Anda di halaman 1dari 43

XC

hange E

O
W
U
B

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI


SENYAWA POLISAKARIDA SECARA KUALITATIF
DARI EKSTRAK AIR BUNGA KASUMBA TURATE
(Carthamus tinctorius Linn.) ASAL KABUPATEN BONE

ARFIANA
N 111 08 295

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA POLISAKARIDA


SECARA KUALITATIF DARI EKSTRAK AIR
BUNGA KASUMBA TURATE (Carthamus tinctorius Linn.)
ASAL KABUPATEN BONE

SKRIPSI
untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi
syarat-syarat untuk mencapai gelar sarjana

ARFIANA
N11108295

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

PERSETUJUAN
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI
SENYAWA POLISAKARIDA SECARA KUALITATIF
DARI EKSTRAK AIR BUNGA KASUMBA TURATE
(Carthamus tinctorius Linn.) ASAL KABUPATEN BONE

ARFIANA
N111 08 295

Disetujui oleh :

Pembimbing Utama,

Pembimbing Pertama,

Prof. Dr. Gemini Alam, M.Si., Apt.


NIP. 19641231 199002 1 005

Dra. Rahmawati Syukur, M.Si., Apt. NIP.


19651010 199203 2 002

Pada tanggal,

Maret 2013

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

ABSTRAK

Penelitian isolasi dan identifikasi senyawa polisakarida secara


kualitatif dari ekstrak air bunga kasumba turate (Carthamus tinctorius L.),
telah dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh senyawa
polisakarida dari ekstrak air bunga kasumba turate, yang diperoleh dari
kab. Bone. Bunga kasumba turate diekstraksi secara infundasi dengan
aquadest. Ekstrak yang diperoleh kemudian disentrifugasi, supernatannya
diambil lalu ditambahkan etanol 70% dan didiamkan selama semalam
dalam lemari pendingin. Endapannya kemudian diambil, dan dilarutkan
dengan aquadest, lalu diatur hingga pH 3 dengan HCl. Bagian yang tidak
larut dipisahkan dengan sentrifugasi, lalu diatur kembali pH supernatan
hingga pH 7 dengan NaOH. Setelah itu, supernatan yang diperoleh
ditambahkan etanol 70%, dan diambil endapannya dengan sentrifugasi
lalu dikeringkan. Selanjutnya endapan kering yang diperoleh dihidrolisis
menggunakan HCl pada suhu 100oC, dan diidentifikasi dengan metode
KLT multi eluen, dan uji identifikasi senyawa polisakarida. Isolat yang
diperoleh sebanyak 0,0705 gram, dikarakterisasi menggunakan FTIR.
Isolat memiliki gugus -CH (alifatik), -OH (hidroksi), -C=O (karbonil), dan
-C-O- (ester). Isolat merupakan senyawa polisakarida.
Kata kunci : Kasumba turate, Carthamus tinctorius L., polisakarida.

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

ABSTRACT

Isolation and identification of polysaccharide compound with


qualitative test from aqueous extract of safflower petals (Carthamus
tinctorius L.) has been conducted. This research aims to get
polysaccharide compound from aqueous extract of safflower petals, which
acquired from Bone Regency. Safflower petals were extracted by infusion
method with aqua destillata. The resultant extracts were centrifuged, and
the supernatants was added with 70% ethanol and placed in the
refrigerator overnight. The precipitate were collected, dissolve in water and
adjusted to pH 3 by HCl. Insoluble materials were removed by
centrifugation, and the supernatants were again adjusted to pH 7 by
NaOH. After that, the precipitates were collected by centrifugation with
addition 70% ethanol, then dried. The dried precipitate were hydrolyzed
with HCl at 100oC, and identified with TLC multiple development, and
identifications by test for polysaccharides compounds. The isolate
obtained about 0.0705 gram, characterized by FTIR. The isolate has
characteristic functional groups such as -CH (aliphatic), -OH (hydroxy),
-C=O (carbonil), and -C-O- (ester). The isolate is a polysaccharide
compound.
Key word

: Safflower, Carthamus tinctorius L., polysaccharide.

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

BAB I
PENDAHULUAN
Saat ini, penggunaan tumbuhan berkhasiat obat di masyarakat
mulai meningkat. Hal ini disebabkan oleh pemahaman dan pengetahuan
masyarakat mengenai penggunaan obat dari bahan alam yang cenderung
lebih aman dibanding obat sintetik. Selain itu, hal tersebut juga didukung
oleh keanekaragaman tumbuhan di Indonesia, yang hampir segala jenis
tumbuhan dapat tumbuh di negara ini. Sebagian besar tumbuh-tumbuhan
tersebut sudah dimanfaatkan secara empiris oleh masyarakat untuk
mengobati berbagai penyakit.
Salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional oleh
masyarakat Sulawesi Selatan khususnya di Kabupaten Bone adalah
kasumba turate (Carthamus tinctorius L.) dari suku Asteraceae. Kasumba
turate merupakan tanaman tahunan, berduri pada cabang dan daunnya,
bunganya berwarna kuning atau kemerahan. umumnya ditanam pada
daerah beriklim kering dan panas (1). Secara empiris, seduhan bunga
kasumba yang telah dikeringkan, digunakan oleh masyarakat untuk
pengobatan penyakit campak. Pada sistim pengobatan Cina, selain untuk
pengobatan campak, bunga kasumba turate juga digunakan untuk
pengobatan gangguan menopause, demam, dan memperbaiki sistem
sirkulasi darah (2).
Kasumba turate mengandung sejumlah senyawa seperti carthamin,
carthamidin, glikosida, kumarin, asam lemak, steroid, dan polisakarida.

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

Berdasarkan studi farmakologi modern, diketahui bahwa ekstrak kasumba


turate

memiliki

beberapa

aktivitas

biologi,

seperti

antikoagulan,

antihipertensi, antioksidan, imunosupresan, dan antitumor. Dan sebagian


besar dari efek tersebut, terdapat pada ekstrak air (3,4).
Telah dilaporkan dari beberapa penelitian, bahwa senyawa bioaktif
polisakarida yang telah diisolasi dari jamur, bakteri, alga, dan dari
tumbuhan, memiliki efek antitumor dan imunomodulator (5). Polisakarida
merupakan senyawa yang terdiri dari gabungan molekul monosakarida
yang berjumlah banyak (mengandung sepuluh atau lebih monosakarida)
sehingga

senyawa

ini

bisa

dihidrolisis

menjadi

banyak

molekul

monosakarida (6). Polisakarida pada Kasumba turate tersusun atas


xylosa, fruktosa, galaktosa, glukosa, arabinosa, ramnosa dan residu asam
uronik, dilaporkan mampu menstimulasi sistem imun pada tikus (7).
Berdasarkan informasi yang telah diperoleh, maka dapat diketahui
bahwa

senyawa

polisakarida

ekstrak

air

kasumba

turate

dapat

meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dari hasil penelusuran literatur, di


