Anda di halaman 1dari 7

Undang-undang RI No 7 Tahun 1996

tentang Pangan

KEBIJAKAN MUTU DAN


KEAMANAN PANGAN

Pasal 3
Tujuan pengaturan, pembinaan, dan
pengawasan pangan adalah:

SERTA PP NO 28 TAHUN 2004


BAHAYA BIOLOGIS

BAHAYA KIMIA

BAHAYA FISIK

BEBAS BAHAYA

a. tersedianya pangan yang memenuhi persyaratan


keamanan, mutu, dan gizi bagi kepentingan
kesehatan manusia;
b. terciptanya perdagangan pangan yang jujur dan
bertanggung jawab; dan
c. terwujudnya tingkat kecukupan pangan dengan
harga yang wajar dan terjangkau sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.

AMANKAN PANGAN
dan
BEBASKAN PRODUK
dari
BAHAN BERBAHAYA

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

PP 28/2004
KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN
BADAN POM &
Instansi Terkait

Pangan yang aman, bermutu dan bergizi


sangat penting bagi pertumbuhan,
pemeliharaan dan peningkatan derajat
kesehatan serta kecerdasan masyarakat
Masyarakat perlu
dilindungi dari pangan
yang merugikan dan/atau
membahayakan
kesehatan

PERATURAN

LABORATORIUM PERUNDANG-UNDANGAN

Pangan layak dan


aman dikonsumsi
(Risiko BB ditekan)

KONSUMEN

PRODUSEN
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

PENGATURAN, PEMBINAAN,
DAN PENGAWASAN PANGAN
FROM FARM TO THE TABLE

PP 28 TAHUN 2004

Bab I
Bab II
Bab III
Bab IV

Ketentuan Umum
Keamanan Pangan
Mutu dan Gizi Pangan
Pemasukan dan Pengeluaran Pangan
ke Dalam dan dari Wilayah Indonesia
Bab V
Pengawasan dan Pembinaan
Bab VI
Peran Serta Masyarakat
Bab VII
Ketentuan Peralihan
Bab VIII Ketentuan Penutup
Penjelasan

Perbatasan
Negara

PRODUKSI
PRAPANEN

r
Pe

ed

an
ar

KONSUMSEN

PRODUKSI
PASCA PANEN

PANGAN SEGAR

PENGOLAHAN
DIKONSUMSI
LANGSUNG

BAHAN BAKU
PENGOLAHAN

PANGAN SEGAR,
PANGAN
OLAHAN DAN
PANGAN SIAP
SAJI

PANGAN SIAP
SAJI

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

PANGAN
OLAHAN

RITEL
DISTRIBUSI
PRODUKSI
PANGAN
SIAP SAJI

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

BAB I KETENTUAN UMUM

Bab I Ketentuan Umum (Lanjutan)

Pasal 1 memuat definisi istilah, antara lain :

Pangan
Pangan segar
Pangan olahan
Pangan olahan tertentu
Sistem pangan
Perdagangan pangan
Penyimpanan pangan
Pengangkutan pangan
Industri rumah tangga
pangan

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

UNTUK MEMBANTU TERJAMINNYA KEAMANAN PANGAN


DI SELURUH MATA RANTAI PANGAN,
PEMERINTAH MENETAPKAN
PEDOMAN CARA YANG BAIK (GOOD PRACTICES)

BAB II KEAMANAN PANGAN


Bagian pertama terdiri dari pasal 2 s/d 10
tentang Sanitasi, yaitu :
Setiap orang yang bertanggung jawab dalam
penyelenggaraan rantai pangan wajib
memenuhi persyaratan sanitasi (ps 2 ayat 1)
Persyaratan sanitasi pada ayat 1 diatur oleh
Menteri Kesehatan (ps 2 ayat 2)
Pemenuhan persyaratan sanitasi dilakukan
dengan menerapkan pedoman cara yang baik
(ps 3 s/d 10)

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

BAB II KEAMANAN PANGAN


Bagian Kedua

Bahan Tambahan Pangan

Bagian Ketiga

Pangan Produk Rekayasa


Genetik

Bagian Keempat

Iradiasi Pangan

Bagian Kelima

Kemasan Pangan

Bagian Keenam

Jaminan Mutu Pangan dan


Pemeriksaan Laboratorium

Bagian Ketujuh

Pangan Tercemar

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

Bahan tambahan pangan


Pangan produk rekayasa genetika
Iradiasi pangan
Kemasan pangan
Mutu pangan
Standar
Gizi pangan
Sertifikasi mutu pangan
Sertifikat mutu pangan
Setiap orang
Badan

