Anda di halaman 1dari 15

SIFAT ASAM BASA ASAM AMINO

LAPORAN
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Praktikum Biokimia
Yang dibimbing oleh Bapak Muntholib, S. Pd., M. Si.

Oleh
Kelompok 1
1.
2.
3.
4.

Rodhiallah Mertiarti
Umi Nur Khoirum M.
Wilda Muhimmatun Nisa
Yustin Yudistia Hariyanto

140351604995
140351601816
140351605129
140351604759

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
Oktober 2016

Hari, Tanggal Percobaan: Jumat, 7 Oktober 2016


A. TUJUAN
1. Dapat mengetahui pK asam amino alamina.
2. Dapat menentukan sifat asam basa suatu asam amino dengan cara titrasi.
3. Dapat menentukan pK gugus tertentu yang terdapat pada suatu asam
amino.
B. DASAR TEORI
Asam amino ialah asam karboksilat yang mempunyai gugus amino.
Asam amino yang terdapat sebagai komponen protein mempunyai gugus
NH2 pada atom karbon

dari posisi gugus COOH (Poedjiadi & Supriyanti,

2012).
Rumus umum untuk asam amino ialah
R CH COOH
|
NH2
Semua asam amino (20) yang ditemukan pada protein mempunyai ciri
sama, gugus karboksil dan gugus amino diikat pada atom karbon yang sama.
Masing-masing berbeda satu dengan yang lain pada rantai sampingnya, atau
gugus R, yang bervariasi dalam struktur, ukuran, muatan listrik dan kelarutan
dalam air (Lehninger & Thenawidjaja, 1982).
Pada umumnya asam amino larut dalam air dan tidak larut dalam
pelarut organik non polar seperti eter, aseton, dan kloroform. Asam amino
memiliki sifat sebagai elektrolit. Apabila asam amino larut dalam air, gugus
karboksilat akan melepaskan ion H+, sedangkan gugus amina akan menerima
ion H+, sebagai berikut.
-COOH -COO- + H+
-NH2 + H+ -NH3+
Oleh adanya kedua gugus tersebut asam amino dalam larutan dapat
membentuk ion yang bermuatan positif dan juga bermuatan negatif
(zwitterion) atau ion amfoter. Keadaan ion ini sangat tergantung pada pH
larutan. Apabila larutan asam amino dalam air ditambah dengan basa, maka

asam amino akan terdapat dalam bentuk (I) karena konsentrasi ion OH- yang
tinggi mampu mengikat ion-ion H+ yang terdapat pada gugus NH3+.
H2N CH COO-

H3N CH COOH

dalam basa bentuk (I)

dalam asam bentuk (II)

Sebaliknya apabila ditambahkan asam ke dalam larutan asam amino,


maka konsentrasi ion H+ yang tinggi mampu berikatan dengan ion COO-,
sehingga terbentuk gugus COOH. Dengan demikian asam amino terdapat
dalam bentuk (II) (Poedjiadi & Supriyanti, 2012).
Asam amino bersifat amfoterik, artinya berperilaku sebagai asam dan
mendonasikan protonnya pada basa kuat, atau dapat juga berperilaku sebagai
basa dan menerima proton dari asam kuat (Tika, 2007). Asam adalah senyawa
yang dapat memberikan proton kepada senyawa lainnya. Ukuran kekuatan
suatu asam adalah tetapan disosiasi asam, Ka. Semakin besar Ka, makin besar
kecenderungan suatu asam untuk menguraikan (mendisosiasi) satu protonnya,
dan dengan demikian makin kuat asamnya.
pKa = - log Ka
Jadi, semakin rendah nilai pKa suatu senyawa kimia, semakin tinggi nilai Kanya, dan semakin kuat asamnya. Basa adalah senyawa yang dapat menerima
proton dari asam. Tetapan kebasaan yaitu Kb. Ka dan Kb berhubungan sebagai
berikut
Ka . Kb = Kw
Jika kita mengetahui Ka untuk asam konjugat, kita dapat menghitung Kb untuk
basanya. Jadi, basa dicirikan oleh nilai Ka yang rendah untuk asam konjugatnya
(Kuchel & Ralston, 2006).
Nilai pH di mana molekul tidak mempunyai muatan netto disebut titik
isoelektrik. Untuk glisin, titik isoelektriknya adalah pada pH 6. Ketika larutan
glisin berada dalam keadaan isoelektrik, sebagian molekul akan berupa COOHCH2-NH3+ yang jumlahnya seimbang dengang COOCH2-NH2, serta
beberapa COOH-CH2-NH2. pH pada titik isoelektrik dapat dihitung dari nilai
pKa tiap gugus.

