Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
A Latar belakang
Pembesaran (struma) thyroidea

sudah sering ditemukan di

mayarakat, skitar 10% dari semua wanita di area geografi yang


kekurangan yodium, dan kebanyakan struma yang terjadi akibat
kekurangan yodium langsung atu akibat dari makanan goitrogen dalam hal
diet aneh pada daeah tertentu. Banyak bentuk lain dalam pembesaran
thyroid

yang

menanmpilkan

kesulitan

dalam

diagnosis

dan

penatalaksanaan serta alogaritma klinik telah dibentuk untuk menbantu


pemeriksaan dan terapi.
Apabila pada pemeriksaan kelenjar teraba adanya nodul, maka
pembesaran tersebut disebut struma nodusa, struma nodusa tanpa disertai
tanda-tanda hiper thyroidisme disebut struma nodusa non toksik. Kelainan
in kerap sering dijumpa ibahkan dapat dikatakan mudah ditemukan.
Gondok endemic sering dijumpai di daerah-daerah dengan defesiensi
yodium. Penumpukan hormon tiroid meningkatkan hormon TSH
kompensatoar dengan akibat hiperplasia dan hipertropi kelenjar, dan
keadaan eutiroid, terutama pada wanita, dan uimumnya timbul pada saat
usia pubrtas
B Rumusan Masalah
C Tujuan

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A Pengertian
Struma Nodusa Non Toksik adalah pembesaran kelenjar thyroid
yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda
hiper thyroidisme. (Brunner dan Sudarth 2002)
Struma nodosa non toksik merupakan pembesaran kelenjar tiroid
akibat kekurangna masukan iodium dalam makanan. ( kapita selekta
kedokteran, jilid 2)
Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid pada
pasien eutiroid, tidak berhubungan dengan neoplastik atau proses implasi
(bambang sumantri Skep Ns 2011)
Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang
secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda
hypertiroidisme (Hartini, 1987).
Struma Non Toksik Nodusa Adalah pembesaran dari kelenjar tiroid
yang berbatas jelas tanpa gejala-gejala hipertiroid.
B Anatomi fisiologi
1 Anatomi
Kelenjar tiroid terletak di bagian bawah leher, terdiri atas dua
lobus, yang dihubungkan oleh ismus sehingga bentukya menyerupai kupukupu atau huruf H, dan menutupi cincin trakea 2 dan 3. Pada usia dewasa
berat kelenjar ini kira-kira 20 gram. Kapsul fibrosa menggantungkan
kelenjar ini pada fasia pretrakea sehingga pada setiap gerakan menelan
selalu diikuti dengan gerakan terangkatnya kelenjar kearah kranial. Sifat
inilah yang digunakan di klinik untuk menentukan apakah suatu bentukan
di leher berhubungan dengan kelenjar tiroid atau tidak. Pengaliran darah
ke kelenjar berasal dari a. Tiroidea superior dan a. Tiroidea inferior.
Ternyata setiap folikel tiroid diselubungi oleh jala-jala kapiler, dan jalajala limfatik, sedangkan sistem venanya berasal dari pleksus perifolikular.
Pembuluh getah bening kelenjar tiroid berhubungan secara bebas dengan
pleksus trakealis. Selanjutnya dari pleksus ini kearah nodus prefaring yang
tepat berada diatas ismus serta ke kelenjar getah bening pretrakealis,
sebagian lagi bermuara di kelenjar getah bening brakiosefalikus.

Hubungan getah bening ini penting untuk menduga penyebaran keganasan


yang berasal dari tiroid.

ANATOMI KELENJAR TIROID

Kelenjar tiroid terletak di bagian bawah leher, terdiri atas dua lobus, yang
dihubungkan oleh ismus sehingga bentukya menyerupai kupu-kupu atau huruf H,
dan menutupi cincin trakea 2 dan 3. Pada usia dewasa berat kelenjar ini kira-kira
20 gram. Kapsul fibrosa menggantungkan kelenjar ini pada fasia pretrakea
sehingga pada setiap gerakan menelan selalu diikuti dengan gerakan terangkatnya
kelenjar kearah kranial. Sifat inilah yang digunakan di klinik untuk menentukan
apakah suatu bentukan di leher berhubungan dengan kelenjar tiroid atau tidak.
Pengaliran darah ke kelenjar berasal dari a. Tiroidea superior dan a. Tiroidea
inferior. Ternyata setiap folikel tiroid diselubungi oleh jala-jala kapiler, dan jalajala limfatik, sedangkan sistem venanya berasal dari pleksus perifolikular.
Pembuluh getah bening kelenjar tiroid berhubungan secara bebas dengan pleksus
trakealis. Selanjutnya dari pleksus ini kearah nodus prefaring yang tepat berada
3

diatas ismus serta ke kelenjar getah bening pretrakealis, sebagian lagi bermuara di
kelenjar getah bening brakiosefalikus. Hubungan getah bening ini penting untuk
menduga penyebaran keganasan yang berasal dari tiroid.

