Anda di halaman 1dari 53

1

MODUL
PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN PERAWAT
PENDIDIK SEBAGAI PEMBIMBING KLINIK
( CLINICAL INSTRUCTOR) DI RUMAH SAKIT

Disusun oleh kelompok 3

1. Puput Risti Kusumaningrum


2. Yunis Veronika Purba
3. Ardani

MODUL 1
MATERI DASAR

A.

DISKRIPSI SINGKAT
Sumber Daya Manusia adalah aset yang sangat penting dan membuat sumber
daya organisasi lainnya bekerja. Sumber daya manusia penting karena
mempengaruhi efesiensi dan efektifitas organisasi, serta merupakan pengeluaran
pokok perusahaan dalam menjalankan bisnis.
Kepentingan umum dari sumber daya manusia disuatu organisasi adalah
kontribusinya dalam membantu organisasi dalam meraih misi, tujuan, dan
strateginya. Misi Organisasi merupakan pernyataan manejemen puncak tentang
gambaran seluruh organisasi. Tujuan adalah pernyataan yang berhubungan dengan
standar produk , pasar, keuangan yang ingin dicapai organisasi. Strategi organisasi
merupakan instrumen untuk mencapai tujuan tadi, melalui bauran produk, target
pelanggan, metode produksi, pengeluaran modal dan keputusan lain. Setelah
strategi dipilih, organisasi memilih SDM yang diperlukan untuk semua kebutuhan.
Anggota organisasi yang dipilih harus menguasai keahlian tertentu untuk
melaksanakan tugas secara efektif. Supaya strategi yang diterapkan berhasil ,
tugas-tugas harus dirancang dan dikelompokkan ke dalam pekerjaan-pekerjaan.
Fungsi departemen SDM adalah memastikan organisasi dilengkapi dengan
karyawan yang memiliki kemampuan , keahlian, dan pengetahuan yang
diperlukan untuk menyelsaikan tugas sesuai strategi yang ditetapkan. (Simon:18).

Diklat memiliki peran penting dalam peningkatan SDM yang ada.


Adapun tugas dan fungsi bagian diklat rumah sakit selain meningkatkan kapasitas
sumber daya manusia rumah sakit juga mampu menjalin kerjasama dalam
penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. Dalam penyelenggaraan diklat
tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan di lapangan. Oleh
karena itu diperlukan pengetahuan dan keterampilan dalam merencanakan sampai
dengan evaluasi program pendidikan dan latihan bagi SDM di rumah sakit agar
mampu memberikan pelayanan yang prima kepada pasien dan keluarga.
Departemen Pendidikan dan Latihan dalam suatu organisasi penting
untuk dipahami dan dimengerti agar program pengembangan SDM yang
senantiasa dilakukan oleh organisasi mampu menjawab kebutuhan, target dan
tantangan bisnis kedepan suatu organisasi. Program Manajemen Diklat Rumah
Sakit merupakan suatu upaya strategis manajemen yang bertujuan untuk
mengembangkan SDM dalam rangka meningkatkan kinerja suatu organisasi.
Hampir setiap organisasi yang besar memiliki unit diklat, namun tidak semua unit
diklat tersebut dapat menyelenggarakan diklat secara baik. Diklat yang baik
adalah

diklat

yang

dilaksanakan

dengan

mengikuti

kaidah

kaidah

penyelenggaraan diklat, yang berupa siklus diklat. Karena hanya dengan


penyelenggaraan diklat yang baik lah pengembangan SDM dapat diwujudkan.
Salah satu fungsi manajemen surmber daya manusia adalah training
and development artinya bahwa untuk mendapatkan tenaga kesehatan yang
bersumber daya manusia yang baik dan tepat sangat perlu pelatihan dan
pengembangan. Hal ini sebagai upaya untuk mempersiapkan para tenaga
kesehatan untuk menghadapi tugas pekerjaan jabatan yang dianggap belum

menguasainya. Pelatihan dan pengembangan membutuhkan perencanaan sebelum


proses pelaksanaan karena dalam perencanaan pelatihan dan pengembangan akan
tercipta sumber daya manusia yang lebih kompeten dan profesional, khususnya
bagi perawat pendidik diperlukan pelatihan dan pengembangan diri melalui
pelaihan Pembimbing Klinik / Clinical Instructor (CI).
Perubahan kurikulum pendidikan Sarjana Keperawatan/Ners yang
lebih berorientasi pada kompetesi (KBK) tentu memberikan implikasi pada
berbagai perubahan termasuk dalam kesiapan tenaga pembimbing klinik dalam
memberikan bimbingan agar mencapai kompetensi yang diinginkan. Pada kondisi
ini maka peranan seorang Pembimbing Klinik / Clinical Instructor (CI) sangat
penting dalam setiap tahapan praktikum mahasiswa sejak di tatanan laboratorium
sampai pada tatanan klinik/lapangan nyata.
Peranan adalah pola tingkah laku yang diharapkan dari seseorang yang
menduduki suatu jabatan atau pola tingkah laku yang diharapkan pantas dari
seseorang. Oleh karena itu seharusnya seorang CI diberi wewenang dan
tanggungjawab yang jelas sesuai dengan perannya dalam merancang, mengelola
dan mengevaluasi pemebelajaran klinik terhadap peserta didik di tatanan klinik.
Namun seringkali kita melihat dan merasakan keadaan yang berbeda dimana
seorang CI sulit sekali menunjukkan kemampuannya dalam membimbing peserta
didik karena berbagai sebab antara lain adalah kurangnya kepercayaan diri dan
ketidakjelasan peranan yang di berikan institusi pendidikan pada para CI tersebut.
Hal inilah yang mendorong pentingnya pembahasan peran CI ini dalam pelatihan
Clinical Instructor saat ini, semoga memberi kejelasan akan peran fungsi dan
tanggungjawabnya dalam membimbing para peserta didik di tatanan klinik. Oleh

karena itu diperlukan pengetahuan dan keterampilan dalam merencanakan sampai


dengan evaluasi program pendidikan dan latihan bagi SDM di rumah sakit agar
mampu membimbing peserta didik dalam mewujudkan pelayanan yang prima
kepada pasien dan keluarga
B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti materi ini, peserta pelatihan memahami tentang kurikulum
Pendidikan Ners dan konsep pembimbing klinik / CI
2. Tujuan Khusus
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan peserta pelatihan dapat:
1) Menjelaskan Pengertian program profesi
2) Menjelaskan Tahap Pendidikan Profesi
3) Menjelaskan Tujuan Pendidikan Profesi
4) Menjelaskan Kurikulum Pendidikan Profesi
5) Menjelaskan pengertian Pembimbing Klinik/ CI
6) Menjelaskan Perencanaan Pembelajaran Klinik
7) Menjelaskan Tugas Pembimbing Klinik / CI
8) Menjelaskan Peran Pembimbing Klinik / CI
9) Menyebutkan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Peran PK / CI
10) Menjelaskan Sasaran Bimbingan
11) Menyebutkan Prinsip-prinsip Bimbingan
12) Menjelaskan Kompetensi Pembimbing Klinik/CI
C. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN
1) Pengertian program profesi
2) Tahap Pendidikan Profesi
3) Perencanaan Pembelajaran Klinik
4) Tujuan Pendidikan Profesi
5) Kurikulum Pendidikan Profesi
6) Pengertian Pembimbing Klinik
7) Tugas Pembimbing Klinik / CI
8) Peran Pembimbing Klinik / CI
9) Faktor-Faktor yang Mempengaruhia Peran PK / CI
10) Sasaran Bimbingan
11) Prinsip-prinsip Bimbingan
12) Kompetensi Pembimbing Klinik
D. METODE
1. Ceramah, Tanya, Jawab (CTJ)
2. Tugas baca
E. ALAT BANTU DAN MEDIA

1.
2.
3.

Layar Monitor
Laptop
LCD

F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJAAN
Sesi 1 : Menjelaskan tentang Kurikulum Pendidikan Ners
Langkah-langkahnya:
1. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah. Apabila belum berkenalan mulai
dengan perkenalan. Sampaikan tujuan pembelajaran, sebaiknya dengan
menggunakan bahan tayang.
2. Fasilitator menggali pendapat/ pemahaman peserta terkait dengan pengertian
program profesi, tahap pendidikan profesi, perencanan pembelajaran klinik,
tujuan pendidikan profesi, kurikulum pendidikan profesi. Tuliskan kata kunci
pendapat mereka pada dikertas flipchart atau metaplan.
3. Fasilitator menyampaikan paparan tentang pengertian program profesi, tahap
pendidikan profesi, perencanaan pembelajaran klinik, tujuan pendidikan
profesi, kurikulum pendidikan profesi.
4. Berikan kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan pendapatnya dan
melakukan tanya jawab
5. Kaitkan pemaparan dengan pendapat/ pemahaman yang dikemukakan oleh
peserta agar mereka merasa dihargai
Sesi 2: Tentang Konsep Pembimbing Klinik / CI
Langkah-langkahnya:
1.

Fasilitator menyapa peserta dengan ramah. Apabila belum berkenalan


mulai dengan perkenalan. Sampaikan tujuan pembelajaran, sebaiknya

2.

dengan menggunakan bahan tayang.


Fasilitator menggali pendapat/ pemahaman peserta pelatihan terkait
dengan pengertian pembimbing klinik, tugas PK/CI, faktor-faktor yang
mempengaruhi peran PK/CI, sasaran bimbingan, prinsip-prinsip bimbingan,
kompetensi pembimbing klinik

3.
4.