Indonesia belum banyak laporan penelitian mengenai kandungan
senyawa aktif polisakarida dari bunga kasumba turate, dan potensinya
sebagai imunomodulator. Oleh karena itu, perlu dilakukan isolasi senyawa
polisakarida dari ekstrak air bunga kasumba turate, dan mengidentifikasi
senyawa hasil isolasi.
Pada penelitian ini, kasumba turate yang digunakan berasal dari
desa Wempubbu, kec. Amali, kab. Bone. Penelitian dilakukan sesuai

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

prosedur isolasi senyawa polisakarida, dimana sampel diekstraksi dengan


metode infundasi. Kandungan senyawa polisakarida ditentukan dengan
metode hidrolisis. Identifikasi senyawa hasil isolasi dilakukan dengan
kromatografi lapis tipis, menggunakan pereaksi identifikasi. Kemudian
dilakukan karakterisasi senyawa hasil isolasi menggunakan FT-IR.
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan dijadikan sebagai
acuan untuk penelitian lebih lanjut mengenai kandungan senyawa bioaktif
pada kasumba turate, dan menentukan efek farmakologinya.

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.I Uraian Tanaman Kasumba Turate (Carthamus tinctorius L.)
II.1.1 Klasifikasi Tanaman (8,9)
Kerajaan

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Asterales

Famili

: Asteraceae

Genus

: Carthamus

Spesies

: Carthamus tinctorius Linn.

II.1.2 Nama Daerah (8,9)


Jawa

: Kembang pulu

Makassar

: Kasumba Turate

Bugis

: Ralle

Umum

: Kesumba

II.1.3 Morfologi Tanaman (8,10)


Kasumba turate merupakan tanaman menahun, semacam tanaman
berduri, yang menyerupai bunga matahari, dengan tinggi sekitar 30-150
cm, umumnya dengan bunga berwarna kuning, dan bijinya mengandung
minyak 35-45%.
Sistem akar terbentuk dengan baik, berwarna coklat kehijauan, akar
tebal dan gemuk, menusuk sampai 3 m kedalam tanah. Batangnya kuat,

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

berbentuk selinder, padat dengan intisari lunak, berkayu didekat pangkal.


Ukuran dan bentuk daun bevariasi, dengan panjang sekitar 10-15, dan
lebar 2.5-5 cm. Tepi daun berduri-bergerigi, berwarna hijau gelap
mengkilap dan berbentuk herba ketika masih muda, berubah menjadi
keras dan kaku setelah tua.
Bagian kepala terletak di ujung berbentuk jambangan besar, panjang
sekitar 4 cm dan diameter 2,5-4 cm, hanya mengandung bunga-bunga
tunggal (florest). Memiliki banyak kelopak involucral, tersusun spiral,
bagian luar membujur dan menyempit diatas bagian dasar, 3-7 cm x 0,51,6 cm. Dasar bunganya rata sampai berbentuk kerucut, banyak, tegak,
bebulu putih dengan panjang 1-2 cm dan terdapat 20-80 bunga tunggall
(Florest) berkelamin ganda, tubular, aktinomorf, panjangnya sekitar 4 cm
glabrous, kebanyakan berwarna jingga kemerahan yang menjadi merah
gelap saat mekar, kadang-kadang kuning.

Gambar 1. Kasumba Turate (Carthamus tinctorius L.): A. Tanaman utuh; B:


Cabang tanaman dengan bunga; C: Bunga lengkap; D: Bagian apikal dari floret
yang membuka; E: achene

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

II.1.4 Kandungan Kimia


Kasumba turate mengandung sejumlah senyawa seperti carthamin,
carthamidin, safflor yellow A, safflor yellow B, glikosida phenylethanoid,
kumarin, asam lemak, steroid, dan polisakarida (3,4). Flavonoid, glikosida,
sterol dan derivat serotonin telah diidentifikasi dari bunga dan biji (8).
II.1.5 Kegunaan Tanaman
Pada pengobatan tradisional, bunga kasumba turate digunakan
sebagai antihipertensi, antipiretik, ekspektoran, laksative, sedatif, dan
stimulan. Selain itu, juga digunakan pada pengobatan penyakit seperti
penyumbatan pembuluh darah di otak, bronkhitis, hemoroid, infeksi
saluran pernafasan dan stimulasi sirkulasi darah. Ekstrak air dari bunga
kasumba turate dilaporkan mampu menstimulasi sistim imun, dan
memberikan efek antikoagulan. Kasumba turate juga biasanya digunakan
oleh masyarakat di daerah Sulawesi Selatan sebagai obat tradisional
untuk mengobati penyakit campak (morbili) (3,9,10).
II.2 Metode Ekstraksi
Istilah ekstraksi pada farmasetikal, merupakan pemisahan senyawa
aktif pada tanaman, dari senyawa-senyawa inaktif atau komponenkomponen inert lainnya, menggunakan pelarut yang selektif sesuai
prosedur standar ekstraksi (11).
Pemilihan metode ekstraksi tergantung pada sifat bahan dan senyawa
yang akan diisolasi. Sebelum memilih suatu metode, target ekstraksi,

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

perlu ditentukan terlebih dahulu. Ada beberapa target ekstraksi,


diantaranya (12):
1. Senyawa bioaktif yang tidak diketahui
2. Senyawa yang diketahui ada pada suatu organisme
3. Sekelompok senyawa dalam suatu organisme yang berhubungan
secara struktural
4. Semua senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh suatu
sumber tetapi tidak dihasilkan oleh sumber lain dengan kontrol yang
berbeda, misalnya dua spesies dalam genus yang sama atau spesies
yang sama tetapi berada dalam kondisi yang berbeda.
5. Identifikasi seluruh metabolit sekunder yang ada pada suatu
organisme untuk studi sidik jari kimiawi dan studi metabolomik.
Proses ekstraksi khususnya untuk bahan yang berasal dari
tumbuhan adalah sebagai berikut (12):
1. Pengelompokan bagian tumbuhan (daun, bunga, dll), pengeringan dan
penggilingan bagian tumbuhan.
2. Pemilihan pelarut
a. Pelarut polar: air, etanol, metanol, dan sebagainya
b. Pelarut semipolar: etil asetat, diklorometan, dan sebagainya.
c. Pelarut nonpolar: n-heksan, petroleum eter, kloroform, dan
sebagainya.
3. Pemilihan metode ekstraksi

