Anda di halaman 1dari 91

Analisis Pendirian Pusat Distribusi Regional

PUSAT KEBIJAKAN PERDAGANGAN DALAM NEGERI


BADAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN PERDAGANGAN
KEMENTERIAN PERDAGANGAN
2013

RINGKASAN EKSEKUTIF

Menurut Peraturan Presiden No. 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru Pengembangan
Sistem Logistik Nasional, salah satu kondisi logistik yang ingin dicapai adalah terwujudnya
sistem logistik komoditas penggerak utama (key commodities) yang mampu meningkatkan
daya saing produk nasional baik di pasar domestik, pasar regional maupun di pasar global.
Salah satu key driver Cetak Biru Sistem Logistik Nasional adalah Komoditas
Penggerak Utama; rencana aksi yang terkait dengan tupoksi Kementerian Perdagangan,
adalah terbangunnya jaringan logistik penyangga komoditas pokok dan strategis di setiap
koridor ekonomi dan terbangunnya sistem manajemen rantai pasok untuk komoditas pokok
dan strategis di setiap koridor ekonomi.
Menurut Cetak Biru Sistem Logistik Nasional, kriteria penempatan Pusat Distribusi
Regional (PDR) adalah jumlah penduduk, aksesibilitas, daerah konsumen (bukan penghasil
dan bukan daerah produsen), dapat berfungsi sebagai kolektor (pusat konsolidasi) dan
distributor, berada pada wilayah dekat pelabuhan utama, dan berpotensi untuk
dikembangkan menjadi pusat perdagangan antar pulau. Untuk itu big win yang hendak
dicapai pada tahap I (2011-2015) adalah terwujudnya pusat distribusi regional komoditas
pokok dan strategis pada setiap koridor ekonomi. Kementerian Perdagangan melalui dana
Tugas Pembantuan pada tahun 2004 dan 2011 telah membangun PDR di Makassar dan
pada tahun 2013 di Bitung (dalam proses pembangunan).
Berdasarkan latar belakang di atas, Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri,
Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan, Kementerian Perdagangan
melakukan kegiatan Analisis Pendirian Pusat Distribusi Regional dengan tujuan: (i)
Mengidentifikasi dukungan daerah produsen terhadap keberadaan PDR di Bitung dan
Makassar; (ii) Mengetahui potensi wilayah-wilayah yang dilayani PDR Bitung dan Makassar;
(iii) Menganalisis penetapan lokasi PDR Bitung dan Makassar; (iv) Menganalisis dukungan
infrastruktur transportasi PDR Bitung dan Makassar; dan (v) Memberikan masukan untuk
penyusunan rekomendasi dalam rangka pelaksanaan bigwin Sistem Logistik Nasional
Sektor Perdagangan yaitu terwujudnya PDR komoditas pokok dan Strategis di setiap koridor
ekonomi.
Dari hasil pengkajian ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. PDR Bitung dan Makassar diperlukan dalam mendukung pembangunan Koridor
Ekonomi Sulawesi, khususnya dalam pengembangan Pusat Produksi dan Pengolahan
Hasil Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan. PDR Bitung dan Makassar juga berpotensi
strategis dalam mendukung jalur perdagangan untuk wilayah Indonesia Timur maupun
untuk berhubungan dengan pasar global.
2. Dukungan daerah produsen terhadap keberadaan PDR di Bitung dan Makassar.

a. Keberadaan PDR Makassar didukung oleh daerah-daerah produsen di sekitar


wilayah PDR, terutama untuk komoditas unggulan Sulawesi Selatan antara
lain beras, jagung, kakao, bawang merah, cabai, jeruk besar, kentang dan
industri pengolahan buah-buahan.

b. Keberadaan PDR Bitung didukung oleh daerah-daerah produsen di sekitar


wilayah PDR, yaitu Sulawesi Utara, Maluku dan Maluku Utara, Gorontalo, dan
Sulawesi Tengah. Wilayah-wilayah produsen pendukung PDR Bitung
berpotensi menghasilkan berbagai komoditas antara lain kentang, pala,
minyak kelapa, kopra, ikan kaleng dan rumput laut.
3. Potensi wilayah-wilayah yang dilayani PDR Bitung dan Makassar
a. PDR Makassar berpotensi melayani kebutuhan bahan pokok dan strategis untuk
beberapa wilayah, yaitu: Kota Makassar dan sekitarnya. Bahkan, untuk komoditas
beras, misalnya, distribusi dilakukan ke 21 provinsi lainnya.
b. PDR Bitung berpotensi melayani kebutuhan bahan pokok dan strategis untuk
beberapa wilayah, yaitu: Kota Bitung dan sekitarnya, Pulau-pulau kecil sekitar
Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua.
4. Penetapan lokasi PDR Bitung dan Makassar memenuhi kriteria-kriteria penempatan
Pusat Distribusi Regional, mencakup jumlah penduduk, aksesibilitas, daerah konsumen
(bukan penghasil dan bukan daerah produsen), dapat berfungsi sebagai kolektor (pusat
konsolidasi) dan distributor, berada pada wilayah dekat pelabuhan utama, dan
berpotensi untuk dikembangkan menjadi pusat perdagangan antar pulau.
5. Dukungan infrastruktur transportasi di wilayah PDR:
a. Infrastruktur transportasi PDR Makassar cukup memadai, baik infrastruktur
transportasi laut (pelabuhan), maupun infrastruktur transportasi darat dengan
tersedianya jalan tol.
b. Infrastruktur transportasi PDR Bitung saat ini belum memadai secara keseluruhan,
kecuali transportasi laut. Untuk transportasi darat telah direncanakan pembangunan
jalan tol Manado-Minut-Bitung yang diharapkan dapat lebih mendukung kebutuhan
transportasi darat tersebut.
6. PDR Makassar yang telah dibangun dalam dua tahap, yaitu pada tahun 2004 dan 2011,
hingga saat ini belum dapat digunakan, karena belum ada pemindahtanganan PDR dari
Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Adapun rekomendasi dari kajian ini adalah:
1. Pembangunan PDR di wilayah-wilayah lain hendaknya lebih memperhatikan
ketersediaan infrastruktur transportasi laut dan transportasi darat, termasuk jalan raya
sebagai penghubung ke/dari PDR.
2. Perlu perhatian dari para pihak terkait terhadap pemenuhan persyaratan teknis dan
administratif
yang
diperlukan
dalam
perencanaan,
pembangunan,
dan
pemindahtanganan PDR dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Provinsi terkait,
sehingga penggunaan dan pemanfaatan PDR dapat dilakukan sesuai rencana.
3. Perlunya sosialisasi mengenai keberadaan dan fungsi Pusat Distribusi Regional kepada
pihak-pihak terkait, khususnya kepada para pengguna potensial di masing-masing
wilayah.

ii

KATA PENGANTAR
Peraturan Presiden No. 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem
Logistik Nasional menyebutkan bahwa salah satu big win yang hendak dicapai pada tahap I
(2011-2015) adalah terwujudnya pusat distribusi regional komoditas pokok dan strategis
pada setiap koridor ekonomi. Peraturan Presiden tersebut juga menyebutkan salah satu
rencana aksi yang terkait dengan tupoksi Kementerian Perdagangan, yaitu terbangunnya
jaringan logistik penyangga komoditas pokok dan strategis di setiap koridor ekonomi dan
terbangunnya sistem manajemen rantai pasok untuk komoditas pokok dan strategis di setiap
koridor ekonomi.
Berkaitan dengan hal tersebut, Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri, Badan
Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan, Kementerian Perdagangan
melakukan kegiatan Analisis Pendirian Pusat Distribusi Regional pada tahun 2013.
Kegiatan dilakukan dengan kunjungan ke Pusat Distribusi Regional di Bitung dan
Makassar, serta penyelenggaraan diskusi terbatas di Kota Manado dan Makassar.
Terima kasih disampaikan kepada Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah
Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Sulawesi Selatan, serta pihak-pihak lain
yang berpartisipasi dalam pengkajian ini.

Jakarta, Desember 2013

Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri


Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan
Perdagangan
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia

iii

DAFTAR ISI
RINGKASAN EKSEKUTIF................................................................................................. ......

KATA PENGANTAR .............................................................................................................

iii

DAFTAR ISI ...........................................................................................................................

iv

DAFTAR TABEL ...................................................................................................................

vii

DAFTAR GAMBAR ...............................................................................................................

viii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ...................................................................................................

1.2. Tujuan Penelitian ................................................................................................

1.3. Keluaran Penelitian ............................................................................................

1.4. Manfaat Penelitian ..............................................................................................

1.5. Ruang Lingkup Penelitian ...................................................................................

1.6. Sistematika Penelitian ........................................................................................

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Logistik ................................................................................................................

2.1.1. Persediaan ................................................................................................

2.1.2. Pergudangan .............................................................................................

2.1.3. Transportasi ..............................................................................................

2.1.4. Sistem Informasi ........................................................................................

2.1.5. Logistik Global ...........................................................................................

2.1.6. Supply Chain Management ........................................................................

10

2.2. Sistem Distribusi ..................................................................................................

10

2.2.1. Fasilitas Distribusi ......................................................................................

11

2.2.2. Infrastruktur ...............................................................................................

11

2.2.3. Dampak Bencana Alam terhadap Distribusi ...............................................

11

2.2.4. Sistem Hub-and-Spoke............................................................................

12

2.3. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia


(MP3EI).. ..............................................................................................................

13

2.4. Pengembangan Sistem Logistik Nasional ............................................................

14

iv

2.5. Pusat Distribusi.. .................................................................................................

16

2.5.1. Peran Pusat Distribusi ...............................................................................

16

2.5.2. Manfaat Pusat Ditribusi..............................................................................

18

2.5.3. Aktivitas Bisnis dan Pelayanan Pusat Distribusi .........................................

19

2.5.4. Pelayanan Pusat Distribusi ........................................................................

22

2.6. Pusat Distribusi Regional.....................................................................................

23

2.6.1. Fungsi Pusat Distribusi Regional ...............................................................

23

2.6.2. Aktivitas Bisnis Pusat Distribusi Regional ..................................................

24

2.6.3. Sistem Layanan Pusat Distribusi Regional .................................................

25

BAB III. METODE PENELITIAN


3.1. Kerangka Pemikiran dan Metode Analisis ...........................................................

26

3.2. Metode Analisis ...................................................................................................

27

BAB IV. ANALISIS PUSAT DISTRIBUSI REGIONAL BITUNG


4.1. Data Sosial Ekonomi, Supply-Demand, Investasi dan Infrastruktur......................

28

4.2. Kebutuhan dan Dukungan terhadap Keberadaan PDR Bitung.............................

34

4.2.1. Rencana Pembangunan dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan


Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) ..............................................

34

4.2.2. Dukungan Daerah Produsen .....................................................................

35

4.2.3. Dukungan Pasokan-Permintaan untuk PDR Bitung ...................................

35

4.2.4. Dukungan Infrastruktur ..............................................................................


4.3. Pembangunan PDR Bitung..................................................................................

36
36

BAB V. ANALISIS PUSAT DISTRIBUSI REGIONAL MAKASSAR


5.1. Data Sosial Ekonomi, Supply-Demand, Investasi dan Infrastruktur......................

39

5.2. Kebutuhan dan Dukungan terhadap Keberadaan PDR Makassar .......................

41

5.2.1. Rencana Pembangunan dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan


Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) ..............................................

41

5.2.2. Dukungan Daerah Produsen .....................................................................

42

5.2.3. Dukungan Infrastruktur ..............................................................................

43

5.3. Pembangunan PDR Makassar ............................................................................

43

5.4. Operasionalisasi PDR Makassar .........................................................................

44
v

BAB V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN


6.1. Kesimpulan .........................................................................................................

47

6.1.1. PDR Bitung................................................................................................


6.1.2. PDR Makassar ..........................................................................................

47
47

6.1. Rekomendasi ......................................................................................................

48

6.2.1. PDR Bitung................................................................................................


6.2.2. PDR Makassar ..........................................................................................

48
49

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

vi

DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Kondisi Sosial Ekonomi Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2012 .............................

28

Tabel 4.2. Data Pasokan Bahan Pangan Pokok dan Barang Strategis
Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2013 ...................................................................

28

Tabel 4.3. Data Komoditas di Sulawesi ................................................................................

29

Tabel 4.4. Daftar Investasi di Sulawesi Utara .......................................................................

30

Tabel 4.5. Infrastruktur Transportasi Darat Sulawesi Utara Tahun 2012 ..............................

32

Tabel 5.1. Kondisi Sosial Ekonomi Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2012 .............................

39

Tabel 5.2. Data Komoditas Unggulan Sulawesi Selatan .......................................................

39

Tabel 5.3. Infrastruktur Transportasi Darat Sulawesi Selatan Tahun 2012 ...........................

39

Tabel 5.4. Fasilitas Pelabuhan Soekarno-Hatta ...................................................................

40

Tabel 5.5. Potensi Hinterland Pelabuhan Soekarno-Hatta....................................................

41

vii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1. Penyebaran Pusat Distribusi Komoditas Pokok dan Strategis ............................

Gambar 2.1. Sistem Logistik ...................................................................................................

Gambar 2.2. Komponen-komponen Utama Pembentuk Sistem Logistik .................................

Gambar 2.3. Aliran Informasi Logistik .....................................................................................

Gambar 2.4. Saluran Pemasaran Pelanggan dan Saluran Pemasaran Bisnis .........................

11

Gambar 2.5. Perbandingan Sistem Point-to-Point dan Sistem Hub-and-Spoke ..................

12

Gambar 2.6. Enam Koridor Ekonomi Indonesia dalam MP3EI ................................................

13

Gambar 2.7. Skema Pemberdayaan Petani/Peternak/Nelayan ...............................................

17

Gambar 2.8. Fungsi Pusat Distribusi dan Infrastrukturnya.......................................................

20

Gambar 2.9. Area Bisnis pada Setiap Mata Rantai Pasokan ...................................................

21

Gambar 3.1. Metodologi Penelitian .........................................................................................

27

Gambar 4.1. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung............................................................

34

Gambar 4.2. Koridor Ekonomi Sulawesi ..................................................................................

34

Gambar 5.1. Koridor Ekonomi Sulawesi dan Program Pembangunan MP3EI


Di Sulawesi Selatan ..........................................................................................

41

Gambar 5.2. Bangunan PDR Makassar ..................................................................................

12

viii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Peraturan Presiden No. 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru Pengembangan
Sistem Logistik Nasional, salah satu kondisi logistik yang ingin dicapai adalah terwujudnya
sistem logistik komoditas penggerak utama (key commodities) yang mampu meningkatkan
daya saing produk nasional baik di pasar domestik, pasar regional maupun di pasar global.
Selain itu, sistem logistik komoditas penggerak utama ini ditujukan untuk menjamin
ketersediaan barang, kemudahan mendapatkan barang dengan harga yang terjangkau dan
stabil, serta mempersempit disparitas harga antar wilayah di Indonesia.
Adapun program yang direncanakan meliputi: (i) Pembangunan sistem logistik
nasional melalui pengembangan jaringan distribusi penyangga baik ditingkat regional,
provinsi maupun kabupaten/kota, penataan ulang dan revitalisasi sistem distribusi termasuk
sistem distribusi antar pulau baik tata niaga, tata kelola, pelaku, dan sistem informasi,
membangun dan merevitalisasi pasar tradisional baik prasarana, sarana, rantai pasok,
maupun manajemen; (ii) Peningkatan ketersediaan pasokan nasional komoditas pokok dan
strategis dan bahan baku yang masih diimpor; dan Peningkatan peran pemerintah daerah
dalam penyediaan pasokan dan penyaluran komoditas pokok dan strategis; dan (iii)
Penurunan disparitas harga komoditas pokok dan strategis baik antar waktu dan antar
daerah melalui stabilisasi harga yang terjangkau secara merata dan pembangunan Terminal
Agribisnis, Pusat Distribusi (distribution center), dan peningkatan pemanfaatan Sistem Resi
Gudang.
Yang dimaksud dengan komoditas penggerak utama dalam Cetak Biru
Pengembangan Sistem Logistik Nasional selain komoditas unggulan ekspor adalah
komoditas pokok dan strategis. Komoditas pokok adalah barang yang menguasai hajat
hidup orang banyak, rawan gejolak, penyumbang dominan inflasi, dan menentukan
kesejahteraan masyarakat. Komoditas strategis adalah barang yang berperan penting dalam
menentukan kelancaran pembangunan nasional. Oleh sebab itu, kelompok barang ini
merupakan komoditas khusus dimana pemerintah dapat melakukan intervensi pasar untuk
menjamin ketersediaan stok, menstabilkan harga agar terjangkau oleh semua lapisan
masyarakat, dan menurunkan disparitas harga antar daerah di Indonesia.
Untuk mencapai tujuan sistem logistik komoditas penggerak utama di atas, rencana
aksi yang terkait dengan tupoksi Kemendag dalam hal meningkatkan kinerja Sistem Logistik
Nasional, adalah: (i) terbangunnya jaringan logistik penyangga komoditas pokok dan
strategis di setiap koridor ekonomi; dan (ii) terbangunnya sistem manajemen rantai pasok
untuk komoditas pokok dan strategis di setiap koridor ekonomi. Berdasarkan rencana aksi
Cetak Biru Sistem Logistik Nasional, yang dimaksud dengan jaringan logistik penyangga
adalah Pusat Distribusi Regional (PDR). Untuk itu big win yang hendak dicapai pada tahap I
(2011-2015) adalah terwujudnya PDR komoditas pokok dan strategis pada setiap koridor
ekonomi.

Gambar 1.1. Penyebaran Pusat Distribusi Komoditas Pokok dan Strategis

Sumber: Sislognas (2012)

Pusat distribusi provinsi akan menjadi penyangga bagi jaringan distribusi


kabupaten/kota. Untuk efisiensi, PDR akan ditempatkan dan dikelola oleh pusat distribusi
provinsi yang ditugaskan sebagai pusat distribusi regional. Adapun kriteria penempatan
PDR adalah jumlah penduduk, aksesibilitas, daerah konsumen (bukan penghasil dan bukan
daerah produsen), dapat berfungsi sebagai kolektor (pusat konsolidasi) dan distributor,
berada pada wilayah dekat pelabuhan utama, dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi
pusat perdagangan antar pulau.
Berdasarkan pada kriteria tersebut di atas maka alternatif lokasi PDR adalah sebagai
berikut: untuk Sumatera di Kuala Tanjung Padang, dan Palembang, Jawa di Jakarta,
Semarang, dan Surabaya, Kalimantan di Banjarmasin, Sulawesi di Bitung dan Makassar,
Nusa Tenggara di Larantuka, dan Papua di Sorong dan Jayapura.
Sejauh ini, PDR sangat kental diasosiasikan hanya sebagai pusat distribusi, padahal
pada prinsipnya fungsi tersebut tidak akan berjalan jika fungsi konsolidasi pasokan tidak
berjalan dengan baik terlebih dahulu. Fungsi konsolidasi tersebut sangat erat terkait dengan
aliran pasokan dari daerah produsen ke PDR. Untuk mengalirkan pasokan tersebut dengan
baik ada beberapa hal yang harus dipenuhi, misalnya adanya kemungkinan produsen mau
mendistribusikan barangnya ke lokasi PDR, adanya kemampuan untuk meyakinkan
produsen jika mendistribusikan ke PDR akan mendapatkan insentif lebih besar
dibandingkan pola distribusi sebelumnya, adanya kemampuan untuk mempengaruhi pola
distribusi yang tidak efisien dari produsen ke pedagang yang sudah terbentuk sebelumnya,
adanya aksesibilitas yang baik dari wilayah produsen ke tempat PDR yang terkait dengan
jalan, jembatan, pungutan liar dan lain-lain, serta terpenuhinya skala ekonomi (kalkulasi
keekonomian terkait dengan volume barang yang akan didistribusikan versus biaya
transportasi). Dengan demikian, maka dalam membangun PDR diperlukan gambaran
potensi dukungan daerah-daerah produsen terhadap keberadaan PDR.

1.2 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi dukungan daerah produsen terhadap keberadaan PDR.
b. Mengetahui potensi wilayah-wilayah yang dilayani PDR.
c. Menganalisis penetapan lokasi PDR.
2

d. Menganalisis dukungan infrastruktur transportasi terhadap PDR.


e. Memberikan masukan untuk penyusunan rekomendasi dalam rangka pelaksanaan
bigwin Sistem Logistik Nasional Sektor Perdagangan yaitu terwujudnya PDR komoditas
pokok dan Strategis di setiap koridor ekonomi.

1.3 Keluaran Penelitian


Keluaran penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Gambaran dukungan daerah produsen terhadap keberadaan PDR.
b. Gambaran potensi wilayah-wilayah yang dilayani PDR.
c. Informasi ketepatan penetapan lokasi PDR.
d. Informasi dukungan infrastruktur transportasi terhadap PDR.
e. Masukan untuk penyusunan rekomendasi dalam rangka pelaksanaan bigwin Sistem
Logistik Nasional Sektor Perdagangan yaitu terwujudnya PDR komoditas pokok dan
strategis di setiap koridor ekonomi.

