Anda di halaman 1dari 58

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK DENGAN EPILEPSI

Disusun oleh :
1. DIAN AGUSTIN

II A ( 12 / 2003 )

2. MELY PRASETYANINGSIH II B ( 60 / 2003 )

DINAS KESEHATAN
AKADEMI KEPERAWATAN LUMAJANG
Maret 2005

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang te
lah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyusun "Makalah Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Epilepsi", dengan sebaikbaiknya. Makalah yang penulis susun ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Keperawatan Anak I dan untuk memberikan tambahan pengetahuan kepada pembaca
mengenai Askep pada anak dengan gangguan epilepsi, pada khususnya.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis dibantu oleh banyak pihak. Oleh kare na itu penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Drs. H. Sudijono, AMK, MM selaku Kepala Akper Lumajang yang telah
membantu penulis dalam pengadaan perpustakaan Akper Lumajang dengan me
-nyediakan literatur - literatur yang dibutuhkan oleh penulis.
2. Ibu Umi Sukowati, S. Kep. Ners. selaku dosen pembimbing mata kuliah Kepera watan Anak I yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan, dan petunjuk ke
pada penulis dalam penyusunan makalah ini.
3. Serta pihak-pihak lain yang juga turut membantu penulis dalam penyusunan maka
lah ini.
Seperti kata pepatah "Tak ada gading yang tak retak", begitu juga dengan makalah yang penulis susun ini, masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis meng harapkan saran dan kritik dari pembaca untuk perbaikan makalah lain waktu yang le bih baik. Semoga dengan adanya makalah ini, dapat menambah wawasan bagi para
pembaca. Amin!.

Lumajang, Maret 2005


Penulis,

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR .ii
DAFTAR ISI iii
BAB I

: PENDAHULUAN ...1

1.1. Latar Belakang Penulisan ..1


1.2. Batasan Masalah 1
1.3. Tujuan Penulisan ...1
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA .2
2.1. Definisi ..2
2.2. Etiologi ..2
2.3. Manifestasi Klinis ..2
2.4. Patofisiologi ...4
2.5. Penegakan Diagnosa .5
2.6. Diagnosa Banding .6
2.7. Pemeriksaan Penunjang 6
2.8. Penatalaksanaan Medis .6
BAB III : ASUHAN KEPERAWATAN ..7
3.1. Diagnosa Keperawatan .7
3.2. Intervensi ..7
BAB IV : PENUTUP 11
4.1. Kesimpulan .11
4.2. Saran ...11
DAFTAR PUSTAKA 12

iii

DAFTAR PUSTAKA
Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Volume 3 Edisi 15. Jakarta: EGC.
Dorland's. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 25. Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta:
Media Aesculapius FKUI.
Pahria, Tuti, S. Kep., dkk. 1996. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta: EGC.
RSUD dr. Soetomo. 1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi Laboratorium/UPFI Ilmu
Kesehatan Anak. Surabaya: RSUD dr. Soetomo.
Shorvon, Simon, D. 1988. Epilepsi. London: ISERG.
Sidharta, Priguna, M., D., Ph., D. 1979. Neurologi Klinis Dalam Praktek Umum. Ja karta: PT. Dian Rakyat.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1991. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan
Anak. Jakarta: FKUI.
Wong, Donna, L. 1995. Nursing Care of Infants and Children Fifth Edition. Missouri:
Mosby - Year Book, Inc.
Wong, Donna, L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4. Jakarta: EGC

12

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang Penulisan


Bangkitan kejang atau sering disebut dengan istilah epilepsi merupakan satu ma

nifestasi daripada lepas muatan listrik yang berlebihan pada sel neuron saraf pusat
( Penfield dan Erickson, 1941 ). Keadaan ini merupakan gejala terganggunya fungsi
otak ( Robb, 1965 ). Epilepsi bukanlah suatu keadaan yang homogen, tetapi bervariasi luas, bentuk, penyebab, dan beratnya, sehingga sukar untuk membuat generalisasi.
Epilepsi merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang utama. Namun
dengan pengobatan, prognosisnya baik dan pada 70 % kasus serangan epilepsi akhir nya akan berhenti. Bahkan pada kebanyakan kasus, keadaan ini hanya aktif dalam ma
sa yang relatif singkat, dan akhir - akhir ini dikemukakan bahwa pengobatan dini da pat memberikan prognosis jangka panjang yang baik.
Insidensnya sangat berbeda dalam berbagai golongan umur, dimana nilai terting
gi terdapat pada masa kanak-kanak, menurun pada usia dewasa muda dan pertengah an, dan meningkat lagi pada usia lanjut. Penyebab epilepsi juga berbeda menurut
umur. Epilepsi sedikit lebih sering pada pria, dan sedikit lebih banyak pada golongan
sosio-ekonomi rendah. Pengaruh perbedaan ras tidak terlihat secara konsisten, dan pe
ngaruh dari lingkungan serta perbedaan sosial berperan penting.

1.2.

Batasan Masalah
Dalam ruang lingkup pembahasan makalah ini, penulis membatasi masalah ha -

nya pada Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Gangguan Epilepsi.

1.3.

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini, yaitu :

1. Mengetahui tentang definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, penegak an diagnosa, diagnosa banding, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan medis.
2. Untuk menerapkan teori tentang epilepsi dalam pemberian Asuhan Keperawatan
pada anak dengan gangguan epilepsi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Epilepsi adalah gangguan kejang kronis dengan kejang berulang yang terjadi ka
rena lepas muatan listrik abnormal sel-sel syaraf otak, yang bersifat reversible dengan
berbagai etiologi, serta membutuhkan pengobatan jangka panjang. Dan tidak setiap
kejang adalah epileptik.

2.2. Etiologi
Kira - kira 70 % kasus epilepsi tidak diketahui penyebabnya. Adapun penyebab
serangan epilepsi yang paling sering terjadi pada anak, yaitu:
1. Kejang demam ( sindroma ).
2. Trauma perinatal ( Cerebral Palsy ).
3. Infeksi susunan saraf pusat ( misalnya, ensefalitis, meningitis, abses ).
4. Lesi struktural intrakranial ( misalnya, AVM, pendarahan, hidrosefalus ).
5. Penyakit metabolik ( misalnya, hipokalsemia, hipoglikemia, hiponatremia, hiper natremia ).
6. Keracunan ( misalnya, keracunan timbal (Pb), obat-obatan ).
7. Penyakit sistemik ( misalnya, penyakit ginjal, hati, infeksi, hematologis ).
8. Faktor herediter.

2.3. Manifestasi Klinis


Menurut Commision of Classification and Terminology of the Internasional Lea
gue against Epilepsy ( ILAE ) bahwa klasifikasi epilepsi sebagai berikut :
1. Sawan Parsial ( Fokal, Lokal )
a. Sawan Parsial Sederhana; Sawan Parsial dengan kesadaran tetap normal.
1) Dengan gejala motorik (yang paling umum pada anak), kesadaran terhadap
gerakan, kedua mata dan kepala saling menjauh dari sisi fokus.
2) Kejang Sylvian (Kejang Rolandic), dimana gerakan tonik-klonik yang meli
batkan wajah, salivasi, bicara terhenti, paling umum selama tidur.
3) Gerakan klonik yang berkembang secara berurutan dari mulai kaki, tangan,
wajah, dan bergerak pada bagian-bagian tubuh yang berdekatan.
2

b. Sawan Sensori Khusus.


Ditandai dengan kesemutan, kebas, parestesia, atau nyeri yang berasal dari satu area (ex; wajah atau ekstremitas), dan menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Sensasi penglihatan atau membentuk gambaran, hipertonia, dan tanda ini ti dak umum terjadi pada anak di bawah 8 tahun.
c. Sawan Parsial Kompleks (psikomotor).
1) Aura ; halusinasi rasa atau pendengaran serta penglihatan, atau perasaan de
ja-vu.
2) Kerusakan kesadaran ; pasien tampak linglung dan konfusi, tidak dapat
-berespon atau mengikuti instruksi.
3) Automatisasi.
4) Pasca kejang; biasanya anak merasa disorientasi, konfusi, dan tidak mempu
nyai ingatan tentang fase kejang.
2. Sawan Umum
a. 1) Sawan Lena ( Absence ), pada sawan ini kegiatan yang sedang dikerjakan
terhenti, muka tampak membengong, bola mata dapat memutar ke atas, ti dak ada reaksi bila diajak bicara, berlangsung selama 15 - 30 menit dan sering dijumpai pada anak.
2) Lena Tak Khas ( Atypical Absence ), dapat disertai dengan gangguan to
nus yang lebih jelas serta permulaan dan berakhirnya bangkitan tidak men
dadak.
b. Sawan Mioklonik, pada sawan ini terjadi kontraksi mendadak, sebentar, dapat
kuat atau lemah pada sebagian otot atau semua otot, sekali atau berulang - u lang, tidak ada kehilangan kesadaran, dan sering dijumpai pada semua umur.
c. Sawan Klonik, pada sawan ini ditandai dengan adanya gerakan menyentak ka
sar, berbusa pada mulut, inkontinensia urin dan feses.
d. Sawan Tonik, pada sawan ini mata ke atas, kesadaran hilang dengan segera, bi
la berdiri akan jatuh ke lantai atau ke tanah, terjadi kekakuan, lengan fleksi, ka
ki, kepala, dan leher ekstensi, tangisan aneh, apnea, serta adanya peningkatan
salivasi.
e. Sawan Tonik-Klonik, sawan ini sering dijumpai pada umur di atas balita yang
sering disebut dengan grand mal, ditandai dengan pingsan mendadak, otot se luruh badan kaku berlangsung 15 - 30 menit diikuti kejang kelojot di seluruh
badan.
3

f. Sawan Atonik, pada keadaan ini otot seluruh badan mendadak melemas sam
pai pasien terjatuh, dan sawan ini sering dijumpai pada anak.
3. Sawan Tak Tergolongkan
Pada sawan ini bangkitan kejang pada bayi berupa gerakan bola mata yang ritmik,
mengunyah-ngunyah, gerakan seperti berenang, menggigil, atau pernafasan yang men
dadak berhenti sementara.

