Anda di halaman 1dari 18

BAB II

URAIAN PROSES
2.1

Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan produk bahan bakar

minyak dan gas adalah minyak mentah. Dalam proses mengkonversi minyak
mentah menjadi produk bahan bakar minyak dan gas tersebut, dibutuhkan juga
beberapa bahan-bahan penunjang guna membantu proses produksi.
2.1.1 Bahan Baku Produksi
Bahan baku untuk PT. Pertamina RU III Plaju berupa minyak mentah
diperoleh dari daerah Sumatera Selatan. Sebagai pasokan utama, minyak mentah
disalurkan melalui pipa dari lapangan di sekitar wilayah Sumatera Selatan dan
melalui kapal. Adapun perbandingannya adalah 70% minyak mentah melalui
pipa dari lapangan dan 30% minyak mentah melalui kapal tanker. Jalur
penyaluran minyak mentah tersebut adalah :
1

Minyak mentah yang dikirim melalui sistem perpipaan adalah :


- South Palembang District (SPD) dari DOH Prabumulih
- Talang Akar Pendopo Oil (TAPO) dari DOH Prabumulih
- Jambi Asphalitic Oil (Paraffinic Oil)
- Jene
- Ramba Crude Oil (RCO) dari DOH Jambi

Minyak mentah yang dikirim menggunakan kapal tanker adalah :


-

Geragai Crude Oil (GCO) dari Santa Fe, Jambi


Bula/ Klamono (BL/KL) dari Irian Jaya
Kaji Semoga Crude Oil (KSCO)
Sepanjang Crude Oil (SPO)
Sumatera Light Crude (SLC)
Duri Crude Oil (DCO)

Komposisi minyak mentah, antara lain :


1.

Hidrokarbon
Ada tiga kelompok hidrokarbon, yaitu parafin, nafta, dan aromatik.

Hampir semua senyawa dalam crude oil terdiri dari tiga kelompok ini, baik
sendiri maupun kombinasi. Parafin berantai lurus (normal parafin) dari C1 hingga

17

C33 ditemukan berada dalam crude oil. Wax merupakan alkana dengan jumlah
atom C 16 hingga 20. Hidrokarbon berantai cabang ditemukan di dalam gas dan
fraksi bensin (yaitu jumlah atom C 4 hingga 10). Anggota utama nafta adalah
siklopentana dan sikloheksana. Hidrokarbon aromatik merupakan senyawa
benzena dan turunannya. Senyawa aromatik memiliki nomor oktan tinggi, tetapi
menyebabkan masalah kesehatan dan lingkungan. Benzena merupakan senyawa
karsinogen. Aromatik memiliki smoke point rendah.
2.

Senyawa Sulfur
Senyawa sulfur terdapat di dalam crude oil, walaupun beberapa jenis

crude oil kandungan senyawa sulfurnya rendah. Senyawa sulfur dalam crude oil
terdiri dari H2S, merkaptan (alifatik dan aromatik), sulfida (alifatik dan siklik),
disulfida (alifatik dan aromatik), polisulfida, thiopene dan homolog. Senyawa
sulfur merupakan senyawa beracun bagi katalis proses pengilangan dan
peralatan pengilangan. Senyawa sulfur teroksidasi menjadi sulfur dioksida,
senyawa polutan di udara ambien. Crude oil dengan kandungan sulfur tinggi
mahal untuk diproses. Masalah utama adalah mencapai batas sulfur pada produk
pengilangan dan sesuai dengan peraturan di bidang lingkungan.
Crude oil disebut sour jika memiliki kandungan H2S dengan konsentrasi lebih dari
3.700 ppmv. H2S tergolong senyawa toksik. Senyawa sulfur volatil seperti H 2S
dan merkaptan yang memiliki Mr rendah disisihkan di oilfield processing.
3.

Senyawa Nitrogen
Senyawa nitrogen terdapat dalam crude oil dalam konsentrasi yang relatif

rendah, umumnya kurang dari 0,1 persen-berat sebagai N 2. Senyawa nitrogen


yang mungkin terdapat dalam crude oil adalah piridin, kuinolin, isokuinolin,
akridin, pirol, indol, karbazol, dan porfirin. Senyawa nitrogen meracuni katalis
pada proses pengilangan.

4.

