Anda di halaman 1dari 9

XIV.

FUSI NUKLIR
1. Sumber Energi Nuklir
Pengkonversian massa ke energi dari energi kimia ke dalam suatu reaksi
kimia tertentu adalah terlalu kecil untuk dapat dideteksi. Namun pada reaksi
nuklir, energi yang dikeluarkan per reaksi adalah cukup besar sehingga
pengkonversian massa tersebut secara aktual dapat dideteksi.
Konsekuensinya, adalah memungkinkan untuk menghitung berapa besar
energi yang dikeluarkan per reaksi dari kesetimbangan massa reaktan dan
produknya tanpa perlu berdasar pada hasil-hasil perhitungan eksperimental
tentang energi yang dikeluarkan.
Dalam setiap reaksi konversi energi, jumlah massa dan energi haruslah tetap
sekaligus juga momentum. Hukum ini hanya sekedar berlaku pada setiap
proses konversi energi, ia juga khususnya sangat berguna dalam menghitung
jumlah energi total yang dikeluarkan begitu pula distribusi energi diantara
produk-produk reaksi nuklir.
Nomor atom Z adalah sama dengan jumlah proton (ion bermuatan posistif)
yang terdapat di dalam inti atom. Di dalam suatu inti atom yang tidak
mengalami ionisasi, nomor atomnya juga sama dengan jumlah elektron (ion
bermuatan negatif) yang mengorbit pada inti. Semua atom mempunyai nomor
atom yang sama adalah anggota dari unsur kimia yang sama dan atom-atom
ini pada dasarnya mempunyai sifat kimia yang sama.
Inti sebuah atom terdiri dari proton dan neutron dimana neutron adalah
partikel yang bermuatan netral dengan massa yang kira-kira sama dengan
massa proton. Kedua proton dan neutron tersebut dinamakan nukleon dan
jumlah total neuklon dalam suatu atom tertentu disebut jumlah massa atomik
A.
Atom-atom dengan nomor atom yang sama Z adalah anggota dari suatu
unsur kimia yang sama. Bila atom-atom ini mempunyai jumlah massa atomik
A yang berbeda mereka disebut sebagai isotop-isotop unsur tersebut. Isotopisotop itu berbeda hanya dalam jumlah neutron yang terdapat di dalam inti.
Atom-atom ini menunjukkan sifat-sifat kimia yang pada dasarnya bersamaan,
tetapi sifat-sifat nuklirnya sangat berbeda.
Dalam praktek adalah biasa menandai suatu atom tertentu dengan simbol
kimianya didahului dengan superskrip yang berupa jumlah massa atomiknya
dan juga didahului oleh suatu subskrip yang menunjukkan nomor atomnya.
Jadi, 11 H menyatakan sebuah atom hidrogen atau inti dengan satu proton,
235
satu nukleon dan tak ada neutron; 92 U sebaliknya, menyatakan sebuah
atom uranium atau inti dengan 92 proton, 235 nukleon dan 143 neutron.
238
Isotop uranium lainnya yang umum adalah 92 U , ia mempunyai 92 proton,
238 nukleon, dan 146 neutron.
Energi Fusi
Dasar Konversi Energi

108

Massa sebuah inti atom adalah lebih kecil dari massa partikel atau nukleon
invidual yang membentuknya. Perbedaan massa ini yang disebut sebagai
kekurangan massa (mass defect), adalah yang menahan kebersamaan inti
dan mencegah gaya coulomb muatan positif (proton) di dalam inti
memisahkannya. Kekurangan massa ini, sebenarnya adalah perekat massa
negatif. Untuk memecah
inti menjadi nukleon-nukleon individualnya,
sejumlah energi minimum yang setara dengan kekurangan massa itu harus
ditambahkan ke dalam inti. Kekurangan massa dari suatu inti tertentu dapat
dihitung sebagai berikut :
Kekurangan massa Zm p ( A Z ) m n massa nuklir

