Anda di halaman 1dari 113

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


DI PT. KALBE FARMA, Tbk.
KAWASAN INDUSTRI DELTA SILICON
JL M.H. THAMRIN BLOK A3-1, LIPPO CIKARANG, BEKASI
PERIODE 17 JUNI 12 JULI 2013 DAN
14 AGUSTUS 30 AGUSTUS 2013

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

NURINA FATMAWATI, S.Farm.


1206329915

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
JANUARI 2014

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


DI PT. KALBE FARMA, Tbk.
KAWASAN INDUSTRI DELTA SILICON
JL M.H. THAMRIN BLOK A3-1, LIPPO CIKARANG, BEKASI
PERIODE 17 JUNI 12 JULI 2013 DAN 14 AGUSTUS 30
AGUSTUS 2013

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker

NURINA FATMAWATI, S.Farm.


1206329915

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
JANUARI 2014
ii

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

ABSTRAK
Nama
NPM
Program Studi
Judul

: Nurina Fatmawati, S. Farm


: 1206329915
: Profesi Apoteker
: Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT Kalbe
Farma, Tbk di Kawasan Industri Delta Silicon Jl. M.H.
Thamrin Blok A3-1, Lippo Cikarang, Bekasi Periode 17
Juni 12 Juli 2013 dan 14 Agustus 30 Agustus 2013

Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial
yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomis. Industri Farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri
Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan obat. Agar obat
yang dihasilkan berkualitas, mempunyai efikasi yang baik, bermutu, dan aman
serta konsisten maka dibutuhkan suatu pedoman bagi industri farmasi tentang
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Apoteker dituntut untuk mempunyai
wawasan, pengetahuan yang luas dan pengalaman praktis yang memadai serta
kemampuan dalam memimpin agar dapat mengatasi permasalahanpermasalahan
yang ada di industri farmasi. Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) dilakukan
pada 17 Juni 12 Juli Dan 14 Agustus 30 Agustus 2013 Di PT. Kalbe Farma,
Tbk. Kawasan Industri Delta Silicon JL M.H. Thamrin Blok A3-1, Lippo
Cikarang, Bekasi Dalam rangka pembinaan terhadap generasi baru di bidang
industri farmasi.
Kata Kunci :. Praktek Kerja Profesi Apoteker, Industri Farmasi, Cara Pembuatan
Obat yang Baik
Tugas umum
: viii + 56 halaman; 1lampiran
Tugas khusu
: iv + 21 halaman; 10 lampiran
Daftar Acuan Tugas Umum : 4 (2009 - 2012)
Daftar Acuan Tugas Khusus : 3 (2010 - 2013)

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

ABSTRACT
Name
NPM
Program Study
Title

: Nurina Fatmawati, S. Farm


: 1206329915
: Apothecary profession
: Report of Pharmacist Internship Program at PT Kalbe
Farma Tbk at Delta Silicon Industrial Estate Jl. MH
Thamrin Blok A3-1, Lippo Cikarang, Bekasi Period of
June 17 to July 12, 2013 and August 14 to August 30,
2013

Health is good health, physically, mentally, spiritually and socially to enable more
people to live socially and economically productive. Pharmaceutical Industry is an
entity that has a permit from the Minister Health to the manufacture of drugs or
drug ingredients. In order for the resulting drug quality, have good efficacy,
quality, and safe and consistent we need a guide for the pharmaceutical industry
on the Good Manufacturing Practices (GMP). Pharmacists are required to have
insight, extensive knowledge and good practical experience and ability to lead in
order to overcome the problems of the pharmaceutical industry. Pharmacists
Internship Program (PIP) conducted on 17 June to 12 July and 14 August to 30
August 2013 at PT. Kalbe Farma Tbk. Delta Silicon Industrial Estate Jl. MH
Thamrin Blok A3-1, Lippo Cikarang, Bekasi to develop the new generations in
the pharmaceutical industry.
Key Words

:.Pharmacists Internship Program, Pharmacy Industry, Good


Manufacturing Practices
General Assignment : viii + 56 pages; 1 appendices
Specific Assignment : iv + 21 pages; 10 appendices
Bibliography of General Assignment: 4 (2009 - 2012)
Bibliography of Specific Assignment: 3 (2010 - 2013)

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat melaksanakan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
di PT. Kalbe Farma, Tbk. dan menyelesaikan laporan PKPA ini. Pelaksanaan
PKPA dan penulisan laporan PKPA ini diajukan dalam rangka memenuhi salah
satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker pada Program Profesi Apoteker
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. Pada penulisan laporan ini, penulis
mendapat arahan, bantuan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Anne Prima Heryanti, S.Si, Apt., selaku pembimbing dan Manager
Departemen Quality Assurance PT. Kalbe Farma, Tbk., yang telah
memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis selama melaksanakan
PKPA.
2. Dr. Iskandarsyah, M.Sc, Apt., selaku pembimbing yang telah memberikan
arahan dan bimbingan kepada penulis dalam penulisan laporan PKPA.
3. Dwitiya, S.Farm, Apt., dan Dinda, S.Farm, Apt., selaku pembimbing dan
Supervisor Quality Assurance PT. Kalbe Farma, Tbk., yang telah memberikan
arahan, bimbingan, perhatian, ilmu, dan dukungan kepada penulis selama
melaksanakan kegiatan PKPA.
4.

Dr. Mahdi Jufri, M.Si., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi UI.

5.

Prof. Dr. Yahdiana Harahap, M. S., Apt. selaku Pj.S. Dekan Fakultas Farmasi
UI sampai dengan 20 Desember 2013

6.

Dr. Harmita, Apt selaku Ketua Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi
Universitas Indonesia yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk melaksanakan PKPA.

7. Keluarga atas dukungan, perhatian, dan doa yang diberikan kepada penulis
selama melaksanakan kegiatan di Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi
Universitas Indonesia.
8. Seluruh rekan Apoteker UI angkatan LXXVII, khususnya Bulqiyah, Elis,
Anisa, Ajeng, Nabila, Findarti, Arlika, Nurina, Ali, Riyon dan Achsar yang
iv

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

telah melaksanakan PKPA bersama di PT. Kalbe Farma, Tbk. atas dukungan,
semangat, dan kerja samanya.
9. Seluruh staf pengajar, tata usaha dan karyawan di Program Profesi Apoteker
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia atas pengajaran dan bantuan yang
diberikan selama penulis menjalani pendidikan di Program Profesi Apoteker.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih terdapat
banyak kekurangan, namun diharapkan laporan ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak yang membutuhkan.

Depok, Januari 2014

Penulis

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................iii
KATA PENGANTAR .....................................................................................iv
DAFTAR ISI ....................................................................................................vi
DAFTAR GAMBAR........................................................................................vii
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................viii
BAB 1. PENDAHULUAN ...................................................................................1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................1
1.2 Tujuan...........................................................................................................2
BAB 2. TINJAUAN UMUM ...............................................................................3
2.1..Industri Farmasi ..........................................................................................3
2.2..Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) .................................................6
BAB 3. TINJAUAN KHUSUS PT. KALBE FARMA, Tbk.............................13
3.1 Sejarah dan Perkembangan PT. Kalbe Farma Tbk ....................................13
3.2 Visi dan Misi PT. Kalbe Farma Tbk ..........................................................15
3.3..Lokasi dan Tata Ruang PT. Kalbe Farma Tbk ..........................................15
3.4..Struktur Organisasi PT. Kalbe Farma Tbk ................................................17
BAB 4. PEMBAHASAN ......................................................................................36
4.1..Manajemen Mutu .......................................................................................36
4.2..Personalia ...................................................................................................37
4.3..Bangunan dan Fasilitas...............................................................................38
4.4..Peralatan ....................................................................................................40
4.5..Sanitasi dan Higiene ..................................................................................42
4.6..Produksi .....................................................................................................44
4.7..Pengawasan Mutu.......................................................................................46
4.8..Inspeksi Diri , Audit Mutu, dan Audit & Persetujuan Pemasok ............47
4.9..Penanganan Keluhan terhadap Produk, Penarikan Kembali
Produk dan Produk Kembalian ..................................................................48
4.10 Dokumentasi .............................................................................................50
4.11 Pembuatan dan Analisis terhadap Kontrak ..............................................51
4.12 Kualifikasi dan Validasi ............................................................................52
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................................55
5.1. Kesimpulan ................................................................................................55
5.2. Saran ...........................................................................................................55
DAFTAR ACUAN ...............................................................................................56
LAMPIRAN ..........................................................................................................57

vi

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1. Logo PT. Kalbe Farma, Tbk..................................................... 15
Gambar 3.2. Gambaran Kegiatan Masing-Masing Seksi Departemen QC... 28

vii

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.

Struktur Organisasi PT. Kalbe Farma, Tbk. ............................ 58

viii

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Industri farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri

Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat dan bahan obat. Pembuatan
obat adalah seluruh tahapan kegiatan dalam menghasilkan obat yang meliputi
pengadaan bahan awal dan bahan pengemas, produksi, pengemasan, pengawasan
mutu dan pemastian mutu sampai diperoleh obat untuk didistribusikan
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2010).
Perkembangan ilmu dan teknologi di masa sekarang ini mendorong
industri farmasi untuk meningkatkan pengelolaan sistem yang baik dalam
berbagai aspek kerjanya sehingga industri farmasi dapat menjalankan usahanya
secara efektif dan efisien serta mampu bersaing dengan industri farmasi lainnya.
Dewasa ini, industri farmasi di Indonesia berkembang cukup pesat dan merupakan
pasar farmasi terbesar di kawasan ASEAN.
Aspek pekerjaan kefarmasian ini berkaitan dengan pemenuhan standar dan
persyaratan keamanan, mutu, dan kemanfaatan sediaan farmasi. Proses pembuatan
obat dan/atau bahan obat hanya dapat dilakukan oleh industri farmasi yang telah
mendapat izin dari Menteri Kesehatan dan memenuhi persyaratan Cara
Pembuatan Obat yang Baik (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2010).
Kaidah Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) adalah standar yang harus
dipahami setiap personil dalam berbagai bidang industri farmasi.
Pengelolaan industri farmasi dilakukan melalui suatu sistem kerja yang
diciptakan dan terus dikembangkan dalam rangka memperoleh standar mutu
tertentu yang berdampak pada optimalisasi aktivitas berbagai bidang kerja.
Standar mutu ini diharapkan terus meningkat sehingga mutu suatu industri farmasi
teruji dibandingkan industri farmasi lainnya. Penerapan CPOB dalam industri
farmasi bertujuan untuk memastikan mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan
persyaratan dan tujuan pengunaannya (Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia, 2012). Produksi, pengawasan mutu, dan penjaminan mutu
adalah contoh aspek yang diatur secara detail dalam kaidah CPOB.
1

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

Setiap sumber daya manusia dalam industri farmasi harus memahami


prinsip CPOB. Apoteker adalah salah satu sumber daya manusia yang mutlak
diperlukan dalam proses penerapan CPOB di suatu industri farmasi. Apoteker di
industri farmasi adalah personil kunci bidang produksi, pengawasan mutu, dan
pemastian mutu. Dalam memenuhi tanggung jawabnya, seorang apoteker harus
memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki pengalaman praktis yang
memadaidan keterampilan manajerial sehingga mampu mengerjakan tugasnya
secara profesional (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia,
2012).
Dalam rangka pembinaan terhadap generasi apoteker baru di industri
farmasi, PT. Kalbe Farma, Tbk. memberi kesempatan kepada calon apoteker
untuk melaksanakan Praktek Kerja Profesi Apoteker. Kegiatan ini memberikan
kesempatan kepada calon Apoteker untuk memperoleh pengalaman yang
bermanfaat dan memahami peran Apoteker dalam produksi obat serta melihat
penerapan CPOB di industri farmasi.
1.2

Tujuan
Tujuan pelaksanaan PKPA di PT. Kalbe Farma, Tbk. adalah untuk:

a. Memperoleh pengetahuan dan wawasan mengenai penerapan aspek-aspek


CPOB di PT. Kalbe Farma, Tbk.
b. Memahami peran dan tugas apoteker dalam industri farmasi

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

BAB 2
TINJAUAN UMUM

2.1

Industri Farmasi (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2010)


Menurut Permenkes No 1799/MENKES/PER/XII/2010 tentang Industri

Farmasi, yang dimaksud dengan

industri farmasi adalah badan usaha yang

memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat
atau bahan obat. Fungsi industri farmasi adalah pembuatan obat/bahan obat,
pendidikan & pelatihan dan penelitian & pengembangan. Setiap pendirian Industri
Farmasi wajib memperoleh izin Industri Farmasi dari Direktur Jendral
Kementerian Kesehatan. Persyaratan untuk memperoleh izin industri farmasi,
yaitu:
a. Berbadan usaha berupa perseroan terbatas.
b. Memiliki rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat.
c. Memiliki NPWP.
d. Memiliki secara tetap 3 orang apoteker Warga Negara Indonesia masingmasing sebagai penanggung jawab pemastian mutu, produksi dan pengawasan
mutu.
e. Komisaris dan direksi tidak pernah terlibat, baik langsung dan tidak langsung
dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang kefarmasian.
Agar dapat memperoleh izin usaha industri farmasi, diperlukan tahap
persetujuan prinsip. Permohonan persetujuan prinsip diajukan kepada Direktur
Jendral dengan tembusan kepada kepala Badan dan kepada kepala Dinas
Kesehatan Provinsi setelah sebelumnya mengajukan permohonan Rencana Induk
Pembangunan (RIP) kepada kepala Badan. Persetujuan prinsip diberikan kepada
industri farmasi untuk dapat langsung melakukan persiapan dan usaha
pembangunan, pengadaan, pemasangan instalasi, peralatan dan lain-lain yang
diperlukan, termasuk produksi percobaan dengan memperhatikan ketentuan
perundang-undangan di bidang obat. Persetujuan prinsip tersebut berlaku selama
jangka waktu 3 tahun dan selama jangka waktu tersebut, perusahaan yang
bersangkutan harus menyampaikan laporan informasi kemajuan pembangunan
fisik setiap 6 bulan sekali kepada Direktur Jenderal dengan tembusan kepada
3

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) dan Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi.
Persyaratan agar mendapatkan persetujuan prinsip, yaitu :
a. Fotokopi akta pendirian badan hukum yang sah sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
b. Fotokopi KTP/identitas direksi dan komisaris perusahaan.
c. Susunan direksi dan komisaris.
d. Pernyataan direksi dan komisaris tidak pernah terlibat pelanggaran peraturan
perundang-undangan di bidang farmasi.
e. Fotokopi sertifikat tanah/bukti kepemilikan.
f. Fotokopi Surat Izin Tempat Usaha berdasarkan Undang-Undang Gangguan
(HO).
g. Fotokopi Surat Tanda Daftar Perusahaan.
h. Fotokopi Surat Izin Usaha Perdagangan.
i. Fotokopi NPWP.
j. Persetujuan lokasi dari pemerintah daerah provinsi.
k. Persetujuan RIP dari Kepala Badan.
l. Rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat.
m. Surat asli pernyataan kesediaan bekerja penuh dari masing-masing apoteker
penanggung jawab produksi, pengawasan mutu dan pemastian mutu.
n. Fotokopi surat pengangkatan bagi masing-masing apoteker penanggung jawab
produksi, pengawasan mutu dan pemastian mutu.
Setelah selesai melaksanakan tahap persetujuan prinsip, dapat dilakukan
permohonan izin usaha industri. Permohonan diajukan kepada Direktur Jenderal
Kementerian Kesehatan dengan tembusan kepada Kepala BPOM dan Kepala
Dinas Kesehatan Provinsi setempat. Izin industri farmasi berlaku untuk seterusnya
selama industri farmasi bersangkutan masih berproduksi dan memenuhi ketentuan
peraturan perundang-undangan. Surat permohonan izin industri farmasi harus
ditandatangani oleh direktur utama dan apoteker penganggung jawab pemastian
mutu dengan kelengkapan yaitu:
a. Fotokopi persetujuan prinsip Industri Farmasi.
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

b. Surat persetujuan penanaman modal untuk industri farmasi dalam rangka


Penanaman Modal Asing (PMA) atau Penanaman Modal Dalam Negeri
(PMDN).
c. Daftar peralatan dan mesin yang digunakan.
d. Jumlah tenaga kerja dan kualifikasinya.
e. Fotokopi sertifikat upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan
Lingkungan /Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
f. Rekomendasi kelengkapan administratif izin industri farmasi dari Kepala
Dinas Kesehatan Provinsi.
g. Rekomendasi Pemenuhan CPOB dari Kepala BPOM.
h. Daftar pustaka wajib seperti Farmakope edisi terakhir.
i. Surat asli pernyataan kesediaan bekerja penuh dari masing-masing apoteker
penanggung jawab produksi, pengawasan mutu dan pemastian mutu.
j. Fotokopi surat pengangkatan bagi masing-masing apoteker penanggung jawab
produksi, pengawasan mutu dan pemastian mutu dari pimpinan perusahaan.
k. Fotokopi ijazah dan STRA dari masing--masing apoteker penanggung jawab
produksi, pengawasan mutu dan pemastian mutu.
l. Surat pernyataan komisaris dan direksi tidak pernah terlibat, baik langsng
maupun tidak langsung dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di
bidang kefarmasian.
Industri farmasi yang melakukan penambahan kapasitas produksi atau
penambahan bentuk sediaan tidak memerlukan izin perluasan. Izin perluasan
diperlukan apabila perusahaan yang bersangkutan akan menambah luas area
produksi. Izin usaha industri farmasi berlaku untuk seterusnya selama perusahaan
industri farmasi yang bersangkutan berproduksi. Permohonan izin usaha industri
farmasi dapat diajukan setelah pembangunan fisik industri farmasi selesai dan
perusahaan siap melaksanakan kegiatan produksi komersial.

2.2

Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)


Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

CPOB diterapkan untuk memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai
dengan persyaratan dan tujuan penggunaan. CPOB mencakup seluruh aspek
produksi dan pengawasan mutu. CPOB merupakan pedoman yang sangat penting
tidak hanya bagi industri farmasi dan regulator, tetapi juga bagi konsumen dalam
memenuhi kebutuhannya akan pengobatan yang aman, berkhasiat dan berkualitas.
Terdapat 12 aspek dalam CPOB, yaitu:
2.2.1 Manajemen Mutu
Dalam manajemen mutu, industri farmasi harus membuat obat sedemikian
rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang
tercantum dalam dokumen izin edar dan tidak menimbulkan risiko yang
membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah, atau tidak efektif.
Manajemen mutu bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan ini melalui suatu
kebijakan mutu yang memerlukan partisipasi dan komitmen dari semua jajaran di
semua departemen dalam perusahaan, para pemasok dan distributor.
Unsur dasar manajemen mutu adalah suatu infrastruktur atau sistem mutu
yang tepat mencakup struktur organisasi, prosedur, proses, dan sumber daya, serta
tindakan sistematis untuk mendapatkan kepastian dengan tingkat kepercayaan
tinggi, sehingga produk atau jasa pelayanan yang dihasilkan akan selalu
memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Keseluruhan tindakan tersebut
disebut pemastian mutu.
2.2.2 Personalia
Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan penerapan
sistem pengawasan mutu yang memuaskan dan pembuatan obat yang benar.
Industri

farmasi

bertanggungjawab

untuk

menyediakan

personil

yang

terkualifikasi dalam jumlah yang memadai untuk melaksanakan semua tugas. Tiap
personil hendaklah memahami tanggung jawab masing-masing. Seluruh personil
hendaklah memahami prinsip CPOB dan memperoleh pelatihan awal yang
berkesinambungan, termasuk instruksi mengenai higiene yang berkaitan dengan
pekerjaan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Personil kunci mencakup kepala bagian Produksi, kepala bagian


