Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN STUDI KASUS

PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR PADA PASIEN


OBSERV. FEBRIS, DIARE AKUT DAN GIZI BURUK
DI RUANG RAWAT INAP ANAK (SERUNI)
RSUD dr. MOHAMAD SOEWANDHIE
SURABAYA

OLEH :
PUTRI RAMADHANI
NIM. 101511223004

PROGRAM STUDI ILMU GIZI (ALIH JENIS)


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
2.1

Latar Belakang
Keadaan gizi yang baik adalah syarat utama untuk mewujudkan sumber

daya manusia yang berkualitas. Masalah gizi dapat terjadi disetiap fase kehidupan,
dimulai sejak dalam kandungan sampai dengan usia lanjut. Pada fase kedua
kehidupan manusia, yaitu bayi dan balita, merupakan masa pertumbuhan dan
perkembangan yang sangat pesat. Apabila pada fase tersebut mengalami gangguan
gizi maka akan bersifat permanen, tidak dapat dialihkan walaupun kebutuhan gizi
pada masa selanjutnya terpenuhi (Frisda Turrnip, 2008).
Balita merupakan kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap
masalah gizi karena kelompok tersebut mengalami siklus pertumbuhan dan
perkembangan yang membutuhkan zat-zat gizi yang lebih besar daripada
kelompok umur yang lain. Sehingga, balita paling mudah menderita kelainan gizi
seperti kejadian gizi buruk yang dapat menyebabkan kematian. Gizi buruk
merupakan status gizi yang didasarkan pada indeks Berat Badan menurut Umur
(BB/U) < -3 SD yang merupakan padanan istilah dari severely underweight.
Terdapat 3 jenis gizi buruk yang sering dijumpai yaitu kwashiorkor, marasmus
dan gabungan dari keduanya marasmiks-kwashiorkor.
Pada tahun 2005 terdapat sekitar 5 juta balita gizi kurang, 1,7 juta
diantaranya menderita gizi buruk (Direktorat Bina Gizi Masyarakat, 2007).
Namun, data yang diperoleh dari Depkes (2010) memperlihatkan bahwa
prevalensi gizi buruk di Indonesia terus menurun dari 9,7% di tahun 2005 menjadi
4,9% di tahun 2010. Selain itu, data hasil Pemantauan Status Gizi Tahun 2015
menunjukkan bahwa persentase balita dengan gizi buruk mengalami penurunan
dari tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2014 jumlah balita yang mengalami
gizi buruk yaitu 4,7% dan mengalami penurunan pada tahun 2015 menjadi 3,8%
(Depkes, 2016).
Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk, diantaranya
adalah status sosial ekonomi, ketidaktahuan ibu tentang pemberian gizi yang baik

untuk anak, asupan makanan keluarga, faktor infeksi, pendidikan ibu, serta Berat
Badan Lahir Rendah (BBLR). BBLR dapat mempengaruhi terjadinya gizi buruk
karena bayi yang mengalami BBLR akan mengalami komplikasi penyakit akibat
kurang matangnya organ yang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik
dan gangguan gizi saat balita (Novitasari, 2012). Pemberian ASI dan kelengkapan
imunisasi juga memiliki hubungan yang bermakna dengan gizi buruk karena ASI
dan imunisasi memberikan zat kekebalan kepada balita sehingga balita tersebut
menjadi tidak rentan terhadap penyakit. Balita yang sehat tidak akan kehilangan
nafsu makan sehingga status gizi tetap terjaga baik (Novitasari, 2012).
Balita gizi buruk yang dirawat di RS biasanya selain menderita gizi buruk
juga menderita penyakit lainnya seperti TBC, ISPA, dan diare. Hal ini
dikarenakan penyakit penyerta yang diderita oleh balita menyebabkan
menurunnya nafsu makan sehingga pemasukan zat gizi ke dalam tubuh balita
menjadi berkurang (Lada, dkk. ; 2007). Adanya penyakit infeksi yang menyertai
para penderita gizi buruk menyebabkan proses penyembuhannya atau pemulihan
menjadi semakin rumit dan lama.

Hal ini, tentu akan meningkatkan biaya

perawatan yang bersifat konsumtif.


Berdasarkan data di atas, penulis tertarik untuk melakukan Studi Kasus
Proses Asuhan Gizi Terstandar Pada Pasien Observ. Febris, Diare Akut dan Gizi
Buruk di Ruang Rawat Inap Anak (Seruni) RSUD dr. Mohamad Soewandhie
Surabaya.
2.2

Tujuan

1.2.1

Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami dan melaksanakan Manajemen Asuhan

Gizi Klinik pada pasien Observ. Febris, Diare Akut dan Gizi Buruk.
1.2.2
1.

Tujuan Khusus

Mengidentifikasi karakterisitik pasien meliputi riwayat penyakit, riwayat gizi,


data antropometri, data biokimia, keadaan fisik klinis serta karakteristik
penyakit, klasifikasi, etiologi, patofisiologi Observ. Febris, Diare Akut dan

Gizi Buruk di ruang rawat inap anak (Seruni) RSUD dr. Mohamad
2.

Soewandhie Surabaya.
Menetapkan rencana dan pemberian asuhan gizi serta melaksanakan asuhan
gizi pada pasien Observ. Febris, Diare Akut dan Gizi Buruk di ruang rawat

3.

inap anak (Seruni) RSUD dr. Mohamad Soewandhie Surabaya.


Memberikan terapi diet pada pasien Observ. Febris, Diare Akut dan Gizi
Buruk di ruang rawat inap anak (Seruni) RSUD dr. Mohamad Soewandhie

4.

Surabaya.
Mengamati hasil monitoring evaluasi pasien selama 3 hari meliputi terapi
diet yang diberikan berupa asupan energi serta zat gizi pasien, pengukuran
antropometri (awal dan akhir pengamatan), pemeriksaan laboratorium, serta

5.

perkembangan fisik klinis pasien.


Menganalisis evaluasi asuhan gizi yang dilaksanakan selama 3 hari pada
pasien Observ. Febris, Diare Akut dan Gizi Buruk di ruang rawat inap anak

6.

(Seruni) RSUD dr. Mohamad Soewandhie Surabaya.


Mendokumentasikan asuhan gizi pasien Observ. Febris, Diare Akut dan Gizi
Buruk di ruang rawat inap anak (Seruni) RSUD dr. Mohamad Soewandhie
Surabaya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Gambaran Umum Penyakit

2.1.1

Definisi
Gizi Buruk adalah kekurangan gizi tingkat berat yang disebabkan oleh

rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari hari dibanding
kebutuhan dan terjadi dalam jangka waktu yang lama. Gizi buruk diketahui
dengan cara pengukuran antropometri yaitu berat badab (BB) menurut tinggi
badan (TB) atau umur dibanding dengan standar, dengan atau tanpa tanda tanda
klinis (marasmus, kwarshiorkor, dan marasmus-kwarshiorkor). Batas gizi buruk
ada balita adalah kurang dari -3,0 SD standar baku WHO (Persagi, 2009).
Bayi atau anak yang termasuk gizi buruk adalah yang memiliki satu atau
lebih tanda sebagai berikut : (Depkes, 2011, dan Elsayh et al, 2013)
-

Terlihat sangat kurus

BB/PB atau BB/TB <-3SD

LILA <11,5cm untuk anak usia 6 59 bulan

Terdapat odema minimal (pada kedua punggung tangan atau kaki) atau
seluruh tubuh. Jika terdapat piting odema, maka disebut kwarshiorkor, jika
tidak adalah marasmus.

Dan jika terdapat salah satu atau lebih dari tanda di bawah ini, termasuk gizi
buruk dengan komplikasi:
-

Anoreksia

Pnemoni berat

Anemia berat

Dehidrasi berat

Demam sangat tinggi

Penurunan kesadaran

2.1.2

Pengukuran Gizi Buruk


Gizi buruk ditentukan berdasarkan beberapa pengukuran antara lain

(Novitasari, 2012) :
a. Pengukuran klinis : Metode ini pada dasarnya didasari oleh perubahanperubahan yang terjadi pada balita dan dihubungkan dengan kekurangan zat
gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit,rambut,atau mata.
Misalnya pada balita marasmus kulit akan menjadi keriput sedangkan pada
balita kwashiorkor kulit terbentuk bercak-bercak putih atau merah muda
(crazy pavement dermatosis).
b. Pengukuran antropometrik : Pada metode ini dilakukan beberapa macam
pengukuran antara lain pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar
lengan atas. Di dalam ilmu gizi, status gizi tidak hanya diketahui dengan cara
mengukur BB atau TB sesuai dengan umur saja, tetapi juga dalam bentuk
indikator yang dapat merupakan kombinasi dari ketiganya.
Kategori status gizi berdasarkan hasil pengukuran antropometri adalah sebagai
berikut:
1) Berat Badan menurut Umur
Tergolong gizi buruk jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.
Tergolong gizi kurang jika hasil ukur -3 SD sampai dengan < -2 SD.
Tergolong gizi baik jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD. Tergolong
gizi lebih jika hasil ukur > 2 SD.
2) Berdasarkan pengukuran Tinggi Badan (24 bulan-60 bulan) atau Panjang
Badan (0 bulan-24 bulan) menurut Umur
Sangat pendek jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.
Pendek jika hasil ukur 3 SD sampai dengan < -2 SD.
Normal jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD.
Tinggi jika hasil ukur > 2 SD.
3) Berdasarkan pengukuran Berat Badan menurut Tinggi Badan atau
Panjang Badan
Sangat kurus jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.
Kurus jika hasil ukur 3 SD sampai dengan < -2 SD.

