Anda di halaman 1dari 69

LAPORAN PRAKTIKUM GEOTEKNIK TAMBANG

TA-3222
SHIFT SELASA 14.00-16.00

Oleh:
1. Kevin Silvanus

12113012

2. Bima Saddha Prabawa

12113054

3. Rahadian Muslim

12113061

4. Jumadi

12113062

5. Muhammad Taher S.

12113064

6. Afdhalulhaq S. Hadi

12113068

7. Samuelson Putra

12113070

8. Fajar Kurniawan

12113072

9. Heru Anggara

12113077

10. Kreshna Damar Segoro

12113080

11. Ghea Tiarasani Sondakh

12113094

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016

BAB 1
TEORI DASAR
Geoteknik adalah suatu bagian dari cabang ilmu Teknik Sipil. Didalamnya diperdalam
pembahasan mengenai permasalahan kekuatan tanah dan hubungannya dengan kemampuan
menahan beban bangunan yang berdiri diatasnya. Pada dasarnya ilmu ini tergolong ilmu tua yang
berjalan bersamaan dengan tingkat peradaban manusia, dari mulai pembangunan piramid di mesir,
candi Borobudur hingga pembangunan gedung pencakar langit sekarang ini. Salah satu contohnya
ialah kemiringan menara pisa di italy disebabkan oleh kekurangan kekuatan dukung tanah terhadap
menara tersebut. Secara keilmuan, bidang teknik sipil ini mempelajari lebih mendalam ilmu ilmu:
Mekanika Tanah dan batuan
Stuktur bawah tanah
Teknik Pondasi
Cara analisis kestabilan lereng banyak dikenal, tetapi secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga
kelompok yaitu: cara pengamatan visual, cara komputasi dan cara grafik (Pangular, 1985) sebagai
berikut:
1) Cara pengamatan visual adalah cara dengan mengamati langsung di lapangan dengan
membandingkan kondisi lereng yang bergerak atau diperkirakan bergerak dan yang yang
tidak, cara ini memperkirakan lereng labil maupun stabil dengan memanfaatkan
pengalaman di lapangan (Pangular, 1985). Cara ini kurang teliti, tergantung dari
pengalaman seseorang. Cara ini dipakai bila tidak ada resiko longsor terjadi saat
pengamatan. Cara ini mirip dengan memetakan indikasi gerakan tanah dalam suatu peta
lereng.
2) Cara komputasi adalah dengan melakukan hitungan berdasarkan rumus (Fellenius, Bishop,
Janbu, Sarma, Bishop modified dan lain-lain). Cara Fellenius dan Bishop menghitung
Faktor Keamanan lereng dan dianalisis kekuatannya. Menurut Bowles (1989), pada
dasarnya kunci utama gerakan tanah adalah kuat geser tanah yang dapat terjadi : (a) tak
terdrainase, (b) efektif untuk beberapa kasus pembebanan, (c) meningkat sejalan
peningkatan konsolidasi (sejalan dengan waktu) atau dengan kedalaman, (d) berkurang
dengan meningkatnya kejenuhan air (sejalan dengan waktu) atau terbentuknya tekanan pori
yang berlebih atau terjadi peningkatan air tanah. Dalam menghitung besar faktor keamanan
lereng dalam analisis lereng tanah melalui metoda sayatan, hanya longsoran yang
mempunyai bidang gelincir saya yang dapat dihitung.
3) Cara grafik adalah dengan menggunakan grafik yang sudah standar (Taylor, Hoek & Bray,
Janbu, Cousins dan Morganstren). Cara ini dilakukan untuk material homogen dengan
struktur sederhana. Material yang heterogen (terdiri atas berbagai lapisan) dapat didekati
dengan penggunaan rumus (cara komputasi). Stereonet, misalnya diagram jaring Schmidt

(Schmidt Net Diagram) dapat menjelaskan arah longsoran atau runtuhan batuan dengan
cara mengukur strike/dip kekar-kekar (joints) dan strike/dip lapisan batuan.
1.1 Metode Fellenius
Ada beberapa metode untuk menganalisis kestabilan lereng, yang paling umum digunakan ialah
metode irisan yang dicetuskan oleh Fellenius (1939). Metode ini banyak digunakan untuk
menganalisis kestabilan lereng yang tersusun oleh tanah, dan bidang gelincirnya berbentuk busur
(arc-failure).
Menurut Sowers (1975), tipe longsorang terbagi kedalam 3 bagian berdasarkan kepada posisi
bidang gelincirnya, yaitu longsorang kaki lereng (toe failure), longsorang muka lereng (face
failure), dan longsoran dasar lereng (base failure). Longsoran kaki lereng umumnya terjadi pada
lereng yang relatif agak curam (>450) dan tanah penyusunnya relatif mempunyai nilai sudut geser
dalam yang besar (>300). Longsoran muka lereng biasa terjadi pada lereng yang mempunyai
lapisan keras (hard layer), dimana ketinggian lapisan keras ini melebihi ketinggian kaki lerengnya,
sehingga lapisan lunak yang berada diatas lapisan keras berbahaya untuk longsor. Longsoran dasar
lereng biasa terjadi pada lereng yang tersusun oleh tanah lempung, atau bisa juga terjadi pada
lereng yang tersusun oleh beberapa lapisan lunak (soft seams).
Perhitungan lereng dengan metode Fellenius dilakukan dengan membagi massa longsoran menjadi
segmen-segmen seperti pada contoh gambar 1, untuk bidang longsor circular adalah:

Metode Fellenius dapat digunakan pada lerenglereng dengan kondisi isotropis, non isotropis dan
berlapis-lapis. Massa tanah yang bergerak
diandaikan terdiri dari atas beberapa elemen
vertikal. Lebar elemen dapat diambil tidak sama
dan sedemikian sehingga lengkung busur di dasar
elemen dapat dianggap garis lurus.
Berat total tanah/batuan pada suatu elemen (W,)
termasuk beban Iuar yang bekerja pada permukaan
lereng (gambar 2) Wt, diuraikan dalam komponen
tegak lurus dan tangensial pada dasar elemen.
Dengan cara ini, pengaruh gaya T dan E yang
bekerja disamping elemen diabaikan. Faktor
keamanan adalah perbandingan momen penahan
longsor dengan penyebab Iongsor. Pada gambar 2
momen tahanan geser pada bidang Iongsor adalah :
Mpenahan = R. r
Dimana : R = gaya geser
r = jari-jari bidang longsor
Tahanan geser pada dasar tiap elemen adalah :

Momen penahan yang ada sebesar :

Komponen tangensial Wt, bekerja sebagai penyebab Iongsoran yang menimbulkan momen
penyebab sebesar:

Faktor keamanan dari lereng menjadi :

Jika lereng terendam air atau jika muka air tanah diatas kaki lereng, maka tekanan air pori akan
bekerja pada dasar elemen yang ada dibawah air tersebut. Dalam hal ini tahanan geser harus
diperhitungkan yang efektif sedangkan gaya penyebabnya tetap diperhitungkan secara total,
sehingga rumus menjadi :

Dimana : u = tegangan air pori didasar bidang longsoran.


Persamaan diatas dapat dijelaskan dalam gambar 2

1.2 Metode Bishop


a. Metode ini pada dasarnya sama dengan metode swedia, tetapi dengan memperhitungkan
gaya-gaya antar irisan yang ada. Metode Bishop mengasumsikan bidang longsor
berbentuk busur lingkaran.

b.

Pertama yang harus diketahui adalah geometri dari lereng dan juga titik pusat busur
lingkaran bidang luncur, serta letak rekahan.
c. Untuk menentukan titik pusat busur lingkaran bidang luncur dan letak rekahan pada
longsoran busur dipergunakan grafik
Metode Bishop yang disederhanakan merupakan metode sangat populer dalam analisis kestabilan
lereng dikarenakan perhitungannya yang sederhana, cepat dan memberikan hasil perhitungan
faktor keamanan yang cukup teliti. Kesalahan metode ini apabila dibandingkan dengan metode
lainnya yang memenuhi semua kondisi kesetimbangan seperti Metode Spencer atau Metode
Kesetimbangan Batas Umum, jarang lebih besar dari 5%. Metode ini sangat cocok digunakan
untuk pencarian secara otomatis bidang runtuh kritis yang berbentuk busur lingkaran untuk
mencari faktor keamanan minimum.
Metode Bishop sendiri memperhitungkan komponen gaya-gaya (horizontal dan vertikal) dengan
memperhatikan keseimbangan momen dari masing-masing potongan, seperti pada gambar 2.
Metode ini dapat digunakan untuk menganalisa tegangan efektif.

Gambar 3. Stabilitas lereng


dengan metode Bishop

Cara analisa yang dibuat oleh A.W.


Bishop (1955) menggunakan cara elemen dimana gaya yang bekerja pada tiap elemen ditunjukkan
pada seperti pada gambar 4. Persyaratan keseimbangan diterapkan pada elemen yang membentuk
lereng tersebut.
Faktor keamanan terhadap longsoran didefinisikan sebagai perbandingan kekuatan geser
maksimum yang dimiliki tanah di bidang longsor (Stersedia) dengan tahanan geser yang diperlukan
untuk keseimbangan (Sperlu).