Departemen Perindustrian
Departemen Kelautan dan Perikanan
Badan POM

Departemen Pertanian
Departemen Kelautan dan Perikanan
CARA
PRODUKSI
PANGAN
SEGAR
YANG BAIK

CARA
BUDIDAYA
YANG BAIK

r
Pe

ed

an
ar

KONSUMSEN

PANGAN SEGAR
DIKONSUMSI
LANGSUNG

CARA PRODUKSI
PANGAN
OLAHAN YANG
BAIK

BAHAN BAKU
PENGOLAHAN

PANGAN
OLAHAN

Badan POM
PANGAN SEGAR,
PANGAN
OLAHAN DAN
PANGAN SIAP
SAJI

CARA RITEL
PANGAN
YANG BAIK

CARA
PRODUKSI
PANGAN SIAP
SAJI YANG
BAIK

PANGAN SIAP
SAJI

CARA DISTRIBUSI
PANGAN YANG
BAIK

Badan POM

Departemen Kesehatan

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

Keamanan Bahan Tambahan Pangan


Bab II Bagian kedua, pasal 11 s/d 14
Kepala Badan menetapkan :
BTP yang dinyatakan terlarang
Nama dan golongan BTP yang
diijinkan, tujuan penggunaan dan
batas maksimal penggunaan
menurut jenis pangan
Persyaratan dan tata cara memperoleh
persetujuan pengedaran BTP

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

Keamanan Pangan Produk Rekayasa


Genetika
Bab III bagian ketiga
Pemeriksaan wajib pangan
produk rekayasa genetika
meliputi :
Informasi genetika
Deskripsi organisme donor & modifikasi
genetika
Karakterisasi modifikasi genetika
Informasi keamanan pangan (kesepadanan
substansial, perubahan nilai gizi, alergenitas,
toksisitas)
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

Iradiasi Pangan
Bab II bagian keempat, pasal 15
Fasilitas iradiasi yang digunakan harus
didaftarkan kepada Kepala Badan yang
bertanggung jawab di bidang
pengawasan nuklir
Ketentuan tentang pangan
iradiasi ditetapkan
oleh Kepala Badan POM RI

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

Jaminan Mutu Pangan dan


Pemeriksaan Laboratorium
(Bagian Keenam, pasal 21 dan 22)

Mentan, MenKP, Menhut, Menperind, Menkes,


Ka Badan POM
Standar /persyaratan lain tentang SJMP

Yang diuji laboratoris:


Mentan atau MenKP : pangan segar
Kepala Badan POM : pangan olahan

Pengujian laboratoris dilakukan


di laboratorium pemerintah
atau laboratorium lain yang
telah terakreditasi
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

Keamanan Pangan Produk Rekayasa


Genetika (Lanjutan)
Komisi yang menangani keamanan pangan produk
rekayasa genetika :
menetapkan persyaratan dan tata cara pemeriksaan
keamanan pangan produk rekayasa genetika
memeriksa keamanan pangan produk rekayasa genetika

Berdasarkan rekomendasi komisi, Kepala Badan


POM menetapkan bahan baku, BTP, dan/ atau
bahan bantu lain hasil proses rekayasa genetika
yang dinyatakan aman

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

Kemasan Pangan
Bab II bagian kelima, pasal 16 s/d 20
Kepala Badan POM menetapkan :
Bahan yang dilarang dan yang diizinkan
digunakan sebagai kemasan pangan
Persyaratan dan
tata cara memperoleh
persetujuan penggunaan
bahan kemasan pangan
Tata cara pengemasan
pangan secara benar

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

Pangan Tercemar
Bagian Ketujuh, pasal 23 s/d 28
Pangan tercemar meliputi pangan yang :
Mengandung bahan beracun, berbahaya atau
merugikan atau membahayakan kesehatan
Mengandung cemaran melampaui ambang batas
maksimal
Mengandung bahan yang terlarang dalam proses
produksi
Mengandung bahan kotor, busuk, tengik, terurai,
bahan nabati atau hewani berpenyakit atau
bangkai
Sudah kedaluwarsa
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