Pengawasan Mutu dan kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu). Posisi
utama tersebut dijabat oleh personil purnawaktu. Kepala bagian Produksi dan
kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu)/kepala bagian Pengawasan
Mutu harus independen satu terhadap yang lain.
2.2.3 Bangunan dan Fasilitas
Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat harus memiliki desain,
konstruksi dan letak yang memadai, serta disesuaikan kondisinya dan dirawat
dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang benar. Tata letak dan
desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk memperkecil risiko terjadi
kekeliruan, pencemaran silang dan kesalahan lain, serta memudahkan
pembersihan, sanitasi dan perawatan yang efektif untuk menghindarkan
pencemaran silang, penumpukan debu atau kotoran, dan dampak lain yang dapat
menurunkan mutu obat.
Persyaratan bangunan menurut CPOB, yaitu:
a. Letak bangunan hendaklah sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya
pencemaran dari lingkungan sekelilingnya, seperti pencemaran dari udara,
tanah, dan air maupun dari kegiatan industri lain yang berdekatan.
b. Bangunan dan fasilitas hendaklah dikonstruksi, dilengkapi, dan dirawat agar
memperoleh perlindungan maksimal.
c. Dalam

menentukan

rancang

bangunan

dan

tata

letak

hendaklah

dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut: kesesuaian dengan kegiatan lain,


yang mungkin dilakukan dalam sarana yang sama atau dalam sarana yang
berdampingan; tata letak ruang yang sedemikian rupa untuk memungkinkan
kegiatan produksi dilaksanakan di daerah yang letaknya diatur secara logis
dan berhubungan mengikuti urutan tahap produksi dan menurut kelas
kebersihan yang disyaratkan; luasnya ruang kerja yang memungkinkan
penempatan peralatan dan bahan secara teratur dan logis serta terlaksananya
kegiatan, kelancaran arus kerja, komunikasi dan pengawasan yang efektif;
pencegahan penggunaan kawasan industri sebagai lalu lintas umum.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

d. Daerah pengolahan produk steril dipisahkan dari daerah produksi lain serta
dirancang dan dibangun secara khusus.
e. Produk antibiotika tertentu, hormon tertentu, sitotoksik tertentu, bahan aktif
berpotensi tinggi hendaklah diproduksi di bangunan terpisah.
f. Permukaan bagian dalam ruangan (dinding, lantai, dan langit-langit)
hendaklah licin, bebas dari keretakan, dan sambungan yang terbuka serta
mudah dibersihkan dan bila perlu mudah didesinfeksi.
g. Saluran air limbah hendaklah cukup besar dan mempunyai bak kontrol serta
ventilasi yang baik.
h. Area produksi diventilasi secara efektif dengan fasilitas pengendali udara.
2.2.4 Peralatan
Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan konstruksi
yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dan dikualifikasi dengan
tepat, agar mutu obat terjamin sesuai desain serta seragam dari bets-ke-bets dan
untuk memudahkan pembersihan serta perawatan agar dapat mencegah
kontaminasi silang, penumpukan debu atau kotoran dan, hal-hal yang umumnya
berdampak buruk pada mutu produk.
Hendaklah tersedia alat timbang dan alat ukur dengan rentang dan ketelitian
yang tepat untuk proses produksi dan pengawasan. Peralatan untuk mengukur,
menimbang, mencatat dan mengendalikan hendaklah dikalibrasi dan diperiksa
pada interval waktu tertentu dengan metode yang ditetapkan.
Peralatan hendaklah dipasang sedemikian rupa untuk mencegah risiko
kesalahan atau kontaminasi. Antara masing-masing peralatan hendaklah
ditempatkan pada jarak yang cukup untuk menghindarkan kesesakan dan
memastikan tidak terjadi kekeliruan dan kecampurbauran produk.
Peralatan hendaklah dirawat sesuai jadwal untuk mencegah malfungsi atau
pencemaran yang dapat memengaruhi identitas, mutu atau kemurnian produk.
Peralatan dan alat bantu hendaklah dibersihkan, disimpan, dan bila perlu disanitasi
dan disterilisasi untuk mencegah kontaminasi atau sisa bahan dari proses
sebelumnya yang akan memengaruhi mutu produk.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

2.2.5 Sanitasi dan Higiene


Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap
aspek pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi personil,
bangunan, peralatan, dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya dan
segala sesuatu yang dapat merupakan sumber kontaminasi produk. Sumber
kontaminasi potensial hendaklah dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan
higiene yang menyeluruh dan terpadu.
Penerapan higiene perorangan meliputi pemeriksaan kesehatan, mencuci
tangan sebelum memasuki area produksi, memakai pakaian pelindung. Semua
personil hendaklah menjalani pemeriksaan kesehatan pada saat direkrut. Sesudah
pemeriksaan kesehatan awal hendaklah dilakukan pemeriksaan kesehatan kerja
dan kesehatan personil secara berkala. Tiap personil yang mengidap penyakit atau
menderita luka terbuka yang dapat merugikan mutu produk hendaklah dilarang
menangani bahan awal, bahan pengemas, bahan yang sedang diproses dan obat
jadi sampai kondisi personil tersebut dipertimbangkan tidak lagi menimbulkan
risiko. Kegiatan makan, minum dan merokok tidak diperbolehkan dalam area
gudang, laboratorium dan area produksi.
Sanitasi meliputi bangunan dan fasilitas. Tiap bangunan yang digunakan
untuk pembuatan obat hendaklah didesain dan dikonstruksi dengan tepat untuk
memudahkan sanitasi yang baik. Tiap kali sebelum dipakai, kebersihan peralatan
diperiksa untuk memastikan bahwa semua produk atau bahan dari bets
sebelumnya telah dihilangkan. Prosedur pembersihan, sanitasi dan hygiene
hendaklah divalidasi dan dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitas
prosedur memenuhi persyaratan.

2.2.6 Produksi
Kegiatan produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang
telah ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin senantiasa
menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu serta memenuhi
ketentuan izin pembuatan dan izin edar (registrasi).
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

10

Unsur-unsur produksi yang diatur oleh CPOB meliputi pembelian bahan


awal yaitu bahan baku dan bahan pengemas; validasi proses; pencegahan
kontaminasi silang; sistem penomoran bets/ lot; penimbangan dan penyerahan;
pengolahan; pengemasan; pengawasan selama proses; penanganan bahan dan
produk yang ditolak, dipulihkan dan dikembalikan; karantina dan penyerahan
produk jadi; catatan pengendalian pengiriman obat; penyimpanan bahan awal,
bahan kemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi, dan pengiriman dan
pengangkutan.
2.2.7 Pengawasan Mutu
Kegiatan pengawasan mutu merupakan bagian yang penting dari CPOB
untuk memastikan bahwa produk yang dibuat senantiasa mempunyai mutu yang
sesuai dengan tujuan penggunaannya. Keterlibatan dan komitmen semua pihak
yang berkepentingan dalam seluruh rangkaian pembuatan adalah mutlak untuk
mencapai sasaran mutu yang ditetapkan mulai dari awal pembuatan sampai
distribusi obat jadi.
Pengawasan Mutu mencakup pengambilan sampel, spesifikasi, pengujian
serta termasuk pengaturan, dokumentasi dan prosedur pelulusan yang memastikan
bahwa semua pengujian yang relevan telah dilakukan, dan bahan tidak diluluskan
untuk dipakai atau produk diluluskan untuk dijual, sampai mutunya telah
dibuktikan memenuhi persyaratan.
Pengawasan mutu tidak terbatas pada kegiatan laboratorium, tapi juga harus
terlibat dalam semua keputusan yang terkait dengan mutu produk. Pengawasan
Mutu hendaklah mencakup semua kegiatan analisis.
Ketidaktergantungan Pengawasan Mutu dari Produksi dianggap hal yang
fundamental agar Pengawasan Mutu dapat melakukan kegiatan dengan
memuaskan.
2.2.8. Inspeksi Diri, Audit Mutu, dan Audit & Persetujuan Pemasok
Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah semua aspek
produksi dan pengawasan mutu industri farmasi memenuhi ketentuan CPOB
ditetapkan. Program inspeksi diri hendaklah dirancang untuk mendeteksi
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

11

kelemahan dalam pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan tindakan perbaikan


yang diperlukan. Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara independen dan rinci
oleh petugas yang kompeten dari perusahaan. Inspeksi diri hendaklah dilakukan
secara rutin dan pada situasi khusus, misalnya dalam hal terjadi penarikan kembali
obat jadi atau terjadi penolakan yang berulang. Prosedur dan catatan inspeksi diri
hendaklah didokumentasikan dan dibuat program tindak lanjut yang efektif.
Penyelenggaraan audit mutu berguna sebagai pelengkap inspeksi diri. Audit
mutu meliputi pemeriksaan dan penilaian semua atau sebagian dari sistem
manajemen dengan tujuan spesifik untuk meningkatkan mutu. Audit mutu
umumnya dilaksanakan oleh spesialis dari luar, independen, atau tim yang
dibentuk khusus untuk hal ini oleh manajemen perusahaan.
2.2.9 Penanganan Keluhan Terhadap Obat, Penarikan Kembali, dan Obat
Kembalian
Semua keluhan dan informasi lain yang berkaitan dengan kemungkinan
terjadi kerusakan obat hendaklah dikaji dengan teliti sesuai dengan prosedur
tertulis. Untuk menangani semua kasus yang mendesak hendaklah disusun suatu
sistem, bila perlu mencakup penarikan kembali produk yang diketahui atau diduga
cacat dari peredaran secara cepat dan efektif.
Penarikan kembali produk dapat berupa satu atau beberapa bets atau seluruh
bets produk tertentu dari semua peredaran distribusi. Hendaklah tersedia prosedur
tertulis yang diperiksa secara berkala untuk mengatur segala tindakan penarikan
kembali. Tindakan penarikan kembali produk hendaklah dilakukan segera setelah
diketahui ada produk yang cacat mutu atau diterima laporan mengenai reaksi yang
merugikan. Catatan dan laporan penarikan kembali produk

hendaklah

didokumentasikan dengan baik.


2.2.10 Dokumentasi
Dokumentasi adalah bagian dari sistem informasi manajemen dan
dokumentasi yang baik merupakan bagian yang esensial dari pemastian mutu.
Dokumentasi yang jelas adalah fundamental untuk memastikan bahwa tiap
personil menerima uraian tugas yang relevan secara jelas dan rinci sehingga
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

12

memperkecil resiko terjadi salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya timbul
karena hanya mengandalkan komunikasi lisan. Spesifikasi, dokumen produksi
induk/formula pembuatan, prosedur, metode, instruksi, laporan, dan catatan harus
bebas dari kekeliruan dan tersedia secara tertulis. Keterbacaan dokumen adalah
sangat penting.
2.2.11 Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak
Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak dilakukan jika suatu
perusahan membuat produk di perusahaan lain atau sebaliknya. Pembuatan dan
analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara benar, disetujui dan dikendalikan
untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat menyebabkan produk atau
pekerjaan dengan mutu yang tidak memuaskan. Kontrak tertulis antara pemberi
kontrak dengan penerima kontrak harus dibuat secara jelas dalam hal tanggung
jawab dan kewajiban masing-masing pihak. Kontrak harus menyatakan secara
jelas prosedur pelulusan tiap bets produk untuk diedarkan yang menjadi tanggung
jawab penuh kepala bagian manajemen mutu (pengawasan mutu).
2.2.12 Kualifikasi dan Validasi
Kualifikasi dan validasi adalah bagian penting dari sistem pemastian mutu
sehingga tercantum sebagai persyaratan CPOB bagi industri farmasi. CPOB
mensyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang perlu
dilakukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan yang
dilakukan. Seluruh kegiatan validasi hendaklah direncanakan. Unsur utama
program validasi hendaklah dirinci dengan jelas dan didokumentasikan di dalam
Rencana Induk Validasi (RIV). Validasi diklasifikasikan menjadi tiga, yakni
validasi pembersihan, validasi metode analisis dan validasi proses. Kualifikasi
diklasifikasikan menjadi empat, yaitu kualifikasi desain, kualifikasi instalasi
kualifikasi operasional dan kualifikasi kinerja.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

BAB 3
TINJAUAN KHUSUS PT. KALBE FARMA, Tbk.

3.1. Sejarah dan Perkembangan PT. Kalbe Farma, Tbk.


PT. Kalbe Farma, Tbk. didirikan oleh seorang farmakolog bernama dr.
Boenjamin Setiawan pada tanggal 10 September 1966 di sebuah garasi rumah di
Jalan Simpang I No. 1, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Nama Kalbe merujuk pada
nama para pemegang saham awal yakni Khoew Sioe Tjiang, Liem Lian Kiok, dan
Boenjamin Setiawan. Tujuan pendirian PT. Kalbe Farma, Tbk. adalah turut
berpartisipasi dalam pembangunan nasional pada umumnya dan meningkatkan
kesejahteraan serta derajat kesehatan masyarakat pada khususnya, yang tercermin
dalam moto perusahaan yaitu The Scientific Pursuit of Health For A Better Life
(Mengabdikan Ilmu Untuk Kesehatan dan Kesejahteraan). Seiring waktu berjalan
PT. Kalbe Farma, Tbk menjadi semakin berkembang dan kini PT. Kalbe Farma
Tbk. berada di kawasan industri Delta Silicon Jalan M.H. Thamrin Blok A3-1,
Lippo Cikarang, Bekasi 17550.
Produk pertama yang dihasilkan oleh PT. Kalbe Farma,Tbk adalah obat
kulit Bioplacenton yang menjadi ciri khas PT. Kalbe Farma, Tbk. hingga
sekarang. Produk PT. Kalbe Farma, Tbk. kemudian berkembang menjadi berbagai
macam produk farmasi sesuai dengan kebutuhan konsumen yang beragam. Dalam
rangka meningkatkan pelayanan penyediaan obat sebagai tuntutan atas
meningkatnya kebutuhan obat yang berkualitas maka pada bulan April 1972 PT.
Kalbe Farma,Tbk. melakukan perluasan usahanya dengan memindahkan usahanya
ke lokasi yang lebih luas yaitu ke Jl. Ahmad Yani, Pulomas, Jakarta Timur. Pada
tahun 1980 aktivitas distribusi produk-produk PT. Kalbe Farma, Tbk. dipisahkan
dari kegiatan industrinya yaitu dengan mendirikan PT. Enseval Putra Megatrading
yang bertindak sebagai distributor tunggal PT. Kalbe Farma, Tbk.
Dalam menjalankan setiap kegiatannya PT Kalbe Farma, Tbk. senantiasa
bertujuan untuk memenuhi dan atau mencapai visi yang diterapkan perusahaan.
Visi, Misi, Motto, Goal, dan Strategi PT Kalbe Farma, Tbk. adalah sebagai
berikut :
13

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

14

1. Visi PT. Kalbe Farma, Tbk.:


Menjadi perusahaan perawatan kesehatan Indonesia terbaik yang dimotori
oleh inovasi, nama dagang yang kuat dan manajemen yang unggul
2.

Misi PT. Kalbe Farma, Tbk.:


Meningkatkan kesehatan untuk kehidupan yang lebih baik

3.

Motto PT. Kalbe Farma, Tbk.:


Mengabdikan ilmu di bidang kesehatan untuk kesehatan dan kesejahteraan
Selain itu, PT Kalbe Farma, Tbk. juga membuat suatu core value (nilai inti)

yang berfungsi menunjang penerapan visi dan misi yaitu berupa Kalbe Panca
Sradha dan dijadikan landasan oleh seluruh karyawan dalam menjalankan kinerja
sehari-hari:
1. Trust is the glue of life
Saling percaya adalah perekat diantara kami
2. Mindfulness is the foundation of our action
Kesadaran penuh adalah dasar setiap tindakan kami
3. Innovation is the key to our success
Inovasi adalah kunci keberhasilan kami
4. Strive to be the best
Bertekad untuk menjadi yang terbaik
5.

Interconnectedness is a universal way of life


Saling keterkaitan adalah panduan hidup kami

Gambar 3.1. Logo PT. Kalbe Farma, Tbk.


PT. Kalbe Farma, Tbk. berhasil melakukan integrasi sertifikasi ISO
9001:2000, sertifikasi ISO 14001:2004 dan OHSAS 18001:1999.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

15

3.2. Visi dan Misi PT. Kalbe Farma, Tbk.


Visi PT. Kalbe Farma, Tbk. adalah Menjadi perusahaan perawatan
kesehatan terbaik yang dimotori oleh inovasi, nama dagang yang kuat, dan
manajemen yang unggul. Untuk mencapai visi tersebut, PT. Kalbe Farma, Tbk.
menetapkan misi perusahaan yakni Meningkatkan kesehatan untuk kehidupan
yang lebih baik. Misi tersebut berfokus pada tiga elemen utama, yaitu:
a. Konsumen
PT. Kalbe Farma, Tbk. mampu menyediakan produk berkualitas dengan harga
murah dan terjangkau, mudah diperoleh, serta dengan pelayanan yang prima
untuk menyenangkan hati pelanggan agar menjadi pilihan pertama konsumen.
b. Sumber Daya Manusia (SDM)
PT. Kalbe Farma, Tbk. mampu mewujudkan SDM yang sesuai dengan
kualifikasi dan tuntutan pekerjaan, memiliki dedikasi tinggi, inovatif,
berorientasi pada pelayanan dan kualitas, serta pengembangan SDM melalui
proses belajar yang berkelanjutan dan lingkungan kerja yang sehat dan
mendukung.
c. Proses dan Kualitas
PT. Kalbe Farma, Tbk. mampu meningkatkan kecepatan dan efisiensi proses
kerja melalui sistem dan prosedur kerja yang rapi sesuai dengan perencanaan,
usaha, pemeriksaan, dan aksi (plan, do, check, and action/PDCA).
Visi dan misi tersebut didukung oleh nilai-nilai utama yakni gigih untuk
mencapai yang terbaik, inovasi, kerjasama yang kokoh, lincah, memberikan
pelayanan terbaik, serta integritas. Dalam mencapai visi dan misi tersebut, PT.
Kalbe Farma, Tbk. memiliki moto The Scientific Pursuit of Health For A Better
Life (Mengabdikan Ilmu Untuk Kesehatan dan Kesejahteraan).
3.3. Lokasi dan Tata Ruang PT. Kalbe Farma, Tbk.
PT. Kalbe Farma, Tbk. terletak di Kawasan Industri Delta Silicon Jalan
M.H. Thamrin Blok A1-3, Lippo Cikarang, Bekasi. Bangunan PT Kalbe Farma,
Tbk. terdiri dari dua bagian yaitu bangunan kantor dan bangunan pabrik yang
meliputi: gedung produksi, teknik, gudang, dan sarana pendukung seperti
pengolahan limbah, lapangan parkir, koperasi dan kantin.
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

16

3.3.1 Bangunan Kantor


Gedung kantor PT. Kalbe Farma, Tbk. terdiri dari empat lantai yaitu:
a. Lantai 1 meliputi bagian Departemen Human Resource Development,
Departemen Personal General Affair, Departemen Process Development,
Departemen Akuntansi, Departemen Pembelian, ruang perpustakaan, dan
kantin.
b. Lantai 1 meliputi Departemen Perencanaan Produksi dan Pengendalian
Persediaan Pusat, Departemen Veteriner, serta Departemen Teknologi
Informasi, Departemen Group Process Improvement.
c. Lantai 2 meliputi Departemen Keuangan dan Pemasaran, Departemen Quality
System, dan Direksi.
d. Lantai 3 meliputi Departemen Research and Development yang terdiri dari
bagian Formulation dan Analytical Development, Departemen Pemastian Mutu
(Quality Assurance), Departemen Pengawasan Mutu (Quality Control) dengan
laboratorium pengawasan mutu.
e. Lantai 4 meliputi ruangan pilot plant Departemen Research and Development.
3.3.2 Bangunan Pabrik
Gedung produksi terdiri dari tiga lantai yang masing-masing lantai
dipisahkan oleh ruang yang disebut Mezanin, yaitu ruang khusus untuk
penempatan fasilitas utilitas seperti penyedot udara, pipa-pipa, kabel listrik, dan
lain-lain. Tiap lantai terdiri dari line (jalur) produksi dengan jumlah total 12 Line,
yaitu jalur 1, 1 extension, 2, 4, 5, 6, 7, 8A, 8B, 8 extension, 9 dan 10. Pada tahun
2013 ada penambahan kapasitas ruangan pada line tertentu dan sampai
penyusunan laporan ini dibuat ruangan tersebut sedang dalam kualifikasi sistem
bangunan dan fasilitas. Pembagian ruangan pada gedung produksi adalah sebagai
berikut:
a.

Lantai dasar digunakan untuk ruang produksi line 9 dan 10, gudang alkohol,
Departemen Teknik, Ruang QA Facility Validation dan ruang loker
karyawan.

b.

Lantai 1 digunakan untuk ruang produksi line 1, 1 extension, line 2, line 4,


line 5, gudang bahan baku dan wadah, gudang kemas, dan gudang obat jadi.
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

17

c.

Lantai 2 digunakan untuk ruang produksi line 6, line 7, line 8A, 8B dan line 8
extension.

d.

Lantai 3 digunakan untuk ruang purified water generator, pure steam


generator, water for injection generator, dan oil free air compressor.
Lantai ruang produksi di PT. Kalbe Farma, Tbk. dicat menggunakan cat

epoksi agar mudah dibersihkan, dibuat melengkung (tidak memiliki sudut) agar
tidak menjadi tempat berkumpulnya debu, serta bingkai jendelanya dibuat miring
dengan maksud agar mudah dibersihkan dan juga tidak menjadi tempat
berkumpulnya debu. Berdasarkan CPOB tahun 2012, ruangan di industri farmasi
dibagi menjadi 5 jenis area berdasarkan perbedaan tingkat kebersihannya, yaitu
kelas A, B, C, D dan E. Kelas A, B, C, dan D digunakan untuk produksi sediaan
steril dan kelas E untuk produksi sediaan nonsteril. PT. Kalbe Farma, Tbk. telah
menyesuaikan kembali klasifikasi ruangan sesuai dengan pedoman CPOB 2012.
Meskipun demikian dalam kesehariannya area produksi steril (kelas A, B, C, dan
D) masih disebut sebagai area putih (white area), area produksi nonsteril (kelas E)
disebut area abu-abu (grey area), dan area pengemasan sekunder disebut area
hitam (black area).
3.4

Struktur Organisasi PT. Kalbe Farma, Tbk.


