Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

PARAPLEGI

Pembimbing:
dr. Maula N Gaharu, Sp.S

Disusun oleh:
Andhika Hadi Wirawan
1102010020

Kepaniteraan Klinik Ilmu Saraf


Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I Raden Said Sukanto
Periode 4 April 5 Mei 2016
BAB I
1. IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Usia
Agama
Status marital
Pekerjaan
Suku
Alamat
Tanggal masuk RS

: Nn. K
: Perempuan
: 23 tahun
: Islam
: Belum Menikah
: Karyawati
: Jawa
: Batu Ampar RT 02/04 Kramat Jati
: 20 April 2016

Tanggal pemeriksaan

: 22 April 2016

2. ANAMNESIS
Dilakukan secara autoanamnesa pada tanggal 22 April 2016 di RS POLRI Raden Said
Sukanto Ruang VIP Melati.
A. KELUHAN UTAMA
Lemah pada kedua tungkai sejak 3 jam sebelum masuk rumah sakit
B. KELUHAN TAMBAHAN
Terasa baal dan nyeri pada kedua tungkai
C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien wanita 23 tahun datang ke IGD RS POLRI dengan keluhan lemah pada
kedua tungkai sejak 3 jam sebelum masuk rumah sakit. Keluhan ini dirasakan
semakin lama semakin berat. Awalnya 7 hari yang lalu, pasien pernah mengalami
keluhan yang serupa, tetapi masih dapat berdiri dan berjalan sendiri, hanya terasa
lemas. Keluhan awalnya timbul dari pinggang yang terasa nyeri, kemudian rasa
nyeri menjalar ke kedua tungkai,hingga kekuatan kedua tungkai terasa lemah.
Pasien masih dapat merasakan ketika kakinya dipegang, dan hanya terdapat sedikit
rasa baal. Setelah dipijat oleh tukang urut, pasien mengatakan keluhan sedikit
berkurang, tetapi masih terasa lemas. 3 jam sebelum masuk rumah sakit, pasien
kembali merasakan keluhan yang sama, hanya saja kali ini lebih berat dari
sebelumnya dan pasien merasa sampai tidak dapat menggerakkan kedua
tungkainya.
Pasien merupakan seorang karyawati yang setiap harinya dapat menghabiskan
waktu selama 8 jam untuk duduk dimeja kerjanya. Keluhan lain yang dirasakan,
pasien mengatakan rasa baal pada kedua kakinya. Pasien tidak bisa merasakan
ketika kedua tungkainya disentuh. Rasa baal dirasakan mulai dari kedua lutut ke
bawah, disertai rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk tanpa adanya sentuhan, yang timbul
secara tiba-tiba.. Pasien juga mengatakan sebelumnya sempat mual dan muntah
sebanyak 1 kali, berupa sisa-sisa makanan. Keluhan gangguan buang air besar dan
buang air kecil disangkal. Keluhan trauma, lemah sebelah badan, demam, batuk
lama dan riwayat pengobatan tb sebelumnya disangkal.
D.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien mempunyai asma terkontrol sejak 12 tahun yang lalu
Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi.
Pasien tidak memiliki riwayat diabetes melitus.
Pasien menyangkal adanya riwayat penyakit jantung.
2

Pasien menyangkal adanya riwayat trauma

E. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Ayah pasien memiliki riwayat diabetes melitus
Ibu pasien memiliki riwayat asma
F. RIWAYAT ALERGI
Pasien tidak memiliki riwayat alergi
G. RIWAYAT KEBIASAAN

Pasien tidak merokok


Pasien tidak mengkonsumsi alkohol
Pasien tidak menggunakan obat-obatan terlarang

3. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 22 April 2016
Keadaan umum
: Baik
Kesadaran
: Compos mentis
Tanda tanda vital:
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Pernafasan
: 20 x/menit
Nadi
: 79 x/menit
Suhu
: 36,6 C
A. STATUS GENERALIS
Kepala :
Normocephal, rambut berwarna hitam, distribusi rambut merata, tidak ada

bekas luka.
Mata :
Mata simetris, pupil : 3mm / 3mm, isokor. Sklera ikterik -/-, konjungtiva
anemis -/-. Refleks cahaya langsung dan tidak langsung ++/++.
Hidung :
Bentuk hidung normal, tidak ada deviasi septum, sekret -/-.
Mulut :
Mulut kering, mukosa rongga mulut merah tanpa massa. Tidak ada fasikulasi
dan tremor lidah, tidak ditemukan adanya deviasi lidah saat menjulurkan lidah.

Telinga

:
Bentuk normal dan simetris, aurikula normal, serumen +/+, hiperemis -/-,

sekret -/Pemeriksaan Leher


Inspeksi: Tidak terdapat tanda trauma maupun massa

Palpasi : Tidak terdapat pembesaran KGB maupun kelenjar tiroid,

tidak terdapat deviasi trakea


Thoraks :
o Inspeksi simetris dalam keadaan statis/dinamis.
o Palpasi fremitus taktil dan vokal normal, simetris kanan = kiri.
o Perkusi sonor pada kedua lapang paru.
o Auskultasi Jantung: S1 dan S2 normal, murmur (-), gallop (-);
Paru : Vesikuler +/+, wheezing (-/-), ronchi (-/-).
Abdomen:
o Inspeksi datar, tidak ada bekas luka/lesi.
o Palpasi tidak ada nyeri tekan dan nyeri lepas, hepar dan lien tidak teraba.
o Perkusi timpani pada seluruh lapang abdomen.
o Auskultasi bising usus positif normal 6 kali/menit.
Ekstremitas atas: Akral hangat, bentuk normal, tidak terdapat deformitas,

cyanosis, bekas luka maupun benjolan. Capillary refill time < 2 detik.
Ekstremitas bawah: Akral hangat, bentuk normal, tidak terdapat deformitas,
cyanosis, bekas luka maupun benjolan. Capillary refill time < 2 detik.