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

Ada

beberapa

pendekatan

yang

dapat

dilakukan

untuk

mengekstraksi tanaman. Meskipun air sudah digunakan secara tradisional


sebagai cairan penyari, variasi kepolaran pelarut organik umumnya dipilih
pada metode ekstraksi modern untuk mendapatkan variasi tingkat
kelarutan dari senyawa-senyawa yang terdapat pada tanaman. Prosedur
ekstraksi yang digunakan pada tanaman meliputi maserasi, perkolasi,
soxhlet, Ultrasound-Assisted Solvent Extraction, reflux, destilasi uap,
infundasi, dan digesti (11,12).
II.2.1 Infundasi (13)
Infundasi adalah proses penyarian yang umumnya digunakan untuk
menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati.
Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia dengan
air pada suhu 90C selama 15 menit.
Infus dibuat dengan cara :
1. Membasahi bahan bakunya, biasanya dengan 2 kali bobot bahan,
untuk bunga 4 kali bobot bahan dan untuk karagen 10 kali bobot bahan.
2. Bahan baku ditambah dengan air dan dipanaskan selama 15 menit
pada suhu 90- 98C. Umumnya untuk 100 bagian sari diperlukan 10
bagian bahan. Pada simplisia tertentu tidak diambil 10 bagian. Hal ini
disebabkan karena :
a. Kandungan simplisia kelarutannya terbatas, misalnya kulit kina
digunakan 6 bagian.

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

b. Disesuaikan dengan cara penggunaannya dalam Pengobatan,


misalnya daun kumis kucing, sekali minum infus 100 cc, karena itu
diambil bagian.
c. Berlendir , misalnya karagen di gunakan 1 bagian.
d. Daya kerjanya keras, misalnya digitalis digunakan bagian.
3. Untuk memindahkan penyarian kadang-kadang perlu ditambahkan
bahan kimia misalnya :
a. Asam sitrat untuk infus kina.
b. Kalium atau natrium karbonat untuk infus kelembek
4. Penyaringan dilakukan pada saat cairan masih panas, kecuali bahan
yang mengandung bahan yang mudah menguap.

Gambar 2. Alat infundasi: A. Panci berisi bahan air; B. Tangas air


(Sumber : Anonim, 1986).

Infus dibuat dengan cara mencampur simplisia dengan derajat halus


yang sesuai dalam panci dengan air secukupnya, panaskan di atas tangas
air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90C sambil berkalikali diaduk. Serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air panas
secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang
dikehendaki.

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

II.3

Teknik Pemisahan Senyawa


Isolasi senyawa dari bahan alam menjadi bagian yang murni

merupakan tahap penting dalam penelitian mengenai produk bahan alam,


yang cukup sulit, dan membutuhkan waktu. Hal itu dapat dimulai dengan
proses ekstraksi, yang diikuti dengan variasi teknik pemisahan. Salah satu
teknik pemisahan adalah metode partisi menggunakan pelarut. Metode ini
baik digunakan pada pemisahan berbagai jenis bahan alam. Pada
kenyataannya, sebelum pengenalan teknik kromatografi, metode partisi
dan teknik kristalisasi lebih sering digunakan untuk memisahkan dan
memurnikan bahan alam. Teknik pemisahan dengan metode partisi ini,
umumnya menggunakan dua jenis pelarut yang tidak bercampur di dalam
corong pisah. Kemudian senyawa-senyawa akan terdistribusi ke dalam
dua pelarut tersebut berdasarkan perbedaan koefisien partisinya. Metode
ini relatif lebih mudah, dan lebih efektif dilakukan sebagai tahap awal pada
pemisahan estrak bahan alam yang mengandung banyak senyawa (12).
II.3.1 Partisi menggunakan pelarut yang tidak dapat bercampur
(Ekstraksi Cair-Cair)
Ekstrak awal bahan alam, umumnya mengandung campuran dari
beberapa senyawa dengan berbagai sifat fisika dan kimia, sehingga dapat
dikelompokkan, dan diprediksi jenis senyawa yang mungkin ada. Untuk
partisi ekstrak tanaman, biasanya digunakan pelarut dengan tingkat
kepolaran yang lebih tinggi. Contohnya, untuk pelarut pertama digunakan
heksan, dietileter, kloroform, maka pelarut kedua digunakan yang lebih

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

polar, seperti methanol, atau yang lainnya, sesuai dengan sifat fisika dan
kimia senyawa target (12).
II.3.2 Partisi menggunakan pelarut yang dapat bercampur (Ekstraksi
Fase Padat)
Partisi menggunakan pelarut yang dapat bercampur, kadang
digunakan pada partisi yang menggunakan air. Analit dibagi menjadi fase
padat, dan cair. Senyawa-senyawa yang terdapat pada fase padat, dielusi
dengan pelarut yang tepat, atau campuran pelarut dengan afinitas yang
bagus terhadap analit (12,14).
II.4

Kromatografi lapis Tipis (Thin Layer Chromatography)


Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan suatu teknik pemisahan

dengan menggunakan adsorben (fase stasioner) berupa lapisan tipis


seragam yang disalutkan pada permukaan bidang datar berupa lempeng
kaca, pelat aluminium, atau pelat plastik dan pengembangan kromatografi
terjadi ketika fase gerak tertapis melewati adsorben (15,16,17).
Beberapa keuntungan dari KLT adalah (16):
a. Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis.
b. Deteksi melalui reaksi kimia dengan menggunakan reagen penampak
dapat dilakukan, yang berarti bahwa kurang lebih setiap jenis senyawa
dapat dideteksi jika menggunakan reagen deteksi yang sesuai.
c. Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi
warna,

fluoresensi,

ultaraviolet.

atau

dengan

radiasi

menggunakan

sinar

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

d. Dapat dilakukan elusi secara menaik, menurun, atau dengan cara


elusi dua dimensi
e. Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang
akan ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak.
KLT digunakan secara luas untuk analisis solut-solut organik
terutama dalam bidang biokimia, farmasi, klinis, forensik, baik untuk
analisis kualitatif dengan cara membandingkan nilai Rf solut dengan nilai
Rf senyawa baku atau untuk analisis kualitatif. Penggunaan umum KLT
adalah untuk menentukan banyaknya komponen dalam campuran,
identifikasi senyawa, memantau berjalannya suatu reaksi, menentukan
efektifitas pemurnian, menentukan kondisi yang sesuai untuk kromatografi
kolom, serta untuk memantau kromatografi kolom, melakukan screening
sampel untuk obat (16).
Jarak pengembangan senyawa pada kromatogram biasanya
dinyatakan dengan angka Rf (Retardation factor) .Nilai Rf didefinisikan
sebagai perbandingan antara jarak yang ditempuh senyawa dengan jarak
yang ditempuh pelarut pengembang.
Rf =

Jarak titik pusat bercak dari titik awal


Jarak yang ditempuh eluen dari titik awal (16)