Bagan struktur organisasi PT. Kalbe Farma, Tbk. dapat dilihat pada

Lampiran 1.
3.4.1 Departemen Research and Development
Departemen Research and Development (R&D) berperan antara lain dalam
pengembangan produk baru, pengatasan masalah produksi, proyek penelitian
khusus, penentuan spesifikasi bahan baku untuk manufacturing, penyusunan
metode analisa, penentuan shelf-life produk, dan penunjang data untuk
penyusunan dossier registrasi (formula, data stabilitas, dan kemasan). Departemen
R&D dipimpin oleh seorang R&D Pharma Deputy Director. Departemen R&D
mencakup tiga bagian utama, yaitu:
3.4.1.1 Packaging Development (Pengembangan Kemasan)
Tugas utama Packaging Development adalah melakukan penelitian dan
pengembangan material kemasan (primer dan sekunder) untuk produk baru,
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

18

melakukan penelitian dan pengembangan desain produk baru, dan menyiapkan


atau menyediakan dokumen yang terkait dengan kemasan meliputi dokumen
spesifikasi, metode analisis (MA), dan Prosedur Pengemasan Induk 3 (PPI 3).
3.4.1.2 Formulation (Pengembangan Formula)
Tugas utama Formulation adalah pengembangan produk baru, baik OTC
maupun ethical sesuai dengan perkembangan teknologi sediaan farmasi. Proses
pengembangan produk baru ini dapat dilakukan di dalam perusahaan atau di luar
perusahaan misalnya, melalui kegiatan lisensi atau bekerja sama dengan lembaga
penelitian/pendidikan.
3.4.1.3 Analytical Development (Pengembangan Metode Analisis)
Tugas utama Analytical Development adalah sebagai berikut:
a. Mengembangkan metode analisis suatu senyawa obat, bahan pengemas, dan
sampel produk sehingga diperoleh metode analisis yang sesuai. Untuk produk,
bahan baku, dan bahan pengemas yang akan digunakan dan diproduksi.
Metode analisis yang diperoleh selanjutnya divalidasi dan dijadikan acuan
analisis pemeriksaan rutin sehingga metode analisis tersebut menjadi valid,
efektif, dan praktis.
b. Menentukan approved manufacturer bahan baku baru yang digunakan di PT.
Kalbe Farma, Tbk.
3.4.2 Departemen Process Development
Pada awalnya Departemen Process Development merupakan bagian dari
departemen Research & Development. Pada awal tahun 2007, Process
Development dipisahkan dari Departemen R&D. Fungsi R&D ke arah riset
pengembangan produk baru dan produk NDDS (New Delivery Drug System)
sedangkan untuk Process Development ke arah produk-produk yang sudah ada
(existing product) dan non-NDDS. Secara umum Departemen Process
Development menangani semua produk-produk yang sudah ada (existing),
menerima peralihan tanggung jawab terhadap status material yang berubah dari
percobaan menjadi induk, dan mengatasi masalah atau trouble shooting produksi.
Departemen Process Development dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

19

3.4.2.1 Formulation (Formulasi)


Tugas utama bagian formulasi adalah memperbaiki atau mengembangkan
formula-formula produk existing, mendukung bagian produksi jika ada masalah
terutama dalam hal formulasi, dan mendukung bagian pembelian (purchasing)
dalam hal diversifikasi raw material. Menyiapkan dokumen untuk bagian
produksi, seperti: Prosedur Pengolahan Induk 1 (PPI 1) yang berisi keterangan
Raw Material yang digunakan dan Prosedur Pengolahan Induk 2 (PPI 2) yang
berisi prosedur pembuatan obat dan spesifikasinya.
3.4.2.2 Packaging (Kemasan)
Tugas utama bagian kemasan adalah melakukan penelitian dan
pengembangan material kemasan, baik primer dan sekunder, penelitian dan
pengembangan tersebut juga mencakup uji stabilitas dan trial di produksi (jika
diperlukan). Selain itu bagian kemasan juga melakukan penelitian dan
pengembangan desain kemasan produk existing, mulai dari pembuatan konsep,
verifikasi sampai dengan penyiapan disket dan print-out final art work untuk
dikirim ke supplier kemasan serta menyiapkan/menyediakan dokumen yang
terkait dengan kemasan seperti Prosedur Pengolahan Induk (PPI) dan Production
Model (PM) Kemas. Bagian ini juga memberi dukungan terhadap bagian lain
untuk masalah-masalah yang terkait/berhubungan dengan kemasan, seperti
pembelian mesin baru di bagian produksi, diversifikasi supplier oleh bagian
Purchasing dan permintaan penyederhanaan prosedur pemeriksaan dari bagian
QC.
3.4.2.3 Analytical Development
Tugas bagian Analytical Development (Andev) adalah:
a. Pengembangan metode dan membantu dalam diversifikasi. Trouble solution
jika ada masalah analisa
b. Studi pre-marketing percobaan pilot Process Development
3.4.3 Departemen Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan
Departemen

Perencanaan

Produksi

dan

Pengendalian

Persediaan/

Production Planning and Inventory Control (PPIC) PT. Kalbe Farma, Tbk.
merupakan bagian dari grup PPIC dari empat situs perusahaan yang berada di
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

20

bawah grup Pharma Kalbe, yaitu PT. Kalbe Farma, Tbk., PT. Dankos Farma, PT.
Hexpharm Jaya, dan PT. Fima. Grup PPIC ini menjadi penghubung antara bagian
pemasaran dan distributor, yaitu PT. Enseval Putra Megatrading dengan divisi
produksi masing-masing situs. Departemen PPIC berada dibawah koordinasi
Assistant Director Plant. PPIC manajer membawahi PPIC specialist, sedangkan
PPIC specialist membawahi tiga bagian yaitu Inventory Plannning Control (IPC),
Production Planning Control (PPC), dan Toll Manufacturing. Secara umum tugas
dari departemen ini adalah sebagai berikut:
a) Merencanakan, mempersiapkan, dan mengendalikan proses produksi mulai dari
bahan baku sampai obat jadi.
b) Melakukan kegiatan toll manufacturing, meliputi:
1) Toll in, yaitu permintaan produksi dari perusahaan lain yang bisa dipenuhi
karena masih tersedia kapasitas.
2) Toll out, yaitu permintaan bantuan produksi ke perusahaan lain karena tidak
memiliki fasilitas produksi produk bersangkutan atau karena kapasitas tidak
mencukupi.
c) Membuat laporan ke instansi terkait, antara lain hasil produksi, pemakaian
material seperti prekursor dan narkotik/psikotropik.
Tugas dari masing-masing bagian di Departemen PPIC adalah:
a. Inventory Planning Control (IPC):
1) Menghitung Evaluasi Kebutuhan Material (EKM) bulanan selama 6 bulan
ke depan berdasarkan Rolling Production Plan (RPP).
2) Memantau persediaan bahan baku, wadah, dan kemasan dengan
mempertimbangkan prioritas penggunaan material di bagian produksi.
3) Membuat Formulir Permintaan Barang (FPB) untuk material.
4) Memperbanyak dan menurunkan Kartu Produksi (KP) atau Prosedur
Pengolahan Induk (PPI)
b. Production Planning Control (PPC):
1) Menerjemahkan rolling forecast (ROFO) yang merupakan permintaan dari
PT. Enseval Putra Megatrading menjadi Rolling Production Plan (RPP)
dengan mempertimbangkan stock, buffer stock, work in process (WIP),
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

21

batch size, average selling out, pending order, dan day of inventory (DOI).
ROFO merupakan jumlah perkiraan penjualan selama 6 bulan mendatang
dalam satuan unit. RPP merupakan rencana produksi yang dibuat setiap 6
bulan mendatang dalam satuan bets.
2) Mengirim RPP ke bagian IPC untuk dijadikan dasar penyusunan Rencana
Pemakaian Material (RPM) setiap bulan.
3) Membuat rencana produksi bulanan (RPB) yang berisikan jumlah bets dan
target yang harus dicapai oleh Departemen Produksi selama satu bulan.
4) Mengevaluasi pencapaian rencana produksi bulan lalu untuk perencanaan
rencana produksi bulan berikutnya
c. Toll Manufacturing bertugas mengoordinasi produk-produk toll out dan toll in
untuk menjamin agar kebutuhan sales dan marketing tetap dapat dipenuhi oleh
rekanan yang telah ditentukan oleh perusahaan apabila kapasitas produksi tidak
tersedia/tidak mencukupi.
3.4.4 Departemen Produksi
Departemen produksi merupakan bagian Plant Department yang dipimpin
oleh Group Production Manager (GPM). GPM membawahi 4 manajer produksi.
Masing-masing manajer memiliki tanggung jawab terhadap mini company
produksi yang terdiri dari beberapa line produksi. Mini company promag terdiri
dari line 1 dan line 1 extension. Mini company promag dalam menjalankan
tugasnya masih berjalan bersama Mini company 1. Mini company promag
dihapuskan kemudian bergabung bersama Mini company 1. Mini company II
terdiri dari line 4, 5, dan 6. Sedangkan untuk mini company III terdiri dari line 7,
8A, dan 8B. Masing masing mini company dipimpin oleh seorang manajer
produksi. Masing-masing line dijalankan oleh supervisor produksi atau disebut
juga Penanggung Jawab Line (PJL) yang bertanggung jawab kepada manajer
produksi di masing-masing mini company. Sedangkan PJL pada masing-masing
line produksi membawahi koordinator lapangan, production engineer (PE),
administrasi, operator, pembantu operator, production helper, dan packer.
Line Produksi di PT. Kalbe Farma, Tbk. Cikarang terdiri dari 12 bagian
line yaitu line 1, 1 extension, 2, 4, 5, 6, 7, 8A, 8B, 8 extension, 9, dan 10.
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

22

Line tersebut digolongkan menjadi dedicated line dan non-dedicated line.


Dedicated line merupakan line yang memproduksi obat dalam jenis produk
yang relatif sedikit, tapi dengan ukuran bets yang besar. Line ini terdiri atas
line 1, 1 extension, 4, dan 9. Non-dedicated line merupakan

line

yang

memproduksi obat dengan jenis produk relatif banyak namun dengan ukuran
bets yang relatif kecil atau sedikit. Line ini terdiri atas line 2, 5, 6, 7, 8A, 8B, 8
extension dan 10. Produk obat yang diproduksi di setiap line adalah sebagai
berikut:
1.

Line 1: line ini memproduksi 1 jenis produk sediaan padat yaitu tablet
Promag. Line ini juga mempunyai extension. Line 1 extension ini khusus
memproduksi tablet Promag untuk menunjang permintaan pasar yang tidak
dapat dipenuhi oleh line 1. Untuk line 1 extension sejak agustus 2013 telah
melakukan produksi karena telah lolos kualifikasi dan menjadi line 11.

2.

Line 2: line ini terdiri atas 3 line yang merupakan gabungan dari line 2A,
line 2B dan line 2C. Sebagian besar produk line 2A adalah tablet inti,
sedangkan produk line 2B adalah tablet coating. Produk line 2 antara lain:
Neo Entrostop, Xon-Ce, Pronicy, Neuralgin, Cypron, Vitazym,
Zegavit, dan Zegase. Line 2C untuk proses pengemasan dan pengepakan

3.

Line 4: line yang memproduksi tablet inti, contoh produknya: Procold,


dan Promag Double Action.

4.

Line 5: line yang memproduksi sediaan cair oral antara lain sirup, emulsi,
dan suspensi seperti Cerebrofort, Plantacid, dan Woods. Line 5 juga
mengalami perluasan produksi dengan penambahan line 5 extension, hingga
laporan ini dibuat, line 5 extension masih dalam tahap PQ (performance
qualification)

5.

Line 6: line ini khusus memproduksi sediaan cair steril (injeksi) seperti
Rantin, Ulsikur, dan Kalmethasone.

6.

Line 7: line ini memproduksi sediaan semi padat topikal seperti krim,
semi solid seperti jeli dan salep, serta sediaan supositoria dan ovula.
Contoh produknya adalah Bioplacenton (gel), Mycoral (krim), dan
Kaltrofen (gel dan supositoria).

7.

Line 8: line yang banyak memproduksi beberapa jenis produk obat


Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

23

namun volumenya kecil. Produk yang dihasilkan tersebut sebagian besar


merupakan produk ethical. Line ini dibagi menjadi 3 yaitu line 8A dan 8
extension yang menangani proses pembuatan produk, line 8B menangani
pengemasan produk.
8.

Line 9: line ini khusus memproduksi sediaan cair non- oral seperti
Kalpanax Tincture.

9.

Line 10: line ini khusus melakukan pengemasan ulang (repack) untuk
produk impor.
Tugas umum Departemen Produksi secara keseluruhan adalah melakukan

proses produksi dari raw material dan packaging material menjadi produk jadi.
Tugas dan tanggung jawab masing-masing line produksi antara lain:
a. Mencapai target produksi (kuantitas, kualitas, dan waktu yang tepat) yang
ditetapkan berdasarkan ketersediaan kapasitas mesin dan ketersediaan tenaga
kerja serta memonitor aktivitas harian dan mingguan berdasarkan Jadwal
Produksi Mingguan (JPM).
b. Mengoptimalkan dan mengontrol expense (biaya bulanan dan tahunan) yang
dipakai untuk mencapai target produksi. Sebagai contoh, biaya lembur dan gaji
karyawan, biaya toolsand supplies (selang, solvent, dan oli), dan maintenance
mesin (break down dan periodik).
c. Mencapai rendemen (yield) yang ditetapkan dengan cara meminimalkan bahan
baku yang terbuang pada setiap tahap proses dan mengusulkan penyederhanaan
proses (bekerjasama dengan R&D dan Process Development). Rendemen
sudah ditetapkan standarnya setiap tahun.
d. Memastikan ketersediaan utilitas kerja, seperti Air Handling Unit (AHU),
pengendali tekanan, Relative Humidity (RH), udara, dan suhu.
e. Memantau produktivitas kerja (orang dan mesin).
f. Mengefisienkan

pemakaian

kapasitas

mesin

dengan

cara

melakukan

penjadwalan yang efisien, penempatan operator yang tepat, dan perawatan


mesin.
g. Memeriksa, mengevaluasi, dan memberi approval dokumen-dokumen yang
dipakai dan dikirim ke QA.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

24

h. Memberi masukan kepada atasan untuk perencanaan jangka panjang (misalnya:


perubahan lay out ruangan, penambahan mesin dan karyawan, optimalisasi
cara kerja).
i. Memastikan suasana kerja yang sehat dan memotivasi bawahan (misalnya
membantu masalah mereka dan memberi training).
j. Memastikan dipenuhinya standar atau peraturan yang berlaku (misal: CPOB,
ISO 9000, OSHAS 18000, ISO 14000, dan cGMP) dan berkomitmen untuk
mengimplementasikan kebijakan mutu, Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(K3), dan Lingkungan.
3.4.5. Departemen Group Process Improvement (GPI)
Departemen Group Process Improvement adalah departemen yang terbentuk
pada tahun 2006. Departemen ini bertujuan untuk mengadakan continual
improvement agar perusahaan dapat terus berkembang menjadi lebih baik. Misi
GPI adalah untuk mengarahkan perbaikan berkesinambungan agar tumbuh
menjadi budaya di lingkungan Kalbe Group serta untuk memfasilitasi kegiatan
tersebut di empat operasi bisnis agar dapat tumbuh secara bersama.
Tugas dan tanggung jawab dari departemen GPI antara lain adalah:
1. Energy Cost Saving
2. Standar Minimal Spesifikasi Mesin
3. Focus Plant
4. Proyek Lean
5. Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin (5R)
6. Continual improvement
Dalam melakukan perbaikan proses dengan metode Continual Improvement
ada enam tahapan yaitu:
a. Understand the customer
Memahami pernyataan end customer terkait tentang keinginan, kebutuhan,
harapan terhadap suatu produk atau jasa yang dijadikan sebagai persyaratan.
Untuk

memenuhi

persyaratan

tersebut,

perusahaan

harus

mengukur

kemampuan dan mengidentifikasi adanya gap.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

25

b. Analisis Efisiensi
Fokus pada pemenuhan kebutuhan dan harapan pelanggan internal, minimasi
biaya, minimasi variasi, dan waktu siklus.
c. Analyze the Process
Pada tahap analisis, amati kondisi proses exsisting, proses yang tidak efektif,
tidak efisien, dan proses yang buruk.
d. Improve the Process
Aktivitas improvement tergantung dari tujuan yang ingin dicapai. Continual
Improvement membentuk pemahaman yang fundamental pada customer
requirement, kapabilitas proses, dan root cause gap yang terjadi. Contohnya
dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas produk atau jasa, maka aktivitas
improvement yang dilakukan adalah berfokus pada pengurangan variasi, error,
serta cacat.
e. Implement changes
f. Standardize and monitor
3.4.6. Departemen Quality Operation
Quality Operation adalah departemen yang bertugas menjamin mutu produk
yang dihasilkan dengan memperhatikan seluruh aspek yang berpengaruh pada
kualitas produk. Departemen QO dipimpin oleh seorang QO Manajer yang
bertanggung jawab kepada Plant Head. Secara umum QO dibagi menjadi dua
kelompok besar yaitu Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA).
3.4.6.1 Quality Control (QC)
Secara umum bagian QC bertugas dalam:
a) Pelulusan dan pengujian terhadap material yang datang (raw material dan
packaging material), produk ruahan, dan produk jadi.
b) Memberikan persetujuan pemeriksaan (retesting) dan pengerjaan ulang
(rework) suatu produk.
Bagian-bagian dalam Departemen QC:
a) Seksi Bahan Baku (Raw material)

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

26

Seksi ini bertanggung jawab dalam menjamin bahwa material yang digunakan
untuk produksi sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. Pada bahan baku,
terdapat kode-kode yang menunjukkan identitas bahan baku tersebut. Misalnya
kode 12 menunjukkan bahan yang tergolong mahal, 13 menunjukkan zat aktif,
14 menunjukkan eksipien, 15 menunjukkan bahan baku cairan, kode 19
meninjukkan material repack. Pada material repack hanya dilakukan
pemeriksaan fisik berdasarkan sertifikat analisa dan perubahan kemasan serta
label.
b) Seksi Wadah dan Kemasan (Packaging Material)
Bagian ini bertugas melakukan pemeriksaan terhadap semua wadah dan
kemasan dengan prosedur berdasarkan MA yang telah ditetapkan oleh
Departemen R&D.
c) Seksi Obat Jadi
Seksi ini bertanggung jawab dalam menjamin bahwa wadah dan kemasan yang
digunakan untuk pengemasan produk sesuai dengan spesifikasi yang
ditetapkan. Beberapa material yang diuji antra lain, aluminium foil, ampul,
vial, botol, dus, blister, dan lain sebagainya.
d) Seksi Stabilita
Seksi ini bertugas memeriksa stabilita post marketing dari produk yang sudah
jadi. Memeriksa batas kadaluarsa, jangka waktu penggunaan kemasan, dan
kondisi penyimpanan tertentu.
e) Laboratorium Mikrobiologi
Seksi ini bertugas melakukan pemeriksaan mikrobiologi material dan obat
sesuai dengan MA yang telah ditetapkan oleh Departemen R&D. Pemeriksaan
yang dilakukan yaitu: potensi antibiotika, uji sterilitas, uji pirogen dan
endotoksin, pemeriksaan angka total mikroba, pemeriksaan untuk uji sampel
stabilitas, pemeriksaan sampel pertinggal, dan pemeriksaan hasil validasi
pembersihan mesin. Selain mendukung seksi bahan baku, seksi wadah dan
kemasan, dan seksi obat jadi, laboratorium mikrobiologi juga mendukung
bagian validasi dalam pemeriksaan ruangan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

27

QC Mikro

QC Mikro

QC Mikro

Gambar 3.2. Gambaran Kegiatan Masing-Masing Seksi Departemen QC


Dalam pelaksanaan analisis produk ruahan, jika terdapat parameter yang
tidak memenuhi persyaratan, maka dipertimbangkan terlebih dahulu apakah
parameter tersebut kritis atau tidak. Setelah itu, lakukan investigasi terhadap MA,
apakah analisis telah dilakukan dengan benar. Investigasi dilakukan pada titik
yang berbeda atau analis yang berbeda. Jika memang hasilnya tidak memenuhi
persyaratan, maka lakukan investigasi pada bets sebelumnya. Jika bets
sebelumnya memenuhi syarat, maka dilakukan pemeriksaan ulang dengan
menambahkan jumlah sampel. Jika bets sebelumnya tidak memenuhi syarat, maka
lakukan konfirmasi kepada departemen produksi. Jika dalam kurun waktu dan
jumlah bets tertentu hasilnya selalu tidak memenuhi syarat, maka lakukan
pengajuan persyaratan yang baru.
Hubungan Departemen QC dengan departemen lain adalah sebagai berikut:
a. Departemen Logistik
Bahan baku dan bahan kemas yang diterima oleh Departemen Logistik
diperiksa oleh Departemen QC.
b. Departemen R&D
Departemen QC melakukan pemeriksaan rutin menggunakan metode analisa
yang ditetapkan oleh Analytical Development dan Packaging Development
yang merupakan bagian dari Departemen R&D. Sebelum suatu metode analisa
ditetapkan oleh Analytical Development dan Packaging Development,
dilakukan transfer metode analisa ke Departemen QC untuk menyempurnakan
metode analisa tersebut.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

28

c. Departemen Produksi
Departemen QC memeriksa kualitas produk ruahan berdasarkan sampling yang
dilakukan oleh Departemen Produksi (IPC mandiri). Untuk In Process Control
(IPC) dilakukan oleh Departemen Produksi karena bagian produksi di PT.
Kalbe Farma, Tbk. dianggap sudah mampu untuk melakukan IPC sendiri dan
Departemen QC melakukan pemeriksaan composit sample dari hasil suatu
proses produksi.
d. Departemen Pembelian (Purchasing)
Hubungan Departemen QC dengan bagian pembelian melibatkan bagian
Analytical Development dan Formulasi. Bagian pembelian akan membeli
bahan baku maupun bahan kemas dari pemasok baru setelah memperoleh
persetujuan dari bagian Analytical Development dan Formulasi. Selanjutnya,
bahan baku dan bahan kemas yang dibeli dari source baru diperiksa
kualitasnya oleh Departemen QC menggunakan metode analisa yang
ditetapkan oleh bagian Analytical Development.
e. Departemen Marketing
Departemen QC memberikan informasi ke Departemen Marketing tentang
release batch number pertama produk baru dan pemberitahuan perubahan
kemasan.
3.4.6.2 Quality Assurance (QA)
Departemen QA dipimpin oleh seorang QA Manajer yang bertanggung
jawab langsung kepada QO Manajer. Secara umum QA dibagi menjadi empat
kelompok besar yaitu Audit Proses, Post Marketing, Validasi, dan GMP
Compliance.
a. Audit Proses
Bagian audit memiliki beberapa tugas, yaitu audit proses, audit produk, audit
vendor, penanganan masalah di produksi, dan monitoring penyimpangan.
Audit proses dilakukan untuk memastikan proses produksi berjalan sesuai
dengan prosedur yang telah ditetapkan. Proses yang dimaksud bukan hanya
proses pembuatannya, tetapi mulai dari penerimaan bahan baku. IPC (In
Process Control) juga termasuk dalam audit proses ini. Inspektor akan datang
ke bagian gudang dan produksi secara langsung untuk mengamati apakah pada
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

