Anda di halaman 1dari 12

BAGIAN IKM-IKK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
LAPORAN KASUS PUSKESMAS
MEI 2014

OTITIS EKSTERNA AURICULA DEXTRA

OLEH :
INDAH PERMATASARI
110207136

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN IKM-IKK FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2014

LAPORAN KASUS
I.

II.

Identitas Pasien
Nama

: Nn. RE

Umur

: 20 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Bangsa/suku

: Makassar

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Mahasiswa

Alamat

: Jln. Harimau, Makassar

Tanggal Pemeriksaan

: 29 April 2014

Anamnesis
Keluhan Utama :
Keluar darah dari liang telinga kanan
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Pustu dengan keluhan keluar darah dari liang telinga
kanan sejak 3 hari yang lalu. Dua hari sebelumnya, dari telinga kanan
pasien juga keluar cairan berupa nanah yang berwarna kuning
kehijauan. Pasien mengaku mempunyai kebiasaan sering mengorek
telinga

karena

telinganya

terasa

gatal.

Pasien

juga

merasa

pendengarannya sedikit berkurang dan telinga kanannya terasa nyeri.


Pasien merasa bahwa telinganya tidak pernah kemasukan air saat
mandi. Keluhan telinga berdenging, batuk, pilek dan demam disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien pernah mengalami keluhan yang serupa pada telinga kanan juga
saat masih duduk di bangku SMP. Pasien kemudian berobat ke
Puskesmas, dokter yang bertugas di sana memberikan obat tetes telinga,
dan setelah menggunakan obat tersebut pasien pun sembuh.

Riwayat Penyakit Keluarga/Sosial :


Pasien tidak memiliki keluarga dengan keluhan yang serupa.
Riwayat Alergi :
Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi makanan, obat-obatan,
serta tidak pernah meler dan bersin-bersin saat terkena debu atau
dingin.
III.

Pemeriksaan Fisik
Status Generalis :

Keadaan umum
Kesadaran
Tanda vital

: baik
: compos mentis
: - TD
: 110/80 mmHg
- Nadi
: 74 x/menit
- Respirasi : 17 x/menit
- Suhu
: 37,1C

Kepala

: anemis (-), sianosis (-), ikterus (-)

Leher

: Dalam batas normal

Thorax

: Vesikuler, Rh -/-, Wh -/-

Cor

: SI/II reguler, murni

Abdomen

: Nyeri tekan (-)


Peristaltik (+) kesan normal

Ekstremitas

: Edema (-), dalam batas normal

Status Lokalis :
Pemeriksaan Telinga
No

Pemeriksaan Telinga

Telinga Kanan

Telinga Kiri

.
1.

Tragus

2.

Daun telinga : aurikula, Bentuk dan ukuran telinga Bentuk dan ukuran telinga
preaurikuer, retroaurikuler.

Nyeri tekan (+), edema (-)

Nyeri tekan (-), edema (-)

dalam batas normal, lesi dalam batas normal, lesi

pada kulit (-), hematoma (-), pada kulit (-), hematoma (-),
massa (-), fistula (-), nyeri massa (-), fistula (-), nyeri
tarik aurikula (-).
3.

Liang telinga (MAE)

tarik aurikula (-).

Serumen (-), hiperemis (+), Serumen (-), hiperemis (-),


edema (+), penyempitan (+), edema (-), penyempitan (-),
furunkel (-), otorhea (-).

furunkel (-), otorhea (-).

MAE edema dan hiperemis


4.

Membran timpani

IV.

Tidak dapat dievaluasi

Tidak dapat dievaluasi

Diagnosis
Otitis Externa Difus Auricula Dextra

V.

Penatalaksanaan

Pengobatan farmakologi yang diberikan adalah :


1. Obat tetes telinga 3-5 tetes

3-4 x sehari

2. Cefadroxyl 500 mg

2 x 1 tab

3. Metil prednisolon 4mg

3 x 1 tab

4. Vitamin BC/C

3 x 1 tab

Edukasi Pasien
Pasien sebaiknya menjaga kebersihan telinga untuk mencegah
terjadinya kekambuhan.
Pasien diberitahu untuk tidak mengulangi kebiasaannya yang sering
mengorek telinga.
Pasien diberitahu cara menggunakan obat tetes telinga, yaitu :
Kepala dimiringkan ke samping dengan posisi telinga kanan
menghadap ke atas.

Tarik daun telinga sedemikian rupa sehingga lubang telinga

terbuka lebar.
Teteskan obat tetes telinga sebanyak 3-5 tetes, diamkan selama 5
menit sebelum kepala pasien kembali tegak.

Antibiotik harus diminum sampai habis selama 7 hari.