Senyawa Oksigen
Senyawa oksigen yang terdapat dalam crude oil dapat bersifat asam dan

tidak asam. Senyawa oksigen yang bersifat asam adalah asam karboksilat (lurus

18

dan bercabang), asam naftenat (monosiklik, bisiklik, dan polinuklir), asam


aromatik (dasar, binuklir, dan polinuklir), fenol, dan kresol. Senyawa oksigen
yang tidak bersifat asam adalah ester, amida, keton, benzofuran, dan
dibenzofuran. Sebagian besar senyawa oksigen adalah asam organik yang dapat
disisihkan dengan netralisasi.
5.

Senyawa Logam
Ada dua kelompok senyawa logam yang terdapat dalam crude oil.

Kelompok pertama adalah logam ringan dengan kandungan utama natrium,


disusul kalsium dan magnesium. Kelompok kedua adalah logam yang lebih berat,
yaitu vanadium, nikel, kobal, dan besi. Vanadium dan nikel meracuni katalis pada
proses catalytic cracking, menyebabkan peningkatan pembentukan coke dan
hidrogen.
6.

Partikulat
Crude oil lebih tepat dipandang sebagai sistem koloid daripada larutan

homogen. Partikel padatan yang tersuspensi adalah aspal dan resin. Aspal
mengandung senyawa polisiklik yang tidak larut dalam pelarut parafin (seperti npentana), tetapi larut dalam pelarut aromatik. Normal parafin memflokulasi aspal
dari crude oil. Sedangkan resin mengandung senyawa poliksiklik yang tidak larut
dalam crude oil, tetapi larut dalam n-parafin; resin tidak terflokulasi. Partikel
aspal lebih besar daripada resin (10-35 nm), biasanya mengandung senyawa
oksigen dan sulfur, garam organik dan anorganik, dan porfirin (juga logam).
Partikel resin lebih kecil (<10> Aspal dan resin menggumpal baik sendiri maupun
bersama-sama menjadi partikel koloid (sekitar 1 m). Aspal dan resin
berpengaruh terhadap kestabilan emulsi di oilfield processing. Keduanya juga
dapat menyebabkan foaming.
7.

Wax
Wax merupakan n-parafin dengan C16 hingga C20. Titik lelehnya di atas

suhu kamar. Wax murni merupakan padatan putih, tetapi dapat juga berupa pasta,
bergantung pada komposisi atau keberadaan liquid oil. Endapan wax
menyebabkan pressure drop berlebih pada pipa (flow line). Jika wax mengkristal
pada flow line, pipa dapat tersumbat sehingga aliran fluida tidak lancar. Faktor

19

yang dapat menyebabkan endapan wax antara lain rendahnya temperatur crude
oil. Fenomena ini dapat diprediksi dengan tes pour-point (ANSI/ASTM D 97).
8.

NORM
NORM merupakan singkatan dari naturally occuring radioactive

materials. Uranium dan thorium terdapat pada batuan dan tanah di kulit bumi.
Sumber utama NORM adalah U-238. Air bawah tanah dapat melarutkan garam
radium (misalnya RaCl2) dan membawanya ke permukaan. Induk radium adalah
U-238 dan Th-232 yang kelarutan dalam airnya rendah sehingga tertinggal di
formasi. Radium terpresipitasi dengan barium dan strontium sulfat membentuk
kerak (scale). Kerak radioaktif dapat mengkontaminasi downhole tubing,
peralatan proses di permukaan, dan peralatan transpor, termasuk sludge dari
pigging. Peralatan yang juga terkontaminasi adalah sludge pit, filter, peralatan
injeksi air terproduksi, dan lainnya.
9.

Arsen dan Raksa


Arsen dan raksa merupakan dua unsur yang dapat menyebabkan masalah

pada industri gas. Keduanya dapat menyebabkan korosi dan teracuninya katalis.
Setiap minyak mentah dari sumber yang berbeda tersebut akan ditampung
dahulu di dalam tangki penampungan. Minyak mentah tersebut seringkali masih
mengandung kadar air yang cukup tinggi, baik dalam bentuk emulsi maupun air
bebas. Ini dapat menyebabkan gangguan dalam unit-unit pengolahan sehingga
sebelum dimasukkan ke dalam unit CD, minyak mentah harus dipisahkan dari air
terlebih dahulu. Spesifikasi minyak mentah yang boleh diumpankan ke dalam unit
CD adalah di bawah 0,5 % volume air. Minyak tersebut akan dijadikan umpan
pada Primary Process Unit dan Secondary Process Unit. Umpan pada Primary
Process Unit dan Secondary Process Unit dapat dilihat pada tabel 3 dan 4.