29

proses yang dilakukan terdapat penyimpangan atau tidak. Kegiatan ini


dilakukan secara berkala. Audit produk dilakukan pada setiap jalur produksi
(line). Audit produk ini bertujuan untuk mengetahui dan memastikan bahwa
produk yang telah dirilis benar-benar layak atau memenuhi persyaratan. Selain
itu, audit produk ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa sistem yang telah
dibuat berjalan dengan baik di lapangan. Audit vendor yang dilakukan ada 2,
yaitu audit vendor bahan baku dan audit vendor produk toll out. Audit vendor
yang dilakukan serupa dengan audit proses. Penanganan masalah di produksi
dilakukan dengan sampling produk yang mengalami masalah tersebut.
Hasilnya dapat berupa rilis, diproses ulang, atau musnah. Penyimpangan yang
terjadi, beserta penyebab dan usulan perbaikannya dilaporkan pada lembar
deviation report.
b. Post Marketing
Post Marketing bertugas melakukan pemantauan atau pengawasan terhadap
kualitas produk jadi setelah produk tersebut diproduksi dan dipasarkan. Tugas
dari post marketing adalah menangangi keluhan pelanggan (product
complaint), menangani recall dan returned product, dan post marketing
stability testing.
c. Validasi
Validasi adalah suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap
bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme yang
digunakan dalam produksi dan pengawasan akan senantiasa mencapai hasil
yang diinginkan. Bagian Validasi di PT. Kalbe Farma, Tbk memiliki bagian
validasi proses, validasi pembersihan, validasi fasilitas dan utilitas, validasi
computer, dan annual product review.
d. GMP Compliance
Pada GMP Compliance terdapat bagian pengendalian perubahan (Change
Control). Tujuan Change Control adalah agar setiap perubahan yang berkaitan
dengan mutu, lingkungan dan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)
dievaluasi dahulu dampaknya terhadap mutu, lingkungan, dan K3 serta sesuai
pada

ketentuan,

peraturan

atau

undang-undang

terkait

sebelum

diimplementasikan. Jika terjadi suatu perubahan, misalnya terjadi penggantian


Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

30

mesin, maka departemen tersebut akan mengajukan usulan perubahan


kemudian perubahan tersebut diamati dan dipelajari oleh tiap departemen yang
terkait, apakah perubahan memberikan dampak atau tidak.
e. Kalibrasi dan Kualifikasi
Tujuan dilakukan kalibrasi untuk memastikan semua peralatan yang digunakan
untuk pengukuran selalu memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan sehingga
menjamin ketelitian pengukuran berada dalam batas yang diijinkan. Sebagai
parameter digunakan suatu kalibrator yang spesifik untuk setiap instrumen.
Kualifikasi adalah tindakan untuk memastikan kelayakan dari suatu mesin atau
peralatan. Kualifikasi yang dilakukan meliputi: Design Qualification (DQ),
Installation

Qualfication

(IQ),

Operational

Qualification

(OQ),

dan

Performance Qualification (PQ). Kalibrasi merupakan bagian dari kualifikasi,


dengan interval pengujian yang lebih sempit (misalnya, kalibrasi dilakukan per
6 bulan, sedangkan kualifikasi dilakukan minimal 3 tahun bila tidak ada
perubahan yang signifikan).
f. Evaluasi Catatan Bets (Evaluation Batch Record/ EBR)
Bagian ini bertanggung jawab memeriksa kelengkapan batch record serta
menyatukan data-data dari produksi dan hasil analisa dari departemen QC.
EBR diperlukan sebagai dokumentasi dan untuk memastikan produk sebelum
di-release telah dievaluasi dengan benar termasuk penelusuran masalah jika
terjadi penyimpangan.
3.4.7. Departemen Quality System
Quality System (QS) mempunyai fungsi utama memastikan standar atau
pedoman yang ada senantiasa berjalan dengan baik. QS bertugas memelihara dan
mengembangkan sistem di PT. Kalbe Farma, Tbk. Secara keseluruhan, sistem
yang dibuat telah memasukkan unsur-unsur CPOB/c-GMP, ISO 9001: 2000, ISO
14001:2004, OHSAS 18001, dan juga dalam Best Practice yang ada di PT Kalbe
Farma, Tbk.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

31

a. System Compliance
Bagian ini memiliki tanggung jawab dalam Management Review, Audit
Development, Corrective Action/Preventive Action (CAPA), dan Standard
Development.
b. Document Compliance
Secara umum tugas QS dalam Document Compliance adalah apabila terdapat
dokumen baru atau perubahan pada dokumen lama, dokumen baru atau
dokumen yang telah diubah tersebut harus dikaji terlebih dahulu oleh QS.
Selanjutnya QS akan mengkaji dampak perubahan terhadap departemen lain.
Setelah dokumen diperbaiki disetujui oleh QS, perlu dilakukan pelatihan pada
semua personil yang terkait. Setelah itu, dokumen tersebut baru bisa
didistribusikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
c. Occupational Health, Safety & Environment (OHSE) compliance
OHSE dikoordinasi oleh System Compliance yang bertugas untuk memastikan
kinerja sistem manajemen K3 & lingkungan telah diterapkan dengan baik.
Selain itu OHSE juga bertugas untuk melakukan identifikasi, mencegah, dan
mengatasi hazard (bahaya) yang akan timbul akibat tidak memahami standar
prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Cara yang dilakukan antara
lain:

eliminasi,

substitusi,

engineering

control,

visual

control

dan

administration Control, alat pelindung diri (APD).


d. Plan Do Check Action (PDCA)
Divisi ini bertugas untuk memeriksa setiap kegiatan kerja yang akan
dilaksanakan oleh departemen-departemen yang ada di PT. Kalbe Farma, Tbk.
Pada umumnya mereka akan mengikuti setiap rapat kerja yang ada dan
mengevaluasi kinerja program serta status kemajuannya.
e. Continual Improvement Program Development
Bagian Program Development memiliki tugas yang terbagi menjadi dua, yaitu
Program

Development

Maintenance.

Bagian

&
ini

Maintenance

dan

bertanggung jawab

Training
untuk

Development

merancang dan

melaksanakan sistem pelatihan bagi karyawan, khususnya karyawan baru,


sebagai sarana untuk meningkatkan budaya kualitas karyawan sehingga
tercipta produk yang berkualitas. Program-program pengembangan yang
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

32

dilaksanakan antara lain 5R, Ko HASE, serta Continual Improvement


(CONIM). Setiap kebijakan CONIM yang telah dibuat oleh Group Process
Improvement (GPI) kemudian diteruskan kepada divisi ini untuk kemudian
dirancang pelaksanaannya.
3.4.8. Departemen Logistik
Logistik atau Warehouse adalah departemen yang bertanggung jawab atas
penerimaan, penyimpanan, pengeluaran bahan baku, wadah, bahan kemas, dan
produk jadi. Secara struktural departemen logistik dipimpin oleh seorang Manajer
Logistik yang membawahi empat kepala seksi (Kasi) gudang, yaitu Kasi gudang
bahan baku (raw material) dan wadah (primary packaging material), Kasi gudang
penimbangan, Kasi gudang kemasan sekunder (secondary packaging material),
dan Kasi gudang produk jadi (finished goods). Bagian Logistik memiliki peranan
penting dalam kegiatan penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran bahan baku,
wadah, kemasan, maupun produk. Dalam menjalankan peran tersebut,
Departemen Logistik terkait dengan beberapa bagian, yaitu bagian QA/QC, R&D,
Purchasing, PPIC, Produksi, dan Teknik. Fungsi dan tugas dari masing-masing
seksi adalah sebagai berikut:
a. Seksi gudang bahan baku/wadah
Gudang bahan baku dan wadah mempunyai beberapa ruang penyimpanan
dengan suhu ruangan yang berbeda-beda, yaitu ruang suhu kamar (25-30C),
ruang AC/cool room (20-25C), dan ruang pendingin/cold storage (2-8C)
untuk penyimpanan bahan baku yang rentan terhadap suhu. Untuk ruang AC,
terdapat ruangan AC untuk penyimpanan material halal, penyimpanan essence
dan flavouring, penyimpanan bahan kemas primer (foil), serta ruang AC untuk
penyimpanan berbagai macam bahan baku dan wadah. Selain itu, terdapat
beberapa area atau ruang yang penting seperti:
1. Area khusus prekursor serta tempat khusus penyimpanan bahan baku yang
bersifat prekursor narkotika dan psikotropika. Area ini selalu terkunci dan
akses ke area ini harus mendapat persetujuan supervisor dan mengisi log
book.
2. Ruang sampling QC, ruang khusus untuk proses sampling bahan baku dan
wadah yang baru datang untuk diuji kualitasnya sebelum digunakan.
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

33

3. Ruang tolak, ruangan atau area yang terpisah yang menyimpan bahan baku
dan wadah yang ditolak oleh QC.
Penataan barang di gudang bahan baku dan wadah menggunakan system
racking secara alfabetis dan numerik. Setiap rak terdapat beberapa level (tingkat
vertikal) dan beberapa kolom (horizontal), serta didata secara komputerisasi
menggunakan sistem Oracle yang memuat lokasi peletakan material dalam rak.
Cara penyimpanan barang di gudang pada dasarnya disusun antara lain
berdasarkan hal-hal berikut:
1. kondisi penyimpanan yang dipersyaratkan (suhu, cahaya, dan kelembaban).
2. kedekatan dengan pelanggan (gudang timbang atau produksi).
3. bentuk material dan sifat bahan baku (flammable atau non flammable).
4. untuk barang-barang toll out didekatkan area toll out.
5. berdasarkan status (karantina, baik, atau tolak).
b. Seksi gudang penimbangan
Gudang timbang adalah tempat berlangsungnya proses penimbangan dan
penyediaan bahan baku dan wadah yang dibutuhkan oleh produksi berdasarkan
JPM (Jadwal Produksi Mingguan). Bahan baku dan wadah yang ditimbang dan
disediakan sesuai dengan Prosedur Pengolahan Induk yang diturunkan yaitu:
PPI 1A, 1B, dan 3A. Bahan baku dan wadah ditimbang dan disediakan dengan
sistem First Expired First Out (FEFO) oleh gudang timbang, kemudian dikirim
ke produksi sesuai line yang membutuhkan.
c. Seksi gudang kemasan
Gudang kemas memiliki tanggung jawab melayani permintaan kemasan
sekunder berupa master box, dus, brosur, dan label kemudian mengirimkannya
ke setiap line produksi berdasarkan PPI 3B. Kemasan sekunder yang dikirim
oleh vendor akan diperlakukan sama seperti bahan baku dan wadah, yaitu akan
dikarantina terlebih dahulu untuk pengujian kualitas kemasan tersebut. Jika QC
menyatakan status kemasan adalah BAIK maka kemasan yang sesuai dengan
PPI 3B akan dikirim ke produksi. Sistem FEFO juga diterapkan untuk
pengiriman kemasan sekunder untuk produksi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

34

d. Seksi gudang produk


Ruang lingkup, fungsi, dan tugas seksi gudang produk adalah sebagai berikut:
a. Menerima, memeriksa produk dan dokumen, serta memasukkan data.
b. Menata dan menyimpan produk.
c. Mengirimkan produk untuk pelanggan (distributor, ekspor, dan sebagainya)
atas Sales Order/Shipping Instruction Internal dari marketing atau Formulir
Kebutuhan Barang (FKB).
d. Melaksanakan cycle count produk.
e. Menerima, memeriksa, dan memasukkan data produk retur.
3.4.9 Departemen Teknik
Departemen Teknik menunjang proses produksi dengan cara memelihara
dan melakukan perawatan semua mesin di semua departemen. Walaupun tidak
berperan secara langsung dalam kegiatan produksi, namun Departemen Teknik
merupakan pendukung utama kegiatan produksi di industri farmasi. Departemen
Teknik memiliki tanggung jawab dalam pengadaan, perbaikan, dan pemeliharaan
gedung, sarana penunjang, dan mesin-mesin yang digunakan di industri farmasi.
Secara umum, Departemen Teknik dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
1. Utilitas Tugas dan tanggung jawab dari Manajer Utilitas adalah:
a. Memastikan tersedianya energi listrik, air, udara dingin, tekanan udara/uap
dan sarana penunjang lain untuk keperluan produksi dan operasi perusahaan
sehari-hari.
b. Memastikan perawatan terhadap mesin-mesin utilitas agar produksi dapat
berjalan secara efisien.
2. Pemeliharaan Tugas dan tanggung jawab dari Manajer Pemeliharaan yaitu:
a. Menyusun dan mengimplementasikan rencana perawatan atau perbaikan
mesin dan peralatan.
b. Mengevaluasi hasil yang sudah dicapai.
c. Mengontrol pelaksanaan instalasi baru, pemeliharaan berkala mesin yang
mengalami kerusakan dan penyediaan suku cadang agar dapat menunjang
kelancaran proses produksi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

35

Kerja pemeliharaan dibagi menjadi dua, yakni pemeliharaan preventif dan


penanganan kerusakan. Pemeliharaan preventif merupakan kegiatan pemeliharaan
yang dilakukan untuk menjamin agar mesin-mesin produksi dan sarana penunjang
lainnya selalu dalam keadaan optimum dan dapat dioperasikan secara optimal.
Sementara itu penanganan kerusakan adalah perawatan mesin yang mengalami
kerusakan dan harus segera diperbaiki agar tidak mengganggu proses produksi.
3. Teknisi Suku Cadang
Bagian ini bertanggung jawab dalam penyediaan stok suku cadang untuk mesin
mesin yang ada baik untuk produksi maupun untuk bagian lain. Suku cadang
yang disediakan adalah suku cadang dari mesin-mesin yang sangat penting
yang harus terus berjalan atau merupakan suku cadang yang pemesanannya
membutuhkan waktu lama sehingga jika terjadi kerusakan dapat segera
ditangani.
4. Administrator
Bagian ini bertanggung jawab dalam melaksanakan urusan administrasi di
Bagian Teknik.
5. Koordinator Pekerjaan Sipil
Bagian ini bertanggung jawab dalam melaksanakan suatu proyek pembangunan
baru,

misalnya

membuat

ruangan

baru,

membuat

gedung

baru.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

BAB 4
PEMBAHASAN

PT. Kalbe Farma, Tbk senantiasa mengembangkan diri melalui inovasi,


nama dagang yang kuat, dan manajemen yang unggul. Hal tersebut dilakukan agar
PT. Kalbe Farma, Tbk. untuk menjadi perusahaan perawatan kesehatan terbaik.
PT. Kalbe Farma, Tbk. memiliki komitmen membantu masyarakat mewujudkan
kesehatan dan kehidupan yang lebih baik. Dalam mewujudkan komitmennya,
berbagai hal telah dilakukan, salah satunya melalui penerapan Cara Pembuatan
Obat yang Baik (CPOB) dalam setiap aspek pembuatan obat di PT. Kalbe Farma,
Tbk.
Jaminan kualitas produk PT. Kalbe Farma, Tbk. telah diakui melalui
berbagai standar internasional, antara lain dengan diperolehnya sertifikat ISO
9001 (2001) untuk sistem manajemen, sertifikat ISO 14001 untuk jaminan
terhadap sistem lingkungan, dan sertifikat OHSAS 18001/SMK3 untuk jaminan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
4.1

Manajemen Mutu
Untuk

menjamin

pembuatan

obat

yang

sesuai

dengan

tujuan

penggunaannya, memenuhi syarat izin edar, dan bermutu dan tidak menimbulkan
risiko berbahaya dalam penggunaannya maka diperlukan suatu sistem, yaitu
manajemen mutu. Konsep dasar pengawasan mutu, CPOB, dan pemastian mutu
adalah aspek manajemen mutu yang saling terkait.
Kegiatan manajemen mutu di PT. Kalbe Farma, Tbk. sudah memenuhi
CPOB. Pengelolaan manajemen mutu di PT. Kalbe Farma, Tbk. Dilaksanakan
oleh bagian Quality Operation (QO). QO terdiri dari dua departemen, yaitu
Quality Assurance (QA)dan Quality Control (QC). Ruang lingkup QA adalah
pemastian mutu, sedangkan QC merupakan pengawasan mutu. Pemastian mutu
adalah totalitas semua pengaturan yang bertujuan memastikan bahwa obat
dihasilkan dengan mutu yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Pengawasan
mutu bertugas untuk mengontrol kualitas dari bahan awal (bahan baku dan bahan

36

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

37

kemas) hingga ke produk jadi yang siap dipasarkan. Pemeriksaan yang dilakukan
meliputi pemeriksaan fisik, kimia, dan mikrobiologi.
Pemastian mutu yang dilaksanakan bertujuan untuk menghindari atau
meminimalisasi resiko terhadap produk. Pelaksanaan CPOB itu sendiri dipastikan
dengan melakukan pengawasan mutu. Pengawasan mutu ini meliputi berbagai
macam aspek seperti produk yang sesuai standar, bangunan dan fasilitas yang
memadai, dan sebagainya.
4.2

Personalia
Dalam suatu industri farmasi, personil yang terlibat dalam industri tersebut

harus memenuhi persyaratan, baik secara kuantitas maupun kualitas. CPOB


mensyaratkan jumlah personil

yang memadai dan terkualifikasi untuk

melaksanakan semua tugas. Setiap personil harus memiliki kesehatan mental dan
fisik yang baik sehingga mampu melaksanakan tugasnya secara professional.
Sikap dan kesadaran tinggi setiap personil juga diperlukan dalam mewujudkan
pelaksanaan CPOB.
PT. Kalbe Farma, Tbk. Memiliki personil yang terlatih secara teknis dengan
jumlah memadai untuk melaksanakan kegiatan produksi, pengawasan dan
pemastian mutu. Kegiatan dilakukan mengikuti prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan secara efektif dan efisien. Departemen produksi, QA, dan QC
dipimpin oleh apoteker yang bersifat independen. Apoteker-apoteker ini diberi
wewenang penuh dan sarana yang cukup untuk dapat melaksanakan tugasnya
secara efektif.
Peningkatan kesadaran dan pemahaman karyawan terhadap CPOB di PT.
Kalbe Farma, Tbk. dilakukan melalui program pelatihan Kualitas Lima Aspek
(KUA LIMA) yang meliputi K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), dan 5R
(Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin). Aspek KUA LIMA meliputi produk,
manusia, bahan dan peralatan, metode, serta lingkungan kerja. Uraian lima aspek
dalam KUA LIMA adalah:
a. Produk yang senantiasa berorientasi pada pasar
b. Sumber daya manusia yang selalu mengutamakan kualitas
c. Peralatan, bahan, dan teknologi yang memadai
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

38

d. Proses, prosedur, dan metode kerja yang efisien


e. Lingkungan kerja yang mendorong prestasi
Untuk menjamin kepuasan terhadap semua pelanggan, baik internal maupun
eksternal PT. Kalbe Farma Tbk. melakukan berbagai upaya antara lain dengan
menerapkan

Kalbe

Service

Exellence

(KSE).