Harga m.a dapat ditentukan dari gambar. Cara penyelesaian merupakan coba ulang (trial and
errors) harga faktor keamanan FK di ruas kiri persamaan faktor keamanan diatas, dengan
menggunakan gambar 5. untuk mempercepat perhitungan. Faktor keamanan menurut cara ini
menjadi tidak sesuai dengan kenyataan, terlalu besar, bila sudut negatif ( - ) di lereng paling bawah
mendekati 30 . Kondisi ini bisa timbul bila lingkaran longsor sangat dalam atau pusat rotasi yang
diandalkan berada dekat puncak lereng. Faktor keamanan yang didapat dari cara Bishop ini lebih
besar dari yang didapat dengan cara Fellenius.

1.3 Metode Janbu


a. Metode ini digunakan untuk menganalisis lereng yang bidang longsornya tidak berbentuk
busur lingkaran.
b. Bidang longsor pada analisa metode janbu ditentukan berdasarkan zona lemah yang terdapat
pada massa batuan atau tanah.
c. Cara lain yaitu dengan mengasumsikan suatu faktor keamanan tertentu yang tidak terlalu
rendah. Kemudian melakukan perhitungan beberapa kali untuk mendapatkan bidang longsor
yang memiliki faktor keamanan terendah.

Metode Janbu, untuk tanah berbutir kasar : Qp = Ap (c Nc+ q Nq)


Dimana :
c = Kohesi tanah (kN/m2)

Nc, Nq = Faktor daya dukung ujung tiang berdasarkan tabel Janbu.

Janbu (1954) mengembangkan suatu cara analisa kemantapan lereng yang dapat diterapkan untuk
semua bentuk bidang longsor.

Keadaan keseimbangan untuk setiap elemen dan seluruh massa yang longsor mengikuti persamaan
dibawah ini :

1.4 Peran Geotek di Pertambangan


Sebenarnya tidak hanya melakukan perhitungan saja tetapi lebih mengarah kepada memberikan
panduan kepada pihak terkait mengenai potensi bahaya geoteknik yang akan terjadi kepada pihak
terkait (manajemen perusahaan, institusi, mineplanner, dll). Sekilas contoh geoteknik dalam dunia
tambang.
1. Eksplorasi dan mine development. Geoteknik diperlukan untuk memandu kepada arah
pembuatan desain pit yang optimal dan aman (single slope degree, overall slope degree,
tinggi bench,potensi bahaya longsor yang ada ex: longsoran bidang, baji, topling busur,dll)
sesuai dengan kriteria SFnya. Disini ahli geotek tidak hanya melakukan analisis namun
juga ikut turun memetakan kondisi geologi (patahan/lipatan/rekahan, dll) dilokasi yang
akan dibuka tambang. Selain itu juga geoteknik diperlukan dalam pembangunan
infrastruktur tambang seperti stockpile, port, jalan hauling diareal lemah, dll. Disini, peran

ahli geotek adalah memberikan analisis mengenai daya dukung tanah yang aman, cut fill
volume, serta langkah-langkah yang diperlukan untuk memenuhi safety factor sehingga
ketika dilakukan kontruksi dan digunakan tidak terjadi kegagalan (failure)
2. Operasional Tambang pada kondisi ini ahli geotek berperan dalam pengawasan kondisi pit
dan infrastructur yang ada, sebagai contoh pengawasan pergerakan lereng tambang, zonazona potensi longsor di areal tambang (pit dan waste dump) akibat proses penambangan,
prediksi kapan longsor akan terjadi, apakah berbahaya untuk operasional di pit atau tidak,
langkah apa saja yang harus dilakukan untuk mengantisipasi longsor seperti mengevakuasi
alat, melakukan push back untuk menurunkan derajat kemiringan lereng, melakukan
penguatan, melakukan pengeboran horizontal untuk mengeluarkan air tanah,dll. Disini
peran ahli geotek memandu tim safety dalam pengawasn operasional tambang dan ahli
geotek bisa melakukan penyetopan operasional pit jika membahayakan keselamatan
manusia dan alat. Diinfrastruktur juga berlaku hal yang sama.
3. Post mining Setelah kegiatan penambangan selesai, geotek bekerja sama dengan safety
juga berperan untuk memastikan bahwa kondisi waste dump dan pit dalam kondisi aman
dan tidak terjadi longsor dalam jangka waktu lama, karena setelah tambang selesai lahan
tersebut akan dikembalikan kepada pemerintah dan masyarakat dan menyangkut masalah
citra perusahaan, bagi perusahaan yang berstatus green company hal ini merupakan harga
mati yang tidak bisa ditawar.
1.5 Slide
SLIDE adalah program 2D kemantapan lereng untuk mengevaluas faktor kemananan (FK) atau
kemungkinan longsoran, baik longsoran permukaan circular atau non-cirucular pada tanah atau
batuan lereng. SLIDE sangat mudah digunakan, dan model komplit dapat dibuat dan dianalisis
cepat dan mudah. Memuat keadaan luar, muka air tanah dan mendukung semua model pada
keanekaragaman cara.
SLIDE menganalisis stabilitas dari permukaan miring dengan menggunakan metoda
kesetimbangan batas (misal Bishop, Janbu, Spencer, etc.). Permukaan dapat dianalisis atau dapat
menggunakan metoda yang dapat diaplikasikan untuk melihat lokasi dari permukaan longsoran
yang kritikal dari lereng yang telah diberikan. Sehingga Faktor Keamanan dapat dianalisis.
Beberapa keistimewaan SLIDE:
Permukaan kritikal yang dapat menggunakan metoda untuk longsoran busur maupun
bukan longsoran busur
Metoda analisis meliputi Bishop, Janbu, Spencer, GLE/Morgenstern-Price
Banyak material
Anisotrop, material Mohr-Coulomb non-linier
Analisis Probabilistik menghitung kemungkinan runtuhan, reliability index
Analisis sensitivitas
Permukaan air tanah-piezo, Faktor Ru, Grid tekanan pori, elemen batas, analisis air tanah,
faktor Bbar

Tension crack (terisi air atau kering)


Tekanan atau gaya eksternal, terdistribusi merata atau seismik
Penyanggaan
Analisis balik yang diperlukan untuk gaya penyanggaan untuk faktor keamanan
Melihat beberapa atau semua permukaan dengan pencarian
Hasil analisis detail dapat di plot untuk permukaan longsoran tunggal
Dengan program SLIDE, SLIDE memiliki kapabilitas untuk menggunakan elemen batas yang
berdasarkan analisis seepage dari air tanah, untuk keadaan jenuh ataupun tidak jenuh, dan kondisi
aliran tunak. Analisis air tanah di SLIDE membuat pemakai dengan mudah mendefinisikan dan
analisis masalah air tanah, menggunakan model yang sama seperti yang digunakan untuk masalah
kestabilan lereng. Batas dari masalah hanya perlu didefinisikan sekali, dan akan digunakan untuk
analisis air tanah dan analisis kestabilan lereng.
Walaupun analisis air tanah di SLIDE dilengkapi ke arah kalkulasi dari tekanan pori untuk masalah
kestabilan lereng, dan tidak dibatasi untuk konfigurasi geometri lereng. Pemodelan air tanah dan
analisis kestabilan di SLIDE, dapat digunakan untuk menganalisis arbitrase, masalah air tanah 2D,
untuk jenuh dan tidak jenuh. Analisis air tanah di SLIDE dapat mempertimbangkan dengan
program analisis air tanah yang secara lengkap, dan dapat digunakan dengan sendiri dari kestabilan
lereng.

BAB II
SOAL
2.1 Modul 1 Perhitungan Faktor Keamanan Suatu Lereng Homogen, Tidak Berlapis dan
Isotrop
Suatu lereng dengan geometri seperti dibawah merupakan lereng batu lanau yang homogen, tidak
berlapis dan bersifat isotropik.
Geometri lereng :
Tinggi lereng (H) : 30 meter
Kemiringan lereng ()
: 60o
Kondisi lereng
: Kering
Karakteristik fisik dan mekanik material pembentuk lereng :
No.

Karakteristik

Batau Lanau

1.
2.

Kohesi (C)
Sudut geser dalam ()

87,0 kN/m2
16o

3.
4.
5.

Bobot isi ()
Nisbah tekanan pori (ru)
Indeks Plastisitas (pi)

18,5 kN/m3
0
0

Tugas :
1. Gunakan program perhitungan kemantapan lereng yang menggunakan metode perhitungan
kesetimbangan batas. Jelaskan prinsip perhitungan metode kesetimbangan batas dan
mengapa metode tersebut saudara pakai?
2. Tulis secara sistematis urutan pemakaian program tersebut
3. Hitung Faktor Keamanan (FK) untuk:
a. Sifat fisik dan mekanik sesuai dangan table diatas
b. Bila
i. Nilai dalam table diatas dikurangi 25%
ii. Nilai dalam table diatas ditambah 25%
iii. Nilai C dalam table diatas dikurangi 25%
iv. Nilai C dalam table diatas ditambah 25%
v. Nilai dalam table diatas dikurangi 25%
vi. Nilai dalam table diatas ditambah 25%

4. Buatlah analisis tentang kemantapan lereng dari perhitungan FK pada butir 3.a dan analisis
tentang pengaruh variasi nilai karakteristik material terhadap kemantapan lereng pada butir
3.b diatas
2.2 Modul 2 Perhitungan Factor Keamanan Suatu Lereng Homogen, Berlapis dan Isotrop
Suatu lereng dengan geometri seperti dibawah merupakan lereng homogen yang dibentuk oleh 3
lapisan (berurutan dari atas ke bawah) yaitu batu lanau, batu pasir dan batu lempung.
Geometri lereng :

Tinggi lereng (H) : 40 meter

Kemiringan lereng ()

Kondisi lereng

: 60o

: Kering

Karakteristik fisik dan mekanik material pembentuk lereng :

No.