Tabel 3. Umpan Primary Process Unit


Unit
CD-II

Kapasitas Pengolahan

Sumber

16,2 MBSD

Kaji, Jene, SPD, TAP

20

CD-III

30,0 MBSD

Ramba, Kaji, Jene

CD-IV

30,0 MBSD

Ramba, Kaji, Jene

CD-V

35,0 MBSD

SPD, TAP

CD-VI

15,0 MBSD

Geragai, Bula, Klamono

Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2016

Tabel 4. Umpan Secondary Process Unit


Unit

Sumber

HVU

Long residue

RFCCU

MVGO (Medium Vacuum Gas Oil), HVGO


(High Vacuum Gas Oil), dan long residue

BB (Butane-Butylene)

Unstab crack, comprimate, condensate gas, dan

Distiller

residual gas

Stabilizer C/A/B

SR-Tops (Straight Run-Tops)

Unit Polimerisasi

Fresh BB (Butane-Butylene)

Unit Alkilasi

Fresh BB dari BB Distiller

Polypropylene

Raw PP (Propane-Propylene) dari RFCCU


(Riser Fluid Catalytic Cracking Unit)
Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2016

2.1.2 Bahan Baku Penunjang


Selain bahan baku utama, proses pengolahan juga membutuhkan bahanbahan penunjang lain, seperti katalis, solvent, dan bahan aditif yang mendukung
proses pengolahan bahan baku menjadi produk. Katalis yaitu suatu zat yang dapat
mempercepat atau memperlambat reaksi sedangkan solvent adalah campuran
homogen zat. Campuran homogen, maksudnya adalah campuran zat yang bagianbagiannya tidak dapat dibedakan lagi. Semua zat sudah menyatu menjadi satu
kesatuan, sedangkan bahan adiktif yaitu senyawa kimia yang bila ditambahkan
akan menaikkan unjuk kerja (sifat kimia dan fisik berubah) seperti yang
diharapkan. Bahan-bahan penunjang yang mendukung proses pengolahan bahan
baku menjadi produk seperti pada tabel 5, 6 dan 7.

21

Tabel 5. Bahan-Bahan Penunjang


Bahan
H2SO4

Unit
Alkilasi

Fungsi
Katalis
Proses treating untuk

NaOH

BB treating &

menghilangkan

Silika alumina
Titanium catalyst
Tri ethyl alumunium (AT cat)
CMMS
Hexane
DEA

caustic treating
RFCCU
Polypropylene
Polypropylene
Polypropylene
Polypropylene
Polypropylene

senyawa
belerang
Katalis cracking
Katalis utama
Ko-katalis
Catalyst adjuvant
Pelarut katalis
Ekstraktor pada purifikasi
Raw

AE-Stab, AH-Stab, AI- Stab,


HA-Stab, HD-Stab, SA-

Polypropylene

Stabilizer additive

Stab,
SC-Stab
Gas NSB-Stab,
2

Polypropylene

Off gas, carrier gas

Fuel oil, fuel gas

Semua unit

Bahan

bakar

untuk

pembakaran dalam furnace

Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2016

Tabel 6. Kegunaan Bahan-Bahan Penunjang Gas


Bahan

Kegunaan

Amoniak (NH3)

Gas panas

Sebagai zat anti korosi pada system overhead


kolom distilasi
Sebagai regenerator dryer pada Polypropylene

N2

H2

Unit
Sebagai pendingin (cooler)
Sebagai

pemutus

dan

penyambung

rantai

Polypropylene
Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2016

Tabel 7. Kegunaan Bahan-Bahan Penunjang Aditif dan Kimia


Bahan
Aditif
1

Kegunaan
MTBE dan TEL

Untuk menaikan bilangan Oktan dari


bensin

22

Aditif

Untuk memperbaiki sifat Polypropylene

Topanol A

Anti oksidan aditif untuk polimer mogas


unit polimerisasi, aditif untuk produk
treating plant bagian Crude Distiller

Bahan Kimia
1

H2SO4

Sebagai katalis unit alkilasi

Zeolite

Sebagai katalis pada RFCCU

NaOH

Sebagai caustic treater pada CD & L


unit alkilasi dan LPG treater

P2O 5

Al2(SO4)3,
coagulant

Sebagai katalis unit polimerisasi


klorin
acid,

air, Sebagai penjernih air pada unit utilitas


karbon

aktif, resin penukar ion


6

DEA

Sebagai DEA ekstraktor pada unit


Polypropylene

Heavy alkylate

Sebagai lean oil (absorben) pada unit


BB distilasi

LCGO

Sebagai lean oil (absorben) pada unit


Light End FCCU

Propana

Sebagai regenerator dan cooler pada


DEA dan caustic extractor system, serta
sebagai chilling system pada unit alkilasi