PEMBAHASAN PENYAKIT
OTITIS EKSTERNA
Definisi
Otitis eksterna adalah peradangan pada kulit yang melapisi meatus akustikus
eksternus, baik akut maupun kronis, yang disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur
dan virus. Otitis eksterna ditandai dengan gejala iritasi, deskuamasi, discharge,
dan

kemungkinan

relaps.

Tatalaksana

penyakit

ini

sederhana,

namun

keberhasilannya tergantung pada kepedulian pasien terhadap penyakitnya dan


kepatuhan untuk menjaga kebersihan telinga (Bull, 2002).
Faktor yang mempermudah radang telinga luar adalah :
Perubahan pH di liang telinga, yang biasanya normal atau asam. Bila pH
menjadi basa, proteksi terhadap infeksi menurun.
Pada keadaan udara yang hangat dan lembab, bakteri dan jamur mudah
tumbuh.
Trauma ringan seringkali karena berenang atau membersihkan telinga secara
berlebihan (mengorek-ngorek telinga).
Pemakaian topikal obat tetes telinga, terutama antibiotik, contohnya
neomycin, framycetyn, gentamicin, polimixin, serta anti histamin.
Alergi terhadap metal dan nikel.
Udara yang lembab dan panas menyebabkan oedema pada stratum korneum
kulit MAE, sehingga menurunkan resistensi kulit terhadap infeksi.
Adanya penyakit kulit yang mendasari, seperti ekzema atau psoriasis, pada
kanalis auris dapat menyebabkan terjadinya otitis eksterna (Bull, 2002;
Soepardi, 2010).

Secara umum, patofisiologi terjadinya inflammatory external otitis dapat


dilihat pada bagan di bawah ini.

Faktor Predisposisi :
Infeksi bakteri
atau jamur

Perubahan pH di liang telinga


Trauma akibat sering mengorek telinga
Terlalu sering membersihkan telinga
Kelembapan dan suhu udara yang tinggi
Keadaan umum yang buruk

Jaringan lemak sebagai faktor pelindung terbuka


Kepekaan jaringan apopilosebaseus terhadap infeksi

Peradangan pada MAE :


Bengkak
Hiperemis
Sekret encer/purulen
Nyeri telinga (otalgia)
Patofisiologi Inflammatory External Otitis
Saluran telinga dapat membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang
sel-sel kulit yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga.
Membersihkan saluran telinga dengan cotton bud (kapas pembersih) dapat
mengganggu mekanisme pembersihan ini dan mendorong sel-sel kulit yang mati
ke arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk di sana (Dokter Muda THT,
2008).
Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan
penimbunan air yang masuk ke dalam saluran ketika mandi atau berenang. Kulit
yang basah dan lembut pada saluran telinga lebih mudah terinfeksi oleh bakteri
atau jamur (Dokter Muda THT, 2008).
Penegakkan diagnosis pada otitis eksterna dapat dilakukan melalui proses
anamnesis dan pemeriksaan fisik sebagai berikut.
Anamnesis :

Gejala awal dapat berupa gatal

Didapatkan riwayat faktor predisposisi


Rasa gatal berlanjut menjadi nyeri yang sangat dan terkadang tidak
sesuai dengan kondisi penyakitnya. Nyeri terutama dirasakan ketika

daun telinga ditarik, nyeri tekan tragus, dan ketika mengunyah makanan.
Rasa gatal dan nyeri disertai pula keluarnya sekret encer, bening sampai
kental purulen tergantung pada kuman atau jamur yang menginfeksi.
Pada jamur biasanya akan bermanifestasi sebagai sekret kental berwarna

putih keabu-abuan dan berbau.


Pendengaran normal atau sedikit berkurang (Dokter Muda THT, 2008).

Pemeriksaan Fisik :

Kulit MAE edema, hiperemi merata sampai ke membran timpani,


dengan liang MAE penuh dengan sekret. Jika edema hebat, membran

timpani dapat tidak tampak.


Pada folikulitis akan didapatkan edema dan hiperemi pada pars

kartilagenous MAE.
Nyeri tekan tragus (+)
Adenopati reguler dan terkadang didapatkan nyeri tekan (Dokter Muda
THT, 2008).

Prinsip penatalaksanaan yang dapat diterapkan pada semua tipe otitis


eksterna adalah :
Membersihkan liang telinga dengan pengisap atau kapas secara hati-hati.
Penilaian terhadap sekret, edema dinding kanalis, dan membrana timpani
bilamana mungkin keputusan apakah akan menggunakan sumbu untuk
mengoleskan obat.
Pemilihan pengobatan lokal (Adams, 1997).
a) Otitis Eksterna Sirkumskripta (Furunkel)
Pada furunkulosis, kelainan terbatas pada bagian kartilagenosa meatus
akustikus eksternus. Oleh karena kulit di bagian sepertiga luar liang telinga
mengandung adneksa kulit, seperti folikel rambut, kelanjar sabasea dan
kelenjar serumen, maka di tempat itu dapat terjadi infeksi pada pilosebaseus
sehingga membentuk