Normal jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD.


Gemuk jika hasil ukur > 2 SD.
Balita dengan gizi buruk akan diperoleh hasil BB/TB sangat kurus,
sedangkan balita dengan gizi baik akan diperoleh hasil normal.
2.1.3

Klasifikasi Gizi Buruk

1. Marasmus
Marasmus merupakan salah satu bentuk gizi buruk yang paling sering
ditemukan pada balita. Hal ini merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi
buruk. Gejala marasmus antara lain anak tampak kurus, rambut tipis dan
jarang,kulit keriput yang disebabkan karena lemak di bawah kulit berkurang,
muka seperti orang tua (berkerut), balita cengeng dan rewel meskipun setelah
makan, bokong baggy pant, dan iga gambang. Pada patologi marasmus awalnya
pertumbuhan yang kurang dan atrofi otot serta menghilangnya lemak di bawah
kulit yang merupakan proses fisiologis.Tubuh membutuhkan energi yang dapat
dipenuhi oleh asupan makanan untuk kelangsungan hidup jaringan. Pada kasus
marasmus, kebutuhan energi diambil dari pemecahan protein akibat terjadinya
defisiensi enrgi yang kronik. Pemecahan protein pada defisiensi kalori tidak hanya
untuk memenuhi kebutuhan energi tetapi juga untuk sistesis glukosa.
2. Kwashiorkor
Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan
oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang
inadekuat. Seperti halnya marasmus, kwashiorkor juga merupakan hasil akhir dari
tingkat keparahan gizi buruk. Tanda khas kwashiorkor antara lain pertumbuhan
terganggu, perubahan mental, pada sebagian besar penderita ditemukan oedema
baik ringan maupun berat, gejala gastrointestinal, rambut kepala mudah dicabut,
kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih
mendalam dan lebar, sering ditemukan hiperpigmentasi dan persikan kulit,
pembesaran hati, anemia ringan, pada biopsi hati ditemukan perlemakan.
Gangguan metabolik dan perubahan sel dapat menyebabkan perlemakan hati dan

oedema. Pada penderita defisiensi protein tidak terjadi proses katabolisme


jaringan yang sangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi dengan
jumlah kalori yang cukup dalam asupan makanan. Kekurangan protein dalam diet
akan menimbulkan kekurangan asam amino esensial yang dibutuhkan untuk
sintesis. Asupan makanan yang terdapat cukup karbohidrat menyebabkan
produksi insulin meningkat dan sebagian asam amino dari dalam serum yang
jumlahnya sudah kurang akan disalurkan ke otot. Kurangnya pembentukan
albumin oleh hepar disebabkan oleh berkurangnya asam amino dalam serum yang
kemudian menimbulkan oedema.
3. Marasmiks-Kwashiorkor
Marasmic-kwashiorkor gejala klinisnya merupakan campuran dari
beberapa gejala klinis antara kwashiorkor dan marasmus dengan Berat Badan
(BB) menurut umur (U) < 60% baku median WHO-NCHS yang disertai oedema
yang tidak mencolok (Novitasari, 2012).
2.1.4

Etiologi
Gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. Menurut

Nelson (2007) dalam Hasaroh, 2010, secara garis besar penyebab terjadinya gizi
buruk adalah sebagai berikut :
a. Asupan makanan yang kurang : gizi buruk terjadi akibat masukan kalori yang
sedikit, pemberian makanan yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan akibat
dari ketidaktahuan orang tua anak, misalnya pemakaian secara luas susu
kaleng yang terlalu encer.
b. Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi enteral
misalnya infantil gastroenteritis, bronkhopneumonia, pielonephiritis dan sifilis
kongenital.
c. Kelainan struktur bawaan misalnya : penyakit jantung bawaan, penyakit
Hirschpurng, deformitas palatum, palatoschizis, mocrognathia, stenosis
pilorus, hiatus hernia, hidrosefalus, cystic fibrosis pankreas.
d. Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus.

e. Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang
cukup.
f. Gangguan metabolik, misalnya renal asidosis, idiopathic hypercalcemia,
galactosemia, lactose intolerance.
g. Tumor hypothalamus, kejadian ini jarang dijumpai dan baru ditegakkan bila
penyebab maramus yang lain disingkirkan.
h. Penyapihan yang terlalu dini disertai dengan pemberian makanan tambahan
yang kurang.
i. Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi untuk timbulnya
marasmus, meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula perubahan kebiasaan
penyapihan dini dan kemudian diikuti dengan pemberian susu manis dan susu
yang terlalu encer akibat dari tidak mampu membeli susu, dan bila disertai
infeksi berulang terutama gastroenteritis akan menyebabkan anak beresiko
mengalami gizi buruk.
2.1.5

Patofisiologi
Malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor.

Faktor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri
(host), agent (kuman penyebab), environment (lingkungan). Gopalan dalam
Hasaroh (2010) menyebutkan marasmus adalah compensated malnutrition. Dalam
keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan
hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi.
Kondisi dari Malnutrisi Energy Protein (MEP) dikenal sebagai fenomena
gunung es dimana hanya 20 % yang tampak dipermukaan air sedangkan 80% dari
berada dibawah permukaan air. Keadaan dengan MEP yang berat ( kwashiorkor,
marasmus dan marasmus-kwashiorkor) ini merupakan keadaan-keadaan yang
diilustrasikan sebagai bagian teratas dari gunung es. Pada keadaan ini akan sangat
mudah bagi seorang dokter untuk dapat menegakkan diagnosis dilihat dari gejala
klinis yang ditemukan. Secara umum telah disepakati bahwa tanda yang khas pada
kwashiorkor adalah bila ditemukanya pitting edema sedangkan tanda utama yang
ditemukan pada anak dengan marasmus adalah berat badan yang sangat kurang

dari yang seharusnya, apabila pada seorang anak ditemukan kedua keadaan ini
kita sebut sebagai marasmus kwashiorkor.
Patofisiologi gizi buruk pada balita adalah anak sulit makan atau anorexia
yang terjadi karena penyakit akibat defisiensi gizi, psikologik seperti suasana
makan, pengaturan makanan dan lingkungan. Rambut juga mudah rontok
dikarenakan kekurangan protein, vitamin A, vitamin C dan vitamin E, serta Zn
dan Se. Selain itu, pasien juga mengalami rabun senja karena defisiensi vitamin A
dan protein. Pada retina terdapat sel batang dan sel kerucut dimana sel batang
lebih dapat membedakan cahaya terang dan gelap. Sel batang atau rodopsin ini
terbentuk dari vitamin A dan suatu protein. Jika cahaya terang mengenai sel
rodopsin, maka sel tersebut akan terurai dan akan berkumpul lagi pada cahaya
yang gelap. Proses ini disebut adaptasi rodopsin. Adaptasi rodopsin membutuhkan
waktu yang agak lama sehingga menyebabkan terjadinya rabun senja.
Turgor atau elastisitas kulit menunurun karena sel kekurangan air
(dehidrasi). Reflek patella negatif terjadi karena kekurangan aktin myosin pada
tendon patella dan degenerasi saraf motorik akibat dari kekurangan protein. Selain
itu, hepatomegaly juga dapat terjadi karena kekurangan protein. Jika terjadi
kekurangan protein, maka terjadi penurunan pembentukan lipoprotein. Hal ini
membuat penurunan HDL dan LDL yang menyebabkan lemak yang ada di hepar
sulit ditransport ke jaringan-jaringan, sehingga terjadi penumpukan lemak di
hepar (Hasaroh, 2010).
Tanda khas pada penderita kwashiorkor adalah pitting edema. Pitting
edema adalah edema yang jika ditekan akan sulit kembali seperti semula. Pitting
edema disebabkan oleh kurangnya protein, sehingga tekanan onkotik intravaskular
menurun. Jika hal ini terjadi, maka terjadi ekstravasasi plasma ke intertisial.
Plasma masuk ke intertisial, tidak ke intrasel, karena pada balita kwashiorkor
tidak ada kompensansi dari ginjal untuk reabsorpsi natrium. Padahal natrium
berfungsi menjaga keseimbangan cairan tubuh. Pada penderita kwashiorkor, selain
defisiensi protein juga mengalami defisiensi multinutrien. Ketika ditekan, maka
plasma pada intertisial lari ke daerah sekitarnya karena tidak terfiksasi oleh
membran sel dan mengembalikannya membutuhkan waktu yang lama karena

posisi sel yang rapat. Edema biasanya terjadi pada ekstremitas bawah karena
pengaruh gaya gravitasi, tekanan hidrostatik dan onkotik (Sadewa, 2008; Hasaroh,
2010).
2.2

Asuhan Gizi

2.2.1

Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT)