pH1 = pKa1 + pKa2 / 2


(Kuchel & Ralston, 2006)
Nilai pKa asam-asam amino dapat dilihat dalam tabel
Asam Amino

pKa1 (a-COOH)

pKa (a-NH3+)

pKa (rantai samping)

Glisin

2,3

9,6

Serin

2,2

9,2

Alanin

2,3

9,7

Valin

2,3

9,6

Leusin

2,4

9,6

Asam Aspartat

2,1

9,8

3,9

Asam Glutamat

2,2

9,7

4,3

Histidin

1,8

9,2

6,0

Sistein

1,7

10,8

8,3

Tirosin

2,2

9.1

10,1

Lisin

2,2

9,0

10,5

(Ngili, 2009).
Suatu eksperimen dapat diukur dengan menggunakan dua metode
yaitu,pertama (potensiometri langsung) yaitu pengukuran tunggal terhadap
potensial dari suatu aktivitas ion yang diamati, hal ini terutama diterapkan
dalam pengukuran pH larutan air. Kedua (titrasi langsung), ion dapat dititrasi
dan potensialnya diukur sebagai fungsi volume titran. Potensial sel, diukur
sehingga dapat digunakan untuk menentukan titik ekuivalen. Suatu potensial
sel galvani bergantung pada aktifitas spesies ion tertentu dalam larutan sel,
pengukuran potensial sel menjadi penting dalam banyak analisis kimia. Titik
akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume
pada mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan
titran. Dalam titrasi secara manual, potensial diukur setelah penambahan titran
secara berurutan, dan hasil pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik
terhadap volum titran untuk diperoleh suatu kurva titrasi. Dalam banyak hal,
suatu potensiometer sederhana dapat digunakan, namun jika tersangkut

elektroda gelas, maka akan digunakan pH meter khusus. Karena pHmeter ini
telah menjadi demikian biasa, maka pH meter ini dipergunakan untuk semua
jenis titrasi, bahkan apabila penggunaannya tidak diwajibkan (Basset & dkk,
1994).
C. ALAT DAN BAHAN
Alat:
1. Indikator universal
2. Buret 50 mL
3. Pipet filler
4. Pipet volum 10 mL
5. Corong
6. Erlenmeyer
Bahan:
1. Larutan asam amino glisin 0,1 M
2. Larutan NaOH 0,25 M
3. Larutan HCl 0,1 M

D. MSDS
1. Glisin (C6H5NO2)
Wujud

: Padat

Berat molekul

: 75,07 gr/mol

Warna

: Putih

pH

: 5,6

Titik lebur

: 233C

Rasa

: Manis

Hazard

: Tidak mudah terbakr

Bahaya

:Sedikit berbahaya dalam kasus kontak kulit


(iritasi), tertelan dan terhirup

Penanganan

: Dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata


Jika terkena mata, nasuh dengan air yang banyak
selam 15 menit
Jika terkena kulit cuci dengan sabun dan air

(BJ, 2002).
2. NaOH
Wujud

: Cair

Warna

: Tidak berwarna

Titik lebur

: 318C

Titik didih

: 1390C

Bau

: Berbau

Hazard

: Korosif, tidak mudah terbakar.

Bahaya

: Parah menyebabkan iritasi dan luka bakar.


Berbahaya jika tertelan. Hindari menghirup uap atau
debunya. Gunakan dengan ventilasi yang memadai.
Hindari kontak dengan mata, kulit, dan pakaian

Penanganan

: Dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata


Jika terkena mata, nasuh dengan air yang banyak
selam 15 menit
Jika terkena kulit cuci dengan sabun dan air
(BJ, 2002).

3. HCl
Wujud

: Cair

Warna

: Tidak berwarna

Titik leleh

: 110C

Berat Jenis

: 1,3 (gas HCl)

pH

:<1

Hazard

: Korosif

Penanganan

: Dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata


Jika terkena mata, nasuh dengan air yang banyak
selam 15 menit
Jika terkena kulit cuci dengan sabun dan air
(BJ, 2002).

