Anda di halaman 1dari 41

CHAPTER 5: Velasquez

ETHICS AND THE ENVIRONMENT


1. Dimensi Polusi dan Penyusutan Sumber Daya
Polusi Udara
- Polisi Global: gas rumah kaca sangat sulit dihentikan
- Penyusutan ozon: menyebabkan munculnya beberapa ratus ribu penyakit kanker
kulit baru.
- Hujan asam: berkaitan dengan pembakaran fosil (minyak, batu bara, dan gas alam)
untuk memproduksi listrik menghasilkan kadar sulfur yang cukup tinggi dan
masuk ke udara
- Populasi udara yang umum: berbentuk racun yang masuk ke udara
- Kualitas udara: gas dan partikel yang keluar dari mobil dan proses industri yang
mempengaruhi kualitas udara.
- Biaya kesehatan karena rendahnya kualitas udara sangatlah tinggi dibutuhkan
peningkatan kualitas udara untuk dapat menyelamatkan penduduk.
Polusi Air
- Sampah organik dalam air : air dan kadar oksigennya hilang dan tidak mampu
mendukung kehidupan ikan dan organisme-organisme lain.
- Senyawa fosfor: menyumbat saluran air, menghancurkan kehidupan dalam air,
menghabiskan oksigen dalam air, dan sangat mengurangi kejernihan air.
- Panas: suhu air yang berubah-ubah tidak dapat mendukung kehidupan organisme
air karena sebagian besar organisme air hanya mampu beradaptasi pada suhu air
yang stabil.
- Tumpahan minyak: kontaminasi dari tumpahan minyak sangat berbahaya bagi
kehidupan laut, termasuk ikan, tunbuhan dan burung-burung laut dibutuhkan
biaya yang besar untuk membersihkannya, serta berakibat buruk bagi industri
pariwisata dan pemancingan.
- Persediaan air bawah tanah semakin tercemar: bahan pencemar air berkaitan
dengan penyakit kanker, liver, ginjal, serta kerusakan sistem saraf pusat.
Polusi Tanah
- Zat beracun: bahan-bahan yang menyebabkan kenaikan tingkat kematian atau tidak
bisa diubah atau menyebabkan sakita atau yang memberikan pengaruh buruk bagi
kesehatan dan lingkungan.
- Limbah padat: sampah kota merupakan sumber polusi yang signifikan. Sampah
yang tertimbun mulai banyak tersebar dan meresap ke dalam tanah, yang
selanjutnya mencemari persediaan air di beberapa tempat/.
- Limbah nuklir: 1) limbah tingkat tinggi memancarkan sinar gamma yang bisa
menerobos segala jenis bahan pelingung. Belum diketahui apakah ada metode
permanen untuk membuang limbah ini; 2) limbah transuranik berasal dari
pemrosesan bahan bakar dan pemrosesan berbagai senjata militer. Hanya dikubur di
parit yang dangkal; 3) limbah tingkat rendah pakaian yang terkontaminasi dan

peralatan-peralatan bekas yang digunakan dalamreaktor nuklir mulai dari


penggalian sampai pengolahan uranium.
Penyusutan Spesies dan Habitat
- Manusia membuat punah puluhan spesies binatang dan tumbuhan
- Para ahli memperkirakan bahwa kerusahan utan hujan di bumi mencapai tingkat 1%
tiap tahun. Hilangnya habitat dan pengaruh polusi diperkirakan mengakibatkan
kepunahan sejumlah besar spesies.
Penyusutan Bahan Bakar Fosil
- Bahan bakar fosil mengalami penyusutan secara eksponensial. Jika terus dibiarkan,
penyusutan eksponensial akan berakhir dengan punahnya semua sumber daya
dalam waktu relatif singkat.
Penyusutan Mineral
- Meskipun tingkat menambangan sebagian mineral penting telah mencapai
puncaknya, namun tidak ada yang benar-benar habis dan semuanya masih terus
ditambang.
- Di masa mendatang beberapa jenis mineral akan semakin langka dan mahal yang
memberikan pengaruh ekonomi yang cukup besar mada masyarakat kita.
- Batas-batas fisik sumber daya alam kita: meskipun banyak yang masih berlimpah,
namun semuanya tidak bisa digali secara terus menerus.
2. Etika Pengendalian Polusi
- Selama berabad-abad, lembaga bisnis diperbolehkan mengabaikan akibat-akibat
kegiatan mereka terhadap lingkungan alam, yang disebabkan karena beberapa
persepsi, (1) para pelaku bisnis menganggap udara dan air adalah barang gratis atau
tidak ada yang memiliki, sehinga perusahaan bisa menggunakannya tanpa perlu
mengeluarkan biaya; (2) bisnis melihat lungkungan sebagai barang yang tidak terbatas.
- Apabila semua perusahaan berpikir seperti itu, maka pengaruh-pengaruh yang tidak
berarti dari masing-masing perusahaan akan menjadi sangat berarti dan fatal. Daya
muat air dan udara dengan cepat akan penuh, dan barang-barang gratis serta tidak
terbatas ini akan hancur dengan cepat.
- Masalah polusi tidak hanya bersumber dari aktivitas bisnis, melainkan dari
penggunaan produk oleh konsumen dan produk sampah manusia. Seperti yang
bersumber dari kendaraan bermotor.
- Fokus pembahasan disini adalah masalah-masalah etis yang muncul akibat polusi dari
usaha komersial dan industri.
Etika Ekologi
- Sistem ekologi adalah rangkaian organisme dan lingkungan yang saling terkait dan
saling bergantung. Dengan demikian, aktivitas dari salah satu bagiannya akan
berpengaruh pada bagian lain.
- Fakta bahwa kita hanya bagian dari sebuah sistem ekologi yang besar telah
mendorong penulis untuk menegaskan bahwa kita perlu menghargai kewajiban
moral untuk melindungi tidak hanya kesejahteraan umat, namun juga bagian-bagian
sistem lain yang bukan manusia.

- Jadi, etika ekologi didasarkan pada gagasan bahwa bagian-bagian lingkungan yang
bukan manusia perlu dijaga demi bagian-bagian itu sendiri, tidak masalah apakah itu
menguntungkan manusia atau tidak.
- Etika ekologi adalah sebuah etikan yang mengklaim bahwa kesejahteraan dari
bagian-bagian non-manusia di bumi ini secara intrinsik memiliki nilai tersendiri dan
bahwa, karena adanya nilai intrinsik ini, kita manusia memiliki tugas untuk
menghargai dan mempertahankannya.
- Terdapat beberapa macam etika ekologi, versi yang paling populer mengklaim
bahwa selain bagi manusia, binatang memiliki nilai intrinsik dan layak kita hargai
dan kita lindungi.
- Pengikut utilitarian mengklaim bahwa rasa sakit yang dialami binatang haruslah
dianggap setara dengan rasa sakit manusia.
- Non-utilitarian mengklaim bahwa kehidupan setiap binatang memiliki nilai,
terpisah dari kepentingan-kepentingan manusia. Karena nilai ini, setiap binatang
memiliki hak-hak moral tertentu, salah satunya adalah diperlakukan dengan hormat.
- Sejumlah pakar etika mengklaim bahwa adalah hal yang sewenang-wenang dan
kedonistik jika kita membatasi tugas kita pada makhluk-makhluk yang bisa merasa
sakit. Semua makhluk hidup termasuk tumbuhan memiliki kepentingan untuk tetap
hidup dan dan pada akhirnya mereka berhak mendapatkan pertimbangan moral
mereka sendiri.
- Penulis lain mengklaim bahwa tidak hanya makhluk hidup, tapi bahkan spesies
alam seperti danau, sungai, bahkan komunitas biotik memiliki hak atas integritas,
stabilitas, dan keindahannya tetap terjaga.
- Pendekatan terhadap alam:
(a) Albert Schweitzer tentang Penghormatan pada Kehidupan, yang menyatakan
bahwa menjadi seseorang yang menghormati kehidupan berarti melihat
kehidupan itu sendiri, dalam segala bentuknya, sebagai sesuatu yang bernilai,
nilai yang menginspirasikan ketidaksediaan untuk merusak dan keinginan untuk
menjaga.
(b) Taylor: pendapatnya didasarkan pada fakta bahwa masing-masing makhluk
hidup berusaha mencari yang baik bagi dirinya dan demikian pula sebuah pusat
teleologi kehidupan. Sifat makhluk hidup yang berorientasi pada tujuan.
Makhluk hidup memiliki kebaikannya sendiri yang perlu dihargai.
Hak Lingkungan dan Pembatasan Mutlak
- William T. Blackstone menyatakan bahwa kepemilikan atas lingkungan yang
nyaman tidak hanya sangat diinginkan, namun merupakan hak bagi setiap manusia.
Dengan kata lain, lingkungan yang nyaman bukanlah sesuatu yang kita semua ingin
miliki, namun sesuatu dimana yang lain berkewajiban untuk memungkinkan kita
memilikinya.
- Mengapa manusia memiliki hak ini? Menurut Blackstone, hak ini penting karena
memungkinkan dia untuk bisa menjalani kehidupan sebagaimana layaknya manusia,
yang mengembangkan kapasitasnya sebagai makhluk rasional dan bebas.
- Sejumlah negara bagian Amerika Serikat memberlakukan amandemen terhadap
undang-undang mereka yang mengizinkan warga negara untuk memperoleh hak-hak

lingkungan, yang mirip dengan konsep hak lingkungan Blackstone. Peraturanperaturan pemerintah federal ini tidak didasarkan pada analisis biaya-keuntungan
utilitarian yang mengatakan bahwa perusahaan harus mengurangi polusi sejauh
keuntungannya lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan. Tetapi lebih menerapkan
pembatasan mutlak atas populasi, berapapun biaya yang dikeluarkan, yang mengacu
pada hak-hak manusia.
- Argumen Blackstone memberikan sebuah dasar pemikiran untuk membatasi hakhak properti dalam cara-cara yang mutlak demi penegakan hak manusia atas
lingkungan yang bersih. Argumen ini didasarkan pada teori Kant.
- Masalah utama pandangan Blackstone: gagal memberikan petunjuk tentang
sejumlah pilihan yang cukup berat mengenai lingkungan.
- Karena adanya hambatan-hambatan yang muncul dari pelarangan mutlak yang
disampaikan oleh Blackstone, pemerintah federal pada awal 1980-an mulai beralih
pada metode-metode pengendalian polusi dan tidak menerapkan pelarangan mutlak
Dengan demikian, peraturan berganti didasarkan pada pendekatan utilitarian
terhadap lingkungan. Perusahaan diijinkan menambah pengeluaran bahan
pencemar yang cukup mahal biaya penanganannya apabila mereka bersedia
mengurangi jumlah bahan pencemar yang lebih murah penanganannya
Utilitarianisme dan Pengendalian Parsial
- Utilitarianisme memberi suatu cara guna menjawab pertanyaan yang tidak bisa
dijawab oleh teori hak-hak lingkungan Blackstone.
- Berdasarkan Pendekatan utilitarianisme, jika suatu industri mencemari lingkungan,
harga pasar komoditas-komoditasnya tidak lagi mencerminkan biaya sesungguhnya
dalam proses produksi komoditas tersebut, sehingga dapat mengakibatkan kesalahan
alokasi sumber daya dan kesejahteraan ekonomi akan menurun. Jadi, pendekatan ini
menekankan bahwa seseorang perlu berusaha menghindari polusi karena dia juga
tidak ingin merugikan kesejahteraan masyarakat.
Biaya Pribadi vs Biaya Sosial
- Biaya pribadi: harga yang harus dibayarkan produsen untuk memproduksi satu
kilowatt listrik.
- Dari sudut pandang masyarakat, biaya untuk menghasilkan satu kilowatt listrik
tidak hanya mencakup biaya-boaya internal seperti bahan bakar, tenaga kerja dan
peralatan, namun juga mencakup biaya-biaya eksternal untuk pembersihan dan
perawatan kesehatan yang harus dibayar oleh orang-orang yang tinggal di sekitar
pabrik.
- Biaya total (biaya internal dan biaya eksternal) adalah yang disebut biaya sosial
untuk memproduksi sati kilowatt listrik.
- Biaya pribadi dan biaya sosial tidak selalu sedemikian berbeda seperti contoh
produksi ini, namun tekadang keduanya tergabung.
- Polusi merupakan satu masalah dasar dalam perbedaan antara biaya pribadi dan
biaya sosial. Hal ini dipermasalahan karena saat biaya pribadi untuk menghasilkan
suatu produk berbeda dari biaya sosial yang terkait dengan produksinya, maka pasar
tidak lagi memberikan harga yang tepat atas komoditas yang dihasilkan.

Konsekuensinya, pasar tidak lagi mampu mengalokasikan sumber daya yang


dimilikinya secara efisien. Akibatnya, kesejahteraan masyarakat menurun.
- Jadi, bila kita hanya menghitung biaya pribadi, komoditas listrik dihargai lebih
rendah dan produksinya sangat tinggi. Yang berarti bahwa listrik tidak lagi
mengalokasikan sumber daya dan dan mendistribusikan komoditas sedemikian rupa
sehingga mampu memaksimalkan utilitasnya.
- Jadi, polusi membebankan biaya eksternal, dan berarti bahwa biaya produksi (biaya
produksi pribadi atau internal) lebih kecil dibandingkan biaya sosial. Akibatnya,
pasar tidak menetapkan disiplin optimal pada produsen dan hasilnya adalah
menurunkan utilitas sosial. Jadi, polusi lingkungan merupakan suatu pelanggaran
atas prinsip-prinsip yang merupakan dasar sistem pasar.
Penyelesaian: Tugas-tugas Perusahaan
- Berdasarkan pendekatan utilitarian, penyelesaian biaya eksternal dilakukan dengan
cara memasukkan biaya polusi atau pencemaran ke dalam perhitungan (biaya ini
ditanggung produsen dan diperhitungkan untuk menentukan harga komoditas
mereka), sehingga harga barang dapat ditetapkan secara akurat.
- Beberapa cara untuk menginternalisasi biaya eksternal dari polusi:
(1) Meminta pihak yang menyebabkan polusi untuk membayar ganti rugi, secara
sukarela atau secara hukum, pada pihak-pihak yang dirugikan. Mekanisme ini
dapat mendorong perusahaan untuk mencari cara-cara guna mengurangi polusi
dengan tujuan untuk mengurangi biaya. Persoalannya: tidak selalu jelas siapa
yang dirugikan oleh siapa.
(2) Dengan mewajibkan perusahaan menjadi sumber polusi untuk menghentikan
polusi dengan memasang alat-alat pengendalian sosial. Dengan demikian, biaya
eksternal dari polusi lingkungan berarti diubah menjadi biaya internal
perusahaan untuk memasang peralatan pengendalian polusi.
Keadilan
Keadilan Distributif
- Cara utilitarian menangani polusi dengan menginternalisasikan biaya eksternal
nampak konsisten dengan persyaratan keadilan distributif, sejauh keadilan
distributif tersebut mendukung kesamaan hak.
- Namun, saat ini biaya-biaya eksternal polusi sebagian besar ditanggung oleh kaum
miskin, yang disebut oleh beberapa pihak sebagai ketidakadilan lingkungan. Hal
tersebut dikarenakan lankah-langkah pengendalian polusi memberikan beban yang
lebih berat pada kaum miskin dibandingkan kaum kaya. Contohnya pada perusahaan
yang memproduksi kebutuhan pokok.
- Sejumlah hasil penelitian mendukung klain tentang rasisme lingkungan, yang
menyatakan bahwa tingkat polusi cenderung berkorelasi dengan ras, sehingga
semakin tinggi proporsi kaum minoritas yang tinggal di suatu wilayah, semakin
besar pula kemungkinan bahwa wilayah tersebut terkena polusi. Dengan demikian,
polusi juga melanggar keadilan distributif
Keadilan Retributif dan Kompensatif
- Internalisasi biaya eksternal juga terlihat konsisten dengan persyaratan keadilan
retributif dan kompensatif.