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui sejauh mana implementasi dari pelaksanaan PDR yang telah dilaksanakan
sebelumnya.
b. Mengetahui hal-hal yang perlu untuk diperbaiki dari hasil penelitian mengenai
perencanaan, pembangunan, dan operasionalisasi PDR.
c. Memberikan rekomendasi
operasionalisasi PDR.

perbaikan

untuk

perencanaan,

pembangunan,

dan

1.5 Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Komoditas: bahan pokok dan strategis unggulan daerah.
b. Produksi komoditas bahan pokok dan strategis unggulan daerah di sekitar daerah PDR.
c. Supply dan demand di deerah produsen di sekitar daerah PDR.

1.6 Sistematika Penelitian


Sistematika penelitian ini adalah:
Bab I Pendahuluan. Pada Bab ini dibahas mengenai latar belakang penelitian, tujuan
penelitian, keluaran penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian dan sistematika
penelitian.
Bab II Tinjauan Pustaka. Pada Bab ini dibahas tinjauan literatur mengenai logistik, sistem
distribusi, pusat distribusi dan pusat distribusi regional.
3

Bab III Metodologi Penelitian. Pada Bab ini dibahas kerangka berpikir dan metode
pengumpulan data: studi literatur, survei, dan diskusi terbatas.
Bab IV Analisis Pusat Distribusi Regional Bitung. Bab ini menyajikan analisis mengenai
Pusat Distribusi Regional Bitung.
Bab V Analisis Pusat Distribusi Regional Makassar. Bab ini menyajikan analisis
mengenai Pusat Distribusi Regional Makassar.
Bab VI Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan. Bab ini menyajikan kesimpulan dan
rekomendasi tentang Pusat Distribusi Regional.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Logistik

Logistik atau manajemen logistik merupakan bagian dari proses supply chain yang
merencanakan, mengimplementasikan, dan mengendalikan efisiensi dan efektivitas aliran
dan penyimpanan barang, jasa, dan informasi terkait dari titik awal sampai ke titik konsumsi
untuk memenuhi keperluan pelanggan (Council of Logistics Management (CLM), 1986).
Gambar di bawah ini menunjukkan suatu sistem logistik secara sederhana.
Gambar 2.1. Sistem Logistik

Pada prinsipnya, dalam suatu sistem logistik terdapat dua aliran utama. Aliran pertama
adalah aliran barang dari pemasok, ke pabrik atau manufacturing, hingga ke pelanggan.
Berlawanan dengan aliran barang, terdapat aliran informasi yang mengalir dari pelanggan,
ke pabrik, hingga ke pemasok.
Selain memperhatikan aliran barang, manajemen logistik juga memperhatikan proses
penyimpanan barang tersebut. Sebagai sebuah sistem, logistik terdiri atas beberapa
subsistem atau komponen-komponen utama, yaitu Persediaan, Pergudangan, Transportasi,
dan Sistem Informasi (Setijadi, 2009). Gambar berikut ini menunjukkan keterkaitan di antara
komponen-komponen utama pembentuk sistem logistik tersebut.
Gambar 2.1. Komponen-komponen Utama Pembentuk Sistem Logistik

Sumber: Setijadi (2009)


5

2.1.1. Persediaan
Persediaan (inventory) adalah stok atau item-item yang digunakan untuk mendukung
produksi (bahan baku dan barang setengah jadi), kegiatan-kegiatan (perawatan, perbaikan,
dan operating supplies), dan pelayanan pelanggan (barang jadi dan suku cadang. Item-item
tersebut dibeli untuk dijual kembali, mencakup barang jadi, barang setengah jadi, dan bahan
baku (APICS Dictionary, 10th ed.)
Persediaan harus diadakan dengan beberapa alasan, yaitu:
1. Persiapan kegiatan produksi dan penjualan
Perusahaan manufaktur membutuhkan bahan baku untuk kegiatan produksinya. Bahan
baku ini disimpan oleh perusahaan sebagai persediaan yang siap digunakan ketika
dibutuhkan untuk produksi. Untuk perusahaan dagang, persediaan berupa barang jadi
yang disimpan untuk penjualan.
2. Dukungan kegiatan perawatan, perbaikan, dan operasional
Perusahaan perlu menjaga supaya produksi dan operasional selalu berjalan dengan
baik. Perusahaan perlu melakukan kegiatan perawatan dan perbaikan terhadap mesinmesin produksi, peralatan, dan bangunan. Untuk itu, perusahaan memerlukan
persediaan yang siap untuk digunakan ketika dibutuhkan.
3. Pertimbangan ekonomi skala (economies of scale)
Pengadaan akan bersifat ekonomis jika dilakukan pada jumlah tertentu, sehingga
perusahaan seringkali melakukan pemesanan melebihi jumlah yang dibutuhkan untuk
periode waktu tertentu. Kelebihan jumlah ini menjadi persediaan di perusahaan tersebut.
4. Melindungi dari ketidakpastian permintaan
Jumlah permintaan terhadap suatu barang atau produk berubah-ubah. Perusahaan
menggunakan persediaan untuk melindungi dari ketidakpastian permintaan ini sehingga
dapat terhindar dari kondisi kekurangan persediaan (stockout).
5. Melindungi dari ketidakpastian pasokan
Pengiriman barang dari pemasok (seperti bahan baku untuk perusahaan manufaktur)
bisa mengalami gangguan. Hal ini terjadi, misalnya, karena ada kendala produksi di
pemasok, masalah transportasi, dan sebagainya. Ketidakpastian ini diantisipasi oleh
perusahaan dengan adanya persediaan, sehingga kegiatan perusahaan (produksi atau
penjualan) tidak terganggu.
Persediaan dapat dibedakan atas beberapa jenis atau tipe, yaitu: persediaan siklus
(cycle stock), persediaan in-transit, persediaan pengaman atau penyangga (safety atau
buffer stock), persediaan spekulatif (speculative stock), persediaan musiman (seasonal
stock), dan dead stock. Konsekuensi dari adanya persediaan adalah munculnya biaya-biaya
yang harus dikeluarkan. Biaya utama persediaan dapat dibedakan atas: inventory carrying
costs, order/setup costs, expected stock-out costs, dan in-transit inventory carrying costs.
Inventory carrying costs mencakup: biaya modal (capital cost), biaya ruang penyimpanan
(storage space cost), biaya pelayanan persediaan (inventory service cost), dan biaya risiko
persediaan (inventory risk cost).
Jumlah persediaan harus dikelola pada suatu tingkat yang optimal. Jumlah persediaan
yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan berdampak terhadap biaya atau risiko tertentu.
6

a. Jumlah atau tingkat persediaan yang tinggi memang memberikan beberapa keuntungan,
seperti jaminan terpenuhinya pasokan untuk kegiatan produksi atau pemenuhan
permintaan pelanggan. Namun, konsekuensi dari tingkat persediaan yang tinggi adalah
biaya besar yang harus ditanggung, baik biaya modal maupun biaya risiko persediaan.
Risiko persediaan mencakup risiko-risiko: kehilangan, kerusakan, dan keusangan
(obsolescence).
b. Dengan jumlah atau tingkat persediaan yang rendah, berarti biaya modal yang
dikeluarkan juga rendah. Namun, jumlah atau tingkat persediaan yang rendah
berdampak terhadap jaminan pasokan yang rendah untuk produksi dan pemenuhan
permintaan pelanggan. Apabila produksi dan pemenuhan permintaan pelanggan
terganggu, maka terjadi kehilangan peluang penjualan (lost of sales) hingga kehilangan
pelanggan (lost of customers).

2.1.2. Pergudangan
Gudang merupakan fasilitas penting dalam sistem logistik yang mempunyai fungsi
utama sebagai tempat penyimpanan barang atau produk. Barang atau produk disimpan
sementara waktu sebelum digunakan atau dikirimkan ke tempat yang membutuhkan.
Dalam sistem pergudangan terdapat tiga kegiatan utama penanganan barang, yaitu di
bagian penerimaan, di dalam gudang, dan di bagian pengiriman. Penanganan barang
tersebut membutuhkan berbagai metode dan peralatan. Fungsi gudang dapat dibedakan
sebagai terminal konsolidasi, pusat distribusi, break-bulk operation, in-transit mixing, dan
cross-dock operation.
a. Terminal konsolidasi: gudang digunakan untuk mengumpulkan beberapa macam barang
dari masing-masing sumber untuk selanjutnya dikirimkan ke tempat tujuan.
b. Pusat distribusi: gudang digunakan untuk mengumpulkan beberapa macam barang dari
masing-masing sumber untuk selanjutnya dikirimkan ke beberapa tempat tujuan.
c. Break-bulk operation: gudang digunakan untuk menerima barang atau produk dalam
jumlah atau volume besar, kemudian dipecah-pecah atau dibagi-bagi dalam jumlah atau
volume yang lebih kecil dan selanjutnya dikirimkan ke beberapa tempat tujuan.
d. In-transit mixing: gudang digunakan untuk menerima atau mengumpulkan beberapa
macam barang dari masing-masing sumber, kemudian dibagi-bagi dan digabungkan atau
dikombinasikan dengan variasi jenis dan jumlah yang sesuai dengan masing-masing
permintaan, serta selanjutnya dikirimkan ke beberapa tempat tujuan (asal permintaan)
masing-masing tersebut.
e. Cross-dock operation: gudang digunakan untuk menerima barang atau produk dari
masing-masing sumber untuk selanjutnya segera dikirimkan ke tempat tujuan masingmasing tanpa mengalami proses penyimpanan di gudang tersebut.
Hal penting berkaitan dengan gudang adalah penentuan jumlah, lokasi, dan kapasitas.
Jumlah gudang harus dipertimbangkan secara optimal. Selain akan mempengaruhi biaya
operasional, jumlah gudang akan mempengaruhi pula pola, frekuensi, dan biaya
transportasi. Lokasi dipertimbangkan dengan mempertimbangkan akses, baik akses dari
tempat-tempat pasokan maupun akses ke tempat-tempat permintaan atau tujuan. Kapasitas
gudang berkaitan dengan jumlah dan dimensi barang atau produk yang akan disimpan.
7

Semua hal yang dipertimbangkan tersebut akan mempengaruhi kinerja pergudangan


maupun sistem logistik secara keseluruhan.

2.1.3. Transportasi
Dalam sistem logistik, transportasi berperan dalam perencanaan, penjadwalan, dan
pengendalian aktivitas yang berkaitan dengan moda, vendor, dan pemindahan persediaan
masuk dan keluar suatu organisasi.
Pemilihan moda merupakan permasalahan yang penting.Pemilihan moda dilakukan
dengan mempertimbangkan beberapa hal, seperti kondisi geografis, kapasitas, frekuensi,
biaya (tarif), kapasitas, availabilitas, kualitas pelayanan dan reliabilitas (waktu pengiriman,
variabilitas, reputasi, dll.). Secara umum, moda transportasi dibedakan atas kereta api, truk,
transportasi air, transportasi udara, dan pipa.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam transportasi adalah mengenai local pickup and
delivery serta long-haul movements. Perusahaan terkait biasanya memperhatikan
perbedaan karakteristik jangkauan atau jarak ini dengan strategi transportasi yang berbeda.
Untuk local pickup and delivery, perusahaan biasanya menggunakan armada sendiri. Untuk
long-haul movements, biasanya menggunakan outsourching kepada penyedia jasa logistik
(third-party logistics provider).
Dalam transportasi, pertimbangan ekonomis mencakup jarak, volume berat,
kepadatan (density), dan bentuk (stowability). Pertambahan jarak, misalnya, akan berakibat
bertambahnya biaya. Namun, pertambahan jarak tidak berbanding lurus dengan
pertambahan biaya. Pertambahan biaya ini cenderung akan berkurang ketika jarak terus
bertambah.
Volume berat barang atau produk akan mempengaruhi ekonomisasi transportasi, yaitu
biaya per satuan berat barang. Semakin berat barang, maka biaya per satuan berat barang
akan cenderung semakin murah. Tingkat kepadatan dan kemudahan bentuk barang atau
produk untuk disusun dalam moda transportasi juga akan mempengaruhi ekonomisasi
transportasi. Semakin mudah penyusunan barang atau produk tersebut berarti transportasi
semakin ekonomis, karena barang atau produk tersebut akan semakin memaksimalkan
penggunaan kapasitas moda.

2.1.4. Sistem Informasi


Sistem informasi merupakan saling keterkaitan perangkat keras dan perangkat lunak
komputer dengan orang dan proses yang dirancang untuk pengumpulan, pemrosesan, dan
diseminasi informasi untuk perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian
(APICS Dictionary, 10th ed.)
Sistem informasi diperlukan untuk mengintegrasikan komponen-komponen dan
kegiatan-kegiatan dalam sistem logistik. Efektivitas proses-proses dalam sistem logistik
sangat dipengaruhi oleh kualitas informasi yang digunakan. Kualitas informasi dapat dilihat
dari tiga aspek, yaitu: (1) ketersediaan informasi yang diperlukan untuk membuat keputusankeputusan terbaik, (2) keakuratan informasi, (3) efektivitas komunikasi.

Aliran informasi dalam sistem logistik dapat dijabarkan pada gambar berikut ini.
Gambar 2.2 Aliran Informasi Logistik

Sumber: Coyle, et al (2003).

2.1.5. Logistik Global


Distribusi dan logistik global memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan dunia perdagangan serta dalam integrasi manufaktur di seluruh dunia.
Kegunaan jaringan distribusi yang ada di pasar internasional meningkatkan kesempatan
untuk sukses secara cepat.
Global logistics merupakan rancangan dan manajemen terhadap satu sistem yang
mengatur dan mengendalikan aliran keluar masuk material dalam satu perusahaan melalui
batas negara untuk mencapai tujuan perusahaan itu sendiri, dengan total biaya yang
minimum. Manajemen Material lebih menekankan pada aliran masuk bahan baku, bahan
cadangan dan perlengkapan ke perusahaan. Distribusi fisik lebih menekankan pada
perpindahan produk jadi perusahaan ke pelanggan terdiri dari transportasi dan
penyimpanan.
Faktor-faktor dibawah ini mempengaruhi perkembangan kompleksitas dan biaya
logistik global:
a. Jarak
b. Fluktuasi tingkat nilai tukar
c. Perantara asing
d. Regulasi
e. Keamanan

2.1.6. Supply Chain Management


Rantai pasok (supply chain) didefinisikan sebagai jaringan global yang digunakan
untuk mengirimkan produk dan jasa dari bahan baku ke pelanggan akhir melalui aliran
informasi, distribusi fisik, dan uang (APICS Dictionary, 11th ed.).
Sementara itu, manajemen rantai pasok (supply chain management/SCM)
didefinisikan sebagai perancangan, perencanaan, eksekusi, pengendalian, dan pemantauan
aktivitas-aktivitas rantai pasok dengan tujuan untuk menciptakan net value, membangun
infrastruktur yang bersaing, leveraging worlwide logistics, melakukan sinkronisasi pasokan
dengan permintaan, dan mengukur kinerja secara global (APICS). Definisi SCM yang lain
adalah a network of organizations that are involved, through upstream and downstream
linkages, in the different processes and activities that produce value in the form of products
and services in the hands of the ultimate consumer (Christopher, 1992).
Salah satu fenomena penting dalam rantai pasok adalah masalah amplifikasi
permintaan (demand amplification) atau bullwhip effect. Ke arah hulu dalam rantai pasok,
amplifikasi permintaan akan semakin meningkat pada setiap tingkatnya.
Amplifikasi ini disebabkan oleh adanya waktu tunda (delay time) dan ketidak-akuratan
data dan informasi. Waktu tunda mencakup penundaan untuk operasi penciptaan nilai
tambah (value-added) maupun penundaan karena idle.
Amplifikasi dan distorsi permintaan mengakibatkan tingkat produksi pada matarantai
pabrik seringkali berfluktuasi jauh lebih besar dibandingkan yang terjadi pada tingkat
penjualan aktual. Dengan adanya amplifikasi permintaan, pengaturan tingkat produksi atau
pasokan menjadi suatu masalah sulit. Pada kondisi ini, produksi dan persediaan mengalami
kelebihan (overshoot) dan kekurangan (undershoot) dari tingkat yang seharusnya.

2.2

Sistem Distribusi

Distribusi adalah kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan material, biasanya


berupa barang (goods) atau suku cadang (parts), dari pabrik ke pelanggan, sedangkan
transportasi berkaitan dengan fungsi perencanaan, penjadwalan, dan pengendalian aktivitas
yang berkaitan dengan moda, vendor, dan pemindahan persediaan masuk dan keluar suatu
organisasi (APICS).
Dalam sistem distribusi, berbagai pihak yang interdependent terlibat dalam proses
penyampaian barang sehingga barang tersebut pada akhirnya dapat digunakan atau
dikonsumsi oleh pelanggan atau masyarakat. Berbagai pihak tersebut membentuk suatu
saluran distribusi (distribution channel) atau saluran pemasaran (marketing channel).
Saluran distribusi dapat dibedakan atas saluran pemasaran pelanggan (customer
marketing channel) dan saluran pemasaran bisnis (business marketing channel), seperti
ditunjukkan pada gambar berikut ini.

10

Gambar 2.3 Saluran Pemasaran Pelanggan dan Saluran Pemasaran Bisnis

2.2.1 Fasilitas Distribusi


Kegiatan distribusi membutuhkan berbagai fasilitas, seperti depot, gudang
(warehouse), pusat konsolidasi (consolidation centers), dan pusat distribusi (distribution
centers). Suatu fasilitas distribusi bisa mempunyai beberapa fungsi. Gudang, misalnya, bisa
sekaligus berfungsi sekaligus sebagai pusat konsolidasi dan pusat distribusi. Berkaitan
dengan fasilitas distribusi, beberapa hal perlu menjadi pertimbangan, antara lain penentuan
lokasi, kapasitas, peralatan, komoditas yang akan ditangani, wilayah yang akan dilayani,
dan sebagainya.

2.2.2 Infrastruktur
Kelancaran transportasi dan distribusi jalan memerlukan dukungan infrastruktur,
seperti jalan raya, jembatan, pelabuhan, dan lain-lain. Pengangkutan barang sangat
dipengaruhi oleh ketersediaan infrastruktur jalan raya yang memadai. Pemerintah perlu
memperhatikan daya dukung jalan (panjang dan lebarnya) terhadap pertambahan volume
kendaraan.
Pemeliharaan infrastruktur perlu mendapatkan perhatian yang tidak kalah penting
dengan pengembangan infrastruktur itu sendiri. Pemeliharaan infrastruktur jalan raya
merupakan masalah kompleks karena terkait dengan berbagai pihak, baik antar departemen
maupun antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah terkait.

2.2.3 Dampak Bencana Alam terhadap Distribusi


Fungsi infrastruktur transportasi seringkali terganggu akibat bencana alam, seperti
gempa bumi, tanah longsor, banjir, dsb. Dari beberapa bentuk bencana alam tersebut, banjir
merupakan gangguan yang paling sering terjadi. Untuk proses transportasi atau pengiriman
11

barang ini, gangguan terjadi berupa banjir yang terjadi di jalur jalan yang akan dilalui atau
tergenangnya lokasi tujuan pengiriman barang yang berakibat tidak dapat dilakukannya
pembongkaran barang.
Kelambatan pengiriman barang berakibat naiknya biaya pengiriman barang, terutama
biaya operasional.Salah satu komponen biaya operasional yang paling terpengaruh adalah
biaya pengemudi (supir). Bertambahnya waktu pengiriman barang berarti bertambahnya
biaya pengemudi. Biaya pengemudi ini besarnya berkisar 10-15% dari biaya operasional.
Apabila kendaraan harus menginap beberapa hari, maka biaya pengemudi akan bertambah
sekian kali lipat. Akibat banjir ini, biaya pengiriman barang dapat bertambah 30-40% dari
biaya normal.
Akibat terhambatnya pengiriman barang tidak hanya diterima oleh transporter (sebagai
perusahaan pengiriman barang), namun juga ditanggung oleh perusahaan prinsipal sebagai
pemilik barang. Perusahaan prinsipal akan ikut menanggung kenaikan biaya pengiriman
barang, sesuai kontrak yang disepakati dengan perusahaan transporter. Kenaikan biaya ini
berupa biaya penyimpanan sementara apabila barang-barang tersebut disimpan dalam
beberapa waktu di suatu gudang atau tambahan biaya karena truk menunggu proses
bongkar muat sementara waktu.
Selain penambahan biaya operasional, perusahaan transportasi (transporter) juga
menghadapi risiko kerusakan kendaraan yang diakibatkan oleh banjir. Kerusakan yang
umumnya terjadi adalah kerusakan suku cadang sampai perbaikan engine overhaul atau
turun mesin. Masyarakat atau konsumen juga akan menanggung dampak keterlambatan
pengiriman barang. Beberapa dampak ini adalah kenaikan harga barang, kerugian waktu
dan opportunitycost (misalnya paket), kondisi barang (misalnya kerusakan sayur segar),
kelangkaan barang, dan lain-lain.