Tuliskan kata kunci pendapat mereka pada kertas flipchart atau metaplan.
Fasilitator menyampaikan paparan tentang pengertian pengertian
pembimbing klinik, tugas PK/ CI, faktor-faktor yang mempengaruhi peran
PK/CI,

sasaran

bimbingan,

prinsip-prinsip

bimbingan,

kompetensi

5.

pembimbing klinik.
Berikan kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan pendapatnya

6.

dan melakukan tanya jawab.


Kaitkan pemaparan dengan pendapat/ pemahaman yang dikemukakan oleh
peserta agar mereka merasa dihargai

G. BAHAN PEMBELAJARAN

POKOK BAHASAN 1:
KURIKULUM PENDIDIKAN NERS

1. DEFINISI PROGRAM PROFESI/ NERS


Pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program
pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki
pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Lulusan pendidikan profesi
akan mendapatkan gelar profesi (Anonim, 2010).
Program pendidikan profesi adakalanya disebut juga sebagai proses
pembelajaran klinik. Istilah ini muncul terkait dengan pelaksanaan pendidikan
profesi yang sepenuhnya dilaksanakan di lahan praktik seperti rumah sakit,
puskesmas, klinik bersalin, panti wherda, dan keluarga serta masyarakat atau
komunitas (Reilly, 2002).
Berdasarkan Penjelasan Pasal 15 UU No.20/2003 menyebutkan bahwa
Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang

mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan


keahlian khusus.

2. TAHAP PENDIDIKAN PROFESI


Pendidikan perawat terbagi menjadi dua tahap yaitu tahap pendidikan
Reilly (2002 dalam Satria, 2010) yang membagi pendidikan keperawatan
menjadi dua disiplin yaitu disiplin akademik dan disiplin profesional. Masih
menurut Reilly (2002 dalam Satria, 2010), disiplin akademik lebih
menekankan pada pengetahuan dan pada teori yang bersifat deskriptif,
sedangkan disiplin professional diarahkan pada tujuan praktis, sehingga
menghasilkan teori preskriptif dan deskriptif. Disiplin profesi hanya akan
didapat di lingkungan klinis atau lahan praktik karena lingkungan klinis
merupakan lingkungan multiguna yang dinamik sebagai tempat pencapaian
berbagai kompetensi praktik klinis di dalam kurikulum profesional.
Lingkungan klinis memfasilitasi peserta didik untuk belajar menerapkan teori
tindakan ke dalam masalah klinis yang nyata. Tujuan dari praktik klinis dapat
dicapai di lingkungan manapun yang melibatkan peserta didik di dalam
praktik keperawatan.
Sebagai contoh untuk mahasiswa keperawatan biasanya memakai lahan
praktik di rumah sakit tipe A, tipe B maupun tipe C untuk pembelajaran kasuskasus yang terkait dengan medikal bedah atau perawatan pada orang dewasa,
keperawatan gawat darurat dan keperawatan anak. Untuk kasus-kasus
maternitas seperti pertolongan persalinan biasanya bekerjasama dengan klinik
bersalin atau rumah sakit khusus ibu dan anak, karena selain memiliki pasien

dalam jumlah banyak, kasusnya pun lebih spesifik. Sehingga lebih mudah
untuk pencapaian kompetensi mahasiswa sesuai dengan tujuan pembelajaran
yang diharapkan. Tetapi untuk kasus-kasus yang biasa terjadi di keluarga dan
masyarakat atau komunitas yang terkait dengan pelayanan primer biasanya
menggunakan puskesmas sebagai lahan praktik.
Praktik klinik diharapkan bukan hanya sekedar kesempatan untuk
menerapkan teori yang dipelajari di kelas ke dalam praktik profesional.
Melalui praktik klinik mahasiswa diharapkan lebih aktif dalam setiap tindakan
sehingga akan menjadi orang yang cekatan dalam menggunakan teori
tindakan. Lebih jauh lagi, praktik keperawatan profesional di bidang
pelayanan

keperawatan

pengambilan

keputusan

mencakup
klinis

banyak

yang

hal

termasuk

mengintegrasikan

diantaranya

teori,

hukum,

pengetahuan, prinsip dan pemakaian keterampilan khusus. Tidak kalah


pentingnya adalah bagaimana perawat menerima klien sebagai makhluk hidup
yang utuh, unik dan mandiri dengan hak-haknya yang tidak dapat dipisahkan.
Selama praktik klinis, mahasiswa dapat bereksperimen dengan menggunakan
konsep dan teori untuk praktik, menyelesaikan masalah, dan mengembangkan
bentuk perawatan baru (Satria, 2010).
Adanya rasa takut berbuat salah hanya akan membatasi perkembangan
dan keinginan mahasiswa untuk bereksperimen dengan perawatan. Kondisi ini
akhirnya jelas berdampak pada minimnya pengalaman klinik mahasiswa
selama di lahan praktik. Pengajar atau pembimbing klinik adakalanya merasa
takut seandainya mahasiswa berbuat kesalahan, sehingga sering menuntut hal
yang tidak realistik pada mahasiswa. Hal ini berdampak kepada kompetensi-

10

kompetensi tertentu yang mungkin tidak tercapai selama proses pembelajaran


(Satria, 2010).

3. PERENCANAAN PEMBELAJARAN KLINIK


Menurut William H Newman dalam bukunya Administrative Action
Techniques of Organization and Management dalam Majid (2005 dalam
Satria, 2010) menyatakan bahwa perencanaan adalah menentukan apa yang
akan dilakukan. Dalam konteks pembelajaran, perencanaan juga dapat
dikatakan sebagai proses penyusunan materi, penggunaan media, penggunaan
pendekatan dan metode pengajaran. Sebelum membuat rancangan, sebaiknya
dilakukan pengkajian terlebih dahulu. Melalui pengkajian akan didapatkan
status kemampuan awal peserta didik sehingga akan membantu menetapkan
tujuan pembelajaran. Tidak semua mahasiswa harus mendapatkan proses
pembelajaran yang sama walaupun tujuan akhir dari pembelajarannya sama.
Sedangkan untuk makna pembelajaran, banyak ahli pendidikan yang
menyatakan bahwa pengajaran merupakan terjemahan dari instruction atau
teaching. Sedikit berbeda dengan Correy dalam bukunya Association for
Education Communication and Technology dalam Satria (2010) mengatakan
bahwa instruction merupakan bagian dari pendidikan yang merupakan suatu
proses dimana lingkungan seseorang dengan sengaja dikelola agar
memungkinkan orang tersebut dapat belajar melakukan hal tertentu atau
memberikan respon terhadap situasi tertentu pula. Berasumsi pada pendapat
Correy, maka untuk dapat melaksanakan pembelajaran, seorang dosen atau
pengajar di lahan praktik yang sering disebut instruktur klinik berperan

11

sebagai perancang dan pengembang model pembelajaran sekaligus sebagai


pengelola atau pelaksana. Oleh karena itu untuk melaksanakan tugas ini,
instruktur klinik perlu memiliki pengetahuan, sikap, keterampilan khusus dan
hal-hal atau materi yang akan disampaikan. Selain itu instruktur klinik pun
sebaiknya memahami tentang konsep perencanaan pembelajaran (Satria,
2010).
Menurut Hunt dalam Satria (2010) ada beberapa model persiapan
mengajar diantaranya model ROPES dan satuan pelajaran. Model ROPES
merupakan sebuah urutan tahap dari Review, Overview, Presentation, Exercise
dan Sumarry. Model ini cocok diadopsi untuk pembelajaran klinik karena
dimulai dari review atau pengulangan tentang kegiatan yang akan dilakukan.
Tahap kedua overview yaitu menjelaskan tindakan yang akan dilakukan.
Kemudian tahap presentation dengan kegiatan mendemontrasikan tindakan
yang akan dilakukan. Keempat adalah exercise atau latihan, pada tahap ini
mahasiswa melakukan tindakan keperawatan di bawah supervisi instruktur
klinik. Model terakhir yaitu summary atau membuat rangkuman dari
pembelajaran yang telah berlangsung. Kekurangan dari model ini adalah tidak
mencantumkan aspek evaluasi. Padahal melalui evaluasi instruktur klinik
dapat mengetahui kemampuan mahasiswanya. Akan tetapi tahap summary bisa
dimodifikasi menjadi tahap evaluasi.
Model satuan pelajaran (satpel) adalah model yang sering dipilih oleh
kebanyakan pendidik karena polanya yang baku. Tahapannya tiga bagian yaitu
kegiatan awal berupa pendahuluan dan apersepsi yang bertujuan untuk
mengetahui kemampuan awal mahasiswa. Tahap kedua merupakan kegiatan

12

inti yaitu penyampaian materi dan pemberian bimbingan terhadap mahasiswa.


Dan tahap terakhir merupakan kegiatan penutup yang biasanya ditandai
dengan cara membuat rangkuman atau melaksanakan evaluasi untuk materi
yang telah dipelajari.

4. TUJUAN PENDIDIKAN PROFESI


Tujuan pendidikan profesi adalah agar peserta didik mempunyai
pengetahuan, keterampilan, dan sikap keperawatan profesional yang mampu :
a.

Melaksanakan profesi keperawatan secara akuntabel dalam suatu sistem


pelayanan kesehatan sesuai kebijaksanaan umum pemerintah yang
berlandaskan

pancasila,

khususnya

pelayanan

dan

atau

asuhan

keperawatan dasar sampai dengan tingkat kerumitan tertentu secara


mandiri kepada individu, keluarga, dan komunitas berdasarkan kaidahkaidah keperawatan.
b.

Mengelola pelayanan keperawatan profesional tingkat rendah secara


bertanggung jawab dan menunjukkan sikap kepemimpinan.

c.

Mengelola kegiatan penelitian keperawatan dasar dan terapan yang


sederhana dan menggunakan hasil penelitian serta perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan mutu dan jangkauan
pelayanan/asuhan keperawatan.

d.

