Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PRAKTIKUM COMPOUNDING DISPENSING


DIARE

Oleh :
B1/ Kelompok 3
Nama Anggota :
LUKYTA SETYO HAPSARI
MARETAH INDAH FITRIA
MARIO MARTINUS KARVIN
MEGA RIZKY NOVITASARI
MERRY HANDAYANI

1620313328
1620313329
1620313330
1620313331
1620313332

PROGRAM PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Diare adalah peningkatan frekuensi dan penurunan konsistensi tinja


dibandingkan pola usus pada individu normal. Frekuensi dan konsistensi adalah
variabel individu dan antara individu. Sebagai contoh, beberapa individu buang
air besar tiga kali per hari, sedangkan yang lain buang air besar hanya dua atau
tiga kali per minggu.
Diet Barat biasanya menghasilkan tinja harian dengan bobot antara 100
dan 300 g, tergantung pada jumlah bahan nonabsorbable (terutama karbohidrat)
yang dikonsumsi. Pasien dengan diare serius mungkin memiliki berat tinja harian
melebihi 300 gram, namun suatu kondisi dari pasien sering mengalami keadaan
dimana mengeluakan feses yang berair.
Diare dapat berhubungan dengan penyakit tertentu dari usus atau
diagnosa sekunder terhadap penyakit di luar usus. Misalnya, disentri basiler
langsung mempengaruhi usus, sedangkan diabetes mellitus menyebabkan keadaan
diare neuropatik. Selain itu, diare dapat dianggap sebagai penyakit akut atau
kronis. Infeksi sering menyebabkan diare akut dan diabetes dapat menyebabkan
diare kronis.
Diare akut didefinisikan sebagai diare berlangsung selama 14 hari atau
kurang. Diare berlangsung lebih dari 30 hari disebut diare kronis. Diare yang
berlangsung selama 15 sampai 30 hari adalah disebut diare persisten.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi Diare
Diare atau penyakit diare (diarrheal disease) berasal dari kata diarrola (bahasa

Yunani) yang berarti mengalir terus, merupakan suatu keadaan abnormal dari pengeluaran
tinja yang terlalu frekuen. Hipokrates memberikan definsi diare sebagai suatu keadaan

abnormal dari frekuensi dan kepadatan tinja. Sedangkan Silverman dkk mendefinisikan
diare sebagai malabsorbsi air dan elektrolit dengan ekskresi isi usus yang dipercepat.
Fungsi usus sebagai suatu pengatur yang efisien dan peka dari cairan ekstrasel, karena
fungsi sekresi dan absorbsi yang dimilikinya.
Definisi lainnya, Diare adalah frekuensi dan likuiditas buang air besar (BAB)
yang abnormal. Frekuensi dan konsistensi BAB bervariasi dalam dan antar individu.
Sebagai contoh, beberapa individu devekasi tiga kali per hari, sedangkan yang lainnya
hanya dua atau tiga kali seminggu. Selain itu, diare yaitu buang air besar (defekasi)
dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih
banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam. Buang air besar encer tersebut
dapat/tanpa disertai lendir dan darah.
2.2 Epidemiologi Diare

Penyebab diare akut tidak menular termasuk obat-obatan dan racun,


penyalahgunaan laksatif, intoleransi makanan, irritable bowel syndrome (IBS),
penyakit radang usus, ischemic bowel disease, defisiensi laktase, penyakit
Whipple, pernicious anemia, diabetes melitus, malabsorpsi, impaksi tinja,
diverticulosis, dan sariawan.
Intoleransi laktosa bertanggung jawab atas banyak kasus akut diare,
terutama pada pasien keturunan Afrika, Asia, dan Amerika asli. Makanan harus
dipertimbangkan sebagai penyebab, terutama pengganti lemak, produk susu, dan
produk mengandung karbohidrat nonabsorbable.
2.3 Patofisiologi Diare
Diare yang akut maupun yang kronik dapat dibagi menjadi kelompok osmotik,
sekretorik, eksudatif dan gangguan motilitas. Diare akut:

Merupakan diare yang

berlangsung selama beberapa hari sampai 1 minggu umumnya mengeluhkan onset yang
tak terduga dari buang air besar yang encer, gas-gas dalam perut, rasa tidak enak, dan
nyeri perut. Diare kronis: Merupakan diare yang berlangsung lebih dari 2-3 minggu.
ditemukan adanya penyakit sebelumnya, penurunan berat badan dan penurunan nafsu
makan.
1. Diare osmotik terjadi bila ada bahan yang tidak dapat diserap meningkatkan
osmolaritas dalam lumen yang menarik air dari plasma sehingga terjadi diare.

Contohnya adalah malabsorbsi karbohidrat akibat defisiensi laktase atau akibat


garam magnesium.
2. Diare sekretorik bila terjadi gangguan transport elektrolit baik absorbsi yang
berkurang ataupun sekresi yang meningkat. Hal ini dapat terjadi akibat toksin yang
dikeluarkan bakteri misalnya toksin kolera atau pengaruh garam empedu, asam
lemak rantai pendek, atau laksantif non osmotik. Beberapa hormon intestinal seperti
gastrin vasoactive intestinal polypeptide (VIP) juga dapat menyebabkan diare
sekretorik.
3. Diare eksudatif, inflamasi akan mengakibatkan kerusakan mukosa baik usus halus
maupun usus besar. Inflamasi dan eksudasi dapat terjadi akibat infeksi bakteri atau
bersifat non infeksi seperti gluten sensitive enteropathy, inflamatory bowel disease
(IBD) atau akibat radiasi.
4. Kelompok lain adalah akibat gangguan motilitas yang mengakibatkan waktu tansit
usus menjadi lebih cepat. Hal ini terjadi pada keadaan tirotoksikosis, sindroma usus
iritabel atau diabetes melitus.
Diare dapat terjadi akibat lebih dari satu mekanisme. Pada infeksi bakteri paling
tidak ada dua mekanisme yang bekerja peningkatan sekresi usus dan penurunan absorbsi
di usus. Infeksi bakteri menyebabkan inflamasi dan mengeluarkan toksin yang
menyebabkan terjadinya diare. Infeksi bakteri yang invasif mengakibatkan perdarahan
atau adanya leukosit dalam feses. Pada dasarnya mekanisme terjadinya diare akibat
kuman enteropatogen meliputi penempelan bakteri pada sel epitel dengan atau tanpa
kerusakan mukosa, invasi mukosa, dan produksi enterotoksin atau sitotoksin. Satu bakteri
dapat menggunakan satu atau lebih mekanisme tersebut untuk dapat mengatasi
pertahanan mukosa usus.

2.4 Penyebab Diare


1. Gizi yang buruk. Keadaan ini melemahkan kondisi tubuh pasien sehingga timbulnya
diare akibat penyakit lain menjadi sering dan semakin parah
2. Ketidakmampuan alat pencernaan seorang bayi untuk memproses susu dapat
menyebabkan diare
3. Bayi tidak mampu mencerna makanan yang baru dan belum pernah dikenali
4. Akibat alergi terhadap makanan tertentu (makanan laut,udang,dll)
5. Penggunaan obat-obatan tertentu yang tidak dapat diterima oleh jaringan tubuhakan
menyebabkan penyakit sampingan berupa diare