2.4. Patofisiologi
Pada umunya, epilepsi terjadi karena menurunnya potensial membran sel syaraf
sebagai akibat dari proses patologik dalam otak, gaya mekanik atau toksik, yang selan
jutnya menyebabkan terlepasnya muatan listrik dari sel syaraf tersebut.
Lepas muatan listrik yang abnormal ini terjadi karena adanya gangguan keseimbangan antara proses eksistasi dan inhibisi pada interaksi neuron. Hal ini dapat dise babkan oleh gangguan pada sel neuronnya sendiri maupun transmisi sinaptik yang
akan mempengaruhi polarisasi membran sel.
Karena hal tersebut di atas beberapa keadaan dapat mencetuskan bangkitan epi lepsi diantaranya faktor genetik sebagai faktor intrinsik lepasnya muatan listrik yang
abnormal, perubahan sel yang ditimbulkan oleh gangguan keseimbangan elektrolit,
gangguan hormon, dan gangguan pelepasan neurotransmiter.
Penyebaran fokus epileptik dari sekelompok neuron ke bagian otak lain dapat
terjadi oleh gangguan pada kelompok neuron inhibitor yang berfungsi menahan pengaruh sel neuron lain sehingga terjadi sinkronisasi dan aktifasi yang berulang-ulang, sir
kuit kortikokortikal dimana perluasan terjadi melalui serabut asosiasi melalui kospos
kallosum, projeksi talamo-kortikal difus dimana penyebaran ke seluruh ARAS sehing
ga pasien kehilangan kesadarannya.
Proses jalannya penyakit epilepsi dapat digambarkan seperti pada bagan di ba wah ini.
Proses patologik dalam otak, toksik, demam, infeksi ssp, penyakit metabolik

Menurunnya potensial membran sel syaraf

Terlepasnya muatan listrik dari sel syaraf

Epilepsi
4

Transmisi Sinaptik
Faktor Genetik
Gangguan Hormon
Gangguan Pelepasan Neurotransmiter

Automatisme

Aktivitas Motorik

Menurunnya Kesadaran

Resiko Tinggi Cedera, Hipoksia, Aspirasi


Psikologis

Gangguan Konsep Diri

Kurangnya Pengetahuan

Gambar. 2.4.1. Bagan Patofisiologi Epilepsi

2.5. Penegakan Diagnosa


Untuk membantu dalam menegakan diagnosa maka diperlukan pengkajian yang
meliputi; gambaran anak sebelum, selama, dan sesudah kejang, adanya faktor - faktor
pencetus, usia dan waktu ketika kejang. Dan pasien dikatakan epilepsi apabila dari ha
sil pemeriksaan fisik didapatkan pada:
1. Wajah terlihat pucat, cyanosis, kemerahan, keri-ngat, mulut menyimpang ke salah
satu sisi, gigi mengatup, lidah tergigit, mulut berbusa., kurang dalam ekspresi.
2. Mata menyimpang ke atas atau keluar, konjugasi atau divergen, perubahan ukuran
pupil.
3. Pernafasan, adanya apnea, dan stertor (mengorok).
4. Observasi pra, selama, dan pasca kejang yang positif.

2.6. Diagnosa Banding

Adapun diagnosa banding dari epilepsi yaitu sinkop, gangguan jantung, gangguan sepintas peredaran darah otak, hipoglikemia, keracunan, breath holding spells, histeria, narkolepsi, pavor nokturnus, paralisis tidur, migren.

2.7. Pemeriksaan Penunjang


Pada penderita epilepsi dapat dilakukan pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosa yang meliputi; EEG ( Electro Encephalo Graphy ) yang in
-formatif dan dapat memastikan diagnosa epilepsi bila ditemukan pola EEG yang ber
- sifat khas epileptik baik terekam saat serangan maupun di luar seranagn berupa
gelom bang runcing, gelombang paku, runcing lambat, paku lambat.
Pemeriksaan penunjang lainnya adalah pemeriksaan foto polos kepala yang berguna untuk mendeteksi adanya fraktur tulang tengkorak, CT - scan yang membantu
mendeteksi adanya infark, hematom, tumor, hidrosefalus, sedangkan untuk pemeriksa
an laboratoriumnya dapat dilakukan atas indikasi untuk memastikan adanya kelainan
sistemik seperti hipoglikemia, hiponatremia, uremia, dan lain - lain.

2.8. Penatalaksanaan Medis


Tujuan dilakukan pengobatan pada penderita epilepsi adalah untuk mencegah
timbulnya sawan tanpa mengganggu kapasitas fisik dan intelek pasien, dimana penata
laksanaan medisnya meliputi pengobatan medikamentosa dan pengobatan psikososial
Pada pengobatan medikamentosa dapat dilakukan pemberian obat anti-epilepsi
( Carbamazepin, Klonazepam, Asam Valproat, Diazepam, Fenitoin, Fenobarbital )
dan dapat pula diterapkan terapi kausal.
Sedangkan pada pengobatan psikososial dapat dilakukan dengan memberikan
penjelasan tentang pengobatan bahwa dengan pengobatan yang optimal sebagian be
-sar akan terbebas dari sawan. Dan pasien harus patuh dalam menjalani pengobatan
- nya sehingga dapat bebas dari sawan dan melakukan aktivitas sehari-hari seperti
biasa nya.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN
3.1. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang didapatkan dari pasien (anak) dengan epilepsi ada
-lah:
1. Risiko tinggi cedera, hipoksia, dan aspirasi sehubungan dengan aktivitas motorik,
hilangnya kesadaran.
2. Risiko tinggi cedera berhubungan dengan hilangnya kesadaran dan automatisasi.
3. Gangguan konsep diri sehubungan dengan penyakit epilepsi d.d. perasaan minder.
4. Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.

3.2. Intervensi Keperawatan


No. Dx.
Intervensi Keperawatan
1.
Hitung lamanya kejang

Jangan berusaha menstrain

Rasional
Untuk menentu

Kriteria Hasil
Anak tidak

kan durasi ke -

menunjuk

mungkinan hi

-kan tanda -

-poksia dan ke

tanda cidera

-butuhan pera

fisik, mental,

-watan darurat

atau aspirasi

Untuk mence

anak atau menggunakan

-gah cidera

paksaan

pada anak atau


diri sendiri

Bantu anak untuk mencapai


lantai

Tempatkan selimut atau tangan Anda sendiri di bawah

Untuk mence
-gah anak jatuh
Untuk mence
-gah cidera

kepala anak

No. Dx.

Jangan menempatkan apa -

Untuk mence

pun di mulut anak, seperti

-gah cidera,

spatel lidah, makanan atau

menghambat

cairan yang dapat menye

pernafasan atau

-babkan cidera
Intervensi Keperawatan

teraspirasi
Rasional

Kriteria Hasil

Lepaskan kaca mata

Untuk melin
-dungi mata
dari trauma

Longgarkan pakaian yang

Untuk memba

dapat membatasi gerakan

-tasi gerakan

atau pernafasan

atau pernafasan

Cegah anak dari memben


-turkan kepala pada objek

Untuk mence
-gah cidera
sela-ma
sentakan otot
tidak ter

Jauhkan benda-benda yang


berbahaya

Bantali objek seperti keranjang bayi, penghalang TT

-kontrol
Untuk mence
-gah cidera
Untuk mengurangi cidera ka-

Posisikan anak dengan kepala pada garis tengah, bukan hiperekstensi

Bila anak mulai muntah, mi


ringkan dengan hati-hati

Lindungi anak pasca kejang


dan pertahankan anak pada
posisi miring

Hubungi pelayanan medis


darurat

rena benturan
Untuk meningkatkan ventilasi
yang adekuat
Untuk mence
-gah aspirasi
Untuk mence
-gah aspirasi
Untuk mendapatkan pena

2.

Hitung lama kejang

Jangan menstrain, kecuali


dalam bahaya

-nganan segera
Untuk menentu

Anak tidak

kan durasi dan

mengalami

kemungkinan

cidera fisik

kebutuhan pera

dan tetap te-

watan darurat

nang

Untuk mence
-gah cidera

No. Dx.

Intervensi Keperawatan
Rasional

Untuk
mence
Jauhkan bahaya dalam lingkungan

Kriteria Hasil

-gah cidera
pada anak atau
pada diri

Arahkan anak ke area yang


aman, seperti tangga, jende
la, alat pemanas, sumber air

sendiri
Untuk mence
-gah jatuh, luka
bakar, dan teng

Jangan membuat anak teragitasi, bicara dengan suara

gelam
Memberi pera

lembut, dan sikap tenang

-saan yang

baik selama maupun pasca

aman dan

kejang

nyaman pa da

Hubungi pelayanan medis

anak

darurat
Untuk menda
-patkan pena
3.

Diskusikan dengan keluar-

-nganan segera
Untuk memberi

ga pasien mengenai penya

kan support ke-

-kitnya

pada pasien &


keluarga pasien

Dorong pasien dapat mela-

Untuk mening-

kukan hal-hal yang positif

katkan harga di

pada dirinya

ri pasien & dapat mengurangi

4.

Menjelaskan tentang kon-

stress
Mengklarifikasi

Keluarga pa-

disi penyakit pasien kepada

kesalahan per

sien mampu

keluarganya

-sepsi dan

mengungkap

keada an

kan pema

penyakit yang

-haman ten

ada seba -gai

-tang

sesuatu yang

ganggu-an

dapat ditangani

dan berba

No. Dx.

Intervensi Keperawatan

dalam cara hi -

gai rangsang

Rasional
dup yang nor -

yang berpo Kriteria Hasil


tensial pada

mal

Menjelaskan kepada keluar

Pengetahuan

jang

Pasien men-

ga pasien tentang perlunya

tentang penggu

minum obat secara teratur

naan obat (fre -

taati aturan

kuensi, indikasi

obat yang

dosis, dan efek

diresepkan

samping OAE)

aktivitas ke-

Menjelaskan kepada keluar

Pasien me-

sangat diperlu-

mulai peru

kan dalam pena

-bahan

nganan epilepsi

perila-

untuk menghin-

ku/gaya hi

dari tahap yang

-dup sesuai

lebih lanjut

in dikasi

Untuk mengen

ga pasien tentang faktor

dalikan/menu

-faktor yang dapat menim -

-runkan faktor

bulkan serangan

-faktor
predispo sisi
epilepsi

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Epilepsi adalah gangguan kejang kronis dengan kejang berulang yang terjadi ka
rena lepas muatan listrik abnormal sel-sel syaraf otak, yang bersifat reversible dengan
berbagai etiologi, serta membutuhkan pengobatan jangka panjang. Dan tidak setiap
kejang adalah epileptik. Adapun penyebab utama serangan epilepsi yang paling se ring terjadi pada anak, yaitu; kejang demam, trauma, infeksi ssp, penyakit metabolik,
toksik, proses patologik pada otak. Menurut ILAE klasifikasi epilepsi dibagi menjadi
3 macam yang setiap macamnya disertai manifestasi klinisnya.
Untuk membantu dalam menegakan diagnosa maka diperlukan pengkajian yang
meliputi; gambaran anak sebelum, selama, dan sesudah kejang, adanya faktor - faktor
pencetus, usia dan waktu ketika kejang. Pada penderita epilepsi juga diperlukan peme
riksaan penunjang yang meliputi; EEG, foto polos kepala, CT - scan, dan pemeriksa
-an laboratorium.
Tujuan dilakukan pengobatan pada penderita epilepsi adalah untuk mencegah
timbulnya sawan tanpa mengganggu kapasitas fisik dan intelek pasien, dimana penata
laksanaan medisnya meliputi pengobatan medikamentosa dan pengobatan psikososial
yang semuanya itu sudah tercakup dalam Asuhan Keperawatan.