Karakteristik

Batau Lanau

Batau Pasir

Batau Lempung

1.

Kohesi (C)

87,0 kN/m2

130,0 kN/m2

100,0 kN/m2

2.

Sudut geser dalam ()

16o

21,56o

15,46o

3.

Bobot isi ()

18,5 kN/m3

23,5 kN/m3

22,5 kN/m3

4.

Nisbah tekanan pori (ru)

5.

Indeks Plastisitas (pi)

Tugas :
1. Hitung Faktor Keamanan (FK) lereng dengan menggunakan program kemantapan lereng
yang memakai metode perhitungan kesetimbangan batas untuk sifat fisik dan mekanik
sesuai dengan tabel diatas.
2. Buatlah analisis tentang kemantapan lereng dari perhitungan diatas.

2.3 Modul 3 Perhitungan Factor Keamanan Suatu Lereng Tidak Homogen, Berlapis, Tidak
Isotrop dan Terdapat Beban Gempa
Suatu lereng dengan geometri seperti dibawah merupakan lereng homogen yang dibentuk oleh 3
lapisan (berurutan dari atas ke bawah) yaitu batu lanau, batu pasir dan batu lempung.
Geometri lereng :

Tinggi lereng (H) : 40 meter

Kemiringan lereng ()

Kondisi lereng

: 60o

: Kering
Mengalami beban gempa, koefisien gempa 0,25 g

Karakteristik fisik dan mekanik material pembentuk lereng :

No.

Karakteristik

Batau Lanau

Batu Pasir

Batau Lempung

1.

Kohesi (C)

87,0 kN/m2

130,0 kN/m2

100,0 kN/m2

2.

Sudut geser dalam ()

16o

21,56o

15,46o

3.

Bobot isi ()

18,5 kN/m3

23,5 kN/m3

22,5 kN/m3

4.

Nisbah tekanan pori (ru)

5.

Indeks Plastisitas (pi)

Tugas :
1. Hitung Faktor Keamanan (FK) lereng dengan menggunakan program perhitungan
kemantapan lereng yang memakai metode perhitungan kesetimbangan batas untuk sifat
fisik dan mekanik sesuai dengan tabel diatas.
2. Buatlah analisis tentang kemantapan lereng dari perhitungan tersebut.
3. Bandingkan dengan hasil perhitungan modul 2.

2.4 Modul 4 Perhitungan Faktor Keamanan Suatu Leremg Tidak Homogen, Berlapis, Tidak
Isotrop dan Mengandung Air
Suatu lereng dengan geometri seperti dibawah merupakan lereng homogen yang dibentuk oleh 3
lapisan (berurutan dari atas ke bawah) yaitu batu lanau, batu pasir dan batu lempung.
Geometri lereng :

Tinggi lereng (H) : 40 meter

Kemiringan lereng ()

Kondisi lereng

: 60o

: Terdapat muka air tanah

Karakteristik fisik dan mekanik material pembentuk lereng :

No.

Karakteristik

Batau Lanau

Batu Pasir

Batau Lempung

1.

Kohesi (C)

87,0 kN/m2

130,0 kN/m2

100,0 kN/m2

2.

Sudut geser dalam ()

16o

21,56o

15,46o

3.

Bobot isi ()

18,5 kN/m3

23,5 kN/m3

22,5 kN/m3

4.

Nisbah tekanan pori (ru)

5.

Indeks Plastisitas (pi)

Tugas :
1. Hitung Faktor Keamanan (FK) lereng dengan menggunakan program perhitungan
kemantapan lereng yang memakai metode perhitungan kesetimbangan batas untuk sifat
fisik dan mekanik sesuai dengan tabel diatas.
2. Buatlah analisis tentang kemantapan lereng dari perhitungan tersebut.
3. Bandingkan dengan hasil perhitungan modul 2.

BAB III
Penjelasan Modul dan Analisis
3.1 Modul 1 Perhitungan Faktor Keamanan Suatu Lereng Homogen, Tidak Berlapis dan
Isotrop
3.1.1 Metode Kesetimbangan Batas
Metode kesetimbangan batas (Limit Equilibrium Method) merupakan metode yang sangat popular
untuk digunakan dalam menganalisis kestabilan lereng tipe gelinciran translasional dan rotasional.
Metode ini relative sederhana, mudah digunakan, serta telah terbukti kehandalannya dalam praktik
rekayasa selama bertahun-tahun.
Pada metode ini, perhitungan analisis kestablian lereng hanya digunakan kondisi kesetimbangan
static saja dan mengabaikan adanya hubungan tegangan-regangan pada lereng. Asumsi lainnya,
yaitu geometri dari bentuk bidang runtuh, harus diketahui dan ditentukan terlebih dahulu.
Kondisi kestabilan lereng dalam metode kesetimbangan batas dinyatakan dalam indeks factor
keamanan. Factor keamanan dihitung menggunakan kesetimbangan gaya, kesetimbangan momen,
atau menggunakan kedua kondisi kesetimbangan tersebut, tergantung dari metode perhitungan
yang dipakai.
Metode Biasa (Fellenius atau Swedia). Metode biasa adalah metode yang paling sederhana
dari metode irisan karena mempunyai prosedur dimana hasilnya adalah suatu persamaan
faktor keamanan linier. Menurut Fellenius (1936), gaya antar irisan dapat diabaikan karena
gaya- gaya ini paralel dengan dasar tiap irisan. Pada metode ini prinsip Newton tentang
aksi reaksi antar irisan tidak dapat dipenuhi. Perhitungan faktor keamanan yang tidak
membedakan perubahan gaya resultan antar irisan dari satu irisan ke irisan yang lain akan
mempunyai kesalahan sampai 60 % (Whitman dan Bailey, 1967).
Metode Bishop Simplified. Metode Bishop simplified menggunakan prinsip metode irisan
dalam menguraikan massa tanah untuk menentukan faktor keamanan. Metode ini
mengabaikan gaya geser antar irisan dan kemudian mengasumsikan bahwa gaya normal
atau horizontal cukup untuk mendefinisikan gaya- gaya antar irisan. (Bishop, 1955). Gaya
normal di dasar dan tiap irisan ditentukan dengan menjumlahkan gaya- gaya dalam arah
vertikal.
Metode Janbu. Metode Janbu dipakai untuk menganalisa lereng yang bidang longsornya
tidak berbentuk busur lingkaran. Bidang longsor pada analisis metode Janbu ditentukan
berdasarkan zona lemah yang terdapat pada massa batuan atau tanah.
Metode Bishop. Pada dasarnya sama dengan metode Swedia, tetapi metode ini
memperhitungkan gaya-gaya antar irisan. Bishop mengasumsikan bidang longsor
berbentuk busur lingkaran dibagi menjadi beberapa segment. Semakin banyak segmen
yang dihitung maka semakin tinggi tingkat ketelitiannya.

3.1.2 Langkah Kerja

Buka Program Slide

Pilih File dan New

Pilih Pengaturan Project Setting

Boundaries dan Buat Penampang(0,0) -> (183.094,0) -> (183.094,40) -> (103.094,40) ->
(80,80) -> (0,80) -> (0,0)