B. STATUS NEUROLOGIS
GCS : E4M6V5 (15)
Nervus Cranialis
N. I
:
ND/NS: Normal.

N. II :
Visus Normal.
Lapang pandang Normal.
Refleks cahaya langsung dan tidak langsung ++/++.
N. III/IV/VI :
Celah kelopak mata normal, tidak ada ptosis.
Pupil bulat, isokor : 3mm / 3mm
Pergerakan kedua bola mata normal ke segala arah.
Tidak terdapat nistagmus di kedua bola mata.
N. V :
Sensorik : V1, V2, V3 : normal
Refleks Kornea : tidak dilakukan
Motorik :
o Menggigit : Baik, tidak ditemukan paresis di otot pengunyah.
o Membuka rahang : Baik, mulut lurus, tidak miring ke salah satu sisi.
N. VII :
Sensorik : tidak dilakukan
Motorik :
o Mengernyitkan dahi
: normal.
o Mengangkat alis
: normal, simetris.
4

o Memejamkan mata
: normal, simetris.
o Meringis
: normal, simetris.
o Menggembungkan pipi : normal, simetris.
o Mencucu
: normal, simetris.
o Plika nasolabialis
: normal, simetris.
N. VIII :
Gesekan jari
: AD: baik ; AS: baik.
Detik jam
: AD: baik ; AS: baik.
Tes berbisik : AD : baik ; AS : baik.
Garpu tala:
o Rinne
: tidak dilakukan.
o Weber
: tidak dilakukan.
o Schwabach
: tidak dilakukan.
Dix-Hallpike
: tidak dilakukan.
Post-pointing
o Tangan kanan : tidak dilakukan.
o Tangan kiri
: tidak dilakukan.
Romberg
: tidak dilakukan.
Stepping test
: tidak dilakukan.
N. IX :
Sensorik
: tidak dilakukan
Motorik
: tidak dilakukan
N. X :
Tidak terdapat disfonia maupun disfagia.
Refleks muntah
: tidak dilakukan.
Arkus faring
: simetris.
Letak uvula
: di tengah.
N. XI :
Mengangkat bahu
: normal
Memalingkan kepala : normal
Kekuatan otot aksesorius: normal
N. XII :
Deviasi lidah
: tidak terdapat deviasi lidah
Atrofi/fasikulasi/tremor lidah : normal
Pemeriksaan Tanda Rangsang Meningeal:
Kaku kuduk

:-

Laseque

:-

Kernig

:-

Brudzinski 1

:-

Brudzinski 2

:-

Pemeriksaan Rangsang Nyeri:


5

Laseque sign
Naffziger
Patrick
Kontra Patrick

::::-

Pemeriksaan Motorik
Kekuatan otot :

5 5
1 1

Tonus :
Ekstremitas atas
: normotonus / normotonus
Ekstremitas bawah : normotonus / normotonus
Klonus :
Patella
: -/Achilles
: -/Refleks Fisiologis :
Biceps
: ++/++
Triceps
: ++/++
Patella
: ++/++
Achilles
: ++/++
Refleks Patologis :
HoffmanTromnner: -/Babinski
: -/Chaddock
: -/Schaefer
: -/Gordon
: -/Oppenheim
: -/Pemeriksaan Sensorik
Ekstremitas atas
o Rangsang Raba : normoestesia/normoestesia.
o Rangsang Nyeri : normoalgesia/normoalgesia.
o Rangsang Suhu : tidak dilakukan.
o Rangsang Getar : tidak dilakukan.
o Proprioseptif
: normal.
Ekstremitas bawah
o Rangsang Raba : hipestesi/hipestesi
o Rangsang Nyeri : hypoanalgesia / hypoanalgesia
o Rangsang Suhu : tidak dilakukan.
o Rangsang Getar : tidak dilakukan.
o Proprioseptif
: Terdapat gangguan proprioseptif
Pemeriksaan Sistem Saraf Otonom
BAB
: normal.
BAK
: normal.
Berkeringat
: normal
Pemeriksaan Fungsi Luhur
o Memori
: Baik.
o Kognitif
: Baik.
6

o Bahasa
: Baik.
Pemeriksaan Koordinasi
Disdiadokinesia
: tidak terdapat kelainan
Tes heel to knee
: tidak dapat dilakukan
Tes Telunjuk Hidung: tidak terdapat kelainan
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium
HEMATOLOGI I (20 April 2016)
Hemoglobin
: 13,5 g/dl (N:12-14 g/dl)
Leukosit
: 9.600 u/l (N:5.000-10.000 u/l)
Hematokrit
: 40% (N:37-43%)
Trombosit
: 381.000 /ul (150.000-400.000 /ul)
KIMIA KLINIK
Elektrolit
Natrium
: 138 mmol/l (N:135-145 mmol/l)
Kalium
: 3,4 mmol/l (N:3,5-5,0 mmol/l)
Chlorida
: 105 mmol/l (N:98-108 mmol/l)
Glukosa Sewaktu (Glukometer) : 77 mg/dl (N:<200 mg/dl)
KIMIA KLINIK (21 April 2016)
Kolesterol Total
: 166 mg/dl (N:<200 mg/dl)
Trigliserida
: 49 mg/dl (N:<200 mg/dl)
TES FUNGSI GINJAL
Ureum
: 16 mg/dl (N:10-50 mg/dl)
Creatinine
:0,8 mg/dl (N:0,5-1,3 mg/dl)
Asam Urat
: 2,1 mg/dl (N:2,4-5,7 mg/dl)
b. Pencitraan : Rontgen Vertebrae Thoracolumbal AP/Lateral

