Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cooperation penelitian merupakan salah satu kurikulum yang ada di jurusan S1
Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Selain itu, kegiatan tersebut
diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang hal-hal yang belum pernah diajarkan di
bangku kuliah. Sehingga dengan adanya cooperation penelitian ini diharapkan mahasiswa
setelah lulus kuliah mampu menyelaraskan antara ilmu pengetahuan yang diperoleh di
kuliah dengan aplikasi praktis di dunia kerja.
Untuk mencapai hasil yang optimal dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dibutuhkan kerjasama dan jalur komunikasi yang baik antara perguruan tinggi,
industri, instansi pemerintah dan swasta. Kerjasama ini dapat dilaksanakan dengan
penukaran informasi antara masing-masing pihak tentang korelasi antara ilmu di perguruan
tinggi dan penggunaan di lembaga penelitian.
Sesuai dengan kurikulum jurusan Fisika bidang minat Geofisika ITS, yaitu adanya
mata kuliah cooperation penelitian (2 SKS), maka kami memilih BMKG sebagai salah satu
lembaga yang diharapkan dapat menjalin kerjasama dengan jurusan Fisika ITS. Di mana
bentuk kerjasama ini berupa pengiriman wakil mahasiswa Fisika untuk melaksanakan
cooperation penelitian. Selain itu, kami memilih BMKG karena lembaga ini juga bergerak
di bidang kebumian yang memiliki keterkaitan dengan disiplin ilmu pengetahuan yang
kami peroleh di bangku kuliah khususnya pada mata kuliah seismologi. Selain itu, dengan
adanya kerjasama ini, maka diharapkan nantinya kami juga dapat mempraktekkan
pengetahuan yang sudah didapat di bangku perkuliahan dan pihak BMKG dapat memberi
pengetahuan tambahan atau menyelesaikan tantangan-tantangan yang ada bersama dengan
mahasiswa yang sedang melakukan cooperation penelitihan.
Penelitian tentnag penentuaan letak hiposenter pada gempa bumi sangat perlu
dilakukan hal ini disebakan estimasi yang dilakukan secara real time yang diberikan oleh
BMKG dinilai masih kurang. Hal ini disebabkan penentuan letak hiposenter lakukan
semata-mata untuk memberikan informasi sesegera mungkin kepada masyarakat dan masih
menggunakn model kecepatan 1 dimensi yang bersifat global. Sehingga pada cooperation
penelitian ini dilakukan relokasi hiposenter gempa bumi dengan menggunakan velest33,
studi kasus : gempa bumi Sumatra Selatan.
1.2 Dasar Pemikiran
1. Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia
yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur,
berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin,
beretos kerja, profesional, bertanggung jawab dan produktif serta sehat jasmani dan
rohani.

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 1

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

2. Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian


masyarakat.
3. Tujuan Pendidikan ITS, yaitu kepemimpinan, keahlian, berpikir ilmiah dan sikap
hidup masyarakat.
4. Syarat kelulusan mata kuliah cooperation penelitian di Jurusan Fisika FMIPA-ITS.
5. Diperlukan keselarasan antara sistem pendidikan tinggi dan dunia kerja.
6. Diperlukan sarana untuk mengimplementasikan ilmu-ilmu yang didapat di bangku
kuliah pada dunia kerja.
1.3 Tujuan Cooperation Penelitihan
Tujuan dari pelaksanaan Cooperation penelitihan di BMKG Propinsi Jawa Timur
ini terdiri atas dua hal, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Adapun tujuan masingmasing akan dijelaskan sebagai berikut :
Tujuan Umum
1. Terciptanya suatu hubungan yang sinergis, jelas, dan terarah antara dunia
perguruan tinggi dengan dunia kerja sebagai pengguna outputnya
2. Membuka wawasan mahasiswa agar dapat mengetahui dan memahami sistem
kerja di dunia kerja sekaligus mampu mengadakan pendekatan, penyerapan, dan
pemecahan masalah yang berasosiasi dengan dunia kerja secara utuh.
4. Menumbuhkan dan menciptakan pola pikir kontruktif yang berwawasan bagi
mahasiswa dan dunia kerja.
Tujuan Khusus
1. Mengetahui kedalaman hiposenter hasil relokasi dengan menggunakan software
Vellest33.
2. Mengetahui hasil relokasi menggunakan Velest33
1.4 Tema Cooperation Penelitihan
Adapun tema yang diambil untuk Cooperation penelitihan ini adalah Relokasi
Hiposenter Gempa Bumi dengan Menggunakan Vellest33. Studi kasus : Gempa Bumi
Sumatra Selatan.
1.5 Manfaat Cooperation Penelitihan
Adapun manfaat-manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan cooperation
penelitihan ini adalah sebagai berikut:
Manfaat bagi Mahasiswa:
1. Mendapatkan gambaran tentang kondisi real di Lembaga penelitian dan memiliki
pengalaman terlibat langsung dalam aktivitas penelitian sehingga mendapatkan
pemahaman yang lebih baik mengenai lembaga penelitian.
2. Kegiatan cooperation penelitihan ini juga dapat mengembangkan wawasan
berpikir, bernalar, menganalisa dan mengantisipasi suatu problema, dengan
mengacu pada materi teoritis dari disiplin ilmu yang ditempuh dan mengaitkannya
dengan kondisi sesungguhnya, sehingga mahasiswa dapat lebih sigap dan siap

