Anda di halaman 1dari 6

I.

Kebijakan Publik : Untuk Apa


1. Tujuan kebijakan public yang pertama adalah untuk menditribusikan sumber daya
nasional, yang mencakup redistribusi dan absorpsi sumber daya nasional
2. Tujuan kebijakan public kedua adalah untuk meregulasi, meliberasi dan
menderegulasi.
3. Tujuan Kebijakan public yang ketiga adalah dinamika dan stabilisasi. Tujuan
kebijakan adalah untuk menstabilisasi.
4. Tujuan kebijakan public yang keempat adalah memperkuat Negara dan memperkuat
pasar. Kebijakan memperkuat pasar secara global diterima sebagai liberalisasi dan
menjadi nama permainan ini dewasa ini.
Sebagai rangkuman, kita dapat menyimpulkan bahwa tujuan kebijakan public adalah:
a. Untuk mendistribusikan (dan alokatif, distributive dan redistributive) serta untuk
mengabsorbsi.
b. Untuk meregulasi dan meliberasi.
c. Untuk menstabilkan dan untuk membuat dinamika
d. Untuk memperkuat Negara dan memperkuat pasar.
II. Paradigma Kebijakan Publik
Kebijakan public pertama alah paradigma yang melihat kebijakan public sebagai
tugas pemerintah semata; dan kedua adalah paradigm yang melihat kebijakan public sebagai
saling memengaruhi antara pemerintah dan masyarakat. Paradigma pertama melihat
kebijakan public sebagai turunan dari hokum (atau rechtorrari), dan memahami kebijakan
sebagai hokum, khususnya hokum public, atau diasumsikan dapat dipertukarkan sebagai
hokum administrative. Paradigma kedua cenderung melihat kebijakan sebagai turunan
politik, khususnya proses politik demokratis; dan untuk melihatnya sebagai interaksi bahkan
kesepakatan, diantara dua aktor utama dari setiap bangsa, negara dan masyarakat. Paradigma
pertama hanya dinamakan sebagai kontinentalis, dan paradigm kedua sebagai anglo-saxon.
Administrasi public Indonesia diperoleh dari system Belanda. Dengan menggunakan
asumsi bahwa administrasi public Indonesia diperoleh dari administrasi colonial Belanda.
Pada titik yang paling ekstrem, kontenentalis diimplementasikan dibawah ideology politik
yang berbeda di Negara- Negara sosialis- komunis, seperti Uni Soviet dan yang sebelumnya
merupakan satelitnya yaitu Eropa Timur, Kuba, Korea Utara, dan Negara yang saat ini paling
berkembang, Republik Rakyat China.
Kembali ke Eropa kuno, paradigm kontinentalis dibangun di bawah system
demokratis dan praktik politik Trias Politica yang membedakan kekuasaan legislative,
eksekutif, dan yudikatif. Dalam pendekatan yang berbeda, system kemudian mengikuti
system politik para elite, karena pemegang kekuasaan institusi politik sebagian besar berasal
dari komunitas elite dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi.

Hukum adalah tentang tugas dan fungsi Negara, sedangkan kebijakan adalah
kesepakatan antara Negara dan masyarakat.
Di Eropa saat ini, partisipasi public adalah kunci dari proses pembuatan kebijakan.
Kebijakan public di Eropa mendekati ideal karena kualitas pejabat pemerintah, anggota
parlemen, dan pemimpin Negara sangat bagus, dimana media massa dan organisasi non
pemerintah, yang menunjukkan minat berdiri untuk oposisi, memainkan peran penting
sebagai mekanisme check and balance terhadap pemerintah.
Sebagai pemikir kontinentalis yang menonjol adalah Prof. Wolfgang Merkel dan Prof.
Rainer Pitschas. Merkel adalah anggota Bertelsmann stiftung, Wissenschaftlicher Beirat
Beim Bundesministeriumfurwirschaftliche Zusammenarbeit und Entmicklung atau dewan
penasihat Kementerian Kerja Sama dan Perkembangan ekonomi Federal Jerman. Pitchas
adalah Profesor Sekolah PascaSarjana Ilmu Pengetahuan Administrastif Speyer, Republik
Federal Jerman.
Bagaimana dengan Negara Negara berkembang yang mempraktikkan model
kontinentalis? Masalahnya adalah ceteris paribus belum ada dibanyak Negara berkembang.
Model Kontinentalis yang dapat diberi nama gabungan model institusional, Kelompok,
dan Elite berubah menjadi inti masalah kebijakan public karena sebagian besar Negara
berkembang kurang mempunyai pemimpin dan elite yang visioner, kurang disiplin dalam
birokrasi , dan kurangnya integritas anggota parlemen. Media massa tidak mampu mewakili
suara rakyat, organisasi non pemerintah cenderung mengungkapkan kepentingan asing.
Pertanyaannya adalah bagaimana dengan Negara Negara lain?
Sejarah pembuatan kebijakan dimulai pada masa Inggris kuno di abad ke-12 ketika
Raja John sebagai raja inggris. Pada 15 Juni 1215, raja John mengeluarkan Magna Charta,
dokumen resmi raja yang menyatakan bahwa