American Dietetic Association (ADA) menyusun Standarized Nutritional

Care Proses (SNCP) atau Proses Asuhan Gizi Terpadu (PAGT) sejak tahun 2003.
Kemudian pada tahun 2006, Asosiasi dietisien Indonesia (AsDi) mengadopsi
konsep tersebut untuk digunakan di Indonesia.
PAGT didefinisikan sebagai suatu metode pemecahan masalah yang
sistematis, dimana dietisien profesional menggunakan cara berfikir kritisnya
dalam membuat keputusan untuk menangani berbagai masalah yang berkaitan
dengan gizi, sehingga dapat memberikan asuhan gizi yang aman, efektif, dan
berkualitas tinggi. (Wahyuningsih, 2013)
Kegiatan PAGT terdiri dari 4 langkah yang berurutan dan berkaitan dengan
alur sebagai berikut:
1. Pengkajian Gizi/Assessment
Pengkajian gizi adalah kegiatan mengumpulkan, mengintegrasikan, dan
menganalisis data untuk identifikasi masalah yang terkait dengan aspek asupan zat
gizi dan makanan, aspek klinis, dan aspek perilaku-lingkungan serta penyebabnya.
Komponen pengkajian gizi meliputi antropometri, biokimia, klinik dan fisik,
riwayat gizi/makanan, dan riwayat personal klien.
2. Diagnosis Gizi
Diagnosis gizi adalah tahapan PAGT untuk menetapkan prioritas diagnosis
gizi berdasarkan hasil pengkajian gizi. Masalah yang telah diidentifikasi,
kemudian dilakukan pemberian nama gizi sesuai dengan terminologi diagnosis
gizi

yang

terbagi

menjadi

tiga

domain,

yaitu

perilaku/lingkungan.
Diagnosa Gizi diuraikan menjadi 3 komponen :

10

asupan,

klinis,

dan

a. Masalah gizi (problem)


Problem mengggambarkan masalah gizi pasien, dimana ahli gizi
bertanggung jawab secara mandiri untuk memecahkannya. Maka dibuat :
1) Tujuan dan target intervensi gizi yang lebih realistis dan terukur.
2) Menetapkan prioritas intervensi atau penanganan gizi.
3) Memantau dan mevaluasi perubahan yang terjadi setelah intervensi.
b. Penyebab masalah (etiologi)
Etiologi merupakan faktor penyebab yang memiliki kontribusi penyebab
terjadi masalah. Penyebab dapat berkaitan dengan faktor fisiologis, sosial,
lingkungan dan prilaku.
c. Tanda dan gejala ada masalah (sign dan simptom)
Menunjukkan keadaan pasien, sign umumnya menunjukkan data objektif
sementara simptom merupakan data subjektif. Sign dan simptom
merupakan dasar monitoring dan evaluasi.
Penulisan diagnosis gizi disusun dengan urutan : Problem (P), Etiologi
(E), Sign/Simptoms (S).
(P) berkaitan dengan (E) ditandai dengan (S)
3. Intervensi Gizi
Intervensi gizi terdiri dari dua komponen yaitu perencanaan dan
implementasi. Pelaksanaan intervensi dimulai dengan menetapkan tujuan, prinsip,
macam diet, dan syarat diet. Kemudian melakukan perhitungan kebutuhan energi
dan zat gizi, serta menyusun menu dan waktu makan pasien.
4. Monitoring dan Evaluasi Gizi
Monitoring dan
evaluasi dilakukan untuk mengukur keberhasilan dari
Pasien
pemberian intervensi.Masuk
Jika tujuan tercapai, pasien diperbolehkan untuk pulang.
Jika tujuan tidak tercapai maka pasien kembali ke tahapan pengkajian gizi ulang,
Skrining
Intervensi
Gizi:
kembali mengulangi tahapan sebelumnya hingga
tujuan
intervensi tercapai.
-Perencanaan
Diagnosis
Pengkajian Gizi:
-Implementasi
Gizi:
-Riwayat diet
-Problem
Monitoring
-Antropometri
dan
-Laboratorium
-Etiologi
Tujuan
Stop
Evaluasi
-Klinis-fisik
tercapai
-Riwayat Pasien
-Sign/
Simptoms
Tujuan tidak
Tercapai
Pasien
Keluar
11
Sumber : Gutama, Miranti Sumapradja, dkk. 2011. Proses Asuhan
Gizi Terstandar (PAGT)

Gambar 2.1 Alur dan Proses Asuhan Gizi Terstandar

12

2.3

Penatalaksanaan Diet Pada Gizi Buruk


Pemberian diet pada anak dengan gizi buruk terdiri dari 3 fase, yaitu Fase Stabilisasi, Fase Transisi, dan Fase Rehabilitasi.
Tabel 2.1 Tatalaksana Gizi Buruk

Tatalaksana
Diet
Gambaran

Tujuan

Syarat

Fase Stabilisasi
(hari ke 1-2)
Fase saat kondisi anak belum stabil.
Refeeding syndrome mungkin terjadi karena
pemberian makanan yang agresif. Untuk
menstabilkan diperlukan waktu antara 1-2
hari atau 2-7 hari.

Fase Transisi
(hari ke 3-7)
Fase pada saat perpindahan pemberian
makan tidak membuat anak bermasalah,
biasanya memerlukan waktu antara 1-3
hari atau 3-7 hari.

Fase Rehabilitasi
(minggu ke 2-6)
Anak dapat memasuki fase rehabilitasi
jika nafsu makannya telah kembali.
Pemberian makanan sepenuhnya secara
oral. Bila NGT masih digunakan berarti
anak belum siap memasuki tahap ini.
Sebaiknya anak tetap dirawat di rumah
sakit pada fase ini. Fase rehabilitasi
biasanya berkisar 2-3 minggu setelah
masuk rumah sakit.

Diet yang diberikan pada fase ini ditujukan Diet diberikan untuk mempersiapkan anak 1. Memberikan makanan yang adekuat
untuk tumbuh kejar
untuk mencegah terjadinya refeeding ke fase rehabilitasi
2.
Memotivasi anak agar dapat makan
syndrome
sebanyak mungkin
3. Memotivasi ibu agar dapat tetap
memberikan ASI
4. Mempersiapkan ibu atau pengasuh
untuk perawatan di rumah
- Energi 80-100 kkal/kgBBA/hari. Minimal - Energi 100-150 kkal/kgBBA/hari. BB - Energi 150-220 kkal/kgBBA/hari. BB
50% berasal dari lemak. BB yang
yang digunakan adalah BB saat masuk
yang digunakan adalah BB saat itu.
digunakan adalah BB saat masuk RS.
RS.
- Protein 4-6 gram/kg BB/hari.
- Protein 1-1,5 gram/kg BB/hari, 6-12% total - Protein 2-3 gram/kg BB/hari.
- Cairan 150-200 ml/kg BB/hari
13

Cairan 150 ml/kg BB/hari


- ASI tetap diberikan.
Diberikan formula isoosmolar.
- Bentuk makanan disesuaikan dengan
ASI tetap diberikan.
berat badan. < 7 kg diberikan makanan
bayi. 7 kg diberikan makanan usia anak.
Pemberian makan dengan porsi kecil
tapi sering. Makanan diberikan setiap 3- - Pemberian tablet Fe setiap hari selama
4 minggu untuk anak usia 6 bulan
4 jam sekali 48 jam pertama (2 hari).
sampai 5 tahun. Fe yang diberikan:
- Berikan F100 setiap 4 jam sekali dengan
jumlah yang sama dengan F75 terakhir
Tablet besi/Folat (Fe SO4 200 mg +
pada fase stabilisasi, jangan tingkatkan
0,25 mg asam folat)
volume selama 2 hari.
Sirup besi (Fe SO4 150 ml) 1-3 mg
- Hari ke-3 peningkatan volume yang
elemental
diberikan sesuai dengan kondisi anak.

Macam dan
Indikasi
Pemberian

energi per hari. Diutamakan dari protein


hewani, spt susu, daging ayam atau telur.
- Cairan 130 ml/kg BB/hari, 100 ml/kg
BB/hari bila ada oedema.
- Diberikan formula yang hipoosmolar
(osmolaritas 350-400 mOsmol/L).
- Rendah laktosa dan serat.
- Natrium tidak boleh lebih dari 2 mmol/kg
BB/hari karena pada pasien gizi buruk
terjadi gangguan keseimbangan elektrolit
(kelebihan Na dalam tubuh).
- Kalium 5-7 mmol/kg BB/hari. Deficit
kalium dapat menyebabkan gangguan
fungsi jantung dan pengosongan lambung.
- ASI tetap diberikan sampai usia 2 tahun.
- Pemberian makan dengan porsi kecil tapi
sering. Makanan diberikan setiap 2-4 jam
sekali (12-16 kali pemberian per hari).
F75, F75 modifikasi I s/d III, Modisco ,
atau formula komersial lain yang memenuhi
syarat.

Cara
Pemesanan

Makanan Cair F75, F75 modifikasi I/II/III, Makanan Cair F100, atau Modisco I dan Makanan Cair F135, atau Modisco III,
atau Modisco , ml, . kali.
II, ml, . kali.
ml, . kali.