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 2

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

menghadapi berbagai problema di lapangan, serta mempunyai kemampuan untuk


mengembangkan ide-ide kreatif dan inovatif.
Manfaat bagi Lembaga penelitian:
1. Dapat memperoleh masukan mengenai kondisi dan permasalahan yang dihadapi di
lembaga penelitian.
2. Mengetahui metode-metode baru yang diperoleh dari materi di perkuliahan yang
dapat diaplikasikan pada lembaga penelitian tersebut berkaitan dengan
permasalahan yang dihadapi.
Manfaat bagi Perguruan Tinggi:
Sebagai tambahan referensi khususnya mengenai perkembangan penelitian di
Indonesia maupun proses teknologi yang mutakhir.

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 3

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gempa Bumi
Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam
bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi.
Akumulasi energy penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari pergerakan lempenglempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang
gempa bumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.

Gambar 2.1 Lempeng tektonik(USGS 1999)

Menurut teori lempeng tektonik, permukaan bumi terpecah menjadi


beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak bumi
yang mengapung diatas astenosfer yang cair dan panas. Oleh karena itu, maka
lempeng tektonik ini bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain.

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 4

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik,


merupakan
tempat-tempat
yang
memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang menyebabkan gempa bumi, gunung berapi
dan pembentukan dataran tinggi. Teori lempeng tektonik merupakan kombinasi dari
teori sebelumnya yaitu teori pergerakan benua (Continental Drift) dan Pemekaran
dasar samudra (Sea Floor Spreading). Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir merupakan
batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku.
Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut
mantel. Lapisan ini sedemikian panasnya sehingga senantiasa dalam keadaan tidak
kaku sehingga dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang
kita kenal sebagai aliran konveksi. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari
litosfir padat dan terapung diatas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Ada tiga
kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya yaitu
apabila kedua lempeng saling menjauhi, saling mendekati dan saling geser.(Yanuarsih,
2012)
Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling
menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung
lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0-15 cm per
tahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi
pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada
lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi
pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempabumi.

Gambar 2.2 struktur lapisan bumi(USGS, 1999)

Menurut teori elastic rebound, mekanisme sumber gempa bumi dapat dijelaskan
sebagai berikut, jika terdapat 2 buah gaya yang bekerja dengan arah berlawanan pada
batuan kulit bumi, batuan tersebut akan terdeformasi, karena batuan mempunyai sifat
elastis. Bila gaya yang bekerja pada batuan dalam waktu yang lama dan terusmenerus, maka daya dukung pada batuan akan mencapai batas maksimum dan
akan mulai terjadi pergeseran. Akibatnya batuan akan mengalami patahan secara
tiba-tiba sepanjang bidang sesar (fault) setelah itu batuan akan kembali stabil, namun
sudah mengalami perubahan bentuk atau posisi. Pada saat batuan mengalami gerakan
Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 5