Saran Pemeriksaan : MRI Thoracolumbal


EMG
5. RESUME
Pasien wanita 23 tahun datang ke IGD RS POLRI dengan keluhan lemah pada kedua
tungkai sejak 3 jam sebelum masuk rumah sakit sampai tidak mampu untuk
menggerakkan kedua tungkainya. 7 hari yang lalu, pernah mengalami keluhan yang
serupa, tetapi gejala yang timbul masih lebih ringan
Pasien juga mengatakan timbul

rasa baal pada kedua kakinya. Pasien tidak bisa

merasakan ketika kedua tungkainya disentuh. Rasa baal dirasakan mulai dari kedua lutut
ke bawah, disertai rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk tanpa adanya sentuhan, yang timbul
secara tiba-tiba.. Pasien mual dan muntah sebanyak 1 kali, berupa sisa-sisa makanan.
BAB dan BAK normal.
Pemeriksaan Fisik :
GCS : E4M6V5
Pemeriksaan Motorik
Kekuatan otot :

5 5
1 1
Pemeriksaan Sensorik
Ekstremitas bawah
o Rangsang Raba : hipestesi/hipestesi
o Rangsang Nyeri : hypoanalgesia / hypoanalgesia
o Proprioseptif
: Terdapat gangguan proprioseptif
Pemeriksaan Sistem Saraf Otonom
BAB dan BAK normal
Pemeriksaan Penunjang
Kalium
Asam Urat

: 3,4 mmol/l (N:3,5-5,0 mmol/l)


: 2,1 mg/dl (N:2,4-5,7 mg/dl)

Rontgen Vertebrae Thoracolumbal AP/Lateral terdapat kompresi pada corpus vertebra


Lumbal 1-2
6. DIAGNOSIS
Diagnosis Klinis: Paraplegi
Diagnosis Topis: Medula Spinalis Setinggi Lumbal 1-2
Diagnosis Etiologis: Myelitis Transversa, diagnosis banding HNP
6. TERAPI
Umum
o Observasi tanda-tanda vital (tekanan darah, suhu, nadi, dan pernapasan)
Khusus
o Medikamentosa
IVFD RL 20 tpm
Inj. Methycobalamin 3x500 mg
Inj. Ranitidin 2x1 ampul
Tablet Metylprednisolon 3x8 mg
Aspar K 3x1 tab
8.

PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad functionam
Quo ad sanactionam

: ad bonam
: dubia ad malam
: dubia ad malam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Parese adalah kelemahan parsial yang ringan/tidak lengkap atau suatu kondisi yang
ditandai oleh hilangnya sebagian gerakan atau gerakan terganggu. Plegia adalah kelemahan
berat/kelumpuhan sebagai akibat kerusakan sistem saraf.1
Plegia pada anggota gerak dibagi mejadi 4 macam, yaitu :

Monoplegia adalah paralisis/ kelemahan berat pada satu ekstremitas atas atau

ekstremitas bawah.
Paraplegia adalah paralisis/ kelemahan berat pada kedua ekstremitas bawah.
Hemiplegia adalah paralisis/ kelemahan berat pada satu sisi tubuh yaitu

satuekstremitas atas dan satu ekstremitas bawah pada sisi yang sama.
Tetraplegia adalah paralisis/ kelemahan berat pada keempat ekstremitas.
Paraplegia inferior adalah paralisis bagian bawah tubuh termasuk tungkai.3
Paraplegi terbagi menjadi tipe spastic (UMN) dan flaksid (LMN). Paraplegi spastik

adalah kekakuan otot dan kejang otot disebabkan oleh kondisi saraf tertentu. Paraplegi
spastik disebabkan oleh spondylitis TB , spinal cord injury, genetic disorder (hereditary
spastic paraplegia),autoimmune diseases, syrinx (a spinal chord disorder) tumor medulla
spinalis, mutiple sclerosis.4
Paraplegi flaksid adalah kelemahan atau kurangnya otot yang tidak memiliki
penyebab yang jelas. Otot lemas sebagian karena kurangnya aktivitas dalam otot,gerakan
sukarela yang sebagian atau seluruhnya hilang. Paraplegi flaksid termasuk polio, lesi pada
neuron motorik yang lebih rendah, Guillain Barre sydrome

2.2 Anatomi
Tulang belakang atau vertebra adalah tulang tak beraturan yang membentuk
punggung yang mudah digerakkan. terdapat 33 tulang punggung pada manusia, 7
tulangcervical, 12 tulang thorax (thoraks atau dada), 5 tulang lumbal, 5 tulang sacral, dan 4
tulang membentuk tulang ekor (coccyx). Sebuah tulang punggung terdiri atas duabagian

10

yakni bagian anterior yang terdiri dari badan tulang atau corpus vertebrae, dan bagian
posterior yang terdiri dari arcus vertebrae.5