2.2.4 Sistem Hub-and-Spoke


Sistem distribusi yang digunakan akan mempengaruhi efisiensi yang dapat dicapai.
Sebelum tahun 1970-an, sistem distribusi yang banyak digunakan adalah sistem Point-toPoint. Pada sistem ini, distribusi dilakukan dengan mengirimkan barang dari suatu titik ke
titik yang lain tanpa terlalu memperhatikan aliran atau rute pengiriman barang secara
keseluruhan. Dengan sistem ini, secara keseluruhan frekuensi pengiriman barang menjadi
tinggi dan berdampak pada total biaya distribusi.
Gambar 2.4. Perbandingan Sistem Point-to-Point dan Sistem Hub-and-Spoke

12

Pada tahun periode 1970-1980, distribusi mulai menggunakan sistem Hub-andSpoke.Sistem ini dikembangkan dengan memperhatikan keseluruhan titik asal dan titik
tujuan pengiriman barang. Pengiriman barang dari suatu titik ke titik yang lain dilakukan
dengan menggunakan suatu titik sebagai hub. Dengan sistem ini, efisiensi dapat dicapai
melalui frekuensi pengiriman barang yang lebih rendah. Selain itu, tingkat penggunaan
armada menjadi lebih baik pada rute jarak jauh. Pemilihan kapasitas armada pada suatu
rute juga dapat disesuaikan dengan volumenya.

2.3. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia


(MP3EI)
Presiden telah menetapkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun
2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
(MP3EI) tahun 2011-2025. MP3EI merupakan arahan strategis dalam percepatan dan
perluasan pembangunan ekonomi Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung
sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 dan melengkapi dokumen
perencanaan.
MP3EI berfungsi sebagai acuan bagi menteri dan pimpinan lembaga pemerintah
nonkementerian untuk menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka pelaksanaan
percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia di bidang tugas masingmasing, yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis masing-masing
kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian sebagai bagian dari dokumen
perencanaan pembangunan dan acuan untuk penyusunan kebijakan percepatan dan
perluasan pembangunan ekonomi Indonesia pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota
terkait.
Implementasi MP3EI mencakup 8 program utama yang terdiri atas 22 kegiatan
ekonomi utama. Salah satu elemen utama yang akan dikembangkan dalam strategi
implementasi MP3EI adalah pengembangan potensi ekonomi regional di 6 koridor ekonomi,
yaitu: Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, dan Papua-Kepulauan
Maluku (lihat gambar).
Gambar 2.5. Enam Koridor Ekonomi Indonesia dalam MP3EI

Sumber: MP3EI (2012)


13

Suksesnya pelaksanaan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi


Indonesia tersebut sangat tergantung pada kuatnya derajat konektivitas ekonomi nasional
(intra dan inter wilayah) maupun konektivitas ekonomi internasional Indonesia dengan pasar
dunia. Dengan pertimbangan tersebut Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI) menetapkan penguatan konektivitas nasional sebagai salah
satu dari tiga strategi utama (pilar utama).
Konektivitas Nasional merupakan pengintegrasian 4 (empat) elemen kebijakan
nasional yang terdiri dari Sistem Logistik Nasional (Sislognas), Sistem Transportasi Nasional
(Sistranas), Pengembangan wilayah (RPJMN/RTRWN), Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK/ICT). Upaya ini perlu dilakukan agar dapat diwujudkan konektivitas
nasional yang efektif, efisien, dan terpadu.
Sebagaimana diketahui, konektivitas nasional Indonesia merupakan bagian dari
konektivitas global. Oleh karena itu, perwujudan penguatan konektivitas nasional perlu
mempertimbangkan keterhubungan Indonesia dengan dengan pusat-pusat perekonomian
regional dan dunia (global) dalam rangka meningkatkan daya saing nasional. Hal ini sangat
penting dilakukan guna memaksimalkan keuntungan dari keterhubungan regional dan
global/internasional.

2.4. Pengembangan Sistem Logistik Nasional


Salah satu penunjang implementasi MP3EI adalah Sistem Logistik Nasional yang
telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2012
tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional.
Cetak Biru tersebut berfungsi sebagai acuan bagi menteri, pimpinan lembaga non
kementerian, gubernur, dan bupati/walikota dalam rangka penyusunan kebijakan dan
rencana kerja yang terkait pengembangan Sistem Logistik Nasional di bidang tugas masingmasing, yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis masing-masing
kementerian/lembaga pemerintah non kementerian dan pemerintah daerah sebagai bagian
dari dokumen perencanaan pembangunan.
Dalam Cetak Biru telah diidentifikasikan perkembangan dan permasalahan logistik
nasional. Permasalahan logistik nasional antara lain mencakup permasalahan komoditas,
infrastruktur logistik, teknologi informasi dan komunikasi, pelaku dan penyedia jasa logistik,
sumber daya manusia, regulasi dan kebijakan, serta kelembagaan.
Adapun Visi, Misi, dan Tujuan Sistem Logistik Nasional adalah sebagai berikut:
Visi Logistik Indonesia 2025:
Terwujudnya Sistem Logistik yang terintegrasi secara lokal, terhubung secara global untuk
meningkatkan daya saing nasional dan kesejahteraan rakyat (locally integrated, globally
connected for national competitiveness and social welfare)
Misi
Adapun misi dari Sistem Logistik Nasional:
a. Memperlancar arus barang secara efektif dan efisien untuk menjamin pemenuhan
kebutuhan dasar masyarakat dan peningkatan daya saing produk nasional di pasar
domestik, regional, dan global.
14

b. Membangun simpul-simpul logistik nasional dan konektivitasnya mulai dari pedesaan,


perkotaan, antar wilayah dan antar pulau sampai dengan hub pelabuhan internasional
melalui kolaborasi antar pemangku kepentingan.
Tujuan
Sesuai dengan visi dan misi di atas secara umum tujuan yang ingin dicapai dalam
membangun dan mengembangkan Sistem Logistik Nasional adalah mewujudkan sistem
logistik yang terintegrasi, efektif dan efisien untuk meningkatkan daya saing nasional di
pasar regional dan global, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Secara lebih
spesifik tujuan tersebut adalah:
a. Menurunkan biaya logistik, memperlancar arus barang, dan meningkatkan pelayanan
logistik sehingga meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global dan pasar
domestik;
b. Menjamin ketersediaan komoditas pokok dan strategis di seluruh wilayah Indonesia
dengan harga yang terjangkau sehingga mendorong pencapaian masyarakat adil dan
makmur, dan memperkokoh kedaulatan dan keutuhan NKRI;
c. Mempersiapkan diri untuk menghadapi integrasi jasa logistik ASEAN pada tahun 2013
sebagai bagian dari pasar tunggal ASEAN tahun 2015 dan integrasi pasar global pada
tahun 2020.
Menurut Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional, komoditas penggerak
utama difokuskan pada dua kelompok yaitu: (1) komoditas pokok dan strategis; dan (2)
komoditas unggulan ekspor.
Strategi bagi komoditas pokok dan strategis adalah menjamin pasokan dan
kelancaran arus penyaluran kebutuhan konsumsi dan pembangunan dalam negeri. Sasaran
strategis yang ingin dicapai adalah terjaminnya ketersediaan, kemudahan mendapatkan
barang dari komoditas pokok dan strategis yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat
dengan harga yang relatif stabil dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
Program yang direncanakan untuk komoditas pokok dan strategis meliputi:
a. Pembangunan sistem logistik nasional melalui pengembangan jaringan distribusi
penyangga baik ditingkat regional, provinsi maupun kabupaten/kota, penataan ulang dan
revitalisasi sistem distribusi termasuk sistem distribusi antar pulau baik tata niaga, tata
kelola, pelaku, dan sistem informasi, membangun dan merevitalisasi pasar tradisional
baik prasarana, sarana, rantai pasok, maupun manajemen.
b. Peningkatan ketersediaan pasokan nasional komoditas pokok dan strategis dan bahan
baku yang masih diimpor; dan peningkatan peran pemerintah daerah dalam penyediaan
pasokan dan penyaluran komoditas pokok dan strategis.
c. Penurunan disparitas harga komoditas pokok dan strategis baik antar waktu dan antar
daerah melalui stabilisasi harga yang terjangkau secara merata dan pembangunan
terminal agribisnis, pusat distribusi (distribution center), dan peningkatan pemanfaatan
sistem resi gudang.

15

Salah satu Rencana Aksi Komoditas Penggerak Utama dalam Cetak Biru
Pengembangan Sistem Logistik Nasional adalah terbangunnya sistem manajemen rantai
pasok untuk komoditas pokok dan strategis di setiap koridor ekonomi. Rencana Aksi itu
ditargetkan untuk tahun 2012-2015 dengan Kementerian Perdagangan sebagai penanggung
jawab.

2.5. Pusat Distribusi


Pada Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 48/M-DAG/PER/8/2013
BAB I Pasal 1 Nomor 3 disebutkan bahwa Pusat Distribusi adalah tempat yang berfungsi
sebagai penyangga komoditas utama untuk menunjang kelancaran arus barang baik antar
kabupaten/kota maupun antar provinsi untuk tujuan pasar dalam negeri dan/atau pasar luar
negeri. Berikut ini adalah penjelasan mengenai Pusat Distribusi (Kementerian Perdagangan,
2012).
2.5.1. Peran Pusat Distribusi
Pusat
Distribusi
(PD)
berperan
menjembatani
antara
kepentingan
petani/peternak/nelayan dan pasar (konsumen RT, konsumen non RT, industri pengolahan
dan ekspor). Di sini PD berperan juga sebagai penyeimbang dan penyangga dari sistem
rantai pasok yang ada. Di sini PD bertujuan untuk melayani kepentingan
petani/peternak/nelayan, konsumen dan pelaku sistem rantai pasok komoditas di wilayah
rural dan juga perkotaan.
Dalam rantai pasok dimana petani berposisi sebagai konsumen, PD berfungsi sebagai
pemasok barang kebutuhan produksi pertanian/peternakan (saprotan, seperti benih, pupuk,
pestisida) dan barang konsumsi masyarakat rural yang didapatkan langsung dari produsen
pabrikan di dalam negeri maupun luar negeri (impor). Dengan demikian, di sini dapat
dipangkas rantai distribusi barang kebutuhan bagi sektor rural yang akan berdampak pada
keterjangkauan harga barang. Selain itu, Pusat Distribusi yang bekerja sama dengan bank
dan badan asuransi juga menjalankan fungsi manajemen finansial bagi petani. Di sisi lain,
PD juga berfungsi sebagai pusat konsolidasi hasil produksi yang dihasilkan
petani/peternak/nelayan sehingga mudah diserap pasar. PD ini pun juga terhubung dengan
pasar grosir (wholesaler market) yang merupakan salah satu mata rantai sistem rantai
pasok komoditas. Dengan demikian, PD merupakan institusi pelayanan bisnis komoditas
pokok dan strategis untuk memberdayakan masyarakat petani/peternak/nelayan, penunjang
industri pengolahan nasional, dan memberikan kontribusi kepada stakeholder lainnya.
Dengan demikian, PD juga berperan sebagai instrumen sistem ekonomi nasional dengan
fokus perhatian pada produsen (petani/peternak/nelayan) dengan memberikan keuntungan
(nilai tambah) pada konsumen dan industri pengolahan.
PD berperan juga sebagai penyeimbang dari sistem rantai pasok yang ada saat ini
sehingga diharapkan harga pembelian di tingkat produsen akan menjadi meningkat dan
harga penjualan di tingkat konsumen lebih stabil. Di sisi lain, petani/peternak/nelayan akan
mendapatkan barang keperluan konsumsi dan kebutuhan saprotan/sapronak dengan harga
yang lebih murah. Dengan demikian diharapkan petani/peternak/nelayan menjadi sejahtera,
dan konsumen mendapatkan jaminan pasokan komoditas pokok dan strategis dengan harga
yang stabil. Dengan adanya Pusat Distribusi ini, petani/peternak/nelayan akan bebas
memilih kepada siapa hasil produksinya akan dijual, apakah kepada sistem yang ada atau
16

kepada badan usaha yang baru ini. Badan usaha ini akan berfungsi untuk mengendalikan
harga yang wajar bagi petani/peternak/nelayan sehingga secara tidak langsung akan
membuat pengumpul dan pedagang barang konsumsi yang telah ada pun ikut memasang
harga beli dan harga jual yang wajar.
Gambar 2.6 Skema Pemberdayaan Petani/Peternak/Nelayan

Sumber: Kementerian Perdagangan (2012)


Secara umum, kerangka pemberdayaan yang akan dilakukan melalui Pusat Distribusi
adalah sebagai berikut:
a. Memperpendek rantai pemasaran sehingga produksi petani/peternak/nelayan dapat
dijual dengan tingkat harga yang memadai (lebih tinggi daripada harga yang ditawarkan
oleh lainnya) untuk diolah dan dipasarkan kepada konsumen domestik maupun luar
negeri;
b. Memperpendek rantai penyediaan (supply chain) barang konsumsi dan sarana produksi
petani/peternak/nelayan sehingga barang kebutuhan petani/peternak/nelayan tersebut
dapat diperoleh dengan harga yang lebih murah melalui outlet pelayanan
petani/peternak/nelayan atau outlet mitra;
c. Memberikan bantuan, bimbingan dan pembinaan kepada petani/peternak/nelayan untuk
meningkatkan kualitas dan produktivitas komoditas pokok dan strategis dengan sistem
kemitraan yang didasarkan atas azas kemanfaatan bersama;
d. Meningkatkan nilai tambah dengan mengolah komoditas pokok dan strategis dari
petani/peternak/nelayan menjadi produk olahan komoditas dengan mendirikan pabrik
pengolahan;
e. Menyediakan fasilitas pergudangan sebagai cadangan pengaman (buffer stock) untuk
kestabilan harga di tingkat petani/peternak/nelayan dan jaminan ketersediaan bahan
baku komoditas bagi industri pengolahan; dan
f. Menyediakan bantuan keuangan bagi petani/peternak/nelayan baik untuk permodalan
maupun biaya hidup dengan menjadi penjamin kredit bagi bank atau lembaga keuangan
lainnya.

17

2.5.2. Manfaat Pusat Distribusi


Berdasarkan uraian di atas, maka PD ini tidak hanya bermanfaat bagi produsen,
konsumen, dan industri pengolahan tetapi juga bagi para stakeholder terkait lainnya.
Beberapa manfaat yang dapat diberikan di antaranya adalah:
a. Bagi Produsen
1) Meningkatkan kemampuan budi daya dan mutu produk.
2) Meningkatkan kestabilan harga produk.
3) Meningkatkan daya beli, sehingga dapat mengembangkan usahanya.
4) Meningkatkan kesejahteraan hidup.
b. Bagi Konsumen
1) Ketersediaan produk menjadi lebih terjamin.
2) Kualitas komoditas pokok dan strategis meningkat.
3) Harga komoditas pokok dan strategis yang stabil dan terjangkau.
c. Bagi Usaha Pedesaan
1) Pasokan barang kebutuhan pokok dan strategis lebih terjamin dan murah.
2) Harga jual dan harga beli komoditas pokok dan startegis menjadi lebih stabil.
3) Bisnis yang dijalankan dapat terkelola dengan lebih baik.
d. Bagi Pemerintah Daerah
1) Dapat menyerap tenaga kerja baru yang ada di daerah.
2) Peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
3) Produk unggulan dari daerah bersangkutan dapat terjamin rantai pasoknya.
e. Bagi Pemerintah Pusat
1) Dapat meningkatkan ketahanan pangan nasional.
2) Dapat menjadi alat pengatur, pembinaan, dan pengawasan penyalurankomoditas
pokok dan strategis.
3) Dapat menjadi badan yang sekaligus sebagai pusat ekspor dan impor bahan
komoditas pokok dan startegis.
Sebagaimana amanat dalam Sistem Logistik Nasional, maka Pusat Distribusi ini akan
ditempatkan pada tingkat kabupaten/kota, provinsi dan regional, dan akan berada di bawah
koordinasi pemerintah daerah setempat namun dijalankan oleh tenaga profesional di luar
pemerintahan. Oleh karena itu akan ada Pusat Distribusi Daerah tingkat kabupaten/kota
(PDD), dan Pusat Distribusi tingkat Provinsi (PDP), dan Pusat Distribusi Regional di tingkat
Nasional (PDR).

18

2.5.3. Aktivitas Bisnis dan Pelayanan Pusat Distribusi


Pada prinsipnya, Pusat Distribusi (PD) sebagai suatu lembaga atau badan penyangga
yang dapat menangani sistem rantai pasok komoditas pokok dan strategis yang diperlukan,
memiliki aktivitas sebagai berikut:
a. Penampung (Collector)
Membeli hasil produksi dari petani/peternak/nelayan dan mengolahnya (penanganan,
penampungan, pemotongan dan pengepakan) menjadi produk yang siap dijual kepada
konsumen.
b. Pemasar (Marketer)
Memasarkan komoditas pokok dan strategis baik keluar negeri (ekspor) maupun untuk
memenuhi kebutuhan dalam negeri.
c. Grosir (Wholesaler)
Mengadakan barang konsumsi dan sarana produksi kebutuhan petani/peternak/nelayan
dari pabrikan atau grosir dan menyalurkannya ke masyarakat petani/peternak/nelayan
melalui outlet yang tersedia.
d. Penyedia Jasa Logistik
Menangani aktivitas logistik baik transportasi maupun pergudangan dan inventori.
e. Pelayanan
1) Melayani kebutuhan petani/peternak/nelayan
2) Mengkoordinasikan dan menangani seluruh kegiatan bisnis komoditas pokok dan
strategis mulai tingkat pedesaan (petani/peternak/nelayan) sampai ke perkotaan
(konsumen), bahkan ekspor.
f.

Pembinaan dan Kemitraan


1) Melakukan pembinaan masyarakat petani/peternak/nelayan baik yang terkait dengan
budidaya, panen, pasca panen, pemasaran maupun kesejahteraannya.
2) Melakukan pembinaan manajemen bisnis bagi unit usaha pedesaan (Wardes, KUD,
BUMDes) agar menjadi usaha bisnis yang modern dan profesional.
3) Menjalin kerjasama kemitraan dengan unit usaha pedesaan/Outlet Mitra (Wardes,
KUD, BUMDes) dan Pemda, lembaga keuangan, dan para pihak terkait lainnya.

Jika dilihat pada mata rantai pasokan komoditas pokok dan strategis (lihat Gambar
berikut ini), Pusat Distribusi (PD) dalam melakukan konsolidasi barang dari/ke
petani/peternak/nelayan mutlak perlu melakukan kerjasama dengan outlet pengumpul dan
Unit Distribusi Kecamatan (UDK). Hal ini dikarenakan keduaentitas bisnis tersebut
merupakan perpanjangan tangan dari PD dalam rangka pemberdayaan masyarakat
pedesaan. Sementara itu, untuk menjangkau konsumen akhir (RT, non RT dan industri
pengolahan), PD mutlak perlu melakukan kerjasama dengan jaringan pengecer (pasar
tradisional/modern) dan pedagang intermediare. Dengan demikian, PD harus selalu
berkolaborasi dengan mitra strategis di setiap rantai. Secara lebih detil tentang fungsi PD di
setiap mata rantai pasokan komoditas pokok dan strategis ditunjukkan pada gambar berikut.

