Anda di halaman 1dari 16

STATUS PASIEN

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. H

Umur

: 10 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Alamat

: Kedaung 1 / 2

Tanggal Periksa : Rabu, 28 Desember 2012


II. ANAMNESIS
Dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 28 Desember 2012.
Keluhan Utama

: lenting-lenting berwarna merah tersebar di seluruh


bagian tubuh.

Keluhan Tambahan

: gatal pada lenting-lenting merah tersebut, demam,

sakit kepala.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang dengan keluhan timbul lenting-lenting merah tersebar di
seluruh tubuh. Awalnya pasien mengeluh tidak enak badan disertai sakit
kepala dan demam yang tidak terlalu tinggi. Keesokan harinya pasien mengeluh
timbul sebuah lenting di dada. Lenting ini kemudian menyebar ke punggung,
wajah, tangan dan kaki. Pasien juga merasakan gatal di daerah lenting tersebut. Oleh
karena itu, pasien menggaruk lenting-lenting

tersebut

sehingga

pecah

mengeluarkan cairan jernih dan kemudian bekas lenting berubah menjadi


kehitaman. Pasien mengatakan hal ini baru dialami pertama kali dan pasien
juga mengaku belum meminum obat ataupun mengolesi krim pada lenting
tersebut. Pasien hanya menaburkan bedak untuk mengurangi rasa gatal.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada yang memiliki keluhan serupa

III. STATUS GENERALIS


Keadaan Umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: compos mentis

Tanda vital
Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 80 kali/menit

Pernafasan

: 20 kali/menit

Suhu

: 37,50C

BB

: 40 kg

TB

: 148 cm

IMT

: 18, 26

Kepala

: Normocephali

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Paru

: Bunyi nafas vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-

Jantung

: Bunyi jantung I>II , regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

: datar, bising usus (+)normal, supel, timpani


Hepar dan Lien tidak ada pembesaran

Ekstrimitas

: Akral hangat, edema (-/-)

IV. STATUS LOKALIS


UKK : Tampak papul-papul eritematosa, vesikel dengan dasar eritematosa, erosi,
dan krusta hiperpigmentasi,
Lokasi : tersebar diskret dan generalisata
V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak ada
VI. RESUME
Pasien laki-laki 10 tahun datang dengan keluhan timbul lenting-lenting merah
tersebar di seluruh tubuh. Awalnya pasien mengeluh tidak enak badan disertai
sakit kepala dan demam yang tidak terlalu tinggi. Keesokannya pasien mengeluh

timbul sebuah lenting di dada. Lenting ini kemudian menyebar ke punggung,


wajah, tangan dan kaki. Pasien juga merasakan gatal di daerah lenting tersebut. Oleh
karena itu, pasien menggaruk lenting-lenting

tersebut

sehingga

pecah

mengeluarkan cairan jernih dan kemudian bekas lenting berubah menjadi


kehitaman.. Pada status generalis, di dapatkan suhu subfebris,Pada status
lokalis tampak papul-papul eritematosa, vesikel dengan dasar eritematosa,
erosi, dan krusta hiperpigmentasi, tersebar diskret dan generalisata.
VII. DIAGNOSIS KERJA
Varicella
VIII. DIAGNOSIS BANDING
Variola
IX. PEMERIKSAAN ANJURAN
Pemeriksaan Tzanck
IX. PENATALAKSANAAN
Non-medikamentosa:
1. Menjelaskan kepada pasien agar jangan mengaruk dan memecahkan
lenting-lenting tersebut karena dapat menimbulkan bekas luka garukan di kulit.
2.

Jaga kebersihan badan dengan tetap mandi walaupun masih banyak


terlihat lenting-lenting.