Berperan serta secara aktif dalam mendidik dan melatih calon perawat dan
tenaga keperawatan, serta turut berperan dalan berbagai program
pendidikan tenaga kesehatan lain.

13

e.

Mengembangkan diri secara terus menerus untuk meningkatkan


kemampuan profesional.

f.

Memelihara dan mengembangkan kepribadian serta sikap yang sesuai


dengan etika keperawatan dalam melaksanakan profesinya.

g.

Berfungsi sebagai anggota masyarakat yang kreatif, produktif, terbuka


untuk menerima perubahan, serta berorientasi ke masa depan.

5. KURIKULUM PENDIDIKAN PROFESI


Kurikulum disusun dan dikembangkan dengan landasan yang kuat dan
dapat memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa kurikulum tersebut
merupakan alat yang tepat untuk mencapai tujuan pendidikan. Dimana proses
pendidikan yang diselenggarakan akan dapat menghasilkan lulusan yang
mampu mengatasi kesehatan masyarakat pada masa kini dan masa yang akan
datang. ( Nursalam , 2002 ).
Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik disesuaikan dengan
urutan pencapaian pada setiap jenjang / tahap. Pada tahap pertama peserta
didik harus menguasai tentang kebutuhan dasar manusia. Tahap kedua
mahasiswa harus menguasai tentang asuhan keperawatan pada klien dengan
berbagai masalah , yaitu keperawatan anak, maternitas, medical bedah,
kesehatan jiwa. Sedangkan pada tahap akhir mahasiswa harus menguasai
keperawatan kritis, komunitas dan keluarga dan manajemen keperawatan.

14

POKOK BAHASAN 2:
KONSEP PEMBIMBING KLINIK/ CI

1. PENGERTIAN PEMBIMBING KLINIK/ CI


Hidayat (2007), menyatakan pembimbing klinik keperawatan adalah
pembimbing atau guru perawat (nurse teacher). Kegiatan pembelajaran klinik
merupakan suatu bentuk kegiatan belajar mengajar dalam konteks pelayanan
nyata. Maksudnya mahasiswa belajar memberikan pelayanan kepada pasien
yang membutuhkan pelayanan kesehatan tersebut. Mahasiswa belajar bekerja
sesuai

dengan standar pelayanan profesi keperawatan. Selama proses

pembelajaran klinik keperawatan terjadi proses interaksi antara pembimbing


klinik, mahasiswa, dan pasien. Ketiga komponen ini akan berpengaruh
terhadap pencapaian tujuan

pembelajaran praktek klinik keperawatan.

Pembimbing klinik merupakan tenaga perawat yang ditunjuk atau diangkat


oleh instansi yang digunakan sebagai lahan praktek.
Pembimbing klinik adalah seorang yang diangkat dan diberikan tugas
oleh institusi pelayanan atau pendidikan kesehatan untuk memberikan
bimbingan kepada mahasiswa yang sedang mengikuti kegiatan pembelajaran
praktek klinik di rumah sakit (Akbar, 2006). Hal ini sesuai dengan pendapat.
Membimbing adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus-menerus dan
sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian
diri dalam pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan perwujudan

15

diri dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri
dengan lingkungan (Asyahadi, 2004).
2. TUGAS PEMBIMBING KLINIK / CI
Pusdiknakes (2004) dalam Martono (2009), menetapkan tugas yang
dapat dikerjakan pembimbing klinik dalam rangka kegiatan pembelajaran
praktek klinik yaitu :
a.

Merumuskan tujuan pembelajaran praktek klinik

b. Menentukan indikator pencapaian target kompetensi praktek


c.

Mengidentifikasi tempat praktek klinik

d. Mengidentifikasi dan menentukan peralatan atau sumber yang diperlukan


selama pembelajaran praktek klinik
e.

Memfasilitasi mahasiswa memperoleh target kompetensi dan alat-alat


yang digunakan.

f.

Memecahkan masalah belajar praktek

g. Membangkitkan dan mendorong semangat mahasiswa selama mengikuti


pembelajaran praktek klinik dan menghargai kerja mahasiswa
h. Memberikan contoh pelayanan keperawatan terhadap pasien secara nyata
kepada mahasiswa
i.

Melakukan penilaian kepada mahasiswa yang mengikuti pembelajaran


praktek klinik

j.

Membuat laporan pembelajaran praktek klinik.

3. PERAN PEMBIMBING KLINIK / CI


Peran pembimbing klinik yaitu sebagai narasumber, perencana,
fasilitator, motivator, role model, demonstrator, evaluator dan change agent.

16

Peran dalam bidang dunia keperawatan merupakan cara untuk menyatakan


dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan dan institusi pendidikan, penelitian
dan dapat mengembangkan asuhan keperawatan dalam membina kerjasama
dari tenaga kesehatan lainnya serta dapat memenuhi kebutuhan pasien dalam
melakukan tindakan. Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan dari
seseorang dalam kaitannya dengan statusnya dalam masyarakat(Asmadi,2008).
Secara umum Peran dan fungsi Pembimbing klinik menurut Asmadi (2008),
yaitu :
a.

Sebagai educator (guru/pendidik)


Sebagai pendidik, perawat berperan dalam mendidik Memberi pendidikan
dan pemahaman kepada mahasiswa dalam bentuk desiminasi ilmu kepada
peserta didik keperawatan. Biasanya dalam ruang perawat dikenal dengan
pembimbing klinik yang berperan dalam memberikan pendidikan kepada
para mahasiswa keperawatan yang

sedang menjalankan praktek

keperawatannya di RS / Puskesmas.
b.

Sebagai care giver (pemberi asuhan keperawatan)


Sebagai pelaku/pemberi asuhan keperawatan, perawat dapat memberikan
pelayanan keperawatan secara langsung dan tidak langsung kepada klien,
menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi: melakukan
pengkajian dalam upaya mengumpulkan data dan informasi yang benar,
menegakkan diagnosa

keperawatan berdasarkan hasil analisis data,

merencanakan intervensi keperawatan sebagai upaya mengatasi masalah


yang muncul dan membuat langkah/cara

pemecahan masalah,

melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang ada dan

17

melakukan evaluasi berdasarkan respon klien terhadap tindakan


keperawatan yang telah dilakukan.
c.

Sebagai Role Model


Perawat sebagai pembimbing klinik harus dapat memberikan contoh yang
baik dalam bidang kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat tentang bagaimana tata cara hidup sehat yang dapat ditiru dan
di contoh oleh masyarakat.Selain itu perawat juga dapat memberikan
contoh yang baik kepada peserta didik atau mahasiswa tentang bagaimana
cara bertingkah laku maupun dalam memberikan asuhan keperawatan
yang sesuai dengan standar.

Menurut Soeratri(2013), peran seorang pembimbing klinik keperawatan


sebagai educator dalam praktek klinik keperawatan dibagi menjadi 4 yaitu:
a.

Sumber informasi
Sebagai sumber informasi seorang pembimbing klinik keperawatan harus
memiliki pengetahuan/keterampilan/pengalaman lebih banyak dalam hal
praktek klinik keperawatan dibandingkan mahasiswa. Selain itu
pembimbing klinik keperawatan juga dapat dijadikan sumber informasi
yang dapat dihandalkan yang diperkaya dengan modul-modul seperti SAK
sebagai acuan membimbing mahasiswa.

b.

Sebagai motivator
Sebagai pembimbing klinik keperawatan sebaiknya dapat menjadi
motivator bagi mahasiswanya dengan menggunakan pendeketan ARDS
yaitu attention (memberikan perhatian kepada mahasiswa), relevance

18

(memiliki keterkaitan antara ilmu dengan motivasi), convidence (memiliki


rasa percaya diri), satisfaction (ilmu yang diberikan kepada mahasiswa
dapat menimbulkan rasa puas bagi seorang clinical instructor).
c.

Sebagai Fasilitator
Sebagai seorang pembimbing klinik keperawatan diharapkan tidak hanya
mengajar mahasiswa tetapi mampu memfasilitasi mahasiswa untuk
mencapai target kompetensi yang ditetapkan.

d.

Sebagai Evaluator
Pembimbing klinik keperawatan diharapkan mampu mengevaluasi apakah
yang dicapai mahasiswa telah sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan.
Pembimbing klinik keperawatan juga harus mampu merencanakan,
melaksanakan,

dan

mengevaluasi

hasil

belajar

mahasiswa

dan

mengevaluasi proses belajar mengajar.

4. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERAN PK / CI


Peran dipengaruhi oleh berbagai faktor dibawah ini yang terkait
dengan pengetahuan yang harus dimiliki sebagai sumber peran. Faktor
tersebut terdiri dari faktor internal dan eksternal, yaitu:
a.

Faktor Internal
1) Pendidikan.
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang pada orang
lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat
dipungkiri bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah
orang memperoleh informasi pula mereka menerima informasi, dan

19

pada akhimya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya.


Sebaliknya jika seseorang tingkat pendidikannya rendah, akan
menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan
informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan.
2) Pekerjaan
Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh
pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara
tidak langsung.
3) Umur
Umur dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan
pada aspek fisik dan psikologis (mental). Pertumbuhan pada fisik
secara garis besar ada empat kategori perubahan yaitu perubahan
ukuran, perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri lama, dan timbulnya
ciri-ciri baru. Ini terjadi akibat pematangan fungsi organ. Pada aspek
psikologis atau mental taraf berpikir seseorang semakin matang dan
dewasa.
4) Minat
Minat sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi
terhadap sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan
menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang
lebih mendalam.
5) Pengalaman
Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang
dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungan

20

pengalaman yang kurang baik seseorang akan berusaha untuk


melupakan,

namun jika pengalaman

terhadap obyek tersebut

menyenangkan maka secara psikologis timbul kesan yang sangat


mendalam dan membekas dalam emosi kejiwaannya, dan akhirnya
dapat pula membentuk sikap positif dalam kehidupannya.
b.