Gambar 1.1 Tulang belakang


Medula spinalis mulai dari akhir medulla oblongata di foramen magnum sampai
konus medullaris di level Tulang Belakang L1-L2. Medulla Spinalis berlanjut menjadiKauda
Equina (di Bokong) yang lebih tahan terhadap cedera. Medula spinalis terdiriatas traktus
ascenden (yang membawa informasi di tubuh menuju ke otak seperti rangsang raba, suhu,
nyeri dan gerak posisi) dan traktus descenden (yang membawainformasi dari otak ke anggota
gerak dan mengontrol fungsi tubuh). Ketika tulangbelakang disusun, foramen ini akan
membentuk saluran sebagai tempat sumsum tulang belakang atau medulla spinalis. Dari otak
medula spinalis turun ke bawah kira-kiraditengah punggung dan dilindungi oleh cairan jernih
yaitu cairan serebrospinal. Medula spinalis

terdiri dari berjuta-juta saraf yang

mentransmisikan informasi elektrik dari danke ekstremitas, badan, organ tubuh dan kembali
ke otak. Otak dan medula spinali smerupakan sistem saraf pusat dan yang mehubungkan
saraf-saraf medula spinalis ketubuh adalah sistem saraf perifer.5,6
Medula spinalis diperdarahi oleh 2 susunan arteri yang mempunyai hubungan
istemewa, yaitu arteri spinalis dan arteri radikularis. Arteri spinalis dibagi menjadi
arterispinalis anterior dan posterior yang berasal dari arteri vertebralis, sedangkan arteri
radikularis dibagi menjadi arteri radikularis posterior dan anterior yang dikenal juga ramus
vertebra medularis arteria interkostalis. Medula Spinalis disuplai oleh arterispinalis anterior
dan arteri spinalis posterior. Nervus spinalis/akar nervus yang berasaldari medula spinalis
11

melewati suatu lubang di vertebra yang disebut foramen danmembawa informasi dari medula
spinalis samapi ke bagian tubuh dan dari tubuh keotak.5
Ada 31 pasang nervus spinalis dan dibagi dalam empat kelompok nervus spinalis,
yaitu :5
a. nervus servikal : berperan dalam pergerakan dan perabaan pada lengan, leher, dananggota
tubuh bagian atas
b. nervus thorak : mempersarafi tubuh dan perut
c. nervus lumbal dan nervus sakral : mempersarafi tungkai, kandung kencing, usus dan
genitalia.

Gambar 1.2 Peta dermatomal system sensorik saraf


Ujung akhir dari medula spinalis disebut conus medularis yang letaknya di L1 danL2.
Setelah akhir medula spinalis, nervus spinalis selanjutnya bergabung membentukcauda equina.5

12

Sistem motorik berhubungan dengan sistem neuromuskular terdiri atas Upper motor
neurons UMN) dan lower motor neuron (LMN). Upper motor neurons (UMN) merupakan
kumpulan saraf-saraf motorik yang menyalurkan impuls dan area motorik di korteks motorik
sampai inti-inti motorik di saraf kranial di batang otak atau kornuanterior medula spinalis.6
Berdasarkan perbedaan anatomik dan fisiologik kelompok UMN dibagi dalam
susunan piramidal dan susunan ekstrapiramidal. Susunan piramidal terdiri dari traktus
kortikospinal dan traktus kortikobulbar. Melalui lower motor neuron (LMN), yang merupakan
kumpulan saraf motorik yang berasal dari batang otak, pesan tersebut dariotak dilanjutkan ke
berbagai otot dalam tubuh seseorang. Kedua saraf motorik tersebutmempunyai peranan
penting di dalam system neuromuscular tubuh. Sistem ini yang memungkinkan tubuh kita
untuk bergerak secara terencana dan terukur.6
1. Upper Motor Neuron
Traktus kortiko spinalis berfungsi menyalurkan impuls motorik pada sel-sel motorik
batang otak dan medula spinalis untuk geraakan-gerakan otot kepala danleher. Traktus
kortikobulber membentuk traktus piramidalis, mempersarafi sel-selmotorik batang otak
secara bilateral, kecuali nervus VII & XII, berfungsi untuk menyalurkan impuls motorik
untuk gerak otot tangkas. Dalam klinik gangguan traktus piramidalis memberikan
kelumpuhan tipe UMN berupa parese/paralisis spastisdisertai dengan tonus meninggi,
hiperrefleksi, klonus, refleks patologis positif, takada atrofi.6
Kelainan traktus piramidalis setinggi :

Hemisfer : memberikan gejala-gejala hemiparesi tipika


Setinggi batang otak : hemiparese alternans.
Setinggi medulla spinalis : tetra/paraparese.

Rangkaian neuron di korteks selanjutnya membentuk jalan saraf sirkuit meliputi berbagai inti
di sub korteks.dan kemudian kembali ke tingkat kortikal.
Terdiri dari :

korteks serebri area 4s, 6, 8


ganglia basalis antara lain nukleus kaudatus, putamen, globus pallidus, nukleusRuber,
formasio retikularis, serebellum.