Edukasi dan
Konseling

1. Hampir semua anak gizi buruk 1. Pemberian ASI terus dilakukan.


1. Pertimbangkan kondisi sosial ekonomi
mempunyai nafsu makan yang rendah 2. Melibatkan ibu dalam pemberian
pasien.
saat masuk RS, sehingga dibutuhkan
makanan.
2. Cara memberi makan yang baik.
kesabaran
dan
bujukan
untuk
3. Contoh menu untuk di rumah.
14

F100, Modisco I dan II, atau formula F100, Modisco III, atau formula
komersial lain yang memenuhi syarat.
komersial yang memenuhi syarat.
Makanan
formula
yang
telah
dikembangkan oleh Puslitbang Gizi.

menghabiskan makanannya.
2. Gunakan cangkir dan sendok, jangan
gunakan botol susu.
3. Gunakan pipet tetes atau syringe bagi
anak yang sangat lemah.
4. Minta ibu untuk memangku anaknya
selama pemberian makanan.
5. Jangan pernah meninggalkan anak
sendirian untuk makan di tempat tidur.

4. Demonstrasikan memasak makanan


untuk anak.
5. Promosikan ASI sampai usia 2 tahun.

Sumber: Petunjuk Teknis Tatalaksana Anak Gizi Buruk (Buku II)

15

BAB III
PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI ASUHAN GIZI
3.1

RENCANA ASUHAN GIZI

Nama

: An. Halim Asrofi

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur

: 12 bulan

Rekam Medis : 497350

Diagnosa

: Observ. Febris + diare akut + gizi buruk

Ruangan

: Seruni 3 -4D

Tabel 3.1 Perencanaan dan Implementasi Asuhan Gizi


Assessment
Data Dasar
Antropometri
BB lahir = 4 kg
BB real = 6,3 kg
Koreksi BB karena oedema (20%)
= 5,04 kg
PB = 67,8 cm
Status Gizi:
- BB/PB = < -3 SD
- TB/U = < -3 SD
- BB/U = < -3 SD

Intervensi
Identifikasi
Masalah

Sangat kurus
Sangat pendek
Gizi buruk

Diagnosa Gizi (PES)

NI 5.2 Malnutrisi protein


dan energi yang nyata
berkaitan dengan
kekurangan dalam
mendapatkan makanan
ditandai dengan status
gizi berdasarkan BB/PB
= < -3 SD (sangat
kurus), TB/U = <-3 SD
16

Terapi Diet

Terapi Edukasi

Tujuan Diet:
1. Menstabilkan status
metabolisme tubuh dan
kondisi klinis dengan
memberikan diet yang
tepat sesuai dengan
kondisi pasien
2. Mencegah terjadinya
refeeding syndrome

Memberikan konseling gizi:


- Sasaran : keluarga pasien
- Tujuan : meningkatkan
pengetahuan ibu tentang
gizi anak dan memberikan
pemahaman kepada ibu
tentang diet yang diberikan
kepada pasien
- Tempat : ruang rawat inap
Seruni 3 -4D
- Waktu : 15 menit
- Metode : konsultasi,
diskusi, praktek
- Materi :
Memberikan informasi
tentang gizi buruk

Prinsip Diet:
Energi naik secara
bertahap
Tinggi Kalori Tinggi
Protein (TKTP)

Rencana
Monitoring
dan Evaluasi
Antropometri
Evaluasi berat
badan pasien
setiap hari
Biokimia
Hb meningkat
Albumin
meningkat
hingga
mencapai
normal
Fisik/Klinis
Frekuensi diare
berkurang

Biokimia
Hb = 8,5 g/dl
[N: 10,7 13,1 g/dL]
Ht = 26,8 %
[N: 35 43%]
Albumin = 2,7 g/dl
[N: 3,4 4,8 g/dL]
Fisik/Klinik
Suhu = 38oC
Nadi = 122 x/menit
GCS = 4 5 6
BAB = 8x cair, ampas (+)
Kondisi fisik pasien lemas, kulit
terkelupas, bentol-bentol
Pasien mengalami diare
Ada oedema di bagian wajah
Perut buncit
Dietary History
Sebelum sakit:
- Pasien berhenti minum ASI
sejak usia 3 bulan karena ASI
tidak keluar
- Pasien diberikan air gula sejak
berhenti minum ASI (karena
keterbatasan ekonomi)
- Pertama kali diberi MPASI usia

Rendah
Rendah
Rendah

Demam
Diare

Pemilihan
makanan yang
tidak tepat

(sangat pendek), BB/U = Syarat Diet:


<-3 SD (gizi buruk)
- Energi 80-100
kkal/kgBBA/hari.
Minimal 50% berasal
dari lemak.
- Protein 1-1,5 gram/kg
BB/hari, 6-12% total
energi per hari.
Diutamakan dari
protein hewani, spt
susu, daging ayam atau
telur. Protein diberikan
tinggi karena adanya
oedema yang
menandakan terjadinya
hipoproteinemia
(albumin ) dan
berfungsi sebagai
cadangan energi dalam
tubuh.
- Cairan dibatasi 100
ml/kg BB/hari karena
adanya oedema dan
untuk menghindari
terjadinya gagal
jantung.
- Rendah laktosa dan
serat karena adanya
diare.
- Natrium tidak boleh
17

Menjelaskan diet yang


diberikan kepada pasien
Mempraktekkan cara
membuat F75 dan jadwal
pemberian makan pasien

Tidak ada
oedema
Asupan
Asupan energi
yang masuk
secara oral
meningkat /
tidak ada sisa
makanan
Perilaku
Ibu memberikan
makan pasien
sesuai jadwal
(8x/hari, 1x/3
jam)

5 bulan, MPASI yang diberikan


yaitu bubur nasi
- Pasien sering diberikan cemilan
berupa chiki dan wafer
- Susu formula baru diberikan
saat pasien masuk rumah sakit
Susu yang dikonsumsi: SGM 5x
240 cc (1 sdm susu bubuk)
Saat sakit:
Terapi diet: Nasi Tim (NT)
Asupan berdasarkan hasil recall:
E
Bubur
470
(3 x P)
+ snack
(1P)
SGM 3
135
x 2sdk
(240cc)
Total
605
%
80
Asupan

Kh
60

P
22.7

L
13.7

17.3

3.75

5.25

77.3
107.6

26.4
116

18.9
45

Riwayat Personal
- Anak ketiga dari 3 bersaudara
- Ayah bekerja sebagai buruh
bangunan dan ibu tidak bekerja
(IRT)
- Pendidikan terakhir ibu yaitu SD
- Pasien jarang dibawa ke

Asupan pasien
kurang

Keterbatasan
ekonomi
Kurangnya
pengetahuan
terkait gizi

NI 1.2 Intake energi


inadekuat berkaitan
dengan kurangnya
kemampuan memenuhi
bahan makanan akibat
faktor ekonomi dan
kurangnya pengetahuan
terkait gizi ditandai
dengan pertumbuhan
yang terhambat (Z-score
< -3 SD)

NB 3.3 Akses suplai


makanan terbatas yang
berkaitan dengan
kurangnya sumber daya
keuangan ditandai
dengan terjadinya
18

lebih dari 2 mmol/kg


BB/hari karena pada
pasien gizi buruk terjadi
gangguan
keseimbangan elektrolit
(kelebihan Na dalam
tubuh).
- Kalium 5-7 mmol/kg
BB/hari. Deficit kalium
dapat menyebabkan
gangguan fungsi
jantung dan
pengosongan lambung.
- Pemberian makan
dengan porsi kecil tapi
sering.
Preskripsi Diet:
Jalur makanan = oral
Jenis diet
= F75 8 x 50 100 cc
Jadwal pemberian : tiap 3
jam sekali
Perhitungan
kebutuhan:
REE = 100 kkal/kg BBA
= 100 kkal x 5,04 kg
= 504 kal
TEE = REE x FA x FS

Posyandu karena ibu malas ke


Posyandu
- Status sosio ekonomi menengah
ke bawah
- Riwayat penyakit terdahulu (-)
- Belum pernah mendapatkan
edukasi gizi sebelumnya

kegagalan pertumbuhan
pada anak

= 504 x 1 x 1.5
= 756 kkal
Proporsi zat gizi:
P = (12% x E total)/4
= 22,68 gram
L = (50% x E total)/9
= 42 gram
KH = (38% x E total)/4
= 71,82 gram

19

3.2

MONITORING DAN EVALUASI


Tabel 3.2 Monitoring dan Evaluasi

TGL

ANTROPOMETRI

8/11/16 BB real = 5,9 kg


BB dg koreksi 20%
(oedema) = 4,72 kg
BB turun
sebanyak 6,3%
karena pasien
hanya minum F75
sebanyak 3x
sehari

FISIK/
KLINIK

BIOKIMIA
Tidak ada
pemeriksaan
lab terbaru

- Demam (+)
- Iga gambang
(+)
- Suhu: 36,8oC
- N: 118x/menit
- GCS: 4 5 6
- BAB: 5x cair
berlendir
Pasien masih
mengalami
diare, kulit
terkelupas, ada
bentol-bentol,
oedema di
bagian wajah
dan perut buncit

DIETARY
Tx. Gizi:
F75 8 x 50 cc
Asupan pasien
berdasarkan hasil recall:
F75 50 cc
(3x)
Roti 1
lembar
Susu SGM
(3 botol x 1
sdk takar)
TOTAL
% asupan

