Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
A. Konsep Anak Usia Prasekolah
1. Pengertian Anak Usia Prasekolah
Anak memiliki suatu ciri khas tumbuh dan berkembang sejak
konsepsi sampai berakhir masa remaja. Hal ini yang membedakan anak
dengan

dewasa.

Anak

menunjuKkan

ciri-ciri

pertumbuhan

dan

perkembangan sesuai umurnya (Depkes, 2008). Menurut Hidayat dalam


Sari, dkk., (2011, hal. 2) anak usia prasekolah merupakan masa-masa
untuk bermain dan mulai masuk taman kanak-kanak. Batasan karakteristik
anak usia prasekolah adalah tiga sampai enam tahun.
Supartini dalam Apisah (2008, hal. 7) Anak prasekolah adalah
pribadi yang mempunyai berbagai macam potensi, potensi itu dirangsang
dan dikembangkan agar pribadi anak tersebut berkembang secara optimal.
Tertunda atau terhambatnya pengembangan potensi-potensi itu akan
mengakibatkan timbulnya masalah. Taman kanak-kanak adalah salah satu
bentuk pendidikan prasekolah yang menyediakan program pendidikan dini
bagi anak usia 4 tahun sampai memasuki pendidikan dasar.
2. Batasan Karakteristik Umur Anak Prasekolah
Menurut Farida (2006) Dalam memberikan pengertian anak
prasekolah dari segi umur para ahli mengalami kesulitan karena dalam
menghubungkan antara batasan umur dan kecakapan anak dapat
dipengaruhi banyak faktor. Dengan demikian banyak ahli yang berbeda
pendapat untuk memberikan batasan umur anak prasekolah.
8

Menurut Wong (2000) Anak usia prasekolah adalah anak yang


berusia antara 3-6 tahun. Senada dengan itu Menurut Biechler &
Snowman dalam Soemiarti (2003, hal. 19) anak prasekolah adalah mereka
yang berusia antara 3-6 tahun. Mereka biasanya mengikuti program
prasekolah dan kindergarten. Sedangkan di Indonesia, umumnya mereka
mengikuti program tempat penitipan anak (3 bulan sampai 5 tahun) dan
kelompok bermain (usia 3 tahun), sedangkan pada usia 4-6 tahun biasanya
mereka mengikuti program taman kanak-kanak.
Menurut Whaley & Wong dalam Listiani (2010, hal. 16) batasan
usia anak berdasarkan Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Periode pranatal dari masa konsepsi sampai kelahiran
b. Periode bayi
1) Neonatus yaitu dari lahir sampai 28 hari
2) Infant yaitu dari 1 12 bulan
c. Periode kanak kanak awal
1) Toddler yaitu dari 1 - 3 tahun
2) Preschool yaitu dari 3 - 6 tahun
d. Periode kanak - kanak pertengahan (school age) yaitu dari 6 - 12 tahun
e. Periode kanak kanak akhir (adolescene) yaitu dari 12 - 19 tahun.
3. Ciri-ciri Anak Prasekolah
Snowman dalam Soemiarti (2003, hal. 32) mengemukakan ciri-ciri
anak prasekolah (3-6 tahun), yaitu:
a. Anak prasekolah umumnya sangat aktif, mereka memiliki penguasaan
(kontrol) terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang
dilakukan sendiri. Berikan kesempatan kepada anak untuk lari,
memanjat, dan melompat.
b. Setelah anak melakukan berbagai kegiatan, anak membutuhkan
istirahat yang cukup, seringkali anak tidak menyadari bahwa mereka
harus beristirahat cukup. Jadwal aktivitas yang tenang diperlukan anak.

10

c. Otot-otot pada anak prasekolah lebih berkembang dari kontrol


terhadap jari dan tangan. Oleh karena itu, biasanya anak belum
terampil, belum melakukan kegiatan yang rumit, misalnya mengikat
tali sepatu.
d. Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus menfokuskan
pandangannya pada objek-objek yang kecil ukurannya, itulah sebabnya
koordinasi tangan dan matanya masih kurang sempurna.
e. Walaupun tubuh anak ini lentur, tetapi tengkorak kepala yang
melindungi otak masih lunak. Hendaknya hati-hati bila anak berkelahi
dengan temannya.
f. Walaupun anak laki-laki lebih besar dan anak perempuan lebih
terampil dalam tugas yang bersifat praktis, khususnya dalam tugas
motorik halus, tetapi sebaiknya jangan mengeritik anak lelaki apabila
tidak terampil. Jauhkan dari sikap membandingkan lelaki dan
perempuan juga dalam kompetensi keterampilan seperti apa yang
disebut di atas.
B. Konsep Kemandirian Anak Usia Prasekolah
1. Pengertian Kemandirian
Menurut Subrata dalam Apisah (2012, hal.7) bahwa yang dimaksud
dengan kemandirian anak pasekolah yaitu kemampuan anak untuk
melakukan aktivitas sendiri atau mampu berdiri sendiri dalam segala hal.
Senada dengan itu Lie & Prasati dalam Julianto (2008, hal. 4)
Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara
bertahap selama perkembangan, di mana anak akan terus belajar untuk
bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan,