6. Infeksi perut yang disebabkan virus, cacing atau bakeri


7. Terlalu banyak makan buah mentah atau makanan berlemak
8. Keracunan makanan atau kuman
2.4.1 Faktor-faktor yang menyebabkan diare :
1. Tangan yang kotor
2. Makanan dan minuman yang terkontaminasi virus dan bakteri/parasit (E.Coli,
Salmonella enteritidis, Shigella, Giardo parasit dan cryptosporidium parasit).
3. Ditularkan oleh binatang peliharaan
4. Kontak langsung dengan feses atau material yang menyebabkan diare (cara
membersihkan diri yang tidak benar setelah keluar dari toilet).
2.5 Tanda dan Gejala Diare
Frekuensi buang air besar melebihi normal; Kotoran encer /cair; Sakit/kejang
perut, pada beberapa kasus; dan Demam dan muntah, pada beberapa kasus. Sedangkan
tanda dan gejala pada anak: Dehidrasi ringan/sedang, gelisah,rewel,mata cekung,mulut
kering, sangat halus, kulit kering; dan Dehidrasi berat, lesu,tidak sadar,mata sangat
cekung, mulut sangat kering,malas/tidak biasa minum, kulit sangat kering.
2.6 Contoh obat yang dapat menyebabkan Diare
Laksatif penyalahgunaan obat-obatan pencahar sebagai obat menurunkan berat
badan juga menyebabkn diare, Antasida yang mengandung magnesium, Antineoplastik,
Antibiotik seperti klindamisin, tetrasiklin, sulfonamide dan beberapa antibiotic spectrum
luas, Antihipertensi seperti reserpin, guanetidin, metildopa, guanabenz, guanadrel,
Kolinergik seperti betanecol, neostigmin, Senyawa yang mempengaruhi jantung seperti
kuinidin, digitalis, digoxin, Obat AINS, Prostaglandin, Kolkisin
2.7 Derajat Dehidrasi
Berdasarkan penilaian derajat dehidrasi penderita diare dapat terbagi atas :
Penilaian
Keadaan Umum
Mata
Air Mata
Mulut, lidah

Tanpa Dehidrasi
Baik
Normal
Ada
Basah

Dehidrasi Ringan
Gelisah, rewel
Cekung
Tidak ada
Kering

Rasa Haus

Minum biasa

Sangat haus

Kekenyalan kulit

Normal

Kembali lambat

Terapi

Terapi A

Terapi B

Dehidrasi Berat
Lesu, tak sadar
Sangat cekung
Tidak ada
Sangat kering
Malas, tidak bisa
minum
Kembali sangat
lambat
Terapi C

BAB III
PEMBAHASAN
A. Oralit
Nama sediaan
Komposisi

Oralit

Indikasi
Dosis
Cara Penggunaan

Tujuannya adalah untuk mencegah dehidrasi


Larutkan 1 bungkus ke dalam 200 ml air
Oralit tersedia dalam bentuk serbuk untuk dilarutkan

Kegunaan

dan dalam bentuk larutan diminum perlahan-lahan


Oralit tidak menghentikan diare, tetapi mengganti

Natrium klorida 0,7 gram


Kalium klorida 0,3 gram
Glukosa anhidrat 4 gram
Natrium bikarbonat 0,5 gram

cairan tubuh yang keluar bersama tinja

Sediaan yang beredar

Oralit (Generik) serbuk (B), Alphatrolit (Pharma


Apek) serbuk (B), Aqualyte (Prafa) cairan (B),
Bioralit (Indofarma) serbuk (B), Corsalit (Corsa)
serbuk (B)

Umur
Tidak ada dehidrasi
Terapi A
Mencegah
Dehidrasi
Dengan
Dehidrasi
Terapi B
Mencegah
Dehidrasi
Dengan
Dehidrasi
Mengatasi dehidrasi

< 1 tahun

1 - 4 tahun

5 12

Dewasa

100 mL

tahun
Setiap kali BAB beri oralit
200 mL
300 mL

400 mL

(0,5 gelas)

(1 gelas)

(2 gelas)

(1,5 gelas)

3 jam pertama beri oralit


300 mL

600 mL

1,2 L

2,4 L

(1,5 gelas)

(3 gelas)

(6 gelas)

(12 gelas)

Selanjutnya setelah BAB beri oralit


100 mL
(0,5 gelas)

200 mL
(1 gelas)

300 mL
(1,5 gelas)

400 mL
(2 gelas)

B. Pharolit
Nama sediaan
Komposisi

Pharolit
Natrium klorida 0,52 gram
Kalium klorida 0, 3 gram
Trinatrium sitrat dihidrat 0,58 gram