E
P
112.5 1.35
67

2.37

67.5 1.87
247 5.56
32.7 24.5

Nafsu makan anak baik

20

RENCANA
EDUKASI
TINDAK
LANJUT
Ibu tidak
NC 3.2 Penurunan
- Perubahan diet:
patuh
berat badan yang tidak F75 8x100cc
terhadap
diharapkan berkaitan - Memberikan
diet yang
dengan kurangnya
F75 yang susu
diterapkan asupan makanan dan
dan gulanya
kepada
pasien mengalami
sudah ditakar
pasien
diare yang ditandai
ke dalam cup
dengan BB turun
(8 cup, isi 100
sebanyak 6% dalam
cc/cup) dengan
sehari dan frekuensi
tujuan untuk
BAB 5x sehari
memudahkan
ibu membuat
NB 1.3 Belum siap
F75
melakukan
Memberikan
diet/perubahan pola
edukasi tentang
hidup berkaitan
cara dan jadwal
dengan kurangnya
pemberian diet
kemauan untuk
pasien, cara
berubah/memperbaiki membuat F75,
kesalahan yang
dan pentingnya
ditandai dengan
mematuhi diet
kegagalan dalam
yang telah
mematuhi jadwal
ditetapkan
IDENTIFIKASI
MASALAH BARU

pemberian makan
pada pasien
9/11/16 BB real = 6,2 kg
BB dg koreksi 20%
(oedema) = 4,96 kg
Terjadi peningkatan
BB

Tidak ada
pemeriksaan
lab terbaru

- Iga gambang
(+)
- Suhu: 36oC
- N: 125x/menit
- GCS: 4 5 6
- BAB: 6x cair
kuning
Pasien masih
diare, kulit
terkelupas, ada
bentol-bentol,
oedema di
bagian wajah
dan perut buncit

Tx. Gizi:
F75 8 x 100 cc
Asupan pasien
berdasarkan hasil recall:
F75 100 cc
(4x)
Roti 2
lembar
Susu SGM
(2 botol x 1
sdk takar)
TOTAL
% asupan

E
300

P
3.6

134

4.74

45

1.25

479 9.6
63.3 42.3

Nafsu makan anak baik


Asupan pasien masih
kurang

21

- Diet tetap:
F75 8x100cc
- Memberikan
F75 yang susu,
gula, dan
minyaknya
sudah ditakar
ke dalam cup
(8 cup, isi 100
cc/cup) dengan
tujuan untuk
memudahkan
ibu membuat
F75 (hanya
menambahkan
air saja)
- Memberikan
edukasi tentang
cara dan jadwal
pemberian diet
pasien, cara
membuat F75,
dan pentingnya
mematuhi diet
yang telah
ditetapkan serta
larangan
kepada ibu

10/11/16 BB real = 6,7 kg


BB dg koreksi 20%
(oedema) = 5,36 kg
Terjadi peningkatan
BB

Tidak ada
pemeriksaan
lab terbaru

- Iga gambang
(+)
- Suhu: 36,5oC
- N: 120x/menit
- GCS: 4 5 6
- BAB: 7 x cair
Pasien masih
diare, kulit
terkelupas, ada
bentol-bentol,
oedema di
bagian wajah
dan perut buncit

Tx. Gizi:
F75 8 x 100 cc
Asupan pasien
berdasarkan hasil recall:
F75 100 cc
(6x)
Roti 1
lembar
Susu SGM
(2 botol x 1
sdk takar)
TOTAL
% asupan

E
450

P
5.4

67

2.37

45

1.25

562 9.02
74.3 39.8

Nafsu makan anak baik


Asupan pasien masih
kurang

- Ibu
mengguna
kan air
kran
kamar
mandi
untuk
membuat
F75
- Ibu sulit
untuk
diajak
bekerjasa
ma dalam
menjalank
an diet
untuk
pasien

NB 1.3 Belum siap


melakukan
diet/perubahan pola
hidup berkaitan
dengan kurangnya
kemauan untuk
berubah/memperbaiki
kesalahan dan
ketidaktertarikan
untuk mempelajari
informasi baru yang
ditandai dengan
kegagalan perubahan target kebiasaan
sebelumnya dan
penggunaan air yang
tidak hygiene dalam
pembuatan susu untu
pasien.

22

untuk
memberikan
makanan
tambahan
kepada pasien
selain F75
Diet tetap:
F75 8x100cc
Bekerjasama
dengan perawat
untuk
memberikan
F75 pada
pasien sesuai
dengan jadwal
pemberian
makan yang
telah ditetapkan
Memberikan
edukasi tentang
cara dan jadwal
pemberian diet
pasien, cara
membuat F75,
dan pentingnya
mematuhi diet
yang telah
ditetapkan
Melarang ibu
untuk

memberikan
makanan
tambahan
kepada pasien
selain F75
- Menjelaskan
tentang hygiene
dan sanitasi
makanan serta
perlengkapan
makan

23

BAB IV
GAMBARAN UMUM PASIEN
4.1

IDENTITAS PASIEN

Nama

An. HA

No Register
Ruangan
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Anak ke
Pekerjaan
a. Ayah
b. Ibu
Penghasilan ortu
Tgl MRS
Diagnosis

:
:
:
:
:
:

497350
Seruni 3-4D
12 bulan
Laki-laki
Dapuan Baru 21 Surabaya
3 dari 3 bersaudara

:
:
:
:
:

Buruh bangunan
Ibu rumah tangga
Rp 300.000/minggu
4 November 2016
Observ. Febris + Diare Akut + Gizi Buruk

4.2

PENGKAJIAN GIZI/ASSESSMENT

4.2.1 Data Antropometri


BB lahir
BB real
Koreksi BB karena

4 kg
6,3 kg
5,04 kg

oedema (20%)
PB
Status Gizi

67,8 cm

- BB/PB

< -3 SD (Sangat kurus)

- TB/U

< -3 SD (Sangat pendek)

- BB/U

< -3 SD (Gizi buruk)

4.2.2 Data Biokimia


Tabel 4.1 Data Laboratorium Tanggal 4 November 2016
Jenis Pemeriksaan
Hb
Ht

Hasil Laboratorium
8,5 gr/dL
26,8 %

Nilai Normal
10,7 13,1 gr/dL
35 43 %

Interpretasi
Rendah
Rendah

Albumin

2,7 g/dL

3,4 4,8 g/dL

Rendah

24

Leukosit
Trombosit
BUN
Kreatinin darah
Na darah
Kalium darah
4.2.3

13,79 x 103 u/L


421 x 103 u/L
4 mg/dL
0,4 mg/dL
133 mmol/L
4,3 mmol/L

6,0 17,0 x103/uL


217 497 x103/uL
< 22 mg/dL
< 1,0 mg/dL
132-145 mmol/L
3,1 5,1 mmol/L

Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Data Fisik/Klinis
Suhu
Nadi
GCS
BAB
Oedem
Keadaan Umum

=
=
=
=
=
=

38C (Demam)
122 x/menit
456
8x cair, ampas (+)
+
Lemah, kulit terkelupas, bentol-bentol, pasien
diare, oedema di bagian wajah, perut buncit

4.2.4

Riwayat Gizi

1. Gambaran Asupan Makan SMRS


Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap ibu
pasien, dapat diketahui bahwa pasien sudah berhenti minum ASI sejak usia 3
bulan karena ASI tidak keluar. Sejak pasien berhenti minum ASI, pasien hanya
diberi air gula sebagai pengganti ASI karena keluarga tidak mampu membeli
susu formula untuk pasien. Saat pasien berusia 5 bulan, pasien mulai diberikan
Makanan Pendamping ASI (MPASI) berupa bubur nasi. Pasien baru diberikan
susu formula saat masuk rumah sakit dengan frekuensi pemberian 5x sehari
sebanyak 240 cc tiap pemberian (1 sdm susu bubuk per 240 cc air). Selain
diberikan susu dan MPASI, pasien juga sering diberikan makanan selingan
berupa wafer atau chiki. Pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap jenis
bahan makanan tertentu.
2. Asupan Makan Saat di Rumah Sakit
Pasien mendapatkan diet Nasi Tim dengan frekuensi 3x makanan
pokok dan 2x selingan. Selain itu pasien juga mengkonsumsi susu formula
selama sakit. Asupan pasien berdasarkan hasil recall sehari sebelumnya (1x24
jam) dapat dilihat dari tabel berikut.
Tabel 4.2 Asupan Makan Pasien Saat di Rumah Sakit
(Recall 1x24 jam)

25

E
(kal)
470
135
605
80

Bubur (3 x P) + snack (1P)


SGM 3 x 2sdk (240cc)
Total
% Asupan
4.2.5

Kh

(gram) (gram)
60
22.7
17.3
3.75
77.3
26.4
71.8
116

L
(gram)
13.7
5.25
18.9
45

Riwayat Personal
Pasien merupakan anak ketiga dari tiga orang bersaudara. Ayah pasien

bekerja sebagai buruh bangunan sedangkan ibu tidak bekerja (IRT). Pendidikan
terakhir ibu yaitu Sekolah Dasar (SD). Pasien jarang dibawa ke Posyandu karena
ibu malas ke Posyandu. Sebelumnya, ibu pasien tidak pernah mendapatkan
edukasi gizi. Status sosio ekonomi keluarga yaitu ekonomi menengah ke bawah.
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit terdahulu.