11

sehingga anak mampu berfikir dan bertindak sendiri. Dengan kemandirian


seorang anak dapat berkembang dengan baik.
Menurut Susanto (2012) Kemandirian adalah sikap dan perilaku
seseorang yang mencerminkan perbuatan yang cenderung individual
(mandiri), tanpa bantuan dan pertolongan dari orang lain. Kemandirian
identik dengan kedewasaan, berbuat sesuatu tidak harus ditentukan atau
diarahkan sepenuhnya oleh orang lain. Kemandirian anak sangat
diperlukan dalam rangka membekali mereka untuk menjalani kehidupan
yang akan datang. Dengan kemandirian ini seorang anak akan mampu
untuk menentukan pilihan yang ia anggap benar, selain itu ia berani
memutuskan pilihannya dan bertanggung jawab atas resiko dan
konsekwensi yang diakibatkan dari pilihannya tersebut.
2. Aspek-aspek Kemandirian Anak Usia Prasekolah
Aspek kemandirian menurut Gea dalam Apisah (2012, hal. 3)
yakni :
a. aspek kognitif; yaitu aspek yang berkaitan dengan pengetahuan,
pandangan dan keyakinan individu tentang sesuatu, misalnya
pemahaman seorang anak tentang ketidak tergantungan pada orang tua
atau pengasuhnya.
b. aspek afektif; yaitu aspek yang berkaitan dengan perasaan individu
terhadap sesuatu seperti halnya hasrat, keinginan atau pun kehendak
yang kuat terhadap suatu kebutuhan, misalnya keinginan seorang anak
untuk berhasil melakukan tugas sederhana, seperti memakai baju dan
sepatu sendiri.

12

c. aspek psikomotor; yaitu aspek yang berkaitan dengan tindakan yang


dilakukan individu untuk memenuhi kebutuhannya, misalnya tindakan
anak yang berinisiatif belajar mengenakan sesuatu sendiri karena dia
tidak ingin selalu tergantung pada orang tua atau pengasuhnya.
Menurut Steinberg dalam Jannah (2012, hal. 2) membedakan
kemandirian atas tiga bentuk, yaitu :
a. Kemandirian emosi, yakni aspek kemandirian yang berhubungan
perubahan kedekatan atau keterikatan hubungan emosional individu,
terutama sekali dengan orang tua atau orang dewasa lainnya yang
banyak melakukan interaksi dengannya.
b. Kemandirian kognitif, yakni suatu kemampuan untuk membuat
keputusan-keputusan

secara

bebas

dan

menindaklanjutinya.

Kemandirian kognitif yaitu mandiri dalam bertindak dan bebas untuk


bertindak sendiri tanpa terlalu bergantung pada bimbingan orang lain.
Kemandirian bertindak dimulai sejak usia anak dan berkembang
dengan sangat tajam sepanjang usianya.
c. Kemandirian nilai, yakni kebebasan untuk memaknai seperangkat
benarsalah, baik-buruk apa yang berguna dan sia-sia bagi dirinya
sendiri.
Diantara ketiga komponen kemandirian, kemandirian nilai
merupakan proses yang paling kompleks, tidak jelas bagaimana proses
berlangsung dan pencapaiannya terjadi melalui proses internalisasi yang
pada lazimnya tidak disadari, dan umumnya berkembang paling akhir dan
paling sulit dicapai secara sempurna disbanding kedua tipe kamandirian
lainnya.