4.2. Saran
Untuk memperbaiki makalah yang penulis susun ini, maka penulis mengharap
kepada pembaca untuk memberi saran demi kebaikan makalah yang penulis susun lebih lanjut.

11

POLA DAN PERKEMBANGAN


PENYAKIT di INDONESIA
Faktor pola penyakit ternyata menunjukkan korelasi dengan beberapa faktor penyebab yang sampai saat ini belum bisa dihindari. Angka kematian rata-rata untuk semua golongan umur penduduk Indonesia menunjukkan angka 49,7 per 1000 pendu
-duk dengan catatan terbanyak :
1. Pada anak usia 1 - 4 tahun 20,4 %.
2. Orang tua usia 50 tahun ke atas 22,3 %.
Kematian yang besar oleh suatu penyakit yang seyogyanya dapat diberantas pa
-da usia 1 - 4 tahun. Di luar angka kesakitan belum termasuk mereka yang masih
dapat lolos hidup, tetapi menderita cacat yang diterima setelah kesembuhannya. Hal
ini men jadi beban bagi negara karena kemampuan potensial akan tenaga kerjanya di
kemu - dian hari sudah tidak dapat dilibatkan secara produktif dalam pembangunan.
Begitu juga dengan umur 50 tahun ke atas di samping karena usianya dalam kondisi
unpro -duktif, dan negara masih dibebani untuk mengeluarkan suatu investasi
terhadap peme liharaan kesehatannya yang tidak dapat diabaikan kebutuhannya
begitu saja.
Pola penyakit di Indonesia diharapkan pada lingkungan yang tidak hygienis se bagai faktor yang menimbulkan berbagai penyakit infeksi. Permasalahan lingkungan
ikut menyebabkan angka kesakitan yang menonjol serta memberikan corak terhadap
pola penyakit yang perlu ditanggulangi.
ISPA ( Infeksi Saluran Pernafasan Atas ) menduduki angka yang cukup tinggi
pada berbagai golongan umur. Sementara kasus lain yang menonjol adalah penyakit
kulit, TBC, dan GE. Bayi sampai umur 1 tahun menjuarai penyakit ISPA 25,2 %, pe
-nyakit kulit 22,9 %, ISPB 13,4 %, diare 10,3 %, dan kekurangan gizi 3, 8 %.
Penyakit saluran pernafasan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat
yang penting di Indonesia dan pada sebagian besar Puskesmas. Penyakit saluran per
-nafasan termasuk dalam 10 besar. Penyakit yang banyak didapatkan pembangunan di
negara kita, khususnya pembangunan di bidang industri berjalan sangat cepat. Kegiatan industri tersebut mempunyai arti penting dan sangat potensial dalam menghasilkan
bahan pencemar udara.

Sejalan dengan waktu, di negara-negara berkembang seperti Indonesia mortali


-tas semakin mencerminkan 2 kategori penyakit yang tidak menular yaitu penyakit
kar

diovaskuler dan kanker. Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab separoh dari


seluruh kematian di negeri industri adalah masalah penyakit pokok dan penyebab utama dari kematian diantara kaum pria berumur pertengahan dan orang-orang tua terma
suk kaum wanita. Kanker merenggut nyawa 1/5 dari semua penduduk di negeri indus
tri adalah tantangan kedua bagi kesehatan penyakit jantung koroner dan penyakit kanker merupakan penyakit degenerasi yang terjadi karena kepekaan manusia terhadap nya, nampaknya meningkat seiring dengan usia. Di samping sifat genetis perorangan
yang tidak menguntungkan, makan berlebihan, terlalu banyak duduk dan rokok,
semuanya kelihatannya menggalakkan serangan jantung serta sekian penyakit kardiovaskuler. Sebagian besar penelitian menandaskan bahwa sekitar 70 % - 90 % dari se
-luruh penyakit kanker boleh dikata bersumber dari sebab - sebab lingkungan.
Banyak sumber kanker yang belum ditemukan tapi beberapa diantaranya sudah
diketahui yaitu asap rokok, berbagai faktor diet, radiasi ultraviolet yang berion, serta
zat-zat ki -miawi dan polutan tertentu. Oleh karena kanker umumnya berasal dari
faktor ling - kungan dan bukan faktor genetik, secara teoritis kanker bisa dihindari.
Sementara nutrisi mempengaruhi daya tahan seseorang dalam berhadapan de
-ngan keganasan penyakit menular, keadaaan sanitasi biasanya menentukan
seringnya orang berhubungan dengan sekian bakteri, virus, dan parasit yang
menyebabkan ke - matian dan perusak jasmani yang umumnya sudah tua bisa
dikatakan sudah terhapus sepenuhnya di tahun 1977. Baru 1 dasawarsa yang lampau,
penyakit cacar masih me -landa Asia dan kembali menyerang negara-negara
berkembang seperti halnya Indone-sia. Bahkan sesudah cacar ditaklukkan sekalipun,
muncul penyakit baru lainnya yaitu kolera, kolera selama puluhan tahun dianggap
sudah diusir kembali ke tempat asalnya di Asia Selatan untuk selama-lamanya.
Namun sejak tahun 1961, kolera telah menye-rang kembali secara ganas untuk ke
tujuh kalinya di sekian benua yang bermula di In-donesia. Kolera berjangkit dari
orang ke orang melalui selokan dan air serta makanan yang tidak bersih.
Gaya hidup dan sekian pengaruh lngkungan lainnya di negara - negara berkem bang dikaitkan dengan banyak penyebab kematian penting lainnya, di samping penya
kit kardiovaskuler dan kanker. Pesatnya peningkatan jumlah penderita DM nampak

-nya diakibatkan oleh perpaduan antara faktor genetik dan diet. Sirosis hati biasanya
di sebabkan oleh alkoholisme. Tidak bisa dipungkiri bahwa tingkat empisema dan
bron- kitis kronis digalakkan oleh rokok dan polusi udara di perkotaan. Kecelakaan,
bunuh diri dan pembunuhan jelas bersumber pada keadaan sosial.

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 1999. Berita Epidemiologi. Jakarta: Depkes RI.
Eckholm, Erik, P. 1985. Masalah Kesehatan. Jakarta: PT Gramedia.
Ryadi, Slamet, Dr. 1982. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Surabaya: Usaha Nasional.

POLA DAN PERKEMBANGAN


PENYAKIT di INDONESIA

KELOMPOK I ( II B
1. IRMA FAHMAWATI S
2. KURNIAWATI PUSPITASARI
3. LENI NOVI A
4. NOVITA D M
5. LINDA MAYASARI
6. LUCKY RAHMAWATI
7. LULUK MAZIDATUR R
8. MAULIDIAN
9. MELY PRASETYANINGSIH
10.
MUFIDATUS SALAMAH
11.
PENI KUSUMA R
12.
PIPIT SETYORINI
13.
RATIH ANGGRAENI
14.
RATIH FAJARWATI U
15.
RIANINGTYAS P A
16.
RIRIN SETYANINGSIH
17.
RISQI DWI ARISANTI
18.
SILVI KARUNIAWATI
19.
SITI MASHUDAH
20.
SYAIFUL ANAM
21.
TEGUH BAMBANG H
22.
VIRNIA NOURMA S
23.
VITA FITRIA Y
24.
YAYUK PUJI R
25.
YUNFIKA KHARIQUL A

):
( 47/2003 )
( 50/2003 )
( 51/2003 )
( 52/2002 )
( 54/2003 )
( 55/2003 )
( 56/2003 )
( 58/2003 )
( 60/2003 )
( 63/2003 )
( 70/2003 )
( 71/2003 )
( 74/2003 )
( 75/2003 )
( 77/2003 )
( 79/2003 )
( 80/2003 )
( 82/2003 )
( 83/2003 )
( 84/2003 )
( 85/2003 )
( 90/2003 )
( 91/2003 )
( 97/2003 )
( 99/2003 )

DINAS KESEHATAN
AKADEMI KEPERAWATAN LUMAJANG
Maret 2005

DAFTAR PUSTAKA
Bursa Mahasiswa Senat Mahasiswa FK Airlangga. Diktat Kuliah Ilmu Kesehatan
Anak 3. Surabaya : FK Airlangga.
Bursa Mahasiswa Senat Mahasiswa FK Airlangga. Diktat Kuliah Ilmu Kesehatan
Anak 5. Surabaya : FK Airlangga.
Dorland's.1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 25. Jakarta : EGC.
Harianto, Agus, dkk. 1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi LAB/UPF Ilmu Kesehat an Anak. Surabaya : RSUD Dr. Soetomo.
Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta :
Aesculapius FKUI.

15

BAB I
DEMAM TIFOID
1.1.

Pengertian
Demam Tifoid adalah suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman

Salmonella Typhi.

1.2.

Epidemiologi
Di Indonesia penyakit ini bersifat endemik dimana banyak kasus dijumpai

sepanjang tahun. Hubungan dengan musim masih tidak jelas, di Jakarta terdapat dua
puncak kejadian yaitu pada musim panas ( Juni - Juli ) dan permulaan musim hujan
( Desember - Januari ). Banyaknya kasus ini antara lain karena kurangnya pengertian
hygiene dan sanitasi pada masyarakat, dan keterbatasan penyediaan sarana air sehat /
bersih. Dari berbagai data Rumah Sakit tampaknya Demam Tifoid menduduki
peringkat ketiga dalam urutan penyakit infeksi dengan CFR sekitar 2 - 5 %.

1.3.

Patofisiologi
Penularan penyakit Demam Tifoid adalah secara 'faeco-oral'. Kuman

Salmonella Typhi masuk tubuh melalui mulut bersama dengan makanan atau
minuman yang tercemar, kemudian masuk ke usus dan peredaran darah (bakteriemi I)
melalui aliran limfe. Selanjutnya kuman menyebar ke seluruh tubuh. Dalam sistem
retikuloendotelial (hati, limpa, dll) kuman berkembang biak dan masuk ke peredaran
darah kembali (bakteriemi II).
Kuman melepaskan endotoksin yang merangsang terbentuknya pirogen
endogen. Zat ini mempengaruhi pusat pengaturan suhu di hipotalamus dan
menimbulkan gejala demam.

1.4.

Gejala Klinis
Keluhan dan gejala Demam Tifoid tidaklah khas, terutama pada anak. Gejala

klinis yang timbul dapat digolongkan ke dalam demam, gangguan saluran pencernaan
dan gangguan kesadaran. Masa tunas berkisar antara 6 - 14 hari. Keluhan utamanya
yaitu demam yang sering disertai sakit kepala. Selama itu penderita juga mengeluh
sakit perut dan sembelit (konstipasi). Epistaksis mungkin dikeluhkan, demikian juga

1
anoreksia, dan mencret karena adanya gangguan saluran pencernaan.
Pada pemeriksaan tampak gejala yang disebut lidah tifoid yaitu tepi dan
ujungnya hiperemia, bila dijulurkan ada tremor. Gejala neuropsikiatrik akan lebih
sering ditemukan berupa epati, somnolen, iritabel - delier bahkan sopor atau
semicoma. Gejala kejang jarang ditemukan pada penderita Demam Tifoid. Gejala
panas menghilang sesudah 5 - 7 hari. Penyulit yang pernah ditemukan meliputi ileus
paralitik pneumonia, hepatitis, encephalopati, otitis purulenta, shock, perdarahan usus
dan perforasi.

