Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM FISIKA EKSPERIMEN


PENGAMATAN OBJEK DENGAN MENGGUNAKAN TELESKOP
NEWTONIAN JENIS ALTA AZIMUTH DI AREA STADION GRAHA
CAKRAWALA
BIDANG EKSPERIMEN:
ASTRONOMI
Disusun oleh
Anugrah Pratama Supriyono

140322601887 / 2014

Aulia Rachmawati

140322604301 / 2014

Deny Arista

140322604592 / 2014

Dewi Wororwati

140322603720 / 2014

Eva Chaniviyati

140322601827 / 2014

Marleni Nor Jannah

140322600078 / 2014

M. Irfan sanusi

140322601110 / 2014

Nurul Wastiti

140322602340 / 2014

Rudi Agus Setyono

140322603209 / 2014

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATUKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
MALANG
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadlirat Alloh swt. atas limpahan rahmadNya,
sehingga buku Petunjuk Praktikum Eksperimen Fisika KBK Astronomi sebagai pegangan
praktikum matakuliah Eksperimen Fisika selesai ditulis sebelum kuliah dimulai.
Sesuai dengan deskripsi matakuliah pada buku katalog MIPA untuk Jurusan Fisika,
matakuliah ini merupakan matakuliah wajib sebagai bidang keahlian, dan matakuliah ini
adalah matakuliah yang dikaitkan dengan KBK Astronomi. Dalam praktikum ini sebagai
dasar peserta didik untuk mengalami cara mengamati obyek melalui teleskop. Diharapkan
dengan pengalaman praktikum ini peserta didik dapat menambah wawasan dan dapat
diterapkan dalam kehidupan seperti ruyah untuk kehidupan beragama.
Demikian Buku Petunjuk Praktikum matakuliah Eksperimen Fisika ini disusun, dan
demi perbaikan disemester berikutnya penyusun menerima kritik maupun saran-saran dari
peserta didik maupun pembaca lain yang tertarik pada matakuliah ini.

Desesmber 2016
Penyusun

DAFTAR ISI
2

Halaman

HALAMAN SAMPUL................................................................................i
KATA PENGANTAR ..................................................................................ii
DAFTAR ISI ...............................................................................................iii
JUDUL PRAKTIKUM ...............................................................................1
A. Tujuan......................................................................................................1
B. Dasar Teori .............................................................................................1
C. Peralatan .................................................................................................5
D. Prosedur Pengoperasian teleskop............................................................5
E. Data Pengamatan ....................................................................................7
F. Analisis Data............................................................................................8
G. Kesimpulan dan Saran.............................................................................10
Lampiran

PENGAMATAN OBJEK DENGAN MENGGUNAKAN TELESKOP


NEWTONIAN JENIS ALTA AZIMUTH DI AREA STADION GRAHA
CAKRAWALA

A. TUJUAN
A.1.

Mengoperasikan teleskop newtonian jenis alta azimuth di lapangan parkir

graha cakrawala.
A.2.

Mengetahui titik azimuth dan altitude dari suatu objek.

A.3.

Menganalisis data yang diperoleh berdasarkan teori yang ada.

B. DASAR TEORI
Teleskop

atau

teropong

adalah

instrumen

pengamatan

yang

berfungsi

mengumpulkan radiasi elektromagnetik dan sekaligus membentuk citra dari benda yang
diamati. Teleskop merupakan alat paling penting dalam pengamatan astronomi. Jenis
teleskop (biasanya optik) yang dipakai untuk maksud bukan astronomis antara lain
adalah transit, monokular, binokular, lensa kamera, atau keker. Teleskop memperbesar
ukuran sudut benda, dan juga kecerahannya.
Galileo diakui menjadi yang pertama dalam menggunakan teleskop untuk maksud
astronomis. Pada awalnya teleskop dibuat hanya dalam rentang panjang gelombang
tampak saja (seperti yang dibuat ole Galileo, Newton, Foucault, Hale, Meinel, dan
lainnya), kemudian berkembang ke panjang gelombang radio setelah tahun 1945, dan
kini teleskop meliput seluruh spektrum elektromagnetik setelah makin majunya
penjelajahan angkasa setelah tahun 1960.
Penemuan atau prediksi akan adanya pembawa informasi lain (gelombang
gravitasi dan neutrino) membuka spekulasi untuk membangun sistem deteksi bentuk
energi tersebut dengan peranan yang sama dengan teleskop klasik. Kini sudah umum
untuk menyebut teleskop gelombang gravitasi atau pun teleskop partikel berenergi
tinggi.