(1)
dimana m p dan m n adalah massa proton dan neutron. Tetapi sangat sulit
menghitung massa nuklir secara langsung, tetapi massa-massa atomik
(massa nuklir di tambah massa elektron yang mengorbit) dapat dihitung
secara tepat. Konsekuensinya, kekurangan massa biasanya dihitung dengan
persamaan :
Kekurangan massa Zm H ( A Z ) mn massa atomik

(2)
dimana m H adalah massa atom hidrogen ringan (11H ) .
Massa atom adalah sangat kecil dan biasanya dinyatakan dalam satuansatuan yang disebut satuan massa atomik atau amu (atomic mass unit),
dimana satu satuan massa ini kira-kira sama dengan massa sebuah proton
atau sebuah neutron. Satu amu sama dengan kebalikan bilangan Avogadro
dalam gram, atau 1,66 x 10 -24 gram. Energi yang setara dengan satu amu
adalah 931 MeV. Massa yang digunakan dalam hal ini, massa atomik yag
telah dinormalisasi.
Massa atomik isotop hidrogen 1 adalah 1,007825 amu dan massa sebuah
neutron adalah 1,008665 amu. Dengan menggunakan harga ini, persamaan
2 menjadi :
Kekurangan massa 1,007825Z 1,008665( A Z ) massaa atomik

(3)
Bila jumlah massa atomik meningkat, maka kekuranggan massa juga
meningkat karena akan ada partikel yang lebih banyak di dalam inti. Energi
yang setara dengan kekurangan massa ini disebut energi pengikatan total
(total binding energy), dan energi ini dalam juta elektronvolt, dapat dihitung
dari hubungan :
Energi pengika tan total 931( kekurangan massa )

(4)
Energi pengikatan total adalah jumlah energi absolut yang diperlukan untuk
memecahkan sebuah inti menjadi komponen-komponen individual atau
nukleonnya.
Energi Fusi
Dasar Konversi Energi

109

Sementara kekurangan massa atau energi pengikatan meningkat dengan


meningkatnya massa atomik, kekurangan energi rata-rata atau energi
pengikatan per nukleon meningkat dengan cepat dan kemudian berkurang
secara perlahan-lahan bila massa atom meningkat. Grafik energi pengikatan
per nukleon rata-rata, yang diperoleh dengan cara membagi energi
pengikatan total yang didapat dari persamaan (4) dengan jumlah massa
atomik A, ditunjukkan pada Gambar 1.
Dapat diperhatikan pada Gambar 1 tersebut bahwa energi pengikatan ratarata pernukleon maksimumnya adalah antara 8 hingga 9 MeV untuk inti
bermassa sedang (intermediate-mass nuclei). Ini menunjukkan bahwa inti
bermassa sedang ini adalah inti yang paling stabil. Hal ini berarti bahwa
kelebihan energi pengikatan akan dikeluarkan dalam setiap reaksi nuklir yang
menyebabkan inti bermassa berat pecah menjadi inti bermassa sedang,
seperti dalam reaksi fisi. Juga kelebihan energi pengikatan akan dikeluarkan
dalam setiap reaksi nuklir yang mengakibatkan dua inti bermassa ringan
bergabung membentuk sebuah inti bermassa lebih berat, seperti dalam
rekasi fusi. Energi yang dikeluarkan pada setiap proses peluluhan radioaktif
juga adalah kelebihan energi pengikatan yang terjadi pada saat inti meluluh
menjadi konfigurasi yang lebih stabil.

Gambar 1. Variasi energi pengikatan per nukleon dengan massa atomik (Dari
Steam/Its Generation and Use, 1972)
Energi pengikatan rata-rata per nukleon secara teoritis adalah energi
minimum yang diperlukan untuk mengeluarkan proton atau neutron rata-rata
dari sebuah inti. Pada proses fisi, fusi dan peluluhan radioaktif , jumlah total
nukleon (jumlah dari jumlah massa atomik) dan muatan total (jumlah nomor
atom) adalah tetap, begitu juga jumlah massa energi dan momentumnya.
Jadi sebenarnya, tidak ada partikel yang dikonversi menjadi energi dalam
reaksi ini; hanya kelebihan energi pengikatlah yang dikeluarkan. Energi ini
Energi Fusi
Dasar Konversi Energi

110

biasanya dikeluarkan dalam bentuk energi kinetik dari pertikel produk


dan/atau dalam bentuk radiasi elektromagnetik (sinar gamma).