- Keadilan distributif: pihak-pihak yang bertanggung jawab dan memperoleh


keuntungan dari sesuatu yang merugikan wajib menanggung semua beban untuk
memperbaikinya.
- Keadilan kompensatif: pihak-pihak yang dirugikan berhak memperoleh kompensasi
dari pihak-pihak yang mengakibatkan kerugian tersebut.
- Kedua pandangan ini mengimplikasikan bahwa: (a) biaya pengendalian polusi harus
ditanggung oleh pihak yang menyebabkan polusi dan yang memperoleh keuntungan
darinya; (b) keuntungan pengendalian polusi wajib diberikan kepada pihak-pihak
yang menanggung biaya eksternal polusi.
- Internalisasi biaya eksternal juga terlihat memenuhi 2 syarat: (a) biaya
pengendalian polusi ditanggung oleh pemegang saham dan konsumen, yang
keduanya mendapat keuntungan dari perusahaan yang menyebabkan polusi; dan (b)
keuntungan dari pengendalian polusi harus diberikan kepada pihak-pihak yang
sebelumnya terkena pengaruh polusi perusahaan yang bersangkutan.
Biaya dan Keuntungan
- Teknologi pengendalian polusi berhasil mengembangkan metode-metode yang
efektif, namun relatif mahal. Misalnya, sebenarnya perusahaan tidak perlu membeli
alat untuk menghilangkan polusi jika nilai kegunaan ekonomi masyarakat akan
menurun: biaya untuk menekan polusi lebih besar dari keuntungan yang diperoleh
masyarakat sehingga mengakibatkan penyusutan nilai kegunaan sosial.
- Biaya pengendalian sosial berbanding terbalik dengan keuntungan dari penggunaan
alat pengendali polusi.
- Thomas Klein memberi ringkasan prosedur analisis biaya-keuntungan:
(a) Mengidentifikasi biaya dan keuntungan dari usulan program dan juga orangorang atau sektor yang mengusulkan atau menerimanya. Mencatat transfer.
(b) Mengevaluasi biaya dan keuntungan dalam kaitannya dengan nilainya terhadap
pihak yang memberi dan menerima. Tolak ukur: nilai dari masing-masing unit
marjinal terhadap pihak yang meminta atau yang memberikan seperti yang
ditunjukkan dalam harga kompetitif.
(c) Menambahkan biaya dan keuntungan untuk menentukan keuntungan sosial
bersih dari suatu proyek atau program.
- Klein mengusulkan agar perusahaan membentuk sebuah sistem akuntansi sosial
yang secara rutin mengukur, mencatat, dan melaporkan pengaruh-pengaruh eksternal
terhadap pihak manajemen dan pihak lain untuk menghindari penggunaan prosedur
yang tidak beraturan dan mahal.
- Hambatan dasar dalam pendekatan utilitarian:
o biaya dan keuntungan untuk menangani polusi akan cukup sulit dihitung apabila
melibatkan kerugian terhadap kesehatan manusia bahkan kematian. Penilaian ini
juga sulit dilakukan jika pengaruh-pengaruh polusi sifatnya tidak pasti sehingga
otomatis akan sulit diprediksi.
o Ada hambatan yang sangat besar untuk menilai risiko-risiko secara akurat.
Menghitung risiko dari suatu peristiwa penting di masa mendatang tidak selalu
menunjukkan pada kita nilai yang diberikan oleh masyarakat pada risiko
tersebut setelah ditambah dengan risiko yang telah diterima.

o Ketidakmampuan menilai keuntungan (audit sosial) biasanya tidak lebih dari


deskripsi kualitatif. Oleh sebab itu, tanpa adanya penilaian kuantitatif atas
keuntungan, tidak akan pernah tahu apakah usaha yang dilakukan efektif di
mata masyarakat.
- Penggunaan analisis utilitarian biaya-keuntungan kadang berdasarkan pada
asumsi yang tidak konsisten dengan hak-hak moral masyarakat. Para pendukung
utilitarian kadang mengasumsikan bahwa jika keuntungan dari suatu teknologi atau
proses produksi jelas lebih tinggi dari biayanya, maka secara moral dibenarkan
untuk memaksa orang-orang yang menolak agar melaksanakannya.
- Dengan adanya masalah yang muncul dalam penggunaan pendekatan utilitarian
terhadap masalah polusi, ada kemungkinan pendekatan-pendekatan alternatif tepat
digunakan, seperti (1) pelarangan mutlak; (2) teori hak; (3) memilih proyek yang
tidak mengandung risiko kerusakan fatal; (4) jika risiko tidak dapat diperkirakan,
dapat mengidentifikasi pihak-pihak yang paling rentan menanggung beban, dan
memilih melindunginya; (5) mengasumsikan bahwa hal paling buruk akan terjadi
dan selanjutnya menetapkan pilihan yang memungkinkan kita untuk mengetahui
kapan hal itu terjadi.
Ekologi Sosial, Ekofeminisme, dan Kewajiban untuk Memelihara
- Ekologi sosial menyatakan bahwa apabila pola-pola hierarki dan dominasi tersebut
belum berubah, maka kita tidak akan bisa menghadapi krisis lingkungan.
- Sistem hierarki: satu kelompok berkuasa atas kelompok lain dan anggota kelompok
yang berkuasa mendominasi anggota kelompok lain dan memanfaatkan mereka
sebagai sarana untuk mencapai tujuan.
- Menurut Bokchin, sistem hierarki dan dominasi mendorong munculnya mentalitas
budaya yang mendukung dominasi dalam segala bentuk, termasuk dominasi atas
alam. Jadi kerusakan lingkungan yang terjadi secara luas tidak bisa dihentikan
sampai masyarakat kita menjadi tidak terlalu hierarkis, tidak terlalu mendominasi,
dan tidak terlalu menindas.
- Pemikiran feminis: menyatakan bahwa bentuk kierarki yang paling berkaitan
dengan kerusakan lingkungan adalah dominasi pria atas perempuan. Akar dari krisis
ekologi yang terjadi ada pada pola dominasi atas alam yang berkaitan erat dengan
praktik-praktik sosial dan lembaga-lembaga dimana perempuan memiliki posisi
lebih rendah dibandingkan kaum pria. Subordinasi atas apa yang feminin selanjutnya
ditransfer ke alam, yang melihat sebagai subjek yang feminin (ibu pertiwi) dimana
kaum perempuan dianggap lebih dekat. Jadi dominasi atas alam menyertai dominasi
atas kaum perempuan, dan saat kaum perempuan dieksploitasi demi keuntungan
kamu pria, hal yang sama juga terjadi pada alam.
- Sebagian kaum ekofeminis: menyatakan bahwa perspektif dominasi dan hierarki
maskulin yang merusak harus diganti dengan perspektif feminin yang lebih
menekankan pada caring atau memberi perhatian.
- Nel Noddings, pendukung pandangan etika memberi perhatian menyatakan bahwa
kewajiban untuk memberi perhatian ini hanya ditujukan pada bagian-bagian alam
yang hidup dan yang berkaitan dengan kita.

- Karen Warren (kaum ekofiminis), membahas hubungan antara seseorang dengan


batu atau gunung yang didakinya. Meskipun konsep utilitarianisme, hak, dan
keadilan memiliki peran terbatas dalam etika lingkungan, namun etika lingkungan
yang baik harus memperhatikan perspektif etika memberi perhatian. Alam harus
dilihat sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan dengan dijaga dan dihormati.
3. Etika Konservasi Sumber Daya yang Bisa Habis
- Konversi mengacu pada penghematan sumber daya alam untuk digunakan di masa
mendatang. Jadi persediaan untuk besok akan selalu menjadi baru bila kita bersedia
melakukan langkah-langkah pencegahan. Konversi merupakan satu-satunya cara untuk
menjamin persediaan bagi generasi mendatang.
Hak Generasi Mendatang
- Jika generasi mendatang sama-sama punya hak atas sumber daya bumi, maka
tindakan menghabiskan sumber daya berarti mengambil apa yang sebenarnya
menjadi milik mereka dan melanggar hak-hak mereka atas sumber daya tersebut.
- Beberapa penulis yang menyatakan salah jika berpikir bahwa generasi mandatang
juga memiliki hak, memberikan 3 alasan:
(1) Karena mereka saat ini belum ada dan mungkin juga tidak akan pernah ada
(2) Jika generasi mendatang punya hak, kita mungkin akan diarahkan menuju
kesimpulan yang tidak masuk akal bahwa kita harus mengorbankan seluruh
pweadaban demi mereka.
(3) Kita dapat mengatakan bahwa seseorang memiliki hak tertentu hanya jika kita
tahu bahwa dia memiliki kepentingan tertentu yang dilindungi oleh hak tersebut.
Keadilan bagi Generasi Mendatang
- John Rawls: untuk menentukan cara yang adil dalam mendistribusikan sumber daya
antargenerasi, masing-masing anggota generasi selayaknya menempatkan diri dalam
original position, dan, tanpa mengetahui dari generasi mana mereka berasal. Jadi
keadilan mewajibkan kita untuk menyerahkan dunia ini pada generasi mendatang
dalam kondisi yang tidak lebih buruk dibandingkan dengan yang kita terima dari
generasi sebelumnya.
- Utilitarianisme mendukung prinsip Locke, bahwa masing-masing individu wajib
memberikan warisan yang cukup dan baik bagi yang lain.
- Attfield: mewariskan dunia dengan kapasitas output yang sama tidak berarti
mewariskan dunia dengan sumber daya yang sama. Sebaliknya, mempertahankan
kapasitas output bisa dicapai melalui konversi, pengelolaan kembali, atau inovasi
teknologi.
- Pendukung utilitarianisme: masing-masing generasi mempunyai tugas untuk
memaksimalkan keuntungan-keuntungan masa depan dari tindakan mereka dan
meminimalkan kerugian masa depan.
- William Shepherd dan Clair Wilcox: alasan-alasan yang direpresentasikan oleh
pilihan dalam pasar dan gagalnya harga pasar untuk memperhitungkan kelangkaan
sumber daya masa mendatang adalah (1) akses beragam; (2) preferensi waktu dan
myopia; (3) perkiraan yang tidak memadai; (4) pengaruh khusus; (5) pengaruh
eksternal; (6) distribusi. Jadi satu-satunya cara untuk melakukan konversi demi masa

depan adalah menggunakan kebijakan konversi sukarela (atau diperkuat secara


politik)
Pertumbuhan Ekonomi?
- Kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi harus ditinggalkan jika masyarakat ingin
mampu menangani masalah penyusustan sumber daya telah banyak mendapat
tantangan.
- Karena sumber daya dunia terbatas, maka pada titik tertentu persediaannya akan
habis. Jika negara-negara seluruh dunia masik menekankan pada usaha pertumbuhan
ekonomi, maka diperkirakan institusi-institusi ekonomi besar mereka akan hancur,
yang selanjutnya juga akan menghancurkan institusi politik dan sosial.
CHAPTER 6 BUKU VELASQUEZ
The Ethics of Consumer Production and Marketing
1. Pasar dan Perlindungan Konsumen
- Banyak orang yang percaya bahwa konsumen secara otomatis terlindung dari kerugian
dengan adanya pasar yang bebas dan kompetitif dan bahwa pemerintah atau pelaku
bisnis tidak mengambillangkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapi masalah
ini.
- Konsumen dikatakan berdaulat penuh Konsumen, dengan cita rasa mereka
seperti yang diekspresikan dalam pilihan atas produk, mengarahkan bagaimana sumber
daya masyarakat disalurkan. Saat konsumen menginginkan dan bersedia membayar
untuk suatu produk, maka penjual memperoleh insentif untuk memenuhi keinginan
mereka. Jika penjual menyediakan apa yang diinginkan konsumen, dia untung, namun
jika tidak, ia akan rugi.
- Dalam pendekatan pasar terhadap perlindungan konsumen, keamanan konsumen
dilihat sebagai produk yang paling efisien bila disediakan melalui mekanisme pasar
bebas dimana penjual memberikan tanggapan terhadap permintaan konsumen pasar
menjamin bahwa produsen memberikan tanggapan secara memadai terhadap
keinginan konsumen untuk memperoleh keamanan
- Tetapi jika konsumen tidak menunjukkan kesediaan untuk membayar lebih untuk
produk yang lebih aman maka salah bila terdapat peraturan pemerintah untuk
mewajibkan produsen meningkatkan keamanan produk mereka lebih tinggi dari
permintaan konsumen interferensi pemerintah ini akan mengganggu pasar,
membuatnya tidak adil, tidak menghargai hak, dan tidak efisien.
- Kritikus: menanggapi bahwa keuntungan yang diperoleh pasar bebas hanya terjadi bila
pasar memiliki tujuh karakteristik pasar persaingan sempurna. Kritik dari yang
diberikan difokuskan pada 2 dari 7 karakteristik, yaitu:
o Pasar dikatakan efisien jika kondisi ketiga terpenuhi, yaitu hanya jika para
partisipan memiliki informasi lengkap dan sempurna tentang barang-barang yang
mereka beli. Namun dalam kenyataannya hanya para ahli yang memiliki
informasi lengkap. Karena proses pengumpulan informasi ini cukup mahal,
konsumen mungkin tidak memiliki sumber daya untuk memperoleh informasi
tersebut. Jadi dapat dikatakan bahwa mekanisme pasar perlu menciptakan pasar

informasi konsumen jika itu yang diinginkan konsumen. Namun karena pasar tidak
dapat mendukung organisasi-organisasi yang memberikan informasi yang
diperlukan konsumen, maka organisasi bergantung pada sumbangan sukarela
atau bantuan pemerintah, karena adanya 2 alasan terkait sifat informasi
konsumen, yaitu:
a) Setelah informasi diberikan kepada seseorang yang membayarnya, informasi
tersebut sangat mudah bocor ke orang lain yang tidak membayar, khususnya di
zaman fotokopi.
b) Konsumen sering tidak bersedia membayar untuk memperoleh informasi,
karena mereka tidak tahu nilai kegunaannya sampai mereka mendapatkannya,
dan bila sudah mendapatkannya mereka tidak mau membayar karena merasa
sudah punya.
o Kritik kedua atas argumen bahwa pasar bebas mampu menangani semua masalah
konsumen, berdasarkan asumsi semua pembeli dan penjual merupakan
pemaksimal utilitas yang rasional. Konsumen merupakan pemaksimal keggunaan
rasional, yang berarti sebagai seseorang yang memiliki rangkaian preferensi yang
didefinisikan dengan baik dan konsisten, dan yang selalu merasa pasti bahwa
pilihan-pilihannya akan berpengaruh pada preferensi tersebut. Sayangnya hampir
semua pilihan konsumen didasarkan pada perkiraan probabilitas yang kita buat
dalam kaitannya dengan kemungkinan bahwa produk yang kita beli akan berfungsi
sebagaimana yang diharapkan. Semua hasil penelitian menunjukkan bahwa kita
cenderung kurang tepat, tidak rasional dan tidak konsisten saat menentukan pilihan
berdasarkan perkiraan probabilitas.
Jadi secara keseluruhan tidak terlihat bahwa kekuatan-kekuatan pasar mampu
menghadapi semua pertimbangan konsumen tentang keamanan, bebas risiko, dan nilai.
Konsumen harus dilindungin dengan menggunakan struktur hukum pemerintah dan
juga inisiatif sukarela dari para pelaku bisnis yang bertanggung jawab.
Sebagian tanggung jawab atas kecelakaan konsumen dibebankan pada konsumen itu
sendiri. Konsumen sering menggunakan peralatan dimana mereka tidak memiliki
keahlian, pengetahuan, atau pengalaman.
Kecelakaan juga terjadi akibat adanya cacat dalam desain produk, dalam bahanbahannya, dan atau proses pembuatannya. Karena produsen sebagai pihak yang
membuat produk, mengetahui dengan pasti cara kerja produk, maka dia selayaknya
memberikan informasi tentang cara paling aman untuk menggunakan serta tindakan
pencegahan yang perlu dilakukan.
Pandangan kontrak menempatkan tanggung jawab yang lebih besar pada konsumen,
sementara pandangan due care dan biaya sosial menempatkan sebagian besar
tanggung jawab pada produsen.

2. Pandangan Kontrak Kewajiban Produsen Terhadap Konsumen


- Menurut pandangan kontrak, hubungan antara perusahaan dengan konsumen pada
dasarnya merupakan hubungan kontraktual, dan kewajiban moral perusahaan dengan
konsumen adalah seperti yang diberikan dalam hubungan kontraktual.

Saat konsumen membeli sebuah produk, konsumen secara sukarela menyetujui


kontrak penjualan denga perusahaan.
- Teori kontrak tentang tugas perusahaan terhadap konsumen didasarkan pada
pandangan bahwa kontrak adalah sebuah perjanjian yang diwajibkan pihak-pihak
terkait untuk melaksanakan isi persetujuan.
- Kant: seseorang berkewajiban melakukan sesuatu yang menurut perjanjian harus
dilakukan karena kegagalan melaksanakan kewajiban merupakan tindakan yang a)
tidak dapat diuniversalisasikan, dan b) memperlakukan orang lain sebagai sarana,
bukan tujuan.
- Teori Rawls: memberikan pembenaran, bahwa kebebasan kita diperluas oleh
pengakuan atas hak dan melakukan apa yang disebutkan dalam perjanjian akan mampu
memberikan jaminan bahwa isi perjanjian akan dipenuhi.
- Tindakan menyetujui kontrak tunduk pada beberapa batasan moral sekunder:
(1) Kedua belah pihak harus mengetahui sepenuhnya sifat perjanjian yang mereka buat
(2) Kedua belah pihak tidak boleh dengan sengaja menyalahartikan fakta-fakta
perjanjian pada pihak lain
(3) Kedua belah pihak tidak boleh menyetujui perjanjian karena keterpaksaan atau
pengaruh lain
- Karena kebebasan mengimplikasikan tidak adanya paksaan, maka kontrak juga harus
dibuat tanpa adanya paksaan atau pengaruh pihak lain.
- Teori kontraktual kewajiban perusahaan terhadap konsumen mengklaim bahwa
perusahaan memiliki 4 kewajiban moral utama, yaitu kewajiban dasae untuk:
(a) Mematuhi isi perjanjian penjualan, dan kewajiban sekunder
(b) Memahami sifat produk
(c) Menghindari misrepresentasi
(d) Menghindari penggunaan paksaan atau pengaruh
a. Kewajiban untuk Mematuhi
- Kewajiban moral paling dasar perusahaan terhadap konsumen adalah kewajiban untuk
memberikan suatu produk dengan karakteristik persis seperti yang dinyatakan
perusahaan, yang mendorong konsumen untuk membuat kontrak dengan sukarela dan
yang membentuk pemahaman konsumen tentang apa yang disetujui akan dibelinya.
- Pandangan kontrak juga menyatakan bahwa pihak penjual berkewajiban memenuhi
klain yang dibuatnya tentang produk tersebut. Contoh: penjual memiliki kewajiban
moral untuk memberikan suatu produk yang dapat dipakai secara aman untuk tujuantujuan umum ataupun khusus di mata konsumen, dengan bergantung pada penilaian
penjual, memercayai bahwa produk tersebut dapat digunakan seperti yang dijanjikan.
- Klaim terbuka ataupun klaim tidak langsung yang mungkin diberikan penjual tentang
kualitas produknya mencakup berbagai bidang dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor.
Fredrick Sturdivant mengklasifikasikan bidang tersebut kedalam 4 variabel:
(1) Reliabilitas dan keandalan: probabilitas bahwa suatu produk akan berfungsi seperti
yang diharapkan konsumen.
(2) Masa penggunaan: klaim atas periode dimana suatu produk berfungsi secara
efektif seperti yang diharapkan oleh konsumen.