Atur Tinggi dan Sudut Lereng

Pengaturan Material Properties

Buat Auto Grid

Compute dan Interpret

3.1.3 Perhitungan Faktor Keamanan Lereng

Nilai Faktor Keamanan Lereng Fellenius

= 1.260

Nilai Faktor Keamanan Lereng Bishop

= 1.248

Nilai Faktor Keamanan Lereng Janbu

= 1.285

3.1.4 Perhitungan Faktor Keamanan Lereng Data Modifikasi


3.1.4.1 Nilai dikurangi 25%

Nilai Faktor Keamanan Lereng Fellenius

= 1.553

Nilai Faktor Keamanan Lereng Bishop

= 1.537

Nilai Faktor Keamanan Lereng Janbu

= 1.586

3.1.4.2 Nilai ditambah 25%

Nilai Faktor Keamanan Lereng Fellenius

= 1.078

Nilai Faktor Keamanan Lereng Bishop

= 1.070

Nilai Faktor Keamanan Lereng Janbu

= 1.097

3.1.4.3 NIlai C dikurangi 25%

Nilai Faktor Keamanan Lereng Fellenius

= 1.032

Nilai Faktor Keamanan Lereng Bishop

= 1.024

Nilai Faktor Keamanan Lereng Janbu

= 1.050

3.1.4.4 NIlai C ditambah 25%

Nilai Faktor Keamanan Lereng Fellenius

= 1.483

Nilai Faktor Keamanan Lereng Bishop

= 1.465

Nilai Faktor Keamanan Lereng Janbu

= 1.513

3.1.4.5 Nilai dikurangi 25%

Nilai Faktor Keamanan Lereng Fellenius

= 1.161

Nilai Faktor Keamanan Lereng Bishop

= 1.150

Nilai Faktor Keamanan Lereng Janbu

= 1.187

3.1.4.6 Nilai ditambah 25%

Nilai Faktor Keamanan Lereng Fellenius

= 1.354

Nilai Faktor Keamanan Lereng Bishop

= 1.345

Nilai Faktor Keamanan Lereng Janbu

= 1.379

3.1.5 Analisis
Nama/Nim : Kevin Silvanus / 12113012
Analisis :
Pada hasil perhtiungan nilai FK (Faktor Keamanan) lereng dengan kondisi normal dengan
menggunakan software slide, didapat bahwa nilai faktor keamanan dengan menggunakan 3
metode yang berbeda memberikan hasil dimana lereng berada dalam keadaan stabil (>1).
Ketiga metode analisis tersebut juga memberi perbedaan nilai faktor keamanan yang tidak jauh
berbeda dengan rentang perbedaan antara 0.01 0.03, dimana metode analisis lereng
menggunakan Janbu akan memberikan nilai yang paling besar, sementara yang paling kecil
akan dihasilkan oleh metode analisis Bishop. Hal ini menunjukan ketiga metode tersebut
memiliki hasil yang tidak berbeda jauh. Kamudian untuk variasi modifikasi dari bobot isi,
kohesi dan sudut gesek dalam akan memberi pengaruh seperti :
o Bobot isi : Hasil perhitungan dengan software slide menunujkan bahwa
semakin besar bobot isi maka akan memberikan nilai faktor keamanan yang
semakin kecil, dan sebaliknya semakin kecil nilai bobot isi maka akan
memberikan nilai faktor keamanan yang semakin besar. Hal ini terjadi karena
ketika bobot isi bertambah pada volume lereng yang sama seperti di atas, maka
bobot lereng akan semakin bertambah, dengan bertambahnya bobot lereng ini,
maka nilai gaya penggerak juga akan semakin besar, sehingga nilai faktor
keamanan akan semakin kecil.
o Kohesi : Hasil perhitungan dengan software slide menunjukan bahwa semakin
besar nilai kohesi maka nilai faktor kemanan akansamkin besar juga, begitupun
dengan sebaliknya semakin kecil nilai kohesi maka nilai faktor keamanan akan
semakin kecil. Secara ilmiah hal ini terjadi karena kohesi merupakan salah satu
komponen dalam gaya penahan, dimana semakin besar nilai kohesi maka gaya
penahan dalam bidang lereng akan semakin besar dan sebaliknya. Sementara
secara rumus, apabila gaya penahan semakin besar, maka faktor kemanan akan

semakin besar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai kohesi akan


berbanding lurus dengan faktor keamanan lereng.
o Sudut geser dalam : Hasil perhitungan dengan software slide menunjukan
bahwa semakin besar nilai sudut geser dalam, maka nilai faktor keamanan akan
semakin besar, sebaliknya jika semakin kecil nilai sudut geser dalam maka nilai
faktor keamanan juga akan semakin kecil. Hal ini terjadi karena secara empiric
nilai sudut geser dalam berada dalam komponen gaya penahan, sehingga
apabila sudut geser dalam makin besar, maka nilai gaya penahan akan semakin
besar dan menyebabkan faktor keamanan juga semakin besar. Dapat
disimpulkan bahwa nilai sudut geser dalam berbanding lurus dengan nilai
faktor keamanan.
Dari ketiga faktor tadi, yang menurut saya paling mempengaruhi adalah faktor bobot isi. Dapat
dilihat diatas apabila bobot isi diubah maka akan memberi perbedaan faktor keamanan paling
signifikan dari keadaan normal dibandingkan dengan kohesi dan sudut geser dalam.
Nama/Nim : Rahadian Muslim / 12113061
Analisis :
Nama/Nim : Taher Syukur / 12113064
Analisis :
Dari data dihasilkan nilai safety factor dengan menambahkan 25% bobot isi lebih lecil
dari pada mengecilkan bobot isi 25%. Bobot isi merupakan gaya penggerak tanah
untuk longsor. Jadi semakin besar bobot isi semakin kecil safety factor.
Nilai kohesi ditambahkan 25% memiliki nilai safety factor yang lebih tinggi daripada
dikurangi 25%. Kohesi adalah gaya tarik-menarik antar partikel batuan, jadi semakin
besar kohesi maka nilai safety factor akan semakin besar karena memiliki gaya antar
partikelnya untuk bersatu semakin besar sehingga mampu menahan beban.
Semakin besar sudut geser dalam, maka kuat geser batuan juga lebih besar. Dengan
demikian lereng yang disusun oleh batuan tersebut lebih mantap
Nama/Nim : Bima Saddha Prabawa / 12113054
Analisis :
Setelah melihat dari perubahan parameter 25%, FK lereng masih di atas 1. Parameter bobot isi
akan mengurangi FK jika ditambah sedangkan parameter kohasi menambah FK. Lereng
tergolong aman.
Nama/Nim : Jumadi / 12113062
Analisis :
Semua FK akibat perubahan parameter kohesi, sudut geser dalam, dan bobot isi dalam rentang
+-25% bernilai lebih dari 1, yang secara teoritis menunjukkan bahwa lereng masih dalam
kondisi aman.

Nama/Nim : Samuelson Putra/ 12113070


Analisis :
Kami menggunakan beberapa metode yaitu
Metode Ordinary, Metode Simplified dan Metode Janbu Simplified. Diperoleh nilai
masing masing faktor keamanan sebesar 1,260 untuk Metode Ordinary/Fellenius,
1,248 untuk Metode Simplified, dan 1,285 untuk Metode Janbu Simplified. Dari ketiga nilai
FK diatas, dapat dianalisis bahwa kondisi lereng dalam keadaar normal cukup baik, karena nilai
FK (Faktor Keamanan) lebih dari 1,2. Nilai FK lebih dari 1,2 menandakan bahwa gaya penahan
lebih besar 1,2 kali dari pada gaya penggerak, Sehingga lereng masih mampu bertahan atau
memenuhi kestabilannya.
Analisis kedua terhadap perubahan bobot isi, dimana saat bobot isi (g) dikurangi 25%, nilai FK
menjadi lebih tinggi ( Ordinary 1.553, Bishop 1.537, Janbu 1.586), sedangkan saat bobot isi (g)
ditambah, nilai FK menjadi lebih rendah ( Ordinary 1.078, Bishop 1.070, Janbu 1.097). Dari
data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa besarnya nilai FK berbanding terbalik dengan
bobot isi sehingga akan lebih baik nantinya untuk kestabilan lereng ialah yang memiliki bobot
isi yang tidak terlalu tinggi atau dalam mengatasi ketidakstabilan lereng dengan mengurangi
bobot isinya.
Analisis selanjutnya terhadap perubahan nilai kohesi (C), dimana saat Kohesi dikurangi 25%
nilai FK menjadi lebih rendah dari normal ( Ordinary 1.032, Bishop 1.024, Janbu 1.050).
Sebaliknya, saat nilai kohesi ditambah 25% nilai FK menjadi lebih tinggi dari normal (Ordinary
1.483, Bishop 1.465, Janbu 1.513). Dari data tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa
peribahan nilai kohesi (C) berbanding lurus dengan perubahan nilai FK. Dari hal ini dapat
diasumsikan bahwa material dengan kohesi yang cukup tinggi dapat memberikan kestabilan
pada lereng.
Analisis selanjutnya terhadap perubahan nilai sudut geser dalam, dimana saat sudut geser dalam
dikurangi 25% nilai FK menjadi lebih rendah dari normal (Ordinary 1.161,
Bishop 1.150, Janbu 1.187). Sebaliknya saat nilai sudut geser dalam ditambah 25% nilai FK
menjadi lebih tinggi dari normal (Ordinary 1.354, Bishop 1.345, Janbu 1.379).
Dari data tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa peribahan nilai sudut geser dalam
berbanding lurus dengan perubahan nilai FK. Dari hal ini dapat diasumsikan bahwa dalam
merekayasa kestabilan lereng dapat dimanfaatkan dengan memanfaatkan sudut geser
(melakukan perubahan bergantung terhadap jenis material juga).
Nama/Nim : Afdhalulhaq S. Hadi / 12113068
Analisis :
Semua metode menghasikan FK tertinggi, kecuali pada penambahan sudut gesek
dalam sebesar 25.

Nilai akan bertambah: bobot isi dikurangi, kohesi ditambah atau sudut gesek dalam
dikurangi. Begitu sebaliknya.
Nilai terendah yaitu metode bishop.

