Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

OD Pterigium Grade III


OS Lekoma
OD Katarak Imatur
ODS Presbiopia
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Dalam Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian Ilmu Penyakit Mata RST dr. Soedjono Magelang

Disusun Oleh:
Rifai Hubni Khamdi Putra
30.10.120.6710
Pembimbing:
dr. Dwidjo Pratiknjo, Sp. M.
dr. YB. Hari Trilunggono, Sp. M.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2016

LEMBAR PENGESAHAN

OD Pterigium Grade III


OS Lekoma
OD Katarak Imatur
ODS Presbiopia

Diajukan untuk memenuhi syarat Ujian Kepaniteraan Klinik


Bagian Ilmu Penyakit Mata RST Tingkat II
dr. Soedjono Magelang

Telah disetujui dan dipresentasikan


pada tanggal:

Juni 2016

Disusun oleh:
Rifai Hubni Khamdi Putra
10.10.120.6710

Dosen Pembimbing,

dr. Dwidjo Pratiknjo, Sp.M

dr. YB. Hari Trilunggono, Sp.M

BAB I
REFLEKSI KASUS

I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. U

Umur

: 60 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Secang

Pekerjaan

: Buruh Tani

Tanggal Periksa

: 3 Juni 2016

ANAMNESIS

Keluhan Utama

: Terdapat selaput pada mata kanan,


Mata kanan terasa mengganjal dan pegal.

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan terdapat selaput pada mata kanan, mata terasa
mengganjal dan pegal sejak kurang lebih 2 tahun yang lalu. Awalnya pada saat
bercermin, pasien melihat adanya selaput yang bewarna putih pada mata
kanannya tetapi pasien tidak merasakan apa - apa sehingga pasien
membiarkannya. Selaput tersebut semakin lama semakin melebar, dan sampai
ke bagian mata yang hitam. Pasien juga mengeluh mata kanan terasa agak
nerocos. Pasien setiap hari bekerja sebagai buruh tani di sawah. Mulai 3 bulan
ini pasien mengeluh penglihatan pada mata kanan juga mulai kabur.
Riwayat infeksi diakui pada mata kiri pasien. Pasien pernah memeriksakan diri
di poli mata RS dr Soedjono. Riwayat pemeriksaan menunjukkan adanya OS
ulkus kornea. Awalnya dahulu kurang lebih 3 tahun yang lalu pasien mengeluh
matanya merah, lalu dibiarkan, lama-kelamaan keluhan mata merah tersebut
disertai gangguan dalam penglihatan berat, sehingga membuat pasien ingin
periksa ke poli mata. Setelah dilakukan pengobatan dan sembuh, saat
bercermin pasien melihat mata kirinya tampak keputihan. Saat ini pasien

mengeluh penglihatan untuk mata kirinya sangat kabur, hanya terlihat seperti
remang-remang cahaya.
Sebelum pasien mengeluh matanya merah pasien mengaku juga memiliki
keluhan pandangan matanya agak kabur dan berkabut sudah dimulai sejak
kurnag lebih 3 tahun yang lalu. Pasien tidak memiliki riwayat gangguan
penglihatan jauh saat masih muda dan tidak memiliki riwayat penggunaan
kacamata sebelum usia 40 tahun. Keluhan tersebut kemudian dirasa makin
memberat akibat keluhan pada mata kanan dan kirinya. Pasien sebelumnya
tidak memiliki riwayat penglihatan yang lebih jelas pada malam hari. Pasien
menyangkal adanya keluhan melihat pelangi saat memandang lampu, mata
merah, pandangan ganda, nyeri kepala cekot-cekot hingga mual dan muntah.
Pandangan menyempit dan sering tersandung jika berjalan juga disangkal oleh
pasien. Riwayat trauma pada mata disangkal, penggunaan obat-obatan
amiodaron, fenotiazin, fenitoin disangkal.
Pasien mengaku tidak bisa membaca, sehingga pasien tidak mengetahui pada
saat berusia 40 tahun pasien mengeluh adanya gangguan pada saat membaca
atau tidak. Pasien tidak memiliki riwayat penggunaan kacamata setelah usia 40
tahun.
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat terpapar debu

: diakui

Riwayat terpapar angin

: diakui

Riwayat serupa sebelumnya

: disangkal

Riwayat infeksi pada mata

: diakui pada mata kiri

Riwayat merokok

: disangkal

Riwayat kacamata

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga tidak ada yang memiliki gejala yang serupa.


Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien bekerja sebagai buruh tani. Biaya pengobatan pasien ditanggung


oleh BPJS, kesan ekonomi kurang.

III.

PEMERIKSAAN FISIK

Status Umum :
Kesadaran

: Compos mentis

Aktifitas

: Normoaktif

Kooperatif

: Kooperatif

Status gizi

: Baik

Vital Sign :
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Nadi
: 70 x/menit
RR
: 22 x/menit
Suhu
: 36,5C
Gambar Ilustrasi

Status Oftalmikus
Pemeriksaan

OD

OS

6/20

1/300

Baik ke Segala arah


-

Baik ke Segala arah


-

Normal

Normal

Visus
Bulbus Oculi

Gerak bola mata


Strabismus
Eksoftalmus
Enoftalmus

Suprasilia

Palpebra Superior

Vulnus laceratum
Edema
Hematom
Hiperemi
Entropion
Ektropion
Silia
Ptosis

Trikiasis (-)
-

Trikiasis (-)
-

Palpebra Inferior

Vulnus laceratum

Edema

Hematom

Hiperemi

Entropion

Ektropion
Silia
Ptosis
Konjungtiva

Injeksi konjungtiva
Injeksi siliar
Sekret
Perdarahan

subkonjungtiva
Bangunan patologis

Trikiasis (-)
-

Trikiasis (-)
Tidak ditemukan

+
Pada daerah temporal terdapat
jaringan fibrovaskuler yang
berbentuk segitiga sudah
melewati limbus kornea

Semblefaron

Kornea

Kejernihan
Mengkilat
Edema
Lakrimasi
Infiltrat
Keratic Precipitat
Ulkus
Sikatrik

Bangunan patologis

Jernih

Keruh

Tidak dapat dinilai

Tidak dapat dinilai

+
Terdapat lekoma

Tidak ditemukan

Terdapat jaringan
fibrovaskuler perlanjutan
dari arah temporal yang
melewati limbus lebih 2 mm
dan belum mencapai pupil
COA

Kedalaman
Hipopion
Hifema
Tyndall Efect

Tidak dapat dinilai


Dangkal
-

Iris

Kripta
Edema
Sinekia
Atrofi

Tidak dapat dinilai


+
-

Pupil

Bentuk
Diameter
Reflek pupil
Sinekia

Tidak dapat dinilai


Bulat
3 mm
+
-

Lensa

Kejernihan
Iris shadow

Keruh sebagian

Tidak dapat dinilai

Tidak dapat dinilai

(+) cemerlang

(+) suram sekali

Fundus Refleks
Funduskopi

Tidak dapat dinilai

Papil N II
Fokus 0

Aa/vv Retina
Macula
reflek fovea
eksudat
edema
Retina
Edema
Bleeding
Cotton wool spot

Orange CDR 0,3


2:3
+
-

TIO

Normal

Normal

IV.

DIAGNOSIS BANDING
Pterigium
1. OD Pterigium Grade III
Dipertahankan karena pada pterigium grade III, pterigium melewati
limbus tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya
normal (diameter pupil sekitar 3-4 mm).
2. OD Pterigium Grade II
Disingkirkan karena dari pemeriksaan pterigium sudah melewati limbus
dan belum mencapai pupil, tidak lebih 2 mm melewati kornea.
3. OD Pterigium Grade IV