Menteri Pertanian atau Perikanan


(untuk pangan segar) atau Kepala Badan
(untuk pangan olahan) :
Menetapkan bahan yang dilarang
penggunaannya dalam proses produksi
pangan
Menetapkan ambang batas maksimal
cemaran
Mengatur dan/ atau menetapkan
persyaratan cara, metode,
dan/ atau bahan tertentu
yang berisiko merugikan
dan/ atau membahayakan
kesehatan
Menetapkan bahan yang
dilarang dalam produksi
peralatan pengolahan, penyiapan,
pemasaran dan/ atau penyajian pangan
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

Pangan Tercemar (Lanjutan)


Pasal 26:
- Pemeriksaan dan penanggulangan KLB oleh Dinkes
Propinsi bila KLB lintas kab/kota
- Pemeriksaan dan penanggulangan KLB oleh Depkes
dan atau Badan POM bila KLB lintas propinsi
Pasal 27:
- KLB tindak pidana, penyidikan oleh PPNS Badan dan
atau penyidik lainnya
Pasal 28:
- Depkes: ketentuan tindakan pertolongan kepada
korban, pengambilan contoh spesimen, pengujian
spesimen dan pelaporan KLB
- Badan POM RI: tata cara pengambilan contoh,
pengujian laboratorium dan pelaporan penyebab KLB
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

Sertifikasi Pangan
Bagian Kedua tentang Sertifikasi Mutu
Pangan, Pasal 32-35 :
Persyaratan dan tata cara sertifikasi mutu pangan
dengan tingkat risiko keamanan tinggi ditetapkan oleh
Menteri Pertanian, Perikanan, atau Kepala Badan POM.
Menteri Kesehatan menetapkan jenis dan jumlah zat gizi
yang akan ditambahkan serta jenis-jenis pangan yang
dapat diperkaya atau difortifikasi
Menteri Perindustrian menetapkan jenis pangan yang
wajib diperkaya dan/ atau difortifikasi dan tata cara
pengayaan dan/ atau fortifikasi gizi pangan tertentu
Peredaran pangan yang diperkaya dan/ atau difortifikasi
gizi wajib memiliki surat persetujuan pendaftaran dari
Kepala Badan POM
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

Pangan Tercemar (Lanjutan)


Pasal 25-28 tentang KLB keracunan pangan,
Pasal 25
- Setiap orang wajib lapor
- UPK melakukan tindakan pertolongan,
mengambil contoh, melaporkan
ke Dinkes kab/kota dan
Badan POM cq Balai
- Dinkes melakukan pemeriksaan
dan penanggulangan KLB,
melaporkan ke Dinkes propinsi
dan Badan POM cq Balai
- Badan cq Balai memeriksa dan
menguji contoh pangan untuk
menentukan penyebab keracunan
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

BAB III MUTU DAN GIZI PANGAN


Bagian pertama tentang Mutu Pangan,
Pasal 29-31
Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN)
menetapkan SNI mutu pangan
Pemberlakuan SNI oleh Menteri Perindustrian,
Pertanian, Perikanan, atau Kepala Badan POM
berkoordinasi dengan Kepala BSN
Menteri Pertanian, Perikanan, atau Kepala Badan
menetapkan ketentuan mutu pangan di luar SNI,
terutama pangan dengan tingkat risiko keamanan
tinggi

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

BAB IV PEMASUKAN DAN PENGELUARAN


PANGAN KE DALAM DAN DARI WILAYAH
INDONESIA
Bab V bagian pertama, pasal 36-40 :
Menetapkan persyaratan dan persetujuan pemasukan
pangan
Mentan atau MenKP : pangan segar
Kepala Badan POM : pangan olahan
Menteri Pertanian, Perikanan, Perindustrian, atau Kepala
Badan POM menetapkan ketentuan lebih lanjut

Bab V bagian kedua, pasal 41 :


Menteri Pertanian, Perikanan, atau Kepala Badan POM
menetapkan persyaratan pangan yang akan dikeluarkan dari
wilayah Indonesia dan berkoordinasi dengan Kepala BSN
untuk mengupayakan saling pengakuan pelaksanaan
penilaian kesesuaian dalam memenuhi persyaratan negara
tujuan
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