Fisiologi
Kelenjar tiroid menghasilkan
kecepatan

metabolisme

tubuh.

hormon tiroid, yang mengendalikan


Hormon

tiroid

pengaruhi

kecepatan

metabolisme tubuh melalui 2 cara :


a. Merangsang hampir setiap jaringan tubuh untuk menghasilkan protein.
b. Meningkatkan jumlah oksigen yang digunakan oleh sel.
Jika sel-sel bekerja lebih keras, maka organ tubuh akan bekerja
lebih cepat. Untuk menghasilkan hormon tiroid, kelenjar tiroid
memerlukan iodium yaitu elemen yang terdapat di dalam makanan dan air.
Iodium diserap oleh usus halus bagian atas dan lambung, dan kira-kira
sepertiga hingga setengahnya ditangkap oleh kelenjar tiroid, sedangkan
sisanya dikeluarkan lewat air kemih. Hormon tiroid dibentuk melalui
penyatuan satu atau dua molekul iodium ke sebuah glikoprotein besar
yang disebut tiroglobulin yang dibuat di kelenjar tiroid dan mengandung
asam amino tirosin. Kompleks yang mengandung iodium ini disebut
iodotirosin. Dua iodotirosin kemudian menyatu untuk membentuk dua
jenis hormon tiroid dalam darah yaitu :

a. Tiroksin (T4), merupakan bentuk yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid,


hanya memiliki efek yang ringan terhadap kecepatan metabolisme tubuh.
b. Tiroksin dirubah di dalam hati dan organ lainnya ke dalam bentuk aktif,
yaitu triiodotironin (T3).
T3 dan T4 berbeda dalam jumlah total molekul iodium yang
terkandung (tiga untuk T3 dan empat untuk T4 ). Sebagian besar (90%)
hormon tiroid yang dilepaskan ke dalam darah adalah T4, tetapi T3 secara
fisiologis lebih bermakna. Baik T3 maupun T4 dibawa ke sel-sel sasaran
mereka oleh suatu protein plasma.

C Etiologi
Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid
merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain :

Defisiensi iodium
Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di
daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung

iodium, misalnya daerah pegunungan.


Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon

tyroid.
Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi

dalam kol, lobak, kacang kedelai).


Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya :
thiocarbamide, sulfonylurea dan litium).

D Gejala
Pada penyakit struma nodosa nontoksik tyroid membesar dengan
lambat. Awalnya kelenjar ini membesar secara difus dan permukaan licin.
Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat

mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan


sehingga terjadi gangguan menelan.
E Patofisiologi
Kebut tiroksin (seperti pada usia

Hyperplasia & Hipertrofi


kelenjar tiroid

Nodularis Kelenjar
Tiroid

Struma

Penyempitan
jalan Napas

Epiglostis
menutup trakea

Stromektomi

Dyspnea

sesak saat
menelan

interupsi bedah

Ketidak
efektifan jalan
nafas

Nyeri
telan

Luka
oprasi
Kerusakan
komunikasi
verbal

F Pemeriksaan penunjang meliputi (Mansjoer, 2001) :


1 Pemeriksaan sidik tiroid
Nyeri
telan
6

Hasil pemeriksaan dengan radioisotop adalah teraan ukuran, bentuk


lokasi, dan yang utama ialah fungsi bagian-bagian tiroid. Pada
pemeriksaan ini pasien diberi Nal peroral dan setelah 24 jam secara
fotografik ditentukan konsentrasi yodium radioaktif yang ditangkap
oleh tiroid. Dari hasil sidik tiroid dibedakan 3 bentuk
a Nodul dingin bila penangkapan yodium nihil atau kurang
b

dibandingkan sekitarnya. Hal ini menunjukkan sekitarnya.


Nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak dari pada

sekitarnya. Keadaan ini memperlihatkan aktivitas yang berlebih


Nodul hangat bila penangkapan yodium sama dengan
sekitarnya. Ini berarti fungsi nodul sama dengan bagian tiroid

yang lain.
Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dapat membedakan antara padat, cair, dan beberapa
bentuk kelainan, tetapi belum dapat membedakan dengan pasti ganas

atau jinak. Kelainan-kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG :


a Kista
b Adenoma
c Kemungkinan karsinoma
d Tiroiditis
Biopsi aspirasi jarum halus(Fine Needle Aspiration/FNA)
Mempergunakan jarum suntik no. 22-27. Pada kista dapat juga dihisap
cairan secukupnya, sehingga dapat mengecilkan nodul (Noer, 1996).
Dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan.
Biopsi aspirasi jarum halus tidak nyeri, hampir tidak menyababkan
bahaya penyebaran sel-sel ganas. Kerugian pemeriksaan ini dapat
memberikan hasil negatif palsu karena lokasi biopsi kurang tepat,
teknik biopsi kurang benar, pembuatan preparat yang kurang baik atau

positif palsu karena salah interpretasi oleh ahli sitologi.


Termografi
Metode pemeriksaan berdasarkan pengukuran suhu kulit pada suatu
tempat dengan memakai Dynamic Telethermography. Pemeriksaan ini
dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan.
Hasilnya disebut panas apabila perbedaan panas dengan sekitarnya >
0,9o C dan dingin apabila <0,9o C. Pada penelitian Alves didapatkan

bahwa pada yang ganas semua hasilnya panas. Pemeriksaan ini paling
5

sensitif dan spesifik bila dibanding dengan pemeriksaan lain.


Petanda Tumor
Pada pemeriksaan ini yang diukur adalah peninggian tiroglobulin (Tg)
serum. Kadar Tg serum normal antara 1,5-3,0 ng/ml, pada kelainan
jinak rataa-rata 323 ng/ml, dan pada keganasan rata-rata 424 ng/ml.

G Penatalaksanaan
1. Indikasi operasi pada struma nodosa non toksika ialah (tim penyusun,
1994)

Keganasan
Penekanan
Kosmetik

Tindakan operasi yang dikerjakan tergantung jumlah lobus tiroid yang


terkena. Bila hanya satu sisi saja dilakukan subtotal lobektomi,
sedangkan kedua lobus terkena dilakukan subtotal tiroidektomi. Bila
terdapat pembesaran kelenjar getah bening leher maka dikerjakan juga
deseksi kelenjar leher fungsional atau deseksi kelenjar leher
radikal/modifikasi tergantung ada tidaknya ekstensi dan luasnya
ekstensi di luar kelenjar getah bening.
2. Radioterapi diberikan pada keganasan tiroid yang :
Inoperabel
Kontraindikasi operasi
Ada residu tumor setelah operasi
Metastase yang non resektabel
3. Hormonal terapi dengan ekstrak tiroid diberikan selain untuk suplemen
juga sebagai supresif untuk mencegah terjadinya kekambuhan pada
pasca bedah karsinoma tiroid diferensiasi baik (TSHdependence).
Terapai supresif ini juga ditujukan terhadap metastase jauh yang tidak
resektabel dan terapi adjuvan pada karsinoma tiroid diferensiasi baik
yang inoperabel.
H Komplikasi struma nodose non toksik
a Kalorigenik
b Termoregulasi

Metabolisme protein. Dalam dosis fisiologis kerjanya bersifat

anabolik, tetapi dalam dosis besar bersifat katabolik


Metabolisme karbohidrat. Bersifat diabetogenik, karena resorbsi
intestinal meningkat, cadangan glikogen hati menipis, demikian
pula glikogen otot menipis pada dosis farmakologis tinggi dan

degenarasi insulin meningkat.


Metabolisme lipid. T4 mempercepat sintesis kolesterol, tetapi
proses degradasi kolesterol dan ekspresinya lewat empedu ternyata
jauh lebih cepat, sehingga pada hiperfungsi tiroid kadar kolesterol
rendah. Sebaliknya pada hipotiroidisme kolesterol total, kolesterol

ester dan fosfolipid meningkat.