10 Katalis berbahan dasar Ti

Sebagai

katalis

utama

pada

unit

Polypropylene
11 Katalis TK, AT, OF

Sebagai

ko-katalis

pada

unit

Polypropylene
12 Silika gel

Sebagai molecular sieve pada unit


Polypropylene

13 Corrosion inhibitor

Sebagai zat pencegah atau penghambat


korosi

14 Scale inhibitor

Sebagai zat pencegah atau penghambat

23

pembentukan kerak
15 Biocide

Sebagai zat pencegah atau penghambat


tumbuhnya

lumut,

ganggang,

dan

lainnya
Sumber : Pertamina RU III Plaju, 2016

2.1.3 Bahan Baku Produk Non BBM


Selain mengolah minyak mentah, Pertamina juga mengolah produk antara
atau intermediate, berupa :
1
2

Bahan baku naften ( Bitumen Feed Stock ) dari Cilacap.


Komponen mogas beroktan tinggi (HOMC) untuk Blending Motor

Gasoline dari Cilacap dan Dumai.


Raw Propane-Propylene dari unit RFCCU untuk bahan baku produksi
Polypropylene.

2.2

Diskripsi Proses
Unit pemrosesan yang ada di kilang PT. PERTAMINA RU III terbagi atas

dua bagian besar, yaitu unit yang memproses minyak mentah (crude) menjadi
produk-produk BBM dan unit yang memroses beberapa produk samping hasil
pemrosesan minyak mentah menjadi produk petrokimia.
2.2.1 Oil Movement
Minyak bumi yang telah diterima, baik dari perpipaan maupun dari kapal
tanker harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam sistem
pemroses untuk diubah menjadi produk yang siap dipasarkan. Tahap persiapan
minyak bumi meliputi:
a. Pengendapan atau Settling
Tahap Settling dilakukan untuk mengendapkan campuran air dan lumpur
yang terkandung dalam minyak bumi. Semakin panjang waktu settling, semakin
baik pula hasilnya. Waktu Settling biasanya ditetapkan selama satu jam setiap
satu meter minyak bumi.
b. Pembuangan Bottom
Tahap ini dilakukan untuk memompa seluruh campuran air dan lumpur
yang berada di bawah tangki Settling menuju tangki penampung yang dilengkapi

24

Steam Coil. Campuran tersebut masih mengandung minyak dalam jumlah sedikit.
Pemanasan dengan steam melalui steam coil akan memisahkan dari air dan
lumpur yang tersisa akan mengendap di dasar tangki.
c. Drain
Campuran air dan lumpur yang mengendap di dalam tangki penampung
akan mengendap dengan cara draining, sedangkan minyak akan dipompakan lagi
ke tangki crude.
d. Flushing pipa isap tangki
Tujuan tahap flushing adalah untuk mencuci pipa isap tangki untuk
membersihkan pipa isap dari air.
2.2.2

Unit Proses Primer (Primary Process Unit)


Unit proses primer mengolah minyak bumi dengan cara memisahkan

minyak bumi mentah menjadi fraksi-fraksinya dengan menggunakan metode


distilasi. Unit-unit distilasi di Pertamina RU III yang digunakan pada proses ini
adalah unit Crude Distiller (CD), yang terdiri dari lima CD (CD-II, CD-III, CDIV, CD-V, dan CD-VI), dan unit distilasi lanjutan yaitu: High Vacuum Unit
(HVU), Stabilizer C/A/B, SRMGC (Straight Run Motor Gas Compressor),
BBMGC (Butane-Butylene Motor Gas Compressor), BB Distiller (ButaneButylene Distiller) dan BB Treating.
1. Crude Distiller II (CD-II)
CD-II memiliki kapasitas 2600 ton/hari. Fungsi CD-II ini adalah untuk
memisahkan fraksi-fraksi tertentu pada minyak mentah. Umpan berasal dari
Sumatera Light Crude (SLC) dan Jene Crude. Unit ini terdiri atas 5 kolom
Fraksionator dan 1 Kolom Evaporator yang bekerja pada kondisi operasi masingmasing (Tabel 8).
Tabel 8. Kondisi Operasi Kolom CD II
Peralatan
PERTAMINA RU