Nama/Nim : Fajar Kurniawan / 12113072


Analisis :
Berdasarkan geometri lereng dan karakteristik fisik dan mekanik dari material pembentuk lereng
didapatkan FK yang cukup baik untuk lereng-lereng tambang yaitu 1.2-1.3. Hal ini terjadi
dikarenakan gaya kohesi dan sudut geser dalam antar material masih dapat menahan gaya-gaya
penggerak yang terjadi di lereng dengan geometri lereng yang seperti itu. Apabila sifat-sifat
karakteristik dari material pembentuk diubah kita dapat lihat bahwa terjadi perubahan dari FK
suatu lereng dikarenakan sifat-sifat karakteristik material pembentuk akan mempengaruhi gayagaya yang akan menahan gaya penggerak di lereng. Jika bobot isi dinaikan maka FK akan
semakin kecil dibandingkan dengan bobot isi diturunkan, hal ini terjadi dikarenakan saat bobot
isi semakin kecil maka gaya penggerak yang menyebabkan longsor akan semakin kecil dan
lereng akan menjadi lebih stabil. Jika kohesi dinaikan maka FK akan semakin besar
dibandingkan dengan kohesi diturunkan, hal ini terjadi dikarenakan saat kohesi semakin besar
maka gaya-gaya gesek yang terjadi akan semakin besar untuk menahan gaya-gaya yang
penggerak yang terjadi di lereng. Jika sudut gesek dalam dinaikan maka FK akan semakin besar
dibandingkan dengan sudut gesek dalam diturunkan, hal ini terjadi sudut gesek dalam yang
terbentuk oleh partikel-partikel material pembentuk lereng akan mempengaruhi kuat geser
batuan yang mampu menahan gaya penggerak yang terjadi di lereng.
Nama/Nim : Heru Anggara / 12113077
Analisis :
Mengenai kemantapan lereng yang diperoleh melalui perhitungan nilai Faktor Keamanan (FK),
sesuai dengan sifat fisik dan mekanik yang ada pada soal diperoleh nilai FK secara umum > 1
dengan menggunakan ketiga metode untuk menghitung kemantapan lereng. Analisis sesuai
dengan parameter dapat dikatakan lereng tersebut aman, karena lereng yang dianalisis memiliki
sifat fisik dan mekanik mendukung kestabilan dan kemantapan lereng. Pengaruh nilai variasi
karakteristik material bila massa jenis diperbesar akan menyebabkan nilai FK mengecil, dan
sebaliknya .Hal ini disebabkan karena massa jenis batuan mempengaruhi kuat geser batuan
pembentuk lereng. Bila kohesi dan sudut geser dalam diperkecil, nilai FK yang diperoleh akan
lebih besar dari FK awal, karena struktur batuan yang mengalami pergesekan menjadi
berkurang, sehingga FK lereng akan meningkat.
Nama/Nim : Kreshna Damar S. / 12113080
Analisis :
Untuk nilai FK pada poin 3a didapatkan nilai FK dengan menggunakan metode Fellinius
FK= 1.260, dengan metode bishop FK = 1.248, dan dengan metode Janbu didapatkan FK =
1.285. Hasil tersebut menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode Fellenius, metode
bishop dan metode janbu didapatkan nilai faktor keamanan yang berbeda-beda. Hal ini di
karenakan metode yang digunakan untuk menghitung kemantapan lereng tersebut juga berbeda-

beda. Namun dengan nilai tersebut masih tergolong kurang baik dikarenakan nilai factor
keamanan untuk lereng yang baik berkisar sekitar 1.3.
Untuk nilai FK ketika dikurangi 25% sehingga nilai =13.875 kN/m3 dengan
menggunakan metode Fellenius didapatkan FK = 1.553, menggunakan metode Bishop
didapatkan FK = 1.537, dan dengan menggunakan metode Janbu didapatkan FK = 1.586
kemudian jika nilai dari nilai semula ditambah 25 persen sehingga nilai =23.125 kN/m3
dengan menggunakan metode Fellenius didapatkan FK = 1.078, menggunakan metode Bishop
didapatkan FK = 1.070, dan dengan menggunakan metode Janbu didapatkan FK = 1. 097.
Dapat dilihat bahwa terdapat penurunan nilai FK ketika nilai bobot isi() mengalami
peningkatan dan justru nilai FK mengalami peningkatan jika nilai bobot isi() mengalami
penurunan.
Berikut ini merupakan salah satu contoh grafik yang memperlihatkan perubahan nilai FK jika
terjadi perubahan nilai bobot isi dengan menggunakan metode Original/Fellinius, metode bishop
dan metode Janbu:

Bobot
Isi(kN/m3)
13.875
18,5
23.125

Bobot
Isi(kN/m3)
13.875
18,5
23.125

FK
1.537
1.248
1.07

FK
1.553
1.26
1.078

Bobot
Isi(kN/m3)
13.875
18,5
23.125

FK
1.586
1.285
1.097

Dari grafik dapat disimpulkan bahwa nilai bobot isi tanah atau batuan akan menentukan
besarnya beban yang diterima pada permukaan bidang longsor, dinyatakan dalam satuan berat
per volume. Bobot isi batuan juga dipengaruhi oleh jumlah kandungan air dalam batuan
tersebut. Semakin besar bobot isi pada suatu lereng tambang maka gaya geser penyebab
kelongsoran akan semakin besar.
Untuk nilai FK ketika C dikurangi 25% sehingga nilai C = 65.25 kN/m3 dengan
menggunakan metode Fellenius didapatkan FK = 1.032, menggunakan metode Bishop
didapatkan FK = 1.024, dan dengan menggunakan metode Janbu didapatkan FK = 1.050
kemudian jika nilai C dari nilai semula ditambah 25 persen sehingga nilai C =108.75 kN/m 3
dengan menggunakan metode Fellenius didapatkan FK = 1.483, menggunakan metode Bishop
didapatkan FK = 1.465, dan dengan menggunakan metode Janbu didapatkan FK = 1.513.
Dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan nilai FK ketika nilai kohesi meningkat dan ketika nilai
kohesi menurun maka nilai FK ikut menurun. Hal ini diakibatkan karena peningkatan gaya tarikmenarik antar partikel sejenis tersebut membuat lapisan tersebut semakin kompak sehingga akan
meningkatkan kekuatan lereng dan akan menaikkan nilai FK dari lereng tersebut.
Berikut ini adalah contoh grafik yang menunjukkan hubungan antara perubahan nilai FK akibat
dari perubahan nilai kohesi dengan menggunakan salah satu metode yaitu metode
Ordinary/Fellinius:

Kohesi(kN/m3)
65.25
87
108.75

FK
1.032
1.26
1.483

Kohesi(kN/m3)
65.25
87
108.75

FK
1.024
1.248
1.465

Kohesi(kN/m3)
65.25
87
108.75

FK
1.05
1.285
1.513

Dari grafik telah terbukti bahwa semakin tinggi nilai kohesi suatu material penyusun
lereng maka nilai dari FK juga akan semakin besar.
Untuk nilai FK ketika nilai sudut geser dalam() dikurangi 25% sehingga nilai = 120
kemudian dengan menggunakan metode Fellenius didapatkan FK = 1.161, menggunakan
metode Bishop didapatkan FK = 1.15, dan dengan menggunakan metode Janbu didapatkan FK
= 1.187 kemudian jika nilai dari nilai semula ditambah 25 persen sehingga nilai = 200 dengan
menggunakan metode Fellenius didapatkan FK = 1.354, menggunakan metode Bishop
didapatkan FK = 1.345, dan dengan menggunakan metode Janbu didapatkan FK = 1.379.
Dari hasil perhitungan faktor keamanan tersebut terlihat bahwa semakin besar sudut geser dalam
maka akan semakin tinggi nilai faktor keamanannya.
Berikut ini adalah contoh grafik yang menunjukkan hubungan antara perubahan nilai FK akibat
dari perubahan sudut geser dalam dengan menggunakan salah satu metode yaitu metode
Ordinary/Fellinius:

Sudut geser
dalam(0)
12
16
20

FK
1.161
1.26
1.354

Sudut geser
dalam(0)
12
16
20

Sudut geser
dalam(0)
12
16
20

FK
1.15
1.248
1.345

FK
1.187
1.285
1.379

Dari grafik terlihat bahwa semakin besar nilai sudut geser dalam maka akan semakin
besar nilai FK yang dihasilkan oleh suatu lereng. Secara teori sudut geser dalam/sudut geser
dalam merupakan sudut yang dibentuk dari hubungan antara tegangan normal dan tegangan
geser di dalam material tanah atau batuan. Sudut geser dalam adalah sudut rekahan yang
dibentuk jika suatu material dikenai tegangan atau gaya terhadapnya yang melebihi tegangan
gesernya. Semakin besar sudut geser dalam suatu material maka material tersebut akan lebih
tahan menerima tegangan luar yang dikenakan terhadapnya.