4.3

DIAGNOSIS GIZI (PES)

NI 5.2

Malnutrisi protein dan energi yang nyata berkaitan dengan kekurangan


dalam mendapatkan makanan ditandai dengan status gizi berdasarkan
BB/PB = -3 s/d -2 SD (kurus), TB/U = <-3 SD (sangat pendek), BB/U
= <-3 SD (BB sangat rendah)

NI 1.2

Intake energi inadekuat berkaitan dengan kurangnya kemampuan


memenuhi bahan makanan akibat faktor ekonomi dan kurangnya
pengetahuan terkait gizi ditandai dengan pertumbuhan yang terhambat
(Z-score < -3 SD)

NB 3.3 Akses suplai makanan terbatas yang berkaitan dengan kurangnya


sumber daya keuangan ditandai dengan terjadinya kegagalan
pertumbuhan pada anak

26

4.4 INTERVENSI GIZI


4.4.1 Terapi Diet
1. Tujuan Diet
a. Menstabilkan status metabolisme tubuh dan kondisi klinis dengan
memberikan diet yang tepat sesuai dengan kondisi pasien
b. Mencegah terjadinya refeeding syndrome
2.

Prinsip Diet
Energi naik secara bertahap
Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP)

3.

Syarat Diet
- Energi 80-100 kkal/kgBBA/hari. Minimal 50% berasal dari lemak.
Energi
Energi diperlukan untuk kelangsungan proses-proses di dalam tubuh
seperti proses peredaran dan sirkulasi darah, denyut jantung, pernafasan,
pencernaan, serta proses fisiologi lainnya, untuk bergerak atau melakukan
pekerjaan fisik. Energi dalam tubuh dapat timbul karena adanya
pembakaran karbohidrat, protein dan lemak, sehingga agar energi
tercukupi perlu pemasukan makanan yang cukup dengan mengkonsumsi
makanan yang cukup dan seimbang.
Lemak
Lemak merupakan komponen struktural dari semua sel-sel tubuh, yang
dibutuhkan dalam menjalankan fungsi fisiologis tubuh (McGuire &
Beerman, 2011). Lemak terdiri dari trigliserida, fosfolipid dan sterol yang
masing-masing mempunyai fungsi khusus bagi kesehatan manusia.
Sebagian besar (99%) lemak tubuh adalah trigliserida yang terdiri dari
gliserol dan asam-asam lemak. Disamping mensuplai energi, lemak
terutama trigliserida, berfungsi menyediakan cadangan energi tubuh,
isolator, pelindung organ dan menyediakan asam-asam lemak esensial.
Karbohidrat
Karbohidrat merupakan komponen organic yang paling banyak terdapat
pada buah-buahan, sayur-sayuran, legume, gandum, dan memberikan
tekstur dan rasa pada makanan-makanan olahan. Karbohidrat merupakan
sumber energi utama manusia bagi pencernaan dan penyerapan pada usus
kecil serta pada tingkat yang lebih rendah dilakukan oleh fermentasi

27

mikroba dalam usus besar. Karbohidrat penting dibutuhkan tubuh sebagai


sumber energi utama dari semua sel, terutama sel darah merah dan otak
yang mana hanya tergantung pada glukosa sebagai sumber energi. Apabila
dalam diet tidak memberikan cukup karbohidrat, tubuh akan membuat
glukosa sendiri dari protein melalui glukoneogenesis. Tubuh akan
memecah protein dalam darah dan jaringan menjadi asam amino dan
kemudian mengubahnya menjadi glukosa. Jika tubuh menggunakan
protein untuk energi, maka protein tidak dapat digunakan untuk fungsifungsi yang lain. Karbohidrat juga diperlukan untuk metabolisme lemak
yang normal. Pada keadaan kekurangan karbohidrat, jumlah lemak yang
digunakan untuk energi lebih besar dari jumlah yang tersedia dalam tubuh
sehingga terjadi proses oksidasi yang tidak sempurna ((McGuire &
Beerman, 2011).
- Protein 1-1,5 gram/kg BB/hari, 6-12% total energi per hari. Diutamakan
dari protein hewani, spt susu, daging ayam atau telur. Protein diberikan
tinggi

karena

adanya

oedema

yang

menandakan

terjadinya

hipoproteinemia (albumin ) dan berfungsi sebagai cadangan energi


dalam tubuh. Protein diperlukan oleh tubuh untuk membangun sel-sel yang
telah rusak, membentuk zat-zat pengatur seperti enzim dan hormon,
membentuk zat anti energi dimana tiap gram protein menghasilkan sekitar
4,1 kalori (Almatsier, 2002). Kekurangan pasokan asam amino dari protein
dapat menyebabkan sintesis protein dalam hati terganggu sehingga
berdampak terhadap terjadinya perlemakan hati. Selain itu, tekanan
osmotic dalam plasma darah pun menjadi sangat rendah, sehingga
mengakibatkan terbentuknya oedema (Dinar, 2009).
- Cairan dibatasi 100 ml/kg BB/hari karena adanya oedema dan untuk
menghindari terjadinya gagal jantung.
- Rendah laktosa dan serat karena adanya diare.
Intoleransi laktosa sering terjadi pada kasus gizi buruk. Intoleransi laktosa
merupakan gangguan spesifik akibat defek pada enzim pencernaan
karbohidrat. Tanda dan gejaa intoleransi laktosa yaitu kram perut, diare
dan flatulensi, yang terjadi akibat penumpukan laktosa yang tidak tercerna,

28

dan akibat kerja fermentasi bakteri usus terhadap gula yang menghasilkan
gas serta produk-produk lain yang merupakan zat-zat iritan bagi usus
(Dinar, 2009).
- Natrium tidak boleh lebih dari 2 mmol/kg BB/hari karena pada pasien gizi
buruk terjadi gangguan keseimbangan elektrolit (kelebihan Na dalam
tubuh). Semua anak dengan gizi buruk mengalami defisiensi kalium dan
magnesium yang mungkin membutuhkan waktu 2 minggu atau lebih untuk
memperbaikinya. Terdapat kelebihan natrium total dalam tubuh, walaupun
kadar natrium serum mungkin rendah. Oedema dapat diakibatkan oleh
keadaan ini. Jangan obati oedema dengan diuretikum. Pemberian natrium
berlebihan dapat menyebabkan kematian (Dinar, 2009).
- Kalium 5-7 mmol/kg BB/hari. Deficit kalium dapat menyebabkan
gangguan fungsi jantung dan pengosongan lambung.
- Vitamin dan mineral (WHO Indonesia, 2009)
Semua anak gizi buruk mengalami defisiensi vitamin dan mineral.
Meskipun sering ditemukan anemia, jangan beri zat besi pada fase awal,
tetapi tunggu sampai anak mempunyai nafsu makan yang baik dan mulai
bertambah berat badannya (biasanya pada minggu kedua, mulai fase
rehabilitasi), karena zat besi dapat memperparah infeksi.
Berikan setiap hari paling sedikit dalam 2 minggu:
Multivitamin
Asam folat (5 mg pada hari 1, dan selanjutnya 1 mg/hari) Seng (2 mg
Zn elemental/kgBB/hari)
Tembaga (0.3 mg Cu/kgBB/hari)
Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase
rehabilitasi)
Vitamin A: diberikan secara oral pada hari ke 1 (kecuali bila telah
diberikan sebelum dirujuk), dengan dosis seperti di bawah ini:
Umur
Dosis (IU)
< 6 bulan
50 000 (1/2 kapsul Biru)
612 bulan
100 000 (1 kapsul Biru)
1-5 tahun
200 000 (1 kapsul Merah)
Jika ada gejala defisiensi vitamin A, atau pernah sakit campak dalam 3
bulan terakhir, beri vitamin A dengan dosis sesuai umur pada hari ke 1, 2,
dan 15.
- Pemberian makan dengan porsi kecil tapi sering.

29

4.

Preskripsi Diet
Jalur makanan = oral
Jenis diet = F75 8 x 50 100 cc
Jadwal pemberian : tiap 3 jam sekali

5. Perhitungan Kebutuhan Zat Gizi


REE

= 100 kkal/kg BBA


= 100 kkal x 5,04 kg
= 504 kal

TEE

= REE x FA x FS
= 504 x 1 x 1.5
= 756 kkal

Proporsi zat gizi:


P

= (12% x E total)/4
= 22,68 gram

= (50% x E total)/9
= 42 gram

KH

= (38% x E total)/4
= 71,82 gram

4.4.2

Terapi Edukasi
Memberikan konseling gizi dengan rencana edukasi sebagai berikut:
1. Sasaran : keluarga pasien
2. Tujuan : untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi anak dan
memberikan pemahaman kepada ibu tentang diet yang diberikan
3.
4.
5.
6.

kepada pasien
Tempat : ruang rawat inap Seruni 3 -4D
Waktu : 15 menit
Metode : konsultasi, diskusi, praktek
Materi :
Memberikan informasi tentang gizi buruk
Menjelaskan diet yang diberikan kepada pasien

30

Mempraktekkan cara membuat F75 dan jadwal pemberian makan


pasien
4.5
RENCANA MONITORING DAN EVALUASI
4.5.1 Antropometri
Evaluasi berat badan pasien setiap hari.
4.5.2

Biokimia
Perkembangan hasil laboratorium dilihat dari perubahan nilai pemeriksaan

laboratorium pasien. Parameter yang dilihat yaitu Hb pasien (meningkat), albumin


(meningkat hingga mencapai normal).
4.5.3

Fisik/Klinis
Kondisi Fisik dilihat dari kondisi umum pasien (frekuensi diare berkurang

dan tidak ada oedema). Sedangkan kondisi klinis dilihat dari pengukuran suhu
dan nadi pasien.
4.5.4

Asupan/Dietery
Evaluasi dan monitoring asupan dilihat dari jumlah susu yang dihabiskan

oleh pasien dalam sehari. Target yang akan dicapai yaitu asupan energi pasien
yang masuk secara oral mengalami peningkatan dan tidak ada sisa makanan.
4.5.5

Perilaku
Evaluasi dilakukan dengan cara melihat apakah ibu pasien dapat

menjalankan diet pada sesuai dengan anjuran yang diberikan.

