Anda di halaman 1dari 7

Makalah Sitohistoteknologi

Teknik Pembuatan Preparat Oles dan Rentang

Disusun Oleh
Kelompok 9 :
1. Hera Saputri (P27903115017)
2. Kurnia Yoanda Saputri (P27903115021)
3. M. Hendra Priyatna (P27903115024)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN BANTEN
JURUSAN D3 AHLI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK
TAHUN AKADEMIK 2016/2017

Teknik Pembuatan Preparat Oles dan Preparat Rentang

Pemotongan dan Persiapan Jaringan untuk Pemulasan


1. Fiksasi
Suatu larutan kimia yang mengandung bahan fiksatif pada pH 7,0 ditambahkan ke
jaringan. Bahan fiksatif yang paling umum digunakan adalah formaldehida dengan
konsentrasi 4%. Formaldehida berikatan dengan beberapa protein dan membentuk ikatan
silang, kemudian mendenaturasi protein lainnya, namun tidak berinteraksi dengan lipid.
Efek keseluruhannya adalah untuk memperkeras jaringan dan menginaktivasi enzim,
yang mencegah degradasi jaringan.
2. Dehidrasi
Untuk membuat potongan-potongan, maka jaringan harus dipendam dalam lilin. Namun
demikian, lilin (paraffin) tidak terlarut dalam air. Oleh sebab itu, air dalam jaringan harus
dihilangkan dulu dan digantikan dengan medium dimana lilin dapat larut di dalamnya.
Hal ini dilakukan pertama-tama dengan mengganti air dengan alcohol, menempatkan
jaringan dalam serangkaian larutan yang mengandung alcohol dengan konsentrasi yang
semakin meningkat, dan berakhir pada konsentrasi 100%. Proses ini dilakukan secara
bertahap dengan tujuan meminimalkan kerusakan jaringan. Selanjutnya, jaringan harus
dijernihkan sebelum dipendam dalam lilin.
3. Penjernihan (clearing)
Selanjutnya, potongan ditempatkan dalam pelarut organic seperti xylene atau toluene,
yang menggantikan alcohol. Lilin tidak larut dalam alcohol. Pelarut tersebut disebut
bahan penjernih karena jaringan sering kali terlihat tampak sangat jelas saat dipendam
dalam bahan penjernih.
4. Pemendaman (embedding)
Jaringan ditempatkan dalam lilin paraffin hangat pada suatu cetakan. Pada pendingin
selanjutnya, lilin mengeras, dan lembaran jaringan kini dapat dipotong.
5. Pemotongan
Potongan (lembaran) dengan ketebalan sekitar 10-20 mikron dipotong menggunakan
mikrotom.
6. Perekatan (mounting)
Potongan lilin diletakkan pada kaca objek mikroskop.

Pemulasan (staining)
Untuk melihat secara detail, komponen jaringan harus dipulas. Namun demikian, pewarna
yang digunakan semuanya berbahan dasar air. Oleh sebab itu, lilin harus dilarutkan dan diganti

dengan air (rehidrasi) agar zat warna mampu menembus potongan jaringan. Oleh karena itu,
potongan ditempatkan dalam alcohol dengan konsentrasi yang semakin menurun dan berakhir
pada alcohol 0% (air).
Sejumlah pewarna berbeda dapat digunakan, namun yang paling umum adalah hematoksilin
dan eosin.

Dehidrasi dan Perekatan


Specimen yang diwarnai sekali lagi didehidrasi, sebelum ditempatkan ke medium perekat yang
dilarutkan dalam xylene. Akhirnya, lembar penutup ditempatkan di atas sampel untuk
melindunginya, dan selanjutnya kaca objek dapat dilihat melalui mikroskop.

Jenis Pemotongan Lainnya


Potongan Beku
Jaringan secara cepat dibekukan, difiksasi, dan dibuat potongan dengan menggunakan kriostat
sebelum dipulas.
Potongan Semi-Tipis
Jaringan dipendam dalam resin epoksi atau akrilik, yang memiliki sifat berdebda dengan lilin,
dan memungkinkan dibuat potongan yang lebih tipis (kurang dari 2 mikron meter).

Potongan Longitudinal Dan Transversal


Jaringan yang dipotong secara longitudinal tampak berbeda dengan jaringan yang
dipotong secara transversal. Potongan longitudinal melalui tubulus ginjal menunjukkan struktur
linear panjang dengan lumen sentral, sedangkan potongan transversal atau potongan melintang
melalui tubulus yang sama menunjukkan struktur bulat dengan lumen sentral.
Potongan longitudinal melalui jaringan otot, dengan serabut otot yang panjang dan tipis,
menunjukkan pola lurik berulang diseluruh panjang serabut otot.
Potongan transversal melaui jaringan otot menunjukkan bentuk polygonal dan serabut,
dengan nucleus pada tepinya, tidak ada pola lurik yang terlihat. Potongan juga dapat dibuat
oblik, yang pada kasus tersebut tampilannya menjadi diantara potongan longitudinal dan
potongan melintang.