II.4.1 Fase Diam pada Kromatografi lapis Tipis (Thin Layer


Chromatography)
Fase diam yang digunakan pada KLT merupakan penjerap
berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-30m. semakin kecil

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

ukuran rata-rata partikel fase diam, dan semakin sempit kisaran ukuran
fase diam, maka semakin baik kinerja KLT dalam hal efisiensinya dan
resolusinya (16). Adapun jenis-jenis fase diam yang biasa digunakan
dapat dilihat pada table berikut (17):
Jenis Adsorben
Aluminium Oksida

Mekanisme sorpsi
Adsorpsi

Penggunaan
Alkaloid,

steroid,

terpen,

alifatik,

senyawa aromatis.
Selulosa
Selulosa tanpa modifikasi

Partisi

Karbohidrat,

asam

amino,

asam

dan

karboksilat lainnya.
Selulosa Asetilasi

Bergantung

pada Antraquinon,

kandungan asetil transisi antioksidan,

aromatik

dari fase normal ke fase polisiklik,

Selulosa Penukar Ion

asam

terbalik

karboksilat, nitrofenol.

Penukar anion

Asam amino, peptide,


enzim, asam nukleat.

Selulosa DEAE/ Selulosa Penukar ion

Mono-

dan

HR

oligonukleotida

pada

hidrolisis asam nukleat.


Ionex Penukar ion

Penukar kation dan anion

Asam

amino,

asam

nukleat teridrolisis, gula


amin,

antibiotik,

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

inorganik fosfat.
Kieselguhr

Partisi pada fase terbalik

Aflatoxin,

herbisida,

tetrasiklin.
Polyamide

Partisi

Senyawa Fenolik dan


polifenol.

Silika
Silika gel

Fase Normal

Diaplikasikan

pada

semua jenis lempeng


KLT.
Silika gel 60

Aflatoksin.

Silika gel G

Surfaktan, lipid.

Modifikasi dengan CN

Fase normal dan fase Pestisida, fenol, steroid.


terbalik.

Modifikasi dengan DIOL


Modifikasi dengan amino

Steroid, hormon.
Penukar

ion,

fase Nukleotida,

normal, dan fase terbalik.

pestisida,

fenol, steroid, vitamin,


xantin.

Lempeng RP
RP-2, RP-8, RP-18

Senyawa

nonpolar

(lipid, aromatis)

II.5.

Isolasi Senyawa
Faktor yang perlu diperhatikan sebelum melakukan isolasi adalah

sifat dari senyawa target yang ada dalam ekstrak awal atau dalam fraksi.
Sifat umum molekul yang dapat membantu proses isolasi yaitu kelarutan
(hidrofilisitas atau hidrofobisitas), sifat asam-basa, muatan, stabilitas, dan

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

ukuran molekul. Sifat ekstrak juga dapat membantu dalam pemilihan


metode isolasi yang tepat. Misalnya, suatu ekstrak metanol atau fraksi dari
ektrak ini mengandung senyawa polar lebih baik melakukan reversedphase HPLC (RP-HPLC). Berbagai sifat fisika dari ekstrak juga dapat
ditentukan dengan beberapa percobaan berikut (12):
1. Hidrofobisitas atau hidrofilisitas: suatu indikasi polaritas ekstrak sesuai
dengan senyawa yang ada dalam ekstrak dapat dideterminasi dengan
mengeringkan ekstrak dari campuran dan mencoba melarutkannya
kembali dalam variasi pelarut pada beberapa tingkatan polaritas.
2. Sifat asam-basa: membawa partisi dalam pelarut air pada range pH,
khususnya 3, 7, dan 11 dapat membantu determinasi sifat asam-basa
dari senyawa dalam ekstrak.
3. Muatan: informasi nilai muatan dari senyawa dapat diiperoleh dengan
pengujian pada sejumlah kondisi, efek dari penambahan beberapa
penukar ion ke dalam campuran. Informasi ini dapat digunakan untuk
merancang metode isolasi yang melibatkan kromatografi penukar ion.
4. Stabilitas terhadap panas: tes stabilitas terhadap panas dilakukan
dengan menginkubasi sampel pada suhu ~90 selama 11 menit dalam
penangas air diikuti dengan pengujian terhadap senyawa yang tidak
terpengaruh.
5. Ukuran: tabung dialysis dapat digunakan untuk pengujian adanya
makromolekul seperti protein yang ada dalam ekstrak.

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

Metode kromatografi yang digunakan pada isolasi berbagai jenis


senyawa alami dapat dikelompokkan ke dalam 2 kategori yakni klasik dan
modern (12).
Metode klasik antara lain:
1. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
2. Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)
3. Kromatografi Kolom (KK)
4. Flash Chromatography (FC)
Metode modern antara lain:
1. Kromatogarafi Lapis Tipis Kinerja Tinggi (KLTKT/HPTLC)
2. Multiflash Chromatography
3. Kromatografi Cair Vakum (KCV)
4. Kromatotron
5. Solid-phase Extraction
6. Droplet Countercurrent Chromatography (DCCC)
7. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT/HPLC)
8. Hyphenated techniques (HPLC-PDA, LC-MS, LC-NMR, LC-MS-NMR)
II.6

Metode Identifikasi Senyawa


Pada identifkasi suatu kandungan bahan alam, setelah kandungan

itu diisolasi dan dimurnikan, pertama-tama harus kita tentukan dahulu


golongannya kemudian barulah ditentukan jenis senyawa dalam golongan
tersebut. Golongan senyawa biasanya dapat ditentukan dengan uji warna,
penentuan kelarutan, bilangan Rf, dan ciri spektrum UV.

Identifikasi

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

lengkap dalam golongan senyawa bergantung pada pengukuran sifat atau


ciri lain, yang kemudian dibandingkan dengan data dalam pustaka. Sifat
yang diukur termasuk titik leleh (untuk senyawa padat), titik didih (untuk
cairan), putaran optik (untuk senyawa aktif optik), dan Rf atau HRf (pada
kondisi baku). Tetapi data mengenai senyawa bahan alam yang sama
ialah ciri spektrumnya termasuk pengukuran spektrum UV, IR, resonansi
magnet inti (RMI), dan spektrum massa (SM) (18).
II.7

Senyawa Polisakarida
Polisakarida merupakan polimer monosakarida, yang mempunyai

lebih dari sepuluh unit monosakarida. Pada umumnya polisakarida


mempunyai molekul besar dan lebih kompleks daripada monosakarida
dan oligosakarida. Polisakarida dapat dihidrolisis menjadi banyak molekull
monosakarida. Polisakarida yang terdiri atas satu macam monosakarida
saja disebut homopolisakarida atau homoglikan (contohnya kanji, glikogen
dan selulosa), sedangkan yang mengandung senyawa lain atau terdiri dari
berbagai

jenis

gula

disebut

heteropolisakarida

atau

heteroglikan

(contohnya heparin) (19).