Susunan ekstrapiramidal dengan formasio retukularis :

Pusat eksitasi / fasilitasi : mempermudah pengantar impuls ke korteks maupun

kemotor neuron.
Pusat inhibisi : menghambat aliran impuls ke korteks/motor neuron.
13

Pusat kesadaran

Susunan ekstrapiramidal berfungsi untuk gerak otot dasar / gerak otot tonik,pembagian tonus
secara harmonis, mengendalikan aktifitas pyramidal.
Gangguan pada susunan ekstrapiramidal :

Kekakuan / rigiditas
Pergerakan-pergerakan involunter:
Tremor, Atetose, Khorea, Balismus

.2. Lower Motor Neuron


Merupakan neuron yang langsung berhubungan dgn otot, dapat dijumpai pada batang otak
dan kornu anterior medulla spinalis. Gangguan pada LMN memberikan kelumpuhan tipe
LMN yaitu parese yang sifatnya flaccid, arefleksi, tak ada refleks patologis, atrofi cepat
terjadi.2
3. Susunan Somestesia
Perasaan yang dirasa oleh bagian tubuh baik dari kulit, jaringan ikat, tulangmaupun
otot dikenal sebagai somestesia.2
Terdiri :

Perasaan eksteroseptif dalam bentuk rasa nyeri, rasa suhu dan rasa raba.
Perasaan proprioseptif : disadari sebagai rasa nyeri dalam, rasa getar, rasa tekan,rasa

gerak dan rasa sikap.


Perasaan luhur : Diskriminatif & dimensional

Menentukan tinggi lesi medula spinalis berdasarkan :


Gangguan Motorik
Biasanya timbul kelumpuhan yg sifatnya paraparese / tetraparese
- Paraparese UMN : lesi terdapat supranuklear thd segmen medula spinalis lumbosakral (L2S2).
- Paraparese LMN : lesi setinggi segmen medula spinalis L2-S2 atau lesi infranuklear.
- Tetraparese UMN : lesi terdapat supranuklear terhadap segmen medulaspinalis servikal IV.
- Tetraparese : ekst.superior LMN, ekst. Inferior UMN
Gangguan Sensibilitas
o Gangguan rasa eksteroseptif
o Gangguan rasa proprioseptif
Gangguan sensibilitas segmental :
14

o Lipatan paha : lesi Medula spinalis L1


o Pusat : lesi med. spinalis thorakal 10
o Papila mammae : lesi med. spinalis th. 4
o Saddle Anestesia : lesi pada konus
Gangguan sensibilitas radikuler :
o Ggn sensibilitas sesuai dgn radiks post.
Gangguan sensibilitas perifer :
o Glove/stocking anesthesia
Gangguan Susunan Saraf Otonom
o Produksi keringat
o Bladder : berupa inkontinensia urinae atau uninhibited bladder.
Autonomic bladder/ spastic bladder lesi medula spinalis
supranuklearterhadap segmen sakral.
Flaccid bladder/ overflow incontinence

lesi pada sakral

medulaspinalis.

2.3 MIELITIS TRANSVERSA


2.3.1 Definisi
Mielitis transversa adalah kelainan neurologi yang disebabkan oleh peradangan
sepanjang medulla spinalis baik melibatkan satu tingkat atau segmen dari medulla spinalis.
Istilah mielitis menunjukkan peradangan pada medulla spinalis, trasversa menunjukkan posisi
dari peradangan sepanjang medulla spinalis. Serangan inflamasi pada medulla spinalis dapat
merusak atau menghancurkan mielin yang merupakan selubung serabut sel saraf. Kerusakan
ini menyebabkan jaringan parut pada sistem saraf yang menganggu hubungan antara saraf
pada medulla spinalis dan tubuh.7
Mieliti transversa merupakan suatu gangguan neurologi yang disebabkan oleh
kehilangan selubung mielin pada medulla spinalis, disebut juga sebagai demielinisasi.
Demielinisai ini muncul secara idiopatik menyertai infeksi atau vaksinisasi, atau disebabkan
multipel sclerosis. Salah satu teori mayor tentang penyebabnya adalah bahwa inflamasi
immune-mediated adalah sebagai suatu hasil paparan terhadap antigen virus. Kelainannya
berupa inflamasi melibatkan medulla spinalis pada kedua sisinya. Pada mielitis transversa
akut, onset terjadi tiba tiba dan progresif dalam beberapa jam dan atau beberapa hari. Lesi
dapat terjadi di setiap bagian dari medulla spinalis meskipun biasanya terbatas pada bagian
kecil saja. 8

15

2.3.2 Epidemiologi
Mielitis transversa dapat diderita oleh orang dewasa dan anak anak baik pada semua
jenis kelamin maupun ras. Usia puncak insidens mielitis transversa terjadi antara umur 10-19
dan 30-39 tahun. Meskipun sedikit peneliti yang meneliti rata-rata insidensi tersebut,
diperkirakan sekitar 1400 kasus baru tiap tahun di diagnosa sebagai mielitis transversa di
amerika serikat. 8
2.3.3 Etiologi
Para peniliti tidak dapat menentukan secara pasti penyebab mielitis transvera.
Infalamasi yang menyebabkan kerusakan yang luas pada serabut saraf dari medulla spinalis
dapat disebabkan oleh infeksi viral, reaksi autoimun yang abnormal atau menurunnya aliran
darah melalui pembuluh darah yang terletak pada medulla spinalis . Mielitis tranversa dapat
juga terjadi sebagai komplikasi dari syphilis, campak, penyakit lyme, dan beberapa vaksinasi
termasuk chichenpox dan rabies. Beberapa kasus yang penyebabnya tidak dapat diketahui
disebut idiopatik.
Mielitis transversa sering terjadi setelah infeksi virus. Agent infeksi perkirakan
penyebab mielitis tranversa termasuk varicella zooster (virus yang menyebabkan chickenpox
dan shingella), herpes simplek, sitomegalovirus, Epstein-Barr, influensa, echovirus, human
immunodeficiency virus (HIV), hepatiti A dan rubella. Mielitis transversa juga dihubungkan
dengan beberapa infeksi bakteri pada kulit, infeksi telinga tengah (otitis media), dan
Mycoplasma pneumoniae (pneumonia bakterial).
Pada kasus mielitis transversa post infeksi, mekanisme sistem immun baik pada viral
atau infeksi bakteri tampaknya berperan penting dalam menyebabkan kerusakan saraf spinal.
Walaupun peneliti belum mengetahui secara tepat mekanisme kerusakan saraf spinal.
Rangsangan sistem immun sebagai respon terhadap infeksi menunjukkan bahwa suatu reaksi
autoimmune yang bertanggung jawab. Pada penyakit autoimun, sistem imun yang secara
normal melindungi tubuh terhadap organisme,melakukan kesalahan dengan menyerang
jaringan tubuh sendiri yang menyebabkan inflamsi dan pada beberapa kasus merusak mielin
medulla spinalis. Mielitis transversa juga terdapat pada beberapa penyakit autoimun seperti
systemic lupus erythematosus, Sindrom Sjogren's, dan sarcoidosis. Kadang kadang pada
mielitis transversa akut yang berkembang dengan cepat sebagai tanda awal serangan dari
multipel sklerosis
Beberapa kasus mielitis transversa disebabkan oleh malformai arteri-vena spinalis
(kelainan yang merubah aliran darah) atau penyakit vaskuler seperti atherosklerosis yang
16