Disingkirkan karena pada pterigium grade IV, pertumbuhan pterigium


sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan.
4. OD Pseudopterigium
Disingkirkan karena pada pseudopterigium didapatkan adanya riwayat
trauma pada kornea dan ada perlekatan antara konjungtiva dan kornea
akibat ulkus di kornea yang menahun.
5. OD Pinguekula
Disingkirkan karena pada pinguekula berbentuk nodul, meninggi, masa
kekuningan dengan limbus pada konjungtiva bulbi di fissura interpalpebra.
Pingekuela merupakan degenerasi hialin jaringan submukosa. Sedangkan
pada kasus ini berbentuk segitiga dari konjungtiva ke kornea.
Sikatrik Kornea
1. OS Leukoma
Dipertahankan karena pada leukoma didapatkan bercak putih seperti
porselen yang tampak dari jarak jauh, yang merupakan jaringan sikatrik
setelah penyembuhan proses radang pada kornea yang lebih dalam tanpa
adanya perforasi sebelumnya.
2. OS Leukoma Adherens
Disingkirkan karena dari pemeriksaan didapatkan sinekia anterior
3. OS Makula
Disingkirkan karena pada makula terlihat putih di kornea, dapat dilihat di
kamar terang dengan focal ilumination
Katarak
1. OD Katarak Senilis Imatur
Dipertahankan karena pada katarak matur didapatkan kekeruhan pada
lensa yang merata, iris shadow (-), dan COA dangkal.
2. OD Katarak Senilis Matur
Disingkirkan karena pada katarak matur didapatkan kekeruhan pada lensa
yang merata, iris shadow (-), dan COA cukup.
Presbiopia
1. ODS Prebiopia
Dipertahankan karena pasien berusia lebih dari 40 tahun, memiliki keluhan
mata cepat lelah dan pegal setelah membaca, dan dapat dikoreksi dengan
lensa add S+1,75
2. ODS Presbiopia Precock
Disingkirkan karena pasien mengeluh gangguan membaca saat usia diatas
V.

40 tahun
PEMERIKSAAN PENUNJANG
9

Topografi kornea dilakukan untuk menilai seberapa besar komplikasi


berupa astigmatisme irreguler yang disebabkan oleh pterigium
VI. DIAGNOSIS KERJA
OD Pterigium Grade III
OS Leukoma
OD Katarak Imatur
ODS Presbiopia
VII.
TERAPI
Non Medikamentosa
o Tidak ada
Medikamentosa
o Oral
Tidak ada
o Topikal
Kortikosteroid : Dexametason sodium phosphate 1 mg ED

tetes 4x sehari OD
Dekongestan
: Naphazoline (Vasacon-A 15 ml) ED tetes

2x sehari OD
Catarlent (CaCl anhidrat 0,075 gr, kalium iodide 0,075 gr,
natrium tiosufa 0,00075 gr, fenil merkuri nitrat 0,3 mg) ED

VIII.

IX.

3x1 tetes OD
o Parenteral
Tidak ada
o Operatif
konjungtival grafi
KOMPLIKASI
Pterigium :
a. Astigmatisme
b. Diplopia
EDUKASI
OD Pterigium Grade III
a. Menjelaskan kepada pasien bahwa pada mata kirinya terdapat selaput yang
disebut pterigium.
b. Menjelaskan kepada pasien bahwa selaput pada mata tersebut tidak bisa
sembuh atau hilang hanya dengan obat-obatan seperti tetes mata.
c. Memberitahu pasien bahwa selaput pada mata tersebut belum perlu untuk
dilakukan operasi, dikarenakan tidak mengganggu penglihatan.