Polisakarida pada tumbuhan dikelompokkan menjadi tiga golongan
utama berdasarkan perbedaan fungsinya.
1. Polisakarida struktur
Pada umumnya, polisakarida struktur berupa senyawa rantai lurus,
yang berperan pada stabilitas mekanik untuk sel, organ, dan organisme.
Polisakarida struktural adalah senyawa kimia yang paling utama yang

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

terdapat pada jaringn tumbuhan, karena merupakan unsur pokok dari


dinding sel tumbuhan yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa, dan pektin.
Polisakarida tersebut dapat dibedakan atas dasar cara ekstraksinya:
pektin (air), hemiselulosa (larutan alkali), selulosa (residu setelah ekstraksi
pektin dan hemiselulosa) (6,14).
Pektin merupakan golongan kompleks dari polisakarida asam, yang
terdiri dari asam galaktouronat, rhamnosa, arabinosa, dan galaktosa
sebagai

monosakarida

utamanya.

Homogalaktouronan,

rhamnogalaktouronan, arabinan, galaktan, dan arabinogalaktan adalah


contoh polisakarida pektin (19).
Hemiselulosa merupakan jenis polisakarida yang membentuk
jaringan dengan selulosa. Xylans, xyloglukan, glukomannans, dan
galaktoglukomannan, merupakan contoh hemiselulosa (19).
Selulosa merupakan homoglikan dari glukosa, yang membentuk
rantai lurus. Selulosa sangat stabil secara mekanik, dan sangat tahan
teradap reaksi kimia, dan hidrolisis enzim (6,19).
2. Polisakarida cadangan
Polisakarida cadangan merupakan karbohidrat simpanan, yang
berperan untuk melepaskan monosakarida jika diperlukan. Polisakarida
cadangan ditemukan di umbi-umbian dan biji tanaman. Pati, mannan, dan
xyloglukans adalah polisakarida yang paling umum ditemukan. Pati adalah
-glukan yang dibentuk oleh dua polimer, amilosa dan amilopektin.
Amilosa terdiri dari 200-300 unit glukosa, sedangkan amilopektin lebih dari

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

1000 unit glukosa (15,19). Berdasarkan sifatnya, polisakarida cadangan


kurang aktif, dan disimpan dalam sel dalam jumlah yang banyak.
Mannans adalah heterogen polisakarida dibagi menjadi empat
kelompok:

mannans

murni,

glucomannans,

galactomannans,

dan

galactoglucomannans (14).
3. Polisakarida pengikat air (Gom dan mucilago)
Berperan untuk mencegah agar sel dan jaringan tidak mongering.
Gom dan musilago keduanya adalah polimer yang mengandung lebih dari
dari satu jenis monosakarida, tetapi biasanya ada asam uronat. Musilago
terdapat pada biji, dan kuncup muda. Sedangkan gom dibentuk sebagai
tanggapan terhadap luka, dan ditemukan sebagai eksudat pada batang
pohon (6).
II.8

Identifikasi Senyawa Polisakarida


Meskipun ada banyak reagen umum, sangat beruntung bahwa

berbagai jenis gula (pentosa, heksosa, amino gula, deoxysugars, asam


uronic) dapat memberikan respon yang berbeda untuk tes warna.
Absorbansi dan konsentrasi karbohidrat dapat ditentukan setelah
pengujian terhadap senyawa murni yang diketahui. Metode ini berlaku
untuk monosakarida dan metil eternya, dan biasanya didasarkan pada
pemanasan dengan mineral asam dengan adanya salah satu dari
berbagai macam amina, asam amino, aldehida, fenol, dan berbagai
senyawa organik (20).

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

Identifikasi senyawa polisakrida dengan KLT, tidak dapat dilakukan.


Metode tersebut hanya dapat digunakan untuk menentukan jenis
monosakarida

penyusunnya,

setelah

hidrolisis

(14).

Karbohidrat

diidentifikasi oleh ada atau tidak adanya monosakarida tertentu dalam


karbohidrat. Sebelum penyiapan KLT, karbohidrat dipecah menjadi
monosakarida dengan hidrolisis dengan asam klorida encer. Setelah KLT,
gula tunggal dapat divisualisasikan dengan menyemprotkan plat dengan
reagen deteksi (21).
Inframerah

spektroskopi

(IR,

dekat-inframerah

(NIR),

dan

Transformasi Fourier inframerah (FTIR) secara universal diterapkan pada


karakterisasi karbohidrat bersama dengan zat organik dan anorganik pada
umumnya,

dan

analisis

statistik

modern

data

telah

diperluas

kegunaannya. Pada tingkat yang lebih tinggi, metode analisis dengan


spektroskopi modern, yang dominan, di antaranya adalah spektroskopi
NMR dan MS, yang terakhir yang biasanya ditambah dengan kromatografi
pemisahan, GC dan HPLC mendominasi. Hal ini dimungkinkan oleh
prosedur NMR untuk mengidentifikasi dan mengukur gula yang terdapat
pada jaringan buah. Saat ini, MS dengan berbagai jenisnya, telah luas
digunakan untuk analisis karbohidrat (20).

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN

III.1

Penyiapan Alat dan Bahan Penelitian


Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah bejana

pengembang (Camag), FT-IR (Bruker), lampu UV (254 nm dan 365 nm),


pH meter (Sartorius), sentrifuge (Sorvall RC 5B Plus), seperangkat alat
infundasi, timbangan analitik (Ohaus).
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bunga
Kasumba turate (Carthamus tinctorius Linn.), aquades, asam sulfat, asam
klorida, asam asetat glasial, aseton, asetonitril, etil asetat, etanol 70% dan
96%, iodium, lempeng KLT selulosa. natrium hidroksida, reagen Molisch,
dan reagen Seliwanoff.
III.2

Pengambilan dan Penyiapan Sampel


Sampel bunga kasumba turate (Carthamus tinctorius L.), diambil dari Kecamatan

Amali, Kabupaten Bone. Bunga kasumba turate (Carthamus tinctorius L.) yang diperoleh
sudah dalam bentuk kering, selanjutnya siap diekstraksi.