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

yang tiba-tiba akibat pergeseran batuan, energi stress yang tersimpan akan dilepaskan
dalam bentuk getaran yang kita kenal sebagai gempa bumi.
2.2 Gelombang Gempa Bumi
Dalam peristiwa gempa bumi, batuan menunjukkan sifatnya sebagai padatan
elastik. Padatan elastik ini dapat menjalarkan berbagai fase gelombang sehingga dapat
mengakibatkan adanya pergerakan permukaan tanah setelah gempa terjadi. Ada dua tipe
gelombang elastik dasar, yaitu:
3. Gelombang yang mengakibatkan kompresi dan peregangan
material dalam arah perambatan gelombang.
4. Gelombang yang mengakibatkan pergeseran material elastik
dalam bidang tegak lurus arah perambatan gelombang
Macam gelombang di atas disebut sebagai gelombang P dan S. Gelombang P
merupakan gelombang primer yang merambat lebih cepat dan datang pertama kali serta
tajam (kandungan frekuensi yang lebih tinggi). Gelombang ini dapat merambat melalui
medium padat, cair dan gas. Kecepatan gelombang P dalam padatan kira-kira sekitar
1.8 sampai 7 km/s, dan periodenya terletak antara 5 sampai 7 detik. Gelombang S
merupakan gelombang sekunder atau transversal, dimana gelombang ini datang
setelah gelombang P dan ditandai dengan amplitudo yang lebih besar dari gelombang
P dan kandungan frekuensi yang lebih rendah, periodenya berada antara 11 sampai 13
detik. Gelombang S tidak dapat merambat pada medium gas atau cairan, sehingga
tidak ada gelombang S yang dapat merambat dalam inti bumi luar dan lautan.
Kedua fase gelombang ini dan turunan-turunannya (akibat dari transmisi, refraksi dan
konversi gelombang) merambat dengan sudut yang riil, yaitu sudut datang di bawah
0
90 .

(a)

(b)

(c)
Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 6

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

(d)
Gambar 2.2 Gelombang Gempa Bumi:(a) Gelombang P, (b) Gelombang S, (c) Gelombang R,
(d) Gelombang L(USGS, 2012)

Kombinasi antara dua tipe gelombang kompresi dan geser di atas dengan sudut
datang yang kompleks (terjadi ketika transmisi dengan sudut bias di atas 900) dan di
tangkap di permukaan bumi disebut sebagai gelombang permukaan. Ada dua tipe
gelombang permukaan yaitu gelombang Rayleigh dan gelombang Love. Gelombang
Rayleigh terdiri dari campuran gerakan kompresi dan gerakan transversal. Keduanya
bergerak lebih lambat dari gelombang P dan S, sehingga datang lebih lambat pula dan
mempunyai amplitudo yang besar dengan kandungan frekuensi yang rendah. Selain itu,
keduanya mempunyai amplitudo yang besar karena keduanya berjalan sepanjang
permukaan bumi (Santosa, 2002)
2.3 Parameter Gempa Bumi
Seiring dengan bertambahnya tingkat peradaban ilmu, muncul kajian-kajian
khusus tentang gempa bumi, dampak yang timbul akibat gempa bumi, deskripsi gempa
bumi secara teoritis melalui pemodelan maupun pemanfaatan informasi yang
diindikasikan oleh gempa bumi hingga kajian tentang parameter- parameter yang dapat
disimpulkan dari penjalaran gelombang- gelombang tersebut (Garland,1979).
Parameter gempa yang dikenal saat ini ada 4, yaitu:
1. Waktu terjadinya gempa bumi (origin time)
2. Lokasi pusat gempa bumi (episenter)
3. Kedalaman pusat gempa bumi (depth)
4. Kekuatan gempa bumi (magnitudo)
Episenter dan kedalaman dari suatu gempa bumi sering disebut sebagai
hiposenter gempa bumi.(Susilawati,2008)
2.4 Episenter Gempa Bumi
Dalam seismologi, yang merupakan ilmu yang mempelajari gempa bumi dan
struktur dalam bumi dengan menggunakan gelombang seismik yang didapatkan dari
gempa bumi atau sumber lain, terdapat beberapa istilah. Diantaranya adalah hiposenter dan
episenter. Hiposenter merupakan pusat gempa dalam bumi dan episenter adalah proyeksi
hiposenter ke permukaan bumi. Berdasarkan lokasi episenternya, secara umum gempa
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
1. Gempa bumi dekat atau lokal