10

d. Menjelaskan kepada pasien bahwa selaput tersebut dapat terus melebar


sampai mengganggu penglihatan. Jika sudah menganggu penglihatan
makan perlu dilakukan operasi.
e. Menjelaskan kepada pasien bahwa pasien dapat mencegah semakin
melebarnya selaput pada mata tersebut. Pasien sebaiknya menggunakan
topi, kacamata, dan masker saat bekerja, beraktifitas di luar rumah, dan
berpergian untuk mengurangi pajanan terhadap sinar matahari, debu, dan
angin agar pterigium tidak semakin melebar.
f. Operasi dilakukan karena pterigium melebar sampai mengganggu
penglihatan. Setelah operasi dapat menimbulkan bekas dan bekas tersebut
tidak bisa hilang tetapi tidak mengganggu penglihatan kalau bekasnya tidak
di tengah.
g. Menjelaskan kepada pasien bahwa meskipun sudah dioperasi namun pada
beberapa kasus tapi jarang, selaput tersebut dapat tumbuh kembali.
OS Leukoma
a. Menjelaskan pada pasien bahwa bercak putih pada mata kiri tidak bisa
sembuh dan menetap sehingga mengganggu penglihatan mata kiri.
b. Menjelaskan kepada pasien salah satu jalan untuk memperbaiki
penglihatan pada mata kiri harus dilakukan cangkok kornea.
OD Katarak Imatur
a. Menjelaskan kepada pasien bahwa penglihatan kabur pada mata disebabkan
oleh lensa yang keruh yang disebut katarak.
b. Menjelaskan bahwa obat-obatan yang diberikan hanya untuk memperlama
proses penebalan pada lensa.
c. Menjelaskan bahwa saat katarak sudah matang, maka harus dilakukan
operasi supaya penglihatan pasien membaik.
ODS Presbiopia
a. Menjelaskan bahwa penurunan tajam penglihatan dekat untuk membaca
yang dialami salah satunya disebabkan oleh melemahnya otot mata karena
usia tua .
b. Menjelaskan bahwa penurunan tajam penglihatan dekat yang terjadi dapat
diperbaiki dengan kaca mata baca.
c. Menjelaskan bahwa penurunan tajam penglihatan dekat yang terjadi dapat
terjadi perubahan terus sehingga pasien harus sering kontrol dan
menyesuaikan ukuran kaca mata baca pasien dengan pertambahan usia.

11

d. Mengingatkan pasien untuk memperhatikan sumber pencahayaan saat


X.

membaca, terutama pada malam hari.


RUJUKAN
Dalam kasus ini tidak dilakukan rujukan ke Disiplin Ilmu Kedokteran
lainnya karena dari pemeriksaan klinis tidak ditemukan kelainan yang

XI.

berkaitan dengan Disiplin Ilmu Kedokteran lainnya.


PROGNOSA
Prognosis
Quo ad visam
Quo ad sanam
Quo ad functionam
Quo ad kosmetikan
Quo ad vitam

Oculus Dexter
Dubia ad Bonam
Dubia ad Bonam
ad Bonam
ad Bonam
ad Bonam

Oculus Sinister
Dubia ad Malam
ad Malam
ad Bonam
Dubia ad Malam
ad Bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
.1. Defnisi
Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk
segitiga yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju kornea pada daerah
fissura interpalpebra.
.2. Epidemiologi
Pterigium tersebar diseluruh dunia, tetapi lebih banyak di daerah iklim
panas dan kering. Prevalensi juga tinggi di daerah berdebu dan kering.
Pasien dibawah umur 15 tahun jarang terjadi pterigium. Insiden tinggi
pada umur antara 20 dan 49. Kejadian berulang (rekuren) lebih sering pada
umur tua. Laki- laki 4 kali lebih berisiko dari perempuan dan berhubungan
dengan merokok, pendidikan rendah, riwayat terpapar lingkungan di luar
rumah.
.3. Faktor Risiko
Pterigium diduga merupakan fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet,
pengeringan dan lingkungan dengan angin banyak. Faktor lain yang

12

menyebabkan pertumbuhan pterigium antara lain uap kimia, asap, debu,


dan benda- benda lain yang terbang masuk ke dalam mata.

.4. Patogenesis

Pemisahan fibroblast dari jaringan pterigium menunjukkan perubahan


fenotipe. Lapisan fibroblast pada bagian pterigium menunjukkan
proliferasi sel yang berlebihan.
Pada fibroblast pterigium menunjukkan matrix metalloproteinase,
dimana matriks ekstraselluler berfungsi untuk jaringan yang rusak,
penyembuhan luka, mengubah bentuk. Hal ini menjelaskan mengapa

13

pterigium cenderung terus tumbuh, invasi ke stroma kornea dan terjadi


reaksi fibrovaskular dan inflamasi.
2.5 Klasifikasi
Klasifikasi pterigium :
a. Pterigium simpleks