Setiap

karyawan

harus

melaksanakan sebelas perilaku KSE, yaitu senyum tulus, wajah hangat dan
bersemangat, pelanggan adalah orang penting, dengarkan kebutuhannya,
menyebut namanya, bahasa tubuh positif, membicarakan yang diminati
pelanggan, bahasa yang halus dan tepat, memberitahukan proses yang
sudah/sedang/akan dikerjakan, pengetahuan akan produk, serta tampil dengan
rapi.
4.3

Bangunan dan Fasilitas


PT. Kalbe Farma, Tbk. berlokasi di kawasan industri Delta Silicon I,

Cikarang. Lokasi pabrik terletak cukup jauh dari pemukiman penduduk. Hal
tersebut bertujuan untuk meminimalisasi resiko pencemaran, baik dari pabrik ke
lingkungan maupun dari lingkungan ke pabrik. Gedung dilengkapi dengan sarana
dan prasarana yang ditujukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi yang
berasal dari udara, tanah, air, maupun dari kegiatan di sekitarnya, seperti debu dari
industri lain, rembesan air, serangga, binatang pengerat, dan sebagainya. PT.
Kalbe Farma, Tbk. Memiliki instalasi pengolahan limbah sebagai upaya
pencegahan terjadinya pencemaran terhadap lingkungan. Pengolahan limbah
pabrik ini bekerja sama dengan pihak luar.
PT. Kalbe Farma Tbk. memiliki bangunan dengan ukuran, rancang bangun,
konstruksi, dan tata letak yang secara umum telah memadai sesuai dengan
persyaratan CPOB. Hal ini dilakukan dalam rangka menunjang pelaksanaan kerja,
pembersihan, dan pemeliharaannya. Rancang bangun dan tata letak ruang
produksi PT. Kalbe Farma, Tbk. dibagi menjadi beberapa kelompok sehingga
kegiatan-kegiatan dapat berlangsung tanpa harus berhubungan dengan daerah luar.
Ruang ganti pakaian berhubungan langsung dengan area produksi dan dipisahkan
oleh pintu yang hanya dapat diakses dengan menggunakan kartu akses karyawan.
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

39

Pergerakan barang dan manusia diatur dalam lalu lintas yang berbeda untuk
mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi silang. Penghubung antar ruang
atau kelas yang berbeda adalah ruang buffer atau ruang antara, sedangkan untuk
barang digunakan penghubung berupa kotak penghubung (pass box). Khusus
perpindahan antara grey area dengan white area terdapat air lock yang dilengkapi
air shower. Setiap ruang produksi memiliki koridor sebagai lalu lintas umum
karyawan atau bahan. Pada area produksi terdapat ruang staging yang digunakan
sebagai tempat penyimpanan kemasan dan bahan baku. Selain itu, terdapat pula
ruang work in process (WIP) untuk staging produk ruahan dan produk antara.
Desain

pada permukaan lantai, dinding, langit-langit, dan pintu dibuat

sedemikian rupa agar kedap air, tidak terdapat sambungan, dan mudah untuk
dibersihkan. Permukaan lantai ruang produksi menggunakan beton yang dilapisi
epoksi, sudut-sudut ruangan dibuat melengkung, sambungan dilapisi oleh silicon
rubber, dinding dan langit-langitnya dilapisi cat minyak. Penutup fitting lampu,
titik ventilasi, dan instalasi lainnya dibuat rata dengan langit-langit sehingga
meminimalkan adanya celah yang dapat menahan debu. Sarana-sarana penunjang
produksi, seperti Heating, Ventilating, and Air Conditioning (HVAC), pipa
saluran air, Air Handling Unit (AHU), kabel listrik diletakkan di ruangan khusus
di antara setiap lantai ruangan produksi yang disebut mezzanine. Beberapa
ruangan juga dilengkapi dengan pengumpul debu (dust collector) untuk
mengendalikan jumlah partikel sesuai dengan kelas ruangan masing-masing.
Bangunan pada PT. Kalbe Farma, Tbk. menerapkan sistem line (jalur
produksi). Satu line mencakup semua tahap pengolahan sampai dengan
pengemasan produk sehingga kontaminasi silang dapat dihindari. Ruang produksi
di PT. Kalbe Farma, Tbk. diklasifikasikan sesuai dengan ASEAN GMP, yaitu
kelas I dan II (white area), kelas III (grey area), dan kelas IV (black area).
Apabila dikaitkan dengan CPOB, kelas black area merupakan kelas E, kelas grey
area merupakan kelas C (untuk produksi steril), D (untuk produksi non-steril),
dan kelas white area merupakan kelas A, B (produksi steril). Sebagai penghubung
antara kelas ruangan yang satu dengan yang lain disediakan ruang antara atau
ruang buffer dan loker karyawan. Setiap kelas ruangan memiliki persyaratan
jumlah partikel dan jumlah mikroba tertentu, serta tekanan udara yang berbeda
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

40

untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang. Pengaturan perbedaan tekanan


udara ini dilakukan dengan membedakan volume udara yang dimasukkan ke
dalam ruangan oleh AHU. White area memiliki tekanan udara paling tinggi dan
black area memiliki tekanan udara yang paling rendah, sedangkan tekanan udara
di grey area berada diantaranya.
Black area ditandai dengan lantai yang dicat epoksi berwarna hijau dan
dinding yang dicat minyak berwarna kuning muda. Area ini meliputi ruang
penanggung jawab line produksi, ruang pengemasan sekunder, dan ruang ganti
pakaian untuk menuju grey area. Grey area memiliki lantai berwarna biru tua dan
dinding berwarna kuning muda. Area ini meliputi daerah-daerah yang
berhubungan langsung dengan proses produksi, seperti gudang timbang, koridor
penghubung gudang timbang dengan ruang proses produksi, ruang proses
produksi, ruang pengemasan primer, serta ruang penyangga atau buffer. Lantai
white area berwarna biru muda dengan dinding berwarna kuning muda. Area ini
khusus memproduksi sediaan steril, meliputi ruang penyangga, ruang ganti
pakaian, ruang penyemprot udara (air shower), dan ruang pengisian (filling). Pada
area ini dilengkapi pula penyaring HEPA yang dapat menyaring udara yang
masuk ke dalam ruangan sehingga dapat membatasi jumlah dan ukuran partikel,
serta jumlah bakteri yang ada di ruangan tersebut.
Gudang bahan baku dan wadah, gudang kemas, dan gudang produk jadi
disusun sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam penyimpanan dan
penelusuran barang. Penyimpanan barang yang baru datang, karantina, atau
barang ditolak diletakkan terpisah. Gudang penyimpanan bahan-bahan mudah
terbakar atau mudah meledak diletakkan terpisah. Selain itu, juga terdapat sarana
gudang dengan kondisi khusus, yaitu suhu dan kelembaban ruangan yang
terkendali, misalnya penyimpanan pada suhu 2-8OC.
4.4

Peralatan
Peralatan yang digunakan untuk produksi di PT. Kalbe Farma, Tbk.

memiliki rancang-bangun dan konstruksi yang kuat, ukuran yang memadai, serta
ditempatkan pada posisi yang tepat. Masing-masing alat diberi penandaan agar
memudahkan dalam identifikasinya. Pemasangan dan penempatan peralatan diatur
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

41

sedemikian rupa sehingga proses produksi dapat berjalan secara efektif dan
efisien. Bahan yang digunakan untuk peralatan selama proses produksi sebagian
besar adalah baja tahan karat (stainless steel). Peralatan yang digunakan selalu
dirawat secara berkala agar tetap berfungsi dengan baik dan konsisten serta
mencegah terjadinya pencemaran yang dapat merubah identitas dan mutu atau
kemurnian produk.
Peralatan yang digunakan pada tiap line produksi disesuaikan dengan
produk yang dihasilkan dan ukuran bets dari masing-masing produk. Penempatan
peralatan produksi dilakukan mengikuti alur proses kerja sehingga produksi dapat
dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Pemisahan peralatan dilakukan untuk
menghindari kontaminasi silang antara produk satu dengan produk yang lain.
Pencegahan terhadap kontaminasi debu yang dihasilkan pada saat proses produksi
dilakukan dengan menggunakan pengumpul debu. Peralatan juga diberi
penandaan status penggunaan alat tersebut untuk menghindari kesalahan
penggunaan alat.
Tiap mesin diletakkan dalam ruang sesuai dengan proses yang sedang
berlangsung. Bila terdapat lebih dari satu alat dalam satu ruangan maka peralatan
diletakkan tidak berdekatan agar proses kerja dilakukan dengan leluasa dan
mencegah terjadinya kontaminasi silang dan pencampuran antar bahan maupun
produk ruahan.
Keakuratan peralatan selalu dijaga dengan melakukan validasi, kalibrasi,
dan kualifikasi secara teratur oleh Departemen Pemastian Mutu bekerja sama
dengan lembaga metrologi setempat. Peralatan dan mesin baru harus melalui
tahapan kualifikasi terlebih dahulu, yaitu kualifikasi instalasi, kualifikasi operasi
dan kualifikasi kinerja. Pada peralatan lama dilakukan kualifikasi secara periodik,
yaitu setiap 3 tahun. Kalibrasi dilakukan pada periode tertentu yang sudah
ditetapkan dan tercatat dalam Jadwal Kalibrasi Alat. Kalibrasi dilakukan terhadap
peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, dan menguji. Sertifikat
Penerimaan dikeluarkan untuk mesin yang telah melewati tahapan-tahapan
tersebut dan menyatakan bahwa mesin tersebut telah memenuhi syarat.
Pemeliharaan peralatan menjadi tanggung jawab Departemen Produksi
dan Departemen Teknik, yaitu Bagian Perencanaan Perawatan. Bagian ini
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

42

melakukan perawatan pencegahan yang meliputi pengecekan, penggantian


bagian-bagian dari mesin yang rusak, pembersihan, dan lubrikasi mesin secara
periodik.

Kegiatan

perawatan

dan

pencegahan

dilakukan

dengan

mempertimbangkan jadwal produksi sehingga tidak mengganggu jalannya proses


produksi. Umumnya kegiatan ini dilakukan setiap bulan.
4.5 Sanitasi dan Higiene
Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi harus dijaga pada setiap aspek
pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan higiene, meliputi personalia,
bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya, dan halhal lainnya yang dapat menjadi sumber pencemaran produk. Oleh karena itu,
diperlukan suatu program sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan terpadu.
Prosedur sanitasi dan hygiene harus divalidasi, serta dievaluasi secara berkala
untuk selalu memastikan bahwa hasilnya efektif dan memenuhi persyaratan.
Setiap personil PT. Kalbe Farma, Tbk. harus menjalani pemeriksaan
kesehatan, baik sebelum diterima menjadi karyawan maupun selama bekerja.
Karyawan yang bertugas sebagai pemeriksa visual diharuskan menjalani
pemeriksaan mata secara berkala untuk memastikan fungsi mata masih bekerja
secara optimal. Tiap karyawan yang mengidap suatu penyakit yang dapat
merugikan kualitas produk dilarang menangani bahan baku, bahan pengemas,
bahan yang sedang dalam proses, dan obat jadi sampai karyawan tersebut
dinyatakan telah sembuh.
Setiap personil tidak diperbolehkan makan dan merokok di dalam gedung
produksi maupun kantor, khususnya di daerah yang berhubungan dengan produk,
seperti daerah produksi dan gudang. Toilet, tempat cuci tangan, kotak P3K, dan
ruang minum (pantry) yang terpisah dari ruang kerja dan ruang produksi. Hal ini
merupakan salah satu bentuk sarana penunjang pelaksanaan sanitasi dan higiene.
Kantin dan koperasi ditempatkan dalam lokasi yang strategis, namun tidak
berhubungan langsung dengan kantor maupun area produksi.
Pada setiap grey area bagian produksi terdapat ruang pencucian untuk
mencuci alat-alat yang telah selesai digunakan untuk proses produksi. Sanitasi
line 5 dilakukan setiap mau dipakai alatnya.Sanitasi ruangan line 5 di fogging 1
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

43

bulan sekali. Peralatan line 6 ada yang disterilisasi, tidak hanya sanitasi. Sanitasi
ruangan di line 6 dilakukan 24 jam sekali dengan cara fogging selama 4 jam.
Sanitasi peralatan dilakukan setiap terjadi pergantian jenis produk. Pembersihan
rutin juga dilakukan pada alat yang sudah lama tidak digunakan. Peralatan yang
dapat dipindahkan dicuci di ruang pencucian pada grey area, sedangkan peralatan
yang tidak dapat dipindahkan dicuci di ruangan tempat peralatan tersebut berada.
Ruangan tersebut telah dilengkapi dengan saluran khusus untuk pembuangan
limbah dari pencucian alat. Pembersihan alat dan mesin tersebut dilakukan
berdasarkan prosedur tetap yang telah ditetapkan oleh Pemastian Mutu.
Semua ruang di line produksi memiliki status tertentu yang diwujudkan
dalam bentuk tulisan yang ditempelkan pada pintu ruangan, meliputi label
TELAH

DIBERSIHKAN,

SEDANG

PROSES,

atau

UNTUK

DIBERSIHKAN. Hanya ruang dengan label TELAH DIBERSIHKAN yang


dapat digunakan untuk proses produksi. Sedangkan, label untuk alat/mesin
meliputi

label

SIAP

PAKAI,

SEDANG

PROSES,

UNTUK

DIBERSIHKAN, atau SEDANG RUSAK. Hanya alat berlabel SIAP


PAKAI saja yang dapat digunakan untuk proses produksi.
Pada black area pakaian yang digunakan terdiri dari baju dan celana
berwarna putih yang dilengkapi dengan penutup kepala dan sandal karet. Untuk
masuk ke grey area ataupun white area, karyawan melalui ruang penyangga di
mana tekanan udara di ruang buffer lebih kecil daripada ruang produksi sehingga
mencegah adanya kontaminasi. Perlengkapan yang digunakan selama berada di
grey area berupa baju terusan yang dilengkapi dengan penutup kepala yang
dirangkap pada baju black area, masker, dan sepatu khusus dengan bagian depan
tertutup atau menggunakan penutup sepatu (shoes cover). Sarung tangan
digunakan jika bersentuhan langsung dengan produk, sedangkan penutup telinga
digunakan untuk operator yang bekerja dengan mesin-mesin yang mengeluarkan
bunyi bising. Khusus grey area pada line 6 baju terusan yang digunakan berwarna
merah muda, sedangkan pada line lainnya berwarna putih. Pada white area,
personel yang diperbolehkan masuk ke ruangan white area hanyalah personel
yang telah terkualifikasi. Personel yang akan masuk ke white area harus
mengganti baju grey area dengan baju white area dengan baju terusan bebas serat
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

44

dengan penutup kepala, sarung tangan, masker, penutup mata, dan sepatu khusus.
Pakaian kotor di simpan terpisah dalam wadah tertutup dan di cuci secara berkala
dua kali dalam seminggu. Peraturan ini berlaku untuk semua orang, termasuk
pimpinan dan tamu pabrik.
4.6

Produksi
Departemen Produksi bertanggung jawab untuk memproduksi produk sesuai

dengan target dan JPB (Jadwal Produksi Bulanan) yang ditetapkan bersama
dengan Departemen Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan. Proses
produksi dilaksanakan berdasarkan Prosedur Pengolahan Induk (PPI) yang
disusun oleh R&D dan Process Development dan dikeluarkan oleh Departemen
Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan. Formula dan proses yang
digunakan telah tervalidasi melalui beberapa tahap, seperti percobaan pada skala
laboratorium dan produksi, pravalidasi, dan validasi. Penggunaan PPI bertujuan
untuk memberikan jaminan bahwa produk senantiasa dibuat melalui prosedur
yang tetap dan tervalidasi sehingga kualitas produk selalu terjaga. Selain itu,
penggunaan PPI juga ditujukan untuk memudahkan penelusuran pada proses
produksinya jika ditemukan masalah pada suatu produk. Semua proses produksi
dikerjakan sesuai dengan PPI dan bila ada perubahan dalam proses dilaporkan
dalam Deviation Report (DR) di dalam Catatan Produksi Bets (CPB). Untuk
produk yang telah rilis, pengolahan ulang produk dilakukan melalui pengajuan
Formulir Usulan Pengolahan Ulang (FUPU) dengan persetujuan dari QA.
Pencegahan terjadinya pencemaran silang dan pencampuran bahan
diupayakan melalui pembagian proses produksi dalam line produksi. Proses
dikerjakan dalam ruang yang terpisah sesuai dengan tahapan proses dan terdapat
ruang penyangga di antara kelas yang berbeda. Setiap line produksi mempunyai
ruang timbang yang terpisah. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah pencemaran
di ruang timbang. Setiap line juga dilengkapi dengan AHU, pengumpul debu, dan
pengaturan tekanan dalam upaya pencegahan pencemaran, baik kimia maupun
mikroba. Selain itu, terdapat persyaratan penggunaan pakaian yang berbeda-beda
pada tiap kelas.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

45

Kontrol selama proses oleh bagian produksi dilakukan untuk menjamin


kualitas produk . Kontrol ini dilakukan melalui pemeriksaan terhadap parameterparameter kritis kualitas produk. Laboratorium kontrol selama proses terletak di
setiap line produksi dan dilengkapi dengan alat penguji semua sediaan yang
diproduksi. Kontrol selama proses bertujuan mendeteksi langsung penyimpangan
yang terjadi sehingga solusi dapat segera diupayakan. Kontrol proses ini
mengikuti Prosedur Pengolahan Induk (PPI), meliputi jenis uji yang dilakukan,
banyaknya sampel yang diambil, frekuensi pengambilan sampel, titik-titik
pengambilan sampel, dan batas-batas yang masih memenuhi syarat untuk setiap
spesifikasi uji yang dilakukan. Pengawasan mutu produk antara dan produk jadi
juga dilakukan oleh Departemen Pengawasan Mutu. Produk antara boleh di kemas
hanya jika sudah dinyatakan memenuhi persyaratan dan dirilis oleh Departemen
Pengawasan Mutu.
Pada proses pengemasan produk PT. Kalbe Farma, Tbk. dapat dilakukan
secara manual maupun otomatis. Hal ini disesuaikan dengan mesin yang
digunakan pada masing-masing line produksi. Setelah produk dikemas, kemudian
dilakukan pemeriksaan oleh Bagian Penjaminan Mutu untuk menentukan apakah
produk dapat dirilis atau tidak. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan hasil bahwa
produk tidak dapat dirilis, akan dilakukan tindakan lebih lanjut, baik berupa
pengolahan ulang, rilis dengan perubahan spesifikasi, ataupun pemusnahan.
Pengolahan ulang untuk produk yang belum dirilis bisa dilakukan bila ada
pengajuan Deviation Report yang disetujui oleh Departemen Produksi, R&D, dan
Pemastian Mutu. Pengolahan ulang produk yang telah rilis dilakukan melalui
pengajuan Formulir Usulan Pengolahan Ulang dengan persetujuan dari
Departemen Pemastian Mutu.
Produk jadi, baik yang dalam status karantina maupun rilis, disimpan di
gudang obat jadi yang terhubung langsung dari ruang produksi sesuai dengan
kondisi penyimpanan yang tertera pada label klaim. Contoh pertinggal (retained
sample) dan PPI dikirim ke bagian Evaluasi Catatan Bets.
Apoteker memegang peranan penting dalam proses produksi. Seorang
apoteker yang menjadi manajer produksi bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
pembuatan obat. Obat dibuat sesuai Cara Pembuatan Obat yang Baik dan
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

46

memenuhi spesifikasi kualitas yang ditetapkan dalam batas waktu dan biaya yang
telah ditentukan. Apoteker yang menjadi supervisor produksi akan mengatur dan
memastikan obat dibuat menurut prosedur pembuatan yang telah ditentukan dan
sesuai jadwal; memeriksa catatan pengolahan batch telah diisi dengan benar; serta
membimbing karyawan dalam bidang teknis dan mengatur ketertiban atau disiplin
karyawan.
4.7

Pengawasan Mutu
Pelaksanaa pengawasan mutu di PT. Kalbe Farma, Tbk. dilakukan oleh

bagian Pengawasan Mutu (QC) yang berada di bawah departemen Quality


Operation (QO). Pengawasan mutu bertujuan untuk memastikan bahwa tiap obat
yang dibuat senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang sesuai dengan tujuan
penggunaannya. Sesuai dengan yang tertera pada CPOB pula, bagian ini
sebaiknya independen dan terpisah dari produksi.
Tugas utama bagian pengawasan Mutu adalah mengontrol kualitas dari
bahan awal (bahan baku dan bahan kemas) sejak masuk ke gudang hingga
menjadi produk jadi yang siap dipasarkan. Pemeriksaan di bagian Pengawasan
Mutu meliputi pemeriksaan bahan baku, produk ruahan, produk jadi, dan bahan
kemas. Pemeriksaan yang dilakukan berupa pemeriksaan fisik, kimia, dan
mikrobiologi. Bagian ini bertanggung jawab dalam menganalisa semua bahan
baku dan produk jadi menggunakan metode analisis yang telah disusun oleh
bagian Analytical Development, departemen R&D. Selain itu, bagian Pengawasan
Mutu juga melakukan pemeriksaan bahan kemas dan wadah menggunakan
metode analisis tertentu yang ditetapkan oleh bagian Packaging Development.
Kalibrasi peralatan dan validasi metode analisis dilakukan sesuai jadwal
untuk menjamin agar peralatan dan metode analisa yang digunakan memberikan
hasil pengukuran yang tepat. Peralatan yang digunakan untuk analisis selalu
dalam keadaan terkalibrasi. Jika ada alat yang belum dikalibrasi, alat tersebut
tidak boleh digunakan. Pada setiap alat ditempel label yang menandakan kondisi
alat, tanggal kalibrasi terakhir, dan tanggal kalibrasi selanjutnya. Dengan adanya
label tersebut, dapat dicegah penggunaan alat yang tidak terkalibrasi. Prosedur
Tetap (protap) disediakan untuk semua alat di Laboratorium Pengawasan Mutu
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

47

dan diletakkan di dekat alat untuk memudahkan operator atau personel lain dalam
menggunakan alat yang bersangkutan.
Alat pelindung diri (APD) disediakan untuk keselamatan personil, seperti
masker, kaca mata pelindung, sarung tangan, dan pembasuh mata. Baku
pembanding disimpan dalam kondisi yang sesuai. Pada wadahnya terdapat label
informasi mengenai nama zat, nama penyalur, kadar, tanggal bahan datang, dan
jenis stok. Hal ini telah sesuai dengan aturan CPOB.
Ruang laboratorium untuk pemeriksaan di bagian Pengawasan Mutu telah
sesuai dengan aturan CPOB, seperti persyaratan spesifikasi ruangan, desain
ruangan, dan tempat pembuangan limbah. Laboratorium memiliki letak yang
terpisah dengan ruang produksi. Ruang laboratorium mikrobiologi juga terpisah
dari ruang laboratorium lainnya. Pada laboratorium ini disediakan peralatan yang
ditujukan untuk pengujian mutu obat.
4.8.