(3) Kemudahan pemeliharaan: klaim yang berkaitan dengan bagaimana cara


memperbaiki suatu produk dan menjaganya agar tetap berfungsi dengan baik.
Sering disebut dengan bentuk jaminan atau garansi.
(4) Keamanan produk: mengacu pada tingkat risiko yang berkaitan dengan
penggunaan suatu produk.
Berdasarkan Teori kontraktual, penjual memiliki kewajiban moral untuk memberikan
produk yang risikonya tidak lebih besar dari yang dinyatakan kepada konsumen atau
yang dikomunikasikan melalui klaim-klaim implisit saat memasarkan produk dengan
tingkat risiko normal yang telah diketahui oleh konsumen.

b. Kewajiban untuk Mengungkapkan


- Penjual yang akan membuat perjanjian dengan konsumen berkewajiban untuk
mengungkapkan dengan tepat apa yang akan dibeli konsumen dan apa saja syarat
penjualannya. Ada juga yang mengatakan bahwa penjual juga perlu menjelakan
konponen atau unur-unsur yang terdapat dalam suatu produk, karakteristik hasil
kerjanya, biaya pengoperasian, tingkat prduksinya, serta standar-standar yang sesuai
lainnya.
- Perjanjian hanya dapat dikatakan dibentuk dengan bebas atau tanpa tekanan bila
pembeli mengetahui alternatif yang tersedia. Semakin banyak yang diketahui pembeli
tentang produk di pasar, dan semakin banyak perbandingan yang bisa dilakukan, maka
perjanjian juga dapat dikatakan semakin bebas.
- Kritik atas pandangan bahwa penjual harus memberikan berbagai macam informasi
informasi adalah sesuatu yang mahal, jadi konsumen harus membayar untuk
mendapatkannya dan harus melakukan kontrak untuk membeli informasi. Masalah
informasi yang digunakan sebagai acuan untuk membuat keputusan melakukan
kontrak merupakan jenis informasi yang agak berbeda dari produk yang
diperjualbelikan. Jika konsumen harus melakukan tawar menawar untuk mendapatkan
informasi, maka kontrak yang dihasilkan juga tidak bisa dikatakan bebas.
c. Kewajiban untuk Tidak Memberikan Gambaran yang Salah
- Karena pilihan bebas merupakan elemen utama dalam kontrak, maka memberitahukan
gambaran yang keliru tentang suatu komoditas adalah salah.
- Jika seorang penjual melakukan misrepresentasi atas suatu komoditas dengan cara
yang disengaja dengan tujuan untuk menipu pembeli, maka merupakan hal yang salah.
- Jenis-jenis misrepresentasi hanya dibatasi oleh tingkat kelicikan orang yang
melakukannya.
d. Kewajiban untuk Tidak Memaksa
- Orang sering bertindak irrasional karena pengaruh rasa takut atau tekanan emosional.
- Karena ikatan kontrak mensyaratkan persetujuan sukarela atau bebas, maka penjual
berkewajiban untuk tidak memanfaatkan keadaan emosional yang mungkin
mendorong pembeli untuk bertindak secara irasional dan bertentangan dengan
kepentingannya.
- Penjual juga berkewajiban untuk tidak memanfaatkan ketidaktahuan,
ketidakdewasaan, kebodohan, ataupun faktor-faktor lain yang mengurangi atau
menghapuskan kemampuan pembeli untuk menetapkan pilihan secara bebas.

e. Kelemahan Teori Kontrantual


- Adanya kejanggalan asumsi yang mendasari, hingga muncul 3 keberatan
- Keberatan pertama. Teori ini secara tidak realistis mengasumsikan bahwa perusahaan
melakukan perjanjian secara langsung dengan konsumen.Kenyataannya perusahaan
tidak pernah melakukan kontrak langsung dengn konsumen, jadi bagaimana bisa kita
mengatakan bahwa perusahaan memiliki kewajiban kontraktual pada konsumen? Para
pendukung melalui iklan, perusahaan membentuk hubungan kontraktual tidak
langsung dengan para pengecer dan konsumen yang membeli produk.
- Keberatan kedua. Teori kontrak difokuskan pada fakta bahwa sebuah kontrak sama
dengan pedang bermata dua, yang berarti kontrak memungkinkan perusahaan
dibebaskan dari kewajiban kontraktual dengan secara eksplisit menyangkal bahwa
produk yang dijual bisa diandalkan, diperbaiki, aman dsb. Yang berarti
mengimplikasikan bahwa jika konsumen memiliki banyak kesempatan untuk
memeriksa produk serta pernyataan penolakan jaminan, dan dengan sukarela
menyetujuinya, maka dia diasumsikan bertanggungjawab atas cacat atau kerusakan
yang disebutkan dalam pernyataan penolakan serta semua kerusakan yang mungkin
terlawati selama pemeriksaan.
- Keberatan ketiga. Mengkritik asumsi bahwa pembeli dan penjual adalah sama dalam
perjanjian penjualan. Sama-sama ahli mengevaluasi suatu produk dan pembeli mampu
melindungi kepentingan-kepentingan terhadap penjual. Ideologi laissez-faire
ekonomi pasar adalah kompetitif, dan dalam pasar kompetitif kekuatan tawar-menawar
pembeli sebanding dengan penjual. Dengan demikian cukup adil bila masing-masing
diberi kesempatan untuk saling mengungguli dan tidak adil bila memberi batasan.
Ideologi ini melagirkan doktrin caveat emptor biarkan pembeli melindungi dirinya
sendiri.
3. Teori Due Care
- Teori Due Care kewajiban perusahaan terhadap konsumen didasarkan pada
gagasan bahwa pembeli dan konsumen tidak saling sejajar dan kepentingankepentingan konsumen sangat rentan terhadap tujuan-tujuan perusahaan yang dalam
hal ini memiliki pengetahuan dan keahlian yang tidak dimiliki konsumen. Karena
produsen berada dalam posisi yang menguntungkan, mereka berkewajiban untuk
menjamin bahwa kepentingan konsumen tidak dirugikan oleh produk yang mereka
tawarkan. Doktrin caveat emptor diganti dengan doktrin caveat vendor biarkan
penjual yang harus memerhatikan.
- Pandangan due care menyatakan bahwa karena konsumen harus bergantung pada
keahlian produsen, maka produsen tidak hanya berkewajiban untuk memberikan
produk yang sesuai dengan klaim yang dibuatnya, namun juga wajib berhati-hati untuk
mencegah agar orang lain tidak terluka oleh produk tersebut sekalipun perusahaan
secara eksplisit menolak pertanggungjawaban seperti ini dan pembeli menerima
penolakan tersebut.
- Perusahaan yang lebih ahli dan mengetahui produk mereka, memiliki kewajiban untuk
mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa produk mereka aman saat
keluar dari pabrik dan konsumen mempunyai hak untuk memperoleh jaminan ini.

Kegagalan mengambil langkah merupakan pelanggaran atas kewajiban moral dalam


memberikan perhatian dan juga terhadap hak komsumen untuk memperoleh perhatian.
- Etika memberi perhatian adanya pandangan bahwa seseorang harus memerhatikan
orang lain yang memiliki hubungan dengannya, khususnya hubungan ketergantungan,
seperti antara anak dan ibunya. Etika ini menekankan bahwa seseorang harus berusaha
mengetahui kebutuhan dan karakteristik dari orang yang menjalin hubungan
dengannya untuk memastikan bahwa perhatiannya diarahkan pada kebutuhan dan
kualitas-kualitas dari orang tersebut.
- Kaum utilitarian mendukung etika memberi perhatian yang sejajar dengan prinsip
due care ini diterima, maka kesejahteraan semua orang akan menjadi lebih baik.
- Prinsip ini muncul berdasarkan Teori Kant karena tampak mengikuti perintah
kategoris (mutlak) bahwa orang-orang harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan hanya
sebagai sarana, yang berarti mereka memiliki hak positif untuk ditolong saat mereka
tidak mampu menolong diri sendiri.
- Rawls semua orang sesungguhnya setuju pada prinsip ini karena mampu
memberikan dasar bagi lingkungan sosial yang aman.
a. Tugas untuk Memberikan Perhatian
- Seorang produsen tidak bisa dikatakan secara moral lalai apabila ada orang lain yang
dirugikan oleh produknya jika kerugian tersebut tidak bisa diperkirakan atau dicegah
sebelumnya.
- Tanggungjawab produsen berdasarkan teori due care:
o Desain: produsen bertanggungjawab karena mengetahui dengan baik desain
produk, dan juga bertanggungjawab melakukan penelitian yang ekstensif untuk
mengungkapkan semua risiko yang mungkin terjadi dalam penggunaan suatu
produk dalam berbagai kondisi pemakaian.
o Produksi: manajer produksi perlu mengawasi proses pemanufakturan untuk
menyingkirkan produk-produk yang cacat, mengidentifikasi kelemahan yang
muncul selama produksi, dan langkah-langkah ekonomi lain yang tidak terjadi
selama proses pemanufakturan yang dapat mempengaruhi hasil akhir produk
dibutuhkan pengendalian mutu.
o Informasi: produsen perlu melampirkan label, peringatan, atau instruksi pada
produk yang memberitahu pemakai tentang semua bahaya penggunaan atau
penyalahgunaan suatu produk dan yang memungkinkan mereka menjaga diri.
b. Kelemahan Teori Due Care
- Hambatan utama tidak ada metode yang jelas untuk menentukan kapan seseorang
atau produsen memberikan perhatian yang memadai. Peraturan utilitarian semakin
besar kemungkinan risikonya dan semakin besar populasi yang mungkin diragukan,
maka semakin besar pula kewajiban perusahaan.
- Hambatan kedua muncul karena teori ini mengasumsikan bahwa produsen mampu
menemukan risiko-risiko yang muncul dalam penggunaan sebuah produk sebelum
konsumen membeli dan menggunakannya. Kenyataannya, dalam masyarakat dengan
inovasi teknologi yang tinggi, produk baru yang kerusakannya tidak bisa dideteksi
sebelum dipakai selama beberapa tahun atau beberapa dekade, akan terus disalurkan

ke pasar. Jadi siapa yang harus menanggung biaya kerugian akibat penggunaan produk
yang keruakannya tidak dapat dideteksi oleh produsen apalagi konsumen?
Hambatan ketiga teori due care terlihat paternalistik: mengaumsikan bahwa
produsen adalah pihak yang mengambil keputusan penting bagi konsumen mengenai
tingkat risiko yang layak diterima konsumen. Namun muncul pertanyaan apakah
keputusan ini seharusnya diberikan kepada konsumen yang bisa memutuskan bagi
dirinya sendiri apakah ingin membayar biaya tambahan untuk produk dengan risiko
rendah.

4. Pandangan Biaya Sosial tentang Kewajiban Perusahaan


- Menyatakan bahwa perusahaan harus membayar biaya kerugian yang diakibatkan oleh
semua kerusakan atau cacat produk, sekalipun perusahaan telah memberikan semua
perhatian dan dalam proses pembuatannya telah mengambil langkah untuk
memperingatkan konsumen tentang kemungkinan bahayanya.
- Teori ini merupakan versi yang lebih tegas dari caveat vendor
- Teori ini menjadi dasar dari doktrin hukum pertanggungjawaban penuh, yang
dibentuk dari argumen-argumen utilitarian.
- Argumen utilitarian mengatakan bahwa biaya-biaya eksternal dari kerugian yang
diakibatkan dari cacat dalam desain sebuah produk merupakan bagian dari biaya yang
harus ditanggung masyarakat dalam memproduksi dan menggunakan suatu produk
semua biaya diinternalisasikan.
- Internalisasi biaya akan mengarahkan pada penggunaan sumber daya yang lebih
efisien
(1) Karena harga jual merefleksikan semua biaya dalam proses produksi dan
penggunaan barang, dan kekuatan pasar akan menjamin bahwa jumlah produk
yang beredar tidak terlalu banyak, dan sumber daya yang ada digunakan dengan
lebih baik.
(2) Karena perusahaan harus menanggung semua biaya, maka mereka akan
memberikan perhatian lebih besar sehingga tingkat kecelakaan akan berkurang.
(3) Internalisasi biaya kecelakaan memungkinkan perusahaan mendistribusikan biaya
sosial ke semua pemakai produk dan tidak membebankan kerugian tersebut kepada
individu yang mungkin tidak mampu menanggungnya.
- Asumsi utilitarian tentang efisiensi menggunakan sumber daya yang efisien adalah
penting bagi masyarakat, sehingga biaya sosial harus dialokasikan dengan cara yang
dapat memanfaatkan sumber daya dengan lebih baik. Jadi perusahaan menanggung
biaya sosial yang diakibatkan oleh kerusakan atau cacat dalam produk meskipun tidak
ada hubungan kontraktual antara perusahaan dan pemakai.
Masalah dengan Pandangan Biaya Sosial
- Kritik utama tentang kewajiban perusahaan, dikatakan pandangan biaya sosial
dianggap tidak adil. Tidak adil karena melanggar norma-norma keadilan kompensatif.
Keadilan kompensatif seseorang wajib memberikan ganti rugi pada pihak yang
dirugikan hanya jika mampu memperkirakan dan melakukan tindakan untuk

mencegahnya. Jadi, dengan memaksa perusahaan membayar ganti rugi atas akibat
yang tidak bisa mereka perkirakan atau cegah, teori biaya sosial memperlakukan
perusahaan secara tidak adil.
Kritik Kedua asumsi biaya sosial adalah membebankan semua biaya kerugian pada
perusahaan, akan mengurangi jumlah kecelakaan konsumen tidak dibebani
tanggungjawab, maka akan mendorong konsumen untuk bertindak ceroboh, yang
mengakibatkan kenaikan jumlah kecelakaan.
Kritik ketiga fokus pada beban finansialpada perusahaan dan asuransi. Tidak hanya
jumlah tuntutan pertanggungjawaban penuh yang naik, namun nilai ganti rugi yang
diberikan juga semakin tinggi memunculkan krisis dalam industri asuransi karena
perusahaan-perusahaan asuransi inilah yang harus membayar ganti rugi yang diajukan
perusahaan perusahaan asuransi rugi besar.
Pembela teori biaya sosial dalam realita, nilai tuntutan yang diajukan konsumen
tidaklah besar. Perusahaan asuransi dan industri asuransi secara keseluruhan tetap
mendapat keuntungan. Biaya asuransi yang tinggi disebabkan oleh fator-faktor lain
selain kenaikan jumlah klaim pertanggungjawaban.
Kesimpulan secara umum teori ini merupakan suatu usaha untuk memahami
masalah mengalokasikan biaya kerugian antara dua pihak yang secara moral tidak
bersalah (perusahaan yg tidak dapat memperkirakan/ mencegah kecelakaan, dan
konsumen yang tidak mampu menjaga diri dari kecelakaan yang tidak diketahui
sebelumnya). Namun masalah ini tidak memiliki solusi yang adil.

5. Etika Iklan
- Biaya iklan harus ditutup dari harga yang dibayar konsumen utuk produk-produk yang
mereka beli: konsumen yang membayarnya. Namun menurut sebagian dari konsumen,
sangat sedikit yang mereka dapat dari iklan.
- Pembela industri periklanan iklan memiliki fungsi dasar memberikan informasi
kepada konsumen tentang produk-produk yang tersedia- sebuah jasa yang
menguntungkan.
a. Definisi
- Iklan sering tidak memuat banyak informasi objektif, karena fungsi utamanya bukan
untuk memberikan informasi yang sifatnya tidak bias. Fungsi sesungguhnya untuk
menjual semua produk kepada para calon pembeli, dan informasi dalam iklan sifatnya
hanya sebagai tambahan dari fungsi dasar dan ditentukan oleh fungsi dasar.
- Definisi dalam kaitannya dengan hubungan antara pembeli-penjual: iklan komersial
dapat didefinisikan sebagai jenis komunikasi tertentu antara penjual dan calon
pembeli. Komunikasi ini berbeda dengan komunikasi lain dalam 2 hal:
(1) Iklan ditujukan kepada khalayak ramai, yang pesannya berbeda dari yang
disampaikan kepada individu dipastikan memiliki pengaruh yang luas.
(2) Iklan dimaksud untuk mendorong sebagian orang yang melihat atau membaca
untuk membeli produk. Dan dikatakan dapat memenuhi tujuan dalam 2 cara:
(a) Menciptakan keinginan dalam diri konsumen untuk membeli produk
(b) Menciptakan keyakinan dalam diri konsumen bahwa produk tersebut
merupakan sarana untuk memenuhi keinginan yang ada dalam diri konsumen.