Ada tiga jenis utama teleskop optik yang digunakan yaitu Refraktor atau Dioptrik,
Reflektor atau Katoptrik dan Katadioptrik. Refraktor atau dioptrik adalah jenis teleskop
yang hanya menggunakan lensa untuk menampilkan bayangan benda. Reflektor atau
katoptrik adalah jenis teleskop yang menggunakan cermin untuk memantulkan cahaya
dan bayangan benda dan Katadioptrik adalah jenis teleskop yang menggunakan
kombinasi dari lensa dan cermin sebagai pengumpul cahaya sekaligus bayangan benda.
Dalam praktikum ini kita menggunakan teleskop reflector seperti gambar di bawah:

Diagram
Dasar Teleskop Reflektor
Teleskop Reflektor adalah teleskop yang menggunakan satu atau kombinasi dari
cermin lengkung yang merefleksikan cahaya dan bayangan gambar. Teleskop Reflektor
merupakan teleskop alternatif dari teleskop refraktor karena kelainan cacat kromatik
yang ditimbulkan oleh lensa. Meskipun teleskop reflektor menghasilkan kelainan optik
lainnya, desain reflektor memungkinkan untuk pengembangan dengan diameter yang
cukup besar. Hampir sejumlah teleskop-teleskop astronomi yang digunakan oleh
Astronom Profesional seperti NASA adalah teleskop reflektor. Cermin lengkung utama
pada teleskop reflektor merupakan elemen utama yang akan membuat gambar pada
bidang fokus. Jarak antara cermin dengan bidang fokus disebut panjang fokus. Pada
panjang fokus ini lah biasa nya ditambahkan cermin sekunder didekat fokus untuk
memodifikasi karakter optik dan melanjutkan cahaya ke lensa mata (eyepiece) atau
dilanjutkan ke film dan kamera CCD agar hasil citra bisa langsung ditampilkan pada

video atau gambar. Teleskop Reflektor akan sangat tepat jika kita gunakan untuk
pengamatan objek-objek deepsky seperti nebula, galaksi, opencluster dan comet karena
untuk light gathering teleskop reflektor jauh lebih baik daripada teleskop refraktor
sehingga untuk objek-objek yang mempunyai intensitas cahaya kecil dapat terlihat
dengan reflector.
Praktikum ini didasarkan pada jenis teleskop reflector yaitu teleskop Al-azimut
merk MEADE yang didasarkan pada system Tata koordinat Horizon. Pada tata koordinat
horizon, letak bintang ditentukan hanya berdasarkan pandangan pengamat saja. Tata
koordinat horizon tidak dapat menggambarkan lintasan peredaran semu bintang, dan
letak bintang selalu berubah sejalan dengan waktu. Namun, tata koordinat horizon
penting dalam hal pengukuran adsorbsi cahaya bintang.
Horison adalah bidang datar yang menjadi pijakan pengamat, yang menjadi batas
antara belahan langit yang dapat diamati dengan yang tidak dapat diamati. Apabila kita
berada di tengah-tengah laut, kita akan melihat horison ini sebagai pertemuan antara
langit dengan permukaan laut. Kemudian zenith adalah sebuah titik khayal di langit yang
berada tepat di atas pengamat. Sedangkan nadir adalah kebalikan dari zenith, yaitu
sebuah titik yang berada di bawah pengamat. Kedua titik ini terletak tegak lurus
terhadap horison.
Altitud (a) menunjukkan ketinggian bintang dari horison. Apabila sebuah bintang
baru terbit atau tenggelam, ketinggiannya dari horison adalah 0 derajat. Dan bintang
yang berada di zenith memiliki altitud 90 derajat. Azimuth (A) menyatakan sudut yang
dibentuk antara bintang dengan titik utara atau selatan. Pengamat yang berada di belahan
bumi utara menghitung azimuth bintang dari titik utara ke arah timur (searah putaran
jarum jam). Sedangkan pengamat yang berada di belahan bumi selatan menghitung
azimuth bintang dari titik selatan ke arah timur (berlawanan arah putaran jarum jam).
Besarnya azimuth adalah dari 0 derajat hingga 360 derajat.