19

Gambar 2.7 Fungsi Pusat Distribusi dan Infrastrukturnya

Sumber: Kementerian Perdagangan (2012)


Di jaringan pemasok, outlet pengumpul sebagai perpanjangan tangan PD akan
berfungsi sebagai kolektor/pengumpul hasil produksi petani/peternak/nelayan; melakukan
sorting, grading dan packing; serta melakukan pelayanan termasuk di dalamnya pelayanan
penyediaan kebutuhan pokok masyarakat pedesaan. Entitas Unit Distribusi Kecamatan
(UDK) akan berfungsi sebagai tempat processing atau pengolahan komoditas hasil tani lebih
lanjut (contohnya penggilingan); melakukan sorting, grading dan packing; dan pelayanan
bisnis termasuk di dalamnya permodalan di tingkat petani/peternak/ nelayan. Sementara itu,
Pusat Distribusi (PD) melakukan fungsi branding komoditas yang dialirkan melalui PD;
melakukan re-grading & re-packing; serta melakukan layanan bisnis lainnya termasuk di
dalamnya aktivitas ekspor impor dan penjaminan finansial untuk masyarakat pedesaan dan
pedagang mikro (pasar tradisional).
Untuk komoditas jenis fast moving, fungsi pusat distribusi lebih diutamakan sebagai
terminal bukan sebagai public warehousing. Sifat komoditas fast moving yang cepat
berubah kualitasnya serta margin harga yang tipis dikarenakan rata-rata produk tersebut
merupakan produk segar tanpa pengolahan, menyebabkan komoditas tersebut harus
sesegera mungkin sampai ke tangan pelanggan. Keterlambatan pengirimannya hanya akan
membuat produk tersebut merosot harganya atau bahkan kadaluarsa sehingga tidak bisa
dijual dan menjadi limbah. Sebagai terminal, fungsi utama pusat distribusi untuk barang fast
moving adalah:
a. Tempat penggantian moda transportasi dari yang bervolume besar menjadi yang
bervolume lebih kecil. Pusat distribusi yang baik adalah terminal dengan sistem cross
docking yang sangat efisien dan cepat.
b. Tempat terjadinya pelelangan komoditas tertentu berpartai sangat besar untuk
memastikan rantai nilai (value chain) yang optimal, tidak berjenjang, mengurangi
perantara, bersifat transparan serta yang terpenting adalah proses tawar menawar antara
pemasok dengan distributor dapat berlangsung cepat dan teratur sehingga sangat sesuai
dengan sistem cross docking.
c. Memberi kemudahan dengan sistem transaksi pembayaran voucher sehingga tidak ada
waktu terbuang karena transaksi berbasis tunai.
20

d. Standardisasi operasi. Para anggota pengguna pusat distribusi diharuskan mematuhi dan
beroperasi sesuai persyaratan yang telah ditentukan oleh pengelola pusat distribusi.
Persyaratan Operasi (SOP) tersebut bertujuan selain untuk memperlancar dan
mempermudah koordinasi dan penanganan sistem cross docking, juga berfungsi untuk
memastikan standar kualitas dan cara pengemasan maupun transportasi dari komoditas
tersebut. Misalkan proses sorting (pemilahan) dan grading (tingkat mutu) harus dilakukan
sebelum tiba di pusat distribusi serta satuan unit terkecil (lot sizing) diseragamkan untuk
memudahkan penanganannya. Dalam hal ini keberadaan Sub Pusat Distribusi di daerah
pasokan akan sangat memudahkan proses sorting dan grading.
e. Tempat penanganan daur ulang dan limbah. Komoditas yang belum terjual hingga tiba
waktu menjelang kadaluarsanya dapat dipertahankan nilainya dengan dilakukan
pemrosesan lebih lanjut yang bersifat daur ulang. Fasilitas pemrosesan dapat diadakan
sendiri dalam kompleks pusat distribusi ataupun disalurkan pada para pelaku pemroses
di luar pusat distribusi. Limbah yang masih tersisa akan ditangani secara khusus seperti
dipadatkan untuk disalurkan pada tempat pembuangan sampah.
Selain berfungsi sebagai terminal, pusat distribusi barang fast moving dapat pula
berfungsi sebagai penyedia fasilitas penyimpanan khusus atau cold storage. Fungsi cold
storage merubah sifat fast moving menjadi slow moving karena usia kedaluarsa menjadi
diperlambat sehingga memastikan kesegarannyaterjaga. Seyogyanya fasilitas semacam ini
hanya sesuai untuk komoditas organik yang relatif memiliki nilai tinggi di pasar, misalkan
bunga anggrek untuk tujuan ekspor dan sebagainya. Fasilitas semacam ini akan
mengarahkan pusat distribusi menjadi mitra industri pengolahan produk organik. Berikut ini
ditunjukkan area bisnis pada setiap mata rantai pasokan.
Gambar 2.8 Area Bisnis pada Setiap Mata Rantai Pasokan

Sumber: Kementerian Perdagangan (2012)

21

2.5.4. Pelayanan Pusat Disribusi


Sistem pelayanan yang akan dikembangkan adalah sistem pelayanan satu atap yang
akan dikelola oleh manajemen profesional. Berikut berbagai pelayanan yang mungkin
diberikan oleh suatu pusat distribusi yaitu antara lain:
a. Ekspor Impor
1) Administrasi
2) Pengurusan retribusi dan bea cukai
3) lnspeksi kualitas & sertifikasi
b. Transportasi
1) Pengiriman ke dalam-ke luar
2) Load-Unload truk, kendaraan lain
c. Pergudangan
1) Penerimaan
2) Cross docking
d. Penyimpanan Khusus - Cold Storage
1) Order Picking/Kitting
2) Inspeksi
3) Konsolidasi
4) Pengemasan (packing/crating)
5) Pengiriman (shipping)
e. Lelang: Tempat pelelangan cepat
f. FasilitasKeuangan-Perbankan
1) Kredit (credit scheme)
2) Modal kerja
3) Penjaminan (surety bonds)
4) Sistem pembayaran
g. Sistem lnformasi:
1) Lokasi gudang
2) Pencatatan (inventory records)
3) Keluar-masuk (inventory turns)
4) Pemilihan (picking information)
5) Informasi pasar

22

2.6. Pusat Distribusi Regional


Pada Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor : 48/MDAG/PER/8/2013 disebutkan bahwa Pusat Distribusi Regional adalah pusat distribusi yang
berfungsi sebagai penyangga komoditas utama di beberapa kabupaten/kota yang memiliki
jumlah penduduk, aksesibilitas, daerah konsumen, yang dapat bersifat kolektor, dan
berpotensi untuk dikembangkan menjadi pusat perdagangan antar pulau.
Berikut ini adalah penjelasan mengenai Pusat Distribusi Regional (Kementerian
Perdagangan, 2012).
Pusat Distribusi Regional (PDR) merupakan salah satu sub sistem jaringan yang pada
dasarnya berfungsi sebagai penyokong bagi Pusat Distribusi Provinsi (PDP) yang berada di
tiap propinsi dalam hal pemenuhan dan penyaluran kebutuhan maupun hasil produksi
daerah. Pusat Distribusi Regional sendiri berada dalam naungan Kementerian
Perdagangan.
Dilihat dari hierarki antara tiap level pusat distribusi, Pusat Distribusi Regional memiliki
hubungan langsung dengan Pusat Distribusi Provinsi yang berada di wilayah regionalnya.
Hubungan antara kedua entitas tersebut bersifat independen, namun tidak dapat dipisahkan
karena memiliki keterkaitan yang saling mendukung. Pusat Distribusi Regional pun dapat
berhubungan langsung dengan Pusat Distribusi Regional di regional lain dalam rangka
penyaluran kebutuhannya. Hubungan antara Pusat Distribusi Regional dengan entitas lain
dalam sistem secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Pusat Distribusi Regional akan mengumpulkan data mengenai kebutuhan komoditas di
tiap provinsi layanannya.
b. Data persediaan komoditas pada Pusat Distribusi Provinsi di tiap propinsi dikumpulkan
dan diagregatkan menjadi data persediaan regional untuk selanjutnya dilaporkan ke
Kementerian Perdagangan.
c. Pusat Distribusi Regional akan mencari pasokan untuk menutupi kekurangan pasokan di
provinsi yang dinaunginya.
d. Pusat Distribusi Regional menjadi pusat konsolidasi dalam hal pemesanan komoditas
ketika kuota pemesanan di Pusat Distribusi Provinsi yang membutuhkan tidak
mencukupi untuk melakukan pemesanan secara mandiri.
Pada tiap regional pada dasarnya harus terdapat satu Pusat Distribusi Regional untuk
melayani kebutuhan regional tersebut. Namun, tidak menutup kemungkinan dalam satu
regional terdapat lebih dari satu Pusat Distribusi Regional.

2.6.1. Fungsi Pusat Distribusi Regional


Pusat Distribusi Regional umumnya merupakan penyedia dan pengelola cadangan
penyangga serta pusat konsolidasi komoditas yang dibutuhkan oleh masyarakat. Fungsi
utama dari Pusat Distribusi Regional adalah:
a. Sebagai pusat konsolidasi pengadaan komoditas untuk mencukupi kebutuhan di
regionalnya. Aktivitas konsolidasi ini dilakukan ketika kuota kebutuhan komoditas di
Pusat Distribusi Provinsi yang berada di propinsi tidak mencukupi untuk melakukan

23

pemesanan secara mandiri dan perlu dilakukan konsolidasi dengan kebutuhan provinsi
lain sehingga dapat mencukupi kuota yang ditetapkan oleh produsen komoditas tersebut
b. Sebagai penyangga persediaan komoditas untuk menanggulangi kekurangan, baik bagi
regional layanannya maupun bagi kebutuhan nasional.
c. Sebagai pelaksana pencatatan kebutuhan komoditas pada suatu wilayah regional
berdasarkan data yang diserahkan oleh Pusat Distribusi Provinsi yang berada di
bawahnya.
d. Sebagai tempat dilakukannya kegiatan pencatatan, sorting, cross docking, packing dan
storage untuk komoditas impor yang dipesan untuk selanjutnya disalurkan kepada PDP
di provinsi di bawah wilayah layanannya yang membutuhkan dengan harga yang lebih
terkendali dibandingkan jaringan distribusi umum (non Pusat Distribusi).
e. Sebagai pelaksana standarisasi operasional dalam setiap aktivitas kegiatan yang
diselenggarakan Pusat Distribusi Regional yang harus dipatuhi oleh semua anggota dari
Pusat Distribusi Regional yang dimaksudkan untuk mempermudah koordinasi,
pengawasan, dan pengambilan keputusan apabila terjadi keadaan yang luar biasa dari
setiap aktivitas.

2.6.2. Aktivitas Bisnis Pusat Distribusi Regional


Aktivitas pelayanan Pusat Distribusi Regional, di antaranya adalah :
a. Layanan Logistik (Logistics Services)
Layanan logistik pada Pusat Distribusi Regional terdiri dari layanan pergudangan
(warehousing) termasuk didalamnya adalah kegiatan penyimpanan, penumpukan,
pengaturan, penimbangan, dan penyewaan lantai gudang. Selain itu, layanan nilai
tambah komoditas (value added services) juga menjadi bagian dari layanan logistik yang
didalamnya terdapat aktivitas penanganan komoditas, sortasi, grading, packing, labeling,
pelacakan dan keamanan sehingga diharapkan komoditas yang keluar dari Pusat
Distribusi Regional memiliki mutu yang bersaing dengan produk sejenis.
b. Layanan Transportasi (Transportation Services)
Dalam layanan transportasi jasa yang disediakan Pusat Distribusi Regional antara lain
layanan transportasi darat (land transportation) yang menghubungkan antara terminal
satu dengan terminal yang lain, layanan transportasi pengumpan (feeder transportation)
dari terminal langsung ke konsumen tujuan, layanan transportasi antar pulau (inter island
transportation) dengan menggunakan moda transportasi laut maupun udara, dan
layanan manajemen armada angkutan (fleet management) barang.
c. Layanan Penunjang (Supporting Services)
Pada kegiatan layanan penunjang dalam Pusat Distribusi Regional terdapat fasilitasfasilitas penunjang yaitu layanan perbankan, layanan asuransi, manajemen penjaminan,
restauran, tempat istirahat, dan lain sebagainya.

24

2.6.3. Sistem Layanan Pusat Distribusi Regional


Sistem pelayanan yang akan dikembangkan adalah sistem pelayanan satu atap yang
akan dikelola oleh manajemen profesional dengan perincian sebagai berikut:
a. Pembelian Komoditas
1) Pengadaan komoditas impor sebagai cadangan penyangga
2) Pembelian komoditas di daerah surplus sebagai cadangan penyangga
3) Administrasi
4) Pengurusan retribusi dan bea cukai
5) lnspeksi kualitas & sertifikasi
b. Transportasi:
1) Pengiriman domestik ataupun internasional
2) Load Unload komoditas pada suatu kendaraan
c. Pergudangan:
1) Penerimaan
2) Cross Docking
3) Konsolidasi
4) Pemilahan
5) Pengiriman (shipping)
d. Penyimpanan Khusus - Cold Storage
1) Order Picking/Kitting
2) lnspeksi
3) Konsolidasi
4) Pengemasan (Packing/Crating)
5) Pengiriman (Shipping)
e. Fasilitas Keuangan-Perbankan
1) Kredit (Credit Scheme)
2) Modal Kerja
3) Penjaminan (Surety bonds)
4) Sistem pembayaran
f. Sistem lnformasi :
1) Lokasi Gudang
2) Pencatatan (Inventory Records)
3) Kebutuhan atau permintaan
4) Keluar-masuk (Inventory Turns)
5) Pemilihan (Picking Information)
6) Tracking and Tracing Cargo
7) lnformasi Pasar

25

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran dan Metode Analisis
Isu penting yang harus dikaji adalah perkembangan dan perubahan kebijakan dan
situasi, baik yang bersifat nasional maupun internasional. Isu nasional yang utama adalah
mengenai Sistem Logistik Nasional (Sislognas) dan Masterplan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025. Isu nasional yang sangat terkait
adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 dan Integrasi Pasar Global 2020.
Pengkajian dilakukan terhadap Pusat Distribusi Regional (PDR), mencakup fungsi,
aktivitas, dan sistem layanan. Aspek fungsi meliputi PDR sebagai pusat konsolidasi,
penyangga persediaan, pelaksana pencatatan kebutuhan komoditas, tempat kegiatan
pencatatan, dan pelaksana standardisasi operasional. Aktivitas terdiri dari layanan logistik,
layanan transportasi, dan layanan penunjang. Sistem layanan mencakup: pembelian
komoditas, transportasi, pergudangan, penyimpanan khusus - cold storage, fasilitas
keuangan - perbankan, dan sistem transportasi.
Jika infrastruktur dan regulasi tidak memadai, maka tujuan pembangunan PDR tidak
bisa tercapai secara optimal.
a. Regulasi Pemerintah yang masih komplek dan tidak sinkron mewadahi seluruh
kepentingan stakeholder (antar departemen/kementerian) antara Kementerian
Perhubungan terkait dengan lalu-lintas transportasi dan adminitrasi pelabuhan,
Kementerian Perdagangan terkait dengan distribusi eksport-import, Kementerian BUMN
terkait dengan Dermaga/Pelabuhan dari PT PELINDO dan Bandara dari PT Angkasa
Pura, Kementerian Perindustrian terkait dengan komoditas/produk dan Kementerian
Keuangan terkait dengan bea-cukai serta Kementerian terkait dengan pengembangan
wilayah daratan untuk infrastruktur transportasi.
b. Kesulitan pemerintah dalam pengembangan infrastruktur transportasi darat, terutama
terkait dengan pembebasan lahan untuk akses jalan ke pusat-pusat distribusi seperti ke
arah pelabuhan dan ke arah bandara.
c. Kedalaman pelabuhan Nasional yang masih dangkal (maksimal 14 MLWS), sehingga
kapal-kapal dengan kapasitas muatan distribusi sebesar 12.000 Teus tidak dapat singgah
di dermaga nasional yang membutuhkan kedalaman laut minimal 18 MLWS, sehingga
kapal-kapal asing selalu memilih di dermaga atau pelabuhan Singapura dan Tanjung
Pelepas di Malaysia.
d. Teknologi peralatan utama di pelabuhan (crane dan forklift) yang terbatas, sehingga tidak
mampu menyeimbangkan dan menangani kapasitas bongkar muat untuk distribusi
logistik yang tinggi dan berakibat terjadinya overload atau kepadatan dan penumpukan
komoditas perdagangan yang menyebabkan waktu tunggu, sehingga tidak mencapai
kecepatan distribusi yang optimal.
e. Keterbatasan kemampuan SDM dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi
untuk mendukung operasional kinerja di pusat-pusat distribusi, seperti di pelabuhan dan
bandara.
26

3.2. Metode Analisis


Analisis dilakukan dengan analisis teknis dan analisis regulasi. Analisis teknis
dilakukan dengan menggunakan memperhatikan aspek-aspek: ekonomi makro,
kewilayahan, logistik, supply chain, manajemen operasional, dan regulasi. Penelitian akan
menggunakan metode studi dokumen dan survei.
Secara keseluruhan, metodologi yang digunakan dalam penelitian digambarkan pada
bagan berikut ini.
Gambar 3.1 Metodologi Penelitian

27

BAB IV
ANALISIS PUSAT DISTRIBUSI REGIONAL BITUNG

4.1. Data Sosial Ekonomi, Supply-Demand, Investasi dan Infrastruktur


Data sosial ekonomi Provinsi Sulawesi Utara menunjukkan provinsi ini memiliki
pertumbuhan ekonomi yang sangat baik dimana pada tahun 2012 tumbuh sebesar 7,5%
lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional.
Tabel 4.1 Kondisi Sosial Ekonomi Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2012
Luas Wilayah
(km2)

Jumlah
Penduduk (jiwa)

Laju
Pertumbuhan
Penduduk
(%)

Kepadatan
Penduduk
(jiwa/km2)

Pertumbuhan
Ekonomi (%)

13.851,64

2.270.596

1,28

164

7,5

Sumber : Badan Pusat Statistik (September 2012)

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut tidak hanya bersumber dari kekuatan di
dalam sendiri tetapi ada peran wilayah lain yang juga tidak sedikit berperan dalam ekonomi
Provinsi Sulawesi Utara. Misalnya untuk kebutuhan semen masih harus dipenuhi dari
wilayah lain seperti dari Provinsi Sulawesi Selatan, Kalimantan dan Jawa. Berikut ini adalah
data pasokan bahan pokok dan strategis Provinsi Sulawesi Utara tahun 2013.
Tabel 4.2 Data Pasokan Bahan Pangan Pokok dan Barang Strategis
Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2013
No.

Komoditas

Kebutuhan/

Kebutuhan/

Bulan

Tahun

Satuan

Daya
Tahan
(bulan)

Keterangan

Beras

Ton

23.000

276.000

2-6

Lokal, Makasar,
Surabaya, Sulteng,
dan Jabar

Gula

Ton

4.000

48.000

2-6

Makasar, Gorontalo
dan Pulau Jawa

Minyak
Goreng

Ton

3.000

36.000

2-6

Produksi Lokal 750800 ton/hari

Terigu

Ton

2.500

30.000

2-3

Makassar dan
Pulau Jawa

Semen

Ton

48.000

456.000

1-2

Makassar, Kalsel
dan Bogor

Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Utara

28

Tabel 4.3 Data Komoditas di Sulawesi

No.

Sektor
Komoditas

Provinsi
Sulawesi Barat

Sulawesi Tengah

Gorontalo

Sulawesi Selatan

Sulawesi Utara

Sulawesi
Tenggara

Sektor Pertanian

Jagung, kedelai, ubi


kayu dan ubi jalar

Jagung, kedelai,
ubi kayu dan ubi
jalar

Padi, jagung, ubi


kayu, ubi jalar,
kacang kedelai,
kacang hijau, dan
kacang tanah

Padi dan jagung

Kentang

Sektor
Perkebunan

Kelapa, kelapa sawit,


gambir, kakao, karet,
cengkeh, jambu
mete, kapuk, lada
dan kopi

Kelapa, kakao,
sawit dan kopi

Kakao dan kopi

Kakao, kelapa, kopi

Pala, minyak
kelapa

Kakao, kelapa,
kopi, lada,
cengkeh, jambu
mete dan sagu

Sektor Perikanan

Perikanan tangkap,
budidaya laut,
budidaya keramba,
budidaya kolam,
budidaya tambak,
budidaya sawah

Perikanan tangkap,
budidaya laut,
budidaya kolam
dan budidaya
tambak

Perikanan tangkap,
budidaya laut, dan
pengolahan

Ikan kaleng,
rumput laut

Perikanan
tangkap,
budidaya laut,
dan pengolahan

Sektor
Peternakan

Sapi, kerbau, babi


dan kambing

Sapi, kerbau, babi,


domba, kuda dan
kambing

Sapi potong, sapi


perah, kambing,
babi, dan kuda

Sektor Jasa

Wisata alam dan


wisata budaya

Wisata alam dan


wisata budaya

Wisata alam dan


wisata budaya

Wisata alam dan


wisata budaya

Wisata alam dan


wisata budaya

Wisata alam dan


wisata budaya

Sumber:www.regionalinvestment.bkpm.go.id

29

Menurut BKPM (2013), data komoditas unggulan Sulawesi Utara relatif lebih sedikit
dibandingkan provinsi-provinsi lain di Sulawesi.
Sejalan dengan sumber daya yang ada, investasi di Provinsi Sulawesi Utara juga
didominasi oleh industri pengolahan produk perikanan. Yang dapat dibanggakan adalah
investasi di sektor tersebut tidak didominasi oleh peran investasi dalam negeri, walaupun
nilai investasinya masih lebih rendah daripada investasi asing. Terlibatnya investasi asing
diharapkan mampu meningkatkan penetrasi pasar produk perikanan di luar negeri.
Tabel 4.4 Daftar Investasi di Sulawesi Utara
No.