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 7

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

Merupakan gempa dengan jarak episenternya terhadap stasiun pencatat tidak lebih dari
beberapa ratus kilometer sehingga kelengkungan bumi dapat diabaikan
(Gunawan,1985). Gempa lokal dimanfaatkan untuk menyelidiki struktur permukaan
bumi.
2. Gempa bumi jauh atau teleseismik
Merupakan gempa dengan jarak episenternya terhadap stasiun pencatat lebih dari 1000
kilometer (Sumner, 1970). Kategori gempa inilah yang memegang peranan penting
dalam penentuan struktur bagian dalam bumi. Banyak metode yang telah dilakukan oleh
ahli seismologi untuk menentukan episenter maupun hiposenter dari gempa bumi yaitu
dengan metode lingkaran, metode hiperbola, metode bola, metode tripartit, metode
Geiger dan lain sebagainya (Susilawati,2008).
2.5 Kedalaman Gempa Bumi
Gempa bumi dapat terjadi di antara permukaan bumi sampai 700 km di bawah
permukaan. Gempa bumi pada rentang kedalaman 0 700 km dibagi menjadi 3 daerah
yaitu dangkal, menengah dan dalam. Gempa bumi dangkal adalah gempa pada kedalaman
0 70 km. Gempa bumi menengah pada kedalaman 70 300 km dan gempa bumi dalam
pada kedalaman 300 700 km.
Kedalaman dari suatu gempa dapat diketahui melalui seismogram yaitu melalui
rekaman gelombang permukaannya. Walaupun pola gelombang permukaan tidak selalu
mengindikasikan jenis gempa bumi berdasarkan kedalamannya, namun metode yang
paling akurat untuk menentukan titik fokus dari gempa bumi adalah dengan membaca
rekaman fase pada seismogram. Fase untuk kedalaman adalah karakteristik fase pP, refleksi
gelombang P dari permukaan bumi pada suatu titik di dekat. Pada jarak stasiun
seismogram, pP mengikuti gelombang P yang interval waktunya berubah secara perlahan
terhadap jarak tetapi berubah cepat terhadap kedalaman. Interval waktu ini, pP P (pP
minus P) , digunakan untuk menghitung kedalaman fokus. Dengan menggunakan
perbedaan waktu antara pP dan P yang terbaca pada seismogram dan jarak antara episenter
dan stasiun seismograf, kedalaman gempa bumi dapat ditentukan dari kurva travel time
atau tabel kedalaman.
Gelombang gempa lain yang digunakan untuk menentukan focal depth adalah fase
sP, refleksi dari gelombang S sebagai gelombang P dari permukaan bumi pada titik dekat
episenter. Gelombang ini terekam setelah pP, kira-kira 1,5 kali interval waktu pp-P.
Kedalaman gempa bumi dapat ditentukan dari fase sP dan dengan cara yang sama seperti
dengan menggunakan gelombang pP yaitu dengan menggunakan kurva travel time dan
tabel kedalaman untuk sP. Jika gelombang pP dan sP dapat diidentifikasi pada seismogram,
focal depth dapat ditentukan secara akurat.

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 8

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

BAB III
METODE KERJA PRAKTEK
3.1
1)
2)
3)
4)
5)

Pengambilan Data
Dalam melakukan relokasi hiposenter, data yang digunakan antara lain :
Data sinyal gempa bumi.
Data hiposenter yang meliputi data koordinat (longitude, latitude), kedalaman,
magnitudo dan waktu terjadinya gempa.
Data stasiun yang meliputi nama stasiun, koordinat stasiun (longitude, latitude)
serta ketinggian stasiun (altitude).
Data waktu tiba gempa di setiap stasiun.
Model kecepatan bumi 1-D.

3.2

Pengolahan Data
Data yang didapat dari proses ini adalah waktu datang gelombang P dan posisi
dari stasiun berupa nilai latittude dan longitude nya. Setelah mendapat data tersebut,
proses berlanjut dengan menggunakan software vellest33. Pada proses input file,
dimasukkan 3 jenis data, yaitu data stasiun yang meliputi nama stasiun dan letak stasiun,
model bumi berupa kedalaman dan kecepatan gelombang P dan fase gelombang P yang
meliputi nilai waktu datang gelombang datang P jenisnya. Setelah itu dilakukan running
terhadap data tersebut dan didapatkan output file berupa nilai hiposenter dari gempa
tersebut.