Indikasi

Glucose anhidrat 2,7 gram


Mencegah dan mengobati dehidrasi pada muntah dan

Dosis
Cara Pembuatan

diare, gastroenteritits, dan kolera


Larutkan 1 bungkus ke dalam 200 ml air
1. Gunakan air matang, (tidak mendidih) aduk
sampai larut benar. Jangan gunakan larutan
setelah lebih dari 24 jam.
2. Jika muntah hentikan sementara, setelah 2-5

menit, berikan lagi larutan dengan sendok sedikit


Kegunaan

demi sedikit tapi sering sampai habis.


Bekerja dengan jalan mensubsitusi cairan dan

Peringatan

elektrolit yang hilang karena diare dan muntah.


1. Teruskan ASI, makan dan minum selama diare,
beri makanan ekstra setelah sembuh
2. Bila keadaan memburuk atau dalam 2 hari tidak
membaik segera bawa ke RS/Puskesmas atau
dokter
3. Hentikan oralit jika diare berhenti dan pasien

Pabrik

mulai membaik
Novell Pharmaceutical Laboratories

C. Norit
Nama sediaan
Komposisi

Norit
Karbon Aktivatus : 125 mg.

Indikasi

Excipients Ad : 325 mg.


1. Diare dengan atau tanpa kejang.
2. Perut kembung karena gas-gas yang menggumpal
dalam usus (flatulence).
3. Gangguan lambung karena pencernaan terganggu
(indigestion).

4. Rasa
Dosis
Penyimpanan
Kemasan
Pabrik
Peringatan

mual

setelah

minum

alkohol

yang

berlebihan.
3 kali sehari 6 9 tablet
Simpanlah di tempat sejuk dan kering.
Tersedia dalam kemasan : Norit, 1 Tube @ 40 tablet.
PT. Eagle Indo Pharma
1. Diare : Harap hubungi dokter bila tidak merasa
lebih baik / masih terus diare.
2. Keracunan : Segera hubungi dokter dengan
terlebih dahulu berikan 20 tablet NORIT kepada
si pasien.
3. Apabila pemakaian NORIT sedang berlangsung,
ampas makanan (kotoran tubuh) dapat berubah
menjadi hitam.
4. Pemakaian NORIT dapat menyebabkan sedikit
penyerapan pada obat tertentu, misalnya jenis
Contraseptis. Bila perlu tanyakan dokter Anda.

Kasus Diare
Bapak Mario datang ke Apotik dengan keluhan mengalami sakit perut, sering
buang air besar, mual dan muntah-muntah serta perut berbunyi, sehari sebelunnya bapak
Mario ini makan makanan di warung pinggir jalan yang terbuka dikawasan kumuh dan
lupa mencuci tangannya usai mengendari sepeda motor.

Para anggota :
Apoteker

: Merry Handayani

Pasien

: Mario Martinus Karvin

Pengantar Pasien

: Lukyta Setyo Hapsari

TTK

: Maretah Indah Fitria

Prolog

: Mega Rizky Novitasari

A. PERCAKAPAN IBU PASIEN DENGAN TTK


Pada pagi hari datang seorang bapak dan saudaranya ke Apotek Sehati
TTK

:Selamat pagi ibu pak, selamat datang di apotek kami ada yang
bisa saya bantu?

Adik Pasien

:Iya selamat pagi mbak, saya mau beli obat mbak

TTK

:Beli obat untuk siapa ya bu?

Adik Pasien

:Untuk kakak saya mbak

TTK

:Ohh untuk bapak ini kah bu?

Adik Pasien

:Iya mbak, ini kakak saya

TTK

:Kalau boleh saya tau sakit apa ya bu?

Ibu Pasien

:Begini mbak kakak saya kemarin makan di luar terus pulang itu
ngeluh perutnya sakit, bolak-balik ke wc, mual dan muntah-muntah
serta perutnya berbunyi

TTK

:Oh begitu bu, untuk lebih jelasnya apakah ibu ingin berkonsultasi
dengan apoteker kami?