Nama Perusahaan

Status Perusahaan

Produk

Nilai Investasi

PT Delta Fasific
Indotuna

PMDN Non Migas

Ikan Kaleng

PT Celebes
Minapratama

PMA Non Migas

Ikan Kayu

PT Samudera
Sentosa

PMA Non Migas

Ikan Kaleng

PT Deho Canning
Company

PMA Non Migas

Ikan Kaleng

PT Agro Makmur
Raya

PMDN Non Migas

CCO, RBD Coconut


Oil, RBD Palm Oil,
Copra

PT Marina
Nusantara Selaras

PMDN Non Migas

Ikan Beku

PT Sinar Pure
Foods International

PMA Non Migas

Ikan Kaleng

PT Rahayu
Perdana Trans

PMDN Non Migas

Ekspedisi

PT Manadomina
Citrataruna

PMDN Non Migas

Ikan Kayu

Rp12.250.000.000

10

PT Perikanan
Nusantara (P)
Cabang Bitung

PMDN Non Migas

Ikan Segar, Ikan


Beku

Rp12.000.000.000

11

PT Bitung Mina
Utama

PMA Non Migas

Ikan Beku, Ikan


Segar

Rp5.000.000.000

12

PT Sari Malalugis

PMDN Non Migas

Ikan Beku, Ikan Kayu

13

PT Sari Tuna
Makmur

PMDN Non Migas

Ikan Kayu

14

PT Thengo Karya
Samudera

PMDN Non Migas

Ikan Beku, Ikan


Kaleng

15

PT Sari Cakalang

PMDN Non Migas

Ikan Segar, Ikan


Beku, Ikan Kayu

16

PT Etmieco Sarana
Laut

PMDN Non Migas

Ikan Segar, Ikan


Beku, Ikan Kayu

17

PT Carvinna Trijaya
Makmur

PMDN Non Migas

Ikan Kaleng

Rp78.499.615.000
US$300,000
US$ 10,500,000

Rp57.542.000.000

US$11,550,000

Rp27.136.558.000

Rp25.600.000.000

Rp12.252.000.000

30

No.

Nama Perusahaan

Status Perusahaan

Produk

Nilai Investasi

18

PT Mapalus
Makawanua
Charcoal Industry

PMA Non Migas

Carbon Aktive

19

PT International
Alliance Food
Indonesia

PMA Non Migas

Ikan Beku, Ikan


Kaleng

20

PT Tridara Putra
Mandiri

PMA Non Migas

Ikan Segar, Ikan


Beku

21

CV Multi Rempah
Sulawesi

PMDN Non Migas

Pala, Fuli

22

PT Salim Ivomas

PMA Non Migas

CCO, RBD Palm


Stearin, Tepung
Kelapa, Copra

23

PT Multi Nabati
Sulawesi

PMA Non Migas

CCO, CPO, RBD


Coconut, Oil, RBD
Palm Oil, Copra

24

King (King)

Minuman Beralkohol

Rp11,948,000,000

25

PD Padang

Minuman Beralkohol

Rp32,195,000,000

26

Tandu Rusa
(Pinaraci Anak
Rusa, Tandu Rusa)

Minuman Beralkohol

Rp22,320,000,000

27

Kabesaran
(Pinaraci)

Minuman Beralkohol

Rp16,000,000,000

28

Sumber Air (Burung


Sakti, Toddi, Cap
Burung)

Minuman Beralkohol

Rp2,150,000,000

29

Serasa (Segaran
Sari)

Minuman Beralkohol

Rp29,000,000,000

30

Sehat Sentosa
(Kasegaran)

Minuman Beralkohol

Rp88,700,000,000

31

VIP (VIP,
Casanova)

Minuman Beralkohol

Rp55,000,000,000

32

PT Indo Food
Sukses Makmur

Industri Mie Instan

Rp30,041,300,000

33

PT Semen Tonasa

Industri Pengantong
Semen

Rp30,942,777,000

34

PT Krisma Witikcko
Makmur

Industri Seng

Rp10,059,000,000

35

PT Salim Invomas
Pratama (Bimoli)

Industri Minyak
Kelapa Sawit Kelapa
Bungkil

Rp45.000.000.000

US$5,000,000

Rp274.802.025.260

US$33,442,675

Rp228,790,578,300

31

Walaupun masih banyak diperdebatkan apakah infrastruktur mendorong pertumbuhan


atau apakah pertumbuhan mendorong infrastruktur, namun peran infrastruktur secara
universal sudah disepakati sebagai salah satu elemen fundamental dalam menciptakan
pembangunan yang berkelanjutan. Dalam konteks Provinsi Sulawesi Utara, kondisi
infrastruktur terutama transportasi darat masih perlu menjadi perhatian karena sekitar 30%
dari total panjang jalan yang ada dalam kondisi rusak. Data infrastruktur jalan di Provinsi
Sulawesi Utara ditunjukkan pada tabel berikut ini.
Tabel 4.5 Infrastruktur Transportasi Darat Sulawesi Utara Tahun 2012
Kondisi Jalan
Panjang
(km)

No.

Status

Jalan Nasional

1.319,304

Jalan Propinsi

858,88

Baik
(km)

Sedang
(km)

Rusak
(km)

311,284

670,454

337,563

453,786

104,719

300,375

Total Panjang Jalan

Aksesibilitas
(panjang jalan/
luas wilayah)

0,1572

2.178,184

Dampak lemahnya infrastruktur jalan di Provinsi Sulawesi Utara dapat diminimalisir


dengan adanya Pelabuhan Bitung yang strategis. Pelabuhan Bitung secara geografis
terletak di Selat Lembeh, sehingga pelabuhan aman dari gangguan angin dan gelombang,
dengan berfungsinya Pulau Lembeh sebagai breakwater alam. Terletak di bagian utara
Pulau Sulawesi yang sangat strategis di Wilayah Timur Indonesia sehingga dapat berperan
sebagai pintu gerbang lalu-lintas barang di kawasan Asia-Pasifik.
Pelabuhan Bitung memiliki peran sebagai berikut:
a. Memberi kontribusi bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional pada umumnya dan
Sulaweri Utara pada khususnya.
b. Berperan aktif dalam hubungan antar daerah dan sentra-sentra produksi dalam rangka
mengintensifkan aktivitas perdagangan melalui:
1) Keterkaitan jaringan transportasi perdagangan antar pulau dengan Perdagangan
Internasional.
2) Peningkatan kapasitas pelayanan dan jaminan kualitas pelayanan jasa kepelabuhan.
3) Mendukung terwujudnya perkembangan sosial ekonomi yang merata.
c. Mendukung Kawasan Ekonomi Khusus.
d. Untuk mencapai terciptanya jaringan transportasi nasional yang handal.
Pelabuhan Bitung memiliki beberapa fasilitas dan peralatan pelabuhan, yaitu:
a. Dermaga
No.

Nama Dermaga

Ukuran (M)

1)

Dermaga Samudera

748

2)

Dermaga Nusantara

600

3)

Dermaga Lokal

60

4)

Dermaga LCT

20

5)

Dermaga TPB

357

32

b. Kapal Pandu/Pilot Boats : 2 unit


1) MPS Siladen
(2 X 130 HP)
2) MPI Sarena
(2 x 300 HP)
c. Kapal Tunda/Towing Boats : 2 unit
1) KT Selat Lembeh
(1.160 HP)
2) KT Bunaken
(2 X 750 HP)
d. Terminal Konvensional
1) Dermaga/(Berth)
2) Lapangan Penumpukan (Container Yard)
3) Gudang (Warehouse)
4) Terminal Penumpang (Passenger Terminal)
5) Lapangan Parkir (Parking Area)
6) Mobil PMK (Fire Truck)
7) Mobil Crane Kap 25 Ton (Crane Mobile)
8) Reach stacker Kap 45 Ton
9) Forklift Kap 3 Ton
10) Workshop
11) Listrik (Electricity)
12) Sumber Air Bersih
13) Bunker BBM/Pertamina
14) Depo Konvensional
15) Jam Operasional

: 1.428 m
: 42.767 m2
: 13.392 m2
: 2.554 m2
: 2.394 m2
: 1 Unit
: 1 Unit
: 1 Unit
: 1 Unit
: 1.045 m2
: 140 KVA
: PDAM(Max 200 ton/jam)
: 150 / jam
: 9.298 & 11.000 M2
: 24 jam

e. Depo Peti Kemas: Terminal Konvensional Cabang Bitung


1) Ukuran Depo I
: 9.298 M2
2) Ukuran Depo II
: 11.711 M2
(Jam Operasional 24 jam dengan pelayanan administrasi secara komputerisasi)
f. Terminal Peti Kemas Bitung
1) Kedalaman Kolam
2) Dermaga
3) Container Yard
4) Container Greight Station (CFS)
5) Reefer Plug
6) Workshop
7) Genset

: 11 m LWS
: 357 m
: 30.000 m2
: 1.260 m2
: 72 Plug
: 6.083 m2
: 2 Unit (500 & 800 KVA)

g. Fasilitas Peralatan Bongkar Muat : Terminal Peti Kemas Bitung


1) Container Craine
: 2 Unit
2) Rubber Tyred Gantries (RTG)
: 4 Unit
3) Reach Stacker
: 2 Unit
4) Chassis Ukuran 20
: 4 Unit
5) Chassis Ukuran 40
: 12 Unit
6) Head Truck
: 11 Unit
7) Forklift 5 Ton
: 3 Unit
8) Forklift Battery 2 Ton
: 2 Unit

33

Untuk menangkap potensi geografis dan sumber daya yang dimiliki, Provinsi Sulawesi
Utara, khususnya Kota Bitung mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung
dengan kawasan seluas 512 Ha.
Gambar 4.2 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung

Sumber: Pemprov Sulawesi Utara

4.2. Kebutuhan dan Dukungan terhadap Keberadaan PDR Bitung


4.2.1. Rencana Pembangunan dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)
Dalam MP3EI, Koridor Ekonomi Sulawesi mempunyai tema Pusat Produksi dan
Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Migas, dan Pertambangan Nasional.
Gambar 4.3 Koridor Ekonomi Sulawesi

Sumber: MP3EI (2012)


34

Koridor ini diharapkan menjadi garis depan ekonomi nasional terhadap pasar Asia
Timur, Australia, dan Amerika. Koridor Ekonomi Sulawesi memiliki potensi tinggi di bidang
ekonomi dan sosial dengan kegiatan-kegiatan unggulannya.
Kegiatan pertanian pangan di Sulawesi mencakup padi, jagung, kedelai, dan ubi kayu.
Kegiatan pertanian pangan, khususnya beras dan jagung, sangat penting, terutama untuk
konsumsi domestik di Indonesia. Sulawesi merupakan produsen pangan ketiga terbesar di
Indonesia yang menyumbang 10% produksi padi nasional dan 15% produksi jagung
nasional. Pertanian pangan menyumbang 13% PDRB Sulawesi.
Pembangunan dan pengembangan Koridor Ekonomi Sulawesi ini membutuhkan
keberadaan dan peranan PDR. PDR di Bitung sangat diharapkan bisa berperan dalam
pengelolaan dan pendistribusian hasil pertanian pangan, baik untuk wilayah Sulawesi Utara
dan sekitarnya, maupun untuk beberapa pulau dan kepulauan di sekitarnya hingga Papua.
Selain itu, dengan rencana pengembangan Pelabuhan Bitung sebagai pelabuhan hub
internasional, PDR Bitung akan berperan penting untuk mendukung posisi Indonesia dalam
berhubungan dengan pasar global, khususnya Asia Timur.
4.2.2. Dukungan Daerah Produsen
Keberadaan PDR Bitung didukung oleh daerah-daerah produsen di sekitar wilayah
PDR. Wilayah-wilayah tersebut adalah:
a. Sulawesi Utara
b. Maluku dan Maluku Utara
c. Gorontalo
d. Sulawesi Tengah
Adapun potensi wilayah-wilayah tersebut adalah:
a. Pertanian

: Kopra, cengkeh

b. Perikanan

: Ikan tuna, cakalang.

c. Peternakan

: Sapi

d. Kehutanan

: Kayu, rotan

e. Pertambangan

: Emas

f. Industri

: Pengalengan ikan, minyak goreng.

Selain itu, terdapat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Merah sebagai kawasan
industri yang berpotensi untuk memanfaatkan keberadaan PDR Bitung.
4.2.3. Dukungan Pasokan-Permintaan untuk PDR Bitung
Pasokan barang atau komoditas ke PDR Bitung berasal dari wilayah-wilayah produsen
sekitar PDR, maupun dari wilayah-wilayah luar. Sebagai contoh, pasokan gula berasal dari
Sulawesi Selatan dan Pulau Jawa. Pasokan gula ini sebesar 4.000 ton/bulan (tahun 2013).
Dari wilayah Sulawesi Utara sendiri dapat memasok perikanan dan CCO/kopra yang
didukung oleh investasi untuk kedua komoditas tersebut. PDR Bitung berpotensi untuk
dimanfaatkan untuk penyimpanan/penjualan kopra dari para petani.
35

Contoh komoditas strategis yang dapat didistribusikan melalui PDR Bitung adalah
semen dengan kebutuhan pada tahun 2013 sebesar 48.000 ton/bulan. Semen ini berasal
dari Kalimantan Selatan, Makassar, dan Bogor.
Dengan posisinya yang strategis, PDR Bitung berpotensi melayani kebutuhan bahan
pokok dan strategis untuk beberapa wilayah, yaitu:
a. Kota Bitung dan sekitarnya
b. Kepulauan-kepulauan kecil sekitar Sulawesi Utara, seperti Kepulauan Sangihe dan
Kepulauan Talaud.
c. Provinsi Papua
Dengan demikian, PDR Bitung dapat digunakan sebagai pusat distribusi, baik untuk
keperluan lokal di sekitar Bitung, maupun wilayah-wilayah lainnya. PDR Bitung diharapkan
dapat dimanfaatkan untuk menyeimbangkan volume pasokan dan permintaan komoditas
pokok dan strategis, serta komoditas unggulan daerah di wilayah sekitar PDR.

4.2.4. Dukungan Infrastruktur


Pelabuhan Bitung dilengkapi dengan fasilitas dan peralatan yang memadai untuk
kegiatan bongkar muat barang. Bahkan, Pelabuhan Bitung telah mengembangkan
Pelabuhan Peti Kemas, sehingga sangat mendukung volume bongkar muat barang yang
tinggi.
Aksesibilitas dari/ke lokasi PDR perlu didukung dengan infrastruktur transportasi darat
(jalan raya) yang memadai dari aspek kelas jalan dan kondisinya. Pada saat ini, jalan raya
Manado-Bitung adalah jalan kelas II dengan beban maksimum 8 ton. Jalan kelas II ini dapat
dilalui pada umumnya oleh armada pengangkut barang, seperti mobil bak terbuka, truk,
hingga kontainer 20 kaki.
Jalan raya tersebut perlu ditingkatkan menjadi jalan kelas I, sehingga dapat dilalui oleh
kontainer 40 kaki. Selain itu, pengembangan jalan tol Manado-Minut-Bitung sangat penting
untuk mendukung transportasi darat di Sulawesi Utara, termasuk untuk transportasi barang
dari/ke PDR Bitung.

4.3. Pembangunan PDR Bitung


Menurut Cetak Biru Sistem Logistik Nasional, kriteria penempatan Pusat Distribusi
Regional (PDR) adalah jumlah penduduk, aksesibilitas, daerah konsumen (bukan penghasil
dan bukan daerah produsen), dapat berfungsi sebagai kolektor (pusat konsolidasi) dan
distributor, berada pada wilayah dekat pelabuhan utama, dan berpotensi untuk
dikembangkan menjadi pusat perdagangan antar pulau.
Lokasi PDR Bitung memenuhi kriteria-kriteria tersebut:
a. Menurut situs resmi Kota Bitung (http://www.bitungkota.go.id), jumlah penduduk Kota
Bitung sampai pada 29 November 2012 berjumlah 214.932 jiwa dan setiap tahun ratarata pertumbuhan penduduk mencapai 3 persen. Selain itu, Kota Bitung terletak dekat
dengan kota-kota lain, seperti Manado. Dengan demikian, kota Bitung dan sekitarnya
berpotensi menjadi daerah konsumen yang membutuhkan keberadaan Pusat Distribusi
Regional Bitung.
36

b. PDR Bitung terletak di daerah konsumen yang didukung oleh wilayah-wilayah produsen
yang cukup lengkap untuk berbagai komoditas.
c. Akses dari/ke PDR Bitung sangat mudah karena terletak di Kota Bitung yang mempunyai
pelabuhan laut. Kondisi ini memudahkan akses dari luar ke PDR Bitung maupun
sebaliknya. Transportasi darat juga sangat mudah karena Kota Bitung dihubungkan
dengan jalan raya ke/dari Kota Manado maupun kota-kota lainnya di Sulawesi.
d. PDR Bitung berada tidak jauh dari Pelabuhan Bitung yang akan dikembangkan menjadi
pelabuhan hub internasional untuk wilayah timur Indonesia.
e. PDR Bitung melayani berbagai wilayah, baik wilayah produsen maupun wilayah
konsumen, sehingga berpotensi menjadi pusat perdagangan antar pulau.
f. Pembangunan PDR Bitung perlu memperhatikan kriteria yang disyaratkan untuk suatu
Pusat Distribusi Regional (sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Republik

Indonesia Nomor 48/M-DAG/PER/8/2013 tentang Pedoman Pembangunan dan


Pengelolaan Sarana Distribusi Perdagangan), yaitu:
1.

Luas lahan paling sedikit 15.000m2 (lima belas ribu meter persegi).

2.

Kepemilikan lahan dibuktikan dengan dokumen yang sah.

3.

Peruntukan lahan sesuai dengan Rencana Tata Ruan Wilayah (RTRW) daerah
setempat.

4.

Tersedia akses transportasi antar provinsi dan antar kabupaten/kota.

5.

Berada pada lokasi dekat pelabuhan dan/atau terminal angkutan.

6.

Bangunan utama Pusat Distribusi Regional dan saran pendukung meliputi:


i.

Kantor pengelola, kantor pelaku logistik, dan kantor fasilitasi pembiayaan.

ii.

Gudang tempat penyimpanan komoditas.

iii.

Ruang/tempat untuk pelelangan komoditas.

iv.

Etalase produk.

v.

Ruang sortir dan pengemasan produk.

vi.

Toilet/WC.

vii.

Tempat ibadah.

viii.

Area bongkar muat.

ix.

Area penimbunan peti kemas.

x.

Tempat parkir.

xi.

Pos kesehatan.

xii.

Pos keamanan.

xiii.

Tempat penampungan sampah sementara.

xiv.

Drainase (ditutup dengan grill).

xv.

Hidran.

xvi.

Instalasi air bersih dan instalasi listrik.


37

xvii.

Area penghijauan.

xviii.

Instalasi pengolahan air limbah.

xix.

Telekomunikasi.

7. Sistem informasi Pusat Distribusi yang dapat mendukung manajemen persediaan


dan rantai pasok (supply chain).
8. Dikelola secara langsung oleh suatu manajemen Pusat Distribusi.
9. CCTV yang terhubung secara online dengan Kementerian Perdagangan melalui
internet untuk memantau aktivitas perdagangan.
10. Peralatan yang menunjang kegiatan operasional Pusat Distribusi.

38

BAB V
ANALISIS PUSAT DISTRIBUSI REGIONAL MAKASSAR
5.1. Data Sosial Ekonomi, Supply-Demand, dan Infrastruktur
Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang
pembangunannya terus mengalami kemajuan. Pada tahun 2012, pertumbuhan ekonomi
tumbuh jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional yaitu sebesar 8,58%. Semakin baiknya
pembangunan di Sulawesi Selatan telah menarik bagi berkembangnya aktivitas ekonomi
sehingga menciptakan akselerasi pembangunan yang semakin tinggi.
Tabel 5.6 Kondisi Sosial Ekonomi Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2012
Luas Wilayah
(km2)
62.482,54 km2

Jumlah
Penduduk
(jiwa)

Laju
Pertumbuhan
Penduduk (%)

8.034.776

Kepadatan
Penduduk
(jiwa/km2)

0,96

Pertumbuhan
Ekonomi (%)

136/km2

8,58

Sumber: Badan Pusat Statistik (2012)


Dari sisi potensi ekonomi pun terlihat Provinsi Sulawesi Selatan memiliki keunggulan
terutama dari sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan jasa. Sehingga
dapat dimaklumi provinsi ini selain mampu mencukup kebutuhannya sendiri juga dapat
memasok kebutuhan wilayah sekitarnya.
Tabel 5.7 Data Komoditas Unggulan Sulawesi Selatan
Provinsi Sulawesi Selatan
Pertanian
Jagung
Kedelai
Kentang
Nanas
Pisang
Ubi Kayu
Ubi Jalar

Perkebunan
Kelapa Sawit
Kakao
Karet
Tebu
Kelapa
Cengkeh
Jambu Mete
Kemiri
Kenari
Lada
Sagu
TehTembakau
Vanili

Perikanan
Ikan Cakalang
Ikan tongkol
Udang
Ikan Tuna

Perternakan
Sapi
Babi
Kerbau
Domba
Kuda
Kambing

Jasa
Wisata Alam Wisata
Budaya

Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Selatan


Sejalan dengan kinerja ekonomi yang baik, kondisi infrastruktur di Sulawesi Selatan
cukup memadai, apalagi jika dibandingkan dengan kondisi di Sulawesi Utara. Kondisi jalan
yang rusak di Sulawesi Selatan tidak separah di Sulawesi Utara (< 30%).
Tabel 5.8 Infrastruktur Transportasi Darat Sulawesi SelatanTahun 2012
Panjang (km)

Kondisi Jalan
Sedang
Baik (km)
(km)

No.