dalam membuat keputusan Raja akan

mendengarkan pertimbangan kaum aristocrat, dan aparat kerajaan tidak boleh sewenang
wenang mengancam rakyat.
Konsep egalitarian pertama kali dilaksanakan sebagai hubungan antara individu,
kemudian dikembangkan masyarakat dan Negara. Libertarianisme adalah daya pendorong
landasan kerja paradigm kerja anglo saxon.
Oleh karena itu, model anglo-saxon melihat kebijakan public sebagai produk politik,
karena ada proses politik yang mencakup proses partisipasi didalamnya untuk dipahami
sebagai demokrasi. Pemerintahan yang baik yang dijalankan saat ini adalah perpanjangan dari
pemahaman kebijakan public yang baik dalam perumusan, implementasi dan penilaian kerja.
Ada asumsi bahwa Negara Negara berkembang yang sebelumnya dijajah oleh
Negara Negara benua Eropa, seperti Prancis, Jerman, dan Belanda, mempraktikkan model
kontinentalis paradigma kebijakan , sedangkan Negara Negara berkembang yang dulu di

jajah oleh Inggris mempraktikkan model paradigma kebijakan anglo-saxon. Maka kemudian
marilah kita lihat model pembuatan kebijakan di Malaysia, bekas koloni Inggris, dan
Indonesia bekas koloni Belanda.
Tidak ada banyak perbedaan di antara dua model kebijakan tersebut Malaysia dan
Indonesia. Keduanya adalah model top-down yang digerakkan oleh institusi Negara, baik dari
eksekutif maupun legislative dan lebih sedikit mencakup public, yang berarti pendekatan
kontinentalis. Malaysia mempunyai latar belakang inggris dan Indonesia mempunyai latar
belakang Belanda, tetapi pertanyaanya adalah mengapa mereka mempunyai model yang
sama? Jika Indonesia menjadi Kontinentalis, hal ini dapat dipahami, tetapi Malaysia menjadi
Anglo-Saxon dapat dipertanyakan.
Krisis Asia pada 1998 menyebabkan jatuhnya rezim otoriter Indonesia. Perubahan di
Indonesia, sebagai Negara terbesar di Asia tenggara telah mengubah tetangganya untuk
mentransformasi pembuatan kebijakannya, dari kontinentalis menjadi anglo-saxon.
Pembuatan kebijakan Indonesia menjadi transparan dan partisipatif. Kebijakan transparasi
dan akuntabilitas pada praktik praktik pemerintahan telah mengubah Indonesia menjadi
bangsa yang paling Demokratis (dan stabil) di Asia Tenggara. 5Dewasa ini, Negara Negara
berkembang disekitar Indonesia sedang mengubah pendekatan kebijakannya menjadi model
anglo-saxon. 6Di Indonesia, proses perencanaan kebijakan nasional adalah proses bottom-up,
yang dimulai dari desa, kecamatan, kota, provinsi sampai tingkat nasional. Proses ini
melibatkan semua warga Negara, termasuk Presiden.
Mungkin konsep Kontinentalis dan anglo saxon tidak pasti relevan, tetapi dapat
membantu untuk diferensiasi. Poin utamanya adalah bahwa dunia sedang bergerak kearah
paradigm dimana, pertama, kebijakan adalah produk proses politik, sehingga dalam system
politik demokratis, partisipasi masyarakat bukan hanya merupakan prasyarat, tetapi
merupakan landasan berpikir mengapa sebuah bangsa dianggap demokratis. Dewasa ini,
semakin sedikit negara yang menggap diri mereka sendiri sebagai negara non-demokratis,
tidak perduli sampai level mana demokrasinya : nyata, melalaikan, atau curang. Akan tetapi,
diferensiasi kontinentalis dan anglo-saxon masih relevan untuk dipahami jika ada pendekatan
top-down dan kombinasi pendekatan top-down dan bottom- up.
III. Kebijakan dan Undang Undang
Perdebatan yang tidak produktif adalah mempertanyakan perbedaan antara kebijakan
dan undang-undang (atau undang-undang publik). Jawaban asal-asalan adalah kebijakan
cenderung memandu dan kebijakan cenderung menggigit. Kebijakan publik dirumuskan
dengan ide menciptakan masyarakat yang lebih baik, sedangkan undang-undang diciptakan
oleh ide melarang tingkah laku masyarakat. Kebijakan rnenganggap masyarakat dalam