E. PROSEDUR DAN ANALISIS PROSEDUR


PROSEDUR

ANALISIS PROSEDUR

ASAM
10 mL Glisin
- Dipipetkan menggunakan pipet
volum 10 mL
- Dimasukkan ke dalam erlenmeyer

- Agar didapatkan volume Glisin


dengan ketelitian tinggi
- Untuk menampung larutan Glisin

100 mL
- Dicek pH menggunakan kertas

- Untuk mengukur nilai pH Glisin

indikator
- Dititrasi larutan Glisin
menggunakan 1 mL HCl (1)

- Untuk memberi suasana asam pada


larutan Glisin

- Dikocok larutan (2)

- Agar larutan tercampur sempurna

- Dicek pH menggunakan kertas

- Untuk mengukur pH Glisin yang

indikator (3)
- Diulangi langkah (1), (2), dan (3)
hingga kertas indikator

sudah diberi kondisi asam


- Untuk menentukan sifat asam pada
Glisin

menunjukkan angka pH 2

Hasil
BASA
10 mL Glisin
- Dipipetkan menggunakan pipet
volum 10 mL
- Dimasukkan ke dalam erlenmeyer
100 mL

- Agar didapatkan volume Glisin


dengan ketelitian tinggi
- Untuk menampung larutan Glisin

- Dicek pH menggunakan kertas


indikator

- Untuk mengukur nilai pH Glisin

- Dititrasi larutan Glisin


menggunakan 0,2 mL NaOH (1)

- Untuk memberi suasana basa pada

- Dikocok larutan (2)

larutan Glisin

- Dicek pH menggunakan kertas


indikator (3)

- Agar larutan tercampur sempurna


- Untuk mengukur pH Glisin yang

- Diulangi langkah (1), (2), dan (3)


hingga kertas indikator

sudah diberi kondisi basa


- Untuk menentukan sifat basa pada

menunjukkan angka pH 12

Glisin

Hasil

F. DATA PERCOBAAN
Data 1 ( pH larutan terhadap penambahan HCl)
Tetesan ke0
1
2
3
4
5
6
7
8

Volume HCl (ml)


0
0,5
1,0
1,5
2,0
2,5
3,0
3,5
4,0

pH
5
4
3
3
3
3
3
3
2

Data 2 (pH Larutan terhadap penambahan NaOH)


Tetesan ke0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Volume NaOH (ml)


0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
1,4
1,6
1,8
2
2,2
2,4
2,6
2,8

pH
5
8
9
9
10
10
10
11
11
11
11
11
11
11
11

15
16
17

3
3,2
3,4

11
11
12

G. ANALISIS DATA
Pada percobaan asam basa asam amino ini, digunakan glisin sebagai
larutan asam amino yang diuji pH nya dengan menambahkan larutan HCl dan
NaOH secara periodik. Mulanya, diambil larutan glisin 10 ml diletakkan
dienlenmeyer dan akan dititrasi dengan penambahan larutan HCl 0,5ml secara
periodik sampai pH larutan glisin mencapai pH 2, dan dicatat pH larutan
glisin setiap penambahan 0,5ml HCl sampai pH 2. Pada percobaan, kita
membutuhkan 8 kali penambahan larutan HCl 0,5 ml (total larutan HCl yang
dibutuhkan adalah 4 ml) sehingga memperoleh pH 2 . Berikut adalah grafik
antara volume HCl terhadap ph larutan glisin.

Grafik Hubungan antara Volume HCl terhadap pH Larutan Glisin


6

pH Larutan

5
4
3
y = -0,25x + 4,4722
R = 0,675

2
1
0
0

0,5

1,5

2,5

3,5

Volume HCl

Berdasarkan grafik titrasi glisin dan HCl 0,1 M dapat ditentukan pK gugus
amino sebagai berikut.
Volume HCl keseluruhan yang terpakai adalah 4,0 mL
=

x = 2,0

Persamaan garis,
y = -0.25x + 4.4722
y = - 0.25(2,0) + 4.4722
y = -0,5 + 4.4722
y= 3.9722
Maka, pKa gugus amino dalam percobaan ini adalah 3.9722
Selain penambahan larutan HCl, pH larutan glisin juga diuji dengan
larutan NaOH. Caranya sama dengan pengujian pH larutan glisin
menggunakan larutan HCl, hanya berbeda pada volume NaOH yang
ditambahkan setiap periodiknya, yaitu 0,2 ml. mulanya, diambil larutan glisin
10ml diletakkan dienlenmeyer dan akan dititrasi dengan penambahan larutan
NaOH 0,2 ml secara periodik sampai pH larutan glisin mencapai pH 12, dan
dicatat pH larutan glisin setiap penambahan 0,2ml NaOH sampai pH 12. Pada
percobaan, kita membutuhkan 17 kali penambahan larutan HCl 0,2 ml (total
larutan NaOH yang dibutuhkan adalah 3,4 ml) sehingga memperoleh pH 12 .
Berikut adalah grafik antara volume NaOH terhadap pH larutan glisin.
Grafik Hubungan anatara Volume NaOH terhadap pH Larutan Glisin
14
y = 0,2405x + 7,8824
R = 0,6295

12

pH Larutan

10
8
6
4
2
0
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6 1,8 2 2,2 2,4 2,6 2,8 3 3,2 3,4

H.