31

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1

RENCANA INTERVENSI
Proses asuhan gizi pada studi kasus ini dilakukan pada pasien gizi buruk

yang memiliki latar belakang sosio ekonomi menengah ke bawah dan latar
belakang pendidikan ibu yang cukup rendah. Berdasarkan hasil pengkajian gizi
yang dilakukan kepada keluarga pasien, maka diperoleh beberapa prioritas
masalah terkait gizi yang digunakan sebagai dasar untuk rencana intervensi gizi.
Masalah yang ditemukan pada pasien ini yaitu adanya malnutrisi energi dan
protein, peningkatan kebutuhan energi, dan akses suplai makanan yang terbatas.
Untuk mengatasi masalah yang muncul, maka dilakukan rencana intervensi yang
bertujuan untuk menstabilkan status metabolisme tubuh dan kondisi klinis pasien
dengan cara memberikan diet yang tepat sesuai dengan kondisi pasien serta untuk
mencegah terjadinya refeeding syndrome. Diet yang direncanakan untuk pasien
yaitu pemberian F75 8 x 50 cc yang diberikan secara oral setiap 3 jam sekali (8x
pemberian per hari).
Intervensi kedua yang dilakukan yaitu memberikan terapi edukasi kepada
ibu pasien dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi anak
dan memberikan pemahaman tentang diet yang diberikan kepada pasien. Metode
yang digunakan dalam terapi edukasi ini yaitu konsultasi, diskusi dan praktek cara
pembuatan F75. Pada terapi edukasi ini ibu diberikan pemahaman tentang gizi
buruk pada anak, tatacara pemberian diet F75 serta jadwal pemberian makan, serta
cara pembuatan susu F75. Pada hari pertama pemberian F75, jumlah susu yang
diberikan yaitu sebanyak 50 cc yang diberikan setiap 3 jam sekali.
5.2
HASIL MONITORING
5.2.1 Antropometri
Hasil monitoring terhadap berat badan pasien selama 4 hari sejak dimulai
assessment dapat dilihat pada grafik berikut.

32

Gambar 5.1 Grafik Perkembangan Berat Badan Pasien


Pemantauan antropometri dilihat dari hasil pengukuran berat badan pasien
setiap hari. Berdasarkan gambar 5.1 diatas, dapat dilihat bahwa pada hari pertama
pengamatan terjadi penurunan berat badan pasien sebanyak 6,3 % dari berat
sebelumnya. Namun, pada hari kedua dan ketiga, berat badan pasien kembali naik
meskipun kenaikan berat badannya tidak terlalu signifikan. Hal ini dipengaruhi
oleh ketidakpatuhan ibu dalam menjalankan terapi diet yang diberikan kepada
pasien. Dalam menjalankan terapi diet, ibu tidak mematuhi jadwal dan frekuensi
pemberian makanan yang telah ditetapkan. Ibu hanya memberikan makan kepada
pasien saat pasien menangis atau di saat ibu ingat. Selain itu, pada hari pertama
intervensi ibu hanya memberikan susu F75 sebanyak 3x 50 cc selama sehari. Hal
inilah yang kemungkinan mempengaruhi penurunan berat badan pasien pada hari
pertama. Selama pengamatan, status gizi pasien masih berada pada kategori gizi
buruk (< -3 SD).
5.2.2

Biokimia
Tidak ada pemeriksaan laboratorium terbaru selama dilakukan pengamatan

terhadap pasien.
5.2.3

Fisik/Klinis
Tabel 5.1. Hasil Pengamatan Fisik/Klinis Pasien

Parameter

Hari ke0

33

Suhu
Nadi
GCS
BAB
Iga
gambang
Keadaan
Umum

38C (Demam)
122 x/menit
456
8x cair, ampas

36,8C
118 x/menit
456
5x cair, berlendir

36C
125 x/menit
456
6x cair, warna

36,5C
120 x/menit
456
7x cair

(+)
+

kuning
+

Lemah, kulit

Pasien masih

Pasien masih

Pasien masih

terkelupas,

diare, Lemah,

diare, Lemah,

diare, Lemah,

bentol-bentol,

kulit terkelupas,

kulit terkelupas,

kulit terkelupas,

pasien diare,

bentol-bentol,

bentol-bentol,

bentol-bentol,

oedema di

oedema di

oedema di

oedema di

bagian wajah,

bagian wajah,

bagian wajah,

bagian wajah,

perut buncit

perut buncit

perut buncit

perut buncit

Dari tabel 5.1 diatas dapat dilihat bahwa kondisi fisik dan klinis pasien
tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Pasien masih mengalami diare
dengan frekuensi 5-8 kali sehari. Hal ini dapat mempengaruhi status gizi pasien
karena terjadi pengeluaran kembali nutrisi yang telah diperoleh dari makanan
yang dikonsumsi pasien sehingga kebutuhan zat gizi pasien tidak terpenuhi
dengan baik. Selain itu, pasien juga masih mengalami oedema di bagian wajah.
Oedema pada pasien ini dapat terjadi dikarenakan kadar albumin yang rendah
yang menyebabkan tekanan osmotic darah menurun Namun, pasien sudah tidak
lagi mengalami demam karena terjadi penurunan suhu tubuh selama pengamatan.

5.2.4

Dietary/Asupan

1. Energi
Terapi diet yang diberikan kepada pasien saat pengumpulan data yaitu diet
Nasi Tim dengan total asupan energi pasien sehari sebelumnya yaitu 80%.
Namun, saat pengamatan dilakukan perubahan terapi diet menjadi F75 8 x 50 cc
sehingga terjadi penurunan asupan secara drastis pada hari pertama pengamatan.
Hasil konsumsi energi pasien dapat dilihat pada gambar 3.

34

Gambar 5.2 Total Asupan Energi Pasien


Gambar 5.2 menunjukkan bahwa asupan energi pasien saat hari pertama
monitoring mengalami penurunan jika dibandingkan dengan hari pertama
assessment. Hal ini disebabkan karena ketidakpatuhan ibu dalam menjalankan
terapi diet yang diberikan kepada pasien. Dalam menjalankan terapi diet, ibu tidak
mematuhi jadwal dan frekuensi pemberian makanan yang telah ditetapkan. Ibu
hanya memberikan makan kepada pasien saat pasien menangis atau di saat ibu
ingat. Selain itu, pada hari pertama intervensi ibu hanya memberikan susu F75
sebanyak 3x 50 cc selama sehari sehingga total asupan pasien berkurang. Namun,
pada hari kedua dan ketiga terjadi peningkatan asupan energi pasien dikarenakan
frekuensi pemberian makan pasien juga meningkat meskipun masih belum
mencukupi kebutuhan energi sehari. Selain itu, pada hari kedua dilakukan
perubahan diet dari F75 8 x 50 cc menjadi F75 8 x 100 cc sehingga jumlah energi
yang masuk juga lebih banyak dari sebelumnya. Perubahan diet ini dilakukan
berdasarkan pengamatan terhadap nafsu makan pasien, dimana nafsu makan
pasien cukup baik. Selain itu, perubahan diet dilakukan dengan pertimbangan
untuk meningkatkan asupan energi pasien secara bertahap agar kebutuhan energi
pasien sehari dapat terpenuhi dengan baik.
2. Protein

35

Gambar 5.3 Total Asupan Protein Pasien


Gambar 5.3 menunjukkan bahwa asupan protein pasien saat hari pertama
monitoring mengalami penurunan drastis jika dibandingkan dengan hari pertama
assessment. Hal ini dikarenakan perbedaan diet yang diberikan pada saat
assessment dengan terapi diet saat monitoring. Pada saat assessment pasien
mendapatkan terapi diet Nasi Tim sehingga asupan energi dan proteinnya lebih
banyak dibandingkan dengan F75. Pada hari kedua pengamatan, asupan protein
pasien mengalami peningkatan karena perubahan terapi diet yang dilakukan (F75
8 x 50 cc ditingkatkan menjadi F75 8 x 100 cc) dan adanya tambahan makanan
selain dari formula yang diberikan rumah sakit sehingga berpengaruh terhadap
jumlah asupan pasien. Namun, pada hari ketiga terjadi penurunan asupan protein
meskipun hanya sedikit. Hal ini disebabkan karena asupan makanan tambahan
selain dari formula yang diberikan rumah sakit juga berkurang.
Protein pada pasien ini diberikan cukup tinggi yaitu sebanyak 12% dari
total kebutuhan energi dengan tujuan untuk mencegah terjadinya hipoproteinemia
yang berdampak terhadap terjadinya oedema serta sebagai cadangan energi dalam
tubuh pasien. Selain itu, protein juga diperlukan oleh tubuh untuk membangun
sel-sel yang telah rusak, membentuk zat-zat pengatur seperti enzim dan hormone
serta mencegah terjadinya perlemakan hati yang disebabkan oleh terganggunya