III.3

Ekstraksi Sampel
Bunga kasumba turate sebanyak 200 g dibasahi dengan 800 ml air

suling, direndam beberapa saat. Kemudian ditambahkan lagi air suling


sebanyak 2000 ml, dan dipanaskan. Setelah suhu mencapai 90C
dipanaskan selama 15 menit, lalu diangkat dan diserkai selagi masih

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

panas. Ekstrak hasil infundasi, kemudian disentrifugasi, supernatannya


diambil lalu dilanjutkan ke tahap selanjutnya.
III.4

Partisi Ekstrak
Ekstrak yang diperoleh dari hasil infundasi kemudian ditambahkan

dengan etanol 70%, empat kali bobot ekstrak, dan didiamkan dalam
lemari pendingin selama satu malam. Ekstrak kemudian disentrifugasi
dengan kecepatan 4000 rpm selama 20 menit, lalu endapannya diambil
dan dikumpulkan (5).
Endapan yang diperoleh dilarutkan dengan aquades, kemudian
diatur pHnya hingga pH 3 dengan HCl. Bagian yang tidak larut dipisahkan
dengan sentrifuge, kemudian supernatannya diatur kembali pHnya hingga
pH 7 dengan NaOH. Senyawa aktif kemudian dikumpulkan dengan
pengendapan menggunakan etanol 70%. Endapan etanol dikeringkan,
kemudian dilanjutkan ke tahap hidrolisis (5).
III.5

Hidrolisis Senyawa Polisakarida


Endapan kering yang diperoleh, ditimbang kemudian dimasukkan

ke dalam Erlenmeyer bertutup rapat, ditambahkan HCl 0,25 N, diletakkan


dalam oven bersuhu 100C selama 3 sampai 5 jam. Tabung dikeluarkan
dari oven, didinginkan hingga suhu ruangan. Filtrat diambil, kemudian
ditambahkan

etanol

absolute,

untuk

Endapan diambil, lalu diuapkan (20,22).

mengendapkan

sakaridanya.

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

III.6

Identifikasi Senyawa dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

dan Uji Kualitatif


Identifikasi senyawa polisakarida dilakukan dengan kromatogarafi
lapis tipis pada lempeng selulosa dengan fase gerak yang berbeda.
Setelah itu, digunakan pereaksi semprot, untuk identifikasi senyawa.
Untuk uji kualitatif, digunakan pereaksi Seliwanoff, Molisch, dan iodium.
III.7

Karakterisasi Isolat
Isolat

yang

diperoleh

kemudian

dikarakterisasi

dengan

menggunakan FT-IR.
III.8

Pembahasan Hasil Penelitian


Pembahasan dilakukan berdasarkan hasil yang diperoleh dari

penelitian.
III.9

Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan ditarik berdasarkan pembahasan hasil penelitian.

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1

Hasil Penelitian

IV.1.1 Hasil Ekstraksi dan Partisi


Dari 200 gram bunga kering Kasumba turate yang diekstraksi
dengan metode infundasi lalu dipartisi, diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil ekstraksi dan partisi bunga Kasumba turate.

Bobot Simplisia

Hasil Ekstraksi

Hasil Partisi

200 gram

2L

0.3622 gram

IV.1.2 Hasil Hidrolisis


Hidrolisis senyawa dari hasil partisi, menggunakan HCl 0,25 N,
sehingga

diperoleh

isolat

yang

kemudian

diidentifikasi

dengan

menggunakan kromatografi lapis tipis multi eluen (gambar 2).


Tabel 2. Bobot isolat yang diperoleh.

Bobot Hasil Partisi

Bobot Isolat

0.3622 gram

0.0705 gram

IV.1.3 Uji Identifikasi Hasil Hidrolisis


Tabel 3. Uji identifikasi hasil hidrolisis

Jenis Uji
Uji Seliwanoff

Hasil Pengamatan
Larutan berwarna bening

Uji Molish

Larutan berwarna ungu

Keterangan
Fruktosa akan membentuk
warna merah
Untuk semua jenis
karbohidrat, berwarna
ungu

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

Uji Iodium

Berwarna coklat

Amilosa berwarna biru,


amilopektin berwarna
merah coklat. Dekstrin dan
glikogen berwarna coklat.

IV.1.4 Hasil Karakterisasi dengan FT-IR


Tabel 4. Data spektrum FTIR

Bilangan gelombang
(cm-1)
3344
2946
2836
1741
1647
1546
1453
1425
1158
1105
1024
IV.2

Bentuk pita

Intensitas

lebar
tajam
tajam
tajam
tajam
tajam
lebar
lebar
tajam
tajam
tajam

medium
lemah
lemah
lemah
lemah
lemah
lemah
lemah
lemah
lemah
kuat

Kemungkinan gugus
fungsi
gugus -OH
gugus -C-H
gugus -C-H
gugus -C=O
gugus -C=O
gugus -C=O
gugus -C-H
gugus -C-H
gugus -C-Ogugus -C-Ogugus -C-O-

Pembahasan
Saat ini, peranan polisakarida dalam bidang biomedik, farmasetikal,

dan berbagai produk kesehatan, menjadi sangat penting. Oleh sebab itu,
berbagai penelitian mengenai jenis polisakarida dan pemanfaatannya
semakin meningkat. Karbohidrat, dalam hal ini polisakarida, merupakan
senyawa yang sulit dipisahkan satu sama lainnya, karena memiliki jumlah
atom karbon, ukuran molekul yang sangat besar dan berbeda-beda.
Dalam hal ini, metode seperti kromatografi dan pengendapan dengan
sentrifugasi biasa digunakan (23).
Pada

tahap

awal,

dilakukan

ekstraksi

dengan

infundasi,

dimaksudkan untuk memisahkan senyawa target polisakarida yang

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

bersifat polar, dari senyawa lain yang terdapat pada sampel. Pada ekstrak
cair hasil infundasi, dilakukan tahap pengendapan senyawa polisakarida
menggunakan etanol 70%. Hal ini didasarkan oleh sifat senyawa
polisakarida yang memiliki tingkat kelarutan yang sangat rendah terhadap
etanol, sehingga polisakarida mengendap, dan hanya senyawa-senyawa
lain dengan berat molekul yang rendah yang terlarut (23). Endapan
polisakarida, dipisahkan dari filtratnya menggunakan sentrifuge. Endapan
yang diperoleh, dilarutkan kemudian diatur pHnya hingga pH 3, untuk
membebaskan

protein

yang

berikatan

dengan

polisakarida,

yang

kemudian dinetralkan kembali dan diendapkan dengan etanol (24).