Vitamin A. Konversi provitamin A menjadi vitamin A di hati
memerlukan hormon tiroid. Sehingga pada hipotiroidisme dapat

dijumpai karotenemia.
Lain-lain : gangguan metabolisme kreatin fosfat menyebabkan
miopati, tonus traktus gastrointestinal meninggi, hiperperistaltik
sehingga terjadi diare, gangguan faal hati, anemia defesiensi besi
dan hipotiroidisme.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dari dasar dalam proses
keperawatan secara keseluruhan guna mendapat data atau informasi yang
dibutuhkan untuk menentukan masalah kesehatan yang dihadapi pasien
melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik meliputi :

Aktivitas/istirahat ; insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi,


kelelahan berat, atrofi otot.

Eliminasi ; urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces,


diare.

Integritas ego ; mengalami stres yang berat baik emosional maupun


fisik, emosi labil, depresi.

Makanan/cairan ; kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu


makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan,
mual dan muntah, pembesaran tyroid, goiter.

Rasa nyeri/kenyamanan ; nyeri orbital, fotofobia.

Pernafasan ; frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea,


edema paru (pada krisis tirotoksikosis).

Keamanan ; tidak toleransi terhadap panas, keringat yang


berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada
pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit
halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus,
eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus,
lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat
parah.

Seksualitas ; libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama


sekali, impotensi.

B Diagnosa keperawatan

10

Diagnosa keperawatan pada pasien dengan struma nodosa


nontoksis khususnya post operai dapat dirumuskan sebagai berikut ;
Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas
berhubungan dengan obstruksi trakea, pembengkakan, perdarahan
dan spasme laringeal.
Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita
suara/kerusakan laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan.
Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses
pembedahan, rangsangan pada sistem saraf pusat.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dengan
tindakan bedah terhadap jaringan/otot dan edema pasca operasi.

C Perencanaa keperawatan/intervensi
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan
yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah pasien sesuai
diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan utama
memenuhi kebutuhan pasien. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang
diuraikan di atas, maka disusunlah rencana keperawatan/intervensi sebagai
berikut :
a

Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas


berhubungan dengan obstruksi trakea, pembengkakan, perdarahan
dan spasme laryngeal.
a

Tujuan yang ingin dicpai sesuai kriteria hasil :

11

Mempertahankan jalan nafas paten dengan mencegah


aspirasi.
b

Rencana tindakan/intervensi

Pantau

frekuensi

pernafasan,

kedalaman

dan

kerja

pernafasan.
Rasional :
Pernafasan secara normal kadang-kadang cepat, tetapi
berkembangnya

distres

pada

pernafasan

merupakan

indikasi kompresi trakea karena edema atau perdarahan.

Auskultasi suara nafas, catat adanya suara ronchi.


Rasional :
Ronchi merupakan indikasi adanya obstruksi.spasme
laringeal yang membutuhkan evaluasi dan intervensi yang
cepat.

Kaji adanya dispnea, stridor, dan sianosis. Perhatikan


kualitas suara.
Rasional :
Indikator

obstruksi

trakea/spasme

laring

yang

membutuhkan evaluasi dan intervensi segera.

Waspadakan pasien untuk menghindari ikatan pada leher,


menyokog kepala dengan bantal.
Rasional :

12

Menurunkan kemungkinan tegangan pada daerah luka


karena pembedahan.

Bantu dalam perubahan posisi, latihan nafas dalam dan atau


batuk efektif sesuai indikasi.
Rasional :
Mempertahankan kebersihan jalan nafas dan evaluasi.
Namun batuk tidak dianjurkan dan dapat menimbulkan
nyeri yang berat, tetapi hal itu perlu untuk membersihkan
jalan nafas.

Lakukan pengisapan lendir pada mulut dan trakea sesuai


indikasi, catat warna dan karakteristik sputum.
Rasional :
Edema atau nyeri dapat mengganggu kemampuan
pasien untuk mengeluarkan dan membersihkan jalan nafas
sendiri.

Lakukan penilaian ulang terhadap balutan secara teratur,


terutama pada bagian posterior
Rasional :
Jika terjadi perdarahan, balutan bagian anterior
mungkin

akan

tampak

kering

karena

tertampung/terkumpul pada daerah yang tergantung.

Selidiki kesulitan menelan, penumpukan sekresi oral.


Rasional :

13

darah

Merupakan indikasi edema/perdarahan yang membeku


pada jaringan sekitar daerah operasi.

Pertahankan alat trakeosnomi di dekat pasien.


Rasional :
Terkenanya jalan nafas dapat menciptakan suasana yang
mengancam kehidupan yang memerlukan tindakan yang
darurat.