3. Istirahat yang cukup


Medikamentosa:
1. Parasetamol 3 x 250 mg p.o
2. Acyclovir 4 x 800 mg p.o (selama 5 hari)
3. CTM 3 x 2 mg p.o
4. Oxytetracycline 3 x oles/hari
5. Imulan 1x1 tab/hari
6. Bedak salisil
X. PROGNOSIS
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad fungtionam

: ad bonam

Quo sanationam

: ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA
A. Varicella
Varicella adalah infeksi akut primer oleh virus varisela zoster yang
menyerang kulit dan mukosa, klinis terdapat gejala konstitusi, kelainan kulit
polimorf, terutama berlokasi dibagian sentral tubuh.. Varisela yang juga dikenal
dengan nama chicken pox atau cacar air adalah penyakit primer VZV.
Penyakit ini merupakan self-limiting disease pada anak-anak, dan bila infeksi
terjadi pada orang dewasa biasanya lebih berat
B. Etiologi dan Penularan
Varicella zoster virus (VZV) merupakan famili human (alpha) herpes
virus. Penamaan virus ini memberi pengertian bahwa infeksi primer virus
menyebabkan penyakit varisela, sedangkan reaktivasinya menyebabkan herpes
zoster. Virus terdiri atas genome DNA double-stranded, tertutup inti yang
mengandung protein dan dibungkus oleh glikoprotein, berukuran 140-200 ,.
Virus ini dapat menyebabkan dua jenis penyakit yaitu varicella (chikenpox)
dan herpes zoster.

Gambar 1-2. Varicella zoster virus (VZV)


Varicella zoster diklasifikasikan sebagai berikut:
Family
sub family
Genus

: Herpesviridae
: Alphaherpesvirinae
: Varicellovirus

Species

: Varicella zoster

Varicella-zoster virus ini sangat menular dan mungkin ditularkan dari


penderita varisela atau zoster. Penyebaran dari virus dapat terjadi secara
langsung dari orang ke orang melalui lesi yang ada, melalui udara (airborne
droplets) atau melalui plasenta. Penularan ini dapat dimulai pada saat 24-49
jam sebelum timbulnya rash dan sampai terbentuknya vesicel, biasanya 37
hari.
C. Epidemiologi
Varicella terdapat di seluruh dunia dan tidak ada perbedaan ras maupun
jenis kelamin. Varicella terutama mengenai anak-anak yang berusia dibawah
20 tahun terutama usia 36 tahun dan hanya sekitar 2% terjadi pada orang
dewasa. Di Amerika, varicella sering terjadi pada anak-anak dibawah usia 10
tahun dan 5% kasus terjadi pada usia lebih dari 15 tahun dan di Jepang,
umumnya terjadi pada anak-anak dibawah usia 6 tahun sebanyak 81,4 %.
Mortalitas/ Morbiditas
-

Banyak terjadi pada anak usia 1-4 tahun, diperkirakan 2 kematian


tiap 100.000 kasus

Kebanyakan kematian di Amerika Serikat terjadi sebelum ada


vaksinasi dan bersama dengan ensefalitis, pneumonia, infeksi bakteri
sekunder, dan sindroma Reye.

Mortalitas pada anak-anak dengan immunocompromise lebih tinggi.

Penyakit ini lebih serius pada neonatus, tergantung kapan infeksi


terhadap ibunya

D. Faktor Risiko
1. Neonatus pada bulan pertama memungkinkan terkena varicella berat,
kecuali ibunya dengan seronegatif.
2. Orang dewasa
3. Pasien yang sedang mendapat terapi steroid dosis tinggi dalam pengobatan
2 minggu.

4. Pasien dengan penyakit keganasan, semua pasien anak kecil dengan


kanker beresiko menderita varicella yang berat.
5. Stadium

immunocompromised

misal

keganasan,

sedang

terapi

antimalignansi, HIV, dan semua kondisi imunodefisiensi didapat maupun


congenital.
6. Wanita yang sedang hamil berisiko tinggi varicella, terutama dengan
pneumonia.