kondisi yang lebih baik, sehingga tujuan kebijakan adalah untuk memindahkan masyarakat.
Undang-undang menganggap masyarakat sebagai tempat yang tidak hanya terdiri dari orangorang yang baik, tetapi orang-orang jahat, sehingga tujuan undang-undang adalah untuk
membatasi.
Tahap tahap legal utama mencerminkan dua peran fundamental yang dilakukan
oleh undang undang dalam sistem konstitusional. Dalam peran fundamental pertama,
dalam bentuk legislasi , dapat dilihat sebagai alat yang memungkinkan pemerintah untuk
melanjutkan kebijakannya. Pada peran lainnya, undang undang dalam bentuk prinsip
prinsip legal yang ditegakkan oleh pengadilan menjadi mekanisme mengontrol kekuasaan
pemerintah. Prinsip prinsip pemerintahan terbatas... ada batasan legal pemerintah
IV. Bentuk Kebijakan Publik
Seperti yang sudah kita,bahas, bentuk pertama kebijakan publik adalah undangundang. Ada kesepakatan bahwa apa yang disebut kebijakan publik mempunyai bentuk
akhir undang - undang. Faktanya adalah, di negara-negara berkembang, kebijakan publik
tidak selalu merupakan undang-undang. Ada dua bentuk kebijakan publik lain yang terlihat
tidak masuk akal, tetapi secara efektif dilaksanakan dan kadang - kadang menggantikan
kebijakan publik formal dalam bentuk undang - undang, yang merupakan perbincangan
publik dan para pemimpin dan perilaku para pemimpin.
V. Kebijakan Pembangunan
Kebijakan khusus untuk

negara-negara

berkembang

adalah

kebijak

pembangunan. Ada tiga karakter kebijakan pembangunan.Pertama adalah untuk rnencapai


misi bangsa, untuk membangun masyarakat dan mengejar ketertinggalan dibandingkan
dengan negara maju.
Pembangunan kebijakan sebagai pembangunan ekonomi di pusat kebijakan publik telah
dipahami oleh negara-negara berkembang sejak 1960-an sampai saat ini. Perbedaannya
adalah bahwa saat ini ada lebih banyak upaya untuk membuat pembangunan ekonomi dan
kebijakan lain, khususnya kebijakan sosial, menjadi berimbang. Ide menyeimbangkan
kebijakan ekonomi dengan kebijakan sosial diperoleh dan temuan bahwa hanya dengan
mengimplementasikan kebijakan ekonomi, masyarakat berubah menjadi materialistik. Kritik
muncul pada 1970-1980-an. Sejak itu, pendidikan, perawatan kesehatan, perawatan anakanak, kaum lanjut usia dan difabel, kemiskinan, dan isu perempuan, yang kemudian berubah
menjadi isu persamaan gender, telah mewarnai era baru kebijakan dalam pembangunan.
Reformasi politik kemudian datang sebagai kebutuhan baru masyarakat 1990-an beserta
dengan kebutuhan akan pemerintahan yang baik. Kebijakan pembangunan berada dalam

keseimbangan dengan kebijakan ekonomi, sosial, dan politik. Perubahan yang cukup besar
terjadi di Korea Selatan, Iran, dan Indonesia, kawasan terbatas di Malaysia, Singapura, dan
China.
Tentu saja, ada lebih banyak pemahaman untuk mengubah pembangunan dari hanya
ekonomi ke arah ekonomi yang berkombinasi dengan jenis pembangunan lainnya. Namun
dalam kenyataannya, pusat kebijakan pembangunan masih pembangunan ekonomi, apa pun
perubahan yang sedang berlangsung. Pembangunan ekonomi masih menjadi mainstream
pemahaman kebijakan pembangunan dalam dekade selanjutnya.
1. Karakter Kebijakan
Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana untuk menentukan instrumen yang dapat
mengukur apakah kebijakan menunjukkan negara yang kurang berkembang atau negara
maju? Saya ingin memperkenalkan model pendahuluan sebagai ukuran sekilas untuk
kebijakan yang sedang dikembangkan apakah cenderung menuju ke arah maju atau kurang
berkembang, seperti yang digambarkan di bawah:

Tabel 2 2 . Pendekatan Kebijakan Kurang Berkembang dan maju


Negara

kurang (Mengapa?)
...Bagaimana...
berkembang
Pendapatan per kapita kurang
Kesejahteraan ekonomi dan
dari US $ 7.000 dan tidak
pertumbuhan ekonomi yang
dilindungi
dari
krisis
berkelanjutan
ekonomi
Hidup
adalah
untuk
Kebijakan ekstraksi lebih
menyeimbangkan
alami dari perlindungan alam
pembangunan dan kelestarian
dan kebijakan konservasi
lingkungan
Kebijakan pembatasan lebih Nilai
hidup
adalah

Negara Berkembangan
Pendapatan per kapita lebih
dari

US

dilindungi

dari

ekonomi
Perlindungan
alami
konservasi

7.000

krisis

yang

dan
dari

dan

lebih

kebijakan
kebijakan

ekstraksi alami
Kebijakan aktif lebih dari

dari kebijakan aktif


kepercayaan
kebijakan pembatasan
Lebih
mengendalikan Jatuh tempo sumber daya Lebih mengelola kebijakan

kebijakan
mengelola kebijakan
Kebijakan
untuk

daripada
lebih

membuat orang berdiam diri


daripada mendorong oranf
untuk bergerak
Untuk
menjaga
memelihara kertiban

organisasi dan manusia

Tingkat mobilitas penduduk

daripada

mengendalikan

kebijakan
Kebijakan

untuk

lebih

mendorong orang bergerak


daripada

membuat

orang

untuk berdiam diri


dan

Tipe tipe peraturan

Untuk respons masa depan