1.5.

Diagnosis
Diagnosis pasti Demam Tifoid dapat ditegakkan apabila ditemukan kuman

dalam darah, sumsum tulang, tinja atau air kemih. Gabungan gambaran klinis dan
peningkatan titer antibodi yang bermakna ( Uji Widal ) membantu diagnosis. Hasil
uji widal dianggap positif apabila titer antibodi 0 adalah 1 : 200 atau lebih.
Gambaran darah tepi dapat menunjukkan leukositosis, leukopenia, anemia,
aneosinofilia atau limfositosis relatif. Demam Tifoid harus dibedakan dengan semua
penyakit yang disertai demam, seperti: campak, DHF, Tuberkulosis Paru, ISK,
malaria, meningitis, dan sebagainya.

1.6.

Penatalaksanaan
Penderita Demam Tifoid perlu mendapat perawatan isolasi, tirah baring,

mobilisasi secara bertahap. Makanan sebaiknya tidak merangsang, tidak mengandung


banyak serat dan bahan - bahan yang menimbulkan gas, tranfusi kadang - kadang
diperlukan bila terdapat anemia, malnutrisi, atau timbul penyulit usus (perdarahan
atau perforasi).
Berbagai antibiotik sebenarnya efektif untuk Salmonella Typhi tetapi yang
sering digunakan adalah kloramfenikol, tiamfenikol, ampicilin, amoksisilin, dan
kotrimoksazol. Dosis dan lama pengobatan untuk masing-masing antibiotik adalah
sebagai berikut :
Kloramfenikol : 50 - 100 mg/kg/hari, iv atau per oral, 3 kali sehari selama

10 -

14 hari.
Amoksisilin : 100 mg/kg/hari, per oral, 3 kali sehari selama 14 hari.
Kotrimoksazol : 8 - 10 mg/kg/hari, per oral, 2 - 3 kali sehari selama 10 - 14 hari.

2
Pengobatan kortikosteroid hanya diberikan pada penderita dengan Ensefalopati
dan atau syok septik.

1.7.

Komplikasi
Berbagai macam penyulit pada penderita Demam Tifoid di usus dapat berupa

perdarahan atau perforasi, sedangkan penyulit di luar usus dapat berupa pneumonia,
hepatitis, kelainan neurologi, artritis, parotitis, dll.

1.8.

Pencegahan
Pencegahan dapat dilaksanakan dengan penyuluhan tentang kebersihan

perorangan dan sanitasi lingkungan disamping upaya penyediaan air sehat. Imunisasi
dengan vaksin yang mengandung Salmonella Typhi. Akhir - akhir ini mulai
dikembangkan imunisasi secara oral.

BAB II
INFEKSI SALURAN KEMIH
( ISK )
2.1.

Pengertian
Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) adalah keadaan bertumbuh dan berkembang

biaknya kuman di dalam saluran kemih dengan jumlah yang bermakna, mulai dari
uretra, buli - buli, ureter, piala ginjal sampai ke jaringan ginjal.

2.2.

Macam - macam ISK


a. Pyelonefritis Akut
yaitu infeksi kuman pada ginjal yang disertai gejala - gejala klinis.
b. Pyelonefritis Kronik
yaitu infeksi kuman pada ginjal yang menahun dengan atau tanpa gejala
klinis.
c. Bakteriuria Bermakna
yaitu terdapatnya kuman patogen dalam air seni lebih dari 10 5 / ml.
d. Bakteriuria Asimptomatik
yaitu infeksi saluran kemih tanpa gejala klinis dan pada biakan urine
terdapat kuman patogen lebih dari 10 5 / ml.

2.3.

Epidemiologi
Penderita Infeksi Saluran Kemih sering menyerang neonatus yang tergolong

bakteriuria simptomatis dengan prosentase 1 - 3,7 % pada laki - laki, dan menyerang
wanita sekitar 0,3 - 2,1 %. Selain menyerang neonatus, Infeksi Saluran Kemih juga
menyerang pada bayi dengan prosentase 32 % ( data BKIA RS Dr. Soetomo ), dan
selebihnya menyerang balita dengan prosentase 3,3 %.

2.4.

Etiologi
Penyebab tersering pada penderita Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) yaitu E. Coli,

sedangkan penyebab lainnya dikarenakan Klebsiela, Enterobakteri, Pseudomonas,


Sterptococcus, dan Stafilococcus.

2.5.

Patofisiologi
Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) terjadi melalui hematogen yang bisa terjadi pada

bayi sebagai akibat sepsis, selain itu ISK juga terjadi melalui per kontinuitatum yang
sering terjadi pada anak besar dimulai dari perineum kemudian menjalar secara
asendens ke kandung kemih, masuk ke ureter atau parenkim ginjal.

2.6.

Faktor Predisposisi ISK


Faktor predisposisi Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) meliputi :

a. Kelainan kongenital yang bersifat obstruktif atau refluks.


b. Batu saluran kemih.
c. Pemasangan kateter kandung kemih.
d. Stasis urin karena obstipasi.
e. Tumor.
f. Kandung kemih neurogenik.
g. Kerusakan ginjal oleh karena jaringan parut intra renal.
h. Penyakit metabolik ( Gout, Nefrokalsinosis, DM, Defect Vitamin A, Defect K + ).

2.7.

Gejala Klinis
Gejala klinis Infeksi Saluran Kemih bergantung pada umur penderita.
a. 0 - 1 bulan

: gangguan pertumbuhan, anoreksia, muntah dan diare, ke jang, koma, panas / hipotermia tanpa diketahui sebabnya,
ikterus.

b. 1 bulan - 2 tahun : panas / hipotermia tanpa diketahui sebabnya, gangguan


pertumbuhan, anoreksia, muntah, diare, kejang, koma, ko
lik ( anak menjerit keras , air kemih berbau atau berubah
warna, kadang - kadang disertai nyeri perut / pinggang.
c. 2 - 6 tahun

: bisa berupa panas / hipotermia yang tidak jelas sebabnya,


tidak dapat menahan kencing, disuria, enuresis, air kemih
berbau dan berubah warna, diare, muntah, gangguan per tumbuhan serta anoreksia.

d. 6 - 18 tahun

: nyeri perut / pinggang, panas tanpa diketahui sebabnya, tidak dapat menahan kencing, disuria, enuresis, air kemih
berbau dan berubah warna.

2.8.

Pemeriksaan Penunjang ISK


Pemeriksaan penunjang Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) dapat berupa :

a. Biakan Urin
Biakan urin pancaran tengah ( midstream urine ) dan kateterisasi dimana
kandung kemih dianggap positif bila jumlah kuman lebih dari sama dengan
100.000/ml urin. Jumlah kuman antara 10.000 - 100.000 /ml urin dianggap
meragukan dan perlu diulang. Apabila jumlah kuman kurang dari 10.000 /ml urin
maka hasil dianggap sebagai kontaminasi. Dan biakan urin dari fungsi kandung
kemih dianggap positif apabila ditemukan lebih dari sama dengan 200 kuman/ml
urin.
b. Urin Lengkap
Tidak ada korelasi pasti antara pyuria dan bakteriuria, tetapi pada setiap kasus
dengan pyuria harus dicurigai kemungkinan adanya ISK. Dan bila ditemukan silinder
leukosit, kemungkinan pyelonefritis perlu dipikirkan.
c. Radiologis
Pemeriksaan USG sedapat mungkin dilakukan pada semua pasien ISK. PIV
( Pyelographi Intravena ) dapat dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya
pyelonefritis kronik, kelainan kongenital maupun obstruksi. Miksio - Sisto Uretrographi ( MSU ) dapat ditemukan tanda - tanda refluks vesiko - ureter atau
penyempitan pada muara uretra.
d. Pemeriksaan Penunjang Lainnya
Pemeriksaan penunjang lainnya dapat berupa pemeriksaan LED, kadar protein
C - reaktif, penurunan fungsi ginjal, dan adanya azotemia yang dapat memberi
petunjuk adanya ISK bagian atas.

2.9.

Diagnosis
Diagnosis yang ditegakkan berdasarkan adanya jumlah bakteri yang bermakna

dalam urin yang seharusnya steril dengan atau tanpa disertai pyuria.

2.10. Prognosis
Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) tanpa kelainan anatomis mempunyai prognosis
lebih baik bila pengobatan pada fase akut adekuat dan disertai pengawasan terhadap
kemungkinan infeksi berulang.

2.11. Penatalaksanaan
Pada dasarnya ada 3 prinsip penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih yakni
dengan memberantas infeksi, menghilangkan faktor predisposisi, dan memberantas
penyulit.
a. Penatalaksanaan Umum
Atasi demam, muntah, dan dehidrasi pada penderita ISK. Kemudian anak
dianjurkan banyak minum dan jangan dibiasakan kencing. Pada penderita yang
disertai dengan dysuria diatasi dengan Fenozopiridin ( Pyridium ) dengan dosis 7 - 10
mg/kg BB/hari. Selain itu faktor predisposisi ISK dicari dan dihilangkan.
b. Penatalaksanaan Khusus
Penatalaksanaan Khusus pada penderita ISK ditujukan pada 3 hal, yaitu :
1) Pengobatan infeksi akut
Pada keadaan berat atau demam tinggi dan keadaan umum lemah segera berikan
antibiotik tanpa menunggu hasil biakan urin dan uji resistensi kuman. Obat pilihan
pertama adalah ampisilina, kotrimoksazol, sulfisoksazol, asam nalidiksat, dan
nitrofurantoin. Obat pilihan kedua adalah aminoglikosida (gentamicin, amikasin, dll),
sefaleksin, doksisiklin, dll, dimana terapi diberikan selama 7 hari.
2) Pengobatan dan pencegahan infeksi berulang
30 - 50 % penderita akan mengalami infeksi berulang dan sekitar 50 %
diantaranya tanpa gejala, maka perlu dilakukan biakan ulang pada minggu pertama
selesai pengobatan akut, dan kemudian 1 bulan, 3 bulan dan seterusnya setiap 3 bulan
selama 2 tahun. Setiap infeksi berulang harus diobati seperti pengobatan fase akut.
Bila reinfeksi terjadi lebih dari 2 kali maka pengobatan dilanjutkan dengan terapi
profilaksis menggunakan obat antisepsis saluran kemih yaitu nitrofurantoin,
kotrimoksazol, sefaleksin, atau metenamin mandelat. Umumnya dosis diberikan 1/4
dosis normal, satu kali sehari yaitu pada malam hari selam 3 bulan. Bila ISK disertai
dengan kelainan anatomis, maka pemberian obat disesuaikan dengan hasil uji
resistensi dan terapi profilaksis kemudian dilanjutkan selama 6 bulan, bila perlu
sampai 2 tahun.
Adapun dosis pemberian antibiotik pada penderita Infeksi Saluran Kemih yaitu :
-

Pada Neonatus :

Ampisilina : 50 - 100 mg/kg/hari, secara IM/IV, dibagi 3 - 4 dosis.