3.3

Pemetaan data hasil relokasi pada GMT(Generic Mapping Tools)


Setelah didapatkan output yang diharapkan yaitu berupa nilai hiposenter dari
gempa bumi, dilakukan penggambaran atau pemetaan hiposenter tersebut. Tahap ini
dilakukan dengan menggunakan software Generic Mapping Tools (GMT). Penggunaan
GMT ini dimulai dengan memasukkan input file dengan format yang telah ditentukan
dan kemudian akan didapatkan output file berupa gambar letak hiposenter dan letak
episenter dari semua data gempa. Untuk model kecepatan yang digunakan adalah model
kecepatan referensi 1-D. Model kecepatan ini sangat diperlukan untuk kalkulasi waktu
tempuh pada proses Vellest33.

3.4

Peralatan
Peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian ini antara lain komputer PC atau
Laptop, software pendukung, dan peta geologi.

3.5 Alur Pengolahan Data


Tahapan kerja yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 3.1 Diagram alir penelitian

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 9

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

STUDI LITERATUR

PENENTUAN LOKASI PENELITIAN

PENGUMPULAN DATA

PICKING WAKTU DATANG GELOMBANG P

PENGOLAHAN DATA MENGGUNAKAN VELLEST33

INPUT DATA

DATA STASIUN

DATA MODEL KECEPATAN

DATA FASE

OUTPUT
PEMETAAN MENGGUNAKAN GMT

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

KESIMPULAN

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

3.5 Waktu Pelaksanaan Kegiatan


Pelaksanaan cooperation penelitihan ini berlangsung selama 1 bulan pada
tanggal 20 januari-20februari 2015.

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 10

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Tahap Persiapan
Penelitian dilakukan dengan menggunakan 128 data gempa bumi yang terjadi di
Sumatra Barat dengan 1499 waktu tiba gelombang P yang terekam oleh 80 stasiun yang
didapatkan dari katalog BMKG. Data gempabumi diwilayah segmen sesar Sumatra Barat
dengan batas koordinat 4.3 LU - 5.6 LU dan 95 BT - 96.6 BT dengan magnitude antara 39.5 SR.Data diambil dari data katalog BMKG dengan interval waktu antara tahun 1-1-2014
30-12-2014. Jaringan stasiun pencatat yang digunakan untuk merelokasi gempabumi
sebanyak 80 Stasiun yang tersebar di wilayah pulau Sumatera.

Gambar 4.1 Peta persebaran hiposenter segmen Sumatra Barat selama tahun 2014

4.1.1 Program Converter


Untuk melakukan relokasi menggunakan velest33, data gempa yang didapatkan harus
disesuikan dengan format yang dapat dibaca oleh program velest33. Data yang didapatkan
berjumlah ratusan, sehingga akan memerlukan waktu yang terlalu lama apabila diubah
secara manual. Maka digunakan program pendukung yaitu Softtware converter data dari

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 11

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

jurnal gempa BMKG ke inut data software velest33. Program ini berbasis Python yang
dibuat oelh Tri Deni R. dan Andersen P.

Gambar 4.2 Tampilan software converter yang digunakan.

Langkah-langkah menggunakan software converter 0.2 :


1. Pastikan data gempa yang didapatkan dari catalog BMKG berada dalam satu folder
dengan software ini
2. Masukan nama file jurnal gempa BMKG dan tambahkan .txt diakhir nama sebagai
penanda extensi file
3. Tekan enter
4. Tunggu beberapa saat. Slesai
5. Didapatkan outfile berupa data yang sesuai format velest

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 12

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

Gambar 4.3 Hasil Konverter

Gambar 4.4 hasil yang didapatkan setelah konverter

Hasil yang didapatkan kemudian dilakukan editing mengunakan notepad++.


4.1.2 Notepad++
Output file yang didapatkan dari software converter selanjutnya dilakukan Editting
menggunakan notepad++ agarformat yang didapatkan lebih sempurna. Hal ini disebabkan
apabila format yang digunakan kurang tepat maka akan terjadi kesalahan program velest33
sehingga hasil relokasi tidak sempurna. Hasil akhir dari pengolahan menggunakan
Notepad++ adalah file di simpan dengan ekstensi .cnv agar dapat di baca oleh program
velest33.