furunkel. Kuman

penyebab

biasanya

adalah

Staphylococcus aureus atau Staphylococcus albus (Adams, 1997; Soepardi,


2010).
Gejalanya adalah rasa nyeri yang hebat, tidak sesuai dengan besar
bisul. Hal ini disebabkan oleh kulit liang telinga yang tidak mengandung
jaringan ikat longgar di bawahnya sehingga rasa nyeri timbul pada
penekanan perikondrium. Rasa nyeri dapat juga timbul spontan pada waktu
membuka mulut (sendi temporomandibula). Selain itu terdapat juga
gangguan pendengaran bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga
(Soepardi, 2010).
Suatu furunkel dalam liang telinga dapat sangat nyeri karena
berkembang pada suatu daerah membranokartilagenia di mana hanya ada
sedikit ruangan untuk ekspansi. Furunkel pada daerah ini selalu dicurigai
bila gerakan aurikula secara pasif menyebabkan nyeri (Adams, 1997).
Tatalaksana tergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah menjadi
abses, diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Lokal
diberikan antibiotik dalam bentuk salep, seperti polymixin B atau bacitracin
atau antiseptik (asam asetat 2-5% dalam alkohol. Kalau dinding furunkel
tebal, dilakukan insisi, kemudian dipasang drainase untuk mengalirkan
nanahnya. Biasanya tidak perlu diberikan antibiotik secara sistemik, hanya
diberikan obat simtomatik, seperti analgetik dan obat penenang (Soepardi,
2010).

Furunkulosis
b) Otitis Eksterna Difus
Infeksi ini dikenal juga dengan nama swimmers ear yang biasanya
terjadi pada cuaca yang panas dan lembab. Umumnya mengenai kulit liang
telinga dua pertiga bagian dalam. Tampak kulit liang telinga hiperemis dan
edema dengan batas yang tidak jelas, serta tidak terdapat furunkel. Kuman
penyebabnya biasanya golongan Pseudomonas. Kuman lain yang dapat
menjadi penyebabnya adalah Stapylococcus albus, Escheria coli dan
Enterobacter aerogenes (Adams, 1997; Soepardi, 2010).
Gejalanya berupa nyeri tekan tragus atau nyeri di sekitar telinga,
pembengkakan sebagian besar dinding kanalis sehingga liang telinga
menjadi sempit, kadang kelenjar getah bening regional membesar dan nyeri
tekan, serta terdapat sekret yang berbau, pendengaran normal atau sedikit
menurun. Sekret ini tidak mengandung lendir (musin) seperti sekret yang
keluar dari kavum timpani pada otitis media (Adams, 1997; Soepardi, 2010).
Stroma yang menutupi tulang pada dua pertiga bagian dalam liang
telinga sangat tipis sehingga hanya memungkinkan pembengkakan yang
minimal. Oleh karena itu, gangguan subyektif yang dialami pasien seringkali
tidak sebanding dengan beratnya penyakit yang diamati oleh pemeriksa
(Adams, 1997).

Pengobatannya dengan membersihkan liang telinga, memasukkan


tampon yang mengandung antibiotika ke liang telinga supaya terdapat
kontak yang baik antara obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang
diperlukan obat antibiotika sistemik pada kasus yang berat, misalnya jika
dicurigai adanya perikondritis atau kondritis pada tulang rawan telinga.

Dianjurkan pula untuk melakukan pemeriksaan kepekaan bakteri. (Adams,


1997; Soepardi, 2010).
Otitis Eksterna Akut

DAFTAR PUSTAKA
Adams GL, Boies LR, Higler PA. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6.
Cetakan Ketiga. Jakarta : EGC. 1997 : hlm 27-31, 76-80.
Bull PD. Conditions of The External Auditory Meatus. In : Lecture Notes on
Diseases of The Ear, Nose and Throat. Ninth Edition. USA : Blackwell
Science Ltd. 2002 : p. 27-30.
Dokter Muda THT. Sinopsis Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok.
Bangka Belitung : Penerbit Buku Kedokteran AFJ. 2008. Available at :
http://www.THTUB.pdf.co.id (Accessed : 2014 April 29).
Hadiatma FN. Otitis Eksterna Diffuse. Mataram : Fakultas Kedokteran
Universitas

Mataram.

2010.

Available

at

http://www.scribd.com/documentdownloads/direct/61908705/pdf
(Accessed : 2014 April 29).
Moore KL, Anne MR. Head. In : Essential Clinical Anatomy. USA : Lippincott
Williams and Wilkins. 2002 : p. 401-403.
Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, editor. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi Keenam.
Cetakan Keempat. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2010 : hlm 10-16, 59-61.