PENGAWASAN

BAB V PENGAWASAN DAN PEMBINAAN

Bupati/Walikota
(P-IRT)

Perbatasan
Negara

Bagian pertama tentang Pengawasan,


pasal 42 s/d 50
Surat persetujuan pendaftaran pangan olahan
ditetapkan oleh Kepala Badan POM
Pangan IRT wajib memiliki SPP-IRT yang
diterbitkan bupati/walikota
Pedoman pemberian SPP-IRT ditetapkan oleh
Kepala Badan
Yang dibebaskan: pangan dengan masa
simpan <7 hari & yang masuk dalam jumlah
kecil untuk keperluan khusus

CORNBEEF

PRODUKSI
PRAPANEN

Gubernur dan atau


Bupati/Walikota
(pangan segar)

re

n
ra
da
KONSUMSEN

Kepala Badan POM


(pangan olahan MD,
ML)

PANGAN SEGAR,
PANGAN
OLAHAN DAN
PANGAN SIAP
SAJI

RITEL

Bupati/Walikota
(pangan olahan IRT)
CORNBEEF

DISTRIBUSI

PANGAN SIAP
SAJI

PRODUKSI
PANGAN
SIAP SAJI

PANGAN SIAP
SAJI

PANGAN
OLAHAN

KEWENANGAN PEMERIKSAAN DALAM HAL TERDAPAT


DUGAAN TERJADINYA PELANGGARAN HUKUM DI
BIDANG PANGAN

Pe
PANGAN SEGAR,
PANGAN
OLAHAN DAN
PANGAN SIAP
SAJI

KONSUMSEN

PENGOLAHAN
BAHAN BAKU
PENGOLAHAN

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

Hasil pengujian disampaikan kepada dan ditindaklanjuti oleh


Departemen Pertanian, Kelautan dan Perikanan (pangan
segar), Departemen Kelautan dan Perikanan, Peridustrian
(pangan olahan), Badan POM (pangan olahan tertentu),
Pemerintah Kabupaten/Kota (pangan olahan IRT dan pangan
siap saji)

PANGAN SEGAR
DIKONSUMSI
LANGSUNG

Dikecualikan pangan olahan yang diproduksi oleh industri


rumah tangga (pangan olahan IRT wajib memiliki sertifikat
produksi pangan IRT)

Badan POM berwenang melakukan pengawasan keamanan,


mutu dan gizi pangan yang beredar (mengambil contoh
pangan dan melakukan pengujian)

r
Pe

PRODUKSI
PASCA PANEN

Pangan olahan untuk diperdagangkan dalam kemasan eceran


sebelum diedarkan wajib memiliki surat persetujuan
pendaftaran (berdasarkan hasil penilaian keamanan, mutu
dan gizi pangan olahan)

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

n
ra
da

Ka. Badan POM


(MD dan ML)

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

Bupati/Walikota
(pangan siap saji)

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

PEMBINAAN, pasal 51
Departemen Pertanian
Departemen Kelautan dan Perikanan

CARA
BUDIDAYA
YANG BAIK

r
Pe

ed

an
ar

KONSUMSEN

CARA
PRODUKSI
PANGAN
SEGAR YANG
BAIK

Departemen Kelautan dan Perikanan,


Departemen Perindustrian, Badan POM
(pangan olahan tertentu) dan Pemerintah
Kab/Kota (pangan olahan IRT)

PANGAN SEGAR
DIKONSUMSI
LANGSUNG

BAHAN BAKU
PENGOLAHAN

CARA PRODUKSI
PANGAN
OLAHAN YANG
BAIK

PANGAN SEGAR,
PANGAN
OLAHAN DAN
PANGAN SIAP
SAJI

CARA RITEL
PANGAN
YANG BAIK

PANGAN SIAP

CARA
PRODUKSI
PANGAN SIAP
SAJI YANG
BAIK

SAJI
Pembinaan terhadap
PEMDA dan masyarakat
dilaksanakan oleh
Pemerintah Kab/Kota (pangan siap saji)
Badan
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan

Deputi III-Badan POM RI@2006

PANGAN
OLAHAN

BAB VI PERAN SERTA MASYARAKAT


Peran serta masyarakat dapat disampaikan
langsung atau tidak langsung kepada Menteri
Pertanian, Perikanan, Kesehatan, Perindustrian,
Kepala Badan, Gubernur atau Bupati/ Walikota