Kolom-I

Temperatur C
Top
Bottom
95
155

Tekanan
(kg/cm2)
2

Kolom-II 145

141

0.5

Kolom-IV 230

350

1.2

Kolom-V 71

169

0.3

Outlet F-I 266

Sumber

III Plaju, 2016

25

Produk CD II ini merupakan komponen produk solar yang dapat dilihat pada
Tabel 9.
Tabel 9. Produk CD-II
Produk
Gas (ke unit SRMGC)

%wt
0.9

Crude Butane

1.2

SR Tops

1.14

Naptha II

10.40

LKD

7.35

LCT

23.02

Long Residue

50.91

Sumber : PERTAMINA RU III Plaju, 2016

2. Crude Distiller III (CD-III)


Umpan masuk CD III berupa campuran Jene Crude Oil, Ramba Crude Oil
dan SLC Crude Oil. CD-III memiliki kapasitas 4000 ton/hari. Unit ini terdiri dari
tiga kolom distilasi dan satu Stabilizer yang beroperasi pada kondisi masingmasing (Tabel 10). Sebelum diproses, dilakukan peningkatan temperatur umpan
(pre-heat) dengan empat buah Heat Exchanger.
3.

Crude Distiller IV (CD-IV)


Unit CD IV memiliki sistem pemrosesan produk serta perolehan (Tabel 10)

produk yang sama dengan CD III. Namun penggunaan umpan di kedua Crude
Distiller ini berbeda. CD IV hanya menggunakan umpan Ramba Crude Oil dan
SLC Crude Oil saja.
Tabel 10. Kondisi Operasi CD III dan CD IV
Tekanan

Kolom I

Temperatur 0C
Top
Bottom
143
273

Kolom II

234

336

0,3

Kolom III

93

1,8 2,2

Stabilizer

97

185

2,8

Peralatan

(Kg.cm-2)
1,5

Sumber : PERTAMINA RU III Plaju, 2016

26

Tabel 11. Produk dan Perolehan CD III dan CD IV

Gas

Yield (%wt)
CD-III
0,520

CD-IV
2,140

CR Butane

0,500

1,100

SR Tops

3,040

5,840

Naphta-II

5,020

8,900

Naphta-III

1,700

4,930

LKD

15,70

9,980

HKD

7,610

7,460

Residue

54.45

47,77

Loss

0,900

0,250

Produk

Sumber : PERTAMINA RU III Plaju, 2016

4.

Crude Distiller V (CD V)


Umpan minyak mentah pada unit ini adalah minyak mentah yang berasal

dari South Palembang District (SPD) dan Talang Akar Pendopo (TAP). Unit ini
mengolah minyak mentah sehingga menghasilkan beberapa produk (Tabel 12).
Tabel 12. Produk dan Perolehan CD V
Produk
Gas

Yield (%Wt)
1,33

SR Tops

1,74

Naphta-I

8,19

Naphta-II

7,50

Naphta-IV

2,96

LKD

5,27

HKD

6,82

LCT

6,77

HCT

8,19

Residue

50,91

Loss

0,32
27

Sumber : PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III Plaju, 2016

Minyak mentah dari tangki R dibagi menjadi dua aliran. Aliran pertama
dibagi lagi menjadi dua aliran dan mengalami sejumlah pemanasan.kemudian
masuk ke dalam kolom flash yang memiliki kondisi operasi masing-masing (Tabel
13).
Tabel 13. Kondisi Operasi CD V
Tekanan

Kolom I

Temperatur 0C
Top
Bottom
150
243

Kolom II

200

340

0,2

Kolom III

105

160

0,8

Kolom V

70

100

0,8

Peralatan

(Kg.cm-2)
1,5

Sumber : PERTAMINA RU III Plaju, 2016

5.

