Anda di halaman 1dari 27

TANTANGAN DAN MASA DEPAN INDUSTRI

FARMASI DI ERA JKN DAN PASAR BEBAS


F TIRTO KUSNADI
KETUA UMUM GP FARMASI INDONESIA

Elemen Utama yang Berpengaruh Signifikan


Terhadap Industri Farmasi

Mengapa?

Nilai Tukar Rp : Import depending


Regulasi : Highly regulated -> High cost
JKN : Landscape Driver
Kompetisi : Killing for survival ?
Pasar Bebas : Market Driver
Hubungan Industrial : Productivity vs
Cost
Kemampuan untuk mengelola seluruh elemen
tersebut secara proposional merupakan key
success factor

Growth Factor Pasar Farmasi


Income per capita
Jumlah penduduk
Kebijakan ekonomi
Belanja kesehatan
Produk baru
Harga jual

Dalam waktu berdekatan kita menghadapi


penerapan
Jaminan Kesehatan Nasional dan Economic
Asean Community

Pasar Bebas Economic Asean


Community
EAC adalah bentuk integrasi ekonomi regional yang
bertujuan untuk menjadikan ASEAN sebagai pasar
tunggal dan basis produksi, yang mana
terjadi arus barang, jasa, investasi, dan
tenaga terampil yang bebas serta aliran
modal yang lebih bebas.

Market Driver Industri Farmasi

ASEAN
Highly connected:
Physically,
Institutionally and
among the Peoples
Free trade
agreements with
major regional
economies
Young, educated
labour force

AEC Community Building Mandate


Establish ASEAN as:

Dampak EAC
Arus produk masuk : harus mengikuti
Permenkes 1010 Tahun 2008
Arus produk keluar : meski ada peluang
tetapi belum meningkat secara signifikan
Ancaman : akuisisi perusahaan lokal untuk
menyiasati Permenkes 1010/2008
Dalam jangka menengah panjang akan
banyak perusahaan lokal berskala regional

Jaminan Kesehatan Nasional


adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta
memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan
perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan
yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar

iuran/ iurannya dibayar oleh Pemerintah

Landscape Driver Industri Farmasi

Peta Jalan Kepesertaan JKN


2019

2015
256juta

2014

[Tumbuh 80,3% ]

142juta
[Tumbuh 16,4% ]

2013

122juta
[Tumbuh 60,5%]

76juta
[30% populasi]

JKN.
Pedang bermata dua bagi pelaku usaha jasa
kesehatan termasuk industri farmasi.
Menyediakan peluang lebih besar karena membuka
celah permintaan akan jasa kesehatan.
Tetapi juga mengakibatkan turunnya margin
keuntungan dan menekan layanan premium karena
prioritasnya adalah layanan efisiensi biaya.
Intervensi pemerintah di sektor jasa kesehatan akan
menambah ketidakpastian bisnis, utamanya harga
jual obat yang lebih rendah

Masalah Terkait JKN


Jumlah orang sakit yang memanfaatkan fasilitas JKN
lebih besar dari jumlah orang yang membayar premi
tiap bulan (penyebab defisit)
Sejumlah besar pekerja yang bekerja di sektor
informal tidak menjadi anggota BPJS
Kualitas dan kuantitas infrastruktur di daerah
terpencil masih lemah, yang berarti mereka yang
tinggal di daerah tersebut tidak memiliki akses ke
pelayanan kesehatan yang mudah.
Belanja kesehatan Indonesia masih menjadi salah
satu yang terendah diantara negara negara ASEAN,
berkisar antara 2.6 2.7 GDP

3 Tahun Penerapan JKN


Porsi obat dalam biaya kesehatan
rata rata masih tinggi (+/- 40%)
Penerapan JKN membuat lebih
banyak masyarakat berobat
Mengapa pertumbuhan penjualan
menurun ????