Inspeksi Diri, Audit Mutu dan Audit & Persetujuan Pemasok


Untuk menilai kesesuaian seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu

dalam industri farmasi dengan ketentuan CPOB serta mengevaluasi dan


menentukan tindakan apa yang harus diambil sebagai langkah korektif jika terjadi
suatu penyimpangan, maka diperlukan adanya langkah mandiri dari industri
tersebut, yaitu dengan melaksanakan inspeksi diri dan audit mutu. CPOB
mensyaratkan agar kegiatan ini dilakukan secara teratur.
PT. Kalbe Farma, Tbk. telah melaksanakan program inspeksi diri melalui
Departemen Pemastian Mutu. Inspeksi tersebut mencakup kesesuaian dengan
sistem atau regulasi yang berlaku dan penilaian aspek produksi melalui inspeksi
proses yang dilakukan secara berkala. Pelaksanaan inspeksi diri di PT. Kalbe
Farma, Tbk. diwujudkan dalam bentuk audit internal yang dilakukan secara rutin.
Audit internal dilakukan dua kali dalam setahun oleh suatu tim internal PT. Kalbe
Farma, Tbk. yang telah terlatih dan tersertifikasi. Pelaporannya meliputi hasil
audit, penilaian dan kesimpulan, serta usulan tindakan perbaikan. Berdasarkan
laporan audit, manajemen perusahaan akan mengevaluasi dan mengambil
tindakan perbaikan yang diperlukan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

48

Audit eksternal dilakukan oleh auditor dari Badan Sertifikasi Nasional


yang menilai kelayakan penerapan ISO 9001. Saat ini, PT. Kalbe Farma, Tbk.
telah berhasil melakukan resertifikasi ISO 9001 sekaligus memperoleh sertifikasi
ISO 14001 dan OHSAS 18001/SMK3 yang merupakan sertifikasi terhadap
system manajemen lingkungan dan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan
kerja. Sertifikat lain yang dimiliki adalah sertifikat CPOB. Inspeksi mendadak
oleh Badan POM dapat dilakukan sewaktu-waktu dalam rangka memberikan
bimbingan dan pengawasan terhadap pelaksanaan CPOB. Namun, inspeksi sendiri
dapat dilakukan internal PT. Kalbe Farma, Tbk. Hasil audit disusun dalam
rangkuman audit yang memuat usulan mengenai langkah-langkah/ tindakan
perbaikan.
Bahan awal dan bahan pengemas di PT. Kalbe Farma, Tbk. berasal dari
pemasok yang memenuhi spesifikasi dan telah disetujui oleh bagian Pemastian
Mutu. Pemasok yang telah lulus penilaian atau evaluasi akan disetujui. Evaluasi
ini mempertimbangkan riwayat pemasok dan sifat bahan yang dipasok.
4.9

Penanganan Keluhan terhadap Produk, Penarikan Kembali Produk


dan Produk Kembalian
Keluhan dapat menyangkut mutu produk, efek samping yang merugikan,

atau masalah efek terapetik dan dapaat berasal dari dalam maupun luar
perusahaan. Keluhan dari dalam perusahaan dapat berasal dari semua pihak yang
berkaitan dengan kegiatan produksi, sedangkan keluhan dari luar dapat berasal
dari distributor, dokter, pasien, apoteker, rumah sakit/klinik, dan pemerintah.
Keluhan dapat disampaikan secara lisan maupun tulisan melalui bagian
pemasaran. Laporan sebaiknya disampaikan dengan menyertakan contoh yang
dikeluhkan. Setiap keluhan dicatat dalam Formulir Keluhan Pelanggan (FKP) atau
Surat

Keluhan

Pelanggan

(SKP)

yang

kemudian

dikirim

ke

bagian

Pascapemasaran. FKP berisi keterangan antara lain: tanggal penerimaan, nama


dan alamat pengirim, produk yang dikeluhkan (nama produk dan nomor bets)
serta isi keluhan. Bagian ini menangani keluhan dengan cara melihat batch record
dan pengujian terhadap contoh pertinggal akan dilakukan apabila diperlukan.
Catatan tertulis mengenai semua keluhan dibuat dan ditangani oleh bagian yang
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

49

terkait sesuai dengan jenis keluhan yang diterima. Misalnya keluhan menyangkut
mutu ditangani oleh bagian Pengawasan Mutu, sedangkan keluhan dan laporan
mengenai efek samping dan reaksi obat ditangani oleh bagian medis di bagian
pemasaran. Atas dasar hasil evaluasi dan penelitian terhadap keluhan yang ada,
bagian Pascapemasaran membuat jawaban atas keluhan dan bila perlu meminta
saran dari pihak terkait. Tindak lanjut yang dilakukan adalah tindakan
perbaikan/pencegahan atau bila ternyata keluhan yang dikirimkan dapat
merugikan pelanggan bisa dilakukan penarikan kembali. Hasil evaluasi dan tindak
lanjut yang dilakukan kemudian dilaporkan kepada bagian terkait dalam
perusahaan antara lain: Bagian Pemasaran, Bagian Pengawasan Mutu, Bagian
Produksi dan direksi.
Penarikan kembali obat dapat berupa penarikan kembali satu atau lebih bets
atau seluruh obat jadi tertentu. Penarikan kembali produk bisa dilakukan sebagai
tindak lanjut dari evaluasi terhadap adanya keluhan. Penarikan berdasarkan
evaluasi dilakukan bila produk tidak memenuhi persyaratan mutu atau atas dasar
pertimbangan efek samping. Selain itu, penarikan kembali produk bisa terjadi
karena adanya Surat Perintah Penarikan Produk yang dikeluarkan oleh Badan
POM (SPPP BPOM). Dengan adanya SPPP BPOM maka perlu dilakukan
evaluasi terhadap contoh pertinggal (retained sample) sesuai nomor bets yang
dimaksud. Jika hasil evaluasi sesuai dengan SPPP BPOM, bagian Pengawasan
Mutu akan menindaklanjuti pelaksanaan penarikan yaitu pembuatan SPPP ke
pelanggan yang dilakukan dalam waktu satu minggu. Setelah penarikan produk,
dilakukan tindak lanjut berupa pemusnahan ataupun pengerjaan ulang. Selain itu
perlu dibuat laporan penarikan produk yang ditujukan ke Badan POM. Penarikan
produk dari produsen dilakukan dengan prosedur yang sama dengan penarikan
karena adanya SPPP BPOM. Pemusnahan produk hasil penarikan dilaksanakan
dengan memakai jasa pihak dari luar PT. Kalbe Farma, Tbk.
Produk kembalian adalah obat jadi yang telah beredar, yang kemudian
dikembalikan ke industri farmasi karena keluhan mengenai kerusakan, daluwarsa,
atau alasan lain misalnya kondisi wadah atau kemasan yang dapat menimbulkan
keraguan akan identitas, mutu, jumlah dan keamanan obat yang bersangkutan.
Produk obat yang dikembalikan akan diganti oleh PT. Kalbe Farma, Tbk. Jika
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

50

setelah dilaksanakan evaluasi ternyata kerusakan tersebut diakibatkan oleh


kesalahan dari pihak perusahaan atau produk yang dikembalikan belum melewati
batas waktu pengembalian yang telah ditetapkan yaitu 1 bulan sebelum atau 4
bulan setelah tanggal kadaluwarsa. Selain itu semua produk kembalian harus
masih berada dalam kemasan aslinya. Semua obat kembalian tersebut akan
dikarantina di gudang obat jadi sambil menunggu hasil evaluasi dari
pascapemasaran untuk menentukan apakah obat kembalian tersebut dapat
dikembalikan ke persediaan gudang, dikemas ulang, diolah ulang, atau ditolak.
Obat kembalian yang ditolak mendapatkan tanda ditolak berdasarkan surat
penolakan oleh bagian pengawasan mutu. Pemusnahannya tidak dilakukan sendiri
oleh PT. Kalbe Farma, Tbk, tetapi melibatkan pihak dari luar.
4.10 Dokumentasi
Dokumentasi adalah aspek esensial dalam industri farmasi dalam rangka
memenuhi persyaratan CPOB. PT. Kalbe Farma, Tbk membagi dokumentasi
menjadi empat tingkatan yaitu manual perusahaan, prosedur perusahaan, dokumen
pendukung, dan rekaman perusahaan. Dokumentasi di PT. Kalbe Farma, Tbk
dibuat dan disusun oleh departemen yang berkaitan dengan jenis dokumen yang
dibuat. Dokumentasi seperti spesifikasi dan metode analisa pemeriksaan bahan
atau produk disusun oleh Departemen R&D bagian Analytical Development,
sedangkan dokumen hasil pemeriksaan mutu dibuat oleh Departemen Pengawasan
Mutu (QC). Dokumen formula, prosedur, metode, dan instruksi dalam proses
produksi disusun oleh bagian Departemen R&D dalam bentuk PPI. Pelaksanaan
proses produksi didokumentasikan oleh departemen produksi yang ditulis dalam
PPI yang telah disediakan. Dokumen pelaksanaan produksi akan diperiksa oleh
bagian Penjaminan Mutu (QA) dan rekaman bets akan ditangani oleh bagian
Pemastian Mutu (QA) dalam bentuk Catatan Pengolahan Bets (CPB). Dokumen
rekaman bets ini harus disimpan minimal 1 tahun setelah waktu kadaluarsa
produk jadi.
Penataan dokumen secara sistematis telah dilakukan oleh PT. Kalbe
Farma, Tbk. Penataan ini dilakukan untuk memudahkan dalam pencarian
dokumen. Penataan dan pengelolaan dokumen dilakukan oleh Departemen
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

51

Quality System (QS) dan juga oleh departemen lain yang terkait. Di samping
sistem dokumen secara manual, PT. Kalbe Farma, Tbk. juga menggunakan system
dokumen yang dibangun dalam suatu sistem jaringan komputer yang terintegrasi
antarbagian sehingga mudah diakses oleh masing-masing bagian yang
membutuhkan. Sistem dokumentasi ini dinamakan Oracle.
Oleh karena banyaknya dokumen dan keterbatasan tempat, PT. Kalbe
Farma, Tbk. menggunakan jasa eksternal dokumentasi PT. Arsip Geoservis
Indonesia (AGI). Bila suatu saat dibutuhkan, dokumen dapat dipanggil
berdasarkan nomor kotak dan nomor bets. Waktu pengiriman yang diperlukan
juga tidak terlalu lama. Bila pemanggilan dilakukan pada pagi hari, maka di siang
harinya dokumen yang diperlukan tersebut sudah datang.
4.11 Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak
Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus dilakukan secara benar,
disetujui dan dikendalikan untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat
menyebabkan pekerjaan atau produk yang dihasilkan tidak memiliki mutu yang
memuaskan. Kontrak tertulis antara Pemberi Kontrak dan Penerima Kontrak harus
dibuat secara jelas untuk menentukan tanggung jawab dan kewajiban masingmasing pihak.
Dalam pelaksanaannya, PT. Kalbe Farma, Tbk. bertindak baik sebagai
Pemberi Kontrak dalam produksi tol keluar maupun Penerima Kontrak dalam
produksi tol masuk. Pelaksanaan tol masuk dan tol keluar bergantung pada
kontrak pemanufakturan, misalnya kontrak dimana pabrik lain memberikan
produk ruahan dan PT. Kalbe Farma, Tbk. hanya memproses tahap
pengemasannya atau kontrak yang menyangkut proses awal higga akhir produksi.
Begitu pula halnya dengan tol keluar dari PT. Kalbe Farma, Tbk. ke pabrik lain.
Sebelum melakukan tol keluar, PT. Kalbe Farma, Tbk. terlebih dahulu
melakukan seleksi rekanan tol keluar. Tujuan dari seleksi ini adalah agar produk
tol keluar yang dihasilkan memenuhi persyaratan kualitas PT. Kalbe Farma, Tbk.
Tahapan seleksi ini dimulai dari pengajuan rekanan tol keluar ke Manager
Departemen Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan yang selanjutnya
diteruskan ke Manajer Departemen Pemastian Mutu untuk dilakukan audit. Untuk
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

52

memantau kualitas produk yang dihasilkan oleh rekanan tol keluar maka
dilakukan Audit Rekanan tol keluar secara berkala.
Audit merupakan syarat kerjasama untuk perusahaan yang akan menerima
tol keluar PT. Kalbe Farma, Tbk. Audit dilaksanakan dua tahun sekali bila
diperlukan. Evaluasi prestasi rekanan tol keluar pemanufakturan dilakukan setiap
enam bulan sekali agar dapat mengevaluasi kinerja rekanan sesuai dengan
keinginan perusahaan. Evaluasi ini meliputi penyerahan, penyimpangan kualitas
dan kelengkapan dokumen.
4.12 Kualifikasi dan Validasi
Kualifikasi dan validasi di PT. Kalbe Farma, Tbk dikoordinasi oleh bagian
Pemastian Mutu (QA). Kualifikasi yang dilakukan oleh PT. Kalbe Farma, Tbk.
meliputi kualifikasi desain, kualifikasi instalasi, kualifikasi operasional dan
kualifikasi kinerja. Keempat kualifikasi tersebut dilaksanakan terhadap instrument
baru pada periode tertentu yang sudah ditetapkan yaitu 3 tahun. Pelaksanaan
kualifikasi tersebut dicatat dan didokumentasikan dalam jadwal kualifikasi alat.
Pelaksanaan kualifikasi mengacu pada prosedur perusahaan pada periode minimal
3 tahun sekali, sedangkan kalibrasi dilakukan 6 bulan sekali bila tidak ada
perubahan signifikan. Kalibrasi dan kualifikasi dapat dilaksanakan di luar jadwal,
yaitu jika diperkirakan terdapat masalah dengan alat.
Dalam melaksanakan validasi, perusahaan mengacu pada Rencana Induk
Validasi (RIV). RIV merupakan dokumen yang merangkum filosofi perusahaan
secara keseluruhan dan pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan
kinerja yang baik. Secara garis besar, organisasi validasi terdiri dari tim pengkaji
dan tim pelaksana. Tim pengkaji terdiri dari manajer Departemen R&D, Produksi,
Pemastian Mutu/ Pengawasan Mutu dan Teknik. Sedangkan, tim pelaksana terdiri
dari pengawas, pelaksana, operator, teknisi dan analis dari setiap departemen.
Validasi yang dilakukan di PT. Kalbe Farma, Tbk. meliputi validasi proses,
validasi fasilitas dan sarana penunjang, validasi pembersihan serta validasi
komputer. Pelaksanaan validasi sesuai dengan urutan prioritas yang tercantum
dalam analisis risiko. Jika terdapat pertimbangan tertentu, seperti terjadinya
penyimpangan signifikan yang harus segera ditindaklanjuti, pelaksanaan validasi
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

53

dapat tidak sesuai dengan analisis risiko. Validasi pembersihan dilakukan


terhadap mesin atau peralatan setelah digunakan untuk proses produksi produk
tertentu atau pengambilan sampel bahan baku tertentu yang ditentukan
berdasarkan analisis resiko. Tiap line produksi memiliki berbagai macam
mesin/alat yang dipakai untuk memproduksi berbagai macam produk dengan
spesifikasi yang berbeda, sehingga terdapat kemungkinan
terjadinya satu mesin digunakan untuk lebih dari satu macam produk. Analisis
risiko dalam menentukan skala prioritas produk diperlukan dalam melaksanakan
validasi pembersihan ini. Validasi fasilitas dan sistem penunjang dilakukan
terhadap sistem pemanas, ventilasi dan pendingin udara, sistem air, system
kompresi udara, sistem pengumpul debu, sistem gas, sistem pabrik, listrik,
fasilitas dan peralatan.
Untuk memperoleh status valid, suatu proses harus secara konsisten
memenuhi spesifikasi pada semua tahap melalui prosedur yang telah ditetapkan
pada sedikitnya tiga kali pengujian berturut-turut. Jika terjadi modifikasi ataupun
perubahan pada proses, sistem, dan peralatan yang digunakan, revalidasi perlu
dilakukan. Validasi proses harus dapat membuktikan kelayakan suatu proses pada
skala produksi untuk menjamin konsistensi kualitas produk. Validasi proses
terhadap produk-produk baru,

dilaksanakan setelah diperoleh formula yang

optimal hasil pra-validasi oleh Departemen Research dan Development. Validasi


proses terbagi menjadi empat macam, yaitu validasi prospektif, validasi konkuren,
validasi retrospektif dan validasi ulang.
Validasi prospektif merupakan validasi yang dilakukan terhadap proses
pembuatan produk baru. Pada proses pembuatan produk baru dapat mengalami
perubahan yang dapat berakibat terhadap karakteristik produk sebelum produk
tersebut didistribusikan atau dipasarkan. Perubahan yang terjadi ini dipantau
selama proses validasi prospektif. Validasi prospektif menyajikan bukti
terdokumentasi bahwa suatu proses, prosedur, kegiatan, sistem, peralatan atau
mekanisme yang digunakan dalam pembuatan obat sesuai dengan tujuannya.
Validasi konkuren merupakan validasi yang dilakukan sambil melakukan
produksi rutin untuk dijual. Jika ada perubahan, baik dari segi sumber bahan baku
serta mesin yang digunakan, dilakukan jenis validasi ini untuk membuktikan
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

54

ketangguhan prosesnya berdasarkan parameter validasi yang diujikan. Keputusan


untuk melakukan validasi konkuren harus didokumentasikan dan disetujui oleh
personil yang berwenang. Persyaratan dokumentasi untuk validasi konkuren
adalah sama seperti yang disebutkan dalam dokumentasi validasi prospektif.
Fasilitas, peralatan dan metode analisa yang digunakan harus sudah tervalidasi
dan terkualifikasi sebelumnya. Pada pelaksanaan validasi prospektif dan konkuren
sendiri memerlukan tiga bets yang memenuhi syarat hasil validasi secara berturut
turut.
Validasi retrospektif merupakan validasi proses pembuatan produk yang
telah dipasarkan yang dilaksanakan berdasarkan data pembuatan, pengujian dan
pengawasan data bets yang dikumpulkan. Validasi retrospektif hanya dapat
diterima untuk proses yang telah tertata dengan baik dan akan tidak sesuai ketika
telah terjadi perubahan dalam komposisi produk, prosedur operasi atau peralatan.
Validasi proses tersebut harus berdasarkan riwayat produk, yang disertai protocol
spesifik dan laporan hasil pengkajian data yang memuat kesimpulan dan suatu
rekomendasi. Jenis validasi proses ini tidak diberlakukan dalam kegiatan
penjaminan mutu di PT. Kalbe Farma, Tbk.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
a. PT. Kalbe Farma, Tbk. telah menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik
(CPOB) dalam rangkaian pembuatan obatnya, yaitu dalam aspek manajemen
mutu, personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene,
produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri, audit mutu, audit dan persetujuan
pemasok, penanganan keluhan terhadap produk dan penarikan kembali produk,
dokumentasi, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak, kualifikasi dan
validasi.
b. Seorang apoteker dalam industri farmasi memiliki peranan yang penting, yaitu
sebagai kepala bagian produksi, kepala bagian pengawasan mutu dan kepala
bagian pemastian mutu. Ilmu dan keterampilan yang dimiliki apoteker harus
dibaktikan secara menyeluruh dalam pekerjaan profesinya di suatu industri
farmasi. Penerapan ilmu dan keterampilan apoteker secara total akan
meningkatkan kualitas produk obat yang dihasilkan oleh industri farmasi
semakin baik dari waktu ke waktu.
5.2. Saran
a. PT. Kalbe Farma, Tbk yang telah menerapkan sistem yang baik, terutama
dalam manajemen proses produksi, pengawasan mutu, dan pemastian mutunya
sebaiknya terus meningkatkan pengkajian dan evaluasi terhadap efektivitas
sistem yang dikelola PT. Kalbe Farma, Tbk. Dengan demikian, kinerja setiap
bagian dalam perusahaan dapat ditingkatkan lebih baik.
b. PT. Kalbe Farma, Tbk. sebaiknya terus meningkatkan pemahaman setiap
karyawannya akan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dalam kaitannya
dengan bidang kerjanya dan secara mendasar. Pemahaman ini pun harus terus
diperbaharui menyesuaikan dengan pembaharuan dari lembaga regulator, yaitu
Badan

POM.

55

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

DAFTAR ACUAN
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2012). Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI No HK.
03.1.33.12.12.8195 Tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat
yang Baik. Jakarta.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No 1799/MENKES/PER/XII/2010 tentang
Industri Farmasi. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.
PT. Kalbe Farma, Tbk. (2011). Laporan Tahunan PT. Kalbe Farma. Jakarta.

56

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

LAMPIRAN

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

57

Lampiran 1. Struktur Organisasi PT. Kalbe Farma, Tbk.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

UNIVERSITAS INDONESIA
TUGAS KHUSUS
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI PT. KALBE FARMA, Tbk.
KAWASAN INDUSTRI DELTA SILICON
JL. M. H. THAMRIN BLOK A3-1, LIPPO CIKARANG, BEKASI
PERIODE 17 JUNI 12 JULI DAN 14 AGUSTUS - 30
AGUSTUS 2013
ANNUAL PRODUCT REVIEW TABLET X PT. KALBE
FARMA Tbk

NURINA FATMAWATI, S.Farm.


1206329915

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
JANUARI 2014

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

UNIVERSITAS INDONESIA
TUGAS KHUSUS
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI PT. KALBE FARMA, Tbk.
KAWASAN INDUSTRI DELTA SILICON
JL. M. H. THAMRIN BLOK A3-1, LIPPO CIKARANG, BEKASI
PERIODE 17 JUNI 12 JULI DAN 14 AGUSTUS - 30
AGUSTUS 2013
ANNUAL PRODUCT REVIEW TABLET X PT. KALBE
FARMA Tbk
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Apoteker

NURINA FATMAWATI, S.Farm.


1206329915

ANGKATAN LXXVII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
JANUARI 2014
ii

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI .....................................................................................................iii
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................iv
BAB 1. PENDAHULUAN ...............................................................................1
1.1. Latar Belakang..............................................................................1
1.2. Tujuan...........................................................................................1
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................2
2.1. Pengawasan Mutu dan Pengkajian Mutu Produk.............................2
2.2. Quality Assurance (QA)..................................................................3
2.3. APR (Annual Product Review) ........................................................4
2.4. APR (Annual Product Review) PT.Kalbe Farma, Tbk. ...................7
BAB 3. METODE PENELITIAN ...................................................................10
3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tugas Khusus ...........................10
3.2. Metode Pembuatan Annual Product Review ................................10
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ...........................................................11
4.1. Pengumpulan Data dan Penelusuran Literatur .............................11
4.2. Penyusunan APR (Annual Product Review) Tablet X 2012 ........12
4.3. Hasil Pengolahan Data..................................................................12
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ...........................................................20
5.1. Kesimpulan...................................................................................20
5.2. Saran .............................................................................................20
DAFTAR REFERENSI ...................................................................................21

iii

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Un

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.
Lampiran 2.
Lampiran 3.
Lampiran 4.
Lampiran 5.
Lampiran 6.
Lampiran 7.
Lampiran 8.
Lampiran 9.
Lampiran 10.