Pembedahan tulang
Rasional :
Mungkin

sangat

diperlukan

untuk

penyambungan/perbaikan
pembuluh darah yang mengalami perdarahan yang terus
menerus.
b

Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita


suara/kerusakan

saraf

laring,

edema

jaringan,

nyeri,

ketidaknyamanan.
a

Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :


Mampu

menciptakan

metode

kebutuhan dapat dipahami.


b

Rencana tindakan/intervensi

Kaji fungsi bicara secara periodik.


Rasional :
14

komunikasi

dimana

Suara serak dan sakit tenggorok akibat edema jaringan


atau kerusakan karena pembedahan pada saraf laringeal
yang berakhir dalam beberapa hari kerusakan saraf menetap
dapat terjadi kelumpuhan pita suara atau penekanan pada
trakea.

Pertahankan komunikasi yang sederhana, beri pertanyaan


yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak.
Rasional :
Menurunkan kebutuhan berespon, mengurangi bicara.

Memberikan metode komunikasi alternatif yang sesuai,


seperti papan tulis, kertas tulis/papan gambar.
Rasional :
Memfasilitasi eksprsi yang dibutuhkan.

Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin. Kunjungan pasien


secara teratur.
Rasional ;
Menurunnya ansietas dan kebutuhan pasien untuk
berkomunias.

Beritahu pasien untuk terus menerus membatasi bicara dan


jawablah bel panggilan dengan segera.
Rasional :

15

Mencegah pasien bicara yang dipaksakan untuk


menciptakan

kebutuhan

yang

diketahui/memerlukan

bantuan.

Pertahankan lingkungan yang tenang.


Rasional :
Meningkatkan kemampuan mendengarkan komunikasi
perlahan dan menurunkan kerasnya suara yang harus
diucapkan pasien untuk dapat didengarkan.

Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses


pembedahan, rangsangan pada sistem saraf pusat.
1

Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :


Menunjukkan

tidak

ada

cedera

dengan

komplikasi

terpenuhi/terkontrol.
2

Rencana tindakan/intervensi

Pantau tanda-tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu


tubuh, takikardi (140 200/menit), disrtrimia, syanosis,
sakit waktu bernafas (pembengkakan paru).
Rasional :
Manipulasi

kelenjar

selama

pembedahan

dapat

mengakibatkan peningkatan pengeluaran hormon yang


menyebabkan krisis tyroid.

16

Evaluasi reflesi secara periodik. Observasi adanya peka


rangsang, misalnya gerakan tersentak, adanya kejang,
prestesia.
Rasional :
Hypolkasemia dengan tetani (biasanya sementara) dapat
terjadi 1 7 hari pasca operasi dan merupakan indikasi
hypoparatiroid yang dapat terjadi sebagai akibat dari
trauma yang tidak disengaja pada pengangkatan parsial atau
total kelenjar paratiroid selama pembedahan.

Pertahankan penghalang tempat tidur/diberi bantalan, tmpat


tidur pada posisi yang rendah.
Rasional :
Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi
kejang.

Memantau kadar kalsium dalam serum.


Rasional :
Kalsium kurang dari 7,5/100 ml secara umum
membutuhkan terapi pengganti.

Kolaborasi
Berikan pengobatan sesuai indikasi (kalsium/glukonat,

laktat).
Rasional ;

17

Memperbaiki kekurangan kalsium yang biasanya


sementara tetapi mungkin juga menjadi permanen.
d

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan tindakan bedah


terhadap jaringan/otot dan paska operasi.
I

Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :


Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol. Menunjukkan
kemampuan mengadakan relaksasi dan mengalihkan perhatian
dengan aktif sesuai situasi.

II

Rencana tindakan/intervensi :

Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik verbal maupun non


verbal, catat lokasi, intensitas (skala 0 10) dan lamanya.
Rasional :
Bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan
pilihan intervensi, menentukan efektivitas terapi.

Letakkan pasien dalam posisi semi fowler dan sokong


kepala/leher dengan bantal pasir/bantal kecil.
Rasional :
Mencegah hiperekstensi leher dan melindungi integritas
gari jahitan.

Pertahankan leher/kepala dalam posisi netral dan sokong


selama perubahan posisi. Instruksikan pasien menggunakan
tangannya untuk menyokong leher selama pergerakan dan
untuk menghindari hiperekstensi leher.

18

Rasional :
Mencegah stress pada garis jahitan dan menurunkan
tegangan otot.