Faktor Eksternal
1) Kebudayaan
Lingkungan sekitar, kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan
mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukkan sikap kita. Apabila
dalam suatu wilayah mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan
lingkungan maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai
sikap untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, karena lingkungan
sangat berpengaruh dalam pembentukkan sikap pribadi atau sikap
seseorang.
2) Informasi
Kemudahan memperoleh informasi dapat membantu mempercepat
seseorang memperoleh pengetahuan yang baru (Hannie, 2007).

5. SASARAN BIMBINGAN
Proses bimbingan diharapkan mempunyai sasaran yang maksimal dalam
membantu individu. Sasaran tersebut :
b.

Pengungkapan, pengenalan dan penerimaan diri

21

Melalui proses bimbingan diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk


mengenali dirinya baik dari segi kemampuan maupun keterbatasan.
c.

Pengenalan terhadap lingkungan


Lingkungan dari proses bimbingan seharusnya merupakan lingkungan
dengan iklim yang kondusif sehingga akan memudahkan mahasiswa
dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada disekitarnya.

d.

Pengambilan keputusan
Proses bimbingan pada intinya membantu mahasiswa menentukan pilihan
dan agar mahasiswa bertanggung jawab terhadap konsekuensi yang
dipilihnya.

e.

Pengarahan diri
Individu atau mahasiswa yang dibimbing akan berani melaksanakan
keputusan yang ditetapkannya, dan berusaha mengarahkan dirinya pada
kegiatan yang menguntungkan.

f.

Perwujudan diri
Perwujudan diri merupakan kemampuan merealisasikan diri (mewujudkan
diri) yang merupakan tujuan akhir dari usaha bimbingan, individu mampu
mengembangkan kemampuannya sesuai dengan minat dan bakatnya
(Hidayat, 2002).

6. PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN
Upaya untuk mendapatkan bimbingan di lapangan yang lebih optimal waktu di
dalam pelaksanaan bimbingan praktek lapangan hendaknya memperhatikan
hal-hal (Hidayat, 2000) :

22

a.

Memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menerapkan ilmu


pengetahuan dan ketrampilan yang telah dipelajari di kelas dari berbagai
disiplin ilmu secara terintegrasi dalam situasi nyata.

b.

Mengembangkan potensi peserta didik untuk mengumpulkan perilaku


atau ketrampilan yang bermutu dalam situasi nyata di tempat pelayanan
kesehatan.

c.

Memberi kesempatan pengalaman belajar kepada peserta didik bekerja


secara tim kesehatan dan membantu proses penyembuhan pasien.

d.

Memberikan pengalaman awal dan memperkenalkan kepada peserta didik


dunia kerja professional.

e.

Membantu mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik yang


ditemukan.

7. KOMPETENSI PEMBIMBING KLINIK


Upaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang suportif diperlukan
pembimbing klinik yang mempunyai pengetahuan yang kokoh, mempunyai
kemampuan klinik, trampil sebagai pengajar dan mempunyai komitmen
sebagai pembimbing klinik (Oermann, 1985). Pembimbing harus mempunyai
latar belakang pendidikan keperawatan yang lebih tinggi dari pendidikan
mahasiswa bila ia sudah lulus, mempunyai kemampuan profesional dalam area
klinik tertentu sehingga dapat memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan
berdasarkan prinsip saintifik. Hal ini sangat esensial karena role model yang
diciptakan oleh pengajar klinik akan dengan mudah dipelajari oleh mahasiswa.
Disamping secara terusmenerus memperbarui pengetahuan dan ketrampilan
mengikuti

perkembangan

ilmu

dan

teknologi

khusus

keperawatan

23

(Oermann,1985). Pembimbing menganjurkan mahasiswa untuk belajar


mandiri dan bertanggung jawab atas kebutuhan belajarnya. Dengan
kemandirian ini mahasiswa belajar untuk mengembangkan tanggung jawab
dan kreatifitas. Pengajaran klinik juga diciptakan agar mahasiswa tidak takut
untuk membuat kesalahan tetapi menggunakan setiap kesempatan sebagai
proses belajar. Untuk ini pembimbing klinik bertanggung jawab dalam
menentukan proses belajar yang digunakan sebagai pengajaran sehingga dalam
memberikan

asuhan

keperawatan

dapat

dihindari

kesalahan

yang

membahayakan pasien. Pembimbing klinik diharapkan memenuhi kriteriakriteria sebagai berikut (Hidebrand, 1971):
a. Profesional dalam ketrampilan yang diajarkan
b. Mendorong mahasiswa untuk mempelajari ketrampilan baru
c. Meningkatkan komunikasi yang terbuka (2 arah)
d. Memberikan umpan balik segera
e. Mengatur stress para mahasiswa
f. Memusatkan pada keberhasilan mahasiswa bukan pada kegagalan
g. Sabar dan mendukung
h. Memberi penghargaan dan dukungan positif
i. Memperbaiki kesalahan mahasiswa tapi tetap mempertahankan rasa
harga diri
j. Mendengar aktif
k. Humor yang tepat
l. Memberi kesempatan untuk istirahat
m. Mengamati respon peserta didik

24

n. Memberi pujian
Karakteristik

dari

seorang

pembimbing

klinik

yang

efektif

dapat

dikelompokkan dalam empat kategori, yaitu :


a. Pengetahuan dan kompetensi klinik
Pengetahuan dan kompetensi klinik disini meliputi pengetahuan akan ilmu
keperawatan yang dimiliki pengajar harus luas dan memahaminya secara
mendalam. Disamping ilmu keperawatan yang diberikan kepada peserta
didik, pengajar juga harus memiliki pengetahuan akan materi-materi yang
berhubungan dengan hal itu. Kemampuan untuk menganalisa teori dan
mengumpulkannya

dari

berbagai

sumber,

menitik

beratkan

pada

pemahaman, kemauan untuk mendiskusikan dengan peserta didik mengenai


pandangan atau pendapat yang berkaitan dengan bimbingan. Pengajar
klinik yang efektif juga berperan sebagai perawat pelaksana (clinician).
Mempertahankan kompetensi klinik sangat penting, diantaranya untuk
dapat mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan peserta didik.
b. Hubungan interpersonal dengan peserta didik
Kemampuan dalam berinteraksi dengan para peserta didik dan tenaga
kesehatan lain juga merupakan perilaku dari pengajar yang efektif.
Disamping itu adalah kemampuan untuk menyatukan kelompok-kelompok
dari peserta didik ke dalam kesatuan dan membangun respek serta
mengadakan hubungan yang baik antara pengajar dengan peserta didik.
c. Kemampuan membimbing
Kemampuan dalam membimbing termasuk diantaranya kemampuan
kebutuhan proses bimbingan bagi peserta didik, merencanakan bahan

25

pembimbingan (plan instruction) dalam tiap-tiap bagian atau pokok


bahasan dan tujuan yang harus dicapai, mensupervisi peserta didik dan
mengevaluasi proses bimbingan. Seorang pengajar yang efektif juga
memberikan informasi yang terstruktur, memberikan penjelasan yang
lengkap dan langsung kepada peserta didik, menjawab pertanyaan secara
jelas, mendemonstrasikan prosedur dan beberapa proses perawatan lainnya
dengan efektif. Pembimbing klinik juga harus mampu mengkomunikasikan
atau mentransfer pengetahuan ke peserta didik.
d. Karakteristik pribadi
Karakteristik pribadi dapat mengasosiasikan antara dinamisasi dari program
studi dengan semangat untuk pengajaran di area klinik. Pengamatan yang
tajam atau kepandaian dalam memutuskan dan semangat tersebut bisa
didapat jika merasa nyaman bekerja dengan para peserta didik dan memiliki
kepercayaan diri terhadap kemampuan mengajarnya dan ketrampilan
kliniknya.

Penelitian

lain

menyatakan

karakteristik

lainnya

yaitu

bersahabat, dapat memahami, mendukung, dan bersemangat tinggi .


Kejujuran, kemampuan untuk mengakui kesalahan dan keterbatasan serta
kekurangan dalam pengetahuan.

MODUL 2
MATERI INTI

A. DESKRIPSI SINGKAT

26

Sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan dan pendidikan masyarakat,


tuntutan masyarakat akan peningkatan kesehatan yang berkualitas juga akan
semakin meningkat. Tuntutan akan kebutuhan pelayanan asuhan dimasa yang
akan datang merupakan tantangan yang harus di persiapkan secara benar dan
ditangani dengan sungguh-sungguh oleh institusi pendidikan kesehatan (Hasan,
1997).
Tuntutan akan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kesehatan
yang berkualitas mengakibatkan institusi pendidikan yang mencetak tenaga
kesehatan dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan sumber daya
kesehatan yang mampu melaksanakan tugas tenaga kesehatan yang berkualitas
dan sesuai standar pelayanan kesehatan. Profesionalisme tenaga kesehatan dapat
dimulai saat pembelajaran di institusi pendidikan kesehatan.
Menurut Corkhill (1998) dikutip dari Syahreni dan Waluyanti (2007)
tujuan pembelajaran klinik adalah mengintegrasikan teori dengan praktik. Hal
senada yang di ungkapkan oleh Munthe (2009) pembelajaran klinik tidak hanya
memberikan kesempatan untuk menerapkan teori-teori yang telah diperoleh
dikelas sebelumnya. Selain itu, menurut Oermann (2007) pembelajaran klinik
juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan
keterampilan berfikir kritis. Pembelajaran klinik harus ditata sedemikian rupa
sehingga mahasiswa mempunyai kemampuan untuk berhubungan dengan
masalah nyata tersebut (Syahreni & Waluyanti, 2007).
Praktik klinik diharapkan bukan hanya sekedar kesempatan untuk
menerapkan teori yang dipelajari di saat proses belajar mengajar di institusi
kesehatan ke dalam praktik profesional. Melalui praktik klinik mahasiswa
diharapkan lebih aktif dan siap dalam setiap tindakan sehingga akan menjadi
orang yang cekatan dalam menggunakan teori tindakan. Sehingga baik secara