Status

Jalan Nasional

1.556,13

927,76

586,82

41,155

Jalan Propinsi

1.209,40

456,67

432,96

25,828

Rusak
(km)

Sumber: Dinas Pekerjaan Umum (2012)


39

Selain didukung oleh infrastruktur jalan yang baik, Sulawesi Selatan juga memiliki
dukungan yang cukup kuat dari infrastruktur pelabuhan. Kinerja Pelabuhan Soekarno-Hatta
merupakan pelabuhan yang sangat penting setelah pelabuhan-pelabuhan yang ada di
Jawa, terutama untuk memasok kebutuhan Wilayah Timur Indonesia.
Tabel 5.9 Fasilitas Pelabuhan Soekarno-Hatta
No.
1

2
3

Fasilitas dan Peralatan


Dermaga
Pangkalan Soekarno
Pangkalan Hatta
Kawasan Paotere
Gudang

Lapangan Penumpuk
a. Lokasi Soekarno
b. Lokasi Hatta
c. Lokasi Paotere
Terminal Penumpang

Gedung Kantor

Master Plan Pelabuhan


Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan

Daerah Lingkungan Kepentingan


Pelabuhan
Ditetapkan dengan SK KM 85
7

Jalan Masuk Pelabuhan


Jalan dari/ke sentra-sentra
industri/perdagangan

Keterangan
6 dermaga
2 dermaga
11 dermaga
7 gudang
12 lapangan
3 lapangan
3 lapangan
Luas
: 4.000 M2
Kapasitas : 1.600 orang
Luas : 2.171 M2
Perairan :2.978 Ha
Daratan :1.192.933 M2
(dikuasai)
Perairan :39.740 Ha

Tahun 1999, Tanggal


13/10/1999
Kelas Jalan : Tol Reformasi
Lapisan Permukaan : Aspal

Jalan yang berada di lokasi pelabuhan

Kelas Jalan : Utama Akses ke


jalan Tol Reformasi
Lapisan Permukaan : Aspal

Listrik

PLN : 993 kW

Air

PAM : 175 T/jam

10

Peralatan Bongkar Muat

Crane 40 ton, 25 ton, 5 ton & 3


ton masing-masing 1 Unit
Container Crane 2 Unit;
Transtainer;
Reach stacker;
Top Laoder;
Forklift;
Head truck;
Chasis;
Reefer.

40

Fasilitas yang dimiliki oleh Pelabuhan Soekarno-Hatta menjadi daya tarik bagi
munculnya industri-industri di sekitar pelabuhan apalagi kondisi biaya transportasi yang
tinggi dari wilayah interior ke pelabuhan. Oleh karenanya Kawasan Industri Makassar
berada tidak terlalu jauh dari Pelabuhan Soekarno-Hatta.
Tabel 5.10 Potensi Hinterland Pelabuhan Soekarno-Hatta
No.

Jenis Potensi

Keterangan

Kawasan Industri Makassar

12 km dari Pelabuhan

Zona Kawasan Berikat

12 km dari Pelabuhan

Pusat Pengolahan Kayu

Sungai Tallo

Cargo Terminal dan Pergudangan Kota

km dari
Pelabuhan

5.2. Kebutuhan dan Dukungan terhadap Keberadaan PDR Makassar


5.2.1. Rencana Pembangunan dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)
Seperti disampaikan pada Bab sebelumnya, Koridor Ekonomi Sulawesi dalam MP3EI
mempunyai tema Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, Perikanan,
Migas, dan Pertambangan Nasional. Beberapa simpul yang dikembangkan dalam Koridor
Ekonomi ini adalah simpul pertanian pangan, simpul perkebunan kakao, simpul perikanan,
klaster industri, dan simpul pengolahan nikel (lihat gambar).
Gambar 5.4 Koridor Ekonomi Sulawesi dan Program Pembangunan MP3EI
di Sulawesi Selatan

Sumber: MP3EI (2012)

41

Berbagai program telah dimasukkan dalam MP3EI di Koridor Ekonomi Sulawesi pada
umumnya, maupun di Sulawesi Selatan secara khusus. PDR di Makassar akan dapat
dimanfaatkan untuk mendukung beberapa program MP3EI, khususnya di Sulawesi Selatan.
Di antara program-program tersebut adalah pembangunan silo produk pertanian,
pengembangan industri rumput laut, pengembangan pasar tradisional, pembekuan ikan dan
cold storage, dan pembangunan industri tepung tapioka.
Dengan mempertimbangkan peranan Sulawesi sebagai produsen pangan ketiga
terbesar di Indonesia yang menyumbang 10% produksi padi nasional dan 15% produksi
jagung nasional, maka PDR di Makassar berpotensi untuk berperan penting dalam
pengelolaan dan pendistribusian hasil pertanian pangan untuk beberapa wilayah di
Indonesia. Dengan posisinya yang strategis, PDR Makassar berpotensi melayani wilayah
yang luas. Selain untuk wilayah Papua dan Nusa Tenggara, PDR Makassar berpotensi
sangat besar melayani wilayah-wilayah lain hingga Pulau Jawa.
Seperti halnya PDR Bitung, PDR Makassar juga akan berperan penting untuk
mendukung posisi Indonesia dalam menghadapi pasar global. Dengan mempertimbangkan
lokasinya, PDR Makassar berpotensi mendukung posisi Pelabuhan Makassar untuk
berhubungan dengan pasar global, seperti Australia.

5.2.2. Dukungan Daerah Produsen


Keberadaan PDR Makassar didukung oleh daerah-daerah produsen di sekitar wilayah
PDR. Wilayah-wilayah tersebut adalah:
a. Kab. Pangkep (jeruk besar)
b. Kab. Selayar dan Kab. Luwu Utara (jeruk siam)
c. Kab. Takalar dan Kab. Janeponto (mangga)
d. Kab. Enrekang dan Kab. Bone (tomat)
e. Kab. Luwu Utara, Kab. Bone, dan Kab. Janeponto (cabe rawit)
f. Sinjai, Pinrang, Bone (cabe besar)
g. Bantaeng dan Gowa (kentang)
h. Enrekang (bawang merah)
i. Pinrang, Sinjai, Bone, dan Bulukumba (pisang)
Selain wilayah-wilayah di atas, beberapa wilayah memiliki potensi untuk memasok
berbagai macam komoditas yaitu:
a. Pertanian

Tanaman sayuran (tomat, cabe rawit, cabe besar, kentang, bawang


merah); tanaman buah (jeruk besar, jeruk siam, mangga, pisang)

b. Perkebunan

Kelapa sawit, kakao, karet, tebu, kelapa, cengkeh, jambu mete, kemiri,
kenari, lada, sagu, teh, tembakau, vanili

c. Perikanan

Ikan cakalang, ikan tongkol, udang, ikan tuna

d. Peternakan

Sapi, babi, domba, kuda, kambing

42

Dengan posisinya yang strategis, PDR Makassar berpotensi melayani kebutuhan


bahan pokok dan strategis untuk beberapa wilayah, yaitu:
a. Kota Makassar dan sekitarnya
b. Kepulauan-kepulauan kecil sekitar Sulawesi Selatan
c. Beberapa provinsi lainnya
Dengan demikian, PDR Makassar dapat digunakan sebagai pusat distribusi, baik
untuk keperluan lokal di sekitar Makassar, maupun wilayah-wilayah lainnya. PDR Makassar
diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menyeimbangkan volume pasokan dan permintaan
komoditas pokok dan strategis, serta komoditas unggulan daerah di wilayah sekitar PDR.

5.2.3. Dukungan Infrastruktur


Proses distribusi barang dari wilayah Makassar, termasuk dari PDR Makassar di
Kawasan Industri Makassar (KIMA), didukung dengan infrastruktur transportasi, baik darat
maupun laut.
Infrastruktur transportasi darat yang penting adalah Jalan Tol Makassar Seksi IV dari
Jembatan Tallo menuju KIMA dan berakhir di Mandai menuju Bandar Udara Hasanuddin.
Ketersediaan jalan tol ini sangat mendukung pengiriman komoditas/ barang dari/ke PDR
Makassar. Pengangkutan bisa menggunakan berbagai jenis armada, termasuk kontainer
40.
Pelabuhan Makassar dan Pelabuhan Peti Kemas Makassar berpotensi mendukung
proses distribusi ke/dari PDR Makassar. Keberadaan kedua Pelabuhan laut ini penting
karena komoditas-komoditas yang berpotensi untuk ditangani PDR Makassar berasal dari
berbagai wilayah, termasuk dari luar Sulawesi. Selain itu, beberapa komoditas lainnya yang
berpotensi ditangani di PDR Makassar juga akan dikirimkan keluar Sulawesi, seperti beras
yang pada saat ini dikirimkan ke berbagai provinsi lainnya di Indonesia.

5.3

Pembangunan PDR Makassar

Pembangunan dan pengembangan Koridor Ekonomi Sulawesi ini membutuhkan


keberadaan dan peranan PDR. PDR di Bitung sangat diharapkan bisa berperan dalam
pengelolaan dan pendistribusian hasil pertanian pangan, baik untuk wilayah Sulawesi Utara
dan sekitarnya, maupun untuk beberapa pulau dan kepulauan di sekitarnya hingga Papua.
PDR Makassar terletak di Kawasan Industri Makassar (KIMA). Lokasi ini cukup
strategis dilihat dari aksesibilitas ke/dari Pelabuhan Laut Soekarno Hatta dan Pelabuhan
Udara Hasanuddin, maupun ke/dari Kota Makassar. Bangunan PDR terdiri atas gudang,
cold storage, perkantoran, laboratorium, guest house, sarana ibadah, dan area parkir. PDR
Makassar dibangun dalam dua tahap, yaitu pada tahun 2004 dan tahun 2011. Beberapa foto
PDR Makassar ditunjukkan pada gambar-gambar di bawah ini.

43

Gambar 5.5 Bangunan PDR Makassar

Menurut Cetak Biru Sistem Logistik Nasional, kriteria penempatan Pusat Distribusi
Regional adalah jumlah penduduk, aksesibilitas, daerah konsumen (bukan penghasil dan
bukan daerah produsen), dapat berfungsi sebagai kolektor (pusat konsolidasi) dan
distributor, berada pada wilayah dekat Pelabuhan Utama, dan berpotensi untuk
dikembangkan menjadi pusat perdagangan antar pulau.
Lokasi PDR Makassar memenuhi kriteria-kriteria tersebut:
a. PDR Makassar terletak di Kawasan Industri Makassar yang berlokasi dekat Kota
Makassar. Lokasi PDR itu juga tidak jauh dari beberapa kota lainnya. Dengan demikian,
kota Makassar dan sekitarnya berpotensi menjadi daerah konsumen yang membutuhkan
keberadaan PDR Makassar.
b. PDR Makassar terletak di daerah konsumen yang didukung oleh wilayah-wilayah
produsen yang cukup lengkap untuk berbagai komoditas.
c. Akses dari/ke PDR Makassar sangat mudah karena terletak di Kawasan Industri
Makassar yang berdekatan dengan pelabuhan laut. Kondisi ini memudahkan akses dari
luar ke PDR Makassar maupun sebaliknya. Transportasi darat juga sangat mudah
karena telah tersedianya jaringan jalan tol.
d. PDR Makassar melayani berbagai wilayah, baik wilayah produsen maupun wilayah
konsumen, sehingga berpotensi menjadi pusat perdagangan antar pulau.

5.4

Operasionalisasi PDR Makassar

PDR Makassar yang dibangun dalam dua tahap, yaitu pada tahun 2004 dan 2011,
adalah Barang Milik Negara (BMN) yang dibangun dengan menggunakan dana Tugas
Pembantuan.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
125/PMK.06/2011 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara yang Berasal dari Dana

44

Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan sebelum Tahun Anggaran 2011, BMN adalah
semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan
lainnya yang sah. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah
dan/atau
desa
atau
sebutan
lain
dengan
kewajiban
melaporkan
dan
mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan.
Setelah selesainya proses pembangunan, PDR diserahkan oleh Kementerian kepada
Pemerintah Daerah melalui proses hibah yang merupakan salah satu bentuk
pemindahtanganan. Pemindahtanganan adalah pengalihan kepemilikan BMN dengan cara
dijual, dipertukarkan, dihibahkan atau disertakan sebagai modal pemerintah
Selanjutnya, pengelolaan PDR dilakukan dengan berpedoman kepada Peraturan
Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 48/M-DAG/PER/8/2013 tentang Pedoman
Pembangunan dan Pengelolaan Sarana Distribusi Perdagangan. Menurut Peraturan
tersebut, PDR merupakan salah satu bentuk Sarana Distribusi Perdagangan.
Pembangunan PDR Bitung perlu memperhatikan kriteria yang disyaratkan untuk suatu
Pusat Distribusi Regional (sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia

Nomor 48/M-DAG/PER/8/2013 tentang Pedoman Pembangunan dan Pengelolaan


Sarana Distribusi Perdagangan), yaitu:
a. Luas lahan paling sedikit 15.000m2 (lima belas ribu meter persegi).
b. Kepemilikan lahan dibuktikan dengan dokumen yang sah.
c. Peruntukan lahan sesuai dengan Rencana Tata Ruan Wilayah (RTRW) daerah
setempat.
d. Tersedia akses transportasi antar provinsi dan antar kabupaten/kota.
e. Berada pada lokasi dekat pelabuhan dan/atau terminal angkutan.
f. Bangunan utama Pusat Distribusi Regional dan saran pendukung meliputi:
i. Kantor pengelola, kantor pelaku logistik, dan kantor fasilitasi pembiayaan.
ii. Gudang tempat penyimpanan komoditas.
iii. Ruang/tempat untuk pelelangan komoditas.
iv. Etalase produk.
v. Ruang sortir dan pengemasan produk.
vi. Toilet/WC.
vii. Tempat ibadah.
viii. Area bongkar muat.
ix. Area penimbunan peti kemas.
x. Tempat parkir.
xi. Pos kesehatan.
xii. Pos keamanan.
xiii. Tempat penampungan sampah sementara.
xiv. Drainase (ditutup dengan grill).
xv. Hidran.
xvi. Instalasi air bersih dan instalasi listrik.
xvii. Area penghijauan.
xviii. Instalasi pengolahan air limbah.
xix. Telekomunikasi.
g. Sistem informasi Pusat Distribusi yang dapat mendukung manajemen persediaan dan
rantai pasok (supply chain).

45

h. Dikelola secara langsung oleh suatu manajemen Pusat Distribusi.


i. CCTV yang terhubung secara online dengan Kementerian Perdagangan melalui internet
untuk memantau aktivitas perdagangan.
j. Peralatan yang menunjang kegiatan operasional Pusat Distribusi.
Peraturan tersebut menjelaskan lebih lanjut bahwa Pemerintah Daerah menetapkan
Pengelola Sarana Distribusi Perdagangan dengan struktur organisasi sesuai dengan
kebutuhan. Biaya pemeliharaan dan operasional Sarana Distribusi Perdagangan yang telah
selesai dibangun dengan pembiayaan yang bersumber dari APBN dibebankan pada APBD
Pemerintah Daerah setempat.
Hingga saat ini, penggunaan PDR belum dapat dilakukan karena proses
pemindahtanganan belum selesai. Perlu dilakukan pengecekan terhadap persyaratan teknis
dan administratif yang perlu dilengkapi, baik di Pemerintah Pusat maupun Pemerintah
Daerah, agar proses pemindahtanganan dapat segera dilakukan.
Menurut Rahayuningrum dkk. (2007), PDR tersebut pernah digunakan sebagai tempat
penyimpanan beberapa komoditas. Gudang di PDR Makassar pernah digunakan sebagai
tempat pengumpulan dan sortasi rumput laut kering, baik yang dikirimkan dari Gudang
Bone, maupun rumput laut yang dikirim oleh para pemasok yang langsung mengirim ke
gudang Makassar. Bagi rumput laut yang ditampung dari pemasok Makassar, kemudian
dilakukan processing, sortasi serta pengarungan dan packing, tetapi bagi rumput laut yang
dikirim dari gudang Bone sebagian besar hanya merupakan barang transit yang kemudian
akan dikirim ke industri agar-agar di Tangerang dengan peti kemas melalui pelabuhan
Makassar serta ekspor.
Rahayuningrum (2007) juga menyebutkan bahwa kegiatan pemanfaatan gudang PDR
untuk komoditas rumput laut dilakukan dengan tidak dipungut biaya, begitu pula rencana
penggunaan untuk pengolahan ikan segar yang mulai dirancang. Hal yang sama juga
diberlakukan bagi kegiatan penanganan prosesing tripang untuk ekspor. Dalam
pemanfaatan PDR untuk kegiatan Ekspor Tripang kering, lebih banyak menggunakan lokasi
perkantoran maupun laboratorium yang ada, mengingat masih bersifat rintisan juga. Upaya
koperasi pengrajin Sulawesi Selatan memanfaatkan fasilitas PDR untuk pengolahan ikan
segar dengan secara langsung memanfaatkan cold strorage masih dilakukan beberapa
modifikasi, sesuai dengan kebutuhan pihak koperasi. Upaya modifikasi dan penyesuaian
peralatan tersebut dilakukan sepenuhnya oleh pihak koperasi, dengan catatan pihak
pengelola PDR memperhitungkan biaya yang sudah dikeluarkan untuk selanjutnya akan
diganti. Kegiatan pemanfaatan PDR tersebut dilakukan sebagai upaya merintis
penggunaan dan operasionalnya PDR.
Namun demikian, kegiatan operasional PDR tersebut dihentikan hingga saat ini. Hal ini
terjadi karena belum adanya pemindahtanganan secara resmi PDR tersebut dari
Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Dinas Perindustrian dan
Perdagangan). Bahkan, pada saat ini bangunan dalam kondisi terbengkalai tanpa ada
penerangan (listrik) yang memadai, perawatan bangunan, maupun pengamanan. Tanpa ada
surat pemindahtanganan, pihak Pemerintah Provinsi tidak dapat mengeluarkan biaya untuk
hal-hal tersebut. Kondisi ini sangat merugikan. Selain tidak diperolehnya manfaat karena
tidak berfungsinya PDR, kondisi bangunan juga akan semakin rusak karena tidak adanya
perawatan.

46

BAB VI
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN

6.1. Kesimpulan
6.1.1. PDR Bitung
a. Pusat Distribusi Regional Bitung diperlukan dalam mendukung pembangunan Koridor
Ekonomi Sulawesi, khususnya dalam pengembangan pusat produksi dan pengolahan
hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan. Selain itu, dengan rencana pengembangan
Pelabuhan Bitung sebagai pelabuhan hub internasional, PDR Bitung akan berperan
penting untuk mendukung posisi Indonesia dalam berhubungan dengan pasar global,
khususnya Asia Timur.

b. Keberadaan PDR Bitung didukung oleh daerah-daerah produsen di sekitar


wilayah PDR, yaitu Sulawesi Utara, Maluku dan Maluku Utara, Gorontalo, dan
Sulawesi Tengah. Wilayah-wilayah produsen pendukung PDR Bitung berpotensi
menghasilkan berbagai komoditas antara lain kentang, pala, minyak kelapa,
kopra, ikan kaleng dan rumput laut.
c. Dengan posisinya yang strategis, PDR Bitung berpotensi melayani kebutuhan bahan
pokok dan strategis untuk beberapa wilayah, yaitu: Kota Bitung dan sekitarnya, Pulaupulau kecil sekitar Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua.
d. Penetapan lokasi PDR Bitung memenuhi kriteria-kriteria penempatan Pusat Distribusi
Regional, mencakup jumlah penduduk, aksesibilitas, daerah konsumen (bukan penghasil
dan bukan daerah produsen), dapat berfungsi sebagai kolektor (pusat konsolidasi) dan
distributor, berada pada wilayah dekat Pelabuhan Utama, dan berpotensi untuk
dikembangkan menjadi pusat perdagangan antar pulau.
e. PDR Bitung berpotensi Infrastruktur di wilayah PDR Bitung cukup memadai, baik
infrastruktur transportasi laut (pelabuhan), maupun infrastruktur transportasi darat (jalan
raya).