Volume NaOH

Berdasarkan grafik titrasi glisin dan NaOH 0,25 M dapat ditentukan pK gugus
karboksil sebagai berikut.

Volume NaOH keseluruhan yang terpakai adalah 5,0 mL


=

x = 1,7
Persamaan garis,
y = 0.2405x + 7.8824
y = 0.2405(1,7) + 7.8824
y = 0,40885 + 7,8824
y = 8,29125
Maka, pKb gugus asam karboksilat dalam percobaan ini adalah 8,29125
Dari dua data( kurva glisin + HCl dan glisin + NaOH) dapat ditentukan
pH saat titik isoelektrik (pHI). pH isoelektrik yang diperoleh dapat dihitung
sebagai berikut :
pH I = 0,5 ( pKamino + pKasam karboksilat)
pH I = 0,5 (3.9722 + 8,29125)
pH I = 0.5 (12,26345)
pH I = 6,131725
Jadi, pH isoelektrik tercapai pada pH 6,131725 atau 6,13

H. PEMBAHASAN
Pada percobaan ini dilakukan pengukuran pH terhadap asam amino yaitu
asam amino glisin, dengan menggunakan titran larutan NaOH 0,25 M dan larutan
HCl 0.1 N. Karena asam amino dalam keadaan pH tertentu dapat berubah sifat
keasaman dan kebasaannya maka pada keadaan tersebut kebasaan keasaman dari
asam amino dapat ditentukan berdasarkan titrasi asam amino. Penambahan asam
klorida yang bersifat asam kuat mengakibatkan terdapat ion H+ yang berlebih.
Dimana terjadi penukuran pH setiap penambahan 0,5 ml larutan titran. Dan
penambahan natrium hidroksida yang bersifat basa kuat mengakibatkan terdapat
ion OH- yang berlebih. Dimana terjadi penambahan pH setiap penambahan 0,2 ml
larutan titran. pH awal glisin sebelum dititrasi oleh asam klorida dan natrium
hidroksida yakni 5. Alat yang digunakan untuk mengukur pH glisin adalah
indikator universal.

Glisin adalah asam amino paling sederhana dengan rumus kimia


C2H5NO2. Rumus struktur glisin adalah :

Glisin memiliki gugus karboksilat (-COOH) dan gugus amina (-NH2) sehingga
dapat membentuk zwitter ion atau ion dipolar, yang apabila dalam larutan dapat
membentuk ion karboksilat (-COO-) dan ion amonium (-NH3+) dalam sebuah
molekul glisin dengan melepaskan proton dari masing-masing gugus, strukturnya:

Glisin bersifat amfoter, yakni dapat bereaksi dengan asam ataupun dengan basa.
Persamaan reaksi yang terjadi saat titrasi glisin dalam susana asam :

Keadaan glisin dalam bentuk ion ini yaitu dalam bentuk larutan. Larutan
yang dititrasi dengan asam kuat akan mengakibatkan meningkatnya konsentrasi
ion H+. Oleh karena itu, ketika larutan glisin dititrasi dengan HCl maka dapat
membentuk suatu kation. Ion H+ dari asam akan diikat oleh gugus karboksil yang
bermuatan negatif sehingga molekul glisin yang semula berupa zwitter ion setelah
menankap ion H+ hanya akan bermuatan positif saja yang berupa suatu kation.
Ketika terjadi penambahan ion H+ pada larutan glisin akan mengakibatkan
konsentrasi ion H+ yang tinggi sehingga mampu berikatan dengan ion COO- ,
dan terbentuk gugus COOH dan dengan demikian glisin terdapat dalam bentuk
kationnya saja. Titrasi berakhir pada pH=2, yaitu semua glisin dalam bentuk
positif sebagai kation yang bersifat asam.
Persamaan reaksi yang terjadi saat titrasi glisin dalam suasana basa :