Crude Distiller VI (CD-VI)


CD-VI ini dipergunakan untuk memisahkan fraksi-fraksi minyak bumi yang

berasal dari Ramba berdasarkan distilasi atmosferik. Kapasitas pengolahan pada


CD-VI ini adalah 15.000.000 barrel per calendar day (15 MBCD). Produk yang
dihasilkan adalah gas, Naptha, Kerosene, ADO dan Long Residue. Di dalam unit
CD-VI terdapat Sub-Unit Redistiller III/IV. Redistiller III/IV ini digunakan untuk
mengolah ulang produk minyak yang tidak memenuhi spesifikasi. Saat ini
Redistiller telah dimodifikasi untuk dapat mengolah minyak mentah Sumatera
Light Crude (SLC). Modifikasi ini terjadi karena menurunnya jumlah minyak
yang terbuang atau tidak memenuhi spesifikasi.
6. Redistiller I/II
Re-Distiller I/II awalnya dibangun tahun 1937 (Red-I) dan 1940 (Red-II)
dengan kapasitas masing-masing 600 ton/hari untuk mengolah produk off-spec.
Kemudian dilakukan modifikasi untuk mengubah fungsinya untuk mengolah
minyak mentah. Kedua kolom ini digabung dimana Red-I sebagai kolom-1 dan
Red-II sebagai kolom-2. Kapasitas pengelolahannya adalah 1435 ton/hari.
Umpan unit ini berasal dari SPD dan SLC yang menghasilkan produk beserta
perolehan dari Re-Distiller I/II (Tabel 13).

28

Tabel 14. Produk dan Perolehan Re-Distiller I/II


Produk

Yield (%-wt)

Gas

1.49

Naptha

14.99

Avtur

7.80

Diesel (ADO)

14.89

Long Residue

60.83

Sumber : PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III Plaju, 2016

Umpan minyak mentah mengalami sejumlah pemanasan (pre-heating)


sebelum masuk ke Furnace-I (F1C1) untuk menaikkan temperatur menjadi 258C
dan masuk ke Kolom 1-1. Produk atas akan didinginkan dan masuk ke tangki
akumulator 8-1. Gas yang tak terkondensasi dijadikan produk Gas, sedangkan
yang terkondensasi sebagian di-reflux dan sebagian sebagai produk Naphta. Side
stream yang keluar dari tray 19/20/21/22 masuk ke Avtur Side Striper 2-1 dengan
5 tray untuk memperbaiki flash point produk Avtur. Avtur Stripper dilengkapi
dengan Reboiler E-4. Produk Stripper ini adalah Avtur. Reboiling Kolom 1-1
dilakukan pada Furnace-I (F1C2). Sedangkan produk bawahnya masuk sebagai
umpan pada Kolom 1-2 pada tray-13.
Produk atas Kolom 1-2 didinginkan dan masuk pada tangki akumulator 8-2
dengan total reflux. Aliran dari tangki akumulator 8-2 sebagian direflux dan
sebagian sebagai produk Automotive Diesel Oil (ADO). Reboiling dilakukan pada
Furnace-II (F2C2). Sedangkan produk bawah kolom ini adalah Long Residue.
7. Stabilizer C/A/B
Stabilizer C/A/B merupakan tiga unit (kolom) terpisah, dimana Stab-B
merupakan kelanjutan dari Stab-C dan Stab-A.
8. Straight Run Main Gas Compressor (SRMGC)
Unit ini terdiri dari 4 buah kompresor. Kompresorkompresor ini
digerakkan oleh motor bakar yang berbahan bakar gas. Unit SRMGC berfungsi
untuk menempa gas yang dihasilkan oleh unit Crude Distiller (CDU II, III, IV,
dan V), Stabillizer C/A/B, Thermal Reforming dan Redistiller I/II kilang Plaju.
29