13

3. Faktor-faktor

Yang

Mempengaruhi

Kemandirian

Anak

Usia

Prasekolah
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemandirian anak
prasekolah menurut Soejtiningsih dalam Jannah (2012, hal, 4) terbagi
menjadi dua faktor, yaitu:
a. Faktor internal merupakan faktor yang ada dalam diri anak itu sendiri
yang meliputi emosi dan intelektual.
1) Faktor emosi yang ditunjukkan dengan kemampuan mengontrol
emosi dan tidak terganggunya kebutuhan emosi anak.
2) Faktor intelektual yang ditunjukkan dengan kemampuan untuk
mengatasi masalah yang dihadapi anak.
b. Faktor eksternal yaitu faktor yang datang atau ada dari luar anak itu
sendiri yang meliputi lingkungan, karakteristik sosial, stimulasi, pola
asuh yang dipengaruhi oleh komunikasi yang dibangun dalam
keluarga, kualitas informasi anak dan orang tua yang dipengaruhi
pendidikan orangtua dan status pekerjaan
1) Lingkungan merupakan faktor yang menentukan tercapai atau
tidaknya kemandirian anak usia prasekolah. Pada usia ini anak
membutuhkan kebebasan untuk bergerak kesana kemari dan
mempelajari lingkungan.
2) Karakteristik sosial dapat mempengaruhi kemandirian anak,
misalnya tingkat kemandirian anak dari keluarga miskin berbeda
dengan anak-anak dari keluarga kaya.
3) Stimulus. Anak yang mendapat stimulus yang terarah dan teratur
akan lebih cepat mandiri dibandingkan dengan anak yang kurang
mendapat stimulasi.

14

4) Pola asuh, anak dapat mandiri dengan diberi kesempatan,


dukungan dan peran orangtua sebagai pengasuh.
5) Cinta dan kasih sayang kepada anak hendaknya diberikan
sewajarnya karena jika diberikan berlebihan, anak menjadi kurang
mandiri. Hal ini dapat diatasi bila interaksi dua arah antara
orangtua dan anak berjalan lancar dan baik.
6) Kualitas informasi anak dan orangtua yang dipengaruhi pendidikan
orangtua, dengan pendidikan yang baik, informasi dapat diberikan
pada anak karena orangtua dapat menerima informasi dari luar
terutama cara meningkatkan kemandirian anak.
7) Status pekerjaan ibu, apabila ibu bekerja di luar rumah untuk
mencari nafkah maka ibu tidak bisa memantau kemandirian anak
sesuai perkembangan usianya.
4. Kemandirian Anak Usia Prasekolah
Kemandirian anak usia prasekolah dapat ditumbuhkan dengan
membiarkan anak memiliki pilihan dan mengungkapkan pilihannya sejak
dini. Ibu dapat mendorongnya dengan menanyakan makanan apa yang
diinginkannya, pakaian apa yang ingin dipakainya atau permainan apa
yang ingin dimainkan, serta menghargai setiap pilihan yang dibuatnya
sendiri (Hurlock dalam Harno, 2012, hal. 2).
Kemandirian pada anak umumnya dikaitkan dengan kemampuan
anak untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Apakah itu makan
sendiri, memakai baju sendiri, dan menalikan sepatunya sendiri tanpa
harus tergantung pada bantuan orang lain. Anak yang mempunyai rasa
mandiri akan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan
dapat mengatasi kesulitan yang terjadi. Disamping itu anak yang

15

mempunyai kemandirian akan memiliki stabilitas emosional dan


ketahanan yang mantap dalam menghadapi tantangan dan tekanan didalam
kehidupannya (Hogg & Blau dalam Susanto, 2012)
Ciri-ciri kemandirian pada usia prasekolah menurut Rumini &
Sundari dalam Apisah (2008, hal. 9) yaitu anak dapat makan dan minum
sendiri, anak mampu memakai pakaian dan sepatu sendiri, anak mampu
merawat diri sendiri dalam hal mencuci muka, menyisir rambut, sikat gigi,
anak mampu menggunakan toilet, dan anak mampu memilih kegiatan yang
disukai, seperti; menari, melukis, mewarnai, dan di sekolah TK tidak mau
ditunggui oleh ibu atau pengasuh.
C. Konsep Status Pekerjaan Ibu
1. Pengertian Pekerjaan
Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia.
Seseorang yang bekerja ada sesuatu yang hendak dicapai, dan orang
berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawanya
kepada suatu keadaan yang lebih memuaskan daripada keadaan
sebelumnya (Panji dalam Azzadeelly, 2011).
Ihromi dalam Harno (2012, hal.11) mendefinisikan ibu pekerja
sebagai ibu yang melakukan kegiatan, mengeluarkan energi, mempunyai
nilai waktu, baik secara langsung maupun tidak langsung untuk
mendapatkan penghasilan.
Menurut Soejtiningsih dalam Apisah (2008, hal. 13) Status
pekerjaan ibu, apabila ibu bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah
maka ibu tidak bisa memantau kemandirian anak sesuai perkembangan