Letakkan bel dan barang yang sering digunakan dalam


jangkauan yang mudah.
Rasional :
Membatasi ketegangan, nyeri otot pada daerah operasi.

Berikan

minuman

yang

sejuk/makanan

yang

lunak

ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan.


Rasional :
Menurunkan nyeri tenggorok tetapi makanan lunak
ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan.

Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi,


seperti imajinasi, musik yang lembut, relaksasi progresif.
Rasional :
Membantu untuk memfokuskan kembali perhatian dan
membantu pasien untuk mengatasi nyeri/rasa tidak nyaman
secara lebih efektif.

Kolaborasi
Beri obat analgetik dan/atau analgetik spres tenggorok
sesuai kebutuhannya.
Berikan es jika ada indikasi
19

Rasional :
Menurunnya edema jaringan dan menurunkan persepsi
terhadap nyeri.
e

Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi,


prognosis dan kebutuhan tindakan berhubungan dengan tidak
mengungkapkan

secara

terbuka/mengingat

kembali,

setelah

menginterpretasikan konsepsi.
Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :
Adanya saling pengertian tentang prosedur pembedahan
dan penanganannya, berpartisipasi dalam program pengobatan,
melakukan perubahan gaya hidup yang perlu.
Rencana tindakan/intervensi :

Tinjau

ulang

prosedur

pembedahan

dan

harapan

selanjutnya.
Rasional ;
Member pengetahuan dasar dimana pasien dapat
membuat keputusan sesuai informasi.
f

Diskusikan kebutuhan diet yang seimbang, diet bergizi dan bila


dapat mencakup garam beriodium.

Tujuan yang ingin dicapai :


Mempercepat

penyembuhan

dan

membantu

pasien

mencapai berat badan yang sesuai dengan pemakaian garam


beriodium cukup.

20

Intervensinya
Hindari makanan yang bersifat gastrogenik, misalnya
makanan laut yang berlebihan, kacang kedelai, lobak.
Rasional :
Merupakan kontradiksi setelah tiroidiktomi sebab makanan
ini menekan aktivitas tyroid.

Identifikasi makanan tinggi kalsium (misalnya : kuning telur,


hati)
Rasional :
Memaksimalkan suplay dan absorbsi jika fungsi kelenjar
paratiroid terganggu.

Dorong program latihan umum progresif


Rasional :
Latihan dapat menstimulasi kelenjar tyroid dan produksi
hormon yang Amemfasilitasi pemulihan kesejahteraan.

D Pelaksanaan keperawatan/ Implementasi


Pelaksanaan keperawatan merupakan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah dirumuskan dalam rangka memenuhi kebutuhan
pasien secara optimal dengan menggunakan keselamatan, keamanan dan
kenyamanan

pasien.

Dalam

melaksanakan

keperawatan,

haruslah

dilibatkan tim kesehatan lain dalam tindakan kolaborasi yang berhubungan

21

dengan pelayanan keperawatan serta berdasarkan atas ketentuan rumah


sakit.

E Evaluasi
Evaluasi merupakan tahapan terakhir dari proses keperawatan yang
bertujuan untuk menilai tingkat keberhasilan dari asuhan keperawatan
yang telah dilaksanakan.
Dari rumusan seluruh rencana keperawatan serta impelementasinya, maka
pada tahap evaluasi ini akan difokuskan pada :
Apakah jalan nafas pasien efektif?
Apakah komunikasi verbal dari pasien lancar?
Apakah tidak terjadi tanda-tanda infeksi?
Apakah gangguan rasa nyaman dari pasien dapat terpenuhi?
Apakah pasien telah mengerti tentang proses penyakitnya serta
tindakan perawatan dan pengobatannya?