Gentamisin : 5 - 7 mg/kg/hari, secara IM, dibagi 2 - 3 dosis.
Tobramisin : 5 - 7 mg/kg/hari, secara IM, dibagi 2 - 3 dosis.

Antibiotik diberikan selama 10 - 14 hari.


-

Pada Anak :

Kotrimoksazol : 4 - 8 mg/kg/hari, dibagi 2 dosis.


Ampisilina

: 50 - 100 mg/kg/hari, dibagi 3 - 4 dosis.

Amoksisilina

: 50 - 100 mg/kg/hari, dibagi 3 - 4 dosis.

Sefaleksin

: 50 - 100 mg/kg/hari, dibagi 3 - 4 dosis.

Asam nalidiksat : 50 mg/kg/hari, dibagi 3 dosis.


Nitrofurantoin

: 3 - 5 mg/kg/hari, dibagi 3 dosis.

3) Koreksi Bedah
Apabila pada pemeriksaan radiologis ditemukan obstruksi, maka perlu
dilakukan koreksi bedah. Penanganan terhadap refluks tergantung dari stadium,
dimana refluks pada stadium I sampai stadium III biasanya akan menghilang dengan
pengobatan terhadap infeksi, sedangkan pada stadium IV dan stadium V perlu
dilakukan koreksi bedah dengan reimplantasi ureter pada kandung kemih
(ureteroneosistostomi). Dan pada pyonefrosis atau pyelonefritis atrofik kronik,
nefrektomi, kadang - kadang perlu dilakukan koreksi bedah.

2.12. Komplikasi
Pyelonefritis berulang dapat mengakibatkan hipertensi, parut ginjal, dan gagal
ginjal kronik.

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang te
lah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyusun " Makalah Ilmu Patologi Anak tentang Poliomyelitis dan Kolera ", dengan
sebaik-baiknya. Makalah yang penulis susun ini dibuat untuk memenuhi tugas mata
kuliah Ilmu Patologi Anak, dan untuk memberikan tambahan pengetahuan kepada
pembaca mengenai Ilmu Patologi pada anak tentang Poliomyelitis dan Kolera pada
khususnya.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis dibantu oleh banyak pihak. Oleh kare na itu penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Drs. H. Sudijono, AMK, MM selaku Kepala Akper Lumajang yang telah
membantu penulis dalam pengadaan perpustakaan Akper Lumajang dengan me
-nyediakan literatur - literatur yang dibutuhkan oleh penulis.
2. Dr. Retna, Sp,A. selaku dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Patologi Anak yang
telah banyak memberikan arahan, bimbingan, dan petunjuk kepada penulis dalam
penyusunan makalah ini.
3. Anggota kelompok III yang turut membantu mulai dari awal sampai akhir
penyusunan makalah ini.
4. Serta pihak-pihak lain yang juga turut membantu penulis dalam penyusunan maka
lah ini.
Seperti kata pepatah "Tak ada gading yang tak retak", begitu juga dengan makalah yang penulis susun ini, masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis meng harapkan saran dan kritik dari pembaca untuk perbaikan makalah lain yang lebih
baik. Semoga dengan adanya makalah ini, dapat menambah wawasan bagi para
pembaca. Amin!.

Lumajang, Juli 2005


Penulis,

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR .ii
DAFTAR ISI ..iii
BAB I : POLIOMYELITIS ....1
1.1. Pengertian .1
1.2. Patofisiologi ..1
1.3. Gejala Klinis .1
1.4. Diagnosis ..2
1.5. Penatalaksanaan 2
1.6. Komplikasi 3
BAB II : KOLERA 4
2.1. Pengertian .4
2.2. Patofisiologi .4
2.3. Gejala Klinis 4
2.4. Diagnosis ..4
2.5. Penatalaksanaan ...4
2.6. Komplikasi ...5
DAFTAR PUSTAKA .6

iii

MAKALAH ILMU PATOLOGI ANAK


tentang
POLIOMYELITIS DAN KOLERA

KELOMPOK III ( II B ) :
1. IRMA FAHMAWATI SUDIRMAN
2. KUKUH AHMAD PRASETIYO
3. KURNIAWATI PUSPITASARI
4. LENI NOVI ANGGRAENI
5. LINDA AMALIA
6. LINDA ANDRIANA
7. LINDA MAYASARI
8. LUCKY RAHMAWATI
9. LULUK MAZIDATUR ROHMAH
10.
MAULIDIAN
11.
MEINDRA KUSWARDANI
12.
MELY PRASETYANINGSIH
13.
M. NANANG FIRMANSYAH
14.
MUFIDATUS SALAMAH
15.
NIKEN ANGGRAENI
16.
NOVI NURHAYATI
17.
NUR FITA FATMAWATI
18.
NURANI EKOWATI
19.
NURWATIK
20.
PENI KUSUMA RAHAYU
21.
PIPIT SETYORINI
22.
PUSFITA DWI ROSANTINA
23.
PUSFITA WULANDARI
24.
RATIH ANGGRAENI
25.
RATIH FAJARWATI UTAMI

( 47/2003 )
( 49/2003 )
( 50/2003 )
( 51/2003 )
(52/2003 )
(53/2003 )
( 54/2003 )
( 55/2003 )
(56/2003 )
( 58/2003 )
( 59/2003 )
( 60/2003 )
( 62/2003 )
( 63/2003 )
(65/2003 )
( 66/2003 )
( 67/2003 )
(68/2003 )
( 69/2003 )
( 70/2003 )
( 71/2003 )
( 73/2003 )
( 72/2003 )
( 74/2003 )
( 75/2003 )

DINAS KESEHATAN
AKADEMI KEPERAWATAN LUMAJANG
JULI 2005
MAKALAH ILMU PATOLOGI ANAK

tentang
DEMAM TIFOID, INFEKSI SALURAN KEMIH,
DAN ILEUS OBSTRUKTIF

KELOMPOK IV, DAN V ( II B ) :


26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.

LENI NOVI ANGGRAENI


LINDA MAYASARI
LUCKY RAHMAWATI
MAULIDIAN
MEINDRA KUSWARDANI
MELY PRASETYANINGSIH
M. NANANG FIRMANSYAH
NURANI
NURWATIK
PUSFITA WULANDARI
RATIH ANGGRAENI
RISQI DWI ARISANTI
RUHASTATRI PRAGAMA
TEGUH BAMBANG HERMANTO
TIWIK SURYANTI
TOTOK HARIADI
UMI ANISATUL HASANAH
WIWIN KOVA RIANTI
YULIANI

( 51/2003 )
( 54/2003 )
( 55/2003 )
( 58/2003 )
( 59/2003 )
( 60/2003 )
( 62/2003 )
(68/2003 )
( 69/2003 )
( 72/2003 )
( 74/2003 )
( 80/2003 )
( 81/2003 )
( 85/2003 )
( 87/2003 )
( 88/2003 )
( 89/2003 )
( 96/2003 )
( 98/2003 )

DINAS KESEHATAN
AKADEMI KEPERAWATAN LUMAJANG
JUNI 2005
BAB I
POLIOMYELITIS
1.1.

Pengertian
Poliomyelitis adalah infeksi akut yang menular, mengenai susunan saraf dan

disebabkan oleh satu diantara 3 enterovirus : Poliovirus I, II, atau III.

1.2.

Patofisiologi
Virus masuk melalui mulut dengan mengadakan implantasi yang kemudian

terjadi multiplikasi di dalam mukosa oropharynx dan usus. Terjadinya viremia pada
permulaan masa tunas pada 3 sampai 5 hari setelah virus masuk tubuh, dan virus
dapat ditemukan dalam darah, tenggorok, dan tinja penderita. Pada saat inilah muncul
keluhan-keluhan minor illness. Akhir periode viremia ditandai pembentukan
antibody, bila tidak cukup nampak permulaan gejala klinis terkenanya susunan saraf
pusat, dimana terjadi nekrosis pada neuron dengan adanya chromatolysis,
neuronophagia, atau terjadi kematian sel secara cepat dengan pembengkakan nucleus,
koagulasi Nissl bodies, dan disintegrasi sitoplasma.
Pada medulla spinalis terutama mengenai cornu anterior, kelainan pada otak
terjadi pada formatio reticularis daripada pens dan medulla, nuclei vestibulares,
vermis cerebellaris serta deep nuclei.

1.3.

Gejala Klinis
Masa tunas 7 - 14 hari, 90 - 95 % pada penyakit sub klinis, dimana gejala

klinisnya ada 2 yaitu :


a. Infeksi Abortif ( 4 - 8 % )
Pada infeksi abortif gejala klinisnya meliputi febris ringan, myalgia, mual muntah ( minor illness ), dimana tahap lanjutnya timbul gangguan pada susunan saraf
pusat (major illness ), dan bila melakukan aktivitas berlebih maka akan terjadi
kerusakan yang lebih hebat.
b. Kelainan Susunan Saraf yang meliputi :
a) Meningitis Aseptik ( non paralitik ).
b) Bentuk Paralitik ( 1 - 2 % ).
1
Pada Poliomyelitis non paralitik muncul gejala rangsangan meningeal yakni sakit
kepala, kaku kuduk, kaku punggung, dan muntah. Pada tanda - tanda kekakuan otot
dapat ditunjukkan dengan pemeriksaan "tripod sign", "kiss his knees test", dan "head
drop sign". Sedangkan pada bentuk paralitik terdapat faktor predisposisi berupa
trauma, tonsilektomia, pencabutan gigi, dan suntikan. Fase non paralitik diikuti
kenaikan suhu, menghilangnya refleks - refleks, adanya kelumpuhan layu dan
asimetris. Kelumpuhan bisa pada daerah bulbar, spinal, atau bulbospinal. Fase akut

pada susunan saraf berlangsung selama beberapa hari sampai 2 minggu disusul fase
konvalesen beberapa minggu sampai beberapa bulan.

1.4.

Diagnosis
Pada Poliomyelitis nonparalitik diagnosis bandingnya yakni aseptic meningitis,

meningitis bakteriil dengan pengobatan parsiil, meningitis serosa stadium dini,


syphilis meningovascular, lymphocytic choriomeningitis, demam rematik akut, dan
osteomyelitis. Sedangkan, pada Poliomyelitis paralitik diagnosis bandingnya meliputi
sindroma Guillain - Barre, penyakit autoimmune atau myositis, encephalitis, abses
serebri, kelainan vaskuler, diphtheria, dan botulismus.
Pemeriksaan yang digunakan untuk menegakkan diagnosis Poliomyelitis
meliputi pemeriksaan klinis, laboratorium darah, cairan serebrospinal, isolasi virus,
dan serologi, dan pemeriksaan radiologi.