E. Patogenesis

Masa inkubasi varicella 10-21 hari pada anak imunokompeten (rata-rata


14-17 hari) dan pada anak yang imunokompromise biasanya lebih singkat

yaitu kurang dari 14 hari. VZV masuk ke dalam tubuh manusia dengan cara
inhalasi dari sekresi pernafasan (droplet infection) ataupun kontak langsung
dengan lesi kulit.
VZV masuk ke dalam tubuh manusia melalui mukosa saluran pernafasan
bagian atas, orofaring ataupun conjungtiva. Siklus replikasi virus pertama
terjadi pada hari ke 2-4 yang berlokasi pada lymph nodes regional kemudian
diikuti penyrbaran virus dalam jumlah sedikit melaui darah dan kelenjar limfe,
yang mengakibatkan terjadinya viremia primer (biasanya terjadi pada hari ke
4-6 setelah infeksi pertama). Pada sebagian besar penderita yang terinfeksi,
replikasi virus tersebut mengalahkan mekanisme pertahanan tubuh yang
belum matang sehingga akan berlanjut dengan siklus replikasi virus kedua
yang terjadi di hepar dan limpa, yang mengakibatkan terjadinya viremia
sekunder. Pada fase ini, partikel virus akan menyebar ke seluruh tubuh dan
mencapai epidermis pada hari ke 14-16, yang mengakibatkan timbulnya lesi di
kulit yang khas.
Seorang anak yang menderita varicella akan dapat menularkan kepada
yang lain yaitu 2 hari sebelum hingga 5 hari setelah lesi di kulit.
Hal lain yang perl dijelaskan, setelah infeksi primer VZV bertahan hidup
dengan cara menjadi dormant di sistim syaraf sensorik, terutama Geniculatum,
Trigeminal, atau akar Ganglia Dorsalis. Mekanisme imunologi host gagal
menekan replikasi virus, namun VZV diaktifkan kembali jika mekanisme host
gagal menampilkan virus. Viremia VZV sering terjadi bersama dengan herpes
zoster. Virus bermigrasi dari akar saraf sensoris dan menimbulkan kehilangan
sensoris pada dermatom dan rash yang nyeri dan khas.
F. Gambaran Klinis
Varicella pada anak yang lebih besar (pubertas) dan orang dewasa
biasanya didahului dengan gejala prodormal yaitu demam, malaise, nyeri
kepala, mual dan anoreksia, yang terjadi 1-2 hari sebelum timbulnya lesi
dikulit sedangkan pada anak kecil (usia lebih muda) yang imunokompeten,

gejala prodormal jarang dijumpai hanya demam dan malaise ringan dan timbul
bersamaan dengan munculnya lesi dikulit.
Penyebarannya terutama di daerah badan dan kemudian menyebar secara
sentrifugal ke muka dan ekstrimitas, serta dapat menyerang selaput lendir
mata, mulut, dan saluran nafas bagian atas. Jika terdapat infeksi sekunder
terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional. Lesi pada varicella
biasanya sangat gatal dan mempunyai gambaran yang khas yaitu terdapatnya
semua stadium lesi secara bersamaan pada satu saat.
Pada awalnya timbul makula kecil yang eritematosa pada daerah wajah
dan dada, kemudian berubah dengan cepat dalam waktu 12-14 jam menjadi
papul dan kemudian berkembang menjadi vesikel yang mengandung cairan
yang jernih dengan dasar eritematosa. Vesikel yang terbentuk dengan dasar
yang eritematosa mempunyai gambaran klasik yaitu letaknya superfisial dan
mempunyai dinding yang tipis sehingga terlihat seperti kumpulan tetesan air
di kulit (tear drop), berdiameter 2-3 mm. Berbentuk ellips, dengan aksis
panjangnya sejajar dengan lipatan kulit atau tampak vesikel setperti titik-titik
embun diatas daun bunga mawar (dew drop on a rose petal). Cairan vesikel
cepat menjadi keruh disebabkan masuknya sel radang sehingga pada hari ke 2
akan berubah menjadi pustula. Lesi kemudian akan mengering yang diawali
pada bagian tengah sehingga terbentuk umbilikasi (delle) dan akhirnya akan
menjadi krusta dalam waktu 1-3 minggu. Pada fase penyembuhan varicella
jarang terbentuk parut (scar), apabila tidak disertai dengan infeksi sekunder
bakterial.
Varicella yang terjadi pada masa kehamilan, dapat menyebabkan
terjadinya varicella intrauterine ataupun varicella neonatal. Varicella
intrauterine, terjadi pada 20 minggu pertama kehamilan, yang dapat
menimbulkan kelainan kongenital seperti kedua lengan dan tungkai
mengalami atropi, kelainan neurologik maupun ocular dan mental retardation.
Sedangkan varicella neonatal terjadi apabila seorang ibu mendapat varicella
(varicella maternal) kurang dari 5 hari sebelum atau 2 hari sesudah
melahirkan. Bayi akan terpapar dengan viremia sekunder dari ibunya yang