Analisis kromatografi untuk sampel yang mengandung campuran
gula, merupakan hal penting dalam suatu laboratorium menyangkut
karbohidrat, baik itu gula maupun karbohidrat dengan berat molekul yang
tinggi (polisakarida atau glikokonjugasi dan produk depolimerisasinya).
Kromatografi Gas (KG), Kromatografi Cair (KC), Kromatografi Penukar
Ion, Kromatografi Eksklusi Ukuran, dan Spektrofotometri Massa (MS)
merupakan teknik analisis gula yang umum digunakan (20).
Analisis

kualitatif

dan

kuantitatif

dari

karbohidrat

dengan

menggunakan KLT, merupakan metode yang lebih cepat, mudah dan


lebih murah dibanding metode sebelumnya, seperti HPLC dan KG.
Namun, polisakarida tidak dapat diidentifikasi menggunakan KLT.
Walaupun

demikian,

monosakarida

penyusun

ditentukan dengan KLT, setelah proses hidrolisis (14).

polisakarida

dapat

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

Dilakukan

analisis

kualitatif

terhadap

senyawa

polisakarida

menggunakan KLT dan pereaksi semprot, namun, tidak diperoleh hasil


yang mendukung. Hal ini diperkuat oleh hasil penelusuran dari beberapa
pustaka yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa identifikasi senyawa
polisakarida tidak dapat dilakukan dengan KLT. Oleh sebab itu, dilakukan
hidrolisis senyawa polisakarida menggunakan asam, untuk memecah
senyawa polisakarida menjadi molekul yang lebih sederhana, seperti
monosakarida sehingga dapat dilakukan uji identifikasinya.
Pada hidrolisis asam, biasanya digunakan larutan asam encer,
dimana kecepatan reaksinya sebanding dengan konsentrasi asam. Pada
umumnya, komponen terlarut yang terdapat pada hasil hidrolisis asam
polisakarida

adalah

xilosa,

glukosa,

selobiosa,

furfuraldehida,

hidroksimetilfurfural, dan asam-asam organik seperti asam format, asam


levulinat, serta asam asetat, (21,25).
Dari hasil uji identifikasi senyawa hasil hidrolisis (Gambar 3),
diperoleh bahwa hasil uji seliwanoff menyatakan bahwa senyawa hasil
hidrolisis tidak mengandung senyawa fruktosa. Uji molisch menyatakan
bahwa isolat merupakan senyawa karbohidrat, dan untuk uji iodium, hasil
uji menunjukkan warna coklat, yang mengarah pada senyawa dekstrin,
yang merupakan hasil pemecahan dari polisakarida. Namun hasil positif
untuk uji iodium masih memerlukan uji yang lebih spesifik.
Isolat yang diperoleh dari hasil hidrolisis diidentifikasi dengan KLT.
Karbohidrat merupakan senyawa yang sangat hidrofilik, sehingga dapat

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

berikatan kuat pada lempeng KLT, seperti silika gel, alumina, dan
selulosa. Oleh sebab itu, dibutuhkan fase gerak yang sangat polar pada
pengembangan KLT (15). KLT dengan lempeng selulosa efektif untuk
memisahkan campuran monosakarida, termasuk amino dan gula asam.
Meskipun demikian, KLT multi eluen atau KLT dua dimensi masih tetap
dibutuhkan untuk mempertegas hasil isolasi, yang kemudian dideteksi
dengan pereaksi golongan.
Berdasarkan
digunakan

penelusuran

beberapa

jenis

pustaka,

perbandingan

pada
eluen

KLT

multi

untuk

eluen

senyawa

polisakarida dan derivatnya seperti: etil asetat:n-propanol:asam asetat:air


(4:2:2:1), Asetonitril:Air (3:1), aseton:air (3:1), Etil asetat:Etanol:Air (2:2:1)
dan metanol:air (2:1).
Interpretasi data spektrum IR (Gambar 5) menunjukkan adanya pita
serapan yang lebar pada bilangan gelombang 3344 cm-1, diduga
merupakan gugus -OH (hidroksi), yang biasanya muncul pada daerah
bilangan gelombang 3600-3200 cm-1. Serapan pada 2946 cm-1 dan
2836 cm-1 yang tajam dan lemah diduga sebagai gugus -CH alifatik yang
biasa terdapat pada daerah serapan 3200-2700 cm-1, serta adanya
serapan pada daerah lekukan dengan bilangan gelombang 1453 cm-1 dan
1425 cm-1 yang menunjukkan gugus -CH, yang biasa muncul pada daerah
serapan 1470-1430 cm-1. Serapan yang muncul pada bilangan gelombang
1741, 1647, dan 1546 cm-1, diduga merupakan gugus karbonil (-C=O).
sedangkan pada daerah lekukan, terdapat serapan yang tajam pada

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

bilangan gelombang 1158, 1105, dan 1024 cm-1 yang diduga sebagai
gugus -C-O- yang biasa muncul pada bilangan gelombang 1300-1000
cm-1. Gugus karbonil yang muncul pada bilangan gelombang 1741 cm-1,
diduga berasal dari ester, yang biasa muncul pada bilangan gelombang
1750-1725 cm-1. Hal ini ditunjukkan oleh adanya gugus -C-O- di daerah
lekukan pada bilangan gelombang 10241 cm-1 yang tajam dan kuat,
dimana serapan pada daerah 1500-600 cm-1 merupakan daerah finger
print,

yang

dapat

memberikan

informasi

polisakarida dalam campuran senyawa (26,27).

mengenai

keberadaan

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

BAB V
PENUTUP

V.1

Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh isolat sebanyak

0.0705 gram. Berdasarkan uji identifikasi senyawa gula, dan karakterisasi


senyawa dengan FT-IR yang menunjukkan bahwa isolat mengandung
gugus -CH (alifatik), -OH (hidroksi), -C=O (karbonil), dan -C-O- (ester),
senyawa hasil isolasi diduga merupakan polisakarida.
V.2

Saran
Perlu dilakukan analisis lebih lanjut mengenai senyawa hasil

polisakarida hasil isolasi dari ekstrak air bunga kasumba turate


(Carthamus tinc.) dengan menggunakan teknik spektroskopi seperti NMR,
dan GC/LC-MS.