Aspek etis dari iklan dikelompokkan menurut sejumlah karakteristik, pengaruh sosial,
pembentukan keinginan dalam diri konsumen, dan pengaruhnya pada keyakinan
konsumen.
b. Pengaruh Sosial Iklan
- Iklan memberikan sejumlah pengaruh buruk pada masyarakat: menurunkan citarasa,
merupakan pemborosan sumber daya, dan menciptakan monopoli.
(1) Pengaruh Psikoogis Iklan
- Kritik iklan merendahkan citarasa publik dengan cara menyajikan tampilantampilan yang menjengkelkan dan secara estetis tidak menyenangkan. Memang
disayangkan bahwa iklan tidak disesuaikan dengan norma-norma estetika kita,
namun ini tidak berarti iklan melanggar norma etis.
- Kritik iklan merendahkan citarasa konsumen dengan sicara bertaap dan tidak
kentara menanamkan nilai-nilai dan gagasan materialistik tentang bagaimana
kebahagiaan bisa dicapai. Akibatnya usaha pribadi dialihkan dari tujuan dan sasaran
nonmaterialistik, yang dalam hal ini lebih mampu meningkatkan kebahagiaan, dan
disalurkan ke konsumen material.
- Kelemahan kritik masih belum pasti apakah iklan benar-benar memberikan
pengaruh psikologis yang luas seperti yang dikatakan. Maka iklan tidak bisa
dikatakan menciptakan nilai dalam masyarakat, tetapi hanya merefleksikannya.
(2) Iklan dan Pemborosan
- Kritik iklan merupakan pemborosan. Pakar ekonomi membedakan biaya produksi
dan biaya penjualan. Biaya produksi biaya sumber daya yang digunakan untuk
memproduksi atau meningkatkan kualitas suatu produk. Biaya penjualan biaya
tambahan atas sumber daya yang tidak ditunjukkan untuk mengubah produk, namun
diinvestasikan pada usaha-usaha untuk membujuk calon konsumen agar membeli
produk tersebut.
- Menurut kritikus biaya sumber daya yang digunakan iklan pada dasarnya adalah
biaya penjualan. Jadi sumber daya yang digunakan untuk iklan terbuang sia-sia
karena digunakan tanpa memberikan tambahan kegunaan dalam hal apapun.
- Tanggapan lain iklan berperan menciptakan kenaikan permintaan yang
menguntungkan atas semua produk memungkinkan dilakukan produksi masal
hasilnya, perluasan ekonomi secara bertahap, dimana produk dihasilkan dengan
tingkat efisiensi yang semakin tinggi dan semakin murah iklan menambah utilitas
konsumen dengan berperan menciptakan konsumen yang lebih besar memotivasi
produktivitas dan efisiensi yang lebih besar, dan struktur harga lebih rendah.
- Meskipun iklan merupakan pemacu konsumsi yang efektif, beberapa penulis
mengatakan bahwa ini bukan merupakan suatu berkeh. Kebutuhan sosial yang
paling mendesak saat ini adalah mencari cara menurunkan konsumsi. Jadi klaim
bahwa iklan mendorong tingkat konsumsi yang lebih besar tidaklah menguntungkan.
(3) Iklan dan Kekuatan Pasar
- Nicholas Kaldor usaha iklan yang masif dari perusahaan-perusahaan modern
memungkinkan mereka mencapai dan mempertahankan monopoli (atau oligopoli)
atas pasar. Jadi usaha yang masif tersebut digunakan untuk memperkenalkan produk

c.
-

d.
-

mereka menciptakan loyalitas konsumen perusahaan mampu mengendalikan


sebagian besar pasar, perusahaan kecil tidak mampu masuk pasar.
- Hubungan iklan dengan kekuatan pasar industtri yang lebih terkonsentrasi dan
kurang kompetitif akan menunjukkan tingkat pengeluaran untuk iklan yang tinggi,
sementara industri yang kurang terkonsentrasi dan lebih kompetitif menunjukkan
tingkat pengeluaran yang lebih rendah.
Iklan dan Pembentukan Keinginan Konsumen
John K. Galbraith iklan bersifat manipulatif: iklan dimaksud untuk menciptakan
keinginan dalam diri konsumen untuk tujuan penyerapan output industri. Gailbraith
membedakan 2 keinginan: (1) keinginan yang memiliki dasar fisik, seperti
keinginan untuk memperoleh makanan dan tempat tinggal; dan (2) keinginan yang
memiliki asal usul psikologis, seperti keinginan seseorang akan barang yang
membuatnya merasa berprestasi, setara dengan tetangganya, dll. Jadi iklan digunakan
untuk menciptakan keinginan-keinginan psikis yang bertujuan untuk memastikan
bahwa orang-orang membeli apa yang diproduksi, atau menyerap output sistem
industri yang semakin besar. Produksi tidak dilakukan untuk melayani kebutuhan
manusia, namun keinginan manusia-lah yang diatur agar melayani kebutuhan
produksi.
Jika pandangan Galbraith benar iklan melanggar hak individu untuk memilih bagi
dirinya sendiri: iklan memanipulasi konsumen. Namun masih belum jelas apakah
pandangan ini benar. Sehingga belum jelas apakah keinginan psikis dapat dimanipulasi
oleh iklan dalam cara yang diasumsikan Galbraith.
F.A. Von Hayek penciptaan keinginan psikis tidak muncul dari iklan
Iklan tentang mainan anak-anak yang dimodelkan menurut tokoh super hero atau
mainan tentara mendorong muncunya perilaku agresif dan kekerasan dalam diri anakanak yang memang sangat mudah dipengaruhi dan dimanipulasi, sehingga termasuk
dalah iklan yang tidak etis melanggar hak konsumen untuk diperlakukan sebagai
makhluk hidup yang bebas dan rasional.
Iklan dan Pengaruhnya pada Keyakinan Konsumen
Sebagian besar kritik terhadap iklan difokuskan pada aspek-aspek penipuan dari iklan
modern penipuan dapat terdiri dari beberapa bentuk, dengan menggunakan
rekayasa, pernyataan para ahli yang tidak benar, menyisipkan kata dijamin,
menuliskan harga yang tidak benar, tidak menunjukkan cacat produk, meremehkan
produk pesaing, atau menggunakan nama merek yang mirip dengan nama yang telah
terkenal.
Tradisi etis telah lama mengecam penipuan dalam iklan karena dianggap melanggar
hak konsumen yang memilih bagi dirinya sendiri (Argumen Kant) dan karena
menciptakan ketidakpercayaan publik atas iklan sehingga meniadakan utilitas iklan
dan bahkan bentuk-bentuk komunikasi lain (argumen utilitarian)
Komunikasi melibatkan 3 aspek
(1) Orang yang menciptakan komunikasi: pembuat iklan tidak dapat dimintai
pertanggungjawaban secara moral atas kesalahan menggambarkan sesuatu
(misrepresentasi) apabila hal tersebut merupakan akibat yang tidak dapat
diperkirakan dari kecerobohan penerimanya.

(2) Media: media secara moral bertanggungjawab atas pengaruh-pengaruh yang


ditimbulkan, termasuk untuk tidak menyesatkan.
(3) Penerima: masalah yang muncul adalah sampai seberapa besar kemampuan
konsumen untuk menyaring bias-bias yang terdapat di hampir semua iklan?
Sayangnya kita tidak tahu banyak tentang seberapa besar konsumen mampu
menyaring pesan-pesan iklan yang hampir selalu besar-besaran.
6. Privasi Konsumen
- Kemajuan pemrosesan komputer, database perangkat lunak, dan teknologi komunikasi
memunculkan kemampuan baru untuk mengumpulkan, memanipulasi, dan
menyebarkan informasi untuk memungkinkan terjadinya invasi besar-besaran terhadap
privasi konsumen serta menciptakan kemungkinan terjadinya hal-hal yang merugikan
akibat informasi yang salah.
- Hak untuk memperoleh privasi adalah hak untuk tidak diganggu. Hak seseorang
untuk memutuskan apa, pada siapa, dan berapa banyak informasi tentang dirinya yang
boleh diungkapkan pada pihak lain.
- 2 jenis privasi:
(1) Privasi psikologis berkaitan dengan kehidupan diri seseorang, yang diantaranya
termasuk pikiran dan rencana, keyakinan dan nilai-nilai pribadi, perasaan, dan
keinginan melanggar, berarti menyerang orang tersebut
(2) Privasi fisik berkaitan dengan aktivitas fisik seseorang.
- Fungsi protektif atau perlindungan dari privasi :
(1) Privasi menjamin bahwa orang lain tidak mendapat informasi tentang diri kita yang
jika terungkap akan membuat diri kita malu, mjd bahan tertawaan, direndahkan, dll
(2) Mencegah orang lain ikut campur tangan dalam rencana kita karena memang
mereka tidak memiliki nilai-nilai yang sama seperti yang kita yakini.
(3) Melindungi orang-orang yang kita cintai agar keyakinan mereka pada kita tidak
terguncang.
(4) Melindungi individu dari ajakan untuk melakukan yang merugikan diri sendiri.
- Fungsi kemungkinan dari privasi :
(1) Memungkinkan seseorang menjalin persahabatan, cinta, dan kepercayaan dengan
orang lain.
(2) Memungkinkan terbentuknya hubungan-hubungan profesional tertentu.
(3) Memungkinkan seseorang mempertahankan peran sosialnya.
(4) Memungkinkan orang-orang menentukan siapa mereka dengan memberikan dalam
cara mereka menampilkan diri di masyarakat dan cara dimana masyarakat melihat
mereka.
- Jadi jelas bahwa pertimbangan kita atas privasi cukup penting untuk dapat
mengakuinya sebagai hak yang dimiliki semua orang, termasuk konsumen.
- Hak privasi konsumen perlu diimbangi dengan kebutuhan bisnis yang sah. Beberapa
pertimbangan diusulkan sebagai kunci untuk menyeimbangkan kebutuhan bisnis
dengan hak privasi, diantaranya (1) relevansi, (b) pemberitahuan, (c) persetujuan, (d)
ketepatan, (e) tujuan, dan (f) penerima dan keamanan.

BAB 7 Buku Velasquez


The Ethics of Job Discrimination
Pendahuluan
Perdebatan yang terus berlanjut tentang ras dan gender sebagian besar difokuskan pada
bidang bisnis. Diskusi tentang diskriminasi telah masuk ke dalam masalah-masalah etis:
istilah-istilah keadilan, kesamaan hak, rasisme, hak, dan diskriminasi selalu ada dalam setiap
perdebatan. Bab ini akan menganalisis berbagai sisi masalah etis, yang diawali dengan
memperlajari sifat dan tingkat diskriminasi, dan dilanjutkan denghan pembahasan tentang
aspek-aspek perilaku diskriminatif dalam ketenagakerjaan dan diakhiri dengan pembahasan
mengenai program-program tindakan afirmatif.
Sifat Diskriminasi Pekerjaan
Diskriminasi jenis kelamin masih merajalela. Selama awal tahun 1990-an, para peneliti di
Urban Institute menerbitkan hasil penelitian di mana mereka membandingkan beberapa
pria kulit hitam dengan pria kulit putih, dengan menyamakan tingkat keterbukaan,
semangat, pembicaraan, karakteristik fisik, pakaian, dan pengalaman kerja.
Diskriminasi adalah membedakan satu objek dari objek lainnya, suatu tindakan yang
secara moral adalah netral dan tidak dapat disalahkan. Tetapi dalam pengertian modern,
istilah secara moral tidak netral: karena biasanya mengacu pada tindakan yang
membedakan seseorang dari orang lain bukan berdasarkan keunggulan yang dimiliki,
namun berdasarkan prasangka atau berdasarkan sikap-sikap yang secara moral tercela.
Melakukan diskriminasi tenaga kerja berarti membuat keputusan (atau serangkaian
keputusan) yang merugikan pegawai (atau calon pegawai) yang merupakan anggota
kelompok tertentu karena adanya prasangka yang secara moral tidak dibenarkan terhadap
kelompok tertentu.
Diskriminasi dalam ketenagakerjaan melibatkan 3 elemen dasar: 1) keputusan yang
merugikan seorang pegawai atau lebih (atau calon pegawai) karena bukan didasarkan
pada kemampuan yang dimiliki. 2) keputusan yang sepenuhnya (atau sebagian) diambil
berdasarkan prasangka rasial atau seksual, stereotip yang salah, atau sikap lain yang
secara moral tidak benar terhadap kelompok tertentu dimana pegawai tersebut berasal. 3)
keputusan (serangkaian keputusan) yang memiliki pengaruh negatif atau merugikan pada
kepentingan-kepentingan pegawai, mungkin melibatkan mereka kehilangan pekerjaan,
kesempatan memperoleh kenaikan pangkat, atau gaji yang lebih baik.
Diskriminasi tenaga kerja di Amerika secara historis pada umumnya ditujukan pada
berbagai macam kelompok, diantaranya agama, etnis, ras, dan seksual.
Bentuk-Bentuk Diskriminasi: Aspek Kesengajaan dan Aspek Institusional
1. Tindakan diskriminatif mungkin merupakan bagian dari perilaku terpisah (tidak
terinstitusionalisasi) dari seseorang yang dengan sengaja dan sadar melakukan
dskriminasi karena adanya prasangka pribadi.
2. Tindakan diskriminatif mungkin merupakan bagian dari perilaku rutin dan sebuah
kelompok yang terinstitusionalisasi, yang dengan sengaja dan sadar melakukan
diskriminasi berdasarkan prasangka pribadi para anggotanya.

3. Tindakan diskriminatif mungkin merupakan bagian dari perilaku yang terpisah (tidak
terinstituionalisasi) dari seseorang yang secara tidak sengaja dan tidak sadar melakukan
idskriminasi terhada orang lain karena dia menerima dan melaksanakan praktik-praktik
stereotip tradisional drai masyarakat.
4. Tindakan diskriminatif mungkin merupakan bagian drai rutinitas sistemiatis dari
organisasi perusahaan atau kelompok yang secara tidak sengaja memasukkan prosedurprosedur formal yang mendiskriminasikan kaum perempuan atau kelompok minoritas.
Tingkat Diskriminasi
Indikator pertama diskriminasi muncul apabila terdapat proporsi yang tidak seimbang
atas anggota kelompok tertentu yang memegang jabatan yang kurang diminati dalam suatu
institusi tanpa mempertmbangkan preferensi ataupun kemampuan mereka.
Ada 3 perbandingan yang bisa membuktikan distribusi semacam itu: 1) perbandingan
atas keuntungan rata-rata yang diberikan institusi pada kelompok yang terdiskriminasi dan
kelompok lain. 2) perbandingan atas proporsi kelompok terdiskriminasi yang terdapat
dalam tingkat pekerjaan paling rendah dengan proporsi kelompok lain dalam tingkat yang
sama. 3) perbandingan proporsi dari anggota kelompok tersebut yang memegang jabatan
lebih menguntungkan dengan proporsi kelompok lain dalam jabatan yang sama.
Perbandingan Penghasilan Rata-Rata
Perbandingan penghasilan memberikan indikator paling sugestif aats diskriminasi.
Perbandingan penghasilan juga mengungkapkan adanya berbagai kesenjangan yang
berkaitan dengan gender.
Perbandingan Kelompok Penghasilan Rendah
Kelompok penghasilan terendah di Amerika terdiri dari orang-orang yang penghasilan per
tahunnya di bawah tingkat kemiskinan.
Dalam kaitannya dengan tingkat penghasilan yang lebih rendah untuk perempuan, juga
tidaklah mengejutkan bila keluarga-keluarga yang dikepalai oleh perempuan lebih banyak
yang termasuk di bawah tingkat kemiskinan dibandingkan dengan yang dikepalai oleh
pria.
Perbandingan Pekerjaan yang Diminati
Pekerjaan-pekerjaan yang lebih diminati dimiliki oleh orang-orang kulit putih sementara
yang kurang diminati dimiliki oleh orang-orang kulit hitam, demikian juga pekerjaanpekerjaan dengan gaji yang tinggi dimiliki oleh kaum pria, dan sisanya untuk kaum
perempuan.
Tenaga kerja perempuan dan minoritas tetap menghadapi hambatan-hambatan besar di
pasar kerja. 1) sebagian besar tenaga kerja perempuan diarahkan menuju pekerjaanpekerjaan perempuan yang gajinya lebih kecil dibandingkan pekerjaan pria. 2) saat
tenaga kerja perempuan memperoleh kemajuan karier, mereka menghadapi hambatan
(yang disebut dinding kaca) saat mereka berusaha meraih jabatan manajemen tinggi. 3)
perempuan yang sudah menikah dan ingin punya anak, berbeda dengan pria yang sudah
menikah dan ingin punya anak, saat dia menghadapi hambatan-ha,batan besar dalam
perkembangan karier mereka.
Anggota kelompok minoritas yang memasuki pasar kerja dalam jumlah besar juga
menghadapi hambatan-hambatan penting. Saat mereka memasuki pasar kerja, mereka