Gambar 4.5 Proses Editting menggunakan notepad++

Ketentuan Format program velest33 :


Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 13

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Tahun bulan tanggal


Jam menit detik
Garis lintang dan garis bujur
Kedalaman
Kekuatan gempa (Magnitude)
KCSI : Nama stasiun, P1 : gelombang P
Waktu tiba gelombang

4.2 Tahap Relokasi


Proses relokasi dilakukan dengan menggunakan program Velest33. Data hasil pada
tahap persiapan yaitu file dengan ekstensi .cnv diletakan kedalam satu folder dengan
program velest33.
Didalam folder terdapat file dengan nama velest.cmn. File ini berisi control
parameter yang digunakan untuk menjalankan program velest33. File dapat dilakukan
penyesuaian dengan cara membukanya menggunakan notepad++.

Gambar 4.6 Tampilan file control parameter program velest33

Beberapa parameter yang telah diubah pada penelitian ini adalah


1. Olat : latitude, garis lintang

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 14

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

2.
3.
4.
5.

Olon
negs
dmax
ittmax

: longitude, garis bujur


: jumlah gempa bumi
: jarak maksimum antara stasiun dengan episenter
: maksimum itterasi

Pada file ini juga dimasukan parameter input yang disimpan dalam file yang berbeda
namun saling berkaitan, yaitu :
1. modelfile
: pada baris ke-40 berisi parameter model kecepatan bumi. Ketik
nama file yang berisi model kecepatan lapisan bumi
2. stasiunfile
: pada baris ke-43 berisi parameter kordinat stasiun. Ketik nama file
yang berisi kordinat stasiun yang digunakan.
3. File with Earthquake data : pada baris ke-63 berisi parameter data gempa bumi.
Selanjutnya, buka aplikasi velest33. Parameter-parameter yang telah ditentukan akan
diproses secara otomatis dan didapatkan output data. Output data yang didapatkan :
1. main output
2. final relokasi hiposenter
3. koreksi stasiun.
4.3 Instal GMT
GMT (Generic Mapping Tools) adalah software yang dapat digunakan untuk
memetakan hasil relokasi gempa bumi sehingga hasil yang didapatkan dapat dibaca secara
visual.
Berikut cara install GMT pada windows,
1. Download file-file berikut :
- GMT di http://gmt.soest.hawaii.edu/projects/gmt/wiki/Download, sesuaikan
dengan Windows 32 bit atau 64 bit
- Ghostscript
di http://sourceforge.net/projects/ghostscript/?source=dlp ,
ghostcript diperlukan untuk menerjemahkan bahasa postscript
- GSview
di http://pages.cs.wisc.edu/~ghost/gsview/get50.htm ,
sesuaikan
dengan jenis OS, GSview diperlukan sebgai graphical interface dari Ghostscript
untuk Windows.
- Gawk di http://ftp.gnu.org/gnu/gawk/gawk-4.1.1.tar.gz , gawk diperlukan untuk
memproses data-data text files
2. Instal software GMT, klik next saja dan finish, setelah itu restart computer

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 15

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

Gambar 4.7 instal software GMT

3. Untuk memastikan GMT sudah terinstal dengan benar, command prompt dibuka (Windows
+ R, cmd), lalu ketikkan "psxy". Jika GMT sudah terinstal maka akan muncul pengertian
psxy dan opsi-opsi dari perintah psxy (psxy adalah salah satu tool di dalam GMT).

Gambar 4.8 command prompt

4. Copy file gawk dan GSview ke C:\programs.


5. Buka Windows > My Computer > Klik kanan > Properties, pilih Advance System
Setting, selanjutnya klik Environment Variables. Lalu pada kotak User variables,
pilih "path" > edit > variable value > tambahkan alamat " ;C:\programs " > klik OK

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 16

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

Gambar 4.9 menambah variable value pada path windows

6. Untuk memastikan gawk sudah benar, buka command prompt, lalu ketikkan
"gawk". Jika sudah benar akan muncul opsi-opsi di gawk.

Gambar 4.10 command prompt untuk gawk

7. Pada C:\programs, diinstal software GSview yang sudah dicopy (pilih running pada
all program). Kemudian copy file Ghostscript ke folder C:\programs dan diinstal.
8. Selesai.
Untuk memastikan GMT telah dapat digunakan maka ketik "pscoast -JM15
-R120/122/-2/2 -Ggreen -Dh -Wthin -P > tes.ps" pada command prompt.