didapat dengan cara transplasental tetapi bayi tersebut belum mendapat


perlindungan antibodi disebabkan tidak cukupnya waktu untuk terbentuknya
antibodi pada tubuh si ibu yang disebut transplasental antibodi. Sebelum
penggunaan varicella zoster immunoglobulin, angka kematian varicella
neonatal sekitar 30%, hal ini disebabkan terjadinya pneumonia yang berat dan
hepatitis yang fulminan. Tetapi jika si ibu mendapat varicella dalam waktu 5
hari atau lebih sebelum melahirkan, maka si ibu mempunyai waktu yang
cukup untuk membentuk dan mengedarkan antibodi yang terbentuk
(transplasental antibodi) sehingga neonatus jarang menderita varicella yang
berat.
G. Komplikasi
Pada anak yang imunokompeten, biasanya dijumpai varicella yang ringan
sehingga jarang dijumpai komplikasi.
1. Infeksi sekunder pada kulit yang disebabkan oleh bakteri

Sering dijumpai infeksi pada kulit dan timbul pada anak-anakyang


berkisar antara 5-10%. Lesi pada kulittersebut menjadi tempat masuk
organisme yang virulen dan apabila meluas dapat menimbulkan
impetigo, furunkel, cellulitis, dan erysipelas.

Organisme infeksius yang sering menjadi penyebabnya adalah


streptococcus grup A yang berasal dari garukan.

2. Scar

Timbulnya scar yang berhubungan dengan infeksi staphylococcus atau


streptococcus yang berasal dari garukan.

3. Pneumonia

Dapat timbul pada anak-anak yang lebih tua dan pada orang dewasa,
yang dapat menimbulkan keadaaan fatal. Pada orang dewasa insiden
varicella pneumonia sekitar 1 : 4000 kasus.

4. Neurologik
a. Acute postinfeksius cerebellar ataxia

Ataxia sering muncul tiba-tiba, selalu terjadi 2-3 minggu setelah


timbulnya varicella. Keadaan ini dapat menetap selama 2 bulan.

Manifestasinya berupa tidak dapat mempertahankan posisi berdiri


hingga tidak mampu untuk berdiri dan tidak adanya koordinasi dan
dysarthria.

b. Encephalitis

Gejala ini sering timbul selama terjadinya akut varicella yaitu


beberapa hari setelah timbulnya ruam. Lethargy, drowsiness dan
confusion adalah gejala yang sering dijumpai.

Beberapa anak mengalami seizure dan perkembangan encephalitis


yang cepat dapat menimbulkan koma yang dalam.

Merupakan komplikasi yang serius dimana angka kematian


berkisar 5-20%

Insiden berkisar 1,7/100.000 penderita

5. Herpes zoster

Komplikasi yang lambat dari varicella yaitu timbulnya herpes zoster,


timbul beberapa bulan hingga tahun setelahnya terjadinya infeksi
primer.

Varicella zoster virus menetap pada ganglion sensoris.

6. Reye syndrome

Ditandai dengan fatty liver dengan encephalophaty

Keadaan ini berhubungan dengan penggunaan aspirin, tetapi setelah


digunakan acetaminophen (antipiretik) secara luas, kasus reye sindrom
mulai jarang ditemukan.

10

H. Pemeriksaan Laboratorium
Untuk pemeriksaan virus varicella zoster (VZV) dapat dilakukan beberapa
test yaitu :
1. Tzanck smear

Preparat diambil dari discraping dasar vesikel yang masih baru,


kemudian diwarnai dengan pewarnaan yaitu hematoxylin-eosin,
Giemsas, Wright, toluidine blue ataupun Papanicolaous
Dengan

menggunakan

mikroskop

cahaya

akan

dijumpai

multinucleated giant cells.

Pemeriksaan ini sensitifitasnya sekitar 84 %

Test ini tidak dapat membedakan antara virus varicella zoster dengan
herpes simpleks virus.