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

DAFTAR PUSTAKA
1. Longe, JL. The Gale Encyclopedia of Alternative Medicine Vol.4. 2nd
ed. Thomson Gale. New York. 2005. p. 19. Available as PDF file.
2. Syukur R, Usmar, dan Fatmawati A. Uji Aktivitas Imunomudulator
Kasumba Turate (Carthamus tinctorius.Linn) sebagai Upaya
Pembuatan Sediaan Terstandar Menuju Prototipe Skala Industri Kecil.
Majalah Farmasi dan Farmakologi. Vol.14. No.1. 2010. hal. 17-20.
3. Chengaiah B, Mallikarjuna R, Mahesh KK, Alagusundaram M,
Madusudhana C. Medicinal Importance Of Natural Dyes-A Review.
International Journal of PharmTech Research Vol.2 No.1. 2010. pp.
144-154.
4. Zhou F, Zhao M, and Tu PF. Simultaneous determination of four
nucleosides in Carthamus tinctorius L. and Safflower injection using
highperformance liquid chromatography. Journal of Chinese
Pharmaceutical Sciences. 2009. pp. 326-330.
5. Wakabayashi T, Hirokawa S, Yamauchi N, Kataoka T, Woo JT, and
Nagai K. Immunomodulating activities of polysaccharide fractions from
dried safflower petals. Cytotechnology 25. 1997. pp. 205-211.
6. Robinson T. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Edisi VI.
Terjemahan oleh Padmawinata K. Penerbit ITB.1995. hal. 27.
7. Khare, CP. Indian Medical Plants. Springer. NewDelhi. 2007. p.124.
Available as PDF file.
8. Van der Vosen, H.A.M., Umali, B.E. Plant Resources of South-East
Asia: Vegetables oils and fats. Volume 14. Backhuys Publishers.
Leiden. 2001. pp.70-72.
9. Sastroamidjojo, A.S. Obat Asli Indonesia. Penerbit Dian Rakyat.
Jakarta. 1997. hal. 234.
10. World Health Organization. WHO Monographs On Selected Medicinal
Plants. Vol. 3. WHO Press. Spain. 2007. p.116. Available as PDF file.
11. Handa S. An Overview of Extraction Techniques for Medicinal and
Aromatic Plants. In: Handa S, Khanuja S, Longo G, Rakesh D, editors.
Extraction Technologies for Medicinal and Aromatic Plants.
International Centre For Science And High Technology. Trieste. 2008.
p.22.
12. Sarker SD, Latif Z, and Gray AI. Natural products isolation. In: Sarker
SD, Latif Z, and Gray AI, editors. Natural Products Isolation. 2nd ed.
Totowa (New Jersey). Humana Press Inc. 2006. pp.6-10, 18, 272-273.
13. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Sediaan Galenik.
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Jakarta. 1986.
hal.8-10.

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

14. Wozniak KS, Widelski L, Glowniak K. Plant Materials in Modern


Pharmacy and Methods of Their Investigations. In: Hajnos MW,
Sherma J, and Kowalska T, editors. Thin layer chromatography in
phytochemistry. CRC Press. USA. 2008. p.28.
15. Bassett, J, Denney RC, Jeffery GF, & Mendham J. Buku Ajar Vogel
Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Edisi 4. Terjemahan oleh
Pudjaatmaka AH & Setiono L. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta. 1994. hal. 228.
16. Gandjar, Ibnu Gholib, & Abdul Rohman. Kimia Farmasi Analisis.
Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2008. hal. 353, 366.
17. Deinstrop, Elke Hahn. Applied Thin-Layer Chromatography. 2nd ed.
Weinheim: Wiley-VCA. 2007. pp. 22-23. Available as PDF file.
18. Harbone JB. Metode Fitokimia. Terjemahan oleh Padmawinata K, dan
Soediro I. Penerbit ITB. Bandung. 1987. hal. 19-20.
19. Koolman J, Roehm KH. Color Atlas of Biochemistry. 2nd edition.
Thieme. New York. 2005. pp. 40-42. Available as PDF file.
20. Worsfold P, Townshend A, Poole C. Encyclopedia of Analytical
Science. Germany. pp. 400-401,441. Available as PDF file.
21. Striegel ME, Hill J. Thin-Layer Chromatography for Binding Media
Analysis. The Getty Conservation Institute. USA. 1996. p. 49.
22. Manullang M dan Yohani V. Ekstraksi dan Analisis Polisakarida Buah
Sukun (Artocarpus altilis). Teknik dan Analisis Pangan. Vol VI no.3.
1995.
23. Cooke M. Encyclopedia of Separation Science. Academic Press. USA.
pp. 2235, 3921. Available as PDF file.
24. Chihara G, Hamuro J, Yukiko Y, Maeda. Fractination and Purification
of Polysaccharides with Marked Antitumor Activity, Especially
Lentinan, from Lentinus edodes (Berk.) Sing. (An Edible Mushroom).
Cancer Research.Vol.30. National Cancer Center Research Institute.
Japan. 2012. pp. 2776-2781.
25. Mastuti E, Setyawardhani. Pengaruh Variasi Temperatur dan
Konsentrasi Katalis pada Kinetika Reaksi Hidrolisis Tepung Kulit
Ketela Pohon. Ekuilibrium. Vol. 9. Universitas Sebelas Maret. 2010.
hal. 23-27.
26. Silverstein RM, Webster FX, Kiemle DJ. Spectrometric Identification of
Organic Compounds. 7th ed. New York: John Wiley & Sons Inc. 2005.
pp:80-100.
27. Coates J. Interpretation of Infrared Spectra, A Practical Approach.
Encyclop[edia of Analytical Chemistry. USA. 2000.

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

LAMPIRAN I
Skema Kerja Isolasi dan Identifikasi Senyawa Polisakarida secara
Kualitatif dari Ekstrak Air Bunga Kasumba Turate (Carthamus
tinctorius Linn.) asal Kabupaten Bone
Sampel Mahkota Bunga Kasumba Turate (Carthamus tinctorius Linn.)
Ekstraksi dengan Infundasi

Ekstrak Cair
Sentrifugasi

Supernatan
Pengendapan dengan etanol 70%,
Sentrifugasi

Endapan
Diatur pH 3 dengan HCl,

sentrifugasi
Supernatan
Diatur pH 7 dengan NaOH,

sentrifugasi
Endapan
Hidrolisis dengan HCl
selama 5 jam
Hasil Hidrolisis
Pengendapan dengan etanol PA,
Sentrifugasi

Isolat
Identifikasi
FT-IR

KLT

Analisi Hasil

Pembahasan

Kesimpulan

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

LAMPIRAN II
GAMBAR ALAT YANG DIGUNAKAN

Gambar 1. Spektrofotometer FTIR

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

LAMPIRAN III
GAMBAR PELAKSANAAN PENELITIAN

Gambar 2. Profil KLT multi eluen senyawa hasil isolasi dari ekstrak air bunga kasumba
turate (Carthamus tinctorius L.)

Keterangan:
SH
: Supernatan hasil hidrolisis
EH
: endapan hasil hidrolisis
Fase diam : lempeng Selulosa

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

Uji Iodium
Uji Molisch
Uji Seliwanoff
Gambar 3. Uji identifikasi hasil hidrolisis senyawa hasil isolasi dari ekstrak air bunga
kasumba turate (Carthamus tinctorius L.).

Gambar 4. Hasil isolasi dari ekstrak air bunga kasumba turate (Carthamus tinctorius L.).

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

LAMPIRAN IV
GAMBAR TANAMAN

Gambar 6. Gambar Tanaman Bunga Kasumba Turate (Carthamus tinctorius L.)

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re

XC

hange E

O
W
U
B

ac

.c

tr

om

to
k
lic
C

.c

om

k
lic
C

N
Y
U
B
to

re

k e r- s o ft w a

ac

ww

ww

tr

di

F-

or

O
W

di

PD

hange E

XC

or

PD

F-

k e r- s o ft w a

re