Gambar 4.11 command prompt untuk progam GMT

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 17

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

Jika sudah sesuai, maka di folder Users muncul file tes.ps. Buka file tersebut, maka
muncul peta yang dibuat.

Gambar 4.12 peta yang telah dibuat oleh GMT

4.4 Hasil Relokasi


Penelitian dilakukan dengan menggunakan 128 data gempa bumi yang terjadi di
Sumatra Barat dengan 1499 waktu tiba gelombang P yang terekam oleh 80 stasiun yang
didapatkan dari katalog BMKG. Data gempabumi diwilayah segmen sesar Sumatra Barat
dengan batas koordinat 4.3 LU - 5.6 LU dan 95 BT - 96.6 BT dengan magnitude antara 39.5 SR.Data diambil dari data katalog BMKG dengan interval waktu antara tahun 1-1-2014
30-12-2014. Jaringan stasiun pencatat yang digunakan untuk merelokasi gempabumi
sebanyak 80 Stasiun yang tersebar di wilayah pulau Sumatera.
Dari 128 event yang muncul, dilakukan pemilihan gempabumi lokal dengan syarat
gempa bumi harus di tangkap oleh minimal 6 stasiun pencacat agar episenter gempa bumi
setelah direlokasi didapatkan episenter yang lebih akurat. Sehingga terpilih 106 event
gempa yang memiliki stasiun pencacat lebih dari 6. Total waktu tiba gelombang P adalah
1404 waktu tiba. Data gempa bumi yang didapatkan dari jurnal BMKG dapat dilihat pada
lampiran.

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 18

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

Gambar 4.12 plotting relokasi gempa.

Sebelum relokasi

Setelah relokasi

Relokasi dengan menggunakan software velest memberikan hasil yang cukup berbeda
dengan data hiposenter awal. Hal ini dapat dilihat pada gambar 4.15. hasil plot kordinat
hiposenter setelah dilakukan relokasi dan data sebelum relokasi.
Program velest merupakan program relokasi hyposenter gempa dengan menghitung
beberapa waktu tiba gelomba P dari berbagai stasiun kemudian menghitungnya dengan
menggunakan metode joint hyposcenter determination. Dari hasil pengolahan data dengan
menggunakan velest ini didapatkan hasil relokasi kordinat gempa yang dapat dilihat pada
tabel 1 dan gambar 1. Warna kuning menunjukan data setelah relokasi dan warna merah
menunjukan data awal sebelum relokasi.
Sebaran episenter setelah direlokasi masih belum cukup menunjukan perbedaan yang
signifikan dengan persebaran episenter sebelum direlokasi. Hal ini disebabkan masih perlu
data stasiun yang lebih banyak dan juga model kecepatan bumi secara local pada wilayah
Sumatra.

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 19

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

Model Kecepatan Bumi


10
0
-10
-20
-30

kedalaman (km)

-40
-50
-60
-70
-80
-90
Gambar 4.13 model kecepatan bumi hasil relokasi

Selain itu juga didapatkan data eatimasi model kecepatan gelombang yang menjalar
dibawah permukaan. Lihat gambar 4.17. Kecepatan gelombang akan semakin besar seiring
dengan kedalaman yang bertambah. Hal ini dapat terjadi karena semakin dalam maka akan
semakain padat formasi tersebut sehingga kelombang akan lebih cepat menjalar.

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 20

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Persebaran gempabumi pasca relokasi menggunakan metode JHD pada
software Velest33 menunjukkan kecenderungan event gempabumi berkumpul
pada garis segmen sesar dan sebagian besar kedalaman hiposenternya
mengalami kenaikan.
2. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa program velest33
mampu mengestimasi hiposenter dengan lebih akurat dengan menggunakan
metode JOINT HIPYPOCENTER DETERMINATION.
5.2 Saran
Analisis kegempaan dengan relokasi menggunakan Velest33 masih perlu
dilakukan banyak koreksi, salah satunya model kecepatan bumi yang lebih akurat
sangat dibutuhkan dalam proses relokasi. Selain itu jumlah event yang teramati masih
perlu ditambahkan agar hasil peneitian mampu memperlihatkan zona sesar yang lebih
teliti. Analisis lanjutan seperti proses inversi untuk melihat zona sesar juga bisa
ditambahkan agar penilitan melihatkan hasil yang lebih akurat.
.