BAB IV
LAPORAN KASUS
22

1. PENGKAJIAN
a. Biodata
1. Identitas Pasien
Nama
: Ny. P
Umur
: 34 Tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
Alamat
: Buntet, Cirebon.
Status Perkawinan
: Kawin
Agama
: Islam
Suku
: Jawa
Pendidikan
: SMP
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
No. Register
: 896630
Diagnosa Medis
: Struma Nodula Non Toksik (SNNT)
Tanggal Masuk
: 19 Desember 2015
Tanggal Pengkajian : 22 Desember 2015
2. Identitas Penanggung Jawab
Nama
: Tn. S
Umur
: 40 Tahun
Jenis Kelamin
: laki-laki
Alamat
: Buntet, Cirebon.
Pendidikan
: SMP
Pekerjaan
: Swasta
Hub. Dengan Pasien : Suami Pasien
b. Keluhan Utama
Klien mengeluh nyeri.
c. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien di bawa ke Rs Gunung Jati Cirebon dibawa oleh keluarganya
pada tanggal 19 Desember 2015. Klien datang karena mengeluh ada
benjolan di bagian depan lehernya. Pada saat pengkajian tanggal 22
desember 2015 klien sudah operasi dan terdapat balutan luka di bagian
depan leher. Pada saat pengkajian klien mengeluh nyeri, nyeri
dirasakan seperti tersayat, nyeri dirasakan klien hilang timbul, nyeri
dirasakan hanya di bagian depan leher, nyeri dirasakan berkurang
apabila klien berbaring, dan bertambah apabial klien menggerakkan
lehernya.
d. Riwayat Kesehatan Dahulu

23

Klien mengatakan sebelumnya ia belum pernah di rawat di Rs,


sebelumnya klien menderita penyakit gastritis dan hanya berobat di
rumah saja.
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang menderita
penyakit yang sama, selain itu tidak ada juga penyakit yang di tularkan
maupun diturunkan dari anggota keluarganya.
f. Data Biologis
1. Penampilan Umum
a. Kesadaran
: Compos Mentis
b. Keadaan umum : Baik
c. Tanda-tanda vital :
TD : 120/70 mmHg
R : 21x/m
N : 82x/m
S : 370C

TB : 155 cm
BB : 58 kg

2. Activity Dailly Living


N
o
1.

ADL

Di Rumah

Nutrisi
a. Makan
- Jenis menu

Nasi,

- Frekuensi
- Porsi
- Pantangan
- Keluhan
b. Minum
- Jenis minuman
- Frekuensi
- Jumlah
- Pantangan
- Keluhan
2.

Istirahat dan tidur


a. Malam
- Berapa jam
- Dari jam..s/d..
- Kesukaran
24

Di RS

tahu,tempe, Bubur,

sayur,

sayur
3xsehari
1 porsi
-

bayem
3xsehari
1 porsi
-

Air putih
8 gelas
1200 cc
-

Air putih
8 gelas
1200 cc
-

8 jam
21.00-05.00
-

8 jam
21.00-05.00
-

tidur
b. Siang
- Berapa jam
- Dari jam..s/d..
- Kesukaran
3.

4.

5.

tidur
Eliminasi
a. BAK
- Frekuensi
- Jumlah
- Warna
- Bau
- Kesulitan
b. BAB
- Frekuensi
- konsentrasi
- Warna
- Bau
- Kesulitan
Personal Hygiene
a. Mandi
- Frekuensi
- Sabun
- Gosok gigi
b. Berpakaian
- Ganti pakaian
Mobilitas dan aktivitas
- Aktivitas
- Kesulitan

2 jam
13.00-15.00
-

Tidak terkaji
Tidak terkaji
Tidak terkaji
Khas urine
-

Tidak terkaji
Tidak terkaji
Tidak terkaji
Khas urine
-

1x/hari
Padat
Coklat
Khas feces
Tidak ada

Belum pernah BAB


-

3xsehari
Ya
Ya

3xsehari

1xsehari

Ibu rumah tangga


Tidak ada

Terbatas
Terpasang
nyeri

3. Data hasil pemeriksaan fisik.


a. Sistem Persyarafan
1. Status mental
:
2. Tingkat kesadaran
:
3. Refleks-refleks
:
4. Nervus cranial
:
- N I (olfaktorius) : klien dapat membedakan bau
- N II (optikus) : penglihatan normal
- N III (okulomotorius) : klien dapat mengangkat bola
-

mata atas, pergerakan bola mata baik.


N IV (troklear) : klien dapat menggerakkan bola

matanya.
N V (trigeminus) : klien dapat menutup rahangnya.

25

infus,

N VI (abdusen) : klien dapat mengerutkan dahi, mata

klien dapat bergerak ke atas dan ke bawah.


N VII (fasial) : dahi dapat di kerutkan, ekspresi wajah

(+)
N VIII (auditorius) : pendengaran normal.
N IX (glasofaringeal) : klien dapat menelan
N X (vagus) :
N XI (assesorius) : klien mampu mengangkat bahu

kanan dan kiri, klien mampu menggerakkan kepala.