6.1.2. PDR Makassar


a. PDR Makassar diperlukan dalam mendukung pembangunan Koridor Ekonomi Sulawesi,
khususnya dalam pengembangan pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian,
perkebunan dan perikanan. Dengan lokasinya yang strategis, PDR Makassar berpotensi
mendukung jalur perdagangan untuk wilayah Indonesia Timur maupun untuk
berhubungan dengan pasar global, seperti Australia.
b. Keberadaan PDR Makassar didukung oleh daerah-daerah produsen di sekitar

wilayah PDR, terutama untuk komoditas unggulan Sulawesi Selatan antara lain
beras, jagung, kakao, bawang merah, cabai, jeruk besar, kentang dan industri
pengolahan buah-buahan.
c. PDR Makassar berpotensi melayani kebutuhan bahan pokok dan strategis untuk
beberapa wilayah, yaitu: Kota Makassar dan sekitarnya. Bahkan, untuk komoditas beras,
misalnya, distribusi dilakukan ke 21 provinsi lainnya.
47

d. Penetapan lokasi PDR Makassar memenuhi kriteria-kriteria penempatan Pusat Distribusi


Regional, mencakup jumlah penduduk, aksesibilitas, daerah konsumen (bukan penghasil
dan bukan daerah produsen), dapat berfungsi sebagai kolektor (pusat konsolidasi) dan
distributor, berada pada wilayah dekat pelabuhan utama, dan berpotensi untuk
dikembangkan menjadi pusat perdagangan antar pulau.
e. Infrastruktur transportasi PDR Makassar cukup memadai, baik infrastruktur transportasi
laut (pelabuhan), maupun infrastruktur transportasi darat dengan tersedianya jalan tol.
f. Berdasarkan pengalaman pembangunan PDR di Makassar, pembangunan PDR di
wilayah-wilayah lain hendaknya lebih memperhatikan ketersediaan infrastruktur jalan
raya sebagai penghubung ke/dari PDR.
g. PDR Makassar telah dibangun dalam dua tahap, yaitu pada tahun 2004 dan 2011.
Namun, hingga saat ini operasionalisasi PDR tersebut belum dapat dilakukan, karena
belum ada pemindahtanganan PDR dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Provinsi
Sulawesi Selatan. Belum beroperasinya PDR Makassar dari tahun 2004 sampai
sekarang mengakibatkan PDR tidak bisa dimanfaatkan sesuai dengan tujuannya, serta
berdampak terhadap kerusakan fisik bangunan dan peralatan. Selain itu juga timbul
pertanyaan dari masyarakat melalui LSM yang mengenai belum berfungsinya PDR
tersebut.

6.2. Rekomendasi
6.2.1. PDR Bitung
a. Penentuan lokasi PDR perlu dilakukan dengan mempertimbangkan volume pasokan dan
permintaan komoditas pokok dan strategis, serta komoditas unggulan daerah di wilayah
sekitar PDR.
b. Penentuan lokasi PDR perlu dilakukan dengan mempertimbangkan pula keberadaan dan
daya dukung pelabuhan laut di dekat lokasi PDR.
c. Aksesibilitas dari/ke lokasi PDR perlu didukung dengan infrastruktur transportasi darat
(jalan raya) yang memadai dari aspek kelas jalan dan kondisinya.
d. Peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) perlu segera dilakukan dalam
masa pembangunan PDR Bitung, sehingga dapat diharapkan PDR dapat segera
beroperasi secara baik segera setelah pembangunan PDR tersebut selesai.
e. Sosialisasi keberadaan PDR perlu segera dilakukan kepada pihak-pihak terkait, terutama
kepada para calon mitranya, yaitu para petani, peternak, dan nelayan, maupun kepada
instansi-instansi di Pemerintah Daerah terkait.
f. Proses bisnis dan operasional PDR perlu dipersiapkan dan dirancang secara baik,
termasuk dengan mengembangkan manajemen rantai pasok (supply chain
management/SCM) secara terintegrasi dengan pihak-pihak terkait.
g. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi perlu memperhatikan persyaratan teknis dan
administratif yang harus dipenuhi agar pemindahtanganan PDR dapat dilakukan segera
setelah pembangunan PDR selesai.

48

6.2.2. PDR Makassar


a. Sosialisasi keberadaan PDR perlu segera dilakukan kepada pihak-pihak terkait, terutama
kepada para calon mitranya, yaitu para petani, peternak, dan nelayan, maupun kepada
instansi-instansi Pemerintah Daerah terkait.
b. Proses bisnis dan operasional PDR perlu dipersiapkan dan dirancang secara baik,
termasuk dengan mengembangkan manajemen rantai pasok (supply chain
management/SCM) secara terintegrasi dengan pihak-pihak terkait.
c. Kementerian Perdagangan perlu segera melakukan identifikasi untuk mengetahui
kendala-kendala yang mengakibatkan belum dilakukannya pemindahtanganan PDR
tersebut serta menindaklanjuti hasil identifikasi yang diperoleh.
d. Berkaitan dengan masalah pemindahtanganan PDR, apabila belum dapat dilakukan
pemindahtanganan PDR secara permanen, Dinas Perindustrian dan Perdagangan
(Disperindag) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) meminta adanya surat
pemindahtanganan sementara sehingga Disperindag dapat melakukan upaya-upaya
agar PDR segera berfungsi sebagaimana mestinya. Apabila ada persyaratan teknis dan
administratif yang belum dipenuhi, Disperindag Sulsel harus berupaya untuk
memenuhinya sesuai dengan peraturan yang berlaku.

49

DAFTAR PUSTAKA

APICS Dictionary, 10th ed.


Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025.
Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem
Logistik Nasional.
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 125/PMK.06/2011 tentang
Pengelolaan Barang Milik Negara yang Berasal dari Dana Dekonsentrasi dan Dana
Tugas Pembantuan sebelum Tahun Anggaran 2011.
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan
Barang Milik Negara.
Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 86/M-DAG/PER/12/2012
tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Sarana
Perdagangan Tahun Anggaran 2013.
Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 48/M-DAG/PER/8/2013 tentang
Pedoman Pembangunan dan Pengelolaan Sarana Distribusi Perdagangan.
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (2012). Laporan Akhir
Pembangunan dan Pengembangan Pusat Distribusi Regional (PDR).

Panduan

Coyle, J.L., Gibson, B.J., Novack, R.A., Bardi, E.J. (2003). Supply Chain Management: A
Logistics Perspective. Cengage Learning.
Christopher, M. (1992). Logistics & Supply Chain Management. Prentice-Hall.
Rahayuningrum, N., Anugrah, I.S., Friyanto, S., Santoso, A.S., Hariyadi, Erlan, R., Sitepu,
I.C., Acep. (2007). Kajian Pengembangan Pusat Distribusi Regional Produk Agro.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri, Badan Penelitian
dan Pengembangan Perdagangan, Departemen Perdagangan.
Setijadi (2009). Handout Sistem Logistik. Universitas Widyatama Bandung.

50

LAMPIRAN

51

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 125/PMK.06/2011
TENTANG
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA
YANG BERASAL DARI DANA DEKONSENTRASI DAN DANA
TUGAS PEMBANTUAN SEBELUM TAHUN ANGGARAN 2011
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang

: a.

bahwa dalam rangka mewujudkan good governance dalam pengelolaan Barang


Milik Negara, diperlukan tertib administrasi terhadap pengelolaan Barang
Milik Negara yang diperoleh dari Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas
Pembantuan;

b.

bahwa dalam rangka pelaksanaan pengelolaan Barang Milik Negara


sebagaimana dimaksud dalam huruf a, diperlukan adanya suatu pedoman
dalam pengelolaan Barang Milik Negara yang berasal dari
Dana
Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan;
bahwa Menteri Keuangan selaku Pengelola Barang memiliki kewenangan
untuk mengatur pengelolaan Barang Milik Negara yang berasal dari Dana
Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan;

c.

d.

Mengingat

1.

2.

3.

4.
5.

6.
7.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf


b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang
Pengelolaan Barang Milik Negara Yang Berasal Dari Dana Dekonsentrasi Dan
Dana Tugas Pembantuan Sebelum Tahun Anggaran 2011;
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 20,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4609) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 78, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4855);
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi Dan Tugas
Pembantuan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4816);
Keputusan Presiden Nomor 56/P Tahun 2010;
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, Dan Pemindahtanganan
Barang Milik Negara;
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 120/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan
Barang Milik Negara;
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.07/2008 tentang Pedoman
Pengelolaan Dana Dekonsentrasi Dan Tugas Pembantuan sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.07/2010;

www.djpp.depkumham.go.id

-2MEMUTUSKAN:
Menetapkan

: PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENGELOLAAN BARANG


MILIK NEGARA YANG BERASAL DARI DANA DEKONSENTRASI DAN
DANA TUGAS PEMBANTUAN SEBELUM TAHUN ANGGARAN 2011.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu
Pengertian
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan:
1. Barang Milik Negara, yang selanjutnya disingkat BMN, adalah semua barang
yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan
lainnya yang sah.
2. Barang Milik Negara yang berasal dari Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas
Pembantuan sebelum Tahun Anggaran 2011, yang selanjutnya disingkat BMN
DK/TP, adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh dari Dana
Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan sebelum Tahun Anggaran 2011.
3. Dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan
oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan
dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi, tidak termasuk dana
yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah.
4. Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari APBN yang
dilaksanakan oleh daerah dan desa yang mencakup semua penerimaan dan
pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan.
5. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah kepada
Gubernur sebagai wakil pemerintah.
6. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan/atau
desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan
dan
mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan.
7. Kuasa Pengguna Barang adalah Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah atau
pejabat yang ditunjuk oleh Pengguna Barang untuk menggunakan barang yang
berada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya.
8. Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat SKPD, adalah
organisasi/lembaga pada Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan dekonsentrasi/tugas pemerintahan di bidang tertentu di daerah
Provinsi, Kabupaten, atau Kota.
9. Penggunaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pengguna Barang dalam
menggunakan dan menatausahakan BMN dalam menjalankan tugas dan fungsi
instansi yang bersangkutan.
10. Pemindahtanganan adalah pengalihan kepemilikan BMN dengan cara dijual,
dipertukarkan, dihibahkan atau disertakan sebagai modal pemerintah.
11. Penghapusan adalah tindakan menghapus BMN dari daftar barang dengan
menerbitkan keputusan dari pejabat yang berwenang untuk membebaskan
Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang dan/atau Pengelola
Barang dari tanggung jawab administrasi dan fisik atas barang yang berada
dalam penguasaannya.
12. Penatausahaan adalah rangkaian kegiatan yang meliputi pembukuan,

www.djpp.depkumham.go.id

-3inventarisasi dan pelaporan BMN sesuai ketentuan yang berlaku.


13. Pengelola Barang adalah pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab
menetapkan kebijakan dan pedoman serta melakukan pengelolaan BMN.
14. Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan BMN.
Bagian Kedua
Maksud dan Tujuan

(1)
(2)

Pasal 2
Peraturan Menteri Keuangan ini dimaksudkan untuk memberikan pedoman
bagi penyelenggara negara dalam pengelolaan BMN DK/TP.
Peraturan Menteri Keuangan ini bertujuan untuk mewujudkan tertib
administrasi, tertib hukum dan tertib fisik atas pengelolaan BMN DK/TP.
Bagian Ketiga
Ruang Lingkup

Pasal 3
Ruang lingkup pengelolaan BMN DK/TP yang diatur dalam Peraturan Menteri
Keuangan ini meliputi Penggunaan, Pemindahtanganan, Pemusnahan, Penghapusan,
Penatausahaan, Pengawasan dan Pengendalian.
BAB II
KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB

(1)
(2)

(3)

(4)

(5)

Pasal 4
Menteri Keuangan merupakan Pengelola Barang DK/TP.
Direktur Jenderal Kekayaan Negara merupakan pelaksana fungsional atas
kewenangan dan tanggung jawab Menteri Keuangan selaku Pengelola Barang
DK/TP.
Dalam melaksanakan kewenangan dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), Direktur Jenderal Kekayaan Negara atas nama Menteri
Keuangan dapat menunjuk pejabat pada instansi vertikal Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara untuk melaksanakan sebagian kewenangan dan tanggung
jawab Pengelola Barang DK/TP.
Menteri/pimpinan lembaga merupakan Pengguna Barang DK/TP, yang dalam
menjalankan tugas dan wewenangnya secara fungsional dilaksanakan oleh unit
eselon I yang membidangi kesekretariatan.
Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah penerima Dana Dekonsentrasi dan
Dana Tugas Pembantuan merupakan Kuasa Pengguna Barang DK/TP.

Pasal 5
Kewenangan Menteri Keuangan selaku Pengelola Barang DK/TP sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) meliputi:
a. menetapkan status Penggunaan BMN DK/TP berupa:
1. tanah dan/atau bangunan;
2. selain tanah dan/atau bangunan, yang memiliki:
a) bukti kepemilikan; atau
b) nilai perolehan di atas Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) per
unit/satuan;
b. memberikan persetujuan atau penolakan atas usulan Pemindahtanganan BMN

www.djpp.depkumham.go.id

-4DK/TP yang diajukan oleh Pengguna Barang;


c. memberikan persetujuan atau penolakan atas usulan Penghapusan BMN DK/TP
yang diajukan oleh Pengguna Barang;
d. melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan BMN DK/TP.
Pasal 6
Menteri Keuangan selaku Pengelola Barang bertanggung jawab atas pelaksanaan
Penggunaan, Pemindahtanganan, Penghapusan, Penatausahaan, pengawasan dan
pengendalian atas pengelolaan BMN DK/TP sesuai dengan batasan tanggung
jawabnya sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di
bidang BMN.

(1)

(2)

Pasal 7
Pengguna Barang bersama-sama dengan Kuasa Pengguna Barang harus
melakukan inventarisasi untuk menentukan rincian data atas BMN DK/TP,
termasuk kondisi dan keberadaan BMN DK/TP.
Hasil inventarisasi sebagaimana dimakud pada ayat (1) digunakan sebagai
dasar dalam menentukan usulan pengelolaan atas BMN DK/TP.
BAB III
PENGGUNAAN BMN DK/TP

(1)
(2)

(3)

(1)

(2)

Pasal 8
Status Penggunaan BMN DK/TP ditetapkan oleh Pengelola Barang atau
Pengguna Barang.
BMN DK/TP yang ditetapkan status penggunaannya oleh Pengelola Barang,
meliputi:
a. tanah dan/atau bangunan;
b. selain tanah dan/atau bangunan, yang memiliki:
1) bukti kepemilikan; atau
2) nilai perolehan di atas Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah)
per unit/satuan.
BMN DK/TP selain dari sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan
status penggunaannya oleh Pengguna Barang.
Pasal 9
Penetapan status Penggunaan BMN DK/TP sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 dilakukan atas BMN DK/TP yang sedang digunakan atau direncanakan
untuk digunakan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian
Negara/Lembaga.
Penetapan status penggunaan BMN DK/TP sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 tidak perlu dilakukan atas BMN DK/TP yang direncanakan untuk
dilakukan Pemindahtanganan sampai dengan tanggal 31 Desember 2012 atau
yang telah diserahkan kepada pihak ketiga.

Pasal 10
Tata cara penetapan status Penggunaan BMN DK/TP dilakukan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan BMN.

www.djpp.depkumham.go.id

-5BAB IV
PEMINDAHTANGANAN, PEMUSNAHAN
DAN PENGHAPUSAN BMN DK/TP
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 11
BMN DK/TP yang tidak digunakan oleh Kementerian Negara/Lembaga,
dilakukan pengelolaan melalui mekanisme:
a. Pemindahtanganan;
b. Pemusnahan;
c. Penghapusan.
(2) Pengelolaan BMN DK/TP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
didasarkan pada kebutuhan Kementerian Negara/Lembaga, fungsi, kondisi dan
keberadaan BMN DK/TP bersangkutan.
(1)

Bagian Kedua
Pemindahtanganan
Pasal 12
Pemindahtanganan BMN DK/TP dilakukan melalui:
a. Hibah;
b. Penjualan.

(1)
(2)

(1)
(2)

(1)

Pasal 13
Hibah BMN DK/TP dilakukan kepada Pemerintah Daerah.
Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan atas BMN DK/TP yang:
a. tidak digunakan untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi Kementerian
Negara/Lembaga;
b. telah ditatausahakan oleh Kementerian Negara/Lembaga;
c. digunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan daerah;
d. keberadaan fisiknya jelas; dan
e. dalam kondisi baik/layak untuk digunakan.

Pasal 14
Hibah dilaksanakan oleh Pengguna Barang setelah mendapat persetujuan
Pengelola Barang.
Dalam hal usulan hibah BMN berupa tanah dan/atau bangunan atau selain
tanah dan/atau bangunan memiliki nilai di atas Rp10.000.000.000,00 (sepuluh
miliar rupiah), maka persetujuan Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diberikan oleh Pengelola Barang setelah mendapat persetujuan Presiden.
Pasal 15
Usulan hibah BMN DK/TP berupa tanah dan/atau bangunan dari Pengguna
Barang kepada Pengelola Barang, harus disertai dengan data pendukung
berupa:
a. rincian barang yang akan dihibahkan, termasuk bukti kepemilikan, tahun
perolehan, luas, nilai buku, kondisi dan lokasi;
b. surat pernyataan tanggung jawab penuh mutlak tak bersyarat dari

www.djpp.depkumham.go.id

-6Pengguna Barang atas kebenaran materiil mengenai BMN DK/TP;


c. data calon penerima Hibah;
d. surat pernyataan kesediaan menghibahkan BMN DK/TP dari Pengguna
Barang; dan
e. surat pernyataan kesediaan menerima Hibah BMN DK/TP dari Pemerintah
Daerah dan/atau berita acara serah terima, dalam hal BMN DK/TP sudah
diserahoperasikan kepada Pemerintah Daerah.
(2) Dalam hal bukti kepemilikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
tidak ada, maka dapat digantikan dengan bukti lainnya seperti dokumen
kontrak, akte/perjanjian jual beli, dan dokumen setara lainnya yang dapat
dipersamakan dengan itu.

(1)

(1)
(2)

(3)

(1)

(2)
(3)

Pasal 16
Usulan hibah BMN DK/TP berupa selain tanah dan/atau bangunan dari
Pengguna Barang kepada Pengelola Barang, harus disertai dengan data
pendukung berupa:
a. rincian barang yang akan dihibahkan termasuk tahun perolehan,
identititas/spesifikasi, nilai buku, lokasi, peruntukan barang;
b. surat pernyataan tanggung jawab penuh mutlak tak bersyarat dari
Pengguna Barang atas kebenaran materiil mengenai BMN DK/TP;
c. data calon penerima hibah;
d. surat pernyataan kesediaan menghibahkan BMN DK/TP dari Pengguna
Barang; dan
e. surat pernyataan kesediaan menerima hibah BMN DK/TP dari Pemerintah
Daerah dan/atau berita acara serah terima barang, dalam hal BMN DK/TP
sudah diserahoperasikan kepada Pemerintah Daerah.
Pasal 17
Dalam hal usulan Hibah BMN DK/TP disetujui, Pengelola Barang
menerbitkan surat persetujuan Hibah.
Persetujuan Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menjadi dasar bagi
Pengguna Barang untuk melakukan serah terima barang dengan penerima
Hibah paling lambat 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat persetujuan Hibah
diterbitkan, dan dituangkan dalam berita acara serah terima barang.
Dalam hal usulan Hibah BMN DK/TP tidak disetujui, Pengelola Barang
menerbitkan surat penolakan dengan disertai alasannya.
Pasal 18
Penjualan BMN DK/TP dilakukan hanya terhadap BMN DK/TP yang:
a. berada dalam kondisi rusak berat tetapi secara ekonomis lebih
menguntungkan bagi negara apabila dijual; dan
b. tidak digunakan untuk pelaksanaan tugas dan fungsi Pemerintah Daerah
dan Kementerian Negara/Lembaga.
Penjualan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui lelang.
Pelaksanaan penjualan atas BMN DK/TP sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) dilakukan mengikuti ketentuan peraturan perundang-perundangan
di bidang BMN dan lelang.

www.djpp.depkumham.go.id

-7Bagian Ketiga
Pemusnahan
Pasal 19
Pelaksanaan pemusnahan atas BMN DK/TP dilakukan sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang pengelolaan BMN.
Bagian Keempat
Penghapusan

(1)

(2)

(3)
(4)

(1)

(2)

(3)
(4)
(5)

(6)

Pasal 20
Penghapusan BMN DK/TP dilakukan berdasarkan keputusan Penghapusan
BMN yang diterbitkan oleh Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang atau
Pengelola Barang.
Penghapusan BMN DK/TP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Penghapusan BMN dari Daftar Barang Pengguna/Daftar Barang Kuasa
Penguna pada Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang;
b. Penghapusan BMN dari Daftar BMN pada Pengelola Barang.
Penghapusan BMN DK/TP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
dilakukan setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan Pengelola Barang.
Penghapusan BMN DK/TP sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan
sebagai tindak lanjut dari:
a. Pemindahtanganan; atau
b. sebab-sebab lain yang secara normal dapat diperkirakan wajar menjadi
penyebab Penghapusan, antara lain hilang, kecurian, terbakar, susut,
menguap, mencair, atau terkena dampak dari terjadinya force majeure,
kadaluwarsa,
dan
mati/cacat
berat/tidak
produktif
untuk
tanaman/hewan/ternak.
Pasal 21
Penghapusan BMN DK/TP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (4)
huruf b dilakukan setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan Pengelola
Barang.
Permohonan persetujuan penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diajukan Pengguna Barang kepada Pengelola Barang disertai dengan:
a. surat pernyataan tanggung jawab dari Pengguna Barang atas kebenaran
materiil jumlah dan jenis barang, dan penyebab Penghapusan tersebut;
b. identitas dan kondisi barang;
c. tempat/lokasi barang; dan
d. nilai buku barang bersangkutan.
Dalam hal usulan Penghapusan BMN DK/TP disetujui, Pengelola Barang
menerbitkan surat persetujuan Penghapusan.
Dalam hal usulan Penghapusan BMN DK/TP tidak disetujui, Pengelola
Barang menerbitkan surat penolakan dengan disertai alasannya.
Berdasarkan persetujuan Penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
Pengguna Barang menetapkan keputusan Penghapusan paling lambat 2 (dua)
bulan sejak tanggal surat persetujuan Penghapusan diterbitkan.
Keputusan Penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) menjadi dasar
bagi Pengguna Barang untuk melakukan Penghapusan barang dari Daftar

www.djpp.depkumham.go.id

-8(7)

Barang Pengguna.
Pengguna Barang wajib menyampaikan laporan pelaksanaan Penghapusan
kepada Pengelola Barang paling lambat 1 (satu) bulan setelah tanggal
penerbitan keputusan tersebut, dengan dilampiri keputusan Penghapusan
barang dari Daftar Barang Pengguna.