Contoh :
Hitunglah energi pengikatan rata-rata per nukleon untuk isotop-isotop
berikut :
59
a). Hidrogen berat, 12 H , b). isotop nikel, 28 Ni
Penyelesaian :
a). Untuk hidrogen-2, massa atomik adalah 2,0141 amu (dari tabel)
Kekurangan massa = 1,007825(1) + 1,008665(2-1) 2,0141 = 0,00239
amu
E. pengikatan total = 931(kekurangan massa) = 931(0,00239) = 2,225
MeV
E. Pengikatan rata-rata per nukleon = Energi pengikatan total / A
= 2,225/2 = 1,1125 MeV.
b). Untuk nikel-59, massa atomik adalah 58,9342 amu (dari tabel)
Kekurangan massa = 1,007825(28) + 1,008665(59-28) 58,9342
= 0,55352 amu
E. pengikatan total = 931(0,55352) = 515,33 MeV
E. Pengikatan rata-rata per nukleon = 515,33/59 = 8,734 MeV.
2. Fusi Nuklir
Proses fusi pada dasarnya adalah sebuah antitesis dari proses fisi. Dalam
proses fisi, inti bermassa berat membelah menjadi inti bermassa ringan,
sambil melepaskan kelebihan energi pengikatan. Pada reaksi fusi, inti
bermassa ringan bergabung dalam rangka melepaskan kelebihan energi
pengikatan. Reaksi fusi adalah reaksi umum yang meminyaki matahari dan
telah dipakai di bumi untuk melepaskan energi dalam jumlah besar di dalam
termonuklir atau bom hidrogen. Hanya saja, masalah teknis yang berkaitan
dengan pelepasan terkendali dari energi yang diperoleh dari reaksi fusi
sampai kini belum terpecahkan, meskipun banyak sekali upaya penelitian
yang telah dilakukan dalam hal teknologi ini.
Lima reaksi fusi yang sangat mungkin terjadi beserta dengan energi
penyalaan dan temperatur penyalaannya, diberikan di bawah ini :

Energi Fusi
Dasar Konversi Energi

111

Akan dapat dilihat bahwa reaksi-reaksi itu yang menghasilkan partikel alfa
( 24 He) biasanya melepaskan energi besar sekali. Penggabungan dua
neutron dan dua proton, yang terjadi para partikel alfa, menghasilkan
konfigurasi yang sangat stabil dengan nilai energi pengikatan yang sangat
tinggi per nukleon. Saat ini, beberapa ahli fisika telah memajukan suatu
reaksi nuklir yang lain sebagai suatu sumber energi nuklir yang kelihatannya
memungkinkan. Reaksi ini disebut reaksi fisi termonuklir dan melibatkan
suatu reaksi antara isotop-isotop hidrogen-1 dan boron-11. Reaksi tersebut
ditunjukkan di bawah ini :

1
1

H 115B 126*C 3( 24He) 8,68 MeV

Reaksi ini mempunyai beberapa hal yang menarik. Pertama, boron adalah
satu dari antara beberapa unsur yang lebih umum, yang terdapat di kulit bumi
dan 80 persen atom boron adalah boron-11. Boron juga ternyata lebih muda
diisolasi dibanding dengan isotop hidrogen-berat. Yang kedua dan terpenting,
produk reaksi ini adalah tiga partikel alfa dan partikel-partikel ini tidak bersifat
radioaktif. Reaksi ini hanya menghasilkan energi dan helium dan kadangkadang disebut reaksi super bersih.
Reaksi ini dinamakan reaksi fisi karena inti senyawa terangsang, carbon-12*,
pecah menjadi tiga bagian yang sama. Reaksi ini masih tetap merupakan
reaksi termonuklir karena reaktan adalah inti yang bermuatan positif.
Kenyataannya, dikarenakan oleh muatan yang tinggi dan perbedaan massa
yang besar, energi ambang untuk reaksi ini jauh lebih tinggi dari energi
ambang reaksi-reaksi fusi lainnya. Konsekuensinya, hanya sedikit kerja
eksperimental yang akan dilakukan untuk reaksi khusus ini hingga diperoleh
sistem fusi yang lain.
Keuntungan dan kerugian fusi. Reaksi fusi menawarkan beberapa
keuntungan dibandingkan dengan reaksi fisi dalam hal konversi energi
Energi Fusi
Dasar Konversi Energi