9. Butane Butylene Main Gas Compressor (BBMGC)


Unit ini berfungsi untuk meningkatkan tekanan umpan BB-Distiller menjadi
20 kg/cm2. Umpan berupa gas yang berasal dari SRMGC masuk ke tangki 1201.
Fasa cair (condensate) akan ditingkatkan tekanannya dengan dan dijadikan
umpan Absorber 1-1 pada unit BB Distiller, sedangkan fasa gas dari tangki 1201
akan ditingkatkan tekanan dari 4 kg/cm2 menjadi 22 kg/cm2 menggunakan
Compressor. Kemudian aliran didinginkan pada Cooler setelah mengalami
peningkatan temperatur pada Compressor, selanjutnya aliran masuk ke Tangki
Akumulator 8-1/2/3/4. Gas dari Tangki Akumulator 8-1/2/3/4 akan disatukan
sebagai residual gas, umpan dari unit BB-Distiller. Produk cair yang terbentuk
akibat penurunan temperatur masuk ke Tangki Akumulator 8-5, dimana produk
gas dari tangki ini akan digabungkan comprimate unit SRMGC.
10. Butane Butylene (BB) Distiller
Unit BB Distiller terdiri dari empat kolom utama, yaitu kolom absorber 11, depropaneeizer 1-2, debutanizer 1-3 dan stripper 1-4. Unit BB Distiller
menggunakan umpan residual gas, comprimate, condensate dan unstab-crack.
Umpan yang digunakan berupa gas dan cairan yang terdiri dari campuran
methane, ethane, propane, propylene, buthane, butilen, dan sedikit light naphtha.
Umpan gas masuk kolom absorber pada tray 16, sedangkan umpan cairan masuk
pada tray 14.
11. BB Treating
Unit BB Treating merupakan unit pelengkap BB Distiller. BB Treating
berfungsi untuk mengurangi kandungan merkaptan dan amina pada FBB dari
unit BB Distiller dan FBB dari FCCU Sungai Gerong. Merkaptan dan amina
merupakan racun bagi katalis proses polimerisasi. Umpan BB dari BB Distiller
atau FCCU dicampur dengan senyawa caustic soda atau NaOH, kemudian
dialirkan ke caustic settler. Pada caustic settler akan terjadi reaksi antara
merkaptan (R-S-H; R = alkil) dan NaOH sehingga menghasilkan R-S-Na dan

30

air. Caustic soda yang masih memiliki konsentrasi tinggi akan berada di bagian
bawah caustic settler, kemudian akan disirkulasi sambil dibuang sebagian.
12. High Vacuum Unit II (HVU II)
HVU II yang digunakan di RU-III Plaju merupakan distilasi vakum dengan
wet system, yang menggunakan stripping steam untuk mempertajam pemisahan
produk vacuum gas oil-nya. Feed untuk unit ini adalah long residue dari CD II,
III, IV, V dan VI. Sebagai produk, diperoleh off gas, vacuum gas oil (LVGO,
MVGO dan HVGO) serta vacuum residue.
Kapasitas produksi HVU II adalah 54 MBSD, dengan produk sebagai berikut :
a. Produk atas berupa Light Vacuum Gas Oil (LVGO) yang digunakan sebagai
komponen motor gas.
b. Produk tengah berupa Medium Vacuum Gas Oil (MVGO), dan Heavy
Vacuum Gas Oil (HVGO). Produk tengah ini merupakan umpan RFCCU.
c. Produk bawah berupa Light Sulphur Waxes Residue (LSWR).
2.2.2

Unit Proses Sekunder (Secondary Process Unit)


Unit proses sekunder mengolah keluaran dari unit proses primer menjadi

produk akhir dengan melibatkan reaksi-reaksi kimia. Unit proses sekunder yang
terdapat di PERTAMINA RU III adalah unit polimerisasi, unit alkilasi, RFCCU
dan unit petrokimia.
1. Polimerisasi
BB yang direaksikan masuk kedalam tube melewati catalyst sehingga
terjadi reaksi yang diinginkan.Tiap set convertor berisi 9 drum catalyst 200 kg
atau sama dengan 1800 kg. Reaksi polimerisasi ini berlangsung pada tekanan dan
temperatur yang tinggi yaitu 32 kg/cm2 dan 160oC.
Untuk memanaskan sampai suhu reaksi maka kedalam bagian shell dari
convertor dialirkan heating oil. Jika reaksi polimerisasi sudah berjalan normal
maka solar yang mengalir melalui shell bersifat sebagai pendingin juga pemanas.
Heating oil ini disirkulasikan. Reaktor product selanjutnya dialirkan kedalam
bagian stabilizer column untuk mengalami pemurnian. Stabilizer column
berfungsi sebagai pemisah butane dari polymer hasil reaksi.
2. Alkilasi
31