Pasal 22
Nilai BMN DK/TP yang dihapuskan sebesar nilai yang tercantum dalam Daftar
Barang Pengguna/Daftar Barang Kuasa Pengguna dan/atau Laporan Barang
Pengguna/Laporan Barang Kuasa Pengguna dan/atau Daftar BMN dan/atau
Laporan BMN.

(1)
(2)

(3)

Pasal 23
Kebenaran materiil atas usulan Penghapusan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 20 ayat (4) huruf b menjadi tanggung jawab Pengguna Barang.
Persetujuan Pengelola Barang atas usulan Penghapusan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 20 ayat (4) huruf b, tidak menghapus kewajiban hukum
Pengguna Barang, Kuasa Pengguna Barang, pihak pengurus barang dan/atau
penanggung jawab BMN DK/TP tersebut terhadap pelanggaran hukum yang
telah dilakukan atas BMN DK/TP bersangkutan.
Dalam hal di kemudian hari ditemukan dan terbukti adanya unsur kesengajaan
atau kelalaian yang mengakibatkan hilangnya BMN DK/TP, maka para pihak
yang menyebabkan, melakukan, dan/atau turut serta melakukan perbuatan
tersebut dikenakan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB V
PENATAUSAHAAN

(1)
(2)

(1)
(2)

(3)

(1)

Pasal 24
Penatausahaan BMN DK/TP meliputi kegiatan pembukuan, inventarisasi, dan
pelaporan.
Penatausahaan BMN DK/TP dilakukan oleh:
a. Pengelola Barang;
b. Pengguna Barang; dan
c. Kuasa Pengguna Barang.
Pasal 25
Pengelola Barang melakukan pembukuan berupa pendaftaran dan pencatatan
BMN DK/TP dalam Daftar BMN dan/atau Laporan BMN.
Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang melakukan pembukuan berupa
pendaftaran dan pencatatan BMN DK/TP dalam Daftar Barang
Pengguna/Daftar Barang Kuasa Pengguna dan/atau Laporan Barang
Pengguna/Laporan Barang Kuasa Pengguna.
Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan prasyarat dalam
Pemindahtanganan BMN DK/TP.
Pasal 26
Pencatatan atas BMN DK/TP dilakukan terhadap kegiatan yang berkaitan
dengan pengelolaan BMN meliputi:
a. pengadaan dan penetapan status Penggunaan;

www.djpp.depkumham.go.id

-9-

(2)

(3)

(4)

(1)

(2)

b. Pemindahtanganan;
c. pemusnahan; dan
d. Penghapusan.
BMN DK/TP yang sedang digunakan atau direncanakan untuk digunakan
dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian Negara/Lembaga dicatat
sebagai Aset Tetap atau Persediaan, sesuai dengan substansinya.
BMN DK/TP yang belum mendapat persetujuan Pemindahtanganan dari
Pengelola Barang tetapi telah diserahkan kepada pihak ketiga, dicatat sebagai
Aset Lainnya.
Pengguna Barang wajib mencatat setiap perubahan data terkait dengan BMN
DK/TP dan melaporkannya kepada Pengelola Barang sebagai mutasi dan
dilaporkan pada periode pelaporan terkait.
Pasal 27
Pengguna Barang menyusun laporan semesteran dan tahunan BMN DK/TP
sebagai bagian dari pelaporan BMN sesuai ketentuan peraturan perundangundangan di bidang Penatausahaan BMN.
Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disampaikan kepada
Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Kekayaan Negara secara periodik.
BAB VI
PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN

Pasal 28
Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan BMN DK/TP
dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan
BMN.
BAB VII
BATAS WAKTU
Pasal 29
Penyelesaian pengelolaan BMN DK/TP sebagaimana diatur dalam Peraturan
Menteri Keuangan ini dilakukan paling lambat tanggal
31 Desember
2012.
BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 30
Pada saat berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini:
a. persetujuan pengelolaan BMN DK/TP yang telah diterbitkan oleh Pengelola
Barang sebelum berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini, dinyatakan tetap
berlaku;
b. permohonan pengelolaan BMN DK/TP yang telah diajukan, namun belum
diterbitkan persetujuannya, diproses menurut ketentuan Peraturan Menteri
Keuangan ini.

www.djpp.depkumham.go.id

- 10 BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 31
Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri
Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 8 Agustus 2011
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA,

AGUS D.W. MARTOWARDOJO


Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 8 Agustus 2011
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

PATRIALIS AKBAR
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR 476

www.djpp.depkumham.go.id

LAMPIRAN IX
PERATURAN
MENTERI
KEUANGAN
NOMOR 96/PMK.06/2007 TENTANG TATA
CARA PELAKSANAAN PENGGUNAAN,
PEMANFAATAN, PENGHAPUSAN, DAN
PEMINDAHTANGANAN BARANG MILIK
NEGARA

TATA CARA PELAKSANAAN HIBAH BARANG MILIK NEGARA


I.

Definisi

II.

Hibah adalah pengalihan kepemilikan Barang Milik Negara dari Pemerintah Pusat kepada
Pemerintah Daerah atau kepada pihak lain tanpa memperoleh penggantian.
Pertimbangan
Hibah Barang Milik Negara dilakukan untuk:
1. kepentingan sosial, keagamaan, kemanusiaan;
2. penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

III.

Subjek Pelaksana Hibah dan Objek Hibah


1. Pihak yang dapat melaksanakan hibah Barang Milik Negara adalah:
a. Pengelola Barang, untuk tanah dan/atau bangunan;
b. Pengguna Barang, dengan persetujuan Pengelola Barang, untuk:
1) tanah dan/atau bangunan yang dari awal pengadaannya direncanakan untuk
dihibahkan sebagaimana tercantum dalam dokumen penganggaran;
2) tanah dan/atau bangunan yang diperoleh dari dana Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan;
3) sebagian tanah yang berada pada Pengguna Barang;
4) selain tanah dan/atau bangunan.
2. Pihak yang dapat menerima hibah adalah:

IV.

a. lembaga sosial, lembaga keagamaan, dan organisasi kemanusiaan, yang


mendapatkan pernyataan tertulis dari instansi teknis yang kompeten bahwa
lembaga yang bersangkutan adalah sebagai lembaga termaksud;
b. Pemerintah Daerah.
Ketentuan dalam Pelaksanaan Hibah
1. Persyaratan Barang Milik Negara untuk dapat dihibahkan :
a. Barang Milik Negara yang dari awal perencanaan pengadaannya dimaksudkan
untuk dihibahkan sebagaimana tercantum dalam dokumen penganggaran;
b. bukan merupakan barang rahasia negara, bukan merupakan barang yang menguasai
hajat hidup orang banyak, dan tidak digunakan lagi dalam penyelenggaraan tugas
pokok dan fungsi Pengguna Barang, serta
tidak digunakan lagi dalam
penyelenggaraan pemerintahan negara;
c. Barang Milik Negara berasal dari hasil perolehan lain yang sah, dalam hal ini
berdasarkan keputusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap
dan/atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan, ditentukan untuk
dihibahkan;
d. Sebagian tanah pada pengguna dapat dihibahkan sepanjang dipergunakan untuk
pembangunan fasilitas umum yang tidak mendapatkan penggantian kerugian sesuai
ketentuan perundang-undangan, fasilitas sosial dan keagamaan.
2. Besaran nilai Barang Milik Negara yang dihibahkan:
a. nilai Barang Milik Negara hasil dari pelaksanaan kegiatan anggaran, yang dari awal
pengadaannya telah direncanakan untuk dihibahkan, didasarkan pada realisasi
pelaksanaan kegiatan anggaran yang bersangkutan;
49

b. nilai Barang Milik Negara selain huruf a didasarkan pada hasil penilaian yang
berpedoman pada Pasal 11, Pasal 12, dan Pasal 13 Peraturan Menteri Keuangan ini.
3. Hibah atas Barang Milik Negara, yang sejak perencanaan pengadaannya dimaksudkan
untuk dihibahkan, tidak memerlukan persetujuan DPR dan pelaksanaannya dilakukan
setelah terlebih dahulu diaudit oleh aparat pengawas fungsional.
4. Barang Milik Negara yang dihibahkan harus digunakan sebagaimana fungsinya pada saat
dihibahkan, atau tidak diperbolehkan untuk dimanfaatkan oleh dan/atau
dipindahtangankan kepada pihak lain.
V. Tata Cara Pelaksanaan Hibah
1. Tata cara pelaksanaan hibah atas tanah dan/atau bangunan yang berada pada Pengelola
Barang
a. Permintaan hibah disampaikan kepada Pengelola Barang dengan disertai penjelasan
dan data pendukung:
1) alasan permintaan hibah;
2) rincian peruntukan;
3) jenis/spesifikasi;
4) lokasi/data teknis;
5) hal lain yang dianggap perlu.
b. Pengelola Barang membentuk Tim yang beranggotakan unsur Pengelola Barang,
Pengguna Barang, serta dapat mengikutsertakan unsur instansi/lembaga teknis
yang kompeten.
c. Tim melakukan penelitian kelayakan alasan/pertimbangan permintaan hibah, dan
data administrasi yang terdiri dari:
1)

data tanah, antara lain status dan bukti kepemilikan, gambar situasi termasuk
lokasi tanah, luas, dan peruntukan;
2) data bangunan, antara lain tahun pembuatan, konstruksi, luas, dan status
kepemilikan;
3) Apabila diperlukan, melakukan penelitian fisik atas tanah dan/atau bangunan
yang akan dihibahkan untuk mencocokkan data administratif yang ada.
d. Pengelola Barang menugaskan penilai untuk melakukan penghitungan nilai tanah
dan/atau bangunan yang akan dihibahkan.
e. Penilai melaporkan laporan penilaian kepada Pengelola Barang melalui Tim
f. Tim menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tugas kepada Pengelola Barang,
dilampiri berita acara penelitian termasuk laporan penilaian sebagaimana tersebut
huruf e.
g. Berdasarkan laporan Tim, Pengelola Barang mempertimbangkan untuk menentukan
disetujui atau tidaknya usulan hibah.
h. Dalam hal usulan hibah tidak disetujui, Pengelola Barang memberitahukan kepada
pihak yang mengusulkan hibah, disertai dengan alasannya.
i. Dalam hal usulan hibah disetujui, Pengelola Barang menetapkan keputusan
pelaksanaan hibah, yang sekurang-kurangnya memuat:

1) penerima hibah;
2) objek hibah, yaitu mengenai detil tanah dan/atau bangunan;
3) nilai tanah dan/atau bangunan;
50

4) peruntukan tanah dan/atau bangunan.


j. Dalam hal hibah tanah dan/atau bangunan tersebut memerlukan persetujuan DPR,
Pengelola Barang mengajukan permohonan persetujuan hibah kepada DPR.
k. Dalam hal hibah tanah dan/atau bangunan tersebut tidak memerlukan persetujuan
DPR tetapi hasil penilaiannya di atas Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah),
Pengelola Barang terlebih dahulu mengajukan permohonan persetujuan hibah
kepada Presiden.
l. Berdasarkan keputusan pelaksanaan hibah tersebut, Pengelola Barang melakukan
serah terima tanah dan/atau bangunan kepada penerima hibah, yang dituangkan
dalam berita acara serah terima barang dan naskah hibah.
m. Berdasarkan berita acara serah terima barang dan naskah hibah, Pengelola Barang
melaksanakan penghapusan Barang Milik Negara dari Daftar Barang Milik Negara
dengan menerbitkan keputusan penghapusan barang.
2. Tata cara hibah atas tanah dan/atau bangunan yang dari sejak perencanaan
pengadaannya dimaksudkan untuk dihibahkan sebagaimana tercantum dalam
dokumen penganggaran.
a. Pengguna Barang membentuk Tim internal untuk melakukan persiapan pengusulan
hibah tanah dan/atau bangunan dengan tugas :
1) menyiapkan dokumen anggaran beserta kelengkapannya;
2) melakukan penelitian data administratif, yaitu:
a) data tanah, antara lain status dan bukti kepemilikan, lokasi tanah, luas, nilai
tanah;
b) data bangunan, antara lain tahun pembuatan, konstruksi, luas, dan status
kepemilikan serta nilai bangunan;
3) melakukan penelitian fisik atas tanah dan/atau bangunan yang akan dihibahkan
untuk mencocokkan data administratif yang ada;
4) menyampaikan laporan hasil penelitian data administratif dan fisik kepada
Pengguna Barang.
b. Pengguna Barang mengajukan permintaan persetujuan hibah tanah dan/atau
bangunan kepada Pengelola Barang dengan disertai:
1) dokumen penganggaran yang menunjukkan bahwa barang yang diusulkan sejak
perencanaan pengadaannya dimaksudkan untuk dihibahkan;
2) calon penerima hibah;
3) rincian peruntukan, jenis/spesifikasi, status dan bukti kepemilikan, dan lokasi;
4) hasil audit aparat pengawas fungsional;
5) hal lain yang dianggap perlu.
c. Pengelola Barang melakukan penelitian atas kebenaran dokumen penganggaran dan
data administrasi sebagaimana tersebut pada angka 2 huruf b. Apabila diperlukan,
Pengelola Barang dapat melakukan penelitian fisik atas tanah dan/atau bangunan
yang akan dihibahkan.
d. Berdasarkan penelitian di atas, Pengelola Barang menentukan disetujui atau
tidaknya usulan hibah.
e. Dalam hal usulan hibah tidak disetujui, Pengelola Barang memberitahukan kepada
pihak yang mengusulkan hibah, disertai dengan alasannya.
51

f. Dalam hal usulan hibah disetujui, Pengelola Barang menetapkan surat persetujuan
pelaksanaan hibah yang sekurang-kurangnya memuat:

1)
2)
3)
4)
5)

penerima hibah;
objek hibah, yaitu mengenai rincian tanah dan/atau bangunan;
nilai tanah dan/atau bangunan;
peruntukan tanah dan/atau bangunan;
kewajiban Pengguna Barang untuk menghapus tanah dan/atau bangunan yang
akan dihibahkan dari daftar barang pengguna; dan

6) kewajiban Pengguna Barang untuk melaporkan pelaksanaan hibah kepada


Pengelola Barang.
g. Dalam hal hibah tanah dan/atau bangunan tersebut nilainya di atas
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah), Pengelola Barang terlebih dahulu
mengajukan permohonan persetujuan hibah kepada Presiden.
h. Berdasarkan persetujuan hibah sebagaimana tersebut dalam huruf f, Pengguna
Barang melakukan serah terima atas tanah dan/atau bangunan yang akan
dihibahkan dengan penerima hibah, yang dituangkan dalam berita acara serah
terima barang dan naskah hibah.
i. Berdasarkan berita acara serah terima barang tersebut, Pengguna Barang dan/atau
Kuasa Pengguna Barang melaksanakan penghapusan dari Daftar Barang Pengguna
dan/atau Daftar Barang Kuasa Pengguna dengan menerbitkan keputusan
penghapusan dan melaporkan kepada Pengelola Barang paling lama 1 (satu) bulan
sejak diterbitkannya keputusan penghapusan.
j. Tembusan keputusan penghapusan barang dan berita acara serah terima
disampaikan kepada Pengelola Barang paling lama satu bulan setelah serah terima.
k. Berdasarkan tembusan dokumen tersebut huruf j, Pengelola Barang menghapuskan
barang dimaksud dari Daftar Barang Milik Negara dengan menerbitkan keputusan
penghapusan barang.
3. Tata cara hibah atas tanah dan/atau bangunan yang diperoleh dari dana Dekonsentrasi
dan Tugas Pembantuan mengikuti ketentuan sebagaimana tersebut pada romawi VI
angka 2 dengan penyesuaian seperlunya dan memperhatikan ketentuan perundangundangan yang mengatur Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.
4. Tata cara hibah atas sebagian tanah yang berada pada Pengguna Barang mengikuti
ketentuan sebagaimana tersebut pada romawi VI angka 2 dengan pengecualian
persyaratan dan penelitian terkait dengan dokumen penganggarannya serta persyaratan
hasil audit aparat pengawas fungsional.
5. Tata cara hibah Barang Milik Negara selain tanah dan/atau bangunan
a. Pengguna Barang membentuk Tim internal untuk melakukan persiapan pengusulan
hibah Barang Milik Negara dengan tugas :
1) melakukan penelitian data administratif Barang Milik Negara selain tanah dan
bangunan yang akan dihibahkan, yaitu tentang tahun perolehan,
spesifikasi/identitas teknis, bukti kepemilikan, dan nilai perolehan;
2) melakukan penelitian fisik atas Barang Milik Negara selain tanah dan/atau
bangunan yang akan dihibahkan untuk mencocokkan data administratif yang
ada;
52

b.

c.

d.
e.
f.

g.

h.

i.
j.

k.

3) menyampaikan laporan hasil penelitian data administratif dan fisik kepada


Pengguna Barang.
Pengguna Barang mengajukan permintaan persetujuan kepada Pengelola Barang
untuk menghibahkan Barang Milik Negara dimaksud, dengan disertai :
1) alasan untuk menghibahkan;
2) calon penerima hibah;
3) data Barang Milik Negara selain tanah dan/atau bangunan yang akan
dihibahkan, yaitu tahun perolehan, spesifikasi/identitas teknis, bukti
kepemilikan, dan nilai perolehan.
Pengelola Barang melakukan penelitian kelayakan hibah dan data administrasi
sebagaimana tersebut pada angka 4 huruf a 1). Apabila diperlukan, Pengelola
Barang dapat melakukan penelitian fisik.
Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam huruf c, Pengelola
Barang menentukan disetujui atau tidaknya permohonan tersebut.
Dalam hal usulan hibah tidak disetujui, Pengelola Barang memberitahukan kepada
Pengguna Barang yang mengusulkan hibah, disertai dengan alasannya.
Dalam hal usulan hibah disetujui, Pengelola Barang menetapkan surat persetujuan
pelaksanaan hibah yang sekurang-kurangnya memuat:
1) Barang Milik Negara yang dihibahkan;
2) pihak yang menerima hibah;
3) peruntukan Barang Milik Negara yang dihibahkan;
4) kewajiban Pengguna Barang menetapkan jenis, jumlah, dan nilai Barang Milik
Negara yang akan dihibahkan.
Dalam hal nilai perolehan Barang Milik Negara selain tanah dan/atau bangunan
tersebut di atas Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah), Pengelola Barang
terlebih dahulu mengajukan permohonan persetujuan kepada Presiden atau DPR
sesuai batas kewenangannya.
Berdasarkan persetujuan hibah sebagaimana tersebut dalam huruf f, Pengguna
Barang melakukan serah terima Barang Milik Negara yang dihibahkan dengan
penerima hibah, yang dituangkan dalam berita acara serah terima barang dan
naskah hibah.
Berdasarkan berita acara serah terima tersebut, Pengguna Barang menerbitkan
keputusan penghapusan.
Berdasarkan keputusan penghapusan, Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna
Barang menghapuskan dari Daftar Barang Pengguna dan/atau Kuasa Pengguna,
dan melaporkan penghapusan tersebut kepada pengelola barang paling lambat 1
(satu) bulan sejak serah terima disertai tembusan berita acara, naskah hibah, dan
keputusan penghapusan.
Berdasarkan laporan tersebut huruf j, Pengelola Barang menghapuskan dari Daftar
Barang Milik Negara apabila barang tersebut ada dalam Daftar Barang Milik
Negara.
MENTERI KEUANGAN,
ttd.
SRI MULYANI INDRAWATI
53