Anda di halaman 1dari 2

DECENTRALIZATION AND HEALTH MANPOWER DISTRIBUTION IN

NATIONAL SOCIAL SECURITY SYSTEM


Background
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah
pulau sekitar 18.110 pulau. Per 1 Januari 2014, dengan beroperasinya
BPJS Kesehatan maka setiap warganegara Indonesia, termasuk yang ada
di pulau terluar Indonesia, sesuai UU Nomor 40 Tahun 2004 wajib tercover
asuransi kesehatan. Janji pemerintah agar seluruh warganegaranya
tercover asuransi membawa konsekuensi harus tersedianya sarana dan
prasarana kesehatan di seluruh pelosok Indonesia. Pada era
kepemimpinan Presiden Soeharto dikeluarkan PP nomor 1 tahun 1988
tentang Masa Bakti Dokter dan Dokter Gigi sebagai kebijakan yang
menjamin tersedianya tenaga medis di seluruh pelosok nusantara.
Kebijakan penempatan tenaga medis yang baru lulus di daerah berakhir
tahun 2007. Hal ini membuat pemerintah semakin sulit untuk menjamin
ketersebaran tenaga medis di Indonesia. Hasil penelitian Heywood &
Harahap (2009) menunjukkan setelah desentralisasi dilaksanakan di
Indonesia tantangan utamanya di dunia kesehatan adalah perubahan
dalam distribusi pelayanan kesehatan.

Berdasarkan data BPPSDMK Kementerian Kesehatan Republik Indonesia hingga tahun 2012
distribusi tenaga kesehatan masih sangat timpang. Dari 9315 Puskesmas yang ada di
Indonesia sekitar 40,21% (3746 Puskesmas) masih kelebihan tenaga dokter sementara
21,38% (1992 Puskesmas) masih kekurangan tenaga dokter. Sementara untuk tenaga dokter
gigi, 1175 Puskesmas kelebihan dokter gigi (12,61%) dan 4349 Puskesmas masih kekurangan
tenaga dokter gigi (46,69%). Konsentrasi dokter di Indonesia belum sesuai dengan standar
WHO yang menetapkan ketersediaan 40 doker umum untuk setiap 100 ribu penduduk. Data
Kemenkes menunjukkan ada sembilan provinsi (DKI Jakarta, Sulawesi Utara, DI Yogyakarta,
Bali, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, Aceh, dan Banten) yang kelebihan
dokter, sedangkan Nusa Tenggara dan Papua merupakan daerah yang paling kekurangan
tenaga dokter.

Kondisi tersebut berkebalikan dengan kondisi saat UU nomor 8 tahun 1961


tentang Wajib Kerja Sarjana dan PP nomor 1 tahun 1988 masih berlaku.
Melalui peraturan tersebut , pemerintah mengupayakan penempatan
dokter di daerah tertinggal yang dikenal dengan program dokter Inpres
Desa Tertinggal (IDT). Pada 1994-1995 telah ditempatkan lebih dari 3.000
dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) dan 800 dokter gigi PTT. Jumlah tersebut
terus meningkat setiap tahunnya. Sampai ketika dikeluarkannya
Permenkes Nomor 512/MENKES/PER/IV/2007. Peraturan tersebut tidak
secara tertulis menghapus program PTT, namun menyatakan bahwa untuk

mendapatkan Surat Izin Praktek pertama dokter baru, tidak harus


mencantumkan bukti surat pasca PTT. Bahkan dokter baru lulus yang
sedang mengikuti program pendidikan dokter spesialis (PPDS) dapat
secara otomatis memperoleh SIP dari Dekan Fakultas Kedokteran.

Di sisi lain, kini setelah lebih satu dasawarsa era otonomi daerah, belum
semua daerah mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, baik
disebabkan karena kurangnya sarana ataupun sarana ada namun tiada
tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Ketika urusan kesehatan menjadi
urusan wajib yang harus dikerjakan oleh kabupaten/kota (PP no 38 tahun
2007), daerah serta merta menjadikan urusan kesehatan ini area penting
tempat dialokasikannya APBD. Daerah bahkan sanggup memberikan
insentif cukup besar bagi tenaga kesehatan, namun hal ini belum
membuat ketertarikan tenaga kesehatan untuk bekerja di daerah.
Beberapa informasi menunjukkan hal ini, beberapa diantaranya adalah
Pemerintah Kabupaten Asmat memberikan insentif hingga Rp30 juta per
bulan bagi dokter dan dokter PTT dari luar Papua yang bertugas di
wilayahnya atau di Kolaka Utara menetapkan insentif sebesar Rp25 juta
per bulan.

Background, Methods, Results and Conclusions. The maximum word count for the abstract is
300 words