Unit alkilasi Pertamina RU III didesain untuk mengolah RBB dari unit
polimerisasi dengan kapasitas pengolahan 155T/D sehingga menghasilkan
produk light alkylate yang memiliki bilangan oktan tinggi. Unit alkilasi terdiri
dari 2 bagian yaitu bagian reaktor dan distilasi. Bila kebutuhan RBB tidak
tercukupi, umpan ditambah dengan RBB dari FCCU Sungai Gerong.
Umpan dicampurkan dengan katalis H2SO4, lalu didinginkan di chiller yang
menggunakan pendingin propane. Campuran umpan - asam yang dingin
dimasukkan ke reaktor sehingga terjadi reaksi alkilasi.
Asam yang memiliki berat jenis lebih besar akan mengendap di bawah,
dimana sebagian asam di daur ulang, sedangkan sebagian lagi dibuang. Bagian
atas separator, yaitu alkilat, dimasukkan ke final separator, lalu ke caustic settler
untuk menetralkan sisa asam yang terikut. Alkilat yang telah melewati tahap
treating dijadikan umpan bagian distilasi.
3. Riser Fluid Catalytic Cracking Unit (RFCCU)
RFCCU digunakan untuk mengonversi MVGO dan HVGO(M/HVGO) dan
long residue menjadi produk minyak ringan dengan bantuan katalis. RFCCU
terdiri dari reaktor, regenerator katalis. Main fractionator terdiri dari kolom
primary fractionator, secondary fractionator, dan LCGO stripper. Produk
RFCCU adalah off gas, raw PP, LPG, catalytic naphtha, LCGO, HCGO, dan
slurry.
Perbandingan umpan pada unit RFCCU adalah 165000 BPSD M/HVGO
dan 4000 BPSD residue. Sebelum dimasukkan ke reaktor, umpan dipanaskan
terlebih dahulu dalam tungku hingga mencapai 3310C, lalu diinjeksikan antimoni
sebanyak 0,75-2,1 kg/jam untuk mencegah adanya metal content dalam umpan
yang dapat mengakibatkan deaktivasi katalis.
Umpan dengan kapasitas 120.600 kg/jam diinjeksikan ke dalam riser untuk
o
direaksikan dengan katalis bertemperatur 650-750 C dari regenerator. Reaksi
o
terjadi pada seluruh bagian riser pada 520 C. Untuk memperoleh sistem
fluidisasi yang baik, riser
diinjeksikan

pula

diinjeksikan

dengan

MP steam.

Selain

itu,

HCGO yang menambah pembentukan coke pada katalis

sehingga dapat menaikkan temperatur regenerator serta nafta yang diperlukan

32

untuk menaikkan selektivitas cracking sehingga meningkatkan yield propaneeepropylene. Stripping steam diinjeksikan ke daerah stripper untuk mengurangi
kadar oil dalam katalis sebelum disirkulasikan ke regenerator.
Reaktor dilengkapi dengan tiga buah cyclone 1 tahap untuk meminimalisasi
terbawanya katalis ke kolom fraksionasi. Hasil cracking yang berupa uap
dialirkan dari reaktor ke kolom fraksionasi.
Spent catalyst disirkulasikan ke dalam regenerator dengan dikontrol oleh
spent side valve (SSV). Untuk memperlancar aliran spent catalyst distand pipe,
dialirkan udara dengan control air blower dengan laju alir 7.000 kg/jam dan
tekanan 2,49 kg/cm2. Regenerasi katalis dilakukan dengan mengoksidasi coke
pada katalis dan untuk membantu pembakaran, dapat ditambahkan dengan torch
oil. Udara pembakaran dialirkan menggunakan main air blower. Regenerator
dilengkapi dengan cyclone 2 tahap untuk memisahkan gas cerobong dari partikel
katalis yang terbawa.
4. Unit Petrokimia
Pada awalnya, unit petrokimia memiliki dua unit, yaitu unit TA/PTA dan
unit polypropylene. Akan tetapi, pada tahun 2007, unit TA/PTA harus berhenti
beroperasi akibat mengalami kerugian sehingga satu-satunya unit petrokimia yang
masih beroperasi adalah unit polypropylene.
Proses di unit polypropylene terdiri dari tiga proses utama, yaitu proses
pemurnian atau purifikasi, proses polimerisasi, dan proses finishing. Umpan unit
polypropylene adalah raw PP (65-70% propylene) yang berasal dari unit RFCCU
Sungai Gerong. Umpan tersebut biasanya masih mengandung pengotor-pengotor,
seperti H2S dan CO2, sehingga harus dibersihkan di unit purifikasi.
2.3 Diagram Alir Proses
Diagram alir proses PT. Pertamina (Persero) RU III dapat dilhat pada gambar
6.

33

34