2. Direct fluorescent assay (DFA)

Preparat diambil dari scraping dasar vesikel tetapi apabila sudah


berbentuk krusta pemeriksaan dengan DFA kurang sensitif.

Hasil pemeriksaan cepat

Membutuhkan mikroskop fluorescence

Test ini tidak dapat menemukan antigen virus varicella zoster.

Pemeriksaan ini dapat membedakan antara VZV dengan herpes


simpleks virus.

3. Polymerase chain reaction (PCR)

Pemeriksaan dengan metode ini sangat cepat dan sangat sensitif

Dengan metode ini dapat digunakan berbagai jenis preparat seperti


scraping dasar vesikel dan apabila sudah berbentuk krusta dapat
juga digunakan sebagai preparat dan CSF

Sensitifitasnya berkisar 97-100%

Test ini dapat menemukan nucleic acid dari virus varicella zoster

11

4. Biopsi Kulit
Hasil pemeriksaan histopatologis : tampak vesikel intraepidermal dengan
degenerasi sel epidermal dan acantholysis. Pada dermis bagian atas
dijumpai adanya lymphocytic infiltrate.
I. Diagnosis Banding
Variola
Perbedaan Variola dengan Varicela

Etiologi
Klinis :

Virus Pox

Variola

Varicela
Virus Varicela Zoster

MT

12 hari

14-21 hari

Konstitusi

akut:sakit berat ; Hiperpireksia

prodromal 2-3 hari ; subfebril,

Erupsi

Sentripetal (muka & ekstremitas)

lesu
Sentrifugal (badan lengan /

Jarang pada lipatan

tungkai atas)

Selalu lesi + di telapak tangan & Sering pada lipatan


kaki

Jarang, hampir tak pernah

Monomorf, Umbilikasi +

Polimorf (kadang umbilikasi +)

Selalu pustel

+ infeksi sec pustel

Selalu sikatriks

tak selalu ada sikatriks

Kulit sekitar lesi bengkak


- vesikel multiokuler

hanya eritem
Unilokuler

UKK

P.A

- badan inklusi pada sitoplasma Pada nucleus Lipshutz)


Involusi

Guaneri
Penyembuhan 1 bulan

1-2 minggu

Harus karantina

J. Penatalaksanaan

12

Pada anak imunokompeten, biasanya tidak diperlukan pengobatan yang


spesifik dan pengobatan yang diberikan bersifat simtomatis yaitu :
-

Lesi masih berbentuk vesikel, dapat diberikan bedak agar


tidak mudah pecah

Vesikel yang sudah pecah atau sudah terbentuk krusta, dapat


diberikan salep antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.

Dapat diberikan antipiretik dan analgetik, tetapi tidak boleh


golongan salisilat (aspirin) untuk menghindari sindrom Reye.

Kuku jari tangan harus dipotong untuk mencegah terjadinya


infeksi sekunder akibat garukan.

Obat antivirus
-

Pemberian antivirus dapat mengurangi lama sakit, tingkat


keparahan dan waktu penyembuhan akan lebih singkat.

Pemberian antivirus sebaiknya dalam jangka waktu kurang


dari 48-72 jam setelah erupsi dikulit muncul.

Golongan antivirus yang dapat diberikan yaitu acyclovir,


valasiklovir, dan famasiklovir.

Kontraindikasi pemberian agen antiviral adalah pada penderita


hipersensitif.

Sedangkan efek sampingnya antara lain dapat menyebabkan


gagal ginjal, dehidrasi, dan gangguan neurologist.

Dosis antivirus (oral) untuk pengobatan varicella dan herpes


zoster :

Anak (2-12 tahun) : acyclovir 4 x 20 mg /kg BB/ hari/oral selama 5 hari


Pubertas dan dewasa
-

Acyclovir 5 x 800 mg/hari/oral selama 7 hari

Valasiklovir 3 x 1 gram/hari/oral selama 7 hari

Famasiklovir 3 x 500 mg/hari/oral selama 7 hari

K. Pencegahan

13

Pada anak imunokompeten yang telah menderita varicella tidak diperlukan


tindakan pencegahan, tetapi tindakan pencegahan ditujukan pada kelompok
yang beresiko tinggi untuk menderita varicella yang fatal seperti neonatus,
pubertas ataupun orang dewasa, dengan tujuan mencegah ataupun mengurangi
gejala varicella.
Tindakan pencegahan yang dapat diberikan yaitu :
1. Imunisasi pasif
- Menggunakan VZIG (Varicella zoster immunoglobulin)
- Pemberiannya dalam waktu 3 hari (kurang dari 96 jam) setelah terpajan
VZV, pada anak-anak imunokompeten terbukti mencegah varicella
sedangkan pada anak imunokompromise pemberian VZIG dapat
meringankan gejala varicella.
- VZIG dapat diberikan pada
-