: jika terjadi hanya dibagian nasal atau

temporal saja
b. Pterigium dupleks
: jika terjadi pada nasal dan temporal.
Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia derajat
pertumbuhan pterigium dibagi menjadi :
a. Derajat I
: hanya terbataas pada limbus kornea
b. Derajat II
: sudah melewati limbus tetapi tidak melebihi dari 2
mm melewati kornea.
c. Derajat III
: jika telah melebihi derajat II tetapi tidak melebihi
pinggir pupil mata dalam keadaan cahaya normal (pupil dalam
keadaan normal sekitar 3-4 mm)
d. Derajat IV
: jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil
sehingga mengganggu penglihatan.
Pembagian pterigium berdasarkan perjalanan penyakit dibagi atas 2
tipe, yaitu:
a. Progresif pterigium
Tebal dan vaaskular dengan beberapa infiltrat di depan kepala
pterigium (disebut cap pterigium)
b. Regresif pterigium
Tipis, atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya menjadi membentuk
membran tetapi tidak pernah hilang.
2.6 Gambaran Klinis dan Gejala Klinis
Secara klinis pterigium muncul sebagai lipatan berbentuk segitiga pada
konjungtiva yang meluas ke kornea pada daerah fissure interpalpebra.
Biasanya pada bagian nasal tetapi dapat juga terjadi pada bagian
temporal.
Bisa unilateral atau bilateral.
Pterigium yang terjadi di sebelah nasal dan temporal dapat terjadi
secara bersamaan. Kedua mata sering terlibat, tetapi jarang simetris.
Jika perluasan pterigium sampai menutupi pupil, mengakibatkan
gangguan pada penglihatan.

14

2.7 Diagnosis
a. Anamnesa
Pada anamnesa ditanyakan adanya keluhan pasien seperti mata merah,
gatal, mata sering berair, gangguan penglihatan. Selain itu juga perlu
ditanyakan riwayat mata merah berulang, riwayat sering terpapar angin,
debu, sinar matahari.
b. Pemeriksaan fisik
Pada inspeksi pterigium terlihat sebagai jaringan fibrovaskular pada
permukaan konjungtiva. Pterigium dapat memberikan gambaran vaskular
dan tebal tetapi ada juga pterigium yang avaskular dan flat. Pterigium
paling sering ditemukan pada konjungtiva nasal dan berekstensi ke kornea
nasal, tetapi dapat pula ditemukan pterigium pada daerah temporal.
c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan pada pterigium adalah
topografi kornea untuk menilai seberapa besar komplikasi berupa
2.8

astigmatisme ireguler yang disebabkan oleh pterigium.


Diagnosis Banding
a. Pinguekula
Penebalan terbatas pada konjungtiva bulbi, berbentuk nodul yang
bewarna kekuningan. Tindakan eksisi tidak diindikasikan. Prevalensi dan
insiden meningkat dengan meningkatnya umur. Pinguekula sering pada
iklim sedang dan iklim tropis dan angka kejadian sama pada laki- laki dan
perempuan.
b. Pseudopterigium
Pterigium umumnya didiagnosis banding dengan pseudopterigium.
Berbeda dengan pterigium, pseudopterigium adalah akibat inflamasi
permukaan ocular sebelumnya seperti trauma, trauma kimia, konjungtivitis
15