36

sintesis protein di dalam hati akibat kurangnya pasokan asam amino dari protein
(Dinar, 2009).
3. Lemak

Gambar 5.4 Total Asupan Lemak Pasien


Gambar 5.4 menunjukkan bahwa asupan lemak pasien saat hari pertama
monitoring mengalami penurunan drastis jika dibandingkan dengan hari pertama
assessment. Hal ini dikarenakan perbedaan diet yang diberikan pada saat
assessment dengan terapi diet saat monitoring. Pada saat assessment pasien
mendapatkan terapi diet Nasi Tim sehingga asupan lemak lebih banyak
dibandingkan dengan F75. Pada hari kedua monitoring, asupan lemak pasien
mengalami peningkatan sebanyak dua kali lipat karena perubahan terapi diet yang
dilakukan (F75 8 x 50 cc ditingkatkan menjadi F75 8 x 100 cc) dan adanya
tambahan makanan berupa roti tawar dan susu formula sehingga berpengaruh
terhadap jumlah asupan lemak pasien. Asupan lemak pasien selama tiga hari
monitoring terus mengalami peningkatan meskipun belum mencukupi kebutuhan
sehari pasien. Lemak diberikan tinggi pada pasien yaitu 50% dari kebutuhna total
energi sehari untuk mencukupi kebutuhan energi dan sebagai cadangan energi
dalam tubuh pasien. Selain itu, lemak juga berfungsi sebagai isolator, pelindung
organ tubuh serta menyediakan asam-asam lemak esensial yang dibutuhkan
selama masa pengobatan (McGuire & Beerman, 2011).
4. Karbohidrat

37

Gambar 5.5 Total Asupan Karbohidrat Pasien


Gambar 5.5 menunjukkan bahwa asupan karbohidrat pasien saat hari
pertama monitoring mengalami penurunan jika dibandingkan dengan hari pertama
assessment. Hal ini dikarenakan perbedaan diet yang diberikan pada saat
assessment dengan terapi diet saat monitoring. Pada hari kedua monitoring,
asupan karbohidrat pasien mengalami peningkatan karena perubahan terapi diet
yang dilakukan (F75 8 x 50 cc ditingkatkan menjadi F75 8 x 100 cc) dan karena
adanya tambahan makanan berupa roti tawar dan susu formula sehingga
berpengaruh terhadap jumlah asupan karbohidrat pasien. Pada hari ketiga
monitoring, asupan karbohidrat pasien kembali turun dikarenakan konsumsi roti
sudah mulai berkurang. Namun, secara keseluruhan asupan karbohidrat pasien
sudah cukup baik meskipun masih belum memenuhi kebutuhan karbohidrat
pasien sehari. Karbohidrat yang diberikan cukup yaitu 38% dari total kebutuhan
energi karena karbohidrat merupakan sumber energi utama. Selain itu, karbohidrat
diberikan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya pemecahan protein dan
pemecahan lemak akibat kurangnya sumber energi yang diperoleh dari
karbohidrat.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap asupan makan pasien selama tiga
hari, dapat disimpulkan bahwa asupan makan pasien masih belum mencukupi
kebutuhan zat gizi sehari. Hal ini disebabkan karena kurangnya kepatuhan ibu

38

dalam menjalankan terapi diet yang telah diberikan sehingga terapi diet yang
direncakan kepada pasien tidak dapat berjalan secara optimal.
5.2.5

Perilaku
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap perilaku ibu dalam menjalankan

diet terhadap pasien, diketahui bahwa ibu sulit untuk diajak bekerjasama dalam
menjalankan diet pada pasien. Selain itu ditemukan masalah baru terkait perilaku
ibu dalam memberikan diet pada pasien yaitu ibu menggunakan air yang tidak
hygiene dalam pembuatan susu F75 untuk pasien.
5.3
1.
2.

EVALUASI ASUHAN GIZI


Asuhan gizi selama tiga hari yang diberikan kepada pasien hasilnya yaitu:
Antropometri: status gizi pasien belum membaik/tetap
Biokimia: nilai biokimia tidak dapat dievaluasi karena belum dilakukan tes

3.

laboratorium terhadap pasien


Fisik/klinis: kondisi fisik dan klinis tidak menunjukkan banyak perubahan,
hanya suhu yang berubah menjadi normal, sedangkan diare dan oedema

4.

masih ada
Dietary: asupan pasien masih kurang namun mengalami peningkatan dari hari

5.

ke hari
Perilaku: edukasi yang diberikan kepada ibu pasien belum mampu mengubah
perilaku ibu dalam menjalankan terapi diet yang diberikan.
BAB VI
PENUTUP

6.1

KESIMPULAN

1. Terapi diet yang diberikan kepada pasien telah disesuaikan dengan kondisi
pasien yang mengalami gizi buruk, yaitu pemberian F75 8 x 50 cc pada hari
pertama intervensi dan F75 8 x 100 cc pada hari kedua dan ketiga intervensi.
2. Selama pemberian terapi diet tidak terjadi refeeding syndrome pada pasien.
3. Pemberian edukasi kepada keluarga pasien (ibu) tentang terapi diet yang
diberikan kepada pasien dilakukan setiap hari di ruang rawat inap Seruni 34D. Namun, hasil edukasi belum menunjukkan adanya perubahan perilaku ibu
ke arah yang lebih baik dalam menjalankan diet yang dianjurkan.

39

DAFTAR PUSTAKA

Asosiasi Dietisien Indonesia. 2009. Penuntun Diet Anak Edisi 2.


Departemen Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. 2011.
Petunjuk Teknis Tatalaksana Anak Gizi Buruk: Buku II Cetakan Keenam
(Edisi Revisi). Jakarta: Katalog dalam Terbitan, Departemen Kesehatan RI.
Dinar A. 2009. Analisis metabolisme nutrisi berkaitan dengan manifestasi klinis
gizi
buruk
pada
balita
[article].
Tersedia
pada
URL:
https://agathariyadi.wordpress.com/2009/09/04/analisis-metabolismenutrisi-berkaitan-dengan-manifestasi-klinis-gizi-buruk-pada-balita/
Frisda Turrnip. 2008. Pengaruh Positive Deviance Pada Ibu dari Keluarga
Miskin Terhadap Status Gizi Anak Usia 12-24 Bulan di Kecamatan
Sidakalang Kabupaten Dairi Tahun 2007. Tesis : Universitas Sumatra
Utara.
Gutawa Miranti, Yufrida Leni F., Dedeh. 2012. Terminologi dan Matriks dalam
Proses Asuhan Gizi Terstandar. Bandung: Instalasi Gizi RSUP dr. Hasan
Sadikin. ASDI DPC Jabar.
Hasaroh Y. 2010. Perubahan Berat Badan Anak Balita Gizi Buruk yang Dirawat
di RSUP H. Adam Malik Medan. Skripsi : Fakultas Kesehatan Masyarakat
USU Medan.
Kementerian Kesehatan RI. 2011. Petunjuk Penatalaksanaan Anak Gizi Buruk.
Jakarta : Departemen Kesehatan.
Kementerian Kesehatan RI. 2016. Pemantauan Status Gizi Dilakukan di Seluruh
kabupaten/Kota di Indonesia. Article. Dipublikasikan tanggal 22 Maret
2016 dalam URL: http://www.depkes.go.id/
Kementerian Kesehatan RI. Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak.
Jakarta: Direktorat Bina Gizi; 2011.
Lada C, dkk. 2007. Kajian Jenis-Jenis Penyakit Infeksi dan Lamanya Perawatan
Bagi Balita Penderita Gizi Buruk di Panti Rawat Gizi Panite Kabupaten
Timor Tengah Selatan. Jurnal Gizi Klinik Indonesia. Vol 2(2): 1-5.
McGuire, M., Beerman, KA. 2011. Nutritional Sciences: From Fundamentals to
Food, Second Edition. Wadsworth Cengage Learning, Belmont.
Novitasari AD. 2012. Faktor-Faktor Risiko Kejadian Gizi Buruk Pada Balita
yang Dirawat di RSUP dr. Kariadi Semarang. Karya Tulis Ilmiah :
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

40

Persatuan Ahli Gizi Indonesia. 2009. Kamus Gizi. Jakarta : Penerbit Buku
Kompas.
Wahyuningsih, Retno. 2013. Penatalaksanaan Diet pada Pasien. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
World Health Organization Indonesia. 2009. Pelayaan Kesehatan Anak di Rumah
Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

41