Glisin yang titambahkan dengan NaOH, akibatnya glisin akan terdapat


dalam bentuk anionnya karena konsentrasi OH- yang tinggi. Oleh karena itu,
ketika pada larutan glisin terjadi penambahan ion OH- maka dapat membentuk
suatu anion. Ion OH- dari basa akan menarik sebuah ion H+ dari gugus NH3+
sehingga molekul glisin yang semula berupa zwitter ion setelah melepaskan
sebuah ion H+ hanya akan bermuatan negatif saja yang berupa suatu anion. Glisin
yang ditambahkan basa, maka akan terdapat dalam bentuk anionnya karena ion
OH- yang tinggi mampu mengikat ion-ion H+ yang terdapat pada gugus NH3+,
membentuk gugus NH2 dan H2O. Jadi, larutan glisin mengalami keseimbangan
adalah sebagai berikut :
Dapat dilihat bahwa dalam suasana asam (pH rendah) ion dipol glisin
mengikat ion H+ membentuk kation sehingga ion amfoter glisin bersifat basa
sedangkan dalam suasana basa (pH tinggi) mengikat OH- menghasilkan anion dan
ion dipol glisin bersifat asam.
Bila dibandingkan antara titrasi ketika terjadi penambahan H+ dan ketika
terjadi penambahan OH-, maka ketika terjadi penambahan OH- lebih cepat dalam
memberikan perubahan pH sehingga jumlah OH- yang diperlukan lebih sedikit.
Hal ini disebabkan oleh ion OH- yang tinggi mampu mengikat ion-ion H+ yang
terdapat pada gugus NH3+, membentuk gugus NH2 dan H2O.
Titik isoelektrik dapat ditetapkan dengan titrasi. Titrasi kation dari glisin
N3H+CH2CO2H dengan basa, ketika basa ditambahkan, ion yang terprotonkan
sempurna diubah menjadi ion dipolar yang netral, H3N+ -CH2CO2-. Ketika lebih
banyak basa ditambahkan, semua bentuk kation diubah menjadi ion dipolar yang
netral. pH pada saat terjadinya hal ini adalah titik isoelektrik. Berikut cara
menentukan pK gugus tertentu yang terdapat pada suatu asam amino berdasarkan
data hasil percobaan yang telah dilakukan

Dari literatur diketahui tetapan isoelektriknya adalah 6,06. Sedangkan


harga titik isoelektrik hasil percobaan dari hasil perhitungan didapatkan sebesar
6,13. Jadi, hasil perhitungan harga titik isolistrik dibandingkan dengan di literatur
berbeda sedikit dengan selisih 0.07. Hal ini dikarenakan, alat yang digunakan
untuk mengukur pH yaitu indikator pH. Seharusnya yang lebih akurat
menggunakan pH meter. Setiap praktikan dalam mengamati perubahan warna
pada kertas indikator mempunyai pendapat yang berbeda-beda sehingga data yang
dihasilkan kurang begitu akurat.
Pada titrasi glisin dengan HCl 0,1 N dan dengan NaOH 0,25 M kurva
antara pH dan volume (tetes) pada hasil percobaan, memberikan bentuk kurva
yang hampir sama dengan literatur.

I. KESIMPULAN
1. Asam amino di dalam air akan membentuk ion dipol atau zwitter ion atau
ion amfoter dimana gugus karboksilat dan gugus amina akan kehilangan
satu protonnya sehingga membentuk ion karboksilat dan ion amonium.
2. larutan glisin dititrasi dengan HCl maka dapat membentuk suatu kation,
sedangkan ketika larutan glisin dititrasi dengan NaOH maka dapat
menghasilkan suatu anion.
3. Titik isoelektrik dapat ditetapkan dengan titrasi. Titrasi kation dari glisin
N3H+CH2CO2H dengan basa, ketika basa ditambahkan, ion yang
terprotonkan sempurna diubah menjadi ion dipolar yang netral, H3N+ CH2CO2-.
4. Titik isoelektrik hasil percobaan dari hasil perhitungan didapatkan sebesar
7,4. hasil perhitungan harga titik isolistrik dibandingkan dengan di literatur
mempunyai selisih 1.34. Hal ini dikarenakan, alat yang digunakan untuk
mengukur pH yaitu indikator pH

DAFTAR PUSTAKA

Basset, J., & dkk. (1994). Buku Ajar Vogel Kimia Analisa Kuantitatif Anorganik.
Jakarta: EGC.
BJ. (2002). Material Safety Data Sheet. USA: BJ Services Environmental Group.
Kuchel, P., & Ralston, G. B. (2006). Biokimia. Jakarta: Erlangga.
Lehninger, A. L., & Thenawidjaja, M. (1982). Dasar-dasar Biokimia Jilid 1.
Jakarta: Erlangga.
Ngili, Y. (2009). Biokimia: Struktur dan Fungsi Biomolekul. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Poedjiadi, A., & Supriyanti, F. M. (2012). Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI
Press.
Tika, I. N. (2007). Penuntun Praktikum Biokimia. Singaraja: Universitas
Pendidikan Ganesha.