Potongan Serial
Potongan dibuat serial melalui jaringan. Tampilan sel dan jaringan akan tergantung dari manakah
potongan dibuat. Potongan yang dibuat melalui pertengahan sel tampak berbeda dari potongan
yang dibuat melalui tepi.

Jenis-Jenis Pulasan Histologi


Hematoksilin dan Eosin
Hematoksilin berasal dari pohon logwood (Haemotoxylum campechianum), dan hanya dapat
digunakan sebagai pewarna dalam bentuk teroksidasi (hematein). Hematoksilin adalah pewarna
yang bersifat basa yang berikatan pada struktur asam dalam sel dan memulasnya menjadi warna
biru keunguan. Struktur-struktur ini meliputi:

DNA dalam nucleus, dalam heterokromatin dan nucleolus


RNA dalam sitoplasma pada ribosom dan RE kasar.
Beberapa materi ekstraselular (misarnya karbohidrat dalam kartilago)

Eosin merupakan pewarna yang bersifat asam yang bermuatan negative. Eosin berikatan
dengan struktur basa dalam sel dan memulasnya menjadi merah atau merah muda. Strukturstruktur ini mencakup:
Sebagian besar protein dalam sitoplasma
Beberapa serabut ekstraselular
Sel-sel dalam jaringan yang terpulas dengan H&E menjadi warna merah muda, dengan
nucleus berwarna ungu.

Jenis Pulasan Histologi Lainnya


a. Pulasan Jaringan Ikat
Metode Masson Trikrom menggunakan tiga pewarna berbeda (hematoksilin, acid
fuchsin, dan methyl blue), menghasilkan tiga warna dalam potongan yang dipulas.
Nucleus terpulas menjadi biru
Sitoplasma, sel darah merah, dan keratin terpulas menjadi merah cerah
Kolagen dalam membrane basal, jaringan ikat, dan kartilago terpuls menjadi hijau
Pulasan yang juga digunakan untuk mewarna jaringan ikat adalah Van Gieson.
b. Pulasan Giemsa
Jenis pulasan ini digunakan untuk sumsum tulang dan apus darah
Sel darah merah terpulas menjadi merah muda (tidak memiliki nucleus)
Sel darah putih : sitoplasma terpulas menjadi biru pucat dan nucleus terpulas
menjadi biru tua/ungu.
c. Pulasan Perak (untuk neuron)
Pulasan histologis standar tidak dapat digunakan pada neuron, terutama karena
membrane plasmanya kaya akan lipid. Lebih jauh lagi, nucleus tidak terdeteksi, kecuali
jika potongan meliputi bagian system syaraf pusat yang merupakan tempat dari mayoritas
nucleus.

Namun demikian, pulasan perak dapat digunakan dengan baik. Pulasan perak
memulas saraf dan terminal akson menjadi warna hitam. Metode alternatifnya adalah
Golgi-Cox (merkuri klorida, kalium kromat, dan dikromat).
d. Cresyl Violet
Pulasan ini digunakan untuk mewarnai substansi Nissl (reticulum endoplasma kasar)
dalam badan sel neuron.
e. Pulasan Karbohidrat dan Musin
Dalam reaksi periodic acid Schiff (PAS), asam periodat mengoksidasi karbohidrat
dan molekul yang kaya karbohidrat seperti glikosaminoglikan, dan reagen Schiff
memulas molekul teroksidasi yang dihasilkan menjadi warna ungu gelap kemerahan. PAS
dikombinasikan dengan pewarna Alcian blue yang memulas sejumlah musin (protein
terglikosilasi) menjadi warna biru gelap.
Sel-sel goblet yang kaya akan kerbohidrat dan musin, terpulas menjadi ungu
kemerahan. Kelenjar yang kaya musin akan terpulas menjadi warna biru gelap.
f. Pulasan untuk Lipid
Pulasan lipid meliputi Oil Red O, sudan black, an nile blue, an memulas selubung myelin
neuron menjadi hitam kecokelatan.

Teknik Pembuatan Preparat


A. Metode oles (smear methods)
Metode oles adalah suatu pembuatan sediaan dengan jalan mengoles/ membuat
selaput (film) dari substansi yang berupa cairan atau bukan cairan di atas gelas benda
yang bersih dan bebas lemak, untuk selanjutnya kemudian di fiksasi, diwarnai dan ditutup
dengan gelas penutup. Bahan yang sering dibuat sediaan oles yaitu darah, nanah atau
jaringan-jaringan tertentu. Cara ini sangat baik untuk mempelajari sitology darah,
sumsum tulang merah, eksudat dari bermacam-macam jaringan yang meradang.
Contoh pembuatan sediaan oles :
1. Pembuatan sediaan darah tipis
2. Pembuatan sediaan oles dari jaringan
3. Pembuatan sediaan darah tebal
4. Pembuatan sediaan nanah yang tebal
Prosedur pembuatan sediaan oles :
1. Gelas benda A dibersihkan dengan menggunakan alcohol yang diteteskan pada tissue
2. Tangan kiri dikibas-kibaskan dengan telapak, posisi telapak tangan kiri sejajar perut
selama 20 detik
3. Lalu ujung jari tengah tangan kiri di urut selama 5 detik kemudian di sterilkan dengan
kapas yang dibasahi alcohol.