Nama/Nim : Ghea Tiarasani Sondakh / 12113094


Analisis :
Pada perhitungan faktor keamanan pada kondisi normal dengan menggunakan Metode Bishop,
Metode Janbu, dan Metode Fellenius menunjukan nilai FK 1,2-1,3 yang menunjukan lereng
berada dalam kondisi stabil atau tidak rawan longsor.
- Bobot isi

Bobot isi merupakan bobot dari material yang menyusun lereng. Sehingga jika bobot isi
dari suatu batuan semaki kecil atau berkurang, maka nilai FK akan semakin besar. Begitu
pula sebaliknya, jika bobot isi batuan semakin besar, maka nilai FK semakin kecil. Dapat
dilihat dari nilai FK lereng normal yang berada disekitar nilai 1,2-1,3, ketika terjadi
pengurangan nilai bobot isi, nilai FK menjadi sekitar 1.5-1.6. Sementara saat terjadi
penambahan nilai bobot isi, nilai FK menjadi sekitar 1.0-1.1.
Kohesi
Kohesi menginterpretasikan parameter kekuatan geser sebagai gaya penahan. Sehingga
nilai kohesi akan berbanding lurus dengan nilai FK. Dapat dilihat dari nilai FK lereng
normal yang berada disekitar nilai 1,2-1,3, ketika terjadi pengurangan nilai kohesi,
nilai FK menjadi sekitar 1.0-1.1. Sementara saat terjadi penambahan nilai kohesi, nilai
FK menjadi sekitar 1.4-1.5.
Sudut Geser dalam
Jika nilai dari sudut geser dalam < kemeringan lereng, maka lereng akan menjadi tidak
stabil sehingga FK menjadi kecil. Dapat dilihat dari nilai FK lereng normal yang berada
disekitar nilai 1,2-1,3, ketika terjadi pengurangan nilai sudut geser dalam, nilai FK
menjadi sekitar 1.1-1.2. Sementara saat terjadi penambahan nilai sudut geser dalam,
nilai FK menjadi sekitar 1.3-1.4.

3.2 Modul 2 Perhitungan Factor Keamanan Suatu Lereng Homogen, Berlapis dan Isotrop
3.2.1 Perhitungan Faktor Keamanan Lereng

Nilai Faktor Keamanan Lereng Fellenius

= 1.231

Nilai Faktor Keamanan Lereng Bishop

= 1.254

Nilai Faktor Keamanan Lereng Janbu

= 1.216

3.2.2 Analisis
Nama/Nim : Kevin Silvanus / 12113012
Analisis :
Hasil perhitungan nilai faktor keamanan dengan menggunakan software slide menunjukan
bahwa lereng tersebut masih dalam keadaan yang stabil. Kemudian hasil perhitungan juga
menunjukan bahwa nilai faktor keamanan suatu lereng akan berkurang apabila material
penyusun lereng tersebut tidak homogen atau memiliki suatu perlapisan tertentu. Hal ini terjadi
karena dengan adanya ketidakhomogenan akan menyebabkan nilai kohesi akan semakin kecil,
akibatnya maka nilai faktor keamanan pun menjadi semakin kecil. Kemudian letak perlapisan
yang berada di dekat bidang miring lereng juga menyebabkan nilai faktor keamanan akan
semakin kecil. Kemudian perbedaan nilai faktor keamanan dari ketiga metode yang berbeda
tersebut juga sanagat kecil, sehingga menunjukan ketiga metode tersebut memiliki kemiripan.
Nilai faktor keamanan yang paling besar akan diberikan oleh metode bishop sementara paling
kecil akan dihasilkan oleh metode janbu.
Nama/Nim : Rahadian Muslim / 12113061
Analisis :
Nama/Nim : Taher Syukur / 12113064
Analisis :
Struktur batuan yang mempengaruhi kemantapan lereng salah satunya adalah perlapisan.
Struktur batuan tersebut merupakan bidang lemah dan sekaligus sebaagai tempat
merembesnya air sehingga batuan lebih mudah longsor.
Nama/Nim : Bima Saddha Prabawa/ 12113054
Analisis :
Perhitungan menghasilkan FK >1; semua pengubahan parameter menghasilkan FK yanng lebih
dari satu. Dengan kondisi perlapisan seperti soal, lereng aman.
Nama/Nim : Jumadi / 12113062
Analisis :
Semua FK >1 artinya semua lereng dengan perubahan parameter kohesi, sudut geser dalam, dan
bobot isi masih aman.
Nama/Nim : Samuelson Putra / 12113070
Analisis
:
Kami menggunakan beberapa metode yaitu Metode Ordinary, Metode Simplified dan Metode
Janbu Simplified. Diperoleh nilai masing masing FK 1.231 untuk Metode Ordinary, 1,254 untuk
Metode Bishop, dan 1,216 untuk Metode Janbu. Dari ketiga nilai tersebut, nilaik FK berada di
sekitar 1,2 semua, maka dapat dikatakan bahwa kondisi lereng lumayan mantap. Meskipun

terdapat perlapisan, jika dikorelasikan kohesi dari tiap lapisan dan sudut gesek dalamnya masih
memungkinkan untuk menahan beban berat lereng. Dan juga dikarenakan lapisan ketiga tidak
terlalu besar luas pengaruhnya di lereng.

Nama/Nim : Afdhalulhaq S. Hadi / 12113068


Analisis :
Semua metode menunjukkan lereng aman dan paling aman adalah metode bishop, FK= 1,254
Nama/Nim : Fajar Kurniawan / 12113072
Analisis :
Lereng yang mempunyai lapisan-lapisan material yang berbeda akan memberikan FK yang
semakin kecil dikarenakan bidang perlapisan tersebut akan menjadi bidang lemah dari lereng
dan menjadi tempat air mengalir yang akan mengurangi kekuatan lereng dan dapat
menyebabkan lereng longsor. Strike dan Dip dari perlapisan akan mempengaruhi FK dari lereng,
saat lapisan mempunyai strike yang berlawanan arah dengan strike lereng maka FK akan
semakin baik dibandingkan dengan lapisan yang mempunyai strike yang searah dengan strike
lereng.
Nama/Nim : Heru Anggara / 12113077
Analisis :
Struktur perlapisan batuan yang membentuk lereng memberikan pengaruh pada nilai FK yang
didapatkan, Pada hasil perhitungan pada lereng dengan kondisi yang berlapis menyebabkan nilai
FK berkurang, karena lereng tersusun atas lapisan lapisan yang rentan menyebabkan terjadinya
pergeseran massa batuan /longsoran.
Nama/Nim : Kreshna Damar S. / 12113080
Analisis :
1. Dari perhitungan FK tersebut didapatkan nilai FK dengan menggunakan metode
Fellinius adalah 1.231, dengan menggunakan metode bishop menghasilkan nilai FK
sebesar 1.216 dan dengan menggunakan metode janbu menghasilkan nilai FK = 1.254
2. Dapat dianalisis bahwa dengan adanya 3 lapisan batuan yang ada pada lereng tersebut
mempengaruhi nilai faktor keamanan dari lereng tersebut hal ini dapat dikarenakan
perbedaan dari karakteristik masing-masing batuan yang berbeda sehingga akan
mempengaruhi kekuatan lereng secara keseluruhan. Hal ini juga dipengaruhi oleh massa
batuan. Dimana massa batuan merupakan volume batuan yang terdiri dari material
batuan berupa mineral, tekstur, dan komposisi serta terdiri dari bidangbidang diskontinu,membentuk suatu material dan saling berhubungan dengan semua
elemen sebagai suatu kesatuan.
Kekuatan massa batuan sangat dipengaruhi oleh frekuensi dan kerapatan bidangbidang diskontinu yang terbentuk, oleh sebab itu massa batuan akan mempunyai
kemampuan yang lebih kecil bila dibandingkan dengan batuan utuh . Menurut teori dari

Hoek dan Bray (1981), massa batuan adalah batuan insitu yang dijadikan diskontinu oleh
sistem struktur batuan seperti kekar, sesar, lipatan dan bidang perlapisan.

Nama/Nim : Ghea Tiarasani Sondakh / 12113094


Analisis
:
Perlapisan pada lereng menunjukan adanya kehadiran bidang lemah. Sehingga lereng yang
memiliki bidang perlapisan akan menyebabkan berkurangnya nilai factor keamanan pada suatu
lereng. Hal ini dapat dibuktikan berdasarkan hasil perhitungan factor keamanan menggunakan
Metode Janbu, Metode Fellenius, dan Metode Bishop menunjukan nilai factor keamanan yang
berkisar antara 1-1.2.
3.3 Modul 3 Perhitungan Factor Keamanan Suatu Lereng Tidak Homogen, Berlapis, Tidak
Isotrop dan Terdapat Beban Gempa
3.3.1 Langkah Kerja

Buka Program Slide

Pilih File dan New

Pilih Pengaturan Project Setting

Boundaries dan Buat Penampang(0,0) -> (183.094,0) -> (183.094,40) -> (103.094,40) ->
(80,80) -> (0,80) -> (0,0)

Atur Tinggi dan Sudut Lereng

Pengaturan Material Boundary (68.854,80) (51.633,80) (109.039,0) (132.24.0)