mendapati bahwa sebagian besar pekerjaan yang ada mensyaratkan tingkat keahlian dan
pendidikan yang jauh lebih tinggi dari yang mereka miliki. Kelompok minoritas saat ini
merupakan kelompok dengan tingkat keahlian dan tingkat pendidikan paling rendah.
lebih jauh lagi, muncul hambatan lain yaitu 42% pegawai perempuan yang bekerja di
pemerintahan federal melaporkan bahwa mereka mengalami pelecehan seksual yang tidak
diinginkan.
Diskriminasi: Utilitas, hak, dan Keadilan
Argumen yang menentang diskriminasi secara umum dibagi menjadi 3 kelompok: 1)
argumen utilitarian, yang menyatakan bahwa diskriminasi mengarahkan pada penggunaan
sumber daya manusia secara tidak efisien. 2) argumen hak, yang menyatakan bahwa
diskriminasi melanggar HAM. 3) argumen keadilan, yang menyatakan bahwa diskriminasi
mengakibatkan munculnya perbedaan distribusi keuntungan dan beban dalam masyarakat.
Utilitas
Argumen utilitarian yang menentang diskriminasi rasial dan seksual didasarkan pada
gagasan bahwa produktivitas masyarakat akan optimal jika pekerjaan diberikan dengan
berdasarkan kompetensi. Untuk memastikan agar pekerjaan bisa dilaksanakan seproduktif
mungkin, maka semuanya harus diberikan pada individu-individu yang keahlian dan
kepribadiannya merupakan yang paling kompeten bagi pekerjaan tersebut.
Diskriminasi terhadap para pencari kerja berdasarkan ras, jenis kelamin, agama, atau
karakteristik-karakteristik lain yang tidak berkaitan dengan pekerjaan adalah tidak efisien
dan bertentangan dengan prinsip-prinsip utilitarian.
Argumen utilitarian dihadapkan pada 2 keberatan: 1) jika argumen ini benar, maka
pekerjaan haruslah diberikan dengan dasar kualifikasi yang berkaitan dengan pekerjaan,
hanya jika hal tersebut akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jika dalam suatu
situasi tertentu, kesejahteraan masyarakat akan menjadi lebih baik dengan memberikan
pekerjaan berdasarkan faktor yang tidak berkaitan dengan pekerjaan, maka para
pendukung argumen utilitarian akan mengatakan bahwa dalam situasi-situasi semacam itu,
pekerjaan tidak perlu diberikan dengan berdasakan kualifikasi pekerjaan, namun
berdasarkan pada faktor lain. 2) argumen utilitarian juga harus menjawab tuntutan
penentangnya yang menyatakan bahwa masyarakat secara keseluruhan akan memperoleh
keuntungan dari keberadaan bentuk-bentuk diskriminasi seksual tertentu.
Hak
Argumen non-utilitarian yang menentang diskriminasi rasial dan seksual salah satunya
menyatakan bahwa diskriminasi salah karena hal tersebut melanggar hak moral dasar
manusia. Yang Hal ini berkaitan dengan teori Kant.
Masing-masing individu memiliki hak moral untuk diperlakukan sebagai seorang yang
merdeka dan sejajar dengan semua orang lain, dan bahwa semua individu memiliki
kewajiban moral korelatif untuk memperlakukan satu sama lain sebagai individu yang
merdeka dan sejajar.
Tindakan diskriminasi melanggar prinsip hak tersebut dalam 2 cara: 1) diskriminasi
didasarkan pada keyakinan bahwa suatu kelompok tertentu dianggap lebih rendah
dibandingkan kelompok lain. 2) diskriminasi menempatkan kelompok yang
terdiskriminasi dalam posisi sosial dan ekonomi yang rendah.

Sejumlah argumen Kantian, yang berkaitan dengan argumen di atas menyatakan bahwa
diskriminasi salah karena orang yang melakukan diskriminasi tidak ingin perilakunya
diuniversalkan.
Keadilan
Kelompok argumen non-utilitarian kedua melihat diskriminasi sebagai pelanggaran
atas prinsip-prinsip keadilan. John Rawls menyatakan bahwa prinsip-prinsip keadilan
yang menjelaskan original position yang paling penting adalah prinsip kesamaan hak
untuk memperoleh kesempatan.
Diskriminasi melanggar prinsip tersebut dengan cara menutup kesempatan bagi kaum
minoritas untuk menduduki posisi-posisi tertentu dalam sebuah lembaga sehingga
otomatis berarti mereka tidak memperoleh kesempatan yang sama dengan orang lain.
Pendekatan lain terhadap moralitas diskriminasi juga melihat diskriminasi sebagai salah
satu bentuk ketidakadilan, mendasarkan pandangannya pada prinsip keadilan formal:
individu-individu yang setara dalam segala hal yang berkaitan dengan, misalnya
pekerjaan haruslah diperlakukan secara sama sekalipun mereka berbeda dalam aspekaspek yang tidak relevan lainnya.
Praktik Diskriminasi
Tindakan-tindakan yang dianggap diskriminatif adalah sebagai berikut:
1. Rekrutmen: perusahaan-perusahaan yang sepenuhnya bergantung pada referensi verbal
para pegawai saat ini dalam merekrut pegawai baru cenderung merekrut pegawai dari
kelompok ras dan seksual yang sama dnegan yang terdapat dalam perusahaan.
2. Screening (seleksi): kualifikasi pekerjaan dianggap diskriminatif jika tidak relevan dengan
pekerjaan yang akan dilaksanakan.
3. Kenaikan pangkat: proses kenaikan pangkat, kemajuan kerja, dan transfer dikatakan
diskriminatif jika perusahaan memisahkan evaluasi kerja pria kulit putih dengan pegawai
perempuan dan pegawai dari kelompok minoritas.
4. Kondisi pekerjaan: pemberian gaji dikatakan diskriminatif jika diberikan dalam jumlah
yang tidak sama untuk orang-orang yang melaksanakan pekerjaan yang pada dasarnya
sama.
5. PHK: memecat pegawai berdasarkan pertimbangan ras dan jenis kelamin jelas
merupakan diskriminasi.
Pelecehan Seksual
Kaum perempuan merupakan korban dari salah satu bentuk diskriminasi yang terangterangan dan koersif: mereka menghadapi kemungkinan pelecehan seksual.
Pada tahun 1978, Equal Employment Commission mempublikasikan serangkaian
pedoman untuk mendefinisikan pelecehan seksual dan menetapkan apa yang menurut
mereka sebagai tindakan yang melanggar hukum, diantaranya: 1) sikap tunduk terhadap
tindakan tersebut secara eksplisit ataupun implisit dikaitkan dengan situasi atau syaratsyarat kerja seseorang. 2) sikap tunduk atau penolakan terhadap tindakan digunakan
sebagai dasar untuk membuat keputusan yang berpengaruh pada individu yang
bersangkutan. 3) tindakan tersebut bertujuan mengganggu pelaksanaan pekerjaan seserang
atau menciptakan lingkungan kerja yang diwarnai kekhawatiran, sikap permusuhan, atau
penghinaan.

Namun, ada aspek-aspek tertentu dalam pedoman yang perlu dibahas lebih jauh: 1)
pedoman tersebut tidak hanya melarang tindakan pelecehan seksual, namun juga tindakan
yang menciptakan lingkungan kerja yang diwarnai kekhawatiran, sikap permusuhan, dan
penghinaan. Hal itu berarti perusahaan dianggap bersalah melakukan pelecehan seksual
apabila mencipatakan lingkungan kerja yang memusuhi terhadap perempuan sekalipun
tidak terjadi insiden-insiden khusus ataupun pelecehan seksual yang sesungguhnya. 2)
pada pedoman dinyatakan bahwa kontak verbal dan fisik yang sifatnya seksual merupakan
pelecehan seksual apabila berpengaruh buruk pada prestasi kerja seseorang. Hal ini berarti
bahwa apa yang dianggap sebagai pelecehan seksual bergantung pada penilaian yang
sepenuhnya subjektif dari korban. Selain itu pelanggaran tindakan verbal pada akhirnya
akan melanggar kebebasan berbicara. 3) karakteristik penting yang perlu dicatat pada
pedoman adalah seorang penguasa dikatakan bersalah atas pelecehan seksual sekalipun dia
tidak tahu dan tidak mungkin bisa mengerti apa yang terjadi, dan sekalipun dia secara
eksplisit melarangnya.
Di Luar Ras dan Jenis Kelamin: Kelompok Lain
Age Discrimination dalam Employment Act tahun 1967 melarang diskriminasi terhadap
pegawai yang lebih tua berdasarkan usia, sampai mereka berusia 65 tahun.
Meskipun para pegawai tua dan yang menderita cacat setidaknya memiliki perlindungan
hukum terhadap diskriminasi, namun perlindungan semacam ini tidak atau jarang
diberikan pada para pegawai yang memiliki preferensi seksual yang tidak lazim.
Banyak perusahaan yang juga menerapkan kebijakan yang melarang perekrutan tenaga
kerja yang kelebihan berat badan .
Tindakan Afirmatif
untuk menghapus pengaruh-pengaruh diskriminasi masa lalu, banyak perusahaan yang
melakukan program-program tindakan afirmatif yang dimaksudkan untuk mencapai
distribusi yang lebih representatif dalam perusahaan dengan memberikan preferensi pada
kaum perempuan dan kelompok minoritas.
Inti program tindakan afirmatif adalah sebuah penyelidikan yang mendetail atas semua
klasifikasi pekerjaan besar dalam perusahaan.
Program tindakan afirmatif secara umum dikritik dengan alasan bahwa dalam upaya
memperbaiki kerugian akibat diskriminasi masa lalu, program-program itu sendiri juga
menjadi diskriminatif, baik rasial ataupun seksual.
Program tindakan afirmatif dianggap sebagai diskriminasi terhadap para kulit putih
karena menggunakan karakteristik-karakteristik yang tidak relevan (ras atau jenis kelamin)
dalam mengambil keputusan, dan ini melanggar keadilan karena tidak mengindahkan
prinsip-prinsip kesamaan hak dan kesempatan.
Argumen yang digunakan untuk membenarkan program-program tindakan afirmatif
dalam menghadapi kecaman di atas dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian: 1)
menginterpretasikan perlakuan preferensial yang diberikan pada kaum perempuan dan
minoritas sebagai suatu bentuk kompensasi atas kerugian yang mereka alami di masa lalu.
2) menginterpretasikan perlakuan preferensial sebagai suatu sarana guna mencapai tujuantujuan sosial tertentu.

Tindakan Afirmatif Sebagai Kompensasi


Argumen-argumen yang mendukung tindakan afirmatif, sebagai salah satu bentuk
kompensasi didasarkan pada konsep keadilan kompensatif. Keadilan kompensatif
mengimplikasikan bahwa seseorang wajib memberikan kompensasi terhadap orang-orang
yang dirugikan secara sengaja.
Program tindakan afrmatif diinterpretasikan sebagai salah satu bentuk ganti rugi yang
diberikan kaum pria kulit putih kepada perempuan dan kelompok minoritas karena
telah merugikannya dengan cara tidak adil mendiskriminasikan mereka di masa lalu.
Kelemahan argumen yang mendukung tindakan afirmatif yang didasarkan pada prinsip
kompensasi adalah prinsip ini mensyaratkan kompensasi hanya dari individu-individu
yang secara sengaja merugikan orang lain, dan memberikan kompensasi hanya pada
individu-individu yang dirugikan.
Program tindakan afrmatif tidak adil karena pihak yang memperoleh keuntungan dari
program ini bukanlah individu-individu yang dirugikan di masa lalu, dan orang-orang
yang membayar ganti rugi juga bukan individu yang melakukan tindakan tersebut.
Sejumlah penulis berusaha menanggapi kritik terhadap argumen tindakan afirmatif
sebagai kompensasi dengan mengklaim bahwa pada dasanya semua orang kulit hitam
yang hidup saat ini dirugikan oleh diskriminasi yang dilakukan oleh semua orang kulit
putih yang memperoleh keuntungan dari tindakan tersebut.
Tindakan Afirmatif Sebagai Instrumen untuk Mencapai Tujuan Sosial
Rangkaian argumen kedua yang diajukan untuk mendukung program tindakan afirmatif
didasarkan pada gagasan bahwa program-program tersebut secara moral merupakan
instrumen yang sah untuk mencapai tujuan-tujuan yang secara moral juga sah.
Jika para penentang argumen tersebut menyatakan bahwa program tindakan afirmatif tidak
adil karena mendistribusikan keuntungan dengan berdasarkan kriteria yang tidak relevan
seperti ras, maka kaum utilitarian bisa menjawab bahwa kebutuhan, bukan ras,
merupakan kriteria untuk mendistribusikan keuntungan dari program tindakan
afirmatif.
Hambatan utama yang dihadapi oleh pembenaran utilitarian atas program tindakan
afirmatif: 1)berkaitan dengan persolanan apakah biaya sosial dari program tindakan
afirmatif lebih besar dari keuntungan-keuntungan yang diperoleh. 2) para penentang
program tindakan afirmatif mempertanyakan asumsi bahwa ras merupakan indikator
kebutuhan yang tepat.
Meskipun argumen-argumen utilitarian yang mendukung program tindakan afirmatif
cukup meyakinkan, namun argumen yang paling tegas dan paling persuasif untuk
mendukung program tersebut dapat dibagi menjadi 2 bagian: 1) mereka menyatakan
bahwa tujuan yang diharapkan oleh program tindakan afirmatif adalah keadlian yang
merata. 2) mereka menyatakan bahwa program tindakan afirmatif secara moral merupakan
cara yang sah untuk mencapai tujuan.
Tujuan program tindakan afirmatif: 1) mendistribusikan keuntungan dan beban
masyarakat yang konsisten dengan prinsip-prinsip keadilan distributif, dan yang mampu
menghapuskan dominasi ras atau jenis kelamin tertentu atas kelompok pekerjaan penting.
2) menetralkan bias (baik yang disadari ataupun tidak) untuk menjamin hak yang sama

untuk memperoleh kesempatan bagi kaum perempuan dan minoritas. 3) menetralkan


kelemahan kompetitif yang saat ini dimiliki oleh kaum perempuan dan minoritas saat
mereka bersaing dengan pria kulit putih, agar mereka memperoleh posisi awal yang sama
untuk bersaing dengan pria kulit putih.
Cara dimana program tindakan afirmatif berusaha mencapai tujuan masyarakat yang
adil adalah memberikan preferensi pada kaum perempuan dan minoritas yang
berkualifikasi, dibandingkan pria kulit putih yang berkualifikasi, dalam upaya merekrut
dan memberikan kenaikan pangkat serta program-program pelatihan bagi para perempuan
dan kaum minoritas agar mereka lebih berkualifikasi untuk melakukan pekerjaan tertentu.
Ada 3 alasan yang diajukan untuk menunjukkan bahwa cara tersebut tidak sah: 1)
sering dikatakan bahwa tindakan afirmatif merupakan diskriminasi terhadap pria kulit
putih. 2) kadang dikatakan bahwa perlakuan preferensial melanggar prinsip keadilan
karena menggunakan karakteristik yang tidak relevan untuk membuat keputusan
kepegawaian. 3) sejumlah kritikus menyatakan bahwa program tindakan afirmatif
sesungguhnya malah merugikan kaum perempuan dan minoritas karena program itu
mengimplikasikan bahwa kaum perempuan dan minoritas sangat lebih rendah
dibandingkan pria kulit putih sehingga mereka perlu bantuan khusus agar bisa bersaing.
Keberatan ketiga terhadap program tindkaan afirmatif ditanggapi dalam beberapa cara: 1)
meskipun banyak anggota kelompok minoritas yang mengakui bahwa tindakan afirmatif
melibatkan biaya-biaya tertentu, namun mereka juga yakin bahwa keuntungannya masih
lebih besar dari biayanya. 2) program-program itu didasarkan pada asumsi inferioritas
kaum perempuan atau minoritas, namun pengakuan atas fakta bahwa keputusan yang
diambil para kulit putih, disadari atau tidak memiliki bias yang menguntungkan pria kulit
putih lain. 3) meskipun ada sebagian kaum minoritas yang merasa direndahkan oleh
adanya program tindakan afirmatif, namun sebagian besar kaum minoritas merasa jauh
lebih direndahkan oleh rasisme, baik yang terbuka ataupun terselubung, yang ingin
dihapuskan melalui program tindakan afirmatif. 4) menunjukkan prefernsi pada kelompok
tertentu akan menjadikan anggota kelompok tersebut merasa rendah adalah kesan yang
sama sekali keliru: selama beraba-abad kulit putih diuntungkan oleh diskriminasi rasial
dan seksual tanpa kehilangan kebanggan diri.
Penerapan Tindakan Afirmatif dan penanganan Kenseragaman
Para pendukung program tindakan afirmatif menyatakan bahwa kriteria lain selain ras
dan jenis kelamin perlu dipertimbangkan saat mengambil keputusan dalm program
tindakan afirmatif: 1) jika hanya kriteria ras dan jenis kelamin yang digunakan, hal ini
akan mengarahkan pada perekrutan pegawai yang tidak berkualifikasi dan meungkin akan
menurunkan produktivitas. 2) banyak pekerjaan yang memiliki pengaruh-pengaruh
penting pada kehidupan orang lain. 3) program tindakan afirmatif, jika dilanjutkan, akan
membuat negara kita menjadi negara yang lebih diskriminasi.
Pedoman berikut diusulkan sebagai salah satu cara untuk memasukkan berbagai
pertimbangan ke dalam program tindakan afirmatif ketika kaum minoritas kurang
terwakili dalam suatu perusahaan: 1) kelompok minoritas dan bukan minoritas wajib
direkrut/ dipromosikan hanya jika mereka telah mencapai tingkat kompetensi minimum
atau mampu mencapai tingkat tersebut dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. 2) jika

