Pror. Dr. dr. Sarwono, Sp.OG. Ilmu Kebidanan Ed. 4, Cet. 1. PT. Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2008. hal.334-347.

2. Sinopsis Obstetri, Jilid I Edisi 2. Jakarta : ECG, 1998.


3. Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal. Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan
Reproduksi. Jakarta. Oktober 2002.

4. Cunningham. Leveno. Bloom. Spong. Dashe. Hoffman. et all. In Normal labor : Williams
Obstetric. Ed 24. Mc Graw Hill.2014

5. Sastrawinata, S. Martaadisoebrata, D. Obstetri Fisiologi Universitas Padjajaran . Buku


penerbit kedokteran. Bandung. 2002

6. Hanretty, K. Editor : Santoso, B. Ilustrasi Obstetri. Ed 7. Churchill livingstone. Jakarta.


2010
7. Rohen JW, Lutjen-Drecoll E, Yokochi C. Color atlas of anatomy: a photographic study of
the human body. 7th ed. Maryland: Lippincott Williams & Wilkins; 2010.

39