Pertumbuhan Penjualan 5 Tahun Terakhir


13.29

70,000

60,000

12
20,621

20,964

19,582

50,000

10

18,385
40,000

16,007

8
7.23

30,000
22,201
19,669

23,727

7.52

26,072
6

24,810
3.96

20,000
3,686

10,000

2,922

3,692

3,302

9,510

10,615

MAT 3Q12

MAT 3Q13

3,742

11,443

13,722

14,553

MAT 3Q15

MAT 3Q16

2
0

MAT 3Q14

MNC ETHICAL
DOMESTIC ETHICAL

MNC FREE SALES


DOMESTIC FREE SALES

Growth (%)

Sumber : IMS

Perubahan Perilaku Peresepan di Era JKN


Obat termasuk ke dalam
tarif kapitasi

Obat di luar tarif kapitasi


(non-kapitasi)

Obat termasuk ke dalam


tarif INA-CBGs

Obat di luar tarif INACBGs (non-INA-CBGs)

Cenderung under-prescribed

Cenderung over-prescribed

Perkembangan Formularium Nasional

Fornas 2013
Adendum 2
Fornas 2013
Adendum 1
Fornas
2013

519 item/
923 ediaan

521 item/
930 sediaan

538 item/ 961


sediaan

Fornas 2015

Fornas 2016

562 item/ 983


sediaan

Adendum 1
573 item /
1018 sediaan

Jumlah Obat Beredar


Total Obat
14405 item
Fornas
573 item,
1018
sediaan
DOEN 327
item

JKN : Landscape Driver dan


EAC : Market Driver
Harga
Profitabilitas
Margin Error

Volume
Kompetisi
Efisiensi

Key Points
Dalam 3 tahun terakhir pertumbuhan penjualan
secara nasional menurun
Prioritas obat yang digunakan Unbraded Generic
yang tercantum dalam Fornas
Masa depan Branded Generic ???
Kenaikan ekspor ???
Sistem pengadaan : harga termurah
Cash to cash cycle : makin panjang
Harga turun, biaya naik
Makin banyak perusahaan lokal diakusisi MNC

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 6 TAHUN 2016
TENTANG
PERCEPATAN PENGEMBANGAN INDUSTRI FARMASI
DAN ALAT KESEHATAN

Menugaskan kepada:
1. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian;
2. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan
Kebudayaan;
3. Menteri Kesehatan;
4. Menteri Keuangan;
5. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi;
6. Menteri Perindustrian;
7. Menteri Perdagangan;
8. Menteri Pertanian;
9. Menteri Badan Usaha Milik Negara;
10. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal;
11. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan; dan
12. Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Untuk mengambil langkah-langkah sesuai tugas, fungsi, dan


kewenangan masing-masing untuk mendukung percepatan
pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan, dengan:
1. Menjamin ketersediaan sediaan farmasi dan alat
kesehatan sebagai upaya peningkatan pelayanan
kesehatan dalam rangka Jaminan Kesehatan Nasional;
2. Meningkatkan daya saing industri farmasi dan alat
kesehatan di dalam negeri dan ekspor;
3. Mendorong penguasaan teknologi dan inovasi dalam
bidang farmasi dan alat kesehatan; dan
4. Mempercepat kemandirian dan pengembangan produksi
bahan baku obat, obat, dan alat kesehatan untuk
pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan ekspor serta
memulihkan dan meningkatkan kegiatan industri/utilisasi
kapasitas industri.

Tantangan Industri Farmasi


Mampu beroperasi secara efisien
Menambah kapasitas produksi dan atau
melakukan deversifikasi produk
(OTC/supplemen)
Tidak lagi mengandalkan kenaikan harga
sebagai growth factor
Meningkatkan QSE produk agar dapat
mengungkit company image

Masa Depan Industri Farmasi


Kenaikan belanja kesehatan yang semakin bermakna akan
menjadi sentimen positif bagi industri farmasi.
Porsi pemakaian obat akan menurun menjadi 19% dari
biaya kesehatan
Swamedikasi untuk penyakit terkait gaya hidup (diabetes,
jantung dan gangguan lambung) akan meningkat sehingga
akan memacu permintaan terhadap obat obat
OTC/supplemen.
Pasar farmasi tidak lagi terbatas pada wilayah RI tapi
mencakup kawasan regional ASEAN
Pola kemitraan antara perusahaan lokal dan multinasional
akan menjadi pilihan untuk berkembang bagi keduanya.

Pertanyaannya:
Playing field kita bukan terbatas di wilayah RI,
siapkah kita ekspansi ke wilayah regional?
Siapkah kita menghadapi serbuan pemain
regional/MNC?
Jumlah orang sehat >>> orang sakit, haruskah
kita hanya fokus pada obat obat curative?
Akankah terjadi rasionalisasi jumlah obat
beredar?
Mungkinkah kita melakukan konsolidasi untuk
menjawab semua itu?

Do not
over estimate
the competition
and
Underestimate
yourself