Adik Pasien

: Iya boleh mbak, saya ini berkonsultasi dengan apoteker

TTK

:Bentar ya bu, saya akan memberitahukan ke apotekernya


terlebih dahulu.

TTK masuk kedalam untuk memberi tahukan kepada apoteker bahwa ada pasien
yang ingin berkonsultasi
TTK

:Ibu ada pasien yang ingin berkonsultasi bu

Apoteker

:Oh iya mbak suruh masuk saja

TTK memanggil pasien untuk masuk keruang konsultasi


TTK

:Ibu bapak silahkan masuk keruang konsultasi bu, sudah ditunggu


apotekernya

Adik Pasien

:Iya mbak, terimakasih

B. PERCAKAPAN PASIEN DENGAN APOTEKER


Adik Pasien

:Permisi bu

Apoteker

:Selamat pagi ibu bapak, selamat datang diapotek kami, saya


Merry Handayani sebagai apoteker di apotek ini, silahkan duduk
bu pak

Adik Pasien

:Terima kasih bu

Apoteker

:Dengan ibu dan bapak siapa ?

Adik Pasien

:Ibu Lukyta

Pasien

:Mario

Apoteker

:Iya ibu Lukyta dan bapak Mario ada yang bisa saya bantu?

Adik Pasien

:Iya ibu, ini saya hanya mengantarkan kakak saya mau konsul

Apoteker

:Iya bapak ada yang bisa saya bantu?

Pasien

:Begini bu kemarin saya makan di warung pinggir jalan tapi saya


lupa cuci tangan kemudian malamnya perut saya sakit, bolak-balik
ke wc, mual, muntah-muntah dan perut saya berbunyi

Apoteker

:Maaf bapak sebelumnya bapak sudah pernah ke dokter?

Pasien

:Belum bu, saya belum ke dokter

Apoteker

:Apakah sebelumnya bapak sudah minum obat

Pasien

:Belum bu, saya belum minum obat apa-apa

Apoteker

:Bapak kalau boleh saya tau, biasanya normal BAB berapa kali
sekali ya pak?

Pasien

:Biasanya saya BAB 1 kali sehari bu sehabis makan siang

Apoteker

:Kemudian setelah makan dipinggir jalan kemarin bapak BAB


berapa kali pak?

Pasien

:Saya habis makan kemarin hingga sekarang ini sebelum ke


apotek sudah 5 kali bu

Apoteker

:Sudah cukup banyak ya pak BABnya, kalau boleh saya tau maaf
ini ya pak, fesesnya cair atau padat pak?

Pasien

:Cair bu, mulas begitu perutnya, dan tidak bisa ditahan

Apoteker

:Iya bapak juga tadi kalau tidak salah juga lupa mencuci tangan ya
sebelum makan?

Pasien

:Iya bu saya lupa cuci tangan habis berkendara motor kemarin

Apoteker

:Iya bapak terkena diare, dengan waktu BAB yang tidak seperti
biasanya ya, bapak sudah 5 kali ini sejak kemarin sore, kemudian
BAB yang mendadak disertai mules, mual, muntah, apakah bapak
merasa haus

Pasien

:Iya bu saya merasa sangat haus

Apoteker

:Apakah mulut dan lidah bapak merasa kering?

Pasien

:Iya bu, mulut dan lidah saya kering

Apoteker

:Iya bapak maaf ini, bapak terkena diare dengan dehidrasi ringan
dikarenakan makan makanan dengan tidak cuci tangan terlebih
dahulu, kemudian kemungkinan besar juga makanya kurang bersih
sehingga menyebabkan bapak terkena diare

Pasien

:Iya bu, kira-kira ada obatnya bu?

Apoteker

:Begini bapak diare sebenarnya bisa sembuh sendiri, tetapi disini


saya akan memberikan obat untuk mengganti cairan yang sudah
hilang, bapak merasa lemas?