Grafik bobot individu tren analisis produksi ........................ 22


Grafik waktu hancur tren analisis produksi .......................... 24
Grafik friabilita tren analisis produksi .................................. 26
Grafik bobot individu tren analisis QC ................................. 28
Grafik kekerasan tablet tren analisis QC............................... 30
Grafik waktu hancur tren analisis QC................................... 32
Grafik penetapan kadar Ambroxol tren analisis QC ............. 34
Grafik laju disolusi tren analisis QC ..................................... 36
Grafik konformitas kadar tren analisis QC ........................... 37
Grafik keseragaman kadar Ambroxol tren analisis QC ........ 39

iv

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan dunia industri farmasi berkembang dengan pesat dari tahun ketahun.
Berkembangnya industri farmasi diharapkan dapat menghasilkan produk-produk obat yang
bermutu. Pengelolaan industri farmasi dilakukan melalui suatu sistem kerja yang diciptakan
dan terus dikembangkan dalam rangka memperoleh standar mutu tertentu yang berdampak
pada optimalisasi aktivitas berbagai bidang kerja. Standar mutu ini diharapkan terus meningkat
sehingga mutu suatu industri farmasi teruji dibandingkan industri farmasi lainnya.
Pemastian Mutu adalah totalitas semua pengaturan yang dibuat dengan tujuan untuk
memastikan bahwa obat dihasilkan

dengan

mutu

yang

sesuai

dengan

tujuan

pemakaiannya. Annual Product Review (APR) merupakan salah satu cara pemastian mutu
untuk menjamin kualitas produk. Penyusunan Annual Product Review (APR) dilakukan
terhadap semua obat terdaftar, termasuk produk ekspor, dengan tujuan untuk melihat tren
konsistensi proses dan kesesuaian dengan aspek yang ditetapkan serta mengidentifikasi
perbaikan yang diperlukan b a i k untuk produk maupun proses. Pengkajian mutu produk
secara

berkala

biasanya

dilakukan

tiap

tahun

dan

didokumentasikan,

dengan

mempertimbangkan hasil kajian ulang sebelumnya (Badan POM RI, 2012).


Review dilakukan terhadap seluruh catatan produksi batch produk yang diproduksi
dalam periode 1 tahun, dimulai dari bulan Januari sampai Desember pada tahun sebelumnya
minimal 10 batch (PT. Kalbe Farma, Tbk, 2010). Salah satu produk obat dari PT. Kalbe Farma,
Tbk. adalah tablet X. Perlu dilakukan penyusunan APR (Annual Product Review) untuk
melihat tren kualitas produk tersebut pada tahun 2012. Hasil review tersebut diharapkan dapat
digunakan sebagai dasar untuk rekomendasi perbaikan jika hal tersebut diperlukan pada tahun
berikutnya.
1.2 Tujuan
a.

Menyusun APR (Annual Product Review) tablet X

b.

Melihat tren kualitas produk tahunan tablet X sebagai acuan untuk rekomendasi
perbaikan produk tablet X pada tahun berikutnya.

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pemastian Mutu dan Pengkajian Mutu Produk
2.1.1 Pemastian Mutu
Pemastian Mutu adalah suatu konsep luas yang mencakup semua hal baik secara
tersendiri maupun secara kolektif, yang akan memengaruhi mutu dari obat yang
dihasilkan. Pemastian Mutu adalah totalitas semua pengaturan yang dibuat dengan
tujuan untuk memastikan bahwa obat dihasilkan dengan mutu yang sesuai dengan
tujuan

pemakaiannya. Karena itu Pemastian Mutu mencakup CPOB ditambah

dengan faktor lain di luar Pedoman ini, seperti desain dan pengembangan produk
(Badan POM RI, 2012).
2.1.2 Pengkajian Mutu Produk
Pengkajian mutu produk secara berkala hendaklah dilakukan terhadap semua obat
terdaftar, termasuk produk ekspor, dengan tujuan untuk membuktikan konsistensi
proses, kesesuaian dari spesifikasi bahan awal, bahan pengemas dan produk
jadi, untuk melihat tren dan mengidentifikasi perbaikan yang diperlukan untuk
produk dan proses. Pengkajian mutu produk secara berkala biasanya dilakukan tiap
tahun dan didokumentasikan,

dengan mempertimbangkan hasil kajian ulang

sebelumnya dan hendaklah meliputi paling sedikit:


a. kajian terhadap bahan awal dan bahan pengemas yang digunakan untuk produk,
terutama yang dipasok dari sumber baru;
b. kajian terhadap pengawasan selama-proses yang kritis dan hasil pengujian
produk jadi;
c. kajian terhadap semua batch yang tidak memenuhi spesifikasi yang ditetapkan
dan investigasi yang dilakukan;
d. kajian terhadap semua penyim-pangan atau ketidaksesuaian yang

signifikan,

dan efektivitas hasil tindakan perbaikan dan pencegahan;


e. kajian terhadap semua perubahan yang dilakukan terhadap proses atau metode
analisis;
f.

kajian

terhadap variasi yang diajukan,

disetujui,

ditolak

dari

dokumen

registrasi yang telah disetujui termasuk dokumen registrasi untuk produk ekspor;
2

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

3
g. kajian terhadap hasil program pemantauan stabilitas dan segala tren yang tidak
diinginkan;
h. kajian terhadap semua produk kembalian, keluhan dan penarikan obat yang
terkait dengan mutu produk, termasuk investigasi yang telah dilakukan;
i.

kajian kelayakan terhadap tindakan perbaikan proses produk atau peralatan yang
sebelumnya;

j.

kajian terhadap komitmen pasca pemasaran dilakukan pada obat yang


mendapatkan

persetujuan

pendaftaran

dan

variasi

baru

persetujuan

pendaftaran;
k. status kualifikasi peralatan dan sarana yang relevan misal sistem tata udara, air,
gas bertekanan, dan lain-lain; dan
l.

kajian terhadap Kesepakatan Teknis untuk memastikannya selalu mutakhir.

Industri farmasi hendaklah melakukan evaluasi terhadap hasil kajian, dan suatu
penilaian hendaklah dibuat untuk menentukan apakah tindakan perbaikan dan
pencegahan ataupun validasi ulang hendaklah dilakukan.

Alasan

tindakan

perbaikan hendaklah didokumentasikan. Tindakan pencegahan dan perbaikan yang


telah disetujui hendaklah diselesaikan secara efektif dan tepat waktu. Hendaklah
tersedia prosedur manajemen untuk manajemen yang sedang berlangsung

dan

pengkajian aktivitas serta efektivitas prosedur tersebut yang diverifikasi pada saat
inspeksi diri. Bila

dapat dibenarkan secara

ilmiah, pengkajian mutu dapat

dikelompokkan menurut jenis produk, misal sediaan padat, sediaan cair, produk
steril, dan lain-lain (Badan POM RI, 2012).
2.2 Quality Assurance (QA)
Departemen QA (Quality Assurance) dipimpin oleh seorang QA Manager yang
bertanggung jawab langsung kepada QO Manager. Secara umum QA dibagi menjadi empat
kelompok besar yaitu Audit, Post Marketing, Validasi, dan GMP Compliance (PT. Kalbe Farma,
Tbk, 2010).

Validasi adalah suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap bahan,
proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme yang digunakan dalam
produksi dan pengawasan akan senantiasa mencapai hasil yang diinginkan. Bagian Validasi di
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

4
PT. Kalbe Farma, Tbk memiliki bagian validasi proses, validasi pembersihan, validasi fasilitas
dan utilitas, validasi computer, dan annual product review (PT. Kalbe Farma, Tbk, 2010).
2.3 APR (Annual Product Review) (FDA, 2013)
APR (Annual Product Review) harus dilakukan untuk setiap produk komersial. Tujuan dari
pembuatan APR ini adalah untuk memverifikasi konsistensi dari proses manufaktur, menilai
tren, menentukan kebutuhan untuk perubahan spesifikasi, produksi, manufaktur dan atau
pengendalian prosedur dan mengevaluasi kebutuhan untuk revalidasi. Di satu sisi Annual
Product Review (APR) berfungsi sebagai validasi berkelanjutan dan di sisi lain, data dan
hasil yang diperoleh merupakan pra-syarat penting untuk perbaikan produk dalam menjaga
kestabilannya untuk keseluruhan batch. Pada prinsipnya, standar kualitas produk harus di
evaluasi minimal 1 tahun sekali berdasarkan spesifikasi yang ada.
Dokumen yang diperlukan untuk melaksanakan review produk tahunan:
a.

Instruksi manufaktur dan prosedur kemasan

b. Batch catatan produksi dan catatan kemasan batch


c.

Prosedur uji

d.

Sertifikat analisis dan protokol uji

e.

Uji protokol untuk bahan baku

f.

Rencana sampling dan laporan

g.

dokumen modifikasi

h.

Data penyimpangan

i.

Keluhan dan recalls

j.

Data Stabilitas

Dengan pelaksanaan Annual Product Review (APR) diharapkan memiliki manfaat yang besar
bagi industri farmasi yang melakukannya, diantaranya:
2.3.1 Sebagai dasar pertimbangan apabila akan dilakukan perubahan spesifikasi
Selama pengkajian data produk pada jangka waktu tertentu, akan ditemukan titik terang
berupa alasan yang tepat perlunya perubahan spesifikasi produk, contoh: jika selama APR
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

5
ditemukan bahwa banyak tablet yang dikompres tidak memenuhi spesifikasi kelembaban
tertentu, hal ini mengindikasi bahwa perubahan spesifikasi diperlukan. Tentunya, perubahan
spesifikasi harus ditinjau terhadap persyaratan kualitas produk dan proses. Selain itu, jika nilai
kelembaban meningkat, maka hal ini merupakan penyimpangan hasil validasi batch tertentu.
Sehingga, diperlukan pemeriksaan untuk menentukan diantara parameter (proses, bahan baku,
atau prosedur) manakah yang telah mengalami perubahan.
2.3.2 Sebagai dasar pertimbangan apabila akan dilakukan perubahan prosedur atau kontrol
Misalnya, jika kita menemukan beberapa kesalahan proses yang terjadi selama setahun
karena operator pelaksana yang tidak benar dalam mengatur suhu pendinginan saat formulasi,
maka perubahan prosedur diperlukan, seperti adanya pengaturan suhu dilakukan dua kali untuk
proses verifikasi atau perubahan kontrol terhadap instrumen yang digunakan dalam
pengukuran suhu. Idealnya, penyimpangan tersebut harus sudah teridentifikasi di awal pada
saat proses inspeksi. Namun, hal ini baru terlihat ketika proses pengkajian tahunan, karena
pada saat inspeksi produk yang dihasilkan belum ada, sehingga belum bisa dilihat perbedaan
yang signifikan antara produk batch yang satu dengan yang lain. Inilah suatu kelebihan dari
Annual Product Review (APR) yaitu mampu mengidentifikasi perbedaan hasil secara
keseluruhan akibat penyimpangan awal yang tidak terdeteksi.
2.3.3 Sebagai dasar pertimbangan apabila diperlukan validasi atau revalidasi
Jika data menunjukkan bahwa proses atau produk tidak lagi secara konsisten mencapai
hasil yang ditentukan, atau dihasilkan data yang tidak sesuai, maka diperlukan adanya
revalidasi. Contoh: jika data Annual Product Review (APR) menyatakan bahwa 7 dari 34 batch
produk ditolak karena potensinya rendah, maka revalidasi perlu dilakukan. Dengan adanya
Annual Product Review (APR) tercipta sebuah sistem yang efektif yang bisa mendeteksi
kegagalan lebih cepat dan memberikan rekomendasi yang tepat, karena langsung diketahui 7
batch ditolak, berbeda kasusnya jika hanya ditemukan satu batch pada satu waktu, sulit untuk
mengambil rekomendasi yang sesuai.
2.3.4 Mengidentifikasi perbaikan produk atau peluang pengurangan biaya
Misal, kita memiliki sejumlah produk cairan beragam, kemudian dilakukan sampling
pada bagian awal, tengah, dan akhir untuk mengukur potensinya. Data Annual Product Review
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

6
(APR) menyatakan bahwa variasi dari sampel diabaikan, dan hasilnya konsisten. Maka,
pengurangan dalam pengujian sampling di titik-titik tertentu untuk cairan tunggal dapat
dilakukan. Tentunya, dengan persetujuan pengaturan yang tepat. Dengan begitu, akan terlintas
adanya peluang pengurangan biaya pada sampling, dan data Annual Product Review (APR)
yang telah disusun dapat berfungsi sebagai fakta pendukung.
2.3.5 Konfirmasi perubahan sistem kontrol
Perubahan kontrol adalah proses yang diperlukan untuk mengkaji keseluruhan
perubahan untuk memastikan bahwa perubahan tidak memiliki dampak merugikan terhadap
operasi atau validasi peralatan atau proses. Dalam setahun, dimungkinkan telah terjadi banyak
perubahan kecil, namun, diperkirakan tidak berdampak besar terhadap proses atau produk.
Namun, jika dikumulatifkan sejumlah perubahan kecil tersebut dapat disetarakan dengan
perubahan besar. Maka dari itu, penggunaan Annual Product Review (APR) menyediakan
fasilitas untuk melihat produk dan proses dengan mata elang sehingga bisa mendeteksi efek
kumulatif negatif.
2.3.6 Mempersiapkan jika terjadi pengawasan dari pihak pengawas (BPOM)
Kebanyakan pihak pengawas meminta rangkuman data dari satu atau lebih produk. Jika
data ini belum ada, seperti belum tersedia dalam Annual Product Review (APR), maka akan
memerlukan banyak waktu untuk mengumpulkan informasi mengenai data tersebut. Bahkan,
hanya tersedia waktu yang sedikit untuk melakukan evaluasi. Sehingga, data pada Annual
Product Review (APR) ini dapat dijadikan antisipasi apabila dilakukan proses pengawasan atau
audit yang mendadak dari pihak BPOM atau pihak pengawas lainnya.

2.3.7 Sebagai sarana komunikasi antara manajemen produk dan proses


CPOB menyatakan bahwa proses produksi yang baik diperlukan untuk menjamin
produk yang dihasilkan aman, berkualitas, dan berkhasiat. Sehingga, APR (Annuual Product
Review) ini bisa dimanfaatkan sebagai media komunikasi yang merangkum status manajemen
setiap produk, termasuk hal-hal penting (titik kritis produksi) yang memerlukan koreksi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

7
2.4 APR (Annual Product Review) PT. Kalbe Farma, Tbk.
Tujuan penyusunan APR adalah untuk melihat tren kualitas produk tahunan (mencakup
kapabilitas, ketangguhan proses dan formula, spesifikasi/parameter produk, stabilita dan waktu
daluarsa, adakomplain/tidak,dan sebagainya) sehingga dapat menjadi acuan langkah-langkah
selanjutnya, seperti contoh: perbaikan formula, parameter proses, dan lainnya (PT. Kalbe
Farma, Tbk, 2010).
Tanggung jawab dalam penyusunan APR berada pada:
1. QA Officer bertanggung jawab mengkoordinasi pengumpulan data yang
diperlukan untuk melakukan review produk dan membuat tren analisis,
kesimpulan hasil review dan membuat rekomendasi untuk perbaikan serta
menyiapkan rangkuman APR untuk direview.
2. Validation Manager bertanggung jawab untuk mereview dan bertanggung jawab
terhedap penyusunan APR.
3. QA Manager, QC Manager, Process Development Manager dan Production
Manager bertanggung jawab melakukan review terhadap hasil APR dan
menyetujui hasil review APR.
4. QO Manager bertanggung jawab menyetujui laporan hasil review dan
rekomendasi perbaikan yang diusulkan.
Ruang Lingkup:
1. Review dilakukan terhadap seluruh batch produk yang diproduksi dalam periode 1
tahun (dimulai dari bulan Januari sampai Desember pada tahun sebelumnya) di PT.
Kalbe Farma-Cikarang.
2. Review meliputi: variasi dari parameter kritis produk, komplain produk, kompalin
produk, produk kembalian, penyimpangan kualitas, pengerjaan ulang dan atribut
kualitas lain dari produk.
3. Review mencakup aktivitas dari pengumpulan data, pengolahan data, pembuatan
laporan, penyimpulan hasil review, serta follow up tindakan perbaikan yang akan
dilakukan berikut dokumentasinya.
4. Aspek atau data yang harus dikumpulkan, dirangkum, dan dilakukan review untuk
menyusun laporan APR meliputi:
4.1.

Deskripsi produk mencakup pemerian, wadah dan kemasan (QC).

4.2.

Identitas formula dan kemasan yang digunakan beserta perubahannya (QC)


Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

8
4.3.

Jumlah dari semua batch yang diproduksi.

4.4.

Shelf life (An. Dev)

4.5.

Jumlah (%) produk diproses ulang (QA)

4.6.

Jumlah (%) produk ditolak (QA)

4.7.

Metode analisis yang digunakan dan perubahannya (QC)

4.8.

Status validasi dari proses dan metoda analisis (QA & An. Dev).

4.9.

Keluhan pelanggan terhadap produk (QA)

4.10. Penarikan kembali obat jadi (QA)


4.11. Ketidaksesuaian (Non Conformance) selama proses (QA)
4.12. Hasil audit Badan POM (QA)
4.13. Stabilita untuk jenis formula yang berlaku (QA)
4.14. Rekomendasi APR tahun sebelumnya
4.15. Data proses dan produk yang tercantum dalam Catatan Produksi Batch, yang
meliputi:
4.15.1. Data parameter kritis proses (termasuk hasil pemantauan lingkungan selama
proses, dan variable lain yang mempengaruhi proses)
4.15.2. Data hasil pengujian selama In Process Control
4.15.3. Data hasil analisa QC
4.15.4. Data rendemen (meliputi rendemen proses dan rendemen kemas)
4.15.5. Data melekat pada CPB mengenai perubahan terhadap proses dan
spesifikasi produk (meliputi: Kontrol Perubahan Proses, Formulir Produk
Bermasalah, Perubahan Pesyaratan Produk, Formulir Usulan Pengerjaan
Ulang)
4.15.6. Data Bahan aktif dan Bahan Pengemas yang digunakan pada masing-masing
batch
4.16. Data hasil pengujian QC yang ditarik dari CA (Certificate of Analysis) online.
Berdasarkan perhitungan nilai Ppk dan Cpk dapat ditarik kesimpulan terhadap
pemenuhan spesifikasi dengan interpretasi nilai kapabilita proses dibawah ini:

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

9
Interpretasi Nilai Kapabilita Proses:
1.

Cpk 1.3:
Jika terjadi peningkatan variasi di masa mendatang, kecil kemungkinannya menyimpang
dari spesifikasi.

3. 1.1 Cpk < 1.3:


Kondisi ideal, variasi dalam batas yang diijinkan.
4. 1.0 Cpk < 1.1
Perubahan sedikit dalam proses produksi mengakibatkan munculnya penyimpangan.
5. 0.9 Cpk < 1.0
Produk cacat (penyimpangan produk) kadangkala muncul, proses harus diperiksa lebih
ketat untuk mengeliminasi cacat atau penyimpangan.
6. Cpk< 0.9:
Produk cacat (penyimpangan produk) terjadi secara teratur, proses tak terkontrol harus
diperiksa bagaimana proses kerja, atau design spesifikasi perlu ditinjau ulang.
7. Ppk < 1.00:
Performa proses tidak baik.
Produk tangguh adalah produk yang memenuhi kriteria dibawah ini, yaitu:
a. Produk yang tidak ditemukan penyimpangan selama proses produksi yang
menunjukkan ketidakkonsistenan proses.
b. Produk yang menunjukkan kapabilita proses (pemenuhan terhadap spesifikasi) yang
baik, yang dapat dilihat dari tidak terdapatnya hasil IPC dan Final Testing yang
keluar dari spesifikasi awal (tidak terdapat perubahan spesifikasi), nilai Ppk (data
harus terdistribusi normal) 1.0 dan nilai Cpk (data harus terdistribusi normal dan
data stabil) 1.0.
Produk tidak tangguh adalah produk yang tidak memenuhi kriteria produk tangguh (PT. Kalbe
Farma,

Tbk.

2010).

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tugas Khusus
Tugas khusus dilaksanakan selama Praktek Kerja Profesi Apoteker pada
periode 17 Juni 12 Juli dan 14 Agustus - 31 Agustus 2013 di Departemen QA
(Quality Assurance), PT. Kalbe Farma, Tbk. yang berlokasi di jalan M. H.
Thamrin Blok A1-3, kawasan industri Delta Silicon, Lippo Cikarang, Bekasi.
3.2 Metode Pembuatan Annual Product Review
Urutan langkah dalam pembuatan Annual Product Review tablet X yaitu:
1. Pengumpulan data produksi tablet X tahun 2012.
Pengumpulan data untuk pembuatan APR (Annual Product Review)
dilakukan dengan melihat hasil analisis pada proses produksi dan QC
(Quality Control) yang terdapat pada batch record dari periode Januari
hingga Desember 2012.
2. Penyusunan laporan Annual Product Review tablet X tahun 2012.
Penyusunan APR tablet X mencakup:
a. Review.
b. Tren analisis tablet X QC.
c. Tren analisis produk tablet X.
d. Product review.
e. Laporan uji stabilita.
f. Deviation report.
g. Pembahasan Hasil
3. Pengolahan data.
Data untuk parameter kritis yang diperoleh seperti bobot tablet, kekerasan
tablet, tebal tablet, friability tablet, waktu hancur tablet, penetapan kadar
Ambroxol, laju disolusi rata-rata tablet. Data diolah dengan menggunakan
perangkat

lunak

berlisensi

10

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

(Minitab).