kualifikasi calon dari kelompok minoritas hanya sedikit lebih rendah (atau sama atau lebih
tinggi) dibandingkan yang bukan dari kelompok minoritas, maka calon tersebut harus
lebih diutamakan. 3) jika calon dari kelompok minortitas dan bukan minoritas sama-sama
berkualifikasi atas suatu pekerjaan, namun calon dari kelompok bukan minoritas jauh
lebih berkualifikai maka, (a) jika pelaksanaan pekerjaan tersebut berpengaruh langsung
pada kehidupan/ keselamatan orang lain/memiliki pengaruh penting pada efisiensi seluruh
perusahaan maka calon dari kelompok bukan minoritas yang lebih jauh berkualifikasi
harus lebih diutamakan; (b) jika pekerjaan tersebut tidak berkaitan langsung dengan aspek
keselamatan dan tidak memiliki pengaruh penting terhadap efisiensi seluruh perusahaan,
maka calon dari kelompok minoritas harus lebih diutamakan. 4) preferensi juga harus
diberikan pada calon dari kelompok minoritas hanya jika jumlah pegawai minoritas dalam
berbagai tingkat jabatan dalam perusahaan tidak proporsional dengan ketersediaan dalam
populasi.
Gaji yang Sebanding untuk Pekerjaan yang Sebanding
Tidak seperti program tindakan afirmatif, program nilai sebanding tidak berusaha
menempatkan lebih banyak pegawai perempuan dalam jabatan-jabatan dengan gaji yang
tinggi. Tetapi, berusaha memberikan gaji yang lebih tinggi bagi pegawai perempuan
dalam pekerjaan mereka saat ini.
Program nilai sebanding diawali dengan memperkirakan nilai setiap pekerjaan terhadap
suatu organisasi dan memastikan bahwa pekerjaan dengan nilai yang sebanding gajinya
juga sebanding. Tidak peduli apakah pasar tenaga kerja eksternal memberi gaji yang sama
atau tidak untuk pekerjaan-pekerjaan tersebut.
Program nilai sebanding menilai setiap pekerjaan menurut tingkat kesulitan, persyaratan
keahlian, pengalaman, akuntabilitas, risiko, persyaratan pengetahuan, tanggung jawab,
kondisi kerja, dan semua faktor lain yang dianggap layak memperoleh kompensasi.
Argumen dasar yang mendukung program nilai sebanding didasarkan pada prinsip
keadlilan. Para pendukung program tersebut menyatakan bahwa sekarang pekerjaanpekerjaan yang dijalani kaum perempuan oleh pasar kerja dibayar kebih rendah
dibandingkan pekerjaan kaum pria meskipun kedua pekerjaan tersebut memiliki tanggung
jawab dan persyaratan keahlian yang sebanding.
1) Argumen utama yang menentang program nilai difokuskan pada kelayakan pasar
sebagai penentu gaji. Penentang program menyatakan bahwa tidak ada cara yang objektif
untuk mengevaluasi apakah suatu pekerjaan sebanding dengan pekerjaan lain selain
menggunakan penilaian pasar kerja yang dalam hal ini merupakan gabungan dari ratusan
evaluasi dari pembeli dan penjual. 2) Jika pasar kerja membayar orang-orang yang
melakukan pekerjaan tertentu dengan gaji rendah, ini karena jumlah persediaan tenaga
kerja yang menginginkan pekerjaan tersebut relatif lebih besar dari pada permintaan. 3)
Terakhir, para penentang program ini mengatakan bahwa pekerjaan pria yang gajinya
lebih besar juga terbuka bagi kaum perempuan.
Para pendukung program nilai sebanding menjawab kritik tersebut dengan mengatakan
bahwa 1) pasar kerja tidak objek. Pekerjaan perempuan digaji lebih kecil karena pasar
kerja yang ada saat ini diskriminatif: mereka memberikan gaji lebih kecil pada pekerjaanpekerjaan perempuan hanya karena pekerjaan tersebut ditangani oleh pegawai perempuan.

2) Pekerjaan perempuan yang gajinya kecil bukan karena banyaknya tenaga kerja yang
tersedia, namun merupakan indikasi bahwa kaum perempuan oleh para pelaku pasar kerja
masih dilihat sebagai individu yang kurang cakap, kurang keahlian, dan kurang
memiliki komitmen dibanding pria. Karena adanya bias subjektif dan diskriminasi, para
pembeli di pasar kerja tidak memberi nilai yang tepat bagi pekerjaan-pekerjaan yang
ditangani kaum perempuan. Jadi, pasar kerja bukan merupakan indikator skala kelayakan
gaji yang tepat bagi pekerjaan-pekerjaan kaum perempuan.
BAB 8 Buku Manual G Velasquez
Ethics and The Employee
Pendahuluan
Tidak semua orang merasakan pengalaman yang sama dalam suatu organisasi. Terdapat
berbagai karakteristik problematis dari organisasi bisnis diantaranya pengasingan yang
dialami oleh pegawai yang menjalankan pekerjaan ynag monoton, perasaan tertekan yang
muncul dari masalah otoritas, tanggung jawab yang harus diterina manajer, taktik kekuasaan
yang dipakai oleh manajer yang sangat berambisi dalam karier, dan tekanan yang dialami
bawahan dan atasan saat mereka berusaha melaksanakan pekerjaan dnegan baik. Bab ini akan
membahas masalah-masalah tersebut dan masalah lain yang muncul dalam kehidupan
organisasi bisnis.
Organisasi Rasional
Model organisasi bisnis yang rasional, yang lebih tradisional, mendefinisikan organisasi
sebagai suatu struktur hubungan formal (yang didefinisikan secara eksplisit dan digunakan
cara terbuka) yang bertujuan mencapai tujuan teknis atau ekonomi dengan efisiensi
maksimal.
E. H. Schein mendefinisikan organisasi sebagai koordinasi rasional atas aktivitas-aktivitas
sejumlah individu untuk mencapai tujuan atau sasaran eksplisit bersama, melalui
pembagian tenaga kerja dan fungsi dan melalui hierarki otoritas dan tanggung jawab.
Model organisasi rasional mengasumsikan bahwa sebagian besar informasi dikumpulkan
dari tingkat operator, naik melalui sejumlah tingkat manajemen formal, yang masingmasing mengumpulkan informasi serupa, sampai akhirnya mencapai manajemen tertinggi.
Yang mengikat lapisan atau tingkat organisasi dan yang mengatur semua individu tersebut
ke dalam tujuan organisasi dan hierarki formal adalah kontrak. Model tersebut
mengasumsikan pegawai sebagai agen yang secara bebas dan sadar telah setuju untuk
menerima otoritas formal organisasi dan berusaha meraih tujuan organisasi, dan
sebagai gantinya mereka memperoleh dukungan dalam bentuk gaji dan kondisi kerja
yang baik.
Tanggung jawab etis dasar yang muncul dari aspek-aspek rasional organisasi difokuskan
pada 2 kewajiban moral: 1) kewajiban pegawai untuk mematuhi atasan dalam organisasi,
mencapai tujuan-tujuan organisasi, dan tidak melakukan aktivitas-aktivitas yang
mengancam tujuan tersebut. 2) kewajiban atasan untuk memberikan gaji yang adil dan
kondisi kerja yang baik.

Kewajiban Pegawai terhadap Perusahaan


Kewajiban moral utama pegawai adalah untuk bekerja mencapai tujuan perusahaan dan
menghindari kegiatan-kegiatan yang mungkin mengancam tujuan tersebut.
Pandangan-pandangan tradisional tentang kewajiban pegawai pada perusahaan
membentuk apa yang disebut hukum agensi atau dengan kata lain, peraturan yang
menetapkan kewajiban-kewajiban hukum dari agen (pegawai) kepada pimpinan
mereka.
Konflik Kepentingan
Konflik kepentingan dalam bisnis muncul saat seorang pegawai atau pejabat suatu
perusahaan melaksanakan tugasnya, namun dia memiliki kepentingan-kepentingan pribadi
terhadap hasil dari pelaksanaan tugas tersebut yang 1) mungkin bertentangan dengan
kepentingan perusahaan dan 2) cukup substansial sehingga kemungkinan mempengaruhi
penilaiannya sehingga tidak seperti yang diharapkan perusahaan.
Konflik kepentingan tidak selalu berkaitan dengan masalah uang. Konflik kepentingan
juga bisa muncul apabila pejabat atau pegawai suatu perusahaan juga bekerja atau menjadi
konsultan perusahaan luar yang menjadi rekan atau pesaing perusahaan yang pertama.
Konflik kepentingan bisa bersifat aktual atau potensial. Konfik kepentingan aktual
terjadi saat seseorang melaksanakan kewajibannya dalam suatu cara yang mengganggu
perusahaan dan melakukannya demi kepentingan pribadi. Konflik kepentingan potensial
terjadi saat seseorang, karena didorong oleh kepentingan pribadi, bertindak dalam suatu
cara yang merugikan perusahaan.
Konflik kepentingan potensial bisa etis maupun tidak etis, tergantung pada kemungkinan
dimana penilaian pegawai dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan yang saling
bertentangan.
Untuk menghindari masalah, banyak perusahaan yang: 1) menentukan jumlah saham
perusahaan pemasok yang boleh dibeli pegawai, 2) menentukan hubungan dengan
pesaing, pembeli, atau pemasok yang dilarang perusahaan, 3) mewajibkan pejabat penting
untuk mengungkapkan semua investasi finansial luar mereka.
Konflik kepentingan dapat muncul dari berbagai macam situasi dan aktivitas. 2 jenis
situasi dan aktivitas yang perlu mendapat perhatian adalah suap dan pemberian.
Suap dan pemerasan komersial. Suap komersial adalah sesuatu yang diberikan atau
ditawarkan pada seorang pegawai oleh orang dari luar perusahaan dengan tujuan agar saat
pegawai itu melakukan transaksi binsnis perusahaan, dia akan melakukan sesuatu yang
menguntungkan orang tersebut atau perusahaan orang tersebut.
Pemberian. Menerima pemberian bisa menjadi tindakan yang etis dan tidak etis.
Vincent Barry mengajukan faktor-faktor berikut yang perlu dipertimbangkan ketika
mengevaluasi moralits untuk menerima suatu pemberian: 1) apa nilai pemberian tersebut?
2) apa tujuan pemberian tersebut? 3) bagaimana situasi saat pemberian tersebut diberikan?
Atau apakah pemberian itu diberikan secara terbuka? 4) apa pekerjaan atau jabatan orang
yang menerima pemberian? 5) apa praktik bisnis yang diterima di wilayah tersebut? 6) apa
hukumnya?

Pencuarian Pegawai dan Komputer


Tindakan pegawai yang mencari tambahan keuntungan pribadi atau menggunakan sumber
daya perusahaan untuk dirinya sendiri merupakan tindakan pencurian karena keduanya
berarti mengambil atau menggunakan properti milik orang lain (perusahaan) tanpa
persetujuan pemilik yang sah.
Etika dari bentuk-bentuk pencurian relatif jelas, yang tidak jelas adalah bentuk bentuk
pencurian modern: pencurian yang melibarkan informasi dan penggunaan komputer.
Pencurian komputer. Tindakan memeriksa, menggunakan, atau menyalin informasi atau
program komputer merupakan pencurian. Disebut pencurian karena informasi yang
dikumpulkan dalam bank data komputer oleh suatu perusahaan dan program komputer
yang dikembangkan atau dibeli perusahaan merupakan properti dari perusahaan yang
bersangkutan. Properti terdiri dari sejumlah hak yang terikat dengan aset yang dapat
dikenali. Informasi atau program komputer semacam itu merupakan properti perusahaan,
dan hanya perusahaan yang berhak atas penggunaan atau keuntungan-keuntungan.
Merampas hak atas properti, termasuk penggunaannya, merupakan salah satu bentuk
pencurian properti sehingga otomatis juga tidak etis.
Rahasia dagang. Informasi kepemilikan atau rahasia perdagangan terdiri dari informasi
non-publik yang 1) menyangkut aktivitas, teknologi, perencanaan, kebijakan, atau catatan
suatu perusahaan dan yang, jika diketahui pesaingnya, akan berpengaruh secara material
pada kemampuan perusahaan untuk bersaing secara komersial dengan para pesaingnya, 2)
dimiliki perusahaan karena dikembangkan oleh perusahaan, untuk digunakan sendiri, dari
sumber daya yang dimilikinya atau dibeli dari pihak lain dengan dananya sendiri, 3)
ditunjukkan oleh perusahaan melalui perintah yang eksplisit, langkah-langkah
pengamanan, atau perjanjian kontraktual dengan pegawai bahwa perusahaan tidak ingin
ada orang luar yang diizinkan memilikinya. Namun demikian, keahlian yang diperoleh
pegawai dari bekerja di sutu perusahaan tidak termasuk rahasia perdagangan karena
rahasia perdagangan terdiri dari informasi, bukan keahlian.
Insider Trading
Insider trading merupakan tindakan membeli dan menjual saham perusahaan berdasarkan
informasi orang dalam perusahaan. Informasi dari dalam atau dari orang dalam suatu
perusahaan merupakan informasi rahasia yang tidak dimiliki publik di luar perusahaan,
namun memiliki pengaruh material pada harga saham perusahaan.
Insider trading adalah ilegal. Insider trading juga tidak etis, bukan hanya karena ilegal,
namun juga orang yang melakukannya berarti mencuri informasi dan memperoleh
keuntungan yang tidak adil dari anggota masyarakat lain.
Namun, sejumlah pihak menyatakan bahwa insider trading secara sosial menguntungkan
dan menurut prinsip utilitarian, tindakan tersebut tidak dilarang, malah dianjurkan. 1)
orang dalam dan teman-temannya membawa informasi dari dalam perusahaan menuju
pasar saham dan dengan melakukan jual beli berdasarkan informasi tersebut, menawar
harga saham lebih tinggi (atau lebih rendah) sehingga harga saham naik (atau turun) untuk
merefleksikan nilai sesungguhnya dari saham tersebut. Jasi, insider trading merupakan
tindakan yang bermanfaat untuk menyampaikan informasi dari dalam menuju ke pasar
saham sehingga memastikan bahwa nilai pasar dari saham-saham tersebut merefleksikan

dengan lebih akurat nilai saham yang sesungguhnya dan otomatis menciptakan pasar yang
lebih efisien. 2) insider trading tidak merugikan siapapun. Saat seseorang menjual
sahamnya, itu karena dia butuh uang pada saat itu. Tidak masalah apakah mereka menjual
pada insider atau orang lain, dia akan memperoleh uang senilai harga pasar dari sahamnya.
Jadi, insider tidak hanya tidak merugikan orang-orang yang menjual saham kepadanya,
namun juga memberikan keuntungan bagi orang-orang yang menjual saham kepadanya di
saat-saat berikutnya. 3) tidak benar jika insider diuntungkan atas orang lain yang tidak
memiliki akses atas informasi yang dimilikinya dari dalam organisasi. Faktanya, banyak
orang yang membeli dan menjual saham di pasar saham yang memiliki informasi yang
lebih baik dari orang lain.
Tetapi, orang-orang yang mengklaim bahwa insider trading tidak etis menyatakan
bahwa para pendukung insider trading mengabaikan beberapa fakta penting tentang
insider trading. 1) informasi yang dimiliki pelaku insider trading bukan informasi yang
merupakan miliknya. Jadi insider yang mengambil informasi dari dalam perusahaan dan
menggunakannya untuk memperkaya diri sendiri berarti mencuri apa yang bukan
miliknya. Pelaku insider trading melanggar hak-hak moral dari semua pemegam
saham, khususnya yang secara tidak sadar menjual saham kepadanya. 2) informasi yang
dimiliki insider sama sekali tidak fair. Karena informasi itu adalah informasi yang dia
curi, berarti berbeda dengan informasi yang dimiliki para pakar bursa saham atau analis.
Informasi yang dimiliki insider dianggap tidak fair karena merupakan hasil curian dari
orang lain (pemiliki perusahaan) yang melakukan investasi dan akhirnya menghasilkan
informasi tersebut. 3) tidak benar bahwa tidak ada seorang pun yang dirugikan oleh
insider trading. Insider trading memiliki 2 pengaruh pada pasar saham yang merugikan
semua orang di pasar saham pada khususnya dan masyarakat pada umumnya: (a) insider
trading mengurangi ukuran pasar. Ukuran pasar yang kecil memberikan sejumlah
pengaruh buruk termasuk penurunan likuiditas saham, naiknya variabilitas harga saham,
penurunan kemampuan pasar untuk mendistribusikan risiko, penurunan efisiensi pasar,
dan penurunan perolehan utilitas yang diambil pedagang. (b) insider trading
mengakibatkan kenaikan biaya pembelian dan penjualan saham (atau biaya transaksi).
Semakin banyak insider yang muncul, semakin tinggi pula biaya yang dinaikkan, dan
semakin tinggi biaya pertukaran saham.
Insider trading melanggar hak, keadilan, dan utilitas masyarakat. Masalah tersebut terus
diperdebatkan dan belum terselesaikan sepenuhnya. Namun hukum tentang insider trading
telah ditetapkan, meskipun cakupannya masih kurang jelas. SEC telah mengajukan
tuntutan atas kasus-kasus insider trading, dan keputusan pengadilan dalam kasus-kasus
tersebut cenderung menyatakan sebagai tindakan ilegal.
Kewajiban Perusahaan terhadap Pegawai
Kewajiban moral dasar perusahaan terhadap pegawai, menurut pandangan rasional adalah
memberikan kompensasi yang secara sukarela dan sadar telah mereka setujui sebagai
imbalan atas jasa mereka. ada 2 masalah yang berkaitan dengan kewajiban ini: kelayakan gaji
dan kondisi kerja pegawai.