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 21

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

DAFTAR PUSTAKA
Azizah, KUNNI. 2014. relokasi gempa menggunakan joint hypocenter determination. Brawijaya: Malang.
SRI, Heru. 2012. Geologi sumatra.
St.onge. 2011. Akaike Information Criterion Applied to Detecting First Arrival Times on Microseismic Data.
CWLS Convention
Raga. 2012.raga-bhumi.blogspot.com
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (www.bmkg.go.id)
Douglas, A., Browers, D., and Young, J.B., 1997. On the onset of P seismograms, J. Geophys. Int. 129, 681
690.
Engdahl, E. R., van der Hilst, R. D. and Buland, R.P. (1998). Global teleseismic earthquake relocation with
improved travel times and procedures for depth determination, Bull. seism. Soc. Am., 88, 722-743.
Gunawan. 1985. Penentuan Hiposenter dan Origin Time Gempa Lokal Dengan Metode Geiger. Thesis.
UGM.
Kennett, B.L.N., Engdahl, E.R., and Buland, R., 1995. Constraint on Seismic Velocities in the Earth from
Traveltimes. Geophys. J. Int., Vol. 122, 108 -124.
Okada, Y., 1992. Internal Deformation Due to Shear and Tensile Faults in a Half-Space. Bull.Seismo.
Soc. Am., Vol.82, No. 2, 1018-1040.
Rohadi, Supriyanto, Sri Widiyantoro, Andri Dian Nugraha dan Masturyono., 2012.Relokasi hiposenter
gempa di Jawa Tengah menggunakan inversitomografi Double Difference simultandan data dari
katalog MERAMEX.JTM XVIII, 2/2012.
Rohadi, Supriyanto, Sri Widiyantoro, Andri Dian Nugraha dan Masturyono., 2012. PencitraanStruktur 3D
Kecepatan Gelombang SeismikMenggunakan Metode Tomografi DoubleDifference dan Data
Gempa DiJawa Tengah. JTM, XIX.
Sahara, D.P., 2009. Pengembangan dan Aplikasi Metode Double Difference dengan Analisis Multiplet
Clustering untuk Penentuan Lokasi Hiposenter yang Akurat: Studi Kasus Gunung Kelud. Tugas
Akhir Sarjana, ITB, Bandung.
Waldhauser, F. and Ellsworth, W.L., 2000. A Double-difference Earthquake Location Algorithm: Method
and Application to the Northern Hayward Fault, California. Bull. Seismo. Soc. Am. Vol. 90,
1353-1368.
Widiyantoro, S. and van der Hilst, R. D. (1997). Mantle structure beneath Indonesia inferred from highresolution tomographic imaging, Geophysical Journal International, 130, 167-182.

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 22

LAPORAN COOPERATION PENELITIHAN

LEMBAR PENGESAHAN
1. JUDUL KERJA PRAKTEK : RELOKASI HIPOSENTER GEMPA BUMI
DENGAN MENGGUNAKAN VELLEST33. STUDI KASUS : GEMPA BUMI
SUMATRA SELATAN
2. Mahasiswa 1 :
a. Nama Lengkap
: Saifuddin Kahfi
b. NIM
: 0861111 100 037
Mahasiswa 2 :
b. Nama Lengkap
: Muhamad Aris Burhanudin
c. NIM
: 1112 100
3. Dosen Pembimbing :
a. Nama Lengkap
: Prof. Dr. Rer. Nat. Bagus Jaya Santosa, S.U
b. NIDN
:
c. Alamat Rumah
: Sutorejo selatan 9/23, Surabaya 60113
d. No. Telp/ HP
: 088803042017
Surabaya, Desember 2015
Hormat kami,
Pemohon I,

Pemohon II,

Saifuddin Kafi
NRP. 1111 100 037

Muhamad Aris Burhanudin


NRP 1112 100 086

Mengetahui,
Ketua Jurusan Fisika FMIPA

Menyetujui,
Dosen Pebimbing

Dr. Eng. Yono Hadi Pramono, M. Eng


NIP. 19690904 199203.1.001

Prof. Dr.rer.nat Bagus Jaya Santosa, S.U

NIP. 19620802 198701 1 001

Jurusan Fisika Bidang Minat Geofisika ITS Surabaya 23