Universitas Indonesia

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pengumpulan Data dan Penelusuran Literatur
Pengumpulan data dilakukan terhadap batch record Tablet X periode Januari
hingga Desember tahun 2012. Pada tahun 2012 tablet X di produksi sebanyak 11
batch dengan 3 prosedur produksi. Dengan demikian, tablet X dapat dibuat
Annual Product Review (APR) sesuai dengan persyaratan dimana penyusunan
APR dilakukan minimal 10 batch. Pengumpulan data untuk Annual Product
Review (APR) tablet X meliputi pemeriksaan produksi dan pemeriksaan QC
(Quality Control).
Pemeriksaan produksi meliputi:
a. Bobot tablet
b. Tebal tablet
c. Kekerasan tablet
d. Waktu hancur tablet
e. Friability tablet.
Pemeriksaan QC meliputi:
a. Bobot tablet
b. Kekerasan tablet
c. Penetapan kadar ambroxol
d. Konformitas kadar tablet X
e. Waktu hancur tablet
f. Laju disolusi rata-rata tablet
g. Konformitas massa siap cetak (MSC) tablet X
Analisa statistik dilakukan menggunakan perangkat lunak berlisensi (Minitab)
dilakukan untuk menganalisa parameter pemeriksaan tabet X, yaitu:
a. Bobot tablet
b. Kekerasan tablet
c. Penetapan kadar ambroxol
d. Konformitas kadar tablet X
e. Waktu hancur tablet
f. Laju disolusi rata-rata tablet
11

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

12
g. Konformitas massa siap cetak (MSC) tablet X
h. Friability tablet.
Analisa statistik tersebut dimaksudkan untuk melihat tren parameter terkait,
sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan rekomendasi yang
diperlukan untuk produk tablet X.
4.2. Penyusunan APR (Annual Product Review)Tablet X 2012
Dari data yang telah dikumpulkan, baik dari pemeriksaan produksi dan QC
(Quality Control), APR (Annual Product Review) tablet X disusun berdasarkan
prosedur tetap penyusunan APR PT. Kalbe Farma, Tbk sepeti:
4.2.1

Deskripsi produk mencakup pemerian, wadah dan kemasan


Hasil: tablet X memenuhi persyaratan

4.2.2 Jumlah batch tablet X yang diproduksi pada tahun 2012 adalah 11
batch dengan 3 prosedur produksi.
4.2.3 Shelf life produk tablet X adalah 3 tahun
4.2.4

Jumlah (%) produk diproses ulang untuk tablet X tidak ada

4.2.5

Jumlah (%) produk ditolak untuk tablet X tidak ada

4.2.6 Metode analisis yang digunakan (mengacu pada nomor MA: MP-I
67725103 C) dengan tidak ada informasi perubahan.
4.2.7 Status validasi telah dilakukan validasi konkuren terhadap tablet X
dengan status valid.
4.2.8 Keluhan pelanggan terhadap tablet X pada tahun 2012 tidak ada
4.2.9

Penarikan kembali obat jadi tidak ada

4.2.10 Ketidaksesuaian (Non Conformance) selama proses terjadi pada


tanggal 12 Desember 2012 dimana kekerasan tablet tidak memnuhi
syarat (Syarat 5-10 Kp). 2 dari 12 tablet hasil pemeriksaan : 4,23
dan 4,17 Kp.
4.2.11 Rekomendasi dari BPOM tidak ada
4.3. Hasil Pengolahan Data
Pengolahan data untuk tablet X dengan 3 prosedur produksi A, B, dan C
untuk melihat tren analisis produksi:

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

13

a. Bobot individu Tablet X yang dihasilkan memenuhi persyaratan, yaitu :


No. Batch

Syarat

Hasil

421054-422056

190 - 210 mg

194-207 mg

423057-426060

190 - 210 mg

198-205 mg

427061-432064

190 - 210 mg

194-207 mg

Prosedur
Produksi

Grafik dapat dilihat di lampiran 4.1, 4.2, dan 4.3. Analisis kapabilitas
diperoleh nilai Ppk = 1,47 dan nilai Cpk = 1,46 untuk grafik 1, Ppk = 2,3
dan Cpk = 2,35 untuk grafik 2, serta Ppk = 2,7 dan Cpk = 2,73 untuk
grafik 3. Nilai Ppk pada semua grafik menunjukkan performa proses saat
ini baik dan nilai Cpk menunjukkan jika terjadi peningkatan variasi di
masa mendatang, kecil kemungkinan untuk terjadi penyimpangan terhadap
spesifikasi yang ditetapkan. Artinya, proses yang terjadi pada masingmasing batch tersebut dapat dikatakan tangguh.
b. Waktu hancur Tablet X yang dihasilkan memenuhi persyaratan, yaitu:
No. Batch

Syarat

421054-422056

< 10 menit

1-2 menit

423057-426060

< 10 menit

0,83-1,83

Prosedur

Hasil

Produksi

menit
C

427061-432064

< 10 menit

1-1,58 menit

Grafik dapat dilihat di lampiran 4.4, 4.5, dan 4.6. Analisis kapabilitas
proses diperoleh nilai Ppk = 1,77 dan nilai Cpk = 1,67 untuk grafik 1,
Ppk = 9,81 dan Cpk = 14,83 untuk grafik 2, serta Ppk = 15,42 dan Cpk
= 17,83 untuk grafik 3. Nilai Ppk pada semua grafik menunjukkan
performa proses saat ini baik dan nilai Cpk menunjukkan jika terjadi
peningkatan variasi di masa mendatang, kecil kemungkinan untuk
terjadi penyimpangan terhadap spesifikasi yang ditetapkan. Artinya,
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

14
proses yang terjadi pada masing-masing batch tersebut dapat dikatakan
tangguh.
c.

Kerapuhan Tablet X yang dihasilkan memenuhi persyaratan, yaitu:


Prosedur

No. Batch

Syarat

Hasil

Produksi
A

421054-422056

< 1 %).

0,1-0,22 %

423057-426060

< 1 %).

0,05-0,29 %

427061-432064

< 1 %).

0,08-0,2 %

Grafik dapat dilihat di lampiran 4.7, 4.8. dan 4.9. Diperoleh nilai Ppk
= 1,41 dan nilai Cpk = 1,8 untuk grafik 4.7. Nilai Ppk menunjukkan
performa proses saat ini baik dan nilai Cpk menunjukkan jika terjadi
peningkatan variasi di masa mendatang, kecil kemungkinan untuk
terjadi penyimpangan terhadap spesifikasi yang ditetapkan. Artinya,
proses yang terjadi pada masing-masing batch tersebut dapat
dikatakan tangguh. Diperoleh nilai Ppk = 0,73 dan nilai Cpk = 1,16
untuk grafik 4.8. Nilai Ppk menunjukkan bahwa penyimpangan
produk terjadi secara teratur dan proses tidak terkontrol. Harus
diperiksa bagaimana proses kerja, atau desain spesifikasi perlu
ditinjau ulang. Nilai Cpk menunjukkan bahwa dapat dicapai kondisi
yang ideal, dimana variasi masih berada dalam batas yang diizinkan.
Artinya, proses yang terjadi pada masing-masing batch tersebut
belum bisa dikatakan tangguh. Diperoleh nilai Ppk = 1,32 dan nilai
Cpk = 1,27 untuk grafik 4.9. Nilai Ppk menunjukkan performa proses
saat ini baik dan variasi masih berada dalam batas yang diizinkan.
Artinya, proses yang terjadi pada masing-masing batch tersebut dapat
dikatakan tangguh.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

15

Pengolahan data untuk tablet X dengan 3 prosedur produksi A, B, dan C


untuk melihat tren analisis QC:
a. Bobot individu Tablet X yang dihasilkan memenuhi persyaratan, yaitu:
Prosedur

No. Batch

Syarat

Hasil

Produksi
A

421054-422056 190 - 210 mg

195-205 mg

423057-426060 190 - 210 mg

197-205 mg

427061-432064 190 210 mg

196-202 mg

Grafik dapat dilihat pada lampiran 4.10, 41.11 dan 4.12. Diperoleh nilai
Ppk = 1,53 dan nilai Cpk = 1,52 untuk grafik 1, Ppk = 1,69 dan Cpk = 1,92
untuk grafik 2, serta Ppk = 2,3 dan Cpk = 2,51 untuk grafik 3. Nilai Ppk
pada semua grafik menunjukkan performa proses saat ini baik dan nilai
Cpk menunjukkan jika terjadi peningkatan variasi di masa mendatang,
kecil kemungkinan untuk terjadi penyimpangan terhadap spesifikasi yang
ditetapkan. Artinya, proses yang terjadi pada masing-masing batch
tersebut dapat dikatakan tangguh
b. Kekerasan Tablet X yang dihasilkan cenderung rendah dari syarat, dimana
terdapat titik yang lebih rendah dari syarat, yaitu:
Prosedur

No. Batch

Syarat

Hasil

Produksi
A

421054-422056 5 - 10 Kp

4,67-7,97 Kp

423057-426060 5 - 10 Kp

5-8,15 Kp

427061-432064 5- 10 Kp

4,17-8,21 Kp

Grafik dapat dilihat di lampiran 4.13, 4.14, dan 4.15. Diperoleh nilai
Ppk = 0,49 dan nilai Cpk = 0,79 untuk grafik 4.13. Nilai ini
menunjukkan bahwa produk masih memerlukan monitoring atau
perbaikan. Hal ini terbukti dari adanya nilai kekerasan tablet yang
menyimpang dari syarat pada BN 422055 (ditemukan 2 dari 12 sampel
yang TMS. Diperoleh nilai Ppk = 0,93 dan nilai Cpk = 1,06 untuk
grafik 4.14. Nilai Ppk menunjukkan bahwa produk masih memerlukan
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

16
monitoring atau perbaikan. Nilai Cpk menunjukkan bahwa dapat
dicapai kondisi yang ideal, dimana variasi masih berada dalam batas
yang diizinkan. Diperoleh nilai Ppk = 0,68 dan nilai Cpk = 0,97 untuk
grafik 4.15. Nilai Ppk menunjukkan bahwa produk masih memerlukan
monitoring atau perbaikan. Hal ini terbukti dari adanya nilai kekerasan
tablet yang menyimpang dari syarat pada BN 432064 (ditemukan 2
dari 12 sampel yang TMS).
c. Waktu hancur Tablet X memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan,
yaitu:
Prosedur

No. Batch

Syarat

Hasil

Produksi
A

421054-422056

10 menit

0,77-1,13 menit

423057-426060

10 menit

0,73-0,9 menit

427061-432064

10 menit

0,65-1,23 menit

Grafik dapat dilihat pada lampiran 4.16, 4.17, dan 4.18. Diperoleh nilai
Ppk = 1,7 dan nilai Cpk = 2,07 untuk grafik 4.16 serta Ppk = 3,77 dan
Cpk = 3,19 untuk grafik 4.17.

Nilai Ppk pada semua grafik

menunjukkan performa proses saat ini baik dan nilai Cpk menunjukkan
jika terjadi peningkatan variasi di masa mendatang, kecil kemungkinan
untuk terjadi penyimpangan terhadap spesifikasi yang ditetapkan.
Artinya, proses yang terjadi pada masing-masing batch tersebut dapat
dikatakan tangguh. Diperoleh nilai Ppk = 1,29 dan nilai Cpk = 1,28
untuk grafik 4.18. Nilai ini menunjukkan bahwa dapat dicapai kondisi
yang ideal, dimana variasi masih berada dalam batas yang diizinkan.
Artinya, proses yang terjadi pada masing-masing batch tersebut dapat
dikatakan tangguh.
d. Penetapan kadar Ambroxol HCl dalam

Tablet X yang dihasilkan

memenuhi persyaratan, yaitu:


Prosedur

No. Batch

Syarat

Hasil

Produksi
A

421054-422056 90,0 110,0%

96,5-102 %
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

17
B

423057-426060 90,0 -110,0%

97-100,3 %

427061-432064 90,0 110,0%

94,9-100,1 %

Grafik dapat dilihat pada lampiran 4.19, 4.20 dan 4.21. Diperoleh nilai
Ppk = 1,62 dan nilai Cpk = 2,36 untuk grafik 4.19, Ppk = 2,5 dan Cpk
= 11,89 untuk grafik 4.20, serta Ppk = 1,65 dan Cpk = 1,55 untuk
grafik 4.21. Nilai Ppk pada semua grafik menunjukkan performa
proses saat ini baik dan nilai Cpk menunjukkan jika terjadi
peningkatan variasi di masa mendatang, kecil kemungkinan untuk
terjadi penyimpangan terhadap spesifikasi yang ditetapkan. Artinya,
proses yang terjadi pada masing-masing batch tersebut dapat dikatakan
tangguh.
e. Penetapan disolusi Ambroxol HCl dalam Tablet X Tablet memenuhi
persyaratan yang telah ditetapkan, yaitu:
Prosedur

No. Batch

Syarat

Hasil

Produksi
A

421054-422056 10 menit 80 %

101-108 %

423057-426060 10 menit 80 %

98-109 %

427061-432064 10 menit 80 %

89-114

Grafik dapat dilihat di lampiran 4.22, 4.23, dan 4.24. Diperoleh nilai
Ppk = 3,26 dan nilai Cpk = 2,73 untuk grafik 4.22. Nilai Ppk
menunjukkan performa proses saat ini baik dan nilai Cpk menunjukkan
jika terjadi peningkatan variasi di masa mendatang, kecil kemungkinan
untuk terjadi penyimpangan terhadap spesifikasi yang ditetapkan.
Artinya, proses yang terjadi pada masing-masing batch tersebut dapat
dikatakan tangguh. Diperoleh nilai Ppk = 1 dan nilai Cpk = 2,67 untuk
grafik 4.23 dan 4.24. Nilai Ppk menunjukkan bahwa adanya sedikit
perubahan

dalam

proses

produksi

mengakibatkan

munculnya

penyimpangan. Nilai Cpk menunjukkan bahwa jika terjadi peningkatan


variasi di masa mendatang, kecil kemungkinan untuk menyimpang
terhadap spesifikasi yang ditetapkan. Artinya, proses yang terjadi pada
masing-masing batch tersebut dapat dikatakan tangguh.
Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

18
f. Konformitas kadar (yang dilihat berdasarkan nilai AV) Tablet X
memenuhi syarat yang ditetapkan, yaitu:
No. Batch

Prosedur

Syarat

Hasil

Produksi
A

421054-422056 AV 15 %

3,7-5,7 %

423057-426060 AV 15 %

3,9-4,9 %

427061-432064 AV 15 %

3,1-6,4 %

Grafik dapat dilihat di lampiran 4.26, 4.27, dan 4.28. iperoleh nilai Ppk
= 1,62 dan nilai Cpk = 2,36 untuk grafik 1, Ppk = 2,5 dan Cpk = 11,89
untuk grafik 2, serta Ppk = 1,65 dan Cpk = 1,55 untuk grafik 3. Nilai
Ppk pada semua grafik menunjukkan performa proses saat ini baik dan
nilai Cpk menunjukkan jika terjadi peningkatan variasi di masa
mendatang, kecil kemungkinan untuk terjadi penyimpangan terhadap
spesifikasi yang ditetapkan. Artinya, proses yang terjadi pada masingmasing batch tersebut dapat dikatakan tangguh. Nilai P pada grafik 1 =
0,276. Nilai P pada grafik 2 = 0,811. Nilai P pada grafik 3 = 0,786.
g. Keseragaman Kadar Ambroxol HCl 10 titik dalam Tablet X untuk BN
427061-430063 (BN validasi) memenuhi persyaratan yang telah
ditetapkan, yaitu:
Prosedur

No. Batch

Syarat

Hasil

Produksi
C

427061-432063

90,0 - 110,0 %

95,4-104,5 %

RSD 5 %).

RSD 427061 = 2,2 %,


RSD 428062 = 2,1 %,
RSD 430063 = 2,8 %

Grafik dapat dilihat dilampiran 4.29. Diperoleh nilai Ppk = 1,16 nilai
Cpk = 1,32. Nilai Ppk menunjukkan kondisi ideal dan variasi berada
dalam batas yang diizinkan. Nilai Cpk menunjukkan jika terjadi

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

19
peningkatan variasi di masa mendatang, kecil kemungkinan untuk
terjadi

penyimpangan

terhadap

spesifikasi

yang

ditetapkan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.

Kesimpulan
a.

APR (Annual Product Review) PT. Kalbe Farma, Tbk merupakan


laporan terstruktur dan menyeluruh berisi semua data mengenai
proses produksi , sistem analitis, stabilitas, pengaduan, perubahan,
sistem deviasi, recall dan data pelanggan yang dikaitkan dengan
produk farmasi pada bulan Januari hingga Desember tahun tertentu
untuk memantau kualitas dari produk tersebut dan meningkatkan
kualitasnya,

apabila

diperlukan.

Penyusunan

APR

tablet

mencakup: review, Tren analisis QC dan produksi tablet X, product


review, laporan uji stabilita dan deviation report. Parameter kritis
untuk tablet X adalah bobot tablet, kekerasan tablet, tebal tablet,
friability tablet, waktu hancur tablet, penetapan kadar Ambroxol, laju
disolusi rata-rata tablet.
b.

Dari hasil pengolahan data pada 11 batch record tablet X pada tahun
2012 didapat bahwa semua parameter kritis QC dan Produksi
memenuhi persyaratan, namun variasi nilai kekerasan tablet yang
tinggi disebabkan sifat dari produk, sehingga direkomendasikan untuk
memperbesar rentang persyaratan untuk kekerasan tablet.

5.2.

Saran
Terhambatnya

ketersediaan CPB (Catatan Produksi Batch) karena

disimpan pada vendor dokumen menyebabkan pengumpulan data terhambat.


Pembuatan list peminjaman dan komunikasi antar sub divisi perlu ditingkatkan
agar pengadaan CPB (Catatan Produksi Batch) yang disimpan di vendor dokumen
dapat optimal.

20

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

DAFTAR REFERENSI
Anonim.

(2013).

FDA

regulatory

information.

http://www.fda.gov/downloads/regulatoryinformation/guidances/ucm1290
98.pdf. Tanggal akses 28 Agustus 2013.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2012). Pedoman Cara
Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia.
PT. Kalbe Farma, Tbk. (2010). Supporting Document: Annual Product Review.
Cikarang: PT. Kalbe Farma, Tbk.

21

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

Universitas Indonesia

22

Lampiran 1. Grafik bobot individu tren analisis produksi

Gambar 4.1 Grafik bobot individu tren analisis produksi prosedur produksi A

Gambar 4.2 Grafik bobot individu tren analisis produksi prosedur produksi B

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

23

Gambar 4.3 Grafik bobot individu tren analisis produksi prosedur produksi C

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

24

Lampiran 2. Grafik waktu hancur tren analisis produksi

Gambar 4.4 Grafik waktu hancur tren analisis produksi prosedur produksi A

Gambar 4.5 Grafik waktu hancur tren analisis produksi prosedur produksi B

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

25

Gambar 4.6 Grafik waktu hancur tren analisis produksi prosedur produksi C

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

26

Lampiran 3. Grafik friabilita tren analisis produksi

Gambar 4.7 Grafik friabilita tren analisis produksi prosedur produksi A

Gambar 4.8 Grafik friabilita tren analisis produksi prosedur produksi B

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

27

Gambar 4.9 Grafik friabilita tren analisis produksi prosedur produksi C

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

28

Lampiran 4. Grafik bobot individu tren analisis QC

Gambar 4.10 Grafik bobot individu tren analisis QC prosedur produksi A

Gambar 4.11 Grafik bobot individu tren analisis QC prosedur produksi B

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

29

Gambar 4.12 Grafik bobot individu tren analisis QC prosedur produksi C

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

30

Lampiran 5. Grafik kekerasan tablet tren analisis QC

Gambar 4.13 Grafik kekerasan tablet tren analisis QC prosedur produksi A

Gambar 4.14 Grafik kekerasan tablet tren analisis QC prosedur produksi B

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

31

Gambar 4.15 Grafik kekerasan tablet tren analisis QC prosedur produksi C

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

32

Lampiran 6. Grafik waktu hancur tren analisis QC

Gambar 4.16 Grafik waktu hancur tren analisis QC prosedur produksi A

Gambar 4.17 Grafik waktu hancur tren analisis QC prosedur produksi B

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

33

Gambar 4.18 Grafik waktu hancur tren analisis QC prosedur produksi C

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

34

Lampiran 7. Grafik penetapan kadar Ambroxol tren analisis QC

Gambar 4.19 Grafik penetapan kadar Ambroxol tren analisis QC prosedur


produksi A

Gambar 4.20 Grafik penetapan kadar Ambroxol tren analisis QC prosedur


produksi B

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

35

Gambar 4.21 Grafik penetapan kadar Ambroxol tren analisis QC prosedur


produksi C

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

36

Lampiran 8. Grafik laju disolusi tren analisis QC

Gambar 4.22 Grafik laju disolusi tren analisis QC prosedur produksi B

Gambar 4.23 Grafik laju disolusi tren analisis QC prosedur produksi C

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

37

Lampiran 9. Grafik konformitas kadar tren analisis QC

Gambar 4.24 Grafik konformitas kadar tren analisis QC prosedur produksi A

Gambar 4.25 Grafik konformitas kadar tren analisis QC prosedur produksi B

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

38

Gambar 4.26 Grafik konformitas kadar tren analisis QC prosedur produksi C

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014

39

Lampiran 10. Grafik keseragaman kadar Ambroxol tren analisis QC

Gambar 4.27 Grafik keseragaman kadar Ambroxol tren analisis QC prosedur


produksi C

Universitas Indonesia

Laporan praktek., Nurina Fatmawati, FFUI, 2014