Pengaturan Material Properties

Lakukan assign material pada perlapisan

Memasukkan Seismic Load sebesar 0.25 di Menu Loading

Buat Auto Grid

Compute dan Interpret

3.3.2 Perhitungan Faktor Keamanan Lereng

Nilai Faktor Keamanan Lereng Fellenius

= 0.825

Nilai Faktor Keamanan Lereng Bishop

= 0.846

Nilai Faktor Keamanan Lereng Janbu

= 0.779

3.3.3 Analisis

Nama/Nim : Kevin Silvanus / 12113012


Analisis
:
Hasil perhitungan faktor kemanan dengan menggunakan software slide dengan ketiga metode
memberikan nilai faktor keamanan yang lebih kecil dari satu, hal ini mengindikasikan bahwa
lereng tersebut akan menjadi tidak stabil atau akan mengalami longsoran apabila ada faktor
kegempaan yang dimaksukkan. Nilai faktor kegempaan akan membuat gaya penahan menjadi
semakin kecil dan menyebabkan gaya pendoronhg semakin besar, sehingga nilai faktor
keamanan akan menjadi kecil. Hal ini juga menunjukan bahwa faktor kegempaan akan sangat
mempengaruhi kestabilan suatu lereng. Hampir semua lereng akan mengalami kelongsoran
apabila terjadi gempa pada daerah tersebut. Sementara ketiga metode yang dipakai (Felennius,
Bishop, Janbu) akan memberikan nilai faktor keamanan yang tidak terlalu berbeda.
Nama/Nim : Rahadian Muslim / 12113061
Analisis :
Nama/Nim : Taher Syukur / 12113064
Analisis :
Gempa bumi adalah peristiwa goncangan bumi karenap penjalaran gelombang seismic dari
suatu sumber gelombang kejut yang diakibatkan oleh pelepasan akumulasi tekanan di bawah
tanah permukaan bumi secara tiba-tiba. Gempa bumi ada 2 yaitu gempa tektonik dan gempa
vulkanik. Pengaruh gempa terhadap lereng adalah dapat menimbulkan cracks yang dapat
mereduksi kuat geser tanah, perubahan tekanan air pori dan tegangan efektif dalam massa, dan
liquefaction. Dari 3 pengaruh gempa ini menyebabkan nilai safety factor semackin kecil.
Nama/Nim : Bima Saddha Prabawa / 12113054
Analisis :
Perhitungan menghasilkan FK<1 dengan semua modifikasi parameter. Adanya beban gemoa
dan ketdakisotropan lapisan membuat lereng tidak aman.
Nama/Nim : Jumadi / 12113062
Analisis :
Semua FK <1 artinya semua lereng dengan perubahan parameter kohesi, sudut geser dalam, dan
bobot isi tidak aman.
Nama/Nim : Samuelson Putra / 12113070
Analisis :
Kami menggunakan beberapa metode yaitu Metode Ordinary, Metode Simplified dan Metode
Janbu Simplified. Diperoleh nilai masing-masing FK 0.825 untuk Metode Ordinary, 0.846
untuk Metode Bishop, dan 0.779 untuk Metode Janbu. Dari data FK tersebut bisa disimpulkan
lereng tidak mantap (dibawah 1.2), karena ada pengaruh getaran sebesar 0.25. Oleh karena itu
getaran sangat berpengaruh terhadap faktor keamanan suatu lereng (menurunkan nilai FK).

Nama/Nim : Afdhalulhaq S. Hadi / 12113068


Analisis :
Semua metoe kurang aman karena memiliki FK 0,7-0,9 dan yang paling tidak aman adalah
metode janbu dengan FK=0,779.
Nama/Nim : Fajar Kurniawan / 12113072
Analisis :
Gelombang seismik akan memberikan efek terhadap kestabilan lereng yang akan mengurangi
FK dari suatu lereng dikarenakan gelombang seismik atau getaran tanah akan menambah gaya
penggerak dari lereng dan menyebabkan lereng longsor jika gaya penggerak yang terjadi
melebihi gaya-gaya penahan di lereng. Gelombang seismik yang terjadi di lereng tambang selain
dikarenakan gempa bumi juga sering terjadi dikarenakan aktivitas peledakan di tambang. Energi
yang dihasilkan oleh peledakan selain digunakan untuk menghancurkan batuan juga akan
menghasilkan gelombang seismik yang akan mempengaruhi kestabilan lereng, sehingga
geometri peledakan harus sangat diperhatikan.
Nama/Nim : Heru Anggara / 12113077
Analisis :
Jika diberikan faktor gempa dengan besaran tertetu pada lereng, akan menyebakan FK lereng
berkurang menjadi < 1, artinya lereng tersebut tidak aman dan lereng menjadi tidak stabil.
Adanya gejala gempa tidak baik bagi kemantapan lereng.
Nama/Nim : Kreshna Damar Segoro / 12113080
Analisis :

1. Dari perhitungan didapatkan nilai FK dengan menggunakan metode Fellinius adalah


0.825, dengan menggunakan metode bishop menghasilkan nilai FK sebesar 0.846 dan
dengan menggunakan metode janbu menghasilkan nilai FK = 0.779
2. Pada lereng yang terkena efek seismik yaitu sebesar 0.25 dalam arah horizontal dan 0.25
dalam arah vertical . Pada waktu terjadi gempa bumi terdapat dua buah gelombang
merambat naik dari permukaan batuan ke permukaan tanah. Pada saat merambat,
rambatan gelombang tersebut melewati berbagai lapisan tanah termasuk lapisan tanah
pada lereng, sehingga menimbulkan perubahan pada sistim tegangan semula.
3. Jika dibandingkan dengan perhitungan modul 2 terdapat perbedaan safety factor antara
lereng yang terkena efek seismic dengan lereng yang berada pada kondisi stabil dengan
perubahan faktor keamanan untuk metode Fellinius dari 1.231 menjadi 0.825 atau
mengalami penurunan sebesar 33 %, untuk perhitungan dengan menggunakan metode
bishop terlihat bahwa terdapat penurunan nilai FK dari 1.216 menjadi 0.846 atau
mengalami penurunan sebesar 30.4%, dan untuk nilai FK berdasarkan perhitungan
menggunakan metode Janbu mengalami penurunan dari 1.254 menjadi 0.779 atau
mengalami penurunan sebesar 37.8%.

Jika dilihat nilai FK berdasarkan perhitungan sebelum lereng terkena gempa dan ketika
terkena gempa berdasarkan metode Fellinius, metode Bishop dan metode Janbu maka
didapatkan:

Dengan menggunakan metode Ordinary/Fellinius

Dengan menggunakan metode Bishop

Dengan menggunakan metode Janbu

Nama/Nim : Ghea Tiarasani Sondakh / 12113094


Analisis :
Adanya beban gempa atau getaran pada lereng dapat menyebabkan bekurangnya nilai dari factor
keamanan lereng. Hal ini terjadi karena berkurangnya gaya yang menahan lereng dari
kelongsoran serta gaya penggerakan lereng menjadi lebih besar. Sehingga dapat menyebabkan
lereng menjadi tidak stabil. Hal ini dibuktikan dengan perhitungan factor keamanan dengan
adanya beban gempa dengan menggunakan Metode Janbu, Bishop, dan Metode Fellenius yang

menunjukan nilai FK berkisar antara 0.7-0.8 yang nilai FKnya lebih kecil apabila dibandingkan
dengan nilai FK tanpa adanya pemberian beban gempa/getaran.
3.3.4 Perbandingan Hasil dengan Modul 2
Faktor keamanan lereng saat tidak adanya beban gempa berkisar antara 1-1.5, namun setelah
diberakn beban gempa factor keamanan lereng menjadi < 1. Sehingga menandakan bahwa tingkat
keamanan lereng lebih baik jika tidak ada pengaruh beban gempa yang dibuktikan dengan
perhitungan Nilai FK.

3.4 Modul 4 Perhitungan Faktor Keamanan Suatu Leremg Tidak Homogen, Berlapis, Tidak
Isotrop dan Mengandung Air
3.4.1 Langkah Kerja

Buka Program Slide

Pilih File dan New

Pilih Pengaturan Project Setting

Boundaries dan Buat Penampang(0,0) -> (183.094,0) -> (183.094,40) -> (103.094,40) ->
(80,80) -> (0,80) -> (0,0)

Atur Tinggi dan Sudut Lereng

Pengaturan Material Boundary (68.854,80) (51.633,80) (109.039,0) (132.24.0)

Pengaturan Material Properties

Lakukan assign material pada perlapisan

Memasukkan Add Water Table Pada Lereng

Buat Auto Grid

Compute dan Interpret

3.4.2 Perhitungan Faktor Keamanan Lereng

Nilai Faktor Keamanan Lereng Fellenius

= 0.98

Nilai Faktor Keamanan Lereng Bishop

= 0.887

Nilai Faktor Keamanan Lereng Janbu

= 0.865

3.4.3 Analisis
Nama/Nim : Kevin Silvanus / 12113012
Analisis :
Hasil perhitungan dengan software slide menunjukan bahwa akibat adanya kondisi jenuh pada
lereng, akan menyebabkan suatu lereng menjadi tidak stabil dan mengalami kelongsoran. Hal
ini disebabkan karena air yang jatuh ke atas lereng akan masuk ke dalam pori atau rongga
dalam material penyusun lereng tersebut, sehingga akan menambah beban dalam lereng
tersebut dan mengakibatkan gaya penggerak dalam lereng tersebut membesar dan
menyebabkan faktor keamanan menjadi semakin kecil. Kemudian akibat lain dari air adalah
kohesi. Kehadiran air ke dalam suatu lereng akan menyebabkan nilai kohesi suatu lereng
menjadi kecil akibat adanya partikel air diantara partikel dalam lereng yang mengurangi gaya
gesek sehingga juga akan mengurangi gaya penahan dan akhirnya menyebabkan nilai faktor
keamanan menjadi semakin kecil. Perbedaan nilai faktor keamanan dari ketiga metode yang
dipakai (Felennius, Bishop, Janbu) hanyalah kecil, sehingga tidak terlalu berpengaruh.
Nama/Nim : Bima Saddha Prabawa / 12113054
Analisis :
Semua FK <1 setelah modifikasi parameter. Seperti kasus adanya beban gempa, adanya air
menambah tekanan pada lereng dan menjadikan lereng tidak aman.
Nama/Nim : Taher Syukur / 12113064
Analisis :