112

nuklirnya. Salah satu keuntungan dibandingkan dengan fisi adalah bahwa


cadangan isotop dapat-fusi yang diketahui adalah jauh lebih banyak.
Kenyataannya, terdapat persediaan bahan bakar yang pada dasarnya tak
terbatas. Isotop bahan bakar yang umum dipakai untuk reaksi fusi ialah
deutrium, hidrogen-2, dan isotop ini terdapat di alam sekitar satu diantara
6700 bagian hidogen biasa. Dengan memperhatikan jumlah air yang tersedia
di dunia, berarti bahwa persediaan bahan bakar sangatlah banyak.
Keuntungan lain reaksi fusi ialah bahwa produk reaksi fusi tidaklah bersifat
radioaktif setinggi yang dipunyai oleh produk fisi. Di dalam produk reaksi fusi
yang lima itu (yang dikemukakan di muka), hanya hidrogen-3 dan neutron
yang bersifat radioaktif dan neutron juga akan meluluh menjadi atom
hidrogen. Radioaktifitas yang dihasilkan sebagai hasil pengaktifan neutron
dari struktur kemasan justru lebih menjadi masalah ketimbang produk fusi.
Keuntungan besar yang terakhir dari fusi terhadap fisi muncul dari kenyataan
bahwa proses fusi adalah sulit untuk dimulai dan diawasi. Kenyataannya,
sedikit saja ada gangguan terhadap sistem selalu akan mengakibatkan
berhentinya reaksi Efek ini, bersama dengan sangat kecilnya jumlah reaktan
yang terdapat di sistem, mencegah terjadinya kerugian daya yang besar
akibat kerusakan peralatan.
Masalah utama yang berkaitan dengan pengembangan reaktor fusi timbul
dari kenyataan bahwa partikel-pertikel yang bereaksi keduanya adalah inti
yang bermuatan positif. Ini berarti bahwa partikel reaksi tersebut harus
mempunyai energi kinetik yang cukup untuk mengatasi gaya tolak-menolak
Coulomb. Untuk mendapatkan energi kinetik yang minimum itu, kedua
partikel harus mempunyai massa partikel yang sama serta mempunyai
angka perbandingan massa-muatan (mass-to-charge ratio) yang tinggi.
Energi minimum atau energi ambang yang dibutuhkan untuk memulai reaksi
telah diberikan lebih dahulu berserta berbagai reaksi lain. Energi ini
umumnya dinyatakan dalam satuan temperatur, meskipun kerapatan partikel
sebenarnya adalah sangat kecil sehingga temperatur tidaklah memberi arti
banyak. Dengan energi kinetik yang setinggi ini, semua elektron dilucuti dari
intinya dan reaktan dikatakan berada dalam suatu keadaan yang diberi nama
plasma. Kadang-kadang dikatakan bahwa ini adalah tingkat ke-empat dari
suatu zat. Pada bom nuklir, energi penyalaan diperoleh pertama kali dari
pendenotasian bom fisi. Reaksi deutrium-tritium mempunyai energi ambang
yang terendah (massa/muatan = A/Z = 5/2) dan, karena alasan ini, reaktor
fusi akan beroperasi dengan reaksi ini.
Penelitian mengenai fusi. Satu-satunya pelepasan di bumi yang penting
dari energi fusi ini adalah yang terdapat di dalam bom termonuklir, dimana
reaksi dimulai dengan meledakkan sebuah bom fisi untuk mendapatkan
temperatur yang diinginkan. Reaksi fusi adalah reaksi dasar yang merupakan
bahan bakar bagi matahari. Di matahari, gaya-gaya gravitasional adalah
Energi Fusi
Dasar Konversi Energi