1.5.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada Poliomyelitis mencakup :

a. Pengobatan
Tidak ada pengobatan yang spesifik. Pengobatan pada Poliomyelitis dapat
dipenuhi dengan kebutuhan cairan dan kalori, tirah baring sempurna minimum 7 hari,
"proper positioning", kompres hangat, bila perlu berikan analgesik / sedativa.
Pemberian analgesik dapat berupa Paracetamol 10 mg/kg/dosis, 3 - 4 kali / hari. Dan
pemberian sedativa berupa Fenobarbital 1,5 - 2 mg/kg/dosis, 3 kali / hari. Penderita
dengan gangguan menelan dan pernafasan perlu dijaga agar jalan nafas bebas. Bila
perlu oksigen, gunakan dengan sungkup, intranasal, atau tracheostomy, bahkan
kadang - kadang perlu respirator.
b. Fisioterapi dan Rehabilitasi ditujukan terhadap pencegahan terjadinya cacat.
c. Pencegahan dapat berupa imunisasi aktif dengan OPV atau IPV. Isolasi penderita
Poliomyelitis selama 7 - 14 hari ( kurang bermanfaat ).

1.6.

Komplikasi
Komplikasi pada Poliomyelitis dapat berupa kelumpuhan yang tersering

menyerang ekstremitas. Pada tipe spinal otot - otot intercostal, kelumpuhan kandung
seni, sedangkan pada tipe bulbar kelumpuhan menyerang otot - otot pharynx, facialis,
palatum, satu atau lebih saraf cranial, pernafasan. Kematian akan terjadi, apabila
kelumpuhan menyerang pusat pernafasan dan sirkulasi pada batang otak. Komplikasi

yang lainnya dapat berupa toxic nephrosis, miokarditis, hipertensi, pneumonia


aspirasi, atelectasis, dan brochitis.

BAB II
KOLERA
2.1. Pengertian
Kolera adalah suatu penyakit infeksi yang ditandai oleh muntah dan / atau
mencret akut, yang disebabkan oleh toksin Vibrio kolera.

2.2. Patofisiologi
Kuman yang berada di usus halus yakni kuman Vibrio kolera menghasilkan
enterotoksin. Toksin ini meningkatkan siklik AMP yang mengakibatkan sekresi
elektrolit dan cairan dalam jumlah yang banyak. Hal ini menyebabkan mencret /
muntah hebat yang disertai dehidrasi isotonik.

2.3. Gejala Klinis


Gejala klinisnya sebagian besar penderita adalan asimtomatik. Manifestasi
klinisnya dapat berupa muntah, mencret, gangguan metabolisme, dan keseimbangan
elektrolit dan cairan. Muntah berupa cairan bening, akibat sekresi cairan usus halus
bagian atas. Mencret berupa tinja air, putih campur lendir seperti air tajin dengan bau
amis yang khas. Sebagai akibat dari muntah dan mencret dapat mengakibatkan
dehidrasi berat, gangguan keseimbangan asam - basa dan elektrolit, serta
hipoglikemia.

2.4. Diagnosis
Diagnosis kolera ditegakkan terutama secara klinis yakni dengan adanya muntah
dan mencret yang hebat, tanda - tanda klinis dehidrasi dan asidosis, dan hasil
pemeriksaan laboratorium yaitu adanya kenaikan berat jenis plasma / hematokrit, dan
biakan tinja positif. Pada diagnosis bandingnya dapat berupa infeksi Vibrio
parahemolitikus, dan infeksi E. coli.

2.5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaannya meliputi :
1. Mengganti cairan yang hilang secepat mungkin sampai renjatan teratasi dan tidak
melebihi 50 ml/kg/1 jam. Kemudian, diberi cairan 20 ml/kg/jam selama 3 jam,
disusul dengan pemberian oralit sebanyak mungkin sebagai cairan rumatan.
Kehilangan cairan yang masih berlangsung dapat ditidurkan di "cholera bed".
2. Cairan Ringer Laktat (IV) dan oralit ( per oral ) yang saling melengkapi, dan
merupakan satu kesatuan dalam terapi cairan ini.
3. Antimikroba, dengan pemberian Tetrasiklin 50mg/kg/hari, oral, 3 - 4 kali sehari,
selama minimal 5 hari.
4. Obat - obatan spasmolitik tidak boleh diberikan.

2.6. Komplikasi
Komplikasi dari kolera yakni dapat berupa sembab paru, gagal ginjal akut,
hiponatremi, hipokalsemi, dan hipoglikemia.

BAB II
LANDASAN TEORI
Pada bab ini penulis akan menjabarkan tentang Decompensasi Cordis yang
meliputi pengertian, etiologi, manifestasi klinis, dan patofisiologi.

1.1.

Pengertian

Gagal jantung ( Decompensasi Cordis ) adalah ketidakmampuan jantung untuk


memompakan darah dalam jumlah yang memadai untuk memenuhi kebutuhan
metabolik tubuh ( forward failure ) atau kemampuan tersebut hanya dapat terjadi
dengan tekanan pengisian jantung tinggi ( backward failure ) atau keduanya.

Sitompul, Barita, dkk, 1996 )

1.2.

Etiologi

1.2.1. Faktor Predisposisi


Adapun faktor predisposisi dari gagal jantung ( Decompensasi Cordis )
( Mansjoer, Arif M, 1999, hal 434 ) yaitu :
1. Penurunan fungsi ventrikel ( penyakit arteri koroner, hipertensi, penyakit jantung
kongenital ).
2. Keadaan yang membatasi pengisian ventrikel ( stenosis mitral, kardiomiopati ).
1.2.2. Faktor Pencetus
Faktor pencetus gagal jantung ( Decompensasi Cordis ) ( Mansjoer, Arif M,
1999, hal 434 ) yakni :
1. Peningkatan asupan garam.
2. Infark miokard.
3. Serangan hipertensi.
4. Aritmia akut.
5. Emboli paru.
6. Anemia berat.

1.3.

Manifestasi Klinis
Berdasarkan bagian jantung yang mengalami kegagalan pemompaan, maka gagal
3

jantung terbagi atas gagal jantung kiri, gagal jantung kanan, dan gagal jantung
kongestif. Gejala dan tanda yang timbul juga berbeda, sesuai dengan pembagian
jantung, yakni :
1.3.1. Gagal jantung kiri
Manifestasi gagal jantung kiri ditandai oleh :

Dyspneu d'effort.

Fatique.

Orthopnea.

Dyspnea nocturnal paroksimal.

Batuk.

Pembesaran jantung.

Irama derap.

Ventrikular heaving.

Bunyi derap S2, dan S4.

Pernafasan cheyno-stokes.

Takikardi.

Pulsus alternans.

Rochi.

Kongesti vena pulmonalis.

1.3.2. Gagal jantung kanan


Sedangkan gagal jantung kanan ditandai oleh :

Fatique.

Edema.

Liver engorgement.

Anoreksia.

Kembung.

Hipertrofi jantung kanan.

Heaving ventrikel kanan.

Irama derap atrium kanan.

Murmur.

Tanda - tanda penyakit paru kronik.

Tekanan vena jugularis meningkat.

Bunyi P2 mengeras.
4

Ascites.

Hidrothoraks.

Peningkatan tekanan vena.

Hepatomegali.

Pitting oedema.

1.3.3. Gagal jantung kongestif

Manifestasi gagal jantung kongestif merupakan gabungan gagal jantung kiri dan
kanan.
New York Heart Association ( NYHA ) membuat klasifikasi fungsional dalam 4
kelas yaitu :

Kelas I

: Bila pasien dapat melakukan aktivitas berat tanpa keluhan.

Kelas II : Bila pasien tidak dapat melakukan aktivitas lebih berat dari aktivitas
sehari - hari tanpa keluhan.

Kelas III : Bila pasien tidak dapat melakukan aktivitas sehari - hari tanpa keluhan.

Kelas IV: Bila pasien sama sekali tidak dapat melakukan aktivitas apapun dan
harus tirah baring.

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang te
lah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyusun " Asuhan Keperawatan Pada Ny. K dengan Decompensasi Cordis Disertai

Edema Paru di Ruang Interna RSUD Dr. Haryoto Lumajang ", dengan sebaikbaiknya.
Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis dibantu oleh banyak pihak. Oleh kare
na itu penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Dr. Koeswandono, M. Kes., selaku Kepala Dinas Kesehatan Lumajang.
2. dr. Triworo, Sp. A, selaku Direktur Rumah Sakit dr. Haryoto Lumajang yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan praktek pra profesi di
RSUD dr. Haryoto Lumajang.
3. Bapak Drs. H. Sudijono, AMK, MM selaku Kepala Akper Lumajang yang telah
membantu penulis dalam pengadaan perpustakaan Akper Lumajang dengan me
-nyediakan literatur - literatur yang dibutuhkan oleh penulis.
4. Ibu Ni Made Nuratniti A.Md.Kep., selaku Kepala Ruang Interna RSUD

Dr.

Haryoto Lumajang dan Pembimbing Klinik Praktek Keperawatan Komprehensif.


5. Ibu Indriana Noor Istiqomah, S. Kep. Ners. selaku dosen pembimbing penulisan
karya tulis ini.
6. Serta pihak-pihak lain yang juga turut membantu penulis dalam penyusunan karya
tulis ini.
Seperti kata pepatah "Tak ada gading yang tak retak", begitu juga dengan makalah yang penulis susun ini, masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis meng harapkan saran dan kritik dari pembaca untuk perbaikan karya tulis lain waktu yang
lebih baik. Semoga dengan adanya karya tulis ini, dapat menjadi sumbangsih bagi
dunia keperawatan.
Lumajang, Juli 2005
Penulis,

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR .ii
DAFTAR ISI iii
BAB I : PENDAHULUAN 1

1.1. Latar Belakang .1


1.2. Batasan Masalah ..1
1.3. Tujuan Penulisan .2
BAB II : LANDASAN TEORI ..3
2.1. Pengertian 3
2.2. Etiologi 3
2.3. Manifestasi Klinis 3
2.4. Patofisiologi .6
BAB III : TINJAUAN KASUS 7
3.1. Pengkajian 7
3.2. Analisa Data .12
3.3. Diagnosa Keperawatan 12
3.4. Intervensi .14
3.5. Implementasi 17
3.6. Evaluasi 18
BAB IV : PEMBAHASAN .19
BAB V : PENUTUP 20
5.1. Kesimpulan ..20
5.2. Saran 20
DAFTAR PUSTAKA .21

iii

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilyn E., dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta :
EGC.
Dorland's. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 25. Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta:

Media Aesculapius FKUI.