sikatrikal, trauma bedah atau ulkus perifer kornea. Untuk mengidentifikasi


pseudopterigium, cirinya tidak melekat pada limbus kornea. Pada
pseudopterigium tidak dapat dibedakan antara head, cap,dan body dan
pseudopterigium cenderung keluar dari ruang fissure interpalpebra yang
berbeda dengan pterigium.
2.9 Penatalaksanaan
Karena kejadian pterigium berkaitan dengan aktivitas lingkungan,
penanganan pterigium asimptomatik atau dengan iritasi ringan dapat
diobati dengan kacamata sinar UV-blocking dan salep mata.
Pengobatan pterigium yang meradang atau iritasi dengan topikal
dekongestan atau kombinasi antihistamin dan atau kortikosteroid topikal
ringan empat kali sehari.
Bedah eksisi adalah satu - satunya pengobatan yang memuaskan.
Berbagai teknik bedah yang digunakan saat ini untuk pengelolaan
pterigium :
a. Bare sclera: bertujuan untuk menyatukan kembali konjungtiva
dengan permukaan sclera. Kerugian dari teknik ini adalah
tingginya tingkat rekurensi pasca pembedahan yang dapat
mencapai 40-75%.
b. Simple closure: menyatukan langsung sisi konjungtiva yang
terbuka, dimana teknik ini dilakukan bila luka pada konjungtiva
relative kecil.
c. Sliding flap: dibuat insisi berbentuk huruf L disekitar luka bekas
eksisi untuk memungkinkan dilakukannya penempatan flap.
d. Rotational flap: dibuat insisi berbentuk huruf U disekitar luka
bekas eksisi untuk membentuk seperti lidah pada konjungtiva yang
kemudian diletakkan pada bekas eksisi.
e. Conjungtival grafi: menggunakan free graft yang biasanya diambil
dari konjungtiva bulbi bagian superior, dieksisi sesuai dengan
ukuran luka kemudian dipindahkan dan dijahit atau difiksasi
dengan bahan perekat jaringan.
f. Amniotic membrane transplantation
Ada
juga
teknik
lain
yaitu,
transplantation, yaitu

teknik

Amniotic

gafting dengan

membrane
menggunakan

membran amnion, yang merupakan lapisan paling dalam dari


16

plasenta yang mengandung membrana basalis yang tebal dan


matriks stromal avaskular. Dalam dunia oftalmologi, membran
amnion ini digunakan sebagaidraft dan dressing untuk infeksi
kornea, sterile melts, dan untuk merekonstruksi permukaan okuler
untuk

berbagai

macam

prosedur.

Dokumentasi

pertama

penggunaan membran amnion ini yaitu yang dilakukan oleh De


Rotth pada tahun 1940 untuk rekonstruksi konjungtiva. Dengan
angka kesuksesan yang rendah. Sorsby pada tahun 1946 dan 1947.
Ada juga Kim dan Tseng yang memperkenalkan kembali ide ini
dan mempopulerkannya. Cara kerja teknik ini adalah dimana
komponen membran basalis dari membran amnion ini serupa
dengan komposisi dalam konjungtiva. Untuk alasan inilah teori
terkini

menyatakan

bahwa

membran

amniotik

memperbesar support untuk limbal stem cells dan cornea transient


amplifying cells. Klonogenisitas dipelihara dengan meningkatkan
diferensiasi sel goblet dan non goblet . lebih jauh lagi, hal tersebut
dapat menekan diferensiasi miofibroblast dari fibroblas normal
untuk mengurangi scar dan pembentukan vaskuler. Mekanisme ini
membantu penyembuhan untuk rekonstruksi konjungtiva, defek
epitel, dan ulserasi stromal.
g. Tetes mata mitomycin C digunakan sebagai terapi tambahan untuk
pterigium primer dan rekuren pasca dilakukan tindakan operatif.
Mitomycin C (MMC) adalah agen kemoterapi yang umum yang
menghambat pertumbuhan sel. Ia juga dikenal untuk mengurangi
proliferasi fibroblast. Penggunaan mitomycin C bermanfaat untuk
mencegah kekambuhan pasca dilakukan bedah eksisi pterigium.
Tehnik

ini

dimulai

dengan

melakukan

tindakan

bedah

konvensional. Kemudian sebuah spons yang dicelupkan dalam


larutan (solution) Mitomycin C kemudian diletakkan di bawah flap
konjungtiva dan di belakang limbus. Selanjutnya 0,1 cc dari 0.4
mg/mL (0.04%) Mytomitocin C diaplikasikan pada ruangan

17

subkonjungtiva selama 3 menit. Langkah selanjutnya adalah


dengan membasuh sklera selama kurang lebih 5 menit dengan
menggunakan larutan fisiologis. Dengan dosis Mitomycin C yang
tepat, persentase kekambuhan pterygium menjadi semakin rendah
dan komplikasi terhadap penglihatan tidak ditemukan.
2.10 Komplikasi
Kompikasi pterigium meliputi iritasi, kemerahan, diplopia, dan
astigmatisme.
2.11 Prognosis
Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik.
Kebanykan pasien dapat beraktivitas lagi setalah 48 jam post operasi.

18