27

teori yang didapat pada saat pendidikan dapat sejalan dengan praktik yang
dilakukan secara nyata dan langsung di lahan pelayanan kesehatan.
Pada pembelajaran klinik, mahasiswa dituntut untuk

mampu

pengambilan keputusan klinis yang mengintegrasikan teori, hukum, pengetahuan,


prinsip dan pemakaian keterampilan khusus. Tidak kalah pentingnya adalah
bagaimana tenaga kesehatan menerima klien sebagai makhluk hidup yang utuh,
unik dan mandiri dengan hak-haknya yang tidak dapat dipisahkan. Selama
praktik klinis, mahasiswa dapat bereksperimen dengan menggunakan konsep dan
teori untuk praktik, menyelesaikan masalah, dan mengembangkan bentuk
perawatan baru (Reilly, 2002).
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen
pengelolaan pembelajaran klinik mempunyai peranan yang besar dalam
menghasilkan lulusan mahasiswa kesehatan yang profesional. Selain itu peranan
clinical instruktur dalam proses pembelajaran klinik juga memiliki peran penting
untuk menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang profesional dan ahli dalam
bidangnya.
Berdasarkan hal tersebut, maka sangat diperlukan sarana/lahan praktek
pembelajaran klinik. Diharapkan dengan penerapan ilmu pembelajaran kebidanan
secara nyata di rumah sakit, mahasiswa mampu mengembangkan kemampuan
baik knowledge, skill maupun attitude dalam memberikan bimbingan.
Dalam proses pembelajaran klinik dibutuhkan komunikasi efektif dan
metode yang digunakan harus tepat sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

B.

TUJUAN
Tujuan Umum
Setelah mengikuti materi ini peserta pelatihan mampu memahami tentang

1.

2.

komunikasi efektif dan metode pembelajaran klinik.


Tujuan Khusus

28

Setelah mempelajari materi ini, diharapkan peserta pelatihan dapat:


1) Menjelaskan Pengertian Komunikasi Efektif
2) Menjelaskan Hambatan/ Kendala dalam Komunikasi
3) Menjelaskan Jenis Komunikasi
4) Menyebutkan Prinsip Komunikasi
5) Menjelaskan Tehnik Komunikasi
6) Menjelaskan Komunikasi Efektif dalam Bimbingan Klinik
7) Menjelaskan Pengertian Metode Pembelajaran Klinik
8) Menjelaskan Kriteria Pemilihan Metode
9) Menjelaskan Pengertian Bedside Teaching
10) Menjelaskan Tujuan Bedside Teaching
11) Menjelaskan Prinsip Dasar Bedside Teaching
12) Menjelaskan Keuntungan dan Kerugian Bedside Teaching
13) Menjelaskan Pelaksanaan Bedside Teaching
14) Menjelaskan pelaksanaan Direct Obsevational Prosedur ( DOPS)
15) Menjelaskan Ronde Keperawatan
16) Menyebutkan Karakteristik Ronde Keperawatan
17) Menyebutkan Kelemahan Ronde Keperawatan
18) Menjelaskan Tujuan Ronde Keperawatan
19) Menyebutkan Peran Peserta Didik dan Peran Pembimbing
20) Menyebutkan Hambatan
21) Menjelaskan Pengertian Pre conference
22) Menjelaskan Tujuan Pre conference
23) Menjelaskan Pengorganisasian Pre conference
24) Menjelaskan Post conference
25) Menjelaskan Tujuan Post conference
26) Menyebutkan Cara Pelaksanaan Post conference
C.

POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN


1. Pengertian Komunikasi Efektif
2. Hambatan/ Kendala dalam Komunikasi
3. Jenis Komunikasi
4. Prinsip Komunikasi
5. Tehnik Komunikasi
6. Komunikasi Efektif dalam Bimbingan Klinik
7. Pengertian Metode Pembelajaran Klinik
8. Kriteria Pemilihan Metode
9. Pengertian Bedside Teaching
10. Tujuan Bedside Teaching
11. Prinsip Dasar Bedside Teaching
12. Keuntungan dan Kerugian Bedside Teaching
13. Pelaksanaan Bedside Teaching
14. Pengertian Ronde Keperawatan
15. Karakteristik Ronde Keperawatan
16. Kelemahan Ronde Keperawatan
17. Tujuan Ronde Keperawatan
18. Peran Peserta Didik dan Peran Pembimbing
19. Hambatan Ronde Keperawatan

29

20.
21.
22.
23.
24.
25.

Pengertian Pre conference


Tujuan Pre conference
Pengorganisasian Pre conference
Post conference
Tujuan Post conference
Cara Pelaksanaan Post conference

D.

METODE
1. Ceramah, tanya jawab (CTJ)
2. Diskusi/Group Diskusi
3. Tutorial

E.

ALAT BANTU DAN MEDIA


1. Layar monitor
2. LCD
3. Laptop
4. Mikrofon/pengeras suara

F.

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Sesi 1: Penjelasan tentang pengertian komunikasi efektif, hambatan/
kendala, jenis komunikasi, prinsip komunikasi, tehnik komunikasi, dan
komunikasi efektif dalam bimbingan.
Langkah-langkahnya:
1. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah. Apabila belum berkenalan
mulai dengan perkenalan. Sampaikan tujuan pembelajaran, sebaiknya
2.

dengan menggunakan bahan tayang.


Fasilitator menggali pendapat/ pemahaman peserta terkait dengan
pengertian komunikasi efektif, hambatan/ kendala, jenis komunikasi,
prinsip komunikasi, tehnik komunikasi, dan komunikasi efektif dalam

3.

bimbingan.
Tuliskan kata kunci pendapat mereka pada kertas flipchart atau

4.

metaplan.
Fasilitator menyampaikan paparan tentang pengertian komunikasi
efektif, hambatan/ kendala, jenis komunikasi, prinsip komunikasi,

5.

tehnik komunikasi, dan komunikasi efektif dalam bimbingan.


Berikan kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan
pendapatnya dan melakukan tanyajawab

30

6.

Kaitkan pemaparan dengan pendapat/ pemahaman yang dikemukakan


oleh peserta agar mereka merasa dihargai

Sesi 2: Penjelasan tentang pengertian, kriteria pemilihan metode, dan


metode bimbingan ( bedside teaching, direct observational procedure skill
, ronde keperawatan, dan conference)
Langkah-langkahnya :
1.

Fasilitator menyapa peserta dengan ramah. Apabila belum berkenalan


mulai dengan perkenalan. Sampaikan tujuan pembelajaran, sebaiknya

2.

dengan menggunakan bahan tayang.


Fasilitator menggali pendapat/ pemahaman peserta pelatihan terkait
dengan pengertian, kriteria pemilihan metode, dan metode bimbingan

3.

(bedside teaching, ronde keperawatan, dan conference).


Tuliskan kata kunci pendapat mereka pada kertas flipchart atau

4.

metaplan.
Fasilitator menyampaikan paparan tentang pengertian, kriteria
pemilihan metode, dan metode bimbingan (bedside teaching, ronde

5.

keperawatan, dan conference).


Berikan kesempatan kepada

6.

pendapatnya dan melakukan tanyajawab


Kaitkan pemaparan dengan pendapat/ pemahaman yang dikemukakan

peserta

untuk

mengemukakan

oleh peserta agar mereka merasa dihargai


G.

BAHAN PEMBELAJARAN

POKOK BAHASAN 1:
KONSEP KOMUNIKASI EFEKTIF DALAM
BIMBINGAN KLINIK

31

1.

PENGERTIAN KOMUNIKASI EFEKTIF


Komunikasi : adalah proses penyampaian imformasi dari suatu
sumber imformasi ke suatu tujuan. ( Redfield, 1958 ).
Proses yang mencakup pemindahan ide-ide dan penyalinan ide
secara cermat untuk menimbulkan tindakan

yang menuju arah

tercapainya tujuan bersama secara efektif. ( Scott, 1962 )


2.

3.

HAMBATAN/ KENDALA DALAM KOMUNIKASI


Perbedaan pengalaman-pengalaman, kultur, sosial dan pendidikan
a.

Kwalitas hubungan ( percaya / tidak percaya )

b.

Emosi - ketakutan / terancam

c.

Perbedaan nilai/standart

d.

Faktor situasi - ribut/berisik

e.

Perbedaan status

f.

Cacat fisik

g.

Lain-lain mis : struktur organisasi

JENIS KOMUNIKASI
a. Komunikasi tehnilogi : komunikasi yang menggunakan sarana yang
dikembangkan oleh tehnologi.
b. Komunikasi Mass Media : Komunikasi yang sifatnya cenderung satu
arah, tetap memberikan pesan.
c. Komunikasi Verbal
d. Komunikasi Non verbal.

4.

PRINSIP KOMUNIKASI
a. Prinsip Relevansi : pesan yang relevan dengan tujuan/keinginan
pendengar

32

b.
c.
d.
e.
f.