Kenaikan muka air tanah meningkatkan tekanan pori yang berarti memperkecil ketahanan geser
massa dari massa lereng, terutama pada pada material tanah (Soil). Kenaikan muka air tanah
juga memperbesar debit air tanah dan meningkatkan erosi di bawah permukaan. Akibatnya
banyak fraksi halus dari massa tanah akan dihanyutkan sehingga ketahanan massa tanah akan
menurun.
Dapat dilihat dari nilai factor keamanannya bahwa yang memiliki muka air tanah lebih kecil
daripada yang tidak memiliki muka air tanah.
Nama/Nim : Rahadian Muslim / 12113061
Analisis
:
Dari hasil perhitungan menggunakan program perhitungan kemantapan lereng dengan metode
keseimbangan batas maka diperoleh tiga nilai faktor keamanan. Nilai tersebut diperoleh antara
lain dengan menggunakan metode bishop, metode janbu dan metode ordinary/fellenius.
Ketiganya memberikan nilai faktor keamanan yang berbeda-beda. Dimana, nilai faktor
keamanan yang diperoleh dari metode bishop merupakan yang terkecil (0.673) sedangkan nilai
faktor keamanan yang tertinggi diperoleh dari metode ordinary/fellenius. Hanya saja, ketiganya
memberikan nilai faktor keamanan yang rendah yakni kurang dari kisaran angka 1.2 yang mana
menjadi rule of thumb di pertambangan.
Nilai faktor keamanan yang rendah dapat disebabkan adanya muka air tanah. Muka air tanah
tersebut menjadikan lereng basah dan batuan penyusun lereng memiliki kandungan air yang
tinggi. Akibatnya, kekuatan batuan menjadi lebih rendah dan batuan ikut menerima tambahan
beban air yang dikandungnya. Sehingga lereng lebih mudah longsor.

Nama/Nim : Jumadi / 12113062


Analisis :
Semua FK <1 artinya semua lereng dengan perubahan parameter kohesi, sudut geser dalam,
dan bobot isi tidak aman.
Nama/Nim : Samuelson Putra / 12113070
Analisis :
Kami menggunakan beberapa metode yaitu Metode Ordinary, Metode Simplified dan Metode
Janbu Simplified. Diperoleh nilai masing masing FK 0.98 untuk Metode Ordinary, 0.887 untuk
Metode Bishop, dan 0.865 untuk Metode Janbu. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan kondisi
muka air tanah dalam kondisi jenuh pada lereng tersebut. Sehingga bisa dikatakan bahwa
kondisi lereng tidak mantap, dan pengaruh ketinggian muka air tanah akan mengurangi nilai FK
(mudah longsor karena air mengurangi kemantapan lereng).
Nama/Nim : Afdhalulhaq S. Hadi / 12113068
Analisis :
Semua menunjukan keadaan lereng yang tidak aman, FK<1. Paling aman metode felenius,
FK=0,98 dan yang paling tidak aman metode janbu, FK=0,865.

Nama/Nim : Fajar Kurniawan / 12113072


Analisis :
Lereng dalam keadaan kering akan memberikan FK yang lebih baik dibandingkan lereng dalam
keadaan basah atau jenuh dikarenakan kandungan air dalam material pembentuk lereng akan
memberikan tekanan air pori terhadap lereng yang mempengaruhi kestabilan lereng. Air juga
akan mengurangi kohesi dan sudut geser dalam dari material pembentuk lereng yang akan
mengurangi kuat geser batuan sehingga FK dari lereng akan semakin kecil
Nama/Nim : Heru Anggara / 12113077
Analisis :
Faktor keamanan saat lereng jenuh (mengandung air) menjadi lebih kecil daripada tidak jenuh
(tidak mengandung air). Faktor Keamanan lereng ketika tidak mengandung air adalah 1-1,5 ,
sedangkan Faktor Keamanan lereng ketika mengandung air adalah < 1, hal ini disebabkan
karena air memberikan efek dan pengaruh yang cukup signifikan pada kestabilan lereng
tambang. Lereng yang mengandung muka air tanah menjadi tidak stabil.
Nama/Nim : Kreshna Damar S. / 12113080
Analisis :
1. Dari perhitungan menggunakan nilai FK didapatkan nilai dengan menggunakan metode
Fellinius menghasilkan nilai FK = 0.980, untuk metode bishop menghasilkan nilai FK =
0.887 dan dengan menggunakan metode Janbu menghasilkan nilai FK = 0.865.
2. Nilai FK tersebut terbilang cukup kecil hal dikarenakan lereng tersebut mengalami
tekanan muka air tanah sehingga akan mengurangi safety factor dari lereng tersebut.
Selain itu, pengaruh air tanah terhadap kemantapan lereng terletak pada adanya tekanan
air pori pada bidang gelincir yang secara efektif akan mengurangi kekuatan geser batuan.
3. Dibandingkan dengan perhitungan modul 2 untuk hasil perhitungan dengan
menggunakan metode Fellinius menunjukkan penurunan nilai safety factor katika lereng
dari awalnya dalam kondisi kering menjadi kondisi jenuh terlihat bahwa nilai FK
berubah dari 1.231 menjadi 0.980 atau terdapat penurunan sebesar 20.4%, untuk
perhitungan menggunakan metode bishop menunjukkan penurunan nilai safety factor
dari 1.216 menjadi 0.887 atau mengalami penurunan sebesar 27%. Dan untuk
perhitungan dengan menggunakan metode Janbu juga menunjukkan penurunan dari
1.254 menjadi 0.865 atau mengalami penurunan sebesar 31%.
Dapat dilihat dari grafik berikut perubahan FK yang terjadi pada lereng dari kondisi
kering menjadi kondisi jenuh dengan mengunakan metode Ordinary/Fellinius, Bishop
dan Janbu:
Dengan menggunakan metode Ordinary/Fellinius:

Dengan menggunakan metode Bishop:

Dengan menggunakan metode Janbu:

Nama/Nim : Ghea Tiarasani Sondakh / 12113094


Analisis :
Salah satu kriteria kelongsoran disebabkan oleh adanya muka air tanah yang menyebabkan
lereng berada dalam kondisi jenuh. Dengan adanya muka air tanah ini dapat terlihat nilai factor
keamanan pada masing-masing metode Bishop, Janbu, dan Fellenius berada dibawah <1.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya muka air tanah dapat menurunkan nilai factor
keamanan lereng karena menyebabkan gaya penahan pada material berkurang.
3.4.3 Perbandingan Hasil dengan Modul 2
Faktor keamanan lereng saat tidak adanya air berkisar antara 1-1.5, namun ketika lereng tersebut
mengandung air, factor keamanannya menjadi <1. Sehingga membuktikan bahwa air memberikan
pengaruh yang besar terhadap factor kemanan lereng. Lereng lebih baik jika tidak ada pengaruh
air yang dibuktikan dengan perhitungan Nilai FK.

BAB IV
KESIMPULAN
Bobot isi, kohesi, dan sudut gesek dalam mempengaruhi dalam menentukan nilai factor
keamanan dari suatu lereng. Bobot isi merupakan bobot dari material penyusun lereng. Sehingga
bobot isi akan berbanding terbalik dengan nilai factor keamanan. Apabila bobot isi dari suatu
batuan makin kecil, maka nilai FK nya akan bertambah besar. Sedangkan, apabila bobot isi dari
suatu batuan semakin besar, nilai FK nya akan menjadi kecil. Kohesi akan berbanding lurus
dengan nilai dari factor keamanan pada suatu lereng. Jika kohesi dari suatu batuan semakin kecil,
maka FK lereng akan semakin kecil. Namun jika nilai kohesi dari batuan semakin besar, maka
nilai Fk lereng akan semakin besar. Sudut geser dalam juga berbading lurus dengan factor
keamanan dari suatu lereng. Apabila sudut geser dalam dari suatu batuan makin kecil, maka FK
akan makin kecil. Sebaliknya apabila sudut geser dalam dari suatu batuan makin besar, maka FK
akan makin besar.
Selain itu pemberian beban berupa gempa/getaran pada lereng juga dapat mempengaruhi
nilai factor keamanan lereng tersebut. Dari hasil pemodelan yang telah dilakukan terbukti bahwa
nilai factor kemanan lereng yang diberikan beban berupa gempa/getaran memiliki FK yang lebih
kecil dibandingkan dengan lereng yang tidak diberikan beban berupa gempa/ getaran. Adanya
kandungan muka air tanah pada lereng akan menyebabkan lereng tersebut berada dalam kondisi
jenuh. Sehingga akan menurunkan nilai factor keamanan pada lereng tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
https://www.scribd.com/doc/46389091/Bishop-Fellenius-and-Janbu (akses: 11 April 2016 pukul
22.17)