menyebabkan iskemik. Sehingga menurunkan kadar oksigen pada jaringan medulla spinalis.
Iskemik dapat disebabkan perdarahan (hemorragik) dalam medulla spinalis, pembuluh darah
yang menyumbat atau sempit, atau faktor lainnya. Pembuluh darah membawa oksigen dan
nutrisi ke jaringan medulla spinalis dan membuang hasil metabolisme. Saat pembuluh darah
tersumbat atau menyempit dan tidak dapat membawa sejumlah oksigen ke jaringan medulla
spinalis. Saat area medulla spinalis menjadi kekurangan oksigen atau iskemik. sel dan
serabut saraf mulai mengalami perburukan secara cepat. Kerusakan ini menyebabkan
inflamasi yang luas kadang kadang menyebabkan mielitis transversa. 9
2.3.4 Patologi
Makroskopis pada medulla spinalis yang mengalami peradangan akan tampak edema,
hiperemi dan pada kasusberat terjadi perlunakan (mielomalasia).10
Mikroskopis akan tampak pada leptomening tampak edema, pembuluh pembuluh
darah yang melebar dengan infiltrasi perivaskuler dan pada medulla spinalis tampak
pembuluh darah yang melebar dengan infiltrasi perivaskuler (limfosit/leukosit) di substansia
grisea dan alba. Tampak pula kelainan degeneratif pada sel - sel ganglia, pada akson akson
dan pada selubung mielin, disamping itu tampak adanya hiperplasia dari mikroglia. Traktus
traktus panjang disebelah atas atau bawah daripada segemen yang sakit dapat
memperlihatkan kelainan kelainan degeneratif.11
2.3.5 Gambaran Klinis
Mielitis tranversa dapat terjadi secara akut (terjadi dalam beberapa jam sampai
beberapa hari) atau subakut (terjadi dalam satu atau dua minggu). Gejala awal umumnya
meliputi sakit pinggang didaerah yang terlokalisasi, parastesia yang mendadak (perasaan
yang abnormal seperti terbakar, gatal, tertusuk, atau perasaan geli) di kaki, hilangnya
sensorik dan paraparesis (kelemahan pada sebagian kaki). Paraparesis sering menjadi
paraplegia (kelemahan pada kedua kaki dan pungung bagian bawah). Gangguan fungsi
kandung kemih dan buang air besar sering terjadi. Beberapa penderita juga melaporkan
mengalami spasme otot, gelisah, sakit kepala, demam, dan hilangnya selera. Tergantung pada
segmen medulla spinalis yang terlibat, beberapa penderita mengalami masalah dengan sistem
respiratori. Dari beberapa gejala, muncul empat gejala klasik mielitis tranversa :

kelemahan otot atau paralisis kedua lengan atau kaki.

17

Nyeri

kehilangan rasa pada kaki dan jari jari kaki

Disfungsi kandung kemih dan buang air besar

Beberapa penderita mengalami tingkatan kelemahan yang bervariasi pada kaki dan
lengan. Pada awalnya penderita dengan mielitis tranversa terlihat bahwa mereka terasa berat
atau menyerat salah satu kakinya atau lengan mereka terasa lebih berat dari normal.
Pergerakan tangan dan kaki misalnya kekuatan dapat mengalami penurunan. Beberapa
minggu penyakit tersebut secara progresif berkembang menjadi kelemahan kaki secara
menyeluruh, akhirnya menuntut penderita untuk menggunakan suatu kursi roda.
Nyeri adalah gejala utama pada kira- kira sepertiga hingga setengah dari semua
pendrita mielitis transvera. Nyeri terlokalisir di pinggang atau perasaan yang menetap seperti
tertusuk atau tertembak yang menyebar ke kaki, lengan atau badan .
Penderita juga mengalami gangguan sensorik seperti kebas ,perasaan geli, kedinginan
atau perasaan terbakar. Hampir 80 % penderita mielitis transversa mengalami kepakaan yang
tinggi terhadap sentuhan misalnya pada saat perpakaian atau sentuhan ringan dengan jari
menyebabkan ketidak nyamanan atau nyeri (disebut allodinia). Beberapa penderita juga
mengalami pekaan yang tinggi terhadap perubahan temperatur atau suhu panas atau dingin7
2.3.6 Diagnosa dan diagnosa banding
Mielitis transversa harus dibedakan dari mielopati akibat kompresi medulla spinalis
(baik karena neoplasme medulla spinalis instrinsik maupun ekstrinsik, ruptur diskus
intervertebralis akut), infeksi epidural dan polineuritis pasca infeki akut (sindroma guillain
barre).10
Mendiagnosa mielitis tranversa dengan pemeriksaan riwayat perjalanan penyakit
dan pemeriksaan fisik dan neurologi. Karena sering sulit untuk membedakan antara penderita
idiopatik dengan penderita yang mempunyai suatu penyakit, pemeriksa pertama sekali harus
menyingkirkan penyebab tersebut. Bila dicurigai trauma medulla spinalis, harus dicari untuk
menyingkirkan lesi (daerah yang mengalami kerusakan atau kelainan fungsional) yang
menyebabkan penekanan medulla spinalis . Lesi lesi yang berpotensi menekan medulla
spinalis misalnya tumor, herniasi,bergesernya diskus, stenosis (penyempitan saluran yang
menahan medulla spinalis) atau abses. Untuk menyingkirkan lesi dan memeriksa inflamasi
18