Prinsip simplicity : menurunkan isea-idea secara sederhana


Prinsip Definition : di definisikan
Prinsip struktural : menyusun pesan teratur agar mudah dimengerti
Prinsip Repitition : pengulangan dalam pesan
Prinsip Comparison dan Contrast : menjalin hubungan baru, ide baru

yang dari tidak dikenal menjadi dikenal


g. Prinsip Emphasisi : memfokos pada hal-hal yang vital/esensial

Petunjuk untuk listening


a. Berhenti bicara
b. Permissiue environvement
c. Tunjukan bahwa anda ingin mendengar
d. Hindari gangguan-gangguan/tenang
e. Empati
f. Penuh perhatian cukup waktu, jangan memotong
g. Jaga emosi
h. Jangan banyak argumentasi
i. Pertanyaan
5.

TEHNIK KOMUNIKASI
a. Data Komunikasi :
1) Benar : yang dapat memberikan pengertian yang baik, memenuhi
syarat, jujur, apa adanya dan adil
2) Waktu : up to date, data yang masih hangat
3) Tempat : relevansi dengan bidang pekerjaan
b. Penyampaian Imformasi :

33

1) Kejelasan ( Clarify ) : kalimat terang dan tidak berbelit-belit, singkat


jelas dan kata-katanya tepat
2) Consistency : Penyampaian tidak bertentangan dan berkesatuan
bulat, isi sesuai dengan tujuan
3) Adequacy : cukup sesuai dengan kebutuhan

Peningkatan Komunikasi
a. Coba untuk klarifikasi ide-ide sebelum berkomunikasi
b. Tujuan komunikasi harus jelas
c. Perhatiakan keadaan fisik dan mental
d. Konsultasi dengan orang yang tepat
e. Penuh perhatian dan terarah pada saat berkomunikasi
f. Ambil kesempatan yang baik dan tepat
g. Menilai hasil komunikasi
h. Komunikasi sekarang - besok dan seterusnya
i. Memberikan support
j. Dapat menjadi pendengar yang baik
6.

KOMUNIKASI EFEKTIF DALAM BIMBINGAN

Sebagai PK / CI harus melaksanakan komunikasi dengan baikterhadap peserta


didik, demikian juga sebaliknya. Beberapa tahap dalam komunikasi sebagai
seorang manajer
1. Harus mampu menguasai struktur yangada
2. Komunikasi tidak hanya sebagai perantara tetapi harus mampu
dijadikan bagian dari proses dalam mengambil kebijaksanaan.

34

3. Komunikasi harus jelas, sederhana, dan tepat. Nursalam ( 2001)


menekankan bahwa prinsip komunikasi adalah CARE ; complete,
accurate, rapid dan English . artinya : harus lengkap, adekuat,
cepat. Baik lisan maupun tulisan.
4. Harus ada umpan balik
5. Menjadi pendengar yang baik

POKOK BAHASAN 2:
METODE PEMBELAJARAN KLINIK

1.

PENGERTIAN
Model dalam bimbingan klinik yang dikembangkan oleh pembimbing

klinik, bertujuan memenuhi kebutuhannya serta pendekatan pada proses


bimbingan dan praktek. Model ini meliputi :
a.

Sistem simulasi ketrampilan pembelajaran klinik (Skills Learning Clinical


Simulation System)
Merupakan model yang bertujuan untuk mengurangi rasa takut atau stress
bagi peserta didik yang baru praktek di layanan klinik dengan
menggunakan sistem partner.

b.

Simulasi klinik

35

Model simulasi dengan tujuan pendekatan praktek nyata dengan cara


analisa kasus dan permasalahannya.
c.

Kolaborasi ketrampilan klinik (Clinical Skills Collaborative Workshop)


Model ini dilakukan dengan workshop secara regular yang dilakukan sesuai
dengan kebutuhan peserta didik secara intensif dan waktu yang singkat dan
dapat dilaksanakan di tiap bagian klinik yang bersangkutan (Hidayat,
2000).

2.

KRITERIA PEMILIHAN METODE


Perencanaan pengalaman belajar praktek klinik mencakup keputusan
pemilihan metode yang akan digunakan yang dapat memungkinkan pencapaian
tujuan belajar. Proses pemilihan metode harus sesuai dengan tujuan belajar,
Entry Behavior dan karakteristik peserta didik, kualitas serta ketrampilan
pengajar, yang behubungan dengan rasio peserta didik, pengajar, karakteristik
lahan praktik serta kelemahan metode yang dipilih.
Kriteria dan pemilihan metode mengajar dan pengajaran klinik harus sesuai
dengan (Oermann, 1985):
a. Tujuan pengalaman praktek klinik.
b. Kemampuan, pengalaman, dan karakteristik peserta didik.
c. Kemampuan pembimbing, kerangka konsep proses pembalajaran.
d. Sumber-sumber dan keterbatasan lahan praktek.
e. Filosofi keperawatan.
f. Kompetensi yang ada.

3.

METODE BIMBINGAN

36

Metode bimbingan praktik klinik keperawatan yang sering digunakan


adalah sebagai berikut (Ngalim, 2002) :
b. Bedside Teaching
1) Pengertian
Bedside teaching adalah pembelajaran yang dilakukan langsung
di depan pasien. Dengan metode bedside teaching mahasiswa dapat
menerapkan

ilmu

pengetahuan,

melaksanakan

kemampuan

komunikasi, keterampilan klinik dan profesionalisme, menemukan seni


pengobatan, mempelajari bagaimana tingkah laku dan pendekatan
dokter kepada pasien.
Bedside teaching merupakan pembelajaran kontekstual dan
interaktif yang mendekatkan pembelajaran pada real clinical setting.
Bedside teaching merupakan metode pembelajaran yang peserta
didiknya mengaplikasikan kemampuan kognitif, psikomotor dan afektif
secara terintegrasi. Sementara itu, dosen bertindak sebagai fasilitator
dan mitra pembelajaran yang siap untuk memberikan bimbingan dan
umpan balik kepada peserta didik. Di dalam proses bedside teaching
diperlukan kearifan fasilitator tentang kemungkinan timbulnya hal-hal
yang tidak diinginkan sebagai akibat dari interaksi antara peserta didik
(mahasiswa kesehatan) dan pasien.
2) Tujuan
a)
b)
c)
d)

3)

Peserta didik mampu menguasai keterampilan prosedural.


Menumbuhkan sikap profesional.
Mempelajari perkembangan biologis/fisik.
Melakukan komunikasi dengan pengamatan langsung.
Prinsip dasar

37

a) Adanya kesiapan fisik maupun psikologis dari pembimbing klinik

peserta didik dan klien.


b) Jumlah peserta didik dibatasi idealnya 5-6 orang.
c) Diskusi di awal dan akhir demonstrasi di depan klien dilakukan

seminimal mungkin.
d) Lanjutkan dengan redemonstrasi.
e) Kaji permasalahan peserta didik sesegera mungkin terhadap apa

f)

yang dilakukan.
Kegiatan yang didemonstrasikan adalah sesuatu yang belum
pernah diperoleh peserta didik sebelumnya,atau apabila peserta
didik menghadapi kesulitan penerapannya.

4) Keuntungan
Dalam penelitian Williams K (Tufts Univ, Maret 2008) dihasilkan
kesimpulan bahwa bedside teaching sangat baik digunakan untuk
mempelajari keterampilan klinik.
Beberapa keuntungan bedside teaching antara lain :
a) Observasi langsung.
b) Menggunakan seluruh pikiran.
c) Klarifikasi dari anamnesa dan pemeriksaan fisik.
d) Kesempatan untuk membentuk keterampilan klinik mahasiswa.
e) Memperagakan fungsi :
(1)
Perawatan
(2)
Keterampilan interaktif
Bedside teaching tidak hanya dapat diterapkan di rumah sakit,
keterampilan bedside teaching juga dapat diterapkan di beberapa
situasi di mana ada pasien.
5) Kerugian
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Gangguan (misalnya ada panggilan telepon/HP berdering).


Waktu rawat inap yang singkat.
Ruangan yang kecil sehingga padat dan sesak.
Tidak ada papan tulis.
Tidak dapat mengacu pada buku.
Pelajar lelah.

38

6)

Pelaksanaan
Keterampilan bedside teaching dapat kita laksanakan namun sulit
mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu perlu perencanaan yang
matang agar berhasil dan efektif.
Persiapan sebelum pelaksanaan bedside teaching :
a) Persiapan
(1) Tentukan tujuan dari setiap sesi pembelajaran.
(2) Baca teori sebelum pelaksanaan.
b) Ingatkan mahasiswa akan tujuan pembelajaran :
(1) Mendemonstrasikan pemeriksaan klinik.
(2) Komunikasi dengan pasien.
(3) Tingkah laku yang profesional.
c) Persiapan Pasien
(1) Keadaan umum pasien baik.
(2) Jelaskan pada pasien apa yang akan dilakukan.
d) Lingkungan/Keadaan
Pastikan keadaan ruangan nyaman untuk belajar :
(1)
Tarik gorden.
(2)
Tutup pintu.
(3)
Mintalah pasien untuk mematikan televisinya.
Pelaksanaan bedside teaching antara lain :
a)

Membuat peraturan dasar

(1) Pastikan setiap orang tahu apa yang diharapkan dari mereka.
(2) Mencakup etika.
(3) Batasi interupsi jika mungkin.
(4) Batasi penggunaan istilah kedokteran saat di depan pasien.
b) Perkenalan
(1) Perkenalkan seluruh anggota tim.
(2) Jelaskan maksud kunjungan.
(3) Biarkan pasien menolak dengan sopan.
(4) Anggota keluarga diperkenankan boleh berada dalam ruangan
jika pasien mengizinkan.
(5) Jelaskan pada pasien atau keluarga bahwa banyak yang akan
didiskusikan, mungkin tidak diterapkan langsung pada pasien.
(6) Undang partisipasi pasien dan keluarga.
(7) Posisikan pasien sewajarnya posisi tim di sekitar tempat tidur.
c) Anamnesa
(1)
Hindari pertanyaan tentang jenis kelamin atau ras.
(2) Hindari duduk di atas tempat tidur pasien.