Gaji
Dari sudut pandang pegawai, gaji adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan ekonomi
dan keluarganya. Dari sudut pandang pengusaha atau perusahaan, gaji adalah biaya
produksi yang harus ditekan agar harga produk tidak terlalu tinggi dari kemampuan pasar.
Kelayakan gaji sebagian bergantung pada dukungan yang diberikan masyarakat,
kebebasan pasar kerja, kontribusi pegawai, dan posisi kompetitif perusahaan.
Faktor yang perlu dipertimbangkan untuk menentukan gaji dan upah: 1) gaji dalam
industri dan wilayah tempat seseorang bekerja, 2) kemampuan perusahaan, 3) sifat
pekerjaan, 4) peraturan upah minimum. 5) hubungan dengan gaji lain, 6) kelayakan
negosiasi gaji, dan 7) biaya hidup lokal.
Kondisi Kerja: Kesehatan dan Keamanan
Pada tahun 1970, Kongres menetapkan Occupational Safety and Health Act dan
membentuk Occupational Safety and Health Administration (OSHA) untuk sejauh
mungkin menjamin bahwa awal OSHA sudah menghadapi banyak kontroversi.
Risiko memang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pekerjaan. Sejauh mereka 1)
memperoleh kompensasi penuh dalam menghadapi risiko tersebut dan 2) secara
sukarela dan sadar menerimanya dan memperoleh kompensasi sebagai imbalannya, maka
kita bisa mnegasumsikan bahwa pengusaha atau perusahaan telah bertindak secara etis.
Masalahnya adalah dalam banyak pekerjaan yang berbahaya, syarat-syarat berikut tidak
terpenuhi: 1) gaji atau upah dikatakan gagal memberikan nilai kompensasi yang
proporsional terhadap risiko pekerjaan jika pasar tenaga kerja dalam suatu industri tidak
kompetitik atau bila pasar tidak mempertimbangkan risiko-risiko tersebut karena emang
belum diketahui. 2) pegawai mungkin menerima risiko tanpa mengetahuinya karena
mereka tidak memiliki akses ke informasi tentang risiko-risiko tersebut. 3) pegawai
mungkin menerima risiko karena putus asa, karena mereka tidak dapat mendapatkan
pekerjaan dalam industri-industri yang kurang beresiko, atau karena mereka tidak
memiliki informasi tentang alternatif-alternatif yang tersedia bagi mereka.
Apabila ada salah satu dari ketiga kondisi di atas yang tidak terpenuhi, maka kontrak
antara perusahaan dan pegawai dikatakan tidak fair.
Secara khusus: 1) perusahaan wajib menawarkan gaji yang merefleksikan prevalensi
risiko-premi dalam pasar tenaga kerja yang serupa, namun kompetitif. 2) untuk menjamin
pegawai terhadap bahaya yang diketahui, perusahaan perlu memberikan program asuransi
kesehatan yang sesuai. 3) perusahaan perlu mengumpulkan informasi tentang bahaya
kesehatan yang terdapat dalam suatu pekerjaan dan menyebarkan informasi tersebut ke
seluruh pegawai.
Kondisi Kerja: Kepuasan Kerja
Pandangan rasional tentang organisasi menempatkan nilai yang tinggi pada masalah
efisiensi: semua pekerjaan dan tugas didesain untuk mencapai tujuan perusahaan seefisien
mungkin. Apabila efisiensi dicapai melalui spesialisasi, maka pandangan rasional
tentang organisasi cenderung memasukkan pekerjaan-pekerjaan yang sangat spesifik.
Pekerjaan dapat dispesialisasikan dalam 2 dimensi. Secara horisontal dengan membatasi
jangkauan tugas dalam suatu pekerjaan dan meningkatkan repetisi atau pengulangan
dalam cakupan tugasnya. Pekerjaan juga bisa dispesialisasikan secara vertikal dengan

membatasi jangkauan pengawasan dan pengambilan keputusan atas kegiatan-kegiatan


dalam suatu pekerjaan.
Kecelakaan kerja yang dialami oleh para pegawai yang sangat terspesialisasi seperti
menciptakan satu masalah penting tentang keadilan bagi pegawai.
Kerugian dari spesialisasi mungkin tidak hanya tidak adil, namun juga sering berkaitan
dengan tidak adanya kebebasan.
Spesialisasi pekerjaan yang berlebihan memang tidak baik karena alasan lain, yaitu bahwa
cara tersebut memberikan beban yang tidak adil pada pekerja. Juga terdapat bukti bahwa
cara tersebut tidak mendukung efisiensi.
Hackman, Oldham, Jansen, dan Purdy menyatakan bahwa ada 3 determinan kepuasan
kerja: arti yang dialami, tanggung jawab dialami, dan pengetahuan akan hasil.
Untuk mengetahui ketiga determinan tersebut, pekerjaan haruslah diperluas sepanjang 5
dimensi berikut: keragaman keahlian, identitas tugas, arti penting tugas, otonomi, dan
umpan balik.
Pemecahan masalah ketidakpuasaan kerja adalah dengan memperluas cakupan kegiatan
dari pekerjaan-pekerjaan yang snagat terspesialisai: memperluas pekerjaan secara
horisontal dengan memberikan tugas-tugas yang lebih beragam pada pegawai dan
memperdalam pekerjaan secara vertikal dengan memberikan kontrol yang lebih besar pada
pegawai atas tugas-tugas tersebut.
Organisasi Politik
Para pegawai dalam organisasi sering terlibat dalam berbagai intrik, persaingan
memperoleh sumber daya organisasi, membentuk kelompok-kelompok kecil yang saling
bermusuhan, perlakuan pengawasan yang sewenang-sewenang, berebut memperoleh
kesempatan kemajuan karier, saling berdebat tentang apa dan bagaimana tujuan organisasi
yang sesungguhnya, serta berselisih tentang stategi untuk mencapai tujuan tersebut.
Untuk memahami perilaku-perilaku tersebut serta masalah etis yang diakibatkannya,
kita perlu beralih pada model kedua yaitu model yang tidak terlalu fokus pada aspek-aspek
rasional, namun lebih menekankan pada aspek politik: model politik organisasi.
Tidak seperti model rasional, model politik organisasi tidak hanya melihat pada garis
kewenangan dan komunitas dalam organisasi ataupun mengasumsikan bahwa semua
perilaku organisasi secara rasional didesain untuk mencapai suatu tujuan dan sasaran
ekonomi seperti keuntungan atau produktivitas.
Dalam model politik, individu dilihat berkumpul membentuk koalisi yang selanjutnya
saling bersaing satu sama lain memperebutkan sumber daya, keuntungan, dan pengaruh.
Dengan demikian, tujuan organisasi menjadi tujuan yang dibentuk oleh koalisi yang
paling kuat dan paling dominan.
Realita dasar organisasi, menurut model tersebut bukanlah otoritas formal atau hubungan
kontraktual, namun kekuasaan kemampuan individu untuk mengubah perilaku pihak lain
menuju cara yang diinginkan tanpa harus mengubah perilaku mereka sendiri menuju cara
yang tidak diinginkan.
Jika kita memfokuskan pada kekuasaan sebagai dasar realita organisasional, maka
permasalahan etis utama yang akan kita temui saat kita mengamati suatu organisasi
adalah masalah yang berkaitan dengan akuisisi dan pelaksanaan kekuasaan. Masalah etis

utama difokuskan bukan pada kewajiban kontraktual perusahaan dan pegawai, namun
pada hambatan-hambatan moral terhadap penggunaan kekuasaan di dalam organsasi.
Etika perilaku organisasional yang dilihat dari perspektif model politik difokuskan pada
pertanyaan: apa batasan moral, jika ada, pada pelaksanaan kekuasaan dalam organisasi?
Bagian ini kita akan membahas 2 pertanyaan: apa, jika ada, batasan moral pada kekuasaan
manajer yang dapat diterapkan pada pegawai? Apa, jika ada, batasan moral pada
kekuasaan pegawai yang dapat diterapkan pada pegawai lain?
Hak Pegawai
Pemerintah dibagi menjadi 4 bagian. 4 bagian tersebut juga menjadi karakteristik hierarki
manajerial yang terdapat di perusahaan-perusahaan besar: 1) seperti kota, negara bagian,
atau pemerintah federal, para manajer tinggi tertinggi di sebuah perusahaan merupakan
lembaga pembuat keputusan yang tersentralisasi, 2) para manajer ini memiliki kekuasaan
dan otoritas yang diakui secara hukum atas para pegawai dimana kekuasaan yang
didasarkan pada kemampuan mereka untuk memecat, menurunkan dan menaikkan
pangkat, dan otoritas yang didasarkan pada hukum agensi yang siap mendukung dan
melaksanakan keputusan-keputusan manajerial, 3) keputusan para manajer menentukan
distribusi atas pendapatan, status, dan kebebesan diantara konstitusional perusahaan, 4)
melalui hukum agensi dan kontrak, melalui akses ke lembaga pemerintah, dan melalui
kemampuan ekonomi yang diperoleh, para manajer perusahaan besar secara efektif juga
memiliki monopoli kekuasaan seperti pemerintah politik.
Keberatan utama pandangan tentang hak pegawai ini adalah bahwa ada beberapa
perbedaan penting antara kekuasaan manajer perusahaan dengan kekuasaan pejabat
pemerintah, dan perbedaan itu mengurangi validitas argumen bahwa kekuasaan manajer
haruslah dibatasi oleh hak pegawai, yang dalam hal ini serupa dnegan hak sipil yang
membatasi kekuasaan pemerintah. 1) kekuasaan pejabat pemerintah didasarkan pada
persetujuan, sementara kekuasaan manajer perusahaan didasarkan pada kepemilikan. 2)
kekuasaan manajer perusahaan, tidak seperti pejabat pemerintah, secara efektif dibatasi
oleh serikat kerja. 3) sementara seorang warga negara bisa melarkian diri dari keuasaan
pemerintah dengan biaya yang besar, namun seorang pegawai bisa melepaskan diri dari
kekuasaan manajemen dengan relatif mudah.
Para pendukung hak-hak pegawai menanggapi ketiga keberatan tersebut dalam seumlah
cara: 1) aset perusahaan tidak lagi dikendalikan oleh para pemilik pribadi, aset tersebut
dikuasai oleh sekelompok pemegang saham yang beragam dan hampir tidak memiliki
kekuasaan. 2) meskipun sebagian pegawai menjadi anggota serikat pekerja, namun banyak
yang tidak menjadi anggota serikat pekerja, dan mereka-mereka yang tidak menjadi
anggota serikat pekerja memiliki hak-hak moral yang tidak dihormati oleh manajer. 3)
mengubah pekerjaan kadang sama sulitnya dengan mengubah kewarganegaraan,
khususnya bagi pegawai yang telah menguasai keahlian tertentu yang hanya dapat
digunakan dalam organisasi tertentu.
Hak Privasi
Hak privasi merupakan hak individu untuk menentukan apa, dengan siapa, dan seberapa
banyak informasi tentang dirinya yang boleh diungkapkan pada orang lain.

Metode-metode untuk memperoleh, menyimpan, mengambil kembali, menyusun, dan


mengkomunikasikan informasi dengan menggunakan komputer memungkinkan
perusahaan untuk mengumpulkan informasi tentang para pegawai, seperti catatan medis,
sejarah kredit, catatan kriminal, penangkapan oleh polisi, informasi FBI, dan sejarah
kepegawaian.
Ada 2 jenis privasi: 1) privais psikologis yaitu privasi yang berkaitan dnegan pemikiran,
rencana, keyakinan, nilai, perasaan, dan keinginan seseorang. 2) privasi fisik yaitu yang
berkaitan dengan aktivitas-aktivitas fisik seseorang khususnya yang mengungkapkan
kehidupan pribadi seseorang dan aktivitas-aktivitas fisik yang secara umum dianggap
sebagai aktiviatas pribadi.
Privasi melindungi kita: memungkinkan kita melindungi informasi tentang diri kita yang
bisa membuat kita merasa malu, melindungi kita agar orang lain tidak ikut campur dalam
kehidupan kita, memungkinkan kita melindungi orang-orang yang kita cintai agar tidak
mengetahui sesuatu tentang diri kita yang mungkinmenyakitkan bagi mereka, dan secara
umum melindungi reputasi kita.
Privas juga memungkinkan kita menjalin keakraban sehingga kita bisa mengembangkan
hubungan cinta persahabatan, dan kepercayaan; memungkinkan kita menjaga hubungan
dengan para profesional seperti dokter, pengacara, dan psikiater; memungkinkan kita
melaksanakan peran sosial pribadi yang berbeda dari peran publik; dan memungkinkan
kita menentukan identitas diri dengan mengendalikan cara dimana masyarakat dan
individu-individu tertentu melihat diri kita.
Ada 3 elemen yang perlu dipertimbangkan saat mengumpulkan informasi yang mungkin
mengancam hak privasi pegawai: relevansi, persetujuan, dan metode.
Relevansi. Perusahaan harus membatasi penyelidikan terhadap pegawai hanya pada
bidang-bidang yang berkaitan langsung dengan masalah yang dihadapi.
Persetujuan. Pegawai harus diberi kesempatan untuk memberikan atau tidak memberikan
persetujuan sebelum perusahaan melakukan penyelidikan atas aspek-aspek pribadi dalam
hidupnya.
Metode. Perusahaan perlu membedakan antara metode-metode penyelidikan yang sifatnya
biasa dan dapat diterima, serta metode-metode lainnya. Metode biasa mencakup aktivitas
pengawasan yang biasanyaa digunakan untuk mengawasi pekerjaan pegawai. Metode
tidak biasa termasuk penggunaan peralatan-peralatan tersembunyi seperti mikrofon,
kamera rahasia, penyadap, detektor kebohongan, tes inventarisasi kepribadian, dan matamata. Penggunaan peralatan seperti itu hanya dibenarkan bila syarat-syarat berikut telah
terpenuhi: 1) perusahaan menghadapi masalah yang hanya bisa dipecahkan melalui
penggunaan alat-alat tersebut. 2) masalah yang dihadapi cukup serius dan perusahaan
memiliki alasan kuat bahwa penggunaan alat-alat itu akan mampu memecahkannya. 3)
masa penggunaan peralatan semacam itu tidak boleh diperpanjang di luar waktu yang
diperlukan untuk mengidentifikasi peaku kejahatan atau setelah dketahui bahwa peralatan
tersebut tidak bekerja dengan baik. 4) semua informasi yang diungkapkan, namun tidak
secara langsung relevan dengan tujuan penyelidikan, wajib diabaikan dan dihancurkan. 5)
tingkat kegagalan penggunaan peralatan juga perlu dipertimbangkan, dan semua informasi
yang diperoleh dari suatu peralatan yang tingkat kegagalnnya telah diketahui perlu

diverifikasi dengan menggunakan metode-metode independen yang diketahui tidak


memiliki tingkat kegagalan yang sama.
Kebebasan Suara Hati
Pegawai yang memiliki perasaan tanggung jawab moral, yang menemukan bahwa
perusahaan melakukan sesuatu yang merugikan masyarakat, biasanya akan merasa perlu
melakukan sesuatu agar perusahaan menghentikan aktivitas-aktivitas yang merugikan
tersebut dengan melaporkannya pada atasan.
Hak atas kebebasan suara hati berasal dari kepentingan individu untuk berpegang pada
keyakinan religius atau moralnya. Individu yang memiliki keyakinan religius atau moral
biasanya melihat hak ini sebagai sesuatu yang mengikat secara mutlak dan hanya dapat
dilampaui dengan akibat-akibat psikologis yang cukup berat.
Hak atas kebebasan suara hati melindungi kepentingan-kepentingannya dengan
mewajibkan individu yang bersangkutan untuk tidak bekerja sama dalam aktivitasaktiviats yang secara sadar dianggapnya salah.
Whistleblowing
Whistleblowing merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh seorang anggota atau mantan
anggota suatu organisasi untuk mengungkapkan kesalahan atau aktivitas merugikan
yang dilakukan organisasi yang bersangkutan.
Whistleblowing bisa bersifat internal maupun eksternal. Jika suatu pelanggaran hanya
dilaporkan pada pihak-pihak yang lebih tinggi dalam organisasi, maka tindakan tersebut
adalah whistleblowing internal. Apabila pelanggaran dilaporkan pada individu eksternal
atau lembaga-lembaga seperti agen pemerintah, surat kabar, atau kelompok-kelompok
kepentingan publik, maka tindakan tersebut merupakan whistleblowing eksternal.
Kadang dikatakan bahwa whistleblowing eksternal adalah salah karena pegawai
memiliki kewajiban kontraktual untuk loyal pada perusahaan dan menjaga
kerahasiaan semua aspek bisnis. Pada saat seorang pegawai menerima suatu pekerjaan,
menurut argumen tersebut, pegawai berarti secara implisit setuju menjaga kerahasiaan
semua aspek bisnis dan berusaha semampunya untuk menjaga kepentingan perusahaan.
Tindakan whistleblowing melanggar perjanjian tersebut dan otomatis juga melanggar
hak perusahaan.
Meskipun sebagian dari apa yang dikatakan benar, namun kesimpulannya salah.
Persetujuan dan kontrak dianggap batal jika mengharuskan seseorang melakukan sesuatu
yang immoral. Jadi, jika seorang pegawai memiliki kewajiban moral agar orang lain
tidak dirugikan dan satu-satunya cara agar orang lain tidak dirugikan adalah dengan
melakukan whistleblowing, maka kontrak kerja tersebut tidak bisa mewajibkan pegawai
yang bersangkutan untuk diam saja.
Jadi, whistleblowing ekstenal dibenarkan jika memang diperlukan untuk mencegah
kesalahan dimana seseorang secara moral berkewajiban mencegahnya, atau jika tindakan
tersebut memberikan keuntungan dimana seseorang memiliki hak atau kewajiban moral
untuk melakukannya.
Hak pegawai atas kebebasan berbicara dibatasi oleh hak perusahaan untuk mewajibkan
para pegawai menjaga kerahasiaan perusahaan dan berusaha mencapai tujuan-tujuan