medulla spnalis. Penderita sering di MRI, suatu prosedur untuk melihat gambaran otak dan
medulla spinalis. Pemeriksa juga melakukan myelografi dimana menyuntikkan bahan
kedalam saluran dalam medulla spinalis. 9
Pungsi lumbal dapat dilakukan pada mielitis transversa biasanya tidak didapati
blokade aliran likuor, pleoitosis moderat (antara 20 200 sel/mm3) terutama jenis limposit,
protein sedikit meninggi (50 120 mg / 100ml) dan kadar glukosa norma. Berbeda dengan
sindroma gullain barre dimana djumpai peningkatan kadar protein tanpa disertai pleositosis.
Pada sindroma gullain barre, jenis kelumpuhan flakid serta pola gangguan sensibilitasnya di
sampaing mengenai kedua tungkai juga terdapat pada kedua lengan (glove and stocking).
Lesi kompresi medulla spinalis dapat dibedakan dari mielitis karena perjalanan penyakitnya
tidak akutsering didahului dengan nyeri segmental sebelum timbulnya lesi parenkim medulla
spinalis. Selain itu pada pungsi lumbal djumpai blokase aliran likuor dengan kadar protein
yang meningkat tanpa disertai adanya sel. Pemerikaan foto polos vertebra antero posterior
dan lateral,mielografi dan sken tomografi akan lebih memastikan ada tidaknya lesi kompresi
medulla spinalis tersebut.10
Test darah dilakukan untuk menyingkirkan bebebagai penyakit lainnya seperti lupus
erithematosus sistemik, HIV, dan defisiensi vitamin B12. Pada penderita mielitis transversa,
cairan cerebrospinal dalam medulla spinalis dan otak mengandung protein lebih tinggi dan
peningkatan leukosit yang mengindikasikan adanya infeksi. Bila tidak ada penyebab yang
jelas dari test tersebut, penderita dianggap menderita mielitis transversa idiopatik.9

2.3.7 Pengobatan
Tujuan pengobatan pertama ditujukan untuk meredakan respon immun yang
disebabkan oleh trauma medulla spinalis. Pengobatan awal pada penderita mielitis tranversa
dengan pemberian steroid dosis tinggi secara intravena atau oral. Pada beberapa kasus,obat
immunosuppresent yang sangat kuat seperti cyclophosphamide boleh diberikan. Pada
beberapa penderita dengan mielitis transversa sedang dan berat diberikan steroid selama 5
sampai 7 hari. suatu prosedur yang disebut plasma exchange dapat digunakan. Prosedur ini
melibatkan memindahkan darah dari pasien, dan pemisahan ke dalam sel darah dan plasma
(cairan). Sel darah kemudian bercampur menjadi suatu pengganti cairan plasma buatan dan
kembali ke pasien itu. Karena sel sel immun di dalam plasma, ini secara efektif dapat
merusakkan sel imun pada tubuh, yang dapat membantu mengatasi kerusakan mielin.12