39

(3) Izinkan interupsi oleh pasien dan pelajar untuk menyoroti hal
penting atau untuk memperjelas.
(4) Jangan mempermalukan dokter yang merawat pasien.
d) Pemeriksaan fisik
(1) Minta pelajar untuk memeriksa pasien.
(2) Izinkan pasien untuk berpartisipasi (mendengarkan bising,
meraba hepar, dll).
(3) Minta tim untuk mendemonstrasikan teknik yang tepat.
(4) Berikan beberapa waktu agar pelajar dapat menilai hasil
pemeriksaan yang baru pertama kali ditemukan.
e) Pemeriksaan Penunjang
(1) Jika mungkin tetap berada di samping tempat tidur.
(2) Rongent, ECG bila mungkin.
(3) Izinkan pasien untuk meninjau ulang dan berpartisipasi.
f) Diskusi
(1) Ingatkan pasien bahwa tidak semua yang didiskusikan akan
dilaksanakan, biarkan pasien tahu kapan itu biasa dilaksanakan.
(2) Hati-hati memberikan pertanyaan yang tidak dapat dijawab
kepada mahasiswa yang merawat pasien.
(3) Berikan pertanyaan pertama kali pada tim yang paling junior.
(4) Saya tidak tahu adalah jawaban yang tepat, setelah itu
gunakan kesempatan untuk mencari jawaban.
(5) Hindari bicara yang tidak perlu.
(6) Izinkan pasien untuk bertanya sebelum meninggalkan tempat
tidur.
(7) Minta pasien untuk menanggapi bedside teaching yang telah
dilakukan.
(8) Ucapkan terima kasih pada pasien.
7) Hambatan
Dalam pelaksanaan bedside teaching, ada beberapa hambatan yang
mungkin timbul dalam pelaksanaan bedside teaching :
a) Gangguan (misalnya panggilan telepon).
b) Waktu rawat inap yang singkat.
c) Ruangan yang kecil sehingga padat dan sesak.
d) Tidak ada papan tulis.
e) Tidak dapat mengacu pada buku.
f) Pelajar lelah.

40

Adapun beberapa hambatan dari pasien :


a) Pasien merasa tidak nyaman.
b) Menyakiti pasien, terutama pada pasien yang kondisi fisiknya
c)
d)
e)
f)

c.

tidak stabil.
Pasien tidak ada di tempat.
Pasien salah pengertian dalam diskusi.
Pasien tidak terbuka.
Pasien tidak kooperatif atau marah.

Direct Observational Prosedural Skill ( DOPS)


Diskripsi
Mahasiswa

melakukan

ketrampilan

klinik

didepan

pasien,

yang

diobservasi langsung dan dinilai oleh PK/CI. Penilaian didasarkan


kesesuaian tindakan dengan prinsip prosedur yang telah ditentukan
Tujuan
Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan ketrampilan
sesuai dengan prosedur
d.

Ronde Keperawatan

i.

Pengertian
Ronde keperawatan merupakan suatu metode pembelajaran klinik yang
memungkinkan peserta didik menstranfer dan mengaplikasikan
pengetahuan teoritis kedalam praktik keperawatan langsung (Nursalam,
2002

ii.

Karakteristik
Klien dilibatkan langsung
Klien merupakan fokus kegiatan peserta didik
Peserta didik dan pembimbing melakukan diskusi

41

Pembimbing memfasilitasi kreaktifitas pesrta didik adanya ide-ide


baru.
Pembimbing klinik membantu mengembangkan kemampuan peserta
didik untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi masalah.
iii.

Kelemahan
Klien dan keluarga merasa kurang nyaman dan privacy tergangu.

iv.

Tujuan
a. Menumbuhkan cara berpikir kritis
b. Menumbuhkan pemikiran bahwa tindakan keperawatan berasal dari
masalah klien.
c. Meningkatkan pola pikir sistematis
d. Meningkatkan validitas data klien
e. Menilai kemampuan menentukan diagnosa keperawatan.
f. Menilai kemampuan membuat justifikasiaaaa
g. Menilai kemampuan menilai hasil kerja
h. Menilai kemampuan memodifikasi rencana keperawatan.

v.

Peran/ Tugas Peserta Didik


a. Menjelaskan data demografi
b. Menjelaskan masalah keperawatan utama
c. Menjelaskan intervensi yang dilakukan
d. Menjelaskan hasil yang didapat
e. Menentukan tindakan selanjutnya
f. Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang diambil

42

vi.

Peran Pembimbing
a. Membantu peserta didik untuk belajar.
b. Mendukung dalam proses pembelajaran
c. Memberikan justifikasi
d. Memberikan Reinforcement
e. Menilai kebenaran dari masalah dan intervensi keperawatan serta
rasional tindakan.
f. Mengarahkan dan mengoreksi.
g. Mengintegrasikan teori, dan konsep yang telah dipelajari.

vii.

Hambatan
a. Berorientasi pada prosedur keperawatan.
b. Persiapan sebelum praktik kurang memadai
c. Belum ada keseragaman tentang hasil ronde keperawatan.
d. Belum ada kesepakatan tentang rmodel ronde keperawartan.

e.

Conference

i.

Pengertian
Conference adalah langkah awal yang harus dilakukan oleh instruktur
klinis dalam memberikan pengarahan dan bimbingan terhadap
mahasiswa. Dalam konferens instruktur klinis memberikan pengarahan
terhadap mahasiswa yang akan melakukan pelayanan kesehatan.
Sehingga para mahasiswa mendapatkan pengertian akan apa yang akan
dilakukan setelah berada di tempat pasien.

Conference adalah salah satu jalan yang ditempuh untuk membantu

43

para calon perawat dalam melakukan tindakan keperawatan terhadap


klien.
Penyiapan mahasiswa untuk praktek klinik telah menjadi bagian yang
sangat penting dalam pendidikan keperawatan. Hal ini dimaksudkan
untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam memasuki praktek
keperawatan secara nyata terhadap pasien langsung. Hal ini
dimaksudkan untuk setiap menjaga kualitas pelayanan yang diberikan
kepada pasien.
ii.

Manfaat
a.

Dirancang melalui diskusi kelompok

b.

Meningkatkan
kelompok,

pembelajaran

melalui

analisis

penyelesaian
kritikal,

masalah

pemilihan

dalam
alternatif

pemecahan masalah, dan pendekatan kreaktif.


c.

Memberikan

kesempatan

mengemukakan

pendapat

dalam

menyelesaikan masalah.
d.
e.

Menerima umpan balik dari kelompok atau pengajar.


Memberi kesempatan terjadi peer review, diskusi kepedulian,
issue, dan penyelesaian masalah oleh disiplin lain.

f.

Berinteraksi dan menggunakan orang lain sebagai narasumber.

g.

Meningkatkan kemampuaan memformulasikan idea.

h.

Adanya kemampuan konstribusi peserta didik.

i.

Meningkatkan percaya diri dalam berinteraksi dengan kelompok.

j.

Kemampuan menggali perasaan, sikap dan nilai-nilai yang


mempengaruhi praktik.

44

k.

Mengembangkan keterampilan beragumentasi.

l.

Mengembangkan keterampilan kepemimpinan.

m.

Jenis konferensi adalah pre dan post konferensi, peer review, issue
dan multidisiplin. (Nursalam, 2002)

n.

Conference hari pertama

Conference pra praktik klinik dimana Pembimbing menjelaskan


tentang karakteristik ruang rawat, staf dan tim pelayanan kesahatan lain
dimana para peserta didik akan ditempatkan. Pembimbing mengkaji
kembali persiapan peserta didik untuk menghadapi dan memberikan
asuhan keperawatan dengan klien secara baik. mengingatkan peserta
didik untuk membawa perlengkapan dasar. Sedangakan konferensi
paska praktik klinik dimana Pembimbing melakukan diskusi dengan
peserta didik untuk membahas tentang klien, pembimbing memberikan
kesempatan untuk peserta didik dalam mengutarakan pendapat, diskusi
dilakukan ditempat khusus atau terpisah.

o.

Conference hari ke dua dan selanjutnya

Conference pra praktik klinik dimana pembimbing membahas tentang


perkembangan klien dan rencana tindakan dihari kedua dan
selanjutnya, menyiapkan kasus lain apabila kondisi klien tidak
mungkin untuk diintervensi. Sedangkan konfenren pasca praktik klinik
dilakukan segera setelah praktik, konferen ini berguna untuk
memperoleh kejelasan tentang asuhan yang telah diberikan, membagi

45

pengalaman antar peseta didik, dan mengenali kualitas keterlibatan


peserta didik.
iii.

Pre Conference
1.

Pengertian
Pre-Conference merupakan tahapan sebelum melakukan konferens
yang akan dilakukan oleh para instruktur klinis dimana akan
dijelaskan apa yang akan dilakukan oleh setiap mahasiswa sebelum
melakukan tindakan keperawatan. Sedangkan dalam Pre-konferens
para instruktur klinis harus sudah menyiapkan apa yang akan
dibahas dalam konferens sehingga tidak banyak waktu yang
terbuang.
Fase pre-conference, esensinya adalah aktivitas kelompok kecil,
yang didalamnya terkandung unsur fasilitasi dari instruktur klinis.
Kelompok kecil siswa tersebut dalam melaksanakan program
pendidikan keperawatan harus benar-benar memperhatikan hal yang
akan dibahas pada fase pre-konferens. Pada saat instruktur klinis
merencanakan fase pre-konferens dengan kelompok kecil siswa
tentang suatu topik, ada hal-hal yang harus diperhatikan instruktur
klinis yaitu :
(1) Bagaiman instruktur klinis memperkenalkan topic pembahasan
kepada mahasiswa.
(2)

Bagaimana

instruktur

klinis

menciptakan

situasi

yang

mendukung terjadinya partisipasi aktif dari anggota kelompok.