Sebagai contoh, untuk pengamat yang berada di Semarang (selatan khatulistiwa),


sebuah bintang yang berada 45 derajat di atas titik utara memiliki azimuth 180 derajat.
Sedangkan bagi pengamat yang ada di Aceh misalnya, bintang yang berada 45 derajat di
atas titik utara memiliki azimuth 0 derajat (Lihat juga gambar di bawah).

Ordinat-ordinat dalam Tata Koordinat Horizon adalah:


1. Bujur suatu bintang dinyatakan dengan azimut (Az). Azimut umumnya diukur
dari selatan ke arah barat sampai pada proyeksi bintang itu di horizon, seperti
pada gambar azimut bintang adalak 220. Namun ada pula azimut yang diukur
dari Utara ke arah Timur, oleh karena itu sebaiknya Anda menuliskan keterangan
tentang ketentuan mana yang Anda gunakan.
2.

Lintang suatu bintang dinyatakan dengan tinggi bintang (a), yang diukur dari
proyeksi bintang di horizon ke arah bintang itu menuju ke zenit. Tinggi bintang
diukur 0 90 jika arahnya ke atas (menuju zenit) dan 0 -90 jika arahnya ke
bawah.

Letak bintang dinyatakan dalam (Az, a). Setelah menentukan letak bintang,
lukislah lingkaran almukantaratnya, yaitu lingkaran kecil yang dilalui bintang
yang sejajar dengan horizon (lingkaran PQRS).
C. PERALATAN
Peralatan yang digunakan pada eksperimen kali ini adalah :
1. Satu Set Teleskop
2. Busur
3. Statif
4. Benang
5. Kamera cam
6. Tripot
7. Spidol
8. Laptop
D. PROSEDUR PENGOPERSIAN TELESKOP
1. Menentukan arah mata angin pada lokasi teleskop untuk pengamatan
a. Menancapkan tongkat atai stik diatas tanah dan menentukan arah utara,
selatan, timur maupun barat berdasarkan titik-titik bayangan ujung tongkat
yang setiap lima menit ditandai dengan tanda X, kemudian garis dengan
menggunakan benang/tali sebagai tanda arah mata angin tersebut. Seperti
dalam gambar berikut :
8

b. Membuat garis tersebut saling tegak lurus kemudian ditandai arah mata angin
tersebut.
2. Meletakan teleskop diatas bidang arah mata angin.

3. Memberi tanda titik awal 0 pada teleskop

4. Memasangkan busur pada teleskop


5. Menentukan objek yang ingin diamati.
6. Memfokuskan bayangan yang terbentuk pada teleskop.
7. Mengambil gambar hasil pengamatan.
E. DATA PENGAMATAN
4.1. Lokasi Pengamatan : 112o 37,2 o E, 7 o 57,35 S

4.2. Photo objek (hasil snap shoot kamera) : Ujung dari Tower
Yang berada di samping parkiran bus UM, diperoleh data sebagai berikut :
a. Posisi objek berdasarkan AZIMUTH adalah 39o
b. Posisi objek berdasarkan ATLITUDE adalah 8o
10

4.3. Photo Kegiatan : Menentukan arah Utara-Selatan dan Timut-Barat dan mengatur
teleskop sesuai panduan sehingga siap digunakan untuk mengambil suatu titik objek
(lihat pada lampiran).
F. ANALISIS DATA
Praktikum PENGAMATAN OBJEK DENGAN MENGGUNAKAN TELESKOP
NEWTONIAN

JENIS

ALTA

AZIMUTH

DI

AREA

STADION

GRAHA

CAKRAWALA dilaksanakan pada tanggal 05 Desember 2016 pukul 09.35 WIB.