4. Blood lancet steril ditusukkan pada ujung jari tengah tangan kiri, tetes darah pertama
dibuang dengan cara diusapkan pada kapas
5. Tetes darah kedua di tempelkan pada sisi kanan jarak 1 cm gelas benda A yang telah
bebas lemak.
6. Salah satu ujung sisi gelas benda B ditempelkan disebelah kiri pada tetes darah di
gelas benda A dengan sudut 450
7. Ditarik ke sisi kanan sampai tetes darah tersentuh dan melebar ke sisi gelas benda B,
lalu di dorong ke sisi kiri dengan kecepatan tetap. Hasilnya akan terbentuk apusan
darah/film darah. Apusan darah dikeringkan di atas rak pewarnaan selama 10 menit.
Beberapa pewarnaan sediaan oles yaitu pewarnaan Giemsa, pewarnaan May
Grunwald (larutan eosin methylene blue dalam methyl alcohol), pewarnaan
Pappenheim, pewarnaan Wright.
B. Metode Rentang (spread methods)
Metode rentang adalah suatu metode pembuatan sediaan dengan cara
merentangkan suatu jaringan pada permukaan gelas benda sehingga dapat diamati dengan
mikroskop. Pada umumnya jaringan-jaringan yang dapat dibuat preparat rentang adalah
adalah jaringan-jaringan yang tipis, misalnya pleura, mesenterium, peritoneum,
plarachnoidea, pericardium, dll.
Rudiyatmi (2004), menyatakan bahwa jaringan-jaringan tipis seperti pericardium
dapat langsung diamati di bawah mikroskop tanpa pewarnaan dan juga tanpa fiksasi lebih
dulu. Tetapi pembuatan sediaan rentang dengan cara tersebut tentu saja tidak tahan lama,
karena jaringan tidak difiksasi terlebih dahulu. Untuk membuat sediaan rentang yang
dapat tahan lama dan dapat diamati sewaktu-waktu, maka sediaan tersebut harus difiksasi
terlebih dahulu sebelum diwarnai.
Handari (1983), menyatakan bahwa zat warna yang dapat digunakan dalam
membuat preparat ini antara lain hematoxilin, eosin, dan methylene blue. Pewarna
hematoxilin dengan pelarut aquadest sangat baik untuk mewarnai inti yang akan
berwarna biru. Pewarna eosin dengan pelarut alcohol 70% sangat baik untuk mewarnai
sitoplasma dengan warna merah, sedangkan methylene blue digunakan pada preparat
dengan cara meneteskan langsung ke jaringan kemudian diamati di bawah mikroskop
yang mana methylene blue akan mewarnai butir-butir pada mast cell. Metode rentang
juga dapat digunakan untuk tujuan sitology dan histologi serta juga dapat digunakan
untuk tujuan sitokimiawi seperti penelitian phosphatase dan hyaluroidase.
Alat dan bahan yang digunakan untuk sediaan preparat rentang
a. Alat
1. Bak parafin 1 buah
2. Seperangkat alat bedah lengkap
3. Cawan petri 6 buah
4. Nampan 1 buah

5.
6.
7.
8.

Objek glass 6 buah


Jarum secukupnya
Pipet 6 buah
Mikroskop

b. Bahan
1. Subkutis (jaringan ikat atau jaringan lemak), mesenterium, pericardium
2. Methyl alcohol 3%
3. Alcohol (absolute, 96%, 90%, 80%, 70%)
4. Eosin
5. Toluol
6. xylol
Cara pengambilan :
1. Mengambil jaringan segar yang digunakan dengan menggunakan benda tajam seperti
jarum preparat, scalpel, atau pisau runcing.
2. Merentangkan sayatan jaringan segar pada objek glass kering
3. Memfiksasi menggunakan methyl alcohol 3% selama 1-3 menit.
4. Dilanjutkan dengan alcohol absolut, alcohol 96%, alcohol 90%, alcohol 80%, alcohol
70% dengan masing-masing 1-3 menit
5. Dilanjutkan dengan eosin 1-3 menit, alcohol 70%, alcohol 80%, alcohol 90%, alcohol
96%, alcohol absolute, toluol, dan xylol masing-masing 1-3 menit.
6. Menutup preparat menggunakan deck glass
7. Lalu amati di bawah mikroskop

Daftar Pustaka

http://dokumen.tips/documents/pembatan-preparat.html
https://khayasar.wordpress.com/2012/10/06/preparat-rentang/

Peckham, Michelle.2014.At a Glance Histologi.Jakarta:Erlangga