CARA DISTRIBUSI
PANGAN YANG
BAIK

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

Jejaring Keamanan Pangan Nasional


Jejaring
Intelijen Pangan

(Risk Assessment)

Jejaring
Pengawasan Pangan

Jejaring
Promosi Keamanan Pangan

(Risk Management)

Pencanangan Penerapan
Sistem Keamanan Pangan Terpadu
Secara Nasional
13 Mei 2004, di Aula Badan
POM R.I
Oleh Menko Kesra a.i.
Prof. A. Malik Fadjar, MSc

(Risk Communication)

Kerjasama Badan POM, Departemen Kesehatan, Departemen


Pertanian, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen
Kelautan dan Perikanan, Departemen Pendidikan Nasional, Pemerintah
Daerah, universitas, lembaga penelitian, laboratorium swasta dan
pemerintah, asosiasi industri dan perdagangan, Badan Standarisasi
Nasional, Lembaga Swadaya Masyarakat, industri pangan, media
massa, dan lain-lain.
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

Jejaring Intelijen Pangan


R&D
Industri
es
D inas

(Risk Assessment)

LP univ
ersitas

atan
K eseh

F oo

d In

Dinas Lingkungan
Hidup

s pe

c tor

PO
alai

Dan la
in-lain

Jejaring ini menghimpun informasi kegiatan


pengkajian risiko keamanan pangan dari lembaga
terkait (data surveilan, inspeksi, riset keamanan
pangan, dsb.)
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan


Deputi III-Badan POM RI@2006

Jejaring promosi keamanan pangan, meliputi


pengembangan bahan promosi (poster, brosur, dsb.) dan
kegiatan pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan
keamanan
pangan untuk industri pangan, pengawas
keamanan pangan, dan konsumen

Dan lain-lain
Dinas. Perindustrian &
Perdagangan

Dinas. Kelautan & Perikanan

Dinas.
Kesehatan

Dinas. Pertanian
Balai POM

Asosiasi konsumen

Dinas Pendidikan nasional

LPPMkampus,sekolah

NGO

(Risk Management)

Swasta/ industri pangan

Bea Cukai

Jejaring Pengawasan Pangan


Dll.Pemda

Jejaring kerjasama antar lembaga dalam kegiatan yang


terkait dengan pengawasan keamanan pangan
(standardisasi dan legislasi pangan, inspeksi dan
sertifikasi pangan, pengujian laboratorium, eksporimpor, dsb.)
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

Dinas komunikasi

Jejaring Promosi Keamanan Pangan


Dinas
Kesehatan

(Risk Communication)

Balai POM

Dan lain-lain.
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

KESIMPULAN
Masalah keamanan pangan adalah masalah kita
semua, oleh karena itu harus ditangani secara
bersama-sama oleh produsen, pemerintah dan
konsumen
Kemitraan dan Networking yang erat antara
Badan POM dengan Pemerintah
Propinsi/Kabupaten/Kota diperlukan dan
sangat penting dalam rangka pelaksanaan
PP No 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu,
dan Gizi Pangan
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

Perlu disusun protokol Networking antara


Badan POM dan pemerintah
Propinsi/Kabupaten/Kota untuk meningkatkan
efektivitas, efisiensi, dan keberlanjutan
kegiatan mewaspadai dan menanggulangi
masalah keamanan pangan:
(1) Pelatihan penyuluh keamanan pangan,
District Food Inspector (DFI) dan petugas KLB
keracunan pangan
(2) Penempatan PKP, DFI, petugas KLB pada
posisi penugasannya yang tepat
(3) Lalu lintas data dan informasi dari kab/kota ke
Balai dan selanjutnya ke tingkat pusat
(4) Promosi Keamanan Pangan dan Bahan
Berbahaya kepada publik
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006

Terima kasih
Keterangan lebih lanjut:
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Badan POM R.I
Jl. Percetakan Negara 23, Jakarta Pusat
Phone: 021 42878701, 42803516, 42875738
Fax :021 42878701
Email : surveilanpangan@pom.go.id
wini_a@hotmail.com
Balai Besar/Balai POM di Seluruh Indonesia
Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
Deputi III-Badan POM RI@2006