Pasien

:Iya bu, saya lemas

Apoteker

:Iya bapak saya akan ambilkan obatnya terlebih dahulu, sebentar


ya, pak. Mbak Maretah tolong siapkan obat diare oralit, pharolit,
dan norit

TTK

:Iya baik bu, ini bu obatnya bu.

Apoteker

:Ini pak, obat untuk mengatasi cairan yang hilang karena diare
yang bapak alami, obat ini namanya oralit dan yang satunya
pharolit, dari kedua obat ini memiliki persamaan komposisi
campuran Natrium klorida, kalium klorida, glukosa anhidrat dan
natrium bikarbonat, dosis penggunaan juga sama bapak 1 sachet
dilarutkan dalam 200 ml air, untuk pemakaian pertama langsung 2
gelas ya bapak sehabis BAB, selanjutnya setiap kali BAB bisa
minum 1 gelas hingga 12 gelas seharinya, untuk oralit tidak ada
rasanya namun untuk pharolit rasanya jeruk pak, sedangkan untuk
obat norit digunakan sebagai absorben, seperti yang dijelaskan
bapak tadi bahwa feses cair sehingga digunakan obat ini untuk
memadatkan fesesnya diminum 3 kali sehari 2 tablet, jika diare
sudah sembuh hentikan penggunaan obat ini ya pak

Pasien

:Oh begitu bu, untuk harganya berapa bu?

Apoteker

:Harga untuk oralit Rp. 1.500/shacet, pharolit Rp. 2.500/sachet


dan untuk norit Rp. 13.000/tube, ini untuk oralit dan pharolit dapat
memilih 1 sediaan saja pak, bagaimana bapak?

Pasien

:Iya bu, saya pilih pharolit saja bu yang ada rasa jeruknya

Apoteker

:Jadi bapak memilih pharolit dan norit ya pak?

Pasien

:Iya bu

Apoteker

:Bisa minta tolong untuk mengulang kembali cara pemakaiannya


pak?

Pasien

:Ini bu obat pharolit 1 sachet dilarutkan dalam air 200 ml, untuk
pemakaian pertama langsung diminum 2 gelas sehabis BAB,
selanjutnya setelah BAB bisa minum 1 gelas pharolit hingga 12
gelas seharinya, untuk obat noritnya diminum 3 kali sehari 2 tablet
selama fesesnya masih cair kalau sudah tidak cair bisa dihentikan

Apoteker

:Benar pak, jika sudah tidak mengalami diare jangan lupa untuk
menghentikan mengkonsumsi obat ini ya pak

Pasien

:Iya bu

Apoteker

:Dan juga pak untuk selanjutnya jangan lupa mencuci tangan


sebelum makan dan sesudah makan, diharapakan makan makanan
yang kebersihannya terjamin ya pak

Pasien

:Iya bu

Apoteker

:Baiklah, ada yang bisa dibantu lagi pak? Ini total pembayarannya
Rp 63.000,00,- untuk 20 sachet Pharolit dan Noritnya 1 tube
pembayarannya bisa langsung di kasir depan ya pak?

Pasien

:Tidak ada bu, iya bu

Apoteker

:Ya sudah kalau begitu, terima kasih atas kunjungan bapak dan
ibu, semoga lekas sembuh ya pak

Ibu Pasien

:Iya bu, terimakasih ya bu

Apoteker

:Sama-sama

DAFTAR PUSTAKA
Burns, Marie A. Chisholm, Barbara G.Wells, Terry L. Schwinghammer, Patrick
M. Malone, Jill M. Kolesar, John C. Rotschafer, Joseph T.
Dipiro. 2008. Pharmacotherapy Principles and Practice. The
McGraw-Hill Companies : United States of America.
Depkes RI. 2007. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare Edisi ketiga,
Direktorat Jenderal PPM dan PL.
Widjaja. 2007. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan Dan
Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga.
World Health Organization. Implementing the new recommendation on the
clinical management of diarrhea: guidelines for policy makers
and programme managers. Geneva: WHO Press; 2006.