(3) Bagaimana instruktur klinis membuat diskusi.

46

(4) Diskusi kelompok yang dilakukan ditujukan untuk memberikan


kesempatan kepada siswa dalam meningkatkan pengetahuan,
sikap dan keterampilan mereka pada saat memasuki praktek
klinik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Instruktur klinis perlu membuat keputusan dalam menentukan
rangkaian kegiatan, struktur dan arahan pada fase prekonferens. Apabila instruktur klinis akan mendampingi siswa
dalam beberapa minggu praktek klinik, instruktur klinis perlu
memperbandingkan penyusunan rencana perkembangan fase
pre-konferens yang dikerjakan bersama mahasiswa. Tujuan
yang disusun seharusnya mempertimbangkan kesinambungan
antara pre-konferns dan post konferens dan mendiskusikan
dengan siswa tentang kemajuan-kemajuan yang diperoleh siswa
selama praktek klinik.
Fase perencanaan ini meliputi hal-hal sebagai berikut : tujuan
pre-conference,

pengorganisasian

pre-conference

dan

pelaksanaan pre-conference.
2.

Tujuan
Tujuan

utama

fase

pre-conference

adalah

mempersiapkan

mahasiswa untuk praktek klinik, instruktur klinik harus berusaha


menciptakan lingkungan fisik dan emosional senyaman mungkin.
Ada tiga tujuan pre-conference bagi mahasiswa yaitu menyiapkan
mahasiswa untuk pembelajaran pada setting klinik, menyiapkan

47

mahasiswa

untuk

aktivitas

penugasan

klinik,

menyiapkan

mahasiswa untuk pengalaman praktek klinik.


Instruktur klinis perlu mempertimbangkan kejadian yang tidak
terduga tersebut dan tindakan-tindakan yang tidak terduga tersebut
dan tindakan-tindakan yang dilakukan yang dilakukan untuk
mengatasinya. Sekaligus menunjukkan bahwa pre-konferens sangat
menentukan efektifitas bagi pengalaman praktek mahasiswa.
Mahasiswa mampu menghadapi kejadian yang tiba-tiba terjadi dan
menjadi seorang pelajar mandiri di mana dapat belajar untuk
menginterpretasikan yang terjadi selama pengalaman praktek yang
dijalani.
3.

Pengorganisasian
Beberapa faktor yang penting di perhatikan dalam pengorganisasian
fase pre- conference ini adalah :
a.

Frekuensi pre- conference yaitu apakah dilakukan setiap hari


sebelum praktek klinik atau pada awal mahasiswa akan
melaksanakan praktek klinik saja.

b.

Tingkat pengetahuan dan keterampilan mahasiswa menentukan


seberapa sering di perlukan fase pre- conference.

c.

Waktu yang diperlukan untuk setiap mahasiswa seharusnya


sama atau mungkin dapat diperpanjang. Cara lebih efektif
dengan penggunaan waktu sekitar 20 menit sampai satu jam
untuk diskusi.

48

d.

Waktu apakah dilakukan setiap hari, jam tujuh misalnya


sebelum praktek klinik.

e.

Lokasi terdapat keuntungan apabila pre-konferens dilakukan


pada lokasi yang berdekatan dengan tempat praktek. Salah satu
keuntungannya

adalah

mengurangi

jumlah

waktu

yang

diperlukan untuk pergi ke lahan praktek. Perlu di ingat bahwa


keadaan fisik yang nyaman atau baik dari sisi mahasiswa adalah
kondisis yang baik bagi proses belajar mengajar termasuk untuk
praktek klinik.
f.

Bila memungkinkan, libatkan staf ruangan tempat praktek


untuk menjelaskan dan negosiasi program dalam hubungannya
dengan penggunaan fasilitas yang ada.

4)

Post Conference
a) Pengertian
Post conference adalah fase dimana dari hasil pembahasan di buat
evaluasi. Setiap mahasiswa harus mampu melakukan evaluasi dari
setiap konferens yang sudah dilaksanakan sehingga mahasiswa tahu
apa yang harus dilakukan berikutnya. Pembahasan yang sudah
dibuat akan menjadi acuan untuk bisa berpartisipasi dalam
menyelesaikan masalah yang timbul dari setiap tindakan selama
berpraktek.
Post conference merupakan kesempatan dari mahasiswa untuk
bertanya dan menyelesaikan masalah saat berdiskusi. Setiap
mahasiswa mempunyai masalah selama berpraktek dan inbstruktur

49

klinis memberikan arahan setelah berdiskusi bersama untuk mencari


penyelesaian dari setiap masalah tersebut. Para instruktur klinis
memberikan pembahasan yang bisa mahasiswa diskusikan bersama
masalah dan membuat evaluasi dari setiap diskusi
b) Tujuan
Tujuan dilaksanakan post conference untuk memperoleh kejelasan
tentang asuhan yang telah diberikan, membagi pengalaman antar
peseta didik, dan mengenali kualitas keterlibatan peserta didik.

c) Cara Pelaksanaan
Beberapa cara dalam pelaksanaan post conference yaitu: memulai
diskusi kelompok, dukungan bagi partisipasi kelompok, mengakhiri
diskusi dan evaluasi.
5)

Tuntutan yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan pre dan post


conference adalah sebagai berikut :
(a). Tujuan yang telah di buat dalam konferens seharusnya di
konfirmasikan terlebih dahulu.
(b) Diskusikan yang di lakukan seharusnya merefleksikan prinsipprinsip kelompok yang dinamis.
(c) Instruktur klinis memiliki peran dalam kelangsungan diskusi
dengan berpegang kepada fokus yang di bicarakan, tanpa
mendomisilinya dan memberikan umpan balik yang di perlukan
secara tepat.

50

(d) Instruktur klinis harus memberikan penekanan-penekanan pada


poin-poin penting selama diskusi berlansung.
(e)

Atmosfer
kelompok,

diskusi seharusnya
mengandung

mendukung

keinginan

anggota

bagi partisipasi
diskusi

untuk

memberikan responsnya dan menerima pendapat atau pandangan


yang berbedauntuk selanjutnya mencari persamaannya.
(f) Besar kelompok seharusnya di batasi 10-12 orang untuk memelihara
pertukaran ide-ide pemikiran yang ade kuat di antara mereka.
(g) Usahakan antara anggota kelompok dapat bertatapan langsung (face
to face).
(h) Pada kesimpulan akhir dari konferens, ringkasan dan kesimpulan
seharusnya berikan oleh instruktur klinis atau siswa dengan
mengacu pada tujuan pembelajaran dan sifat applicability pada
situasi dan kondisi yang lain.

MODUL 3
MATERI
PENUNJANG

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan Umum

51

Setelah melakukan simulasi bimbingan klinik, peserta pelatihan memahami


tentang proses dalam pembelajaran klinik
2. Tujuan Khusus
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan peserta pelatihan dapat
mendemontrasikan tentang :
a. Bedside Teaching
b. DOPS
c. Ronde Keperawatan
d. Pre conference
e. Post Conference
C. METODE
1. Diskusi Kelompok
2. SGD
D. ALAT BANTU DAN MEDIA
i.
Layar Monitor
ii.
Laptop
iii.
LCD
E. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJAAN
1. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah. Apabila belum berkenalan mulai
dengan perkenalan. Sampaikan tujuan pembelajaran, sebaiknya dengan
menggunakan bahan tayang.
2. Fasilitator membagi kelompok menjadi 5-7 orang dalam satu kelompok
3. Fasilitator menyampaikan paparan tentang materi yang akan didemontrasikan
peserta pelatihan.
4. Fasilitator memberikan waktu kepada peserta kurang lebih 15 menit untuk
berdiskusi
5. Berikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya apabila belum jelas
dengan pemaparan dari fasilitator.
6. Setelah diskusi kelompok, satu persatu kelompok mendemonstrasikan/
bermain peran dihadapan peserta pelatihan

F. Timetable Jadwal Bimbingan Klinik


No

Waktu Pelaksanaan
Oktober

Kegiatan
1 2

Bedside
teaching

3 4

5 6

7 8

1
0

1 1
1 2

1
3

1
4

1
5

1
6

1
7

1
8

1
9

2
0

2
1

2
2

2
3

2
4

2
5

2
6

2
7

2
8

2
9

3
0

52

3
4
5

Direct
Obsevational
prosedur skill
( DOPS )
Ronde
Keperawa-tan
Conferen-ce
Post
Conferen-ce

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Bastable, S.B (2002).Perawat sebagai pendidik: prinsip prinsip pengajaran dan
pembelajaran, alih bahasa Gerda W. Jakarta: EGC
Hamalik, Oemar. 2008. Perencanaan Pengajaran BerdasarkanPendekatan Sistem.
Bumi Aksara : Jakarta
Nurachmah, E( 2005). Metode Pengajaran Klinik Keperawatan. Makalah pelatihan
bimbingan klinik FIK UI.Tidak dipublikasikan.
Nursalam (2002). Manajemen Keperawatan. Penerapan dalam Praktik Keperawatan
Profesional. Salemba Medika. Jakarta
Nursalam (2007). Manajemen Keperawatan. Edisi 2. Penerapan dalam Praktik
Keperawatan Profesional. Jakarta: Salemba Medika.
Nursalam & Efendi Ferry, (2008). Pendidikan Dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika
Relly, D.E & Obermann,M.H (2002). Pengajaran Klinis dalam pendidikan
keperawatan, alih bahasa Eni Noviestari. Jakarta: EGC
Waluyo, A.(2005). Metode Pengajaran Klinik Keperawatan. Makalah pelatihan
bimbingan klinik FIK UI.

53