Praktikum ini menggunakan salah satu teleskop yang dimiliki laboratorium Astronomi
Jurusan Fisika Universitas Negeri Malang, yaitu jenis teleskop Al-azimut merk MEADE
yang didasarkan pada sistem Tata koordinat Horizon.
Praktikum ini dilaksanakan di Area Stadion Graha Cakrawala atau tepatnya berada
di posisi 112o 37,2 o E, 7 o 57,35 S. Posisi tempat tersebut mencakup letak geografis
baik lintang geografis maupun bujur geografis. Posisi lintang geografis tempat tersebut
adalah 7 o 57,35 S, artinya adalah posisi ini berada di lingkaran kecil pada bidang bola
(bumi) yang sejajar dengan bidang ekuator yang berada pada arah selatan. Sedangkan
bujur geografis tempat tersebut adalah 112o 37,2 o E artinya posisi ini berada di lingkaran
besar pada bola dunia yang bergaris tengah U-S ke arah timur sebesar 112o 37,2 o E.
Awal melaksanakan praktikum, lebih dulu ditentukan arah-arah mata angin
menggunakan bayangan pada tiang yang dicatat bayangannya tiap 5 menit sekali.
Setelah 15 menit ( terdapat 3 bayangan ), kita tarik garis lurus lalu menentukan arah
timur dan barat, untuk menentukan arah utara dan selatan kita tinggal menarik garis
tegak lurus.

11

Penentuan arah utara, selatan, timur atau barat sangat penting untuk dilakukan
pada kali pertama eksperimen. Titik titik tersebut merupakan titik titik kardinal pada
sistem tata koordinat horizon yang menunjukkan arah matahari terbit atau terbenam.
Koordinat horizon ini digunakan agar lingkaran lintang (tempat kedudukan benda langit)
mendapatkan serapan cahaya bintang oleh atmosfir dengan tepat. Letak objek yang
diamati tersebut berada pada altitude 8o dan azimuth 39o. Pada azimuth 39o berarti posisi
objek tersebut terukur pada sudut 39o dari arah utara ke arah timur sepanjang horizon
pengamatan dengan menggunakan teropong. Pada altitude 8o berarti posisi objek
tersebut terukur pada sudut 8o dari horizon tegak lurus menuju zenith. Ketepatan posisi
tersebut mempengaruhi serapan cahaya yang menembus atmosfer di mana jika semakin
banyak cahaya bintang yang diserap oleh atmosfer tersebut sebelum mencapai pengamat
maka akan tampak semakin redup.
Setelah ketemu arah mata angin, kita menentukan obyek yang akan diamati
menggunakan teleskop. Dengan mengamati benda/obyek yang jauh dan mudah terlihat
kemudian atur fokus pada eyepiece dengan menggerakan pelahan-lahan sampai obyek
terlihat dengan jelas diteleskop. Untuk obyeknya, digunakan tower dengan posisi obyek
azimuth 390 dan atlitude 80. Ujung Tower yang berada di samping parkiran bus UM
tersebut bisa dilihat seperti gambar di bawah ini:

12

Kejelasan penampakan pada benda ini cukup jelas. Hal ini diperkirakan karena
posisi bintang (matahari) berada pada serapan cahaya yang belum terlalu banyak di
atmosfer.
G. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari mengoperasikan teleskop, didapatkan besarnya sudut Azimuth dan Atlitude
dari Ujung Tower yang berada di samping parkiran bus UM melalui Teleskop Meade,
yaitu:
Posisi Obyek memiliki titik AZIMUTH : 390
Posisi Obyek memiliki titik ATLITUDE : 80
Sebelumnya arah mata angin (Utara-selatan, Timur dan Barat ) ditentukan dulu sebagai
titik nol pengukuran Koordinat Horizon di Area Stadion Graha Cakrawala. Dalam
mengoperasikan teleskop AL-AZIMUTH TELESCOPE MEADE ETX-125 posisi
bintang mempengaruhi banyaknya cahaya yang diserap oleh atmosfer guna mengetahui
benda yang diamati.
LAMPIRAN 1
1. Gambar menentukan sisi utara-selatan dan timur-barat dengan menggunakan sebuah
benang

13

2. Gambar berikut menunjukkan proses mengatur teleskop agar posisi tepat ditengah

3. Gambar berikut menunjukkan sudut awal teleskop sebelum diputar

14

4.

Gambar berikut
menunjukkan
sudut setelah teleskop diputar

5. Gambar

berikut

menunjukkan

posisi garis

tengah setelah diambil

titik azimuth

dan altitude

15

6.

Gambar

berikut

menunjukkan pengambilan
gambar objek

7. Gambar Objek diambil melalui kamera handphone dari teleskop

16

8. Gambar anggota kelompok saat pengamatan

17