Rilantono, Lily Ismudiati, dkk. 1996. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta : FKUI.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Jantung sebagai organ yang terpenting dalam sistem sirkulasi, dimana

pekerjaan jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh untuk memenuhi

kebutuhan metabolisme tubuh setiap saat, baik pada saat beristirahat maupun pada
saat bekerja atau bahkan pada saat menghadapi beban. Dengan bertambahnya
kemajuan teknologi, sejak tahun 1968 bahwa kematian yang dikarenakan penyakit
jantung menurun. Hal ini barangkali disebabkan karena sebagian besar penderita
hidup setelah serangan jantung tapi kemudian menderita gagal jantung. Penderita
yang telah mengalami gagal jantung tetap bertahan hidup sampai beberapa tahun
dengan pengobatan yang baik. Penelitian Framingham menunjukkan bahwa
mortalitas pada usia 5 tahun sebesar 62 % menyerang pada pria, sedangkan pada
wanita sebesar 42 %. ( Sitompul, Barita, dkk, 1996 ).
Berdasarkan perkiraan tahun 1989, di Amerika terdapat 3 juta penderita di
Amerika yang menderita gagal jantung, dan setiap tahunnya bertambah 400.000
orang. Walaupun angka - angka yang pasti belum ada untuk seluruh Indonesia, tetapi
dengan bertambah majunya fasilitas kesehatan dan pengobatan dapat diperkirakan
jumlah penderita gagal jantung akan bertambah setiap tahunnya. ( Sitompul, Barita,
dkk, 1996 ).
Sesuai dengan Undang - Undang Sarana Kesehatan tertentu yang
diselenggarakan masyarakat harus berbentuk badan hukum sebagaimana dimaksud
yang telah ditetapkan oleh pemerintah ( UU No. 23 tahun 1992 ). Yang terpenting
disini yaitu bagaimana perawat sebagai pemberi Asuhan Keperawatan dengan
menggunakan proses keperawatan melalui pengkajian, menentukan diagnosa
keperawatan untuk dapat menyusun rencana keperawatan dan melaksanakan tindakan
keperawatan sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia untuk nantinya
dievaluasi tingkat perkembangannya ( Alimul, Aziz, 2004 ).

1.2.

Batasan Masalah
Mengingat luasnya masalah tentang Kardiologi, maka penulis membatasi

bahasan hanya pada Decompensasi Cordis.


1

1.3.

Tujuan Penulisan

1.3.1. Tujuan Umum


Penulis memperoleh pengalaman dalam penerapan Asuhan Keperawatan pada
penderita Decompensasi Cordis disertai Edema Paru melalui pendekatan Proses
Keperawatan.
1.3.2. Tujuan Khusus
Dalam hal ini diharapkan penulis mampu :

1.3.2.1.

Melakukan pengkajian pada penderita dengan Decompensasi Cordis.

1.3.2.2.

Merumuskan masalah ( diagnosa ) keperawatan sesuai hasil pengkajian.

1.3.2.3.

Menyusun rencana keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan.

1.3.2.4.

Mengimplementasikan hasil rencana keperawatan.

1.3.2.5.

Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan.

BAB IV
PEMBAHASAN
Setelah melakukan pengkajian pada pasien Ny. K dengan Decompensasi Cordis
yang disertai dengan Edema Paru, ditemukan keluhan utama yakni sesak. Beberapa
masalah yang muncul dengan prioritas masalah yang utama adalah gangguan
pemenuhan kebutuhan O2 berhubungan dengan adanya bendungan cairan paru. Selain

itu, juga ditemukan masalah yang berhubungan dengan nutrisi dan intoleransi
aktivitas. Hal ini ditunjang oleh beberapa data obyektif dan subyektif. Sehingga
diperlukan beberapa penatalaksanaan keperawatan.
Berdasarkan diagnosa keperawatan yaitu adanya gangguan kebutuhan O 2
berhubungan dengan adanya

bendungan cairan di paru, sehingga dalam

penatalaksanaannya perlu mengkaji tanda - tanda vital, memberikan istirahat semi


fowler, mengkaji kulit terhadap pucat dan memantau haluaran urine. Keadaan ini juga
diperlukan penatalaksanaan medis yaitu pemberian obat diuretik yakni Furosemid 1
ampul ( iv ). Hal ini dapat mempengaruhi reabsorbsi Natrium dan air. Nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah diperlukan penatalaksanaan
keperawatan yaitu dengan mengidentifikasi faktor - faktor yang menimbulkan mual,
muntah serta memberikan latihan relaksasi, auskultasi bunyi usus, dan memberikan
makanan porsi kecil tapi sering. Sedangkan untuk meningkatkan toleransi aktivitas
karena kelemahan yang dialami pasien, maka perlu dipantau perubahan tanda - tanda
vital dan mengevaluasi peningkatan toleransi aktivitas.
Setelah dilakukan beberapa penatalaksanaan baik yang bersifat keperawatan
maupun yang bersifat medis sehingga dapat dievaluasi keadaan pasien yaitu
didapatkan sesak sedikit berkurang dengan tidak adanya dispnea, dan cyanosis, serta
tidak ada retraksi intercostal, frekuensi respirasi 24 x/menit, selain itu pasien sudah
tidak mual, dan muntah tetapi keadaan pasien masih lemah. Sehingga berdasarkan
data di atas yang merupakan hasil evaluasi setelah dilakukan penatalaksanaan
keperawatan, maka masih diperlukan beberapa penatalaksanaan lanjutan berdasarkan
intervensi keperawatan yang telah disusun.

BAB V
PENUTUP
Setelah menguraikan Asuhan Keperawatan pada pasien ( Ny. K ) dengan
Decompensasi Cordis yang disertai Edema Paru yang meliputi pengkajian, diagnosa
keperawatan, intervensi, implementasi, serta evaluasi, maka dapat diambil
kesimpulan dan saran.

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan Asuhan Keperawatan pada pasien ( Ny. K ) dengan Decompensasi
Cordis yang disertai Edema Paru dapat disimpulkan bahwa :
1. Hasil pengkajian yang didapatkan yakni adanya keluhan utama sesak.
2. Diagnosa keperawatan yang muncul antara lain; gangguan kebutuhan O2, dan
nutrisi, serta intoleransi aktivitas.
3. Penatalaksanaan keperawatan yang penting pada pasien Decompensasi Cordis
dengan tujuan agar kebutuhan O2 pasien terpenuhi.
4. Evaluasi perlu dilakukan setiap hari untuk mengetahui perkembangan keadaan
pasien lebih lanjut.

5.2. Saran
Saran yang perlu penulis sampaikan untuk mengatasi masalah yang dihadapi
adalah :
1. Perlu menjalin komunikasi therapeutik yang efektif antara perawat dan
keluarganya dalam menunjang kesehatan pasien.
2. Perlunya pemberian pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga mengenai
kondisi dan pengobatan berkaitan dengan penyakit pasien, sehingga pasien dan
keluarga mampu mengidentifikasi program pengobatan untuk menurunkan
serangan berulang dan mencegah komplikasi.

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA Ny. K DENGAN DECOMPENSASI CORDIS
DISERTAI EDEMA PARU DI RUANG INTERNA
RSUD Dr. HARYOTO LUMAJANG

KELOMPOK III ( II B ) :
1. IRMA FAHMAWATI SUDIRMAN
2. KUKUH AHMAD PRASETIYO
3. KURNIAWATI PUSPITASARI
4. LENI NOVI ANGGRAENI
5. LINDA AMALIA
6. LINDA ANDRIANA
7. LINDA MAYASARI
8. LUCKY RAHMAWATI
9. LULUK MAZIDATUR ROHMAH
10.
MAULIDIAN
11.
MEINDRA KUSWARDANI
12.
MELY PRASETYANINGSIH
13.
M. NANANG FIRMANSYAH
14.
MUFIDATUS SALAMAH
15.
NIKEN ANGGRAENI
16.
NOVI NURHAYATI
17.
NUR FITA FATMAWATI
18.
NURANI EKOWATI
19.
NURWATIK
20.
PENI KUSUMA RAHAYU
21.
PIPIT SETYORINI
22.
PUSFITA DWI ROSANTINA
23.
TITIS SUKMA HARI NOFI
24.
YAYUK PUJI RAHAYU

( 47/2003 )
( 49/2003 )
( 50/2003 )
( 51/2003 )
(52/2003 )
(53/2003 )
( 54/2003 )
( 55/2003 )
(56/2003 )
( 58/2003 )
( 59/2003 )
( 60/2003 )
( 62/2003 )
( 63/2003 )
(65/2003 )
( 66/2003 )
( 67/2003 )
(68/2003 )
( 69/2003 )
( 70/2003 )
( 71/2003 )
( 73/2003 )
( 86/2003 )
( 97/2003 )

DINAS KESEHATAN
AKADEMI KEPERAWATAN LUMAJANG
JULI 2005
BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1. Pengkajian
3.1.1. Identitas Klien dan Keluarga
Inisial Pasien

: Ny. K

Umur

: 21 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Tani

Status

: Kawin

Tanggal MRS

Juni 2005

Tanggal Pengkajian : 21 Juni 2005


Inisial Informan

: Ny. W

Hubungan Keluarga : Ibu


Umur

: 40 tahun

Alamat

: Mayangan - Gumuk Mas - Jember

Pekerjaan

: Tani

3.1.2. Riwayat Keperawatan Keluarga


1. Keluhan Utama
Keluhan saat MRS
Pasien datang dengan keluhan sesak kurang lebih 1 minggu yang disertai
dengan batuk.
Keluhan saat ini
Pasien mengeluh sesak yang bertambah berat dengan aktifitas dan berkurang
dengan istirahat.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengatakan bahwa sesak sejak kurang lebih 1 minggu sebelum MRS,
namun hal ini dibiarkan karena dirasa tidak terlalu berbahaya dan dianggap
bukanlah penyakit. Setelah sesaknya makin bertambah ketika dibuat
beraktivitas, maka keluarganya membawa Ny. K ke IGD RS Dr. Haryoto
Lumajang pada tanggal 18 Juni 2005.

7
3. Riwayat Penyakit Masa Lalu
Pasien mengatakan bahwa sebelumnya tidak pernah menderita penyakit yang
dirasakan saat ini. Akan tetapi ada salah satu keluarga yaitu kakek meninggal
dengan riwayat hipertensi.
4. Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola Persepsi dan Tata Laksana Kesehatan
Sebelum sakit : Pasien mengatakan bahwa sakit sudah biasa terjadi pada
setiap orang dan sakit itu akan sembuh dengan sendirinya

sehingga pasien tidak pernah pergi ke pelayanan kesehatan


terdekat.
Selama sakit

: Pasien menyadari bahwa kesehatan itu sangat penting dan


Ny. K menerima perawatan yang diberikan sekarang.

b. Pola Nutrisi dan Metabolic


Sebelum sakit : Pasien biasa makan 3 x/hari dengan menu nasi, lauk-pauk,
sayuran, dan tidak ada makan pantangan serta pasien tidak
melakukan diet.
Selama sakit

: Pasien mengatakan nafsu makan menurun. Ny. K hanya


makan setengah porsi dari makanan yang diberikan dalam
sehari karena pasien merasa mual dan muntah ketika saat
makan.

c. Pola Eliminasi
Sebelum sakit : Pasien biasa BAB 1 x/hari, dan BAK 3 - 4 x/hari.
Selama sakit

Pasien menggunakan kateter dan produksi urine 500

cc/hari, serta BAB tidak mengalami masalah.


d. Pola Tidur dan Istirahat
Sebelum sakit : Pasien dalam sehari tidur kurang lebih 7 - 8 jam.
Selama sakit

: Pasien mengeluh sulit tidur karena sesak dan pasien tidur


hanya 3 - 4 jam dalam sehari.

e. Pola Aktivitas dan Istirahat


Sebelum sakit : Pasien dapat menjalankan aktivitas sebagai ibu rumah
tangga dan biasanya pasien juga bekerja di sawah.
Aktivitas ini dapat dijalankan tanpa ada bantuan.
Selama sakit

: Pasien dalam beraktivitas dibantu orang lain, dan pasien


merasa sesak saat menjalankan aktivitas.
8

f. Pola Sensori dan Pengetahuan


Pola sensori

: Daya sensori pasien baik sebelum dan selama sakit tidak


mengalami gangguan.