19

Pemberian glukokortikoid atau ACTH , biasanya diberikan pada penderita yang


datang dengan gejala awitannya sedang berlangsung dalam waktu 10 hari pertama atau bila
terjadi progresivitas defisit neurologik. Glukokortikoid dapat diberikan dalam bentuk
prednisolon oral 1 mg / kg berat badan / hari sebagai dosis tunggal selama 2 minggu lalu
secara bertahap dan dihentikan setelah 7 hari. Bila tidak dapat diberikan peroral dapat pula
diberikan metilprednisolon secara intravena dengan dosis 0,8 mg / kg/hari dalam waktu 30
menit. Selain itu ACTH dapat diberikan secara intramuskular dengan dosis 40 unit dua kali
perhari (selama 7 hari), lalu 20 unit dua kali sehari (selama 4 hari) dan 20 unit dua kali
perhari (selama 3 hari) . untuk mencegah efek samping kortikosteroid, penderita diberi diet
rendah garam dan simetidin 300 mg 4 kali / hari atau ranitidin 150 mg 2 kali / hari. Selain itu
sebagai alternatif dapat diberikan antasida peroral.10
Pengobatan mielitis tranversa diusahakan selama 6 bulan mulai dari serangan. Setelah
itu, sebaiknya upaya pengobatan lebih efektif diarahkan ke rehabilitasi dan rehabilitasi harus
dimulai sedini mungkin untuk mengurangi kontraktur dan mencegah tromboemboli.
Nyeri atau dysesthesias (perasaan gelisah, seperti terbakar, tertuk peniti atau jarum,
atau perasaan tersengat listrik) diobati dengan obat obatan seperti gabapentin,
carbamazepine, nortriptyline, atau tramadol. Pengobatan yang lain nyeri dan dysesthesias
adalah transcutaneous elecrical nerve stimulation disebut TENS terapi,Ini melibatkan
penggunaan dari suatu alat yang merangsang area nyeri dengan suatu loncatan listrik yang
kecil sehingga mengganggu sensasi rasa nyeri.
Pemasangan kateter diperlukan karena adanya retensi urin dan untuk mencegah
terjadinya infeki raktus urinarius dilakukan irigasi dengan antieptik dan pemberian antibiotik
profilaksis (trimetropin sulfametoksasol) 1 gram tiap malam. Konstipasi dan dan retensi
urin sering merupakan masalah pada penderita dengan mielitis transversa. Oxybutinin,
hyoscyamine, tolterodine, dan propantheline sering dapat mengobati beberapa masalah
kandung kemih pada penderita mielitis transversa. Pada saat terdapat retensi urin, rangsangan
nervus sakralis dapat membantu penderita mencegah pemakaiaan kateter berulang.Dulcolax,
senekot, dan bisacodyl dapat membantu memperbaiki konstipasi.10,12
Pencegahan dekubitus dilakukan dengan alih baring tiap 2 jam. Bila terjadi
hiperhidrosis dapat diberikan propantilinbromid 15 mg sebelum tidur. Disamping terapi
medikamentosa maka diet / nutrisi juga harus diperhatikan, 125 gra protein, vitamin dosis
tinggi dan cairan sebanyak 3 liter perhari dibutuhkan. Setelah masa akut berlalu maka tonus
otot mulai meninggi sehingga sering timbul spasme kedua tungkai, hal ini dapat diatasi
dengan pemberian baclofen 15-80 mg / hari, atau diazepam 3 4 kali 5 mg / hari.
20

2.3.8 Prognosis
Perbaikan dari mielitis tansversa biasanya dimulai antara 2 sampai 12 minggu dari
onset gejala dan mungkin berlangsung sampai 2 tahun. Bagaimanapun bila tidak ada
perbaikan dalam 3 6 bulan pertama, maka tidak dijumpai penyembuhan yang signifikan.
Sekitar sepertiga dari orang orang yang terinfeksi mielitis transversa akan mengalami
penyembuhan yang sempurna dari gejala klinisnya, mereka kembali dapat berjalan normal
dan gejala yang minimal pada kandung kemih,buang air besar dan parastesia. Sertiga lainnya
mengalami perbaikan dan meninggalkan defisit neurologis seperti gaya berjalan yang spastik,
disfungsi sensorik dan sering kencing atau inkontinensia urin. Sepertiga lainnya tetap tidak
mengalami perbaikan sama sekali, mereka tetap dikursi roda atau berbaring ditempat tidur
dengan tergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Meskipun sulit
membuat prediksi pada setiap kasus, para peneliti menyatakan bahwa onset gejala yang cepat
secara umum menghasilkan perbaikan yang jelek .
Kebanyakan penderita hanya mengalami sekali episode gangguan meskipun jarang,
kasus rekuren atau relaps mileitis transvera dapat terjadi . beberapa pasien sembuh secara
sempurna kemudian mengalami relaps kembali. Pada kasus relaps . dokter akan menyelidi
kemungkinan penyebab seperti MS atau lupus erythematosus sistemik sejak penderita
mengalami releaps tersebut.7

DAFTAR PUSTAKA

21

1. Aminorf, J.M., Greenberg, A.D., and Simon, P.R., 2005. Clinical Neurology. Edisi
7. USA:Lange Medical Books/McGraw-Hill.p 155-157
2. Dorland, W.A Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. Jakarta: EGC.
3. Diana Kohnle. 2011. Paraplegia. Keck Medical Center of University Of Sourthern
California.

Diakses

dari

http://www.keckmedicalcenterofusc.org/condition/document/230663 diakses 21 April


2016.
4. Adam, R.D., Victor, M. and Ropper, A.H. 2005. Principles of Neurology. Edisi 8.
NewYork : McGraw-Hill. p 50-52; 1049-1092
5. R. Putz, R. Pabst. 2006.Atlas Anatomi Manusia Sobotta. Edisi 21.Jilid 2. Jakarta:
EGC.
6. Sherwood L. 2007. Human physiology from cells to system. Edisi ke-6. Canada:
ThomsonBrooks/ Cole;.p. 77-211.
7. National Institut of neurological disorder and stroke, myelitis trasversa dalam
www.ninds.nih.gov/disorder/trasversemyeilitis diakses 21 April 2016
8. Anonymous. transversa myelitis Dalam www.wikipedia.org/wiki/trasverse myelitis .
diakses 22 April 2016
9. Anonymous, mielitis tranversa Dalam
www.healthnewsflash.com/conditions/transverse_myelitis.htm. Diakses 22 April 2016
10. Harsono, dr. 2003. Mielitis transversa Dalam Kapita Selekta Neurologi, Gajah mada
University press, Yogyakarta
11. Igusti Gede Ngoerah,dr,Prof. 1994. Mielitis Dalam Dasar Dasar Ilmu Penyakit
Saraf, Airlangga University Press, Surabaya
12. anonymous. Mielitis tranversa dalam www.answer.com/topic/transverse mielitis.
Diakses 22 April 2016

22