perusahaan, dengan syarat mereka tidak dipaksa melakukan sesuatu yang melanggar
moral.
Whistleblowing eksternal hanya dapat dibenarkan jika cara-cara lain seperti
whistleblowing internal untu mencegah terjadinya sesuatu telah dicoba dan tidak
berhasil, dan hanya jika kerugian yang dicegah lebih serius dibandingkan dengan kerugian
yang dialami pihak lain.
Whistleblowing ekstenal secara moral dibenarkan jika: 1) ada bukti yang jelas, kuat, dan
cukup komprehensif bahwa suatu organisasi melakukan aktivitas yang melanggar hukum
atau berakibat serius pada pihak lain. 2) usaha-usaha lain telah dilakukan untuk
mencegahnya melalui whistleblowing internal dan gagal. 3) dapat dipastikan bahwa
tindakan whistleblowing eksternal mampu mencegah kerugian tersebut. 4) pelanggaran
tersebut cukup serius dan lebih buruk dibandingkan akibat tindakan whistleblowing pada
diri seseorang, keluarganya, dan pihak-pihak lain.
Whistleblowing hanyalah sarana untuk mencapai tujuan-tujuannya untuk memperbaiki
atau mencegah suatu tindakan yang merugikan. Jadi,seseorang hanya berkewajiban
melakukan tindakan tersebut dalam artian bahwa dia memiliki kewajiban untuk mencapai
tujuan tersebut. Jelasnya seseorang memiliki kewajiban moral untuk melakukan
whistleblowing eksternal hanya jika dia memiliki kewajiban moral untuk mencegah suatu
tindakan yang merugikan.
Seseorang memiliki kewajiban melakukan whistleblowing apabila: 1) orang tersebut
memiliki kewajiban untuk mencegah terjadinya pelanggaran, baik karena itu merupakan
bagian dari tanggung jawab profesionalnya atau karena tidak ada orang lain yang mampu
atau bersedia mencegahnya. 2) pelanggaran tersebut bisa mengakibatkan kerugian serius
terhadap kesejahteraan masyarakat, mengakibatkan ketidakadilan pada seseorang atau
suatu kelompok, atau merupakan pelanggaran serius terhadap hak-hak moral seseorang
atau banyak orang.
Banyak perusahaan yang menerapkan program-program yang memberikan saluran dan
prosedur yang mendukung whistleblowing internal, contohnya FMC mendirikan ethic
hotline.
Untuk menjamin bahwa pegawai tidak dihukum karena menggunakan pelayanan tersebut,
perusahaan menerapkan kebijakan bahwa semua pengawas yang melakukan aksi balas
dendam kepada pegawai yang melapor suatu pelanggaran akan dihukum.
Hak untuk Berpartisipasi dan Manajemen Partisipatif
Dalam suatu demokrasi, pengambilan keputusan biasanya memiliki 2 karakteristik: 1)
keputusan yang berpengaruh pada kelompok ditetapkan oleh mayoritas anggotanya. 2)
keputusan ditetapkan setelah dilakukan diskusi yang menyeluruh, bebas, dan terbuka.
Tujuan-tujuan demokrasi perlu diterapkan dalam organisasi bisnis. 1) Sebagian
menyatakan bahwa mengizinkan pegawain untuk berpartisipasi dalam proses
pengambilan keputusan suatu organisasi merupakan suatu perintah etis. Para pegawai
diizinkan menyampaikan kritik secara terbuka, memperoleh informasi yang tepat tentang
keputusan-keputusan yang akan berpengaruh pada mereka, menyampaiakan usulan, dan
memprotes keputusan. 2) langkah kedua menuju demokrasi organisasional adalah dengan
memberikan bukan hanya untuk berkonsultasi, namun juka hak untuk membuat keputsuan

tentang aktivitas-aktivitas kerja mereka. 3) mengizinkan pegawai berpartisipasi dalam


pengambilan keputusan-keputusan besar yang berpengaruh pada operasi perusahaan
secara umum.
Demokrasi organisasional yang seutuhnya, belum populer di Amerika. Sebagian alasannya
mungkin adalah pegawai belum mnunjukkan minat yang besar untuk berpartisipasi dalam
pengambilan keputusan perusahaan. Alasan yang lebih penting adalah ideologi Amerika
dengan tajam membedakan antara kekuasaan dalam organisasi politik dengan kekuasaan
dalam organisasi ekonomi.
Sejumlah teori manajemen mendesak manajer menerapkan gaya kepemimpinan yang
disebut pemimpin partisipatif, berdasarkan prinsip utilitarian bahwa gaya kepemimpinan
ini akan meningkatkan kepuasan pegawai dan mendukung kinerja dan produktiviats
perusahaan.
Salah satu teori paling awal, misalnya teori Douglas McGregor, menggambarkan 2 teori
atau rangkaian asumsi yang dapat dibentuk manajer atas para pegawai. Teori X, manajer
mengasumsikan bahwa pegawai adalah orang-orang yang malas dan egois,lebih suka
dipimpin, resisten dan memerlukan penghargaan, hukuman, dan pengawasan untuk
bisa bekerja guna mencapai tujuan-tujuan organisasional. Teori Y, manajer
mengasumsikan bahwa pegawai ingin dan mampu mengembangkan kapasitas untuk
menerima tanggung jawab, memiliki kesiapan untuk mendukung tujuan-tujuan
organisasional, dan mampu menentukan bagi diri sendiri cara terbaik apa yang bisa
dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut serta bersedia mencurahkan usaha untuk
mencapainya. Teori Y, menurut McGregor akan menciptakan organisasi yang lebih
efektif sekaligus lebih produktif.
Teori selanjutnya adalah teori dari Raymond Miles. Model tradisional mengasumsikan
bahwa sebagian besar pegawai tidak suka bekerja, tidak ingin atau tidak mampu menjadi
kreatif atau mengarahkan diri sendiri, dan lebih mempertimbangkan berapa banyak yang
mereka peroleh dibandingkan dengan apa yang mereka lakukan. Model kedua adalah
model hubungan manusia yang mengasumsikan bahwa sebagian besar pegawai ingin
menjadi bagian dari sesuatu dan ingin diakui, merasa berguna dan penting, dan bahwa
pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut lebih peting dibandingkan apa yang mereka
peroleh. Model terakhir adalah sumber daya manusia yang mengasumsikan bahwa
sebagain besar pegawai merasa senang dengan pekerjaan mereka, mereka ingin
memberikan sumbangan pada tujuan yang telah ditetapkan bersama, dan mereka ingin
menjadi kreatif dan bertanggung jawab serta memiliki pengarahan diri dan pengendalian
diri yang lebih baik dibandingkan saat ini. Miles menyatakan bahwa kepuasan pegawai
dan efektivitas serta produktivitas organisasional akan berkembang dengan
menerapkan manajemen sumber daya manusia.
Teori lain yang dikembangkan oleh Rensis Likert mengajukan 4 sistem demokrasi: sistem
1 otoriter eksploitatif, sistem 2 otoriter yang baik, sistem 3 konsultatif, dan sistem 4
partisipatif. Likert menyatakan bahwa sistem 4 yang memasukkan tingkat partisipasi
pegawai paling tinggi, kemungkinan besar akan menghasilkan efektivitas dan
produktivitas paling tinggi. Jika gaya manajemen partisipatif seperti yang diusulkan
oleh McGregor, Miles, dan Likert benar-benar membuat organisasi semakin efektif dan

produktif, maka berdasarkan prinsip utilitarian, manajer memiliki kewajiban moral


untuk menerapkan gaya kepemimpinan semacam itu. Para kritikus pendekatan
partisipatif terhadap manajemen menyatakan bahwa orang berbeda-beda dan tidak
semuanya ingin atau mampu berpartisipasi dalam pengambilan keputusan manajemen, dan
bahwa organisasi dan tugas-tugas organisasional berbeda-beda dan tidak semuanya cocok
dengan gaya manajemen partisipatif. Jika ini benar, maka argumen utilitarian yang
mendukung manajemen partisipatif palng-paling hanya mampu menunjukkan bahwa
manajer memiliki kewajiban untuk menggunakan gaya manajemen partisipatif apabila
orang-orang dan konteks organisasionalnya sendiri.
Hak dan Proses yang Layak dan PHK Sepihak
Doktrin PHK sepihak didasarkan pada asumsi bahwa sebagai pemilik perusahaan,
pengusaha memiliki hak untuk memutuskan siapa yang bekerja padanya sejauh
pegawai bebas menerima atau menolak pekerjaan yang diberikan.
Doktrin PHK sepihak banyak mendapat kecaman. 1) pegawai sering tidak bebas untuk
menerima atau menolak pekerjaan tanpa menderita kerugian karena banyak diantara
mereka yang tidak bisa memperoleh pekerjaan lain. 2) pegawai biasnya melakukan usaha
yang sungguh-sungguh untuk memberikan kontribusi pada perusahaan, namun mereka
melakukannya dengan harapan perusahaan akan memperlakukan mereka dengan adil dan
sungguh-sungguh. 3) pegawai berhak diperlakukan dengan hormat sebagai individu yang
bebas dan sederajat.
Untuk alasan-alasan tersebut, sebuah kecenderungan baru muncul dan secara bertahap
menggantikan doktrin PHK sepihak, yang menyatakan bahwa pegawai memiliki hak atas
proses yang layak.
Hal yang paling penting bagi pagawai adalah hak atas proses yang layak. Proses yang
layak mengacu pada proses yang adil saat para pembuat keputusan menetapkan sanksi
pada bawahan.
Bidang paling penting dimana proses yang layak memainkan peran adalah mendengarkan
keluhan. Trotta dan Gudenberg mengidentifikasi beberapa karakteristik berikut sebagai
komponen penting dalam proses penanganan keluhan: 1) tidak sampai lima langkah
penanganan, tergantung ukuran organisasi. 2) satu catatan tertulis atas keluhan saat
melewati tingkat pertama. 3) rute alternatif untuk menangani masalah sehingga pegawai
bisa melewatu penyelia jika diinginkan. 4) batas waktu untuk setiap langkah sehingga
pegawai memiliki perkiraan kapan memperoleh jawanban. 5) izin bagi pegawai untuk
meminta satu atau dua rekan kerja menemaninya saat wawancara atau dengar pendapat.
Hak Pegawai dan Penutupan Pabrik
Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan perubahan kapasitas pabrikasi Amerika
yang beralih ke negara asing. 1) gaji pekerja kasar cenderung jauh lebih murah di negaranegara lain. 2) sejumlah pesaing luar negeri melakukan investasi untuk peralatan-peralatan
yang lebih efisien, menjalin hubungan yang lebih produktif antara perusahaan-pegawai ,
menerapkan peraturan kerja yang lebih kooperatif, dan melaksanakan program-program
lain yang mampu meningkatkan produktivitas secara relatif terhadap tingkat produksi
Amerika. 3) pihak pemerintah dan sejumlah industri manufaktur luar negeri memberikan
perencanaan, subsidi keuangan, perlindungan tarif, tingkat pajak yang menguntungkan,

sementara pemerintah Amerika hanya melakukan sedikit langkah dalam arah tersebut.
Faktor-faktor tersebut mengubah Amerika dari ekonomi pemanufakturan menuju
ekonomi jasa.
Hilangmya daya saing tentu saja bukan satu-satunya alasan penutupan pabrik. Pabrikpabrik yang ditutup karena produk mereka sudah ketinggalan zaman. Apapun
penyebabnya, penutupan pabrik membebankan biaya yang tinggi pada pegawai dan
komunitas mereka.
Prinsip utilitarian mengimplikasikan bahwa kerugian yang diakibatkan dari PHK
haruslah ditekan, dan ini selanjutnya berarti biaya penutupan pabrik harus ditanggung
oleh pihak-pihak yang memiliki sumber daya lebih besar dan juga pihak pihak yang
paling sedikit dirugikan dari tindakan tersebut.
William Diehl menyampaikan 8 langkah yang dapat dilakukan perusahaan untuk
menekan pengaruh-pengaruh merugikan dari penutupan pabrik: 1) pemberitahuan
sebelumnya, 2) pesangon, 3) jaminan kesehatan, 4) pensiun awal, 5) transfer, 6) pelatihan
kembali, 7) pembelian oleh pegawai, dan 8) pembayaran pajak lokal.
Serikat Pekerja dan Hak untuk Berorganisasi
Hak yang sama untuk menjalin hubungan secara bebas yang membenarkan pembentukan
dan keberadaan perusahaan juga mendasari organisasi pekerja yang kita sebut serikat
pekerja.
Hak pekerja untuk berorganisasi dalam serikat pekerja berasal dari hak untuk diperlakukan
sebagai manusia yang bebas dan sederajat.
Serikat pekerja secara umum dilihat sebagai sarana untuk menyeimbangkan kekuasaan
perusahaan besar sehingga para pekerja dapat saling membantu guna mencapai negosiasi
yang seimbnag dalam perusahaan.
Pekerja tidak hanya berhak membantuk serikat pekerja, namun serikat pekrja juga berhak
melakukan pemogokan. Pemogokan serikat pekerja secara moral dibenarkan sejauh hal itu
tidak melanggar ketentuan perjanjian untuk tidak mogok dan sejauh pemogokan tersebut
tidak melanggar hak-hak moral pihak lain.
Ada banyak faktor yang berkaitan dengan penurunan keanggotaan serikat pekerja,
termasuk kenaikan jumlah pekerja kerah putih dan pekerja perempuan, perubahan dari
industri manufaktur menuju industri jasa, dan turunnya kepercayaan publik terhadap
serikat pekerja. Penyebab utamanya adalah meningkatnya penolakan terhadap serikat
pekerja oleh manajer dan bertambahnya penggunaan taktik-taktik ilegal untuk
mengalahkan usaha-usaha serikat pekerja.
Politik Organisasional
Organisasi juga memiliki kantung-kantung dan saluran kekuasaan informasi: sumber-sumber
kekuasaan yang tidak terlihat dalam bagan organisasional dan penggunaan kekuasaan yan
samar dan mungkin tidak dianggap sah. Kita sekarang beralih pada bagian penting dalam
organisasi: politik organisasional.
Taktik Politik dalam Organisasi
Taktik politik adalah proses dimana individu atau kelompok menggunakan taktik-taktik
kekuasaan yang diebentuk secara non-formal untuk mencapai tujuannya sendiri.

Dalam sebuah penelitian, para responden diminta menggambarkan taktik politik yang
sering mereka jumpai dalam organisasi tempat mereka bekerja, diantaranya: menyalahkan
atau menyerang pihak lain, mengendalikan informasi, mengembangkan dukungan bagi
gagasan seseorang, membangun image, menjalin hubungan dengan pihak yang
berpengaruh, membentuk koalisi kekuasaan dan mengembangkan aliansi yang kuat,
menciptakan kewajiban.
Etika Taktik Politik
Karakteristik yang secara moral relevan dengan penggunaan taktik politik: a)
pertanyaan dari prinsip utilitarian b) pertanyaan dari prinsip hak, c) pertanyaan dari prinsip
keadilan, d) pertanyaan dari prinsip perhatian.
Prinsip utilitarian mengimplikasikan bahwa secara sukarela berusaha mencapai tujuan
yang secara sosial merugikan atau sukarela bekerja sama dalam usaha tersebut adalah
tindakan immoral, apa pun jenis taktik politik yang digunakannya.
Meskipun penggunaan taktik politik untuk menetapkan tujuan-tujuan yang tidak sah
adalah tidak etis, namun taktik politik juga bisa digunakan untuk menetapkan tujuantujuan yang secara moral sah dengan syarat taktik tersebut memenuhi 2 kriteria yaitu
konsistensi tindakan politik dengan hak moral dan kewajaran konsistensi.
Dalam upaya memutuskan apakah perlu menggunakan taktik politik atau tidak, perlu
mempertimbangkan konsekuensi jangka panjangnya terhadap diri sendiri dan pada
hubungan dengan orang lain dalam organisasi.
Organisasi yang Penuh Perhatian
Dalam organisasi caring, kepercayaan tumbuh subur karena orang merasa wajib saling
mempercayai jika mereka melihat diri mereka sebagai pihak-pihak yang saling
membutuhkan dan saling terkait.
Perhatian yang diberikan mampu mengurangi biaya organisasi dan menekan biaya
tindakan disipline, pencurian, absensi, moral, dan motivasi yang rendah.
Masalah etis yang muncul dari perspektif organisasi caring adalah: a) masalah moral
dari memberikan perhatian terlalu besar, dan b) masalah moral dari kurang memberikan
perhatian.