Pola pengetahuan : Pasien mengatakan tidak tahu tentang penyakit yang


dialaminya saat ini. Dan pasien sering bertanya kepada
perawat tentang penyakitnya.
g. Pola Hubungan Interpersonal dan Peran

Sebelum sakit : Pasien mengatakan bahwa dapat berkomunikasi dengan


baik, dengan tetangganya.
Selama sakit

: Ny. K tidak pernah berkomunikasi dengan pasien yang


lain.

h. Pola Persepsi dan Konsep Diri


Gambaran Diri : Pasien mengatakan bahwa selama sakit dia tidak peduli
dengan bentuk tubuh yang dimiliki.
Ideal Diri

: Pasien mengatakan ingin segera sembuh dari penyakit yang


dideritanya saat ini sehingga pasien dapat menjalankan
kewajibannya sebagai istri daan ibu.

Harga Diri

: Dengan penyakit yang dideritanya saat ini, pasien merasa


harga dirinya tidak terganggu.

Identitas Diri : Sebelum dan selama sakit pasien tidak mengalami


perubahan dalam hal identitas dirinya.
Peran

: Pasien mengatakan bahwa sejak sakit dan selama MRS Ny.


K tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai istri dan ibu
bagi anaknya.

i. Pola Reproduksi dan Seksual


Selama sakit tidak ada gangguan dalam pola menstruasi.
j. Pola Penanggulangan Stress
Sebelum sakit :

Dalam menghadapi masalah, Ny. K selalu meminta


pertimbangan dari suaminya.

Selama sakit

: Ny. K tidak pernah menceritakan masalah yang dialaminya


kepada orang lain ataupun keluarganya.

k. Pola Tata Nilai dan Kepercayaan


Sebelum sakit : Pasien menganut agama Islam dan taat dalam menjalankan
shalat 5 waktu.
9
Selama sakit : Kegiatan ibadah pasien terganggu, dan pasien tidak pernah
menjalankan shalat 5 waktu.
3.1.3. Pemeriksaan Fisik / Review Of Sistem ( ROS )
1. Keadaan / Penampilan / Kesan / Umum Klien
Keadaan umum pasien masih lemah.
2. Tanda - Tanda Vital
Suhu Tubuh : 38 0 Celcius.

Denyut Nadi : 102 x/menit.


Tensi / TD

: 130/90 mmHg.

Respirasi

: 27 x/menit.

3. Pemeriksaan Fisik
Kepala

: Bentuk kepala pasien bulat, ukuran kepala simetris, kulit kepala


kotor, ada luka.

Rambut

: Penyebaran rambut rata, rambut kotor, warna hitam kemerahan dan


berbau.

Wajah

: Pucat, simetris, dan tidak ada jerawat serta tidak tampak sembab.

Mata

: Bentuk simetris, tidak ada oedema pada palpebra, konjungtiva tidak


pucat, dan sklera tidak icterus.

Hidung
Telinga

: Tidak ada deformitas, tidak adaa kotoran maupun sekret.


: Bentuk simetris, ukuran kecil, tidak ada lesi, dan tidak ada nyeri
tekan.

Mulut dan faring : Mukosa kering, ada caries gigi, perdarahan tidak ada, dan
mulut kotor dan berbau.
Leher

: Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan tidak ada distensi vena
jugularis.

4. Pemeriksaan Integumen / Kulit dan Kuku


Kebersihan kulit pasien kurang, tidak ditemukan kelainan pada kulit, kulit
lembab, tekstur kulit kasat, turgor kulit cukup baik, kuku tampak bersih, dan
terpotong rapi.
5. Pemeriksaan Thorak / Dada
Inspeksi : bentuk thorak normal chest, dan terlihat adanya retraksi intercostae.
6. Pemeriksaan Paru
Inspeksi : bentuk dada normal chest.
Palpasi

: vokal fremittus tidak sama antara kanan dan kiri


10

Perkusi

: Sonor.

Auskultasi : Terdengar bunyi ronchi.


7. Pemeriksaan Jantung

Inspeksi : Tidak terlihat ictus cordis pada ICS V linea mid klavikula Sinistra
selebar 1 cm.
Perkusi : Terdapat pembesaran jantung
Batas atas

: ICS I linea sternalis.

Batas bawah : ICS V mid klavikula sinistra.


Auskultasi : Terdapat suara bunyi jantung III di daerah mitral ( suara gallop
rythem ).
8. Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : Bentuk datar.
Perkusi : Tidak ada nyeri tekan.
Perkusi : Tympani.
Auskultasi : Peristaltik usus 7 x/menit
9. Pemeriksaan Muskuloskeletal ( ekstremitas ) atas dan bawah
Tidak ada edema pada ekstremitas atas atau bawah.
Kekuatan otot

10. Pemeriksaan Neurologi


GCS : 4 5 6 ( Composmentis ).
3.1.4. Penatalaksanaan Terapi
- Infus NS dan D 5 % = 2 : 1.
- Furosemid 2 x 1 ampul.
3.1.5. Diagnosa Medis
Decompensasi Cordis disertai Edema Paru.

11

3.2. Analisa Data


No

Data

Etiologi

Masalah

1.

DS :
Pasien

mengatakan

Oedema paru

Gangguan kebutuhan O2

Mual dan muntah

Gangguan pemenuhan

sulit

bernafas / sesak
DO :

2.

ada retraksi intercostae

pernafasan dyspnea

RR = 27 x/menit

Wajah pucat

- Ada ronchi
DS :
Pasien mengatakan sejak 2 hari

nutrisi kurang dai

yang lalu makan 1 x/hari dan

kebutuhan tubuh

hanya makan setengah porsi


dari makanan yang diberikan
DO :

3.

k/u pasien lemah

Pasien sering meludah

Bising usus 7 x/menit

- Turgor kulit cukup baik


DS :

Kelemahan

Pasien mengatakan tidak kuat


untuk

bergerak

dan

Intoleransi aktivitas

umum

terasa

sesak jika dibuat beraktivitas


DO :
-

k/u pasien lemah

Kebutuhan pasien dibantu

Pasien terbaring lemah di


atas TT

3.3. Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan kebutuhan O2 berhubungan dengan adanya bendungan cairan di paru
ditandai dengan adanya retraksi intercostae, pernafasan dyspnea, RR = 27 x/me 12
nit, wajah pucat.

2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


mual dan muntah yang ditandai dengan k/u lemah, pasien sering meludah, bising
usus 7 x/menit, turgor kulit cukup.
3. Intoleransi aktivitas sehubungan dengan kelemahan umum yang ditandai dengan
k/u lemah, kebutuhan pasien dibantu, pasien terbaring lemah di atas TT.
Prioritas Masalah
No
1.

Diagnosa Keperawatan
Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 berhubungan

Tanggal Ditemukan
21 Juni 2005

dengan oedema paru yang ditandai dengan adanya

Jam 19.15 WIB

retraksi intercostae, pernafasan dyspnea, RR = 27


x/menit, wajah pucat
2.

Gangguan

pemenuhan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan

21 Juni 2005
Jam 19.30 WIB

muntah yang ditandai dengan k/u lemah, pasien


sering meludah, bising usus 7 x/menit, turgor kulit
cukup.
3.

Intoleransi

aktivitas

sehubungan

dengan

kelemahan umum yang ditandai dengan k/u

21 Juni 2005
Jam 19.30 WIB

lemah, kebutuhan pasien dibantu, pasien terbaring


lemah di atas TT.

13

3.5. Implementasi
Dx. Kep.

Tanggal /

Implementasi

Dx. 1

Jam
21 Juni 2005

Mengkaji frekuensi nadi apikal, N = 64 x/menit

Jam 20.00

Memantau TD = 130/90 mmHg

WIB

Mengkaji kulit terhadap pucat, klien cyanosis

Memberikan istirahat semi fowler di TT dengan

Jam 20.20
WIB
Jam 16.15
WIB
Dx. 2

21 Juni 2005

2 bantal

Memantau haluaran urine = 600 cc

Berkolaborasi dengan pemberian obat diuretik

yaitu furosemid 1 ampul ( iv )


Mengidentifikasi faktor -

Jam 19.45
WIB

faktor

yang

menimbulkan mual dan muntah yakni sesak

Memberikan

latihan

relaksasi

dengan

pernafasan dalam

Auskultasi bunyi usus 7 x / menit dan setelah


dilakukan palpasi tidak ada distensi abdomen

Dx. 3

21 Juni 2005

Menganjurkan

memberikan makanan porsi kecil tapi sering


Periksa TTV TD sebelum dan segera setelah

Jam 20.00

kepada

keluarga

aktivitas khusus bila pasien menggunakan

WIB

diuretik,
Sebelum : TD = 130/100 mmHg
N = 90 x/menit
RR = 28 x/menit
Setelah

: TD = 130/90 mmHg
N = 102 x/menit
RR = 27 x/menit

Evaluasi peningkatan toleransi aktivitas

17

3.6. Evaluasi
Dx. Kep.

untuk

Tanggal / Jam

Evaluasi

Dx. 1

22 Juni 2005

S : Pasien mengatakan bahwa

Jam 05.00 WIB

sesaknya sedikit berkurang


O : - k/u pasien membaik
- Tidak ada dyspnea dan
cyanosis
- RR = 24 x/menit
- Tidak ada retraksi intercostae
A : Masalah sebagian teratasi

Dx. 2

22 Juni 2005

P : Lanjutkan intervensi
S : Pasien mengatakan mual dan

Jam 05.30 WIB

muntah sedikit berkurang


O : - Porsi makan masih belum
dihabiskan
- Pasien sudah tidak mual dan
muntah
- k/u pasien masih lemah
A : Masalah sebagian teratasi

Dx. 3

P : Lanjutkan intervensi
S : Pasien mengatakan bahwa dia

22 Juni 2005
Jam 05.30 WIB

masih merasa lemas


O : - Tidak ada dyspnea
- k/u pasien lemah
- TD = 130/90 mmHg
N = 64 x/menit
RR = 24 x/ menit
A : Masalah sebagian teratasi
P : Lanjutkan intervensi

18