Anak-anak yang berusia < 15 tahun yang belum pernah


menderita varicella atau herpes zoster.

Usia pubertas > 15 tahun yang belum pernah menderita


variclla atau herpes zoster dan tidak mempunyai antibodi terhadap
VZV.

Bayi yang baru lahir, dimana ibunya menderita varicella


dalam kurun waktu 5 hari sebelum atau 48 jam setelah melahirkan.

Bayi prematur dan bayi usia 14 hari yang ibunya


belum pernah menderita varicella atau herpes zoster.

Anak-anak yang menderita leukemia atau lymphoma


yang belum pernah menderita varicella.

Dosis : 125 U / 10 kg BB (dosis minimum : 125 U dan


dosis maksimal : 625 U)

Pemberian secara IM tidak diberikan IV

Perlindungan yang didapat hanya bersifat sementara.

VZIG hanya mengurangi komplikasi dan menurunkan


angka kematian varicella sehingga pada orang-orang yang tidak

14

mengalami gangguan imunologi lebih baik diberikan vaksin


varicella.
Indikasi pemberian VZIG :
a.

Bayi baru lahir dari ibu yang menderita


varicella 5 hari sebelum sampai 2 hari setelah melahirkan.

b.

Anak-anak dengan leukemia atau limfoma


yang belum divaksinasi

c.

Penderita dengan HIV / AIDS atau dengan


imunodefisiensi

d.

Penderita

yang

mendapatkan

terapi

imunosupresan (steroid sistemik)


e.

Wanita hamil

2. Imunisasi Aktif
-

Vaksinasinya menggunakan vaksin varicella virus (Oka


strain) dan kekebalan yang didapat dapat bertahan hingga 10 tahun.

Digunakan di Amerika sejak tahun 1995.

Daya proteksi melawan varicella berkisar antara 71-100%.

Vaksin efektif jika diberikan pada umur 1 tahun dan


direkomendasikan diberikan pada usia 12-18 bulan.

Anak yang berusia 13 tahun yang tidak menderita varicella


direkomendasikan diberikan dosis tunggal dan anak lebih tua diberikan
dalam 2 dosis dengan jarak 4-8 minggu.

Pemberian secara subkutan.

Efek samping : kadang-kadang dapat timbul demam ataupun


reaksi lokal seperti ruam makulopapular atau vesikel, terjadi pada 3-5
% anak-anak dan timbul 10-21 hari setelah pemberian pada lokasi
penyuntikan.

Vaksin varicella : Varivax.

Tidak boleh diberikan pada wanita hamil oleh karena dapat


menyebabkan terjadinya kogenital varicella.

15

L. Prognosis
Varicella pada anak imunokompeten tanpa disertai komplikasi prognosis
biasanya sangat baik sedangkan pada anak imunokompromise, angka
morbiditas dan mortilitasnya signifikan. Dengan perawatan yang teliti dan
memperhatikan higiene memberi prognosis yang baik dan jaringan parut yang
timbul sangat sedikit.
DAFTAR PUSTAKA
Djuanda, Adhi. 2002. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 3. FKUI : Jakarta.
Lubis, Chairudin P. 2003. Varisela Pada Anak Gejala Klinis, Pencegahan Dan
Pengobatan. FKUSU : Medan.
Lubis, Ramona Dumasari. 2009. Varicella dan Herpes Zoster. FKUSU : Medan.
Kurniawan, Martin; Noberta Dessy; Matheu Tatang. 2009. Varicella Zoster pada
Anak. Medicinus Vol 3 No 1 Februari 2009-Mei 2009.

16