16

usianya, apakah anaknya sudah bisa mandiri atau belum. Sedangkan ibu
yang tidak bekerja bisa melihat kemandirian anaknya dan bisa
memandirikan anaknya. Menurut Depkes (2002) Ibu tidak bekerja adalah
seorang ibu yang hanya melakukan pekerjaan di rumah yang tidak
memilki penghasilan sendiri.
2. Peran Ibu Terhadap Perkembangan Anak Prasekolah
Dalam melatih kemandirian anak yang penting biarlah anak
melakukan apa saja yang sejauh itu tidak membahayakan keselamatannya,
peran ibu hanya memberikan keluasan pada anak untuk bermain, sehingga
anak dapat belajar bergaul, berinteraksi serta bagaimana mengekpresikan
pendapat, kemandirian dan pengetahuannya agar ibu bisa melaksanakan
tugas sesuai perannya. Tentu saja harus mempunyai rasa tanggung jawab
dan prioritas, terutama pada ibu yang bekerja. Prioritas menjadi sangat
penting karena ibu harus memilih mana yang harus didahulukan antara
pekerjaan dan anak. Jika ibu merasa bekerja itu penting tentunya ibu tidak
bisa merawat anak sepenuhnya, maka ibu harus cari pengasuh anak atau
orang yang dianggap mempunyai pengalaman untuk merawat anak jika
ibu sedang bekerja (Vuuren dalam Harno, 2012, hal. 9).
3. Peran Ibu Bekerja Dalam Kemandirian Anak
Kemandirian hendaknya tidak diartikan sebagai sebuah tindakan
yang selalu membiarkan anak berada dalam kondisi sendiri. Misalnya
dengan cara meninggalkan anak terlalu sering dengan alasan agar anak
mandiri. Cara ini bukanlah cara ideal untuk melatih kemandirian anak.
Bagaimapun juga anak membutuhkan rasa aman dan nyaman saat

17

melakukan aktivitas apapun, termasuk ketika anak belajar mandiri. Dan


kenyamanan dan rasa aman ini sangat diharapkan muncul ketika anak
berada bersama orang tuanya. Anak yang terlalu sering ditinggal sendiri,
jika tidak diberi banyak sentuhan emosional, lama kelamaan akan merasa
terbuang. Kemudian perasaan itu akan berkembang menjadi pemahaman
yang keliru mengenai mandiri, dimana anak lebih menangkap bahwa
menjadi mandiri berarti hidup sendiri. Tentu saja konsep ini akan sangat
menghambat perkembangan anak selanjutnya (Arini, dkk., 2006, hal. 36)
Menurut Vuuren dalam Harno (2012, hal. 16) yang dimaksud
dengan

ibu

bekerja

adalah

seorang

ibu

yang

tidak

hanya

mempersembahkan waktu untuk keluarga, tetapi juga melaksanakan suatu


tugas atau kegiatan pada waktu dan tempat tertentu serta memperoleh gaji.
Menurut Gunarsa dalam Apisah (2008, hal. 18) konsep peran moderat
wanita mempunyai hak untuk bekerja diluar rumah, akan tetapi peran dan
tugas pokoknya tetaplah berpegang pada nilai-nilai luhur naluri
kewanitaan.
Bagi ibu yang bekerja harus mempunyai kiat-kiat dalam
membentuk lingkungan yang kondusif, sehingga kemandirian anak dapat
ditingkatkan dengan memperhatikan waktu dan adanya rasa bersalah. Agar
kebutuhan kualitas waktu dapat terpenuhi berarti ibu yang bekerja harus
bisa meluang waktunya yang tersisa. Waktu yang ada harus betul-betul
dimanfaatkan dan melibatkan seluruh keluarga. Bila kualitas waktu bisa
dijalankan dengan baik urusan rumah tangga dan pekerjaanpun bisa tertata
dengan baik, dan biasanya ibu yang bekerja sering mempunyai rasa

18

bersalah karena mengurangi waktu bersama anak. Bahayanya rasa bersalah


tersebut sering dikompensasikan dengan memanjakan anak secara
berlebihan. Padahal sikap tersebut dapat menyebabkan anak cenderung
manja dan tidak mandiri. Maka lebih baik ibu mengarahkan pola pikir
anak agar anak lebih memahami situasi yang dihadapinya, misalkan
mengapa ibu perlu bekerja (Vuuren dalam Harno, 2012, hal. 17).