113

sangat besar sehingga menghasilkan temperatur yang sangat tinggi di dekat


inti matahari dan temperature ini adalah cukup untuk memulai dan menjaga
reaksi fusi terus-menerus.
Ada beberapa sistem dan metode yang diajukan untuk memproduksi daya
fusi yang terkendali. Masalah utama adalah berkenaan dengan kemasan
plasma. Ada dua sistem kemasan dasar yang sekarang dalam proses
pengembangan-sistem kemasan magnetik dan sistem kemasan inersia.
Rencana pengemasan yang paling mula sekali untuk memproduksi daya fusi
terkendali ini adalah dengan memperangkap plasma di dalam suatu medan
magnit yang kuat. Sebuah partikel bermuatan, misalnya sebuah elektron atau
sebuah inti, melakukan gerak melingkar (spirals) mengelilingi sebuah garis
gaya magnetik sewaktu partikel itu melewati garis tersebut. Oleh karenanya,
direncanakan untuk mengurung plasma di dalam sebuah medan magnit yang
kuat.
Ada dua jenis dasar sistem kemasan magnetik yang sedang diteliti sekarang
ini mesin kaca (mirror machines) dan tokamaks. Dalam mesin kaca yang
umum medan magnet dibentuk menyerupai bola kaki seperti pada Gambar 2.
Dapat dilihat bahwa medan magnet dijepit disetiap ujung reaktor. Begitu
sebuah partikel bermuatan bergerak menuju ke satu ujung reaktor, garis-garis
medan magnet yang mengelilinya menekan amplitudo partikel yang bergerak
melingkar keluar kembali. Jadi pada dasarnya partikel itu terjebak dalam
medan magnet seakan-akan ada sebuah kaca disetiap ujung mesin tersebut.
Proses dasar ini pada dasarnya adalah sama dengan proses yang
mendahului perkembangan radiasi ikat pinggang van Allen (van Allen
radiation belts) di atas bumi. Medan magnit bumi telah menjebak proton dan
elektron ketika mereka bergerak melingkar sepanjang sebuah garis magnetik
gaya ulang-alik dari kutub magnet utara ke kutub magnet selatan.
Pesawat fusi jepitan-teta atau theatron terdiri dari sebuah mesin kaca linear
yang digunakan mengurung plasma. Plasma ini dimanpatkan ke suatu
temperatur yang sangat tinggi sekali dengan cara memberikan gangguan
secara tiba-tiba dengan sebuah medan magnit yang kuat pada sistem. Hal ini
dilakukan dengan membuang sebuah bank kapasitor yang sangat besar
melalui sebuah konduktor yang mengelilingi plasma itu, seperti pada
Gambar 2

Energi Fusi
Dasar Konversi Energi

114

Gambar 2. Diagram skematis beberapa mesin fusi cermin untuk kemasan


magnetik dari plasma. (dimuat dengan izin dari American Nuclear
Society.)
Pesawat fusi tokamak mempunyai sebuah medan magnet berbentuk seperti
sebuah torus besar. Bagian luar bejana kemasan dibungkus dengan lilitan
magnetik superkonduktor untuk memperoleh medan magnet yang diperlukan.
Berkenaan dengan temperatur ekstrim tersebut maka semua sistem
kemasan magnetik diusulkan menggunakan magnet superkonduktor. Dalam
sebuah magnit superkonduktor, semua lilitan dijaga agar berada pada
temperatur sekitar 10 K dengan menggunakan cairan helium, sedangkan
plasma harus dijaga pada temperature jutaan derajat. Dari keseluruhan
sistem kemasan magnetik, tokamak adalah yang paling memberi harapan
dan sukses. Sebuah rencana yang bersifat rekaan untuk reaktor fusi tokamak
ditunjukkan pada Gambar 3.

Energi Fusi
Dasar Konversi Energi

115

Gambar 3. Diagram skematis reaktor daya eksperimental tokamak Argonne


(TEPR) (Dimuat dengan izin dari American Nuclear Society)

Energi Fusi
Dasar Konversi Energi

116