- N XII (hipoglosus) : klien dapat menggerakkan lidah.
b. Sistem Pernafasan
Keadaan hidung bersih, bentuk dada simetris, gerakan dada
simetris antara kanan dan kiri, tidak ada pernafasan cuping
hidung, tidak ada retraksi dada, tidak terdengar suara nafas
tambahan, R=21x/m.
c. Sistem Pencernaan
Bibir lembab, rongga mulut merah muda, tidak terdapat
stomatitis dan tonsilitis, tidak ada nyeri tekan di daerah
abdomen, bising usus 8x/m.
d. Sistem Kardiovaskuler.
Konjungtiva ananemis, tidak ada peningkatan JVP, akral
hangat, suara jantung lupdup, CRT <2 detik, tekanan darah :
120/70 mmHg.
e. Sistem Integumen.
Kulit sawo matang, tidak edema, turgor kulit baik, terdapat
balutan luka di leher bagian depan, terdapat iv line di tangan
kiri.
f. Sistem Muskuloskeletal.
Ekstremitas atas : ROM aktif tidak ada fraktur
Ekstremitas bawah : ROM aktif tidak ada fraktur
Kekuatan otot :
5555 5555
5555

5555

g. Sistem Genitourinari.

26

Klien mengatakan urine berwarna kuning jernih, klien


mengatakan tidak ada masalah di bagian genitourinari nya,
inspeksi, palpasi tidak terkaji.
4. Data Psikososial spiritual.
1. Psikologis
a. Nonverbal : klien terlihat sering tidur.
b. Verbal : klien kooperatif menjawab pertanyaan yang diberikan
c. Status emosi : klien tampak tenang.
d. Konsep diri : klien adalah seorang ibu dari 2 anak dan juga
sebagai istri yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, klien
berharap ingin cepat sembuh dan pulang dari rumah sakit.
e. Interaksi sosial : klien kadang-kadang mengobrol dengan
pasien di sampingnya
f. Pola koping : pola koping klien sudah tepat karena saat ada
keluhan kesehatan klien mengatakan langsung memeriksa ke
pelayanan medis.
5. Data Penunjang
6. Terafi
a. Ceftriaxone
1g
b. Keterolax
30mg
c. Transamin
500mg

2x1
2x1
2x1

Analisa Data
DATA

KEMUNGKINAN

MASALAH

ETIOLOGI
DS : klien mengatakan masih Post operasi strumektomi

Nyeri

nyeri di lehernya

dengan tindakan bedah

DO : - terdapat luka post op Luka operasi

stumektomi

berhubungan

strumektomi
-

klien

tampak Terputusnya

meringis kesakitan
jaringan
skala
nyeri
didapatkan 4 (1-10)

Nyeri akut
Post operasi strumektomi

Ds :
Do :
-

kontinuitas

Resiko

infeks

berhubungan dengan luk


terdapat luka post operasi Luka operasi

27

operas terbuka

strumektomi
suhu 370C
TD : 120/70 mmHg
N : 80 x/menit
R : 21 x/menit

N
o
1

Pintu masuk kuman


Resiko infeksi

diagnosa

Tujuan

Nyeri

Setelah

berhubungan

dilakukan

dengan

tindakan

intervensi
1. Kaji

status Tanggal

nyeri

22/12/2015:

2. Observasi TTV

tindakan bedah keperawatan


strumektomi

diharapkan
nyeri
berkurang

implementas

1. Menkaji sta

nyeri
2. Mengobserv
3. Atur

posisi

TTV

senyaman
3. Mengatur

mungkin

atau hilang

posisi
4. Ajarkan teknik
relaksasi

senyaman
mungkin

5. Kolaborasi
pemberan

4. Mengarjarka
teknik
relaksasi

analgetik

5. Kolaborasi
pemberian
2

Resiko infeksi Setelah


berhubungan
dengan

dilakukan

luka tindakan

operasi terbuka

keperawatan
diharapkan

28

1. Observasi

analgetik
Tanggal

TTV

22/12/2015

2. Kaji

tanda-

tanda infeksi

1. Mengobserv
i TTV
2. Mengkaji

tanda-tanda
infeksi

tidak

ada/hilang

adanya tan
3. Batasi
pengunjung
4. Kolaborasi
pemberian
antibiotik

29

tanda infeks
3. Membatasi

pengunjung
4. Kolaborasi
pemberian
antibiotik

30